Anda di halaman 1dari 14

KONVENSI NASKAH KARYA ILMIAH

1. PENGERTIAN KONVENSI NASKAH KARYA ILMIAH


Konvensi naskah adalah penulisan naskah karya ilmiah berdasarkan kebiasaan, aturan
yang sudah lazim, dan sudah disepakati. Kelaziman dan kesepakatan ini cenderung menjadi
aturan baku yang digunakan oleh para akademisi di perguruan tinggi. Namun, penulisan
naskah karya ilmiah tidak sebatas kegiatan akademis di perguruan tinggi.
Konvensi penulisan naskah yang sudah lazim mencakup aturan pengetikan,
pengorganisasian materi utama, pengorganisasian materi pelengkap, bahasa, dan kelengkapan
penulisan yang lainnya.
Aspek-apek dari konvensi naskah ilmiah antara lain sebagai berikut :
1. Bentuk karya ilmiah
Bentuk-bentuk karya ilmiah dibagi setidaknya 5 hal, yaitu :
a. Makalah : Menyajikan pembahasan masalah berdasarkan data di lapangan atau
studipustaka.
b. Kertas kerja : Makalah yang sifatnya lebih dalam.
c. Skripsi : Ditulis dengan tujuan meraih gelar SI. Pembahasan berdasarkan
pendapat orang lain.
d. Tesis : Karya ilmiah dengantujuan untuk mengemukakan pengetahuan baru
dengan melakukan pengujian terhadap hipotesis.
e. Disertasi : Karya ilmiah yang mengemukakan teori baru yang faktanya dapat
dibuktikan secara empiris dan objektif.
2. Bagian-bagian karya ilmiah
Bagian karya ilmiah meliputi 3 hal, yaitu :
a. Kelengkapan awal : Meliputi kulit luar, halaman judul, halaman pengesahan,
halaman persembahan, abstrak ,kata pengantar, daftartabel, daftargrafik, atau
gambar , serta daftar singkatan dan lambang.
b. Kelengkapan isi : Pendahuluan, kajianteori, seputar lokasi objek penelitian
(khusus praktik kerja), pembahasan, dan penutup.
c. Kelengkapan akhir : Meliputi daftar pustaka, riwayat hidup penulis, penulisan
indeks, dan lampiran.
3. Bahan dan jumlah halaman
Hal ini berkaitan dengan kertas yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah
dan jumlah halaman minimal untuk karya tersebut.Bahan yang digunakan dalam
penulisan karya ilmiah ialah kertas HVS A-4 dan tinta hitam atau biru.Jumlah
halaman minimal tergantung jenis karya ilmiahnya.Jumlah halaman untuk makalah

minimal 10 halaman, laporan praktik kerja 40, skripsi 60, tesis 80, dan disertasi 250
halaman.
4. Perwajahan
Perwajahan memaksudkan tataletak unsur unsur pada karya ilmiah. Hal ini
mencakup ukuran kertas, jenis huruf, dan spasi ,serta margin halaman.
5. Penomoran
Hal ini berkaitan dengan aturan pada nomor di karya ilmiah tersebut.Aturanaturannya antara lain :
a. Romawi Kecil : Dipakai untuk halaman judul, abstrak, kata pengantar, daftar
isi, daftar tabel, daftar grafik, serta daftar singkatan dan lambang.
b. Romawi Besar : Digunakan untuk menomori tajuk BAB.
c. Angka Arab : Dimulai dari bab I sampai daftar pustaka.
6. Penyajian
Penyajian berkaitan dengan menerapkan aturan-aturan tadi dalam pembuatan karya
ilmiah tersebut.

2. PENGORGANISASIAN KARANGAN
2.1.
Unsur karangan ilmiah:
2.1.1. Pelengkap Pendahuluan:
Judul sampul
Halaman judul
Halam persembahan (jika ada)
Halaman pengesahan (jika ada)
Kata pengantar
Abstrak
Daftar isi
Daftar gambar
Daftar tabel
2.1.2. Inti karangan/Bagian Utama Karangan:
Pendahuluan
Bagian utama


2.1.3.

Kesimpulan
Pelengkap Simpulan:
Daftar pustaka
Lampiran
Indeks
Riwayat hidup penulis

3. NASKAH UTAMA KARANGAN


3.1.
Pendahuluan
Pendahuluan adalah Bab I karangan yang terdiri dari latar belakang, masalah, tujuan
pembahasan, pembatasan masalah, landasan teori, dan metode pembahasan. Keseluruhan isi
pendahuluan mengantarkan pembaca kepada materi yang akan dibahas, dianalisis,
dideskripsi, atau diuraikan dalam bab dua hingga bab terakhir.
Penulis perlu memperhatikan pokok-pokok pikiran yang harus tertuang dalam masing-masing
unsur pendahuluan berikut
3.1.1.

Latar belakang masalah, menyajikan:


a. Penalaran (alasan) yang menimbulkan masalah atau pertanyaan yang akan
diuraikan jawabannya dalam bab pertengahan antara pendahuluan dan
kesimpulan dan dijawab atau ditegaskan dalam kesimpulan
b. Kegunaan praktis hasil analisis, misalnya memberikan masukan bagi kebijakan
pimpinan dalam membuat keputusan
c. Pengetahuan tentang studi kepustakaan, gunakan informasi mutakhir dari bukubuku ilmiah, jurnal, atau internet yang dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah.

d. Pengungkapan

masalah

utama

secara

jelas

dalam

bentuk

pertanyaan

menggunakan kata tanya.


e. Tidak menggunakan kata apa karena tidak menurut adanya analasis, cukup
dijawab dengan ya atau tidak
3.1.2. Tujuan penulisan berisi
a. Target, sasaran, atau upaya yang hendak dicapai
b. Upaya pokok yang harus dilakukan
c. Tujuan utama dapat dirinci menjadi beberapa tujuan sesuai dengan masalah yang
akan dibahas
3.1.3. Ruang lingkup masalah berisi
a. Pembatasan masalah yang akan dibahas
b. Rumusan detail masalah sesuai
c. definisi atau batasan pengertian istilah yang tertuang dalam setiap variable
3.1.4.

Landasan teori menyajikan


a. Deskripsi atau kajian variabel X tentang prinsip-prinsip teori, pendapat ahli dan
pendapat umum, hukum, dalil, atau opini yang digunakan sebagai landasan
pemikiran kerangka kerja penelitian dan penulisan sampai dengan kesimpulan
atau rekomendasi.
b. Penjelasan hubungan teori dengan kerangka berpikir dalam mengembangkan

konsep penulisan, penalaran, atau alasan menggunakan teori tersebut.


Sumber data penulisan berisi:
a. Sumber data sekunder dan data primer
b. Kriteria penentuan jumlah data
c. Kriteria penentuan mutu data
d. Kriteria penentuan sampel
e. Kesesuaian data dengan sifat dan tujuan pembahasan
3.1.6. Metode dan teknik penulisan berisi:
a. Penulisan metode yang digunakan dalam pembahasan, misalnya metode
3.1.5.

kuantitatif,

kualitatif,

deskriptif,

komparatif,

korelasi,

eksploratif

atau

eksperimental
b. Teknik penulisan menyajikan cara pengumpulan data seperti wawancara,
observasi, dan kuisioner; analisis data, hasil analisis data, dan kesimpulan
3.2.

Tubuh Karya Ilmiah


Tubuh karya ilmiah atau bagian utama karya ilmiah merupakan inti karangan berisi

sajian pembahasan masalah. Kesempurnaan pembahasan diukur berdasarkan kelengkapan


unsur-unsur berikut ini:
3.2.1. Ketuntasan materi:
Materi yang dibahas mencakup seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik
pembahasan yang berupa data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer. Pembahasan
data primer harus menyertakan pembuktian secara logika, fakta yang telah dianalisis atau

diuji kebenarannya, contoh-contoh, dan pembuktian lain yang dapat mendukung ketuntasan
pembenaran.

3.2.2. Kejelasan uraian/deskripsi:


a. Kejelasan konsep:
Konsep adalah keseluruhan pikiran yang terorganisasi secara utuh, jelas, dan
tuntas dalam suatu kesatuan makna. Untuk itu, penguraian dari bab ke subbab,
dari subbab ke detail yang lebih rinci sampai dengan uraian perlu memperhatikan
kepaduan dan koherensial, terutama dalam menganalisis, menginterpretasikan
(manafsirkan) dan menyintesiskan dalam suatu penegasan atau kesimpulan.
Selain itu, penulis perlu memperhatikan konsistensi dalam penomoran,
penggunaan huruf, jarak spasi, teknik kutipan, catatan pustaka, dan catatan kaki.
b. Kejelasan bahasa:
Kejelasan dan ketetapan pilihan kata yang dapat diukur kebenarannya. Untuk
mewujudkan hal itu, kata lugas atau kata denotatif lebih baik daripada kata
konotatif atau kata kias (terkecuali dalam pembuatan karangan fiksi, kata
konotatif atau kata kias sangat diperlukan).
Kejelasan makna kalimat tidak bermakna ganda, menggunakan struktur
kalimat yang betul, menggunakan ejaan yang baku, menggunakan kalimat efektif,
menggunakan koordinatif dan subordinatif secara benar.
Kejelasan makna paragraf dengan memperhatikan syarat-syarat paragraf:
kesatuan pikiran, kepaduan, koherensi (dengan repetisi, kata ganti, paralelisme,
kata transisi), dan menggunakan pikiran utama, serta menunjukkan adanya
penalaran yang logis (induktif, deduktif, kausal, kronologis, spasial).
c. Kejelasan penyajian dan fakta kebenaran fakta:
Kejelasan penyajian fakta dapat diupayakan dengan berbagai cara, antara lain:
penyajian dari umum ke khusus, dari yang terpenting ke kurang penting;
kejelasan urutan proses. Untuk menunjang kejelasan ini perlu didukung dengan
gambar, grafik, bagan, tabel, diagram, dan foto-foto. Namun, kebenaran fakta
sendiri harus diperhatikan kepastiannya.
Hal-hal lain yang harus dihindarkan dalam penulisan karangan (ilmiah):
a) Subjektivitas dengan menggunakan kata-kata: saya pikir, saya rasa,
menurut pengalaman saya, dan lain-lain. Atasi subjektivitas ini dengan

menggunakan: penelitian membuktikan bahwa, uji laboratorium


membuktikan bahwa, survei membuktikan bahwa,
b) Kesalahan: pembuktian pendapat tidak mencukupi, penolakan konsep
tanpa alasan yang cukup, salah nalar, penjelasan tidak tuntas, alur pikir
(dari topik sampai dengan simpulan) tidak konsisten, pembuktian
dengan

prasangka

atau

berdasarkan

kepentingan

pribadi,

pengungkapan maksud yang tidak jelas arahnya, definisi variabel tidak


(kurang) operasional, proposisi yang dikembangkan tidak jelas, terlalu
panjang, atau bias, uraian tidak sesuai dengan judul.
3.3.

Kesimpulan
Kesimpulan atau simpulan merupakan bagian terakhir atau penutup dari isi karangan, dan

juga merupakan bagian terpenting sebuah karangan ilmiah. Pembaca yang tidak memiliki
cukup waktu untuk membaca naskah seutuhnya cenderung akan membaca bagian-bagian
penting saja, antara lain kesimpulan. Oleh karena itu, kesimpulan harus disusun sebaik
mungkin. Kesimpulan harus dirumuskan dengan tegas sebagai suatu pendapat pengarang atau
penulis terhadap masalah yang telah diuraikan.
Penulis dapat merumuskan kesimpulannya dengan dua cara:
a. Dalam tulisan-tulisan yang bersifat argumentatif, dapat dibuat ringkasanringkasan argumen yang penting dalam bentuk dalil-dalil (atau tesis-tesis), sejalan
dengan perkembangan dalam tubuh karangan itu.
b. Untuk kesimpulan-kesimpulan biasa, cukup disarikan tujuan atau isi yang umum
dari pokok-pokok yang telah diuraikan dalam tubuh karangan itu.

4.

BAGIAN PELENGKAP PENUTUP

Bagian pelengkap penutup juga merupakan syarat-syarat formal bagi suatu karangan ilmiah.
4.1.

Daftar pustaka (Bibliografi)


Setiap karangan ilmiah harus menggunakan data pustaka atau catatan kaki dan
dilengkapi dengan daftar bacaan. Daftar pustaka (bibliografi) adalah daftar yang berisi
judul buku, artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang mempunyai pertalian dengan
sebuah atau sebagian karangan.
Unsur-unsur daftar pustaka meliputi:
a. Nama pengarang: penulisannya dibalik dengan menggunakan koma.
b. Tahun terbit.
c. Judul buku: penulisannya bercetak miring.
d. Data publikasi, meliputi tempat/kota terbit, dan penerbit..
e. Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel, nama majalah, jilid, nomor,
dan tahun terbit.
Contoh: Tarigan, Henry. 1990. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa. (Banyak versi lainnya, misal: Sistem Harvard, Sistem
Vancover, dan lain-lain)
Keterangan:
a. Jika buku itu disusun oleh dua pengarang, nama pengarang kedua tidak perlu di
balik.
b. Jika buku itu disusun oleh lembaga, nama lembaga itu yang dipakai untuk
menggantikan nama pengarang.
c. Jika buku itu merupakan editorial (bunga rampai), nama editor yang dipakai dan
di belakangnya diberi keterangan ed. editor
d. Nama gelar pengarang lazimnya tidak dituliskan.
e. Daftar pustaka disusun secara alfabetis berdasarkan urutan huruf awal nama
belakang pengarang.

4.2.

Lampiran (Apendix)
Lampiran (apendix) merupakan suatu bagian pelengkap yang fungsinya terkadang
tumpang tindih dengan catatan kaki. Bila penulis ingin memasukan suatu bahan informasi
secara panjang lebar, atau sesuatu informasi yang baru, maka dapat dimasukkan dalam

lampiran ini. Lampiran ini dapat berupa esai, cerita, daftar nama, model analisis, dan lainlain. Lampiran ini disertakan sebagai bagian dari pembuktian ilmiah. Penyajian dalam
bentuk lampiran agar tidak mengganggu pembahasan jika disertakan dalam uraian.
4.3.

Indeks
Indeks adalah daftar kata atau istilah yang digunakan dalam uraian dan disusun secara
alfabetis (urut abjad). Penulisan indeks disertai nomor halaman yang mencantumkan
penggunaan istilah tersebut. Indeks berfungsi untuk memudahkan pencarian kata dan
penggunaannya dalam pembahasan.

4.4.

Riwayat Hidup Penulis


Buku, skripsi, tesis, disertasi perlu disertai daftar riwayat hidup. Dalam skripsi menuntut
daftar RHP lebih lengkap. Daftar riwayat hidup merupakan gambaran kehidupan penulis
atau pengarang. Daftar riwayat hidup meliputi: nama penulis, tempat tanggal lahir,
pendidikan, pengalaman berorganisasi atau pekerjaan, dan karya-karya yang telah
dihasilkan oleh penulis.

5. TATA CARA PENGETIKAN NASKAH KARYA ILMIAH


Tata cara penulisan meliputi bahan dan ukuran kertas dan sampul (cover), aturan
pengetikan, penomoran, daftar (tabel) dan gambar serta aturan dalam penulisan nama.
5.1.

Bahan dan Ukuran

5.1.1. Bahan dan Ukuran Kertas


Naskah dibuat diatas kertas HVS 70gr/m 2 dan tidak bolak-balik. Ukuran kertas adalah
A4 yaitu 210 x 297mm.
5.1.2. Sampul
Warna sampul hitam dalam bentuk hard cover, contoh dapat dilihat di perpustakaan
jurusan atau perpustakaan pusat.

5.2.

Pengetikan

5.2.1. Jenis Huruf


a. Naskah diketik dengan jenis huruf Times New Roman, 12 pt, dan untuk seluruh
naskah harus dipakai satu jenis huruf yang sama.
b. Penulisan kata atau kalimat khusus yang berbahasa Inggris/asing ditulis miring.
c. Lambang, huruf Yunani, atau tanda-tanda yang tidak dapat diketik, harus ditulis
dengan rapi memakai tinta hitam.
5.2.2. Bilangan dan Satuan
a. Semua satuan yang ada dalam tulisan harus menggunakan sistem SI (Sistem
Internasional).
b. Bilangan diketik dengan angka, kecuali pada permulaan kalimat.
c. Bilangan desimal ditandai dengan koma, bukan dengan titik.
5.2.3. Jarak baris
Jarak antara 2 baris dibuat 1,5 spasi, kecuali kutipan langsung, judul daftar tabel dan
gambar yang lebih dari 1 baris, dan daftar pustaka yang diketik dengan jarak 1 spasi ke
bawah.

5.2.4. Batas tepi


Batas-batas pengetikan ditinjau dari tepi, diatur sebagai berikut:
tepi atas

: 3 cm(4 cm untuk halaman pertama Bab)

tepi bawah : 3 cm
tepi kiri

: 4 cm

tepi kanan

: 3 cm

5.2.5. Pengisian ruangan


Ruangan yang terdapat pada halaman naskah harus diisi penuh, artinya pengetikan
harus dari batas tepi kiri ke batas tepi kanan, dan jangan ada ruangan yang terbuang, kecuali
kalau akan dimulai dengan alinea baru, persamaan, gambar, sub-judul, hal-hal khusus.

5.2.6. Alinea Baru


Alinea baru dibuat bertakuh, dimulai setelah kurang lebih 7 karakter (1.27 cm) dari
batas tepi kiri.
5.2.7. Permulaan Kalimat
Bilangan, lambang, atau rumus kimia yang memulai suatu kalimat, harus dieja,
misalnya: Sepuluh ekor tikus.
5.2.8. Judul Bab, Sub Judul, dan Anak Sub Judul
a. Judul bab harus ditulis dengan huruf besar (kapital) semua dan diatur supaya
simetris di tengah-tengah tanpa diakhiri dengan titik. Kalimat pertama setelah sub
judul dimulai dengan alinea baru.
b. Sub Judul ditulis rapat ke sisi kiri, semua kata dimulai dengan huruf besar
(kapital), kecuali kata penghubung dan kata depan. Sub Judul ditandai tebal dan
tanpa diakhiri titik. Kalimat pertama setelah Sub Judul dimulai dengan alinea
baru.
5.2.9. Perincian ke bawah
Jika pada penulisan naskah ada rincian yang harus disusun ke bawah, pakailah nomor
urut dengan angka atau huruf sesuai dengan derajat rincian. Penggunaan garis penghubung (-)
yang ditempatkan di depan rincian tidaklah dibenarkan.
5.2.10. Letak Simetris
Gambar, tabel, persamaan, judul, dan sub judul ditulis simetris terhadap tepi kiri dan
kanan pengetikan.
5.3.

Penomoran
Beberapa bagian laporan TA perlu diberikan nomor identitas yang terbagi atas:

penomoran halaman, tabel, gambar dan persamaan.


5.3.1. Halaman
a. Bagian awal laporan, mulai dari halaman judul sampai ke abstraksi, diberi nomor
halaman dengan angka romawi kecil.
b. Bagian utama dan bagian akhir, mulai dari Bab I hingga halaman terakhir,
memakai angka romawi untuk menunjukkan nomor bab dan angka arab sebagai
nomor halaman. Contoh: halaman pertama pada bab 1 adalah I-1, sedangkan
untuk bab 2 halamannya dimulai dari II-1.

c. Nomor halaman diletakkan disebelah kanan atas, kecuali jika ada judul atau bab
pada bagian atas halaman tersebut maka nomornya ditulis disebelah kanan bawah.
d. Nomor halaman diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1,5 cm dari tepi
atas atau tepi bawah.
5.3.2. Tabel
Tabel diberi nomor urut dengan angka Arab dan diketik simetris dengan rincian
sebagai berikut:
a.

NomortabeldiberikandenganmengikutsertakannomorBab. Contoh: Tabel I.1,


Tabel II.1.

b.

Nomor tabel diikuti dengan judul diawali dengan huruf besar ditempatkan
simetris diatas tabel tanpa diakhiri dengan tanda titik.Contoh: Tabel I.1
Penggunaanenergilistrik di setiapkecamatan.

c.

Jika tabel lebih lebar dari ukuran lebar kertas, sehingga harus dibuat
memanjang kertas (landscape), maka bagian atas tabel harus diletakkan disebelah
kiri kertas.

d.

Tabel yang lebih dari 2 halaman atau yang harus dilipat, ditempatkan pada
lampiran.

5.3.3. Gambar
Gambar diberi nomor dengan angka Arab dengan rincian sebagai berikut,
a.

Bagan, grafik, foto, peta, semuanya disebut gambar (tidak dibedakan).

b.

Nomorgambardiberikandenganmengikut-sertakannomorbab.Contoh: Gambar
I.1, Gambar II.1.

c.

Nomor gambar diikuti dengan judulnya diletakkan simetris dibawah gambar


tanpa

diakhiri

dengan

tanda

titik.Contoh:

GambarlI.1

Sistempembangkitskalamikro
d.

Gambar tidak boleh dipenggal.

e.

Jika gambar lebih lebar dari ukuran lebar kertas, sehingga harus dibuat
memanjang kertas (landscape), maka bagian atas gambar harus diletakkan
disebelah kiri kertas.

f.

Skala pada grafik harus dibuat agar mudah dibaca sehingga dapat digunakan
untuk proses interpolasi atau extrapolasi.

5.3.4. Persamaan
Nomor urut persamaan yang berbentuk rumus matematis, reaksi kimia, dan lain-lain
ditulis dengan angka Arab didalam kurung dan ditempatkan didekat batas tepi kanan.
Contoh:

Fz 2 F f . sin k r 2 Fn . sin k r Fe

... (1)

d di

M t Ft
5.4.

Bahasa

5.4.1. Bahasa Yang Dipakai


Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) dalam bentuk baku (ada subyek, predikat, dan obyek keterangan).
5.4.2. Bentuk Kalimat
Bentuk kalimat tidak boleh menampilkan orang pertama dan orang kedua (saya, aku,
kami, engkau, dia, dan lain-lain), tetapi dibuat dalam bentuk pasif. Pada bagian kata
pengantar, kata saya diganti dengan kata penulis.

5.4.3. Istilah
a.

Istilah yang dipakai adalah istilah Indonesia atau yang sudah diindonesiakan.

b.

Jika terpaksa harus memakai istilah asing maka ditulis dengan huruf miring
(Italic font).

c.

Pemakaian istilas asing yang digabung dengan awalan/akhiran bahasa


Indonesia harus dihindari, contoh mentrainingharus ditulis melatih.

5.5.

Kutipan (rujukan)

Kuitipan pernyataan secara bebas dari rujukan harus di berikan dengan menggunakan
angka di dalam kurund siku, [1], [2], [3] .. Penomeran ditentukan secara berurutan
berdasarkan urutan kutipan. Rujukan yang dikutip pertama diberikan nomor [1] dan
setrrusnya. Urutan angka ini di gunakan sebagai urutan penulisan daftar pustaka.
5.5.1. Nama Penulis yang Diacu
Penulis yang tulisannya diacu dalam uraian hanya disebutkan nama akhirnya saja, jika
lebih dari 2 orang hanya ditulis nama akhir penulis pertama dan diikuti dengan dkk. atau et.al.
Contoh:
a.

Menurut Danu(2006)[1],.....

b.

Distribusi panas yang tidak merata pada cetakan plastik (Budi dan Fauzun,
2006)[2] menghasilkan......

c.

Penyimpangan simulasi numerik adalah 3,5% (Deni dkk., 2003)[3]dan .....


(penulis lebih dari 2 orang).

d.

Untuk mengetahui persentase kandungan air dilakukan dengan proses distilasi.


Batas kandungan air pada pelumas adalah 0,4%[4]. (tanpa menyebutkan penulis).

5.5.2. Nama Penulis Dalam Daftar Pustaka


Dalam daftar pustaka, jika terdapat lebih dari tiga pengarang, hanya ditulis nama
pengarang pertama dengan singkatan et all.
Contoh:
1. Tontowi, A.E., Fauzun, dan Suharto, D., .......
Tidak boleh hanya ditulis
1. Tontowi, A.E. dkk atau Tontowi, A.E. et. al.
5.5.3. Nama Penulis Lebih Dari Satu Kata
Jika nama penulis terdiri dari 2 kata atau lebih, cara penulisannya adalah nama akhir
diikuti dengan koma, singkatan nama depan, tengah dan seterusnya, dan semuanya diberi
titik. Jika disingkat maka penulisannya adalah nama akhir diikuti dengan suku kata nama
depan, tengah dan seterusnya.
Contoh:
a.

Burhanudin Jusuf Habibieditulis : Habibie, B.J. atau

b.

Burhanudin Jusuf Habibie ditulis : Habibie, Burhanudin Jusuf.

5.5.4. Derajat Kesarjanaan


Derajat kesarjanaan tidak boleh dicantumkan.

5.6.

Catatan Bawah, Istilah Baru dan Kutipan

5.6.1. Catatan Bawah (foot note)


Sebaiknya dihindari penggunaan catatan bawah. Ditulis dengan jarak satu spasi.
5.6.2. Istilah Baru
Istilah-istilah baru yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia dapat digunakan
asal konsisten. Pada penggunaan yang pertama kali perlu diberikan padanannya dalam bahasa
asing (dalam kurung). Jika banyak sekali menggunakan istilah baru, sebaiknya dibuatkan
daftar istilah.
5.6.3. Kutipan
Kutipan ditulis dalam bahasa aslinya diketik satu spasi dan tidak diterjemahkan
namun boleh dibahas sesuai dengan kata-kata penulis. Kutipan dalam bahasa asing ditulis
dengan huruf miring.