Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH TPPA

IDENTIFIKASI PENCEMARAN AIR

Disusun Oleh :

RATNA DIAN SUMINAR

09/290694/PTK/5928

MAGISTER TEKNIK PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN


JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2010
Air Tercemar

Sesuai dengan pasal (1) PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran air, mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji
berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Kondisi kualitas air tersebut sangat penting untuk menentukan layak
atau tidaknya air untuk digunakan sesuai dengan peruntukan atau kelasnya.

Pengelolaan air bertujuan untuk menjamin kualitas air untuk tetap berada dalam kondisi
alamiahnya, yaitu sesuai dengan tingkat mutu air yang diinginkan, sehingga air dapat digunakan
secara berkelanjutan dengan peruntukan yang sama. Namun, dengan adanya siklus hidrologi air
yang memungkinkan terjadinya pencampuran air dari berbagai sumber, ditambah dengan sifat
air yang merupakan pelarut universal, maka memungkinkan terjadinya perubahan kualitas air
dari keadaan awalnya.

Kondisi kualitas air tersebut bersifat kualitatif, sehingga sulit untuk diukur. Pendugaan secara
fisik dapat dilakukan, yaitu berdasarkan warna, rasa dan bau. Namun, tidak semua zat terlarut
dalam air dapat terlihat secara visual. Beberapa zat mungkin hanya sedikit terkandung dalam air,
namun dapat menimbulkan dampak negative yang besar dan penting jika zat tersebut digunakan
untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, pengukuran secara kuantitatif perlu dilakukan
untuk mengetahui dengan pasti kondisi kualitas air.

Secara kuantitatif, kondisi kualitas air direpresentasikan dalam nilai-nilai ambang batas atau
disebut juga nilai baku muku air. Masing-masing parameter kualitas air memiliki nilai ambang
batas yang berbeda. Sesuai pasal (14) PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air
dan Pengendalian Pencemaran air, apabila mutu air tidak memenuhi baku mutu air, maka
kondisi mutu air ditetapkan dalam kondisi cemar.

Identifikasi Pencemaran Air

Untuk menentukan apakah kondisi mutu air berada pada kondisi cemar atau kondisi baik, perlu
dilakukan pengukuran parameter kualitas air menggunakan metode-metode tertentu yang sudah
terstandarisasi. Beberapa parameter yang sering digunakan sebagai parameter pencemaran air
adalah sebagai berikut :
I. PARAMETER FISIKA

Parameter-parameter fisika yang biasanya digunakan untuk menentukan kualitas air


meliputi suhu, kecerahan dan kekeruhan, warna, konduktivitas, padatan total, padatan
terlarut, padatan tersuspensi, dan salinitas.

a. Temperature (suhu)

Suhu berhubungan erat dengan aktifitas organism air dan kelarutan oksigen
dalam air. Temperatur air secara teoritis dapat bervariasi antara 0oC sampai
dengan 100oC. Temperatur air di Indonesia pada umumnya bervariasi antara 15oC
sampai dengan 35oC.

Nilai baku mutu untuk temperature adalah deviasi 3 untuk kelas air I-III dan
deviasi 5 untuk kelas air IV. Deviasi diukur dari keadaan normalnya.

b. Padatan tersuspensi / Total Suspended Solid (TSS)

TSS adalh padatan yang dapat terambil dengan filter. TSS dapat termasuk :
endapan lumpur, humus, dan sampah. Tingginya konsentrasi suspended solid
dapat menyebabkan beberapa masalah untuk beberapa peralatan industry dan
kehidupan organism akuatik.

Tingginya TSS dapat menghambat masuknya sinar matahari ke dalam perairan.


Jika hal tersebut terjadi, proses fotosintesis akan terhambat. Pengurangan aktifitas
fotosintesis akan mengurangi oksigen terlarut yang dilepas oleh tanaman air ke
badan air. Tingginya nilai TSS juga akan menyebabkan kenaikan suhu
permukaan air karena material tersuspensi dapat menyerap panas dari sinar
matahari, dan menyebabkan tingginya tingkat kekeruhan (turbiditas).

TSS dapat meningkatkan konsentrasi bakteri, kelarutan nutrient, pestisida, dan


logam berat dalam air. Dalam industry, TSS dapat menyebabkan penyumbatan
atau scouring pada pipa dan mesin.

Nilai baku mutu TSS adalah 50 mg/L untuk air kelas I dan II; dan 400 mg/L
untuk air kelas III dan IV.
c. Padatan Terlarut / Total Dissolved Solid (TDS)

TDS adalah padatan dalam air yang dapat melewati filter (biasanya dengan
ukuran pori 0.45 µm. TDS merupakan ukuran jumlah material terlarut dalam air.
Material tersebut dapat termasuk : karbonat,bikarbonat, klorida, sulfat, phosphate,
nitrate, kalsium, magnesium, sodium, ion organic dan ion-ion yang lain. Beberapa
ion tersebut diperlukan untuk kehidupan biota perairan. Perubahan konsentrasi
TDS dapat berbahaya karena densitas air menentukan aliran air ke dalam dan ke
luar sel organism. Jika TDS terlalu tinggi atau rendah, pertumbuhan beberapa
organisme akuatik dapat terganggu, dan mungkin menyebabkan kematian.

Sama dengan TSS, tingginya konsentrasi TDS juga dapat mengurangi kecerahan
air, berkontribusi pada pengurangan aktivitas fotosintesis, meningkatkan
kelarutan komponen racun dan logam berat, dan dapat menyebabkan pada
peningkatan suhu air.

TDS digunakan untuk menentukan kualitas dari air minum, karena TDS
merepresentasikan jumlah ion dalam air. Air minum dengan nilai TDS yang
tinggi mempunyai rasa yang tidak enak karena kesadahannya yang tinggi, dan
dapat menyebabkan diare.

Nilai baku mutu untuk TDS adalah 1000mg/L untuk kelas air I-III, dan 2000mg/L
untuk air kelas IV.

d. Padatan Total

Padatan total merupakan jumlah dari keseluruhan padatan dalam air. Secara
kuantitatif, padatan total / total solid (TS) merupakan jumlah dari TSS dan TDS.

e. Kekeruhan /turbiditas

Turbiditas merupakan ukuran tingkat kekeruhan air. Orang lebih menyukai air
dengan turbiditas kecil untuk keperluan konsumsi atau rekreasi. Turbiditas
tergantung pada tipe sungai, jenis polutan dalam air dan tipe flora dan fauna yang
hidup dalam perairan. Turbiditas biasanya berbanding lurus dengan TSS, sebab
semakin banyak padatan tersuspensi dalam air, akan menyebabkan warna air
makin keruh. Turbiditas diukur menggunakan alat nephelometric turbidimeter,
dan dinyatakan dalam satuan NTU / Nephelometric Turbidimetri Unit.
Turbiditas secara visual diamati dengan melihat warna perairan. Air yang layak
untuk digunakan sebagai baku air minum dan air bersih adalah air berwarna
bening.

II. PARAMETER KIMIA

a. pH

pH merupakan ukuran keberadaan ion hydrogen dalam air. Konsentrasi ion


hydrogen dalam air murni yang netral adalah 1x10-7 g/liter (pH=7). pH berkaitan
erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Pada pH<5, alkalinitas dapat
mencapai nol. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan
semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Larutan yang bersifat asam (pH
rendah) bersifat korosif.

pH juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Contoh : senyawa


ammonium yang dapat terionisasi banyak ditemukan pada perairan yang memiliki
pH rendah. Amonium bersifat tidak toksik, tetapi pada suasana alkalis (pH tinggi)
lebih banyak ditemukan amonia yang tak terionisasi dan bersifat toksik.

Sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai pH


sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimia perairan, misalnya
proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Toksisitan logam memperlihatkan
peningkatan pada pH rendah.

Nilai baku mutu pH adalah 6-9 untuk air kelas I-III dan 5-9 untuk air kelas IV,
karena pada nilai tersebut sesuai untuk kehidupan organism akuatik, dan tidak
mempengaruhi proses biokimia perairan.

b. Oksigen terlarut

Oksigen merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Sumber oksigen
terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 35%)
dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Kadar oksigen yang
terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi
air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian serta semakin kecil
tekanan atmosfer, maka kadar oksigen terlarut semakin kecil.
Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian dan musiman, tergantung
pada pencampuran fan pergerakan massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan
limbah yang masuk ke badan air.

Peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan konsumsi okdigen sekitar


10%. Dekomposisi bahan organic dan oksidasi bahan anorganik dapat
mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai nol (anaerob).

Kelarutan oksigen juga berkurang dengan meningkatnya salinitas, sehingga kadar


oksigen di laut cenderung lebih rendah daripada kadar oksigen di perairan tawar.

Nilai baku mutu untuk oksigen terlarut adalah 6mg/L untuk air kelas I, 4 mg/L
untuk air kelas II, 3mg/L untuk air kelas III, dan 0 mg/L untuk air kelas IV. Kadar
oksigen terlarut kurang dari 4mg/liter menimbulkan efek yang kurang
menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik. Kadar oksigen terlarut
yang kurang dari 2mg/liter dapat mengakibatkan kematian ikan.

c. BOD

BOD5 merupakan parameter yang dapat digunakan untuk menggambarkan


keberadaan bahan organic di perairan. Hal ini disebabkan BOD5 dapat
menggambarkan jumlah bahan organic yang dapat diuraikan secara biologis,
yaitu jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
memecahkan atau mengoksidasi bahan-bahan organic menjadi karbondioksida
dan air. Nilai BOD5 yang tinggi menunjukkan semakin besarnya bahan organic
yang terdekomposisi menggunakan sejumlah oksigen di perairan. Juga,
peningkatan nilai BOD5 merupakan indikasi menurunnya kandungan oksigen
terlarut di perairan karena adanya aktivitas organism pengurai.

Nilai baku mutu untuk BOD5 adalah 2 mg/L untuk air kelas I, 3mg/L untuk air
kelas II, 6mg/L untuk air kelas III, dan 12mg/L untuk air kelas IV.

d. COD

Parameter laian yang juga dapat digunakan sebagai penduga pencemaran limbah
organic adalah COD. Nilai COD menggambarkan total oksigen yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi bahan organic secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi
secara biologi (biodegradable) maupun yang sukar didegradasi (non
biodegradable) menjadi CO2 dan H2O.

Nilai COD biasanya selalu lebih besar daripada BOD5. Hal tersebut bisa
dikarenakan pada perairan lebih banyak tercemar bahan organic yang mampu
diuraikan secara kimia dibandingkan penguraian secara biologi.

Nilai baku mutu untuk COD adalah 10 mg/L untuk air kelas I, 25 mg/L untuk air
kelas II, 50 mg/L untuk air kelas III, dan 100 mg/L untuk air kelas IV.

e. Nitrit (N-NO2-)

Keberadaan senyawa nitrogen dalam perairan dengan kadar yang berlebihan


dapat menimbulkan permasalahan pencemaran. Kandungan nitrogen yang tinggi
di suatu perairan dapat disebabkan oleh limbah yang berasal dari limbah
domestic, pertanian, peternakan danindustri. Hal ini berpengaruh terhadap
kelimpahan fitoplankton.

Nitrogen dapat ditemukan di perairan dalam bentuk nitrit, nitrat, dan ammonia.
Nitrit merupakan senyawa nitrogen beracun yang biasanya ditemukan dalam
jumlah yang sangat sedikit. Pada manusia, keracunan nitrit dapat menyebabkan
penyakit yang disebut methemoglobinemia. Hal ini dikarenakan senyawa nitrit
dapat mengikat hemoglobin dalam darah, sehingga dapat mengurangi
kemampuan hemoglobin sebagai pembawa oksigen dalam darah. Tingginya kadar
nitrit juga dapat mengakibatkan kanker pada lambung dan saluran pernafasan
pada orang dewasa.

Nilai baku mutu untuk nitrit adalah 0,06 mg/L untuk air kelas I-III, dan 0 mg/L
untuk air kelas IV.

f. Nitrat (N-NO3-)

Oleh karena nitrit dapat dengan mudah dioksidasikan menjadi nitrat, maka nitrat
adalah senyawa yang paling sering ditemukan di dalam air bawah tanah maupun
air yang terdapat di permukaan. Pencemaran oleh pupuk nitrogen, termasuk
ammonia anhidrat seperti juga sampah organic hewan maupun manusia dapat
meningkatkan kadar nitrat di dalam air.
Nilai baku mutu untuk nitrat adalah 10 mg/L untuk air kelas I-II dan 20 mg/L
untuk air kelas III-IV.

g. Amoniak (N-NH3)

Amonia di perairan danau dapat berasal dari nitrogen organic dan nitrogen
anorganik yang terdapat dalam tanah dan air hasil dekomposisi bahan organic
oleh mikroba dan jamur. Selain itu, ammonia juga berasal dari denitrifikasi pada
dekomposisi limbah oleh mikroba pada kondisi anaerob. Ammonia juga dapat
berasal dari limbah domestic dan limbah industry.

Nilai baku mutu untuk nitrat adalah 0,5mg/L untuk air kelas I, dan 0mg/L untuk
air kelas II-IV.

h. Fosfor

Di perairan, unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen,
melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan
polifosfat) dan senyawa organic yang berupa partikulat. Fosfor membentuk
kompleks dengan ion besi dan kalsium pada kondisi aerob, bersifat tdak larut, dan
mengendap pada sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik.

Keberadaan fosfor di perairan alami biasanya relative kecil, dengan kadar yang
lebih sedikit daripada kadar nitrogen; karena sumber fosfor lebih sedikit
dibandingkan dengan sumber nitrogen di perairan. Sumber alami fosfor di
perairan adalah pelapukan batuan mineral, misalnya fluorapatite [Ca3(PO4)3F],
hydroxylapatite [Ca3(PO4)3OH], strengite [Fe(PO4)2H2O], whitlockite
[Ca3(PO4)2], dan berlinite (AlPO4). Selain itu, fosfor juga berasal dari
dekomposisi bahan organic. Sumber antropogenik fosfor adalah limbah industry
dan domestic, yakni fosfor yang berasal dari detergen, dan limpahan dari daerah
pertanian yang menggunakan pupuk.

Fosfor tidak bersifat tolsik bagi manusia, hewan, dan ikan.Namun, tingginya
kadar organic fosfat akan meningkatkan tegangan permukaan air dalam bentuk
lapisan tipis, sehingga dapat menghalangi difusi O2 dari udara ke dalam badan
air. Umumnya kandungan fosfat dalam perairan alami sangat kecil dan tidak
pernah melampaui 0,1 mg/l, kecuali bila ada penambahan dari luar oleh factor
antropogenik seperti dari sisa pakan dan limbah pertanian.
Nilai baku mutu fosfor dinyatakan dengan total sebagai P adalah 0,2mg/L untuk
air kelas I-II, 1mg/L untuk air kelas III, dan 5mg/L untuk air kelas IV.

i. Besi

Besi adalah salah satu elemen yang dapat ditemui hampir pada setiap tempat di
bumi. Kandungan Fe ini berhubungan dengan struktur tanah. Selain bersumber
dari dalam tanah sendiri, Fe dapat pula berasal dari sumber lain, diantaranya
larutnya pipa besi reservoir air yang terbuat dari besi atau endapan-endapan
buangan industry. Adapun besi terlarut yang berasal dari pipa atau tangki-tangki
besi adalah akibat dari beberapa kondisi, diantaranya : 1) Akibat pengaruh pH
yang rendah (bersifat asam), 2) Pengaruh akibat adanya CO2 agresif yang
menyebabkan larutnya logam besi, 3) Pengaruh banyaknya O2 yang terlarut
dalam air, 4) Pengaruh tingginya temperature air sehingga melarutkan besi-besi
dalam air, 5) Kuatnya daya hantar listrik/konduktivitas air, 6) Adanya bakteri besi
dalam air.

Pada umumnya besi yang ada di dalam air dapat bersifat terlarut sebagai Fe2+
(kation ferro) atau Fe3+ (kation ferri). Hal ini tergantung kondisi pH dan oksigen
terlarut dalam air. Dapat juga berbentuk senyawa tersuspensi, sebagai butir
koloidal seperti Fe(OH)3, FeO, Fe2O3, dan lain-lain.

Nilai baku mutu untuk Fe ialah ialah 0,3 mg/L bagi pengolahan air minum secara
modern, dan 0,5 mg/L bagi pengolahan air minum secara tradisional. Apabila
konsentrasi besi terlarut dalam air melebihi batas tersebut, akan menyebabkan
berbagai masalah, diantaranya :

ƒ Gangguan teknis, endapan Fe(OH) bersifat korosif terhadap pipa dan akan
mengendap pada saluran pipa, sehingga mengakibatkan pembuntuan dan efek-
efek yang dapat merugikan seperti mengotori bak yang terbuat dari seng,
wastafel dan kloset.

ƒ Gangguan fisik, yaitu timbulnya warna, bau, rasa yang tidak enak pada air.
Apabila kelarutan besi dalam air melebihi 10 mg/L akan menyebabkan air
berbau seperti telur busuk.

ƒ Gangguan kesehatan. Senyawa besi dalam jumlah kecil di dalam tubuh manusia
berfungsi sebagai pembentuk sel-sel darah merah, dimana tubuh memerlukan 7-
35 mg/hari yang sebagian diperoleh dari air. Tetapi zat Fe yang melebihi dosis
akan menimbulkan masalah, hal ini dikarenakan tubuh manusia tidak dapat
mengsekresi Fe. Air minum yang mengandung Fe terlalu tinggi, cenderung
menimbulkan mual apabila dikonsumsi. Selain itu dalam dosis besar dapat
merusak dinding usus.

III. PARAMETER BIOLOGIS

Parameter biologis yang sering digunakan untuk mengethui kualitas air adalah
kandungan total coliform, termasuk di dalamnya adalah fecal coliform.

Total Coliform

Bakteri coliform dapat digunakan sebagai indicator adanya pencemaran feses atau
kotoran manusia dan hewan di dalam perairan. Golongan bakteri ini umumnya
terdapat di dalam feses manusia dan hewan. Keberadaan bakteri ini di dalam air
tidak dikehendaki, baik ditinjau dari segi kesehatan, estetika, kebersihan maupun
kemungkinan terjadinya infeksi yang berbahaya. Beberapa jenis penyakit dapat
ditularkan oleh bakteri coliform melalui air, terutama penyakit perut seperti tipus,
kolera dan disentri. Bakteri coliform juga merupakan bakteri indicator dalam
menilai tingkat higienitas suatu perairan.

Nilai baku mutu untuk total coliform adalah 1000jml/100ml untuk air kelas I,
5000jml/100ml untuk air kelas II, dan 10000jml/100ml untuk air kelas III-IV.

Apabila dalam pengamatan kualitas air, ditemukan nilai parameter-parameter diatas


melebihi baku mutu, maka kualitas air digolongkan pada kondisi mutu air tercemar.
DAFTAR PUSTAKA

Minnesota River: Basin Information Document. Minnesota Pollution Control Agency.


November, 1997.
Modul Praktikum MTPPL Laboratorium Analisis dan Instrumen, Teknik Kimia UGM,
Yogyakarta.

PP. No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran aAir

Sawyer, C. N and P. L., MC Carty, 1978, Chemistry for Environmental Engineering, 3rd ed.,
McGraw Hill Kogakusha Ltd.

http://www.cdphe.state.co.us/cdphereg.asp.

http://www.epa.gov/safewater/mcl.html