Anda di halaman 1dari 17

radioterapi pada kasus onkologi saluran reproduksi

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Saat ini di Indonesia banyak pasien kanker. Kanker terdiri dari berbagai jenis, salah satunya
adalah kanker leher rahim (Ca Cervix). Ca cerviks adalah sekelompok jaringan yang tumbuh
secara terus-menerus yang tidak terbatas, tidak terkoordinasi dan tidak berguna bagi tubuh
sehingga jaringan di sekitarnya tidak dapat berfungsi dengan baik (Sarwono, 2006). Pada Ca
Cervix dapat dilakukan terapi, seperti radio terapi. Radioterapi atau disebut juga terapi radiasi
adalah terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari energi radioaktif (Wikipedia, 2011).
Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2012, angka kematian penduduk dunia akibat
mencapai 8,2 juta kasus. Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker pada semua usia adalah
0,14%. Data di tahun 2013 menunjukkan bahwa kanker serviks menyumbang sebesar 0,08% dari
semua kasus kanker (Data Riset Kesehatan Dasar, 2013).
Pada radioterapi ini merupakan suatu jenis pengobatan yang menggunakan atau
memanfaatkan sinar pengion (seperti sinar-X dan sinar Gamma) serta partikel lain (neutron,
proton, dll) untuk mematikan sel-sel kanker tanpa akibat fatal pada jaringan sehat lainnya. Terapi
radiasi ini akan mematikan sel-sel kanker jika mencapai dosis tertentu. Radioterapi ini digunakan
sebagai terapi paliatif yaitu untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman
akibat kanker. Radioterapi ini juga digunakan sebagai terapi adjuvant yaitu untuk mengurangi
resiko kekambuhan dari kanker. Teknik dalam radioterapi ini adalah dengan pemberian sinar.
Pada pemberian sinar ini ada dua macam cara, yaitu pemberian sinar dari luar dan pemberian
sinar dari dalam.
Proses radioterapi yang tidak begitu menyakitkan dan dapat mengurangi kekambuhan
bermafaat bagi pasien-pasien dengan kanker. Banyak pasien dengan kanker dianjurkan untuk
menjalani radioterapi. Selain untuk mengurangi rasa sakit akibat kanker, radioterapi ini akan
mengecilkan kanker atau tumor pada penderita kanker, sehingga pasien-pasien dengan kanker
yang menjalani radioterapi dapat meningkatkan kualitas hidup.

1.2

Rumusan Masalah

Bagaimana penerapan proses radioterapi pada pasien dengan Ca Cerviks?


1.3

Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum


Mengetahui proses pemberian radioterapi pada pasien dengan Ca Cerviks.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi konsep dasar radioterapi.
2. Mengidentifikasi kondep dasar Ca Cerviks.

1.4

Manfaat Penulisan
Mahasiswa keperawatan dan profesi keperawatan mampu memahami tentang penerapan
pemberian radio terapi pada pasien dengan Ca cerviks. Selain itu juga, mahasiswa keperawatan
dan profesi keperawatan mengetahui efek samping yang ditimbulkan oleh klien setelah
menjalani radioterapi.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Radioterapi

2.1.1 Definisi dan Tujuan


Radioterapi adalah jenis terapi yang menggunakan radiasi tingkat tinggi untuk
menghancurkan sel-sel kanker. Baik sel-sel normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh
radiasi ini. Radiasi akan merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi ataupun
pembelahan sel-sel kanker akan terhambat. Sekitar 50-60% penderita kanker memerlukan
radioterapi.
Tujuan radioterapi adalah untuk pengobatan secara radikal, sebagai terapi paliatif yaitu
untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman akibat kanker dan sebagai
adjuvant yakni bertujuan untuk mengurangi risiko kekambuhan dari kanker. Dengan pemberian
setiap terapi, maka akan semakin banyak sel-sel kanker yang mati dan tumor akan mengecil. Selsel kanker yang mati akan hancur, dibawa oleh darah dan diekskresi keluar dari tubuh. Sebagian
besar sel-sel sehat akan bisa pulih kembali dari pengaruh radiasi.

2.1.2 Dasar-Dasar Biologi Radioterapi


Jaringan bila terkena radiasi penyinaran, akan menyerap energi radiasi dan akan
menimbulkan ionisasi atom-atom. Ionisasi tersebut dapat menimbulkan perubahan kimia dan
biokimia yang pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan biologik. Kerusakan sel yang terjadi
itu dapat berupa kerusakan kromosom, mutasi, perlambatan pembelahan sel dan kehilangan
kemampuan untuk bereproduksi.
Radiasi pengion adalah berkas pancaran energi atau partikel yang bila mengenai sebuah
atom akan menyebabkan terpentalnya elektron keluar dari orbit elektron tersebut. Pancaran
energi dapat berupa gelombang elektromagnetik, yang dapat berupa sinar gamma dan sinar X.
Pancaran partikel dapat berupa pancaran elektron (sinar beta) atau pancaran partikel netron, alfa,
proton. Jenis radiasi pengion berupa sinar Gamma dan sinar X. Sinar Gamma merupakan
pancaran gelombang elektromagnetik yang berasal dari disintegrasi inti cobalt 60 radioaktif.
Akibat dari disintegrasi inti tersebut akan terbentuk satu pancaran energi berupa sinar gamma
dan 2 pancaran partikel, yaitu pancaran elektron disebut sinar beta dan pancaran inti helium
disebut sinar alfa.
Sinar gamma digunakan dalam radioterapi, sedangkan sinar alfa dan sinar beta digunakan
dalam terapi radiasi internal. Sinar X atau photon merupakan pancaran gelombang
elektromagnetik yang dikeluarkan oleh pesawat liner akselerator, digunakan untuk radiasi
eksterna. Radiasi pengion bila mengenai sel tumor maligna, akan menimbulkan ionisasi air dan
oksigen ekstraseluler dan intraseluler sehingga menjadi ion H+, ion OH- dan ion oksigen. Ion ini
bersifat tidak stabil dan dapat berubah menjadi radikal H, radikal OH dan radikal oksigen.
Radikal ini akan bereaksi dengan DNA dan menimbulkan kerusakan DNA dan akhirnya
menimbulkan kematian sel maligna.
Reaksi yang terjadi antara radiasi pengion dengan sel tumor maligna bisa berupa reaksi
direct dan reaksi indirect. Reaksi direk adalah interaksi yang terjadi antara radiasi pengion
dengan sel tumor maligna, dalam hal ini interaksi langsung antara radiasi pengion dengan DNA
didalam kromosom pada inti. Atom-atom yang menyusun molekul pada DNA, mengalami
ionisasi, akibatnya DNA kehilangan fungsi-fungsinya sehingga sel-sel tumor mengalami
terhambat dalam proliferasinya. Reaksi indirek adalah reaksi terpenting dalam proses interaksi
radiasi pengion dengan sel tumor maligna. Molekul air dan molekul oksigen yang terdapat

intraseluler dan ekstraseluler akan terkena radiasi pengion. Akibatnya elektron akan terlempar
keluar orbit dan akan berubah menjadi ion H+ dan ion OH- serta ion oksigen. Ion-ion ini bersifat
tidak stabil dan akan berubah menjadi radikal H, radikal OH dan radikal oksigen.
Radikal-radikal tersebut secara kimiawi sangat berbeda dengan molekul asalnya dan
mempunyai kecenderungan besar untuk bereaksi dengan DNA. Akibat dari reaksi tersebut maka
akan terjadi kerusakan DNA yang dapat berupa putusnya kedua backbone DNA (double strand
break), satu backbone DNA putus (single strand break), kerusakan base (base damage),
kerusakan molekul gula (sugar damage), DNA-DNA crosslink dan DNA protein cross link.
Diantara reaksi yang terjadi didalam sel tumor maligna, selain kerusakan DNA pada kromosom,
akibat reaksi direct dan indirect dari radiasi pengion, juga terjadi suatu efek sitologis yang
disebut abrasi kromosom. Radiasi akan menghambat proses pembelahan sel.
Radiasi yang terjadi pada saat sel tumor dalam proses interfase dan mulai membelah,
beberapa sel akan mengalami aberasi kromosom. Akibat aberasi kromosom ini dapat terjadi
beberapa kemungkinan yaitu: kematian sel yang segera terjadi (early cell death), aberasi terus
menerus setelah beberapa kali sel membelah. Terdapat beberapa jenis aberasi kromosom: satu
fragmen kromosom akan berpindah tempat ke kromosom lain, satu fragmen kromosom
berpindah tempat pada lengan yang lain pada kromosom yang sama, satu fragmen kromosom
berpindah tempat pada lengan yang sama pada kromosom yang sama.
2.1.3 Jenis Radioterapi
Dikenal beberapa jenis radioterapi, yaitu radioterapi eksternal dimana terdapat jarak antara
sumber radiasi dengan kulit penderita dengan Cobalt 60 atau linear accelerator. Lapangan
operasi digambar lebih dahulu sebelumnya atau pada hari radiasi dan penderita disuruh datang
pada jam yang telah ditentukan tanpa persiapan khusus. Brachiterapi yaitu sumber radiasi
ditempelkan pada tumor, contohnya brachiterapi intracavitair karsinoma serviks dan radiasi
internal dengan memasukkan cairan radioaktif secara oral ataupun intravena. Misalnya dengan
menggunakan Jodium 131 radioaktif untuk terapi adenokarsinoma papiliferum dan folikular
tiroid.
A.
1.

RADIOTERAPI EKSTERNAL
Peranan Radioterapi Eksternal Seluruh Panggul (whole pelvis)

Radioterapi eksternal pada seluruh panggul (whole pelvis radiation) dapat digunakan untuk
radioterapi tumor-tumor yang terletak di panggul seperti karsinoma vesica urinaria, prostat,
serviks, uterus dan rektum. Kebijakan apakah metastasis limfonodi dimasukkan dalam target
volume lapangan radioterapi eksternal whole pelvis tergantung pada derajat histologi, stadium
tumor primer, pola infiltrasi tumor, pola metastasis jauh. Dosis maksimum pada tumor-tumor di
panggul tergantung dari dosis toleransi maksimal jaringan normal di panggul.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya dosis radiasi eksternal whole pelvis adalah
umur penderita dimana terapi radiasi kurang dapat ditoleransi pada penderita umur tua dengan
keadaan umum yang buruk, beberapa keadaan yang menyebabkan turunnya dosis toleransi
seperti pada kelainan vaskuler pada diabetes, arteriosklerosis yang diikuti hipertensi, penyakit
pada kolon dan rektum sebelumnya, pembedahan maupun kemoterapi yang telah diberikan.
Bagian superior panggul secara normal terisi oleh usus halus ileum yang bergerak bebas dengan
dosis toleransi maksimum adalah 4 Gy dan 50 Gy dalam 4,5 sampai 5 minggu, sehingga dosis
radiasi maksimum whole pelvis tidak boleh melebihi dosis toleransi usus halus sebesar 45 Gy-50
Gy.
Dosis yang radikal, lebih tinggi dari 50 Gy, akan menyebabkan adhesi (perlekatan
abnormal) segmen usus yang teradiasi serta atrofi villi chorialis sehingga fungsi absorbsi
makanan dan cairan terganggu. CT scan panggul menunjukkan vesica urinaria yang penuh
terbukti dapat mendorong usus halus ke superior, keluar lapangan radiasi whole pelvis, sehingga
disarankan pada saat radiasi whole pelvis, sebaiknya vesica urinaria penuh.
2.

Definisi target volume pada karsinoma serviks uteri


Target volume meliputi tumor primer, limfonodi pelvis, limfonodi parailiaka dan limfonodi
iliaka komunis. Target volume ini harus mendapatkan dosis yang homogen sebesar 50 Gy. Agar
setiap organ yang menjadi target volume mendapatkan dosis 50 Gy secara homogen, dapat
dilaksanakan dengan menggunakan 4 lapangan radiasi yaitu lapangan anterior, posterior, lateral
kanan, lateral kiri. Sehingga target volume berupa sebuah "kotak" yang terdapat didalam panggul
dimana serviks, korpus uteri, parametrium, salfing, tuba, ovarium kelenjar limfe regional
(limfonodi paraservikal, limfonodi parailiakal, limfonodi paraaortal) sebagian dinding lateral
panggul keras, bagian anterior rektum, bagian posterior vesika urinaria, semuanya masuk
didalam "kotak" target volume. Teknik ini disebut "box system" yang terutama digunakan pada
karsinoma serviks uteri stadium inoperable yaitu IIB, IIIA, IIIB yang tumornya masih utuh, yang
infiltratif ke parametrium atau vagina. Untuk karsinoma serviks uteri stadium IA/1B post operasi

pan histerektomi dan karsinoma serviks IIA post operasi Wertheim, teknik radiasi whole pelvis 2
lapangan anterior-posterior dapat digunakan karena yang harus dieradikasi dengan radioterapi
berupa mikroskopik residual disease karena stadiumnya masih dini sehingga 2 lapangan AP-PA
sudah mencukupi.
Batas-batas lapangan anterior posterior whole pelvis meliputi batas atas tepi atas vertebra
lumbal V, batas bawah tepi bawah foramen obturatoria, batas lateral 2 cm lateral dari linea
inominata. Batas-batas lapangan radiasi lateral whole pelvis meliputi batas atas corpus vertebra
lumbal V, batas bawah foramen obturatoria, batas posterior adalah tepi posterior simfisis ossis
pubis.
3.

Radioterapi Eksternal Pada Karsinoma Serviks Uteri Stadium Inoperable IIb, IIIA Dan IIIB
Target volume adalah proksimal vagina, forniks vagina, portio uteri, serviks uteri, korpus
uteri, parametrium, salfing, tuba, ovarium, kelenjar limfe regional (Limfonodi paraservikal,
limfonodi parailiakal, limfonodi paraaortal) sebagian dinding lateral panggul keras, bagian
anterior rektum, bagian posterior vesika urinaria. Teknik radiasi whole pelvis menggunakan
sistem box 4 lapangan dengan batas lapangan seperti sudah disebutkan sebelumnya. Dosis yang
digunakan adalah 46 Gy- 50 Gy dalam 23-25 fraksi radiasi, 2 Gy per fraksi. Kontribusi dosis dari
lapangan anterior 0,6 Gy, lapangan posterior 0,6 Gy, lapangan lateral kanan 0,4 Gy, lapangan
lateral kiri 0,4 Gy. Total dalam 1 hari mendapat dosis per fraksi 2 Gy. Kontribusi dosis dapat
berubah sesuai bentuk panggul, panggul semakin besar dan pipih maka kontribusi dosis dari
lapangan lateral makin kecil < 0,4 Gy, kontribusi dari lapangan anterior dan posterior > 0,6 Gy.

B.

BRAKITERAPI KARSINOMA SERVIKS


Brakiterapi adalah radiasi dalam jarak yang dekat. Sumber radiasi berbentuk kabel,
lempengan yang dimasukkan ke dalam tumor untuk menyalurkan radiasi dengan dosis tinggi.
Sumber radioaktif ini adalah cesium, iridium dan iodine. Pengobatan tipe ini sangat efektif untuk
beberapa jenis kanker, seperti kanker serviks, beberapa kasus kanker leher dan kepala serta
kanker paru-paru.
Terdapat dua jenis brakiterapi. Radiasi intrakaviter adalah salah satu jenis brakiterapi
dimana sumber radiasi ditempatkan pada suatu gagang dan dimasukkan ke dalam organ tubuh,
seperti uterus atau vagina. Radiasi interstisial, pada jenis ini sumber radiasi langsung dimasukkan
pada jaringan tubuh dan diletakkan langsung pada tumor. "High dose rate brachytherapy"
merupakan jenis brakiterapi yang baru yang sangat populer belakangan ini. Sebuah mesin yang

memiliki sumber radiasi dengan aktivitas yang sangat tinggi, kemudian sumber itu disalurkan
melalui kateter ke organ yang ada di dekat tumor.
Brakiterapi intracaviter pada karsinoma serviks uteri memungkinkan memberikan dosis
yang tinggi pada sentral tumor primer di serviks uteri untuk mendapatkan kontrol tumor lokal
yang maksimal tanpa melebihi dosis toleransi maksimal pada jaringan normal sekitar tumor. Hal
ini dimungkinkan karena uterus normal dan vagina bersifat relatif radioresisten, sehingga
penurunan dosis yang tajam pada jarak 2 cm dari source radiactive didalam seviks dan uterus
serta vagina akan melindungi jaringan normal sekitar serviks yaitu rektum, vesika urinaria dan
intestinum ileum.
C.

RADIOTERAPI RADIKAL
Radioterapi radikal diindikasikan untuk kasus-kasus nonoperable. Pengobatan terdiri dari
radioterapi eksternal (24 kali pengobatan selama 5 minggu) dilanjutkan dengan pengobatan
intrakavitas selama 3 kali. Terapi ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pemberian
kemoterapi dengan sisplatin. Radioterapi ajuvan diindikasikan sebagai pengobatan lanjutan pada
pasien post operasi histerektomi radikal dimana didapatkan sel ganas pada limfonodi pelvis
dengan batas yang tertutup (25 kali pengobatan selama 5 minggu).

2.1.4 Efek Samping Radioterapi


Efek samping radioterapi bervariasi pada tiap pasien. Secara umum efek samping tersebut
tergantung dari dosis terapi, target organ dan keadaan umum pasien. Beberapa efek samping
berupa kelelahan, reaksi kulit (kering, memerah, nyeri, perubahan warna dan ulserasi),
penurunan sel-sel darah, kehilangan nafsu makan, diare, mual dan muntah bisa terjadi pada
setiap pengobatan radioterapi. Kebotakan bisa terjadi tetapi hanya pada area yang terkena
radioterapi. Radiasi tidak menyebabkan kehilangan rambut yang total. Pasien yang menjalani
radiasi eksternal tidak bersifat radioaktif setelah pengobatan sehingga tidak berbahaya bagi orang
di sekitarnya. Efek samping umumnya terjadi pada minggu ketiga atau keempat dari pengobatan
dan hilang dua minggu setelah pengobatan selesai.
Untuk mengurangi efek samping radioterapi beberapa hal perlu dilakukan. Bila terdapat
kelelahan, pasien dianjurkan untuk tetap beraktivitas seperti biasa, bila memang diperlukan maka
aktivitas bisa dikurangi, usahakan untuk bisa tidur nyenyak di malam hari serta beristirahat yang
cukup. Bila terjadi kehilangan nafsu makan maka sebaiknya pasien dianjurkan untuk makan
segala makanan yang diinginkan, makan dalam jumlah kecil tetapi sering, hindari memakan

makanan yang kering, minum banyak air, bisa diberikan makanan suplemen untuk meningkatkan
nafsu makan. Perubahan kulit yang terjadi bisa dikurangi dengan tidak menggunakan produkproduk pada kulit sebelum radioterapi, menggunakan baju yang tidak terlalu sempit,
menggunakan sabun yang lembut dan air hangat pada saat membasuh tubuh, dilarang
menggosok terlalu keras pada area yang terkena radioterapi, hindari temperatur yang terlalu
panas atau terlalu dingin serta hindari sinar matahari langsung.
Pada umumnya efek samping dari radioterapi akan hilang dengan sendirinya setelah
pengobatan dihentikan. Tetapi pada beberapa kasus yang jarang akan terjadi efek samping yang
berkepanjangan karena radiasi menyebabkan kerusakan pada organ dalam yang berhubungan
atau berdekatan dengan tempat tumor.
2.2

Kanker Servik

2.2.1 Definisi Kanker Servik


Kanker leher rahim atau yang dikenal dengan kanker serviks yaitu keganasan yang terjadi
pada serviks (leher rahim) yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak
liang senggama atau vagina (Depkes RI, 2006). Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh
di dalam leher rahim atau serviks yang terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempel
pada puncak vagina (Diananda, 2009). Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel abnormal
pada daerah batas antara epitel yang melapisi ekto serviks (porsio) dan endoservik kanalis servik
salis yang disebut Squamo Columnar Junction). (Wiknjosastro, 2005).
Kanker serviks dalah karsinoma pada leher rahim dan menempati urutan pertama di dunia
(Sjamjuhidayat, 2005). Kanker serviks adalah keganasan nomor tiga paling sering terjadi pada
sistem reproduksi dan menempati urutan ke delapan dari keganasan pada perempuan di Amerika
(Yatim, 2005).
2.2.2 Etiologi Kanker Servik
Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnorm dan membelah secara tidak
terkendali, jika sel-sel serviks terus membelah, maka akan terbentuk suatu masa jaringan yang
disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas maka keadaannya
akan disebut kanker serviks. Penyebab kanker serviks adalah idiopatik atau tidak diketahui secara
pasti (Yatim, 2005).

Ada beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks,
antara lain adalah :
1.

Umur
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin tua uasia
seseorang, maka semakin meningkat resiko terjadinya kanker leher rahim. Meningkatnya resiko
kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah
lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta semakin melemahnya sistem kekebalan
tubuh akibat usia (Diananda, 2009).
Usia pertama kali menikah atau pertama kali melakukan hubungan seksual. Penelitian
nunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar
kemungkinan mendapat kanker serviks. Menikah pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu
muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim 10-20 kali
lebih besar daripada mereka yang menikan pada usia > 20 tahun. Hubungan seks idealnya
dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat
dari sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang
terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa baru matang
setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia
remaja, paling rawan dilakukan di bawah usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan
sel-sel mukosa ada serviks. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya
masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar termasuk
zat-zat yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi
kanker (Diananda, 2009).

2.

Paritas (jumlah kelahiran)


Kanker serviks sering dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering wanita
melahirkan semakin tinggi risiko terkena kanker serviks, ditambah lagi dengan jarak persalinan
yang terlalu pendek. Seorang perempuan yang sering melahirkan termasuk golongan risiko tiggi
untuk terkena penyakit kanker serviks. Dengan seringnya seorang wanita melahirkan, maka akan
berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari
luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papiloma Virus (HPV) yang dianggap
sebagai penyebab terjadinya kanker serviks (Diananda, 2009).

3.

Berganti pasangan seksual


Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi dan sering berganti-ganti pasangan akan
memungkinkan tertularnya penyakit kelamin salah satunya Human Papiloma Virus (HPV).
Selain itu pasangan yang sering berganti-ganti pasangan dan pernah menikah atau berhubungan
seksual dengan wanita yang menderita kanker serviks dapat meningkatkan terjadinya kanker
serviks pada pasangan yang selanjutnya. Human Papiloma Virus (HPV) akan mengubah sel-sel
di permukaan mukosa hingga membelah menjadi banyak sehingga tidak terkendali sehingga
menjadi kanker (Diananda, 2009).

4.

Infeksi virus
Human Papiloma Virus (HPV) adalah virus penyebab kutil genetalis (Kandiloma
Akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual (Rasjidi, 2009).

5.

Sosial ekonomi yang rendah


Tingkat sosial ekonomi seseorang dapat mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Menurut
Suwiyoga (2007) pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya penelitian yang menunjukkan
bahwa infeksi HPV lebih prevalen pada wanita dengan tinkat pendidikan dan pendapatan yang
rendah. Adanya kaitan yang erat antara status sosial ekonomi rendah dengan status gizi karena
status gizi berhubungan dengan daya tahan tubuh baik terhapat infeksi maupun kemampuan
untuk melawan keganasan. Dari beberapa penelitian melaporkan defisiensi terhadap asam folat,
vitamin C, vitamin E, beta karotin atau retinol dihubungkan dnegan peningkatan resiko kanker
serviks. Menurut Rasjidi (2009) dikaitkan dengan ketidakmampuan dalam melakukan tes pap
smear secara rutin dan pendidikan yang rendah.

6.

Merokok dan AKDR


Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingan
dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok
mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di alam rokok. Nikotin mempermudah semua
selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan,

par-paru maupun serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin
yang dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker rahim (Diananda, 2009).
Dilihat dari segi epidemiologinya, perokok aktif dan pasif berkontribusi pada
perkembangan kanker serviks yaitu 2 sampai 5 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak
merokok. Pada wanita yang merokok terdapat nikotin yang bersifat ko karsinogen di cairan
serviksnya sehingga dapat mendorong terjadinya pertumbuhan kanker (Suwiyoga, 2007).
AKDR akan berpengaruh terhadap servik yaitu bermula dari adanya erosi servik yang
kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. Hal ini dapat sebagai
pencetus terbentuknya kanker serviks (Yatim, 2005).
2.2.3 Manifestasi Klinis Kanker Servik
Manifestasi klinis kanker serviks menurut Diananda (2009) :
1.

Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosis jaringan.

2.

Perdarahan yang dialami segera setelah senggama (75%-80%).

3.

Perdarahan yang terjadi diluar senggama.

4.

Perdarahan spontan saat defekasi.

5.

Perdarahan diantara haid.

6.

Rasa berat dibawah dan rasa kering di vagina.

7.

Anemia akibat pendarahan berulang.

8.

Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut syaraf.

2.2.4 Patofisiologi Kanker Servik


Kanker insitu pada serviks adalah keadaan dimana sel sel neoplastik terjadi pada seluruh
lapisan epitel disebut dysplasia. Dysplasia merupakan neoplasia serviks intraephitelial (CNI).
CNI terbagi menjadi tiga tingkat yaitu tingkat I ringan, tingkat II sedang, tingkat III berat. Tidak
ada gejala spesifik pada kanker serviks, perdarahan merupakan satu-satunya gejala yang nyata.
Tetapi gejala ini hanya ditemukan pada tahap lanjut. Sedang untuk tahap awal tidak. CNI
biasanya terjadi di sambungan epitel skuamosa dengan epitel kolumnar dan mukosa endoserviks.
Keadaan ini tidak dapat diketaui dengan cara panggul rutin, pap smear dilaksanakan untuk
mendeteksi perubahan. Neoplastik hasil apusan abnormal dilanjutkan dengan biopsy untuk
memperoleh jaringan guna pemeriksaan sitilogik. Sedang alat biopsy digunakan dalam biopsy

kolposkop fungsinya mengarahkan tindakan biopsy dengan mengambil sample, biopsy kerucut
juga harus dilakukan.
Stadium dini CNI dapat di angkat seluruhnya dengn biopsy kerucut atau dibersihkan
dengan laser kanker atau bedah beku. Atau biasa juga dengan histerektomi bila klien
merencanakan untuk tidak punya anak. Kanker invansive dapat meluas sampai ke jaringan ikat,
pembuluh limfe dan vena. Vagina ligamentum kardinale, endometrium penanganan yang dapat
dilaksanakan yaitu radioterapi atau histerektum radial dengan mengangkat uterus atau ovarium
jika terkena keenjar limfe aorta diperlukan kemoterapi. (Price, Slyvia A, 2006).
2.2.5 Stadium Klinik Kanker Servik
Penentuan tahapan klinis penting dalam memperkirakan penyebaran penyakit, mambantu
prognosis rencana tindakan dan memberikan arti perbandingan dari metde terapi. Tahapan
stadium klinis yang dipakai sekarang ialah pembagian yang ditentukan oleh The International
Federation Of Gynecologi And Ostetric (FIGO) tahun 1967. Pembagian ini didasarkan atas
pemeriksaan klinik, radiologi, suktase endoserviks dan biopsi. Tahapan-tahapan tersebut yaitu :
Stadium
Pre invasif
Stadium 0
Karsinoma Invasif
Stadium I
Stadium I A
Stadium I B
Stadium II
Stadium II A
Stadium II B
Stadium III

Deskripsi
Karsinoma in situ, karsinoma intraepitheal.
Kanker terbatas pada serviks uteri.
Kanker preklinik yang di diagnosa hanya secara mikroskopis.
Lesi dengan dimensi lebih besar dari stadium I A
Kanker meluas keluar serviks, tetapi belum mencapai dinding
panggul. Kanker sudah mengenai vagina 1/3 bagian bawah.
Parametrium masih bebas.
Parametrium sudah terkena.
Kanker sudah mencapai panggul. Pada pemeriksaan rektal
tidak ada celah antara tumor dan dinding panggul.

Stadium III A
Stadium III B

Penyebarannya sudah sampai 1/3 distal vagina


Belum sampai dinding vagina.
Penyebaran mencapai dinding vagina dan

Stadium IV

hidronefrosis atau tidak berfungsinya ginjal.


Kanker sudah meluas keluar pelvis atau secara klinik sudah

Stadium IV A
Stadium IV B

mengenai vesika urinaria dan rektum.


Menyebar ke organ disekitarnya.
Telah terjadi penyebaran ke organ yang lebih jauh lokasinya.

atau

ada

Tabel 1. Stadium Kanker Serviks Menurut Klasifikasi FIGO


2.2.6 Komplikasi Kanker Servik
Komplikasi berkaitan dengan intervensi setelah pembedahan. Komplikasi tesebut meliputi
fistula uretra, disfungsi kandung kemih, emboli pulmonal, limfosit, infeksi pelvis, obstruksi usus
besar dan fistula rektovaginal. Komplikasi yang dialami segera saat terapi radiasi adalah reaksi
kulit, sistitis radiasi dan enteritis. Komplikasi berkaitan pada kemoterapi tergantung pada
kombinasi obat yang digunakan. Masalah efek samping yang sering terjadi adalah mual dan
muntah karena penggunaan kemoterapi yang mengandung sisplatin (Gale Danielle, 2000).
2.2.7 Penatalaksanaan Kanker Servik
Terapi karsinoma serviks dilakukan bila diagnosis telah dipastikan secara histologik dan
sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim medis yang sanggup melakukan
rehabilitasi dan pengamatan lanjutan (tim kanker/tim onkologi). Pemilihan pengobatan kanker
serviks tergantung pada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia dan keadaan umum
penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi. Lesi tingkat rendah biasanya tidak
memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah
diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Pengobatan pada lesi pre kanker bisa berupa
pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang abnrmal tanpa melukai jaringan yang sehat
di sekitarnya (Wiknjosastro, 1997).
1.

Terapi penyinaran (radioterapi)


Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan parametrial
dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV sebaiknya diobati dengan
radiasi. Metoda radioterapi disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau
paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke
sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul, dengan tetap mempertahankan
sebanyak mungkin kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus
halus, ureter. Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B.
Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang
diberikan secara selektif pada stadium IV A. Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker
invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi

tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Ada dua jenis
radioterapi yaitu radiasi eksternal yaitu sinar berasal dari sebuah mesin besar dan penderita tidak
perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6
minggu. Keduannya adalah melalui radiasi internal yaitu zat radioaktif terdapat di dalam sebuah
kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama
itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2
minggu. Efek samping dari terapi penyinaran adalah iritasi rektum dan vagina, kerusakan
kandung kemih dan rektum dan ovarium berhenti berfungsi (Gale & Charette, 2000).
a.

Tahapan Radioterapi

1)

Pre Radioterapi
Persiapan radioterapi meliputi pemeriksan laboratorium lengkap, BNO-IVP (pemeriksaan
saluran kemih dengan cairan kontras), pemeriksaan radiologik tulang-tulang pelvis dan lumbal,
mempersiapkan mental penderita. Pemeriksaan laboratorium meliputi darah tepi, gula darah,
kimia darah, EKG. Bila ada anemia harus dikoreksi dulu, karena keadaan anemia akan
mengurangi kepekaan sel-sel kanker terhadap radiasi, infeksi lokal juga harus diobati dulu
dengan antibiotika lokal ataupun sistemik. Pemeriksaan BNO-IVP diperlukan untuk menetapkan
fungsi ginjal dan untuk menentukan apakah ureter terkena atau tidak. Mental penderita
dipersiapkan dengan cara menjelaskan tentang penyakitnya, cara radiasi (luar atau intrakaviter),
efek samping, lama dirawat di rumah sakit, tentang haid dan hubungan seksual di kemudian hari.
Persiapan radiasi meliputi konsultasi, stimulasi.

a)

Konsultasi
Merupakan tahap paling awal dari pengobatan radioterapi. Pada saat konsultasi, ahli
radioterapi akan mengambil data pasien secara akurat, riwayat penyakit serta berbagai
pemeriksaan laboratorium lainnya yang mungkin diperlukan, Stimulasi kemudian dilakukan,
yakni perencanaan radioterapi yang akan diberikan. Pada tahap ini pasien akan datang ke bagian
radioterapi, kemudian berbaring dibawah suatu mesin yang disebut stimulator. Beberapa
peralatan mungkin diperlukan untuk mencegah pasien bergerak atau merubah posisi agar
pengobatan diberikan pada tempat yang tepat. Kemudian akan dibuat beberapa tanda dan
mungkin beberapa foto rontgen yang akan diambil. Foto rontgen yang diambil itu pada nantinya
akan mempermudah ahli radioterapi untuk melakukan pengobatan di kemudian hari, karena
pasien akan mendapatkan radioterapi selama beberapa kali.

b)

Simulasi
Simulasi merupakan tahap yang penting dalam proses radioterapi. Perlindungan dan
pengaman diperlukan selama pasien menjalani pengobatan radioterapi, yang akan melindungi
sel-sel normal dari efek radiasi. Sebelum hari H pelaksanaan radioterapi, sebelumnya pasien
akan diharuskan untuk menjalani simulasi terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui titik-titik mana saja tepatnya radiasi harus diberikan. Uji CT scan juga akan
dilakukan agar area-area yang akan dilakukan terapi radiasi lebih akurat. Pada tahap ini pula,
area atau titik untuk radiasi akan diberikan tanda menggunakan tinta yang sifatnya permanen.
Hal ini dilakukan agar ketika proses radiasi dilakukan, onkologis dapat mengetahui persis area
yang memang seharusnya dilakukan terapi radiasi. Proses simulasi akan dilakukan selama satu
jam. Selain itu, hasil dari proses ini akan menentukan seberapa sering radioterapi harus
dilakukan dan juga berapa banyak treatmen yang harus anda jalani.

2)

Intra Radioterapi
Jumlah treatment radiasi yang diberikan pada setiap pasien akan berbeda. Ini
dikalkulasikan berdasar pada tipe kanker serviks yang di derita dan lokasi kankernya. Saat tahap
ini, onkologis radiasi anda juga akan mendiskusikan kembali apakah treatment radiasi yang
sudah direncakan tepat dan sesuai atau tidak.

a)

Radioterapi Eksternal
Untuk proses radioterapi eksternal, saat berlangsungnya terapi, sinar akan diarahkan ke
tubuh dengan menggunakan semacam alat yang mirip dengan alat yang digunakan untuk
penyinaran sinar x. Terapi semacam ini, radioterapi eksternal, dapat dilakukan di rumah sakitrumah sakit yang khusus untuk terapi radioaktif. Biasanya, untuk terapi akan dilayani di saat-saat
hari kerja, sehingga saat akhir pekan pasien dapat menggunakan waktunya untuk beristirahat.
Bagi penderita kanker serviks yang masih pada stadium awal, terapi dengan radioaktif akan
dilakukan selama lima minggu.

b)

Radioterapi Internal/Brakiterapi
Berbeda dengan terapi radioaktif eksternal, pada radioterapi ini, sumber dari gelombang
radioaktif akan langsung dimasukan ke dalam vagina yang akan ditempatkan hingga bagian

rahim. Proses seperti ini akan dilakukan dalam kurung waktu berjam-jam. Bahkan pada kasuskasus tertentu, proses seperti ini dapat berlangsung hingga hitungan hari. Proses seperti ini
dimaksudkan agar memberi dorongan pada treatmen-treatmen yang sudah diberikan. Terkadang
dokter akan merekomendasikan anda untuk menjalani radioterapi setelah operasi pada kanker
selesai dilakukan.
3)

Post Radioterapi
Ketika treatment dan radioterapi sudah selesai, pasien tetap akan diharuskan untuk kembali
ke rumah sakit. Ini ditujukan agar onkologis dapat memberikan follow up untuk apa yang harus
dilakukan dan hal-hal yang berkaitan dengan treatment serta penyakit kanker serviks yang
diderita.
Perhatikan efek samping :

a)

Efek samping sementara : diare, iritasi kandung kemih, perasaan mual, perdarahan pada vagina,
rasa sakit dan kemerahan pada bagian vulva.

b)

Efek samping jangka panjang

1.

Jaringan tubuh menjadi lebih kaku yang tidak seelastis sebelum dilakukan radioterai. Kondisi ini
disebut fibrosis.

2.

Penebalan pada kulit di area di mana radioterapi dilakukan mungkin saja terjadi.

3.

Perubahan pada ovarium dan Rahim. Jika terjadi, anda bisa jadi mengalami menopause yang
lebih cepat dibandingkan seharusnya.
BAB 3
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Radioterapi adalah jenis terapi yang menggunakan radiasi tingkat tinggi untuk menghancurkan
sel-sel kanker. Baik sel-sel normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh radiasi ini.
Radioterapi terbagi menjadi dua macam yaitu radioterapi eksternal dan brakiterapi (internal).
Terapi ini merupakan terapi adjuvant serta harus di sertai terapi obat tambahan untuk kanker.
Efek samping terapi ini kulit kering, rambut rontok, dan kekakuan pada organ, penebalan pada
kulit, dan perubahan perkembangan pada organ reproduksi, namun akan kembali setelah terapi
ini di hentikan.

3.2

Saran
Untuk para profesi keperawatan di harapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah
pengetahuan, sehingga dapat memberikan edukasi kepada pasien lebih lengkap sehingga pasien
tidak mengalami perasaan cemas untuk melakukan radioterapi. Kepada para mahasiswa
utamanya keperawatan di harapkan makalah ini bermanfaat, sehingga dapat menambah wawasan
tentang radioterapi dan dapat membagi ilmu kepada teman, keluarga, serta masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Diananda, R.(2009).Mengenal Seluk Beluk Kanker.Yogyakarta: Katahati.
Price, Silvya A.(2006).Patofisologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6.Jakarta: EGC
Rasjidi, I.(2009).Deteksi Dini & Pencegahan Kanker Pada Wanita.Jakarta: Sagung Seto.
Suwiyoga.(2007).Kanker Serviks : Penyakit Keganasan Fatal Yang Dapat Dicegah.Majalah Obstetri
dan Ginekologi Indonesia.Volume 31.
Wiknjosastro, Hanifa.(2005).Ilmu Kandungan, Edisi Kedua.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohadrjo.
Yatim, Faisal.(2005).Penyakit Kandungan.Jakarta: Pustaka Populer Obor