Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN KOMUNITAS LANSIA


REMATIK

OLEH

NAMA : LISMARIA
NIM : 121113587

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS RIAU
2014/2015

I.

Latar Belakang

Meningkatnya usia harapan hidup (UHH) memberikan dampak yang kompleks terhadap
kesejahteraan lansia. Di satu sisi peningkatan UHH mengindikasikan peningkatan taraf
kesehatan warga negara. Namun di sisi lain menimbulkan masalah masalah karena dengan
meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut akan berakibat semakin besarnya beban yang
ditanggung oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah, terutama dalam menyediakan
pelayanan dan fasislitas lainnya bagi kesejahteraan lansia. Hal ini karena pada usia lanjut
individu akan mengalami perubahan fisik, mental, sosial ekonomi dan spiritual yang
mempengaruhi kemampuan fungsional dalam aktivitas kehidupan sehari-hari sehingga
menjadikan lansia menjadi lebih rentan menderita gangguan kesehatan baik fisik maupun
mental. Walaupun tidak semua perubahan struktur dan fisiologis, namun diperkirakan
setengah dari populasi penduduk lansia mengalami keterbatasan dalam aktivitas kehidupan
sehari-hari, dan 18% diantaranya sama sekali tidak mampu beraktivitas. Berkaitan dengan
kategori fisik, diperkirakan 85% dari kelompok umur 65 tahun atau lebih mempunyai paling
tidak satu masalah kesehatan(HealthyPeople,1997).
Dari berbagai masalah kesehatan itu ternyata gangguan muskuloskeletal menempati
urutan kedua 14,5% setelah penyakit kardiovaskuler dalam pola penyakit masyarakat usia
>55 tahun(Household Survey on Health, Dept. Of Health, 1996). Dan berdasarkan survey
WHO di Jawa ditemukan bahwa artritis/reumatisme menempati urutan pertama (49%) dari
pola penyakit lansia (Boedhi Darmojo,2001)

II.

Tinjauan teoritis
A. Pengertian
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses
inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248). Reumatik dapat terjadi pada
semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat
dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999).
Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang
manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga
melibatkan seluruh organ tubuh (Hidayat, 2006).
B. Penyebab (etiologi)
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor
resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;
1.
Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor penuaan adalah yang
terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa osteoartritis bukan akibat penuaan saja.
Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda dengan eprubahan pada
osteoartritis.
2.
Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena osteosrtritis lutut dan sendi. Sedangkan laki-laki lebih
sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan,
dibawah 45 tahun, frekuensi psteoartritis kurang lebih sama antara pada laki-laki dan
wanita, tetapi diats usia 50 tahunh (setelah menopause) frekuensi osteoartritis lebih
banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada
patogenesis osteoartritis.
3.
Suku bangsa
Nampak perbedaan prevalensi osteoartritis pada masingn-masing suku bangsa. Hal
ini mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup maupun perbedaan pada
frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan tulang.
4.
Genetik
5.
Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk
timbulnya osteoartritis, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata tidak
hanya berkaitan dengan oateoartritis pada sendi yang menanggung beban berlebihan,
tapi juga dnegan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Olehkarena itu
disamping faktor mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis),
diduga terdapat faktor lain (metabolit) yang berpperan pada timbulnya kaitan
tersebut.
6.
Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus berkaitan
dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu. Olahraga yang sering menimbulkan
cedera sendi yang berkaitan dengan resiko osteoartritis yang lebih tinggi.
7.
Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan timbulnya
oateoartritis paha pada usia muda.
8.
Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko timbulnya
osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak

membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi.
Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek.
C. Jenis Reumatik
Menurut Adelia, (2011) ada beberapa jenis reumatik yaitu:
a. Reumatik Sendi ( Artikuler )
Reumatik yang menyerang sendi dikenal dengan nama reumatik sendi (reumatik
artikuler). Penyakit ini ada beberapa macam yang paling sering ditemukan yaitu:
1. Artritis Reumatoid
Merupakan penyakit autoimun dengan proses peradangan menahun yang
tersebar diseluruh tubuh, mencakup keterlibatan sendi dan berbagai organ di
luar persendian
2. Osteoatritis
Adalah sekelompok penyakit yang tumpang tindih dengan penyebab yang
belum diketahui, namun mengakibatkan kelainan biologis, morfologis, dan
keluaran klinis yang sama.Proses penyakitnya berawal dari masalah rawan
sendi (kartilago), dan akhirnya mengenai seluruh persendian termasuk tulang
subkondrial, ligamentum, kapsul dan jaringan sinovial, serta jaringan ikat
sekitar persendian (periartikular). Pada stadium lanjut, rawan sendi mengalami
kerusakan yang ditandai dengan adanya fibrilasi, fisur, dan ulserasi yang
dalam pada permukaan sendi
3. Atritis Gout
Penyakit ini berhubungan dengan tingginya asam urat darah (hiperurisemia) .
Reumatik gout merupakan jenis penyakit yang pengobatannya mudah dan
efektif. Namun bila diabaikan, gout juga dapat menyebabkan kerusakan sendi.
Penyakit ini timbul akibat kristal monosodium urat di persendian meningkat.
b. Reumatik Jaringan Lunak (Non-Artikuler)
Merupakan golongan penyakit reumatik yang mengenai jaringan lunak di luar
sendi (soft tissue rheumatism) sehingga disebut juga reumatik luar sendi (ekstra
artikuler rheumatism). Jenis jenis reumatik yang sering ditemukan yaitu:
1. Fibrosis
Merupakan peradangan di jaringan ikat terutama di batang tubuh dan anggota
gerak. Fibrosis lebih sering ditemukan oleh perempuan usia lanjut, penyebabnya
adalah faktor kejiwaan.
2. Tendonitis dan tenosivitis
Tendonitis adalah peradangan pada tendon yang menimbulkan nyeri lokal di
tempat perlekatannya. Tenosivitis adalah peradangan pada sarung pembungkus
tendon.
3. Entesopati
Adalah tempat di mana tendon dan ligamen melekat pada tulang. Entesis ini
dapat mengalami peradangan yang disebut entesopati. Kejadian ini bisa timbul
akibat menggunakan lengannya secara berlebihan, degenerasi, atau radang sendi.
C. Manifestasi Klinik
1.
Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan
dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang
menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan yang lain.
2.
Hambatan gerakan sendi

Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan


dengan bertambahnya rasa nyeri.
3.
Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi, seperti duduk
dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.
4.
Krepitasi
Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
5.
Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau tangan yang
paling sering) secara perlahan-lahan membesar.
6.
Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul
berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang
lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien yang umumnya tua
(lansia).
D. Patofisioligi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti
vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan, sinovial
menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada persendian ini
granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke
tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan
pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila
kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena
jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang
menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau
dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis
setempat.

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes serologi
Sedimentasi eritrosit meningkat
Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Pemerikasaan radiologi
Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis
3. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan dari sendi
dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.
F. Penatalaksanaan/ perawatan Osteoartritis, antara lain;
1. Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat simtomatik.
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai analgesik dan
mengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses patologis
2. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang
sakit.
3. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
4. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
5. Dukungan psikososial
6. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan yang tepat
7. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan
8. Diet rendah purin:
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan asam urat dan
menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan mempertahankannya dalam
batas normal. Bahan makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan pada
penderita osteoartritis:
Golongan
Makanan
yang
boleh
Makanan yang tidak
bahan
diberikan
boleh diberikan
makanan
Karbohidrat
Semua
-Protein
Daging atau ayam, ikan
Sardin, kerang, jantung,
hewani
tongkol, bandeng 50 gr/hari,
hati, usus, limpa, paru-paru,
telur, susu, keju
otak, ekstrak daging/ kaldu,
bebek, angsa, burung.
Kacang-kacangan kering 25
-Protein nabati
gr atau tahu, tempe, oncom
Lemak
Sayuran

Minyak
terbatas.

dalam

jumlah

Semua sayuran sekehendak


kecuali: asparagus, kacang
polong, kacang buncis,
kembang kol, bayam, jamur
maksimum 50 gr sehari

-Asparagus, kacang polong,


kacang buncis, kembang
kol,
bayam,
jamur
maksimum 50 gr sehari

-Buah-buahan

Semua macam buah


Alkohol

Minuman
Bumbu, dll

Teh, kopi, minuman yang


mengandung soda
Semua macam bumbu

III.
Rencana Keperawatan
N Diagnosa
Tujuan
o
keperawat
TUM
TUK
an
1

Resiko
gangguan
mobilisasi
pada Ibu
N di
keluarga
Bp. A b.d
KMK
merawat
anggota
keluarga
yang sakit
reumatik

Setelah
3x
kunjunga
n rumah,
ganggua
n
mobilisa
si pada
Ibu N
tidak
terjadi

1.
Setelah 1x 45
menit
kunjungan
rumah,
keluarga
mampu
mengenal
masalah
rheumatik
pada
anggota
keluarga.
Dengan
cara:

Ragi

Evaluasi
Kriteria

Intevensi

Standar

Respon
verbal

Reumatik yaitu
suatu
1.1.1
Diskusikan
peradangan
bersama keluarga
kronik pada
pengertian
sendi atau pegalreumatik dengan
pegal yang
menggunakan
disertai dengan
lembar balik
rasa nyeri
1.1.2
Tanyakan
kembali pada
keluarga.tentang
pengertian
reumatik
1.1.3
Beri pujian
atas usaha yang
dilakukan
keluarga

Respon
verbal

Menyebutkan 4 1.2.1
Diskusikan
dari 7 penyebab
bersama keluarga
reumatik:
tentang penyebab
reumatik dengan
- Proses menua
menggunakan
- Kelelahan
lembar balik
- Cedera
1.2.2
Motivasi
mendadak
keluarga untuk

1.1 Menyebut
kan
pengertia
n
reumatik

1.2 Menyebut
kan
penyebab
reumatik

- Infeksi kuman
menyebutkan
- Penurunan
kembali
kekebalan
penyebab
tubuh
reumatik
- Tidak
1.2.3
Beri
diketahui
reinforcement
dengan jelas.
positif atas usaha
yang dilakukan
keluarga
1.3 Menyebut Respon
kan tanda verbal
dan gejala
reumatik

2. Setelah 1x 45 Respon
menit
verbal
kunjungan
rumah,
keluarga
mampu
mengambil
keputusan
untuk
merawat
anggota
keluarga yang
menderita
rematik
dengan cara:

2.1 Menyebut
kan akibat
lanjut
tidak
diobatiny
a
reumatik

Menyebutkan 3 1.3.1
Diskusikan
dari 5 tanda dan
dengan keluarga
gejala reumatik :
tentang tandatanda reumatik
- Nyeri
1.3.2
Motivasi
- Pembengkaka
keluarga untuk
n sendi
menyebutkan
- Gerakan yang
kembali tandaterbatas
tanda reumatik
- Kekakuan,
1.3.3
Beri
kelemahan
reinforcement
- Perasaan
positif atas usaha
mudah lelah
yang dilakukan
keluarga
Menyebutkan 2
dari 5 akibat
2.1.1. Jelaskan pada
lanjut dari
keluarga akibat
reumatik yang
lanjut apabila
tidak diobati:
reumatik tidak
- Perubahan
diobati dangan
bentuk sendi
menggunakan
dan tulang
lembar baik
- Nyeri yang
2.1.2. Motivasi
semakin
keluarga untuk
meningkat
menyebutkan
- Pengeroposa
kembali akibat
n tulang
lanjut dari
- Lumpuh.
reumatik yang
tidak diobati
2.1.3. Beri
reinforcement
positif atas
jawaban
keluarga

2.2 Memutus
kan untuk
merawat

3. Setelah 1x
45 menit
kunjungan
rumah,
keluarga
mampu
merawat
anggota
keluarga
dengan
reumatik
3.1 Menyebutk
an cara
perawatan
reumatik

Respon
verbal

Respon
verbal

Keputusan
keluarga untuk
merawat dan
mengatasi
reumatik pada
anggota
keluarga

Menyebutkan 5
dari 9 perawatan
reumatik:
-

Kompres
dengan air
hangat bila
tidak ada
bengkak
/nyeri
Kompres
dengan air
dingin bila
ada bengkak
dan nyeri
Hindari
penekanan
Makan
makanan
rendah
protein
nabati
Konsumsi
vit. C, zat
besi
Istirahat
yang cukup
Latihan

2.2.1

2.2.2

3.1.1

3.1.2

3.1.3

Motivasi
keluarga untuk
mengatasi
masalah yang
dihadapi
Beri
reinforcement
positif atas
keputusan
keluarga untuk
merawat
anggota
kelurga yang
mengalami
reumatik

Diskusikan
dengan
keluarga cara
perawatan
reumatik
dengan
menggunakan
lembar balik
Motivasi
keluarga untuk
menyebutkan
kembali
perawatan
reumatik
Beri
reinforcement
positif atas
usaha yang
dilakukan
keluarga

3.2 Mendemon Psikom


strasikan
-otor
cara latihan
gerak

pergerakan
- Hindari
kerja berat
- Jaga
keamanan
lingkungan
rumah
Keluarga dapat
mendemonstrasi
kan cara latihan
gerak

3.2.1

3.2.2

3.2.3

3.2.4

3.3 Menyebutk
an jenis
makanan
untuk
reumatik

Respon
verbal

Hindari makan
kacangkacangan, asam
urat yang tinggi
seperti jeroan

3.3.1

3.3.2

3.3.3

Demonstrasika
n pada
keluarga
tentang cara
latihan gerak
pada
persendian,
sendi kepala
sampai sendi
kaki
Berikan
kesempatan
pada keluarga
untuk mencoba
melakukan
latihan gerak
Beri
reinforcement
positif atas
usaha keluarga
Pastikan
keluarga akan
melakukan
tindakan yang
diajarkan jika
diperlukan
Diskusikan
bersama
keluarga
tentang jenis
makanan/diit
untuk reumatik
Motivasi
keluarga untuk
menyebutkan
kembali diit
reumatik
Beri
reinforcement
positif atas
jawaban
keluarga

Setelah 1x
45 menit
kunjungan
rumah,
keluarga
mampu
memelihara/
memodifika
sai
lingkungan
rumah yang
sehat:
4.1 Cara
memeliha
ra/
memodifi
kasi
lingkunga
n yang
sehat

Respon
verbal

Menyebutkan 1
dari 2 cara
memodifikasi
lingkungan yang
sehat:
-

lantai tidak
licin
penerangan
lampu baik

4.1.1

4.1.2

4.1.3

Setelah 1x Respon
45 menit
verbal
kunjungan
rumah,
keluarga
mampu
memanfaatk
an
pelayanan
kesehatan
dengan cara:
5.1 Menyebut
kan
kembali
manfaat
kunjunga
n ke
fasilitas

Manfaat
kunjungan ke
fasilitas
kesehatan :
- Mendapatkan
pelayanan
kesehatan
pengobatan
reumatik
- Mendapatkan
pendidikan
kesehatan
tentang
reumatik

5.1.1

5.1.2

5.1.3

Menjelaskan
lingkungan
yang dapat
mencegah
reumatik
Memotivasi
keluarga untuk
mengulangi
penjelasan
yang diberikan
Beri
reinforcement
positif atas
upaya yang
dilakukan
keluarga
Menginformasi
kan mengenai
pengobatan
dan pendidikan
kesehatan yang
dapat
diperoleh
keluarga di
pelayanan
kesehatan
Motivasi
keluarga untuk
menyebutkan
kembali hasil
diskusi
Beri
reinforcement
positif atas
hasil yang
dicapai

kesehatan
5.2 Memanfa Respon
atkan
verbal
pelayanan
kesehatan
dalam
merawat
reumatik

keluarga
Menunjukan
kartu berobat
adanya terapi
pengobatan

5.2.1

5.2.2

IV.

Tanyakan
perasaan
keluarga
setelah
mengunjungi
fasilitas
kesehatan
Berikan
reiforcement
positif atas
tindakan tepat
yang dilakukan
oleh keluarga.

Rancangan Kegiatan Terapi Komplementer

Topik

: Peningkatan pemeliharaan kesehatan klien rematik melalui


terapi komplementer senam rematik dan toga
Metoda
: Penjelasan, praktek langsung,observasi
Media
: Video
Sasaran
: Ny N
Waktu
: 09.00-09.30 WIB (1 x 30 menit)
Hari/Tanggal : Rabu/ 24 Desember 2014
Tempat
: Rumah Keluarga Ny N (Dusun Darussalam,Kelurahan Sungai Pagar)
1. Standar Kompetensi
Setelah dilakukan pelatihan perawatan rematik dengan terapi komplementer senam
rematik dan toga, diharapkan Ny N mampu melakukan perawatan mandiri dirumah
2. Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pelatihan perawatan rematik dengan terapi komplementer senam
rematik dan toga,selama 1 x 30 menit, diharapkan Ny N dapat
a. Menjelaskan terapi komplementer yang bisa digunakan untuk rematik,
b. Memahami teknik terapi akupressure untuk mengurangi nyeri rematik,
c. Mampu membuat ramuan luar rematik mengunakan jahe yang dihaluskan,
d. Melakukan terapi komplementer mandiri dirumah ,
3. Bahan/Alat yang Diperlukan
Toga :
a. Jahe
b. Daun pepaya
c. Air 3 gelas
d. Saringan
e. Baskom
f. Tumbukan
g. Kompor
Senam rematik :
a. Kursi
4. Evaluasi

a.

Evaluasi Struktur
1) Pasien berada di tempat pertemuan sesuai kontrak.
2) Penyelenggaraan pelatihan terapi komplementer dilakukan di rumah klien
3) Pengorganisasian penyelenggaraan kegiatan dilakukan sebelum pelaksanaan.
b. Evaluasi Proses
1) Pasien antusias terhadap kegiatan yang dilakukan.
2) Pasien berpartisipasi dalam kegiatan dengan mengajukan dan menjawab
pertanyaan dengan benar.
c. Evaluasi Hasil
1) Pasien memahami materi yang telah disampaikan.
2) Kegiatan telah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Daftar Pustaka
Bandiah, S. (2009) Lanjut Usia dan Keperawatan gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika.
Brunner and Suddarths. 2008. Textbook of Medical-Surgical Nursing. Penerbit : LWW,
Philadelphia.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Aajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal.
Jakarta: EGC
Suratun. 2008. Asuhan Keperawatan Klein Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.