Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR COLLUM FEMUR

1. DEFINISI FRAKTUR COLLUM FEMUR


Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang
disebabkan oleh kekerasan (E. Oerswari, 2004). Fraktur femur adalah rusaknya
kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan
otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang/osteoporosis (Long, 2005).
Sedangkan fraktur kolum femur merupakan fraktur intrakapsular yang terjadi pada
bagian proksimal femur, yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian distal
permukaan kaput femoris sampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter. (FKUIRSCM, 2008).
2. ETIOLOGI FRAKTUR COLLUM FEMUR
Fraktur collum femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering
pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan
dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma
langsung, yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter
mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma
tidak langsung, yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah.
Penyebab fraktur secara umum dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Cedera traumatik
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh
dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan.
Cedera traumatik pada tulang dapat dibedakan dalam hal berikut, yakni:
1) Cedera langsung, berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang
patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang
dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2) Cedera tidak langsung, berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan.
b. Fraktur Patologik
Dalam hal ini, kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit akibat berbagai
keadaan berikut, yakni:
1) Tumor tulang (jinak atau ganas), dimana berupa pertumbuhan jaringan baru
yang tidak terkendali dan progresif.

2) Infeksi, misalnya osteomielitis, yang dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut
atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif,
3) Rakhitis, merupakan suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet, biasanya disebabkan
oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan
absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan, dimana disebabkan oleh stress atau tegangan atau tekanan pada tulang
yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di bidang
kemiliteran.
3. KLASIFIKASI FRAKTUR COLLUM FEMUR
a) Fraktur collum femur sendiri dibagi dalam dua tipe, yaitu:
1. Fraktur intrakapsuler
2. Fraktur extrakapsuler
Intrakapsuler

Ekstrakapsuler

Fraktur intrakapsuler dan ekstrakapsuler

b) Berdasarkan arah sudut garis patah dibagi menurut Pauwel :


Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30 dengan bidang horizontal pada posisi
tegak
Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50 dengan bidang horizontal pada posisi
tegak

Tipe III: garis fraktur membentuk sudut >50 dengan bidang horizontal

Klasifikasi Pauwels untuk Fraktur Kolum Femur


Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang
horizontal pada posisi tegak.

c) Dislokasi atau tidak fragment ( menurut Gardens) adalah sebagai berikut :


Grade I : Fraktur inkomplit ( abduksi dan terimpaksi)
Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran
Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment)
Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen yang
bersinggungan.

Klasifikasi Gardens untuk Fraktur Kolum Femur

4. MANIFESTASI KLINIS FRAKTUR COLLUM FEMUR


Tanda dan gejala yang terdapat pada pasien dengan fraktur femur, yakni:
1) Deformitas
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya.
Perubahan keseimbangan dan kontur terjadi, seperti:
a. rotasi pemendekan tulang;
b. penekanan tulang.
2) Bengkak (edema)
Bengkak muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravasasi darah dalam jaringan yang
3)
4)
5)
6)

berdekatan dengan fraktur.


Ekimosis dari perdarahan subculaneous
Spasme otot (spasme involunters dekat fraktur)
Tenderness
Nyeri
Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot, perpindahan tulang dari tempatnya dan

kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.


7) Kehilangan sensasi
8) Pergerakan abnormal
9) Syok hipovolemik
10) Krepitasi (Black, 2005).
Pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan berat namun pada
penderita usia tua biasanya hanya dengan trauma ringan sudah dapat menyebabkan fraktur
collum femur. Penderita tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada panggul.
Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya
pemendekakan dari tungkai yang cedera. Tungkai dalam posisi abduksi dan fleksi serta

eksorotasi.pada palpasi sering ditemukan adanya hematom di panggul. Pada tipe impacted,
biasanya penderita masih dapat berjalan disertai rasa sakit yang tidak begitu hebat. Posisi
tungkai tetap dalam keadaan posisi netral.
Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan menyebabkan
deformitas yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada fraktur tanpa
pergeseran deformitas tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah pergeseran fraktur
yang terjadi, kebanyakan pasien akan mengeluhkan nyeri bila mendapat pembebanan, nyeri
tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan.
5. PATHWAYS

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG FRAKTUR COLLUM FEMUR


Proyeksi AP dan lateral serta kadang juga dibutuhkan axial. Pada proyeksi AP kadang
tidak jelas ditemukan adanya fraktur pada kasus yang impacted, untuk ini diperlukan
pemerikasaan tambahan proyeksi axial.
Pergeseran dinilai melalui bentuk bayangan tulang yang abnormal dan tingkat
ketidakcocokan garis trabekular pada kaput femoris dan ujung leher femur. Penilaian ini

penting karena fraktur yang terimpaksi atau tidak bergeser ( stadium I dan II Garden )
dapat membaik setelah fiksasi internal, sementara fraktur yang bergeser sering mengalami
non union dan nekrosis avaskular.

7. PENATALAKSANAAN FRAKTUR COLLUM FEMUR


Empat prinsip penanganan fraktur menurut Chaeruddin Rasjad tahun 1988,adalah:
a. Recognition: mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan
klinik dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan: lokasi, bentuk fraktur,
menentukan teknnik yang sesuai untuk pengobatan, komplikasi yang mungkin terjadi
selama dan sesudah pengobatan.
b. Reduction: reduksi fraktur apabila perlu, restorasi fragment fraktur sehingga didapat
posisi yang dapat diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan
sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas serta perubahan osteoartritis dikemudian hari. Posisi yang baik
adalah: alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna. Fraktur yang tidak
memerlukan reduksi seperti fraktur klavikula, iga, fraktur impaksi dari humerus, angulasi
<5>
c. Retention, immobilisasi fraktur: mempertahankan posisi reduksi dan memfasilitasi
union sehingga terjadi penyatuan, immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna
meliputi pembalut gips, bidai, traksi, dan fiksasi interna meliputi inplan logam seperti
screw.
d. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.
8. PENGKAJIAN FRAKTUR COLLUM FEMUR
Pengkajian yang perlu dilakukan pada klien dengan fraktur femur diantaranya adalah:
1. Identitas pasien
Identitas ini meliputi nama, usia, TTL, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku bangsa,
dan pendidikan.
2. Keluhan utama

Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut
bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian
yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor memperberat dan
faktor yang memperingan/ mengurangi nyeri
b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah
seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
c) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau
menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa
berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit
mempengaruhi kemampuan fungsinya.
e) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam
hari atau siang hari.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang
nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa
kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan
yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui
mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain
4. Riwayat kesehatan masa lalu
Pada riwayat kesehatan masa lalu, perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita
penyakit infeksi tulang ataupun osteoporosis. Hal ini merupakan informasi yang
penting dalam penanganan fraktur femur pada klien
5. Riwayat kesehatan keluarga
Hal ini mencakup riwayat ekonomi keluarga, riwayat sosial keluarga, sistem
dukungan keluarga, dan pengambilan keputusan dalam keluarga.
6. Riwayat Psikososial

Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
7. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakadekuatan akan terjadinya kecacatan pada
dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu
penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup
klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme
kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan
apakah klien melakukan olahraga atau tidak
b) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya
seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses
penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi
dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar
matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal
terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan
mobilitas klien.
c) Pola Eliminasi
Untuk kasus multiple fraktur, misalnya fraktur humerus dan fraktur tibia tidak ada
gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,
konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola
eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua
pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
d) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat
mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian
dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan
kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
e) Pola Aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien,
seperti memenuhi kebutuhan sehari hari menjadi berkurang. Misalnya makan,
mandi, berjalan sehingga kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain.
f) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien
harus menjalani rawat inap, klien biasanya merasa rendah diri terhadap perubahan
dalam penampilan, klien mengalami emosi yang tidak stabil.
g) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan
akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
secara optimal, dan gangguan citra diri.
h) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur,
sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya
tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur.
i) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual
karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang
dialami klien.
j) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan
timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang
ditempuh klien bisa tidak efektif
k) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik
terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan
keterbatasan gerak klien.
8. Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk
mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu
untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi
hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.

a. Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
2) Kesadaran penderita:
Composmentis: berorientasi segera dengan orientasi sempurna
Apatis : terlihat mengantuk tetapi mudah dibangunkan dan pemeriksaan
penglihatan , pendengaran dan perabaan normal
Sopor: dapat dibangunkan bila dirangsang dengan kasar dan terus menerus
Koma: tidak ada respon terhadap rangsangan
Somnolen: dapat dibangunkan bila dirangsang dapat disuruh dan menjawab
pertanyaan, bila rangsangan berhenti penderita tidur lagi.
b. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus
fraktur biasanya akut, spasme otot, dan hilang rasa.
c. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
d. Neurosensori, seperti kesemutan, kelemahan, dan deformitas.
e. Sirkulasi, seperti hipertensi (kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas),
hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah), penurunan nadi pada bagian distal
yang cidera, capilary refil melambat, pucat pada bagian yang terkena, dan masa
hematoma pada sisi cedera.
f. Keadaan Lokal
Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah sebagai berikut :
1) Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain sebagai berikut :
a) Sikatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas
operasi).
b) Fistula warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
c) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa
(abnormal)
d) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
e) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
2) Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari
posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang
memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.

Yang perlu dicatat adalah:


a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
Capillary refill time Normal (3 5) detik
b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema
terutama disekitar persendian
c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal,
tengah, atau distal)
d) Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di
permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status
neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu
dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar
atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
Kekuatan otot : otot tidak dapat berkontraksi (1), kontraksi sedikit dan ada
tekanan waktu jatuh (2), mampu menahan gravitasi tapi dengan sentuhan
jatuh(3), kekuatan otot kurang (4), kekuatan otot utuh (5). ( Carpenito,
1999)
3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah

melakukan

pemeriksaan

feel,

kemudian

diteruskan

dengan

menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada


pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi
keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran
derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam
ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak
(mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. (
Arif Muttaqin, 2008 )
9. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Radiologi
1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain
tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur
yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga
mengalaminya.
2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di
ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.

3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda


paksa.
4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal
dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
b. Pemeriksaan Laboratorium
1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan
osteoblastik dalam membentuk tulang. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase,
Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase
yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang
3) Hematokrit dan leukosit akan meningkat ( Arif Muttaqin, 2008 )
c. Pemeriksaan lain-lain
1) Pemeriksaan

mikroorganisme

kultur

dan

test

sensitivitas:

didapatkan

mikroorganisme penyebab infeksi.


2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan
diatas tapi lebih diindikasikan bila terjadi infeksi.
3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma
yang berlebihan.
5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
( Arif Muttaqin, 2008 )
9.DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
a.
Nyeri berhubungan dengan spasme otot, kerusakan sekunder pada
fraktur, edema.
b.
Imobilisasi fisik berhubungan dengan cidera jaringan sekitar/fraktur.
c.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan fraktur terbuka dan
kerusakan jaringan lunak.
d.
Cemas berhubungan dengan prosedur pengobatan.
e.
Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan
penurunan/interupsi aliran darah: cedera vaskuler langsung, edema,
pembentukan trombus.
f.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka.

g.
Resiko tinggi embolik lemak berhubungan dengan fraktur tulang
panjang.
Post Operasi
a.
Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan.
b.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan post
pembedahan.
c.
Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan imobilisasi.
d.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.
e.
Ketidakefektifan regimen terapeutik berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan
perawatannya saat di rumah.
10. INTERVENSI
Pre Operasi
a.
Nyeri berhubungan dengan spasme otot, kerusakan sekunder pada
fraktur, edema.
KH: Nyeri berkurang sampai hilang ditandai dengan:
Intensitas nyeri 2-3
Ekspresi wajah rileks
Tidak merintih
Rencana Tindakan:
1)
Kaji lokasi nyeri dan intensitas nyeri.
Rasional: Mengetahui tindakan yang dilakukan selanjutnya.
2)
Pertahankan imobilisasi pada bagian yang sakitnya.
Rasional: Mengurangi nyeri
3)
Ajarkan teknik relaksasi.
Rasional: Mengurangi nyeri pada saat nyeri timbul.
4)
Jelaskan prosedur sebelum melakukan tindakan.
Rasional: Mempersiapkan pasien untuk lebih kooperatif.
5)
Beri posisi yang tepat secara berhati-hati pada area fraktur.
Rasional: Meminimalkan nyeri, mencegah perpindahan tulang.
6)
Beri kesempatan untuk istirahat selama nyeri berlangsung.
Rasional: Untuk mengurangi nyeri.
7)
Kolaborasi dalam pemberian terapi medik: analgetik.
Rasional: Mengatasi nyeri.
b.
Imobilisasi fisik berhubungan dengan cidera jaringan sekitar/fraktur.
KH: Pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri dalam waktu bertahap
ditandai dengan: higiene perseorangan, nutrisi dan eliminasi terpenuhi dengan
bantuan.
Rencana Tindakan:
1)
Kaji tingkat kemampuan aktivitas pasien.
Rasional: Menentukan intervensi yang tepat sesuai dengan kebutuhan pasien.

2)
Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak dapat dilakukan
secara mandiri.
Rasional: Mengurangi nyeri dan semakin parahnya fraktur.
3)
Dekatkan barang-barang yang dibutuhkan pasien.
Rasional: Meningkatkan kemandirian pasien.
4)
Perhatian dan bantu personal higiene.
Rasional: Mencegah komplikasi dan kerusakan integritas kulit.
5)
Ubah posisi secara periodik sejak 2 jam sekali.
Rasional: Mencegah komplikasi dekubitus.
6)
Libatkan keluarga dalam memberikan asuhan kepada pasien.
Rasional: Memberi motivasi pada pasien.
7)
Kolaborasi pemberian analgetik.
Rasional: Mencegah nyeri yang berlebihan.
c.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan fraktur terbuka dan kerusakan
jaringan lunak.
KH: Tidak ada tanda-tanda infeksi ditandai dengan:
Suhu normal 36-37oC
Tidak ada kemerahan, tidak ada edema, luka bersih.
Rencana Tindakan:
1)
Observasi TTV terutama suhu.
Rasional: Peningkatan suhu menunjukkan adanya infeksi.
2)
Jaga daerah luka tetap bersih dan kering.
Rasional: Luka yang kotor dan basah merupakan media yang baik untuk
mikroorganisme berkembang biak.
3)
Tutup daerah yang luka dengan kasa steril/balutan bersih.
Rasional: Mencegah kuman/mikroorganisme masuk.
4)
Rawat luka dengan teknik aseptik.
Rasional: Mencegah mikroorganisme berkembang biak.
5)
Kolaborasi dengan medik untuk pemberian antibiotik.
Rasional: Menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

d.
Cemas berhubungan dengan prosedur pengobatan.
KH: Cemas berkurang ditandai dengan:
Pasien mengerti penjelasan yang diberikan oleh perawat mengenai
pengobatan.
Pasien kooperatif saat dilakukan perawatan.
Pasien dapat mengungkapkan perasaan cemas.
Rencana Tindakan:
1)
Kaji tingkat kecemasan.
Rasional: Mengidentifikasi intervensi selanjutnya.
2)
Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: Mengidentifikasi tingkat kecemasan.
3)
Jelaskan pada pasien prosedur pengobatan.
Rasional: Mengurangi tingkat kecemasan pasien.
4)
Berikan lingkungan yang nyaman.

Rasional: Lingkungan yang nyaman dapat mengurangi tingkat kecemasan.


5)
Libatkan keluarga dalam memberikan support.
Rasional: Memberi dukungan dan mengurangi rasa cemas pasien.
e.
Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan
penurunan/interupsi aliran darah: cedera vaskuler langsung, edema,
pembentukan trombus.
KH: Mempertahankan perfusi jaringan ditandai dengan:
Terabanya nadi, kulit hangat atau kering, tanda vital stabil.
Rencana Tindakan:
1)
Observasi nadi perifer distal terhadap cidera melalui palpasi.
Bandingkan dengan ekstremitas yang sakit.
Rasional: Penurunan/tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler
dan perlunya evaluasi medik segera terhadap status sirkulasi.
2)
Kaji aliran kapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada fraktur.
Rasional: Warna kulit putih menunjukan gangguan arterial.
3)
Lakukan pengkajian neuromuskuler, minta pasien untuk melokalisasi
nyeri.
Rasional: Gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan/ penyebaran
nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat atau saraf rusak.
4)
Beri motivasi untuk melakukan latihan pada ekstremitas yang cedera.
Rasional: Meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah
khususnya pada ekstremitas bawah.
5)
Awasi tanda vital, perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis umum, kulit
dingin, perubahan mental.
Rasional: Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem
perfusi jaringan.
f.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka.
KH: Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.
Rencana Tindakan:
1)
Kaji kulit pada luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan,
perubahan warna, kelabu, memutih.
Rasional: Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang
mungkin disebabkan oleh alat dan atau pemasangan gips/bebat atau traksi.
2)
Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: Peningkatan terutama suhu merupakan tanda-tanda infeksi.
3)
Masase kulit dan penonjolan tulang. Pertahankan tempat tidur kering dan
bebas kerutan.
Rasional: Menurunkan tekanan pada area yang peka dan risiko
abrasi/kerusakan kulit.
4)
Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas tonjolan tulang.
Rasional: Meminimalkan tekanan pada area ini.
5)
Ubah posisi tidur secara periodik tiap 2 jam.
Rasional: Meminimalkan resiko kerusakan kulit.

g.
Resiko tinggi embolik lemak berhubungan dengan fraktur tulang
panjang.
KH:
Rencana Tindakan:
1)
Monitor perubahan status mental yang disebabkan oleh hipoksemia:
gejala dari distress pernafasan akut seperti: kegelisahan, konfusi, nyeri dada,
takipnea, sianosis, dispnea, takikardi.
Rasional: Mengidentifikasi keadaan fisik pasien.
2)
Jika ada indikasi, kaji O2 saturasi dengan oksimetri.
Rasional: Mengidentifikasi intervensi selanjutnya.
3)
Pertahankan imobilisasi pada daerah yang fraktur.
Rasional: Mengurangi terjadinya emboli lemak.
4)
Berikan oksigen bila ada indikasi.
Rasional: Memenuhi kebutuhan O2.
Post Operasi
a.
Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan.
KH: Nyeri berkurang sampai hilang ditandai dengan:
Intensitas nyeri 0-2.
Ekspresi wajah rileks.
Rencana Tindakan:
1)
Kaji lokasi dan intensitas nyeri.
Rasional: Mengetahui intervensi yang dilakukan selanjutnya.
2)
Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit.
Rasional: Menghilangkan nyeri.
3)
Tinggikan ekstremitas yang fraktur.
Rasional: Menurunkan rasa nyeri.
4)
Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam.
Rasional: Mengurangi nyeri.
5)
Observasi TTV tiap 4 jam.
Rasional: Peningkatan TTV menunjukkan adanya rasa nyeri.
6)
Kolaborasi dalam memberikan terapi analgetik.
Rasional: Mengurangi nyeri.
b.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan post
pembedahan.
KH: Kulit kembali utuh ditandai dengan:
Luka jahitan dapat tertutup.
Rencana Tindakan:
1)
Kaji kulit untuk luka terbuka.
Rasional: Mengontrol perkembangan mikroorganisme di daerah luka.
2)
Bantu ubah posisi.
Rasional: Mencegah luka tekan.
3)
Masase kulit dan penonjolan tulang.
Rasional: Mencegah luka tekan.
4)
Bersihkan kulit dengan sabun dan air bila menggunakan traksi.
Rasional: Mengurangi perkembangan mikroorganisme.

c.
Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan imobilisasi.
KH: Mempertahankan mobilitas fisik ditandai dengan:
Pasien mau beraktivitas secara perlahan.
Rencana Tindakan:
1)
Kaji derajat mobilitas yang dapat dilakukan.
Rasional: Untuk menyusun rencana selanjutnya.
2)
Bantu untuk mobilisasi menggunakan kursi roda/tongkat.
Rasional: Mempercepat proses penyembuhan.
3)
Bantu dalam higiene perorangan.
Rasional: Meningkatkan kesehatan diri.
4)
Ubah posisi secara periodik.
Rasional: Menurunkan komplikasi lesi kulit.
d.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.
KH: Infeksi tidak terjadi ditandai dengan:
Pasien tidak mengalami infeksi tulang
Suhu tubuh normal antara 36-37oC
Rencana Tindakan:
1)
Observasi TTV.
Rasional: Peningkatan TTV menunjukkan adanya infeksi.
2)
Rawat luka operasi dengan teknik antiseptik.
Rasional: Mencegah dan menghambat berkembang biaknya bakteri.
3)
Tutup daerah luka dengan kasa steril.
Rasional: Kasa steril menghambat masuknya kuman ke dalam tubuh.
4)
Jaga daerah luka operasi tetap bersih dan kering.
Rasional: Luka yang kotor dan basah menjadi media yang baik bagi
berkembang biaknya bakteri.
5)
Beri terapi antibiotik sesuai program medik.
Rasional: Antibiotik menghambat berkembang biaknya bakteri.
e.
Ketidakefektifan regimen terapeutik berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan
perawatannya saat di rumah.
KH: Pasien dapat mengetahui aktivitas yang boleh dilakukan dan
perawatannya saat di rumah.
Rencana Tindakan:
1)
Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang penatalaksanaan perawatan di
rumah.
Rasional: Menilai tingkat pengetahuan pasien tentang penatalaksanaan di
rumah.
2)
Anjurkan pasien untuk melakukan latihan aktif dan pasif secara teratur.
Rasional: Dapat mencegah terjadinya kontraktur pada tulang.
3)
Beri kesempatan pada pasien untuk dapat bertanya.
Rasional: Hal yang kurang jelas dapat diklarifikasikan kembali.
4)
Anjurkan pasien untuk mentaati terapi dan kontrol tepat waktu.
Rasional: Mencegah keadaan yang dapat memperburuk keadaan fraktur.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth, 2000, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 3,
EGC, Jakarta
Corwin, Elizabeth J., 2000. Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta
Mansjoer, Arif., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga, Jilid 2, Media
Aesculapiu, Jakarta
Price, Sylvia Anderson., 1995, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, Edisi 4, vol 2, EGC, Jakarta
Sutedjo, AY., 2008, Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan
Laboratarium, Amara Books, Jakarta