Anda di halaman 1dari 25

Adventure MEKANIK: Rantai Sepeda Motor..

Kenali jenisnya dan


fungsinya..Yukk..Mariii..
Rantai yang sebagai pemindah daya dari putaran gear box mesin ke roda, punya
peranan penting pada tunggangan Mas Bro. Makanya bikers harus kenal lebih jauh
mengenai jenis keberadaan peranti ini. Seperti kode atau angka yang tercetak di
kemasan rantai. Sebagai pemilik motor, harus tahu arti kode itu agar tidak salah pakai
rantai.

Di setiap kemasan terdapat kode spesifikasi rantai


Kode mengandung arti baik untuk kekuatan ataupun ukuran. Sehingga tidak salah pilih.
Juga tahu peruntukannya.
# Subtitusi Gir Set
Untuk kepentingan modifikasi, substitusi gir dan rantai kerap dilakukan. Buat kejar
endurance atau biar awet, umumnya aplikasi ukuran yang lebih besar.
Seperti Yamaha Scorpio yang aslinya pakai rantai 428 bisa aplikasi rantai lebih besar
milik Honda tiger (520). Tapi, harus diikuti ubahan gir depan dan belakang. Sedangkan
buat kejar akselerasi, biasanya pakai rantai yang lebih kecil. Seperti pada Yamaha Vega
yang ukuran 428 diganti pakai ukuran 415 dari produk aftermarket (bukan original).

Gear set / drive chain sepeda motor


Misalnya; Osaki, Daytona atau SSS. Substitusi juga bisa pakai part orisinal Yamaha
Vega ZR. Yaitu, 420. Sedang di Honda Supra Fit atau Supra X (100 cc) yang pakai
rantai 428 ingin pakai rantai 420 milik Honda Blade atau Supra X 125. Tinggal ganti nap
gir dulu, kalau gir depan tinggal pasang.
# Jenis Rantai
Ada beberapa jenis rantai yang biasa diaplikasi pada motor baik jenis bebek ataupun
sport. Nah, rantai roda yang umum dipakai ada beberapa tipe 415, 420, 428, 428H dan
520. Untuk rantai di bawah 428, biasanya diaplikasi untuk jenis bebek. Sedangkan 428
dan 520 diaplikasi motor sport macam Scorpio (428) dan Tiger (520).

Bagian-bagian rantai sepeda motor


Khusus buat Honda Supra X, dari pabriknya aplikasi 428. Untuk kepentingan modifikasi,
substitusi gir dan rantai kerap dilakukan. Buat mengejar endurance atau biar lebih awet,
umumnya aplikasi ukuran yang lebih besar. Seperti Yamaha Scorpio yang aslinya pakai
rantai 428 bisa aplikasi rantai lebih besar milik Honda tiger (520).
# Kode Rantai Huruf
Selain angka, ada juga huruf. Seperti, kode rantai 420SB-102, 428H-116, dan 520V106. Huruf SB berarti solid bushing. Solid bushing berarti bushing yang dibikin seperti

pipa. Jenis bushing yang biasa seperti pelat ditekuk jadi seperti pipa. Huruf H artinya
high tension yang membedakan bahan di pelat bagian dalam.

Kode, tipe dan spesifikasi rantai


Rantai dengan kode H berarti pelat dalamnya lebih tebal. Rantai berkode H punya daya
tahan minimum tarikan beban 2,1 ton. Sedang tanpa kode H, 1,70 ton. Artinya huruf V,
spesial. V, tanda ada sil penahan gemuk di dinding luar bushing. Bushing dengan kode
V termasuk kategori solid busing.
# Kode Rantai Angka
Biasanya ada 6 baris angka yang ada di kemasan rantai. Itu merupakan kode rantai
yang tandai panjang dan lebarnya. Contohnya, 428-104. Angka yang berada di depan
atau angka 4 menunjukan jarak antar pin. Pin merupakan selongsong yang
menyambung antar pelat, ujar Ari Supriyanto dari bengkel Protehnics.
Satu angka paling depan ada cara hitungannya sendiri. Kalau di depan angka 4, berarti
4/8 inci. Kalau dihitung, 1 inci sama dengan 25,4 mm. Berarti 4/8 x 25,4 mm yang
hasilnya 12,5 mm. Jadi, rantai yang di depannya 4 jarak antar pinnya 12,5 mm.

KodeAngkadanHurufmenentukankekuatandanfungsinya
Lantas, angka kedua dan ketiga punya arti jarak antar pelat dalam. Pelat dalam disebut
juga inner plate yang posisinya tepat di bawah pelat atas. Kedua pelat ini, bisa kelihatan
langsung pakai mata. Angka 28 berarti jarak lebar pelat 7,94 mm. Angka itu didapat dari
tabel standar rantai.
Setelah tiga angka yang tertera di depan, ada lagi angka yang menunjukan panjang
rantai. Seperti 104 berarti panjang rantai 104 mata. Panjang rantai tidak punya satuan.
Angka yang menunjukan panjang rantai, berarti jumlah mata rantai tempat masuknya
gigi-gigi gir belakang dan depan.
Sumber: motorplus-online.com
http://myadventurerider.blogspot.com/2013/12/adventure-mekanik-rantaisepeda.html

Berbagi Pengalaman
Aplikasi Hp dan Komputer,Sepeda Motor,Tips dan Triks Internet dengan Hp.

Sunday, September 26, 2010


Fungsi Rantai Sepeda Motor
Rantai terdiri dari banyak bagian yang kerjanya berlawanan satu sama lain,tanpa
adanya pelumasan, rantai akan aus yang berlebihan. Oleh karena itu biasakan
merawat rantai secara berkala,terutama pada kondisi jalan kotor atau berdebu.
Kelonggaran rantai yang berlebihan dapat mengakibatkan rantai lepas dan dapat
mengakibatkan kecelakaan serta kerusakan mesin yang serius. Usahakan rantai di
periksa setiap saat sepeda motor akan di gunakan. Rantai yang kotor dapat
merusak rantai dan sproket, bersihkan rantai dengan cairan pembersih dan lumasi
dengan oli transmisi. Demi keamanan pengendaraan, periksalah selalu kondisi dan
setelan rantai penggerak sebelum menggunakan sepeda motor. Bila rantai diganti
dengan yang baru, periksalah apakah kedua gigi sproket sudah aus, bila perlu
gantilah sekalian.

Jepitan sambungan rantai penggerak harus di pasang sedemikian rupa,


sehingga bagian ujung yang terbuka akan menghadap berlawanan dengan
arah putaran
Kotoran pada rantai penggerak akan mempercepat keausan, baik untuk rantainya
sendiri maupun bagi roda gigi, oleh karena itu bersihkanlah rantai dengan cairan
pembersih lalu lumasi dengan pelumas rantai atau oli mesin setiap 1000 km.
Jentera penggerak dan gigi-gigi roda jentera biasanya akan menjadi rusak
disebabkan oleh pergeseran, karena sangat susah sekali untuk menentukan
rusaknya gigi-gigi pada jentera penggerak dan pada gigi roda jentera, maka cara
yang terbaik adalah dengan jalan meletakannya dengan yang baru dan lihat serta
periksalah.

Sumber: Buku Teknik Sepeda Motor , oleh:Drs Daryanto. Penerbit: CV.Yrama widia
Bandung.
http://syafiq-salma-salsabila-syauqi.blogspot.com/2010/09/fungsi-rantai-sepedamotor.html

Arti dan Fungsi Spesifikasi Rantai ( Drive Chain ) Pada Kendaraan Bermotor

Rantai paket ( Drive chain ) terdiri dari komponen utama yang terdiri dari GIR
DEPAN, RANTAI, GIR BELAKANG dan SAMBUNGAN RANTAI.
Seringkali kita menemukan tulisan spesifikasi atau ukuran rantai sepeda motor
tertentu yang kita beli pada toko alat sepeda motor ( Sparepart ), baik pada
kemasan barang maupun pada tubuh sparepart tersebut, seperti :

PADA RANTAI

Tertulis :
1. 428-100, 428-104, 428-106, 428-108 dan 428-112
2. 420-100, 420-104, 420-108 dan 420-112
Tentunya tidak semua orang tahu arti dan maksud/fungsi dari spesifikasi tersebut,
padahal idealnya minimal kita tahu ukuran mana sih yang sesuai dengan kendaraan
yang ktia miliki jangan sampai kita salah memesan barang sehingga tidak menutup
kemungkinan akan bolak-balik ke toko hanya untuk barang satu jenis saja.
Karena dilapangan sering terjadi salah info disebabkan kita tidak memberikan
informasi kendaraan dan spesifikasinya yang kemudian disampaikan ketika kita
membeli suatu barang tersebut. Walau demikian memang tidak sedikit juga pelayan
toko yang tidak mengetahui persis spesifikasi barang yang diminta yang akhirnya
barang lainlah yang didapat.
Adapun arti dan maksud/ fungsi dari spesifikasi tersebut adalah sebagai
berikut :
1. 428, 420 : menyatakan ukuran sambungan
2. 100, 104, 106, 108 dan 112 : menyatakan panjang atau banyaknya
sambungan pada rantai. sementara fungsi dari rantai tersebut yaitu untuk
menghubungkan antara gir depan yang digerakkan oleh mesin kendaraan
bermotor dengan gir belakang yang memutarkan roda belakang sehingga
kendaraan bisa melaju. Adapun setelan rantai yang menghubungkan gir
depan dengan gir belakang harus mengikuti aturan dari pabrikan atau
minimal penyetelan janganlah terlalu kendor dan terlalu kencang sehingga
ketika jalan tidak menimbulkan efek tidak nyaman.

PADA GIR DEPAN DAN GIR BELAKANG

Tertulis :
1. GIR DEPAN : 15, menyatakan banyaknya mata gigi roda gir dalam satu
putaran 360 derajat. Semakin besarnya nilainya maka semakin enteng
tarikan mesin dan berlaku sebaliknya.
2. GIR BELAKANG : 36, 37, 39 dll, menyatakan banyaknya mata gigi roda gir
dalam satu putaran penuh 360 derajat. Semakin besar nilai yang tercantum
pada keping gir, maka semakin enteng tarikan mesin dan berlaku sebaliknya.
Arti dan maksud/ fungsi spesifikasi tersebut adalah :
Untuk menyeimbangkan antara tarikan mesin dengan bobot total kendaraan
tersebut, sehingga ketika mesin dihidupkan dan persneleng ( gigi ) di jalankan maka
mesin akan melakukan tarikan terhadap GIR melalui RANTAI, maka semakin besar
ukuran GIR ( semakin banyak mata roda gigi ) akan semakin enteng tarikan mesin
dan sebaliknya.

SAMBUNGAN RANTAI

Sambungan rantai terdiri dari 3 jenis ukuran yang lazim dipakai yaitu 420, 428 dan
520. Untuk penyambungan disesuaikan dengan ukuran rantai yang akan
disambung, misal ukuran 420 harus menggunakan sambungan 420, ukuran 428
harus dengan sambungan 428 dan begitu juga dengan ukuran rantai 520 harus
disambung dengan menggunakan sambungan 520 misal speda motor Tiger.

KESIMPULAN
Ada beberapa hal standar yang wajib diketahui terkait dengan GIR PAKET ( Drive
Chain ) kendaraan bermotor :
1. Kenali dulu spesifikasi gir paket kendaraan kita agar memudahkan ketika
hendak melakukan penggantian sparepart ( Replacement ).
2. Ukuran 428, 420, 520,... menyatakan ukuran mata rantai.
3. Ukuran 100, 104, 106, ... menyatakan ukuran panjang rantai hingga 360
derajat.
4. Ukuran GIR DEPAN 14, 15, ... menyatakan banyaknya mata roda gigi satu
putaran 360 derajat.
5. Ukuran GIR BELAKANG 34, 35, 36, ... menyatakan banyaknya mata roda
gigi satu putaran 360 derajat.

Demikianlah Arti dan fungsi spesifikasi rantai kendaraan bermotor, semoga


bermanfaat.
http://dianmotorcell.blogspot.com/2013/08/arti-dan-fungsi-spesifikasi-rantai.html

http://mivecblog.com/2013/11/14/sejarah-dan-fungsi-timing-belt-pada-mobil/
http://enoanderson.com/2014/07/17/yuk-kenali-kelebihan-dan-kekurangan-timingbelt-vs-timing-chain-vs-timing-gear/

Transmisi Sabuk

Transmisi sabuk
Transmisi sabuk adalah sistem transmisi tenaga/daya/momen puntir dari
poros yang satu ke poros yang lain melalui sabuk (belt) yang melingkar/melilit pada
puli yang terpasang pada poros-poros tersebut.
Karakter gesekan sabuk dan permukaan puli sangat mempengaruhi kemampuan
transmisi. Jadi besarnya gaya tegang dalam sabuk menentukan besarnya momen
puntir yang dapat ditransmisikan.
Keuntungan transmisi sabuk:
a. Pemindahan tenaga berlangsung secara elastik, maka tidak dibutuhkan kopling
elastik.
b. Tidak berisik.

c.
d.
e.
f.
g.

Dapat menerima dan meredam beban kejut.


Jarak poros tidak tertentu
Jarak poros yang lebih besar dapat dicapai.
Mudah dah murah dalam pembuatan.
Hanya memerlukan sedikit perawatan.
Kerugian transmisi sabuk:

a. Slip yang terjadi mengakibatkan rasio angka putaran tidak konstan.


b. Diukur dari besarnya tenaga yang ditransmisikan, sistem transmisi sabuk
memerlukan dimensi/ukuran yang lebih besar dari sistem transmisi roda gigi atau
rantai.
Jenis transmisi sabuk dan pemakaiannya.
1. Transmisi sabuk lurus.
Dipakai untuk puli-puli yang berputar dengan arah yang sama dan poros dimana pulipuli terpasang mempunyai garis sumbu yang sejajar dan horisontal, walaupun bisa
juga dipakai untuk poros-poros vertikal.
a. Transmisi sabuk tanpa penegang
Sabuk ini tidak perlu diberi gaya tegang lagi, karena gaya beratnya sendiri. Dipakai
untuk poros-poros dengan kedudukan horisontal yang memiliki jarak poros lebih dari
5 m. Karena itu sisi tegang/tarik dari sabuk diletakkan di bagian bawah.
b. Transmisi sabuk mulur
Sabuk pada transmisi ini sengaja dibuat lebih pendek dari jarak poros, tetapi
material sabuk dipilih material dengan elastisitas yang pas sehingga tercipta gaya
tegang yang sesuai.
c. Transmisi sabuk dengan puli penegang
Transmisi ini dilengkapi dengan puli penegang yang menekan sisi kendor sabuk di
dekat puli kecil dari luar sehingga sudut lilit menjadi bertambah besar. Pergantian
arah putaran tidak boleh terjadi pada sistem ini.
d. Transmisi sabuk dengan elemen penegang lain
Elemen penegang pada sistem transmisi ini bukan puli melainkan elemen-elemen lain
seperti baut, bandul/pemberat, momen puntir balik, serta sistem SESPA.
2. Transmisi sabuk silang.

Transmisi dengan jenis ini sudah jarang dipakai, karena selain pembebanan puli tidak
menguntungkan akibat gaya puntir tambahan, bagian tepi cepat aus, terutama pada
sabuk rata yang lebar.
Dalam pemasangannya, bagian sisi tarik harus lurus dan sisi kendor miring sehingga
lepasnya sabuk dari puli dapat terhindarkan.
3.

Jenis sabuk dan material sabuk


Material sabuk harus disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan, yaitu:
Factor gesekan

Tegangan tarik

Elastisitas

Frekuensi tekuan

Factor kepekaan terhadap lingkungan kerja


Jenis sabuk:

3.1 Sabuk rata


3.1.1 Sabuk rata dari kulit
N

Kondisi kerja

Pengerjaan kulit

Kode

o
1

Normal

Disamak dengan kulit

Temperature tinggi,

bakau
Disamak dengan asam

pengaruh kimiawi

krom

rendah, kelembapan
udara tinggi
lapisan
Tunggal
Ganda dan majemuk
Kode

Table sabuk
37 mm
812 mm
Pengerjaan kulit

Lebar sabuk
Sampai 500mm
Sampai 800 mm
Karakter

N
T

Direntang basah
Derentang kering

HG
Dipres berat
G
Dipres
S
standart
Sabuk< D pulley , maka kulit dipres > dan kulit <

Sewaktu dioperasikan
pertambahan panjang
jenis N< jensT
Kadar lemak 7%
Kadar lemak 14%
Kadar lemak 25%

Pemakaian
a) HG : Dipakai pada semua jenis transmisi sabuk
b) G : pemakaian normal
c) S : kecepatan rendah pulley bertingkat, operasi kasar.
3.1.2 Sabuk rata dari rajutan dan tekstil
Terbuat dari material organic dan sintetis.
Kelebihan
: dapat dibuat tanpa sambungan, sehingga tidak berisik
Kerugian
: peka terhadap robekan pada tepi yang mudah menjalar ke tengah
sabuk
Sabuk tebal dibuat berlapis, yang dibuat dengan cara:
- Dijahit
- Dilem denagn karet alam (balata)
- Divulkanisir dengan karet
Yang paling sering dipakai adalah sabuk balata, karena berlapis rajutan katun, dilem
dengan karet alam, lebih kuat 2-3 kali lipat dari pada sabuk kulit. Tidak cocok bila
dipakai di tempat panas. Peka terhadap oli dan bensin, tapi tidak pada kelembapan
udara.
Sedangakan sabuk karet tahan terhadap pengaruh kimiawi.
3.1.3 Sabuk plastik dan sabuk berlapis majemuk
Memiliki kekuatan tarik yang tinggi dan hampir tidak elastis. Tapi jarang dipakai
karena factor gesekannya jelek.

Yang paling sering di pakai : sabuk berlapis majemuk tanpa sambungan. Lapisannya
terdiri plastic dan kulit yang dilem dengan kuat.
Lapisan sabuk tersbut terdiri dari 2 atau 3 lapis:
a) Lapisan sentuh dibuat dari kulit yang disamak dengan asam krom
b) Laposan tarik dibuat dari palstik
c) Lapisan penutup dibuat dari rajutan yang divulkanisir dengan karet
Sabuk ini sangat elastis, dan tidak peka terhadap bahan-bahan pelumas dan
kelembapan udara, umur pakainya panjang. Dapat dipakai untuk rasio sampai 1:20
dan kemampuan transmisinya 3 kali lipat dari sabuk kulit, sehingga cocok untuk
kecepatan yang tinggi.
3.2. Sabuk V
Adalah sabuk karet dengan tambahan benang-benang rajutan sebagai elemen
penguat terhadap tegangan tarik pada bagian atas dari profil sabuk berbentuk
trapesium. Bagian luar dari sabuk V berupa rajutan yang divulkanisir sebagai
pelindung bagian dalam.
3.2.1. Sabuk V Standart (convensional V belt)
Sudut profil
= 35 .. 39
Jenis tipe ukuran : 12 macam (ISO : 7 macam)
Koefisien
b/h = 1,5 .. 1,65
Panjang sisi dalam Li = 100 .. 18000 mm
(yang ada di pasaran)
3.2.2. Sabuk V Sempit (wedge V belt)
Dipakai untuk kecepatan yang lebih besar daripada transmisi sabuk V standart.
Jenis tipe ukuran : 5 macam (USA / British : 3 macam)
Koefisien
b/h = 1,2 .. 1,25
Ada juga bentuk khusus dari sabuk V sempit, yaitu permukaan sisi dalamnya
berbentuk cekung / concave dengan tujuan sebagai stabilisator benang benang
rajutan sehingga gesekan antara molekul-molekul didalam sabuk dapat dikurangi.
3.3. Sabuk Gigi (timing belt Zahnriemen)
Merupakan elemen transmisi dengan bentuk gabungan antara rantai dan shaft rata.
Dengan demikian keuntungan dari kedua jenis elemen transmisi tersebut ada
didalam sabuk gigi, yaitu :
1. Fleksibel / luwe / tidak kaku.
2. Perbandingan angka putaran (rasio) tepat, karena tidak terjadi selip.

3. Tidak berisik.
4. Tanpa pelumasan.
Jenis sabuk ini terbuat dari plastik polyurethane / karet neopren dengan bagian inti
/ bagian pembawa beban terletak di zona netral (zona bebas devormasi) dari kawat
baja yang digulung secara memanjang / aksial. Gaya keliling F u yang dipindahkan dari
pulley yang satu ke puli yang lain oleh sabuk ini dapat mencapai 5000 N dan
kecepatan kelilingnya vu sampai 60 m/s.
4. Perhitungan Transmisi Sabuk
Transmisi sabuk hanya dapat berfungsi seperti yang diharapkan, yaitu memindahkan
tenaga, jika gaya gesek FR antara sabuk dan permukaan puli sekurang-kurangnya
sama besar / lebih besar daripada gaya keliling F u yang harus dipindahkan dari puli
satu ke puli yang lain.
FR =. Fn Fu

(N)

: angka gesekan antara sabuk dan puli.


Besarnya tergantung pada:
- Jenis sabuk
Permukaan puli
Kecepatan sabuk
Fn : gaya tekan sabuk terhadap puli atau gaya normal (N). gaya ini diperoleh ketika
sabuk diregang dengan sebuah gaya renggang F v. gaya normal mempengaruhi gaya
poros FA sesuai dengan bentuk puli ataupun sabuk dan cara pemasangan sabuk.
Kesimpulan
1. Besarnya daya guna.
FN= FU= F1 F2
(N)

2. Transmisi sabuk hanya dapat memindahkan tenaga jika :


F1 > FU dan F2 < FU
FU : gaya keliling
F1 : gaya tarik sabuk pada sisi tegang / sisi beban
F2 : gaya tarik sabuk pada sisi kendor / sisi kosong

3. Gaya poros FA dapat dihitung secara grafik atau dengan perhitungan sebagai
berikut :
FA = (F1 + F2) . cos = (F1 + F2) .
1 = sudut lilit atau kontak pada puli kecil
Tegangan Guna adalah tegngan yang timbul akibat pembebanan yang terjadi antara
puli kecil dan sisi tegang.
N
1
2

Agar sabuk memiliki umur pakai yang tinggi, maka besarnya slip dibatasi
sebagai berikut:
= ((V1-V2) / V1) . 100% 2%
Rasio yang sebernarnya :
i = (n1 / n2) = ((d2 + s) / (d1 + s)) . (100 /(100 ))
Di dalam perhitungan, kebanyakan table sabuk s diabaikan.
Tabel pemilihan rasio i
Jenis sabuk / system transmisi sabuk
Rasio i
Sabuk rata lurus
6
Dengan puli penegang
Sampai 15
Istimewa, misalnya: sabuk berlapis Sampai 20
majemuk tanpa sambungan
Sabuk v
Sampai 10
Dianggap bahwa sabuk ambil bagian dalam pemindahan tenaga pada seluruh busur
lilitnya, maka perbandingan antara gaya atau tegangan pada sisi tegang (F1 atau 1)
dan sisi kendor (F2 atau 2) dapat dicari dengan Rumus Eytelwein.

e = 2,718 basis darinlogaritma natural


= angka gesekan rata-rata antara puli dan sabuk lihat table TM.1

1 = sudut lilit sabuk pada puli kecil (radian)


Dengan rumus Eytelwein tersebut besarnya gaya guna F N dapat dihitung:

Catatan : Pada transmisi tenaga dengan system sabuk, semakin besar daya
guna yang harus ditransmisikan, harus semakin besar pula harga, tegangan ijin pada
sisi tengang atau sisi beban.
Rumus frekuensi tekuk:

BZ = frekuensi tekuk (s -1)


z = jumlah puli pad asistem transmisi sabuk
v = kecepatan sabuk
L = panjang sabuk
Tegangan sentrifugal :

Tegangan total pada sabuk (pada sisi tegang) :

Jadi jelaslah, bahwa besarnya tenaga yang dapat ditransmisikan dengan


system sabuk dipengaruhi oleh :
Ukuran sabuk
Sudut lilit
Angka gesekan sabuk puli
Kecepatan sabuk

Perhitungan transmisi sabuk secara praktis

Dipengaruhi oleh factor sebagai berikut :


Factor lingkungan kerja (udara yang lembab, berminyak, temperature yang
berubah- ubah, dll).
- Factor sudut lilit
- Factor susunan puli
- Dll
Menentukan ukuran sabuk rata dari kulit
Perhitungan :

b = lebar sabuk rata


p = tenaga guna
k = factor koreksi
PR1 = kemampuan transmisi nominal sabuk rata dengan lebar 1cm

PR1 :

kemampuan transmisi kemampuan sabuk rata denga lebar, 1cm (kW/cm)

lihat table TM.2


Basatnya PR1 tergantung pada angka putaran n1 dan diameter d1 (indeks 1= puli kecil)
serta tebal sabuk s
Dianjurkan : tebal sabuk s =0,01.d + 3mm
d1 diukur dalam mm
k:

factor kodeksi
k = k1. k2. k3
k1 : factor lingkunan kerja

(table TM.3a)

k2 : factor sudut limit pada puli kecil

(table TM.3b)

k3 : factor kedudukansumbu poros puly (table TM.3c)


sesudah memilih ukuran standart untuk lebar sabuk s (yang di sesuaikan dengan
table TM.2), hendaknya juga diperiksa tentang frekuensi bentuk B z nya, apakah
melebihi Bz

max

yang termuat didalam table TM.1

Besarnya gaya poros FA berdasarkan pengalaman ditentukan sebagai berikut :


a) pada transmisi sabuk mulur (jarak poros tetap, tetapi panjang sabuk lebih pendek)
FA 5 . F u
b) pada ransmisi sabuk dengan poros yang dapat diatur
FA 3,5 . Fu

c) pada transmisi sabuk dengan puli penegang


FA 2,5 . Fu
B. Menentukan ukuran sabuk rata berlapis majemuk
Karena adanya keanekaragaan material, konstruksi serta teknik pembuatannya,
maka tidak ada cara yang umum untuk menentukan ukuran sabuk rata berlapis
majemuk. Oleh sebab itu pemakaian, cara menghitung dan data lain yang diberikan
oleh firma pembuat sabuk dari jenis tersebut haruslah dijadikan pegangan dalam
melakukan pekerjaan perencanaan konstruksi.
Di bawah ini diberikan contoh dari firma SIEGLING, Hannover, Jerman Barat
untuk sabuk rata berlapis majemuk EXTEMULTUS (Bauart 80):
Mula mula dipilih diameter puli kecil (d 1) dan puli besar (d2) seperti pada sabuk
reta dari kulit. Dari ukuran diameter puli kecil dan frekwensi tekuk (lihat rumus
M.9) dapatlah ditentukan tipe sabuk (belt type) dengan pertolongan diagram pada
halaman 19
Diagram pemilihan tipe sabuk rata berlapis majemuk dari firma Siegling, Jerman
Barat.

Tabel tentang tipe dan karakter sabuk rata berlapis majemuk EXTEMULTUS
(sabuk Siegling, Bauart 80)

Menghitung lebar sabuk rata berlapis majemuk yang diperlukan dilakukan seperti
pada menghitung sabuk rata dari kulit.

: lebar sabuk (cm)

: tenaga guna (kW)


Liht keterangan rumus M.14

PR1

: kemampuan transmisi nominal sabuk rata dengan lebar 1cm (atau tenaga nominal
yang dapat ditransmisikan oleh 1cm lebar sabuk rata)
Diagram tentang besarnya tenaga nominal yang dapat ditransmisikan oleh 1cm lebar
sabuk dengan sudut lilit 1 = 180o

Langkah paling awal adalah menentukan diameter awal pulley (dm1 dan dm2) dimana
besarnya ratio i tetap dipertahankan (lihat bab 5.2.B.a). ukuran sabuk v standar
pada tabel TM.4.
Faktor yang mempengaruhi besarnya tenaga yang ditransmisikan :
Jumlah sabuk (z)
Kemampuan transmisi nominal sabuk-v p180 (kw)
Besarnya p180 dapat dipengaruhi oleh kecepatan sabuk
dan lebar sabuk b (tabel TM.5)
Faktor koreksi
C1= faktor sudut lilit (TM.6a)
C2=faktor beban lebih (TM.6b)
C3=faktor diameter pulley kecil (TM.6c)

Zmin = 2; Zmax =16


Rumus frekuensi tekuk

Fa 2.Fu
D. Menghitung/menentukan ukuran sabuk v-sempit
Mula-mula tentukan profil sabuk yg sesuai berdasarkan:
Tenaga guna yang ditransmisikan.
Angka putaran dari puli kecil n1
Dengan pertolongan diagram.
Sesudah itu pilih diameter kerja(dw) dari puli kecil(sekecil mungkin) standarisasi
pada bab 5.2.C.a. Diameter kerja dari puli besar berdasarkan rasio i yang
dikehendaki.
Untuk tenaga guna yang dihitung adalah jumlah sabuk

Z = jumlah sabuk
P = tenaga guna(kW)
P180 = kemampuan transmisi nominal sabuk v-sempit(kW)
Besarnya P180 bergantung pada kecepatan sabuk
c

= faktor koreksi
c = c1.c2.c3
c1 = faktor sudut lilit pada puli kecil(Tabel TM.6a)
c2 = faktor diameter kerja puli kecil
a). Jika dw1 pil >dw1 min
b). Jika dw1 pilihan dw1 min, maka C2 =1
c3 = faktor panjang kerja dari sabuk v-sempit
Lw/Lw C3
0,3
0,8
0,5
0,8
7
1,5
1,08
2,0
1,12

Keterangan:
Indeks w = kerja
= patokan
Panjang kerja sabuk v-sempit(Lw) adalah panjang yang diukur pada sumbu netral.

Panjang kerja yang distandarisasi maupun panjang kerja patokan(Lw) dapat dilihat
pada tabel TM.7
Frekuensi Tekukan pada Sabuk V-Sempit

Gaya poros
Fa 2.Fu
4.2 Panjang Sabuk, jarak poros, jarak rega
A. Sabuk rata
a. Untuk transmisi sabuk rata lurus .
Panjang sabuk (pada sisi sentuh) hasil perhitungan (indeks r= perhitungan ) secara
tepat :
La : jarak poros (mm)
: suduit inklinasi sabuk
sin = cos 1/2=(d2-d1)/2.La
1 : Sudut lilit pada puli kecil
1 = 1800 2
= ( 1800-1)/2
d1= diameter puli kecild2= diameter puli besar
Biasanya rentangan sudut 1 140.1800 maka rumus pendekatan untuk panjang
sabuk adalahsebagai berikut:
Keterangan: kwosien ( d2-d1)/La 0.1,15 adalah identic dengan 1 1800..1400
yang sering ditemui dalam praktek
Sudut lilit 1 dapat juga dihitung dengan rumus pendekatan
Panjang sisi senth standar dari sabuk rata tanpa sambungan yang terdapat di
pasaran L = 400,440,500,560,630 (mm) dst
Peningkatan ukuran panjang di atur dengan bilangan standard urutan R20 atau
dengan factor peningkatan
f20 = 20 10 1.12
dengan panjang L tersebut besarnya jarak poros yang sesuai dihitung dengan rumus
sebagai berikut
B. Sabuk V Standar

Dengan rumus yang sudah ditntukan sebelumnya, dapat dihitung panjang rata-rata
dari sabuk Lmr, jika d1 diganti dm1 dan d2 diganti dm2.
Keterangan :
m = rata-rata
r = hasil perhitungan
Lir = Lmr 2.b

dimana

Lir = panjang dalam sabuk V tanpa sambungan


Lmr = panjang rata-rtaa sabuk
b = lebar sabuk

Lm = Li + 2.b

dimana

Lm = panjang rata-rata sabuk V


La = jarak poros yang sesuai

x = . (dm2 + dm1) 2. Lm
jika jarak poros tidak ditentukan sebelumnya, maka
dianjurkan:
La dm2 + 3.c
(c diambil dari table)
biasanya:
La 0,7 . 1,0 . (dm1 + dm2)
sedapat mungkin La < 2. (dm1 + dm2)
Jarak regang untuk sabuk V standar:
Ssp 0,03. Lm
Jarak pasang (pengurangan jarak poros agar sabuk tanpa sambungan dapat
dipasang tanpa tegangan)
Sv 0,015. Lm
C. Sabuk-V sempit
Dengan rumus M.18 dan M.19 dapat dihitung panjang kerja dari sabuk
diganti

dan

keterangan :
indeksw = kerja
r = hasil perhitungan
Dari panjang kerja sabuk

, jika

diganti

, dapatlah dicari panjang kerja sabuk-V yang ada

dipasaran dengan table TM.7, yaitu

yang paling mendekati

jarak poros yang diperlukan dapat dihitung dengan rumus:

, sehingga

Jika jarak poros tidak ditentukan sebelumnya, maka


dianjurkan:
La 0,7 . 1,0 . (dw1+dw2)
sedapat mungkin:
La < 2.(dw1+dw2)

a)
b)

Jarak regang sabuk V sempit:

Ssp 0,03. Lw

Jarak pasang sabuk V sempit:

Sv 0,015.Lw

5. Konstruksi Tranmisi sabuk


5.1 Patokan umum
Dalam merencanakan konstruksi transmisi sabuk ada beberapa ha yang harus
diperhatikan secara khusus, yaitu:
Kemampuan transmisi
Umur pakai
Pemilihan jenis sabuk
Pemilihan material sabuk
Syarat utama agar transmisi sabuk berfungsi dengan baik adalah perputaran puli
yang sentrik.
Optimalisasi konstruksi transmisi sistem sabuk dapat dicapai melalui factor :
Perencanaan dan pengerjaan puli (faktor ongkos)
Pengerjaan permukaan puli, terutama pada sisi sentuh (factor umur pakai)
5.2 Ukuran Utama puli sabuk
Ukuran standart. Ukuran utama Puli sabuk terdiri dari
Diameter sentuh (untuk sabuk rata), diameter rata-rata (untuk sabuk-V standart),
diameter diameter kerja (untuk sabuk-V standart)
Lebar
Ukuran profil alur
Ukuran lainnya bebas.
http://elemen-mesin.blogspot.com/2013/01/transmisi-sabuk.html