Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Kanker Serviks atau kanker leher rahim merupakan salah satu penyakit yang
paling banyak terjadi bagi wanita. Kanker Serviks sering juga disebut dengan
kanker mulut rahim. Kanker Serviks merupakan penyakit kanker kedua terbanyak
yang dialami oleh wanita di seluruh dunia. Menurut International Agency for
Research on Cancer (IARC), 85% dari kasus kanker di dunia, yang berjumlah
sekitar 493.000 dengan 273.000 kematian, terjadi di Negara-negara berkembang.
Di Indonesia pengidap Ca Cervixadalah terbanyak diantara pengidap kanker
lainnya, bahkan di seluruh dunia adalah nomer kedua setelah Cina (FK UGM,
2010).

Berdasarkan

penelitian

di

Jakarta,

Semarang,

Jogjakarta,

dan

Surabayaternyata kanker leher rahim juga menduduki urutan dengan proporsi 25


45 % penderita melebihi kanker payudara yang baru mencapai 10 20 %.
Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI adalah 100 per 100.000 penduduk.
UntukJakarta sebanyak 7.000 penderita dan kira-kira seperlimanya adalah
penderita kanker leher rahim (Tara, 2001). Begitu pula data penderitakanker
serviks yangdirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP
HAM) Medan didapat rata-rata 120 orang penderita kanker serviks yang dirawat
perbulan (Laporan Ruangan Rindu B 1 Obgin, 2012).
Kanker serviks adalah tumor ganas yangtumbuh di daerah leher rahim
(serviks). Kanker serviks merupakan keganasan yang paling banyak ditemukan di
Indonesia. Setiap satu jam perempuan Indonesia meninggal dunia karena kanker
dalam tiga dasa warsa terakhir. Tingginya angka kematian itu akibat
terlambatnyapenanganan, sekitar 70% datang dengan kondisi stadium lanjut.
Kanker serviks merupakan kanker tersering pada wanita dan merupakan penyebab
kematian terbanyak nomor 3 di seluruh dunia penyebab kematian nomor 1 di
negara berkembang. Laporan WHO menunjukan kasus kanker serviks semakin

meningkat di seluruh dunia, dimana diperkirakan 10 juta kasus baru pertahun dan
akan meningkat akan menjadi 15 juta kasus pada tahun 2020. Sampai saat ini,
insiden kanker serviks dalam hal morbiditas dan mortalitas belum menunjukan
hasil penurunan yang signifikan. Bukti kuat pendukung kanker serviks
disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV), dengan risiko tertinggi
Human Papiloma Virus (HPV) subtipe genital meningkatkan risiko beragam
penularan (Suhartono, 2007). Data setiap tahun sekitar 500.000 perempuan di
Indonesia didiagnosis terinfeksi kanker serviks. Dari jumlah itu, sekitar 270.000
penderita meninggal dunia. Di Indonesia, kanker serviks telah menjadi pembunuh
nomor satu dari keseluruhan kanker. Kanker serviks merupakan penyakit kanker
paling umum 2kedua yang biasa diderita perempuan berusia 2025 tahun.Di
Indonesia, kanker serviks merupakan kasus terbanyak dan hampir 70% -nya
ditemukan dalamkondisi stadium lanjut ( stadium IIB). Hal ini karena masih
rentannya pelaksanaan skrining, yaitu 5%. Padahal, pelaksanaan skrining yang
ideal adalah 80%. Coba kita bandingkan dengan populasi penduduk indonesia
tahun 2008 yang berjumlah 230 juta jiwa. Angka 5% adalah angka yang sangat
kecil sekali. Padahal wanita yang beresiko terkena kanker serviks adalah 58 juta
wanita pada usia 1564 tahun dan 10 juta wanita pada usia 1014 tahun. Oleh
karena itu, tidak mengejutkan jika jumlah kasus baru kanker serviks mencapai
4045 wanita perhari dan jumlah kematian yang disebabkan kanker serviks
mencapai 2025 wanita perhari (Samadi, 2011).

1.2.

RUMUSAN MASALAH
A. Apa Definisi ca.Serviks ?
B. Apa Etiologi ca.Serviks ?
C. Bagaimana patofisiologi ca.serviks ?
D. Bagaimana tanda dan gejala ca.serviks ?

E. Bagaimana Komplikasi ca.serviks ?


F. Bagaimana pemeriksaan ca.serviks ?
G. Bagaimana Penatalaksanaan ca.serviks ?
H. Bagaimana asuhan keperawatan ca.serviks ?
1.3.
TUJUAN
A. Mengetahui definisi ca.serviks
B. Mengetahui etiologi ca.serviks
C. Mengetahui patofisiologi ca.serviks
D. Mengetahui tanda dan gejala ca.serviks
E. Mengetahui Komplikasi ca.serviks
F. Mengetahui pemeriksaan ca.serviks
G. Mengetahui Penatalaksanaan ca.serviks
H. Mengetahui asuhan keperawatan ca.serviks
1.4.
MANFAAT
Makalah asuhan keperawatan pada pasien dengan ca.cervik ini bisa bermanfaat
bagi penulis secara pribadi dan juga bermanfaat bagi pembaca secara luas sebagai
pembelajaran

BAB II
KONSEP MEDIK
2.1.

DEFINISI
Kanker leher rahim atau yang dikenal dengan kanker servik yaitu keganasan

yang terjadi pada serviks (leher rahim) yang merupakan bagian terendah dari rahim
yang menonjol ke puncak liang senggama atau vagina (Depkes RI, 2009).
Karsinoma serviks uteri (Ca serviks) adalah tumor ganas pada leher rahim,
merupakan karsinoma ginekologi yang terbanyak diderita.Kanker serviks adalah
penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya

pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di


sekitarnya (Lynda, 2010)
Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahimatau
serviks yang terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempelpada puncak
vagina.( Diananda,Rama, 2009 )
Kanker serviks merupakan sel-sel kanker yang menyerang bagian squamosa
columnar junction (SCJ) serviks (Price, Sylvia. 2010)
Kanker servik merupakan kanker pembunuh nomor satu pada wanita di dunia
ketiga. Epidemiologi menunjukkan bahwa kanker ini merupakan penyakit menular
seksual (Suharto 2009).

2.2.

KLASIFIKASI

Klasifikasi dari Temuan TNM FIGO Bedah patologis


-

Tahapan Kategori
1. TX : tumor primer tidak dapat dinilai
2. T0 : ada bukti tumor primer
3. Tis : Karsinoma in situ ( karsinoma preinvasive )
4. Karsinoma T1 I : serviks terbatas pada serviks ( perluasan mengabaikan
untuk korpus )
5. T1a IA : Karsinoma invasif didiagnosis hanya dengan mikroskop ; invasi
stroma dengan kedalaman maksimum 5.0 mm diukur dari dasar epitel dan
penyebaran horizontal 7,0 mm atau kurang ; Keterlibatan ruang vaskuler ,
vena atau limfatik , tidak mempengaruhi klasifikasi
6. T1a1 IA1 : Diukur invasi stroma 3,0 mm secara mendalam dan 7,0 mm
di spread horisontal
7. T1a2 IA2 :Diukur invasi stroma > 3,0 mm dan 5.0 mm dengan penyebaran
horisontal 7,0 mm
8. T1b IB : klinis terlihat lesi terbatas pada serviks atau lesi mikroskopik lebih
besar dari T1a / IA2

9. T1b1 IB1 : lesi klinis terlihat 4.0 cm dalam dimensi terbesar


10. T1b2 IB2 :klinis terlihat lesi > 4.0 cm dalam dimensi terbesar
11. T2 II : serviks karsinoma Menginvasi luar rahim tetapi tidak untuk dinding
panggul atau menurunkan ketiga vagina
12. T2a IIA : tanpa invasi parametrium
13. T2a1 IIA1 : lesi klinis terlihat 4.0 cm dalam dimensi terbesar
14. T2a2 IIA2 : klinis terlihat lesi > 4.0 cm dalam dimensi terbesar
15. T2b IIB : Tumor dengan invasi parametrium
16. T3 III

: Tumor meluas ke dinding panggul dan / atau melibatkan sepertiga

bagian bawah vagina dan / atau menyebabkan hidronefrosis atau


nonfungsional ginjal
17. T3a IIIA : Tumor melibatkan sepertiga bagian bawah vagina , tidak ada
ekstensi untuk dinding panggul
18. T3b IIIB : Tumor meluas ke dinding panggul dan / atau menyebabkan
hidronefrosis atau nonfungsional ginjal
19. T4 IV : Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan / atau
melampaui panggul yang benar ( edema bulosa tidak cukup untuk
mengklasifikasikan tumor sebagai T4 )
20. T4a IVA :Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum ( edema
bulosa tidak cukup untuk mengklasifikasikan tumor sebagai T4 )
21. T4b IVB : Tumor melampaui panggul benar
2.3.

ETILOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui, namun ada beberapa faktor

resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain:


a. Umur

Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan


seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun
dianggap masih terlalu muda.
b. Jumlah kehamilan dan partus
`Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin
sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
c. Jumlah perkawinan.
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan
mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
d. Infeksi virus.
Infeksi HPV (Human papiloma virus)yang beresiko tinggi menyebabkan
kanker leher rahim yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually
transmitted disease). Perempuan biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan
tahun, sampai tiga puluhan, walaupun kankernya sendiri baru akan muncul 10-20
tahun sesudahnya. Infeksi virus HPV yang berisiko tinggi menjadi kanker adalah
tipe 16, 18, 45, 56 dimana HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70%
kasus. Infeksi HPV tipe ini dapat mengakibatkan perubahan sel-sel leher rahim
menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (high-grade intraepithelial lesion/ LISDT)
yang merupakan lesi. (yatim,faisal,2010)
2.4.

PATOFISIOLOGI
Cerviks timbul dibatas antara epitel yang melapisi ektoserviks (portio) dan
endoserviks kanalisis serviks yang dibuat sebagai squamo-columnar junction (SCJ).
Pada wanita muda SCJ ini berada diluar OUE, sedang pada wanita berumur >35 th,
SCJ berada didalam kanalis servikalis pada awal perkembangannya kanker serviks
tidak memberi tanda-tanda dan keluhan ada pemeriksaan dengan speculum, tampak
parsio yang erosive (metaplasia skuamosa) yang fisiologik atau patologik. Tumor
dapat tumbuh sebagai berikut:
a) Eksofitik, mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa proliferasi yang
mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.

b) Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk
mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
c) Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dan
melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks
epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari
cadangan epitel kolumnar. Proses pergantian ini disebut proses metaplasia dan terjadi
akibat pengaruh pH vagina yang rendah. Akibat proses metaplasia ini maka secara
morfogenetik terdapat 2 SSK, yaitu SSK (Sel skuamosa karsinoma) asli dan SSK
baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel
kolumnar. (Rahmawan, 2009).
Daerah di antara kedua SSK (Sel skuamosa karsinoma) ini disebut daerah
transformasi. Masuknya mutagen atau bahan-bahan yang dapat mengubah perangai
sel secara genetik pada saat fase aktif metaplasia dapat menimbulkan sel-sel yang
berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di daerah transformasi. Mutagen
tersebut berasal dari agen-agen yang ditularkan secara hubungan seksual dan diduga
bahwa human papilloma virus (HPV) memegang peranan penting. Sel yang
mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi
kelainan epitel yang disebut displasia. Perbedaan derajat displasia didasarkan atas
tebal epitel yang mengalami kelainan dan berat ringannya kelainan pada sel.
Sedangkan karsinoma in-situ adalah gangguan maturasi epitel skuamosa yang
menyerupai karsinoma invasif tetapi membrana basalis masih utuh.(Rahmawan,
2009).
Kanker insitu pada servik adalah keadaan dimana sel neoplastik terjadi pada
seluruh lapisan epitel disebut displasia. Displasia merupakan neoplasia servik
intraephitelia (CNI). CNI terbagi menjadi tiga tingkat yaitu tingkat I ringan, tingkat
II sedang, tingkat III berat. Tidak ada gejala spesifik untuk kanker servik pendarahan

merupakan satu-satunya gejala yang nyata, tetapi gejala ini hanya ditemukan pada
tahap lanjut. Sedang kan tahap awal tidak. (pince, sylvia A, 2010).

Usia, Jumlah kehamilah partus jumlah


perkawinan, infeksi HPV

Mitosis sel eksoservik &


endoserviks
Hiperterm
i

Metaplasia skuamosa

Demam
Perubahan struktur sel
& fungsi sel-sel normal

termoregulasi

Aktivasi regenerasi
sel meningkat

pelepasan med.kimiawi

Sel - sel
ganas/karsinoma

merangsang hipotalamus

( prostaglandin )

Invasi Patogen

Kanker

Dilakukan non
pembedahan, kemoterapi

Mual Muntah

Penurunan berat badan

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Menembus sel epitel

Struma serviks

Meluas ke
jaringan

Dapat menekan
jaringan sekitar

Iskemia jaringan

Nekrosis jaringan

Vaskularisasi
jaringan

Peradangan
endo & ekso

Pembuluh limfa &


vena

Menekan ujung
saraf simpatik

Dinding pembuluh
terdesak

Respon nyeri

Keputihan, bau
busuk , gatal

Kurangnya
pengetahuan tentang
gejala dan penyakit

Nyeri
Perdarahan
spontan

Kekurangan Volume Cairan

Defisiensi
Pengetahua

Timbul rasa khawatir

Cemas

sumber :
1. Sylvia A. Prince, 2007.
2. Rahmawan, 2009

Ansietas

2.5.
MANIFSTASI KLINIS
a. Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosisjaringan.
Pada permulaan penyakit yaitu pada stadium praklinik (karsinoma insitu dan
mikro invasif) belum dijumpai gejala-gejala yang spesifik bahkan sering tidak
dijumpai gejala. Awalnya, keluar cairan mukus yang encer, keputihan seperti
krem tidak gatal,kemudian menjadi merah muda lalu kecoklatan dan sangat
berbau bahkan sampai dapat tercium oleh seisi rumah penderita. Bau ini timbul
karena ada jaringan nekrosis (Aziz M.F.,Saifuddin A.B., 2010).
b. Ada perdarahan tidak normal.
Awal stadium invasif, keluhan yang timbul adalah perdarahan di luar siklus
haid, yang dimulai sedikit-sedikit yang makin lama makin banyak atau
perdarahan terjadi di antara 2 masa haid.Perdarahan terjadi akibat terbukanya
pembuluh darah disertai dengan pengeluaran sekret berbau busuk,bila perdarahan
berlanjut lama dan semakin sering akan menyebabkan penderita menjadi sangat
anemis dan dan dapat terjadi shock, dijumpai pada penderita kanker serviks
stadium lanjut (Aziz M.F. dan Saifuddin A.B.2010).
c. Perdarahan yang dialami segera setelah berhubungan ( 75% - 80% ).
Keluhan ini sering dijumpai pada awal stadium invasif, biasanya timbul
perdarahan setelah berhubungan. Hal ini terjadi akibat trauma pada permukaan
serviks yang telah mengalami lesi (Rasjidi Imam, 2010).
d. Nyeri dibagian daerah panggul
Rasa nyeri ini dirasakan di bawah perut bagian bawah sekitar panggul yang
biasanya unilateral yang terasa menjalar ke paha dan ke seluruh panggul. Nyeri
bersifat progresif sering dimulai dengan Low Back Pain di daerah lumbal,
menjalar ke pelvis dan tungkai bawah, gangguan miksi dan berat badan semakin
lama semakin menurun khususnya pada penderita stadium lanjut.bila kanker
sudah berada pada stadium 3, maka akan mengalami pembengkakan dibagian
tubuh seperti, betis, paha, tangan dan sebagiannya ( RamaDiananda, 2009 )
2.6.
a.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Sitologi Pap Smear
Salah satu pemeriksaan sitologi yang bisa dilakukan adalah pap smear. Pap
smear merupakan salah satu cara deteksi dini kanker leher rahim. Test ini

mendeteksi adanya perubahan-perubahan sel leher rahim yang abnormal, yaitu


suatu pemeriksaan dengan mengambil cairan pada laher rahim dengan spatula
kemudian dilakukan pemeriksaan dengan mikroskop.
Saat ini telah ada teknik thin prep (liquid base cytology) adalah metoda pap
smear yang dimodifikasi yaitu sel usapan serviks dikumpulkan dalam cairan
dengan tujuan untuk menghilangkan kotoran, darah, lendir serta memperbanyak
sel serviks yang dikumpulkan sehingga akan meningkatkan sensitivitas.
Pengambilan sampel dilakukan dengan mengunakan semacam sikat (brush)
kemudian sikat dimasukkan ke dalam cairan dan disentrifuge, sel yang terkumpul
diperiksa dengan mikroskop.
Pap smear hanyalah sebatas skrining, bukan diagnosis adanya kanker serviks.
Jika ditemukan hasil pap smear yang abnormal, maka dilakukan pemeriksaan
standar berupa kolposkopi. Penanganan kanker serviks dilakukan sesuai stadium
penyakit dan gambaran histopatologimnya. Sensitifitas pap smear yang dilakukan
b.

setiap tahun mencapai 90%.


Kolposkopi
Pemeriksaan dengan pembesaran (seperti mikroskop) yang digunakan untuk
mengamati secara langsung permukaan serviks dan bagian serviks yang
abnormal. Dengan kolposkopi akan tampak jelas lesi-lesi pada permukaaan

serviks, kemudian dilakukan biopsi pada lesi-lesi tersebut.


c. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA merupakan tes alternatif skrining untuk kanker serviks. Tes sangat mudah
dan praktis dilaksanakan, sehingga tenaga kesehatan non dokter ginekologi,
bidan praktek dan lain-lain. Prosedur pemeriksaannya sangat sederhana,
permukaan serviks/leher rahim diolesi dengan asam asetat, akan tampak bercakd.

bercak putih pada permukaan serviks yang tidak normal.


Serviksografi
Servikografi terdiri dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa
ekstensi 50 mm. Fotografi diambil oleh tenaga kesehatan dan slide (servikogram)
dibaca oleh yang mahir dengan kolposkop. Disebut negatif atau curiga jika
tampak kelainan abnormal, tidak memuaskan jika SSK tidak tampak seluruhnya

dan disebut defek secara teknik jika servikogram tidak dapat dibaca (faktor
kamera atau flash).
Kerusakan (defect) secara teknik pada servikogram kurang dari 3%.
Servikografi dapat dikembangkan sebagai skrining kolposkopi. Kombinasi
servikografi dan kolposkopi dengan sitologi mempunyai sensitivitas masingmasing 83% dan 98% sedang spesifisitas masing-masing 73% dan 99%.
Perbedaan ini tidak bermakna. Dengan demikian servikografi dapat di-gunakan
sebagai metoda yang baik untuk skrining massal, lebih-lebih di daerah di mana
tidak ada seorang spesialis sitologi, maka kombinasi servikogram dan kolposkopi
sangat membantu dalam deteksi kanker serviks.
e.

Gineskopi
Gineskopi menggunakan teleskop monokuler, ringan dengan pembesaran 2,5
x dapat digunakan untuk meningkatkan skrining dengan sitologi. Biopsi atau
pemeriksaan kolposkopi dapat segera disarankan bila tampak daerah berwarna
putih dengan pulasan asam asetat. Sensitivitas dan spesifisitas masing-masing
84% dan 87% dan negatif palsu sebanyak 12,6% dan positif palsu 16%.
Samsuddin dkk pada tahun 1994 membandingkan pemeriksaan gineskopi dengan
pemeriksaan sitologi pada sejumlah 920 pasien dengan hasil sebagai berikut:
Sensitivitas 95,8%; spesifisitas 99,7%; predictive positive value 88,5%; negative
value 99,9%; positif palsu 11,5%; negatif palsu 4,7% dan akurasi 96,5%. Hasil
tersebut memberi peluang digunakannya gineskopi oleh tenaga paramedis / bidan

f.

untuk mendeteksi lesi prakanker bila fasilitas pemeriksaan sitologi tidak ada.
Pemeriksaan Penanda Tumor (PT)
Penanda tumor adalah suatu suatu substansi yang dapat diukur secara
kuantitatif dalam kondisi prakanker maupun kanker. Salah satu PT yang dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya perkembangan kanker serviks adalah CEA
(Carcino Embryonic Antigen) dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin).
Kadar CEA abnormal adalah > 5 L/ml, sedangkan kadar HCG abnormal adalah
> 5g/ml. HCG dalam keadaan normal disekresikan oleh jaringan plasenta dan

mencapai kadar tertinggi pada usia kehamilan 60 hari. Kedua PT ini dapat
dideteksi melalui pemeriksaan darah dan urine.
g. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi tingkat komplikasi pendarahan
yang terjadi pada penderita kanker serviks dengan mengukur kadar hemoglobin,
hematokrit, trombosit dan kecepatan pembekuan darah yang berlangsung dalam
sel-sel tubuh.( Dr RamaDiananda, 2009 )
2.7.

PENATALAKSAAN
Penatalaksanaan yang dilakukan pada klien kanker serviks, tergantung pada

stadiumnya. penatalaksanaan medis terbagi menjadi tiga cara yaitu: histerektomi,


radiasi dan kemoterapi.
Di bawah ini adalah klasifikasi penatalaksanaan medis secara umum
berdasarkan stadium kanker serviks :
a. Stadium 0: konisasi (pengambilan jaringan serviks berbentuk kerucut dengan
basis pada partio, untuk tujuan diagnostik/terapeutik).
b. Stadium IA: simple histerektomi (histerektomi total).
c. Stadium IB dan IIA: histerektomi dan chemoterapi
d. Stadium IV: Radiasi paliatif

2.8.

PENCEGAHAN
Kanker stadium dini (karsinoma in situ) sangat susah dideteksi karena belum

menimbulkan gejala yang khas dan spesifik. Kematian pada kasus kanker serviks
terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada dalam stadium
lanjut. Atas dasar itulah, di beberapa negara pemeriksaan sitologi vagina merupakan
pemeriksaan rutin yang dilakukan kepada para ibu hamil, yang dilanjutkan dengan
pemeriksaan biopsi bila ditemukan hasil yang mencurigakan.
Dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini, kemungkinan janin dapat
dipertahankan dan penyakit ini dapat disembuhkan bisa mencapai hampir 100%.
Malahan sebenarnya kanker serviks ini sangat bisa dicegah. Menurut ahli obgyn dari

New York University Medical Centre , dr. Steven R. Goldstein, kuncinya adalah
deteksi dini.
Kini, cara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker ini adalah bentuk
skrining yang dinamakan Pap Smear, dan skrining ini sangat efektif. Pap smear
adalah suatu pemeriksaan sitologi yang diperkenalkan oleh Dr. GN Papanicolaou
pada tahun 1943 untuk mengetahui adanya keganasan (kanker) dengan mikroskop.
Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat dan tidak sakit. Masalahnya, banyak wanita
yang tidak mau menjalani pemeriksaan ini, dan kanker serviks ini biasanya justru
timbul pada wanita-wanita yang tidak pernah memeriksakan diri atau tidak mau
melakukan pemeriksaan ini. 50% kasus baru kanker serviks terjadi pada wanita yang
sebelumnya tidak pernah melakukan pemeriksaan pap smear. Padahal jika para
wanita mau melakukan pemeriksaan ini, maka penyakit ini suatu hari bisa saja
diatasi.
Ada beberapa protokol skrining yang bisa ditetapkan bersama - sama sebagai
salah satu upaya deteksi dini terhadap perkembangan kanker serviks, beberapa di
antaranya :

a.

Skrining awal
Skrining dilakukan sejak seorang wanita telah melakukan hubungan
seksual (vaginal intercourse) selama kurang lebih tiga tahun dan umurnya
tidak kurang dari 21 tahun saat pemeriksaan. Hal ini didasarkan pada
karsinoma serviks berasal lebih banyak dari lesi prekursornya yang
berhubungan dengan infeksi HPV onkogenik dari hubungan seksual yang
akan berkembang lesinya setelah 3-5 tahun setelah paparan pertama dan

biasanya sangat jarang pada wanita di bawah usia 19 tahun.


b. Pemeriksaan DNA HPV
Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Paps smear negatif
disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3
sebanyak hampir 100%. Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita

dengan umur diatas 30 tahun karena prevalensi infeksi HPV menurun sejalan
dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29 tahun atau lebih dengan ASCUS
hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat sampai 65% pada usia 28 tahun
atau lebih muda. Walaupun infeksi ini sangat sering pada wanita muda yang
aktif secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan waktu.
Sehingga, deteksi DNA HPV yang positif yang ditenukan kemudian lebih
dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila ini dialami pada wanita
dengan usia yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker
serviks.
c. Skrining dengan Thinrep / liquid-base method
Disarankan untuk wanita di bawah 30 tahun yang berisiko dan
dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan setiap 1 - 3 tahun.
d. Skrining dihentikan bila usia mencapai 70 tahun atau telah dilakukan 3 kali
pemeriksaan berturut-turut dengan hasil negatif.

2.9.

KOMPLIKASI
a. Pendarahan
Jika kanker menyebar ke usus vagina atau kandung kemih, dapat
menyebabkan kerusakan yang signifikan, mengakibatkan pendarahan.
Perdarahan dapat terjadi pada vagina, rektum (bagian belakang), atau
mungkin mengeluarkan darah ketika buang air kecil.
b. Gagal ginjal
Ginjal menghilangkan bahan limbah dari darah. Limbah dibuang
keluar dari tubuh dalam urin melalui tabung yang disebut ureter. Dalam
beberapa kasus kanker serviks stadium lanjut, tumor kanker (pertumbuhan
jaringan abnormal) dapat menekan ureter, menghalangi aliran urin keluar dari
ginjal. Sehingga urin tertampung dalam ginjal dikenal sebagai hidronefrosis
dan dapat menyebabkan ginjal menjadi bengkak dan rusak.
c. Pembekuan Fistula
Fistula merupakan komplikasi yang jarang

terjadi

namun

menyedihkan yang terjadi di sekitar 1 dalam 50 kasus kanker serviks stadium

lanjut. Fistula adalah saluran abnormal yang berkembang antara dua bagian
tubuh. Dalam kebanyakan kasus yang melibatkan kanker serviks, fistula
berkembang antara kandung kemih dan vagina. Dan kadang-kadang fistula
2.10.

berkembang antara vagina dan dubur.


PROGNOSIS
Karsinoma serviks yang tidak diobati atau tidak memberikan respon terhadap

pengobatan, 95 % mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Pasien


yang menjalani histerektomi dan memiliki risiko tinggi terjadinya rekurensi harus
terus diawasi karena lewat deteksi dini, perkembangan kanker seviks dapat diobati
dengan radioterapi.
Ada beberapa faktor yang menentukan prognosis dalam angka kejadian kanker
serviks, antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Usia penderita
Keadaan umum
Tingkat klinis keganasan
Ciri - ciri histologik sel kanker
Kemampuan tim kesehatan untuk menangani
Sarana pengobatan yang tersedia
sumber : Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1
Stadium
0
I
II
III
IV

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
3.1.

Pengkajian
A. Identitas klien
B. Keluhan utama
Pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri intraservikal disertai dengan
keputihan meyerupai air, berbau, bahkan perdarahan.
1) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang
mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul
keluhan seperti: perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.
2) Riwayat penyakit dahulu
Data yang perlu dikaji adalah :
Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat
ooperasi kandungan, serta adanya tumor.Riwayat keluarga yang menderita
kanker.
3) Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit
seperti ini atau penyakit menular lain.
4) Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di
rumah dan bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker
serviks.Kanker serviks sering dijumpai padakelompok sosial ekonomi
yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitasmakanan atau
gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal
hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital.
C. Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi

Klien tampak kelelahan, rambut jarang, tubuh pasien kurus dan


tampak sering ingin mual, kulit pucat disebabkan karena anemia, mata
cekung disebabkan karena kurang tidur, klien tanpak meringis menahan
kesakitan, klien mengalami keputihan, klien juga mengalami pendarahan
yang sering
2. Palpasi
Pada palpasi didapati nyeri pada abdomen dan nyeri pada punggung
D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
E.

bawah
Pemeriksaan diagnostik
Mendeteksi kanker serviks dengan Pap Smear
Biopsi
Konisasi
IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
Mendiagnosis serviks dengan kolposkop
Vagina inflammation self test card
Schillentest
Kolpomikroskopi
Gineskopi
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Kronik
2. Kekurangan Volume Cairan
3. Ansietas
4. Nutrisi Kurang dari Kebutuhan tubuh
5. Hipertermi
6. Defisiensi Pengetahuan

.Rencana Asuhan Keperawatan


N

Diagnosa Keperawatan

o
1

Domain 12 : Kenyamanan

NOC
NOC :

Kelas 1: KenyamananFisik

Nyeri Kronik (00133)


Definisi :
Pengalaman sensorik dan
emosional yang tidak
menyenangkan yang muncul
akibat kerusakan jaringan
yang actual atau potensial
atau digambarkan dalamhal
kerusakan sedemikian rupa
(International Association for
the Study of Pain) ; awitan
yang tiba tiba atau lambat
dari intensitas ringan hingga
berat dengan akhir yang
dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung

NIC
Manajemen nyeri

Tingkat Kenyamanan
Pengendalian nyeri
Tingkat nyeri

Tujuan

dilakukan

setelah
tindakan

keperawatan selama
x 24 jam klien mampu :
-

Menurunkan

level

nyeri
- Mengontrol nyeri
-

Rasional

Meningkatkan

rasa

nyaman
Dengan klien mampu :

Mengukur

Administrasi analgetik :
Mandiri

waktu terjadinya, durasi

1. Kaji pengalaman klien ketika

faktor yang memperberat

berhadapan dengan nyeri

dan yang mengurangi

untuk pertama kali, jika

nyeri harus dikaji dan di

memungkinkan lakukan

dokumentasikan pada

intervensi untuk menurunkan

saat setelah evaluasi

nyeri
2. Anjurkan klien untuk

memberikan efek

yang telah lalu mengenai nyeri

terhadap perasaan klien

dan metode yang digunakan

untuk melaporkan tentang

untuk menangani nyerinya,

nyeri dan penggunaan

termasuk pengalaman tentang


efek samping, tipe koping

menggunakan

respon, dan bagaimana ia

nyeri,

menetapkan

awal
2. Perhatian mungkin

menggambarkan pengalamam

nyerinya dengan
skala

1. Intensitas, karakter,

mengekspresikan nyeri
3. Mendeskripsikan tentang efek

analgetik
3. Intensitas dari nyeri dan
ketidak nyamanan harus
dikaji dan
didokumentasikan setelah

>6 bulan.

tujuan

untuk

penurunan nyeri
Batasan Karakteristik :
-

Hambatan

yang diharapkan
dan

membuat

kemampuan

rencana kegiatan

meneruskan aktivitas

untuk mengelola

sebelumnya
Perubahan pola tidur
skala keluhan ( mis.,

nyerinya
Mendiskripsikan

penggunaan skala

tentang rencana
pengelolaan

nyeri )
letih
sikap melindungi area

nyeri
keluhan nyeri
iritabilitas
gelisah

Faktor Yang Berhubungan


-

Ketunadayaan fisik

kronis
ketunadayaan
psikososial kronis

nyeri

yang merugikan dari nyeri


yang tidak tertahankan
4. Anjurkan klien untuk
melaporkan tentang lokasi,
intensitas dan kualitas dari
nyeri ketika sedang
mengalami nyeri
Kolaborasi
5. Kolaborasikan dengan
tim pelayan kesehatan,
pasien, dan anggota

baik

keluarga dalam memilih

farmakologis
maupun

dan menentukan tipe

non

nacrotis yang sesuai


6. Rekomendasikan

farmakologis
termasuk

penggunaan aspirin dan

mengenali

nonsteroid antiinflamasi

keuntungan dan

obat dalam pemberian

kerugian

nakrotis

pengelolaan
nyeri
menggunakan

prosedur yang
menyebabkan nyeri
dengan beberapa hal baru
tentang nyeri dan interval
dari nyeri
4. Untuk menolong
merencanakan perawatan
nyeri, penggunakan obatobatan yang lalu
5. Keluarga dapat
membedakan bagaimana
menentukan nacrotis
6. mempercepat dapat
membantu proses
penyembuhan klien
HE
7. Agar keluarga dapat
mengetahui hal
tentang memonitor

HE

nyeri dan bisa di

7. Mengajarkan kepada
pasien dan keluarga

8.

aplikasikan di rumah
keluarga dapat

obat

dan

non

obat
Mendemontrasikan
kemampuan

untuk

dialami

dan

mampu

memonitor respirasi
dan TD agar bisa
diaplikasikan di
rumah

dalam memonitor status


respirasi dan tekanan

yang

sedang

intensitas nyeri, kualitas

pasien dan keluarga

Menerima
keadaan

mengetahui cara

dan durasi
8. Mengajarkan kepada

tenang, beristirahat

dalam memonitor

darah

beraktifitas
dengan minimal
terjadinya nyeri

Domain 2: Nutrisi
Kelas 5: Hidrasi

NOC :
- Keseimbangan elektrolit dan

NIC :
Manajemen Cairan/Elektrolit

Manajemen
Cairan/Elektrolit

Kekurangan volume cairan


(00027)
Definisi: Peningkatan retensi
cairan istonik
Batasan karakteristik:
Penurunan tekanan darah
Peningkatan suhu tubuh
Penurunan berat badan tibatiba
Kelemahan

asam basa
- Keseimbangan cairan
- Hidrasi

elektrolit
2. Berikan klien banyak minum
tindakan selama..x 24 jam 3. Monitor tanda-tanda dehidrasi
4. Observasi tanda-tanda vital
masalah kekurangan volume
cairan teratasi.
Kriteria hasil :
- Menunjukkan keseimbangan
elektrolit dan asam basa
Menunjukkan keseimbangan

cairan.

cairan aktif

keseimbangan cairan dan

Tujuan:setelah dilakukan

Faktor yang berhubungan:


Kehilangan volume

1. Kaji penyebab gangguan

Terapi Intravena (IV)


5. Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian cairan infus

1. Sebagai dasar dalam


menentukan tindakan
yang tepat untuk klien
dalam memenuhi
kebutuhan cairan dan
elektrolit.
2. Asupan cairan dan
elektrolit yang cukup
akan membantu
mempercepat proses
metabolisme tubuh
3. Mengetahui tingkat dan
dengan kekurangan
cairan elektrolit tubuh
mempermudah dalam
memberi pengobatan
4. Tanda-tanda vital
merupakan parameter
peningkatan respon
fisiologis dari
kekurangan cairan dan
elektrolit

Terapi Intravena (IV)


Tindakan yang terdapat
dalam pemberian infus dapat
membantu mempercepat
kebutuhan cairan dan
3

Domain 9 : Koping/Toleransi

NOC:

NIC

stress

Pengendalian diri

Penurunan Ansietas

terhadap ansietas

1. Evaluasi tingkat ansietas,

Kelas 2 : Respon Koping


Ansietas (00146)

Koping

Definisi : Perasaan tidak


nyaman atau kekhawatiran

catat verbal dan non verbal


pasien.

Tujuan : Setelah dilakukan


asuhan keperawatan selama

otonom

x 24 jam, diharapkan

untuk tindakan prosedur

kecemasab klien berkurang

sebelum dilakukan

Gelisah

Insomnia

Mengekspresikan
kekhawatiran karena
perubahan dalam pola
hidup

2. Jelaskan dan persiapkan

Melaporkan ansietas
menurun sampai tingkat
teratasi

Tampak rileks

pada prosedur diagnostik dan


pembedahan.
2.dapat meringankan ansietas
tersebut melibatkan
pembedahan.
3.membatasi kelemahan,
menghemat energi dan

dengan kriteria hasil:

karena nyeri hebat, penting

terutama ketika pemeriksaan

yang samar disertai respons

Batasan karakteristik :

elektrolit
Penurunan Ansietas
1.ketakutan dapat terjadi

3. Jadwalkan istirahat adekuat


dan periode menghentikan
tidur.
4. Anjurkan keluarga untuk
menemani disamping klien

meningkatkan kemampuan
koping.
4.Mengurangi kecemasan
klien
Peningkatan Koping
5.Dengan beradaptasi
disekitar pasien bisa

Tampak waspada

Faktor Yang Berhubungan :

4.

Peningkatan Koping

merasakan sedikit rileks

5. Bantu pasien beradaptasi

sebelum melakukan operasi

dengan perepsi

agar pasien tidak terlalu

Perubahan dalam status

stressor,perubahan,atau

cemas saat diruangan operasi

kesehatan

ancaman yang mengambat

nanti.

stress

pemenuhan tuntutat dan peran

Domain 2 : Nutrisi

NOC:

hidup
Mandiri:

Kelas 1 : Makan

Nutritional Status
Nutritional Status : food

1. Auskultasi bising usus


2. Catat dan laporkan adanya

Ketidak Seimbangan
Nutrisi Kurang Dari
Kebutuhan Tubuh (00002)

and fluid intake


Nutritional Status :

anoreksia, kelemahan umum


nyeri, nyeri abdomen,

Mandiri:
1. Bising usus hiperaktif
mencerminkan
peningkatan motilitas
lambung yang

Definisi: Asupan nutrisi tidak

nutrient intake
Weight control

cukup untuk memenuhi

Tujuan: Setelah dilakukan

setiap hari dan timbang BB

kebutuhan metabolic.

tindakan keperawatan

setiap hari serta laporkan

Batasan Karakteristik:

selama ...x24 jam masalah

absorbsi
2. Peningkatan aktivitas

adanya penurunan.
4. Dorong pasien untuk makan

adrenergik dapat

munculnya mual dan muntah


3. Pantau masukan makanan

Kram abdomen

ketidakseimbangan nutrisi

Nyeri abdomen

kurang dari kebutuhan tubuh

dan meningkatkan jumlah

Menghindari makan

teratasi

makan dan juga makanan

Berat badan 20% atau

Kriteria Hasil:

kecil, dengan menggunakan

lebih di bawah berat

Adanya peningkatan BB

makanan tingginkalori yang

sesuai dengan tujuan

mudah dicerna

menurunkan atau
mengubah fungsi

menyebabkan gangguan
sekresi insulin/terjadi
resisten yang
mengakibatkan
hiperglikemia.
3. Penurunan BB terus

badan ideal

BB ideal sesuai dengan

Kerapuhan kapiler

yang dapat meningkatkan

masukan kalori yang

Kehilangan rambut

TB
Mampu mengidentifikasi

peristaltik usus (misalnya teh,

cukup merupakan

kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda-tanda

kopi, dan makanan berserat

indikasi kegagalan

berlebihan

Bising usus hiperaktif

Kurang makan

Kurang informasi

Kurang minat pada


makanan

Penurunan berat badan


dengan asupan makanan
adekuat

malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan fungsi
pengecapan dari
menelan
Tidak terjadi penurunan
BB yang berarti

5. Hindari pemberian makanan

lainnya)
Kolaborasi:
6. Konsultasikan dengan ahli gizi
untuk memberikan diet tinggi
kalori, protein, karbohidrat,
dan vitamin
7. Berikan obat sesuai indikasi:
glukosa, vitamin B kompleks
HE
8. Berikan informasi tentang

menerus dalam keadaan

terhadap terapi antitiroid


4. Membantu menjaga
pemasukan kalori cukup
tinggi untuk
menambahkan kalori
tetap tinggi pada
penggunaan kalori yang
disebabkan oleh adanya
hiper metabolik
5. Peningkatan motilitas

Kesalahan konsepsi

Kesalahan informasi

Membrane mukosa pucat

gangguan absorbsi nutrisi

Ketidakmampuan

yang diperlukan

memakan makanan

kebutuhan nutrisi

saluran cerna dapat


mengakibatkan diare dan

Kolaborasi:

Tonus otot menurun

6. Menjamin pemasukan

Mengeluh gangguan

zat-zat makanan yang

sensasi rasa

adekuat
7. Diberikan untuk

Mengeluh asupan

memenuhi kalori yang

makanan kurang dari

diperlukan dan

RDA (recommended daily

mencegah atau

allowance)

mengobati hipoglikemia
HE

Faktor yang berhubungan:

Faktor biologis

Faktor ekonomi

Ketidakmampuan untuk

8. untuk mempertahankan
nutrisi di dalam tubuh

mengabsorpsi nutrien
Ketidakmampuan untuk
5.

mencerna makanan
Domain 11:
Keamanan/perlindungan

NOC:
- Termoregulasi
- Tanda-tanda vital

NIC:

- Terapi demam
1. Kompres hangat dapat
1. Berikompres air hangat
Kelas 6: Termoregulasi
mengembalikan suhu
2. Monitor intake dan output
Tujuan:setelahdilakukantinda
Hipertermia (00007)
normal dan
3. Berikan obat anti piretik.
kanselama..x 24 jam suhu - Regulasi suhu
Definisi:
memperlancar sirkulasi.
4. Berikan/anjurkanpasienun
tubuh menjadi normal.
2. Untuk mengetahui
Peningkatansuhutubuhdiatask
tukbanyakminum 1500Kriteria hasil :
adanya
isaran normal.
2000 cc/hari
ketidakseimbangan cairan
Menunjukkan suhu tubuh
BatasanKarakteristik:
(sesuaitoleransi).
tubuh.
dalam rentang normal
5. Anjurkanpasienuntukmen
Peningkatansuhutubuhdiatask
3. Dapat menurunkan
(TTV normal).
ggunakanpakaian yang
isaran normal
demam
Kejang

Faktor yang berhubungan:

tipis

Anastesia
Peningkatanlajumetabolisme

danmudahmenyerapkerin
gat.
- Pemantauan tanda vital
6. Observasi tanda-tanda
vital tiap 3 jam.

4. Untuk mengganti cairan


tubuh yang hilang akibat
penguapan.
5. Memberikan rasa nyaman
dan pakaian yang tipis
mudah menyerap keringat
dan tidak merangsang
peningkatan suhu tubuh.
6. Tanda-tanda vital
merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan

6.

Domain 5: Persepsi/Kognisi

Setelah dilakukan tindakan

Kelas 4:Kognisi

keperawatan selama 324

Defisiensi

jam di harapkan pasien

Pengetahuan(00126)

memahami pengetahuan

Definisi :

tentang penyakitnya dengan

Ketiadaan atau defisiensi

criteria hasil :

informasi kognitif yang

1.Pasien terlihat tidak bingung

berkaitan dengan tpoik

lagi
2.Pengetahuan Pasien dan

tertentu.
Batasan Karakteristik:

keluarga dapat bertambah

1. Kaji apa pasien tahu tentang


tanda-tanda dan gejala normal
selama kehamilan
2. Ajarkan tentang apa yang harus
dilakukan jika tanda KPD
muncul kembali
3. Libatkan keluarga agar
memantau kondisi pasien

umum pasien.
1. Untuk mengetahui
tentang pemahaman
pasien untuk tindakan
selanjutnya
2. Mencegah terjadinya halhal yang tidak diinginkan
terjadi yang bisa
membahayakan ibu-janin
3. Untuk membantu
merencanakan tindakan
berikutnya

Perilaku hiperbola
Ketidakakuratan

mengikuti perintah
Ketidakajuratan

mengikuti test
Perilaku tidak tepat
Pengungkapan
masalah

faktor berhubungan :

Keterbatasan kognitif
Salah interpretasi

informasi
Kurang pajanan
Kurang dapat
mengingat

BAB IV
PENUTUP
1.1.

KESIMPULAN
Kanker serviks (kanker leher rahim) adalah tumbuhnya sel-sel tidak normal

pada leher rahim. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya
kanker serviks antara lain sebagai berikut:
-

Hubungan Seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda.
Berganti-ganti pasangan seksual.
Defisiensi zat gizi
Sering melahirkan.
Trauma
Kronis pada Servik seperti persalinan, infeksi dan iritasi menahun

Adapun gejala yang sering timbul pada stadium lanjut antara lain adalah:
Pendarahan sesudah melakukan hubungan intim.
Keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita.
Pendarahan sesudah mati haid (menopause).
Pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau atau bercampur
darah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil. Akan tetapi kanker serviks juga
dapat dicegah dan diobati. Upaya pencegahan pada kanker serviks antara lain sebagai
berikut:
-

Kanker serviks dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan kewanitaan


Penggunaan kondom saat berhubungan seks
Menghindari merokok
Menghindari pencucian vagina dengan obat-obatan antiseptik tertentu
Pemberian vaksin (antigen)

Pemeriksaan PAP SMEAR adalah cara untuk mendeteksi dini kanker


serviks.

Upaya pengobatan pada kanker serviks antara lain sebagai berikut:


-

Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.


Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya

uterus beserta leher rahimnya.


Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang
dapat dilakukan secara internal maupun eksternal

1.2.

SARAN
Untuk melakukan skrining kanker serviks, jangan sampai menunggu adanya
keluhan.
Datanglah ke tempat periksa untuk pemeriksaan PAP SMEAR/IVA.
Jika ditemukan kelainan pra kanker ikutilah pesan petugas/dokter. Apabila perlu
pengobatan, jangan ditunda. Karena pada tahap ini tingkat kesembuhannya
hampir 100%.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1. Jakarta : Media
Ausculapius
Price, Sylvia. 2010. Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit, Edisi 6,
Volume 2. Jakarta : EGC

Adiyono W, Amarwati S, Nurkukuh, Suhartono 2007. Hubungan hasil pap Smear


Dengan hasil pemeriksaan kolposkopi pada skrining lesi serviks, Jakarta
Samadi, 2011, Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Salemba Medika,Jakarta
Aziz Alimul H. 2010, pengantar kebutuhan dasar manusia, Jakarta
Wilkinson, Judith. M. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. EGC: Jakarta