P. 1
2009 Bappenas Database Pembangunan Kesehatan Dan Gizi Masyarakat Tahun 2009

2009 Bappenas Database Pembangunan Kesehatan Dan Gizi Masyarakat Tahun 2009

|Views: 2,770|Likes:
Dipublikasikan oleh patricia sibarani

More info:

Published by: patricia sibarani on Nov 23, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. LATAR BELAKANG
  • B. TUJUAN
  • C. HASIL YANG DIHARAPKAN
  • A. RUANG LINGKUP
  • B. METODOLOGI
  • Sistem Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat tahun 2009
  • 4. Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat (.mdb)
  • B. INDIKATOR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN GIZI
  • A. STATUS KESEHATAN
  • 1. STATUS KESEHATAN
  • 1.1. ANGKA KEMATIAN
  • 1.1.1. ANGKA KEMATIAN IBU (AKI)
  • 1.1.2. ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA)
  • 1.1.3. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB)
  • 1.1.4. ANGKA KEMATIAN NEONATAL
  • 1.1.5. ANGKA KEMATIAN KASAR
  • 1.2. ANGKA KESAKITAN
  • 1.2.1. PENYAKIT MENULAR
  • 1.2.1.1. TUBERKULOSIS
  • TABEL 1.5 Hasil Cakupan Penemuan Penderita TB Tahun 2001-2008
  • GAMBAR 1.34 Keberhasilan Pengobatan TB di Indonesia Tahun 1990 - 2006
  • 1.2.1.2. MALARIA
  • TABEL 1.6 Insidens Malaria Per Provinsi Tahun 2008
  • 1.2.1.3. HIV dan AIDS
  • 1.2.1.4. DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
  • GAMBAR 1.41 Jumlah Penderita DBD Per Provinsi Tahun 2008
  • 1.2.1.5. DIARE
  • GAMBAR 1.42 Jumlah Kasus dan CFR Diare di Indonesia Tahun 2000 - 2008
  • TABEL 1.9 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Per Provinsi Tahun 2008
  • TABEL 1.10 Kasus Konfirm AI Per Tahun Dari Tahun 2005-2008
  • 1.2.1.6. SEPULUH PENYAKIT UTAMA
  • 1.2.2. PENYAKIT TIDAK MENULAR
  • 1.2.2.1. JANTUNG
  • TABEL 1.12 Prevalensi Penyakit Jantung Per Provinsi Tahun 2007
  • 1.2.2.2. DIABETES MELLITUS
  • TABEL 1.14 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Per Provinsi Tahun 2007
  • 1.2.2.3. HIPERTENSI
  • TABEL 1.16 Prevalensi Penyakit Hipertensi Per Provinsi Tahun 2007
  • 1.2.2.4. TUMOR
  • TABEL 1.18 Prevalensi Penyakit Tumor Per Provinsi Tahun 2007
  • 1.2.2.5. SEPULUH PENYAKIT UTAMA
  • TABEL 1.21 Penyebab Kematian Pada Semua Umur di Indonesia Tahun 2007
  • 1.3. STATUS GIZI
  • 1.3.1. PREVALENSI KEKURANGAN GIZI PADA ANAK BALITA
  • TABEL 1.24 Prevalensi Kurang Gizi Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 1.51 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 1.53 Angka Gizi Buruk Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 1.55 Angka Gizi Kurang Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 1.57 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Sumatera Tahun 2007
  • GAMBAR 1.58 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007
  • GAMBAR 1.59 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007
  • GAMBAR 1.60 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Kalimantan Tahun 2007
  • GAMBAR 1.61 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Sulawesi Tahun 2007
  • GAMBAR 1.62 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Maluku Tahun 2007
  • GAMBAR 1.63 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Papua Tahun 2007
  • 1.3.2. PREVALENSI STUNTING PADA ANAK BALITA
  • 1.3.3. PREVALENSI WASTING PADA ANAK BALITA
  • 1.3.4. PREVALENSI GIZI LEBIH PADA BALITA
  • TABEL 1.31 Prevalensi Gizi Lebih Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 1.67 Angka Prevalensi Gizi Lebih Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007
  • 1.3.5. PREVALENSI GIZI LEBIH DIATAS 15 TAHUN
  • GAMBAR 1.68 Angka Prevalensi Gizi Lebih Diatas 15 Tahun Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 1.70 Angka Prevalensi BBLR Per Provinsi Tahun 2007
  • 1.4. UMUR HARAPAN HIDUP (UHH)
  • GAMBAR 1.74 Umur Harapan Hidup Per Provinsi Tahun 2008
  • 2. PERLINDUNGAN FINANSIAL
  • 2.1. CAKUPAN ASURANSI KESEHATAN
  • 2.2. PENGELUARAN PER KAPITA UNTUK KESEHATAN
  • 2.3. PENGELUARAN KATASTROPIK
  • 3. KETANGGAPAN
  • 3.1. KEPUASAN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN
  • 3.2. JARAK KE SARANA KESEHATAN
  • 3.3 WAKTU TEMPUH KE SARANA KESEHATAN
  • B. KINERJA KESEHATAN
  • TABEL 2.4 Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4 Per Provinsi Tahun 2008
  • GAMBAR 2.13 Persentase Kunjungan Ibu Hamil K1 Per Provinsi Tahun 2008
  • GAMBAR 2.14 Persentase Kunjungan Ibu Hamil K4 Per Provinsi Tahun 2008
  • 6. CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS
  • TABEL 2.5 Cakupan Kunjungan Neonatus Per Provinsi Tahun 2008
  • GAMBAR 2.16 Cakupan Kunjungan Neonatus Per Provinsi Tahun 2008
  • 7. CAKUPAN IMUNISASI DASAR
  • 9. ANAK YANG TIDAK DIIMUNISASI
  • 10. CAKUPAN IMUNISASI PADA IBU
  • TABEL 2.12 Persentase Cakupan Imunisasi Pada Ibu Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 2.20 Persentase Cakupan Imunisasi Pada Ibu Per Provinsi Tahun 2007
  • CAKUPAN IMUNISASI PADA IBU
  • 11. ASI EKSKLUSIF
  • TABEL 2.14 Status Pemberian ASI Menurut Umur Anak Di Indonesia Tahun 2007
  • 12. KONSUMSI GARAM BERYODIUM
  • GAMBAR 2.24 Persentase Distribusi Vitamin A Per Provinsi Tahun 2007
  • 14. KONSUMSI TABLET BESI
  • TABEL 2.19 Persentase Konsumsi Tablet Besi Per Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 2.25 Persentase Konsumsi Tablet Besi Per Provinsi Tahun 2007
  • 15. PREVALENSI PENGGUNAAN KONTRASEPSI
  • GAMBAR 2.27 Prevalensi Penggunaan KB Per Provinsi Tahun 2007
  • 16. PERSENTASE UNMET NEED
  • GAMBAR 2.28 Trend Unmet Need Di Indonesia Tahun 1991-2007
  • TABEL 2.22 Perkembangan Unmet Need
  • C. SUMBER DAYA KESEHATAN
  • TABEL 3.1 Keberadaan Tenaga Kesehatan Di Indonesia Tahun 2008
  • 18. PUSKESMAS DAN JARINGANNYA
  • TABEL 3.4 Jumlah Puskesmas dan Jaringannya Di Indonesia Tahun 1996 - 2008
  • GAMBAR 3.4 Rasio Puskesmas Per 100.000 Penduduk Tahun 2004-2008
  • 19. RUMAH SAKIT
  • 20. UKBM (UPAYA KESEHATAN BERBASIS MASYARAKAT)
  • TABEL 3.12 Jumlah Posyandu Menurut Kategori Di Indonesia Tahun 2000 - 2006
  • 21. PEMBIAYAAN KESEHATAN
  • 21.1. ANGGARAN DEPKES DAN BADAN POM MENURUT PROGRAM
  • TABEL 3.16 Pagu Indikatif RAPBN Depkes (juta rupiah) Tahun 2009
  • TABEL 3.17 Tabel Pagu Indikatif RAPBN BPOM (juta rupiah) Tahun 2009
  • 21.2. PENGELUARAN KESEHATAN PUBLIK DI INDONESIA
  • TABEL 3.20 Perkembangan Alokasi DAK Per Bidang Tahun 2003 - 2008
  • 21.4. ANGGARAN KESEHATAN TOTAL MENURUT PROGRAM
  • 21.5. PROPORSI PEMBIAYAAN KESEHATAN DI INDONESIA
  • GAMBAR 3.18 Sumber Pembiayaan Kesehatan Di Indonesia Tahun 2004
  • GAMBAR 3.20 Sumber Pembiayaan Kesehatan Di Indonesia Tahun 2001 - 2008
  • 21.7. DISTRIBUSI ANGGARAN DAK MENURUT PROPINSI
  • GAMBAR 3.21 Distribusi Anggaran DAK Per Provinsi Tahun 2008
  • 21.8. PERBANDINGAN ANGGARAN RI DENGAN NEGARA LAIN
  • D. DETERMINAN KESEHATAN
  • TABEL 4.1 Jumlah Penduduk Indonesia Per Provinsi Tahun 2006 - 2008
  • GAMBAR 4.2 Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1961 - 2005
  • GAMBAR 4.3 Komposisi Penduduk Indonesia Tahun 1971
  • GAMBAR 4.4 Komposisi Penduduk Indonesia Tahun 2008
  • GAMBAR 4.5 Jumlah Penduduk Menurut Pulau Tahun 2008
  • TABEL 4.4 Negara-negara dengan Jumlah Penduduk Terbanyak di Dunia
  • 23. KEMISKINAN
  • GAMBAR 4.11 Jumlah Penduduk Miskin Menurut Provinsi Tahun 2007
  • GAMBAR 4.12 Persentase Angka Kemiskinan Per Provinsi Tahun 2007
  • 24. PENDIDIKAN
  • 25. AKSES KE AIR BERSIH
  • TABEL 4.11 Persentase Akses Air Bersih Rumah Tangga Tahun 1994 - 2007
  • GAMBAR 4.19 Persentase Akses Air Bersih Di Indonesia Tahun 1994 - 2007
  • 26. AKSES KE SANITASI
  • TABEL 4.14 Tren Persentase Akses Sanitasi Layak Tahun 1992 - 2007
  • GAMBAR 4.22 Persentase Akses Sanitasi Layak Di Indonesia Tahun 1992 - 2007
  • 27. MEROKOK
  • 28. AKTIFITAS FISIK
  • GAMBAR 4.28 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Per Provinsi Tahun 2007
  • 29. KONSUMSI KALORI DAN PROTEIN
  • 30. KONSUMSI SAYUR DAN BUAH
  • 31. KERACUNAN MAKANAN
  • DAFTAR PUSTAKA

Pengembangan Database Pembangunan Bidang Kesehatan dan Gizi Masyarakat

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT KEDEPUTIAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN KEBUDAYAAN BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 2009

KATA PENGANTAR

Data dan informasi merupakan prasyarat bagi penyusunan perencanaan yang baik, yaitu perencanaan yang didasarkan pada bukti-bukti data dan informasi yang terpercaya (evidence based – planning). Data yang dimaksud biasanya bersifat agregat untuk tingkat nasional, maupun data per wilayah dan propinsi. Selain itu akan menjadi keuntungan tersendiri, bila data dapat dipilah menurut jenis kelamin, perkotaan – perdesaan, dan tingkat sosial ekonomi. Penyusunan database pembangunan kesehatan dan gizi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan penyusunan database pembangunan kesehatan yang telah dimulai sejak tahun 2005. Jika pada penyusunan database tahun 2006, output utamanya adalah buku indikator, pada tahun 2007, selain buku yeng berisi data indikator pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat, dibuat juga suatu sistem database dengan memanfaatkan software Devinfo dengan tujuan untuk memudahkan pengorganisasian dan akses terhadap data. Pada tahun 2008, output utamanya adalah buku yang berisi indikator pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat, sistem database Devinfo dan pemutakhiran data dengan analisis lebih lanjut dari Susenas dan rencana Digitalisasi data dan Akses data secara online. Pada tahun 2009, telah

mengalami beberapa penyempurnaan antara lain akses data secara online melalui website. Oleh karenanya, selain dalam bentuk laporan hardcopy, data yang telah terkumpul dan diolah kemudian disimpam dalam format Microsoft Excell, yang bisa diakses, dimanipulasi, dan dianalisa lebih lanjut bila diperlukan, Devinfo database dan akses data secara online melalui website. Akhirnya, kami berharap bahwa penyusunan database ini dapat digunakan sebaik-baiknya sebagai dasar perencanaan. Dan kami menyadari masih banyak kekurangan yang ditemui dalam laporan kali ini, dan dengan terbuka kami menerima segala koreksi dan saran yang konstruktif. Terimakasih.

Jakarta, Desember 2009

Arum Atmawikarta Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas

-i-

TIM PENYUSUN KEGIATAN PENYUSUNAN DATABASE PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT TAHUN 2009

Penanggung Jawab

:

Dra. Nina Sardjunani, MA, (Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Bappenas) Tim Pelaksana Teknis Ketua : Dr. Arum Atmawikarta, SKM, MPH, (Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Bappenas) Sekretaris Anggota : Sularsono, SP, ME : Dr. Hadiat, MA Ir. Yosi Diani Tresna, MPM Imam Subekti, MPS, MPH Inti Wikanestri, SKM Ardhiantie, SKM Dewi Amila Solikha, SKM

Tim Pendukung

: Nurlaily Aprilianty Adhi Setyo Meiharinto, S.Si

- ii -

DAFTAR SINGKATAN    AKABA AKB AKI AKN Akseskin ASI BB/U BBLR BPOM BPS CDR CFR DAK DBD Depkes GAKY IPM Jamkesmas KB KPA MDGs PODES Polindes Posyandu PTM Puskesmas Pustu Riskesdas RPJMN RPJPN RS RSUD SDKI SDM SKRT Susenas TB TB/U TFR TGR UCI UHH UKBM Angka Kematian Balita Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Angka Kematian Neonatal Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin Air Susu Ibu Berat Badan Menurut Umur Berat bayi lahir rendah Badan Pengawas Obat dan Makanan Badan Pusat Statistik Case detection Rate Case Fatality Rate Dana Alokasi Khusus Demam berdarah Dengue Departemen Kesehatan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium Indeks Pembangunan Manusia Jaminan Kesehatan Masyarakat Keluarga Berencana Komisi Penanggulangan AIDS Millenium Development Goals Survei Potensi Desa Pondok Bersalin Desa Pos Pelayanan Terpadu Penyakit Tidak Menular Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Riset Kesehatan Dasar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rumah Sakit Rumah Sakit Umum Daerah Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Survei Kesehatan Rumah Tangga Survei Sosial Ekonomi Nasional Tuberkulosis Tinggi Badan Menurut Umur Total Fertility Rate Total Goiter Rate Universal Child Immunization Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
- iii -

2............1.................iv - ................. vii DAFTAR GAMBAR ........... 64 ...................... iii DAFTAR ISI..........2..... iv DAFTAR TABEL ................3........1....... 8 A.................... 13 1....3............1................ Sepuluh Penyakit Utama ............ 7 B..........................2.... Indikator Pembangunan Kesehatan dan Gizi . Penyakit Tidak Menular ..........................2............... 42 ................. 58 ...........................1.............................. 3 Ruang Lingkup........1........1...............5.............1.............................................. Angka Kematian Kasar ........................................... Diare ....................2......................... 1 Latar Belakang .. STATUS KESEHATAN......................... 7 A...............2....................... Tumor ..........................1.2..............................1.............2........................................................ 42 .........2........ BAB II..6...................2......1...............1.1.................... 46 .............................................1...1...................................... A...... Angka Kematian Bayi (AKB) .1................................ Sepuluh Penyakit Utama ........... 25 .................. Diabetes Mellitus .........5...........6.. Angka Kematian Neonatal ............................. Status Kesehatan ........ 36 ................... Penyakit Menular .......1.........................................4............................1...... HIV dan AIDS ............. B...................................... HASIL PELAKSANAAN...........2....... Angka Kematian Ibu (AKI) ............... Demam Berdarah Dengue ................... 2 Hasil Yang Diharapkan .. 48 ...... Angka Kesakitan .................................................................... 66 ................2................................... 14 1.... Angka Kematian ....... A......................2.2........2............................................... ii DAFTAR SINGKATAN .............................2.2.....1.......... 60 ................................................................................ 3 Metodologi ........... 42 ......................1......1..........................1.....1......... B...........2....................................1..................1..................2...................................2......... Angka Kematian Balita (AKABA) ... C........................... 14 .......2...................................1..1............ 53 ........ 54 ............................... Malaria......... i TIM PENYUSUN ......................................... xii BAB I.... AI (Flu Burung) ............................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................2..5........ 39 1............................................. 51 ..................................1.............................................................................................................1.. PENDAHULUAN .................. Jantung...........................1......................3......... 2 RUANG LINGKUP DAN METODOLOGI .................... 58 ..1.............................2......4.......1........................... Tuberkulosis ...........1................................................................ 14 .............. Sistem Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat ................................................................................... 15 ...........1.......................... Hipertensi .............. 1 Tujuan ..... 5 BAB III.........................4......................................1.............2............................................. 57 ...........1........1.... 62 .........

................. 180 Proporsi Pembiayaan Kesehatan Menurut Tingkat Pemerintahan .......................................................................................................9................... Rumah Sakit ........3..... 98 2.... Prevalensi Penggunaan Kontrasepsi (CPR) . Ketanggapan ..................2..... 140 11.................. 117 4...................1.......................... 178 Anggaran Kesehatan Total menurut Program .....1.................. 181 Distribusi Anggaran DAK Menurut Propinsi ..... 90 .... 151 16.................................. Cakupan Imunisasi Campak .... SDM Kesehatan ...........................................................................................................................................1......... 171 Anggaran Depkes dan Badan POM Menurut Program ...................... 95 1....... Pengeluaran Katastropik................ 148 15.......................... 162 20.........1.................................... 85 ....3................4......................... 105 3.................... Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih . Jarak Ke Sarana Kesehatan ....1. 179 Proporsi Pembiayaan Kesehatan di Indonesia................ 132 7.2.................... 129 6....... UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) .........3..... Konsumsi Kapsul Vitamin A ... Cakupan Kunjungan Neonatus ........ 98 2..............................3................................................. ASI Eksklusif ..... 69 ............................ Cakupan Asuransi Kesehatan ... 184 -v- .. Puskesmas dan Jaringannya .................................................... Cakupan Imunisasi Pada Ibu ......................... KINERJA KESEHATAN ................... SUMBER DAYA KESEHATAN ............................................ 92 ....... 69 ......................................2...........................3........................................ 171 Pengeluaran Kesehatan Publik di Indonesia ..... 100 2.. 182 Perbandingan Anggaran RI dengan Negara Lain ................4....... 183 21.....7.. 139 10............................. 147 14............................ 137 9............... Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ..................................1.. 83 ...................................... Prevalensi Kekurangan Gizi Pada Anak Balita (BB/U) ......1........... 114 B.........................................3.........6.3................................................ 176 Alokasi DAK ................................................................................... Prevalensi Stunting Pada Anak Balita (TB/U) ...................... Cakupan Imunisasi Dasar ........1............. Prevalensi Gizi Lebih Pada Balita . Perlindungan Finansial......... Anak Yang Tidak Diimunisasi............................... Prevalensi Gizi Lebih Diatas 15 Tahun ..................... Prevalensi Wasting Pada Anak Balita (BB/TB) ............................3...........3..................1........................... Waktu Tempuh Ke Sarana Kesehatan ....................................................... 104 3.. 111 3..................... 141 12................. 156 18.................................. 167 21......................................... Pengeluaran Per Kapita Untuk Kesehatan........................... 118 5. 143 13...............3........1....................... Status Gizi ...................................... 134 8..........3.................................... 89 .... 96 2......... Konsumsi Garam Beryodium ........ Kepuasan Terhadap Pelayanan Kesehatan ... Anggaran Kesehatan Berasal PHLN ......... Persentase Unmet Need ...............................5........................................................................................... 105 3............. 155 17...................................................... Cakupan K1 dan K4 ... 152 C...................................... Pembiayaan Kesehatan .......................... 159 19..................... Konsumsi Tablet Besi .............1..... GAKY . Umur Harapan Hidup (UHH) ...................

..... 220 30................................................................................................................... Penduduk........................................................................ Konsumsi Sayur dan Buah .... 217 29......................... 223 31........ 214 28........ 185 22..... 186 23........................ DETERMINAN KESEHATAN ....................................................................................................................... 226 BAB IV.................................... A............................................. Akses Ke Sanitasi ........................... 228 ...................................... Akses Ke Air Bersih .................................. B...D.................... Merokok ............................................................ 210 27..................................................................................................... Pendidikan.................................. 207 26................................................................................................. Kemiskinan ............................................... 227 Kesimpulan . Keracunan Makanan ................................................................ KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ............ Konsumsi Kalori dan Protein .................................vi - ....... 201 25................... 227 DAFTAR PUSTAKA .............................................. 198 24..................................................... 227 Rekomendasi.......................... Aktifitas Fisik........

Angka Kematian Balita Per Provinsi Tahun 2007 .......... Case Fertility Rate... 55 Tabel 1......................................................... 60 Tabel 1....... Prevalensi Hipertensi menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ...... 25....... 57 Tabel 1......................... Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ............................................ 53 Tabel 1....... 66 Tabel 1...... 1.................. 3...... Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U) Per Provinsi Tahun 2007 ................. 65 Tabel 1...... 58 Tabel 1............................DAFTAR TABEL Tabel 1........... Angka Kematian Neonatal Per Provinsi Tahun 2007 ......................................... Prevalensi Penyakit Jantung Per Provinsi Tahun 2007 .................. 64 Tabel 1....... Insidens Rate...... 40 Tabel 1. Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Per Provinsi Tahun 2007................ 66 Tabel 1........ 68 Tabel 1....... Sepuluh Penyakit Utama pada Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2006 ......................... Angka Kematian Kasar Per Provinsi Tahun 2008 ............................... 21................... 51 Tabel 1.. Angka Kematian Bayi Per Provinsi Tahun 2007 ...... 9. Kasus Konfirm AI Per Tahun Dari Tahun 2005-2008 ................ 11................ 62 Tabel 1................. 22.............. 8........................... Hasil Cakupan Penemuan Penderita TB Tahun 2001-2008 . 63 Tabel 1...... 4........ 82 Tabel 1......... 59 Tabel 1................... Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Per Provinsi Tahun 2008 . 10....................... Prevalensi Penyakit Jantung menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ....... Proporsi Sepuluh Penyakit Menular Utama pada Semua Umur ...... 15....... 2..... 37 Tabel 1... 83 .................... 16 Tabel 1.............. Insidens Malaria Per Provinsi Tahun 2008 .......... Prevalensi Kurang Gizi Per Provinsi Tahun 2007 ............................. 20...................... 71 Tabel 1.. Tren Balita Berstatus Gizi Kurang dan Buruk di Indonesia Tahun 2002-2007 ........................ 14....... 7........... Proporsi Penyakit Tidak Menular Pada Semua Umur di Indonesia Tahun 2007 ............ 24.......... 5..... 6............vii - ............ Jumlah Penderita dan Jumlah Kab/Kota yang Terjangkit DBD di Indonesia Tahun 1998-2008 ......................................................................... Tabel Prevalensi Penyakit Tumor menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ..... Penyebab Kematian pada Semua Umur di Indonesia Tahun 2007 ....... 70 Tabel 1........... 13............ 23.............. 19........ 26 Tabel 1............................................... Prevalensi Penyakit Hipertensi Per Provinsi Tahun 2007 .. 12.... Prevalensi Balita menurut Status Gizi (BB/U) dan Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ... 16................................... 18.... 47 Tabel 1..... 51 Tabel 1... 61 Tabel 1................................... Jumlah Penderita dan CFR DBD Per Provinsi 2008 .. Prevalensi Penyakit Tumor Per Provinsi Tahun 2007 .......... 43 Tabel 1.............................................................. 26.......... 17.....................................

............................ 111 Tabel 1...... 85 Tabel 1.......... Persentase Penduduk Rawat Jalan menurut Aspek Ketanggapan Per Provinsi Tahun 2007 ....................................... Persentase Penduduk Rawat Inap menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2007 ................. 108 Tabel 1. 36. 27..... Persentase Gizi Dewasa (15 Tahun Keatas) menurut IMT dan Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 .................................... Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir Menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ....... 101 Tabel 1...................... 38.... 92 Tabel 1..viii - .... 30.. Pengeluaran Kesehatan Rumah Tangga Per Kapita di Indonesia Tahun 2002-2006 . Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U) dan Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ......... 42...... 28............... Usia Harapan Hidup Per Provinsi Tahun 2007 ...................................... Persentase Rumah Tangga menurut Jarak ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan Karakteristik Rumah Tangga Tahun 2007 ........... 44. 47.............. Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Keatas) Per Provinsi Tahun 2007 ... 94 Tabel 1........ 110 Tabel 1................................................................ 96 Tabel 1. 113 Tabel 1.............................. Persentase Penduduk Rawat Jalan menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2007 ............................................ Persentase Rumah Tangga menurut Waktu Tempuh ke Sarana Pelayanan Kesehatan Per Provinsi Tahun 2007.......................... 32.................................... 91 Tabel 1.................. 35................................ Prevalensi Gizi Lebih pada Balita Per Provinsi Tahun 2007......... Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB) dan Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ............... 105 Tabel 1................ 90 Tabel 1.................................. 33......................... 87 Tabel 1......... 39.................. Pengeluaran Kesehatan Rumah Tangga Per Kapita Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2001 dan 2006 ........ 100 Tabel 1..................... 41............................... Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB) Per Provinsi Tahun 2007 ........ Persentase Rumah Tangga menurut Jarak ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan UKBM Per Provinsi Tahun 2007 ............................... 45... 40.................. Tren Wanita Usia Subur (WUS) Berstatus Gizi Kurang di Indonesia Tahun 2002-2007 ..... 107 Tabel 1........ 34....... 88 Tabel 1......................................... Prevalensi Gondok di Indonesia Tahun 1980-2007 ............. Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi Per Provinsi Tahun 2007 ..................... 37.......... Penduduk Rawat Inap menurut Aspek Ketanggapan Per Provinsi Tahun 2007 .... 89 Tabel 1.............. 91 Tabel 1.......... 95 Tabel 1................................ 31...................................................Tabel 1................................ 114 ..... 84 Tabel 1.................... 43... 46...................................... Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir Per Provinsi Tahun 2007 ..................... 29.....

... 147 Tabel 2.............. Persentase Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ....................................... Persentase Balita yang Mendapat Imunisasi Dasar menurut Jenis Imunisasi Per Provinsi Tahun 2007 ....... 138 Tabel 2...... 48................................... Persentase Anak Usia dibawah 7 Bulan yang Diberi ASI Saja Selama 24 Jam Terakhir Per Provinsi Tahun 2005 ............. 133 Tabel 2........... 119 Tabel 2................ 17.......... Persentase Konsumsi Tablet Besi Per Provinsi Tahun 2007 .................. 140 Tabel 2....... 134 Tabel 2.. Balita Memperoleh Imunisasi di Indonesia Tahun 2004 dan 2007 ..... 5........................ 1...... 146 Tabel 2..... 116 Tabel 2................................... 3...................... Persentase Anak Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Campak Per Provinsi Tahun 2007 ...................................... 153 Tabel 3......... 7.... Persentase Anak Balita yang Tidak mendapat Imunisasi Per Provinsi Tahun 2007 ..... Keberadaan Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2008 ................................. 141 Tabel 2..................................................... 18.. 130 Tabel 2.............. 135 Tabel 2........................ 11......... 142 Tabel 2............ Persentase Cakupan Imunisasi Pada Ibu Per Provinsi Tahun 2007 ..... 19..... Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4 Per Provinsi Tahun 2008 .......... 9. 2........... 12...... Cakupan Kunjungan Neonatus Per Provinsi Tahun 2008............. 21............. 10.... 22. 8.................... 152 Tabel 2..................... Pencapaian Pembangunan Program KB Nasional di Indonesia Tahun 1994-2007 .......................... 150 Tabel 2......................Tabel 1......................................... 1........................................ 4......... 144 Tabel 2..................... Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A Per Provinsi Tahun 2007 .......................................... 119 Tabel 2..................... 15..................................... 14.........ix - ............ Cakupan Imunisasi Anak Usia 12-23 Bulan di Indonesia Tahun 2002/2003-2007 ......... Persentase Rumah Tangga menurut Waktu Tempuh ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2007 ........................ 148 Tabel 2................................ 156 ..... 6............. Perkembangan Unmet Need ............................................................. Tren Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Medis Berdasarkan Disparitas Kota-Desa Tahun 2000-2007 ..... Cakupan ASI Eksklusif di Indonesia Tahun 1991-2007................ Balita yang Memperoleh Imunisasi Campak di Indonesia Tahun 2004-2007 . Tren Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Medis Berdasarkan Disparitas Ekonomi Tahun 2000-2007 ..................... 135 Tabel 2......................................... 13............. Status Pemberian ASI menurut Umur Anak di Indonesia Tahun 2007 ........................ Persentase Pemberian Tablet Besi menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 .... Persentase Persalinan yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Per Provinsi Tahun 2007 .......... 16........ 139 Tabel 2.................................... 141 Tabel 2.... 20. 138 Tabel 2................................................ 119 Tabel 2....... Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium Per Provinsi Tahun 2007 ...

.... 5........................................ 178 Tabel 3.... Negara-negara dengan Jumlah Penduduk Terbanyak di Dunia .. 192 Tabel 4........ 193 -x- ......... Jumlah Penduduk Menurut Provinsi .... 161 Tabel 3.................... Jumlah dan Rasio Puskesmas Per Provinsi Tahun 2008 ..................... 19.... 163 Tabel 3.. Jumlah Sarana Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) Per Provinsi Tahun 2008 ....................................................... 13.... 167 Tabel 3.. 157 Tabel 3.............. 173 Tabel 3............................................... 163 Tabel 3.... Jumlah Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Per Provinsi Tahun 2008 .......................................................................................................... 176 Tabel 3.....2008 ......... Persentase Pengeluaran untuk Kesehatan Terhadap Total Pengeluaran di Indonesia Tahun 2000-2007 ........................................................ 187 Tabel 4....................... 18.. 4...... 174 Tabel 3..... 171 Tabel 3........................... Jumlah Puskesmas dan Jaringannya di Indonesia Tahun 1996 ................................. 158 Tabel 3...........2008 .... Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur Menurut Pengelola Tahun 2005-2008 ..... Jumlah Penduduk Indonesia Per Provinsi Tahun 2006-2008 . Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur menurut Kepemilikan di Indonesia Tahun 1997 ....... 16...... 17....................................... 3..................... 3............. 6..................... 21.......... Gambaran Belanja Kesehatan Indonesia dan Negara ASEAN Lainnya Tahun 2005 ....... Tren Pengeluaran Kesehatan Publik Tahun 2001-2008 ............ 14... 9........................... 162 Tabel 3.................................. 12................................. 2..................... Alokasi Anggaran Depkes Tahun 2005-2010 .................................................. 164 Tabel 3....... 11. 169 Tabel 3.................................................. Tren Penduduk Indonesia Tahun 2000-2008 ....... Pagu Indikatif RAPBN Depkes (juta rupiah) Tahun 2009 .. 20. Jumlah dan Rasio Ketenagaan Puskesmas di Indonesia Tahun 2008.................... Perkembangan Jumlah Rumah Sakit (Umum dan Khusus) di Indonesia Tahun 2004-2008 ....... Jumlah Beberapa Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2006......... 168 Tabel 3......... Tren Produk Domestik Bruto (PDB) dan Anggaran Belanja dalam APBN Tahun 2004-2008 ................... 186 Tabel 4....... 23............................................ 2..... Perkembangan Alokasi DAK Per Bidang Tahun 2003-2008 ............... Jumlah Posyandu menurut Kategori di Indonesia Tahun 2000-2006 ........... 22..... 179 Tabel 3........... Jenis.. Jumlah Puskesmas Non Perawatan dan Puskesmas Perawatan Per Provinsi Tahun 2008 .................... 160 Tabel 3................ 176 Tabel 3........ 7............................... 8.... Penyerapan Anggaran Beberapa Program Pembangunan Kesehatan di Departemen Kesehatan Tahun 2007 ...... 183 Tabel 4. 15........... Alokasi Anggaran BPOM Tahun 2005-2010 .............. 10..................................... 159 Tabel 3........ 175 Tabel 3...............Tabel 3. Pagu Indikatif RAPBN BPOM (juta rupiah) Tahun 2009 ........................ 1................. 179 Tabel 3............... Jumlah dan Persentase Posyandu menurut Kategori di Indonesia Tahun 2000-2006 . 4...........................................

.......................................... Rata-rata Konsumsi Kalori (Gram) Per Kapita/Hari menurut Kelompok Makanan di Indonesia Tahun 2002-2007....... 23............... 211 Tabel 4........................ 215 Tabel 4..... Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 Tahun Keatas Per Provinsi Tahun 2007 . Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja dan Tingkat Pendidikan di Indonesia Tahun 1996-2008 .. 12......... 225 . 11............................ 214 Tabel 4....................... Garis Kemiskinan................. 208 Tabel 4................. 195 Tabel 4............ Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Per Provinsi Tahun 2007 .................... Rata-rata Konsumsi Kalori dan Protein di Indonesia Tahun 2002-2007 ...... 9................xi - .............. Kepadatan Penduduk Per km2 Menurut Provinsi........ Persentase Akses Air Bersih Rumah Tangga Tahun 1994-2007 .......... 7... 6............................................ 21............. Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 1996-2009 ............. 5.......... Persentase Penduduk Umur 10 Tahun Keatas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007............................................ 16...................................................... Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Berusia 15 Tahun Keatas menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin Tahun 2006 ... Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita Per Hari Tahun 2007... 221 Tabel 4........................... 199 Tabel 4...................... Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 Tahun Keatas Per Provinsi Tahun 2007 ................ 217 Tabel 4............. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok di Indonesia Tahun 1995-2007 ....... 196 Tabel 4........................ 222 Tabel 4...... 22......... 207 Tabel 4.............. 216 Tabel 4.... Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih Per Provinsi Tahun 2007 ......................... 26................... Tren Persentase Akses Sanitasi Layak Tahun 1992-2007 ....... 10.......................... 14.. 222 Tabel 4.................................Tabel 4..... 18...... 17.. 19.................... 25........... 13........... Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi Per Provinsi Tahun 2007 ........ Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 Tahun Keatas menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ... 223 Tabel 4................... 220 Tabel 4........................ 20. 210 Tabel 4.................... 201 Tabel 4........ 208 Tabel 4........ 199 Tabel 4.............. 15. 24..... Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 Tahun Keatas menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 ........ 8................................ Rata-rata Konsumsi Protein (Gram) Per Kapita/Hari menurut Kelompok Makanan di Indonesia Tahun 2002-2007..... Tren Air Bersih dan Sanitasi Berdasarkan Kuintil Pendapatan Tahun 2000-2007 .......................... Persentase Penduduk dan Jumlah Penduduk Menurut Daerah Perkotaan-Perdesaan dan Jenis Kelamin ............... 219 Tabel 4.................... Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah Tahun 2008 dan 2009 ........ 202 Tabel 4..............................

Angka Kematian Bayi Berdasarkan Kuintil Pendapatan 2007 ....... Gambar 1.. 25 Gambar 1.................. 6.. Gambar 1............................... 15 Peta Penyebaran Angka Kematian Balita Per Provinsi Tahun 2007 . Angka Kematian Bayi Per Provinsi Tahun 2007 ......... 25..................................................................... Gambar 1.... Angka Kematian Bayi Per Provinsi Tahun 2007 ....... 28 Gambar 1.... Angka Kematian Kasar di Indonesia Tahun 2000-2008 ......... 20 Angka Kematian Balita Wilayah Kalimantan Tahun 2007 ........xii - ....... 27 Gambar 1.................................... Gambar 1..................... 5.................................. Prevalensi Tuberkulosis Tahun 1980-2004 .............. 11.... 39 Gambar 1...... Peta Penyebaran Angka Kematian Kasar Per Provinsi Tahun 2008 ...... 14 Angka Kematian Balita di Indonesia Tahun 1971-2007..... 22 Gambar 1........................ 15.............. 8......................... 34 Gambar 1....... Angka Kematian Ibu di Indonesia Tahun 1994-2007 ............. 30 Gambar 1....................................... 2.... Angka Kematian Bayi Wilayah Kalimantan Tahun 2007 ........ Gambar 1.......... 26.......................... 18...... 10... 33 Gambar 1........ 4...................... 36 Gambar 1..................... 3................................. 42 .................. 17..... Angka Kematian Neonatal Per Provinsi Tahun 2007 ... 23.... 32 Gambar 1.............. 7...... 29 Gambar 1....... 27.. Gambar 1.. 29.. 40 Gambar 1............. 1..... 9.......... Angka Kematian Bayi Wilayah Papua Tahun 2007 .. Angka Kematian Bayi Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 .......... 21............... Peta Penyebaran Angka Kematian Neonatal Per Provinsi Tahun 2007 ........... 13............ Angka Kematian Bayi di Indonesia Tahun 1971-2007.......... 16 Angka Kematian Balita Per Provinsi Tahun 2007 . 24....... 37 Gambar 1........ Angka Kematian Balita Wilayah Papua Tahun 2007 .................. 14.. 18 Angka Kematian Balita Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 ... Angka Kematian Bayi Wilayah Maluku Tahun 2007.......... 35 Gambar 1...... 41 Gambar 1... 19 Angka Kematian Balita Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 .... 12. Angka Kematian Bayi Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 ........................... 27 Gambar 1............ Gambar 1....... 24 Gambar 1... 38 Gambar 1.................. Angka Kematian Neonatal di Indonesia Tahun 1991-2007 ............... Angka Kematian Bayi Wilayah Sumatera Tahun 2007 .... 30. 31 Gambar 1...... Angka Kematian Kasar Per Provinsi Tahun 2008 .. Angka Kematian Bayi Wilayah Sulawesi Tahun 2007.. 28..... 22. Peta Penyebaran Angka Kematian Bayi Per Provinsi Tahun 2007 .... 17 Angka Kematian Balita Wilayah Sumatera Tahun 2007 ............................... Angka Kematian Balita Wilayah Maluku Tahun 2007....... 21 Angka Kematian Balita Wilayah Sulawesi Tahun 2007..... 16......DAFTAR GAMBAR Gambar 1... 19........ 20.... 23 Gambar 1... Gambar 1..... 26 Gambar 1..................

..... 50............................. 56 Gambar 1.................................. 69 Gambar 1.............................. 50 Gambar 1........................................................ Kasus Kumulatif Konfirmasi AI dan Kematian AI Menurut Provinsi Tahun 2005-2008............. 48.. Jumlah Kasus Baru dan Kumulatif Penderita AIDS Tahun 1987-2008 ........ 36..... 41.... 32........ 43 Gambar 1................. 72 Gambar 1............... Peta Penyebaran Angka Kekurangan Gizi pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 .... Distribusi Kasus Kematian Pada Semua Umur Menurut Kelompok Penyakit Tahun 1995-2007 ......... 45.... 49 Gambar 1.......... 44 Gambar 1.............................. Kasus Konfirmasi AI Menurut Jenis Kelamin dan Riwayat Kontak di Indonesia Tahun 2005-2008 ..... Cakupan Penemuan Kasus Baru TB BTA Positif Per Provinsi Tahun 2008 ........................... Jumlah Kasus Baru AIDS yang Terdeteksi pada Pengguna Napza Suntik (Penasun) Tahun 1993-2008.... Jumlah Penderita DBD Per Provinsi Tahun 2008. Angka Kekurangan Gizi pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 .................. 42............. 40... 48 Gambar 1.. 33............................... 51.................... 35... 72 Gambar 1............ Jumlah Provinsi dan Kabupaten yang Baru Tertular Flu Burung Pada Manusia Tahun 2005-2008 ............................................................................... Peta Penyebaran Angka Gizi Buruk pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 ............... 34................... 54 Gambar 1........... Angka Gizi Buruk Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 ................ 44................................ 52..... 49 Gambar 1............ Keberhasilan Pengobatan TB di Indonesia Tahun 1990-2006 ..... Jumlah ODHA di 10 Provinsi Terbanyak Tahun 2008 ..............................xiii - .. 49............. 38.Gambar 1.. 52 Gambar 1............... Jumlah Kasus Baru dan Kumulatif Pengidap HIV di Indonesia Tahun 1987-2008 ........ 55..................................................... 31.... CFR AI di Indonesia Tahun 2005-2008............. Peta Penyebaran Angka Kekurangan Gizi Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 .......................... 74 .. Incidence Rate DBD Tahun 2003-2008 .............. Angka API dan AMI Malaria di Indonesia Tahun 1989-2008 .. 55 Gambar 1................ 67 Gambar 1........... 53........ 73 Gambar 1................................. 70 Gambar 1.......... Angka Kekurangan Gizi pada Balita di Indonesia Tahun 1989-2007 ..................... Proporsi Kasus Baru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2005-2008 .... 39....................... 44 Gambar 1....... Jumlah Kasus dan CFR Diare di Indonesia Tahun 2000-2008 ........ 43....... Penemuan Kasus Baru Tuberkulosis di Indonesia Tahun 1995-2008 ................................................................ 46.............. 45 Gambar 1...................................... Angka Gizi Kurang pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 ... 73 Gambar 1........................................................... 46 Gambar 1......... 54 Gambar 1.. 56 Gambar 1.............................. 53 Gambar 1..................................................................... 37.......................................... 54...... 52 Gambar 1.......................... Jumlah Kasus Konfirmasi AI Tahun 2005-2008 ............................ 47.............

.... 61. 95 Gambar 1. 76. 81..................... Angka Kekurangan Gizi Wilayah Kalimantan Tahun 2007 ..... 73. Peta Penyebaran Angka Prevalensi BBLR Per Provinsi Tahun 2007 .... Prevalensi Stunting (TB/U Kronis) pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 ..... Peta Penyebaran Angka Gizi Kurang pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 .............. Persentase Partisipasi Asuransi Menurut Kuintil Penghasilan di Indonesia Tahun 2006 . 69................... 77 Gambar 1................... 74 Gambar 1............................................. 90 Gambar 1........... Angka Prevalensi Wasting (BB/TB Akut) pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 ..... 81 Gambar 1. 100 Gambar 1................................................................................ 98 Gambar 1.................. 92 Gambar 1............ Pengeluaran Rumah Tangga di Sektor Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2001 ............. 86 Gambar 1.. 84 Gambar 1.. 79....... Pengeluaran Rumah Tangga di Sektor Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2006 ........ Angka Persentase Pengeluaran Kesehatan terhadap Pengeluaran Rumah Tangga Total di Indonesia Tahun 2002-2006 ........... 71............ 58.................................................... 57........ 72........................... 65........ 60.................. 78......... 63....................... 91 Gambar 1.............................. 64.... 77......... 83 Gambar 1.................. 62.............. Prevalensi Gizi Lebih pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 ................... Prevalensi Gondok di Indonesia Tahun 1980-2003 ............................ Angka Kekurangan Gizi Wilayah Sumatera Tahun 2007.. Angka Kekurangan Gizi Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 ....................... 78 Gambar 1.. Angka Kekurangan Gizi Wilayah Sulawesi Tahun 2007 ....... 75 Gambar 1.... 89 Gambar 1.................. Angka Kekurangan Gizi Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 ........................ Persentase Partisipasi Asuransi Berdasarkan Waktu Menurut Jenis Asuransi di Indonesia Tahun 2003-2006 ... 70.....xiv - ................................ Peta Penyebaran Angka Prevalensi Stunting (TB/U Kronis) Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 .. 67.......... 76 Gambar 1.. 75... Prevalensi BBLR Per Provinsi Tahun 2007.......Gambar 1................................. 68.......... Angka Kekurangan Gizi Wilayah Maluku Tahun 2007 .. 96 Gambar 1.................................... Prevalensi Gizi Lebih diatas 15 Tahun Per Provinsi Tahun 2007 ........................ 74...... Umur Harapan Hidup di Indonesia Tahun 1976-2008 ............... 59. 80. 99 Gambar 1. 97 Gambar 1............. 56............... 66.................................... Peta Penyebaran Angka Prevalensi Gizi Lebih Diatas 15 Tahun Per Provinsi Tahun 2007 ....... 103 ............. Persentase Pengeluaran Rumah Tangga untuk Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2001 . Angka Kekurangan Gizi Wilayah Papua Tahun 2007 ... Angka Pengeluaran Kesehatan Rumah Tangga Per Kapita pada Sektor Kesehatan di Indonesia Tahun 2002-2006 ............. 101 Gambar 1.................... 102 Gambar 1....... 102 Gambar 1...... 80 Gambar 1.... Umur Harapan Hidup Per Provinsi Tahun 2008 ........... 93 Gambar 1....... 79 Gambar 1...

............ Gambar 2................................ 8........ 106 Gambar 1... 14.................................................................... 2.......... Gambar 2............... Persentase Rumah Tangga menurut Waktu Tempuh ke Sarana Pelayanan Kesehatan di Indonesia Tahun 2007........... 124 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Kalimantan Tahun 2007 ................................. 130 Gambar 2........ 13........ 83............... Persentase Pengeluaran Rumah Tangga di Berbagai Tingkat Pengeluaran Kesehatan di Indonesia Tahun 2005 ... 86. 123 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 ... 1............................. 120 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2007.... 9..................... 5............................................ Gambar 2................................................. 125 Persentase Pesrsalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Sulawesi Tahun 2007 ...... Persentase Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4 di Indonesia Tahun 1995-2008 .......... Persentase Pesrsalinan Oleh Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 1993-2007 ..................................... 7....... 126 Gambar 2................ Persentase Pengeluaran Rumah Tangga untuk Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2006 .................... 131 .. 11........... Gambar 2....... 87....................... 120 Peta Penyebaran Persentase Pesrsalinan Oleh Tenaga Kesehatan Per Provinsi Tahun 2007 ............................ 88.............. Gambar 2......................................................... 10.......................Gambar 1................................................... 6..................................... 127 Gambar 2...... 12........... 4... Persentase Pesrsalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Papua Tahun 2007 .............................. Persentase Penduduk Rawat Inap menurut Aspek Ketanggapan di Indonesia Tahun 2007 .. 85......... 104 Gambar 1................................. Persentase Kunjungan Ibu Hamil K1 Per Provinsi Tahun 2008 ............................................................ 129 Gambar 2.......................................... 103 Gambar 1.......... 115 Gambar 2... 112 Gambar 1..........xv - ......................... 128 Gambar 2........... 122 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 .......... 84............................................................ 3... Gambar 2.............................. 104 Gambar 1........................................ Persentase Penduduk Rawat Jalan menurut Aspek Ketanggapan di Indonesia Tahun 2007 ............. Persentase Pesrsalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Maluku Tahun 2007 ...... 82......................................... Persentase Kunjungan Ibu Hamil K4 Per Provinsi Tahun 2008 ......... Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan UKBM di Indonesia Tahun 2007 ..... Gambar 2........... 118 Persentase Pesrsalinan Oleh Tenaga Kesehatan Per Provinsi Tahun 2007 ................................ 121 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Sumatera Tahun 2007 ........ Gambar 2......... Persentase Pengeluaran Rumah Tangga di Berbagai Tingkat Pengeluaran Kesehatan di Indonesia Tahun 2006 ......... 109 Gambar 1..............................................................

...............000 Penduduk Tahun 2004-2008 ..... Persentase Cakupan Imunisasi Lengkap pada Anak Usia 12-23 Bulan Per Provinsi Tahun 2007 ............. 22.......... Gambar 3....... 156 Rasio Dokter Umum Terhadap Puskesmas Tahun 2008 ....................... Grafik Unmet Need Per Provinsi Tahun 2007 ................. 7...................................... 1... 2... 161 Perkembangan Jumlah Rumah Sakit Umum di Indonesia Tahun 2004-2008 ......... 147 Gambar 2........ Persentase Distribusi Vitamin A Per Provinsi Tahun 2007 .......... Gambar 3........ Persentase Cakupan ASI Eksklusif di Indonesia Tahun 1991-2007 ..................................... 9...... 151 Gambar 2........................................... 3......................... 17...................................xvi - . Persentase Cakupan Imunisasi pada Ibu Per Provinsi Tahun 2007 ........ 140 Gambar 2............. 145 Gambar 2... 15........ Cakupan Kunjungan Neonatus Per Provinsi Tahun 2008.. 25.......................................................................... 165 Jenis RS Khusus (RSK) di Indonesia........ 6................................. 20. 21. 139 Gambar 2....................................................................... 24........... 166 ... 16...... 19....... 152 Gambar 2........................ 4..... 154 Gambar 3........................... Gambar 3..................................................... 136 Gambar 2.. Persentase Cakupan Kunjungan Neonatus (KN2) di Indonesia Tahun 2003-2008 ........ Persentase Konsumsi Tablet Besi Per Provinsi Tahun 2007 ...................................... 141 Gambar 2........ 29... Pustu dan Pusling di Indonesia Tahun 1996-2008 ......... 28.... Rasio Dokter Terhadap 100............ Persentase Rumah Tangga yang Mengkonsumsi Garam dengan Kadar Yodium yang Cukup di Indonesia Tahun 1995-2007 ................ Persentase Anak Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Campak di Indonesia Tahun 1992-2007 ........................................... 151 Gambar 2.. Tren Penggunaan Kontrasepsi pada Wanita Pernah Menikah di Indonesia Tahun 1991-2007 .............................. Jumlah Tempat Tidur RS dan Rasionya Per 100.................... 160 Jumlah Puskesmas Non Perawatan dan Puskesmas Perawatan Tahun 2004-2008 ................................ Gambar 3.......................... Gambar 3.............................................. 23...................... Trend Unmet Need di Indonesia Tahun 1991-2007 ....... Gambar 3............. 8.........000 Penduduk Tahun 2004-2008 .............................................000 Penduduk Tahun 2008 ..... 143 Gambar 2... 26.............................................. Persentase Anak Balita yang Tidak Mendapat Imunisasi Per Provinsi Tahun 2007 ..... Gambar 3................ 164 Persentase RS Umum Milik Departemen Kesehatan/Pemerintah Daerah Menurut Kelas Tahun 2008 ...... Gambar 3....... Prevalensi Penggunaan KB Per Provinsi Tahun 2007 .. 27....................... 166 Gambar 3................ Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium Per Provinsi Tahun 2007 ......... 149 Gambar 2. 137 Gambar 2. 10...... 158 Jumlah Puskesmas......... 165 Perkembangan Jumlah RS Khusus di Indonesia Tahun 2004-2008 ........ 132 Gambar 2........ 5....... 133 Gambar 2.......Gambar 2................. 18.. 159 Rasio Puskesmas Per 100.................

. 19..................Gambar 3. 13....... .............. 188 Komposisi Penduduk Indonesia Tahun 1971 ....... 21........ Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia Tahun 2000-2014 ......... Persentase Penduduk Usia 16-18 Tahun menurut Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2006... Gambar 4.............................. 8.......... 17............... 198 Gambar 4................ Gambar 4..................... 191 Distribusi Penduduk Menurut Pulau Tahun 1971-2015 ...... 178 Gambar 3.. Tren Anggaran Departemen Kesehatan Tahun 1997-2009 ....... 16................ 7......... Gambar 4..... 18............................ 172 Gambar 3.. 182 Gambar 3................................ 184 Gambar 4.. 189 Komposisi Penduduk Indonesia Tahun 2008 .................... 12............................. 1............. 5............................................. Alokasi DAK Total dan DAK Bidang Kesehatan di Indonesia Tahun 2003-2008 ......... 194 Kepadatan Penduduk Indonesia ................. 4... Jumlah Penduduk Miskin menurut Provinsi Tahun 2007 .............. 191 Pertumbuhan Jumlah Penduduk Indonesia .............. 189 Jumlah Penduduk menurut Pulau Tahun 2008 ....... 204 ................. Tren Anggaran Badan POM Tahun 2005-2010 ......... 170 Gambar 3....... 6.............................. 200 Gambar 4.... 200 Gambar 4.. 22.. Distribusi Anggaran DAK Per Provinsi Tahun 2008 .. 12....... Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas menurut Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2006............ 11........ 177 Gambar 3.. Persentase Perbandingan Jumlah Posyandu menurut Kategori di Indonesia Tahun 2000-2006 ... 180 Gambar 3.............. 168 Gambar 3. Persentase Angka Kemiskinan Per Provinsi Tahun 2007 ......................... 3................................ Jumlah Posyandu di Indonesia Tahun 2001-2006 ......... Gambar 4.... Tren Anggaran Departemen Kesehatan Tahun 2005-2010 ...... 15............................................................ Kecenderungan Pengeluaran Kesehatan Total dan Pemerintah di Indonesia Tahun 2001-2008 ......... Sumber Pembiayaan Kesehatan di Indonesia Tahun 2001-2008 ................. 16................ 9......................... 173 Gambar 3. 201 Gambar 4............. Perkembangan dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 1976-2009 ............... 2............xvii - ................... 181 Gambar 3.......... Gambar 4......................... 190 Tren Laju Pertumbuhan Penduduk ..................... Gambar 4.................... Gambar 4.. 187 Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1961-2005 ...................... 14......... 13.......... 180 Gambar 3...... 14.... Gambar 4. Perbandingan Jumlah Posyandu menurut Kategori di Indonesia Tahun 2000-2006 .. 196 Gambar 4. 10........... 11..... 20.. Proporsi Pembiayaan Publik dan Private di Indonesia Tahun 1996-2005 .. 202 Gambar 4........................... 203 Gambar 4.. 169 Gambar 3...... ........ Sumber Pembiayaan Kesehatan di Indonesia Tahun 2004 ............... Pendidikan yang Pernah Diikuti oleh Penduduk Usia 16-18 Tahun di Indonesia Tahun 2006 .................... 15. Angka Melek Aksara Penduduk Usia 15 Tahun Keatas menurut Jenis Kelamin dan Status Ekonomi di Indonesia Tahun 2006 ........................

31.. 20............................ 19................ Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Per Provinsi Tahun 2007 ........................................ Persentase Akses Sanitasi Layak di Indonesia Tahun 1992-2007 ........... Tren Penduduk Tanpa Akses Sanitasi Layak di Indonesia Tahun 2000-2006 ............. 207 Gambar 4..... Perbandingan antara Persentase Penduduk Miskin dan Akses Terhadap Air Minum dan Sanitasi Per Provinsi Tahun 2006 .................... 22.... 214 Gambar 4.............. 209 Gambar 4.......... Perkiraan Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun Keatas menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah di Indonesia Tahun 2006 ........ 30........ Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur di Indonesia Tahun 2007 .................................. 211 Gambar 4................ 23................. Jumlah Kasus Keracunan Makanan di Indonesia Tahun 2001-2005 . 209 Gambar 4.... Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok Setiap Hari Per Provinsi Tahun 2007............ 26......... 226 ........... 17................. 212 Gambar 4............................... 218 Gambar 4..................xviii - .... 28.............. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok di Indonesia Tahun 1995-2007 ..................................... 213 Gambar 4.................. Cakupan Air Bersih Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2000-2007 ................................. Angka Melek Aksara Penduduk Usia 15 Tahun Keatas menurut Jenis Kelamin Per Provinsi Tahun 2006 .......... 27................................ 29............... 224 Gambar 4. 18.. 205 Gambar 4................................................................ Akses Penduduk Terhadap Air Minum di Indonesia Tahun 2000-2006........................................... ................ Cakupan Sanitasi Berdasar Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2000-2007 ........................ 206 Gambar 4...... 215 Gambar 4.......................... Persentase Akses Air Bersih di Indonesia Tahun 1994-2007 ............................ Jumlah Penderita Keracunan Makanan di Indonesia Tahun 2001-2005 . 24........ 226 Gambar 4.. 21........................... 25..Gambar 4.............................................................................. 210 Gambar 4.

PER-01/M. data yang semula dalam bentuk MS Word dan MS Excell mulai di digitalisasi ke dalam sebuah software yang berfungsi sebagai repository dan sekaligus bisa ditampilkan dalam bentuk peta spasial. Pada tahun 2007. koordinasi. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan. sesuai dengan Keputusan Menneg PPN/Kepala Bappenas No. sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan pembangunan nasional di bidang kesehatan dan gizi masyarakat. serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya. khususnya untuk data tahun terakhir. Sedangkan pada tahun 2008 kegiatan penyusunan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat dilakukan interaksi antar data guna mendukung analisis perkembangan pembangunan kesehatan di Indonsia. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat telah mulai mengembangkan sistem Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas. dengan data yang cukup lengkap kegiatan database akan difokuskan untuk melengkapi koleksi data yang ada dan sekaligus mulai dicoba Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -1- .BAB I PENDAHULUAN A. akan tetapi data yang berhubungan dengan bidang kesehatan dan gizi masyarakat atau data spesifik dilaksanakan oleh masing-masing kementerian/ lembaga. Kegiatan dimulai dari survey di lapangan mengenai ketersediaan data. Penyediaan data secara umum dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). misalnya dengan melakukan korelasi. Pada Tahun 2009.BAPPENAS/08/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. LATAR BELAKANG Data dan informasi sangat diperlukan dalam perencanaan dan perumusan kebijakan pembangunan. Untuk mendukung kegiatan perencanaan. melakukan pengelompokan data dan menyusun data dari berbagai sumber menurut kelompok indikator. sejak tahun 2005. Analisis data dilakukan untuk menunjang Backgroud Study dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 20102014.

melakukan integrasi dengan data-data yang berasal dari stakeholder antara lain yaitu dari Departemen Kesehatan dan Badan POM. 5. Tersedianya bank data yang dapat diakses secara online. serta mencoba melakukan integrasi dengan stakeholder dan analisa tentang trend status kesehatan masyarakat menggunakan data-data tersebut. 6. HASIL YANG DIHARAPKAN 1. Tersusunnya laporan pengembangan database bidang kesehatan dan gizi masyarakat. Selain itu data yang sudah lengkap dan terintegrasi akan di analisis dan dipresentasikan secara online yang dalam rangka mendukung penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. 4. Tersedianya data-data pembangunan terbaru. TUJUAN Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan sistem database pembangunan bidang kesehatan yang lengkap baik dari segi cakupan jenis indikator dan tahun data. 2. C. 3. Tersedianya analisa trend indikator kunci pembangunan kesehatan. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -2- . Terintegrasi data-data bidang kesehatan dan gizi dengan stakeholder. Tersedianya informasi interaksi atau hubungan antar data. B.

baik yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -3- . namun tidak terkumpul dalam sebuah wadah database yang mudah dan siap diakses setiap waktu. dan evaluasi pembangunan kesehatan. Sumber data-data pembangunan cukup tersebar pada berbagai macam dokumen.BAB II RUANG LINGKUP DAN METODOLOGI A. kinerja sistem kesehatan. hingga sumber daya kesehatan dan data-data lain yang terakit sebagai determinan kesehatan seperti data demografi. Data tersebut akan dikumpulkan sebagai suatu sistem database dengan menggunakan Microsoft Excel. Sebenarnya data-data tersebut tersedia cukup banyak. Oleh karenanya. Kegiatan yang dilakukan dalam penyusunan database ini adalah: 1. Pemilihan data dilakukan dengan melihat kategori data indikator yang paling sering dibutuhkan pada perencanaan. kesakitan. sehingga dapat dengan mudah untuk diakses. kematian. monitoring. INPUT DATA Pengumpulan data-data dari berbagai sumber yang dipercaya. RUANG LINGKUP Kegiatan Penyusunan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat dimaksudkan untuk menyusun data-data indikator pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat secara sistematis dalam suatu wahana yang mudah diakses. penyusunan database ini dirancang pada lingkup data nasional dan tingkat propinsi apabila memungkinkan. Data-data yang dikumpulkan cukup bervariasi meliputi data status kesehatan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Bappenas. pendidikan dan ekonomi. terutama data kesehatan yang dianggap sebagai data kunci pada Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Departemen Kesehatan. terutama untuk kepentingan perencanaan di tingkat nasional. serta dokumen-dokumen lain.

antara lain BPS dan Depertemen Kesehatan yang mempunyai data publikasi tidak sesuai dengan data kunci yang diharapkan. 6. database pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat 2009 dapat diakses dalam format yang lebih lengkap namun fleksibel. Melalui sofware ini. DIALOG DATABASE Tujuan dari dialog ini adalah untuk mengidentifikasi dukungan sistem data dan informasi bagi prencanaan. maka perlu disediakan suatu wadah yang dapat mengakomodir hal tersebut. 5. 4. Diharapkan data tersebut dapat diakses oleh siapa saja di belahan dunia dengan rencana meng-online kan sistem database Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -4- . PENYUSUNAN BUKU DATABASE Sistem Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat tahun 2009 disusun dalam suatu sistem database menggunakan Software Devinfo. 3. Sehingga dengan asumsi tersebut. maka perlu diadakan analisis hasil Susenas dan mengidentifikasikan trend pertumbuhan per tahunnya. pemantauan dan evaluasi Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat khususnya mengenai ketersediaan data indikator pembangunan kesehatan. PENYUSUNAN DEVINFO Data yang sudah dikemas dalam software Microsoft Excel tersebut kemudian akan dilakukan pemutakhiran sistem database dengan menginput dan menjalankannya dengan menggunakan Devinfo. ANALISIS SUSENAS Banyak sumber data.2. antara lain dengan adanya website yang akan memberikan akses data di manapun dan dari manapun secara online. PENYUSUNAN WEBSITE Agar data dapat diakses secara online.

Selain itu untuk data tingkat propinsi terutama diambil dari data tahun paling akhir yang tersedia.0. Penyusunan data-data indikator pembangunan dimulai dengan pengumpulan data dari berbagai sumber. Statistik Potensi Desa (PODES). 2007 dan 2008. dan akses data secara online melalui website. Beberapa sumber publikasi yang digunakan antara lain adalah Proyeksi Penduduk 2005-2025 (BPS. Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas). Software ini dikembangkan oleh PBB dan merupakan pengembangan lebih lanjut dari ChildInfo. Dengan demikian. Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT). 2008). Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Terbitan Badan Pusat Statistik meliputi Statistik Kesehatan. Bappenas dan UNFPA. DevInfo 5. Departemen Kesehatan dan Departemen Keuangan. buku dan terbitan yang tersedia di tingkat nasional. 2006.0. Indikator Kesejahteraan Rakyat. Data kemudian di input ke dalam MS Excell untuk kemudian ditranfser ke dalam Software DeviInfo 5. yaitu versi hardcopy yang merupakan beberapa indikator pilihan. Data-data kemudian dipilah dan sebisa mungkin dikumpulkan secara time series hingga data tahun terakhir yang tersedia. pada laporan ini database yang dikelola dapat dilihat dalam empat versi. yang serta versi softcopy yang bisa diakses dengan DevInfo 5. dokumen-dokumen perencanaan dari Bappenas. Indonesia Human Development Report. Tabulasi Khusus BPS. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Sedangkan sumber data meliputi Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Riskesdas 2007 dan Profil Kesehatan Indonesia dari tahun 1991 sampai tahun 2008 terbitan Departemen Kesehatan. dan Data fasilitas dan Program Departemen Kesehatan. DevInfo sebenarnya pada awalnya ditujukan sebagai alat pemantauan perkembangan dan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -5- . sebuah software yang digunakan oleh UNICEF untuk menganalisa situasi anak dan perempuan. data dalam Microsoft Excell sebagai data antara. Statistik Kesejahteraan Rakyat.0 merupakan sebuah piranti lunak (software) yang digunakan dalam data management serta sebagai alat bantu bagi pengguna untuk mempresentasikan data dalam bentuk yang menarik dan mudah dimengerti. METODOLOGI Penyusunan database pembangunan kesehatan dan gizi ini dilakukan dengan pengumpulan data sekunder dengan memperbaharui atau melengkapi data yang telah dikumpulkan pada tahun 2005. dan lain-lain.B. Sensus Penduduk dan Survey antar Sensus Penduduk (SUPAS).

Sedangkan data dalam Devinfo. Didalamnya menyakut efektifitas. efisiensi.0 (www. Pengelompokan ini dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan. Health System: Measuring Performance Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -6- . Pengelompokan data dalam laporan hardcopy sebisa mungkin disesuaikan dengan kerangka Sistem Kesehatan Nasional1 dan Kinerja Sistem Kesehatan2 (WHO. dan dapat diakses menggunakan Software DevInfo 5. Sistematika penyusunan database berbeda untuk setiap produk (hardcopy. RKP dan MDGs. dalam hal adalah sektor kesehatan.org). misalnya tingkat pendidikan dan kemiskinan. namun karena sifatnya yang gratis dan dapat dimodifikasi. 2000 World health Report. Namun data yang dikumpulkan sebenarnya bisa lebih rinci dari dalam laporan ini dan lebih lanjut dikelompokkan ke dalam beberapa sub-tema seperti Indikator RPJP.pencapaian Millenium Development Goals (MDGs). Sedangkan Determinan Kesehatan merupakan faktor-faktor di luar sistem kesehatan yang ikut menentukan status kesehatan masyarakat. dan sebenarnya lebih ditujukan untuk mempermudah input ke dalam Devinfo. 2004). kesesuaian dengan standar. Data disajikan secara sederhana untuk kemudahan membaca. 1 2 Departemen Kesehatan 2004. Pada hardcopy (Buku Indikator). dan keberlanjutan. DevInfo kemudian secara luas mulai digunakan di banyak negara dan untuk tujuan yang lebih luas seperti perencanaan dan respon kegawat daruratan. hanya data-data terpilih yang ditampilkan dengan tujuan kemudahan sebagai bahan referensi. karena perbedaan tujuan kegunaan dari database tersebut. Sistem Kesehatan Nasional WHO. tujuan pembangunan kesehatan (outcome) yang diharapkan dinilai dengan indikator Status Kesehatan seperti Angka Kematian Ibu dan indikator Kesakitan (Morbidity). ketanggapan (repsonsif). sifatnya lebih dinamis dan disusun untuk berbagai keperluan. Namun data ini dapat digunakan sebagai referensi dalam bentuk file yang lebih mudah dibawa kemanamana dalam bentul digital. Dengan kerangka ini. Indikator kinerja sistem kesehatan mengukur performance sistem kesehatan. Data dalam Excell disusun menurut tingkatan data indikator. Dengan penyajian seperti ini diharapkan dapat membantu setiap pengguna database dalam memperoleh gambaran komprehensif suatu indikator yang pada umumnya sangat diperlukan. RPJM. dan tentu saja bersifat digital yang memerlukan Software Devinfo untuk mengaksesnya. Excell dan Devinfo).devinfo.

Dalam CD terdapat 1. Karena tujuan. Melalui sofware ini.mdb) sedangkan struktur-nya disimpan dalam bentuk template (. dan feksibilitas program yang dapat dimofikasi sesuasi tujuan dan preferensi pemakai.tpl). DevInfo merupakan piranti lunak (software) untuk mengelola database yang dibuat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tujuan utama sebagai alat untuk memantau (monitoring tools) pencapaian target-target Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs).01 Manual Penggunaan DevInfo (User Modul) dalam format MS Word Struktur template penyimpan data (. 3. sehingga lebih mudah untuk digunakan.mdb) Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -7- . Dan software ini telah direkomendasikan oleh PBB untuk digunakan oleh badan-badan di bawah PBB (UN Agency) dan bagi Negara-negara atau pihak yang ingin memantau pencapaian MDGs.tpl) Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat (. Instalation File DevInfo Versi 5. Software ini juga dibangun diatas prinati lunak untuk spasial yaitu Arcview dan Microsoft Office. SISTEM DATABASE PEMBANGUNAN KGM Sistem Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat tahun 2009 disusun dalam suatu sistem database menggunakan Software Devinfo. database pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat 2009 dapat diakses dalam format yang lebih lengkap namun fleksibel. Software ini adalah software yang bebas royalty dan boleh digunakan oleh siapa saja. 2. Database ini disimpan dalam format MS Acess (. software ini mulai digunakan secara luas oleh banyak pihak.BAB III HASIL PELAKSANAAN A. 4.

Depkes dan Sumber lainnya. merupakan publikasi tahunan BPS yang menyajikan tingkat perkembangan kesejahteraan rakyat Indonesia antar waktu dan perbandingannya antar propinsi serta daerah tempat tinggal. Data yang disajikan antara lain mengenai kesehatan masyarakat secara umum.B. Indikator Kesejahteraan Rakyat (BPS). sehingga pengguna data dapat melihat perbedaan tingkat kesejahteraan antara berbagai kelompok penduduk. Statistik Kesejahteraan Rakyat (BPS). Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat -8- . dan data-data yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Data yang digunakan bersumber dari BPS dan instansi lain di luar BPS. Profil Kesehatan 1990-2008 (Depkes). INDIKATOR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN GIZI Proses input data dimulai dengan pengumpulan sumber-sumber data dengan cara mengumpulkan buku-buku publikasi yang dipublikasikan oleh BPS. Sehingga dengan keterbatasan tersebut. merupakan publikasi yang bersumber dari hasil susenas modul Kesehatan dan Perumahan yang diterbitkan secara berkala setiap tiga tahun. Data yang dimasukkan adalah data-data Kesehatan yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. Statistik Kesehatan (BPS). biaya kesehatan. merupakan hasil pengumpulan data melalui kuesioner Kor Susenas. terutama untuk data-data tahun 1980an. maka daftar indikator yang bisa dipersembahkan dan dirangkum menjadi tidak maksimal dan banyak ditemui kekurangan di sana-sini. tiap tabel menggolongkan populasi menurut tipe daerah dan provinsi. karena ternyata di BPS juga sudah tidak terdapat lagi buku-buku tahun 1980an. Antara lain. Data penduduk disajikan dalam bentuk tabel presentase. merupakan publikasi data-data kesehatan di Indonesia yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan yang memuat kejadian-kejadian penting selama tahun yang bersangkutan. Terdapat berbagai hambatan untuk mengumpulkan buku-buku untuk tahun 1980an. yang dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia.

Podes. provinsi maupun kabupaten/kota. Dalam Input data. STATUS KESEHATAN Status Kesehatan Angka Kematian Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKBA) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Neonatal Angka Kematian Kasar Angka Kesakitan Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular Status Gizi Prevalensi Kekurangan Gizi Pada Anak Balita Prevalensi Stunting Pada Anak Balita Prevalensi Wasting Pada Anak Balita Prevalensi Gizi Lebih Pada Balita Prevalensi Gizi Lebih Diatas 15 Tahun Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Umur Harapan Hidup (UHH) Perlindungan Finansial Cakupan Asuransi Kesehatan Pengeluaran Per Kapita untuk Kesehatan -9- Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .Riskesdas 2007 (Depkes). SDKI. dilakukan pengelompokan-pengelompokan terhadap variabel tertentu. dan lain sebagainya. sehingga nama-nama variabel tersebut menjadi terstruktur dan dapat dibaca dengan mudah. Semua data-data dari berbagai sumber tersebut diatas di input ke dalam Microsoft Office Excel untuk database dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. yang merupakan ringkasan dari status kesehatan dan faktor penentu kesehatan baik di tingkat nasional. Pengelompokan Variabel: 1.

SUMBER DAYA KESEHATAN SDM Kesehatan Puskesmas dan Jaringannya Rumah Sakit UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) Pembiayaan Kesehatan Anggaran Kesehatan Total Bersumber APBN Persentase Anggaran Kesehatan Dengan GDP Persentase Anggaran Kesehatan Dengan APBD Anggaran Kesehatan Bersumber APBD . KINERJA KESEHATAN Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Cakupan K1 dan K4 Cakupan Kunjungan Neonatus Cakupan Imunisasi dasar Cakupan Imunisasi Campak Anak yang Tidak Diimunisasi Cakupan Imunisasi pada Ibu ASI Eksklusif Konsumsi Garam Beryodium Konsumsi Kapsul Vitamin A Konsumsi Tablet Besi Prevalensi Penggunaan Kontrasepsi (CPR) Persentase Unmetneed 3.- Pengeluaran Katastropik Ketanggapan Kepuasan Terhadap Pelayanan Kesehatan Jarak ke Sarana Kesehatan Waktu Tempuh ke Sarana Kesehatan\ 2.10 - Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

namun ada pula penyempurnaan-penyempurnaan pengisian data yang berasal dari sumber lain. Susenas atau MDG.- Distribusi Anggaran menurut Program Distribusi Anggaran Menurut Provinsi Anggaran DAK Distribusi Anggaran Menurut Jenis Pengeluaran Perbandingan Anggaran RI dengan Negara Lain Anggaran Kesehatan Bersumber PHLN 4. contohnya SDKI. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . DETERMINAN KESEHATAN Penduduk Kemiskinan Pendidikan Akses ke Air Bersih Akses ke Sanitasi Merokok Aktifitas Fisik Konsumsi Kalori dan Protein Konsumsi Sayur dan Buah Keracunan Makanan Hampir semua sumber dari daftar indikator tersebut berasal dari Profil Kesehatan dan Riskesdas 2007.11 - .

12 - .DATA INDIKATOR PEMBANGUNAN KESEHATAN 2009 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

13 - .A. STATUS KESEHATAN Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

ANGKA KEMATIAN IBU (AKI) Jumlah ibu yang meninggal setiap tahun karena penyebab yang terkait dengan kehamilan pada saat ibu hamil atau 42 hari setelah kehamilan.1. berbagai tahun 390 Sasaran RPJM 334 307 226 MDG Target 102 2007 2009 2015 Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI tahun 2007 sebesar 228 per 100. ANGKA KEMATIAN 1.000 kelahiran hidup. per 100.000 kelahiran hidup GAMBAR 1. STATUS KESEHATAN 1.2007 450 400 350 AKI Per 100.000 kelahiran hidup. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .1.1 diatas nampak bahwa AKI pada periode 1992-2007 menampilkan kecenderungan penurunan. Pada gambar 1.1.14 - .000 KH 300 250 228 200 150 100 50 0 1994 1997 2002 Tahun Sumber : SDKI. Angka ini turun dibandingkan AKI tahun 2002 yang mencapai 307 per 100.1 Angka Kematian Ibu (Per 100.000 Kelahiran Hidup) Di Indonesia Tahun 1994 .1.

2007 Angka Kematian Anak Balita 250 218 Per 1. Angka ini lebih rendah dibandingkan AKABA pada tahun 2002-2003 yang sebesar 46 per 1.1.15 - .000 kelahiran hidup. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2 Angka Kematian Balita (Per 1. per 1. Gambaran perkembangan AKABA pada tahun 1971-2007 disajikan pada gambar 1. ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) Probabilitas bayi meninggal antara kelahiran hingga usia lima tahun.000 kelahiran hidup.000 Kelahiran Hidup) Di Indonesia Tahun 1971 .000 kelahiran hidup GAMBAR 1.000 kelahiran hidup 200 162 Target MDG 2015: 32 150 109 97 81 58 46 44 100 50 32 0 1971 1980 1990 1991 1994 1997 SDKI 2003 2007 2009 2012 2015 Sensus Penduduk Target MDG 2015 Sumber: SDKI Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia menyebutkan bahwa AKABA pada tahun 2007 sebesar 44 per 1.2.2 diatas.1.

TABEL 1.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : SDKI 2007 AKBA 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat AKBA 92 80 59 34 75 38 43 69 58 62 69 96 93 74 64 62 44 GAMBAR 1.I.3 Peta penyebaran Angka Kematian Balita (Per 1.16 - .000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .1 Angka Kematian Balita (Per 1.

diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 32 dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup.17 - . diikuti oleh Maluku sebesar 93 dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per 1.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 ANGKA KEMATIAN ANAK BALITA DI Yo gyakarta Jawa Tengah Kalimantan Tengah DKI Jakarta Kalimantan Timur B ali Sulawesi Utara Indo nesia Jawa Timur Nanggro e A ceh Darussalam Kep B angka B elitung Jambi Riau Jawa B arat Sumatera Selatan Lampung Sulawesi Selatan B anten Kepulauan Riau Kalimantan B arat Irian Jaya B arat Sulawesi Tenggara Sumatera B arat P apua B engkulu Sumatera Utara Go ro ntalo Sulawesi Tengah M aluku Utara Kalimantan Selatan NTT NTB M aluku Sulawesi B arat 22 32 34 36 38 38 43 44 45 45 46 47 47 49 52 55 58 58 58 59 62 62 62 64 65 67 69 69 74 75 80 92 93 96 0 20 40 60 80 100 120 Sumber : SDKI 2007 Provinsi dengan AKABA tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1.4 Angka Kematian Balita (Per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.GAMBAR 1. Sedangkan AKABA terendah dimiliki oleh Provinsi DIY sebesar 22 per 1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 kelahiran hidup.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau Propinsi AKABA 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 Angka Kematian Balita (Per 1.000 Kelahiran Hidup) di Pulau Sumatera Tahun 2007 80 70 Per 1.18 - .000 Kelahiran Hidup 60 50 40 30 20 10 Sumatera Sumatera Sumatera Lampung Jambi Riau Bengkulu Kepulauan Belitung Bangka NAD 0 67 65 62 Angka Nasional 44 58 55 52 47 47 46 45 Sumber : SDKI 2007 Selatan Utara Barat Riau Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .GAMBAR 1.5 Angka Kematian Balita (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Sumatera Tahun 2007 SUMATERA No.

GAMBAR 1. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali AKABA 36 49 32 22 45 58 38 Angka Kematian Balita (Per 1.I. Yogyakarta Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .I.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 JAWA-BALI No.6 Angka Kematian Balita (Per 1.000 Kelahiran Hidup 50 40 30 58 49 45 38 36 32 Angka Nasional 44 22 20 10 0 Banten Jawa Barat Jawa Timur Bali DKI Jakarta Jawa Tengah D.000 Kelahiran Hidup) di Pulau Jawa-Bali Tahun 2007 70 60 Per 1. 1 2 3 4 5 6 7 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.19 - .

GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup 90 88 86 84 82 80 78 76 74 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 80 92 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 Angka Kematian Balita (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 NUSA TENGGARA No. 1 2 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur AKABA 92 80 Angka Kematian Balita (Per 1.20 - .000 Kelahiran Hidup) di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2007 94 92 Per 1.

000 K elahiran H idup 60 50 40 30 20 10 0 Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Tengah 38 34 59 75 Angka Nasional 44 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 Kelahiran Hidup) di Pulau Kalimantan Tahun 2007 80 70 Per 1.GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Kalimantan Tahun 2007 KALIMANTAN No.8 Angka Kematian Balita (Per 1. 1 2 3 4 Propinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur AKABA 59 34 75 38 Angka Kematian Balita (Per 1.21 - .

000 K elahiran H idup Angka Nasional 44 69 69 62 58 43 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 Kelahiran Hidup) di Pulau Sulawesi Tahun 2007 120 100 80 60 40 20 0 Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Utara 96 Per 1.9 Angka Kematian Balita (Per 1.22 - .GAMBAR 1. 1 2 3 4 5 6 Propinsi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat AKABA 43 69 58 62 69 96 Angka Kematian Balita (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Sulawesi Tahun 2007 SULAWESI No.

000 Kelahiran Hidup) Wilayah Maluku Tahun 2007 MALUKU No.GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup) di Pulau Maluku Tahun 2007 100 90 Pe 1.0 K la r 00 e hira H n idup 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Maluku Maluku Utara 74 93 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .23 - .10 Angka Kematian Balita (Per 1. 1 2 Propinsi Maluku Maluku Utara AKABA 93 74 Angka Kematian Balita (Per 1.

24 - .000 K elahiran H idup 64 63 63 62 62 61 Papua Irian Jaya Barat 62 64 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .11 Angka Kematian Balita (Per 1. 1 2 Propinsi Papua Irian Jaya Barat AKABA 64 62 Angka Kematian Balita (Per 1.000 Kelahiran Hidup) di Pulau Papua Tahun 2007 65 64 Per 1.GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Papua Tahun 2007 PAPUA No.

000 Kelahiran Hidup) Di Indonesia Tahun 1971 . Angka Kematian Bayi pada tahun 2007 sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup GAMBAR 1.000 kelahiran hidup. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) Probabilitas bayi meninggal antara kelahiran hingga usia satu tahun per 1.1.1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 kelahiran hidup.25 - .12 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 kelahiran hidup 160 120 80 40 0 1971 1980 1990 1994 1997 2003 2007 2009 2012 2015 145 109 71 Target MDG 2015: 23 Target RPJM 2009: 26 57 46 35 34 26 23 Inkesra Sumber: SDKI SDKI Badan Pusat Statistik melalui Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia mengestimasikan indikasi penurunan dari tahun ke tahun. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan AKB tahun 2002-2003 yang sebesar 35 per 1.3.2007 Angka Kematian Bayi Per 1.

GAMBAR 1. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: SDKI 2007 AKB 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 19 35 46 34 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat AKB 72 57 46 30 58 26 35 60 41 41 52 74 59 51 41 36 34 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I.000 Kelahiran Hidup) Berdasarkan Kuintil Pendapatan Tahun 2007 60 50 40 30 20 10 0 Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 56 47 33 29 26 Sumber: SDKI TABEL 1.26 - .13 Angka Kematian Bayi (Per 1.

14 Peta Penyebaran Angka Kematian Bayi (Per 1.GAMBAR 1.27 - .000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Sumber : SDKI 2007 GAMBAR 1.15 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 ANGKA KEMATIAN BAYI DI Yogyakart a Nanggroe Aceh Darussalam Kalimant an Timur Jawa Tengah DKI Jakart a Kalimant an Tengah Indonesia Bali Sulawesi Utara Jawa Timur Irian Jaya Barat Riau Jawa Barat Kep Bangka Belit ung Jambi Papua Sulawesi Tenggara Sulawesi Selat an Sumat era Selat an Kepulauan Riau Lampung Kalimant an Barat Bant en Bengkulu Sumatera Utara Sumatera Barat M aluku Utara Gorontalo NTT Kalimant an Selat an M aluku Sulawesi Tengah NTB Sulawesi Barat 19 25 26 26 28 30 34 34 35 35 36 37 39 39 39 41 41 41 42 43 43 46 46 46 46 47 51 52 57 58 59 60 72 74 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

16 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Angka Nasional 34 80 Per 1.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Angka Kematian Bayi (Per 1.I.28 - .000 kelahiran hidup.000 Kelahiran Hidup 70 60 50 40 30 25 20 10 DKI Jakarta Jawa Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sumatera Utara Kalimantan Tengah D. diikuti Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 25 per 1. Sedangkan AKB tertinggi dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Barat sebesar 74 dan Nusa Tenggara Barat sebesar 72 per 1. GAMBAR 1. Yogyakarta Maluku Utara Nusa Tenggara Barat Sumatera Selatan Bangka Belitung Kalimantan Selatan Kepulauan Riau Sumatera Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Irian Jaya Barat Jawa Timur Jawa Tengah Sulawesi Barat INDONESIA Jambi Gorontalo Maluku 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 46 39 26 19 35 34 57 46 30 35 26 58 72 60 52 41 41 74 59 51 41 36 34 0 NAD Bengkulu Lampung Sumber : SDKI 2007 Banten Papua Riau Bali Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 kelahiran hidup dan Kalimantan Timur sebesar 26 per 1.AKB pada tahun 2007 menunjukkan angka terendah dimiliki oleh provinsi DIY sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.

29 - .GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Sumatera Tahun 2007 SUMATERA No.000 Kelahiran Hidup) di Pulau Sumatera Tahun 2007 Angka Nasional 50 45 P r 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau Propinsi AKB 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 Angka Kematian Bayi (Per 1.17 Angka Kematian Bayi (Per 1.0 K la ira H u e 00 e h n id p 40 35 30 25 20 15 10 5 S m te u a ra S m te u a ra S m te u a ra L mu g a pn Ja b mi B g lu en ku K p la an eu u S la n e ta B litu e ng B n ka ag R iau ND A 0 25 47 46 46 34 43 43 42 39 39 37 U tara B ra a t Sumber : SDKI 2007 R u ia Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

000 K elahiran H idup 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Banten Jawa Barat Jawa Timur Bali DKI Jakarta Jawa Tengah 39 35 34 28 26 46 Angka Nasional 34 19 D.18 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 JAWA-BALI No. 1 2 3 4 5 6 7 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali AKB 28 39 26 19 35 46 34 Angka Kematian Bayi (Per 1.GAMBAR 1.30 - .000 Kelahiran Hidup) di Pulau Jawa-Bali Tahun 2007 50 45 Per 1.I.I. Yogyakarta Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

000 Kelahiran Hidup) di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2007 80 70 Per 1.000 Kelahiran Hidup 60 50 40 30 20 10 0 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 57 72 Angka Nasional 34 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . 1 2 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur AKB 72 57 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 NUSA TENGGARA No.GAMBAR 1.31 - .19 Angka Kematian Bayi (Per 1.

000 Kelahiran Hidup) di Pulau Kalimantan Tahun 2007 70 60 Per 1. 1 2 3 4 Propinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur AKB 46 30 58 26 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Kalimantan Tahun 2007 KALIMANTAN No.20 Angka Kematian Bayi (Per 1.32 - .GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup 50 40 30 20 10 0 Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur 30 26 58 46 Angka Nasional 34 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

33 - .GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup) Wilayah Sulawesi Tahun 2007 SULAWESI No.000 Kelahiran Hidup) di Pulau Sulawesi Tahun 2007 80 70 Per 1.21 Angka Kematian Bayi (Per 1. 1 2 3 4 5 6 Propinsi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat AKB 35 60 41 41 52 74 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup 60 50 40 30 20 10 0 Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara 60 52 41 41 35 74 Angka Nasional 34 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

000 Kelahiran Hidup) Wilayah Maluku Tahun 2007 MALUKU No.22 Angka Kematian Bayi (Per 1.34 - .0 0 e h n id p 56 54 52 50 48 46 Maluku Maluku Utara 51 59 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . 1 2 Propinsi Maluku Maluku Utara AKB 59 51 Angka Kematian Bayi (Per 1.000 Kelahiran Hidup) di Pulau Maluku Tahun 2007 60 58 P r 1 0 K la ira H u e .GAMBAR 1.

000 Kelahiran Hidup) di Pulau Papua Tahun 2007 42 41 Per 1. 1 2 Propinsi Papua Irian Jaya Barat AKB 41 36 Angka Kematian Bayi (Per 1.35 - .23 Angka Kematian Bayi (Per 1.GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup 40 39 38 37 36 35 34 33 Papua Irian Jaya Barat 36 41 Angka Nasional 34 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 Kelahiran Hidup) Wilayah Papua Tahun 2007 PAPUA No.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 kelahiran hidup GAMBAR 1.000 kelahiran hidup. ANGKA KEMATIAN NEONATAL Probabilitas meninggal dalam bulan pertama setelah lahir. Namun jika dilihat tren dari tahun ke tahun.000 Kelahiran Hidup) Di Indonesia Tahun 1991 .36 - .1. Angka ini sama jika dibandingkan AKN tahun 2002-2003 yang juga menunjukkan angka sebesar 20 per 1. per 1.000 kelahiran hidup.4. Pada gambar 1. Angka Kematian Neonatal di Indonesia menunjukkan tren penurunan.8 diatas nampak bahwa AKN pada periode 1991-2007 menampilkan kecenderungan penurunan.1.24 Angka Kematian Neonatal (Per 1.2007 TREN KEMATIAN NEONATAL per 1.000 kelahiran hidup 35 30 25 20 15 10 5 0 1991 1994 1997 2000 Tren SDKI Sumber : SDKI 32 30 26 20 19 2003 2007 Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKN tahun 2007 sebesar 20 per 1.

3 Angka Kematian Neonatal (Per 1.I.25 Peta Penyebaran Angka Kematian Neonatal (Per 1. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : SDKI 2007 Kematian Neonatal 11 22 13 8 15 17 29 16 19 25 13 19 12 3 14 21 19 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Kematian Neonatal 38 26 23 17 19 11 11 31 19 25 31 27 34 19 16 17 19 GAMBAR 1.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .TABEL 1.37 - .

I.000 kelahiran hidup dan Sulawesi Utara. Sedangkan AKN tertinggi dimiliki oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 38 dan Maluku sebesar 34 per 1. diikuti Riau sebesar 8 per 1.000 kelahiran hidup.000 Kelahiran Hidup) Per Provinsi Tahun 2007 KEMATIAN NEONATAL D. Kalimantan Timur dan Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 11 per 1. Yo gyakarta Riau Sulawesi Utara Kalimantan Timur Nangro e A ceh Jawa Tengah DKI Jakarta Sumatera B arat Jawa Timur Jambi P apua Lampung Irian Jaya B arat Kalimantan Tengah Sumatera Selatan Indo nesia M aluku Utara Sulawesi Selatan Kalimantan Selatan B ali Jawa B arat B angka B elitung B anten Sumatera Utara Kalimantan B arat Sulawesi Tenggara Kepulauan Riau Nusa Tenggara Timur Sulawesi B arat B engkulu Go ro ntalo Sulawesi Tengah M aluku Nusa Tenggara B arat 0 3 8 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 1 3 1 4 1 5 1 6 1 6 1 7 1 7 1 7 Propinsi 1 9 1 9 1 9 1 9 1 9 1 9 1 9 21 22 23 25 25 26 27 29 31 31 34 38 40 5 10 15 20 25 30 35 SDKI 2007 Sumber : SDKI 2007 Angka Kematian Neonatal (AKN) pada tahun 2007 menunjukkan angka terendah dimiliki oleh provinsi DIY sebesar 3 per 1.26 Angka Kematian Neonatal (Per 1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .GAMBAR 1.000 kelahiran hidup.38 - .000 kelahiran hidup.

2 6.3 per 1.5.8 6.27 Angka Kematian Kasar (Per 1.6 6.Bappneas.000 penduduk.1. menyebutkan bahwa AKK tahun 2008 sebesar 6.4 6.0 6.4 6. GAMBAR 1. ANGKA KEMATIAN KASAR Angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1.UNFPA.5 6.2 7.000 Penduduk) Di Indonesia Tahun 2000 . Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 Per 1.7 6.2008 Angka Kematian Kasar 7.6 6.000 Penduduk 6. 2005) Angka Kematian Kasar (AKK) yang diestimasikan berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025. angka ini disebut kasar karena belum memperhitungkan umur penduduk.0 5.8 6.7 6.8 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 7.9 6.39 - .1.000 penduduk.3 Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS. Angka ini menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun sejak tahun 2000.

5 6.8 4.2 7.8 6.5 4.8 2.000 Penduduk) Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.7 3.I.5 4.2 4.3 5.TABEL 1.Bappneas. 2005 Angka Kematian Kasar 5.4 Angka Kematian Kasar (Per 1.9 7.0 5.000 Penduduk) Per Provinsi Tahun 2008 Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS.0 6.9 5.7 5.4 4.1 5.40 - .5 3.2 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Angka Kematian Kasar 6.0 4.0 - 6. 2005) Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .8 5. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS.5 5.8 5.1 5.1 5.Bappneas.6 4.5 5.UNFPA.UNFPA.3 GAMBAR 1.28 Peta Penyebaran Angka Kematian Kasar (Per 1.4 5.8 6.

5 5. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . diikuti Papua sebesar 3.0 Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS.GAMBAR 1.0 5.8 4.5 4.9 6.0 2.7 5.2 5.B A B EL M A LUKU B A LI INDONESIA JA B A R SULSEL NTB SUM B A R JA TIM DIY 2.9 dan Jawa Timur sebesar 7.9 0.41 - .7 6.0 4. 2005) Angka Kematian Kasar (AKK) pada tahun 2008 menunjukkan angka terendah dimiliki oleh provinsi Riau sebesar 2.0 5.8 5.0 4.0 6.5 4.1 5.8 7.0 10.0 3.4 5.5 3.8 4.5 4.0 8.000 Penduduk) Per Provinsi Tahun 2008 RIA U P A P UA KA LTIM DKI KA LTENG KA LB A R B A NTEN LA M P UNG JA M B I SUM UT SULTRA B ENGKULU GORONTA LO SULUT SUM SEL JA TENG NA D M A LUT SULTENG NTT KA LSEL KEP .5 per 1.5 per 1.8 4. Sedangkan AKK tertinggi dimiliki oleh Provinsi DIY sebesar 7.6 5.1 5.000 penduduk.8 5.UNFPA.3 6.2 7.000 penduduk dan Kalimantan Timur sebesar 3.2 per 1.Bappneas.2 6.1 5.3 6.0 per 1.000 penduduk.000 penduduk.5 5.4 6.29 Angka Kematian Kasar (Per 1.

1. GAMBAR 1.42 - .000 penduduk 422 400 311 300 203 200 100 0 Sumatra Kawasan Timur Indonesia Jawa Bali Nasional 146 67 255 433 342 246 321 217 125 1980 1990 2004 Sumber : Depkes Angka penemuan kasus TB/ Case Detection Rate (CDR) adalah persentase kasus infeksi tuberculosis baru yang dideteksi dengan metode directly observed treatment short course (DOTS) dan strategi perawatan. Sebagian besar kuman TB menyerang paru.1. TUBERKULOSIS Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 Penduduk) Tahun 1980 .2004 Prevalensi TB 500 SS+ per 100.2.1. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.2.14 terlihat bahwa angka Prevalensi Tuberkulosis di berbagai kawasan di Indonesia menunjukkan angka penurunan dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2004. PENYAKIT MENULAR 1. Dari Gambar 1.2.30 Prevalensi Tuberkulosis (Per 100. ANGKA KESAKITAN 1.

048 9.230 92. Namun terdapat penurunan tingkat penemuan kasus pada tahun 2007. cakupan penemuan penderita TB menunjukkan peningkatan.974 4.884 26.589 275.115 231.516 128.552 149.188 177.446 4.706 155.07 4.43 - .727 3.029 102.728 Jumlah 89.877 233.008 3.GAMBAR 1.969 277.013 8.376 3.005 Ekstra Paru 1.326 163.377 72.2008 Angka Penemuan Kasus TB 100 80 60 38 54 58 76 69 73 Persen 40 19 20 20 29 12 20 1 5 8 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 TB Anak All Cases Sumber : Profil Kesehatan 2008 Jika dilakukan pengamatan selama periode 1995-2008.5 Hasil Cakupan Penemuan Penderita TB Tahun 2001-2008 Penemuan Kasus Tahun Estimasi 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 269.780 76.104 248.320 160.539 Realisasi %CDR 20 29 38 54 68 76 69 Abs.373 91.981 85.152 162.358 228.102 76. 80.360 1.882 3.658 259.651 161.181 162. 53.267 6.662 214.485 BTA Pos Target % CDR 30 40 50 60 70 70 70 70 Abs.988 120.329 73 166.645 232.915 BTA Neg Rotgen Positive 31.981 158.210 298.016 5.429 4.142 7. Gambar diatas menunjukkan tren CDR selama periode 1995-2008.219 77.731 4.640 175.492 30. TABEL 1.997 241.617 Kambuh 2.630 107.723 103. dari 76% menjadi 69% dan kemudian naik kembali menjadi 73% pada tahun 2008.078 25.294 Sumber : Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .31 Penemuan Kasus Baru Tuberkulosis di Indonesia (Persen) Tahun 1995 .227 3.

0 35.0 48.9 49.8 29.44 - .6 59.32 Proporsi Kasus Baru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin Di Indonesia Tahun 2005-2008 65.0 45. GAMBAR 1.4 43.2 41.6 85.7 67.7 46.3 41.0 50.0 57.2 34.5 89.2 57.3 43.6 48.0 30.8 78.2 58.5 37.6 63.2 34.7 72.33 Cakupan Penemuan Kasus Baru TB BTA Positif (CDR) Per Provinsi Tahun 2008 90 80 70 60 50 40 30 20 26.6 Riau Maluku U tara K alim antan T engah K epulauan Riau K alim antan T ur im NB T Papua Barat NT T Sulaw Selatan esi Maluku Lam pung N anggroe Aceh Sulaw T esi engah K alim antan Selatan Sum atera Selatan K alim antan Barat Jaw T a engah Sum atera Barat Bengkulu Sulaw Barat esi Jam bi DY I ogyakarta Sulaw T esi enggara K Bangka ep Papua G orontalo Jaw T ur a im Bali Sum atera U tara Jaw Barat a Indonesia Banten D I Jakarta K Sulaw U esi tara Sumber : Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .9 41.0 40.8 68.0 2005 2006 Laki-laki 2007 Perempuan 2008 41.6 48.5 32.8 Sumber : Profil Kesehatan 2008 GAMBAR 1.3 58.0 40.1 57.6 26.1 55. laki-laki berkisar 57-59% dan perempuan berkisar 40-43%.Proporsi kasus baru BTA positif menurut jenis kelamin di Indonesia pada tahun 2005 sampai tahun 2008 tidak banyak berubah.6 40.7 40.1 34.0 29.4 53.9 51.7 59.0 55.0 60.0 46.9 48.

Sedangkan provinsi dengan cakupan penemuan penderita terendah antara lain Riau dengan cakupan 26.6%.34 Keberhasilan Pengobatan TB di Indonesia Tahun 1990 .6%. Namun mulai tahun 1997 sampai dengan 2006 terjadi tren peningkatan keberhasilan TB di Indonesia.Pada gambar 1.2006 Angka Keberhasilan Penyembuhan Tuberkulosa 100 90 85 80 76 78 68 60 Target global: 85% Target Nasional 85% 51 47 74 77 76 84 85 91 91 86 87 89 Persen 40 20 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Depkes dan Profil Kesehatan Dari gambar 1.34 diatas. DKI Jakarta sebesar 85.0%.45 - .8% dan Kalimantan Tengah sebesar 29.6%. GAMBAR 1. terdapat kecenderungan penurunan keberhasilan pengobatan TB dari tahun 1990 sampai dengan tahun 1996.16 nampak bahwa terdapat 3 propinsi dengan cakupan penemuan penderita tertinggi yaitu Sulawesi Utara sebesar 89. diikuti oleh Maluku Utara sebesar 26.5%. dan Banten sebesar 78. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

97 0.47 0.98 21.19 0.000 penduduk pada tahun 2005.62 22. untuk kemudian kembali turun hingga berada pada level 0.09 24.000 penduduk terus turun hingga 0.79 22.81 31. Kecenderungan penurunan juga ditunjukkan oleh AMI.08 0.11 21.9 21.09 menjadi 18.1.000 penduduk pada tahun 2008.38 30 23.07 0.94 19.1.2.2 0. API tahun 2000 yang berada pada angka 0.21 0.52 26.15 0.12 10 0 1989 1990 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Annual Paracite Incidence (Jaw a Bali) Annual Malaria Insidence (Luar Jaw a Bali) 2008 0 Sumb er: Depkes dan Profil Kesehatan 2008 Pada gambar 1.35 Annual Parasite Incidence Malaria dan Annual Malaria Incidence di Indonesia (Per 1.000 penduduk pada tahun 2008.19 0.06 0.27 21.2008 Kejadian Malaria di Indonesia 1 0.000 penduduk) 0.81 per 1.2 18.16 per 1.4 0.8 28.15 0.46 - .67 16.18 dapat diketahui baik API maupun AMI menunjukkan kecenderungan penurunan selama periode 2000-2008.1 22.22 0.51 19.19 pada tahun 2006.8 0.16 AMI (Per 1.2 0.000 penduduk pada tahun 2004.98 dan kemudian kembali turun hingga mencapai 16.06 0.15 per 1.17 0.2. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .72 20.12 0.62 per 1.94 per 1.000 penduduk) Tahun 1989 .000 penduduk) 40 API (Per 1. Angka ini meningkat menjadi 0. Angka ini naik pada tahun 2006 menjadi 23.17 0. Pada periode tahun 2000-2004 AMI turun secara signifikan dari 31. MALARIA Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit (plasmodium) yang ditularkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi (vektor-borne disease) GAMBAR 1.6 24.3 0.62 20 16.16 0.

063 45.005 117.277 4.59 16.674 8.212 31.790 266.07 0.17 1.920 2.530 6.355 2.398.612 10. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Jawa-Bali Luar Jawa-Bali Sumber : Profil Kesehatan 2008 Klinis 8.03 0.32 NA 0.522 Positif 1.26 13.564 83.376 8.I.040 38.85 104.48 17.47 - .51 10.386 22.630 3.03 0.859 19.98 39.06 18.933 609 3.15 2.692 18.572 NA 42.646 261.213 54.053 2.58 3.466 Positif 21.65 51.274 1.631 0.644 51.79 40.17 18.168 4.784 10.164 9.389 6.21 4.654 27.96 2.064 17.337 API/AMI 21.486 1.015 957 6.666 NA 636 947 67 2.1 3.621 425.566 42.325 42.637 73.2 8.81 1.71 0.94 11.401 29.907 49.581 14.042 3.74 167.606 40.288 16.108 8.62 Jumlah Penderita Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Klinis 96.924 120.624.651 103 242 API/AMI 2.6 Insidens Malaria Per Provinsi Tahun 2008 Jumlah Penderita Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.487 5.160 391 12.503 32.275 6.23 11.930 226.58 13.140 1.470 2.134 10.46 22.683 187.03 8.47 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .028 2.TABEL 1.42 84.426 1.58 0.110 2.08 5.

Sedangkan jumlah penderita AIDS nasional yang terdeteksi pada tahun 2008 mencapai angka 16.141 8.320 11. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari periode 19872008.3.171 258 352 607 5 7 12 17 32 45 69 89 112 154 198 255219 345 316 1. HIV dan AIDS GAMBAR 1.2008 Kasus AIDS di Indonesia 18000 16000 14000 16.947 1.110 J u m la h K a su s 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 5.193 4. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .638 2.969 2.1.6822.969 kasus. menyebutkan bahwa jumlah kasus baru AIDS sepanjang tahun 2008 sebesar 4.110 kasus.487 8261.873 2.195 5 2 5 5 15 13 24 20 23 4244 60 94 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS yang dilaporkan Jumlah Kasus Baru AIDS yang dilaporkan Sumber : depkes Berdasarkan laporan dari Departemen Kesehatan.1.36 Jumlah Kasus Baru dan Kumulatif Penderita AIDS yang Terdeteksi Dari Berbagai Sarana Kesehatan di Indonesia Tahun 1987 .48 - .2.

368 2.177 228 Papua 2.000 544 3.243 6.GAMBAR 1.015 5.37 Jumlah ODHA di 10 Provinsi Terbanyak di Indonesia Sampai dengan Tahun 2008 Grafik Jum lah ODHA (10 te rbanyak ) Kep.781 419 Jaw a Barat 0 500 1.719 1.5512.0566.500 2.500 3.000 2.2008 Kasus HIV 7000 6000 Jumlah Kasus 5000 4000 3000 2000 1000 0 4 4 3.382 351 Jaw a Timur 2.38 Jumlah Kasus Baru dan Kumulatif Pengidap HIV yang Terdeteksi Tahun 1987 .171 875 986 590 768 732 648 276 381 464 168 649 8 12 16 22 40 136 207 403 126 178 4 4 6 96 4 71 69 105 83 4.229 836 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Kasus Baru HIV yang dilaporkan Jumlah Kumulatif Kasus HIV yang dilaporkan Sumber :Depkes Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat 2008 .000 2.591 584 DKI Jakarta 2.49 - .000 Jumlah Kasus Meninggal Sumber : Depkes GAMBAR 1.888 1.500 4.903 1. Riau 277 115 Riau 364 116 Sumatera Utara 487 95 Jaw a Tengah 530 221 103 Kalimantan Barat 730 Bali 1.

429 1.437 1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .50 - .183 Jumlah Kasus 114 146 Sumber : Depkes Jumlah kasus AIDS yang pengguna Napza suntik tahun 2008 di Indonesia sebesar 1. terjadi tren kenaikan per tahun pada periode 1993-2008.GAMBAR 1.255 1.517 1.39 Jumlah Kasus Baru AIDS yang Terdeteksi Pada Pengguna Napza Suntik (Penasun) Tahun 1993 .2008 Jumlah Kasus Baru AIDS pada penasun 1600 1200 800 400 1 0 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 1 1 0 0 17 69 80 1. Namun secara umum.255 yang menunjukkan penurunan dari tahun 2007.

11 1. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Profil Kesehatan 2008 Jumlah Penderita DBD 2.5 51.80 0.38 1.00 2.96 8.762 1.4. akan tetapi dapat juga menyerang orang dewasa TABEL 1.279 330 2006 52.99 1.31 1.389 3.89 2.69 220.46 46.07 133.516 257 2004 37.64 34.31 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jumlah Penderita DBD 777 279 947 531 576 5.907 828 245 2.75 19.8 Jumlah Penderita dan CFR DBD Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.1. Case Fertility Rate.2.09 0.11 15.433 263 2002 19.4 33.72 44.462 326 2005 43.00 0.06 0.10 7.33 0.235 2.39 68.78 1.99 0.000 penduduk Sumber : Profil Kesehatan berbagai tahun TABEL 1.06 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .17 2 21.99 1.45 61.248 19.36 95.41 13.39 0.07 22.807 34 1.99 1.51 2.12 1.68 46.91 1.65 0.113 272 1999 35.58 55.436 4.58 1.04 114.00 25.25 90.119 16.00 1.454 1.25 46.74 3.377 264 2003 23.83 0.87 1.16 181.7 Insidens Rate.23 58.2 79.76 34.44 0.09 54.254 CFR 1.21 18.21 3.589 3.776 222 2000 10.656 330 2007 71.82 1.28 0.115 361 2008 60.19 34 71.51 - .86 CFR: Rata-rata jumlah kematian oleh DBD per tahun per 100.29 0.01 158.333 CFR 0.134 231 2001 15.1.545 1.361 23.2008 Tahun Insidens Rate Case Fatality Rate Jumlah Penderita Jumlah Kabupaten/Kota yg terjangkit 1998 15.006 172 37 250 510 228 136.24 1.13 0.67 0.954 6.32 1.724 28.87 3.07 317.34 0.30 IR 54.47 60.10 0.48 1.22 0. Jumlah Penderita dan Jumlah Kab/Kota yang Terjangkit DBD di Indonesia Tahun 1998 .28 2 317.49 42. Umumnya menyerang anak di bawah umur 15 tahun.76 0. DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Demam berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty.360 339 4.42 1.03 63.86 IR 18.3 40.83 3.19 0.67 15.I.430 1.29 27.

762 6.78 60.11 52.04 1.248 34 37 172 228 245 250 279 339 510 531 576 777 828 947 1. akan tetapi masih menunjukkan angka yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.I.42 71.361 .01 0.2008 IR Per 100.86 Tahun Gambar diatas menunjukkan terjadinya penurunan Insidence Rate (IR) Demam Berdarah Dengue dari tahun 2007 ke tahun 2008.436 3.000 0 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bangka Belitung Sulawesi Barat Gorontalo Papua Jambi Maluku Utara Nusa Tenggara Timur Bengkulu Papua Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Riau Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kepulauan Riau Sumatera Barat D.006 1.000 20.389 1.50 0.430 1.000 5.454 4.40 Incidence Rate (IR) dan Case Fatality Rate (CFR) DBD Tahun 2003 . Yogyakarta Sumatera Selatan NAD Sulawesi Selatan Banten Sumatera Utara Lampung Kalimantan Timur Bali Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta .50 1.GAMBAR 1.00 0.000 15.807 5.119 2.235 23.50 CFR (%) 1.20 1.724 1. GAMBAR 1.000 10.86% pada tahun 2008.589 19.254 Sumber : Profil Kesehatan 2008 30.545 3. dimana CFR menurun dari 1.36 1.52 - 28.907 2.954 4.41 Jumlah Penderita DBD Per Provinsi Tahun 2008 16.01% pada tahun 2007 menjadi 0.000 Penduduk 80 70 60 50 40 30 20 23.48 43.00 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Periode Sumber : Profil Kesehatan 2008 1.00 1.000 25.87 2003 2004 2005 2006 2007 2008 37. IR yang menurun pada tahun 2008 diiringi dengan menurunnya Case Fatality Rate (CFR) juga.06 2.360 2.

622 2.30 2. TABEL 1.000 4.5 2.051 3.77 3.000 2.2008 12.661 penderita dan CFR 1.661 2.047 Meninggal 12 2 1 9 4 CFR 1.9 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2.26 1. Angka jumlah penderita dan CFR ini naik jika dibandingkan tahun 2007 dengan 3. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: Profil Kesehatan 2008 Penderita 178 636 380 216 362 1.000 0.30%.443 penderita Diare dengan CFR sebesar 2.52 1.5.4 1.9 2.4 2.1 13.9 0.62 5.443 Jumlah Kasus CFR (Persen) Sumber: Profil Kesehatan 2008 Pada tahun 2008 terdapat 8.000 8.51 2.I.9 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.42 Jumlah Kasus dan CFR Diare di Indonesia Tahun 2000 .443 209 2.000 6.5 0.314 1.1.428 2.789 4.000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 1.5 0.000 10.3 6. DIARE GAMBAR 1.48%.2 1.1.48 10.60 5.023 130 169 1.92 5.680 4.980 8.5 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Penderita 814 217 106 41 584 2.53 - .8 8.540 Meninggal 1 3 2 1 13 23 18 14 106 CFR 0.1 1.4 8.

angka ini menurun jika dibandingkan pada tahun 2006 yang 55 kasus dengan 45 kasus meninggal.54 - .6.0 70.1 85.2008 60 50 40 30 20 10 0 2005 2006 Kasus Terkonfirmasi 2007 2008 20 13 20 17 55 45 42 36 Kasus Meninggal Sumber : Profil Kesehatan 2008 GAMBAR 1.0 81. AVIAN INFLUENZA (FLU BURUNG) GAMBAR 1.0 Sumber : Profil Kesehatan 2008 Jumlah kasus konfirmasi AI pada tahun 2007 menunjukkan angka 42 kasus dengan 36 kasus meninggal.1.2. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 88.44 CFR Avian Influenza di Indonesia Tahun 2005 – 2008 Angka CFR 90.0 2005 2006 2007 2008 65.8 80. Tetapi angka kematian (CFR) meningkat menjadi 88.43 Jumlah Kasus Konfirmasi Avian Influenza dan Kasus Meninggal di Indonesia Tahun 2005 .8% pada tahun 2006.0 60.1% dari 81.0 50.1.

GAMBAR 1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . kemudian secara berturut-turut adalah Jawa Tengah. Riau. DKI Jakarta dan Banten.45 Jumlah Provinsi dan Kabupaten yang Baru Tertular Flu Burung Pada Manusia Tahun 2005 – 2008 20 18 15 15 11 10 5 5 4 3 0 3 0 2005 2006 Provinsi 2007 Kabupaten 2008 Sumber : Profil Kesehatan 2008 TABEL 1.10 Kasus Konfirm AI Per Tahun Dari Tahun 2005-2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Provinsi DKI Banten Jabar Jateng Jatim Lampung Sumbar Sumut Sulsel Sumsel Riau Bali Total 2005 K 8 5 3 1 0 3 0 0 0 0 0 0 20 M 7 4 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 2006 K 11 4 22 3 5 0 2 7 1 0 0 0 55 M 10 4 18 3 3 0 0 6 1 0 0 0 45 2007 K 8 11 5 5 2 0 1 1 0 1 6 2 42 M 8 9 4 5 1 0 1 1 0 1 5 2 37 K 6 7 4 2 2008 M 4 7 4 2 Total K 33 27 34 11 7 3 4 8 1 1 6 2 137 M 29 24 28 10 4 0 1 7 1 1 5 2 112 1 0 20 17 Sumber : Profil Kesehatan 2008 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kasus konfirmasi AI terbanyak dilaporkan dari Provinsi Jawa Barat. Provinsi Lampung dan Sulawesi Selatan sampai dengan Desember 2008 sudah tidak dilaporkan adanya kasus konfirmasi pada manusia.55 - . Jawa Timur. Sumatera Utara.

47 Kasus Kumulatif Konfirmasi AI dan Kematian Avian Influenza Menurut Provinsi Tahun 2005 – 2008 40 35 30 25 20 15 10 5 0 ut ta Ja ti m n Ja ba r Ba nt e ng ka r Su m Ja te Ja 33 29 34 28 27 24 1110 8 7 7 4 6 6 4 1 3 0 22 Ba li 1 1 el 1 1 se l pu ng Ri au ba r Su ls Su m DK I Kasus Meninggal Sumber : Profil Kesehatan 2008 La m Su m Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .46 Kasus Konfirmasi AI Menurut Jenis Kelamin dan Riwayat Kontak Di Indonesia Tahun 2005 – 2008 Kontak Bel umDi ketahui 12% Kontak Dengan Pupuk 2% Perempuan 49% Laki-laki 51% Kontak Langsung 49% Kontak Li ngkungan 37% Sumber : Profil Kesehatan 2008 GAMBAR 1.GAMBAR 1.56 - .

1 1.4 13.6.9 1.8 19.2 6. SEPULUH PENYAKIT UTAMA TABEL 1.2 2.2 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .11 Proporsi Sepuluh Penyakit Menular Utama Pada Semua Umur Tahun 2007 No.1 14.1.2.57 - .080) TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/Ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia Sumber : Riskesdas 2007 % 27.0 4.6 3.1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Penyakit menular (n=1.

0 0.3 7.2.0 7.3 0.2 1.8 0.7 0.6% di NAD. JANTUNG TABEL 1.4 8.3 1.8 1.6 0. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0.8 5. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi.9 0.2.1 4.6 7.6 11.7 0.6% di Lampung sampai 12.8 0.4 0.5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung.8 4.8 0.9 5.9 6.0 11.7 5.8 0.1.7 5. Jantung.6 5.9 7.2.2.1 8.2 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jantung D 0. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah disiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor sitetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker 2.3 Propinsi Propinsi Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7.8 8.6 3.7 D/G 6.8 5.4 7.5 0.2 7.4 8.8 1.9 1.1.0 0.I.4 8.4 0.3 0. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Catatan : D = Diagnosa oleh tenaga kesehatan D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.9 0.9%.3 5. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12. PENYAKIT TIDAK MENULAR 1.7 0.8 9.6 0.8 1.8 D/G 12. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2% berdasarkan wawancara.7 8.3 2.6 0.8 0.7 4. berkisar antara 2.6 0.1 4.5 0.7 0.12 Prevalensi Penyakit Jantung Per Provinsi Tahun 2007 Jantung D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.2 8.5 0.2 11.3 1.58 - .1 0. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional.4 6.

8 6.1 4.1 0.3 1.0 1.3 0.2 7.5 3.4 1.7 0.0 6.1 11.2 8.2 20.6 2.2 1.1 7.0 0.2 1.8 1.0 1.5 14.TABEL 1.3 0.0 8.8 6.8 9.8 6.0 0.1 0.8 1.8 0.2 7.2 6.1 1.5 1.0 1.9 2.3 1.2 8.3 1.9 6.8 7.5 16.4 D D/G Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .4 1.8 1.5 1.2 0.3 7.1 19.9 1.6 0.13 Prevalensi Penyakit Jantung Menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 Jantung (%) Karakteristik Responden Kelompok umur <1 Tahun 1-4 Tahun 5-14 Tahun 15-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tdk sekolah Tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 0.6 10.59 - .3 12.2 0.9 10.2 7.1 6.1 3.4 10.5 0.5 10.5 3.0 1.

3 0.4 0.7 0.6%.6% di DKI Jakarta.I.4 0.0 0.5 0.3 0. Prevalensi DM menurut provinsi. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Catatan : D = Diagnosa oleh tenaga kesehatan D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.0 0.8 Propinsi Propinsi Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0.2 0.9 1.8 1.6 0.2 0. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63.8 0.0 0.8 0.2.9 1.8 D/G 1.4 1. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional.6 0.4 0.3 0.7 0.7 0.1.60 - .5 0.14 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Per Provinsi Tahun 2007 DM D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.3 0.1 1.8 1.0 1.8 0. berkisar antara 0.8 1.6 1. Jantung.5 0.3 1. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung.6 0.5 0.7 0.7 1.6 1.4 0.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1.4% di Lampung hingga 2.5 0.8 1.6 0.4 2.6 0.6 1.5 0.1%.6 1.8 1.2. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah disiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor sitetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker 1.5 D/G 1.7 0.3 0.5 0.6 0.8 0.2 1.2 1.0 1.0 1. DIABETES MELLITUS TABEL 1.1 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua DM D 0.7 0.8 0.0 0.6 0.4 1.2.3 1.3 1.

2 1.4 0.8 1.4 3.6 0.0 2.5 1.2 1.4 2.3 0.1 1.4 2.2 0.3 1.7 1.3 1.9 1.0 0.9 1.2 1.7 2.1 1.61 - .8 0.1 0.8 0.4 0.7 1.9 1.5 0.TABEL 1.5 1.0 1.7 0.15 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 Diabetes (%) Karakteristik Responden Kelompok umur <1 Tahun 1-4 Tahun 5-14 Tahun 15-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tdk sekolah Tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 0.7 1.2 0.7 0.4 0.1 1.6 1.2 0.8 2.7 1.2 2.0 2.1 0.3 1.2 0.7 3.7 3.2 D D/G Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .5 0.1 0.8 1.3 2.7 1.7 0.1 1.6 1.8 2.

prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31.4 5.6 31.5 33.6 31.7 U 30.6 8.4 9.2 9.9 8.62 - .4 7.4 9.1 U 32.0 35.1 24.5 D/O 10.8 33.7 9.9 7. Sulawesi Barat.1.1 6.4 27.0 8. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39.1 Propinsi Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah.3 28.2 4.6 29.3 31.4 8.6%.1 4.2%.5 25. Bangka Belitung.7 5.1 5.6 31.0 4. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Catatan : D = Diagnosa oleh tenaga kesehatan D/G = Diagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau diagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 9.6 7.7 9.6 9. Sulawesi Tengah. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7.1 4.0 5.7 6. Jawa Tengah.0 4.8 8.4 8.0 9.2 5. dan Nusa Tengah Tenggara Barat.9 29.5 8.2 26.2 5.2.6 5.2 7.0 8.4 28.4 22.0 11.2 7.8 37.1 7.3 6.7 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Propinsi D 6.6 29.5 6.3.3 6.6 39.2 5.1 37.9 7.9 31.3 28. DI Yogyakarta. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7.3 9.1 7.3 10. Menurut provinsi.0 5.0 29.1 8.1 29.7 5.8 29.6 7.1 9.3 11.0 20.3 7.1%).4 37.4 7.2 36.3 31. Riau. merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional.4 8.7%. Kalimantan Tengah.2.0 31. Provinsi Jawa Timur.1 6.9 HIPERTENSI (%) D/O 6.8 5.16 Prevalensi Penyakit Hipertensi Per Provinsi Tahun 2007 HIPERTENSI (%) D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.2 7.5 8.8 7.2 34.I.7 4. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 8.6%) dan terendah di Papua Barat (20.3 8.8 9.4 5.2 30. HIPERTENSI TABEL 1.3 8.

4 8.9 8.7 7.3 6.6 4.0 29.2 22.7 30.1 24.2 12.9 23.4 53.6 6.5 8.9 0.1 7.1 5.5 6.3 0.17 Prevalensi Hipertensi Menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 Hipertensi (%) Karakteristik Responden Kelompok umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tdk sekolah Tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 6.63 - .2 32.6 7.1 13.3 0.3 31.8 31.6 6.5 11.8 13.6 8.7 7.9 10.7 14.5 30.1 9.6 7.3 11.8 7.6 31.6 6.7 9.9 31.5 0.7 7.3 D D/O U Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 32.1 14.5 4.4 4.0 8.6 7.2 11.5 11.9 33.8 4.9 17.1 0.6 8.4 30.5 5.9 2.9 39.3 23.9 27.5 17.5 6.3 7.5 67.0 31.0 7.4 6.8 9.9 2.8 8.TABEL 1.7 12.2 6.2 19.8 32.8 4.7 11.1 6.0 0.7 63.9 42.4 30.0 7.3 6.0 7.

8 3.6 4.1.3 1.3 3. Jantung.0 3. berkisar antara 1.4 2. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia 2.7 2.6 3.5 8. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .3 Sumber : Riskesdas 2007 Catatan : D = Diagnosa oleh tenaga kesehatan D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.2 2.4 4.4 6. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional.5‰ di Maluku hingga 9.9 3.5 4.3‰.8 4. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah disiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor sitetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4.9 3.3 2.4.6 5.4 3. TUMOR TABEL 1.2.8 4.6 3.9 2.4 1.4 5.9 5.I.7 3.9 2.8 2. Prevalensi menurut provinsi.64 - .2.8 3.8 3.18 Prevalensi Penyakit Tumor Per Provinsi Tahun 2007 TUMOR 0 Propinsi Propinsi TUMOR 0 /00 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua /00 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.8 7.5 1.1 9.6 2.6‰ di DI Yogyakarta.

0 4.4 8.2 6.1 4.65 - .7 5.4 4.4 2.3 3.5 8.6 5.0 2.7 5.7 4.1 8.8 8.2 7.3 0.8 1.7 6.8 6.19 Prevalensi Penyakit Tumor Menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 Tumor (0/00) Karakteristik Responden Kelompok umur <1 Tahun 1-4 Tahun 5-14 Tahun 15-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tdk sekolah Tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 3.7 8.7 5.9 5.8 4.1 4.7 0.6 6.9 5.2 3.TABEL 1.4 D/G Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 1.9 9.

SEPULUH PENYAKIT UTAMA TABEL 1.6 0.5 0.3 9.1 5.2 10.5 6.4 7.9 12.21 Penyebab Kematian Pada Semua Umur di Indonesia Tahun 2007 Penyebab Kematian Strok TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor Ganas Penyakit Hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi Sumber : Riskesdas 2007 Proporsi Kematian (%) 15.5.8 6.7 5.2.20 Proporsi Penyakit Tidak Menular Pada Semua Umur di Indonesia Tahun 2007 No.5 0.0 5.3 10.8 0.2.285) Strok Penyakit Hipertensi Diabetes Melitus Tumor ganas Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 jari Malformasi Congenital Malnutrisi Sumber : Riskesdas 2007 % 26.3 0.1.2 7.1 4.5 3.5 1.8 3.7 1.2 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .66 - .1 5.6 1.3 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Penyakit tidak menular (n=2.4 1.0 0.5 6.6 3.4 TABEL 1.2 9.7 5.

GAMBAR 1.48 Distribusi Kasus Kematian pada Semua Umur Menurut Kelompok Penyakit Tahun 1995 - 2007
Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit, SKRT 19952001 dan Riskesdas 2007
70.0 60.0 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 Gangguan Perinatal/Maternal Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular Cedera 10.1 44.2 31.2 28.1 41.7 49.9

59.5

6.0

6.0

5.9

7.3

6.5

SKRT 1995

SKRT 2001

Riskesdas 2007

Sumber : Riskesdas 2007

Gambar 1.28 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen, dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42% menjadi 60%. Sedangkan proporsi gangguan maternal/periental dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 67 -

TABEL 1.22 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2006
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pasien Rawat inap Diare dan gastroenteritid infeksi tertentu (colitis infeksi) Demam berdarah Dengue Demam tifoid dan paratifoid Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya Cedera intrakanial Demam yang sebabnya tidak diketahui Cedera YDT lainnya YTT dan daerah badan multipel Pneumonia Malaria (included all malaria) Dispepsia % 7,95 3,64 3,26 2,85 2,18 2,07 2,06 1,69 1,65 1,52

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Rawat Jalan Infeksi saluran nafas bagian atas akut Hipertensi esensial Demam yang sebabnya tidak diketahui Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya Gejala tanda dan penemuan klinik dan laboratorium tidak tidak normal lainnya Cedera YDT lainnya YTT dan daerah badan multiple Tuberkulosis paru Pengawasan kehamilan normal Diabetes mellitus YTT Diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu
Sumber: Profil Kesehatan 2006

% 19,9 9,95 8,48 8,35 8,23 7,19 7,18 7,11 7,08 6,89

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 68 -

1.3. STATUS GIZI 1.3.1. PREVALENSI KEKURANGAN GIZI PADA ANAK BALITA Persentase bayi pada bayi di bawah usia 5 tahun (balita) yang menderita gizi kurang (moderate malnutrition) dan gizi buruk (severe malnutrition). Gizi kurang bila berat badan menurut umur (BB/U) berada di antara minus 2 dan minus 3 standar deviasi (-3 Z_score < -2) dari angka median berat badan baku WHONCHS. Gizi buruk bila berat badan menurut umur (BB/U) berada di bawah minus 3 standar deviasi (Z_score < -3) dari angka median berat badan baku WHO-NCHS. GAMBAR 1.49 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Indonesia Tahun 1989 - 2007
Kekurangan Gizi pada Balita 40.0
37.5 35.5 31 .2 31 .6 29.5 28.3 26.4 24.6 26.1 27.3 27.5 28.2 28.0

30.0

Target RPJM 2009

Persen

20.0

20.0

1 9.0

1 8.3

1 9.8 1 7.1

1 9.3

1 9.2

1 9.6

1 9.2

1 8.4

20

18.5

1 .6 1

1 3.0 1 0.5 8.1 7.5 8.0 6.3 8.3 8.6 8.8 5.4

10.0
6.3

7.2

Target MDG 2015

0.0
19 89 19 95 19 92 19 98 20 00 20 03 20 02 20 04 20 07 20 12 19 99 20 01 20 05 20 09 20 15

Gizi Buruk

Gizi Kurang

Kekurangan Gizi

Target

Sumber : Susenas(1989-2005), Riskesdas 2007

Pada gambar 1.29 terlihat bahwa Angka Kekurangan Gizi pada balita mengalami tren penurunan pada periode tahun 1989-2000. Namun tren sebaliknya ditunjukkan pada tahun berikutnya, yaitu periode tahun 2000-2005 yang justru meningkat meskipun dengan peningkatan yang tidak terlalu signifikan per tahunnya. Pada tahun 2007, terjadi penurunan tajam angka kekurangan gizi pada balita yaitu telah mencapai angka 18,4, tentu saja nilai ini turun secara signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2005 dengan angka 28,0.
Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat - 69 -

GAMBAR 1.50 Peta Penyebaran Angka Kekurangan Gizi Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007

Sumber: Riskesdas 2007

TABEL 1.23 Tren Balita Berstatus Gizi Kurang dan Buruk di Indonesia Tahun 2002 - 2007
Daerah Gizi Kurang Kota Desa Total Kota Desa Total 2002 16.8 19.6 18.4 6.6 8.1 7.5 2003 18.2 20.6 19.6 7.2 9.5 8.6 2005 17.2 20.4 19.2 7.3 9.6 8.8 2007 11.7 14.0 12.9 4.2 6.4 5.3

Gizi Buruk

Sumber: Susenas, Riskesdas 2007

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 70 -

7 6.9 17.8 23.6 3.3 15.2 21.7 20.3 13.0 2.4 18.8 8.0 10.2 18.1 6.2 Gizi Buruk % 10.4 6.4 16.4 4.4 14.2 4.2 Gizi Kurang + Gizi Buruk % 26.6 22.2 16.2 26.7 9.9 17.TABEL 1.0 Gizi Buruk % 8.5 18.3 6.24 Prevalensi Kurang Gizi Per Provinsi Tahun 2007 Gizi Kurang % NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.4 8.7 11.4 12.5 4.6 22.7 8.4 3.0 16.8 14.0 9.9 15.3 6. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: Riskesdas 2007 15.6 13.1 8.8 27.2 15.4 Propinsi Propinsi Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .8 4.4 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Gizi Kurang % 16.4 27.71 - .0 2.0 16.5 18.7 24.9 12.1 16.7 12.5 22.9 18.6 12.9 7.0 8.1 11.I.3 12.5 12.2 14.4 5.5 16.1 18.7 17.2 10.5 8.9 3.4 18.2 21.3 8.6 11.6 5.5 24.3 14.8 33.0 11.5 6.8 13.4 Gizi Kurang + Gizi Buruk % 24.7 25.8 22.3 12.1 9.5 15.2 13.6 11.4 10.8 5.9 11.4 25.7 4.2 8.9 5.7 4.6 19.8 6.6 17.

72 - .2 26.9 17.0 30.4 27.7 20.3 15.8 22.2 21.6 22.6 17.6 11.BABEL KEPRI DKI JAKARTA JABAR JATENG DIY JATIM BANTEN BALI NTB NTT KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SULBAR MALUKU MALUT PAPUA IRJABAR INDONESIA 26.GAMBAR 1.8 33.4 GAMBAR 1.4 25.0 16.51 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Kekurangan Gizi 80.9 15.8 27.7 17.0 20.52 Peta Penyebaran Angka Kekurangan Gizi Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Sumber: Riskesdas 2007 .0 40.7 25.5 18.6 19.0 60.5 22.4 16.0 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat NAD SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG KEP.0 70.4 12.6 22.3 12.2 18.0 10.4 Gizi Buruk Gizi Kurang Kekurangan Gizi Sumber : Riskesdas 2007 Angka Nasional 18.2 23.9 18.0 50.0 0.2 16.4 18.4 24.5 24.0 10.8 21.

8 4. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .GAMBAR 1.54 Peta Penyebaran Angka Gizi Buruk Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Sumber : Riskesdas 2007 Secara umum Prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5.0 0.53 Angka Gizi Buruk Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 12.8 4.0 10.7 6. Bangka Belitung. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.5 6.4 4.0 2.7 10. Kepulauan Riau.0 8. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.3 4.8 6.9 Sumber : Riskesdas 2007 GAMBAR 1.73 - 2.8 6.0 4.7 3.2 3.6 4.2 8.0 6.1 4.4 8.0 3.1 8.4 9.0 2.5 8.7 5.4 5.0 10.4%.5 6. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.4 .2 5.3 6.0 9.9 5.6 6.9 8.1 7.3 8.4 8. sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk diatas prevalensi nasional.

0 9.5 11.6 14.5 18. GAMBAR 1. Lampung.8 11.4 8.56 Peta Penyebaran Angka Gizi Kurang Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .4 14.3 14. Empatbelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.0 20.2 17.1 16.4 16.0 15.6 12.8 15. Bengkulu.7 18.9 11.0 24.0 13.3 14. sebanyak 19 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk diatas prevalensi nasional.0 5.2 16.5 8.7 13.0 11.0%.55 Angka Gizi Kurang Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 25. Sumatera Selatan.1 13.74 - .2 Sumber : Riskesdas 2007 Prevalensi gizi kurang di Indonesia adalah 13.2 12. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Jambi.6 12.GAMBAR 1.1 15.7 11.7 16.5 12.9 15.3 10.0 10. Kepulauan Riau.2 18.0 12.9 13. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.0 0.

2 17.3 18. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau Propinsi Gizi Kurang 15.5 22.8 14.4 5.75 - .6 11.5 25.3 12.2 16.7 9.9 11.5 4.0 22.7 21.9 7.5 16.3 13.5 18.3 6.4 Gizi Buruk 10.4 Angka Nasional 18.4 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Pulau Sumatera Tahun 2007 30.9 12.2 21.7 4.4 ND A S m te u a ra S m te u a ra S m te u a ra L mu g a pn J mi a b R u ia B litu g e n B n k lu egu K p la a eu un Bn k aga S la n e ta U ra ta B ra a t Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat R u ia .0 Kekurangan Gizi 26.9 18.GAMBAR 1.9 18.0 0.4 20.7 20.7 11.2 18.6 3.7 12.0 Pr e es n 15.4 18.0 10.5 6.57 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Sumatera Tahun 2007 SUMATERA No.8 5.3 14.0 26.0 20.8 13.7 8.7 17.0 5.

58 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 JAWA-BALI No.2 Gizi Buruk 2.0 10.8 4.0 4.0 6.0 18.4 16.I.4 3.0 2.4 11.6 11.0 16.4 10.5 12.6 16.9 Angka Nasional 18.0 11.0 Persen 12.2 8.0 10.0 Jawa Timur Banten Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta 17.0 15. Yogyakarta Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .76 - .9 Bali D.0 8.0 16.0 8.GAMBAR 1.9 15.4 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Pulau Jawa-Bali Tahun 2007 20.0 12.0 0.0 2. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Gizi Kurang 10.0 14. 1 2 3 4 5 6 7 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.9 17.I.9 3.2 Kekurangan Gizi 12.6 12.7 4.4 4.3 12.4 16.

8 33.00 10.00 15.7 24.00 25.6 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2007 40.00 0.00 Persen 20.00 Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat 33.60 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . 1 2 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Gizi Kurang 16.GAMBAR 1.60 Angka Nasional 24.59 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 NUSA TENGGARA No.1 9.00 30.00 5.00 35.4 Kekurangan Gizi 24.2 Gizi Buruk 8.77 - .

1 2 3 4 Propinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Gizi Kurang 14.2 13.2 Kekurangan Gizi 22.78 - .1 Gizi Buruk 8.60 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Kalimantan Tahun 2007 KALIMANTAN No.5 24.0 Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Kalimantan Timur 24.1 8.0 Persen 15.GAMBAR 1.0 26.0 5.2 22.6 19.2 26.3 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 0.0 20.0 16.6 25.3 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Pulau Kalimantan Tahun 2007 30.5 8.0 10.4 6.5 Angka Nasional 18 4 19.1 18.

5 18.GAMBAR 1.61 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Sulawesi Tahun 2007 SULAWESI No.4 22.0 25. 1 2 3 4 5 6 Propinsi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Gizi Kurang 11.6 25.4 25.0 5.79 - .6 15.8 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 25.5 15.4 17.4 Gizi Buruk 4.0 Kekurangan Gizi 15.6 17.8 8.1 6.2 10.9 17.7 Angka Nasional 18.0 0.0 10.6 22.2 15.0 20.0 Persen 15.0 Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Utara 27.7 12.3 8.8 27.4 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Pulau Sulawesi Tahun 2007 30.9 5.4 25.

00 Persen 15.00 10. 1 2 Propinsi Maluku Maluku Utara Gizi Kurang 18.8 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Pulau Maluku Tahun 2007 30.80 - .00 20.00 Maluku Maluku Utara 27.5 16.00 0.00 25.80 Angka Nasional 18.8 22.80 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .1 Gizi Buruk 9.00 5.3 6.7 Kekurangan Gizi 27.GAMBAR 1.62 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Maluku Tahun 2007 MALUKU No.4 22.

2 21.00 Papua Barat Papua 21.4 14.00 22.50 Persen 22.GAMBAR 1.6 Kekurangan Gizi 23. 1 2 Propinsi Papua Barat Papua Gizi Kurang 16.50 20.81 - .50 21.00 21.63 Angka Kekurangan Gizi Wilayah Papua Tahun 2007 PAPUA No.50 23.8 6.20 23.2 Angka Kekurangan Gizi Pada Balita di Pulau Papua Tahun 2007 23.20 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 Gizi Buruk 6.00 20.

9 80.0 81.8 4.0 13.25 Prevalensi Balita Menurut Status Gizi (BB/U) dan Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Kategori Status Gizi BB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6-11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 6.0 5.9 6.5 4.7 78.8 3.0 6.6 74.9 4.2 8.7 4.1 6.82 - .9 3.8 5.8 80.9 75.9 78.8 13.3 5.4 77.8 77.1 76.3 4.9 4.2 4.7 Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 4.6 5.3 75.5 4.7 7.8 75.8 78.6 4.8 5.7 5.7 76.9 11.2 8.6 4.4 5.9 3.4 14.6 3.7 75.2 78.2 78.6 3.3 12.7 3.3 14.6 12.5 14.5 9.1 73.4 8.0 79.7 14.1 Sumber : Riskesdas 2007 15.3 78.2 4.6 13.9 3.8 12.3 7.8 5.0 76.7 3.5 3.7 76.7 82.7 5.2 12.7 80.7 4.0 6.9 77.4 13.9 8.4 3.8 5.4 11.8 9.8 13.9 3.2 76.5 4.1 11.9 4.2 6.3 14.7 4.8 4.7 5.9 3.4 9.0 5.8 14.9 3.2 4.TABEL 1.3 11.

83 - . Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: Riskesdas 2007 Sangat Pendek % 26.9 19.I.7 17.7 35.4 44.9 31.3 16.4 18.8 24.1 18.7 17.9 21.0 69.6 55. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 22.5 12.0 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Propinsi Sangat Pendek % 23.9 63.1 36.4 27.4 19.8 41.3 19.8 38.2 17.0 Stunting % 44.0 20.1 25.4 18.2 64.4 56.5 60.1.7 27.5 18.8 73.2 18.26 Persentase Balita Menurut Status Gizi (TB/U) Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D. dengan hampir 50% provinsi di Indonesia telah berada di level diatas rata-rata nasional.1 17.9 44.1 17.5 45.9 25.3 29.4 65.8 40.2 31.64 Angka Prevalensi Stunting (TB/U Kronis) Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Prevalensi Stunting (TB/U Kronis) 50 47 46 45 45 45 44 43 43 42 41 40 40 40 45 39 39 39 39 38 37 37 36 36 36 36 35 35 35 40 33 31 31 35 29 28 27 26 30 25 20 15 10 5 0 Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Kalimantan Timur Nusa Tenggara Barat Kalimantan Tengah Sumatera Utara Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Bangka Belitung DI Yogyakarta DKI Jakarta Maluku Papua Jambi Bengkulu Lampung Indonesia Riau Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Kepulauan Riau Gorontalo NAD Sumatera Barat Papua Barat Jawa Timur Banten Jawa Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Jawa Barat Bali Sumber: Riskesdas 2007 Angka rata-rata Nasional Prevalensi Stunting menunjukkan angka 37.5 17.2 59.2.9 14.3 64.3 63. PREVALENSI STUNTING PADA ANAK BALITA TABEL 1.9 22.5 33.6 62.1 28.0 Stunting % 43.5 73.2 40.6 36.0 16.1 55.8 11.7 15.0 63.3 58.6 18.1 13.9 14.6 26.8 35.3.5 63.2 17.3 64.8 19.6 16.7 13.0 38.3 53.3 15.6 16.9 20.5 67.7 57.9 23.0 Pendek % 17.9 59.0 19.5 20.8 60.5 39.7 20.1 26.7 39.2 60.9 17.8 13.9 25.6 43.5 72.0 16.5 15.4 37.6 34.6 20.8 59.2 20.4 19.8 Pendek % 19.2 39.4 13.3 16.4 20.7 18.3 64.2 18.7 17.6 19.8 68.2 42.7 35.2 61.5 54.0 Normal % 55.4 36.9 17.0 36.7 46.1 20.6 19.4 15.7 36.0 61.2 GAMBAR 1.6 70.3 20.8 Normal % 56.1 40.6 16.

9 16.8 14.8 65.1 17.84 - .2 19.0 15.3 67.GAMBAR 1.0 20.6 68.5 18.6 59.6 72.7 13.9 62.3 19.8 14.0 18.0 22.4 60.8 60.1 62.2 62.8 17.0 67.27 Persentase Balita Menurut Status Gizi (TB/U) dan Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Kategori Status Gizi TB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6-11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 21.2 19.5 61.3 18.2 19.1 21.0 20.9 65.9 18.7 19.1 19.8 67.2 17.2 22.0 13.2 17.3 59.1 15.8 19.3 15.0 58.7 14.6 Sangat Pendek Pendek Normal Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .8 60.8 17.7 16.9 69.1 59.9 16.3 19.6 17.5 20.5 17.65 Peta Penyebaran Angka Prevalensi Stunting (TB/U Kronis) Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Sumber: Riskesdas 2007 TABEL 1.1 21.2 19.3 64.9 18.

4 63.8 5.6 11.9 7.85 - . Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: Riskesdas 2007 9.6 7.5 12.8 62.1 6.5 12.6 10.9 7.4 10.9 6.3 76.6 Normal % 66.4 6.9 6.7 69.4 Kurus % 7.5 15.4 8.8 7.7 3.4 8.3.2 7.4 71.8 12.8 6.2 9.6 10.9 77.4 Kurus % 9.9 14.6 4.9 81.0 8.6 12.8 78.1 7.1 8.2 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sangat Kurus % 7.4 14.3 9.9 6.3.3 76.2 8.4 16.3 12.I.2 9.2 7.9 7.3 14.8 74.4 70.0 77.9 9.5 Propinsi Propinsi Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2 78.4 6.8 68.0 68.6 66.6 13.9 76.3 7.8 78.7 9.7 11.4 20.4 7.9 7.3 8.5 10.4 12.5 5.1 Gemuk % 12.2 10.5 5.5 3.2 16.5 8.4 74.5 73.6 3.7 5.3 4.1 10.1 9.5 66.1 5.9 14. PREVALENSI WASTING PADA ANAK BALITA TABEL 1.0 13.6 7.5 5.2 10.8 6.2 7.4 5.7 7.7 6.8 5.9 74.6 73.1 12.6 70.1 9.5 8.2 9.2 3.3 75.8 69.4 72.7 8.0 9.9 13.8 70.7 73.9 Gemuk % 15.7 10.5 9.0 75.9 7.6 4.5 76.1 7.0 Normal % 71.2 70.3 8.8 8.0 8.28 Persentase Balita Menurut Status Gizi (BB/TB) Per Provinsi Tahun 2007 Sangat Kurus % NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.9 7.5 9.1.9 15.1 8.9 8.4 8.

0 10.7 13.86 - .1 13.0 16.6 dengan 25 provinsi masih berada diatas angka rata-rata nasional.2 18.7 13.8 15.5 15. Bali. Sulawesi Utara. Jawa Tengah.0 19.0 5.4 11.8 16.0 9. Bangka Belitung.2 14.6 13.1 20. yaitu Kelulauan Riau.GAMBAR 1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat 22.0 17.8 10.66 Angka Prevalensi Wasting (BB/TB Akut) Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Prevalensi Wasting 25.9 14.9 15.4 17.0 0.5 15.4 16. Jawa Barat dan DI Yogyakarta sudah dianggap cukup baik atau dengan angka Prevalensi wasting berada dibawah rata-rata Nasional.0 20.8 10.3 17.5 12.0 9.9 16.36 bahwa angka Prevalensi Wasting Indonesia berada pada angka 13. Papua.7 16.2 10.0 15. Sedangkan 8 Provinsi lainnya.7 13.2 17.0 .6 14.0 Riau Nusa Tenggara Jambi NAD Kalimantan Barat Maluku Sumatera Utara DKI Jakarta Kalimantan Tengah Sulawesi Barat Gorontalo Papua Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sumatera Selatan Nusa Tenggara Sulawesi Tengah Sumatera Barat Maluku Utara Sulawesi Tenggara Bengkulu Banten Lampung Jawa Timur Sulawesi Selatan Indonesia Kepulauan Riau Papua Jawa Tengah Bangka Belitung Sulawesi Utara Bali Jawa Barat DI Yogyakarta Sumber : Riskesdas 2007 Terlihat dari gambar 1.3 14.3 15.

5 4.7 10.0 7.5 73.0 7.6 6.8 11.0 74.5 7.9 11.2 73.6 7.4 73.4 12.8 7.3 74.4 7.1 73.0 6.9 72.7 7.7 77.7 Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 76.1 19.8 74.9 73.0 6.7 74.87 - .0 5.1 12.9 7.9 10.3 7.9 12.7 6.9 12.2 75.8 8.2 6.2 74.4 12.3 73.2 10.7 8.0 4.5 7.TABEL 1.0 11.4 64.3 73.0 6.8 6.3 75.4 74.3 74.2 10.9 6.0 Sumber : Riskesdas 2007 7.29 Persentase Balita Menurut Status Gizi (BB/TB) dan Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Kategori Status Gizi BB/TB Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6-11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 6.1 7.6 7.9 12.3 6.8 68.2 6.6 5.7 7.0 7.9 12.9 15.0 7.5 5.5 6.9 12.1 5.3 7.7 14.5 7.4 12.6 6.9 15.8 6.1 5.0 6.8 7.6 11.4 11.9 7.7 7.2 7.0 11.0 7.3 73.9 6.4 13.6 7.1 7.5 74.2 11.9 7.0 76.8 14.7 7.7 72.9 72.

TABEL 1.5 20.1 36.4 12.4 37.8 33.5 24.6 26.8 14.8 35.3 17.2 26.8 17.8 13.9 16.7 35.1 26.2 15.2 42.3 29.3 22.2 14.5 39.0 13.7 14.2 16.5 17.6 22.9 31.88 - .9 16.0 36.7 36.2 39.3 15.0 15.2 15.7 39.30 Prevalensi Balita Menurut Tiga Indikator Status Gizi Per Provinsi Tahun 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia BB/U Buruk&Kurang 26.4 16.0 43.5 18.2 21.6 22.7 46.8 9.0 15.0 16.8 38.7 25.4 25.3 12.8 41.7 35.4 24.4 16.4 18.5 13.4 12.5 33.8 27.8 13.6 Sumber : Riskesdas 2007 * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB > 10% (UNHCR) ** Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U diatas prevalensi nasional Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 17.6 11.5 45.0 10.7 14.1 40.0 9.2 21.4 27.4 44.6 16.8 22.6 34.9 44.9 17.1 19.2 13.2 18.4 36.1 10.9 10.4 27.4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Akut* Kronis** 36.6 BB/TB Akut (Kurus) 18.7 10.5 22.9 18.2 31.7 20.4 TB/U Kronis (Pendek) 44.7 16.0 17.3 15.8 23.8 40.6 17.0 38.9 15.6 43.0 11.6 19.2 40.

0 6.6 3.4. PREVALENSI GIZI LEBIH PADA BALITA TABEL 1.0 5.3.2 4.0 5. dengan angka tertinggi dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan dan angka terendah dimiliki oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur.3 3.7 6.4 4.6 3.0 9.5 3.3 5.89 - .5 4.5 4.0 3.1 6.9 4.9 3.I.0 1.3 5.2 4.7 4.0 9.7 3.0 5.0 3.4 2.3 3.0 4.3 5.3.5 3.3 GAMBAR 1.4 3.7 4.3 6.6 3.0 3.5 3.8 2.0 0.0 4.0 8.0 4.67 Angka Prevalensi Gizi Lebih Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Gizi Lebih 10.5 2.3 2.0 5.0 2.0 Sumber : Riskesdas 2007 Angka Prevalensi Nasional untuk gizi lebih pada tahun 2007 adalah sebesar 4.3 5.6 4.4 4.6 3.4 3.0 3.3 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Gizi Lebih % 3.5 3.0 4.1 6.6 3.5 6.4 5.3 6. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 6.2 5.7 2.4 6.7 5.3 4.1.0 9.6 3.2 4.4 5.0 2. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Gizi Lebih % 4.7 2.31 Prevalensi Gizi Lebih Pada Balita Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.6 3.8 5.0 7.0 3.0 2.

1 20.0 16.7 14.4 29.1 18.1 33.6 20.0 80.0 20.9 16.5 20.90 - Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat 11.2 26.0 22.0 Laki-laki Perempuan Total Sumber : Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada gambar 1.2 15.1 15.6 15.2 22.2 11.4 15.6 12.3.4 10.3 14.7 20.0 18.5 20.9% dan 23.5 Total % 16.9 22.8 22.9 27.9 10.2 .4 19.1 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Laki-laki % 8.0 22.8 9. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13.3 100.6 20.7 18.4 18.7 17.1 12.4 10.3 18.2 19.6 27.2 15.7 20.7 14.1 15.6 14.3 16.3 28.8 18.7 29.3 18.6 24.0 33.6 16.39.4 GAMBAR 1. .9 27.0 26.3 13.5 14.4 16.5 11.0 0. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Laki-laki % 11.6 16. PREVALENSI GIZI LEBIH DIATAS 15 TAHUN TABEL 1.5 Total % 13.9 24.8 26.3 15.4 19.0 20.I.2 15.0 22.7 20.5 33.9 20.1 17.7 23.0 60.4 22.5 20.3 38.9 24.5 23.2 14.7 14.4 11.2 22.7 8.7 10.68 Angka Prevalensi Gizi Lebih Diatas 15 Tahun Per Provinsi Tahun 2007 120.4 19.6 19.8 19.3 11.1 26.0 10.0 14.0 22.5 25.9 23.2 13.6 18.1.7 16.4 13.6 14.0 24.9 30.4 23.7 18.8 10.2 22.7 16.2 16.7 11.7 20.6 16.0 15.9 26.9 7.0 40.2 20.2 11.4 11.4 17.4 23.9 23.5.0 18.4 19.1 Perempuan % 18.3 22.3 Perempuan % 20.9 17.3 16.8 13.8%).1 21.8 21.3 22.32 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.3 15.3 16.1 13.

9 62.4 17.3 67. Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 15.69 Peta Penyebaran Angka Prevalensi Gizi Lebih Diatas 15 Tahun Per Provinsi Tahun 2007 Sumber : Riskesdas 2007 TABEL 1.7 2005 14.3 9.7 64.4 15.3 8.2 11.0 14.5 13.1 1.9 67.7 9.8 19.9 Kategori IMT Kurus Normal BB-Lebih Obese TABEL 1.6 17.33 Persentase Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 17.7 9.7 17.2007 Daerah Kota Desa Total 2002 16.2 13.6 2003 15.2 67.34 Tren Wanita Usia Subur (WUS) Berstatus Gizi Kurang Di Indonesia Tahun 2002 .9 63.3 66.7 16.1 10.4 65.4 18.5 Sumber: Susenas.6 16.5 9.7 12 Sumber : Susenas 2007 67.4 13.3 15.7 11.2 66.8 11.2 2007 13.9 7.7 8.8 10.9 7.8 8.6 63.9 12.4 7.9 7.GAMBAR 1.4 7.7 16.91 - .8 7.7 7.1 13.9 8.8 68.8 10.5 13.1 13.5 15.

3.7 69.9 84.2 17.8 88.9 83.7 2.7 15.6 83.8 .1 85.9 10.0 Nusa Tenggara Timur Sumatera Selatan Banten Kalimantan Barat Indonesia Sulawesi Tenggara DKI Jakarta Lampung Kalimantan Selatan Jawa Barat NAD Kalimantan Timur Maluku Utara Jawa Timur Jawa Tengah Bengkulu DI Yogyakarta Sulawesi Selatan Bangka Belitung Nusa Tenggara Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Maluku Kepulauan Riau Sulawesi Utara Riau Jambi Gorontalo Sumatera Utara Sumatera Barat Papua Papua Barat Sulawesi Barat Bali 27.6 10.7 9.6 8.5 5.5 9.8 20.3 77.5 13.6 78.5 16.8 2.0 7.7 88.7 14.1 78.8 20.0 10.2 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Propinsi Berat Badan Bayi Lahir (gram) <2500 12.7 0.4 11.4 3.3 7.5 12.8 2.2 9.1.0 25.8 27.6 4.0 3.4 80.9 14.0 84.8 14.2 7.3 10.5 11.5 8.5 11.3 19.9 5.0 4.3 10.5 11.7 10.0 83.2 >=4000 11.1 77.7 6.0 80.2 12.92 - 5.1 10.9 15.5 85.2 71.5 8.6 80.5 8.1 74.7 83.6.8 3.2 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .8 2500-3999 82.5 8.5 8.I.3 GAMBAR 1.1 8.2 3.6 9.1 8.8 7.5 2500-3999 75.5 87.4 80.8 82.8 9.6 7.8 11.0 11.5 6.3 5.8 12.5 75.3 23.0 10.9 10.9 86. PREVALENSI BBLR TABEL 1.5 17.6 7.9 8.5 7.6 11.3 16.6 8.5 19.4 7.0 5.2 15.6 16.0 0.3 5.4 10.9 7.3 84.0 20.5 7.2 21.7 5.7 14.3 8.5 11.0 7.2 6.4 67.2 15.8 82.3 83.35 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Berat Badan Bayi Lahir (gram) <2500 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 11.8 8.5 8.8 82.4 11.6 16.6 7.3 13.8 5.9 84.5 4.0 23.70 Angka Prevalensi BBLR Per Provinsi Tahun 2007 Prevalensi BBLR 30.0 15.1 >=4000 5.7 9.5 74.

Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.0%). Sulawesi Barat (7.3%).2%).71 Peta Penyebaran Angka Prevalensi BBLR Per Provinsi Tahun 2007 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5. NTT (20.6%).8%). Jambi (7.9%).5%. Sumatera Selatan (19.Secara keseluruhan.5%). Riau (7.93 - .8%).6%). proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.5%). Papua Barat (23. dan Kalimantan Barat (16. dan Sulawesi Utara (7. GAMBAR 1.

7%).0%).2 80.9 11.0%) dibanding laki-laki (10.1 83.4 Berat Badan Bayi Lahir <2500 2500-3999 >=4000 Pada Tabel 1. proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17.8 12.6 85.2 5. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 11.7 81. Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.0 13.5 5.94 - .1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8.1 10.7 83.2%) dibanding di perkotaan (10.9 17.TABEL 1.3 6.3 6.6 5.6 13.36 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13.7 81.3 6.9 10.0 11.2 7.2 80.7 75.6 5. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12.8%).2 84.3 5.1 5.7 11.9 78.2 5.5 83.0 13.1 80.5 5.7 11.2 80.1 9.3 5.3 10.8 7.6 14.3 10.2 6.4 8.0 12. Menurut karakteristik rumah tangga.8 80.5 7.0 81.4 81.8 8.0 82.1 85.36 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir Menurut Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 13.6 6.0 83.1 8.8 12.5 6.8 86.4 8.6 7.5 Sumber : Riskesdas 2007 79.

2003 Prevalensi Gondok (%) 35 30 25 20 15 10 5 0 1980 1986 1990 1995 1998 2003 30 24. yang diukur dengan proporsi anak usia 6-11 tahun dengan berbagai ukuran gondok (kombinasi gondok yang dapat dipalpasi dan terlihat). diukur pada anak sekolah. 1986/98 dan diestimasikan ke tahun 1986. WHO merekomendasikan bahwa TGR maksimal 5%.72 Angka Prevalensi Gondok di Indonesia Tahun 1980 . serta Survey Gaky 2003 GAMBAR 1.9 13. 1986/98 dan diestimasikan ke tahun 1986.59 9.8 11.37 Prevalensi Gondok Di Indonesia Tahun 1980 . serta Survey Gaky 2003 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .59 1998 9.3.9 1995 13. sedangkan WSC Goal adalah eliminasi TGR pada tahun 2000 TABEL 1.95 19. biasanya digunakan Prevalensi Gondok (Total Goiter Rate/TGR).1 *) Sumber: Pemetaaan GAKY Nasional 980/82. 1990 dan 1995.7.1. PREVALENSI GAKY Untuk menunjukkan GAKY.2003 Tahun Prevalensi Gondok (%) 1980 30 1986 24.8 2003 11.1 *) Sumber: Pemetaaan GAKY Nasional 980/82.95 1990 19. 1990 dan 1995.95 - .

4 70.73 Angka Umur Harapan Hidup di Indonesia Tahun 1976 .Bappneas.2 68.2 70.3 67.5 70.2008 73 72 72. yaitu rata-rata jumlah tahun bayi yang baru lahir akan bertahap hidup bila pola kematian pada saat lahir tetap sepanjang kehidupannya TABEL 1. 2005) Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025 Tahun 2008 (2005-2009) GAMBAR 1.2 70.0 UHH (tahun) 71 70.4 69.4 67.1 67.Bappneas.8 68.5 63.2009 Inkesra 2001 Tahun 1976 1986 1990 1995 1998 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 52.5 64.0 70.4.5 70.0 70 70.2 70.4 70.7 70.96 - . UMUR HARAPAN HIDUP (UHH) Umur Harapan Hidup waktu lahir (Eo).UNFPA.6 Proyeksi 2005 Proyeksi 2008 Sasaran RPJM Sumber: BPS Inkesra 2001 (1976-1998) Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 Tahun 2005 (2000-2009)(BPS.6 69. 2008) Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .5 70.UNFPA.2 59.8 61.0 69.1.38 Angka Umur Harapan Hidup Di Indonesia Tahun 1976 .8 70.6 Umur Harapan Hidup Target RPJMN 2009 Sasaran RPJMN 2014 69 2005 2007 2009 2011 2013 Sumber: BPS dan Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025 (BPS.

7 69.Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari periode 2005-2008.5 70.4 70.97 - 74.0 U H H T ah u n 2008 73.0 72.4 72.3 68.1 71.0 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat NTB S ulteng M alut K als el NA D M aluk u B anten Irjabar NT T G orontal P apua S ultra B engk ulu K albar S uls el S ulbar J am bi J awa Indones ia S um bar B abel S um s el Lam pung J awa S um ut K alteng Riau J awa K epri K altim B ali S ulut DIY DK I Sumber: BPS dan Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025 (BPS.UNFPA. 2008) 66.3 72. GAMBAR 1.6 68.74 Umur Harapan Hidup Per Provinsi Tahun 2008 75.5 70.9 77.7 .0 65.2 69.3 69.6 75.1 69.5 69.8 72.1 70.1 71.1 74.0 67.4 68.2 71.3 69. hal ini mengindikasikan adanya perbaikan pada pelayanan kesehatan melalui keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan.5 70. Angka UHH pada tahun 2008 telah mencapai angka 70.4 70.7 75.0 71.0 69.9 70.7 71.8 71.Bappneas.4.4 70.4 69.7 70.0 .5 yang naik bila dibandingkan dengan tahun 2007 dengan angka 70.5 69.

7 3.3 0.2. Walaupun demikian.7 3.7 3.5 2.0 3.4 2.7 25. CAKUPAN ASURANSI KESEHATAN GAMBAR 1.8 5.9 0.5 6.5 15.7 3.0 8.6 Askes 2004 2.5 15. sementara Askes dan Jamsostek masing-masing hanya mencakup 3 hingga 4 persen.0 Jaminan Pribadi/Lainnya Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas berbagai tahun Sesuai dengan data Susenas.6 15.7 8.5 20.2006 30.0 0.5 6.0 JPKM Jaminan Pribadi/Lainnya Jamsostek Kartu Kesehatan Askes 2003 2.9 0.0 5.6 8.0 5.5 5. saat ini hanya sekitar 27% dari populasi yang terlindung oleh salah satu skema asuransi yang berlaku. dewasa ini partisipasi jaminan kesehatan menunjukkan peningkatan yang nyata dibandingkan partisipasi pada tahun–tahun sebelumnya.7 3.7 3.1.0 10.3 5.98 - . PERLINDUNGAN FINANSIAL 2.5 2. yang tetap stagnan pada angka 20% selama tiga tahun terakhir (periode 2003-2005).75 Persentase Partisipasi Asuransi Berdasarkan Waktu Menurut Jenis Asuransi di Indonesia Tahun 2003 .8 5.0 2.4 2.5 0.0 5.7 3. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .5 Kartu Kesehatan Jamsostek 2005 0.0 2.4 2006 0.6 8.0 0.7 8.0 8.4 JPKM 0.

7 1.7 9.99 - . Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 1.8 1.7 14.0 10.0 5.9 1.2 0.4 0. jelas bahwa masyarakat miskin merupakan penerima manfaat utama dari sistem kartu kesehatan dan JPKM.76 Persentase Partisipasi Asuransi Menurut Kuintil Penghasilan Di Indonesia Tahun 2006 40.8 14.6 3.5 Kartu Kesehatan 1.8 1.9 1.7 3.6 27.4 19.3 3.8 1.2 Jaminan Pribadi/Lainnya Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas berbagai tahun Dengan menganalisis partisipasi berdasarkan kuintil penghasilan.8 0.2 JPKM Terkaya 0.8 19.6 15.4 15.3 0.5 0.4 7.7 6.7 3.6 3.2 9.3 3.2 7.3 Jamsostek 3.2 0.2 0. sementara individu pada kuintil yang lebih mampu sebagian besar dilindungi oleh Askes dan Jaminan pribadi/Lainnya.7 9.0 20.0 3 0.0 25.2 0.7 1.7 1.0 15.3 27.1 0.0 35.GAMBAR 1.9 9.0 0.1 0.0 JPKM Jaminan Pribadi/Lainnya Jamsostek Kartu Kesehatan Askes Askes 0.5 Termiskin 0.3 2 0.0 4 0.0 30.9 3.5 6.

8 141.798 129.4 5.4 Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas berbagai tahun GAMBAR 1.729 Persentase pengeluaran kesehatan/Jumlah pengeluaran rumah tangga total 4.2.468 3.246 2004 5.754 4.754 2003 5.2006 Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita 200.1 5.798 129.000 Rupiah .000 0 2002 6.798 150.2. baik pemerintah maupun swasta.2 3.77 Angka Pengeluaran Kesehatan Rumah Tangga Per Kapita Pada Sektor Kesehatan di Indonesia Tahun 2002 .246 3.945 2.798 3.Konstan thn 2000 160. PENGELUARAN PER KAPITA UNTUK KESEHATAN Pengeluaran dari kantong masyarakat siperlukan di Indonesia karena hampir semua penyedia layanan kesehatan.000 140.1 2006 5. membebankan biaya untuk layanan.000 80.2 5.000 180. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .138 2.3 5.138 183.386 183.000 20.100 - .386 3. sementara pertanggungan asuransi sangat terbatas TABEL 1.000 120.729 150.3 3.2006 Pengeluaran Pengeluaran di sektor kesehatan per kapita 2002 6.000 40.8 Pengeluaran rumah tangga per kapita 141.945 2003 2004 2005 2006 Pengeluaran di sektor kesehatan per kapita Pengeluaran rumah tangga per kapita Persentase pengeluaran kesehatan/Jumlah pengeluaran rumah tangga total Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas berbagai tahun Pengeluaran kesehatan rumah tangga sedikit berubah seiring dengan waktu sementara jumlah total belanja rumah tangga telah meningkat.000 60.678 142.468 2005 5.678 142.000 100.39 Pengeluaran Kesehatan Rumah Tangga Per Kapita Di Indonesia Tahun 2002 .

7 Indonesia 8.429 5.8 Tahun 2006 Pengeluaran Pengeluaran di sektor kesehatan per kapita Pengeluaran rumah tangga per kapita 129.5 1 0.261 307.022 2 4.690 3.2 3 6.274 3.607 4.4 3.425 188.5 4 9.5 4 3.3 Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas tahun 2001 dan 2006 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .571 181.023 381.712 121.971 2. Selama empat tahun terakhir.620 2.5 2 1.913 288.GAMBAR 1.550 592.211 3 Kaya 19. namun trend menunjukkan penurunan.6 4 8.101 - .381 4.161 232.6 Miskin 3.3 3.8 Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas berbagai tahun Di Indonesia.9 2 4.160 87.2 3.5 Persen 3 2.78 Angka Persentase Pengeluaran Kesehatan Terhadap Pengeluaran Rumah Tangga Total di Indonesia Tahun 2002 – 2006 Tren Persentase pengeluaran kesehatan/ Jumlah pengeluaran rumah tangga total 5 4.023 3.5 0 2002 2003 2004 2005 2006 4.3 Indonesia 8.381 152. 2. TABEL 1.137 4.452 Persentase pengeluaran kesehatan/Jumlah pengeluaran rumah tangga total 2. pengeluaran dari kantong masyarakat telah menurun secara signifikan dari sekitar 4.8% pada tahun 2006.40 Pengeluaran Kesehatan Rumah Tangga Per Kapita Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2001 dan 2006 Tahun 2001 Pengeluaran Pengeluaran di sektor kesehatan per kapita Pengeluaran rumah tangga per kapita Persentase pengeluaran kesehatan/Jumlah pengeluaran rumah tangga total Miskin 3.1 2.5 3 6.8% dari jumlah belanja rumah tangga pada tahun 2006 dihabiskan untuk kesehatan. hingga 2.3% dari jumlah belanja rumah tangga pada tahun 2002.3 Kaya 21.849 199.155 2.

79 Pengeluaran Rumah Tangga di Sektor Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2001 Pengeluaran Berdasarkan Kuintil 2001 450.023 Kaya 8.381 6.000 50.211 288.023 4.155 307.620 592.000 600.000 350.161 9.571 232.550 8.000 250.261 21.GAMBAR 1.849 4 19.690 3.425 Indonesia Pengeluaran di sektor kesehatan per kapita Pengeluaran rumah tangga per kapita Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas tahun 2001 GAMBAR 1.274 6.000 500.000 100.80 Pengeluaran Rumah Tangga di Sektor Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2006 Pengeluaran Berdasarkan Kuintil 2006 700.000 150. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .971 4.429 199.000 200.000 300.607 188.47 dan 1.000 400.022 181. dan bagaimana perbedaan pengeluaran rumah tangga tersebut di seluru kuintil ekonomi.000 0 381.452 3.712 2 152.000 300.381 3 8.000 200.913 Pengeluaran di sektor kesehatan per kapita Pengeluaran rumah tangga per kapita Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas tahun 2006 Gambar 1.102 - .48 menunjukkan bagaimana pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan sebagai persentase dari jumlah belanja rumah tangga telah berubah dari waktu ke waktu.160 Miskin 121.000 400.000 0 Miskin 2 3 4 Kaya Indonesia 129.000 100.137 87.

3 3.2 4.82 Persentase Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2006 Persentase Jum lah Belanja Rum ah Tangga untuk Kesehatan 2006 4 3.5 2 1.5 3 2.6 3 3.81 Persentase Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Kesehatan Berdasarkan Kuintil Pendapatan di Indonesia Tahun 2001 Persentase Jum lah Belanja Rum ah Tangga untuk Kesehatan 2001 6 5 4 Persen 3 2 1 0 Miskin 2 3 4 Kaya Indonesia 3.5 1 0.3 2.8 Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas tahun 2006 Terlihat persentase pengeluaran rumah tangga di sektor kesehatan terbanyak berada di kuintil paling kaya dan persentase terkecil berada pada kuintil paling miskin.103 - . Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .9 4.5 0 Miskin 2 3 4 Kaya Indonesia 2.5 5.GAMBAR 1.6 Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas tahun 2001 GAMBAR 1.5 2.3 4.7 2.

Lonjakan pengeluaran yaitu apabila belanja kesehatan mencapai lebih dari kemampuan sebuah rumah tangga untuk membayar.83 Persentase Pengeluaran Rumah Tangga Di Berbagai Tingkat Pengeluaran Kesehatan Di Indonesia Tahun 2005 2005 7. PENGELUARAN KATASTROPIK Pengeluaran yang sangat besar yang menyebabkan lonjakan pengeluaran.84 Persentase Pengeluaran Rumah Tangga Di Berbagai Tingkat Pengeluaran Kesehatan Di Indonesia Tahun 2006 2006 6.661.26 3. GAMBAR 1.104 - .52 11.19 10.2.3.23 0% 10% atau kurang 10% sampai 20% 20% sampai 40% lebih dari 40% Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas tahun 2005 GAMBAR 1.58 2.26 1.65 0% 10% atau kurang 10% sampai 20% 20% sampai 40% lebih dari 40% Sumber : Bank Dunia berdasarkan Susenas tahun 2006 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .92 78.74 76.

3.0 Kejelasan informasi 81.4 92.2 95.5 83.8 84.5 86.9 89.2 82.4 87.2 72.1 72.0 72.8 83.2 83.4 92.0 81.8 91.4 86.0 93.1 89.7 82.5 84.6 92.1 88.6 78.6 88.9 90.0 89.2 82.6 83.9 84. KETANGGAPAN 3.8 Kerama h an 86.2 89.8 79.5 86.2 71.9 84.1 86.0 81.2 86.8 87.0 83.6 73.2 79.8 74.2 94.2 79.1 90.4 80.4 77.2 87.1 90.7 84.7 94.5 92.9 Mudah dikunjungi 83.0 82.6 79.8 77.4 93.0 68.7 80.8 78.0 82.2 79.8 78.8 82.7 85.0 85.9 74.5 93.3 83.8 80.0 90.0 85.7 Ikut ambil keputusan 81.5 81.0 86.5 86.1 87.9 80.6 87.2 78.8 86.8 82.4 81.7 92.1.4 86.2 87.4 82.4 90.5 94.1 84.8 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 88.8 87.6 78.2 85.6 84.2 90.4 84.1 81.2 81.8 86.5 80.1 83.1 86.3 82.0 83.7 92.4 82.7 84.9 Keraha -siaan 82.1 Kebebas -an pilih sarana 81.0 83.4 81.7 78.7 84.3 82. KEPUASAN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan TABEL 1.2 76.8 86.7 87.6 84.4 84.9 88.0 90.6 87.8 77.7 88.9 85.9 90.8 88.4 84.2 84.5 80.3 84.7 84.0 80.8 85.3 88.4 67.1 84.1 85.0 83.8 85.1 84.4 92.6 88.8 84.9 86.5 91.8 70.8 85.1 81.0 80.1 86.6 72.0 88.9 84.4 84.2 86.1 87.4 77.5 80.9 92.6 81.7 92.9 84.4 91.7 92.9 91.5 84.2 84.8 80.9 72.4 88.3 89.105 - .2 85.6 84.2 88.7 85.2 72.8 88.6 74.4 79.6 87.1 92.4 91.6 82.5 85.0 78.7 83.3 82.8 83.0 79.5 85.1 89.5 93.1 81.7 87.7 91.7 94.2 76.5 85.0 84.6 69.0 72.6 89.5 93.9 79.0 93.4 81.1 79.7 89.41 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan Per Provinsi Tahun 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Waktu tunggu 84.4 88.5 88.6 80.7 81.1 81.7 87.6 91.4 86.6 86.7 87.4 83.4 86.7 87.0 81.0 79.0 82.2 82.2 84.5 83.0 81.8 89.5 81.8 85.9 92.4 90.9 68.4 87.5 91.0 85.2 89.4 82.0 75.9 91.3 91.3 84.7 88.5 87.1 87.5 Kebersih -an ruangan 78.2 94.2 91.6 88.2 95.1 69.8 92.9 77.6 85.6 85.6 78.9 85.4 82.6 78.0 84.6 85.0 76.0 86.7 80.1 88.

Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi.9%). turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki.9 87.0 Waktu tunggu Keramah an Kejelasan Ikut ambil informasi keputusan Kerahasiaan Mudah Kebebas.0 82.4 84.0%).106 - . Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu.0 86. dan kebebasan memilih sarana pelayanan.0 84.41 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi.8 84. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .Tabel 1.0 Sumber : Riskesdas 2007 Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87. Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82.0 85.Kebersihan pilih an ruangan dikun-jungi sarana 84. kerahasiaan informasi.5 82.5 86.0 83.0 81.5%) dan ‘keramahan petugas’ (87. Menurut provinsi.1 85.0 80. GAMBAR 1.0 87.85 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan Di Indonesia Tahun 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap menurut Aspek Ketanggapan 88. tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan.8 87.

5 87.7 86.2 83.9 86. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga.0 86.4 82. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 Karakteristik Responden Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Mudah dikunju ngi 87.1 85.8 86.0 85.2 84.5 82.TABEL 1.5 84.1 Sumber : Riskesdas 2007 Tabel.1 82. semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan.7 84.0 86. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan.2 85.5 84.2 84.4 86.6 85.4 87.5 84.2 85.8 84.9 82.6 84.8 87.0 85.3 81.6 83. dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman.0 88.6 86.6 84.7 84.7 84.7 84.4 83.8 86.7 88.4 83.6 86.3 86.7 85. 1.42 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.42 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga Di Indonesia Tahun 2007 Waktu Tunggu Keram ahan Kejelasan Informasi Ikut ambil keputusan Kerah asiaan Kebebasan pilih sarana Kebersih an Ruangan 83.4 85.107 - .5 86.7 85. kebebasan memilih fasiltas pelayanan.6 84.6 86.7 83.2 84. Menurut tipe daerah.2 83.5 87.9 87.5 86.

3 79.5 Kebebas-an pilih sarana 83.6 93.7 85.5 83.4 89.0 67.2 90.2 83.1 94.0 88.7 92.6 84.3 84.8 89.8 98.5 81.4 80.5 82.5 83.1 83.5 90.0 93.1 91.3 83.1 Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .3 84.6 93.2 81.4 88.8 89.5 88.9 90.4 84.6 91.7 68.8 76.9 83.9 83.1 91.8 65.8 85.4 90.1 86.4 83.7 85.3 91.3 77.8 92.8 78.6 86.1 88.2 94.4 96.6 82.6 91.4 92.0 95.5 84.4 83.2 85.7 78.2 86.9 93.6 91.1 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 87.0 85.1 84.0 85.8 Keramah an 89.7 84.8 77.5 83.8 87.8 85.4 89.4 94.8 92.2 95.1 93.1 89.9 90.3 94.TABEL 1.5 93.3 87.5 90.9 82.9 80.2 82.9 91.4 95.2 84.0 86.1 87.3 88.5 86.4 Kejelasan informasi 84.9 80.0 88.7 84.6 93.7 87.0 88.2 95.5 84.2 86.7 86.5 86.8 94.0 91.5 93.9 94.1 82.6 93.8 96.7 90.9 77.9 87.4 84.9 79.0 85.8 83.7 88.7 93.2 78.6 81.9 82.43 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan Per Provinsi Tahun 2007 PROVINSI Waktu tunggu 87.4 83.8 88.3 85.1 84.2 93.3 94.0 85.6 84.2 84.6 92.0 86.3 85.8 93.2 91.0 95.0 86.3 80.1 91.6 89.5 83.2 92.8 93.1 86.0 88.8 91.7 67.5 78.0 88.3 81.9 65.9 86.9 82.3 70.7 77.9 65.1 92.2 82.3 84.3 86.0 70.4 87.2 92.2 88.2 84.2 83.8 90.6 86.6 86.0 87.8 86.108 - .1 73.2 93.4 86.8 92.1 97.2 79.5 83.1 93.6 93.2 84.8 95.3 86.3 87.3 93.8 81.4 86.3 86.5 Kerahasiaan 85.0 87.0 95.2 85.4 88.5 97.4 93.6 94.9 93.7 80.2 83.3 68.0 94.9 83.8 84.4 87.4 81.6 82.1 96.0 Kebersihan ruangan 79.0 92.7 87.0 96.0 87.6 83.3 95.1 92.1 78.5 86.7 92.7 92.9 71.5 85.8 87.1 88.7 95.3 90.1 65.3 Ikut ambil keputusan 84.6 88.2 84.6 95.5 85.8 91.

0 87. kerahasiaan informasi.8 87. dan kebebasan memilih sarana pelayanan. kejelasan informasi.1%).43 menunjukkan bahwa Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .4 Sumber : Riskesdas 2007 Secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85.0 85.5 86. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki.0 82. GAMBAR 1. tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam.1 90.2 86.0 84. Menurut provinsi.0 Waktu tunggu Keramah an Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Keraha-siaan Kebebas-an pilih sarana Kebersih-an ruangan 86.4%).0 86.1 87.0 83.109 - .0 89.0 85. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu.0 88. keramahan petugas.0 90. dan kebersihan ruangan.Tabel 1.86 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan Di Indonesia Tahun 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan menurut Aspek Ketanggapan 91.

9 85. turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis perawatan.5 87.1 87.8 88.9 87.9 91. dan kebersihan ruangan.6 85. Sedangkan di daerah perdesaan.7 85.9 86. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .1 84.44 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga Di Indonesia Tahun 2007 Waktu Tunggu Kejelasan Informasi Ikut ambil keputusan Kebebasan pilih sarana Kebersihan Ruangan Karakteristik Responden Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Keramahan Kerahasiaan 85.3 86.4 86.2 87.7 Sumber : Riskesdas 2007 84.3 86.8 86. semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan.8 84.3 90.110 - .2 85. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi.5 89.5 87.1 87.0 90. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. kerahasian informasi. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan.44).9 85.6 90.1 87.0 84.0 86.8 88.6 86.6 84.4 86.1 86.9 89. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan.4 84.7 86.7 Menurut tipe daerah (tabel 1.7 89.9 86.9 85. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.6 87.1 85.5 87.1 86.7 86.1 86.6 90.TABEL 1.8 87.7 86.

2 66.2 5.1 1.9 1.7 0.9 86.6 68.1 0.6 47.3 2.0 27.0 0.8 36.5 48. Poskesdes.4 2.7 83. Puskesmas Pembantu.4 54.7 >5KM 10.3 14.7 52.9 24.4 7.4 47.6 82.8 14.4 12.0 4. Polindes Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 46.7 75.9 29.2 8.0 3.4 2.0 54.8 52.0 51.9 69.6 24.7 31.4 1.7 38.6 0.5 3.4 1.6 50.3 1.5 50.3.6 40.7 6.9 6.3 5.5 58.9 10.1 15.9 35.5 >5KM 3.3 80.1 6.2 6.8 22.8 42.9 0.4 52.1 72.6 47.6 6.7 47.9 28. Puskesmas.0 62.0 81.5 76.6 83.7 44.2 87.0 54.9 Jarak ke UKBM 1-5KM 27.6 1-5KM 61.3 20.4 50.9 48.5 74.2 74.111 - .0 2.8 2.7 1.4 7.6 0.5 85.9 77.1 51.5 1.7 45.4 58.7 <1KM 69.6 57.0 9.4 47.2 13.1 0.2 46.8 29.3 6.6 70.4 18.7 88.4 8.6 64.4 21.5 25.6 19.5 2.0 14.7 13.2 24.0 48.3 78.4 7.1 18.2 16.7 40.3 91.1 1.5 3.8 90.6 72.4 4.6 6.2 50.1 79.4 44.3 21.7 5.3 2.5 40.6 31.5 44.7 2.4 3.2 39.5 52.9 44.5 43.3 78.3 73.7 0.0 Sumber : Riskesdas 2007 Catatan : *) Sarana Pelayanan Kesehatan : Rumah Sakit.2 27.6 42.9 58.4 37.5 21.4 0.6 12.4 1.4 0.5 3.2 8.5 35.1 75.7 20.45 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan UKBM Per Provinsi Tahun 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jarak ke Yankes <1KM 27. JARAK KE SARANA KESEHATAN TABEL 1.2 48.3 41.2.2 0.0 48.6 74.2 93.9 76.5 10.2 45. Dokter Praktek dan Bidan Praktek **) UKBM meliputi Posyandu.6 41.9 31.3 15.2 23.5 57.6 55.8 37.6 64.5 23.0 37.0 4.8 55.8 27.2 1.0 52.3 22.7 36.8 7.4 47.0 86.3 88.8 4.3 2.1 5.4 6.5 0.3 6.1 47.9 49.3 3.3 17.8 2.4 7.5 45.2 5.

0 80.6 Sumber : Riskesdas 2007 Sebanyak 94. Nampak bahwa 78.5% berjarak 1-5 km dari UKBM. nampak bahwa 78. meliputi Posyandu.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19. Poskesdes.6 46.9 1. Sulawesi Barat (14.0 20.5 6.87 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan UKBM Di Indonesia Tahun 2007 90.3%) dan Riau (5.4%). Sedangkan untuk UKBM.7%).0 10. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 30.4 78.112 - .0 47.5%).0 70.5% berjarak 1-5 km dari UKBM.4%).8%). dan Polindes.0 50. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16. Sulawesi Tenggara (10.0 60.Tabel 1.4%) dan Maluku (10.1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari srana pelayanan kesehatan dan hanya 6. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6.0 <1KM 1-5KM Jarak ke Yankes Jarak ke UKBM >5KM 19. Papua (12.0% RT berada lebih dari 5 km. GAMBAR 1.9% RT berjarak kurang dari 1 km dan 19.2%).0 0.3%).45 menunjukkan bahwa Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi. Nusa Tenggara Timur (14.0 40. Tabel diatas juga menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM. Nanggroe Aceh Darussalam (10.

TABEL 1.46 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan Karakteristik Rumah Tangga Di Indonesia Tahun 2007
Jarak ke Yankes Karakteristik Responden Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 43.8 45.4 47.5 48.8 52.8 48.7 48.0 46.4 45.7 43.2 7.4 6.6 6.1 5.6 4.0 76.7 77.8 78.9 79.8 81.5 21.3 20.5 19.4 18.6 17.4 2.0 1.8 1.7 1.6 1.1 58.8 40.6 39.9 50.5 1.4 8.9 88.2 73.1 11.4 24.5 0.4 2.4 <1KM 1-5KM >5KM Jarak ke UKBM <1KM 1-5KM >5KM

Catatan : *) Sarana Pelayanan Kesehatan : Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Dokter Praktek dan Bidan Praktek **) UKBM meliputi Posyandu, Poskesdes, Polindes

Tabel 1.46 menyajikan informasi tentang jarak rumah tangga terhadap sarana pelayanan kesehatan dan UKBM menurut karakteristik rumah tangga. Berdasarkan tipe daerah, proporsi rumah tangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer, di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Begitu pula dengan jarak ke UKBM, di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakin dekat jarak ke sarana pelayanan kesehatan dan UKBM.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 113 -

3.3 WAKTU TEMPUH KE SARANA KESEHATAN Salah satu faktor yang menentukan kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan TABEL 1.47 Persentase Rumah Tangga Menurut Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan Per Provinsi Tahun 2007
PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Catatan : *) Sarana Pelayanan Kesehatan : Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Dokter Praktek dan Bidan Praktek **) UKBM meliputi Posyandu, Poskesdes, Polindes Waktu Tempuh ke Yankes ≤15' 55.7 67.5 73.3 72.0 76.5 69.6 74.4 69.5 79.4 74.0 69.0 72.2 75.0 76.2 72.3 66.3 75.0 65.1 39.4 52.2 64.5 70.4 73.7 76.2 69.0 57.9 50.1 66.3 44.4 61.3 65.1 60.7 46.3 67.2 16'-30' 31.5 23.2 19.5 20.4 17.9 24.3 17.7 22.1 16.8 20.6 27.0 22.6 19.6 18.9 20.6 24.2 19.0 27.2 29.8 28.4 27.8 23.4 21.4 19.0 20.8 30.8 36.2 22.8 37.8 25.3 24.6 26.3 23.1 23.6 31'-60' 9.6 6.6 4.6 4.7 4.3 4.6 5.9 6.9 3.6 2.3 3.6 3.8 4.6 4.4 5.7 7.9 4.4 5.9 17.9 11.9 6.7 5.5 3.2 3.7 7.6 9.2 10.3 7.8 10.9 7.3 7.4 8.8 14.6 6.6 >60' 3.2 2.7 2.6 3.0 1.4 1.5 2.0 1.6 0.3 3.1 0.4 1.4 0.8 0.4 1.4 1.6 1.6 1.8 12.8 7.5 1.1 0.8 1.7 1.2 2.6 2.1 3.5 3.1 6.8 6.2 3.0 4.2 16.0 2.7 ≤15' 80.8 79.0 88.1 84.8 86.2 83.9 86.9 83.9 92.0 87.7 88.6 93.1 91.3 93.7 89.7 90.9 89.3 88.6 66.2 74.2 79.4 87.5 90.4 92.3 82.7 80.7 81.0 84.1 68.1 84.5 91.1 81.8 67.7 85.4 Waktu Tempuh ke UKBM 16'-30' 14.0 16.1 7.9 11.9 9.8 12.7 9.3 13.3 7.0 11.1 9.9 5.7 6.9 4.4 8.2 7.9 8.1 9.7 22.2 16.9 15.5 9.9 7.5 6.3 13.8 15.3 16.7 11.3 24.5 9.6 6.5 14.0 16.9 11.1 31'-60' 3.1 3.3 1.5 1.7 2.1 2.3 2.4 1.6 0.9 0.6 1.4 0.7 1.4 0.8 1.6 0.9 2.1 1.6 8.0 5.2 4.0 2.2 1.3 0.8 2.7 3.6 1.6 2.9 4.4 2.4 2.0 3.0 7.3 2.4 >60' 2.2 1.6 2.5 1.5 1.9 1.1 1.4 1.2 0.2 0.6 0.1 0.6 0.4 1.2 0.5 0.3 0.5 0.1 3.6 3.7 1.1 0.4 0.8 0.7 0.8 0.5 0.7 1.7 3.0 3.5 0.5 1.3 8.1 1.2

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 114 -

Terlihat pada tabel 1.47 bahwa daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30,7%), Papua (30,6%), Kalimantan Barat (19,4%), Sulawesi Barat (17,7%), Sulawesi Tenggara (13,8%). Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3,9%), DKI Jakarta (4,0%), DI Yogyakarta (4,8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4,9%). Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM, tertinggi adalah Provinsi Papua (15,3%), disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11,6%). GAMBAR 1.88 Persentase Rumah Tangga Menurut Waktu Tempuh ke Sarana Pelayanan Kesehatan Di Indonesia Tahun 2007
90.0 80.0 70.0 60.0 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 ≤15' 16'-30' Waktu Tempuh ke Yankes 31'-60' Waktu Tempuh ke UKBM >60' 23.6 11.1 6.6 2.4 2.7 1.2 67.2 85.4

Sumber : Riskesdas 2007

Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67,2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23,6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit. Dengan demikian secara nasional, masih ada sekitar 9,2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85,4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit. Sebanyak 11,1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit, dan 3,6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit.
Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat - 115 -

TABEL 1.48 Persentase Rumah Tangga Menurut Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan Karakteristik Rumah Tangga Di Indonesia Tahun 2007
Waktu Tempuh ke Yankes
Karakteristik Responden Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 61.4 64.0 67.1 69.4 74.4 26.5 25.3 23.8 22.5 19.7 8.5 7.5 6.6 5.8 4.3 3.6 3.1 2.5 2.3 1.6 82.3 84.0 85.7 86.6 88.5 12.9 11.9 10.9 10.4 9.1 3.1 2.8 2.4 2.1 1.4 1.6 1.4 1.1 1.0 1.0 78.1 60.3 18.8 26.6 2.6 9.1 0.5 4.0 92.2 81.1 6.7 13.8 0.7 3.4 0.5 1.7 ≤15' 16'-30' 31'-60' >60'

Waktu Tempuh ke Yankes
≤15' 16'-30' 31'-60' >60'

Catatan : *) Sarana Pelayanan Kesehatan : Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Dokter Praktek dan Bidan Praktek **) UKBM meliputi Posyandu, Poskesdes, Polindes

Tabel 1.48 menyajikan informasi tentang waktu tempuh rumah tangga terhadap sarana pelayanan kesehatan dan UKBM menurut karakteristik rumah tangga. Berdasarkan tipe daerah, proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan >30 menit, di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Begitu pula dengan waktu tempuh ke UKBM, di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakin singkat waktu yang diperlukan ke sarana pelayanan kesehatan dan UKBM.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 116 -

KINERJA KESEHATAN Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .117 - .B.

72.6 67.52 72.4 63.2007 80 60 % 68.53 40 20 0 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 Sumber: Susenas Komplikasi dan kematian Ibu serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir. bidan. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berkisar antara 67.2 66. hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan. yang berarti sedikit mengalami peningkatan per tahunnya. PERSALINAN YANG DITOLONG OLEH TENAGA KESEHATAN Persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter.7 47.42 71. tenaga medis) sebagai penolong pada kualifikasi tertinggi GAMBAR 2.91% .1 56. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .9 66.2 56 49.4.118 - .1 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Di Indonesia Tahun 1993 .91 70.3 49.53%.41 72.

119 - .5 9.34 89.9 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 28.6 56. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (persen) 80.6 2007 Dokter Bidan 50.I.6 58.2 12.7 64.25 70.7 4.21 60.2 61.97 55.5 60.62 61.8 5.2 Tren Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Medis Berdasarkan Disparitas Ekonomi Tahun 2000 – 2007 2000 Quintile 1 (Termiskin) 2 3 4 5 (Terkaya) Dokter 3.99 52.9 4.5 7.88 95.23 58.2 9.92 72.6 12.08 83.7 2004 Dokter Bidan 52.25 66.3 21.78 73.7 2007 22.77 76.77 46.93 80.9 68.50 41.1 53.3 TABEL 2.6 59.8 61.9 59.4 6.73 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (persen) 69.2 6.1 64.9 57.5 8.87 64.13 37.47 59.2 45.53 Sumber: Susenas 2007 TABEL 2.87 97.1 Persentase Persalinan Yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.7 66.86 42.56 43.06 93.5 62.36 57.5 17.8 58.3 53.27 72.TABEL 2.6 10.49 81.5 54.3 Sumber: Susenas 2004 16.2 18 Bidan 44.8 4.11 80.3 13.78 79.7 57.6 8.8 63 6.40 84.00 85.3 Tren Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Medis Berdasarkan Disparitas Kota-Desa Tahun 2000 – 2007 Tenaga Medis Dokter Kota Bidan+ Dokter Desa Bidan+ Dokter Total Bidan+ 2000 14.49 78.24 62.3 66.

53 72.25 76.00 20.00 83.77 84.62 95.I.3 Bali GAMBAR 2.27 46.92 59.87 80.13 37.00 80.I.87 85.00 0.00 60.40 80.5 .00 97.00 0.00 20.49 93.00 120.08 79.00 100. Yogyakarta Bali Kepulauan Riau Sumatera Barat Sumatera Utara Sulawesi Utara Jawa Timur NAD Bangka Belitung Kalimantan Timur Jawa Tengah Bengkulu Riau Sumatera Selatan INDONESIA Kalimantan Selatan Lampung Nusa Tenggara Barat Jambi Banten Sulawesi Selatan Jawa Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Gorontalo Papua Barat Papua Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.49 72.99 52.00 80.120 - Papua .56 55.06 62.86 66.21 58.88 78.25 73.77 61. Yogyakarta Jawa Timur Banten GAMBAR 2.00 40.73 89.78 60.23 81.78 64.00 DKI Jakarta D.00 120.93 40.24 57.34 80.2 Nusa Tenggara Barat Sumber: Susenas 2007 Sumber: Susenas 2007 Nusa Tenggara Timur 69.Persen Persen 100.36 43.11 70.00 60.50 42.97 Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2007 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2007 Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Angka Nasional = 72.47 41.

121 - .4 Peta Penyebaran Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Per Provinsi Tahun 2007 Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .GAMBAR 2.

87 85.00 S atera um S atera um ND A S atera um Lam pung B elitung K epulauan B engkulu B angka S elatan Jam bi R iau 0.40 84.25 76.00 80.93 66.34 78.93 80.49 70.00 80.00 30.77 76.00 70.GAMBAR 2.00 89.5 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Sumatera Tahun 2007 SUMATERA No.00 10.00 90.40 80.00 P ersen 60.87 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan di Pulau Sumatera Tahun 2007 100.25 70.00 50.00 20.49 78.34 89.77 84.122 - .25 73.25 66.78 R iau U tara B arat Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau Propinsi % 80.00 85.78 73.00 40.

73 81.49 81.62 95.6 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Jawa-Bali Tahun 2007 JAWA-BALI No.00 DKI Jakarta D.123 - .49 93.00 20.06 93.88 95.I.00 0.78 79.73 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan di Pulau Jawa-Bali Tahun 2007 120.87 64.06 61.00 80.62 61. Yogyakarta Bali Jawa Timur Jawa Tengah Banten Jawa Barat 97.78 Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali % 97.I.GAMBAR 2.88 64.00 100. 1 2 3 4 5 6 7 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.87 79.00 Persen 60.00 40.

00 20.124 - .GAMBAR 2.86 42.86 Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .00 Persen 40.00 50.00 60.00 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 42.00 0.00 di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2007 70.00 30.7 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2007 NUSA TENGGARA No.00 10.47 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan 80. 1 2 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur % 69.47 69.

00 Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat 72.00 di Pulau Kalimantan Tahun 2007 80.00 60.00 40.8 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Kalimantan Tahun 2007 KALIMANTAN No.00 10.08 80.92 72. 1 2 3 4 Propinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur % 59.GAMBAR 2.08 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan 90.21 Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .92 59.125 - .11 60.11 80.00 20.00 70.00 30.00 0.00 Persen 50.21 60.

00 di Pulau Sulawesi Tahun 2007 83.00 0.50 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan 90.50 Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .23 58. 1 2 3 4 5 6 Propinsi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat % 83.00 60.77 46.00 Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat 62.9 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Sulawesi Tahun 2007 SULAWESI No.00 20.36 57.00 70.00 10.23 80.24 57.77 58.126 - .00 30.36 43.GAMBAR 2.56 43.56 46.00 Persen 50.24 62.00 40.

00 40.00 36. 1 2 Propinsi Maluku Maluku Utara % 41.97 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan 41.50 36.13 Pulau Maluku Tahun 2007 41.GAMBAR 2.13 37.00 Maluku Maluku Utara 37.50 di41.50 40.00 39.50 Persen 39.50 38.10 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Maluku Tahun 2007 MALUKU No.00 38.127 - .97 Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .00 37.50 37.

00 di Pulau Papua Tahun 2007 56.128 - .99 52.00 51.27 Sumber: Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .00 53.00 Papua Barat Papua 55.00 52.99 52.00 Persen 54.11 Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Wilayah Papua Tahun 2007 PAPUA No.27 Persentase Persalinan yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan 57. 1 2 Propinsi Papua Barat Papua % 55.00 50.GAMBAR 2.00 55.

32 71.38 91.66 74.23 86.04 20 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : Profil Kesehatan Berbagai Tahun Gambar diatas memperlihatkan peningkatan cakupan K1 dan K4 dari tahun 1995 sampai 2008. Peningkatan K4 pada tahun 2008 dibandingkan dengan tahun sebelumnya terlihat cukup tinggi. Sedangkan K4 adalah kunjungan ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal minimal empat kali.72 88. pada tahun 2008 terjadi peningkatan hampir 6 persen dibandingkan tahun 2007.26 75.73 88.56 87.5.1-2. KUNJUNGAN IBU HAMIL K1 DAN K4 K1 adalah kunjungan pertama ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal yang dilakukan pada trimester pertama kehamilan.52 89. yaitu satu kali pada trimester pertama kehamilan.55 84.00 77.75 92. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .99 87.60 90.85 68. Begitu juga dengan kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 yang terlihat semakin rendah. dan dua kali pada trimester ketiga.09 88. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kenaikan hanya berkisar 0. GAMBAR 2.01 76.63 80.10 71.09 87.98 77.03 92.12 Persentase Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4 Di Indonesia Tahun 1995 – 2008 100 80 Persen 60 40 Kunjungan K1 Kunjungan K4 64.30 93.29 77.5 persen.38 73.129 - .82 79.65 88. satu kali pada trimester kedua.

18 92.00 88.79 84.95 98.54 88.130 - .29 97.44 83.38 83.03 97.66 91.18 90.75 79.50 100.61 83.99 89.48 79.53 85.91 77.53 88.78 %K1 98. Yogyakarta 105 93.TABEL 2.78 86.26 100 89.53 90.48 88.50 86.65 95.18 97.39 84. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Profil Kesehatan 2008 Ibu Hamil Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua %K1 86.50 67.22 75.98 100.54 75.18 88.95 85.53 Sumber : Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .4 Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4 Per Provinsi Tahun 2008 Ibu Hamil Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.04 94.04 GAMBAR 2.91 75.66 90.89 85 74.06 93.66 85.77 88.I.25 95.09 89.86 92.63 96.50 %K4 78.24 77.71 93.89 92.17 68.03 90.38 98.50 90 79.18 97.02 68.48 Nusa Tenggara Barat 99.67 93.61 80.50 89.00 83.51 98.29 D.04 91.52 85.17 38.86 94.53 83.65 %K4 93.54 84.78 95.98 91.77 92.54 74.06 95 84.I.46 86.63 96.78 89.76 90.84 91.76 93.18 97.51 95.79 82.55 64.26 89.84 88.99 92.31 92.63 99.66 88.63 90.02 64.57 94.23 82.09 86.52 83.31 93.54 89.25 73.48 80 75 70 Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Jawa Tengah Maluku Utara Maluku Sulawesi Selatan Bangka Belitung Sulawesi Barat Kepulauan Riau Kalimantan Tengah Sumatera Utara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Papua Barat Sumatera Barat Kalimantan Barat Kalimantan Timur DKI Jakarta Banten Jawa Timur Papua Bengkulu Jawa Barat Gorontalo Indonesia NAD Riau Lampung Jambi Bali 83.13 Persentase Kunjungan Ibu Hamil K1 Per Provinsi Tahun 2008 97.

75 89.52 83.50 85.78 85.53 Sumatera Utara Jawa Timur Bangka Belitung Kepulauan Riau Sumber : Profil Kesehatan 2008 Berdasarkan cakupan K4 per provinsi pada tahun 2008.46 persen).78 DKI Jakarta 93.I. Jawa Barat dan Sumatera Utara menempati peringkat 3 tertinggi yaitu masing-masing 95.14 Persentase Kunjungan Ibu Hamil K4 Per Provinsi Tahun 2008 95. 95.71 82.39 90 75.GAMBAR 2.55 Jawa Tengah Maluku Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah D.131 - Jawa Barat NAD Gorontalo Indonesia Banten Papua Bengkulu Riau Lampung Jambi Bali 95.53 persen.44 75.25 75. Sedangkan Papua (38.23 68.24 84.04 86. DKI Jakarta.67 86.46 50 40 30 64.78 persen dan 94.02 persen) merupakan 3 provinsi dengan cakupan K4 terendah.61 83.78 93. Yogyakarta Maluku Utara Sulawesi Utara Sulawesi Barat 93.78 persen.46 persen).61 84.54 77.78 .78 persen) dan terendah (38.02 persen) dan Maluku (64. Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Papua Barat Kalimantan Tengah Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Kalimantan Timur Sumatera Barat Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .17 67. Terjadi kesenjangan yang besar antara provinsi dengan cakupan K4 tertinggi (95.17 80 64.02 70 60 38.79 94.22 83.57 79.50 100 82.25 80.02 73.91 77.79 68. Sulawesi Barat (64.91 78.52 86.

132 - .16 78.04 Sumber : Profil Kesehatan 2008 Cakupan Kunjungan Neonatus (KN2) tahun 2003-2005 cenderung menurun namun pada tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu mencapai lebih dari 75 persen.6.11 85.72 68.89 65. satu kali pada umur 0-7 hari (KN1) dan satu kali lagi pada umur 8-28 hari (KN2).04 persen. Pada tahun 2008 cakupan KN2 sebesar 78. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan parsalinan oleh tenaga kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .15 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatus (KN2) Di Indonesia Tahun 2003-2008 90 80 70 60 50 40 2003 2004 2005 2006 2007 2008 75.51 77. CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS Bayi sampai umur kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. GAMBAR 2.

59 80.45 79.47 Papua Papua Barat Sulawesi Barat Sulawesi Utara Maluku Utara Maluku Sulawesi Selatan Sumatera Utara Sulawesi Tenggara NAD Gorontalo Kalimantan Barat Bengkulu Indonesia Kalimantan Tengah Lampung Nusa Tenggara Timur Jambi Jawa Barat Riau Banten Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sumatera Barat Sumatera Selatan Kepulauan Riau Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Jawa Timur Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Tengah Bali D.46 86.33 65.10 74.85 78.44 86.TABEL 2.28 73.64 83. Yogyakarta Sumber : Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .28 83.07 74.23 68.16 Cakupan Kunjungan Neonatus Per Provinsi Tahun 2008 120 110 100 90 80 70 60 50 40 30 33.79 37.13 91. Bali dan Jawa Tengah.60 80.60 83.61 85.59 83.03 80.43 83.45 86.63 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua %KN 2 86.75 80.43 58.97 81.07 75.63 111.89 75.40 76.46 92.77 92.68 80.01 80.I.52 80.01 91.76 33. GAMBAR 2.64 65.45 111.52 90.11 82.89 75.39 74.68 94.60 68.04 78.47 90.45 97.76 53.75 78.79 78.75 94.44 82.03 76. Sedangkan provinsi dengan cakupan KN2 terendah adalah Papua. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Profil Kesehatan 2008 %KN 2 75.13 81.85 79. Papua Barat dan Sulawesi Barat.97 80.23 58.33 73.5 Cakupan Kunjungan Neonatus Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.61 77.133 - .60 37.40 53.I.04 Tahun 2008 provinsi dengan cakupan Kunjungan Neonatus (KN2) tertinggi adalah DI Yogyakarta.10 83.77 85.75 77.39 74.11 97.

28 92.56 82.61 67.74 86.38 80.98 77.88 76.44 80.43 86.16 92.38 85. CAKUPAN IMUNISASI DASAR TABEL 2.65 75.23 89.66 95.68 95.01 86.12 95.88 75.58 85.26 70.74 81.36 77.07 81.134 - .87 78.37 80.00 91.49 79.88 77.83 94.81 86.84 89.50 92.83 88.18 86.11 79.22 84.04 90.61 90.39 69.92 83.42 90.06 84.48 79.76 78.60 91.67 Campak (5) 66.47 70.99 70.11 82.33 91.23 91.57 93.32 77.99 81.91 88.14 95.54 85.10 88.50 84.38 85.74 87.64 79.12 80.09 87.05 85.58 90.23 94.98 64.92 82.73 88.84 90.42 96.84 90.23 91.20 73.27 91.32 71.93 93.13 70.97 78.90 88.83 94.09 76.38 70.57 77.53 66.87 96.19 90.90 Sumber :Susenas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .28 84.59 86.76 67.73 87.37 80.13 74.68 89.32 92.28 80.43 91.63 72.41 78.94 78.43 83.7.35 81.29 99.50 88.80 78.81 65.34 83.97 91.47 93.04 86.44 Polio (4) 83.10 85.76 86.84 72.30 83.53 85.54 89.26 81.40 DPT (3) 73.46 88.98 88.6 Persentase Balita yang Mendapat Imunisasi Dasar Menurut Jenis Imunisasi Per Provinsi Tahun 2007 Provinsi (1) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia BCG (2) 75.64 80.75 90.81 88.17 75.61 87.95 89.08 73.92 80.49 93.86 81.50 80.92 83.88 79.

4  71.5  76.6  80.1  45.5 87.0  4.0 85.1  46.2 78.6 2007 TABEL 2.9  3.5 83.9  58.8  7.7  88.7 Balita yang Memperoleh Imunisasi Di Indonesia Tahun 2004 dan 2007 Tahun 2004 Daerah Kota Desa Total Kota Desa Total BCG 93.5 90.8 75.7 83.8 76.6  51.4  58.2 77.7  66.8  82.2 89.3  Sumber: SDKI SDKI 2007  85.2  70.TABEL 2.4  9.4 69.7 80.3  Selisih  2.2  71.8 73.5  10.8 Cakupan Imunisasi Anak Usia 12-23 Bulan Di Indonesia Tahun 2002/2003 – 2007   BCG  DPT1  DPT2  DPT3  Polio1  Polio2  Polio3  Polio4  Campak  Imunisasi Lengkap  Tanpa Vaksinasi  Hepatitis B1  Hepatitis B2  Hepatitis B3  SDKI 2002/03  82.0 Sumber : Susenas Polio 91.3  4.5  71.1  58.5 89.9 Hepatitis B 80.1 92.6  8.7  60.4  84.7 Campak 81.0  7.4 93.7 88.6  13.6  66.0 85.6  73.3 74.1  ‐1.6  15.2 74.4 DPT 90.5  3.4 86.7 86.135 - .0  Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .3  79.4 86.6  8.5  81.0 88.3 85.3  87.4  75.6  9.4  1.5  55.

6 53 50.2 59.4 39.2 41.8 23.3 58.7 44.1 45.8 50.9 62.6 26.7 Sumber SDKI 2007   Cakupan Imunisasi lengkap terbaik adalah Provinsi DIY yang mencapai 93. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . sedangkan provinsi dengan cakupan Imunisasi terburuk adalah Provinsi Papua Barat dengan 23.7 37.8 42.8%.1 54.6 32.7% dan NAD dengan 26.2 71.1 63.5 69.8%.1 32.7 55.8 76.9 54.GAMBAR 2.4 37.5 60.8 64.2 55.136 - .7 72.6 55.17 Persentase Cakupan Imunisasi Lengkap Pada Anak Usia 12-23 Bulan Per Provinsi Tahun 2007 Yogyakarta Sulut Jateng Bali Jakarta Kaltim Lampung Jatim Sultra Jabar Kepri Sumbar Babel Indonesia NTB Gorontalo Sulsel Bengkulu Sumsel Sulbar Kalsel Sulteng Kalbar NTT Jambi Kalteng Riau Maluku Banten Malut Papua Sumut NAD Papua Barat 93.3 50.1 74.2 67 64.

92 51.2007 Balita yang pernah mendapat imunisasi campak 100 78.9 Persen 60 45.52 75.8.137 - .05 80 62. IMUNISASI CAMPAK PADA ANAK BALITA GAMBAR 2.89 77.6 55.23 72. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .75 51.53 65.17 71.04 53.18 Persentase Anak Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Campak Di Indonesia Tahun 1992 .4 dapat disimpulkan bahwa Persentase anak balita yang pernah mendapat imunisasi campak nilainya akan semakin meningkat setiap tahunnya. hal itu dapat dilihat pada periode 1992-2007 diatas yang mengindikasikan kenaikan.88 40 20 0 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Sumber: Susenas Dari gambar 2.

87 78.98 77.10 Balita yang Memperoleh Imunisasi Campak Di Indonesia Tahun 2004 – 2007 Tahun 2004 Daerah Kota Desa Total Kota Desa Total Sumber: Susenas Campak 81.99 70.37 80.138 - .53 66.08 73.76 67.38 70.9 Persentase Anak Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Campak Per Provinsi Tahun 2007 Balita yang mendapat imunisasi campak (persen) 66.I.64 80.39 69.13 70.65 75.2 74.81 65.2 78.49 79.63 72.26 70.61 67.32 71.88 79.8 73.48 79.2 77.90 Sumber: Susenas 2007 TABEL 2.57 77.32 77.86 81.8 75. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat 75.98 64.88 76.88 Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.9 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .26 Propinsi Propinsi Balita yang mendapat imunisasi campak (persen) 81.74 81.11 79.47 70.17 75.11 82.41 78.TABEL 2.

0 17.9.3 26.0 6.4 10.0 10.139 - .7 5.7 0.1 20. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: SDKI 2007 Balita yang tidak diimunisasi (persen) 26.1 15.7 26.9 5.1 8.0 25.9 0.2 16.8 17.7 5.9 0.9 0.5 13.2 11.9 MALUKU PAPUA IRJABAR NAD JAMBI RIAU MALUT SULSEL KALBAR KALSEL KEP.4 14.8 12.2 4.3 20.0 .4 10.19 Persentase Anak Balita yang Tidak Mendapat Imunisasi Per Provinsi Tahun 2007 BAYI TANPA IMUNISASI 30.4 16.0 0.4 12.9 16.4 0.0 27.9 3.7 GAMBAR 2.6 20.9 10.0 15.0 24.8 5.7 3.0 9.4 8.4 1.7 26.8 3.4 10.1 4.I.4 0.3 26.0 15.5 27.2 8.0 5.8 9.7 26.7 16.5 14.6 13.6 24.11 Persentase Anak Balita yang Tidak Mendapat Imunisasi Per Provinsi 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.6 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Balita yang tidak diimunisasi (persen) 11.5 3.8 1.2 17.3 5.3 17.5 5.BABEL SUMUT SULBAR GORONTALO SULTENG NTB KALTIM NTT SULTRA DKI INDONESIA KEPRI JATIM SUMSEL JABAR BANTEN SUMBAR KALTENG SULUT BALI BENGKULU LAMPUNG JATENG DIY Sumber : SDKI 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat 20. ANAK YANG TIDAK DIIMUNISASI TABEL 2.0 20.2 6.7 8.3 5.6 8.6 8.5 5.

8 82.9 68.3 73.8 85.4 77.0 85.6 80. CAKUPAN IMUNISASI PADA IBU TABEL 2.5 80.5 76.9 83.9 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Cakupan Imunisasi pada Ibu (persen) 70.2 86.8 76.8 64.0 Sumber: SDKI 2007 GAMBAR 2.9 65.6 75.5 68.1 72.10.1 87.5 57.8 68.7 50.20 Persentase Cakupan Imunisasi Pada Ibu Per Provinsi Tahun 2007 CAKUPAN IMUNISASI PADA IBU 100 90 80 70 60 50 40 30 88 87 86 86 83 83 82 82 81 81 80 78 78 77 77 77 76 76 73 72 71 70 69 69 68 66 65 64 64 57 56 55 51 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat BALI SULUT DIY MALUT KALTIM SULSEL SUMBAR JATENG JABAR SULTENG SULTRA LAMPUNG SULBAR KEP.4 81.4 81.I.1 54. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Cakupan Imunisasi pada Ibu (persen) 56.140 - 34 .7 81.1 77.12 Persentase Cakupan Imunisasi Pada Ibu Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.7 76.7 69.BABEL BENGKULU NTT DKI KALTENG INDONESIA GORONTALO NTB KALSEL JAMBI KALBAR JATIM SUMSEL RIAU IRJABAR BANTEN MALUKU NAD KEPRI PAPUA SUMUT Sumber : SDKI 2007 .5 64.9 78.1 64.0 33.

1997.4 4.2007 60 55 ASI eksklusif (%) 55 50 45 40 35 32.2 30.3 52 40 2003 6 bulan 2007 TABEL 2.5 Makanan Pendamping 12.1 2.2 1994 47.3 32.8 8.4 81.6 18.3 85.3 1997 52 80.8 Sumber: SDKI 2007 Makanan dihaluskan 0.6 1.0 .7 ASI Ekslusif 48. pemerintah Indonesia mengubah rekomendasi lama pemberian ASI ekslusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan. sesuai dengan rekomendasi UNICEF dan WHO TABEL 2.6 8.11. SDKI 2002-2003 dan SDKI 2007 GAMBAR 2.4 75 Sumber: SDKI 1991.9 3.4 47.13 Cakupan ASI Eksklusif Di Indonesia Tahun 1991 – 2007 Bayi yang mendapat ASI Ekslusif 4 bulan (%) Bayi yang mendapat ASI Ekslusif 6 bulan (%) Bayi 6-9 bulan mendapat MP-ASI (%) 1991 52.21 Persentase Cakupan ASI Eksklusif Di Indonesia Tahun 1991 .4 75. 1994.141 - Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 0.6 Susu formula 28.14 Status Pemberian ASI Menurut Umur Anak Di Indonesia Tahun 2007 Mendapat ASI dan Umur (bulan) <2 <6 6-9 Tidak di beri ASI 4.4 30 1991 1994 1997 4 bulan Sumber : SDKI 1991-2007 52. ASI EKSKLUSIF Persentase bayi yang berusia kurang dari empat bulan yang mendapat ASI ekslusif. Sejak tahun 2003.5 13.9 2003 55 40 75 2007 32.5 Air putih 5.

01 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .36 51.TABEL 2.96 40.77 49.52 50.34 61.70 48.02 49.68 37.26 46.79 57.57 59.34 47.62 45.67 41.97 32.65 : Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005 : *) Tidak termasuk Nanggroe Aceh Darussalam Perdesaan (3) 39.25 26.08 46.142 - .67 39.62 51.42 56.44 45.57 43.25 44.11 55.31 Perkotaan+ Perdesaan (4) 37.08 53.31 37.90 54.12 59.76 52.42 40.27 54.12 47.84 66.30 64.94 47.80 54.58 41.37 43.55 54.74 51.24 60.97 60.81 56.73 55.65 62.29 59.55 55.31 50.74 56.95 38.50 49.64 44.00 48.68 54.86 33.68 47.94 53.92 69.68 48.57 49.36 49.52 48.88 47.75 62.97 44.83 39.70 67.80 50.34 59.49 58.77 54.33 53.99 70.71 38.94 50.39 50.74 50.53 65.97 43.55 48.38 41.11 49.03 37.97 46.15 Persentase Anak Usia Di Bawah 7 Bulan Yang Diberi ASI Saja Selama 24 Jam Terakhir Per Provinsi Tahun 2005 Provinsi (1) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia *) Sumber Keterangan Perkotaan (2) 36.80 41.18 55.36 46.72 45.62 47.

12.1 49.2 63. KONSUMSI GARAM BERYODIUM Persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium dengan cukup (yaitu garam yang mengandung kadar KIO3 > 30 ppm) GAMBAR 2. yaitu turun sekitar 10% ke angka 62.4 68.2007 100 80 60 (%) 40 20 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2005 2007 Susenas(1995-2005).22 Persentase Rumah Tangga yang Mengkonsumsi Garam Dengan Kadar Yodium yang Cukup Di Indonesia Tahun 1995 .8 65. Namun pada tahun 2007 terjadi penurunan yang cukup signifikan.6 64.2 72.3% rumah tangga di Indonesia yang mengkonsumsi garam dengan kadar yodium yang cukup. dari 49.143 - . Riskesdas 2007 58.3 Persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kadar yodium yang cukup di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dari periode 1995 sampai dengan tahun 2005.1 65. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .8% di tahun 1995 sampai pada angka 72.4 62.5 73.8% pada tahun 2005.8 62.

7 76.3 61.7 76.8 89.8 98.7 58.6 82.0 84.8 94.0 43.2 45.7 45.3 82.4 88.7 89.4 45.1 34.3 58.144 - .0 90.2 62.5 90.3 89.1 46.16 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium Per Provinsi Tahun 2007 PROPINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium 47.TABEL 2.0 93.9 90.9 31.2 62.9 86.0 69.1 83.3 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2 83.1 68.1 27.

9 0.3 62.3 46.0 93.9 90.0 20.0 120.GAMBAR 2.0 40.7 76.0 Persen (%) DI Yogyakarta Lampung Kalimantan Selatan Bengkulu DKI Jakarta Indonesia Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Jawa Tengah Jawa Barat Nanggroe Aceh Darussalam Banten Maluku Bali Jawa Timur Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat NTT NTB Sumber : Riskesdas 2007 Pada gambar diatas terlihat angka persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 62.3 61. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .5 34.7 68. Sedangkan provinsi dengan angka konsumsi tertinggi adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi dengan angka konsumsi masing-masing sebesar 98.0 80.0 90.1 45.0%.9% dan 31.145 - .0 27.3 90.1 43.2 69.1 89.0%.2 84.0 100.2 89.8 83.9 89.6 58. Dengan Provinsi NTB dan NTT adalah yang paling rendah dengan angka konsumsi masing-masing sebesar 27.3%.1 88.8 76.0 82.7% dan 94.7 62.3 47.0 58.0 60.23 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium Per Provinsi Tahun 2007 Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Kep Bangka Belitung Jambi Sumatera Selatan Papua Barat Sumatera Barat Gorontalo Sumatera Utara Sulawesi Utara Kepulauan Riau Kalimantan Tengah Papua Kalimantan Barat Kalimantan Timur Maluku Utara Riau 98.7 94.1 45.8 82.4 83.2 31.7 86.4 45.

TABEL 2. Berdasarkan tempat tinggal.4 56.0 50.1 56.8 Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium (%) Tabel 2.17 Persentase Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Sumber : Riskesdas 2007 60.8 64.2 75.146 - .3 61.5 70.9 56.9 59.7 79.1 70.8 75. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.5 68.7 59.7 67.1 80.16 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (_30 ppm) menurut menurut karakteristik responden.3 56.

9 62.4 65.2 74.3 65.18 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.5 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Propinsi Menerima Kapsul Vitamin A (persen) 82.2 61.8 72. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 67.9 77.7 67.2 69.0 73.5 66. DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A TABEL 2.9 51.7 79.13.9 73.4 69.6 59.9 GAMBAR 2.2 71.3 84.8 71.8 82.5 81.I.5 69.1 74.1 78.9 79.147 - DIY JATENG NTB KALSEL BALI JABAR DKI KALTIM SULUT GORONTALO NAD NTT SULSEL JATIM SUMBAR JAMBI KALBAR BANTEN INDONESIA MALUT SULTRA KEP.1 62.24 Persentase Distribusi Vitamin A Per Provinsi Tahun 2007 DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A 90 85 80 70 60 50 82 82 82 81 80 80 79 78 77 75 74 74 74 74 73 73 72 72 71 70 70 69 68 68 67 66 66 63 62 62 60 58 51 Angka persentase distribusi vitamin A di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 72%.6 79.2 73.6 57.3 81.7 73.BABEL SULTENG KEPRI KALTENG RIAU SULBAR LAMPUNG SUMSEL BENGKULU PAPUA IRJABAR MALUKU SUMUT Sumber : Riskesdas 2007 . Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: Riskesdas 2007 Menerima Kapsul Vitamin A (persen) 74.

9 95.1 91.5 85.1 85.I.4 93.5 89.2 90. KONSUMSI TABLET BESI TABEL 2.7 89.5 90.2 95.2 91.1 91.8 95.14.2 Sumber: Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .9 93.5 94.0 85.4 94.2 93.148 - .8 98.1 85.5 94.1 96.8 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.4 95.0 98.5 94.19 Persentase Konsumsi Tablet Besi Per Provinsi Tahun 2007 Pemberian Tablet Besi (persen) 89.2 95. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Pemberian Tablet Besi (persen) 95.5 92.3 88.5 93.3 91.9 96.3 94.

2 91.0 Maluku Utara Sulawesi Utara Jawa Tengah Maluku Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah DI Yogyakarta Jawa Barat Sulawesi Barat Jawa Timur Bangka Belitung Kepulauan Riau Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Sumatera Utara Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Sumatera Barat Kalimantan Timur Kalimantan Barat Papua Barat DKI Jakarta Papua Banten Indonesia Gorontalo Bengkulu Riau Lampung Jambi NAD Bali Pada gambar diatas terlihat angka persentase pemberian tablet besi di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 92.5 94.4 93.0 94.4 94.0 75.1 95.5 88.1 95.7 89.GAMBAR 2.5 90.1 98.0 85.8 85.9 93.0 80.0 93.3 Sumber: Riskesdas 2007 .0 95.2 95.2%.25 Persentase Konsumsi Tablet Besi Per Provinsi Tahun 2007 Pemberian Tablet Besi 100.3 91. Dengan Provinsi DKI Jakarta dan Papua Barat adalah yang paling rendah dengan angka pemberian tablet besi masing-masing sebesar 85.8 89.1%.5 91.5 85.9 93.4 95.2 92.0 90. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat 98.149 - .1 90.1 96.5 85.2 94.5%.2 85.8 95. Sedangkan provinsi dengan distribusi vitamin A tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Selatan dan Maluku Utara dengan angka pemberian tablet besi sebesar 98.5 95.9 91.2 89.5 94.3% dan 85.3 96.

4 90.2 89.20 Persentase Pemberian Tablet Besi Menurut Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Sumber : Riskesdas 2007 Pemberian Tablet Besi 93.4 91.3 91.1 92.7 92.7 93.4 90.8 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .5 91.0 94.5 92.9 91.7 92.9 92.9 95.0 93.6 91.150 - .TABEL 2.7 91.

8 54. PREVALENSI PENGGUNAAN KONTRASEPSI GAMBAR 2.1 65.0 40.4 45.6 62.1 60.7 61.2007 Trend penggunaan kontrasepsi pada wanita pernah (persen) 55 50 57 60 61 1991 1994 1997 2002/2003 2007   Sumber SDKI.4 61.4 42.4 56.7 63.1 BENGKULU LAMPUNG BALI SULUT KEP.7 54.15.27 Prevalensi Penggunaan KB Per Provinsi Tahun 2007 Prevalensi KB 74.6 38.1 39.4 63.3 34.BABEL DIY KALTENG JATIM JAMBI SUMSEL KALSEL JATENG SULTENG KALBAR INDONESIA JABAR DKI JAKARTA GORONTALO SUMBAR KALTIM KEPRI BANTEN RIAU NTB SUMUT SULSEL SULTRA MALUT NAD SULBAR NTT IRJABAR PAPUA MALUKU Sumber SDKI 2007 80.4 50.8 47.0 60.0 70.0 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2 57.2 53.7 48.0 71.3 67.8 64.0 30.1 69.1 60.8 66.6 57.0 50.151 - .4 69.26 Tren Penggunaan Kontrasepsi Pada Wanita Pernah Menikah Di Indonesia Tahun 1991 .2 64.1 59. berbagai tahun GAMBAR 2.5 66.9 66.9 59.

kemudian menjadi 10. Tahun 1991.1 persen.1 1997 1.7 persen pada tahun 1991. dan 9. Bappenas.1 2007 Keterangan: 1) Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2) Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS. serta 8.2 8.6 9.40 ***) 61.2 persen pada tahun 1997. Laju Pertumbuhan Penduduk (persen)2 2. dan UNFPA) *) Laju pertumbuhan 1990-2000 (Sensus Penduduk 1990 dan **) Laju pertumbuhan 2000-2005 ***) Estimasi Population Reference Bureau (2007) Dari hasil SDKI (berbagai tahun).49*) 2. Rata-rata Umur Kawin Pertama (tahun) 1994 2. Namun.7 10. 2002/03.152 - . terlihat adanya penurunan unmet need dari 12.6 18. 1997.85 54.34**) 2.2 2006 1.16.60 60.28 Trend Unmet Need Di Indonesia Tahun 1991-2007 14 12 10 8 6 4 1991 1994 1997 2002/03 2007 12. TABEL 2. PERSENTASE UNMET NEED Unmet Need adalah persentase Pasangan Usia Subur (PUS) yang menunda punya anak atau tidak ingin punya anak lagi tetapi dengan tidak menggunakan Alat atau Obat Kontrasepsi KB (alokon) .6 di tahun 1994.21 Tabel Pencapaian Pembangunan Program KB Nasional1 Di Indonesia Tahun 1994 – 2007 Indikator 1.4 9.3 8.78 57.4 9. TFR (per wanita usia reproduksi) 3.2 18. hasil SDKI terbaru tahun 2007 menunjukkan angka unmet need meningkat menjadi 9. GAMBAR 2.6 9.6 pada tahun 2002/03. Prevalensi Peserta KB (persen) 3. 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .1 Trend Unmet Need Sumber : SDKI. 1994.7 10.6 2002 2.6 19. Unmet-Need (persen) 4.

3 13.5 9.6 9.2 11. Dari hasil SDKI tersebut dapat dilihat ada 4 provinsi yang telah memenuhi target yaitu Provinsi Bangka Belitung. 1994.1 5.2 10.6 5.0 4.2 9.6 9. 1997. dan Bali.3 12.6 9.9 17.2 7.8 21.9 5.9 12.0 12.9 14.8 16.8 8.8 7.0 5.9 23.8 6.8 9.6 9.1 11.9 13.2 9.6 18.1 10.7 5. 2002-03.4 10.9 17.4 7.9 6.4 persen. Lampung.4 10.5 15.1 Angka angka unmet need juga bervariasi di tiap provinsi dalam perkembangannya.6 6.0 12.4 6.7 7.7 4.9 12.1 7.7 Ket: 10.3 7.3 6.9 6.0 16.6 6.1 18.6 17.7 13.7 9.2 10.3 11.5 5.0 7.4 11.4 17.7 8.0 12.4 8.5 3.8 13.9 12.2 persen dan yang tertinggi di Provinsi Maluku sebesar 22.6 16.0 6.2 12.0 14.8 7.TABEL 2.6 21.8 14.9 5.0 8.7 6.5 19.9 13.9 5.3 13.4 12.0 4.5 9. Sedangkan data SDKI 2007 menunjukkan Angka Unmet need yang terendah terdapat di Provinsi Bangka Belitung sebesar 3.3 10.0 12.6 8.5 9.9 16.8 8.7 9.6 13.3 5.2 tertinggi 8.0 9. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali JAWA BALI 1 Nangroe Aceh Darussalam 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau SUMATERA 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 18 19 30 31 32 33 Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur KALIMANTAN Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat SULAWESI Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua PULAU LAINNYA 14.0 7.4 13.6 7.6 terendah Semakin rendah.22 Perkembangan Unmet Need No 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.153 - .9 13.3 13.3 TOTAL Sumber : SDKI 1991.4 SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA (SDKI) 1991 1994 1997 2002/2003 2007 10.8 16.0 7.4 11.9 4.9 15.3 12.8 6. Kalimantan Tengah.7 10.8 8.7 9.9 12.0 16.0 14.4 6.9 10.7 6. 2007 12.1 8.7 6.8 9.1 8.1 6.4 13.4 9. semakin baik 9.1 18.1 9.5 10.8 10.8 13.9 10.I.5 7.4 22.7 12.4 7.4 6.0 7.6 15.7 11.

9 12.4 5 10 15 20 25 Sumber : SDKI. Sementara itu.1 6.9 12. angka unmet need di wilayah perdesaan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah perkotaan.8 16.6 17.8 6.4 17. 2007 Angka Unmet need juga bervariasi berdasarkan karakteristik wilayah dan tingkat pendidikan.9 7. sekitar 9 persen untuk tamatan sekolah dasar (SD) dan tidak tamat SMP.2 5.3 12. 2007 Unmet Need Per Provinsi Babel Lampung Kalteng Bali Sulut Bengkulu Kalsel Gorontalo DIY DKI Jambi Jawa Sumsel Kaltim Jawa Timur Sulteng Banten Riau Jawa Barat Sumbar Kepri Sumut NTB Sultra Kalbar Malut Sulsel Papua Pabar NTT Sulbar NAD Maluku 0 3.29 Grafik Unmet Need Per Provinsi.1 10.0 11.0 7. berdasarkan tingkat pendidikan. dan 8.4 21.1 6. angka unmet need lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah.0 13. yaitu sebesar 9.2 8.7 5. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2 6.7 8.9 13.GAMBAR 2.4 7. yaitu sebesar 10.9 15.0 22.154 - .3 12.0 9.6 6.8 6.8 persen di perkotaan.4 persen untuk tamatan SLTP ke atas.4 7.6 persen untuk masyarakat yang tidak bersekolah.5 5.2 12. Berdasarkan karakteristik wilayahnya.3 9.2 persen di perdesaan dan 8.

SUMBER DAYA KESEHATAN Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .C.155 - .

37 27.000 penduduk.605 155.I.79 20.36 – 53.07 39.43 18. SUMBER DAYA KESEHATAN TABEL 3. dengan rasio sebesar 19.94 38.47 16.13 18.69 19.24 16.89 dokter per 100.1 Rasio Dokter Terhadap 100. Rasio dokter terhadap jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2008 dijelaskan pada gambar berikut ini.69 16.18 30.59 dokter pwe 100.92 26.07 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat 52.33 53.79 15.68 25.92 98.63 17.35 42.156 - . GAMBAR 3.17.000 penduduk.649 3.66 23.53 12.39 14.59 7.89 .759 19.94 23.12 18. dengan kisaran antara 10.55 22.000 Tenaga Penduduk 44.62 34.44 18.22 18.59 19.36 11.1 Keberadaan Tenaga Kesehatan Di Indonesia Tahun 2008 Jenis tenaga Dokter Dokter Gigi Bidan Nakes lainnya Dukun Bayi PODES 2008 Jumlah Rasio Per 100.00 14.470 Sumber:PODES 2008 Menurut pendataan Potensi Desa (PODES) oleh BPS pada tahun 2008.074 80.50 19. Yogyakarta Papua Barat Sulawesi Utara Sumber:Profil Kesehatan 2008 10.11 22.58 15.000 Penduduk Per Provinsi Tahun 2008 60 50 40 30 20 10 0 Lampung Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Sumatera Selatan Jawa Barat Kalimantan Selatan Banten Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Tengah Jambi Bangka Belitung Sulawesi Barat Indonesia Kalimantan Tengah Riau Sulawesi Selatan Sumatera Utara Maluku Gorontalo Sumatera Barat NAD Maluku Utara Papua Kepulauan Riau Bengkulu Bali DKI Jakarta D. jumlah dokter di Indonesia sebanyak 44.759 orang.11 37.

739  10.106  9.000  penduduk  30  9  11  158  75  9  18  8  10  18  4  8  Sumber: BPPSDK.2 Jumlah Beberapa Tenaga Kesehatan Di Indonesia Tahun 2006 dan Sasaran 2010   Jenis Tenaga  Dokter umum  Dokter Spesialis  Dokter gigi  Perawat  Bidan  Apoteker  Asisten Apoteker  Kesehatan Masyarakat  Sanitarian  Tenaga Gizi  Terapi Fisik  Teknis Medis  Kondisi tahun 2006  Jumlah   44.875  23.234  25.318  Rasio per  100.TABEL 3.89  2.37  4.93  5.308  176.564  12.49  4.549  42.469  9.234  42.156  Rasio per  100.290  10.954  21.000  penduduk    19.40  4.61  Sasaran tahun 2010  Jumlah  70.438  14.2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .05  137.56  17. Depkes .87  35.207  39.782  21.342  5.374  11.36  8.954  372.289  308.152  10.469  18.396  79.53  5.094  15.09  6.157 - .

107 57.38 1.02 2.540 6.02 0.36 6.86 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat Sumatera Utara Riau Jawa Tengah Bali D.865 5.76 1.20 1.23 0.03 2.158 - .194 3.489 192 2.14 0.2 Rasio Dokter Umum Terhadap Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2008 3.029 1.96 0.35 1.71 0.955 128 7.31 1.TABEL 3.07 1. Jumlah dan Rasio Ketenagaan Puskesmas Di Indonesia Tahun 2008 Jenis Jumlah Puskesmas Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker dan S1 Farmasi Asisten Apoteker Kefarmasian Analis Farmasi Kesmas (S1) Kesmas (S2) Sanitarian Gizi Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah Jumlah 8.030 Sumber : Profil Kesehatan 2008 0. Yogyakarta Kepulauan Riau .184 935 2.66 1.I.57 1.61 1.37 Rasio Per Puskesmas GAMBAR 3.106 89 2.24 0.73 0.88 0.43 3 3 2 2 1 1 0 Sumatera Selatan Sumatera Barat Jawa Timur Kalimantan Selatan Indonesia Jambi Sulawesi Utara DKI Jakarta Bengkulu Banten Bangka Belitung 1.24 1.67 0.33 18.39 1.05 1.01 0.39 0.46 0.278 55.20 1.73 1.88 0.01 0.05 Maluku Maluku Utara Sulawesi Tenggara Papua Kalimantan Tengah Kalimantan Barat 0.11 0.10 1.3 Jenis.66 0.15 1.42 0.94 0.62 6.830 157.548 109 11.08 1.01 1.27 Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Gorontalo Kalimantan Timur Nusa Tenggara Barat Lampung Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah NAD Jawa Barat Papua Barat Sumber : Profil Kesehatan 2008 4 2.23 2.38 1.35 0.73 1.97 1.

669 8.548 Pustu 20. 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 06 20 07 20 08 Puskesmas Pustu Pusling Sumber : Profil Kesehatan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .243 6.002 22.587 21.440 6.000 0 Pada tahun 2008 jumlah puskesmas di seluruh Indonesia sebanyak 8.503 21.000 15.015 8.3 Jumlah Puskesmas.2008 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Puskesmas 7.181 7.638 3.413 7.550 7.800 5.741 6.347 Pusling 6.277 7.237 7.000 5.175 7.765 20.002 22.4 Jumlah Puskesmas dan Jaringannya Di Indonesia Tahun 1996 .163 6.267 21.957 - Sumber: Profil Kesehatan GAMBAR 3.548 unit.889 21.18.234 8.529 6.159 - .000 20.706 21. Pustu dan Pusling 25.2008 Jumlah Puskesmas. PUSKESMAS DAN JARINGANNYA TABEL 3.110 7.171 22.039 7.195 7.000 10.310 6. Pustu dan Pusling Di Indonesia Tahun 1996 . Jika dilihat dari tahun 1996-2008 terlihat ada peningkatan tiap tahunnya.392 5.763 22.417 21.112 7.

61 3.000 Penduduk Tahun 2004-2008 3.53 5.000 Penduduk) Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.58 3.58 9.48 3.50 3.21 6.40 3.27 8.48 3.24 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jumlah 142 278 224 169 214 205 144 144 395 208 73 70 153 91 96 236 8.I.84 2.000 Penduduk 7.548 Rasio Per 100. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Profil Kesehatan 2008 Jumlah 301 495 227 183 158 278 142 253 50 59 351 999 842 120 940 194 114 Rasio Per 100.42 4.65 Sumber : Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .52 5.67 3.60 3.25 6.01 3.91 5.53 2.15 11.62 6.90 8.000 Penduduk 3.06 10.44 2.160 - .30 2004 2005 2006 2007 2008 3.45 4.70 3.80 4.46 2.TABEL 3.77 3.65 3.02 7.5 Jumlah dan Rasio Puskesmas (Per 100.80 3.02 3.48 13.74 3.21 6.51 6.50 3.06 3.78 11.13 5.74 GAMBAR 3.4 Rasio Puskesmas Per 100.

000 7.551 5.110 5.5 Jumlah Puskesmas Non Perawatan dan Puskesmas Perawatan Tahun 2004-2008 2008 2007 2006 2005 2004 0 2.000 3.497 2.6 Jumlah Puskesmas Non Perawatan dan Puskesmas Perawatan Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.000 9.592 5.438 2.TABEL 3.438 GAMBAR 3.I.540 5.000 Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan Sumber : Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 6. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Profil Kesehatan 2008 Puskesmas Non Perawatan 235 351 159 138 107 201 107 216 36 35 297 859 610 79 548 152 90 Puskesmas Perawatan 66 144 68 45 51 77 35 37 14 24 54 140 232 41 392 42 24 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Puskesmas Non Perawatan 56 209 142 122 172 109 78 77 227 145 56 48 124 64 70 191 6.110 Puskesmas Perawatan 86 69 82 47 42 96 66 67 168 63 17 22 29 27 26 45 2.000 8.683 2.077 2.000 4.010 1.518 5.000 2.161 - .000 6.

RUMAH SAKIT TABEL 3.129 132. Bila melihat perkembangan sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008.996 123.145 1.707 149.214 131. yang terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1.217 130.112 1. departemen lain/BUMN serta sektor swasta. Rumah sakit tersebut dikelola oleh Departemen Kesehatan. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .581 86.179 1.976 51.11 persen menjadi 1.475 Total 121.220 1.080 unit dan rumah sakit khusus (RSK) berjumlah 292 unit.478 142. baik rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus.246 1.506 42.971 49.286 80.292 1.162 - .372 Pemerintah 80.19.837 47.490 80. maka terjadi peningkatan jumlah rumah sakit.090 1. TNI/POLRI.254 48.7 Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur Menurut Kepemilikan Di Indonesia Tahun 1997 .670 79.111 1. Pada tahun 2004 terdapat 1.231 136.548 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Pemerintah 599 601 593 595 598 602 617 625 642 664 667 699 Total 1.372 unit pada tahun 2008.538 Sumber : Profil Kesehatan Pada tahun 2008 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1.598 125.507 127. pemerintah kabupaten/kota. pemerintah provinsi.319 1.963 81.234 1. jumlah ini naik 10.243 81.766 139.2008 Rumah Sakit Swasta 491 511 518 550 581 618 617 621 626 638 652 673 Tempat Tidur Swasta 41.629 80.372 unit.557 43.246 rumah sakit di Indonesia.312 44.268 1.186 123.

902 33. 1 2 3 4 5 6 Pengelola Departemen Kesehatan Pemerintah Provinsi Pemerintah Kab/Kota TNI/POLRI Departemen Lain/BUMN Swasta Jumlah Tahun 2005 Jumlah 13 43 322 110 71 436 995 TT 8.163 - .033 TT 8.880 43.789 Tahun 2007 Jumlah 13 43 345 110 71 451 1.079 TT 9.896 10.827 43.605 41.750 116.044 13.285 10.836 6.I.266 128.286 1.504 Sumber Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .074 122.295 Tahun 2008 Jumlah 13 43 375 110 71 467 1.575 10.033 118.9 Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur Menurut Pengelola Tahun 2005-2008 No.8 Jumlah Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.182 37.907 6.TABEL 3.080 RS Khusus 3 1 5 0 6 3 1 5 15 2 1 0 2 0 0 2 292 Jumlah 13 26 28 15 26 31 22 19 62 15 4 1 19 8 10 18 1.643 47. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber Profil Kesehatan 2008 RS Umum 31 118 29 26 16 28 10 19 6 12 77 104 133 17 138 17 28 RS Khusus 4 12 12 2 2 6 1 3 1 1 47 40 49 17 33 10 6 Jumlah 35 130 41 28 18 34 11 22 7 13 124 144 182 34 171 27 34 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Umum 10 25 23 15 20 28 21 14 47 13 3 1 17 8 10 16 1.483 12.814 6.784 12.777 13.372 TABEL 3.384 35.375 10.364 Tahun 2006 Jumlah 13 43 334 110 71 451 TT 8.842 6.851 45.

080 613 2004 2005 RSU Swasta 2006 RSU Pemerintah 2007 2008 Jumlah RSU Sumber Profil Kesehatan 2008 Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2004-2008) jumlah rumah sakit umum baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun swasta mengalami peningkatan. TABEL 3.2008 No.000 800 600 400 200 0 542 434 436 539 441 571 451 582 467 976 995 1.164 - .6 Perkembangan Jumlah Rumah Sakit Umum Di Indonesia Tahun 2004-2008 1. Pada tahun 2004 terdapat 976 unit menjadi 1.200 1.012 1. 1 Pengelola/Kepemilikan Departemen Kesehatan dan Pemerintah Provinsi/Kab/Kota TNI/POLRI 2 BUMN/Departemen Lain 3 Swasta 4 Jumlah 2004 435 112 78 621 1246 2005 452 112 78 626 1268 2006 464 112 78 638 1292 2007 477 112 78 652 1319 2008 509 112 78 673 1372 Sumber Profil Kesehatan 2008 GAMBAR 3. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .080 unit pada tahun 2008. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun 2008.Berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun 2004-2008.10 Perkembangan Jumlah Rumah Sakit (Umum dan Khusus) Di Indonesia Tahun 2004 .033 1.

20.165 - .29 Kelas A Kelas B Kelas C Kelas D Kelas C 59.26 Sumber Profil Kesehatan 2008 GAMBAR 3.7 Persentase Rumah Sakit Umum Milik Departemen Kesehatan/Pemerintah Daerah Menurut Kelas Tahun 2008 Kelas A 1.85 Kelas D.8 Perkembangan Jumlah Rumah Sakit Khusus Di Indonesia Tahun 2004-2008 350 300 273 280 286 292 Jumlah RS Khusus 250 200 200 150 100 50 0 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .37 Kelas B 18.GAMBAR 3.

92 132.000 2004 2005 2006 Jumlah TT Sumber Profil Kesehatan 2008 65.25 62.27 142.000 125.000 130.10 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit dan Rasionya Per 100.00 60.49 60.00 59.00 149.000 120.00 58.000 140.166 - .000 150.GAMBAR 3.00 62.00 62.766 63.000 145.00 61.451 64.000 135.00 2007 Rasio 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .231 136.44 66.00 65.9 Jenis Rumah Sakit Khusus (RSK) Di Indonesia Tahun 2008 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 RS Ibu dan Anak RS Bersalin RS Jiwa RS Kusta RS Khusus Lainnya 22 57 51 79 83 Jenis Rumah Sakit Khusus Sumber Profil Kesehatan 2008 GAMBAR 3.707 138.538 63.000 Penduduk Tahun 2004-2008 155.

824 5.00 0.24 0.00 0.253 263 452 500 954 768 806 597 673 439 678 1.377 976 120 3.421 1.90 0.585 1.007 1.95 1.624 1.99 0.16 0.121 217 385 193 151 0 1.32 0.02 0.16 0.303 3.02 0.98 0.972 2.26 0.90 0.14 Rasio Posyandu Thd Desa 0.597 73 5.97 0.08 0.960 1.99 1.11 0.16 0.476 2.18 0.82 0.32 0.99 0.06 0.14 0.86 0.06 0. UKBM (UPAYA KESEHATAN BERBASIS MASYARAKAT) TABEL 3.264 1.629 5.92 0.644 130 154 457 1.439 3.189 913 1.406 1.I.243 1.623 77.124 669 564 924 1.04 0.378 2.13 0.16 0.93 0.20.636 1.99 0.05 0.11 Jumlah Sarana Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) Per Provinsi Tahun 2008 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.49 0.01 0.06 0.36 0.59 0.520 722 930 3.086 1.42 0.94 0.92 0.271 70.06 0.324 3.15 0.507 Apotek 162 373 114 136 71 102 57 113 27 56 241 900 893 119 876 190 125 84 65 51 38 68 91 75 63 228 38 30 17 30 25 28 51 Toko Khusus Obat/ Jamu 325 490 205 239 122 151 69 161 45 82 217 1.915 1.951 1.645 2.21 0.73 0.19 0.379 361 340 267 6.046 5.06 0.04 0.287 Polinde s 1.46 0.851 967 1.98 0.31 0.42 0.570 438 8.66 0.199 1.32 25.494 1.25 0.164 556 736 152 259 580 611 250 239 52 139 205 218 295 Posyan du 4.96 0.326 2.98 0.785 2.662 1.043 132 299 90 54 0 897 2.00 0.788 1.09 0.537 Sumber : Profil Kesehatan 2008 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .89 0.016 8.29 0.13 0.88 0.592 1.882 Pustu 843 1.14 0.501 712 910 2.01 0.302 1.53 0.13 0.44 0.14 0.738 84 36 131 128 117 89 257 30 91 329 283 132 68 56 72 44 26 39 11.21 0.635 438 8.958 1.37 0.95 0.90 Rasio Polindes Thd Desa 0.94 0.98 0.965 449 314 169 1.541 1.38 0.08 0.00 0.036 1.32 0.17 0.46 0.16 0.09 0.798 573 806 595 914 457 781 156 200 0 1.324 343 322 267 5.89 0.15 0.97 0.163 Poskes des 83 525 138 258 188 1.881 310 2.85 0.717 113 2.60 0.560 Rasio Poskesdes Thd Desa 0.35 0.073 324 84 49 29 123 102 199 193 71 109 306 105 39 45 31 18 34 47 9.10 0.952 574 508 837 981 791 1.265 496 226 267 384 203 352 649 23.34 0. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Desa 6.17 0.10 0.09 0.474 1.868 8.266 3.16 0.91 0.12 0.98 0.10 0.10 0.167 - .

12 Jumlah Posyandu Menurut Kategori Di Indonesia Tahun 2000 .758 202.921 Jumlah Posyandu 300.831 91. jumlah Posyandu ini menurun dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 315.331 66.213 52.843 220.2006 400.11 Jumlah Posyandu Di Indonesia Tahun 2001 .214 86.2006 2000 2001 2003 2006 Total 245.154 269.000 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber : Profil Kesehatan   Pada tahun 2006 jumlah Posyandu sebanyak 269.586 Sumber : Profil Kesehatan GAMBAR 3.202 200.031 Madya 81.000 315.202 buah.168 - .000 234.926 10.198 242.624 65.699 buah pada tahun 2005.958 57.425 30.000 100.390 Purnama 44.221 238.063 Mandiri 8.POSYANDU TABEL 3.676 245.202 Pratama 107.124 39.699 269.219 7.706 88.598 10. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

758 202.000 0 Total Pratama 2000 Madya 2001 2003 Purnama 2006 Mandiri Sumber : Profil Kesehatan Untuk memantau perkembangannya. TABEL 3.12 Perbandingan Jumlah Posyandu Menurut Kategori Di Indonesia Tahun 2000 .2006 300.000 50. dengan trend tiap tahun yang bisa dilihat pada gambar di atas. yaitu Posyandu Pratama.000 150.79 75.32 Purnama 18.20 2.000 Jumlah Psoyandu 200.17 Mandiri 3. Posyandu dikelompokkan ke dalam 4 strata.86 4.5 bahwa Posyandu Pratama memiliki jumlah terbesar dan Posyandu Mandiri memiliki jumlah terkecil.000 100.202 Pratama 44.676 245.50 Madya 33.13 Jumlah dan Persentase Posyandu Menurut Kategori Di Indonesia Tahun 2000 .70 24.154 269.27 59.84 37.38 42. Terlihat pada gambar 3.000 250.60 11.56 27.169 - .GAMBAR 3.68 21. Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri.2006 2000 2001 2003 2006 Total 245.67 36.82 Sumber : Profil Kesehatan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .70 21. Posyandu Madya.

170 - . lonjakan pada tahun 2001 tidak terlihat hanya pada kategori Posyandu Pratama.6 menunjukkan trend persentase perbandingan jumlah posyandu berdasarkan kategori. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .13 Persentase Perbandingan Jumlah Posyandu Menurut Kategori Di Indonesia Tahun 2000 . terlihat bahwa pada tahun 2001 terjadi lonjakan persentase jumlah Posyandu pada hampir setiap kategori.2006 80 70 60 Persen 50 40 30 20 10 0 Pratama Madya 2000 2001 Purnama 2003 2006 Mandiri Sumber : Profil Kesehatan Gambar 3.GAMBAR 3.

236.0 19.171 - .8 (10%) Sumber : Depkes 2 Lingkungan Sehat 3 Upaya Kesehatan Masyarakat 4 Upaya Kesehatan Perorangan Pencegahan dan Pemberantasan 5 Penyakit 6 Perbaikan Gizi Masyarakat 7 Sumber Daya Kesehatan 8 Obat dan Perbekalan Kesehatan 9 10 11 12 13 Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur Penerapan Kepemerintahan Yang Baik 14 Pendidikan Kedinasan 15 Pendidikan Tinggi Tambahan Anggaran Pendidikan Perubahan Anggaran Lainnya (PNBP.0 253.709.817.256.384.409.038.892.0 420.000.4 217.189.000.026.0 899.0 2.889.336.0 2008 *) 231.280.500.190.404.900.619.7 1.1 4.4 17.791.043.580.786.000.4 1.964.0 525.0 13.100.5 238.833.816.6 905.6 449.0 320.731.5 73.454.059.0 175.2 28.0 2007 285.1.284.330.000.300.4 51.1 50.7 61.530.0 2010 117.2 897.441.610.0 19.6 7.193.7 2.6 201.742.494.648.0 325.9 1.8 1.556.000.3 847.0 2.551. 1.8 26.704.8 290.000.345.759.4 667.643.5 17.268.9 43.511.432.0 2.0 814.0 628.499.181.868.9 2.472.0 1.247.0 2006 131. ANGGARAN DEPKES DAN BADAN POM MENURUT PROGRAM TABEL 3.886.7 1. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Pagu Definitif APBN 2005 30.908276.747.4 758.0 1.526.5 174.899.263.366.0 567.000.3 2.5 1.9 867.937.605.6 2.2 433.952.972.0 178.5 15.180.4 10.5 715.978.181.5 21.229.361.876.6 15.1 45.068.2 628.0 715.523. PHLN dan Optimalisisi) TOTAL Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .744.389585.21.608.000.000.291.379.171.3 9.464.7 62.4 369.605.430.0 2.0 290.2010 No.0 87.0 349.428.191.1 52.9 130.077.550.300.0 766.470.592.0 248.960.4 1.3 6.404.239.180.183.9 2.541.700.176.884.440.744.4 160.9 1.233.0 11. PEMBIAYAAN KESEHATAN 21.367.3 600.551.7 582.755.043.0 2009 117.0 2.9 8.824.000.511.14 Tabel Alokasi Anggaran Depkes Tahun 2005 .138.8 20.273.9 721.519.0 890.5 449.0 959.126.576.727.522.

273.454.39 triliun.786. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .14 Tren Anggaran Departemen Kesehatan Tahun 2005 – 2010 PAGU DEFINITIF DEPKES 2005 2006 2007 2008 *) 2009 2010 Pagu Definitif APBN 7. pagu sesudah pemotongan 10% Sumber : Depkes Anggaran Depkes pada tahun 2010 sebsesar 21.523.236.GAMBAR 3.27 triliun.55 17.704. 13.52 21.172 - . Trend dari tahun 2005-2010 juga menunjukkan peningkatan anggaran per tahunnya.58 Tahun 2008.389.17 20.28 19. angka ini menunjukkan peningkatan daripada tahun 2009 yang 20.

4 9.6 1.000 400.729.778. Program 2005 1.636.989.600 2.0 4.000 100.000 0 2005 2006 2007 2008 *) 2009 2010 Series1 253.609.2010 PAGU DEFINITIF BPOM 700. Tahun 2008.080.008.000.8 6.123.0 445.0 2010 412.981.0 2006 324.3 2008 *) 409.7 456.2010 APBN DEFINITIF No.7 1.930.8 10.0 207.189.529.480.7 661.456.430.729.0 2.417.211.7 627.7 10.000.4 2009 445. 1. 2.7 108.2 (10%) 1.6 609.959.TABEL 3.4 Sumber : BPOM GAMBAR 3.440.4 9.2 2007 290.969.627.000 300.624.0 154.123.445. pagu sesudah pemotongan 10% Sumber : BPOM Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .529.207. Pengawasan Obat dan Makanan Pengembangan Obat Asli Indonesia Penerapan Kepemerintahan Yg Baik Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara TOTAL 242.587.0 186.480.15 Tabel Alokasi Anggaran BPOM Tahun 2005 .560.0 6.173 - .7 253.6 548.391.9 207.752.605.15 Tren Anggaran Badan POM Tahun 2005 .000 200.000 600.636. 3.391.000.661.000 500.778.

3 41.319.0 202.005.5 503.126.0 2.8 288.8 2.905.682.0 69.973.923.946.1 - - 111.174 - .657.8 3.3 159.0 19.000.1 - 134.198.6 85.392.8 2.384.429.8 3.4 4.103.871.536.9 18.164.682.0 42.0 228.875.8 TIDAK MENGIKAT Non Pend 18.892.214.431.463.431.7 48.3 85.4 694.439.826.028.000.490.817.463.0 - - 54.334.000.0 819.2 5.6 458.719.336.4 - 134.0 128.355.455.917.153.565.2 208.666.2 65.892.4 35.3 30.3 159.0 Sumber : Depkes Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 369.480.4 - 3.959.900.911.7 1.8 5.3 - 550.200.955.TABEL 3.0 5.3 267.5 3.8 - 536.603.16 Pagu Indikatif RAPBN Depkes (juta rupiah) Tahun 2009 NAMA PROGRAM Penerapan Kepemerintahan Yang Baik Pengelolaan SDM Aparatur Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Upaya Kesehatan Masyarakat Perbaikan Gizi Masyarakat Upaya Kesehatan Perorangan Lingkungan Sehat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Obat dan Perbekalan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Sumber Daya Kesehatan Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan Pendidikan Kedinasan MENGIKAT 2.3 164.097.4 53.360.381.1 - - 13.514.0 3.0 11.082.609.791.000.220.196.747.6 2.861.6 933.2 327.5 Pend PHLN PNBP Non-BLU BLU JUMLAH 2.4 933.423.0 81.635.8 10.891.8 544.3 9.168.301.500.900.802.7 24.028.800.0 70.0 62.

700.0 49.0 347.515.0 24.0 1.341.0 - 471.022.700.381.0 - 207.240.7 - - - - 778.0 Sumber : BPOM Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .741.989.3 6.240.7 39.3 729.736.0 2.0 340.TABEL 3.0 - 66.681.0 66.417.3 8.0 249.207.17 Tabel Pagu Indikatif RAPBN BPOM (juta rupiah) Tahun 2009 NAMA PROGRAM Penerapan Kepemerintahan Yang Baik Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara Pengawasan Obat dan Makanan Pengembangan Obat Asli Indonesia MENGIKAT TIDAK MENGIKAT Non Pend Pend PHLN - PNBP Non-BLU BLU - JUMLAH 207.989.175 - .0 688.752.9 24.

1 3.8 1.2 0.8 6.1 2007 2.2 Sumber : Perhitungan staf Bank Dunia berdasarkan data dari Departemen Keuangan dan SIKD Catatan : *Alokasi.2 18.8 411.18 Trend Pengeluaran Kesehatan Publik Tahun 2001 .3 9. PENGELUARAN KESEHATAN PUBLIK DI INDONESIA TABEL 3.2 5.8 9.5 0.8 45.0 12.6 0.9 4.7 19.9 9.7 11.0 2008 ** 39.7 20.4 0.0 8.1 891.7 2007 ** 39.7 63.1 42.6 16.1 12.0 3.6 0. Pengeluaran kesehatan nominal nasional Pengeluaran kesehatan nasional pada harga konstan (100=2000) Pengeluaran kesehatan per kapita pada harga konstan .2007 Daerah Kota Desa Total 2000 2.8 4.5 355.7 459.3 2.2008 Trilyun Rp.dalam US$ (2000=100) Pertumbuhan riil tahunan pengeluaran nasional (%) Pengeluaran kesehatan publik sebagai persen dari total pengeluaran publik nasional Pengeluaran kesehatan publik nasional sebagai persen dari GDP Total pengeluaran publik nasional pada harga saat ini Total pengeluaran publik nasional pada harga konstan (2000=100) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 * 31.1 1.4 3.9 0.0 20.2 16.8 24.19 Persentase Pengeluaran untuk Kesehatan Terhadap Total Pengeluaran Di Indonesia Tahun 2000 .21.7 1.2 2.1 812.1 6.1 2 2.6 339.7 547.8 2.2 Sumber : Bank Dunia Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .8 19.0 4.8 3.1 1.4 1.3 4.2 11. **Estimasi TABEL 3.7 14.9 714.3 4.8 4.9 2004 2.0 8.176 - .2.3 8.

GAMBAR 3.1 Pengeluaran per kapita  harga konstan (USD) Pengeluaran pemerintah  untuk kesehatan (%  anggaran pemerintah) Pengeluaran pemerintah  untuk kesehatan sebagai  persen dari PDB 4.177 - .1 1.6 0.2 3.8 10 8 6 4.6 3.4 4.8 4.16 Kecenderungan Pengeluaran Kesehatan Total dan Pemerintah Di Indonesia Tahun 2001 – 2008 12 9.7 3.6 0.8 0.5 6.7 8.1 4.9 3.5 0.9 1.4 4 2 0 2.1 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : Bank Dunia   Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 9.7 0.7 0.8 6 5.

000 842.559.000 148.875 351.142.500 608.290 456.100 2008 7.500 338.562 658.575.000 351.525 5.000 21.875 1.000 1.170 362.600 1.010 100.4 trilyun rupiah (2003) menjadi Rp 3.0 3.269.500 88.4 4 2.562 658.17 Alokasi DAK Total dan DAK Bidang Kesehatan Di Indonesia Tahun 2003 .838. TABEL 3.360 170.170 BIDANG 2003 625.681 1.4 0.610 2.000 2.420 3.910 203.050 945.497.014.094.360 1.000 11. ALOKASI DAK GAMBAR 3.015.675 858.4 2.3 0.610 279.200 384.1 19.170 228.000 2.800 17.8 0.20 Perkembangan Alokasi DAK Per Bidang Tahun 2003 .795 3.500 627.000 375.4 trilyun rupiah (2008).370 305.202.000 1.492.141 Dalam juta rupiah Sumber : Depkes Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .6 Rp Trilyun 12 DAK Kesehatan 8 4.060 357.381.21.113.2008 2001 *) 2002 *) Dana Reboisasi 700.290 1.000 2.406.6 3.000 438.5 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : Depkes Jumlah DAK bidang kesehatan terus meningkat dari Rp 0.270 839.000 TAHUN 2004 2005 2006 2007 652.094.500 4.000 2.370 4.705 3.675 1.044.919.195.221.2008 20 17.000 775.178 - .100.180 620.492.062.230 1.170 Bidang Pendidikan Bidang Kesehatan Jalan Irigasi Air Bersih Kelautan dan Perikanan Pertanian Praspem Lingkungan Hidup Kependudukan Kehutanan Total 700.060 112.0 16 Total DAK 11.817.3.100.675 539.4 2.470 322.

9  1.4.2  2008  4.4  35. IHI Kontribusi terhadap  realisasi total (%)  5. ANGGARAN KESEHATAN TOTAL MENURUT PROGRAM TABEL 3.179 - .1  757.484  989.338  3.785  3.21 Trend Produk Domestik Bruto (PDB) dan Anggaran Belanja dalam APBN Tahun 2004 .2008     PDB  Belanja APBN  Jumlah (trilyun rupiah)  2005  2006  2007  2.22 Penyerapan Anggaran Beberapa Program Pembangunan Kesehatan Di Departemen Kesehatan Tahun 2007 Fungsi  Obat dan Perbekalan  Kesehatan perorangan  Kesehaan masyarakat  Penelitian  Realisasi (%)  91  75  71  82  Depkes 2007.21.6  667.262  427.3  Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .5  TABEL 3.7  34.6  Sumber : Bank Dunia 2004  2.957  509.

PROPORSI PEMBIAYAAN KESEHATAN DI INDONESIA GAMBAR 3.7 68.4 73.1 66.7 26.5.5 70.6 65.7 Sw asta (%) Pemerintah (%) Tahun Sumber : Bank Dunia Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .21.6 30.3 34.2 65.18 Sumber Pembiayaan Kesehatan Di Indonesia Tahun 2004 Sumber : Bank Dunia GAMBAR 3.19 Proporsi Pembiayaan Publik dan Private Di Indonesia Tahun 1996 .4 31.8 34.2005 100% 75% Pemerintah (%) Swasta (%) Pengeluaran 50% 25% 0% 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 71.3 66.1 27.9 69.9 33.5 28.0 72.180 - .3 33.0 30.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2008 Sumber : IHI   Gambar 3.21. PROPORSI PEMBIAYAAN KESEHATAN MENURUT TINGKAT PEMERINTAHAN GAMBAR 3.6.181 - .20 Sumber Pembiayaan Kesehatan Di Indonesia Tahun 2001 .13 menunjukkan trend pembiayaan kesehatan di Indonesia per tingkat pemerintahan.

21.182 - .7. DISTRIBUSI ANGGARAN DAK MENURUT PROPINSI GAMBAR 3.21 Distribusi Anggaran DAK Per Provinsi Tahun 2008 Sumber : Depkes Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .

1  36  53.7  29. PERBANDINGAN ANGGARAN RI DENGAN NEGARA LAIN TABEL 3.8 82.3  4.8  18.5  39.5  60.2  Persentase  belanja  kesehatan  pemerintah  78.2  3.4  5.2  2.21.8    Negara  Brunei Darussalam  Kamboja  Indonesia  Malaysia  Myanmar  Filipina  Singapura  Thailand  Vietnam  Sumber: WHO Report 2005 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .9  69.1  30.2 17.23 Gambaran Belanja Kesehatan Indonesia dan Negara ASEAN Lainnya Tahun 2005 Belanja  Kesehatan  per kapita  (USD)  430 32  26  149  315  28  898  90  23  Total belanja  kesehatan  terhadap GDP  (USD)  3.8.9  69.5 12  3.183 - .3  Persentase  belanja  kesehatan non  pemerintah  21.3  70.2  81.8  2.1  30.9  4.9  64  46.

2009 25 52 60 20 44 50 46 19 19. ANGGARAN KESEHATAN BERASAL DARI PHLN GAMBAR 3.5 40 15 32 26 22 18 17 5 4 3 2 3 4 4 12 8 6 8 14 15 30 10 20 5 11 10 4 0 97/98 98/99 99/00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 0 Anggaran Depkes Persentase PHLN Sumber : Depkes 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .22 Trend Anggaran Depertemen Kesehatan Tahun 1997 .21.184 - .9.

185 - . DETERMINAN KESEHATAN Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .D.

900 41.497.119.758.545.683.257.700 4.106.051.000 4.466.000 6.700 12.311.570.100 986.500 3.200 12.562.000 1.185.600 7.288. 2005) Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .303.600 4.015.700 6.000 905.843.700 4.600 2.700 6.1 Jumlah Penduduk Indonesia Per Provinsi Tahun 2006 .087.053.453.976.800 4.700 2.755.900 1.000 8.200 6.445.791.100 3.200 2.200 1.223.2008 PROPINSI 2006 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat RIau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten BalI Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua INDONESIA 4.428.200 4.300 8.401.300 879.100 1.300 2.292.695.500 224.400 3.301.300 8.649.600 3.620.605.000 7.750.084.700 8.607.369.900 2008 4.500 227.000 6.700 3.500 1.100 3.600 4.900 10.904.814.UNFPA.186 - .327.400 3.885.800 935.200 2.400 2.707.196.907. JUMLAH PENDUDUK TABEL 4.872.836.317.300 3.700 2.450.000 3.800 2.914.511.169.469.700 886.700 2.698.424.200 35.000 40.300 JUMLAH PENDUDUK 2007 4.989.700 39.422.343.141.500 32.000 2.300 2.344.100 1.Bappenas.22.700 32.800 2.868.800 4.700 8.760.700 32.578.800 12.400 2.600 1.400 2.800 2.639.195.900 4.100 Sumber : Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS.800 2.200 9.544.779.251.800 4.000 2.637.145.000 4.900 8.200 7.243.699.480.070.400 922.375.809.510.234.001.300 35.400 893.600 35.000 9.396.600 2.002.400 2.700 222.492.200 4.000 7.197.037.900 2.600 3.717.623.960.800 1.

160 55.732 207.4 69. Supas 2005.209 110.2 2004 108.641 11.3 6.736 20.4 2002 105.213 9.798 Sumber : Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS.2014 250 244.441 19.152 210.5 6.460 9.2 52.4 2007 112.187 - .1 Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia Tahun 2000 .8 67.240 19.905 20.7 6.627 112.892 54.5 69.252 11.843 222.051 20.132 19.UNFPA.982 106.205 20.298 19.693 54.8 220 Juta 210 205.350 19.0 6.9 67.6 6.6 69.996 11.584 105. 2005) Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .392 108.310 205.2 Tren Penduduk Indonesia (dalam ribuan) Tahun 2000 .8 240 230 219.2008 Tren Penduduk Indonesia Jumlah Penduduk Laki-laki Jumlah Penduduk Perempuan Jumlah Penduduk Total Jumlah Balita CBR (Curth Birth Rate) CDR (Curth Death Rate) Umur Harapan Hidup Jumlah WUS (Wanita Usia Subur) Jumlah Lansia (>=65 thn) 2000 102.9 227.942 56.205 57.0 67.8 2003 106.6 2005 109.301 10.1 6.975 10.378 9.671 10.558 53.3 6.196 103.551 20.504 56.1 2001 104.822 102.8 200 190 180 SP 2000 Supas 2005 Proyeksi 2008 Proyeksi 2014 Sumber : Sensus penduduk 2000.7 68.569 213.382 20.494 58.802 109.928 20.392 216.8 2008 114. Proyeksi Penduduk 2000-2025 TABEL 4.051 113.108 20.779 20.403 219.952 20.582 18.3 70.7 68.Bappenas.509 19.8 6.6 7.181 20.GAMBAR 4.728 227.0 2006 111.278 224.

2 Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1961 .3.GAMBAR 4. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . angka pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2005 mencapai angka 1.14 ? 1961-1971 1971-1980 1980-1990 1990-2000 2000-2005 2005-2010 Sumber : Sensus penduduk (1971.32 2.49 1.2005 2.2000) dan Supas 2005 Angka laju pertumbuhan penduduk Indonesia mengalami penurunan per tahunnya.1980.1990.188 - .97 1.1 1.3 SASARAN RPJMN 2009 1.

00 0.4 Komposisi Penduduk Indonesia Tahun 2008 2008 .000.00 Sumber : Proyeksi Penduduk 2000-2025 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000.00 5.GAMBAR 4.00 15.000.189 - .00 -5.000.00 -10.000.00 10.3 Komposisi Penduduk Indonesia Tahun 1971 1971 Sumber : SP 1971 GAMBAR 4.

000.500 jiwa dan Sumatera dengan 48.371.0 20.000.1 40.0 48.0 60.000.5 Jumlah Penduduk Menurut Pulau Tahun 2008 160. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya.235.0 135.5 120. Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang.000. 2005) Jumlah penduduk Indonesia masih terkonsentrasi pada pulau Jawa-Bali yang mencapai angka 135.863.190 - .Bappneas.9 2.641.263. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .GAMBAR 4.0 8.703.641.7 16.6 2.0 80. Dan sisanya berada di pulau-pulau lainnya.8 13.235.000.5 Papua 0.100 jiwa.0 140.000.000.0 Jumlah Penduduk (000) 100.699.000.0 Sumatera Jawa-Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 (BPS.UNFPA.

5 119.0 250.1 218. dari 2.6 Trend Laju Pertumbuhan Penduduk 2.27 P ro yeksi 2005-201 0 1.0 150.191 - .Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia sejak tahun 1980 sampai 2005 telah mengalami penurunan yang cukup signifikan.2000) dan Supas 2005.8 205. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1971 adalah sekitar 119.0 200. namun secara absolut jumlahnya tetap besar.1990. serta Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2015 Walaupun laju pertumbuhan penduduk Indonesia sudah menurun.49 1.1 pada tahun 2015.9 juta pada tahun 2005 (Supas 2005). GAMBAR 4.97 1.1980.2 179.2000) dan Supas 2005. yaitu sekitar 205.7 300.4 194.3 2 1.9 juta pada tahun 2005 menjadi 234.0 0. Angka ini direncanakan akan terus diturunkan sampai 1.0 50.2 juta.0 60.5 2.6 Pertumbuhan Jumlah Penduduk Indonesia (dalam juta) Sumber: Sensus Penduduk (1971.6 juta pada tahun 2015.1990. jumlah ini meningkat menjadi hampir dua kali lipat pada tahun 2000 dan 2005.3 1 SP 1 980 (1 971 980) -1 SP 1 990 (1 980-1 990) SP 2000 (1 990-2000) Supas 2005 (2000-2005) 1.5 1.3 pada tahun 2005.1980. serta Proyeksi Penduduk Menurut Umur Tunggal dan Umur Tertentu 2005-2015 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . GAMBAR 4.9 234.0 100. Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan terus meningkat.1 juta (Sensus 2000) dan menjadi 218. dari 218. dan 247.0 1930 SP 1961 SP 1971 SP 1980 SP 1990 Supas 1995 SP 2000 Supas 2005 Pro 2010 Pro 2015 97.2 juta pada tahun 2015.3 pada tahun 1980 menjadi 1.18 P ro yeksi 201 0-201 5 Sumber: Sensus Penduduk (1971.9 147.2 247.

450.1 4.891.2 11.933.314.629.TABEL 4.0 922.3 2.383.7 179.658.1 3.7 9.0 2.0 7.658.9 3.490. Sulawesi Utara 72.0 2.6 923.3 1. menurut data world population terjadi pada tahun 2007-2008.3 2.3 2.358. Nusa Tenggara T 61.6 1.343.205.3 815.577.017.372.0 2.089.588.8 3.4 13.043.7 44.218.064.245.5 2.777.3 21.212.2 1.8 768. Sulawesi Tenggara 75.848.7 1.1 4.8 1.621.369.9 3. DKI Jakarta 32.2 1. Lampung 19.168. Bangka Belitung 20.5 1. Indonesia merupakan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia setelah China.6 3.521.7 3.5 2.0 4.684. Jawa Tengah 34.144.2 9. dan diperkirakan tahun 2009.9 38.4 2.8 3. Sumatera Selatan 17.648.1 205.5 1.1 44.0 1.1 6.1 1.9 1.3 9. DI Yogyakarta 35.451.295.7 2.008.8 7.0 2.6 12.268.2 10.534.8 4.372.2 969.3 3. Kalimantan Tengah 63.082.2 8.6 1. Sulawesi Tengah 73.259.1 35.6 3.5 1.730.040.229.5 1. Proyeksi Penduduk Menurut Umur Tunggal dan Umur Tertentu 2005-2015 Sementara itu.645.179.3 2.857.2 1.103.304.404.3 35.811.7 5.8 29.1 529.820.384.1 1. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .3 2.9 2.6 5.988. Nusa Tenggara B 53.653. Jawa Timur 36.0 4.132. Hal tersebut.509.294.0 2.274.433.787.0 2. Jambi 16.6 3. Sumatera Barat 14.8 1. bahkan 2050 akan terus berada pada urutan ke-4 jumlah penduduk terbanyak.624.2 3.2 38.5 1.176.2 1.4 5.5 1.313.3 Jumlah Penduduk Menurut Provinsi (x 000) Provinsi 11.579.6 1.322.8 1.1 1.2 2.042. Bengkulu 18.3 1.486.735.1 7.184.4 4.451.916.9 701.876. Sulawesi Selatan 74.684.709. Bali 52. Kalimantan Timur 71.1 6. 2000) dan Supas (1995.0 2.6 10.256.781.251.699.8 900.8 2.6 7.1 3.4 3.396.4 1.289.2 4.858.691.4 5.7 2.5 33.520.724.4 31.115.349.2 4.1 954.707.823.9 2.504. jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dunia.942.050. dan Amerika.021.6 37.4 Pro '2014 4.623.9 7.700.545.3 2.469.802. Indonesia SP 1971 2.123.3 6.6 1.327.416.4 28.579. Kalimantan Selatan 64. Nanggroe Aceh D 12. India.258.1 1.584.0 2.3 SP 1990 3.5 1.8 Pro '2010 4.592.1 1.549.965.121.8 SP 2000 3.8 9.0 2.7 7.207.503.406.3 9.1 733.558.5 4.7 Pro '2015 4. Irian Jaya Barat 92.5 Supas 2005 4.452.5 6.0 1.6 3.112.718.876.5 1.766.5 234.063.0 2.248.0 2.6 3.020.7 2.5 2.642.877.8 2.062.0 34.793.895.5 2.9 147.723.173.913.1 1.2 6. SP (1971.5 1.7 4.7 36.8 33.627.8 3.409.978. Kalimantan Barat 62.5 2.711.498.532.094.361.181.432.6 8.5 3.019.3 3.9 2.1 31.892.455.203.765.3 4.1 1.886.0 825.008.435. Banten 51.370. Riau 15.847.893.052. Gorontalo 76.116.8 8.623.138.453.3 2.986.323.223.4 119.9 2.188.1 643.611.469.098.446.8 2.517.8 7.7 3. Sulawesi Barat 81.2 2. Kepulauan Riau 31.3 3.000.1 4.8 6.138.331.388.125.724.8 8.8 3.235.724.440.5 25.4 27.8 2.1 2.907.2 1.8 7.579.407.981.6 4.4 1. 2005).844.294.6 3.0 7.5 2.153.206.5 3.2 1.1 2.150.4 1.6 6.249.1 1.059.7 2.7 1.244.192 - .6 5.0 2.5 891.5 757.128.737.7 33.4 1.4 4.161.597.282.984.9 3.0 4.081.929.777.704.7 39.657. Maluku Utara 91.0 1.4 5.767.345.9 2.006.378.5 1.5 4.6 5.9 2.120.4 833.226.0 8.4 38.7 1.6 1.016.0 2.6 2.0 1. Sumatera Utara 13.517.360.735.1 4.5 4.3 1.4 4.5 2.159.119.180.166.2 2. 1980.423.914. Jawa Barat 33.1 32.4 995.2 2.9 247.210.2 1.7 1.2 942.6 6.489.503.3 8.686.8 2.5 2.7 14.0 1.8 1.0 3.1 245.0 6.636.6 194.0 8.3 Sumber: BPS.208.010.5 21.3 34.411.5 1.031.113.1 8.6 1.9 10.964.6 3.000.220. Maluku 82.4 218.754.782.294.053.830.114.929.478.641.8 29.900.879.586.635.9 Supas 1995 3.086. Papua 00.875.116.260.581.342.6 14.649.3 7.9 42.3 8.9 5.6 6.8 4.938.701.860.9 4.4 25.868.302.855.963.750.6 714.3 990.2 812. 1990.566.028.3 1.2 SP 1980 2.5 884.6 519.340.4 3.5 913.2 3.040.6 9.7 3.2 3.069.1 3.8 2.6 11.

Papua.TABEL 4. Dem. Maluku Utara. Data Supas 2005 menunjukkan sekitar 60.9 Russia 142 Congo.2 persen penduduk berada di Pulau Jawa dengan luas Pulau Jawa yang hanya 7 persen dari luas wilayah daratan Indonesia.8 Pakistan 181 Nigeria 149 Nigeria 148.748 1. Gabungan Pulau Maluku.9 Indonesia 243 Indonesia 189 Brazil 195.193 - . 2009 Persebaran Penduduk antarpulau dan antarwilayah Desa-Kota Persebaran penduduk atau disebut juga distribusi penduduk menurut tempat tinggal dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu persebaran penduduk secara geografis dan persebaran penduduk secara administratif.3 India 1.7 China 1. disamping itu ada persebaran penduduk menurut klasifikasi tempat tinggal yakni desa dan kota.171 China 302 United States 304. 128 Japan 127.1 Bangladesh 162 Bangladesh 144 Bangladesh 147.5 persen dari luas total Indonesia.1 Brazil 191 Pakistan 169 Pakistan 172. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . hanya dihuni oleh 2 persen penduduk.149.331 India India 1.3 Nigeria 153 Brazil 142 Russia 141. 2008. Rep. Sebagian besar penduduk Indonesia terpusat di Pulau Jawa.5 United States 307 United States 232 Indonesia 239.4 Negara-negara dengan Jumlah Penduduk Terbanyak di Dunia Tahun 2007 Negara China India United States Indonesia Brazil Pakistan Bangladesh Nigeria Russia Japan Penduduk (Juta) 1. World Population 2007.7 Japan 128 Philippines Sumber: Population Reference Bureau (PRB). dan Papua Barat yang luasnya sekitar 27.324.318 1. Hal ini menunjukkan tidak meratanya penyebaran penduduk yang juga menunjukkan daya dukung lingkungan yang kurang seimbang antarprovinsi di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.132 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2050 Penduduk (Juta 1.437 439 343 335 285 222 215 189 150 Penduduk Penduduk Negara Negara Negara (Juta) (Juta China 1.

2 persen dan pengurangan di daerah perdesaan menjadi 56. 2005).0 21. SP (1971.0 0. Hasil sensus penduduk tahun 2000 menunjukkan sebanyak 42.8 Distribusi Penduduk Menurut Pulau (Persen).7 7.GAMBAR 4.8 7.1 5.9 7.4 21.7 3.0 65.0 80.1 3.5 3.6 7.7 60.3 5. hasil Supas 2005 menunjukkan adanya peningkatan jumlah penduduk di daerah perkotaan menjadi 43. 1971-2015 120.9 7.6 40.8 persen di wilayah perdesaan.0 63. sementara sisanya. Proyeksi Penduduk Menurut Umur Tunggal dan Umur Tertentu 2005-2015 Persebaran penduduk yang tidak merata juga terjadi antarwilayah perdesaan dan perkotaan. 1990.5 19.194 - .0 100.4 3.1 4. Daerah perkotaan cenderung berpenduduk lebih padat dibandingkan dengan daerah perdesaan.0 SP 1971 SP 1980 SP 1990 S umatera Jaw a Bali Supas 1995 SP 2000 K alimantan Supas 2005 S ulaw esi Pro '2010 Pro '2015 P apua N usa T enggara M aluku Sumber: BPS. sebesar 57.3 3.7 21.0 17.1 20. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 7.3 5.8 persen.5 3.4 58.1 20. 2000) dan Supas (1995.8 61.2 persen penduduk tinggal di wilayah perkotaan.0 60.2 59.7 60.8 7.2 4.5 22. Selanjutnya.8 60.2 5.0 5.8 4. 1980.0 20.3 5.6 3.7 7.

Indikator yang umum dipakai adalah Rasio Kepadatan Penduduk (density ratio) yaitu rasio yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk terhadap luas wilayah atau berapa banyaknya penduduk per kilometer persegi pada tahun tertentu.TABEL 4.195 - . yang umumnya disertai dengan kemiskinan.5 Kepadatan Penduduk Informasi tentang distribusi penduduk secara geografis dan terkonsentrasinya penduduk di suatu tempat memungkinkan pemerintah mengatasi kepadatan penduduk. Sama halnya dengan pertambahan jumlah penduduk. Jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah akan menyebabkan bertambahnya kepadatan penduduk. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . Kepadatan penduduk berkaitan dengan daya dukung (carrying capacity) suatu wilayah.

GAMBAR 4. yaitu 62 jiwa/km2 pada 1971 menjadi 116 jiwa/km2 pada tahun 2005. Lampung 19. 1990. Riau 15.762 467 640 SP 1980 50 114 79 23 27 50 39 131 na na 9.592 1. Jambi 16. Sumatera Utara 13. DKI Jakarta 32. Bangka Belitung 20.9 Kepadatan Penduduk Indonesia 140 120 100 80 60 40 20 0 SP 1971 SP 1980 SP 1990 SP 2000 Sup 2005 78 62 95 108 116 Sumber : Sensus Penduduk (SP) Tahun 1971.439 1.6 Kepadatan Penduduk per Km2 menurut Provinsi Provinsi 11. yaitu 601 jiwa/km2 dan 106 jiwa/km2. yaitu 13. dengan kepadatan tertinggi berada di Provinsi DKI Jakarta. Jawa Tengah Tahun SP 1990 66 139 93 35 38 68 60 170 na na 12.126 982 . Sumatera Selatan 17. 1980. 2000. Sebaliknya. dan Supas 2005 Besarnya jumlah penduduk di Pulau Jawa menyebabkan kepadatan penduduk di pulau ini sangat tinggi dibandingkan daerah lain di luar Pulau. Kep. TABEL 4. Pulau Bali dan Sumatera juga merupakan daerah yang kepadatan penduduknya tinggi setelah Pulau Jawa.794 794 780 SP 2000 76 158 99 52 45 67 74 191 56 na 12.344 1.196 - Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .kepadatan penduduk Indonesia juga meningkat hampir dua kali lipat selama kurun waktu 35 tahun. Kepulauan Riau 31. Bengkulu 18.023 876 SP 1971 36 93 56 17 22 33 24 83 na na 7. Jawa Barat 33.344 jiwa/km2. Papua dengan luas wilayah hampir mencapai 17 persen dari total luas Indonesia hanya dihuni oleh 7 penduduk per kilometer persegi. Nanggroe Aceh D 12. Sumatera Barat 14.033 959 Sup 2005 78 169 106 62 49 73 78 201 65 na 13. Data Supas tahun 2005 menunjukkan kepadatan penduduk di Pulau Jawa sekitar 996 jiwa/km2.

Kalimantan Tengah 5 6 9 12 12 63. 2000) dan Supas 2005 SP 1971 785 532 na 381 109 SP 1980 863 609 na 438 135 Tahun SP 1990 914 678 na 493 167 SP 2000 980 726 936 559 199 Sup 2005 1. Bali 52. Sulawesi Barat na na na na na 81. Sulawesi Selatan 71 97 112 129 136 74. Sulawesi Tengah 13 20 27 35 36 73.044 601 208 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . Nusa Tenggara 48 58 69 83 90 Timur 61. Irian Jaya Barat na na na na 6 92. Sulawesi Tenggara 26 25 35 48 51 75. Maluku 15 30 40 26 27 82. Kalimantan Selatan 45 47 60 69 75 64. Gorontalo na na na 68 75 76. 1990. Sulawesi Utara 90 139 162 132 139 72. Kalimantan Barat 14 17 22 27 28 62. Jawa Timur 36. Nusa Tenggara Barat 53.049 757 1. Papua 2 3 5 6 7 Sumber: Sensus Penduduk (1971. Maluku Utara na na na 25 29 91.Provinsi 34.197 - . DI Yogyakarta 35. 1980. Kalimantan Timur 4 5 8 11 12 71. Banten 51.

2009 Perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin 60 54 50 49.3 35 28.2 17.5 juta jiwa.1 37.5 42.9 juta jiwa.9 38.15 10 0 1980 1984 1987 1990 1993 1996 1997 1998 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah Persentase Sumber: BPS Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 32.2 34. Nilai garis kemiskinan dihitung berdasarkan pengeluaran penduduk untuk dapat memenuhi konsumsi sebesar 2. jumlah penduduk miskin di Indonesia menurun sejak tahun 1997 dengan terjadi sedikit peningkatan pada tahun 2006.1 13.2 23.198 - Persen 32.43 juta.2 40 Jumlah (juta jiwa) 40 33.4 16.9 50 40.7 17.4 37.4 14.1 47.6 15.7 38.4 18.6 30 27.7 17.4 15.100 kalori serta memenuhi kebutuhan pokok minimal lainnya.5 30 .3 30 20 10 0 1976 1978 20 16 16.23.4 19.3 36. GAMBAR 4.9 47.5 25.1 18. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . Secara umum.7 37. berarti jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 2.10 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Di Indonesia Tahun 1976 .2 35. menurun jika dibandingkan jumlah tahun 2008 dengan 34. KEMISKINAN Definisi : Penduduk yang memiliki nilai konsumsi di bawah garis kemiskinan.1 21.3 34 39.9 24.6 17.

6 15.5 24.4 24.1 20.4 18.8 21.4 17.6 31.4 29.8 23.3 36.6 15.2 20.3 25.86 juta orang. Selama periode Maret 2008-Maret 2009.6 13.6 10.4 18.999 66.909 127.3 Kota+Desa 17.53 Persentase Penduduk Miskin 11.629 40.8 14.366 52.503 47.9 32.5 13.6 12.0 21.19 20.77 11. adalah data Maret 2009 (Triwulan I).7 16. sementara di daerah perkotaan berkurang 0.1 18.636 200.2 11.0 17.214 34.8 22.6 Kota+Desa 34.4 12.1 24.3 26.4 14.0 49.0 22.339 204.7 % Penduduk Miskin Desa 19.42 14.9 38.199 - .4 21. Jumlah dan Prosentase Penduduk Miskin Menurut Daerah.7 24.5 47.9 38.1 25.9 17.2 23.65 10.3 12.8 11. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .5 11.8 Garis Kemiskinan.6 22.6 12.897 155.7 26.3 8.1 11.7 37.835 182.6 12.2 35.123 161.923 Total Jumlah Penduduk Miskin (juta) 12.TABEL 4.6 9.5 12.331 135.9 32.8 25.4 14.262 Sumber: BPS Jumlah Penduduk miskin di daerah perdesaan turun lebih tajam dibandingkan daerah perkotaan.3 37.9 19.2 34.4 37.7 13.270 147.96 32.7 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 1996 – 2009 Jumlah Penduduk Miskin Tahun 1996 1997 1998 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Kota 9.4 14.1 Keterangan: Tahun 2009.8 20.93 17.207 139.9 Desa 24.4 19.35 15.72 18.831 179.2 20.57 juta orang.4 16. Maret 2008 – Maret 2009 Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln) Makanan Tahun Perkotaan Maret 2008 Maret 2009 Perdesaan Maret 2008 Maret 2009 Kota+Desa Maret 2008 Maret 2009 Bukan Makanan 60.91 22.62 34.1 20.896 222. Sumber: BPS TABEL 4. penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1.5 13.15 143.7 16.1 39.5 Kota 13.2 17.

913.095 0.19 0.16 0.9 14.411.320. 2007 (juta orang) 7.08 0.37 N Su AD Su m m ut ba R r Ja ia u Su mb Be m i n s La gk el m ul u pu Ba ng b Ke el pr D i Ja KI Ja bar te ng D J a IY Ba tim nt en Ba N li TB KaNT T Ka l ba l te r Ka ng l Ka se l lt S im Su ul u l te t Su ng ls G Su e l or l t o n ra Su talo M l ba al r u M ku al Irj u a t Pa ba r pu a Sumber : BPS GAMBAR 4.53 0.12 Persentase Angka Kemiskinan Per Provinsi Tahun 2007 % Penduduk Miskin 2007 40.2 21.6 12.4 0.4 9.6 24.1 20.21 0.46 1.4 2.47 0.6 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat Pa Ir p u M jabaa a G l uk r or N u o n TT t Nalo A S ND La ul t T B Bemp eng n g un S ku g J aul tlru te a n SuJ ati g mm Su se lb l ar SuD IY Su l se J m ul Kaaba t lb r Su M aar m l ut b Su ar R l ut Ka ia u J a l tim K mb Baep rii Ka b Bal tenel n g Ka te n l se Ba l D Kl i I Sumber : BPS .28 1.27 0.9 12 11.2 19 18.79 0.9 22.1 13.23 1.56 5.56 0.1 10.GAMBAR 4.1 27.66 0.110.15 0.4 19.63 0.59.77 1.4 2 26.8 39.3 31.2 11 10.12 1.23 0.200 - .3 2 22.3 9.240.11 Jumlah Penduduk Miskin Menurut Provinsi Tahun 2007 Jumlah penduduk miskin menurut provinsi.08 1.15 6.41 0.33 0.911.58 0.9 19.25 1.3 7 6.57 0.5 7.6 4.89 0.

20 L+P 7.68 5.92 6. 8.70 0.44 Indeks Paritas Gender 0.00 Perempuan 6.02% Lulus SMP/MTs.34% Lulus PT.70% Belum tamat SD/MI. PENDIDIKAN TABEL 4.97 7.69 Sumber : BPS. Statistik Pendidikan 2006 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .97% Sumber : BPS.13 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Di Indonesia Tahun 2006 Tidak/belum pernah sekolah.05% Lulus SMA/SMK/MA.67 0.9 Rata-rata Lama Sekolah (dalam tahun) Penduduk Berusia 15 Tahun Keatas Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin Tahun 2006 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan K+D Laki-laki 9. 15.201 - .24. 30. 5.72 6.53 9. Statistik Pendidikan 2006 GAMBAR 4.48 8. 19.91% Lulus SD/MI. 20.

TABEL 4.10 Persentase Penduduk Berumur 15+ yang Bekerja dan Tingkat Pendidikan Di Indonesia Tahun 1996 - 2008 2005 (Feb) 18,9 56,9 18,8 5,4 2008 (Feb) 18,3 55,2 20,2 6,3

Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah/ Tidak Tamat SD Tamat SD/SMTP SMTA/Sederajat Akademi/PT

1996

1999

2002

29,7 50,9 15,9 3,5

26,4 52,2 17,2 4,3
Sumber : Sakernas

23,2 54,5 17,6 4,8

GAMBAR 4.14 Persentase Penduduk Usia 16-18 Tahun Menurut Kuintil Pendapatan Di Indonesia Tahun 2006
Persentase Penduduk Usia 16-18 Tahun Menurut Jenjang & Kelas Tertinggi yang Pernah Diikuti, Tahun 2006
110,0 100,0 90,0 80,0 70,0 60,0 50,0 40,0 30,0 20,0 10,0 1 2 3 4 5 6 Lulus SD/MI 7 8 9 Lulus SMP/MTs 10 11 12

97,7 92,5 88,5 87,5 79,6

kelompok 20% terkaya

61,2 kelompok 20% termiskin 49,7

29,2

Kelas Tertinggi yang Pernah Diikuti
Quintile 1 Quintile 2 Quintile 3 Quintile 4 Quintile 5 Rata-rata

Sumber : BPS

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 202 -

GAMBAR 4.15 Pendidikan yang Pernah Diikuti Oleh Penduduk Usia 16-18 Tahun Di Indonesia Tahun 2006

Pendidikan yang Pernah Diikuti oleh Penduduk Usia 16-18 Tahun, Tahun 2006 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
1 2 3 4 5 6 Lulus SD/MI 7 8 9 Lulus SMP/MTs

Kls I SMP/MTs

Kls I SM
10 11 12

INDONESIA PAPUA

DKI. JAKARTA SULAWESI BARAT
Sumber : BPS

JAWA BARAT DI. YOGYAKARTA

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 203 -

GAMBAR 4.16 Angka Melek Aksara Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin dan Status Ekonomi Di Indonesia Tahun 2006

120 100 80 60 40 20 0

98,5 92,7 94,4 96,2 89,8

90,3 85,1 87,2 81,3

95,6

Laki-laki Quintile 1 Quintile 2 Quintile 3

Perempuan Quintile 4 Quintile 5

Sumber : Diolah dari data Susenas 2006

Terjadi perbedaan angka melek aksara pada penduduk 15 tahun keatas menurut status ekonominya. Semakin baik tingkat ekonomi, maka semakin baik pula angka melek aksaranya.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 204 -

GAMBAR 4.17 Angka Melek Aksara Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin Per Provinsi Tahun 2006

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
JA M B I K EPR I DK I JA T ENG B A LI K A LT ENG LA M PUNG SULT ENG GOR ONT A LO R IA U B ENGK ULU M A LUK U B A B EL SUM SEL K A LSEL B A NT EN SULSEL NA D K A LB A R SULT R A JA B A R IR JA B A R SUM B A R SULB A R K A LT IM M A LUT SUM UT PA PUA NT T SULUT DIY JA T IM NT B

Sumber : Diolah dari Data Susenas 2006

Laki-laki

Perempuan

Gambar diatas menunjukkan disparitas antar propinsi terkait dengan angka melek aksara pada penduduk usia 15 tahun keatas, juga dapat dilihat perbedaannya menurut jenis kelamin.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 205 -

18 Perkiraan Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah Di Indonesia Tahun 2006 10 (dalam juta orang) 8 6 4 2 0 0.40 3.206 - .36 6.89 Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan Sumber : Diolah dari data Susenas 2006 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .93 2.GAMBAR 4.

4 Kota Desa Total 52.3 57.207 - .9 43. air dari sumur terlindung.2007 1994 1995 1996 1998 1999 2002 2004 53.8 38.19 Persentase Akses Air Bersih Di Indonesia Tahun 1994 . AKSES KE AIR BERSIH Definisi: Persentase rumah tangga dengan akses kepada air minum dari sumber air terlindung yang berjarak lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan tinja.6 30. Air kemasan imasukkan ke dalam kategori ini sejak tahun 1998.6 43.2 35.1 30. air kemasan.3 41.1 55.11 Persentase Akses Air Bersih Rumah Tangga Tahun 1994 .0 2007 67.5 54. TABEL 4. dan air hujan.7 Sumber : Susenas&Riskesdas 2007 GAMBAR 4. pompa.2 52. Yang termasuk sumber air terlindung adalah air dari pipa.9 38.4 40.8 50.5 55.9 51.25.4 61. Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . air dari mata air yang terlindung.5 35.2007 Akses Air Bersih (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1994 1995 1996 1998 Kota 1999 Desa 2002 Total 2004 2007 Sumber : Susenas 1994-2004.4 34.

4 40.5 46.6 50.0 43.7 26.7 51.2 44.5 63.6 37.7 40.5 46.1 43.6 44.9 47.9 64.208 - .12 Persentase Rumah Tangga Menurut Akses Terhadap Air Bersih Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Akses Air Bersih Kurang 51.1 35.4 31.1 60.4 44.2 36.2 37.TABEL 4.1 40.13 Tren Air Bersih dan Sanitasi Berdasarkan Kuintil Pendapatan Tahun 2000 – 2007 Quintile Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 2000 Air Sanitasi Bersih Layak 33.1 74.4 Sumber: Susenas 2000-2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 39.3 53.4 50.3 51.6 59.5 21.7 51.5 53.8 55.2 67.8 31.8 58.2 65.3 61.8 31.3 60.3 48.8 34.5 36.8 22.3 Akses Air Bersih Baik 68.0 35.1 48.1 23.9 63.5 22.4 49.2 20.2 62.9 73.7 46.1 55.9 67.8 33.0 38.8 37.1 26.2 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Akses Air Bersih Kurang 31.3 61.5 77.7 38.5 53.8 55.5 51.7 48.4 62.9 56.0 Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 TABEL 4.4 62.0 Akses Air Bersih Baik 48.9 2007 Air Sanitasi Bersih Layak 44.8 2004 Air Sanitasi Bersih Layak 42.3 42.7 65.3 29.0 61.9 25.8 35.7 54.2 68.6 37.6 68.9 76.7 38.5 58.7 57.2 44.6 37.2 33.9 39.2 62.5 60.8 37.1 36.

1 87.2007 Cakupan Air Bersih berdasar Kuintil Pendapatan 80 60 Persen 40 20 0 2000 2004 Sumber :Susenas Q5 Q4 Q3 Q2 Q1 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 52.GAMBAR 4.1 Persen 50 35.9 30.4 49.8 9.9 51.0 0 2000 2001 2002* 2003 2004 2005 2006 Air Minum Perpipaan (Desa) Sumber: Susenas GAMBAR 4.5 Air Minum NonPerpipaan Terlindungi (Kota) Air Minum NonPerpipaan Terlindungi (Desa) Air Minum Perpipaan (Kota) 61.2 6.6 6.3 6.8 25 33.2 7.6 40.8 7.5 55.9 35.20 Akses Penduduk Terhadap Air Minum Di Indonesia Tahun 2000 .209 - .6 36.3 48.0 6.5 33.0 75.4 32.2 32.2006 Penduduk dengan pelayanan air minum 100 75.0 74.21 Cakupan Air Bersih Berdasarkan Kuintil Pendapatan Di Indonesia Tahun 2000 .0 31.6 75 55.

2007 1992 57.26.3 62.2 21.4 1997 76.2 63.9 1999 77.2007 Akses Sanitasi Layak (%) 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2007 Kota Desa Total Sumber : Susenas&Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .0 68.0 53.22 Persentase Akses Sanitasi Layak Di Indonesia Tahun 1992 .4 55.210 - .2 33.9 1993 54.8 61.9 1995 71.8 56.5 46.9 56.1 44.2 1994 59.14 Tren Persentase Akses Sanitasi Layak Tahun 1992 .5 52.5 2007 83.1 30. TABEL 4.0 59.4 1996 73.4 52. AKSES KE SANITASI Rumah tangga dengan akses kepada sanitasi yang layak Definisi: Proporsi rumah tangga yang menggunakan septik tank dan lubang pembuangan tinja.3 1998 80.2 50.7 2001 76.5 30.9 18.5 2002 77.9 Kota Desa Total Sumber : Susenas&Riskesdas 2007 GAMBAR 4.6 64.9 49.5 19.0 50.3 61.1 2000 77.

0 74.9 43.4 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Sanitasi Kurang 70.0 50.1 46.3 49.2 46.0 70.0 41.6 40.7 37.5 73.23 Tren Penduduk Tanpa Akses Sanitasi Layak Di Indonesia Tahun 2000 .8 39.3 44.1 55.8 31.5 22.9 46.5 77.9 49.3 32.7 35.0 GAMBAR 4.3 57.0 49.7 Desa 40 Persen 19.1 58.211 - Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 42.0 66.5 27.5 17.TABEL 4.0 30.2 Desa dan kota Kota 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Susenas   .7 42.5 58.4 48.4 31.7 50.6 20 18.3 64.2 60.5 44.0 58.0 30.4 55.6 51.6 Sanitasi Baik 33.0 25.1 57.2 63.9 54.2 68.5 41.8 53.7 44.1 40.1 53.6 41.0 65.1 50.0 33.9 22.4 58.8 36.2006 Penduduk tanpa akses fasilitas sanitasi yang layak 60 47.5 82.15 Persentase Rumah Tangga Menurut Akses Terhadap Sanitasi Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Sanitasi Kurang 66.7 55.9 42.6 69.6 45.9 41.1 57.0 34.9 60.3 55.5 55.9 44.0 Sanitasi Baik 29.

24 Cakupan Sanitasi Berdasar Kuintil Pendapatan Di Indonesia Tahun 2000 . yang artinya semakin memperbesar gap yang terjadi.0 Q5 Q4 Q3 Q2 Q1 40.0 0.212 - .GAMBAR 4.0 2000 2004 Sumber: Susenas 2007 Cakupan sanitasi berdasarkan kuintil pendapatan terlihat trend yang semakin menjauh antar kuintil pendapatan. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .2007 Cakupan Sanitasi Berdasar Kuintil Pendapatan 60.0 Persen 20.

25 Perbandingan Antara Persentase Penduduk Miskin Dan Akses Terhadap Air Minum dan Sanitasi Per Provinsi Tahun 2006 Jakarta Bali Kepulauan Riau Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Jambi Maluku Utara Bangka Belitung Riau Banten Sumatera Barat Jawa Barat Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Sumatera Utara Sulawesi Utara Kalimantan Barat Indonesia Sumatera Selatan Sulawesi Barat Jawa Tengah Jawa Timur Yogyakarta Bengkulu Lampung Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Timur Nanggroe Aceh Darussalam Maluku Gorontalo Irian Jaya Barat Papua Penduduk Miskin.GAMBAR 4.213 - . 2006 (%) Penduduk Tanpa Akses Air Minum Non-Perpipaan Terlindungi. 2006 (%) Sumber Susenas Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . 2006 (%) Penduduk Tanpa Sanitasi Layak.

214 - .9 29.6 30.2007 40 35 30 25 Persen 20 15 10 5 0 1995 2001 Kota Desa 2004 Total 2007 Sumber : Susenas dan Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .7 2004 31.66 27. MEROKOK Persentase Penduduk usia 10 tahun ke atas yang merokok Definisi: Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas (untuk tahun 2004: 15 tahun ke atas) yang merokok dalam satu bulan terakhir TABEL 4.78 28.44 2007 26.22 29.16 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok Di Indonesia Tahun 1995 .18 26.26 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok Di Indonesia Tahun 1995 .27.2007 Kota Desa Total 1995 22.23 2001 25.2 Sumber : Susenas dan Riskesdas 2007 GAMBAR 4.72 36.6 34.

4 20.4 25.6 24.1 23.1 19.2 GAMBAR 4.7 21.2 26.3 23.4 29.1 31.5 Perokok saat ini 30.4 5.0 23.1 20.5 4.8 23.2 21.6 20.8 5.9 20.8 26.17 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok Dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Perokok setiap hari 23.5 24.8 4.6 22.7 28.4 32.8 24.2 27.2 22.7 6.8 32.6 7.4 24.9 27.3 4.4 6.7 29.5 4.7 30.3 25.5 5.6 4.7 34.8 20.6 5.5 28.6 24.TABEL 4.0 25.3 25.7 23.6 6.6 24.4 30.0 5.0 6.2 22.0 5.5 25.2 28.5 6.6 24.4 24.0 27.3 23.9 19.4 29.1 19.1 20.9 24.6 3.9 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 Perokok setiap hari 25.4 24.5 5.0 23.7 Perokok kadangkadang 4.8 30.6 6.8 20.1 4.1 4.7 24.5 5.1 Perokok kadangkadang 6.4 20.5 28.8 27.2 24.1 21.7 5.3 25.4 22.5 26.6 25.0 29.9 19.3 30.5 S ulawesi Tenggara P apua B arat 20.1 28.7 25.0 15.2 24.7 27.4 5.5 22.1 20.3 6.8 Perokok saat ini 29.8 19.7 25.3 7.4 31.8 27.7 21.8 29.8 6.2 .1 20.27 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas yang Merokok Setiap Hari Per Provinsi Tahun 2007 30.8 25.1 26.8 24.9 23.2 25.8 5.5 5.0 Jawa Tengah Jawa Tim ur K alim antan Tengah Nanggroe A ceh Daruss alam S um atera S elatan NTB K alim antan B arat K alim antan Tim ur S ulawes i S elatan DK I Jakarta S ulawes i Tengah Jam bi M aluku Utara DI Y ogyakarta Indonesia S um atera Utara Jawa B arat NTT P apua B ali K alim antan S elatan B anten S um atera B arat Lam pung Gorontalo B engkulu K ep B angka B elitung S ulawesi Utara K epulauan Riau S ulawesi B arat M aluku Riau Sumber : Riskesdas 2007 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .215 - 19.8 30.0 4.0 23.2 23.3 28.3 24.3 23.9 6.0 22.2 30.6 24.6 25.1 34.8 29.

0 62.2 6.0 97.6 21.6 55.9 55.0 9.4 5.6 5.9 23.8 5.8 Perokok saat ini Perokok Perokok kadangsetiap hari kadang Tidak Merokok Mantan Perokok Bukan Perokok Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .8 5.4 65.3 23.6 5.7 2.9 66.7 38.3 1.4 5.1 3.216 - .5 2.1 1.3 23.3 21.2 23.3 6.6 2.1 67.6 5.6 5.4 67.9 1.4 3.5 2.8 4.5 5.7 4.5 68.TABEL 4.3 Sumber : Riskesdas 2007 4.2 57.8 9.8 1.2 61.3 72.3 7.0 4.4 5.4 5.4 3.9 12.0 30.4 24.6 2.9 6.9 3.5 54.18 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun Keatas Menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden Di Indonesia Tahun 2007 Karakteristik Responden Kelompok Umur 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 26.2 25.7 67.0 69.7 2.0 26.8 2.3 29.0 3.8 27.8 3.4 31.4 24.4 0.8 2.7 17.1 6.2 32.6 68.8 28.8 20.0 69.5 67.6 5.7 5.6 67.9 94.3 0.6 7.9 45.7 74.9 23.9 0.1 5.3 63.

2 39.2 57. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber: Riskesdas 2007 Kurang Aktifitas Fisik 53.1 47.1 54.3 52.4 48.8 49.8 60.4 61.19 Tabel Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 Tahun Keatas Per Provinsi Tahun 2007 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.8 48.6 Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Kurang Aktifitas Fisik 48.217 - .1 45.6 47.0 44.3 44. TABEL 4.28.7 55.4 53.7 49.3 46.7 52. Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu. AKTIFITAS FISIK Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah.3 42.2 48.I.1 40.1 54.0 50.2 45.2 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .4 44.9 43.3 46.4 49.8 27.2 43.7 47.

1 47.1 50.2 57.6 44.4%).6 47.0 50.4 49.4 52.0 40.2 43.4 Sumber: Riskesdas 2007 Pada gambar 4.3 45.0 20. dan Bengkulu (40.8 55.2 46.3 .3 44.1 39.8 54.2%).1 52. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61.4 45.2%) kurang melakukan aktifitas fisik.7 53.GAMBAR 4.4 49.0 61.0 30.7 44.9 46.23 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48.8 48.3 53.0 42.7%) dan Provinsi Riau (60.3 47.218 - 27. Sulawesi Tengah (39.0 0. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .28 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Per Provinsi Tahun 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik 70. Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27.0 60.2 49.1 48.0 10.8 43.2 48.3%).7 40.2 48.1%).0 54.7 60.

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .4%).4 52.1 53.5 47.1 49.9 38. kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76.8 45. dan perempuan (54.5 66.4 54.4 48.4%).15 terlihat bahwa menurut kelompok umur.3 41.0 42.9%).6 42.20 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 Tahun Keatas Menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 44.219 - .6 60. dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik.9 52.6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42.TABEL 4.9 57.8 48.0 Kurang Aktifitas Fisik Pada tabel 4.5 76. semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57.4 47.4 58.9 38.1 43.4 44.0%) dan umur 10-14 tahun (66.5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41. Berdasarkan tingkat pendidikan.

09 0.13 56.75 16. Konsumsi lainnya 13.08 246.14 2002 (3) 1 038.27 18.95 63.83 1 954.07 55.40 1 953.80 1 977.25 52. Umbi-umbian 3.00 1 892.54 15.09 2005 * (6) 997.00 115.30 2 018.90 2004 * (5) 1 024.67 114.66 40.73 40.24 41.90 1 922.95 234.07 2005 (7) 1 009. Bahan minuman 11.70 115.75 241.21 Rata-rata Konsumsi Kalori (Gram) Per Kapita/Hari Menurut Kelompok Makanan Di Indonesia Tahun 2002 .52 1 950.39 73.96 70.34 43.98 39.61 236.44 49.94 17.93 42.87 110.86 55.17 38.28 41. Minuman mengandung alkohol TOTAL PERKOTAAN 2002 * (2) 1 039.2007 KELOMPOK MAKANAN (1) 1.17 41.29.08 66.65 2006 * (8) 992.71 37.91 45.42 36.67 246.83 **) 1 926.02 49. Daging 5.09 1 989.67 35. Padi-padian 2.16 52.91 1 986.43 42.34 113.70 1 941.31 60.97 39.70 2 060.09 1 987.96 46.66 198. Buah-buahan 9.07 232.30 2 013.04 **) 2 014.27 43.40 71.09 0.80 62.04 65.41 2 011.60 212.70 1 964.75 246.05 39.66 120.70 45. Sayur-sayuran 7. Telur dan Susu 6.43 42.93 246.35 0.91 55.73 2003 * (4) 1 035. Minyak dan Lemak 10.33 PERDESAAN Catatan: *) Bersumber dari Susenas Panel **) sudah digabung ke dalam kelompok makanan jadi Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .00 2 019.220 - .52 40.69 18.31 0.67 40.84 233.56 31.00 18.47 38.18 18.16 219. Bumbu-bumbuan 12.44 71.89 56.91 41.62 46. Kacang-kacangan 8.01 2 050.50 103.59 41.08 44. KONSUMSI KALORI DAN PROTEIN TABEL 4.00 2 042.53 35.01 39.83 40.64 37.24 41.81 48.14 216.72 69.20 64.00 39. Makanan jadi 14.40 1 953.63 37.06 1 996.45 47.08 **) 2 007.19 243.89 39.40 46.41 40.35 40.73 2007 * (9) 953.85 241.73 19.59 197.49 46. Ikan 4.61 **) 1 985.01 47.93 120.93 51.

TABEL 4.22 Rata-rata Konsumsi Protein (Gram) Per Kapita/Hari Menurut Kelompok Makanan Di Indonesia Tahun 2002 - 2007
Rata-Rata Konsumsi Protein (Gram) Per Kapita / Hari Menurut Kelompok Makanan
KELOMPOK MAKANAN 2002 * 2002 2003 * 2004 * 2005 * 2005 2006 * 2007 *

1. Padi-padian 2. Umbi-umbian 3. Ikan 4. Daging 5. Telur dan Susu 6. Sayur-sayuran 7. Kacang-kacangan 8. Buah-buahan 9. Minyak dan Lemak 10. Bahan minuman 11. Bumbu-bumbuan 12. Konsumsi lainnya 13. Makanan jadi
TOTAL
PERKOTAAN

24,42 0,43 7,17 2,26 2,33 2,49 6,36 0,45 0,53 1,13 0,79 0,75 5,34
54,45 55,99 53,22

24,40 0,43 7,20 2,26 2,33 2,49 6,35 0,45 0,53 1,13 0,78 0,75 5,33
54,42 55,98 53,19

24,29 0,44 7,91 2,62 2,22 2,75 5,85 0,46 0,54 1,01 0,69 0,74 5,84
55,36 56,7 54,4

24,05 0,53 7,65 2,54 2,38 2,57 5,52 0,43 0,48 1,03 0,71 0,76 6,01
54,66 55,89 53,69

23,42 0,47 7,92 2,47 2,56 2,64 5,78 0,50 0,50 1,09 0,78 0,92 6,24
55,29 55,26 55,28

23,69 23,33 0,45 8,02 2,61 2,71 2,52 6,31 0,43 0,48 1,08 0,82 1,03 6,44 0,41 7,49 1,95 2,51 2,66 5,88 0,39 0,45 1,00 0,81 0,95 5,83

22,43 0,40 7,77 2,62 3,23 3,02 6,51 0,57 0,46 1,13 0,76 1,43 7,33
57,66 59,17 56,25

PERDESAAN
Catatan: *) Bersumber dari Susenas Panel

56,59 53,66 58,32 55 55,23 52,6

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 221 -

TABEL 4.23 Rata-rata Konsumsi Kalori dan Protein Di Indonesia Tahun 2002 - 2007

2002

2003

2004

2005

2006

2007

KALORI - kkal/kapita/hari (anjuran kecukupan 2000 kkal/apita/hari) Rata-rata KOTA DESA 1 987 1 954 2 013 1 989 1 950 2 018 1 986 1 941 2 019 1 996 1 922 2 060 1 926 1 892 1 953 2 014 1 977 2 050

PROTEIN - gram/kapita/hari (anjuran kecukupan 52 g/kapita/hari) Rata-rata KOTA DESA 54,45 55,99 53,22 Sumber data: Susenas 55,36 56,7 54,4 54,66 55,89 53,69 55,29 55,26 55,28 53,66 55 52,6 57,66 59,17 56,25

TABEL 4.24 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita Per Hari Per Provinsi Tahun 2007
Energi Rerata NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Indonesia Sumber : Riskesdas 2007 1805.3 1861.6 1806.7 1602.3 1683.7 1682.3 1371.6 1375.7 1692.8 1672.9 1592.5 1636.7 1703.3 1623.7 2182.4 1371.5 1706.5 SD 653.0 741.5 691.1 641.8 677.3 602.5 485.0 460.2 618.2 610.6 653.3 615.7 705.1 739.9 923.1 618.3 609.9 Protein Rerata 69.3 65.0 58.0 60.0 59.8 56.3 45.9 47.7 66.6 69.2 60.5 53.8 51.3 50.2 57.6 51.6 56.5 SD 28.1 28.2 26.5 28.1 28.6 24.8 21.3 21.1 28.1 29.1 28.5 24.3 24.5 24.5 28.3 24.9 24.8 1735.5 748.1 55.5 26.4 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi Rerata 1644.7 1884.6 1594.9 1534.7 1532.2 1362.7 1381.3 1764.2 1504.6 1803.4 1451.4 1385.6 1828.1 1752.1 1865.6 1823.2 SD 678.6 772.0 596.3 608.6 615.3 585.0 493.8 709.2 586.6 744.4 568.8 506.8 781.6 807.7 791.5 922.7 Protein Rerata 52.4 51.3 57.6 59.5 58.7 55.6 45.6 53.7 54.0 68.3 47.7 53.4 56.7 56.4 62.1 53.8 SD 25.3 26.3 27.1 26.9 25.6 27.5 18.7 24.4 23.9 30.0 20.8 22.5 27.2 28.7 32.1 30.5

Propinsi

Propinsi

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 222 -

30. KONSUMSI SAYUR DAN BUAH Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari. Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas. TABEL 4.25 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 Tahun Keatas Per Provinsi Tahun 2007
Kurang Makan Buah dan Sayur
95.9 94.4 97.8 97.9 93.4 96.9 92.1 87.7 96.6 96.4 94.5 96.4 92.0 86.1 90.6 96.7 96.2

Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali
Indonesia
Sumber: Riskesdas 2007

Propinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat

Kurang Makan Buah dan Sayur
92.6 94.2 94.9 91.5 95.7 91.8 91.2 91.5 93.7 92.9 83.5 96.4 96.5 96.1 89.7 91.3

93.6

Keterangan : *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

- 223 -

GAMBAR 4.29 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Di Indonesia Tahun 2007
Kurang makan buah dan sayur
100.0 95.0 90.0 85.0 80.0 75.0 Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Banten Bangka Belitung Maluku Kepulauan Riau Jawa Barat Sulawesi Barat Bali Maluku Utara NAD Kalimantan Selatan Kalimantan Barat DKI Jakarta Sumatera Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Selatan Indonesia Jambi Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Bengkulu Jawa Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Papua Barat Sulawesi Utara Jawa Timur Papua Lampung DI Yogyakarta Gorontalo
Sumber : Riskesdas 2007

Keterangan : *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu

Gambar 4.24 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93,6%. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat, masing-masing 97,9% dan 97,8%. Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83,5%), DI Yogyakarta (86,1%), dan Lampung (87,7%).

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat

97.9 97.8 96.9 96.7 96.6 96.5 96.4 96.4 96.4 96.2 96.1 95.9 95.7 94.9 94.5 94.4 94.2 93.7 93.6 93.4 92.9 92.6 92.1 92.0 91.8 91.5 91.5 91.3 91.2 90.6 89.7 87.7 86.1 83.5

- 224 -

1 93.7 95. dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur.7 93.8 93.3 93. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita.5 93. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur. Tidak tampak adanya perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan.8 90.3 92.0 94. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.6 94.3 Kurang Makan Buah dan Sayur Pada tabel 4. Sementara berdasarkan pendidikan.5 93.6 92.3 94. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .4 93. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur.6 93.3 93.9 93.TABEL 4.9 94.225 - .26 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 Tahun Keatas Menurut Karakteristik Responden di Indonesia Tahun 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sumber : Riskesdas 2007 94. dengan perkataan lain.0 94.21 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95.2 93. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan.7 94.3%).4 93.

948 7.000 4.30 Jumlah Kasus Keracunan Makanan Di Indonesia Tahun 2001 .000 5.2005 10.000 0 2001 2002 2003 2004 2005 2.000 2. KERACUNAN MAKANAN GAMBAR 4.679 6.31.625 907 Sumber: Profil Kesehatan 2005 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat .000 Jumlah penderita (orang) 8.226 - .952 2.31 Jumlah Penderita Keracunan Makanan Di Indonesia Tahun 2001 .2005 200 160 Jumlah kasus 120 80 40 0 2001 2002 2003 2004 2005 72 82 74 35 112 Sumber: Profil Kesehatan 2005 GAMBAR 4.

227 - . jadi data akan lebih kaya dengan mengoptimalkan data-data dari sumber yang berbeda. REKOMENDASI Data-data yang dijabarkan diatas masih sangat terbatas dari beberapa sumber saja. Diharapkan dengan input data dari berbagai sumber. terutama dalam menjabarkan tentang tren dan Peta sebaran wilayah per propinsi di Indonesia. terutama dalam perencanaan pembangunan khususnya dalam sektor kesehatan. B. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . KESIMPULAN Penyusunan buku database ini sudah cukup mewakili data-data indikator kesehatan di Indonesia dan diharapkan akan bermanfaat bagi para pengguna data.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Pengoptimalan Software Devinfo dalam rangka menunjang kepentingan data-data kesehatan yang tersedia saat ini sangat diperlukan. Data juga dapat dilihat secara lengkap dengan menggunakan tabel dan grafik di dalam software Devinfo. akan diketahui berbagai gap yang akan timbul dari perbedaan-perbedaan angka dari berbagai sumber data tersebut.

Indonesia”. Health Promotion Planning: An Educational and Environmental Approach (Second Ed. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 1991 – 2008. Green LW. USA: ORC Macro.) Mountain View. Gottret. G. S.:World Bank 8. J. P. Republik Indonesia. Bappenas. (2006). and Kosen. Departemen Kesehatan. 13. USA: ORC Macro. and Claeson. 2000 World Health Report: Health System: Improving Performace Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas : Laporan Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat . 10. Whitehead. Bappenas. Cal. Health Financing Revisited: A Practitioner’s Guide. M. DC: World Bank 15. Choi. Heywood. BPS dan UNFPA. Badan Pusat Statistik (BPS) dan ORC Macro. Geneva. September 2006 Draft. Maryland.. Friedman. (2006). The Millennium Development Goals for Health: Rising To The Challenges. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007. CSDH (2008). Badan Pusat Statistik (BPS) dan ORC Macro. Indonesia. 4. Geneva. Washington. (2006). 2. P. : World Bank 18.: Mayfield. Heywood. Final report of the Early Child Development Knowledge Network of the Commission on Social Determinants of Health. Departemen Kesehatan. WHO. The Concepts and Principles of Equity and Health. Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025. J. Kreuter MW. and Schieber. Friedman. 1991. 2000. World Health Organization. 2008. Final Report of the Commission on Social Determinants of Health. Wagstaff .Washington. Biro Perencanaan dan Anggaran. ECDKN. 12. DC. 16. Undang-Undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 17. WHO Regional Office for Europe 19. BPS dan UNFPA. 7. Buku Saku Anggaran. 2006. Early child development: a powerful equalizer. M. “Forecasting Healthcare Demand in Middle Income Countries: Disease Transitions in Central and East Java.228 - . Forthcoming: Forecasting Health Care Demand in Middle-Income Country: Disease Transition in East and Central Java. 2008. 2007. 2000.. Calverton. Research Working Paper. Copenhagen. (2004). World Bank 14. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Laporan Hasil Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2007. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025. 1991. H. Closing the gap in a generation: health equity through action on the social determinants of health. Bappenas 2008. DC. Choi. S. Bappenas 2007. and Kosen. Y. 2003... 5.. World Health Organization.DAFTAR PUSTAKA 1. A. 9. 6. 2007. 11. 3. Maryland. Pembiayaan Pencapaian MDGs di Indonesia. 2008. Washington. Laporan Pencapaian Millenium Development Goals 2007. Calverton. Departemen Kesehatan.. P. 2006.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->