Anda di halaman 1dari 26

Usulan Teknis Perencanaan

Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

F. PENDEKATAN DAN METODOLOGI

F.1. U M U M
Dalam melaksanaan tugasnya, kami selaku Konsultan Perencana akan melakukan
beberapa pendekatan agar dapat tercapai Maksud dan Tujuan dari Perencanaan..
Pendekatan yang kami lakukan adalah sebagai berikut :
Memahami Isi Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Memahami literatur literatur dari aspek teknis substansial maupun kebijakan dan
peraturan yang terkait dengan perencanaan, perancangan, persyaratan teknis,
pelaksanaan pembangunan seperti :
a. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 Tentang
Bangunan Gedung.
b. Persyaratan

Teknis

Bangunan

Gedung

(Kepmen

PU

No.

441/KPTS/1998)
c. Persyaratan Teknis Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Umum dan
Lingkungan (Kepmen PU No. 468/KPTS/1998)
d. Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada
Bangunan Gedung dan Lingkungan (Kepmen PU No 10 /KPTS/2000)
e. Kepmen Kimpraswil No. 332/KPTS/M/2002 Tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara
f.

SK. Menpraswil No. IK. 02.05.Mn/135 tanggal 19 Pebruari 2003.

F.2. Pendekatan dan Metodologi


A. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini
adalah :
1. Pengumpulan data, yang terdiri dari :
a.

Studi literatur baik aspek teknis-substansial maupun kebijakan dan


peraturan yang terkait dengan perencanaan, perancangan, persyaratan

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

teknis, pelaksanaan pembangunan, dan pengawasan pembangunan


Gedung Pemerintah
b.

Melakukan survey dan kunjungan lapangan untuk pengukuran dan


penelitian tentang lokasi dan daya dukung tanah.

2. Membuat analisis-analisis yang meliputi :


a.

Analisis pengelolaan, yang meliputi kajian tentang :

Peraturan-peraturan Pemerintah tentang Bangunan Pemerintah


berupa Kantor atau Rumah Dinas dan lain lainnya.

Evaluasi terhadap mekanisme yang berhubungan dengan bangunan


sekitarnya (jika ada).

b.

Analisis kebijakan pemerintah, yang meliputi kajian tentang


kebijakan-kebijakan baik berskala normal maupun regional, seperti :

Kebijakan Tata Ruang

Kebijakan Standard Bangunan

Kebijakan Pembangunan Sarana dan Prasarana Kota

Kebijakan Inventarisasi Bangunan dan Lingkungan pada Kawasan

c.

d.

Analisis potensi dan kendala yang meliputi :

Sumber daya alam & infrastruktur

Sumber daya manusia

Sosial dan budaya


Analisis permasalahan yang meliputi kajian permasalahan secara

umum, lokal dan regional


3. Strategi Pengembangan
Dari analisis diatas di susun strategi pengembangan agar dapat dicapai
sasaran dan studi untuk pembangunan.
4. Membuat Perumusan Pedoman Pembangunan
Pedoman ini berguna untuk mengetahui hal-hal yang harus dipersiapkan
untuk membangun Gedung Pemerintah seperti Kantor atau Rumah Dinas,
mulai dari persyaratan, perijinan, pihak-pihak terkait yang harus dihubungi
dan lain-lain.
5.

Melakukan konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak terkait baik tingkat


Kabupaten,

serta

pihak-pihak

yang

berkompeten

dalam

pembangunan Gedung Pemerintah seperti Kantor atau Rumah Dinas.

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

proses

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

6.

Melakukan pembahasan dengan Pemda Kabupaten Merauke, maupun


Dinas Terkait dan bersama dengan para stakeholders khususnya Satuan
kerja dan Pemerintah Daerah setempat dalam rangka merumuskan
Perencanaan dan Perancangan Gedung Pemerintah seperti Kantor atau
Rumah Dinas.

F.3 Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan


Metodologi yang akan digunakan sebagai berikut :
1. Pengumpulan data awal lokasi
Yaitu dengan melakukan analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap lokasi
sehingga dapat dihasilkan pendefenisian dan identifikasi terhadap kawasan.
Penyiapan pengumpulan data ini meliputi :
a) Pemilihan instansi/kelompok masyarakat/responden lain berdasarkan
metode stakeholders analisis yaitu :

Pemerintah Kabupaten Merauke seperti Bupati dan perangkat


Bappeda

Instansi pemerintah dalam hal ini Dinas PU, Tata Kota dan lainnya
yang terkait

Team Teknis dan Pendamping

Ahli Bangunan Gedung

Swasta/Asosiasi Profesi

Kelompok Masyarakat

LSM

Rancangan teknis pengumpulan data yang terdiri dari :

Data primer, berdasarkan pengamatan, wawancara dan konsulting


langsung dilapangan, serta rapat koordinasi. Pengumpulan data
primer ini dilakukan konsultan setelah melakukan kajian kelayakan
teknis dan biaya, untuk memperoleh rancangan yang sesuai.

Data sekunder, berdasarkan kajian literatur peraturan dan perundangundangan

serta

pembangunan.

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

kajian

dan

perumusan

konsep

rancangan

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

b) Perangkat pembantu pengumpulan data


Perangkat ini dipersiapkan sebelum melakukan kegiatan pengumpulan
data, yang antara lain terdiri dari :

Surat pengantar survey dari Proyek Pembinaan Teknis Bangunan


Gedung .

Perencanaan

dan

penyiapan

materi

untuk

melakukan

konsulting/wawancara.

Rapat koordinasi, dll.

2. Analisis yang akan dilakukan konsultan, antara lain :


Analisis Stakeholder Adalah analisis untuk mengidentifikasi pelaku-pelaku
yang terlibat dalam proyek Pembangunan Gedung Pemerintah seperti Kantor
dan rumah Dinas, baik langsung maupun tidak langsung.
3. Perumusan-perumusan yang dilakukan antara lain :

Perumusan Permasalahan Problem Tree


Dengan metode Problem Tree ini dapat teridentifikasi permasalahanpermasalahan yang ada dan dapat diklarifikasi, sehingga dapat tersusun
suatu tingkatan permasalahan dan kaitannya.
Dari permasalahan ini dapat diketahui langkah-langkah skala prioritas apa
saja yang diperlukan dalam pemecahan masalahan pembangunan
Gedung Kantor atau Rumah Dinas.

Perumusan strategi penataan kawasan dan program implememtasi


Perumusan ini disusun dengan memperhatikan aspek-aspek sosial,
budaya, ekonomi dan lingkungan setempat.

F.4 Proses Perancangan


Pelaksanaan Perencanaan Proyek terlihat pada bagan terlampir (Bagan Alir), yang
menggambarkan jaringan jalur hubungan kerja dan informasi dari semua disiplin
yang terlibat.
Dalam tahap Pra Studi diperlukan studi banding untuk memperluas cakrawala
perencanaan dalam merencanakan suatu pedoman. Selanjutnya dimantapkan dalam

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

perumusan kebutuhan yang meliputi Program Besaran maupun Organisasi Ruang


dan sebagainya.
Tahap selanjutnya adalah memantapkan Konsep Filosofi dan Konsepsi Fisik yang
akan mendasari langkah-langkah selanjutnya. Dalam pendekatan untuk selanjutnya
dikembangkan dalam Desain Development dan Final Design.
Masalah baru yang diakibatkan akan masalah lingkungan yang akan muncul, harus
sudah diantisipasi sebelumnya, agar dapat meningkatkan pelayanan pada
masyarakat sesuai dengan fungsinya dan tidak merusak lingkungan baik alamiah
maupun buatan manusia , seperti tingkat kebisingan dan polusi
.

F.5 Strategi Perencanaan


Strategi perencanaan yang akan dilakukan oleh konsultan adalah sebagai berikut :
1. PRA-RENCANA
Membuat

gambar-gambar

pra-rencana

arsitektur,

yang

merupakan

pengembangan dari konsep gambar yang sudah dibuat terlebih dahulu dalam
tahapan pra-rancangan. Dalam tahap ini konsultan perencana akan selalu
mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan Pemberi Tugas, sehingga akan
didapat produk gambar yang terkoordinasi. Selain itu konsultan juga akan
berpedoman pada standar dan peraturan yang ada.
Gambar-gambar PRA-RENCANA ARSITEKTUR yang akan dibuat antara lain :
Site Plan, Denah, Tampak, Potongan Bangunan
2. PENGEMBANGAN RENCANA
Pada tahap ini konsultan membuat gambar-gambar pengembangan arsitektur,
sistem

struktur

dan

sistem

instalasi

dan

elektrikal,

yang

merupakan

pengembangan dari gambar-gambar pra-rencana.


Dalam tahap ini konsultan perencana akan selalu mengadakan konsultasi dan
koordinasi dengan pihak Pemberi Tugas, sehingga akan didapat produk gambar
yang selaras, terpadu dan terorganisasi. Gambar - gambar perencanaan yang
dihasilkan konsultan ini sudah berdasarkan hasil analisa, sistem dan perhitungan
yang berpedoman pada standar dan peraturan yang ada.
Gambar-gambar PENGEMBANGAN RENCANA yang akan dibuat konsultan
pada tahap ini antara lain :

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

a) Gambar-gambar perencanaan detail arsitektur, meliputi :

Denah, tampak, potongan bangunan

Rencana pola lantai, plafond

Detail tangga, toilet, kusen

Detail Arsitektur lainnya.

b) Gambar-gambar perencanaan detail sistem struktur, meliputi :

Rencana pondasi dan kolom

Rencana plat lantai, balok, kolom

Rencana ring balok, portal

Rencana tangga

Detail struktur lainnya

Detail penjelasan struktur yang terkait dengan gambar arsitektur

Arahan yang digunakan dalam perencanaan detail ini antara lain :

Perencanaan struktur akan diperhitungkan terhadap keamanan, daya


tahan serta kemudahan memperoleh material yang disesuaikan dengan
kondisi keuangan.

Semua perhitungan struktur akan dibuat analisanya berdasarkan


analisyang lazim digunakan.

Konstruksi permanen dengan batas umur konstruksi minimal 10 tahun.

Efisiensi biaya dengan memperhitungkan sistem konstruksi yang paling


mudah, aman dan kemampuan teknis kontraktor.

Keamanan dalam pelaksanaan

c) Gambar perencanaan detail mekanikal dan elektrikal bangunan


.skala besar, meliputi :

Mekanikal :

Jaringan Air Bersih

Jaringan Air Kotor dan Air Hujan

Jaringan Air Kotor

Rencana Septic Tank

Isometri (sesuai kebutuhan)

Detail-detail Mekanikal

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

dengan

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Elektrikal :

Jaringan Instalasi Listrik

Wiring Diagram

Jaringan Penangkal Petir

Detail-detail Elektrikal

3. SPESIFIKASI TEKNIS
Spesifikasi teknis mencakup ketentuan-ketentuan lengkap tentang Arsitektur,
Sipil & Struktur dan ME yang ada dalam gambar perencanaan detail bangunan
Gedung Kantor atau Rumah Dinas beserta batasan-batasan yang kelak akan
dikerjakan oleh kontraktor yaitu :

Penjelasan mengenai lingkup pekerjaan

Peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan

Kode dan standar yang dipergunakan

Hal-hal yang berkaitan dengan pemeriksaan, uji coba (testing & comisioning)
dan pengawasan.

4. BILL OF QUANTITY
Konsultan Perencanaan akan membuat daftar lengkap mengenai peralatan dan
bahan yang terdapat dalam gambar rancangan terinci yang mencakup baik
jumlah satuannya maupun nama, jenis serta ukurannya.
Daftar tersebut harus dibuat sejelas-jelasnya dengan demikian kontraktor dapat
memakai untuk mengajukan penawaran.
5. PERKIRAAN BIAYA (COST ESTIMATE)
Konsultan Perencanaan harus membuat perkiraan biaya tentang seluruh
pekerjaan Pembangunan Gedung Kantor atau Rumah Dinas yang mencakup
dalam gambar rancangan terinci dengan berpedoman pula pada daftar peralatan
dan bahan (Bill of Quantity).
Perkiraan biaya ini harus cukup berbobot sehingga oleh Pemberi Tugas dapat
dipakai sebagai nilai pembanding dalam mengevaluasi biaya yang diajukan oleh
Kontraktor pada waktu pelelangan.
6. BLOK PLAN & IJIN TPAK (Jika Ada )/ ADVIS PLANNING

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Konsultan perencana akan membuat gambar blok plan arsitektur dan dokumen
untuk pengurusan ijin TPAK berupa gambar : Denah, tampak dan potongan serta
luasan ruangan.

F.6 Persyaratan Umum Bangunan


Dengan hal-hal tersebut diatas maka konsultan harus memperhatikan beberapa
persyaratan

umum

bangunan

yang

disesuaikan

berdasarkan

fungsi

dan

kompleksitas bangunan seperti :


1.

Persyaratan peruntukkan dan intensitas yang menjamin bangunan gedung


didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan
di daerah yang bersangkutan.

2.

Persyaratan Arsitektur dan lingkungan bangunan gedung harus memenuhi


kriteria-kriteri sebagai berikut :
a.

Mencerminkan fungsi sebagai bangunan Kantor atau Rumah Dinas

b.

Seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

c. Efisien dalam penggunaan sumber daya didalam pemanfaatan dan


pemeliharaanya.
d.

Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang sesuai dengan


karakteristik lingkungan dari budaya daerah setempat serta kemajuan
teknologi yang berkembang pada saat ini.

3.

Persyaratan struktur bangunan, anatara lain : Struktur Pondasi, Struktur Kolom,


Struktur Lantai dan Rangka Atap.

4.

5.

Persyaratan Utilitas bangunan seperti :

Air bersih (sumber air serta jaringan dan kapasitasnya)

Air hujan dan air buangan

Air kotor dan sampah

Tata udara

Transpotasi dalam banguanan

Penanggulangan Bahaya Kebakaran

Jaringan listrik

Jaringan komunikasi, dll

Pengenalan dan pemahaman informasi tentang tapak wilayah yang antara lain :
d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Data pengukuran tapak perencanaan

Kondisi fisik seperti luasan, batas-batas topografi

Kondisi tanah

Keadaan air tanah

Koefisien lantai bangunan (KLB)

Koefisien daerah hijau (KDH)

Garis sempadan Bangunan (GSB)

Bentuk kapling

Peruntukan bangunan sekitar kapling

Ketinggian bangunan

Rincian penggunaan lahan, perkerasan, penghijauan, dll

Pengenalan

dan

pemahaman

konsep-konsep

serta

kaidah-kaidah

perencanaan dan perancangan serta spesifikasi yang berlaku


6.

Menyusun dan merumuskan perkiraan rencana anggaran biaya

F.7 Persyaratan Teknis/Standard Perancangan


Konsultan perencanaan harus mengetahui dan mengikuti segala peraturan-peraturan
pembangunan yang masih berlaku di Indonesia pada umumnya dan Peraturan
Pemerintah Daerah khususnya, baik peraturan yang sifatnya administratif maupun
teknis pembangunan.
Standar desain yang harus diikuti konsultan perencana yang diuraikan dibawah ini
merupakan penegasan pokok yang harus diikuti disamping peraturan/persyaratan
maupun standar lainnya yang tetap mengikat sesuai dengan peraturan yang berlaku
antara lain :

Peraturan Menteri PU No.60/PRT/1992 tentang persyaratan teknis


pembangunan

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung (KepMen PU No.441/KPTS/1998)

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada bangunan gedung umum dan


lingkungan (Kep Men PU No.468/KPTS/1998)

Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada


Bangunan Gedung dan Lingkungan (KepMeneg PU No.10/KPTS/2000)

Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Pertokoan


(KepMeneg PU No.11/KPTS/2000)

KepMen Kimpraswil No.332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis


Pengembangan Bangunan Gedung Negara

Peraturan Pembebanan Indonesia 1983

Peraturan Beton Bertulang Indonesia (SKSNI) 1992

Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan


Gedung (SNI : 03-1726-2002)

Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI : 031729-2002)

Konsep Perencanaan dan Perancangan

KONSEP PERENCANAAN
arsitektur

IDE PERANCANGAN & GAYA ARSITEKTUR


Gaya Arsitektur : TROPIS MODERN
Tropis

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

(tritisan yang lebar, Sudut Kemiringan Tidak tajam sebagai upaya


memperkecil penyerapan radiasi panas dan curah hujan, banyak pembukaan,
ketinggian bangunan cukup tinggi)
Modern
(memiliki penampilan ciri-ciri arsitektur Kuno seperti Klasik dan filosofi
tradisional minangkabau dan tidak meninggalkan country style)
Fasade
(menonjolkan Art deco Kolonial / Bangunan Kuno, Dinding Masif perpaduan
kontekstual dengan arsitektur modern)
Sifat Bangunan : COMERSIAL
Sifat & Karakteristik
( Komersial dan Fungsional lebih menonjolkan Nilai jual yang tinggi)
Modul Bangunan
Modul Bangunan / Unit Bangunan 3
Modul Struktur 6

Rencana Material Bangunan


No

Komponen Bangunan

GAGASAN AWAL FINISHING


MATERIAL

1.

LANTAI

- Plester + aci + keramik

2.

Kaca

Kaca biasa/One way glaas

3.

Kusen jendela dan pintu

Kayu Bus

4.

- Daun pintu
- daun Jendela

- Panel/Double Tripleks, Kaca dan Kayu

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

5.

Dinding

Batako / Bata / GRC

6.

Plafond

Menggunakan Penutup Tripleks /


Gybsum

7.

KM/WC

- Lantai mengunakan Keramik


- Kloset Jongkok Keramik
- Penutup Dinding Mengunakan Keramik
(Tinggi Maksimum Pasangan Keramik
1,80 M dari Level Lantai)

8.

Kuda Kuda

Kayu Bus

9.

Atap

10.

Dapur

11.

Tangga

Gelombang Zincalum/Genteng Multi


Roof
Penutup Meja Dapur & dinding Meja
dapurMengunakan Keramik (tinggi
Maksimum Pasangan Keramik 1,80 M
dari Level Lantai)
Lantai Keramik - Reiling Kayu

KLIMATOLOGI
-

Vegetasi lebih
direkomendasikan
sebagai vegetasi
pengarah dan pelindung

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Pengaturan vegetasi
tengah lokasi sesuai
dengan pola sirkulasi
dengan zonanya

Vegetasi lebih
direkomendasikan
sebagai pengarah,
pelindung dan penyerap
udara panas,
pemasangan lebih rapat

Pengaruh arah lintasan matahari dan arah angin menjadikan sisi bangunan yang
terkena langsung harus diantisipasi dengan beberapa alternative antara lain :
Pintu atau jendela bukaan dinding yang tidak terlalu lebar, tetapi

cukup untuk angina dan sinar matahari


-

Pengaturan vegetasi sebagai elemen penyerap

Bentuk/Letak bangunan yang menyudut terhadap arah lintasan


langsung

PROPOSAL KONSEP PERENCANAAN


STRUKTUR

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Konsep desain ini meliputi tinjauan perencanaan struktur tahan gempa, denah
konfirgurasi bangunan, data material, pembebanan, struktur atas dan bawah, sistem
pelaksanaan dan pelaksanaan dan dasar dasar perhitungan.

KRITERIA DASAR PERANCANGAN


Beberapa kiteria yang perlu diperhatikan untuk perancangan struktur antara lain :
1. MATERIAL STRUKTUR
Setiap material struktur mempunyai karakteristik tersendiri, sehinnga suatu jenis
bahan bangunan tidak dapat dipergunakan pada semua jenis bangunan.
2. KONFIGURASI BANGUNAN
Meliputi dua macam Konfigurasi bangunan :
Konfigurasi denah bangunan diusahakan mempunyai bentuk yang kompak serta
simetris agar mempunyai kekakuan yang sama terhadap pengaruh torsi. Pada
struktur pada bagian bagian yang menonjol dan tidak simetris peslu adanya dilatasi
gempa (seismic joint) untuk memisahkan bagian struktur yang menonjol dengan
struktur utamanya. Dilatasi tersebut harus mempunyai jarak yang cukup agar bagian
bagian struktur yang dipisahkan tidak saling berbenturan saat terjadinya gempa.
Konfigurasi vertikal struktur, perlui dihindari adanya perubahan bentuk yang tidak
menerus, jika konfigurasi dalam arah vertikal tidak menerus, suatu gerak/getaran
yang besar akan terjadi pada tempat tempat tertentu pada struktur. Dalam hal ini
diperlukan analisis dinamik.
3. KEKAKUAN DAN KEKUATAN
Perlu dihindari adanya perubahan kekakuan dan kekuatan yang drastic.
4. SISTEM RANGKA STRUKTUR
Terdapat dua Macam Siitem, yakni :

Rangka penahanan Momen, rangka ini banyak digunakan, berupa kontruksi


beton bertulang yang terdiri dari elemen elemen balok dan kolom

Rangka dengan diagfragma Vertikal, dipergunakan jika kekuatan dan


kekakuan dar suatu rangka struktural tidak mencukupi untuk mendukung
beban beban yang bekerja. Untuk itu perlu dipasang dinding dinding geser
(Shear Wall) yang dapat berfungsi sebagai core Walls

5. MODEL KERUNTUHAN STRUKTUR


d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Perencanaan struktur didaerah gempa menggunakan desain kapasitas terlebih


dahulu harus ditentukan elemen elemen Kritisnya, sedemikian rupa sehingga
mekanisme keruntuhannya dapat memancarkan energi sebesar besarnya.
Mekanisme tersebut diusahakan agar sendi sendi plastis tebentuk pada balok
terlebih dahulu dan bukanya pada kolom, hal tersebut dengan pertimbangan
bahwa bahaya ketidak stabilan efek perpindahan jauh lebih kecil dibanding
mekanisme Plastis pada kolom pada kolom dan juga kolom lebih sulit diperbaiki
dari pada balok sehingga harus dilindungi dengan tingkat keamanan yang lebih
tinggi. Sehingga konsep sebaiknya diteapkan adalah kolom lebih kuat dari pada
balok (Stong Column Weak Bean)
6. KONSEP PEMILIHAN SISTEM STRUKTUR
Pemilihan sistem struktur bawah (Sub Structure) dan struktur atas (Upper
Structure) mempunyai hubungan yang erat dengan sistem fungsional gedung.
Desain struktural akan mempengaruhi desain gedung secara keseluruhan.
Dalam

proses

Desain

struktur

perlu

kiranya

dicari

kedekatan

antara

strukturdengan masalah masalah seperti Arsitektural, efesiensi, serviceability,


kemudahan pelaksanaan dan juga biaya yang diperlukan.
A. STRUTUR BAWAH (SUB STRCTURE)
Pemilihan jenis struktur bawah (Sub Structure) yakni pondasi harus
mempertimbangkan hal hal sebagai berikut :

Keadaan tanah pondasi meliputi jenis tanah, daya dukung tanah


kedalam lapisan tanah keras dan sebagainya.

Batasan Batasan akibat strutur diatasnya. Meliputi kondisi beban


(besar beban, arah beban dan penyebaran beban) dan sifat dinamis
bangunan diatasnya (statis tertentu, tak tentu dan kekakuannya, dan
lain lain.

Batasan Batasan keadaan lingkungan disekitarnya. Meliputi kondisi


lokasi proyek, yaitu pondasi tidak boleh mengganggu ataupun
membahayakan bangunan dan lingkungan yang telah ada sebelumnya.

Biaya dan waktu pelaksanaan pekerjaan pemilihan pondasi juga


memperhitungkan besar biaya yang telah direncanakan untuk pondasi
serta batas waktu pelaksanaan pekerjaan yang telah ditentukan.

PONDASI TIANG PANCANG

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Pondasi Tiang Pancang biasanya merupakan tiang beton pracetak.


Bentuk dari pondasi dapat berbentuk lingkaran bujur sangkar, segi enam
beraturan atau segi delapan beraturan. Dari cara pemancangannya,
pondasi tiang dapat dikelompokan dalam dua cara :
a. Tiang

yang pemancangnya dengan cara mendesak tanah: tiang

pancang, Sheet Pile


b. Tiang yang penempatanya dengan cara disediakan ruang sebelumnya
didalam tanah, kemudian baru dipasang bored pile.
Untuk menentukan daya dukung satu pile ada 3 macam cara, yaitu :
a. Mengunakan soil propeties
b. Menggunakan hasil sondir
c. Menggunakan rumus dynamicpile driving
PONDASI TAPAK SETEMPAT/MENERUS
Pondasi Tapak Setempat/Menerus biasanya digunakan sesuai untuk
lapisan tanah keras yang tidak terlalu dalam, pada pemakaian pondasi
setempat ini masih tetap diperlukan adanya pondasi menerus yang
berfungsi, untuk tumpuan mencor balok sloof. pemilihan jenis pondasi dan
perencanaannya akan dilakukan berdasarkan laporan hasil Penyelidikan
tanah, sebagai alternatif penggunaan jenis pondasi yang akan digunakan
adalah :
1.

Pondasi Tiang Pancang

2.

Pondasi Tapak Setempat/Menerus

B. STUKTUR ATAS (UPPER STRUCTURE)


Faktor Faktor yang dapat menentukan dalam pemilihan sistem struktur atas
adalah sebagai berikut :

Aspek arsitektur
Berkait dengan denah dan bentuk struktur yang dipilih, ditinjau dari segi
arsitektural.

Aspek fungsional
Berkait dgn pengunaan ruang. Biasanya hal tersebut akan mempengaruhi
pengunaan benteng elemen struktur yang digunakan.
Aspek kekuatan dan stabilitas struktur

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Berkait dengan kemampuan struktur dalam menerima beban yang


bekerja,baik beban vertikal, maupun beban lateral yang disebabkan oleh
gempa serta kestabilan struktur dalam kedua arah tersebut.
Aspek ekonomi dan kemudahan pelaksanaan
Pada suatu gedung dapat digunakan lebih dari satu sistem struktur. Oleh
sebab itu faktor ekonomi dan kemudahan pelaksanaan pengerjaan
merupakan faktor yang mempengaruhi sitem struktur yang dipilih
Faktor kemampuaan struktur dalam mengakomodasi sistem pelayanan
gedung Pemilihan sistem struktur harus mempertimbangkan kemampuan
struktur dalam mengakomodasi sistem pelayanan yang ada, yaitu
menyangkut pekerjaan elektirikal dan mekanikal.
Terdapat beberapa jenis struktur atas, antara lain :
Struktur Baja (STEEL STRUCTURE)
Struktur Baja sangat tepat digunakan pada bangunan bertingkat tinggi,
karena material baja mempunyai kekuatan serta daktilitas yang tinggi apabila
dibandingkan dengan material struktur lainnya. Di beberapa negara, struktur
baja tidak banyak dipergunakanuntuk struktur bangunan tingkat rendah dan
menengah, karena di tinjau dari segi biaya, pengunaan material baja untuk
bangunan ini dipandan tidak ekonomis.
Struktur Komposit (COMPOSITE STRUCTURE)
Struktur komposit merupakan Struktur gabungan yang terdiri dari dua jenis
material atau lebih. Pada umumnya Struktur komposit yang sering digunakan
adalah kombinasi antara baja struktural dengan beton bertulang. Srtuktur
komposit banyak digunakan untuk bangunan menengah sampai tinggi.
Struktur Kayu (WOODEN STRUCTURE)
Struktur Kayu merupakan sistem dengan ketahanan yang cukup baik
terhadap pengaruh gempa, dan mempunyai harga yang ekonomis,
kelemahan dari struktur kayu ini adalah tidak tahan terhadap kebakaran dan
struktur kayu ini digunakan pada struktur bangunan tingkat rendah.
Struktur beton bertulang Cor ditempat (CAST IN SITU REINFORSE CONCRETE
STRUCTURE)
Struktur beton ini banyak digunakan untuk struktur bangunan tingkat
menengah sampai tinggi.struktur ini banyak digunakan apabila dibanding
dengan yang lain karena Struktur beton lebih monolith apabila dibandingkan

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

dengan struktur baja maupun komposit. Dalam perencanaan beton bertulang


tahan gempa kiranya perlu diperhatikan adanya detail tulangan yang baik dan
benar.
Pemilihan struktur bangunan atas (Upper Structure) ditentukan oleh bahan
struktur utama bangunan/bahan Konstruksi. Bahan konstruksi utama yang
direncanakan pada Perencanaan Teknis Pembangunan gedung Pasar adalah
Konstruksi beton.
STRUKTUR RANGKA ATAP
Struktur Kayu
Struktur Kayu merupakan sistem dengan ketahanan yang cukup baik
terhadap pengaruh gempa, dan mempunyai harga yang ekonomis,
kelemahan dari struktur kayu ini adalah tidak tahan terhadap kebakaran dan
struktur kayu ini digunakan pada struktur bangunan tingkat rendah
Struktur beton bertulang Cor ditempat
Struktur beton ini banyak digunakan untuk struktur bangunan tingkat
menengah sampai tinggi.struktur ini banyak digunakan apabila dibanding
dengan yang lain karena Struktur beton lebih monolith apabila dibandingkan
dengan struktur baja maupun komposit. Dalam perencanaan beton bertulang
tahan gempa kiranya perlu diperhatikan adanya detail tulangan yang baik dan
benar.
Struktur Alumunium
Struktur Alumunium merupakan sistem dengan ketahanan kelembaban yang
cukup baik, kerugian dari struktur Alumunium ini adalah kurang mampu
mendukung beban yang besar.
Pemilihan struktur rangka atap yang direncanakan pada Perencanaan Teknis
Pembangunan gedung Balai Besar Pengembangan Latihan Ketransmigrasian
adalah dari beton dengan pertimbangan sistem dengan ketahanan yang
cukup baik terhadap pengaruh gempa. dan untuk pelaksanaan konsruksi
lebih cepat.
SISTEM PELAKSANAAN STRUKTUR
Sistem Pelaksanaan Konvensional

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Sistem pelaksanaan Konvensional ini sesuai untuk bangunan dengan bentuk


tidak typikal dan dalam jumlah lantai sedikit, kelemahan dari pelaksanaan
Konvensional ini adalah pelaksanaan pembangunannya relatif lebih lama.

ANALISIS STRUKTUR
Analisis struktur bangunan Gedung Pasar mengunakan Program /Software
bantu SAP 2000 untuk mengetahui gaya gaya dalam yang bekerja pada
elemen struktur (balok kolom pelat lantai tangga - pondasi atap) yang
kemudian digunakan sebagai input dasar pendimensian struktur. Dari hasil
analisis ini dapat diketahui bagaimana prilaku struktur setelah mendapat gaya
gaya luar yang bekerja pada bangunan.
Analisis dilakukan dengan permodelan struktur secara 3 dimensi, agar dapat
mendekati bentuk struktur yang ada.
Kombinasi pembebanan yang digunakan dalam pendekatan analisa ini adalah :
kombinasi pembebanan tetap
pada kombinasi pembebanan tetap ini, beban yang harus diperhitungkan
bekerja pada struktur adalah :
U = 1,2D + 1,6 L + 0,5 (A atau R)
kombinasi pembebanan sementara
pada

kombinasi

pembebanan

sementara

diperhitungkan bekerja pada struktur adalah :


U = 1,2D + 0,5. L + 1,1. Ex + 1,1.0 ,3. Ey
U = 1,2D + 05. L + 1,1.0 .3. Ex + 1,1. Ey
D

= Beben mati

= Beban hidup

= Beban angin

= Beban gempa

BAHAN KONSTRUKSI DATA DATA MATERIAL

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

ini,

beban

yang

harus

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Adapun spesifikasi bahan bahan / material yang digunakan dalam perencana


struktur gedung ini adalah sebagai berikut :
1. Beton Struktural
-

Semua adukan beton diperoleh dengan menggunakan mix design sesuai


dengan Peraturan Beton Indonesia 1971.

Kekuatan karakteristikk beton adalah K300 untuk itu diharuskan memakai


PC yang dapat menghasilkan mutu beton sesuai diatas.

Tegangan rencana analisis kekuatan batas penampang, baik untuk


beban sementara, harus sesuai dengan dengan Peraturan Beton
Indonesia 1971.

Parameter rangka dan susut harus diperhitungkan menurut Peraturan


Beton Indonesia 1971.
2.

Baja Tulangan

Semua baja tulangan harus sesuai dengan persyaratan yang tercantum


dalam peraturan Beton Indonesia 1971 dan SII No. 0136-84.

PEMBEBANAN
Kesalahan dalam menganalisis bahan merupakan salah satu penyebab utama
kegagalan struktur. Mengigat hal tersebut. Maka sebelum melakukan analisis
dan desain struktur, perlu adanya gambar yang jelas melngenai prilaku dan
besar beban yang akan bekerja pada struktur beserta karakteristiknya.
Beban beban yang bekerja pada struktur bangunan gedung, dapat berupa
kombinasi dari beberapa kasus kasus pembebanan (LOAD CASE) yang terjadi
secara bersamaan. Untuk memastikan bahwa suatu struktur bangunan gedung
dapat bertahan selama umur rencananya (50 Tahun), maka pada proses dari
perancangan struktur. Kombinasi pembebanan yang ditinjau pada perencana
struktur menurut tata cara perencanaan struktur beton bertulang untuk
bangunan gedung, standar SNI 2002.
Berdasarkan peraturan pembebanan Indonesia untuk Gedung (PPIG th. 1983):
Berat jenis beberapa Material kontruksi :
Baja

= 7850 Kg/m

Beton

= 2200 Kg/m

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Batu belah
Beton bertulang

= 1500 Kg/m
= (2400 2500) Kg/m

Kayu

= 1000 Kg/m

Pasir kering

= 1600 Kg/m

Pasir basah

= 1800 Kg/m

Pasir kerikil

= 1850 Kg/m

Tanah

= (1700- 2000) Kg/m

Berat beberapa komponen bangunan :


Atap genting, usuk dan reng

= 50 Kg

Plafon dan pengantung

= 20 Kg

Atap seng gelomban

= 10 Kg

Adukan/ Spesi

= 21 Kg

Penutup lantai/ubin persenti tebal

= 24 Kg

Pasangan batu bata setengah lantai

= 250 Kg

Pasangan batako barlubang

= 200 Kg

Aspal per cm tebal

= 15 Kg

Besar dan macam bahan yang bekerja pada struktur sangat tergantung dari
jenis struktur
Dasar acuan bagi perhitungan struktur adalah :
JENIS BEBAN
Beban Mati (Dead Load) : DL
Adalah beban yang bekerja karena gravitasi yang bekerja tetap pada
posisinya secara terus menerus dengan arah kebumi tempat struktur
didirikan. Yang termasuk beban Mati adalah berat struktur sendiri dan
juga semua benda yang tetap posisinya selama struktur berdiri
Beban beban (Live Load) : L
Adalah beban yang bekerja akibatAkibat penghuniaan/Pengunaan
suatu gedung dan barang barang yang dapat berpindah, Mesin dan
peralatan lain yang dapat digantikan selama umur gedung
Beban Gempa beban (Eart Quake Load) :EL

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Adalah beban akibat gempa yang digambarkan sebagai gaya horizontal


yang besarnya dipengaruhi oleh beban hidup beban mati yang telah
direduksi, Koefesien Gempa, Waktu getar, foktor keutamaan struktur
dan faktor jenis struktur

Beban Angin (Wind Load) :WL


Beban angin diatur dalam peraturan Pembebanan Indonesia untuk
gedung 1983 pasal 4.4.2 pada gedung tertutup dengan tinggi > 16
Meter dapat diberikan kebebanan atas pengaruh Angin

FAKTOR BEBAN
Berdasarkan SKSNI T 15 1991 03 dikatakan bahwa beban yang
bekerja pada struktur harus dikalikan faktor beban :
Beban hidup

: 1,6

Beban Mati

: 1,2

Beban gempa

: 1,05

Kombinasi pembebanan yang harus ditinjau


Kombinasi beban tetap

: 1,2 (DL) + 1,6, (LL)

Kombinasi beban sementara

: 1,05,(DL+LLr +EL)

dimana

; LLr = LL3
PERENCANAAN GEDUNG TAHAN GEMPA
Pada saat bangunan bergerak karena pengaruh gempa, maka akan timbul
gaya gaya pada struktur bangunan gedung karena adanya kecendrungan dari
masa bangunan untuk mempertahankan dirinya dari gerakan. Gaya gaya yang
timbul ini disebut gaya inersia. Besar gaya Inersia. Besar gaya Inersia (gaya
gempa) yang bekerja pada struktur bangunan, tergantung pada beberapa
faktor. Selain masa bangunan yang merupakan faktor yang paling utama yang
paling mempengaruhi besar gempa adalah kekakuan dari struktur, dan tentu
saja besarnya getaran atau percepatan gempa itu sendiri.

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Beban Gempa Rencana


Berdasarkan Tata cara Perencanaan Ketahan gempa untuk bangunan
Gedung. SNI 1726 mn2003, besarnya beban gempa Rencana (V) yang
terjadi ditingkat dasar

dari bangunan gedung.

Dapat

dihitung dari

persamaan :

V=

C.I
Wt
R

Dimana c adalah nilai Faktor Respons Gempa yang didapat dari Spektrum
Respons Gempa Rencana menurut gambar 2 untuk priode getardari struktur
yang dihitung dari analisis stastikatau dinamik . Wt adalah berat total struktur
yang ditetap sebagai jumlah dari beban beban berikut ini :
Beban Mati dari struktur bangunan gedung
Bila digunakan dinding partisi pada perencanaan lantai, maka harus
diperhitungkan tambahan beban sebesar 0,5 Kpa
Pada gudang gudang dan tempat tempat barang, maka sekurang

kurangnya 25%dari beban hidup rencana harus diperhitungkan


Beban tetap total dari seluruh peralatan dalam struktur bangunan gedung
R adalah faktor Reduksi Gempa, yang besarnya ditetapkan : 2,2 R = .
F1 Rm, dimana F1 adalah faktor tahanan lebih beban dan bahan yang
terkandung didalam struktur bangunan gedung, yang nilainya ditetapkan
sebesar F1 = 1,6 adalah nilai faktor daktilitas struktur bangunan gedung
Jika RR = 2,2, maka struktur bangunan gedung akan berprilaku elastis
pada saat terjadinya Gempa
Harga dapat dipilih menurut kebutuhan, tetapi tidak boleh diambil lebih
besar dari nilai faktor daktilitas maksimum m. Harga m dan Rm untuk
berbagai jenis System strutur, dapat dilihat pada tabel 2 standar perencana
Tata cara perencana Ketahanan gempa untuk bangunan gedung, SNI
1726 2003.
I adalah faktor keutamaan struktur yang besarnya tergantung dari tingkat
kepentingan gedung pasca gempa. Faktor keutamaan struktur untuk
berbagai kategori gedung atau bangunan dapat dilihat pada tabel dibawah.

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Faktor Keutamaan struktur (1) untuk berbagai kategori gedung atau


bangunan
Faktor Keutamaan
Kategori Gedung atau bangunan
Gedung

Umum

seperti

untuk

(1)

penghunian,

Perniagaan, dan perkantoran


Monumen dan bangunan monumental
Gedung penting pasca Gempa seperti rumah

sakit, Instalasi air bersih, Pembangkit tenaga

1,5

Listrik, pusat penyelamatan dan keadaan darurat,


fasilitasradio dan televisi
Gedung untuk penyimpanan bahan berbahaya

1,5

seperti gas, Produk minyak bumi, Asam, Bahan


beracun
Cerobong, Tangki diatas Menara

1,25

Jenis Tanah Dasar


Nilai Faktor Respon Gempa C yang didapat dari spektrum Respon Gempa
Rencana, Selain tergantung dari priode atau waktu getar struktur ( T), Juga
dipengaruhi oleh jenis lapisan tanah didasar bangunan. Jenis tanah yang
ditetapkan sebagai tanah keras. Tanah keras. Tanah sedang, dan tanah
lunak, jika lapisan setebal maksimum 30 meter yang paling atas, dipenuhi
sebgai berikut :

Jenis tanah dasar

Nilai Test Penetrasi

Nilai kuat Geser

Standar

Rata rata S (kPa)

Rata rata N
Tanah Keras
Tanah sedang
Tanah lunak

Spektrum Respons
d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

N 50
15 N <50
N < 15

Sa 100
50 Sa < 100
Sa < N

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

C
0,85

0,64(Tanah Lunak)
T

0,70

0,42(Tanah sedang)
T

0,03

(Tanah

Keras)
T
0,34
0,28
0,24
T
0

0,2

0,5 0,6

0,75

2,0

Metode Analisis Struktur terhadap beban Gempa metode yang dipergukan untuk
memperhitungkan pengaruh beban gempa terhadap struktur adalah sebagai
berikut :
Metode analisis Statik
Metode ini prinsipnya adalah mengantikan gaya gaya horizontal yang bekerja
pada stuktur akibat pegerakan tanah dengan gaya gaya statis yang ekivalen,
dengan tujuan penyederhanaan dan kemudahan dalam perhitungan. Metode
yang sering disebut sebagai metode gaya laterial ekivalen ini di asumsikan
bahwa gaya horizontal akibat gempa yang bekerja pada suatu elemen struktur
besarnya ditentukan berdasarkan hasil perkalian antara suatu suatu konstanta
berat / masa dari elemen struktur tersebut.
Metode analisis dinamika
Analisis dinamis untuk perancangan struktur tahan gempa dilakukan jika
diperlukan evaluasi yang akurat dari gaya gaya gempa pada struktur, serta untuk
mengetahui prilaku dari struktur akibat pengaruh gempa. Pada stuktur bangunan
tingkat tinggi atau struktur dengan bentuk atau konfigurasi yang tidak teratur.
Analisis dinamis dapat dilakukan dengan cara elastis maupun inelastis.pada cara
elastis dapat dibedakan menjadi :

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n

Usulan Teknis Perencanaan


Rehabilitasi/Renovasi Rumah Potong Hewan

Analisis ragam riwayat waktu (TIME HISTORI MODAL ANALYSIS) pada cara
ini diperlukan rekaman percepatan gempa.

Analisis Ragam spektrum Respons (RESPONSE SPEKTRUM MODAL


ANALISIS) pada cara ini respons maksimum dari tiap ragam getar yang
terjadi didapat dari spektrum Respons Rencana (DESIGN SPEKTRA)

KONDISI INKFRASTRUKTUR DI LOKASI


KONDISI JARINGAN DRAINASE
Saat ini kawasan perencana merupakan kebun yang berfungsi sebagai
penampung sementara (polder).
Apakah di sekitar kawasan perencana terdapat Sungai Sebagai saluran
utama penampung air hujan
Apakah di sekitar kawasan perencana terdapat saluran drainase
KONDISI JARINGAN JALAN
Jalan utama disekitar kawasan perencana.
KONDISI JARINGAN AIR BERSIH
Apakah jaringan pipa PDAM sudah masuk disekitar kawasan perencana dan
kebutuhan air bersih untuk permukiman di sekitarnya sudah mengunakan
jaringan pipa PDAM.
Kondisi Jaringan Listrik
Apakah Jaringan Listrik sudah masuk disekitar Kawasan perencana dan
kebutuhan permukiman di sekitarnya sudah mengunakan Listrik PLN
Kondisi Jaringan udara
Jaringan udara memanfaatkan pengudaraan secara alamiah yang di
kombinasikan dengan AC sesuai dengan kebutuhan
Kondisi Jaringan penangkal petir
Jaringan Sistim penagkal petir yang di gunakan adalah sistim konvensional
karena sistim ini lebih aman serta relatif mudah berfungsi, di samping tidak
menimbulkan radiasi. Yakni dengan cara menggunakan batang-batang logam
penangkal petir di atap bangunan yang di hubungkan ke tanah dengan kabelkabel penghantar listrik
=======0000000======

d e sig n a n d su p e r v iso r c o n su lta n