Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker merupakan penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari
sel-sel jaringan tubuh, yang dalam perkembanganya sel tersebut berubah
menjadi sel kanker.Sel-sel kanker dapat menyebar kebagian tubuh lainnya
sehingga dapat menyebabkankematian. Kanker memiliki berbagai macam
jenis dengan berbagai akibat dan salahsatu jenis kanker adalah kanker serviks.
Kanker serviks merupakan kanker yang dapat menyerang semua
perempuan,terbukti di Dunia setiap 2 menit seorang perempuan meninggal
karena kanker serviks sedangkan di Asia Pasifik setiap 4 menit seorang
perempuan meninggal karenakanker serviks. Kanker ini juga merupakan
kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan Asia dan lebih dari
setengah perempuan Asia yang menderita kanker serviks meninggal, ini sama
artinya dengan 226.000 perempuan yang didiagnosaterkena kanker serviks
sebanyak 143.000 perempuan meninggal karenanya( American Cencer
Society, 1989).
Di Indonesia, sampai saat ini penyakit kanker serviks merupakan
salah satu penyebab kematian wanita yang cukup tinggi dibandingkan dengan
negara-negaralain di Asia, karena sebagian besar penderita kanker serviks di
Indonesia baru datang berobat setelah stadium lanjut. Jika sudah pada stadium
lanjut maka akan sulit untuk mencapai hasil pengobatan yang optimal dan
hal tersebut membuat penderita sangatkhawatir dan cemas dengan
keadaannya.
B.

Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui pengertian kanker serviks


Untuk mengetahui penyebab kanker serviks
Untuk mengetahui patofisiologi kanker serviks
Untuk mengetahui tanda dan gejala kanker serviks
Untuk mengetahui penatalaksanaan kanker serviks
Untuk mengetahui asuhan keperawatan kanker serviks.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut
rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol
dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada serviks uteri, dan merupakan
karsinoma ginekologi yang terbanyak diderita oleh wanita. Kanker serviks
adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel
serviks uteri (Price dan Wilson, 1995). Kanker serviks adalah Kanker yang
terjadi pada serviks uteri, dan merupakan karsinoma ginekologi yang
terbanyak diderita oleh Wanita.Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah
tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim / serviks (bagian terendah
dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker serviks biasanya
menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari
sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar
penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus,
suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke
arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama
(vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi
bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang
wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun. Kanker cerviks adalah
tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau cerviks (bagian terendah
dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker cerviks biasanya
menyerang wanita berusia 35-55 tahun.(Nada, 2007)

B. Etiologi
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa
faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Pemakaian Celana Ketat
Pemakaian celana ketat dapat meningkatkan suhu vagina sehingga
akan merusak daya hidup sebagian mikroorganisme, dan mendukung
perkembangan sebagian mikroorganisme lainnya. Akhirnya, pertumbuhan
mikroorganisme

menjadi

tidak

seimbang.

Kondisi

tersebut

memungkinkan perkembangan mikroorganisme yang justru menyebabkan


terjadinya infeksi.
2. Umur
Umur pertama kali melakukan hubungan seksual Penelitian
menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual
semakin besar mendapat kanker serviks. Hubungan sexual pada usia 20
tahun dianggap masih terlalu muda Umur Peningkatan usia seseorang
kinerja organ-organ dan kekebalan tubuhnya. Dan itu membuatnya relatif
mudah terserang berbagai infeksi. Kanker rahim berpotensi paling besar
pada usia antara 35-55 tahun.
3. Paritas
Paritas adalah kemampuan wanita untuk melahirkan secara
normal. Pada proses persalinan normal, bayi bergerak melalui mulut
rahim dan ada kemungkinan sedikit merusak jaringan epitel di tempat
tersebut. Pada kasus wanita yang melahirkan lebih dari dua kali dan
dengan jarak yang terlalu dekat. Kerusakan jaringan epitel ini
berkembang kea rah pertumbuhan sel abnormal yang berpotensi ganas.
4. Penurunan Sistem Kekebalan Tubuh
Tubuh kita memiliki serangkaian system kekebalan yang secara
otomatis

berusaha

mengatasi

gangguan-gangguan

infeksi

dan

pertumbuhan sel abnormal. Namun dalam kondisi tertentu, system


kekebalan ini dapat melemah sehingga pengendalian gangguannya pun
melemah. Kondisi semacam ini terdapat pada wanita yang menjalani
operasi gagal ginjal, atau pengiap virus HIV. Dengan melemahnya sistem

kekebalan, maka perkembangan infeksi tidak terhambat, dan pertumbuhan


sel abnormal terus meningkat hingga mencapai tahap invasif (menyebar
kemana-mana).
5. Pemakaian Pil KB
Pemakaian pil KB secara terus-menerus berpotensi menimbulkan
kanker serviks. Pada pemakaian lebih dari lima tahun, risiko ini menetap
menjadi 2 kali lebih besar disbanding wanita yang tidak memakai pil KB.
6. Ras
Pola

kehidupan

sosioekonomi

tiap-tiap

ras

dapat

dapat

berpengaruh terhadap peningkatan risiko mengidap kanker rahim. Hasil


penelitian menunjukkan ras Afrika-Amerika paling berisiko tinggi
mengidap kanker rahim. Sementara Amerika-Hispanik cenderung di
bawahnya. Adapun ras Asia-Amerika relatif sama dengan AmerikaHispanik.
7. Polusi Udara
Polusi udara baik yang berasal dari asap rokok, emisi kendaraan,
pabrik dan sebagainya memiliki banyak kandungan senyawa karsinogen
yang berpotensi memunculkan sel kanker.
8. Pemakaian obat DES
DES (Diethylstilbestrol) adalah obat penguat kehamilan yang
dikonsumsi untuk mencegah keguguran. Obat ini sekarang sudah tidak
popular. Para ahli menyimpulkan DES berpotensi menimbulkan sel
kanker di wilawah serviks.
9. Pemakaian Antiseptik di Vagina
Wanita modern ingin selalu tampil sempurna termasuk di wilayah
pribadinya. Kini banyak sekali produk antiseptik khusus vagina yang
biasa membuat vagina lebih bersih dan selalu wangi. Namun pemakaian
antiseptik yang terlalu sering tidak baik. Antiseptik tersebut dapat
membunuh

bakteri

di

sekitar

vagina,

termasuk

bakteri

yang

menguntungkan. Dan apabila digunakan dalam dosis yang terlalu sering,


maka zat antiseptik tersebut dapat mengakibatkan iritasi pada kulit bibir

vagina yang sangat lembut. Iritasi ini biasa berkembang menjadi sel
abnormal yang berpontensi displasia.
10. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering
partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko
mendapat karsinoma serviks.
11. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan bergantiganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers
serviks ini.
12. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau
virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker
serviks
13. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial
ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan
gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial
ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini
mempengaruhi imunitas tubuh.
14. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada
wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria
non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulankumpulan smegma.
15. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan
pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari
adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa
radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya
kanker serviks.

Cara Penularan Kanker Serviks


a. Cara Penularan HPV
Cara HPV menularkan virusnya dapat dilakukan dengan
berbagai jalur yaitu:
1) Melalui jalur seksual
Jalur seksual dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu
hubungan intim, kelamin-kelamin, tangan-kelamin. Kebanyakan
pria dan wanita yang telah berhubungan intim berisiko terinveksi
HPV, apalagi yang sering berganti pasangan dan kehidupan
seksualnya tidak bersih, maka lebih dari 75% pernah terifeksi
HPV.
2) Melalui jalur nonseksual
Penularan jalur nonseksual adalah dengan cara penularan
langsung. Misalnya dari ibu ke bayinya pada saat persalinan.
Tentu saja ini pada ibu yang telah tertular virus HPV.
3) Tidak melalui kelamin
Penularan tidak melalui kelamin misalnya pakaian dalam,
alat-alat kedokteran yang tidak steril (tapi ini sangat kecil
kemungkinan).
Bagi orang yang terkena HPV maka hanya dua kemungkinan
yaitu :
a) 80% akan sembuh dengan sendirinya oleh sistem kekebalan
tubuhnya yang tinggi.
b) 10-20% kemungkinan akan menjadi infeksi yang menetap, yang
kemudian berisiko menjadi kanker. (Bertiani, 2009, 56-57)
C. Patofisiologi
Kanker serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoservik
(portio) dan endoserviks yang disebut sebagai Squamo-Columnas Junction
(SCJ). Pada wanita muda, SCJ berada di luar osteum uteri eksterna sedang
pada wanita berumur 35 tahun SCJ ini berada di kanalis serviks.

Tumor dapat tumbuh :


1. Eksofilik

Mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa poliferatif


yang mengalami infeksii sekunder dan nekrosis.
2. Endofilik
Mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung
untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
3. Ulseratif
Mulai dari SCJ daan cenderung merusak jaringan serviks
dengan melibatkan awal pornises vagina untuk menjadi ulkus yang
luas.
Serviks yang normal secara alamiah mengalami proses
metaplasia. Dengan masuknya mutagen, proses tersebut dapat
berkembang ke arah displasia. Tingkatan displasia :
1. Ringan (NIS I) : kelainan epitel terbatas pada lapisan basal
2. Sedang (NIS II) : lesi epitel lebih dari setengah bagian
3. Berat (NIS III) : seluruh lapisan epitel terkena
Perubahan displasia dapat terjadi karena trauma mekanik atau
kimiawi, infeksi virus/bakteri, dan gangguan keseimbangan hormon.
Kanker serviks dapat menyebar melalui tiga cara, yaitu :
Perkontinuatum ke alat-alat tubuh sekitarnya
Dari serviks ke ostium uteri internum kemudian ke segmen bawah uterus
dan mengenai dinding fundus. Menyebar ke kandung kemih, vagina, dan
rektum.
Limfogen
Ke kelenjar

paraservikalis,

hipogastrika

dan

iliaka

eksterna

Hematogen
Tumor metastasis ke alat-alat tubuh yang jauh, paru-paru, hati sumsum
tulang dan lain-lain.

D. Klasifikasi pertumbuhan sel kankers serviks


Mikroskopis
1. Displasia

Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal


epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir
tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
2. Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh
lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu
yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar
dan sel cadangan endoserviks.
3. Stadium karsinoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat
pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana
basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana
basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada
skrining kanker.
4. Stadium karsinoma invasive
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel
menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul
diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan
yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan
korpus uteri.
5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah
vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi
kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan
perdarahan.
Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan
tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus
uteri dan parametrium.
Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang
lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.
Markroskopis
1. Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa

2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti
ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.
E. Tanda dan Gejala
Gejala
Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan
gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut
menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear. Gejala biasanya baru
muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan
menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala
berikut:
1. Perdarahan vagina yang abnormal,
Terjadi perdarahan di antara dua masa haid, baik sesudah koitus
maupun tidak, perdarahan lebih dari satu tahun sesudah menopause
dan keluar lendir bercampur darah serta polymenorhea. Perdarahan
awal bertambah jumlah dan durasinya sejalan dengan progresivitas
kanker dan merupakan indikasi bahwa proses penyakit sudah
menyerang limfe.
2. Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)
Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna
pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:


a. Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
b. Nyeri panggul, punggung atau tungkai
c. Dari vagina keluar air kemih atau tinja
d. Patah tulang (fraktur).
Gambaran Klinis
1. Keluhan Metroragia

2. Keputihan
3. Perdarahan pascakoitus
4. Perdarahan spontan
5. Bau busuk yang khas
6. Obstruksi total vesika urinaria
7. Cepat lelah
8. Kehilangan berat badan
9. Anemia
10. Serviks teraba membesar,ireguler,teraba lunak
11. Lesi pada porsio dan vagina
F. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya pembengkakan kelenjar
limfe supraklavikuler dan pembesaran hepar. Pada pemeriksaan spekulum
didapatkan lapisan-lapisan besar selaput lendir mudah lepas dan mudah
berdarah waktu disuap spatel
Adanya warna kemerahan di sekitar ostium eksternum servikalis uteri
Inspeksi

Perdarahan
Keputihan
Palpasi
nyeri abdomen
nyeri punggung bawah

Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa cara memeriksakan kanker serviks, diantaranya:
a. Mendeteksi kanker serviks dengan Pap smear
Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes pap smear biasanya
mereka yang tinggi aktivitas seksualnya. Namun tidak menjadi
kemungkinan juga wanita yang tidak mengalami aktivitas seksualnya
memeriksakan diri. Berikut ini adalah wanita-wanita sasaran tes pap
smear:
b. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
Merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim
sedini mungkin dengan menggunakan asam asetat 3-5%. Alat ini begitu

sederhana sebab saat memeriksakannya tidak perlu ke laboratorium dan


dapat dilakukan oleh bidan.
c. Mendiagnosis serviks dengan kolposkopi
Koloskopi

merupakan

suatu

pemeriksaan

untuk

melihat

permukaan leher rahim. Pemeriksaan ini menggunakan mikroskop


berkekuatan rendah yang memperbesar permukaan leher rahim.
Perbesarannya dari 10-40 kali dari ukuran normal. Ini dapat membantu
mengidentifikasi area permukaan leher rahim yang menunjukkan
ketidaknormalan.
d. Vagina inflammation self test card
Vagina inflammation self test card adalah alat pendeteksian yang
dapat menjadi warning sign. Yang ditest dengan alat ini adalah tingkat
keasaman (pH), test ini cukup akurat, sebab pada umumnya apabila
seorang wanita terkena infeksi, mioma, kista bahkan kanker serviks, kadar
pHnya tinggi. Dengan begitu maka melalui tets ini paling tidak wanita
dapat mengetahui kondisi vagina mereka secara kasar.
e. Schillentest
Cara kerja pemeriksaan ini adalah:
1.
2.
3.
4.
f.

Serviks diolesi dengan larutan yodium


Sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat
Sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
Jika terkena karsinoma tidak berwarna
Kolpomikroskopi
Kolpomikroskopi adalah pemeriksaan yang bergabung dengan pap
smear. Kolpomikroskopi dapat melihat hapusan vagina (Pap Smear)
dengan pembesaran sampai 200 kali.

G. Penatalaksanaan
1. Terapi local
Terapi local dilakukan pada penyakit prainvasif, yang meliputi
biopsy, cauterasi, terapi laser, konisasi, dan bedah buku.
2. Histerektomi

Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia


wanita, status anak, dan atau keinginan untuk sterilisasi. Histerektomi
radikal adalah pengangkatan uterus, pelvis dan nodus limfa para aurtik.
3. Pembedahan dan terapi radiasi
a. Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker.
b. Dilakukan pada kanker serviks invasive
c. Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui luas dan lokasi
tumor serta mengecilkan tumor
5. Radioterapi batang eksternal
a. Dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas
pembedahan itu tegas.
b. Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang kateter urine
sehingga tetap berada di tempat tidur, makan makanan dengan diet
ketat dan memakan obat untuk mencegah defekasi, karena pada
terapi ini biasanya terpasang tampon (aplikator)
6. Eksenterasi pelvic
a. Dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang
b. Dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior, atau total tergantung
organ yang diangkat ditambah dengan uterus dan nodus limfa
disekitarnya.

7. Terapi biologi
Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun)
8. Kemoterapi
Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik.
H. Komplikasi
1. Berkaitan dengan intervensi pembedahan
a. Vistula Uretra
b. Disfungsi bladder
c. Emboli pulmonal
d. Infeksi pelvis
e. Obstruksi usus
2. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Sistitis radiasi
b. Enteritis
3. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Supresi sumsum tulang

b. Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung


sisplatin
c. Kerusakan membrane mukosa GI
d. Mielosupresi
I. Pencegahan
Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks, yaitu:
1. Mencegah terjadi infeksi HPV
2. Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur
3. Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah
18 tahun
4. Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau
gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit
5. Jangan berganti-ganti pasangan seksual
6. Berhenti merokok
Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas kanker serviks
diperlukan upaya pencegahan-pencegahan sebagai berikut :
Pencegahan primer, yaitu usaha untuk mengurangi atau menghilangkan
kontak dengan karsinogen untuk mencegah inisiasi dan promosi pada
proses karsinogen.
Pencegahan sekunder, termasuk skrining dan deteksi dini untuk
menemukan kasus-kasus dini sehingga kemungkinan penyembuhan dapat
ditingkatkan.
Pencegahan tertier, merupakan pengobatan untuk mencegah komplikasi
klinik dan kematian awal.
KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN
Pengkaijan
Data subyektif :
Keluar keputihan, berbau
Nyeri
Cemas
Tidak ada nafsu makan
Berat badan menurun
Data obyektif :

Keluar keputihan, berbau


Perdarahan pervagina
Inspiculo portio rapuh, mudah berdarah
Kurus, pucat
Anemis
HB kurang dari 9 gram %
Ekspresi wajah cemas
Hypo Albumin Alb kurang dari 2,5

1. Identitas klien.
2. Keluhan utama.
Perdarahan dan keputihan
3. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau
tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan
yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat,
misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke
Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan keluarga.
4. Riwayat penyakit terdahulu.
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal
yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita
penyakit infeksi.
5. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini
atau penyakit menular lain.
6. Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan
bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1.

Risiko Infeksi b.d imunosupresif, prosedur invasive

2.

Kurang pengetahuan tentang program penggobatan dan tindakan preventif.

3.

Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisik

4.

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan

perkembangan penyakit
5.

Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan

dengan terbatasnya informasi.


6.

Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan konsentrasi Hb dan darah,

suplai oksigen berkurang (anemia)


7.

Resiko Injury b/d kecenderungan perdarahan sekunder.

8.

Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d

penurunann nafsu makan


RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi
Risiko Infeksi b.d imunosupresif, prosedur invasive
Setelah dilakuakan asuhan keperawatan selama 5 X 24jam pasien dapat
memperoleh
1.Pengetahuan:Kontrol infeksi
Indikator:
Menerangkan cara-cara penyebaran infeksi
Menerangkan factor-faktor yang berkontribusi dengan penyebaran
Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
Menjelaskan aktivitas yang dapat meningkatkan resistensi terhadap infeksi
Keterangan:
1 : tidak pernah
2 : terbatas
3 : sedang
4 : sering

5 : selalu
2.Status Nutrisi
Asupan nutrisi
Asupan makanan dan cairan
Energi
Masa tubuh
Berat badan
Keterangan:
1 : sangat bermasalah
2 : bermasalah
3 : sedang
4 : sedikit bermasalah
5 : tidak bemasalah
Kontrol Infeksi
Bersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien
Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
Batasi jumlah pengunjung
Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu
Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat
Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan
Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan setelah meninggalkan
ruangan pasien
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
Lakukan universal precautions
Gunakan sarung tangan steril
Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
Lakukan teknik perawatan luka yang tepat
Ajarkan pasien untuk pengambilan urin porsi tengah
Tingkatkan asupan nutrisi
Anjurkan asupan cairan yang cukup
Anjurkan istirahat
Berikan terapi antibiotik

Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala dari infeksi
Ajarkan pasien dan anggota keluarga bagaimana mencegah infeksi
Kurang pengetahuan tentang program penggobatan dan tindakan preventif
Pengetahuan : proses penyakit
Mengenal nama penyakit
Deskripsi proses penyakit
Deskripsi faktor penyebab atau faktor pencetus
Deskripsi tanda dan gejala
Deskripsi cara meminimalkan perkembangan penyakit
Deskripsi komplikasi penyakit
Deskripsi tanda dan gejala komplikasi penyakit
Deskripsi cara mencegah komplikasi
Skala :
1 : tidak ada
2 : sedikit
3 : sedang
4 : luas
5 : lengkap
Pengetahuan : prosedur perawatan
Deskripsi prosedur perawatan
Penjelasan tujuan perawatan
Deskripsi langkah-langkah prosedur
Deskripsi adanya pembatasan sehubungan dengan prosedur
Deskripsi alat-alat perawatan
Skala :
1 : tidak ada
2 : sedikit
3 : sedang
4 : luas

5 : lengkap
Pembelajaran : proses penyakit
Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakit
Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana kaitannya dengan anatomi dan
fisiologi tubuh
Deskripsikan tanda dan gejala umum penyakit
Identifikasi kemingkinan penyebab
Berikan informasi tentang kondisi klien
Berikan informasi tentang hasil pemeriksaan diagnostik
Diskusikan tentang pilihan terapi
Instruksikan klien untuk melaporkan tanda dan gejala kepada petugas
Pembelajaran : prosedur/perawatan
Informasikan klien waktu pelaksanaan prosedur/perawatan
Informasikan klien lama waktu pelaksanaan prosedur/perawatan
Kaji pengalaman klien dan tingkat pengetahuan klien tentang prosedur yang akan
dilakukan
Jelaskan tujuan prosedur/perawatan
Instruksikan klien utnuk berpartisipasi selama prosedur/perawatan
Jelaskan hal-hal yang perlu dilakukan setelah prosedur/perawatan
Instruksikan klien menggunakan tehnik koping untuk mengontrol beberapa aspek
selama prosedur/perawatan (relaksasi da imagery)

Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisik NOC: Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama 5X24jam pasien mampu untuk
Mengontrol nyeri dengan indikator:
Mengenal factor-faktor penyebab nyeri
Mengenal onset nyeri

Melakukan tindakan pertolongan non-analgetik


Menggunakan analgetik
Melaporkan gejala-gejala kepada tim kesehatan
Mengontrol nyeri
Keterangan:
1 = tidak pernah dilakukan
2 = jarang dilakukan
3 =kadang-kadang dilakukan
4 =sering dilakukan
5 = selalu dilakukan pasien

Menunjukan tingkat nyeri


Indikator:
Melaporkan nyeri
Melaporkan frekuensi nyeri
Melaporkan lamanya episode nyeri
Mengekspresi nyeri: wajah
Menunjukan posisi melindungi tubuh
kegelisahan
perubahan respirasi rate
perubahan Heart Rate
Perubahan tekanan Darah
Perubahan ukuran Pupil
Perspirasi
Kehilangan nafsu makan
Keterangan:
1 : Berat
2 : Agak berat
3 : Sedang

4 : Sedikit
5 : Tidak ada Manajemen Nyeri
Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik dan onset,
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi
observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya dalam
ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif
Berikan analgetik sesuai dengan anjuran
Gunakan komunikiasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri
Kaji latar belakang budaya pasien
Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola tidur, nafsu
makan, aktifitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggungjawab peran
Kaji pengalaman individu terhadap nyeri, keluarga dengan nyeri kronis
Evaluasi

tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah

digunakan
Berikan dukungan terhadap pasien dan keluarga
Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan
tindakan pencegahan
kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan (seperti: temperatur ruangan, penyinaran, dll)
Anjurkan pasien untuk memonitor sendiri nyeri
Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (seperti: relaksasi, guided imagery,
terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massase)
Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri
Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon pasien
Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup
Anjurkan pasien untuk berdiskusi tentang pengalaman nyeri secara tepat
Beritahu dokter jika tindakan tidak berhasil atau terjadi keluhan
Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota keluarga saat tindakan
nonfarmakologi dilakukan, untuk pendekatan preventif
Monitor kenyamanan pasien terhadap manajemen nyeri
Pemberian Analgetik
Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas,dan keparahan sebelum pengobatan

Berikan obat dengan prinsip 5 benar


Cek riwayat alergi obat
Libatkan pasien dalam pemilhan analgetik yang akan digunakan
Pilih analgetik secara tepat /kombinasi lebih dari satu analgetik jika telah
diresepkan
Tentukan pilihan analgetik (narkotik, non narkotik, NSAID) berdasarkan tipe dan
keparahan nyeri
Monitor tanda-tanda vital, sebelum dan sesuadah pemberian analgetik
Monitor reaksi obat dan efeksamping obat
Dokumentasikan respon setelah pemberian analgetik dan efek sampingnya
Lakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan efek analgetik (konstipasi/iritasi
lambung)
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan
perkembangan penyakit Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 24 jam,
klien mampu :
Meningkatkan citra tubuh, indikator :
Penerimaan diri secara verbal
Mempertahankan kontak mata
Komunikasi terbuka
Perhatian terhadap orang lain
Tingkat kepercayaan diri
Skala :
1 : Tidak pernah berfikir positif
2 : Jarang berfikir positif
3 : Kadang berfikir positif
4 : Sering berfikir positif
5 : Selalu berfikir positif Peningkatan citra tubuh
Kaji citra tubuh klien dengan cara menanyakan bagian tubuh yang disukai dan
tidak disukai
Bantu klien untuk mendiskusikan perubahan tubuh akibta penyakit
Bantu klien untuk mendiskusikan fungsi tubuh yang terganggu

Kaji perasaan klien ketika berinteraksi dengan orang lain


Kaji persepsi klien dan keluarga tentang perubahan tubuh yang terjadi
Identifikasi strategi koping yang digunakan
Kaji apakah perubahan gambaran diri mempengaruhi hubungan sosial klien
Bantu klien mengidentifikasi bagian tubuh lain yang bernilai positif
Identifikasi dukungan sosial yang dimiliki klien

Cemas b.d krisis situasional, ancaman terhadap konsep diri, perubahan


dalam status kesehatan

Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan konsentrasi Hb dan darah,


suplai oksigen berkurang (anemia)

Resiko Injury b/d kecenderungan perdarahan sekunder

Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d


penurunan nafsu makan
NOC: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2X24 jam, pasien mampu
mengontrol cemas dengan indikator:
Memonitor intensitas cemas
Menghilangkan penyebab cemas
Menurunkan stimulus lingkungan ketika cemas
Mencari informasi untuk menurunkan cemas
Menggunakan strategi koping yang efektif
Melaporkan kepada perawat penurunan lama cemas
Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas
Mempertrahankan hubungan sosial
Mempertahankan konsentrasi
Melaporkan kepada perawat tidur cukup
Melaporkan kepada perawat bahwa cemas tidak mempengatruhi keadaan fisik
Tidak adanya tingkah laku yang menunjukan cemas
Keterangan:
1 = tidak pernah dilakukan
2 = jarang
3 = kadang-kadang

4 = sering
5 = selalu dilkakukan
NOC : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2X24 jam, diharapkan :
Circulation status
Tissue Prefusion : cerebral
Kriteria Hasil :
mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan :
Tekanan systole dandiastole dalam rentang yang diharapkan
Tidak ada ortostatikhipertensi
Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15
mmHg)
mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan:
berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan
menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi
memproses informasi
membuat keputusan dengan benar
menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh : tingkat kesadaran
mambaik, tidak ada gerakan gerakan involunter
NOC : Risk Kontrol
Kriteria Hasil :
Klien terbebas dari cedera
Klien mampu menjelaskan cara/metode untukmencegah injury/cedera
Klien mampu menjelaskan factor resiko dari lingkungan/perilaku personal
Mampumemodifikasi gaya hidup untukmencegah injury
Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
Mampu mengenali perubahan status kesehatan
NOC :
Nutritional Status : food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :

Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan


Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Menurunkan cemas:
Tenangkan pasien
Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada pasien dan perasaan yang mungkin
muncul pada saat melakukan tindakan
Berusaha memahami keadaan pasien
Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan tindakan
Mendampingi

pasien

untuk

mengurangi

kecemasan

dan

meningkatkan

kenyamanan
Dorong pasien untuk menyampaikan tentang isi perasaannya
Kaji tingkat kecemasan
Dengarkan pasien dengan penuh perhatian
Ciptakan hubungan saling percaya
Bantu pasien menjelaskan keadaan yang bisa menimbulkan kecemasan
Bantu pasien untuk mengungkapkan hal hal yang membuat cemas
Ajarkan pasien teknik relaksasi
Berikan obat obat yang mengurangi cemas
NIC :
Intrakranial Pressure (ICP) Monitoring (Monitor tekanan intrakranial)
Berikan informasi kepada keluarga
Set alarm
Monitor tekanan perfusi serebral
Catat respon pasien terhadap stimuli
Monitor tekanan intrakranial pasien dan respon neurology terhadap aktivitas
Monitor jumlah drainage cairan serebrospinal
Monitor intake dan output cairan
Restrain pasien jika perlu
Monitor suhu dan angka WBC
Kolaborasi pemberian antibiotik

Posisikan pasien pada posisi semifowler


Minimalkan stimuli dari lingkungan
Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer)
Monitor

adanya

daerah

tertentu

yang

hanya

peka

terhadap

panas/dingin/tajam/tumpul
Monitor adanya paretese
Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lsi atau laserasi
Gunakan sarun tangan untuk proteksi
Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
Monitor kemampuan BAB
Kolaborasi pemberian analgetik
Monitor adanya tromboplebitis
Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi
NIC : Environment Management (Manajemen lingkungan)
Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi
kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien
Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)
Memasang side rail tempat tidur
Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien.
Membatasi pengunjung
Memberikan penerangan yang cukup
Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.
Mengontrol lingkungan dari kebisingan
Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan
status kesehatan dan penyebab penyakit.
Nutrition Management

Kaji adanya alergi makanan


Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas normal
Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nuntrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah :
1. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya
komplikasi perdarahan.
2. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh
3. Tidak ada tanda-tanda infeksi
4. Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan
5. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.
6. Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat
diatasi.
7. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya
dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.
8. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian
terapi
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kanker cerviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau
cerviks.
ETIOLOGI
Pemakaian Celana Ketat
Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Umur
Paritas
Penurunan Sistem Kekebalan Tubuh
Pemakaian Pil KB
Ras
Polusi Udara
Pemakaian obat DES

Pemakaian Antiseptik di Vagina


Jumlah kehamilan dan partus
Jumlah perkawinan
Infeksi virus
Sosial Ekonomi
Hygiene dan sirkumsisi
Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Cara Penularan Kanker Serviks
Melalui jalur seksual
Melalui jalur nonseksual
Tidak melalui kelamin
Tanda dan Gejala
Perdarahan vagina yang abnormal,
Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)
Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat,
mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.
Klasifikasi pertumbuhan sel kankers serviks (mikroskopis)
Displasia
Stadium karsinoma insitu
Stadium karsinoma mikroinvasif.
Stadium karsinoma invasif
Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Klasifikasi pertumbuhan sel kankers serviks (makroskopis)
1.Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut

Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio


4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus
dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.

B. Kritik dan Saran


Makalah Asuhan Keperawatan pada Klien Kanker Serviks ini masih kurang dari
sempurna, untuk itu kami mohon kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah
ini.
DAFTAR PUSTAKA

Gale, D., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi (Oncology Nursing Care
Plans), EGC, Jakarta.
Johnson, M., 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC), second edition,
Mosby, Philadelphia.
NANDA, 2005. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006,
NANDA International, Philadelphia.
.Hacher/moore, 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, hypokrates , jakarta
Abdul bari saifuddin,, 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal
dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta
Marlyn Doenges,dkk, 2001,Rencana perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta
Helen Varney,DKK, 2002, Buku Saku Bidan, cetakan I, EGC, Jakarta
Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa keperawatan edisi
8,EGC,Jakarta.
Arif Mansjoer dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1. EGC :
Jakarta