Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER SERVIKS

1. PENGERTIAN Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997). Ca Serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal sekitarnya. Ca Serviks adalah tumor ganas yang menenai lapisan permukaan (epitel) dari serviks uteri dimana sel-sel tersebut mengalami penggandaan. 2. ETIOLOGI Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain : 2.1 Umur pertama kali melakukan hubungan seksual Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda 2.2 Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. 2.3 Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. 2.4 Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks 2.5 Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan

kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. 2.6 Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. 2.7 Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang

kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. 3. PATOFISIOLOGI

Kelemahan jaringan/ dinding menjadi rapuh

Peningkatan kadar leukosit / kerusakan nosiseptor / penekanan pada dinding serviks

Gangguan peran sebagai istri dan gangguan gambaran diri

Gejala tidak nyata

Perdarahan masif Nyeri Anemia Gangguan gambaran diri

Adanya berbagai macam tindakan untuk menegakkan diagnosa

Kecemasan Gangguan konsep diri

Gangguan perfusi jaringan

4. PENATALAKSANAAN MEDIS 4.1.Operasi. Operasi untuk mengambil uterus biasanya dilakukan untuk mengatasi stadium dini dari kanker serviks. Hysterectomy sederhana yaitu dengan membuang jaringan kanker, serviks, dan uterus. Hysterectomy biasanya pilihan hanya jika kanker dalam stadium yang dini Invasi kurang dari 3 milimeter (mm) ke dalam serviks. Hysterectomy radikal Membuang serviks, uterus, bagian vagina, dan nodus limfe pada area tersebut merupakan operasi standar dimana terdapat invasi lebih besar dari 3 mm kedalam serviks dan tidak ada bukti adanya tumor pada dinding pelvis. Hysterectoy dapat mengobati kanker serviks stadium dini dan mencegah kanker kembali lagi, namun membuang uterus membuat pasien tidak mungkin hamil lagi. Efek samping sementara dari hysterectomy termasuk nyeri pelvis, dan kesulitan dalam pencernaan, dan urinasi. 4.2.Radiasi. Terapi radiasi menggunakan energi tinggi untuk membentuk sel kanker. Terapi radiasi dapat diberikan secara eksternal atau internally (brachytherapy) dengan menempatkan alat diisi dengan material radioaktif yang akan ditempatkan di serviks. Terapi radiasi sama efektifnya dengan operasi pada kanker serviks stadium dini. Bagi wanita dengan kanker serviks yang lebih berat, radiasi merupakan penatalaksaanaan terbaik. Kedua metode terapi radiasi ini dapat dikombinasi. Terapi radiasi dapat digunakan sendiri, dengan kemoterapi, sebelum operasi untuk mengecilkan tumor atau setelah operasi untuk membunuh sel kanker lainnya yang masih hidup. Efek samping dari radiasi terhadap area pelcis termasuk nyeri lambung, nausea, diare, iritasi kandung kemih, dan penyempitan vagina, dimana akan menyebabkan hubungan seks lebih sulit dilakukan. Wanita premenopausal dapat berhenti menstruasi sebagai akibat dari terapi radiasi. 4.3.Kemoterapi. Kemoterapi dengan agen tunggal digunakan untuk menangani pasien dengan metastasis extrapelvis sebagaimana juga digunakan pada tumor rekurren yang sebelum telah ditangani dengan operasi atau radiasi dan bukan merupakan calon exenterasi. Cisplatin telah menjadi agen yang paling banyak diteliti dan telah memperlihatkan respon klinis yang paling konsisten. Walaupun ada beberapa penilitan yang bervariasi, terapi cisplatin agen tunggal memberikan hasil dengan respon sempurna pada 24% kasus, dengan tambahan 16% dari terapi ini memperlihatkan respon parsial. Ifosfamide, agen alkylating yang mirip dengan cyclophosphamide, telah memberikan respon total hingga 29% pada pasien kanker serviks; namun, efektivitas belum dapat dikonfirmasi oleh semua peneliti. Agen lainnya yang memberikan paling tidak aktivitas parsial terjadap kanker serviks termasuk carboplatin, doxorubicin hydrochloride, vinblastine sulfate, vincristine sulfate, 5-fluorouracil, methotrexate sodium, dan hexamethyl melamine. Kombinasi

paling aktif yang digunakan untuk mengatasi kanker serviks semuanya mengandung cisplatin. Agen tersebut paling sering digunakan bersama bleomycin, 5-fluorouracil, mitomycin C, methotrexate, cyclophosphamide, dan doxorubicin. Penelitian National Cancer Institute Gynecologic Oncology Group sedang dikerjakan untuk membandingkan kemampuan dari berbagai kombinasi kemoterapi. Efek samping kemoterapi tergantung dari obat yang diberikan namun secara umum dapat menyebabkan diare, lelah, mual, dan rambut rontok. Beberapa obat kemoterapi dapat mengakibatkan infertilitas dan menopause dini pada wanita premenopause. 4.4.Kemoradiasi. Pemakaian kemoradiasi telah diketahui secara luas memberikan harapan hidup lebih tinggi dibandingkan pemberian radiasi saja pada penanganan kanker serviks. Kombinasi antara kemoterapi dan terapi radiasi berdasarkan teori dari pembunuhan sel sinergis efek terapeutik dari dua modalitas terapi digunakan bersamaan lebih besar dibandingkan jika 2 modalitas tersebut digunakan tidak bersamaan. Bila dikombinasikan dengan radiasi, penggunaan mingguan cisplatin mengurangi resiko progresi selama 2 tahun sebesar 43% ( harapan hidup 2 tahun = 70%) untuk stadium II B sampai stadium IV A. Pada keadaan ini, cisplatin sepertinya bekerja sebagai radiosensitizer, dapat menurunkan kemungkinan dari rekurensi lokal dan lebih mengurangi jumlah kejadian metastasis jauh.

5. KLASIFIKASI PERTUMBUHAN SEL KANKER SERVIKS 5.1 Mikroskopis

5.1.1 Displasia Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan karsinoma insitu. 5.1.2 Stadium karsinoma insitu Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah dengan

ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks. 5.1.3 Stadium karsionoma mikroinvasif. Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker. 5.1.4 Stadium karsinoma invasif Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.

5.1.5 Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks 5.1.6 Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan. 5.1.7 Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium. 5.1.8 Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus. 5.2 Markroskopis

5.2.1 Stadium preklinis Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa 5.2.2 Stadium permulaan Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum 5.2.3 Stadium setengah lanjut Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio 5.2.4 Stadium lanjut Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah. 6. GEJALA KLINIS 6.1 Perdarahan Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat. 6.2 Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebeluma ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau. 7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 7.1. SITOLOGI/PAP SMEAR Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.

7.2. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna. 7.3. Koloskopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.

Kelemahan ; hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat. 7.4. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali 7.5. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. 7.6. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. 8. KLASIFIKASI KLINIS 8.1 8.2 8.3 8.4 8.5 Stage 0 : Ca.Pre invasive Stage I : Ca. Terbatas pada serviks Stage IA : Disertai inbasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis Stage IB : Semua kasus lainnya dari stage I Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal 8.6 8.7 Stage III : Sudah sampai dinding panggula dan sepertiga bagian bawah vagina Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.

9. TERAPI 9.1 Irradiasi

9.1.1 Dapat dipakai untuk semua stadium 9.1.2 Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk 9.1.3 Tidak menyebabkan kematian seperti operasi. 7.2.1 Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II 7.2.2 Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal 9.2 Kombinasi Irradiasi dan pembedahan Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah. 9.3 Cytostatika : Bleomycin Terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian 1.1 Data dasar Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang 1.1.1 Data pasien Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir. 1.1.2 Keluhan utama Pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan menyerupai air. 1.1.3 Riwayat penyakit sekarang Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal. 1.1.4 Riwayat penyakit sebelumnya Data yang perlu dikaji adalah : Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker. 1.1.5 Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya: Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat kebersihan dari saluran urogenital. 1.2 Data khusus personal hygiene terutama

1.2.1 Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang 1.2.2 Pemeriksaan penunjang Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi. 2. Diagnosa Keperawatan 2.1 2.2 2.3 2.4 Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahn intraservikal Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks dan pengobatannya. 2.5 Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan terhadap pemberian sitostatika.

3.

Perencanaan 3.1 Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra cervikal Tujuan : Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik : Kriteria hasil : Perdarahan intra servikal sudah berkurang Konjunctiva tidak pucat Mukosa bibir basah dan kemerahan Ektremitas hangat Hb 11-15 gr Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-370C, RR : 18 - 24 X/mnt. Intervensi : 3.2 Observasi tanda-tanda vital Observasi perdarahan ( jumlah, warna, lama ) Cek Hb Cek golongan darah Beri O2 jika diperlukan Pemasangan vaginal tampon. Therapi IV

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan. Tujuan : Setelah dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi Kriteria hasil : Tidak terjadi penurunan berat badan Porsi makan yang disediakan habis. Keluhan mual dan muntah kurang

Intervensi : Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan Berika makan TKTP Anjurkan makan sedikit tapi sering Jaga lingkungan pada saat makan Pasang NGT jika perlu Beri Nutrisi parenteral jika perlu.

3.3

Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri yang timbul akibat kanker yang dialami Kriteria hasil : Klien dapat menyebutkan cara-cara menguangi nyeri yang dirasakan Intensitas nyeri berkurangnya

Ekpresi muka dan tubuh rileks

Intervensi : Tanyakan lokasi nyeri yang dirasakan klien Tanyakan derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri. Ajarkan teknik relasasi dan distraksi Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien Kolaborasi dengan tim paliatif nyeri

3.4 Cemas yang b.d terdiagnose kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang penyakit Ca serviks dan pengobatannya Tujuan: Setelah diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya. Kriteria hasil : Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita Klien mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien. Klien tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah

komplikasi. Sumber-sumber koping teridentifikasi Ansietas berkurang Klien mengutarakan cara mengantisipasi ansietas.

Intervensi : Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya. Dorong diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara mengentrol dirinya. Identifikasi mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. (Ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem pendukung yang positif). 3.3 Tunjukkan adanya harapan Tingkatkan aktivitas dan latihan fisik

Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder terhadap pemberian sitostatika. Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil Kriteria hasil : Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat. Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif. Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.

Intervensi :

Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif. Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikanbperasaan dan pikian tentang kondisi, kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan. Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang penyakitnya. Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan kanker, meliputi pribadi hubungan dan interpersonal, serta

peningkatan

pengetahuan,

kekuatan

pengertian

perkembangan spiritual dan moral. Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan. Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POLIP SERVIKS 1. DEFINISI Polyp = tumor jinak yang tumbuh menonjol dan bertangkai dari selaput lendir dibagian tubuh manusia, seperti hidung, telinga, usus dan selaput lendir lainnya. Cervix = leher rahim. Dengan demikian, Polip Serviks yaitu tumor jinak yang tumbuh menonjol dan bertangkai dari selaput lender di leher rahim atau mulut rahim. Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari permukaan mukosa (Denise tiran : 2005 ). Polip serviks adalah polip berukuran kecil, tumbuh di permukaan mukosa serviks, atau pada saluran endoserviks dan menonjol pada mulut serviks. Polip serviks sering mempunyai tungkai yang pendek, tetapi beberapa dapat mempunyai dasar yang lebar. Polip servik dapat menimbulkan perdarahan pervaginam, perdarahan kontak, pasca coitus atau setelah pencucian merupakan gejala yang tersering dijumpai. Servikal polip adalah polip yang terdapat dalam kanalis servikalis (Denise tiran:2005 )

2. ETIOLOGI Penyebab polip serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain : 2.1 Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab polip serviks 2.2 Sosial Ekonomi Tumor serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan

kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. 2.3 Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya tumor serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

3. PATOFISIOLOGI

Faktor resiko: higyene, infeksi virus HPV ( Human Papilloma Virus),social ekonomi Masuknya mutage Metaplasia sel Neoplasia intraepitelia serviks Displasia sel Deferensiasi sel- sel epitel Perubahan struktur sel dan fungsi sel-sel normal Aktivitas regenerasi sel meningkat Sel-sel tumor

Penekanan / mendesak jaringan sekitar serviks

Kurang informasi Kurang pengetahuan

Iskemia

Ansietas

Penekanan pada syaraf simpatik

penekanan pada kandung kemih

Gangguan eliminasi uri

4. GEJALA Banyak polip serviks tidak memberikan gejala tetapi ada gejala utama adalah dasar diagnosa perdarahan intermitten dan gejala-gejala umum ke-3 bentuk abnormal tersebut: 4.1 Leukorea yang sulit disembuhkan. 4.2 Terasa discomfort dalam vagina. 4.3 Kontak berdarah. 4.4 Terdapat infeksi. 4.5 Berdasarkan keluhan yang dikemukakan. 4.6 Didiagnosa karena kebetulan memeriksakan diri 4.7 Mudah berdarah Jaringan bertambah 4.8 Pada pemeriksaan inspekulum dijumpai: Trdapat pada vagina bagian atas.

5. DIAGNOSA Diagnosa secara mikroskopis 5.1 Asal/patologi : serviks, bertangkai

5.2 Identitas : 5.2.1 5.2.2 5.2.3 5.2.4 agak padat tertutup epitel Bernanah Warna merah

6. PEMERIKSAAN 4.1 Radiologi Polip yang terletak jauh di endoserviks dapat dievaluasi melalui pemeriksaan histerosalfingografi atau sonohisterografi dengan infus salin. Biasanya, hasil pemeriksaan ini memberikan hasil yang bermakna dalam mengetahui adanya polip atau kelainan lainnya. 4.2 Laboratorium Sitologi vagina dapat menunjukkan adanya tanda infeksi dan sering kali ditemukan sel-sel atipik. Pemeriksaan darah dan urin tidak terlalu banyak membantu menegakkan diagnosis. 4.3 pemeriksaan khusus Polip yang terletak jauh di kanal endoserviks tidak dapat dinilai melalui inspeculo biasa, tetapi dapat dilakukan pemeriksaan khusus menggunakan speculum endoserviks atau histeroskopi. Seringkali polip endoserviks ditemukan secara tidak sengaja pada saat dilakukan pemeriksaan perdarahan abnormal. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menyingkirkan adanya massa atau polip yang tumbuh dari uterus. 7. DIAGNOSIS BANDING Massa polipoid yang tampak tumbuh dari serviks tidak selalu didiagnosis sebagai polip serviks. Adenokarsinoma endometrium atau sarkoma endometrial dapat tumbuh di bagian mulut rahim, dan sering kali kelainan ini menyebabkan perdarahan dan leukorea lebih sering. Pada dasarnya, polip serviks tidak sulit dibedakan dengan bentuk kelainan polipoid lainnya secara inspeksi. Bentuk pertumbuhan ulseratif dan atipik merupakan ciri mioma submukosa pedenkel kecil atau polip endometrial yang tumbuh di bagian bawah uterus. Biasanya kelainan ini menyebabkan dilatasi serviks, dan keluar melalui OUE menyerupai polip. Hasil konsepsi, misalnya desidua, dapat mendorong keluar serviks sehingga menyerupai jaringan polipoid. Kondilomata, mioma submukosa, dan karsinoma polipoid didiagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis. 8. TERAPI 8.1 Dilakukan ekstervasi pada tangkainya 8.2 Dilakukan curettage sehingga seluruhnya dapat dikeluarkan 8.3 Hasil pemeriksaan menentukan terapi lebih lanjut

9. KOMPLIKASI PENYAKIT Polip serviks dapat terinfeksi, biasanya oleh kelompok Staphylococcus, Streptococcus, dan jenis patogen lainnya. Infeksi serius biasanya terjadi setelah dilakukan instrumentasi medik untuk menegakkan diagnosis atau setelah membuang polip. Antibiotik spektrum luas perlu diberikan bila tanda awal infeksi telah tampak. Inisiasi atau eksaserbasi salfingitis akut dapat terjadi sebagai konsekuensi polipektomi. 10. PENATALAKSANAAN Bila dari hasil pemeriksaan sekret serviks ditemukan profil sel-sel infektif, atau secara klinis dan laboratoris mengarah kepada infeksi, maka pemberian antibiotik dianjurkan untuk kasus ini. Sebagian besar polip serviks dapat dihilangkan di poliklinik atau tempat praktik. Hal ini karena sebagian besar polip serviks berukuran kecil. Teknik pembuangan polip serviks yang berukuran kecil umumnya tidak sulit. Biasanya dengan cara memfiksasi pedikel menggunakan hemostat atau instrument pemfiksasi lain kemudian memutar pedikel hingga lepas. Perdarahan yang terjadi biasanya sedikit. Polip serviks yang berukuran besar biasanya dilakukan eksisi di ruang operasi. Pada tindakan ini, psien perlu dianestesi dan selama eksisi dilakukan, perdarahan harus dikontrol. Bila serviks lunak dan berdilatasi, sedangkan polip cukup besar, maka histeroskopi harus dilakukan, terlebih lagi bila pedikel sukar dilihat. Eksplorasi serviks dan kavum uteri menggunakan histeroskop dilakukan untuk mengidentifikasi adanya polip lain di daerah itu. Seluruh jaringan yang diambil perlu diperiksa secara histoPA untuk menilai secara spesifik apakah massa polipoid berdegenerasi jinak, pre-maligna, atau malignansi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POLIP SERVIKS

1. Pengkajian 1.1 Keluhan utama Ada massa di perut bawah, Menorrahgi, Rasa berat pada perut, Dysmenorhe, Perdarahan, Nyeri perut bagian bawah, Gangguan eliminasi. 1.2 Riwayat perkawinan 1.3 Riwayat haid, menarche 1.4 Pemeriksaan Umum 1.5 Keadaan umum, TTV, TB/BB, Pemeriksaan Fisik. 2. Diagnosa Keperawatan 2.1 Cemas berhubungan dengan ketidakpastian diagnosa dan ketakutan kemungkinan menjadi ganas 2.2 Nyeri berhubungan dengan tekanan pada urat saraf 2.3 Resiko tinggi terjadi gangguan seksual berhubungan dengan adanya dispareunia 2.4 Gangguan eliminasi urine : sering berkemih berhubungan dengan penekanan pada kandung kemih 3. Intervensi 3.1 Cemas berhubungan dengan ketidakpastian diagnosa dan ketakutan kemungkinan menjadi ganas 3.1.1 Kaji kemampuan pasien dan atau orang terdekat untuk mengkomunikasikan perasaan 3.1.2 Bantu dalam menangani reaksi emosional terhadap penyakit 3.1.3 Dorong untuk memberikan waktu untuk mengungkapkan masalah 3.1.4 Berikan informasi tentang penyakit dan perbaiki kesalahan konsep 3.1.5 Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan / support 3.1.6 Bantu pasien untuk mengidentifikasi ketrampilan koping yang positif Hasil yang diharapkan : 1) Pasien mengekspresikan pemahaman tentang penyakitnya 2) Pasien mampu menggunakan ketrampilan koping positif dalam mengatasi masalah 3) Cemas berkurang 3.2 Nyeri berhubungan dengan tekanan pada urat saraf 3.2.1 Kaji nyeri, karakteristik, lokasi nyeri 3.2.2 Kaji faktor yang menyebabkan nyeri 3.2.3 Ajarkan dan kaji dengan berbagai teknik pengurangan nyeri 3.2.4 Pertahankan tirah baring dalam posisi nyaman dan lingkungan tenang 3.2.5 Kolaborasi pemberian analgetik Hasil yang diharapkan :

1) Pasien mengungkapkan nyeri berkurang 2) Pasien terlihat relaks dan nyaman 3.3 Resiko tinggi terjadi gangguan seksual berhubungan dengan adanya dispareunia 3.3.1 Anjurkan klien untuk melaksanakan fungsi seksual dengan metode yang lain 3.3.2 Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaannya kepada pasangannya Hasil yang diharapkan : 1) Klien dan pasangan menyadari dan bisa menerima keadaannya 3.4 Gangguan eliminasi urine : sering berkemih berhubungan dengan penekanan pada kandung kemih 3.4.1 Beri penjelasan tentang penyebab perubahan pola berkemih klien 3.4.2 Berikan dan ajarkan perawatanperineal 3.4.3 Pertahankan privasi klien Hasil yang diharapkan : 1) Klien dapat mengungkapkan faktor-faktor penyebab gangguan pola buang air kecil 2) Klien mengungkapkan dan mendemonstrasikan kebersihan setelah BAK

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kanker Payudara


1. PENGERTIAN Kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh Word Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD) dengan kode nomor 17. Kanker Payudara merupakan suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara. Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005, hal : 39-40). Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. (http//www.pikiran-rakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk).

2. ETIOLOGI 2.1. Penyebab kanker payudara secara pasti belum diketahui, tetapi terdapat serangan faktor: Genetik: Bukti yang terus bermunculan menunjukan bahwa perubahan genetik berkaitan dengan kanker payudara, namun apa yang menyebabkan perubahan genetik masih belum diketahui perubahan genetik ini termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal, dan pengaruh protein baik yang menekan atau meningkatkan perkembangan payudara. 2.2. Hormonal: Hormon steroid yang dihasilkan oleh ovarium mempunyai peran penting dalam kanker payudara. Dua hormon ovarium utama yaitu estradiol dan progesteron mengalami perubahan dalam lingkungan seluler, yang dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi kanker payudara. 2.3. Lingkungan: Kemunkinan kejadian lingkungan dapat menunjang terjadinya kanker payudara. Yaitu keadaan lingkungan dengan paparan sinar radioaktif, sinar X dan pencemaran bahan-bahan kimia 2.4. Berat Badan: Berat badan bisa mempengaruhi terjadinya kanker payudara karena simpanan lemak adalah sumber produksi hormon estrogen.

3. Patofisiologi
Kanker payudara bukan satu-satunya penyakit tapi banyak, tergantung pada jaringan payudara yang terkena, ketergantungan estrogennya, dan usia permulaannya. Penyakit payudara ganas sebelum menopause berbeda dari penyakit payudara ganas sesudah masa

menopause (postmenopause). Respon dan prognosis penanganannya berbeda dengan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Beberapa tumor yang dikenal sebagai estrogen dependent mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe ekstrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak manual pada jarngan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia. Kehadiran tumor Estrogen Receptor Assay (ERA) pada jaringan lebih tinggi dari kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon terhadap hormone treatment (endocrine chemotherapy, oophorectomy, atau adrenalectomy). (Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1589)

Penatalaksaan Medis Tingkat 0 Ia I b dan II a II b , III dan IV IV a dan IV b Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi Penatalaksaan

Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase : 1. Fase induksi: 15-30 tahun Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi bourgeois lingkungan mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan konsentrasi zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya terkena, adanya zat-zat karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan individu. 2. Fase in situ: 1-5 tahun pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous yang bisa ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran cerna, kandung kemih, kulit dan akhirnya ditemukan di payudara. 3. Fase invasi Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui membrane sel ke jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe. Waktu antara fase ke 3 dan ke 4 berlangsung antara beberpa minggu sampai beberapa tahun. 4. Fase diseminasi: 1-5 tahun

Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain bertambah.

4. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pembedahan 1. Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena). 2. Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor. 3. Mastektomi radikal yang dimodifikasi Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial 1) Mastektomi radikal Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial. 2) Mastektomi radikal yang diperluas Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna. Non pembedahan 1. Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila. 2. Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut. 3. Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi. (Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1596 1600)

5. Tanda dan gejala


Penemuan tanda-tanda dan gejala sebagai indikasi kanker payudara masih sulit ditemukan secara dini. Kebanyakan dari kanker ditemukan jika dudah teraba, biasanya oleh wanita itu sendiri. 5.1.Terdapat massa utuh (kenyal) 5.2.Biasanya pada kuadran atas dan bagian dalam, di bawah lengan, bentuknya tidak beraturan dan terfiksasi (tidak dapat digerakkan) 5.3.Nyeri pada daerah massa 5.4.Adanya lekukan ke dalam/dimping, tarikan dan retraksi pada area mammae. Disamping terjadi karena fiksasi tumor pada kulit atau akibat distorsi ligamentum cooper. Cara pemeriksaan: kulit area mammae dipegang antara ibu jari dan jari telunjuk tangan pemeriksa lalu didekatkan untuk menimbulkan dimpling. 5.5.Edema dengan Peaut doramge skin (kulit di atas tumor berkeriput seperti kulit jeruk) 5.6.Pengelupasan papilla mammae 5.7.Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting susu serta keluarnya cairan secara spontan kadang disertai darah.

6. Klasifikasi Kanker Payudara


6.1. Tumor primer (T) 1. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan 2. To : Tidak terbukti adanya tumor primer 3. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor 4. T1 : Tumor < 2 cm T1a : Tumor < 0,5 cm T1b : Tumor 0,5 1 cm T1c : Tumor 1 2 cm 5. T2 : Tumor 2 5 cm 6. T3 : Tumor diatas 5 cm 7. T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax atau kulit. T4a : Melekat pada dinding dada T4b : Edema kulit, ulkus, peau dorange, satelit T4c : T4a dan T4b T4d : Mastitis karsinomatosis 6.2. Nodus limfe regional (N) 1. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan 2. N0 : Tidak teraba kelenjar axila 3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya. N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral 6.3. Metastas jauh (M) 1. Mx : Metastase jauh tidak dapat ditemukan 2. M0 : Tidak ada metastase jauh 3. M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula 6.4. Stadium kanker payudara : 1. Stadium I : tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena (LN) atau penyebaran luas. 2. Stadium IIa : tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN 3. Stadium IIb : tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN 4. Stadium IIIa : tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. semua tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh 5. Stadium IIIb : semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit

semua tumor dengan edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular. 6. Stadium IV : semua tumor dengan metastasis jauh. (Setio W, 2000, hal : 285)

7. Pemeriksaan penunjang
7.1.Mammagrafi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari payudara, hal ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker. 2) Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit dengan kista. 3) CT. Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain 4) Sistologi biopsi aspirasi jarum halus 5) Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah. (Michael D, dkk, 2005, hal : 15-66) 7.2.Tes diagnosis lain a. Non invasif 1). Mamografi Yaitu shadowgraph jaringan lunak sebagai pemeriksaan tambahan yang penting. dapat mendeteksi massa yang terlalu kecil untuk dapat diraba. Dalam beberapa keadaan dapat memberikan dugaan ada tidaknya sifat keganasan dari massa yang teraba. Mamografi dapat digunakan sebagai pemeriksaan penyaring pada wanita-wanita yang asimptomatis dan memberikan keterangan untuk menuntun diagnosis suatu kelainan. 2). Radiologi (foto roentgen thorak) 3). USG Teknik pemeriksaan ini banyak digunakan untuk membedakan antara massa yang solit dengan massa yang kistik. Disamping itu dapat menginterpretasikan hasil mammografi terhadap lokasi massa pada jaringan patudar yang tebal/padat. 4). Magnetic Resonance Imaging (MRI) Pemeriksaan ini menggunakan bahan kontras/radiopaque melaui intra vena, bahan ini akan diabsorbsi oleh massa kanker dari massa tumor. Kerugian pemeriksaan ini biayanya sangat mahal. 5). Positive Emission Tomografi (PET) Pemeriksaan ini untuk mendeteksi ca mamae terutama untuk mengetahui metastase ke sisi lain. Menggunakan bahan radioaktif mengandung molekul glukosa, pemeriksaan ini mahal dan jarang digunakan. b. Invasif 1). Biopsi Pemeriksaan ini dengan mengangkat jaringan dari massa payudara untuk pemeriksaan histology untuk memastikan keganasannya. Ada 4 tipe biopsy, 2 tindakan menggunakan jarum dan 2 tindakan menggunakan insisi pemmbedahan. a). Aspirasi biopsy

Dengan aspirasi jarum halus sifat massa dapat dibedakan antara kistik atau padat, kista akan mengempis jika semua cairan dibuang. Jika hasil mammogram normal dan tidak terjadi kekambuhan pembentukan massa srlama 2-3 minggu, maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut. Jika massa menetap/terbentuk kembali atau jika cairan spinal mengandung darah,maka ini merupakan indikasi untuk dilakukan biopsy pembedahan. b). Tru-Cut atau Core biopsy Biopsi dilakukan dengan menggunakan perlengkapan stereotactic biopsy mammografi dan personal untuk memndu jarum pada massa/lesi tersebut. Pemeriksaan ini lebih baik oleh ahli bedah ataupun pasien karena lebih cepat, tidak menimbulkan nyeri yang berlebihan dan biaya tidak mahal. c). Insisi biopsy Sebagian massa dibuang d). Eksisi biopsy Seluruh massa diangkat Hasil biopsy dapat digunakan selama 36 wad untuk dilakukan pemeriksaan histologik secara frozen section.

8. Komplikasi
Komplikasi utama dari cancer payudara adalah metastase jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan pembuluh darah ke organ-organ lain. Tempat yang sering untuk metastase jauh adalah paru-paru, pleura, tulang dan hati. Metastase ke tulang kemungkinan mengakibatkan fraktur patologis, nyeri kronik dan hipercalsemia. Metastase ke paru-paru akan mengalami gangguan ventilasi pada paru-paru dan metastase ke otak mengalami gangguan persepsi sensori..

ASUHAN KEPERAWATAN KANKER PAYUDARA


1. Pengkajian ANAMNESIA a. Biodata klien : Nama, Umur, Alamat, Nama Suami, Agama, Pendidikan, dan Pekerjaan. b. Riwayat menstruasi dan menepouse : mens pertama, lama, keluhan yang di alami, menepouse umur berapa, keluhan pada ibu. c. Riwayat seksual : tentang penyakit yang pernah di alami. d. Kaji kecemasan adakali perubahan suara ekspresi wajah gelisah. e. Adakah perubahan aktivitas / istirahat : kelemahan, keletihan, pusing, pucat, kebiasaan tidur.

f. Adakah perubahan pada sirkulasi , TTV, sianosis. g. Adakah perubahan dalam penampilan : alopesia, lesi cacat, putus asa, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, depresi. h. Adakah perubahan eliminasi : perubahan detekasi (darah dan pada feses, nyeri detekasi konsistensi, bising usus) perubahan eliminasi urine (atau) rasa terbakar, mual, muntah, BB menurun. i. Adakah perubahan pola makan dan minum (cairan). - Kebiasaan diet buruk (rendah serat : 1 lemak). - Anoreksia, mual, muntah, BB. j. Adakah demam, ruam kulit, ulserasi. k. Adakah perubahan seksual. - Masalah sexual. - Perubahan pada tingkat perilaku verbal / non verbal. - Ketakutan menghadapi seksual. - Kurang informasi mengenai seksual dan fungsi seksual. - Adakah rerub dengan orang terdekat. l. Adakah perubahan interaksi social. - Adakah dukungan dari orang lain / orang terdekat. - Adakah penolakan. - Keinginan ibu banyak berhubungan dengan orang terdekat / orang lain.

- Ketidak adekuatan / kelemahan sistem pendukung masalah tingkat fungsi / tanggung jawab

2. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri dan ketidaknyamanan sehubungan dengan perkembangan ca mammae 2. Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada diri sendiri karena diagnosis ca mammae. 3. Harga diri rendah berhubungan dengan ca mammae. 4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan paparan informasi tentang ca mammae. 5. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhatubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue,

ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping. 6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. 7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif.

3. Intervensi 1. Nyeri dan ketidaknyamanan sehubungan dengan perkembangan ca mammae

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan intensitas nyeri klien berkurang atau hilang, dengan criteria hasil : Klien tidak merasa nyeri Klien tampak tenang Intervensi: o Kaji lokasi nyeri secara komprehensif o Kurangi presipitasi nyeri o Berikan analgesic sesuai anjuran dokter o Ajarkan teknik relaksasi seperti : tarik nafas dalam o Observasi reaksi non verbal klien o Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien. 2.Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada diri sendiri karena diagnosis ca mammae. Tujuan : Mengurangi / menghilangkan ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan. KH : Tingkatan kecemasan menurun dan terpelihara pada tingkat yang dapat diterima. Intervensi : o Kaji tanda dan gangguan mengidentifikasi berat ringannya ansietas. o Gunakan satu sistem pendekatan yang tenang yang meyakinkan. o Lakukan teknik mendengar aktif. o Dukungan penggunaan mekanisme pertahanan yang sesuai. o Monitor intensitas kecemasan o Terangkan dan ajarkan strategi koping o Gunakan tehnik relaksasi untuk menurunkan kecemasan o Bantu klien untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan o Penurunan kecemasan o Tenangkan klien o Berikan informasi tentang diagnose prognosis penyakitnya dan tindakannya Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fifik pada tingkat kecemasan o Gunakan pendekatan dan sentuhan o Berikan teknik relaksasi

3. Harga diri rendah berhubungan dengan ca mammae. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan harga diri klien meningkat KH : Klien bisa menerima keadaan dirinya Intervensi : o Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya tentang diagnose kanker payudara,

o Bantu pasien untuk memisahkan penampilan fisik dari perasaan makna diri o Berikan reinforcement positif. 4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan paparan informasi tentang ca mammae Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan klien bertambah. KH : klien mengetahui tentang ca mammae yang dideritanya Intervensi : o Observasi kesiapan klien untuk mendengar ( mental, kemampuan untuk melihat, kesiapan emosional, bahasa dan budaya ) o Observasi tingkat kepengetahuan klien tentang ca mammae sebelumnya. o Kaji pengetahuan apsien atau keluarga mengenai kanker payudara dan anjurkan pengobatannya. o Jelaskan patofisiologi dari kanker payudara sesuai kebutuhan. o Berikan informasi tentang pilihan pengobatan yang sesuai. 5. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue,

ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping. Tujuan : 1. Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi 2. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat 3. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya Tindakan : a. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya. b. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan. c. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis. d. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien. e. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas. f. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga. g. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan. h. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien. Kolaboratif: i. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin j. Berikan pengobatan sesuai indikasi

Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacida k. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus. Rasional: a. Memberikan informasi tentang status gizi klien. b. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien. c. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk. d. Kalori merupakan sumber energi. e. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas. f. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri. g. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan. h. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien). i. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien. j. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien. k. Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan. 6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. Tujuan : 1. Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik 2. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan Tindakan : a. Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka. b. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal. c. Ubah posisi klien secara teratur. d. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter. Rasional: a. Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit. b. Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi. c. Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu. d. Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif. 7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif.

Tujuan : 1. Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi 2. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal Tindakan : a. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama. b. Jaga personal hygine klien dengan baik. c. Monitor temperatur. d. Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi. e. Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur. Kolaboratif f. Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets. g. Berikan antibiotik bila diindikasikan. Rasional: a. Mencegah terjadinya infeksi silang. b. Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup. c. Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi. d. Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi. e. Mencegah terjadinya infeksi. f. Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi. g. Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, volume 2, Jakarta, EGC. Doenges, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC. Simposium Keperawatan, (2003), Kemoterapi, Semarang. Rohmat Ratih. Penanganan CA Cervix. Didapatkan dari URL : http://ca

cervix/Penanganan CA Cervix Ratihrochmats Weblog.mht. Diunduh tanggal 11 Oktober 2008. (Diakses tanggal 4 Desember 2010) Ocviyanti Dwiana. HPV dan Kanker Serviks. Power Point IVA. Jakarta,2008. Dixon M., dkk, (2005), Kelainan Payudara, Cetakan I, Dian Rakyat, Jakarta. Mansjoer, dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta. Tapan, (2005), Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer, Elex Media Komputindo, Jakarta. Smeltzer, dkk.(2002).Patofisiologi Kanker Payudara.EGC:Jakarta. http://3acommunityners.blogspot.com/2012/03/askep-polyp-serviks.html

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER SERVIKS, POLIP SERVIKS, DAN KANKER PAYUDARA

DISUSUN OLEH : 1. NENES EKA ANDRIYANA 2. YUNITA IQTANIA FILJANNAH

AKADEMI KEPERAWATAN KABUPATEN LAMONGAN Tp. 2011/2012