Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

Soft Tissue Tumor

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

DEFINISI

Soft Tissue Tumor adalah benjolan atau pembengkakan yang abnormal yang
disebabkan oleh neoplasma dan non-neoplasma (Smeltzer, 2002). Soft Tissue
Tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif, dimana sel selnya
tidak tumbuh seperti kanker (Price, 2006).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa soft tissue tumor adalah suatu
benjolan dan pembengkakan yang abnormal didalam tubuh yang disebabkan
oleh neoplasma yang terletak antara kulit dan tulang.
ETIOLOGI
Etiologi Soft Tissue Tumor :
1. Kondisi genetik
Ada bukti tertentu pembentukan gen dan mutasi gen adalah faktor
predisposisi untuk beberapa tumor jaringan lunak, dalam daftar laporan gen
yang abnormal, bahwa gen memiliki peran penting dalam diagnosis.
2. Radiasi
Mekanisme yang patogenik adalah munculnya mutasi gen radiasi-induksi
yang mendorong transformasi neoplastik.
3. Lingkungan karsinogen
Sebuah hubungan antara eksposur ke berbagai karsinogen dan setelah itu
dilaporkan meningkatnya insiden tumor jaringan lunak.
4. Infeksi
Infeksi virus Epstein-Barr dalam orang yang kekebalannya lemah juga akan
meningkatkan kemungkinan tumor jaringan lunak.
5. Trauma
Hubungan antara trauma dan Soft Tissue Tumors nampaknya kebetulan.
Trauma mungkin menarik perhatian medis ke pra-luka yang ada.
MANIFESTASI KLINIK
Gejala dan tanda tumor jaringan lunak tidak spesifik, tergantung pada lokasi
di mana tumor berada, umumnya gejalanya berupa adanya suatu benjolan
dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Hanya sedikit penderita yang mengeluh
sakit, yang biasanya terjadi akibat pendarahan atau nekrosis dalam tumor, dan
bisa juga karena adanya penekanan pada saraf-saraf tepi, dalam tahap
awal tumors jaringan lunak biasanya tidak menimbulkan gejala karena jaringan
lunak yang relatif elastis, tumors dapat tumbuh lebih besar, mendorong samping
jaringan normal, sebelum mereka merasa atau menyebabkan masalah. kadang
gejala pertama biasanya gumpalan rasa sakit atau bengkak. dan dapat
menimbulkan gejala lainnya, seperti sakit atau rasa nyeri, karena dekat dengan

menekan saraf dan otot. Jika di daerah perut dapat menyebabkan rasa sakit
abdominal umumnya menyebabkan sembelit.
Tumor jinak jaringan lunak biasanya tumbuh lambat, tidak cepat membesar,
bila diraba terasa lunak dan bila tumor digerakan relatif masih mudah digerakan
dari jaringan di sekitarnya dan tidak pernah menyebar ke tempat jauh.
Umumnya pertumbuhan kanker jaringan lunak relatif cepat membesar,
berkembang menjadi benjolan yang keras, dan bila digerakkan agak sukar dan
dapat menyebar ke tempat jauh ke paru-paru, liver maupun tulang. Kalau ukuran
kanker sudah begitu besar, dapat menyebabkan borok dan perdarahan pada kulit
diatasnya.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan imaging sebagai tambahan dari pemerikasaan klinis
penderita perlu dikerjakan, selain untuk menegagkan diagnosis juga
untuk staging. Pada pemeriksaan dengan foto polos kadang-kadang
didapatkan gambaran masa dengan kalsifikasi. Foto polos pada
ekstremitas dapat digunakan untuk evaluasi adanya infiltrasi tumor pada
tulang. Pemeriksaan imaging lebih lanjut dapat dengan CT scan, MRI
atau PET scan.
2. Biopsi pada tumor primer merupakan bagian yang penting sebelum
treatment pada penderita soft tissue tumor. Soft tissue tumor dengan
ukuran yang lebih beasar dari 5 cm harus dipertimbangkan untuk
dilakukan biopsi terlebih dahulu. Dengan biopsi dapat dilakukan
pemeriksaan histopatologi dan diharapkan dapat menentukan grade dari
tumor. Grade sangat penting untuk menentukan rencana terapi.
3. Percutaneous core-needle biopsy (CNB) memberikan hasil yang cukup
memuaskan untuk diagnosis beberapa soft tissue tumor. CNB dapat
dilakukan

secara blind atau

dengan image-guided. Dengan image-

guided, biopsi akan lebih terarah pada area tumor (tidak pada area
sentral nekrosis).
Insisi biopsi merupakan pilihan kedua apabila dengan CNB diagnostik
masih belum bisa ditegakkan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya
morbiditas yang harus dipertimbangkan dengan tindakan insisi biopsi
termasuk resiko anestesi, perdarahan dan penyembuhan luka. Selain itu
insisi biopsi juga memerlukan biaya yang lebih besar. Eksisi biopsi
merupakan pilihan pada neoplama yang kecil dan letaknya superficial.
4. Fine needle aspiration biopsy (FNAB) sebagai alat bantu untuk
menegakkan diagnosis soft tissue neoplasma masih diperdebatkan. Hasil

dari FNA pada lesi mesenchymal sangat bervariasi dan tergantung


beberapa faktor, diantaranya skill dari aspirator dan keahlian interpretasi
dari cytopathologist. Dengan demikian akurasi diagnosis FNA sangat
tergantung

keahlian

dan

pengalaman cytopathologist dalam

diagnosis soft tissue sarcoma dengan pemeriksaan sitologi.


PENATALAKSANAAN
Secara umum, pengobatan untuk jaringan lunak tumor tergantung
pada tahap dari tumor. Tahap tumor yang didasarkan pada ukuran dan
tingkatan dari tumor. Pengobatan pilihan untuk jaringan lunak tumors
termasuk operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi.
1. Terapi Pembedahan (Surgical Therapy)
Bedah adalah yang paling umum untuk perawatan jaringan lunak tumors.
Jika memungkinkan, dokter akan menghapus kanker dan margin yang
aman dari jaringan sehat di sekitarnya. Penting untuk mendapatkan
margin bebas tumor untuk mengurangi kemungkinan kambuh lokal dan
memberikan yang terbaik bagi pembasmian dari tumor. Tergantung pada
ukuran dan lokasi dari tumor, mungkin, jarang sekali, diperlukan untuk
menghapus semua atau bagian dari lengan atau kaki.
2. Terapi radiasi
Terapi radiasi dapat digunakan untuk operasi baik sebelum atau setelah
shrink Tumor operasi apapun untuk membunuh sel kanker yang mungkin
tertinggal. Dalam beberapa kasus, dapat digunakan untuk merawat
tumor yang tidak dapat dilakukan pembedahan. Dalam beberapa studi,
terapi radiasi telah ditemukan untuk memperbaiki tingkat lokal, tetapi
belum ada yang berpengaruh pada keseluruhan hidup.
3. Kemoterapi
Kemoterapi dapat digunakan dengan terapi radiasi, baik sebelum atau
sesudah operasi untuk mencoba bersembunyi di setiap tumor atau
membunuh sel kanker yang tersisa. Penggunaan kemoterapi untuk
mencegah penyebaran jaringan lunak tumors belum membuktikan untuk
lebih efektif. Jika kanker telah menyebar ke area lain dari tubuh,
kemoterapi dapat digunakan untuk Shrink Tumors dan mengurangi rasa
sakit dan menyebabkan kegelisahan mereka, tetapi tidak mungkin untuk
membasmi penyakit.
EKSISI

Bedah eksisi adalah salah satu cara tindakan bedah yaitu membuang jaringan
(tumor) dengan memotong. Tindakan ini dilakukan untuk berbagai tujuan antara
lain pemeriksaan penunjang (biopsy), pengobatan lesi jinak ataupun ganas dan
memperbaiki penampilan secara kosmetis. (1)
Keuntungan eksisi (3)
1. Seluruh spesimen dapat dipriksa untuk diagnosis histologi dan sekaligus
melaksanakan eksisi total.
2. Pasien tidak memrlukan follow up yang berkepanjangan setelah eksisi
karena angka kekambuhan setelah eksisi total sangat rendah.
3. Hanya memerluka satu terapi saja
4. Penyembuhan luka primer biasanay tercapau dengan memberikan hasil
kosmetik yang baik.
Faktor faktor untuk menghasilkan skar yang baik
1. Teknik atraumatik
Merusak jaringan akan menyebabkan devitalisasu jaringan yang tak
dapat dihindarkan, menyebabkan penyembuhan yang jelek dan dengan
demikian parut luka akan jelek.
Tepi tepi luka hendeknya ditangani dengan lembut, hendaknya jangan
pernah merusak tepian luka itu dengan memegangnya dengna forsep,
baik yang bergigi maupun tidak. Forceps yang bergigi tajam hendaknya
digunakan untuk mencubit dermis atau untuk menekan tepi kulit. Kaitan
kulit dapat digunakan sebagai gentinya.
2. Garis tegangan kulit
Kontraksi otot, mobilitas sendi dan gravitasi merupakan kekuatan
terpenting yang mempengaruhi terbentuknya garis tegangan kulit. Garis
langer selama bertahun tahun dipakau sebagai titik menunjukkan arah
insisi, garis ini berasal dari penelitian pada kadaver. Bila ekstremitas dan
tubuh digerakkan di luara posisi anatomis istirahat, maka garis tegangan
kulit akan bergeser. Oleh karena garis tegangan kulit telah digambarkan
berhubungan dengan kerutan, garis kontur dan garis ketergantungan.
3. Usia pasien
Skar pada anak anak yang eritem dan hipertropik akan menetap untuk
waktu yang lama akan menyebabkan penampilan akhir tidak memuaskan.
Untuk proses maturasi skar dari skar yang merahdan meninggi menjadi
tipis dan berwarna putih membutuhkan waktu 2 tahun atau lebih.
4. Lokasi
Skar yang berasal dari eksisi atau insisipada telapak tangan, telapak kaku
dan mukus membran biasanya baik dan tidak terlalu terlihat. Hal ini
kontras dengan skar pada area sternal, pundak atau punggung. Sebelum

melakukan eksisi pada daerah tersebut pasien perlu dijelaskan


kemungkinan timbulnya skar hipertropik
5. Tipe kulit
Ada pasien yang memiliki kulit yang tebal, berminyak dengan kelenjar
sebaseus yang hipertropik dan over aktif. Skar pada jenis kulit ini dapat
menyembuh dengan skar yang depress.
6. Kelainan kulit
Pasien dengan kelainan pada jarigan fibrous dan elastin akan
menyebabkan skar yang luas. Pasien dengan kelainan ini dapat dilihat
dengan cara melakukan hiperextensi jari tangan atau mencubit kulit
punggug tangan untuk melihat peningkatan elestisitas. Penyakit EhlersDanloss syndrome adalah bentuk kelainan fibroelastik yang berat dimana
penyembuhan luka berlangsung sangat lambat dengan skar yang luas.\
Teknik eksisi
1. Eksisi elips (fusiform)
Merupakan bentuk eksisi dasar, dengan arah yang sejajat dengan garis
dan lipatan kulit. Perbandingan panjang dan lebar minamal 3:1 dengan
sudut 30 drajat. Irisan tegak lutus atau lebih meluas kedalaman dampai
dengan subkutis. Bila perlu dapat dilakuakan undermaining yang kalau
dimuka tepat dibawah dermis dan kalau sklap diderah subdaleal.
Perdarahan yang terjadi dikulit dapat ditekan beberapa saat saat dan bila
perlu dilakukan hemostasis dengan elektrokoagulasi tetapi jangan
berlebihan terutama pada daerah dermis. Perdarahan dari pembuluh
darah kecil dapat dielektrokoagualasi tetapu yang besar harus diikat.
Lesi lesi yang dieksisi berbentuk elips akan menghasilkan parut yang
lebih panjang dan dari lesi aslinya. Tujuan utama mengeksisi lesi
berbentuk elips adalah engurangi terbentuknya sisa kulit/ telinga anjing
(dog ears). Dog ears dapar diperbaiki dengan memanjangkan elips atau
membuang jaringan berlebihan dan menutupnya dengan bentuk L atau Y.
2. Eksisi wadge
Lesi lesi terletak pada area bebas seperti bibir, sudut mata, cuping
hidung dan telinga dapat dieksisi dengan eksisi wadge. Karsinoma sel
skuamosa pada bibir disarankan untuk eksisi V sehingga dapat
mengangkat jaringan yang sama kelenjar limfenya.
Jika dilakukan eksisi wadge pada cuping hidung yang luas untuk ditutup
secara primer, maka dapat dilakukan graft dengan ukuran yang sama dari
telinga, sepertiga dari bibir bawah dan seperempat dari bbir atas dan
kelopak mata dapat dilakukan eksisi wadge dan dilakukan penutupan
primer.

3. Eksisi sirkular
Pada kulit wajah yang terletak diatas jaringan kartilago seperti batang
hidung atau permukaan anterior telinga, lesi lesi dapat dieksisi dengan
bentuk sirkular dan defek ditutup dengan skin graf full thickness. Teknik ini
jug adapay digunakan pada bagian tubuh lain dnegan lesi yang sangat
luas.
Jika terdapat karaguan dalam merencanakan eksisi elips maka dapat
dilakukan eksisi sirkular dengan kulit direnggangkan dan perhatikan
lingkaran tersebut akan cenerung membentuk sebuah elips kalau kulitnya
dikendorkan.
4. Eksisis multiple
Eksisi atau ekspansi jaringan kadang dieprlukan untuk lesi lesi yang
luas seperti congenital naevi. Teknik ini memungkinkan luka ditutup
dengan skar yang lebih pendek dibanding dengan eksisi elips satu
langkah.
PATOFISIOLOGI (terlampir)
Pengkajian Keperawatan Pra Bedah
A.

Data Subyektif

Pengetahuan dan Pengalaman Terdahulu.


a. Pengertian tentang bedah yang duanjurkan
1.

Tempat

2.

Bentuk operasi yang harus dilakukan.

3.

Informasi dari ahli bedah lamanya dirawat dirumah sakit, keterbatasan


setelah di bedah.

4.

Kegiatan rutin sebelum operasi.

5.

Kegiatan rutin sesudah operasi.lj

6.

Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi.

b. Pengalaman bedah terdahulu


1.

Bentuk, sifat, roentgen

2.

Jangka waktu

Kesiapan Psikologis Menghadapi Bedah


a. Penghayatan-penghayatan dan ketakutan-ketakutan menghadapi bedah
yang dianjurkan.
b. Metode-metode penyesuaian yang lazim.
c. Agama dan artinya bagi pasien.
d. Kepercayaan dan praktek budaya terhadap bedah.

e. Keluarga dan sahabat dekat


- Dapat dijangkau (jarak)
- Persepsi keluarga dan sahabat sebagai sumber yang memberi
bantuan.
f.

Perubahan pola tidur

g. Peningkatan seringnya berkemih.

Status Fisiologi
a. Obat-obat yang dapat mempengaruhi anaesthesi atau yang mendorong
komplikasi-komplikasi pascabedah.
b. Berbagai alergi medikasi, sabun, plester.
c. Penginderaan : kesukaran visi dan pendengaran.
d. Nutrisi : intake gizi yang sempurna (makanan, cairan) mual, anoreksia.
e. Motor : kesukaran ambulatori, gerakan tangan dan kaki, arthritis, bedah
orthopedi yang terdahulu (penggantian sendi, fusi spinal).
f.

Alat prothesa : gigi, mata palsu, dan ekstremitas.

g. Kesantaian : bisa tidur, terdapat nyeri atau tidak nyaman, harapan


mengenai terbebas dari nyeri setelah operasi.

B. Data Obyektif
1. Pola berbicara : mengulang-ulang tema, perubahan topik tentang
perasaan (cemas), kemampuan berbahasa Inggris.
2. Tingkat interaksi dengan orang lain.
3. Perilaku : gerakan tangan yang hebat, gelisah, mundur dari aktifitas yang
sibuk (cemas).
4. Tinggi dan berat badan.
5. Gejala vital.
6. Penginderaan : kemampuan penglihatan dan pendengaran.

7. Kulit : turgor, terdapat lesi, merah atau bintik-bintik.


8. Mulut : gigi palsu, kondisi gigi dan selaput lendir.
9. Thorak : bunyi nafas (terdapat, sisanya) pemekaran dada, kemampuan
bernafas

dengan

diafragma,

bunyi

jantung

(garis

dasar

untuk

perbandingan pada pasca bedah).


10. Ekstremitas : kekuatan otot (terutama) kaki, karakteristik nadi perifer
sebelum bedah vaskuler atau tubuh.
11. Kemampuan motor : adalah keterbatasan berjalan, duduk, atau bergerak
di tempat duduk, koordinasi waktu berjalan.

Masalah Keperawatan Yang Muncul


1.

Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman


terhadap perubahan status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi
dengan orang yang berarti, krisis situasi atau krisis maturasi

2.

Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan protokol praoperatif dan


harapan pascaoperatif

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI


- Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
- Berikan informasi kepada klien tentang tindakan yang akan dilakukan
- Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di
masa lalu.
- Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi
POST OPERASI
A. Pengkajin awal
Status Respirasi
Melipuiti : Kebersihan jalan nafas,Kedalaman pernafasaan, Kecepatan dan sifat
pernafasan, Bunyi nafas
Status sirkulatori
Meliputi : Nadi, Tekanan darah, Suhu, Warna kulit
Status neurologis
Meliputi : tingkat kesadaran

Balutan
Meliputi : Keadaan drain, Terdapat pipa yang harus disambung dengan sistem
drainage.
Kenyamanan
Meliputi :Terdapat nyeri, Mual, Muntah
Nyeri
Meliputi : Waktu, Tempat, Frekuensi, Kualitas, Faktor yang memperberat /
memperingan
A.

Data Subyektif
Pasien hendakanya ditanya mengenai gejala-gejala ketidaknyamanan
setelah ditempatkan ditempat tidur dengan posisi tubuh yang menunjang.
Pertanyaan-pertanyaan yang langsung misalnya :Bagaimana perasaan
anda?, dapat memperlihatkan data mula dan nyeri tanpa memfokuskan pada
daerah yang spesifik, dimana tidak ada keluhan. Penginderaan rasa nyeri
sering kali meningkat pada waktu ini akibat pemindahan dari brankard ke
tempat tidur. Sangat penting untuk mengetahui lokasi, bentuk serangan dan
perubahan intensitas rasa nyeri, dan bukan menyangka bahwa nyeri berasal
dari torehan.
Mual

jarang

timbul

setelah

pasca

anaesthesi

baru.

Sangat

besar

kemungkinan terjadi mual bila perut mengalami manipulasi yang ekstensif


pada waktu prosedur bedah atau telah mendapat narkotika yang cukup
banyak.
B.

Data Objektif
1. Sistem Respiratori
2. Status sirkulatori
3. Tingkat Kesadaran
4. Balutan
5. Posisi tubuh
6. Status Urinari / eksresi.

C.

Pengkajian Psikososial

Yang perlu diperhatikan : umur, prosedur pembedahan, efek samping dari


prosedur pembedahan dan pengobatan, body image dan pola/gaya hidup.
Juga tanda fisik yang menandakan kecemasan termasuk denyut nadi,
tekanan darah, dan kecepatan respirasi serta ekspresi wajah.
Masalah Keperawatan YangSering Muncul
A. Diagnosa Umum
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan efek samping dari
anaesthesi.
b. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan luka post operasi.
c.

Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan.

d. Resiko injury berhubungan dengan kelemahan fisik, efek anaesthesi,


obat-obatan (penenang, analgesik) dan imobil terlalu lama.
B. Diagnosa Tambahan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret.
b. Resiko retensi urine berhubungan dengan anaesthesi, bedah pelvis, dan
kurang gerak.
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah memahami informasi.
d. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur
pembedahan.
e. Mual berhubungan dengan efek anaesthesi, narkotika, ketidaseimbangan
elektrolit.
f.

gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.

g. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


anoreksoia, lemah, nyeri, mual.
h. Konstipasi berhubungan dengan efek anaesthesi
INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
-

Kaji skala nyeri pasien, hal yang memperberat atau meringankan


gejala nyeri

Batasi aktivitas pasien

Anjurkan pasien untuk bedrest

Batasi

pengunjung,

keluarga

dan

tim

kesehatan

menghindari terjadinya infeksi nosokomial postoperasi


-

Kolaborasi pemberian obat anti analgetik sesuai kebutuhan

untuk

Daftar pustaka
Sjamsuhidajat,R,Jong,W. (2005). Soft tissue tumoor dalam buku ajar ilmu
bedah, edisi2. Jakarta: EGC
Manuba S.W. (2010). Panduan penatalaksanaan kanker solid, Peraboi
2010. Jakarta: Sagung Seto

Smeltzer. (2002). Buku ajar keperawatan medical bedqah. Jakarta: EGC


Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi: Konsep klinis proses proses
penyakit. Jakarta : EGC
Reeves, J.C. (2001). Keperawatan medical bedah. Jakarta: Salemba
Medika.
Nurarif A, H, dkk. 2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa medis dan Nanda NIC- NOC, edisi revisi jilid 1. Jogjakarta: Medication
Jogja