Anda di halaman 1dari 3

Mitos-mitos Merapi

Leo Sutrisno

Bagi pembaca yang sempat mengunjungi daerah Sleman dan Klaten, tentu juga Kota
Yogyakarta, mestinya menemukan semua rumah kuna selalu menghadap ke selatan
walaupun di sebelah utara rumah itu terdapat jalan. Satu-satunya rumah yang menghadap
ke utara adalah Kraton Yogyakarta. Mengapa?

Menurut kepercayaan masyarakat kala itu, tidak baik rumah menghadap ke utara. Karena,
arah itu berarti menghadap gunung Merapi. Itu berarti berani [baca: menantang] terhadap
‘penguasa’ Merapi.

Dalam konteks kebudayaan Jawa [baca: Yogyakarta] dipercaya ada lima ‘penguasa’
tanah Jawa. Penguasa mistis di sebelah utara berada di gunung Merapi, di sebelah timur
di gunung Lawu, di sebelah selatan di samudera Indonesia, dan di sebelah barat ada
Tawangsari-khayangan Dlepih. Sedangkan penguasa yang di tengah berada di Kraton
Yogyakarta Hadiningrat.

Kanjeng Ratu sekar Kedaton bersama patihnya-Kyai Sapu Jagad menguasai Gunug
Merapi. Kanjeng Sunan Lawu menguasai gunung Lawu. Kanjeng Ratu Kidul menguasai
Samudera Indonesia [laut selatan]. Sang Hyang Pramoni menguasai Khayangan Dlepih.
Sedangkan penguasa Kraton Yogyakarta tentu saja Sultam Hamengku Buwono. Kelima
penguasa ini menyatu secara harmonis baik dalam mikro maupun makrokosmos.

Antara gunung Merapi dan Laut Selatan dihubungkan oleh sungai Opak yang di bagian
hulunya bernama sungai Gendol. Dipercaya bahwa kali Opak ini merupakan ‘jalan bebas
hambatan’ untuk para penguasa baik gunung Merapi maupun Laut Selatan yang sedang
mengunjungi satu sama lain.

Kata ‘opak’ juga memiliki cerita sendiri. Konon, pada suatu waktu ada seekor ular,
Ontoboga namanya, mencari sang ayah menyusuri sebuah sungai yang menghubungkan
Laut Selatan dengan gunung Merapi. Selama perjalanan itu, ia berteriak “O, Pak. O, Pak”
berulang kali. Orang yang tinggal di pinggir sungai itu lalu menyebutnya sebagai sungai
Opak.

Ontoboga berhasil menemui sang ayah, Kyai Sapu Jagad. Ia diakui sebagai anaknya dan
diberitugas menyangga gunung Merapi dengan cara melingkarkan badannya di kaki
gunung. Jika ular Ontoboga menggeliat atau menggerakkan ekornya karena penat akan
menghasilkan gempa bumi.

Letusan gunung Merapi dipahami sebagai tanda puncak perjumpaan asmara antara
penguasa gunung Merapi dengan penguasa Laut Selatan. Letusan merupakan perwujudan
dari lepasnya air mani yang mencari sel telur untuk dibuahi. Peristiwa ini akan berulang
secara periodic, antara dua hingga tujuh tahun.
Masyarakat gunung Merapi meyakini bahwa peristiwa seperti itu tidak dilakukan diam-
diam. Tetapi, sebaliknya akan didahului dengan isyarat-isyarat tertentu yang disampaikan
baik kepada orang-orang tertentu, seperti almarhum mbah Marijan maupun kepada
khalayak umum.

Misalnya, kepada orang-orang tertentu, jika sudah ‘dekat waktunya’ akan diperlihatkan
harimau putih yang lewat di desa-desa sekitar gunung Merapi. Kepada masyarakat umum
dimunculkan awan ‘Petruk’. Petruk merupakan salah satu tokoh wayang dalam kelompok
punakawan [pengasuh] para ksatria. Ia dikenal jujur dan terbuka. Karena itu, ia sering
menjadi ‘juru bicara’ para ksatria yang diasuhnya. Jika di atas gunung Merapi sudah
muncul awan Petruk maka letusan sudah dekat.

Masyarakat gunung Merapi juga percaya bahwa ‘wedus gembel’, lahar panas dan lahar
dingin itu ada yang ‘membawa’ melalui jalan-jalan tertentu. Jika menyimpang dari jalan-
jalan yang sudah tertentu itu berarti penguasa gunung Merapi sedang memerlukan
tambahan ‘pasukan’. Tambahan pasukan ini diambil dari satu atau beberapa penduduk
gunung Merapi. Karena itu, mereka yang menjadi korban letusan dipahami sebagai
‘dikersakaké’ Baureksa Merapi, sebuah kehormatan.

Peran raja Mataram dalam peristiwa letusan gunung Merapi juga tidak kecil. Jika Ngersa
Dalem berkenan, dengan melewati sungai-sungai yang sering dilalui lahar gunung
Merapi maka lahar tidak akan mengalir ke sebelah hilir dari tempat yang dilewati Sultan
tersebut. Sebagai contoh, pada tahun 1968, Sultan hamengku Buwono IX melintas di
sungai Boyong. Dampaknya, lahar dingin tidak mengalir sepanjang sungai itu yang di
kota Yogyakarta disebut kali Code.

Hubungan antara masyarakat dan gunung Merapi juga terasa inten. Masyarakat dan
Merapi sudah menyatu. Ketika lingkungan dirusak, gunung Merapi ‘marah’. Tetapi
kemarahan tersebut tidak selama-lamanya. Setelah reda, bumi menjadi semakin subur.
Masyarakat banyak ‘diberi’ rejeki, pasir dan tettumbuhan hijau subur.

Karena itu, pemikiran untuk merelokasi masyarakat gunung Merapi tidak mudah. Apalagi
jika relokasi itu bersifat ‘bedol desa’-memindahkan seluruh warga beserta perangkatnya
ke tempat lain. Relokasi hanya dapat dilakukan secara parsial dan hanya ‘pindah’ lokasi
di sekitarnya tempat tinggalnya saja. Misal, masih dalam satu desa.

Inilah sejumlah mitos yang hingga saat ini masih beredar kuat di sebagian masyarakat
sekitar gunung Merapi. Karena itu, penangan pengungsi letusan gunung Merapi sekarang
ini tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis-logis. Pendekatan kebudayaan sangat
diperlukan. Semoga!