Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kanker endometrium merupakan salah satu kanker ginekologi dengan angka

kejadian tertinggi, terutama di negara-negara maju. Selama tahun 2005, diperkirakan

di Amerika terdapat sekitar 40.880 kasus baru dengan sekitar 7.100 kematian terjadi

karena kanker endometrium. Kanker endometrium paling sering terdiagnosis pada

usia pasca menopause, dimana 75% kasus terjadi pada wanita usia pasca menopause.

Meskipun demikian sekitar 20% kasus terdiagnosis pada saat premenopause.

Kanker endometrium uterus telah mengalami peningkatan angka kejadian di

Indonesia, sebagian Karena penderita hidup lebih lama dan pelaporan lebih akurat.

Sekitar 32.000 kasus di perkirakan akan terjadi setiap tahunnya dengan 5900

kematian. Sepertiga wanita dengan perdarahan pascamenopause mempunyai kanker

uterus. Usia rata-rata adalah 61, dan kebanyakan pasien setidaknya berusia 55 tahun.

Secara epidemiologi terdapat beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan

kanker endometrium yaitu hormon replacement theraphy, terapi Tamoxifen, obesitas,

wanita pasca menopause, nulipara atau dengan paritas rendah, dan keadaan anovulasi.

Hal-hal tersebut berkaitan dengan keadaan upopposed estrogen yang meningkatkan

risiko terjadinya kanker endometrium. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan

terhadap estrogen atau meningkatkan kadar progesteron, seperti penggunaann

kontrasepsi oral dan merokok, merupakan faktor yang bersifat protektif. Kanker

endometrium stadium awal memiliki prognosis yang cukup baik.

Kanker endometrium terdiagnosis saat masih terlokalisir memiliki survival

rate lima tahunnya mencapai 96%, dan menurun sampai ke 44% pada stadium lanjut.

Dengan pengetahuan yang baik tentang perdarahan pervaginam pasca menopause di

dunia Barat, sebagian besar kasus ini, sekitar 77% terdiagnosis pada stadium dini.
Teknik skrining yang dapat digunakan adalah skrining non-invasif, seperti USG dan

teknik invasif seperti pemeriksaan D&C dan biopsi endometrium yang merupakan

tehnik yang digunakan untuk mengevaluasi jaringan endometrium dan menjadi

bakuan dalam menilai status endometrium. Biopsi endometrium mempunyai

sensitifitas yang baik dengan negatif palsu yang rendah dan sebagian besar

disebabkan karena kesalahan dalam pengambilan. Namun demikian penentuan

stadium karsinoma endometrium yang akurat adalah melalui prosedur pembedahan.

Oleh karena itu, penanganan Ca endometrium sangat memerlukan tindakan khusus

dari perawat untuk mencegah memburuknya kondisi kesehatan klien. Hal tersebut

dikarenakan klien yang mengalami Ca endometrium dalam kondisi gawat yang dapat

mengancam jiwa klien. Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai satu kasus

kanker endometrium beserta penatalaksanaannya.

B. Tujuan Umum

Mahasiswa memahami tentang asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien

dengan gangguan Ca endometrium

C. Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu memahami pengertian Ca endometrium

2. Mahasiswa memahami klasifikasi dari Ca endometrium

3. Mahasiswa memahami etiologi dari Ca endometrium

4. Mahasiswa memahami tanda dan gejala pada pasien Ca endometrium

5. Mahasiswa mengetahui patofisiologi dan pathway dari Ca endometrium

6. Mahasiswa mengetahui pemeriksaan penunjang

7. Mahasiswa mampu memahami Penatalaksanaan dari Ca endometrium

8. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien Ca endometrium


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Kanker endometrium adalah kanker yang terjadi pada organ endometrium atau pada

dinding rahim. Endometrium adalah organ rahim yang berbentuk seperti buah pir sebagai

tempat tertanam dan berkembangnya janin. kanker endometrium kadang-kadang disebut

kanker rahim, tetapi ada sel-sel lain dalam rahim yang bisa menjadi kanker seperti otot

atau sel miometrium. kanker endometrium sering terdeteksi pada tahap awal karena

sering menghasilkan pendarahan vagina di antara periode menstruasi atau setelah

menopause (Whoellan 2009)

B. Klasifikasi (Pada tahun 1988 FIGO menetapkan kriteria stadium surgikal)

IA (G1, G2, G3) : Tumor tebatas pada endometrium

IB (G1, G2,G3) : Menginvasi kurang dari setengah miometrium

IC (G1, G2, G3) : Menginvasi lebih dari setengah miometrium

IIA (G1, G2, G3) : Mengenai kelenjar endoserviks

IIB (G1, G2, G3) : Menginvasi stroma serviks

IIIA (G1,G2,G3) : Menginvasi ke lapisan serosa dan/atau adneksa dan /atau pemeriksaan

sitologi peritoneum positif

IIIB (G1, G2, G3) : Metastasis ke vagina

IIIC (G1, G2,G3) : Metastasis ke kelenjar getah bening pelvis dan/atau para-aorta

IVA (G1, G2,G3) : Invasi ke kandung kemih dan/atau mukosa usus.

IVB : Metastasis jauh termasuk ke rongga abdomen dan/atau kelenjar getah bening

ingunal.

Keterangan : Kanker endometrium dibagi atas derajat (G) sesuai dengan derajat

diferensiasi histologik.
G1 = 5% atau kurang gambaran pertumbuhan padat;

G2 = 6-50% gambaran pertumbuhan padat

G3 = > 50 % gambaran pertumbuhan padat

C. Etiologi

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kanker endometrium, tetapi

beberapa penelitiian menunjukkan bahwa rangsangan estrogen yang berlebihan dan terus

menerus bisa menyebabkan kanker endometrium. Berikut ini beberapa faktor resiko yang

bisa meningkatkan munculnya kanker endometrium :

a. Obesitas atau kegemukan.

Pada wanita obesitas dan usia tua terjadi peningkatan reaksi konversi androstenedion

menjadi estron. Pada obesitas konversi ini ditemukan sebanyak 25-20 kali. Obesitas

merupakan faktor resiko utama pada kanker endometrium sebanyak 2 sampai 20 kali.

Wanita dengan berat badan 10-25 Kg diatas berat badan normal menpunyai resiko 3 kali

lipat dibanding dengan wanita dengan berat badan normal. Bila berat badan lebih dari 25

Kg diatas berat badan normal maka resiko menjadi 9 kali lipat.

b. Haid pertama (menarche).

Wanita mempunyai riwayat menars sebelum usia 12 tahun mempunyai resiko 1,6 kali

lebih tinggi daripada wanita yang mempunyai riwayat menars setelah usia lenih dari 12

tahun. Menstruation span merupakan metode numerik untuk menentukan faktor resiko

dengan usia saat menarche, usia menopause dari jumlah paritas. Menstruasion span (MS)

= usia menars (jumlah paritas x1,5). Bila MS 39 maka resiko terkena kanker

endometrium sebanyak 4,2 kali dibanding MS < 29.

c. Tidak pernah melahirkan.

Memiliki resiko terkena kanker endometrium lebih tinggi baik sudah menikah atau belum

dibanding wanita yang pernah melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa 25% penderita
kanker endometrium tidak pernah melahirkan anak (nulipara). Penelitian lainnya juga

menunjukkan bahwa faktor ketidaksuburan(infertilitas) lebih berperan daripada jumlah

melahirkan (paritas).

d. Penggunaan estrogen.

Estrogen sering digunakan sebagai terapi sulih hormon. Peningkatan penggunaan hormon

ini diikuti dengan meningkatnya resiko kanker endometrium.

e. Hiperplasia endometrium.

Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan selaput

lendir rahim disertai peningkatan vaskularisasi akibat rangsangan estrogen yang

berlebihan dan terus menerus. Disebut neoplasia endometrium intraepitel jika hiperplasia

endometrium disertai sel-sel atipikal dan meningkatkan resiko menjadi kanker

endometrium sebesar 23%.

f. Diabetes mellitus (DM).

Diabetes melitus dan tes toleransi glukosa (TTG) abnorml merupakan faktor resiko

keganasan endometrium. Angka kejadian diabetes melitus klinis pada penderita

karsinoma endometrium berkisar antara 3-17%, sedangkan angka kejadian TTG yang

abnormal berkisar antara 17-64%.

g. Hipertensi.

50% dari kasus endometrium menderita hipertensi dibandingkan dengan 1/3 populasi

kontrol yang menderita penyakit tersebut, kejadian hipertensi pada keganasan

endometrium menurut statistik lebih tinggi secara bermakna daripada populasi kontrol.

h. Faktor lingkungan dan diet.

Faktor lingkungan dan menu makanan juga mempengaruhi angka kejadian keganasan

endometrium lenih tinggi daripada di ngara-negara yang sedang berkembang. Kejadian

keganasan endometrium di Amerika Utara dan Eropa lebih tinggi daripada angka
kejadian keganasan di Asia, Afrika dan Amerika latin. Agaknya perbedaan mil

disebabkan perbedaan menu dan jenis makan sehari-hari dan juga terbukti dengan adanya

perbedaan yang menyolok dari keganasan endometrium pada golongan kaya dan

golongan miskin. Keadaan ini tampak pada orang-orang negro yang pindah dari daerah

rural ke Amerika Utara. Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang Asia yang pindah

ke negara industri dan merubah menu makanannya dengan cara barat seperti misalnya di

Manila dan Jepang, angka kejadian keganasan endometrium lebih tinggi daripada di

negara-negara Asia lainnya

i. Riwayat keluarga.

Ada kemungkinan terkena kanker endometrium, jika terdapat anggota keluarga yang

terkena kanker ini, meskipun prosentasenya sangat kecil.

j. Tumor memproduksi estrogen.

Adanya tumor yang memproduksi estrogen, misalnya tumor sel granulosa, akan

meningkatkan angka kejadian kanker endometrium.

D. Manifestasi Klinis

Beberapa gejala kanker endometrium adalah sebagai berikut :

1. Rasa sakit pada saat menstruasi.

2. Rasa sakit yang parah dan terus menerus pada perut bagian bawah, rasa sakit ini akan

bertambah pada saat berhubungan seks.

3. Sakit punggung pada bagian bawah.

4. Sulit buang air besar atau diare.

5. Keluar darah pada saat buang air kecil dan terasa sakit.

6. Keputihan bercampur darah dan nanah.

7. Terjadi pendarahan abnormal pada rahim.


E. Patofisiologi

Kanker endometrium adalah jaringan atau selaput lender rahim yang tumbuh di luar

rahim. Padahal, seharusnya jaringan endometrium melapisi dinding rahim. Kanker

endometrium tumbuh pada ovarium, tuba falopii, dan saluran menuju vagina. Kanker ini

bukan merupakan penyakit akibat hubungan seksual. Wanita muda maupun yang sudah

tua dapat terkena penyakit ini. Walaupun pada umumnya yang terserang wanita yang

sudah tua. Tumbuhnya jaringan endometrium di luar rahim kemungkinan disebabkan oleh

darah menstruasi masuk kembali ke tuba falopii dengan membawa jaringan dari lapisan

dinding rahim sehingga jaringan tersebut menetap dan tumbuh di luar rahim.

Kemungkinan lain adalah jaringan endometrium terbawa ke luar rahim melalui pembuluh

darah atau kelenjar getah bening.

F. Pemeriksaan Penunjang

Sebelum tindakan operasi, pemeriksaan yang perlu dilakukan:

1. Foto toraks untuk menyingkirkan metastasis paru-paru

2. Tes Pap, untuk menyingkirkan kanker serviks

3. Pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan darah tepi, faal hati, faal ginjal,

elektrolit.

G. Penatalaksaan Medis

Sampai saat ini belum ada metode skrining untuk kanker endometrium.

Hanya untuk pasien yang termasuk dalam risiko tinggi seperti Lynch syndrome tipe 2

perlu dilakukan evaluasi endometrium secara seksama dengan hysteroscopy dan biopsy.

Pemeriksaan USG transvaginal merupakan test non invasif awal yang efektif dengan

negative predictive value yang tinggi apabila ditemukan ketebalan endometrium kurang

dari 5 mm. Pada banyak kasus histeroskopi dengan instrumen yang fleksibel akan

membantu dalam penemuan awal kasus kanker endometrium.


Pada stadium II dilakukan histerektomi radikal modifikasi, salpingo-ooforektomi

bilateral, deseksi kelenjar getah bening pelvis dan biopi paraaorta bila mencurigakan,

bilasan peritoneum, biopsi omenteum (omentektomi partialis),biopsi peritoneum.

Pada stadium III dan IV : operasi dan/atau radiasi dan/atau kemoterapi. Pengangkatan

tumor merupakan terapi yang utama, walaupun telah bermetastasis ke abdomen.

H. Pathway

Kanker endometrium

Tanda dan gejala

Proses Keperawatan

Pengkajian

Riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pelvis, serta pemeriksaan laboratorium

dilakukan. Data pengkajian tambahan mencakup respon psikososial pasien, karena

keharusan untuk menjalani pembedahan dapat menunjukkan reaksi emosional yang kuat

dan adanya ketakutan. Jika pembedahan dilakukan untuk mengangkat kanker

endometrium, cemas yang berhubengan dengan ketakutan akan kanker dan kematian

menambah stress pada pasien dan keluarganya.

Diagnosa keperawatan

Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan utama pasien dapat mencakup

sebagai berikut:

1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri biologi

2. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri

3. Keletihan berhubungan dengan keadaan penyakit

4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan aspek pembedahan dan perawatan diri

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan cemas


Perencanaan dan Implementasi

1. Nyeri b.d agen injuri biologi

Tujuan.

- Menunjukkan tehnik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai

kenyamanan

- Menunjukkan penurunan tingkat nyeri

- Melaporkan kesejahterraan fisik dan psikologis

- Mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk menceah nyeri

- Melaporkan nyeri pada penyedia perawatan kesehatan

Intrvensi

- Pemberian analgetik : penggunaan agen-agen farmakologi untuk mengurangi atau

menghilangkan nyeri

- Penetalaksanaan nyeri : meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat

kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien

2. Ansietas b.d ancaman terhadap konsep diri

Tujuan

- Pasien dapat mengungkapkan perasaan cemasnya secara verbal/nonverbal

- Mengakui dan mau mendiskusikan ketakutannya, rileks dan rasa cemasnya mulai

berkurang

- Mampu menanggulangi, mampu menggunakan sumber-sumber pendukung untuk

memecahkan masalah yang dialaminya

Intervensi

- Observasi peningkatan pernafasan, agitasi, kegelisahan dan kestabilan emosi.

Hipoksemia dapat menyebabkan kecemasan.

- Pertahankan lingkungan yang tenang dengan meminimalkan stimulasi. Usahakan


perawatan dan prosedur tidak menggaggu waktu istirahat.

Cemas berkurang oleh meningkatkan relaksasi dan pengawetan energi yang digunakan.

- Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi.

Memberi kesempatan untuk pasien untuk mengendalikan kecemasannya dan merasakan

sendiri dari pengontrolannya.

- Identifikasi persepsi pasien dari pengobatan yang dilakukan

Menolong mengenali asal kecemasan/ketakutan yang dialami

- Dorong pasien untuk mengekspresikan kecemasannya.

Langkah awal dalam mengendalikan perasaan-perasaan yang teridentifikasi dan

terekspresi.

- Membantu menerima situsi dan hal tersebut harus ditanggulanginya.

Menerima stress yang sedang dialami tanpa denial, bahwa segalanya akan menjadi lebih

baik.

3. Gangguan pola tidur b.d cemas

Tujuan

- Mengidentifikasi tindakan yang dapat meningkatkan tidur/istirahat

- Menunjukkan kesejahteraan fisik dan psikologi

Intervensi

Peningkatan pola tidur : fasilitasi siklus tidur/bangun yang teratur

4. Kurang pengetahuan b.d aspek pembedahan dan perawatan diri

Tujuan

- Pasien dapat menerangkan hubungan antara proses penyakit dan terafi

- Menjelaskan secara verbal diet, pengobatan dan cara beraktivitas

- Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang membutuhkan perhatian medis

- Memformulasikan rencana untuk follow up


Intervensi

- Memfasilitasi daerah pasien dan menggunakan layanan kesehatan yang tepat

- Membantu pasien dalam memahami informasi yang behubungan dengan proses

timbulnya penyakit secara khusus.

- Membantu individu dalam memahami dimensi fisik dan psikososial pertumbuhan dan

perkembangan seksual.

5. Keletihan b.d keadaan penyakit

Tujuan

- Mempertahankan kebiasaan interksi social

- Mengidentifikasi faktor psikologi dan fisiologia yang dapat menyebabkan keletihan

- Mempertahankan kemampuan untuk berkonsentrasi

- Melaporkan bahwa energi terpulihakan setelah istirahat

Intervensi

Mengatur penggunaan energi untuk pengobatan atau pencegahan keletihan dan

mengoptimalakan fungsi
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Kasus Terkait

Ny. K, 56 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan perdarahan pervaginam

berupa flek-flek sejak 1 bulan yang lalu dan terasa nyeri, klien terlihat menahan nyeri,

nyeri yg dirasakan klien seperti retusuk-tusuk pada malam hari selama 15 menit degnan

skala 7. Tidak ada keputihan, benjolan di perut maupun gangguan BAK atau BAB. Pasien

punya 2 orang anak, yang terkecil usia 27 tahun dan Ny K telah menopause sejak 4 tahun

yang lalu. Pasien menikah 1 kali dan suami pasien telah meninggal 1 tahun yang lalu.

Tidak ada riwayat penggunaan hormon untuk menopause. Tidak ada riwayat menderita

tekanan darah tinggi atau kencing manis. TD 140/100 mmHg TB 142 cm suhu 37,20C

RR 26 x/mnit nadi 110 x/mnit HR:110x/mnit BB 49 kg IMT 24,74. Status ginekologis

porsio dan mukosa vagina licin, uterus sebesar telur angsa, tidak berbenjol, mukosa

rektum licin. pap smear dalam batas normal. Pada USG didapatkan uterus membesar

dengan lesi hiperekoik di dalam kavum uteri/endometrium inhomogen bertepi rata. Hasil

PA memperlihatkan adanya adenokarsinoma berdiferensiasi sedang-buruk kemungkinan

dari endometrium. klien mengatakan tidak bisa tidur karena memikirkan penyakitnya,

Pasien terlihat pucat dan berkeringat klien mengatakan cemas ketika akan direncanakan

untuk dilakukan laparotomi untuk kanker endometrium stadium II, yang akhirnya untuk

meneruskan terapi apa yang akan diberikan pada pasien.

B. Pengkajian

a. Identitas pasien

b. Riwayat keluarga

c. Status kesehatan
Status kesehatan saat ini

Keluhan Utama : perdarahan pervaginam sejak 1 bulan yang lalu

Sebelum dibawa ke RS klien mengeluh pendarahan pervaginam berupa flek-flek

yang terasa nyeri

Status kesehatan masa lalu

1) Penyakit yang pernah dialami : klien mengatakan tidak pernah mengalami

penyakit sebelumnya

2) Alergi : Tidak ada alergi terhadap obat obatan, makanan.

3) Imunisasi : -

4) Kebiasaan merokok : tidak Merokok

5) Obat-obatan : pemakaian analgetik untuk mengurangi nyeri klien

Riwayat penyakit keluarga : tidak ada

d. Pemeriksaan Fisik

- Tingkat kesadaran : CM (composmentis)

- Pemeriksaan tanda tanda vital

Tekanan Darah : 140/100 mmHg

Nadi : 110 x/menit

Suhu : 37,20C

Respiratori Rate ( RR ) : 26 x/menit.

HR : 110 x/mnit

e. Pola Aktifitas dan Latihan

1. Tidur dan istirahat

1) Lama tidur : 8 jam/hari Tidur siang: Ya, 2 jam

2) Kesulitan tidur di RS : Ya

3) Alasan : klien merasa gelisah dan lingkungannya tidak tenang


2. Kenyamanan dan nyeri : pasien mengeluh nyeri seperti tertusuk-tusuk dengan skala

7 saat malam hari selama 15 menit

f. Pola Nutrisi

1) Frekuensi makan : 2x/hari

2) Berat Badan / Tinggi Badan : 49/142

3) IMT : 24,74 (Normal)

4) Makanan pantang : Tidak ada pantangan

5) Nafsu makan : klien hanya mengahabiskan setengah dari porsi yang diberikan

6) Masalah pencernaan : sulit BAB

7) Riwayat operasi / trauma gastrointestinal: Tidak pernah

g. Eliminasi fekal/bowel

1) Frekuensi : 1x/hari Penggunaan pencahar: Tidak Ada

2) Waktu : Pagi

3) Warna : Kuning kecoklatan

4) Ggn. Eliminasi bowel : gangguan saat BAB (konstipasi)

h. Eliminasi urin

1) Frekuensi : 2x/hari

2) Warna : kecoklatan Darah: tidak ada

3) Ggn. Eliminasi : Dysuria (rasa sakit dan kesulitan BAK )

4) Riwayat dahulu : Tidak Ada

5) Penggunaan kateter : tidak

C. Analisa data

DO: - terlihat benjolan di perut klien

- maupun gangguan BAK (dysuria) atau BAB (konstipasi)

- Klien terlihat menahan nyeri TD: 140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu:
37,20C HR:110x/mnit

DS: pasien mengeluhkan perdarahan pervaginam berupa flek-flek sejak 1 bulan yang lalu

dan terasa nyeri, nyeri yg dirasakan klien seperti retusuk-tusuk pada malam hati selama

15 menit degnan skala 7 Agen injuri biologi nyeri

DO: Pasien terlihat pucat ketika akan direncanakan untuk dilakukan laparotomi TD:

140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu: 37,20C HR:110x/mnit

DS: Pasien mengatakan cemas ketika akan direncanakan laparotomi

Ancaman terhadap konsep diri cemas

DO: klien terlihat pucat TD: 140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu:

37,20C HR:110x/mnit

DS: klien mengatakan tidak bisa tidur memikirkan penyakitnya cemas Gangguan pola

tidur

D. Prioritas diagnose

1. Nyeri b.d agen injuri biologi ditandai dengan terlihat benjolan di perut klien maupun

gangguan BAK (dysuria) atau BAB (konstipasi), klien terlihat menahan nyeri TD:

140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu: 37,20C HR:110x.mnit pasien

mengeluhkan perdarahan pervagina berupa flek-flek sejak 1 bulan yang lalu dan terasa

nyeri, nyeri yg dirasakan klien seperti retusuk-tusuk pada malam hati selama 15 menit

degnan skala 7

2. Cemas b.d ancaman terhadap konsep diri ditandai dengan Pasien terlihat pucat ketika

akan direncanakan untuk dilakukan laparotomi TD: 140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR:

26 x/mnit suhu: 37,20C HR:110x/mnit, Pasien mengatakan cemas ketika akan

direncanakan laparotomi

3. Gangguan pola tidur b.d cemas ditandai dengan klien terlihat pucat klien mengatakan
tidak bisa tidur memikirkan penyakitnya TD: 140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR: 26

x/mnit suhu: 37,20C HR:110x/mnit

E. Rencana Tindakan

No. Dx kep. Tujuan dan KH Intervensi rasionalisasi Nama/TTD

1. Nyeri b.d agen injuri biologi ditandai dengan terlihat benjolan di perut klien maupun

gangguan BAK (dysuria) atau BAB (konstipasi), klien terlihat menahan nyeri TD:

140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu: 37,20C HR:110x/mnit pasien

mengeluhkan perdarahan pervagina berupa flek-flek sejak 1 bulan yang lalu dan terasa

nyeri, nyeri yg dirasakan klien seperti retusuk-tusuk pada malam hari selama 15 menit

degnan skala 7

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang

dengan KH:

- Nyeri yang dirasakan klien berkurang dari 7 menjadi 4

- TTV dalam batas normal TD:120/90 mmHg nadi:90x/mnit RR:24x/mnit suhu:37,20C

HR:90x/mnit

- Wajah klien terlihat rileks 1. Kaji nyeri klien secara komprehensif

2. Kaji TTV

3. Atur posisi kenyamanan klien (semi fowler)

4. Kolaborasi dengan kesehatan lain untuk pemberian asam mefenamat 500mg per oral

5. Ajarkan penggunaan tehnik nonfarmakologi (kompres hangat) sebelum nyeri

meningkat 1. Untuk mengutahuai lokasi, skala, tingkat nyeri yang dirasakan klien

2. Mengidentifikasi TTV

3. Untuk menemukan posisi kenyamanan klien

4. Mengurangi nyeri klien

5. Mengurangi nyeri yang dirasakan oleh klien


2. Cemas b.d ancaman terhadap konsep diri ditandai dengan Pasien terlihat pucat ketika

akan direncanakan untuk dilakukan laparotomi TD: 140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR:

26 x/mnit suhu: 37,20C HR:110x/mnit, Pasien mengatakan cemas ketika akan

direncanakan laparotomi Setelah dilakukan tindakan keperawatn selama 1x24 jam

diharapkan klien tidak cemas lagi dengan KH:

- Klien tidak telihat pucat

- Klien merasa rileks

TD: 120/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 24 x/mnit suhu: 37,20C, HR:90x/mnit 1. Kaji

tingkat kecemasan yang dialami klien

2. Berikan informasi kepada klien dan keluarga tentang perjalanan penyakit tersebut.

3. Ajarkan klien menggunakan tehnik relaksasi (meningkatkan keamanan dan mengurangi

takut)

4. Berikan respon positif pada klien saat klien mengungkapkan cemasnya

5. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaannya 1. Mengurangi kecemasan klien

2. Untuk menentukan tingkat kecemasan klien

3. Mengalihkan fokus klien terhadap cemas

4. Agar klien merasa lebih nyaman dengan leluasa mengungkapkan rasa cemasnya.

5. Mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi cemas

3. Gangguan pola tidur b.d cemas ditandai dengan klien terlihat pucat klien mengatakan

tidak bisa tidur memikirkan penyakitnya TD: 140/100 mmHg nadi: 110 x/mnit RR: 26

x/mnit suhu: 37,20C HR:110x/mnit Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24

jam diharapkan klien dapat tidur dengan tenang KH:

- TD: 120/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 24 x/mnit suhu: 37,20C HR:90x/mnit

- Klien tidak terlihat pucat

- Klien terlihat rileks 1. Kaji TTV klien


2. Berikan lingkungan tenang, damai, dan minimalkan gangguan

3. Bantu klien mengidentifikasi faktor yang mungkin menyebabkan kurang tidur

4. Pantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor (misal: ketakutan atau

ansietas) yang dapat mengganggu pola tidur klien

5. Ajarkan klien tehnik relaksasi (masase) 1. Mengidentifikasi TTV klien

2. Agar klien merasa tenang dan nyaman

3. Mengetahui faktor yang menyebabkan gangguan pola tidur

4. Untuk memantau pola tidur klien dan lama tidur klien

5. Untuk meringankan gangguan pola tidur yang dirasakan klien

F. Implementasi

No. Tanggal Waktu Implementasi Evaluasi Nama / TTD

1. 05-05-11 09.00

09.30

11.00

12.00

13.00 1. Mengkaji nyeri secara komprehensif

S: klien mengatakan nyeri seperti tertusuk-tusuk pada malam hari selama 5 mnit, skala

dari 7 menjadi 4

O: klien terlihat rileks

2. mengkaji TTV

S: klien bersedia diperiksa

O: TD: 130/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu: 37,20C HR:100x/mnit

3. mengatur posisi kenyamanan klien (semi fowler)

S: klien merasa belum nyaman

O: klien mencari posisi kenyamanan


4. Kolaborasi dengan kesehatan lain untuk pemberian asam mefenamat 500mg per oral

S: klien mengatakan nyeri berkurang

O: klien terlihat rileks

5. Ajarkan penggunaan tehnik nonfarmakologi (kompres hangat) sebelum nyeri

meningkat

S: klien mau mangikuti apa yang peawat ajarkan

O: klien terlihat rileks S: klien mengatakan nyeri berkurang pada malam hari menjadi

selama 5 menitdengan skala dari 7 menjadi 4

O: klien terlihat rileks TD: 130/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu: 37,20C

HR:100x/mnit

A: tujuan belum tercapai

P: inturvensi no 1,2,3,4 dan 5 dilanjutkan

2. 05-05-11 09.10

09.50

10.30

11.00

12.00 1. Mengkaji tingkat kecemasan yang dialami klien

S: klien mengatakan cemas

O: klien masih terlihat pucat

2. memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang perjalanan penyakit

S: klien mengerti dengan penyakitnya

O: klien terlihat cemas

3. mengajarkan klien menggunakan tehnik relaksasi (meningkatkan keamanan dan

mengurangi takut)

S: klien merasa rileks


O: klien terlihat rileks TD: 130/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu: 37,20C

HR:100x/mnit

4. Berikan respon positif pada klien saat klien mengungkapkan cemasnya

S: klien mengungkapkan perasaan cemasnya

O: klien terlihat rileks

5. membantu klien untuk mengungkapkan perasaannya

S: klien mengungkapkan perasaanya pada perawat

O: klien terlihat tenang S: klien mengatakan cemas berkurang

O: klien terlihat masih pucat TD: 130/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu:

37,20C HR:100x/mnit

A: tujuan belum tercapai

P: intervensi no. 1,2,3,4 dan 5 dilanjutkan

3. 05-05-11 09.20

10.00

10.20

11.10

12.00 1. Mengkaji TTV klien

S: klien bersedia di periksa

O: TD: 130/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 26 x/mnit suhu: 37,20C HR:100x/mnit

2. Memberikan lingkungan tenang, damai, dan minimalkan gangguan

S: klien mengatakan tenang

O: klien terlihat rileks

3. Membantu klien mengidentifikasi faktor yang mungkin menyebabkan kurang tidur

S: klien mengungkapkan apa yang menyebabkan kurang tidur

O: klien terlihat cemas


4. Memantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor (misal: ketakutan atau

ansietas) yang dapat mengganggu pola tidur klien

S:

O: klien terlihat rileks

5. Mengajarkan klien tehnik relaksasi (masase)

S: klien mengikuti apa yang perawat ajarkan

O: klien terlihat rileks S: klien mengatakan sudah bisa tidur

O: klien terlihat pucat TD: 130/90 mmHg nadi: 90 x/mnit RR: 25 x/mnit suhu: 37,20C

HR:100x/mnit

A: tujuan belum tercapai

P: intervensi no. 1,2,3,4 dan 5 dilanjutkan


BAB IV

PEMBAHASAN

Pada stadium I Ca endometrium tidak memerlukan radiasi karena pada

stadium I belum bermetastasis ke jaringan disekitarnya. Pada stadium II dilakukan

histerektomi radikal modifikasi, deseksi kelenjar getah bening pelvis, bilasan

peritoneum, biopsi omenteum (omentektomi partialis),biopsi peritoneum. Pada

stadium III dan IV : operasi dan/atau radiasi dan/atau kemoterapi. Di berikan pada

pasien dengan kanker endometrium residif. Pengangkatan tumor merupakan terapi

yang utama, walaupun telah bermetastasis ke abdomen.

Pada kasus di atas klien menderita Ca endometrium sudah lama. Nyeri

berhubungan dengan agen injuri biologi sebagai prioritas diagnosa karena klien

merasakan nyeri seperti tertusuk-tusuk pada malam hari selama 15 menit dengan

skala nyeri klien 7. Selain itu nyeri terjadi karena perdarahan pervaginam berupa flek-

flek sejak 1 bulan yang lalu. Intervensi yang direncanakan untuk mengatasi nyeri

yang diderita klien belum tercapai karena hal ini butuh waktu dan proses, tetapi

dengan pemberian asam mefenamat 500mg per oral sudah dapat membuat klien

merasa rileks dan nyeri yang klien rasakan sudah berkurang. Selain itu sebagai

perawat kita juga melakukan tindakan mandiri, yaitu mengajarkan tehnik non

farmakologi (kompres hangat) sebelum nyeri meningkat dan membantu menemukan

posisi kenyamanan klien (semi fowler). Kemudian diagnose kedua adalah cemas.

Alasan kami mengangkat diagnose ini karena dengan cemas maka akan terjadi pula

gangguan pola tidur. Hal yang perlu dilakukan adalah memberikan lingkungan yang

nyaman, tenang dan memberikan respon positif pada klien untuk mengungkapkan

cemasnya.
Dengan memberikan lingkungan yang nyaman, tenang dan memberikan

respon positif pada klien untuk mengungkapkan cemasnya maka klien akan merasa

lebih rileks mengungkapkan perasaannya,nyaman dan klien akan lebih tenang.

Diagnose yang ketiga adalah gangguan pola tidur, keadaan di mana klien mengalami

kesulitan untuk tidur karena cemas yang dialami klien. Dengan pemberian lingkungan

yang tenang dan meminimalkan gangguan pada klien maka klien akan merasa lebih

tenang dan waktu istirahat klien akan lebih lama. Intervensi yang telah kita

rencanakan dan telah kita lakukan pada klien masih belum tercapai, tetapi intervensi-

intervensi yang sekiranya masih diperlukan klien akan terus diberikan untuk

memulihkan kondisi klien.

Sebagai perawat professional, dalam membuat perencanaan atau intervensi tidak

semuanya harus diterapkan, karena dalam menerapkan intervensi harus melihat

bagaiaman kondisi klien saat ini dan tetap dibutuhkan perubahan-perubahan dalam

membuat intervensi. Hal ini bisa terjadi sesuai dengan keadaan klien dan kebutuhan

klien.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kanker endometrium adalah kanker yang terjadi pada organ endometrium atau

pada dinding rahim. Endometrium adalah organ rahim yang berbentuk seperti buah

pir sebagai tempat tertanam dan berkembangnya janin. kanker endometrium kadang-

kadang disebut kanker rahim, tetapi ada sel-sel lain dalam rahim yang bisa menjadi

kanker seperti otot atau sel miometrium. kanker endometrium sering terdeteksi pada

tahap awal karena sering menghasilkan pendarahan vagina di antara periode

menstruasi atau setelah menopause. Dari kasus yang kami angkat terdapat beberapa

diagnosa yaitu nyeri berhubungan dengan agen injuri biologi, keletihan berhubungan

dengan keadaan penyakit, cemas berhubungan dengan ancaman konsep diri.

B. Saran

1. Bagi seorang perawat perlu memperhatikan kondisi klien secara komprehensif,

tidak hanya fisik tetapi semua aspek manusia sebagai satu kesatuan yang utuh yang

meliputi biopsikososialkultural.

2. Bagi mahasiswa diharapkan dapat makin memperbanyak pengetahuan dari berbagai

referensi tentang Asuhan keperawatan Pada pasien dengan penyakit Ca endometrium.

3. Bagi dunia keperawatan diharapkan berperan serta dalam peningkatan kualitas

perawat dengan cara menyediakan akses yang mudah bagi perawat untuk memperoleh

ilmu pengetahuan yang sesuai dengan perkembangan untuk mengatasi masalah Pada

pasien dengan penyakit Ca endometrium


DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth.(2002). Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta. EGC

Santosa, Budi.(2006).Diagnosa Keperawatan NANDA.Jakarta. EGC

Whoellan.(2009).kanker endometrium.http://dokter-herbal.com/kanker-endometrium.html.

yogyakarta 28 Mei 2011. 18.00 WIB

Wilkinson, Judith M.(2006).Diagnosa Keperawatam NIC-NOC.Jakarta. EGC