Anda di halaman 1dari 8

Reposisi bibir: sebagai perawatan alternatif kosmetik untuk gummy smile

Mudnoor Manjunath Dayakar, Sachin Gupta, Hiranya Shivananda

Abstrak:
Tampilan gingiva yang berlebih, umumnya disebut sebagai gummy smile adalah kendala
besar dalam keseluruhan kepribadian individu. Gummy smile, ditangani dengan mengubah
erupsi pasif dan malposisi gigi, dapat diprediksi dengan perawatan bedah dan terapi
ortodontik. Pada pasien dengan kelainan bentuk rahang, bedah ortognatik dapat dilakukan.
Namun, ini membutuhkan rawat inap dan melibatkan ketidaknyamanan yang signifikan.
Reposisi bibir adalah prosedur bedah yang sederhana untuk mengatasi gummy smile.
Prosedur membatasi tarikan otot dari elevasi otot bibir sehingga mengurangi tampilan gingiva
sewaktu tersenyum. Prosedur ini aman dan dapat diprediksi memiliki risiko minimal atau
efek samping. Laporan kasus ini menggambarkan keberhasilan perawatan dari tampilan
gingiva yang berlebih menggunakan prosedur bedah reposisi bibir yang dapat digunakan
sebagai modalitas pengobatan alternatif untuk perawatan tampilan gingiva yang berlebih.
Kata kunci:
Tampilan gingiva yang berlebih, gummy smile, reposisi bibir

PENDAHULUAN
Keselarasan senyuman tidak hanya ditentukan oleh bentuk, posisi, dan warna gigi
tetapi juga jaringan gingiva. Excessive gingival display (EGD), yang umumnya disebut
sebagai 'gummy smile' berdampak negatif terhadap estetika senyum dan karena itu tidak
diinginkan. Ini merupakan salah satu kelainan perkembangan/ kelainan yang didapat dan
merupakan kondisi yang manifestasinya di periodonsium. (1) Hal ini merupakan keprihatinan
estetika yang dapat mempengaruhi sebagian besar populasi, dengan prevalensi yang
dilaporkan antara 10,5% dan 29%.(2,3) Beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap EGD
semakin meningkat dalam literatur kedokteran gigi dan sekarang tersedia berbagai pilihan
perawatan untuk memperbaiki gummy smile.

Berbagai penyebab gummy smile termasuk pertumbuhan vertikal maksila yang


berlebihan, ekstrusi anterior dentoalveolar, perubahan erupsi pasif gingiva, bibir atas yang
pendek atau hiperaktif, atau kombinasinya.(4,5)
Estetik pemanjangan mahkota untuk perawatan EGD dengan atau tanpa reseksi tulang
telah didokumentasi.(6,7) Ekstrusi dentoalveolar dapat berhasil diatasi dengan terapi ortodontik.
(8)

EGD, akibat pertumbuhan vertikal maksila yang berlebihan, dapat berhasil diatasi dengan

bedah ortognatik.(9) Namun, pembedahan ini berhubungan dengan morbiditas yang signifikan
dan membutuhkan rawat inap. Oleh karena itu, reposisi bibir direkomendasikan sebagai
perawatan alternatif untuk EGD.
Tujuan dari reposisi bibir adalah untuk membatasi retraksi dari elevasi otot senyum.
Hasil reposisi bibir yaitu membatasi tarikan otot pada vestibulum dangkal sehingga
membatasi tampilan gingiva selama tersenyum.

LAPORAN KASUS
Pasien wanita berusia 22 tahun sedang menjalani perawatan ortodontik, datang
dengan keluhan gummy smile disertai dengan retraksi gigi anterior rahang atas (Gambar 1).
Riwayat medis pasien tidak memiliki kontra indikasi bedah. Pemeriksaan klinis
menunjukkan tampilan gingiva maksila tipe sedang. Dengan senyum penuh, gigi pasien
terlihat dari molar pertama rahang atas kanan ke kiri molar pertama rahang atas dengan 5-6
mm dari tampilan gingiva. Gigi anterior rahang atas memiliki tinggi mahkota dan
perbandingan lebar dan panjang yang normal. Diagnosis vertikal maksila yang berlebihan
tipe sedang. Bedah ortognatik sebagai pilihan perawatan telah didiskusikan dengan pasien.
Namun, pasien memilih prosedur reposisi bibir yang minimal invasif dibandingkan bedah
ortognatik. Inform consent diperoleh sebelum dilakukan tindakan.

Prosedur pembedahan

Gambar 1: Senyum pre-operasi

Gambar 2: Pengambilan bagian thickness flap

Gambar 3: Terlihat jaringan ikat dibawahnya

Gambar 4: Penjahitan margin

Gambar 5: Jaringan parut terlihat 6 bulan

Gambar 6: Senyum 6 bulan pasca operasi

pasca operasi

Gambar 7: senyum 1 tahun pasca operasi

Anestesi lokal yang memadai (lignokain 2% dengan epinefrin 1:100.000) diberikan di


mukosa vestibulum dan bibir dari molar pertama kanan ke kiri molar pertama rahang atas.
Lokasi bedah ditandai dengan pensil yang tak dapat dihapus. Partial thickness flap dilakukan
dari mesial line angle molar pertama kiri rahang atas ke mesial line angle molar pertama
rahang atas kanan pada bagian mucogingival junction (gambar 2). Insisi kedua dilakukan 1012 mm di atas insisi pertama pada mukosa labial. Dua insisi digabungkan pada salah satu sisi
dan partial thickness flap dihilangkan, terlihat jaringan ikat dibawahnya (gambar 3). Kedua
insisi kemudian didekatkan menggunakan jahitan continuous interlocking (gambar 4).
Pasien diresepkan obat anti-inflamasi nonsteroid (natrium diklofenak 50 mg 3x sehari
selama 3 hari) dan obat antibiotik (amoxicillin 500 mg 3x sehari selama 5 hari). Pasien
diinstruksikan untuk meletakkan ice pack pasca operasi dan meminimalisasi pergerakan bibir
selama 1 minggu. Jahitan dilepas setelah 2 minggu pasca operasi. Pasien melaporkan terasa
nyeri ringan dan ketegangan sewaktu tersenyum selama 1 minggu pasca bedah.
Jahitan dilepas setelah 2 minggu pasca operasi. Garis jahitan sembuh dalam bentuk
bekas luka yang ditutupi oleh mukosa labial dan karena itu tidak terlihat sewaktu tersenyum
(gambar 5).

HASIL
Awal tampilan gingiva adalah 5-6 mm yang berubah drastis pada bulan ke 3 dan ke 6
pasca operasi (gambar 6). Pada bulan ke 3 dan ke 6 tampilan gingiva adalah 3 mm. Tidak ada
perbedaan tampilan gingiva antara bulan ke 3 dan ke 6. Namun, setelah 12 bulan bibir
berubah kembali ke posisi semula dengan hampir relaps seluruhnya (gambar 7).

DISKUSI
Laporan ini bertujuan untuk mendokumentasikan teknik reposisi bibir untuk
mengurangi jumlah tampilan gingiva pada pasien dengan gummy smile. Hasil menunjukkan
kepuasan estetik hingga 6 bulan pasca operasi setelah bibir perlahan kembali ke posisi semula
dengan hampir relaps seluruhnya pada akhir tahun pertama.

Penelitian telah menunjukkan bahwa tampilan gingiva minimal saat senyum dianggap
estetik dapat diterima.(10-12) Namun, persepsi mengenai estetika bervariasi tergantung pada
lingkungan sosial, pengalaman pribadi dan budaya.(13,14) Dokter gigi profesional biasanya
lebih kritis dibanding orang awam mengenai tampilan gingiva. (15,16) Jumlah tampilan gingiva
yang dianggap menarik bervariasi antara 1-3 mm.(17,18)
Hasil menunjukkan bahwa prosedur bedah yang diterapkan berhasil mengurangi
tampilan gingiva dengan morbiditas yang rendah. Prosedur yang dilakukan aman dan
memiliki efek samping yang minimal.(19) Laporan dalam literatur telah menunjukkan minimal
pasca operasi luka memar, ketidaknyamanan dan pembengkakan. Pembentukan mucocele
dilaporkan menjadi komplikasi yang paling parah.(20,21)
Prosedur reposisi bibir dimulai sebagai perawatan bedah plastik dan sejak saat itu
dilaporkan telah banyak variasi dilakukan.(20) Teknik original tidak termasuk pemotongan
perlekatan otot setelah refleksi flap.(19,22) Namun, beberapa penulis menyarankan melakukan
miektomi untuk mencegah relaps dengan melepaskan perlekatan otot senyum. (23,24,25) Metode
lain untuk mencegah perlekatan kembali elevasi otot senyum adalah penempatan spacer
antara elevasi otot bibir dan tulang hidung anterior sehingga mencegah perpindahan kearah
superior dari reposisi bibir.(26)
Kontraindikasi dari bedah reposisi bibir meliputi lebar attached gingiva yang tidak
memadai pada regio anterior rahang atas. Besar jaringan yang tidak memadai mengakibatkan
kesulitan pembentukan flap, stabilisasi dan penjahitan. Pasien dengan kasus vertikal maksila
berlebih yang parah merupakan bukan calon yang ideal untuk dilakukan reposisi bibir dan
harus dilakukan perawatan bedah ortognatik.(20)
Silva dkk tahun 2012 melaporkan keberhasilan manajemen tampilan gingiva berlebih
dalam studi dimana 13 pasien dengan tampilan gingiva berlebih dirawat dengan teknik
modifikasi reposisi bibir. Perawatan terdiri dari menghilangkan 2 lapis mukosa dari arah
bilateral ke frenulum labial maksila dan reposisi korona dari margin mukosa yang baru. Awal
tampilan gingiva 5,8 2,1 mm kemudian secara signifikan menurun menjadi 1,4 1,0 mm
pada bulan ke 3 dan bertahan sampai bulan ke 6 (1,3 1,6 mm). Subjek merasa puas dengan
senyumnya setelah pembedahan dan akan memilih untuk menjalani prosedur ini lagi (92%).
(27)

Hasil yang serupa diperoleh dari laporan kasus lain oleh Rosenblatt, (20) Simon,(21) dan
Humayun dkk.(28) Pengurangan gummy smile mencapai sekitar 4 mm.
Jacobs dkk pada tahun 2013 melaporkan serangkaian kasus dimana 7 pasien berhasil
ditangani dengan percobaan, dan kemudian dilakukan reposisi bibir dimana terdapat
penurunan rata-rata tampilan gingiva 6,4 1,5 mm.(29)
Vital dkk pada tahun 2013 mengemukakan laporan kasus 2 pasien yang dirawat
dengan teknik modifikasi reposisi bibir dan memperoleh perbaikan yang signifikan dalam
jumlah paparan gingiva dan kepuasan estetik setelah 6 bulan tindak lanjut.(30)
Literatur hanya menunjukkan laporan kasus klinis untuk perawatan gummy smile.(30)
Beberapa penulis telah mengemukakan laporan kasus satu pasien berhasil dirawat dengan
bedah reposisi bibir dengan tindak lanjut jangka waktu 6 bulan.(29)
Laporan kasus ini menunjukkan bahwa meskipun hasil operasi reposisi bibir tampak
stabil hingga 6 bulan pasca operasi, kegunaan sebagai pilihan perawatan jangka panjang tetap
dipertanyakan. Studi lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dan tindak lanjut
jangka panjang diperlukan untuk menentukan tingkat bukti ilmiah dari prosedur ini.

KESIMPULAN
Prosedur reposisi bibir adalah cara yang efektif untuk mengurangi EGD. Namun, hasil
stabilitas jangka panjang perlu diperhatikan. Meskipun demikian, prosedur ini tampaknya
menjadi pilihan perawatan alternatif yang menjanjikan untuk tampilan gingiva berlebih.

REFERENSI
1. Armitage GC. Development of a classification system for periodontal disease and
conditions. Ann Periodontol. 1999;4:16.
2. Tjan AH, Miller GD. The JG. Some esthetic factors in a smile. J Prosthet
Dent.1984;51:248.
3. Dong JK, Jin TH, Cho HW, Oh SC. The esthetics of the smile: A review of some recent
studies. Int Prosthodont. 1999;12:919.
4. Garber DA, Salama MA. The aestheticsmile: Diagnosis and treatment. Periodontol
2000. 1996;11:1828.
5. Silberberg N, Goldstein M, Smidt A. Excessive gingival display etiology, diagnosis, and
treatment modalities. Quintessence Int. 2009;40:80918.
6. Lee EA. Aesthetic crown lengthening: Classification, biologic rationale, and treatment
planning considerations. Pract Proced Aesthet Dent. 2004;16:76978.
7. Chu SJ, Karabin S, Mistry S. Short tooth syndrome: Diagnosis, etiology and treatment
management. J Calif Dent Assoc. 2004;32:14352.
8. Kokich VG. Esthetics: The orthodontic periodontic restorative connection. Semin
Orthod. 1996;2:2130.
9. Ezquerra F, Berrazueta MJ, Ruiz-Capillas A, Arregui JS. New approach to the gummy
smile. Plast Reconstr Surg. 1999;104:114350.
10. Arnett GW, Bergman RT. Facial keys to orthodontic diagnosis and treatment planning.
Part I. Am J Orthod Dentofacial Orthop. 1993;103:299312.
11. Fowler P. Orthodontics and orthognatic surgery in the combined treatment of an excessive
gummy smile. N Z Dent J. 1999;95:534.
12. Zachrisson BU. Esthetic factors involved in anterior tooth display and smile: Vertical
dimension. J Clin Orthod. 1998;32:43245.
13. Oumeish OY. The cultural and philosophical concepts of cosmetics in beauty and art
through the medical history of mankind. Clin Dermatol. 2001;19:37586.
14. Flores-Mir C, Silva E, Barriga MI, Lagravere MO, Major PW. Layperson's perception of
smile aesthetics in dental and facial views. J Orthod. 2004;31:2049.
15. Roden-Johnson D, Gallerano R, English J. The effects of buccal corridor spaces and arch
form on smile esthetics. Am J Orthod Dentofac Orthop. 2005;127:34350.
16. Pinho S, Ciriaco C, Faber J, Lenza MA. Impact of dental asymmetries on theperception of
smile esthetics. Am J Orthod Dentofacial Orthop. 2007;132:7483.
17. Geron S, Atalia W. Influence of sex onthe perception of oral and smile esthetics
withdifferent gingival display and incisal plane inclination. Angle Orthod.2005;75:778
84.
18. Kokich VO, Kokich VG, Kiyak HA. Perceptions of dental professionals and laypersons to
altered dental esthetics: A symmetric and symmetric situations. Am J Orthod Dentofacial
Orthop. 2006;130:14151.
7

19. Kamer FM. How do I do it- Plastic surgery, practical suggestions on facial plastic
surgery, smile surgery. Laryngoscope. 1979;89:152832.
20. Rosenblatt A, Simon Z. Lip repositioningfor reduction of excessive gingival display: A
clinical report. Int J Periodontics Restorative Dent. 2006;26:4337.
21. Simon Z, Rosemblatt A, Dorfmann W. Eliminating a gummy smile with surgicallip
repositioning. J Cosmetic Dent. 2007;23:1008.
22. Rubinstein AM, Kostianovsky AS. Cirugiaestetica de la malformacion de la sonrisa. Pren
Med Argent. 1973;60:952.
23. Cachay-Velasquez H. Rhinoplasty and facial expression. Ann Plast Surg.1992;28:427
33.
24. Miskinyar SA. A new method for correction of gummy smile. Plast Reconstr
Surg. 1983;72:397400.
25. Litton C, Fournier P. Simple surgical correction of gummy smile. Plast Reconstr
Surg. 1979;63:3723.
26. Ellenbogen R, Swara N. The improvement of gummy smile using the implant spacer
technique. Ann Plast Surg. 1984;12:1624.
27. Silva CO, Ribeiro-Junior NV, Campos TV, Rodrigues JG, Tatakis DN. Excessive gingival
display:

Treatment

by

modified

lip

repositioning

technique. J

Clin

Periodontol. 2012;40:2605.
28. Humayun N, Kolhatkar S, Souiyas J, Bhola M. Mucosal coronally positioned flap for the
management of excessive gingival display in the presence of hyper mobility of the upper
lip and vertical maxillary excess: A case report. J Periodontol.2010;81:185863.
29. Jacobs PJ, Jacobs BP. Lip repositioning with reversible trial for the management of
excessive gingival display. Int J Periodontics Restorative Dent. 2013;33:16975.
30. Ribeiro-Jnior NV, Campos TV, Rodrigues JG, Martins TM, Silva CO. Treatment of
excessive gingival display using a modified lip repositioning technique. Int J Periodontics
Restorative Dent. 2013;33:30914.