Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Transformasi kehidupan yang semakin maju dan modern tidak lepas dari
proses globalisasi yang menyentuh seluruh aspek penting kehidupan dan
menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab,
dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan
bersama antar negara. Sejak tahun 1980-an istilah globalisasi sering digunakan
mengacu pada kemunculan jaringan sistem sosial dan ekonomi berskala
internasional.
Globalisasi

telah

menyebabkan

meningkatnya

perbudakan

baru,

pembantaian baru, dan politik apartheid yang baru. Ia adalah pernyataan perang
terhadap alam, perempuan, anak-anak, dan kaum miskin. Sebuah perang yang
mengubah setiap komunitas dan keluarga ke dalam sebuah zona perang. Sebuah
perang antara mono-kultur melawan keragaman, yang besar melawan yang kecil
(Pontoh, 2003:108).
Teknologi dan informasi merupakan salah satu contoh nyata perkembangan
yang membawa perubahan yang sangat signifikan dari dari globalisasi. Jika dulu
orang harus berkirim surat via kantor post dan menunggu balasan hingga berharihari, sekarang orang hanya perlu didepan komputer dan berkirim email dalam
waktu kurang dari satu menit.
Globalisasi merupakan suatu proses hubungan sosial secara relatif yang
menemukan tidak adanya batasan jarak dan menghilangnya batasan-batasan
secara nyata, jadi ruang lingkup kehidupan manusia itu semakin bertambah

dengan memainkan peranan yang lebih luas di dalam dunia sebagai satu kesatuan
tunggal (Rudy, 2011:5).
Namun dalam permasalahan yang akan dibahas penulis adalah tentang
kejahatan lintas negara yang dilakukan
1 di Indonesia khususnya EntikongKalimantan Barat. Kejahatan tersebut adalah mengenai perdagangan manusia
yang

populer

dengan

sebutan

human

trafficking.

Berbicara

mengenai

permasalahan perdagangan manusia tidak lepas dari aspek Indonesia yang


merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.466 pulau.
Perdagangan manusia yang terjadi di Indonesia khususnya Entikong
merupakan salah satu bentuk dari kejahatan transnasional (transnational crime).
Hal ini tentu berdampak dan memiliki resiko langsung terhadap keamanan
individu setiap warga negara Indonesia di Entikong dan para pelaku kejahatan ini
melakukan berbagai cara agar terhindar dari jeratan hukum yang kadang bahkan
melibatkan pihak instansi pemerintah demi melancarkan penyelundupan imigran
gelap ke berbagai negara.
Melihat kasus perdagangan manusia merupakan permasalahan yang telah
menjadi momok dan ketakutan bagi masyarakat internasional khususnya bagi
masyarakat Entikong, maka hal ini turut mengundang perhatian aktor non negara
dalam membantu memberantas permasalahan tentang perdagangan manusia
dengan memberikan wawasan kepada masyarakat akan bahaya perdagangan
manusia serta mempelajari modus para pelaku kejahatan perdagangan manusia
gunakan dalam mengelabui korbannya dengan harapan agar masyarakat dapat
menghindari indikasi-indikasi perdagangan manusia tersebut.

Salah satu aktor non negara yang berperan aktif dalam membantu proses
penanggulangan perdagangan manusia adalah International Organization for
Migration (IOM). Sejak tahun 2005, kegiatan perdagangan manusia IOM
Indonesia terfokus secara strategis pada pencegahan perdagangan manusia melalui
kegiatan peningkatan kesadaran dan pemantauan rekrutment tenaga kerja,
perlindungan korban perdagangan manusia melalui bantuan langsung pada korban
serta pengembangan kapasitas institusional dari aktor pemerintah dan nonpemerintah, penguatan sistem peradilan Indonesia dengan meningkatkan kapasitas
penegak hukum serta memperbaiki akses keadilan bagi para korban perdagangan
manusia; dan membangun kemitraan lintas sektoral melalui pembuatan kebijakan,
perencanan dan bantuan anggaran bagi Gugus Tugas pemberantasan perdagangan
manusia di tingkat nasional dan sub-nasional (http://www.iom.or.id/id/aktivitaskami/pemberantasan-perdagangan-manusia diakses pada 30 Juni 2015).
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang otomatis memiliki
banyak perbatasan darat dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura,
Filipina, Thailand, dan Australia menjadikan Indonesia rentan terhadap tipe
kejahatan seperti perdagangan manusia. Entikong adalah sebuah kecamatan di
Kabupaten Sanggau Propinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan
Malaysia.

Entikong

memiliki

jalur

perbatasan

darat

dengan

negara Malaysia khususnya Sarawak sehingga jalur darat sering disebut jalur
sutera karena bisa dilewati langsung oleh bus baik dari Indonesia maupun dari
Malaysia tanpa harus menyebrangi sungai maupun laut, oleh karena itu
menjadikan Entikong rentan terhadap tipe kejahatan lintas perbatasan yaitu

perdagangan manusia (https://id.wikipedia.org/wiki/EntikongSanggau diakses


pada 30 Juni 2015).
Berbagai faktor penyebab perdagangan manusia diantaranya adalah
kurangnya pengawasan oleh pihak berwajib di perbatasan Entikong sehingga
mudah keluar masuk perbatasan tanpa adanya pengawasan, baik pengawasan dari
pihak migrasi, pengawasan pos lintas batas. Selanjutnya, kurangnya pemahaman
masyarakat mengenai perdagangan manusia sehingga memudahkan pelaku
kejahatan perdagangan manusia dalam mengelabui korban. Faktor lainnya adalah
kurangnya ketersedian lapangan pekerjaan yang menyebabkan kemiskinan
sehingga tuntutan untuk hidup lebih layak menjadi alasan terjadinya perdagangan
manusia di Entikong.
Penelitian-penelitian terdahulu berikut ini dapat menjadi referensi bagi
penulis untuk melakukan penelitian. Penelitin mengenai perdagangan manusia
yang terjadi di Indonesia adalah sebagai berikut :
Penelitian pertama adalah Elyta, 2012, Disertasi tersebut mengambil judul
tentang Penanggulangan Perdagangan Perempuan di Perbatasan Entikong
Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat : Perspektif Keamanan Manusia.
Dalam disertasi tersebut Elyta melihat bahwa perempuan telah mengalami
kemiskinan kebebasan akibat perdagangan perempuan, perempuan yang telah
menjadi korban mengalami ancaman keamanan manusia yaitu ancaman keamanan
ekonomi, ancaman keamanan personal, ancaman keamanan politik, dan ancaman
kemanan kesehatan. Selain itu pemerintah Kabupaten Sanggau juga di perbatasan

Entikong kurang memperhatikan penilaian resiko, pencegahan, dan perlindungan


ditandai dengan kurangnya sarana dan prasarana dibidang pendidikan formal, dan
minimnya pendidikan non formal yang dilkukan.
Namun dalam hal ini penulis dalam aspek Hubungan Internasional yang
dimana tidak hanya melihat dari aspek kemananan manusia untuk menanggulangi
permasalahan perdagangan perempuan, tetapi dalam kasus kejahatan manusia
bukan hanya perempuan yang menjadi korban melainkan laki-laki juga menjadi
korban kejahatan perdagangan manusia.
Eka Jaya Hatika Embang, 2003, dengan judul Peran Unit CounterTrafficking IOM (International Organization for Migration) Indonesia Dalam
Upaya Menangani Human Trafficking di Kalimantan Barat (2004-2010). Dalam
jurnal Eka selaku penulis menyebutkan bahwa Kalimantan Barat yang berbatasan
langsung dengan Malaysia dijadikan akses bagi pelaku kejahatan Human
Trafficking untuk keluar masuk Kalimantan Barat dan Malaysia. Kalimantan Barat
pun berdasarkan data dalam Jurnal Eka menduduki peringkat ke dua belas dari
daerah lainnya dengan 722 kasus Human Trafficking. Sesuai dengan visi dan misi
IOM untuk menekan kasus human trafficking sejak 2003 IOM Indonesia
membentuk unit Counter-Trafficking yang bekerja sama dengan pemerintah
Kalimantan Barat untuk memerangi human trafficking di Kalimantan Barat
khususnya daerah perbatasan yaitu Entikong.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penulis lebih fokus kepada daerah
perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Barat yaitu Entikong

Kabupaten Sanggau. Kalimantan Barat sendiri memiliki lima kabupaten yang


berbatasan langsung dengan Malaysia.
Namun dalam penelitian ini penulis dipandang dari aspek hubungan
internasional yang mana diharapkan bukan hanya peran pemerintah saja untuk
menanggulangi perdagangan manusia, tetapi dibutuhkan juga peran organisasi
internasional dalam membantu menanggulangi dan memberantas perdagangan
manusia di Entikong. Menurut penulis jika hanya pemerintah saja yang berperan
dlam menanggulangi dan memberantas permasalahan perdagangan manusia terasa
tidak cukup dan dibutuhkan peran organisasi internasional IOM

dalam

menangani kejahatan lintas negara ini di Indonesia khususnya Entikong.


Berpijak pada berbagai penelitian diatas maka peneliti tertarik untuk
mengkaji penelitian dengan judul Peran Unit Counter Trafficking Internastional
Organization For Migration (IOM) dalam Menangani Human Trafficking Di
Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan di latar belakang penelitian, peneliti menarik
sebuah rumusan masalah : Bagaimana peran International Organization for
Migration dalam menangani kasus human trafficking di Entikong-Kalimantan
Barat?
1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bentuk-bentuk peran IOM dalam


menangani kasus human trafficking di Entikong-Kalimantan Barat.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1

Manfaat Teoritis
Untuk memberikan masukan terhadap studi hubungan internasional

khususnya tentang peran organisasi internasional dalam menangani kasus


kejahatan internasional mengenai human trafficking.
1.4.2

Manfaat Praktis
Memberikan masukan melalui hasil penelitian terhadap para pembuat

kebijakan di tingkat nasional mengenai upaya menanggulangi kasus perdagangan


manusia di Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fungsionalisme
Dalam hubungan internasional sejatinya merupakan interaksi antara negara
satu dengan negara lain. Namun, pada kenyataannya bahwa dalam interaksi antara

negara satu dengan negara lain tersebut tidak cukup, tetapi terdapat juga hubungan
aktor-aktor lain selain negara. Dalam hubungan internasional fungsionalisme
adalah upaya memadukan institusi-institusi internasional dalam sebuah bentuk
kerja sama yang menekankan pada ranah regional sesuai dengan fungsi dan tugas
pokok yang hendak dicapai dari institusi tersebut.
Pada pengembangan lebih lanjut, fungsionalisme membahas mengenai
pertumbuhan institusi internasional itu sendiri. Banyak yang sering mengaitkan
fungsionalisme dengan realis. Menurut David Mitrany, fungsionalisme menjadi
pendekatan yang penting di abad ke-20 karena teori kritis menjadi dasar teori ini.
Dalam memahami fungsionalisme, kita harus mengetahui fokus utama dalam
pendekatan ini. Secara fundamental, indikator utamanya bukan pada kerja sama
organisasi internasional semata, melainkan pula mengenai perdamaian dunia.
Fungsionalisme lahir dan berkembang menyikapi pendekatan perdamaian pada
state-centric seperti halnya federalisme dan keamanan secara kolektif.
2.2 Kerjasama Internasional
Kerjasama internasional adalah dimana suatu proses terjadinya persetujuan
secara bersama-sama dalam menghasilkan keuntungan dan kesepahaman pada
masing-masing pihak sesuai perjanjian dan keuntungan bersama. Kerjasama
internasional memiliki tujuan kesepakatan dan keinginan anggota atau kelompok
8
serta organisasi internasional yang terlibat dalam kerjasama.
Dalam pelaksanaannya kerjasama internasional memiliki peluang terjadinya
konflik dan apabila itu terjadi, salah satu penyelesaian yang dapat ditempuh
adalah dengan kompromi antar anggota kerjasama sehingga menghasilkan

kesepakatan yang disetujui bersama. landasan utama terbentuknya kerjasama


internasional adalah karena aktivitas kehidupan internasional yang meliputi
bidang-bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial dan lingkungan hidup
internasional, kebudayaan, pertahanan serta kemanan internasional.
2.3 Fungsi Organisasi Internasional
Organisasi internasional (OI) dapat didefinisikan sebagai any cooperative
arrangement instituted among states, usually by a basic agreement, to perform
some mutually advantageous functions implemented throught periodic meetings
and staff activities pengaturan bentuk kerjasama internasional yang melembaga
antara negara-negara, umumnya berlandaskan suatu persetujuan dasar, untuk
melaksanakan fungsi-fungsi yang memberi manfaat timbal balik yang dilakukan
melalui pertemuan-pertemuan serta kegiatan-kegiatan staf secara berkala, T. May
Rudy (1993:2).
Organisasi Internasioal secara menyeluruh dapat didefinisikan sebagai pola
kerjasama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari struktur organisasi
yang jelas dan lengkap serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung
serta melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna
mengusahakan tercapainya tujuan-tujuan yang diperlukan serta disepakati
bersama, baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun antara sesama
kelompok non-pemerintah pada negara yang berbeda.
Fungsi-fungsi Organisasi Internasional menurut Archer (1992:161-177)
adalah sebagai berikut :

10

1. Fungsi Articulation dan Aggregation


Organisasi Internasional bisa menjadi instrumen dan arena bagi negaranegara anggota untuk menyuarakan, menyampaikan aspirasi dan
kepentingan masing-masing. Sebaliknya, Organisasi Internasional pun bisa
menyuarakan kepentingan agenda-agendanya sendiri kepada Negara
maupun aktor-aktor lainnya.
2. Fungsi Norms
Organisasi Internasional bisa menjadi instrumen dan arena negara-negara
untuk menyusun norma-norma yang berlaku secara Internasional.
Outputnya, norma-norma tersebut menjadi produk Organisasi Internasional
sebagai aktor independen.
3. Fungsi Recruitment
Organisasi Internasional mempunyai fungsi rekrutmen guna mengajak
banyak negra untuuk ikut serta berperan aktif dalam setiap

kegiatan

Organisasi Internasional. Fungsi rekrutmen biasanya berdasarkan pada


serangkaian syarat guna menyamakan tujuan yang nantinya akan
teraplikasikan dalam setiap kegiatan. Misalnya, dalam pasal 3 ayat 1, PBB
menerima anggota dari negara-negara yang cinta damai (peace-loving).
4. Fungsi Socialization
Fungsi sosialisasi ditujukan untuk memelihara loyalitas individual para
anggota terhadap nilai-nilai sistem sebuah Organisasi Internasional. Fungsi
ini bisa dilakukan melalui dua jalur, yakni (a) melalui agen-agen yang
mempengaruhi secara langsung individu atau kelompok individu di dalam
sebuah negara anggota, dan (b) melalui perwakilan negara-negara anggota
secara langsung, misalnya kedutaan besar atau kamar dagang industri.
5. Fungsi Rule-Making

11

Organisasi Internasional sebagai sebuah organisasi yang mampu membuat


dan menghasilkan keputusan dengan syarat (Tharp dalam Archer
1992:170) :
a. Aturan disusun secara konsensus oleh para anggta dengan suara
bulat atau mendekati suara bulat;
b. Para anggota memiliki pilihan praktis untuk meninggalkan sebuah
organisasi dan mengakhiri keikutsertaan mereka dalam aturan yang
ada,
c. Bahkan dalam keanggotaan yang terikat, sebuah negara bisa
menyatakan hak untuk menafsirkan, secara unilateral, aturan-aturan
yang telah ia setujui.
d. Struktur birokrat eksekutif dalam organisasi tersebut mempunyai
kekuasaan yang sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk
menyusun (dan melaksanakan) aturan-aturan.
e. Wakil-wakil yang duduk dalam badan pembuat keputusan
organisasi itu dilatih oleh emerintah mereka dan tidak bertindak
sebagai perwakilan yang independen (bertindak sendiri).
f. Organisasi Internasional mempunyai hubungan langsung dengan
warga negara secara pribadi dari negara-negara anggota.
6. Fungsi rule-application
Meski dalam kondisi lingkungan internasional yang anarki, sebuah
Organisasi Internasional tetap harus bisa berfungsi aplikasi atau
memberikan aturan. Pelaksananya bisa berupa komite-komite kecil (ad
hoc). Misalnya, Komite 24 yang dibentuk berdasarkan pasal 73 piagam
PBB

mengenai

dekolonisasi

(anticolonial

declration)

berupaya

memerdekakan negara-negara jajahan meski mendapat tantangan yang


berat dari Inggris, Perancis, Portugal, dan Spanyol yang memiliki daetah
jajahan yang luas di Afrika dan Asia. Tapi tetap seiring waktu, negaranegara jajahan di Asia dan Afrika satu per satu bisa merdeka dengan
intervensi dari PBB.
7. Fungsi Rule Adjudication
Fungsi ini mengenai pemutusan perkara secara hukum (adjudication atau
keputusan hakim), menyangkut pemberian sanksi bagi negara anggota yang

12

melanggar atura atau penyelesaian sengketa di antara negara anggota.


Misalnya, PBB memiliki dewan keamanan PBB, ASEAN memiliki
mekanisme pembentukan komite-komite Ad Hoc untuk penyelesaian
sengket, atau negara-negara yang bersengketa bisa menyelesaikan sengketa
melalui Mahkamah Internasional (ICJ, International Court of Justice).
8. Fungsi Information
Sebuah Organisasi Internasional harus melaksanakan fungsi informasi guna
memberitahukan berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Secara internal,
fungsi ini penting untuk memelihara dan mengadaptasikan nilai-nilai
organisasi kepada para anggotanya. Secara eksternal, fungsi ini bisa
berfungsi untuk memberikan pemahaman kepada aktor-aktor luar sehingga
mereka mampu memahami setiap kegiatan yang dilakukan oleh sebuah
organisasi.
9. Fungsi Operations
Organisasi Internasional berfungsi untuk melakukan secara langsung
kegiatan-kegiatan yang diagendakan.
2.4 Migration
Hingga akhir tahun 2000 terdapat beberapa masalah penduduk di Indonesia
antara lain adalah sebagai berikut, Mantra (2010:199) :
2.3.1. Jumlah penduduk yang besar (tahun 2000 berjumlah 203,5 juta jiwa);
2.3.2 Persebaran penduduk yang tidak merata. Sekitar 60 persen penduduk
Indonesia berdomisili di Pulau Jawa yang luas wilayahnya sekitar 6,9
persen dari luas wilayah seluruh daratan Indonesia;
2.3.3. Persentase yang bekerja pada sektor pertanian masih tinggi (sekitar 60
persen jumlah angkatan kerja) dilain pihak luas lahan pertanian
semakin berkurang karena dipergunakan untuk kepentingan non
pertanian;

13

2.3.4. Jumlah pengangguran terbuka tinggi dan kualitas tenaga kerja baik
fisik maupun non fisik masih rendah.
Telah banyak dikemukan banyak pihak bahwa masalah ketenagakerjaan di
Indonesia merupakan masalah Nasional yang berkepanjangan dari tahun ke tahun.
Dalam pelaksanaan pembangunan selama ini, terlihat nyata bahwa pertumbuhan
angkatan kerja yang cukup pesat kurang dapat diimbangi oleh kemampuan
penciptaan kesempatan kerja sehingga terjadi pengangguran terbuka yang
terakumulasi setiap tahunnya.
Salah satu kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah untuk mengatasi
masalah ketenegakerjaan ini ialah dengan mendorong pengiriman tenaga kerja ke
luar negeri. Untuk mengimplementasikan kebijakan ini dibentuklah lemabaga
Antar Kerja Antar Negara (AKAN) oleh Departemen Tenaga Kerja Republik
Indonesia, yang mengkoordinasikan penyelenggaraan penyaluran angkatan kerja
ke luar negeri. Dalam penyelenggaraan kegiatan ini, AKAN bekerja sama dengan
berbagai Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang
didirikan oleh pihak swasta yang tergabung dalam Indonesia Manpower Subplier
Association (IMSA), Mantra (2010:213).
Ada dua faktor yang mendorong pemerintah mengambil kebijakan ini.
Pertama, makin kompleknya masalah kependudukan yang terjadi di dalam negeri
dengan berbagai implikasi sosial-ekonomisnya, seperti masalah pengangguran,
menyebabkan harus

ditempuh langkah-langkah inovatif untuk berusaha

mengurangi tekanan masalah tersebut. Kedua, terbukanya kesempatan kerja yang


cukup luas di negara-negara yang relatif kaya dan baru berkembang yang dapat

14

menyerap utenaga kerja Indonesia dalam jumlah yang cukup besar, terutama
negara-negara kaya akan minyak seperti di Timur Tengah, dan juga Malaysia,
Singapura dan pada negara-negara ASEAN. Kesempatan kerja tersebut selain
dapat menyerap banyak tenaga kerja juga menawarkan tingkat penghasilan dan
fasilitas yang lebih menarik dibandingkan dengan kesempatan kerja di dalam
negeri. Tingkat pengahsilan yang lebih baik tersebut dapat meningkatkan devisa
negara.
Sebuah badan penelitian tentang migrasi (migration) desa-kota terkemuka
setelah mengadakan penelitian selama dua dekade menemukan banyak bukti
bahwa mayoritas penduduk berpindah karena alasan ekonomi. Ketika masyarakat
ditanya tentang alasan kepindahan mereka, selalu saja prospek ekonomi perkotaan
yang lebih baik menjadi alasan. Arus migrasi antar wilayah-wilayah juga dapat
ditunjukkan dengan menghubungkan perbedaan pendapatan antar wilayah
tersebut. Dan setipa waktu, jika kondisi ekonomi dalam tujuan-tujuan alternatif itu
berubah, maka arus migrasinya mengalami perubahan, Nasikun (2007:60).
Migrasi Internasional sendiri di Indonesia dapat dibedakan atas dua pola.
Pertama, yang terdokumentasi pada lembaga AKAN yang secara resmi tercatat di
Departemen Tenaga Kerja, salah satu contohnya adlah pengiriman tenaga kerja ke
Timur Tengah. Kedua, tenaga kerja yang berangkat ke luar negeri tidak
terdokumentasi (secara ilegal) melalui calo, misalnya tenaga kerja Indonesia yang
pergi ke Malaysia. Mereka ini tidak tercatat di Departemen Tenaga Kerja maupun
di Kantor Imigrasi Indonesia maupun Malaysia.

15

2.5 Human Trafficking


2.5.1 Sejarah Human Trafficking
Isu perdagangan manusia sebenarnya bukanlah hal yang baru.
Fenomena ini telah ada sejak zaman imperialisme dan kolonialisme.
Perdagangan manusia pada saat itu dipahami sebagai perdagangan budak
dan sandera yang dipengaruhi oleh pemerintahan kolonial dan juga
penguasa kerajaan-kerajaan Eropa yang mendominasi perekonomian dan
politik Internasional.
Sejarah kelam kemanusia yang sangat menyayat hati dan sulit
dilupakan dalam sejarah kemanusia adalah perbudakan. Enistaan derajat
manusia ini terjadi pada abad pertengahan dan bahkan memasuki abad 21.
Setelah banyak bangsa di Afrika dan Asia merdeka maka perbudakan lambat
laun semakin dikikis.

Peran konferensi Asia Afrika di Bandung yang

diprakarsai oleh Presiden pertama Indonesia Soekarno menjadi salah satu


pencetus

munculnya

kemerdekaan-kemerdekaan

tersebut,

juga

ikut

mendorong penghapusan permasalahan perbudakan. Untuk mendapatkan


buruh murah, negara-negara Barat melakukan perbudakan.
Paling mengerikan dari pelanggaran kemanusia negara kapitalis
adalah perdagangan budak Afrika, antara tahun 1562 sampai dengan 1807
penguasa-penguasa Eropa memaksa pindah kurang lebih 11 juta orang
Afrika kulit hitam dari pantai Barat Afrika untuk dipekerjakan di berbagai
sektor kegiatan ekonomi di benua Amerika. Mereka dimasukkan ke dalam

16

kapal-kapal

kolonialis

Eropa,

dengan

kondisi

yang

menyedihkan,

kekurangan makanan, berhimpitan untuk membangun mimpi baru negara


kolonial, yakni membangun dunia baru Amerika. Banyak di antara mereka
yang ditimpa penyakit sampai kematian dalam keadaan seperti itu. Budak
kulit hitam dianggap bagaikan binatang ternak yang tidak ada nilainya sama
sekali. Mereka dipaksa bekerja di perkebunan, tambang, dan proyek lain
yang membutuhkan banyak tenaga manusia.
Perdagangan manusia atau yang dikenal dengan perdagangan budak
banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Zaman kolonialisme tau yang
disebut sebagai masa-masa imperialisme klasik membawa banyak cerita
sedih tentang eksploitasi manusia. Pada zaman itu manusia-manusia dan
orang-orang tahanan kerajaan diperlakukan sebagai komoditas yang dapat
diperjualbelikan. Bahkan tersiar abar yang menyatakan manusia-manusia
kala itu juga diperdagangkan di pasar budak internasional, Winarno
(2014:329-330).
Perjuangan melawan perbudakan telah muncul sejak tahun 1526, yang
dipimpin oleh Raja Kongo-Zanga Bamba, yang menyampaikan protes
terhadap Raja Portugal. Pada masa itu perdagangan budak dianggap sebagai
tindak

kejahatan

kemanusian

yang

melibatkan

kelompok

sindikat

transnasional. Dlam rangka meraih keuntungan material yang besar, negaranegara Barat membutuhkan modal yang besar, pasar yang luas, sumber
bahan mentah dan energi serta buruh yang murah. Untuk itulah mereka
melakukan kolonialisasi. Sejumlah pemimpin Afrika Barat juga melarang

17

pengangkutan budak melewati wilayah kekuasaannya. Namun upaya


pemimpin dan bangsa Afrika melarang perdagangan budak selalu gagal
lantaran perjuangan mereka hanya bersifat lokal dan tidak memiliki
persenjataan yang memadai. Sementara pemburu budak dari Eropa rata-rata
memiliki tentara dan bersenjata api yang sangat ditakuti pada waktu itu,
Winarno, (2014:330).
Kasus perdagangan manusia di era globalisasi saat ini tidak jauh
berbeda. Fenomena yang sangat kompleks dan saling tumpang tindih satu
dengan yang lainnya. Eskalasi konflik dalam kasus ini menyangkut
persoalan ketenagakerjaan, migrasi, kemiskinan, kekerasan, dan kejahatan.
Secara kasat mata perempuan dan anak sebagai korban yang paling banyak
jual beli manusia. Jual beli perempuan dan anak umumnya untuk tujuan
eksploitasi seksual. Perempuan dan anak-anak dijadikan pelacur (eksploitasi
tenaga kerja secara seksual) untuk kepentingan industri seks, pornografi dan
untuk berbagai kepentingan yang mengabaikan kepentingan korban dan cara
memperlakukan mereka bukan lagi sebagai manusia seutuhnya tetapi
cenderung sebagai komoditas.
2.5.2 Pengertian Human Trafficking
Keamanan internasional di era globalisasi masih tetap merupakan isu
yang sangat penting sekalipun perang dingin telah berakhir lebih dari dua
dekade yang lalu. Mendiskusikan isu keamanan internasional tidak lagi
hanya berbicara tentang kemanan negara, melainkan juga berkaitan dengan

18

keamanan manusia (Barry Buzan dkk dalam Budi, 2014). Dalam


pandangan konvensional, masalah keamanan biasanya dipersepsikan dan di
tangani dalam konteks hubungan antarnegara. Artinya, bagaimana menjaaga
dan melindungi keamanan suatu negara dari ancaman pihal lain, khususnya
yang berkaitan dengan ancaman militer yang berasal dari negara lain. Dalam
pengertian ini, keamanan dipahami sebagai keamanan tradisional.
Dalam perkembangannya telah terjadi suatu pergeseran konsep
keamanan tradisional ke keamanan nontradisional. Konsep keamanan
nontradisional di kaitkan dengan kasus perdagangan manusia (human
trafficking). Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa perdagangan manusia
telah dimulai sejak zaman kerajaan dan kolonialisme yang dikenal dengan
era perbudakan. Perbudakan dipandang sebagai konsekuensi logis dari
penjajahan dan kekuasaan pemimpin yang membutuhkan sumber daya
manusia untuk kepentingan negara/dinastinya.
Perdagangan manusia bukan hanya merupakan persoalan tindakan
kejahatan, melainkan pula terkait erat dengan pelanggaran hak asasi
manusia (HAM). Pemahaman ini berkaitan dengan hak-hak paling dasar
dari manusia yaitu mendapatkan kehidupan yang baik, sejahtera hingga
pengakuan ha individu sebagai manusia yang bermartabat. Oleh karena itu,
dalam kasus perdagangan manusia, nilai-nilai tersebut telah di langgar
dengan memperlakukan manusia layaknya sebuah barangan dagangan
seperti properti dan produk komersial yang bisa di eksploitasi. Perdagangan

19

manusia menjadi isu sentral dalam era globalisasi saat ini karena eksistensi
dari kejahatan sudah menjadi epidemi di berbagai negara.
Definisi mengenai perdagangan manusia (human traffcking) telah
dibahas dalam forum-forum internasional dan dipahami sebagai sebuah
masalah global. Badan Perserikan Bangsa-Bangsa (United Nations) telah
membentuk unit kerja khusus yang dinamakan United Nations Office on
Drugs an Crime (UNODC) yang berkonsentrasi juga dalam masalah
perdagangan manusia dan penyelundupan imigran gelap. Menurut UNODC
perdagangan manusia diartikan sebagai :
Perdangan manusia adalah pendapatan (bisnis) yang diperoleh
dengan cara yang jahat, seperti pmaksaan, penipuan, atau muslihat dengan
tujuan untuk mengeksploitasi mereka. Penyelundupan imigran adalah
usaha untuk mendapatkan uang atau keuntungan material lainnya dengan
memasukkan seorang secara ilegal ke dalam sebuah negara, di mana
seseorang tersebut bukan merupakan seorang warga negar.
Dalam protokol Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perdagangan
manusia adalah kegaiatan mencari, mengirim, memindahkan, menampung
atau menerima tenaga kerja dengan ancaman, kekerasan atau bentuk-bentuk
pemaksaan lain, Budi (2014:327).
2.6 Kerangka Pemikiran
Dalam permasalahan perdagangan manusia di Indonesia khususnya
Entikong Kalimantan Barat sudah seharusnya menjadi perhatian serius bagi
pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah bagaimana cara untuk menghentikan
kasus perdagangan manusia yang telah lama terjadi di Entikong.

20

Sudah seharusnya pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah lebih aktif


serta memaksimalkan kerjsama Internasional khususnya dengan organisasi
Internasional seperti IOM dalam mengatasi permasalahan ini.
Migrasi
Internasional

Organisasi
Internasional

Fungsionalisme

IOM

Entikong

Kerjasama
Internasional

Human Trafficking
Keterangan :
di Entikong
Dalam melakukan kerjasama internasional tidak hanya antar negara namun
juga membutuhkan peran aktor non-negara berupa organisasi internasional, dalam
hal ini IOM merupakan organisasi internasional yang dapat membantu peran
negara khususnya Indonesia dan Entikong dalam mengatasi perdagangan manusia
yang terjadi di Entikong melalui IOM cabang Kalimantan Barat.

21

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Archer, Clive. 1992. International Organization. London: Routledge
Mantra, Ida Bagoes. 2010. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
May, Rudy Teuku. 2011. Hubungan Internasional Kontemporer dan MasalahMasalah Gobal. Bandung : PT Refika Aditama.
Moleong, J. Lexy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Nasikun. 2007. Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga. Yogyakarta : Tiara
Wacana
Pontoh, Coen Husain. 2003. Akhir Globalisasi Dari Perdebatan Teori Menuju
Gerakan Massa. Jakarta : C-Books
Rudy, Teuku May. 1993. Administrasi dan Organisasi Internasional. Bandung :
PT. ERESCO
Winarno, Budi. 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta: CAPS
(Center of Academic Publishing Service)
Artikel Dalam Website :
(http://www.iom.or.id/id/aktivitas-kami/pemberantasan-perdagangan-manusia
diakses pada 30 Juni 2015).
(https://id.wikipedia.org/wiki/Entikong,_Sanggau diakses pada 30 Juni 2015).