Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Klasifikasi jamur merupakan pengaturan fungi ke dalam grup (takson)

tertentu. Sedangkan identifikasi adalah proses penentuan suatu isolat termasuk


dalam takson tertentu. Proses identifikasi dapat dilakukan apabila karakterkarakter
isolat fungi diketahui. Karakter yaitu atribut/ciri organisme yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk perbandingan dengan organisme lain. Tipe karakter dapat
ditinjau dari segi morfologi, anatomi, ultrastruktur, biokimia, sekuensi asam
nukleat,dll.
Jamur Pestalotiopsis palmarum termasuk ke dalam jamur kelas
Detromycetes. Jamur ini memiliki konidium berbentuk kumparan, berseta 4 dan
mempumyai 3 seta apical. Jamur ini memiliki tips reproduksi aseksual karena
memiliki konidia. Jamur ini merupakan parasitis lemah yang menginfeksi lukaluka.
Jamur ini merupakan jamur patogen pada tumbuhan khususnya tanaman
palem raja. Jamur ini menyebabkan penyakit bercak kelabu. Faktor yang
mempengharuhi perkembangan penyakit yaitu kekurangan air dan miskin unsur
hara. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan cara memotong dan membakar
bagian yang sakit. penyemprotan fungisida

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Morfologi Jamur Pestalotiopsis palmarum


Penyakit bercak kelabu pada daun tanaman palem raja (Roystonea elata)

disebabkan oleh jamur Pestalotiopsis palmarum (Cooke) Steyaert. Adapun


taksonomi dari jamur Pestalotiopsis palmarum (Cooke) Steyaert adalah sebagai
berikut,
Kingdom

: Mycetea

Divisi

: Deuromycotina

Kelas

: Deuromycetes

Ordo

: Melanconiales

Famili
Genus
Spesies

: Melanconiae
: Pestalotiopsis
: Pestalotiopsis palmarum
Jamur ini memiliki konidium berbentuk kumparan, bersekat 4, mempunyai

3 seta apical, berukuran 25-28 x 6-7,5 m (Gambar 1). Merupakan parasit lemah
yang menginfeksi luka-luka. Spora jamur (konidium) dipencarkan oleh angin.
Untuk jarak dekat spora dapat terbawa oleh percikan air dan serangga.

Gambar 1. Pestalotiopsis palmarum


Sumber. http://www.forestryimages.org

Konidia berukuran 84.6-96.8 m x 26.7-33.5 m dan terdiri atas lima sel


yang berjajar. Biasanya jajaran sel lurus, kadang-kadang agak membentuk
lengkungan dengan salah satu ujungnya terbentuk setula. Tiga sel tengah (sel
urutan kedua sampai keempat yang dihitung mulai dari sel tempat setula
berpangkal) berwarna amber dengan dua sel (sel kedua dan ketiga) berwarna lebih
gelap dari sel keempat. Sel tengah (sel ketiga) berukuran \paling lebar
dibandingkan sel-sel lainnya. Sel terujung atau sel apikal (sel kesatu) hialin agak
memanjang atau menyempit ke ujung; sedang sel pangkal atau sel basal (sel
kelima) hialin agak silindrik. Setula hialin yang terletak di ujung sel apikal
berjumlah 2-3 dengan panjang 92,3-107,1 m, posisinya agak melengkung; setula
tampaknya mudah lepas dari pangkalnya. Pedisel hialin terletak di ujung sel basal
(tampak seperti ekor konidia) dengan panjang 18,1-22,7 m. Semua bagian
konidiospora yang hialin yaitu sel apikal, sel basal, dan setula mudah berubah
bentuk yaitu agak kisut bila disimpan lama (lebih dari 6 bulan).
Jamur ini memiliki konidia berbentuk kumparan,mempunyai sekat 4 dan
mempunyai 3 seta apical (rambut), berukuran 15-17 m x 3-4 m. Jamur ini
memiliki warna koloni di bagian atas koloni berwarna putih yang lama kelamaan
akan muncul bintik-bintik hitam dan bagian dsar koloni bewarna kuning
kecoklatan. Bentuk tepi koloni bulat, permukaan koloni kasar, elevasi convex

Gambar 2 Pestalotiopsis palmarum (perbesaran 400x)


(a) sel basal (b) sel apical dan (c) setula (rambut) apical

2.2.

Perkembangbiakkan Jamur Pestalotiopsis palmarum


Kapang dapat bereproduksi secara aseksual (fase anamorf) maupun

seksual (fase teleomorf). Mayoritas kapang hanya bereproduksi secara aseksual,


tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan telah ditemukan sejumlah
kapang ternyata juga mampu bereproduksi seksual. Spesies-spesies anamorf
tersebut kemudian akan mempunyai nama baru. Filum Deuteromycota untuk
kapang-kapang yang belum memiliki fase seksual. Filum Deuteromycota
bereproduksi secara aseksual.
Siklus reproduksi seksual dan aseksual pada jamur dapat dilihat pada
Gambar 3. Reproduksi seksual melibatkan 3 tahap yaitu plasmogami (peleburan
plasma), karyogami (peleburan nukleus), dan meiosis. Kedua cara reproduksi
tersebut menghasilkan spora. Oleh karena itu, spora ada yang diproduksi secara
seksual maupun aseksual. Contoh spora yang diproduksi secara seksual adalah
askospora, basidiospora, dan zigospora. Spora yang diproduksi secara aseksual
misalnya arthrospora (Gambar 4), klamidospora (Gambar 5)
,sporangiospora/spora (Gambar 6), konidiospora/konidia (Gambar 7 dan 8), dan
zoospora (Gambar 10 ).

Gambar 3. Bagan reproduksi seksual dan aseksual pada kapang

Gambar 4. Siklus reproduksi seksual dan aseksual jamur


Gambar 5. memperlihatkan arthrospora/arthrokonidia yang dibentuk dari
fragmentasi hifa. Artrospora merupakan spora yang terbentuk oleh lepasnya
kompartemen-kompartemen suatu hifa dari miselium menjadi segmen-segmen
yang berfungsi sebagai spora aseksual. Artrospora kemudian dapat menjadi
individu baru apabila keadaan lingkungan menunjang.

Gambar 5. Artrokonidia pada Gymnoascus sp (sumber: image.google.com)

Klamidospora merupakan sel hifa yang berdinding tebal yang terbentuk


apabila lingkungan tidak menguntungkan kapang (Gambar 6). Klamidospora
umumnya dibentuk pada bagian hifa yang tua. Sel-sel hifa tertentu memperoleh
ekstra nutrien , membesar, dan dindingnya menebal. Ukuran sel tersebut menjadi
lebih besar daripada sel-sel hifa yang lainnya. Letak sel-sel tersebut dapat pada
ujung hifa (klamidospora terminal) maupun diantara sel-sel hifa (klamidospora
interkalar). Fungsi klamidospora sebagai resting cell. Klamidospora dapat
bergerminasi menjadi hifa apabila keadaan lingkungan membaik.

Gambar 6. Klamidospora pada Epidemophyton floccosum (sumber:


image.google.com)
Gambar 7. menampakkan sporangiospora atau spora. Sporangiospora
merupakan spora yang dibentuk di dalam sporangium. Inti-inti yang ada di dalam
kolumela (ujung sporangiofor) akan keluar menembus dinding kolumela masuk
ke dalam suatu kantung yaitu sporangium. Sporangium merupakan karpus untuk
reproduksi aseksual mirip kantung yang berbentuk bulat atu semibulat.
Sporangium semula berwarna bening atau agak kekuningan karena mengandung
senyawa - karoten kemudian berwarna hitam karena senyawa karoten mengalami
polimerisasi yang disebabkan proses oksidasi. Selanjutnya terbentuk sporopolenin
yaitu senyawa yang sangt resisten terhadap degradasi. Apabila jumlah
sporangiospora telah mencapai jumlah maksimum untuk spesies tersebut aka
sporangium akan pecah dan sporangiospora akan lepas ke lingkungan. Sisa
dinding sporangium akan terlihat menggantung pada dasar kolumela (Gambar 6).

Contoh genus yang memproduksi sporangium adalah Rhizopus, Mucor, Absidia,


dan Synchepalastrum.

Gambar 7. Sporangium yang mengandung sporangiospora pada Absidia sp


(sumber: image.google.com)

Gambar 8. Bagian-bagian sporangium (sumber: image.google.com)


Contoh spora aseksual yang lain adalah konidiospora atau konidia.
Konidia biasanya dibentuk pada ujung hifa. Konidia dibentuk dari sel
konidiogenos (conidiogenous cell) atau sel pembentuk konidia. Sel konidiogenos
adalah sel aseksual tunggal yang terbentuk langsung dari sel pada hifa atau suatu
sel hifa sendiri yang menghasilkan konidia. bentuk sel konidiogenos bermacammacam misalnya pada Aspergillus sp dan Penicillium sp bentuknya seperti botol
7

dengan leher (panjang atau pendek); seperti silinder agak melebar pada salah satu
ujung misalnya pada Cladosporium; lencir seperti pada Verticillium dan
Paecilomyces.
Bentuk konidia beraneka ragam tergantung spesiesnya. Permukaan konidia
dapat halus, kasar, atau mempunyai tonjolan-tonjolan. Konidia ada yang
mempunyai sekat seperti pada Pestalotiopsis sp. . Konidia dengan sekat
transversal dan longitudinal tersebut dinamakan dictyospora.

Gambar 9. Konidia pada Pestalotiopsis sp.


Zoospora sering disebut sebagai spora kembara merupakan salah satu
spora yang dibentuk secara aseksual pada Oomycota. Gambar 10 memperlihatkan
zoospora yang terbentuk dalam zoosporangium. Apabila zoosporangium telah
mengeluarkan zoospora selanjutnya dapat terbentuk zoosporangium yang ke-2
dinamakan zoosporangium sekunder.

Gambar 10. Zoospora pada Oomycota (sumber: image.google.com)


2.3. Penyakit Bercak Kelabu
Penyakit bercak kelabu pada daun tanaman palem raja (Roystonea elata)
disebabkan oleh jamur Pestalotiopsis palmarum (Cooke) Steyaert. Pestalotiopsis
sp. merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini menyerang
dedaunan yang telah terluka atau melemah karena cuaca yang kurang baik.
Biasanya dedaunan yang akan mati adalah daun yang dekat dengan pangkal
tanaman dan daun yang paling rimbun. Penyakit ini biasanya menyerang dimulai
dari ujung daun dan berkembang kearah pangkal daun. Warna daun berubah dari
hijau menjadi kekuning-kuningan, kemudian ke coklat gelap atau hampir hitam.

Gambar 11. Bercak Daun pada Palem Kuning


9

2.3.1. Gejala Serangan


Pada daun yang terserang timbul bintik kecil berwarna cokelat muda.
Bercak-bercak dapat bersatu, sehingga terjadi bercak cokelat besar. Apabila terjadi
serangan berat daun menjadi kering seperti terbakar. Pada bercak terdapat bintikbintik hitam yang merupakan badan buah (aservulus) dari cendawan.

Gambar 12 . Gejala serangan Pestalotiopsis palmarum


Sumber. http://www.biodiversidadvirtual.
Timbul bercak-bercak yang tembus cahaya pada daun-daun dan kemudian
berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan sampai kelabu. Bagian yang
kelabu ini dikelilingi oleh tepi coklat tua. Bercak-bercak bersatu membentuk
bercak yang lebih besar yang terdapat bintik-bintik yang terdiri dari acervuli
cendawan. Berbeda dengan bercak daun yang disebabkan oleh jamur lain, bercak
karena Pestalotiopsis pada umumnya tidak dikelilingi oleh jamur klorotik (halo).
Bercak-bercak dapat bersatu sehingga terjadi bercak yang besar.
2.3.2. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit
Penyakit ini lebih banyak terdapat pada tanaman yang kurang baik
pertumbuhannya, misalnya yang tumbuh di tanah yang kurus , kekurangan air dan
miskin unsur hara khususnya kalium. Sebaliknya kelebihan nitrogen pun
menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan.

10

2.3.3. Pengendalian Penyakit


Penyakit ini dapat dikendalikan dengan cara memotong dan membakar
bagian yang sakit, penyemprotan fungisida Dithane M-45, Difolatan 4F dengan
kepekatan 0,1- 0,2%.

11

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Jamur Pestalotiopsis palmarum termasuk ke dalam jamur kelas
Detromycetes. Jamur ini memiliki konidium berbentuk kumparan, berseta 4 dan
mempumyai 3 seta apical. Jamur ini memiliki tips reproduksi aseksual karena
memiliki konidia. Jamur ini merupakan parasitis lemah yang menginfeksi lukaluka.
Jamur ini merupakan jamur patogen pada tumbuhan khususnya tanaman
palem raja. Jamur ini menyebabkan penyakit bercak kelabu. Faktor yang
mempengharuhi perkembangan penyakit yaitu kekurangan air dan miskin unsur
hara. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan cara memotong dan membakar
bagian yang sakit. penyemprotan fungisida.

12

DAFTAR PUSTAKA

13