Anda di halaman 1dari 24

1

PEDIKULOSIS KAPITIS
I.

PENDAHULUAN
Pedikulosis adalah infeksi kulit atau rambut pada manusia
yang disebabkan oleh Pediculus (tergolong famili Pediculidae).
Selain menyerang manusia, penyakit ini juga menyerang
binatang, oleh karena itu dibedakan Pediculus humanus dengan
Pediculus animalis. Pediculus ini merupakan parasit obligat
artinya

harus

menghisap

darah

manusia

untuk

dapat

mempertahankan hidup.1
Klasifikasi Pedikulosis yaitu Pediculus humanus var. capitis
yang menyebabkan pedikulosis kapitis, Pediculus humanus var.
corporis yang menyebabkan pedikulosis korporis, Phthirus
pubis yang menyebabkan pedikulosis pubis. 1
II.

DEFINISI
Pedikulosis kapitis adalah infeksi kulit dan rambut kepala
yang disebabkan oleh Pediculus humanus var. capitis.

III.

1,2

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini terutama menyerang anak-anak usia muda
dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat,
misalnya di asrama dan panti asuhan. Tambahan pula dalam
kondisi higiene yang tidak baik, misalnya jarang membersihkan

rambut atau rambut yang relatif susah untuk dibersihkan


(rambut panjang pada wanita). Cara penularan biasanya
melalui perantara (benda), misalnya sisir, bantal, kasur, dan
topi. 1
Kutu kepala tersebar di seluruh dunia, dan infeksi kutu
kepala umum terjadi pada negara maju ataupun negara
berkembang. Di Inggris, pada waktu silam, kutu kepala umum
ditemukan di kota industri. Pada kota-kota industri di tahun
1941, sekitar 40% anak laki-laki usia prasekolah dan 50% anak
perempuan mempunyai kutu kepala. Sebaliknya, angka infeksi
pada komunitas pedesaan cenderung rendah. Sebuah survei
pada anak sekolah pada tahun 1975 menunjukkan bahwa
sebagian

besar

prevalensi

dari

2.44%

penderita,

jumlah

tertinggi didapatkan pada daerah dengan kepadatan penduduk


yang tinggi. Demikian ditemukan angka infeksi yang lebih
tinggi pada daerah perkotaan dibandingkan daerah pedesaan.
Meskipun demikian, pada awal tahun 1980-an, infeksi muncul
kembali terutama pada kelompok kelas menengah. Seringkali
pada keluarga yang bekerja, terutama daerah pinggiran kota
dan pedesaan. Sejak saat itu, dalam beberapa tahun terakhir,
kutu kepala tidak dapat digolongkan pada kelompok kelas
tertentu dan tersebar di seluruh dunia. Survei yang dilakukan di
Jordan menjadi menarik ketika ditemukan hubungan antara

tingkat infeksi yang tinggi pada kelas sosial ekonomi yang lebih
rendah.2
Kutu kepala umum terjadi pada anak-anak, terutama pada
rentang usia 3-11 tahun, dibandingkan dengan orang dewasa,
dan kebanyakan survei menunjukkan anak perempuan lebih
sering menderita dibanding anak laki-laki. Kebiasaan pada anak
perempuan

dan

laki-laki

pada

usia

yang

berbeda

mempengaruhi angka infeksi. Sebagai contoh, pada sekolah


dasar, kontak antara kepala sering terjadi dan lebih sering pada
anak perempuan. Sedangkan anak yang lebih tua umumnya
lebih

mandiri

dan

juga

sering

terpisah

dengan

teman

bermainnya. Panjang rambut juga memiliki kontribusi. Survei di


Israil menemukan angka infeksi yang lebih tinggi pada anak
dengan rambut panjang dan menengah dibandingkan dengan
rambut pendek. 2,3
Hal ini dipikirkan bahwa mayoritas infeksi kutu kepala
diperoleh melalui kontak langsung antara kepala, kondisi yang
optimal

ketika

rambut

berdekatan

dan

perpindahan

berlangsung dengan lambat. Penyebaran kutu didukung dengan


faktor kemiskinan, higinitas yang buruk, dan kepadatan yang
berlebihan. Kepadatan yang berlebihan menjadi faktor yang
penting. Tidak terjaganya higinitas sendiri mendorong infeksi

kutu kepala. Ada banyak pendapat mengenai perpindahan dari


kutu kepala dan diduga berkaitan dengan topi, syal, sisir, dan
sikat sulit untuk dibenarkan atau disanggah.2
IV.

ETIOPATOGENESIS
Kutu manusia termasuk filum Arthropoda, kelas Insecta, golongan
Phthiraptera, dan subgolongan Anoplura (dikenal sebagai kutu penghisap).
Mamalia merupakan hospes bagi seluruh Anoplura. Anoplura tidak memiliki
sayap dan mempunyai 3 pasang kaki dengan setiap ujungnya terdapat cakar
untuk menggenggam. Ukuran dan bentuk dari cakar disesuaikan dengan tekstur
dan bentuk dari rambut dan atau serat pakaian yang mereka genggam. Tubuh
kutu datar dan ditutupi oleh kitin yang keras.4
Kutu merupakan insekta penghisap darah. Kutu manusia memiliki
bagian mulut depan yang kecil dengan 6 pengait yang membantu perlekatannya
pada kulit manusia selama makan. Bagian mulut penghisap tertarik ke bagian
kepala ketika kutu tidak sedang makan. Umumnya kutu makan sekitar 5-6 kali
per hari. Pada setiap spesies, kutu betina memiliki ukuran yang lebih besar
dibandingkan kutu jantan.4,5
Kutu kepala merupakan yang paling sering di antara 3 spesies kutu
(kutu kepala, kutu badan, dan kutu kelamin). Rata-rata panjang dari kutu kepala
yaitu 1-2 mm. Kutu betina umumnya lebih besar dan banyak dibandingkan kutu
jantan. Kutu ini tidak memiliki sayap dan berwarna putih sampai abu-abu,

bagian dorsoventralnya pipih, dan abdomen yang bersegmen. Kutu ini memiliki
2 mata, 3 pasang kaki dengan cakar. Masa hidup rata-rata 30 hari.1,4

Gambar 1. Pediculus humanus capitis4

Pediculus humanus capitis, memiliki tubuh yang memanjang dan bagian


mulut anterior yang sempit. Kutu badan terlihat mirip dengan kutu kepala namun
mereka meletakkan telurnya pada serat baju, bukannya pada serat rambut. Kutu
betina dewasa menghasilkan telur dan melekatkannya pada pangkal rambut
dengan menghasilkan glue-like substance dari organ reproduksinya. Telur
diletakkan 1-2 mm dalam kulit kepala, tempat dimana suhu optimal untuk
inkubasi. Kutu betina bertelur sebanyak 10 telur per 24 jam, biasanya pada malam
hari. Lokasi telur yang khas yaitu pada bagian kepala belakang dan daerah
postaurikular.4,5

Gambar 2. siklus hidup pediculus humanus capitis

Siklus hidupnya melalu stadium telur, larva, nimfa, dan


dewasa. Telur diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti
tumbuhnya rambut, yang berarti semakin ke ujung terdapat
terus lebih matang.

Telur berukuran 0,3 sampai 0,8 mm,

berwarna kuning sampai putih. Telur menetas pada hari ke 8-9 jika tetap
berada dekat pada suhu tubuh dan menjadi dewasa pada hari ke 9- 12
selanjutnya. Telur dapat bertahan sampai 10 hari tanpa hospes manusia.
Temperatur yang lebih rendah memperlambat penetasan dan perkembangan.
Nimfa berganti kulit 3 kali sebelum mencapai bentuk dewasanya. Kutu kepala
dewasa hanya bertahan selama 1-2 hari tanpa hospesnya. Kutu dewasa

bereproduksi secara seksual. Kutu jantan akan mati setelah


kopulasi. 1,4,5

(a)

(b)

Gambar 3. (a) telur yang berisi dan (b) telur yang telah pecah3,4

Infestasi oleh kutu kepala menyebar melalui kontak fisik dan penggunaan
bersama barang (seperti sisir, sikat, topi, syal, dan selimut). Kutu dapat keluar
oleh penggunaan sisir, handuk, dan pergerakan udara (termasuk pengering
rambut). Menyisir rambut dan mengelap keringat dapat mengeluarkan kutu

dewasa lebih dari 1 meter dari kulit kepala yang terinfestasi. Kutu kepala dapat
berjalan hingga 23 cm per menit. Kutu kepala sulit untuk melekat kuat pada
permukaan yang halus (misalnya kaca, metal, plastik, dan bulu sintetik).4
Gatal timbul karena respon inflamasi dari hospes yang
tersensitisasi dengan antigen kutu seperti liur dan ekskreta dari
kutu yang dimasukkan dalam kulit waktu menghisap darah.
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk
menghilangkan rasa gatal.1,5
V.

GEJALA KLINIS
Gejala mula yang dominan hanya rasa gatal, terutama
pada daerah oksiput dan temporal serta dapat meluas ke
seluruh

kepala.

Kemudian

karena

garukan,

terjadi

erosi,

eskoriasi, dan infeksi sekunder (pus, krusta). Bila infeksi


sekunder berat, rambut akan bergumpal disebabkan banyaknya
pus dan krusta (plikapenolika) dan disertai pembesaran kelenjar
getah

bening

regional

(oksiput

dan

retroaurikular).

Pada

keadaan tersebut kepala memberikan bau yang busuk.1


Gejala pada kulit yaitu pruritus pada bagian belakang
scalp, garukan dan infeksi sekunder yang berkaitan dengan
limfadenopati

occipital

atau

cervical.

Sedangkan

gejala

psikiatrik yang timbul yaitu pada beberapa individu mengalami

gangguan obsesif kompulsif atau waham mengenai masih


adanya parasit setelah pemusnahan kutu dan telur kutu.3
Pada pemeriksaan kulit ditemukan infestasi, yaitu:3
-

Kutu kepala yang teridentifikasi langsung dengan

mata atau dengan bantuan kaca pembesar.


Kebanyakan pasien memiliki populasi kutu kurang

dari 10.
Telur kutu berbentuk oval keabu-abuan sampai putih
berkapsul dan melekat kuat pada rambut. Jumlah

bervariasi dari beberapa sampai ribuan.


Telur kutu diletakkan oleh kutu kepala pada pangkal
rambut. Pada infestasi awal, telur diletakkan dekat
dengan kulit kepala, namun jika infestasi yang sudah

lama telur terletak 10-15 cm dari kulit kepala.


Karena rambut bertumbuh 0,5 mm per hari, letak
kutu 15 cm dari kulit kepala menunjukkan infestasi

telah berlangsung selama 9 bulan.


Telur yang baru berwarna kuning

kecoklatan,

sedangkan cangkang telur yang kosong berwarna


-

putih.
Predileksi kutu kepala selalu berbatas dekat dengan
kulit

kepala,

postauricular.

terutama
Secara

regio

jarang

kutu

occipital
kepala

dan
dapat

menginfestasi janggut dan tempat berambut lainnya.

10

Namun

kadang

ditemukan

kutu

kepala

yang

menginfestasi bulu mata (pediculosis palperbrarum).


Pada kulit juga dapat terjadi lesi seperti:3
-

Reaksi gigitan pada tempat gigitan kutu di leher. Fase


yang berkaitan dengan sensitivitas atau toleransi
imun, yaitu:
Fase I: tidak ada gejala klinik.
Fase II: urtikaria papular dengan pruritus yang
sedang.
Fase III: urtikaria yang segera setelah gigitan yang
kemudian disusul oleh papul atau gatal hebat.
Fase IV: papul-papul yang lebih kecil dengan gatal

sedang.
Eksim, eskoriasi, dan neurodermatitits pada kulit
kepala bagian occipital dan leher akibat penggarukan

kronik.
Impetigo sekunder oleh Staphylococcus aureus dari

eskoriasi di bagian leher, dahi, wajah, dan telinga.


Massa yang konfluen dan purulen dari rambut yang
rambut yang kusut, kutu, krusta, dan eksudasi pada

kasus ekstrim.
Pedikulosid

hipersensitivitas.
Lampu wood: telur

menimbulkan
yang

bercak
masih

hidup

merah
dengan

effloresensi seperti berlian. Sedangkan telur yang


mati tidak memiliki effloresensi.

11

Terjadi pula limfadenopati postoccipital akibat impetigo


dan eskoriasi.3

Gambar 4. Manifestasi klinis pedikulosis kapitis6

VI.

PEMBANTU DIAGNOSIS
Cara yang paling diagnostik adalah menemukan kutu atau
telur, terutama dicari di daerah oksiput dan temporal. Telur
berwarna abu-abu dan berkilat.1
Untuk mendiagnosis kutu adalah mencari kutu atau telur
yang layak (nits) pada pemeriksaan. Eskoriasis dan pioderma
juga dapat tampak. Karena kutu menghindari cahaya dan
merangkak dengan cepat, inspeksi visual tanpa menyisir sulit.
Menggunakan
menemukan

sisir
kutu

kutu
hidup

meningkatkan
dan

merupakan

kemungkinan
alat

skrining

pembantu. Diagnosis kutu menggunakan sisir kutu ini empat


kali lipat lebih efisien daripada pemeriksaan visual langsung.6,7

12

Telur lebih mudah untuk diamati, terutama pada tengkuk


leher atau di belakang telinga. Ditemukannya telur sendiri
bukan merupakan diagnosis untuk infestasi yang aktif. Namun,
jika

telur

ditemukan dalam 0,7

cm dari kulit kepala,

infestasi aktif mungkin terjadi. Lampu woods dan lensa


pembesar

dapat

digunakan

untuk

membantu

diagnosis.

Dermoskopi juga merupakan bantuan dalam diagnosis dan


tindak lanjut dari pedikulosis kapitis.6,7
Telur mati dapat tetap tertinggal pada rambut selama 6
bulan. Rambut manusia tumbuh pada tingkat sekitar 1cm per
bulan. Karena ikut dengan rambut yang tumbuh, telur kutu
kosong yang telah melekat pada helai rambut akan menjauh
dari kulit kepala. Setelah 2 sampai 3 bulan, telur kutu kosong
menjadi lebih terlihat, terutama pada rambut gelap.7
Pemeriksaan penunjang melalui pemeriksaan laboratorium
dengan mikroskop yaitu kutu atau telur kutu pada helai rambut
dapat

di

periksa

untuk

mengkonfirmasi

pemeriksaan

makroskopi dari kulit kepala dan rambut. Kultur dapat dilakukan


jika dicurigai impetiginasi, perlu dilakukan kultur bakteri.3
VII.

DIAGNOSIS BANDING
Dilihat dari manifestasi klinis adanya benjolan-benjolan kecil seperti
mutiara di rambut dapat didiagnosis banding dengan piedra hitam dan piedra

13

putih. Piedra hitam merupakan infeksi jamur Piedraia hortae, sedangkan piedra
putih disebabkan oleh genus Trichosporum pada rambut yang mengakibatkan
benjolan-benjolan di luar permukaan rambut. Pada piedra hitam nodul
berpigmen gelap teraba keras dan melekat kuat pada rambut. Pada piedra putih,
nodul berpigmen terang dan mudah terlepas dari rambut. Selain itu
mengakibatkan juga rambut mudah patah, namun kulit disekitar sehat. Pada
piedra sering asimptomatik, namun pruritus merupakan gejala utama.3,8,9

Gambar 5. Piedra hitam pada pemeriksaan mikroskopis 2

Gambar 6. Piedra putih pada rambut2

Tinea kapitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur


superfisial yang mengenai kulit kepala, alis, dan bulu mata yang menyerang

14

pangkal dan folikel rambut. Tinea kapitis bermula sebagai papul eritema
disekitar pangkal rambut, yang menjadi pucat dan bersisik, dan penampakan
rambut menjadi berubah warna, tidak bercahaya, dan rapuh. Gatal minimal
namun kadang-kadang menjadi berat. Alopesia sering muncul pada daerah yang
terinfeksi.10

Gambar 7. tinea capitis10

Impetigo merupakan infeksi superfisial kulit oleh bakteri Staphylococcus


aureus. Terdapat dua tipe impetigo yaitu impetigo nonbullosa dan bullosa.
Impetigo nonbullosa berawal dari sebuah makula atau papul eritematous yang
dengan cepat menjadi vesikel. Vesikel akan ruptur membentuk erosi dan krusta
yang gatal. Impetigo bullosa merupakan vesikel superfisial yang secara cepat
membesar membentuk bulla yang berbatas tegas dan tidak ada eritema
disekelilingnya. Jika bulla ruptur akan mengeluarkan krusta.11

15

Gambar 8. Impetigo11

Dengan ditemukannya kutu yang terjatuh dari kulit kepala dapat dianggap
adanya psocids. Psocids adalah serangga yang mirip kutu (Rayap buku) yang
jarang dapat menyebabkan gangguan pada kepala manusia, mereka mudah
dibedakan dari kutu kepala manusia dengan kepala mereka lebih besar, mulut
besar, kaki belakang yang besar, dan antena panjang.7

Gambar 9. psicosids7

VIII.

PENGOBATAN
A. Farmakologi
Pengobatan

farmakologi

dari

infestasi

kutu

kepala

difokuskan pada 2 mekanisme yaitu neurotoksisitas yang

16

menyebabkan paralisis kutu, dan membuat kutu tidak bernapas


dengan melapisi kutu tersebut. Kebanyakan percobaan klinik
menggunakan zat yang bersifat neurotoksik melalui produk
topikal. Pengobatan bertujuan memusnahkan semua kutu dan
telur serta mengobati infeksi sekunder.1,6
Permetrin (1%) merupakan pengobatan lini pertama untuk
pedikulosis. Permetrin (1%) adalah insektisida topikal yang
bersifat neurotoksik pada kutu kepala. Zat ini digunakan pada
rambut setelah dicuci dengan sampo tanpa kondisioner dan
dikeringkan dengan handuk. Pedikulosid ini dibiarkan selama 10
menit kemudian dibilas. Permetrin membunuh kutu yang hidup
namun tidak pada telur yang belum menetas. Penggunaan
kembali disarankan pada hari ke 7-10 jika kutu hidup masih
terlihat. Para ahli merekomendasikan pengobatan kembali
secara rutin pada hari ke 9.

Permetrin (1%) diperbolehkan

penggunaannya pada anak usia 2 bulan atau lebih. 4,6,12


Malathion 0,5%

adalah senyawa fosfat organik yang

terbukti lebih ampuh dibandingkan permetrin, memiliki efek


letal yang tinggi, dan menurunkan angka infestasi berulang jika
digunakan dengan tepat. Penggunaannya diperbolehkan pada
individu usia 6 tahun atau lebih. Sediaan dalam bentuk losio
atau spray. Caranya: malam sebelum tidur rambut dicuci

17

dengan sabun kemudian dipakai losio malathion, lalu kepala


ditutup dengan kain. Keesokan harinya rambut dicuci lagi
dengan sabun dan disisir dengan dengan sisir yang halus dan
rapat (sisir serit). Selain itu, dapat mengaplikasikan zat ini pada
rambut yang kering, disemprotkan hingga rambut dan kulit
kepala

cukup

basah.

Pengobatan

ini

dapat

diulang

lagi

seminggu kemudian, jika masih terdapat kutu atau telur. Zat ini
mudah terbakar, sehingga tidak disarankan melakukan aktivitas
seperti penggunaan pengering rambut, merokok, atau dekat
dengan sumber api ketika rambut masih basah. Obat tersebut
susah didapat.1,4,6
Pyretrin

dengan

piperonyl

butoxide

(PBO).

Pyretrin

merupakan turunan dari ekstrak chrysanthemums, sedangkan


PBO bersinergis dengan pyretrin. Zat ini dapat membunuh
tungau kutu dan telurnya. Pyretrin merupakan insektisida
topikal

yang

bersifat

neurotoksik

terhadap

kutu

kepala.

Penggunaan piretrin sebaiknya tidak diberikan kepada individu


yang

alergi

terhadap

chrysanthemums

atau

rerumputan.

Sediaan liquid, gel, dan sampo. Zat diaplikasikan pada rambut


yang kering selama 10 menit sebelum dibilas. Pengobatan
diulang kembali dalam 7-10 hari agar dapat membunuh nimfa
yang baru menetas yang lolos pada pengobatan awal.3,4,6,12

18

Lindane 1% (gamma benzene heksaklorida / gammexane)


telah

diperingatkan

penggunaanya

karena

efek

neurotoksisitasnya. Lindane dapat digunakan sebagai lini kedua


pada orang dewasa, tetapi tidak dapat digunakan pada anakanak, usia lanjut, dan dewasa dengan berat badan kurang dari
50

kg,

wanita

sebaiknya

hamil

dihindari

dan

menyusui.

kecuali

jika

Pemakaian
semua

lindane

pengobatan

kontraindikasi atau tidak efektif. Penggunaan berulang tidak


disarankan pada situasi apapun. Cara pemakaiannya: setelah
dioleskan lalu didiamkan 12 jam, kemudian dicuci dan disisir
dengan sisir serit agar semua kutu dan telur terlepas. Jika
masih terdapat telur, seminggu kemudian diulangi dengan cara
yang sama. Obat lain adalah emulsi benzyl benzoate 25%,
dipakai dengan cara yang sama. Di Indonesia obat ini mudah
didapat.1,3,6
Ivermectin oral merupakan anti parasit sistemik yang
memperlihatkan efektivitas pada percobaan klinik, namun
bukan

merupakan

rekomendasi

dari

Food

and

Drug

Administration (FDA) untuk pengobatan pedikulosis. Dosis


pemberian 200-400

g/kgBB pada hari ke 1 dan 8 (total 2

dosis). Tidak dianjurkan penggunaan pada anak-anak dengan


berat badan kurang dari 15 kg, pada wanita hamil dan

19

menyusui. Efek samping yang umumnya timbul berupa pusing


dan gatal.6
Pada keadaan infeksi sekunder yang berat sebaiknya
rambut

dicukur,

infeksi

sekunder

diobati

dulu

dengan

antibiotika sistemik dan topikal. Lalu disusul dengan obat di


atas dalam bentuk sampo. Higinitas merupakan syarat supaya
tidak terjadi residif.1
B. Nonfarmakologi
Tidak ada pedikulosid yang ampuh secara 100 persen,
penghilangan secara manual dari kutu (terutama yang letaknya
1 cm dari kulit kepala) setelah pengobatan dengan suatu
produk dianjurkan. Penghilangan secara manual sulit dan
membosankan. Bantuan sisir serit dapat mempermudah proses
tersebut. Sebuah studi memperlihatkan bahwa penghilangan
manual dengan sisir dapat melukai kutu dan jarang yang akan
bertahan. Rambut yang basah memperlambat penurunan kutu.
Sebaiknya

penyisiran

dilakukan

setiap

hari

selama

minggu.6,13
Jika seseorang teridentifikasi dengan kutu kepala, semua
anggota keluarga harus diperiksa untuk kemungkinan adanya
kutu kepala. Individu dengan kutu hidup atau telur yang
berjarak 1 cm dari kulit kepala sebaiknya mendapatkan

20

pengobatan.

Sebagai

tambahan,

pengobatan

sebaiknya

diberikan pula pada anggota keluarga yang berbagi tempat


tidur

dengan

individu

yang

terinfestasi,

meskipun

tidak

ditemukan kutu hidup pada dirinya. Transmisi dengan barang


lebih rendah dibandingkan transmisi langsung dengan kontak
kepala. Walaupun demikian, sebaiknya

membersihkan alat

rambut yang digunakan oleh penderita pedikulosis kapitis.


Sebuah studi memperlihatkan hasil bahwa kutu kepala dapat
berpindah melalui bantal pada malam hari, namun insidennya
rendah

yakni

sekitar

4%.

Mengganti

seprai

dapat

meminimalkan risiko transmisi kutu. Hanya barang yang


terkena

kepala

penderita

dalam

24-48

jam

sebelum

pengobatan yang dipertimbangkan untuk dibersihkan, melihat


fakta bahwa jarang ada kutu yang bertahan hidup lebih dari 48
jam jika terpisah dari kulit kepala. Beberapa barang seperti
pakaian, topi, perabotan, dan karpet, dengan pencucian,
perendaman, atau pengeringan dengan suhu lebih dari 130F
akan membunuh kutu dan telurnya. Perabotan, karpet, kursi
mobil, dan barang kain dapat dibersihkan dengan penghisap
debu. Sedangkan barang yang tidak dapat dicuci sebaiknya
dibungkus dengan plastik selama 2 minggu untuk mencegah
nimfa yang menetas mencari sumber makanannya.13

21

Gambar 10. menyisir rambut dengan sisir serit13

IX.

KOMPLIKASI
Infeksi

sekunder

oleh

bakteri

dapat

muncul

dengan

pedikulosis kapitis. Faktanya, kutu kepala dipikirkan sebagai


penyebab paling umum dari pioderma pada kulit kepala. Kutu
kepala

dapat

menjamu

hospes

terhadap

berpotensi terhadap penularan penyakit.

rickettsiae
Pada

dan

percobaan

laboratorium, telah ditemukan kutu kepala terinfeksi Rickettsia


prowazekii. Selain itu ditemukan pula Bartonella quintana yang
merupakan penyebab demam trench.14
X.

PROGNOSIS
Infestasi ini pada dasarnya tidak berbahaya. Namun, stigma yang berkaitan
dengan kutu kepala dan trauma psikologis yang dialami oleh beberapa orang
dalam upayanya untuk menghilangkan infeksi, lebih besar dibandingkan
dampak fisik yang disebabkan akibat infestasi kutu. Reaksi sensitasi terhadap air
liur dan kotoran kutu dapat menyebabkan iritasi lokal dan eritema. Infeksi
sekunder akibat garukan mungkin terjadi. Kutu telah diidentifikasi sebagai

22

vektor mekanis utama dari pioderma pada kulit kepala yang disebabkan
streptococcus dan staphylococcus yang biasanya ditemukan pada kulit.
Prognosis baik bila higiene diperhatikan.1,15

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Handoko RP. Penyakit Parasit Hewan. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,
editors. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. p. 119-20.
2. Burns DA. Diseases caused by Arthropods and Other Noxious Animals.
In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rook's textbook of
dermatology. 8th ed. London: Wiley-Blackwell; 2010. p. 38.15-.20.
3. Wolff K, Johnson RA. Arthropod Bites, Stings, and Cutaneous Infections.
In: Wolff K, Johnson RA, editors. Fitzpatrick's Colour Atlas and Synopsis
of Clinical Dermatology. 6th ed. New York: McGraw-Hill; 2009. p. 86063.
4. Guenther Lyn. Pediculosis and Pthiriasis (Lice Infestation). 2015.
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/225013-overview
(access on April 17th 2015)
5. Madke B, Khopkar U. Pediculosis Capitis: An Update. Indian J Dermatol
Venereol

Leprol

[serial

online].

2012.

Available

from:

http://ijdvl.com/text.asp?2012/78/4/429/98072 (access on April 21th 2015)


6. Flinders Dc, Schweinitz PD. Pediculosis and Scabies: A Treatment
Update. American Family Physician. 2004;69:341-8.
7. Nutanson I, Steen CJ, Schwartz RA, Janniger CK. Pediculosis humanus
capitis an update. Acta Dermatoven APA. 2008;17:p. 147-53.
8. Schwartz
Robert
A.
Piedra.
2014.
Available

from

http://emedicine.medscape.com/article/1092330 (access on April 21th


2015)
9. Sipsas Nikolaos V. Trichosporon species and Blastoschizomyces capitatus.
2015. Available from http://www.antimicrobe.org/b262.asp (access on
April 20th 2015)
10. Kao
F
Grace.

Tinea

Capitis.

2014.

Available

from

http://emedicine.medscape.com/article/1091351 (access on April 21th


2015)
11. Cole Charles. Diagnosis and Treatment of Impetigo. Am Fam
Physician. 2007 Mar 15;75(6):859-864.
12. Mannitoba Public Health Branch. Pediculosis Capitis (Head Lice). 2014.
Available

from

24

http://www.gov.mb.ca/health/publichealth/cdc/protocol/pediculosis (access
on April 17th 2015)
13. Frankowski Barbara L. Clinical Report Head Lice. American Academy of
Pediatric 2010;126:392403. Available from
www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2010-1308 (diakses pada tanggal
22 April 2015)
14. Burkhart CN, Burkhart CG. Scabies, Other Mites, and Pediculosis. In
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K,
editors. Fitzpatrick's Dermatology of General Medicine. 8th ed. New York:
McGraw-Hill; 2012. p. 3659.
15. Burgess IF, Dodd CS. Head Lice. In: Williams H, Bigby M, Duepgen T,
Herxheimer A, Naldi L, Rzany B, editors. Evidence-based Dermatology.
2nd ed. London: BMJ Books; 2008. p. 471.