Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENELITIAN

PENGELOLAAN DISTRIBUSI AIR UNTUK IRIGASI


DAN
PEMAHAMAN PARTISIPATIF KONDISI PEDESAAN
(Studi kasus Daerah Irigasi TINALUN)

Oleh:
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.

Dibiayai oleh:
Lembaga Penelitian – Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
Tahun anggaran 2001 - 2002

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2002
LEMBAR PENGESAHAN

Penelitian tentang : “Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman


Partisipatif Kondisi Pedesaan”
– Studi kasus Daerah Irigasi TINALUN –

Yang diteliti oleh : Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.

Telah dapat diselesaikan dengan melalui tahapan review.

Semarang, Juni 2002

Ir. Rini Utami, MT. Ir. David Widianto, MT.


Reviewer II Reviewer I

Lembaga Penelitian
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

PRAKATA

Dengan penuh rasa syukur pada Tuhan yang oleh penyelenggaraan kasih-Nya,
penulis menerima kesempatan untuk melakukan kegiatan penelitian ini sampai
selesainya penyusunan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Penelitian dengan judul: “Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan


Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan – Studi kasus Daerah Irigasi
TINALUN”, ini muncul sebagai tanggapan atas usaha pembaharuan kebijakan
pengelolaan irigasi Dinas Pekerjaan Umum bagian Pengairan Propinsi Jawa Tengah.
Dalam kebijakan yang seiring dengan gerakan reformasi pemerintah Indosesia ini
mulai diterapkan suatu metode yang sesuai: “Pemahaman Partisipatif Kondisi
Pedesaan”. Dalam metode ini masyarakat lebih diutamakan dalam segala keputusan
dan kegiatan pengelolaan distribusi air untuk irigasi sehingga akhirnya mereka
mampu untuk mandiri dalam pengelolaan selanjutnya. Selain itu penulis terdorong
oleh motivasi untuk menyumbangkan ilmu yang telah diterima dan
mengaplikasikannya dalam kenyataan problematika di lapangan yang dihadapi.
Kekhawatiran akan semakin terbatasnya ketersediaan air untuk keperluan irigasi dan
lainnya, menjadi tantangan untuk suatu pengaturan distribusi air yang optimal guna
menjaga kelestarian alam menyediakan air bagi kehidupan.

Ucapan syukur dan terima kasih tak terhingga penulis tujukan pula kepada:
1. Bp. Ir. Witjaksono, Dipl. HE, selaku kepala PU Pengairan Kabupaten
Semarang – Ungaran, yang telah memberikan ijin untuk dilakukannya
kegiatan penelitian ini.
2. Bp. Muin, BE, selaku kepala PU Pengairan Ranting Ungaran beserta staff,
yang telah banyak membantu dalam pengumpulan data untuk penelitian ini.
3. Bp. Soeroto, selaku ketua Forum Koordinasi P3A Dharma Tirta D.I. Tinalun,
yang telah banyak membantu dalam pengumpulan data untuk penelitian ini.
4. Ketua dan sekretaris Lembaga Penelitian UNIKA Soegijapranata Semarang
yang ikut mendukung dan memberi kesempatan untuk terlaksananya kegiatan
penelitian ini.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-1


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

5. Ir. Barnabas Untung S, MT. selaku koordinator penelitian di jurusan Teknik


Sipil yang ikut mendukung terlaksananya kegiatan penelitian ini.
6. Tim review: Ir. David Widianto, MT dan Ir. Rini Utami, MT. yang telah
membantu dalam melakukan penelitian ini.
7. Semua pihak yang dengan segala kebaikan dan kerelaannya telah membantu
menyelesaikan penelitian ini sampai pada penyusunan laporan hasil penelitian
ini.

Hasil penelitian ini tentu masih banyak kekurangan sehingga memerlukan


perbaikan lebih lanjut. Kepada para pembaca yang budiman, penulis sangat
mengharapkan saran-saran untuk memperoleh hasil yang lebih sempurna.

Akhirnya, penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk


perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya, maupun bagi
masyarakat luas dan pihak yang terkait pada khususnya.

Semarang, Juni 2002

Penulis

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-2


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

DAFTAR ISI:
Halaman:
PRAKATA i-1
DAFTAR ISI i-3
DAFTAR TABEL i-4
DAFTAR LAMPIRAN i-6
DAFTAR ISTILAH i-7
INTISARI/ABSTRACT i-8
BAB I PENDAHULUAN I-1
1. Latar Belakang Penelitian I-1
2. Perumusan Masalah I-1
3. Tujuan Penelitian I-2
4. Manfaat Penelitian I-2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II - 1
1. Pengelolaan Distribusi Air Irigasi Secara Optimal II - 1
2. Metode Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan
II - 9
(PPKP)
BAB III METODE PENELITIAN III - 1
1. Inventarisasi Data III - 1
2. Kunjungan ke Lokasi dan Questioner III - 2
3. Analisa Data dan Simulasi Kebutuhan Air Irigasi III - 3
BAB IV ANALISA DATA DAN EVALUASI
1. Analisa Data Iklim IV - 1
2. Analisa Data Curah Hujan IV - 2
3. Analisa Data Debit IV - 3
4. Analisa Data Questioner IV - 4
5. Simulasi Kebutuhan Air Irigasi dengan
IV - 8
Menggunakan “Cropwat” – Komputer Model
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V-1
DAFTAR PUSTAKA ii - 1
LAMPIRAN

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-3


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

DAFTAR TABEL:

Halaman:
Tabel 2.1. Koefisien Tanaman Padi dan Palawija Jenis Jagung II - 4
Koefisien Tanaman Padi dan Palawija Jenis Jagung (FAO
Tabel 2.2. II - 4
– ID No.33)
Kebutuhan Air Tanaman Padi Sesuai Tahap
Tabel 2.3. II - 5
Pertumbuhan-nya
Kebutuhan Air Tanaman Palawija Sesuai Tahap Pertum-
Tabel 2.4. II - 5
buhannya
Hasil Pengolahan Data Iklim Stasiun Klimatologi Klas I -
Tabel 4.1. IV - 2
Semarang
Hasil Pengolahan Data Curah Hujan Pada Stasiun Penakar
Tabel 4.2. IV - 3
Hujan Sta. Klepu
Tabel 4.3. Hasil Pengolahan Data Debit Pda Bendung Tinalun IV - 4
Hasil Perhitungan Evapotransipasi Potensial Sta.
Tabel 4.4. IV - 8
Klimatologi Semarang

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-4


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

DAFTAR GAMBAR:

Halaman:
Gambar 2.1. Diagram Proses Pelaksanaan PPKP II - 14
Gambar 3.1. Bagan Alir Metode Penelitian III - 1

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-5


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

DAFTAR LAMPIRAN:

Halaman:
Lampiran 1 Jaringan Irigasi di Daerah Irigasi Tinalun L1
Lampiran 2 Data dan Analisa Klimatologi L2
Lampiran 3 Data dan Analisa Curah Hujan L3
Lampiran 4 Data dan Analisa Debit Total Pada Bendung Tinalun L4
Lampiran 5 Data Organisasi Forum Koordinasi P3A Dharma Tirta
L5
D.I. Tinalun dan Hasil Questioner
Lampiran 6 Simulasi Kebutuhan Air Irigasi dan Neraca Air L6

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-6


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

DAFTAR ISTILAH:

AD/ART : Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga


DO : Daerah Oncoran
Ds : Desa
ET0 : Potensial Evaporation
ETpot : Potential Evapotranspiration
ETref : Reference Evapotranspiration
FAO : Food and Agriculture Organisation of The United Nations
ID : Irrigation and Drainage
kc : Crop Coefficient
KPL : Kelompok Pemandu Lapang
M&E : Monitoring and Evaluation
MT 1 : Masa Tanam Pertama
MT 2 : Masa Tanam Kedua
MT 3 : Masa Tanam Ketiga
Petandu : Petani Pemandu
PPKP : Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan
PRA : Participatory Rural Appraisal
PU : Pekerjanaan Umum
P3A : Perkumpulan Petani Pemakai Air
SDM : Sumber Daya Manusia

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-7


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

INTISARI / ABSTRACT:

As an agricultural country, Indonesia deals with an Irrigation and Drainage


Management intensively. During the “Orde Baru” period, government built a lot of
Irrigation structure to support the available food for people themselves. This action
gave an impact of government strategy to the building irrigation structure as we call
as the “Top – Down” policy.

Nowadays, in the “Reformation” period, government realise that the “Top –


Down” policy is not giving benefit to the farmer even causes the farmer has no self
belonging to the irrigation structure. The government try to apply the method as we
call as the “Participatory Rural Appraisal” to build a consciousness of the farmer to
the irrigation and drainage management for a sustainable irrigation drainage system.

The application of the “Participatory Rural Appraisal” method really gives the
positive impact to the farmer, especially in the “Tinalun” irrigation area, to realise the
important of irrigation and drainage management for irrigation drainage system, but
they still depend on the government subsidising to support the budget of this
management.

The continuing of the “Participatory Rural Appraisal” method for a readiness


of the farmer to manage the irrigation and drainage system themselves is needed for
maintains a sustainable of irrigation and drainage management because government
has a limit budget to support this management.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 - 2002 i-8


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG PENELITIAN


Daerah Irigasi Tinalun yang mempunyai daerah oncoran (DO) 1025 ha, terletak di
kecamatan Pringapus meliputi 6 desa: Ds. Klepu, Ds. Pringapus, Ds. Pringsari, Ds.
Wonorejo, Ds. Wonoyoso dan Ds. Candirejo, mengambil air untuk keperluan irigasi dari
Kali Klampok. Daerah irigasi yang mempunyai luas lahan potenisal 994 ha ini sekarang
termasuk dalam pengelolaan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang – Subdin
Pengairan.

Kondisi ketersediaan air untuk irigasi pada daerah irigasi Tinalun ini sangat
kurang namun kemampuan daerah irigasi ini cukup baik. Di Ds. Wonorejo, Ds.
Wonoyoso dan Ds. Candirejo pertanian adalah usaha utama. Petani di desa ini menanam
padi pada musim tanam pertama dan kedua langsung disusul tanaman palawija jenis
jagung dan kacang tanah atau kedelai yang ditanam secara tumpang sari atau kadang-
kadang menanam tembako dan sebagian ada yang menanam tebu. Sedangkan di Ds.
Klepu, Ds. Pringsari dan Ds. Pringapus pertanian merupakan usaha sambilan dan petani
di desa ini hanya menanam padi pada musim pertama dan kedua kemudian bero.

Pengelolaan distribusi air irigasi yang optimal diharapkan dapat meningkatkan


kemampuan hasil tanam di daerah irigasi Tinalun ini yang didukung dengan pemahaman
partisipatif kondisi pedesaan yang tepat.

2. PERUMUSAN MASALAH
Beberapa masalah yang dapat dirumuskan antara lain:
1. Ketersediaan air yang jauh dari mencukupi untuk daerah irigasi dengan luas lahan
sekitar 994 ha dengan kreatifitas petani yang berkehendak meningkatkan kemampuan
pertanian di daerahnya, khususnya di Ds. Wonorejo, Ds. Wonoyoso dan Ds.
Candirejo.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 I-1


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

2. Pengaturan dan pengelolaan distribusi air irigasi yang jauh dari efisien (efisiensi
distribusi air irigasi sekitar 50 %) karena penggunaan air untuk hal-hal lain misalnya
home industri, industri Kanigara, rumah tangga dll. selain untuk irigasi.
3. Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan, meliputi aspek sosial – budaya, ekonomi
dan dampak lingkungan, yang belum optimal.
4. Keterbatasan sumber daya manusia – SDM bagi subdin Pengairan – Dinas PU
Kabupaten Semarang yang mendorong subdin untuk mengalihkan daerah irigasi ini
kepada kemampuan masyarakat sendiri untuk mengelolanya.

3. TUJUAN PENELITIAN
Menemukan pengaturan – pengelolaan distribusi air irigasi yang efisien – optimal
untuk daerah irigasi Tinalun yang dimungkinkan untuk didukung secara partisipatif oleh
masyarakat sendiri sehingga petani (Perkumpulan Petani Pemakai Air – P3A) siap untuk
menerima pengelolaan distribusi air irigasi secara mandiri.

4. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini dapat memberikan sumbangan kepada pemerintah
daerah Kabupaten Semarang dinas Pekerjaan Umum – Subdin Pengairan dalam
mempersiapkan masyarakat, khususnya P3A untuk menerima pengelolaan distribusi air
irigasi di daerahnya secara mandiri.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 I-2


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kajian pustaka yang mendasari penelitian ini adalah bagaimana mengelola


distribusi air secara optimal untuk memberikan hasil pertanian yang maksimal dan
efektif, serta metode Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan yang sedang
dikembangkan untuk menunjang pengelolaan distribusi air secara optimal tersebut.

1. PENGELOLAAN DISTRIBUSI AIR IRIGASI SECARA OPTIMAL


Pengelolaan atau pengaturan air irigasi secara optimal dipengaruhi oleh kebutuhan
air irigasi, ketersediaan air, pembagian air itu sendiri ke lahan layanan irigasi dan sistem
pola tanam di daerah layanan irigasi.

KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Komponen kebutuhan air irigasi yang utama adalah kebutuhan air untuk tanaman
yang ditambah dengan komponen lain, antara lain: perkolasi atau rembesan ke bawah dan
ke samping, penguapan muka air bebas, bocoran, dll.

Kebutuhan air tanaman adalah jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman untuk
proses pertumbuhannya sehingga diperoleh produksi yang baik. Kebutuhan air tanaman
ditentukan oleh EVAPORASI dan TRANSPIRASI. Evaporasi adalah proses menguapnya
air dari permukaan tanah atau air, sedangkan transpirasi adalah proses menguapnya air
dari bagian tubuh tanaman.

Dalam kondisi medan (field condition) tidak mungkin membedakan antara


evaporasi dengan transpirasi jika tanahnya tertutup oleh tumbuh-tumbuhan. Kedua proses
tersebut saling berkaitan sehingga dinamakan EVAPOTRANSPIRASI. Jumlah kadar air
yang hilang dari tanah oleh evapotranspirasi tergantung pada:
a. persediaan air yang cukup (hujan dan lain-lain)
b. faktor-faktor iklim seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin dan lain-lain
c. tipe dan cara kultivasi tumbuh-tumbuhan tersebut

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 1


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Faktor lain yang penting dalam proses transpirasi ini adalah jumlah air yang
tersedia. Jika jumlah air selalu tersedia secara berlebihan dari yang diperlukan oleh
tanaman selama proses transpirasi ini, maka jumlah air yang ditranspirasikan akan lebih
besar dibandingkan apabila tersedianya air di bawah keperluan. Evaporasi yang mungkin
terjadi pada kondisi air yang tersedia berlebihan disebut evaporasi potensial. Evaporasi
yang sesungguhnya terjadi dalam kondisi air tidak berlebihan yang sering terjadi di
lapangan disebut evaporasi aktual.

Metode yang paling teliti untuk menaksir besarnya evapotranspirasi dari suatu
permukaan yang tertutup tanaman adalah melalui proses simulasi dari kombinasi aliran
tidak jenuh di dalam tanah dengan evapotranspirasi. Pendekatan diambil berdasarkan
adaptasi dari Monteith terhadap formula Penman. Situasi-situasi yang detail dan teliti dari
data meteorologi yang diperlukan adalah sulit didapatkan. Karenanya penaksiran dalam
perhitungan evapotranspirasi aktual maupun evapotranspirasi potensial adalah cukup.

Evapotranspirasi potensial dapat dihitung dengan menggunakan persamaan


Penman-Monteith yang lebih dikenal sebagai metode “one-step”. Pendekatan ini
memerlukan data-data dari koefisien tanaman yang tidak selalu tersedia. Metode “two-
step” lebih dikenal. Evapotranspirasi potensial dari tanaman dihitung dari persamaan:

ET pot = k c ET ref
dimana kc adalah koefisien tanaman dan ETref adalah evapotranspirasi referensi.

Evapotranspirasi referensi didefinisikan sebagai laju evapotranspirasi dari rumput


hijau setinggi 8 – 15 cm yang menutupi permukaan tanah dan dalam kondisi tidak
kekurangan air. Doorenbos dan Pruitt dalam Makalah FAO – ID No. 24 (1977)
menjelaskan prosedur dari metode Penman Modifikasi yang banyak dipakai dan
khususnya dipakai dalam perhitungan evapotranspirasi dari komputer model “Cropwat
versi 5.5”. Dasar dari metode Penman Modifikasi ini adalah dari perhitungan Penman
untuk permukaan air terbuka seperti kolam, danau, waduk dan lain sebagainya.
Modifikasi dari metode ini terletak pada perhitungan radiasi matahari netto yang diganti
langsung dengan koefisien 0.25, dan juga adanya penambahan faktor kecepatan angin
sebagai penyesuaian pada keadaan yang tidak standar.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 2


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Persamaan dari metode Penman Modifikasi adalah sebagai berikut :

ETref = c.{ W . Rn + ( 1-W ) f ( u ) ( ea – ed )}

dimana :
ETref = evapotranspirasi referensi
W = suatu faktor, tergantung dari temperatur
Rn = radiasi netto dalam evapotranspirasi ekivalen (mm/hari)
f(u) = faktor yang tergantung dari kecepatan angin
(ea – ed) = perbedaan tekanan uap jenuh rata-rata dengan tekanan
uap rata-rata yang sesungguhnya (mbar)
c = faktor penyesuaian yang tergantung dari kondisi cuaca
siang dan malam.

Secara praktis kebutuhan air untuk tanaman seringkali ditaksirkan dari suatu
evapotranspirasi referensi ETref dan koefisien tanaman kc dengan mengikuti persamaan

berikut: ET crop = k c ET ref


dimana kc : koefisien tanaman, menunjukkan karakteristik spesifik dari
tanaman, dan
ETref : evapotranspirasi referensi yang tergantung dari faktor iklim.

Koefisien tanaman dapat dibedakan dalam 4 tingkatan:


I. Tingkatan awal (initial stage) dari tanggal tanam sampai permukaan tanah ditutupi
tanaman (Sc) sekitar 10 %
II. Tingkatan pertumbuhan tanaman (crop development stage) yaitu dari Sc = 10 %
sampai Sc = 70 – 80 %
III. Tingkatan pertengahan (mid-season stage) yaitu dari Sc = 70 – 80 % sampai tanaman
dewasa
IV. Tingkatan akhir (late season stage) yaitu dari tanaman dewasa sampai berbuah atau
panen.

Di Indonesia, koefisien tanaman biasanya mengacu pada tabel koefisien tanaman


yang diusulkan oleh Nedeco/Prosida atau FAO. Dalam komputer model “Cropwat versi

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 3


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

5.5” koefisien tanaman yang dipakai mengacu pada makalah FAO – ID No.33 yang
nilainya sesuai dengan tingkat pertumbuhan dari tanaman (4 tingkatan di atas). Koefisien
tanaman untuk padi dan palawija jenis jagung menurut Nedeco/Prosida atau FAO dapat
dilihat dalam tabel 2.1 sedangkan koefisien tanaman padi dan palawija jenis jagung
menurut FAO – ID No.33 dapat dilihat dalam tabel 2.2.

Tabel 2.1. Koefisien Tanaman Padi dan Palawija Jenis Jagung

Umur Padi (Nedeco/Prosida) Padi (FAO) Jagung


(bulan) Lokal Unggul Lokal Unggul (90)
0.5 1.20 1.20 1.10 1.10 0.50
1.0 1.20 1.27 1.10 1.10 0.59
1.5 1.32 1.33 1.10 1.05 0.96
2.0 1.40 1.30 1.10 1.05 1.05
2.5 1.35 1.15 1.05 0.95 1.02
3.0 1.24 0.00 1.05 0.00 0.95
3.5 1.12 0.95
4.0 0.0 0.0
Sumber: Dir. Jen. Pengairan, 1985

Tabel 2.2. Koefisien Tanaman Padi dan Palawija Jenis Jagung (FAO – ID No.33)

Crop Development Stages Padi Jagung

Initial 1 – 1.15 0.3 – 0.5


Crop development 1 – 1.15 0.7 – 0.9
Mid – Season 1.1 – 1.3 1.05 – 1.2
Late Season 0.95 – 1.05 1.0 – 1.15
Harvest 0.95 – 1.05 0.95 – 1.1
Total growing period 1.05 – 1.2 0.8 – 0.95
Sumber: FAO – ID No. 33
Catatan:
First figure : under high humidity (Rhmin > 70 %) and low wind (U < 5 m/sec)
Second figure: under low humidity (Rhmin < 20 %) and strong wind (U > 5 m/sec)

Menurut buku seri modul Pelatihan Tata Guna air PT 1: Kebutuhan air irigasi,
kebutuhan air tanaman padi sesuai tahap pertumbuhanya dituliskan dalam tabel 2.3,

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 4


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

sedangkan kebutuhan air tanaman palawija sesuai tahap pertumbuhannya dituliskan


dalam tabel 2.4.
Tabel 2.3. Kebutuhan air tanaman padi sesuai tahap pertumbuhannya

Varietas lokal Varietas unggul


Tahap Kegiatan/
Periode Periode
Pertumbuhan mm/hari l/det/ha mm/hari l/det/ha
(hari) (hari)
Pengolahan tanah 12.7 1.5 - 12.7 1.5 -
Pembibitan 3.0 0.4 20 3.0 0.4 20
Tanam s.d. primordia 7.5 0.9 40 6.4 0.75 35
Primordia s.d. bunga 8.8 1.0 25 7.7 0.9 20
Bunga 10% s.d. penuh 8.8 1.0 20 9.0 1.0 20
Bunga penuh s.d. panen 8.4 1.0 20 7.8 0.9 20
Sumber: Seri Modul Kebutuhan Air Irigasi(PT1), 2000

Tabel 2.4. Kebutuhan air tanaman palawija sesuai tahap pertumbuhannya


Kebutuhan air sesuai periode pertumbuhannya (l/det/ha)
Jenis Tanaman
Permulaan tumbuh Pengembangan Pertumbuhan Masak
Jagung 0.25 0.36 0.50 0.37
Kedelai 0.25 0.35 0.50 0.30
Kacang hijau 0.17 0.30 0.40 0.30
Kacang tanah 0.17 0.34 0.40 0.35
Sumber: Seri Modul Kebutuhan Air Irigasi(PT1), 2000

“CROPWAT” KOMPUTER MODEL

Cropwat merupakan suatu program komputer “under DOS” (Program yang


dipakai melalui perintah DOS) untuk menghitung evapotranspirasi Penman Modifikasi
dan kebutuhan air untuk tanaman. Selanjutnya dapat juga menghitung kebutuhan air
irigasi, jadwal pemberian air irigasi untuk macam-macam kondisi pengelolaan dan suplai
air untuk seluruh daerah irigasi dengan bermacam-macam pola tanam tertentu. Untuk
perhitungan tersebut, dibutuhkan data-data klimatologi dan data-data lainnya misalnya
data tanaman dan data pola tanam.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 5


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Prosedur dalam perhitungan kebutuhan air bagi tanaman dan rencana kebutuhan
air untuk irigasi ini didasarkan pada makalah FAO – ID No. 24 mengenai “Kebutuhan air
bagi tanaman” dan No. 33 mengenai “Respon tanaman terhadap air”.

Program ini berarti sebagai alat praktis untuk membantu para ahli melakukan
perhitungan dalam perencanaan dan pengelolaan suatu daerah irigasi. Lebih lanjut,
program ini diharapkan dapat membantu memberikan rekomendasi untuk memperbaiki
irigasi yang telah ada, dan merencanakan jadwal irigasi yang sesuai dengan kondisi suplai
air yang beraneka ragam.

Beberapa hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan penggunaan komputer model
“Cropwat” ini antara lain mengenai: perhitungan evapotranspirasi referensi; pemrosesan
data curah hujan; pola tanam dan data tanaman.

PERHITUNGAN EVAPOTRANSPIRASI REFERENSI


Evapotranspirasi referensi atau ETo adalah evapotranpirasi potensial dari tanaman
rumput yang sehat dan mendapat air cukup. Kebutuhan air untuk tanaman lain secara
langsung dibandingkan dengan parameter iklim ini.

Metode Penman Modifikasi (FAO – ID No.24) secara umum telah diterima


sebagai metode yang cukup untuk menghitung evapotranspirasi dari data klimatologi
seperti: temperatur, kelembaban (humidity), radiasi penyinaran (sunshine) dan kecepatan
angin (windspeed). Data klimatologi harus diambil dari stasiun terdekat dan yang paling
mewakili daerah kajian. Data pertama yang penting dari stasiun klimatologi ini adalah
elevasi ketinggian (altitude) dan “latitude”. Masukan data klimatologi meliputi tiap
bulanan:
1. Temperatur Æ dalam derajat Celcius, dapat sebagai temperatur rata-rata harian
atau sebagai temperatur maksimum dan minimum dalam bulan.
2. Kelembaban udara (air humidity) Æ dapat diberikan sebagai kelembaban relatif
(relative humidity) dalam persen (0 – 100) atau “vapour pressure” dalam mbar (1
– 50). Untuk membedakan diantara kedua satuan di atas, nilai “vapour pressure”
dimasukkan sebagai nilai negatif, misalnya 12.5 mbar ditulis – 12.5.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 6


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

3. Penyinaran (daily sunshine) Æ dapat diberikan sebagai persentase (20 – 100) dari
perbandingan penyinaran terhadap panjang hari; atau pecahan (0 – 1) atau sebagai
lamanya penyinaran dalam jam (1 – 20).
4. Kecepatan angin (windspeed) Æ dapat diberikan dalam km/hari (10 – 500) atau
m/det (0 – 10).
5. Nilai > 10 menafsirkan sebagai kecepatan angin dalam km/hari
Nilai < 10 menafsirkan sebagai kecepatan angin dalam m/det

PEMROSESAN DATA CURAH HUJAN


Hujan memberikan kontribusi yang besar dari kebutuhan air untuk tanaman.
Selama musim hujan, sebagian besar kebutuhan air dipenuhi oleh hujan sementara dalam
musim kering dipenuhi oleh air irigasi. Berapa jumlah air yang datang dari curah hujan
dan berapa jumlah air yang harus dipenuhi oleh air irigasi adalah sulit diperkirakan.
Curah hujan sangat bervariasi setiap tahunnya.

Untuk mengestimasi kekurangan curah hujan yang harus dipenuhi oleh air irigasi
diperlukan suatu analisa statistik yang membutuhkan data curah hujan yang panjang.
Sedangkan tidak semua curah hujan yang jatuh digunakan oleh tanaman. Sebagian hujan
hilang karena limpasan permukaan (run off) atau karena perkolasi yang dalam jauh di luar
daerah akar tanaman.

Untuk menentukan bagian hujan yang dapat diperhitungkan sebagai air yang
dapat digunakan oleh tanaman, beberapa definisi diberikan:
1. Curah hujan rata-rata bulanan (“average monthly rainfall”) Æ adalah nilai
rata-rata dari suatu data curah hujan. Digunakan dalam perhitungan kebutuhan air
tanaman dalam keadaan iklim yang rata-rata.
2. “Dependable rainfall” Æ jumlah hujan dapat tergantung dari 1 di luar 4 atau 5
tahun tergantung pada 75 atau 80 % kemungkinan terlampaui dan menunjukkan
suatu tahun kering normal. “Dependable rainfall” digunakan untuk merencanakan
kapasitas sistem irigasi.
3. Hujan dalam tahun basah, tahun normal dan tahun kering Æ adalah hujan
dengan kemungkinan terlampaui 20% untuk tahun basah, 50% – tahun normal dan

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 7


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

80% untuk tahun kering. Ketiga nilai tersebut sangat berguna untuk merencanakan
suplai air irigasi dan simulasi dari macam-macam kondisi pengelolaan irigasi.
4. “Effective rainfall” Æ didefinisikan sebagai bagian dari hujan yang secara
efektif digunakan oleh tanaman setelah beberapa hilang karena limpasan
permukaan (run off) dan perkolasi yang dalam diperhitungkan. Hujan efektif ini
digunakan untuk menentukan kebutuhan irigasi bagi tanaman.

Untuk perencanaan suplai air dan pengelolaan irigasi, data hujan dalam tahun
basah, tahun normal dan tahun kering biasanya digunakan. Suatu estimasi dari data curah
hujan yang ada dapat ditemukan dengan menghitung mengeplotkan data pada grafik
probabilitas dalam langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tabulasikan data curah hujan tahunan yang ada
2. Atur data dalam urutan nilai yang menurun
3. Tabulasikan “plotting position” menurut:
m
Fa = 100 ⋅ dimana: N = jumlah data
N +1
m = nomer urut
Fa = “plotting position”
4. Plot nilai pada kertas grafik log-normal
5. Pilih nilai tahunan untuk kemungkinan terlampaui 20 %, 50 % dan 80 %
6. Nilai curah hujan bulanan untuk tahun kering dihitung dengan persamaan:

Pdry
Pi dry = Pi av ⋅
Pav

dimana: Pi av = curah hujan rata-rata bulanan pada bulan i


Pi dry = curah hujan bulanan dalam tahun kering pada bulan i

Pav = curah hujan rata-rata tahunan


Pdry = curah hujan tahunan pada 80 % kemungkinan terlampaui
Dengan cara yang sama dapat dihitung curah hujan bulanan untuk tahun normal
dan tahun basah.
POLA TANAM DAN DATA TANAMAN

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 8


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Kebutuhan air irigasi selain tergantung dari curah hujan juga tergantung dari data
tanaman dan pola tanam yang disusun. Data tanaman meliputi: sifat-sifat dari tanaman
yang diungkapkan oleh koefisien tanaman kc dan lama pertumbuhan tanaman yaitu dalam
tingkatan-tingkatan pertumbuhan. Dari data tanaman ini dapat dihitung kebutuhan air
untuk tanaman. Dengan menambahkan data tanggal tanam pertama, maka kebutuhan air
irigasi untuk tanaman dapat ditemukan. Data pola tanam dari beberapa jenis tanaman
yang tumbuh dalam daerah irigasi yang disusun secara skematik diperlukan untuk
menghitung kebutuhan air irigasi

2. METODE PEMAHAMAN PARTISIPATIF KONDISI PEDESAAN (PPKP)


Kata partisipasi masyarakat sudah lebih dari satu dasawarsa menjadi kata kunci
dalam bahasa masyarakat pembangunan namun dalam kenyataannya program
pembangunan dan pengembangan masyarakat masih juga dilakukan dengan cara lama
yang mengabaikan konsep partisipasi. Program pembangunan masih saja diturunkan “dari
atas” dan masyarakat tinggal melaksanakannya tanpa adanya keterlibatan langsung
masyarakat yang menjadi sasaran program tersebut. Kalaupun ada penjajagan yang
dilakukan oleh lembaga penelitian atau perguruan tinggi yang karena beberapa asumsi
yang kurang tepat, maka program tidak menyentuh kebutuhan yang sesungguhnya.
Dengan sendirinya dukungan masyarakat terhadap program tersebut menjadi pura-pura,
demikianlah pula partisipasinya yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dari program
tersebut.

Alasan-alasan yang demikian inilah melahirkan beragam pemikiran tentang


pendekatan pengembangan program yang lebih partisipatif. Istilah-istilah partisipasi
masyarakat, perencanaan dari bawah (bottom-up planing), penyadaran, pendekatan yang
berpusat pada petani (farmer centered approach), dan lain-lain menjadi kosa kata para
aktivis pembangunan, baik pemerintah maupun swasta, walaupun kenyataannya belum
mencerminkan arti kata tersebut. Program-program yang ada masih saja tetap diturunkan
dari atas (top-down approach), direncanakan dari meja kantor, sementara masyarakat
diperkenankan berpartisipasi dalam pelaksanaan fisik di lapangan, sehingga tingkatan
partisipasinya masih layak disebut sebagai mobilisasi.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 9


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Latar belakang yang demikian kemudian mendorong untuk diperkenalkannya


salah satu metode dan teknik yang dikenal dengan Pemahaman Partisipasi Kondisi
Pedesaan (PPKP) atau Participatory Rural Appraisal (PRA), karena dipandang telah
memiliki teknik-teknik yang dijabarkan cukup operasional dengan konsep bahwa
keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam seluruh kegiatan. Pendekatan PPKP
memang bercita-cita menjadikan masyarakat menjadi peneliti, perencana, dan pelaksana
pembangunan dan bukan sekedar obyek pembangunan. Tekanan aspek penelitian bukan
pada validitas data yang diperoleh, namun pada nilai praktis untuk pengembangan
program itu sendiri. Penerapan pendekatan dan teknik PPKP dapat memberi peluang yang
lebih besar dan lebih terarah untuk melibatkan masyarakat. Selain itu melalui pendekatan
PPKP akan dapat dicapai kesesuaian dan ketepatgunaan program dengan kebutuhan
masyarakat sehingga keberlanjutan (sustainability) program dapat terjamin.

MAKSUD DAN TUJUAN


PPKP adalah suatu metode pendekatan untuk mempelajari kondisi dan kehidupan
pedesaan dari, dengan, dan oleh masyarakat desa. Atau dengan kata lain dapat disebut
sebagai kelompok metode pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling
berbagi, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan
kehidupan desa, membuat rencana dan bertindak (Chambers, 1995)

Tujuan kegiatan PPKP yang utama ialah untuk menghasilkan rancangan program
yang gayut dengan hasrat dan keadaan masyarakat. Terlebih itu tujuan pendidikannya
adalah untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam menganalisa keadaan
mereka sendiri dan melakukan perencanaan melalui kegiatanaksi. Dapat disebutkan
bahwa PPKP adalah sekumpulan pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat
pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka
mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri, agar mereka dapat membuat rencana dan
tindakan. (Chambers, 1995)

PRINSIP DASAR
1. Saling belajar dari kesalahan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat
PPKP adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti bahwa PPKP dibangun
dari pengakuan serta kepercayaan masyarakat yang meliputi pengetahuan

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 10


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

tradisional dan kemampuan masyarakat untuk memecahkan persoalannya sendiri.


Prinsip ini merupakan pembalikan dari metode pembelajaran konvensional yang
bersifat mengajari masyarakat. Kenyataan membuktikan bahwa dalam
perkembangannya pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidak
sempat mengejar perubahan yang terjadi, sementara itu pengetahuan modern yang
diperkenalkan orang luar tidak juga selalu memecahkan masalah. Oleh karenanya
diperlukan ajang dialog diantara keduanya untuk melahirkan sesuatu program
yang lebih baik. PPKP bukanlah suatu perangkat teknik tunggal yang telah
selesai, sempurna dan pasti benar. Oleh karenanya metode ini selalu harus
dikembangkan yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Kesalahan yang
dianggap tidak wajar, bisa saja menjadi wajar dalam proses pengembangan PPKP.
Bukannya kesempurnaan penerapan yang ingin dicapai, namun penerapan sebaik-
baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada dan mempelajari kekurangan yang
terjadi agar berikutnya menjadi lebih baik. Namun PPKP bukan kegiatan coba-
coba (trial and error) yang tanpa perhitungan kritis untuk meminimalkan
kesalahan.

2. Keterlibatan semua anggota kelompok, menghargai perbedaan, dan


informal.
Masyarakat bukan kumpulan orang yang homogen, namun terdiri dari berbagai
individu yang mempunyai masalah dan kepentingan sendiri. Oleh karenanya
keterlibatan semua golongan masyarakat adalah sangat penting. Golongan yang
paling diperhatikan justru yang paling sedikit memiliki akses dalam kehidupan
sosial komunitasnya (miskin, perempuan, anak-anak, dll). Masyarakat heterogen
memiliki pandangan pribadi dan golongan yang berbeda. Oleh karenanya
semangat untuk saling menghargai perbedaan tersebut adalah penting artinya.
Yang terpenting adalah pengorganisasian masalah dan penyusunan prioritas
masalah yang akan diputuskan sendiri oleh masyarakat sebagai pemiliknya.
Kegiatan PPKPdilaksanakan dalam suasana yang luwes, terbuka, tidak memaksa,
dan informal. Situasi santai tersebut akan mendorong tumbuhnya hubungan akrab,
karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota bukan sebagai tamu
asing yang harus disambut secara protokoler. Dengan demikian suasana
kekeluargaan akan dapat mendorong kegiatan PPKP berjalan dengan baik.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 11


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

3. Orang luar sebagai fasilitator, masyarakat sebagai pelaku.


Konsekuensi dari prinsip pertama, peran orang luar hanya sebagai fasilitator,
bukan sebagai pelaku, guru, penyuluh, instruktur, dll. Perlu bersikap rendah hati
untuk belajar dari masyarakat dan menempatkannya sebagai nara sumber utama.
Bahkan dalam penerapannya, masyarakat dibiarkan mendominasi kegiatan. Secara
ideal sebaiknya penentuan dan penggunaan teknik dan materi hendaknya dikaji
bersama, dan seharusnya banyak ditentukan oleh masyarakat.

4. Konsep triangulasi.
Untuk bisa mendapatkan informasi yang kedalamannya dapat diandalkan, bisa
digunakan konsep triangulasi yang merupakan bentuk pemeriksaan dan
pemeriksaan ulang (check and rechek). Triangulasi dilakukan melalui
penganekaragaman keanggotaan tim (disiplin ilmu), sumber informasi (latar
belakang golongan masyarakat, tempat), dan variasi teknik.
a. Penggunaan variasi dan kombinasi berbagai teknik PPKP, yaitu bersama
masyarakat bisa diputuskan variasi dan kombinasi teknik PPKP yang paling
tepat sesuai dengan proses belajar yang diinginkan dan cakupan informasi
yang dibutuhkan dalam pengembangan program
b. Menggali berbagai jenis dan sumber informasi, dengan mengusahakan
kebenaran data dan informasi (terutama data sekunder) harus dikaji ulang dan
sumbernya dengan menggunakan teknik lain.
c. Tim PPKP yang multidisipliner, dengan maksud sudut pandang yang berbeda
dari anggota lain akan memberi gambaran yang lebih menyeluruh terhadap
penggalian informasi dan memberi pengamatan mendalam dari berbagai sisi.

5. Mengoptimalkan hasil, berorientasi praktis, dan keberlanjutan program.


Pelaksanaan PPKP memerlukan waktu, tenaga narasumber, pelaksana yang
trampil, partisipasi masyarakat yang semuanya terkait dengan dana. Untuk itu
optimalisasi hasil dengan pilihan yang menguntungkan mutlak harus
dipertimbangkan. Oleh karenanya kuantitas dan akurasi informasi sangat
diperlukan agar jangan sampai kegiatan yang berskala besar namun biaya yang
tersedia tidak cukup. Orientasi PPKP adalah pemecahan masalah dan

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 12


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

pengembangan program. Dengan demikian dibutuhkan penggalian informasi yang


tepat dan benar agar perkiraan yang tepat akan lebih baik daripada kesimpulan
yang pasti tetapi salah, atau lebih baik mencapai perkiraan yang hampir salah
daripada kesimpulan yang hampir benar. Masalah dan kepentingan masyarakat
selalu berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.
Karenanya, pengenalan masyarakat bukan usaha yang sekali kemudian selesai,
namun merupakan usaha yang berlanjut. Bagaimanapun juga program yang
mereka kembangkan dapat dipenuhi dari prinsip dasar PPKP yang digerakkan dari
potensi masyarakat.

STRUKTUR PROGRAM
Karena tujuan penerapan metode PPKP adalah pengembangan program bersama
masyarakat, penerapannya perlu senantiasa mengacu pada siklus pengembangan program.
Gambaran umum siklus tersebut secara ringkas adalah sbb:
a. Pengenalan masalah/kebutuhan dan potensi, dengan maksud untuk menggali
informasi tentang keberadaan lingkungan dan masyarakat secara umum.
b. Perumusan masalah dan penetapan prioritas guna memperoleh rumusan atas dasar
masalah dan potensi setempat.
c. Identifikasi alternatif pemecahan masalah atau pengembangan gagasan guna
membahas berbagai kemungkinan pemecahan masalah melalui urun rembug
masyarakat.
d. Pemilihan alternatif pemecahan yang paling tepat sesuai dengan kemampuan
masyarakat dan sumberdaya yang tersedia dalam kaitannya dengan swadaya.
e. Perencanaan penerapan gagasan dengan pemecahan masalah tersebut secara
konkritagar implementasinya dapat secara mudah dipantau.
f. Penyajian rencana kegiatan guna mendapatkan masukan untuk
penyempurnaannya di tingkat yang lebih besar.
g. Pelaksanaan dan pengorganisasian masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan
tingkat perkembangan masyarakat.
h. Pemantauan dan pengarahan kegiatan untuk melihat kesesuaiannya dengan
rencana yang telah disusun.
i. Evaluasi dan rencana tindak lanjut untuk melihat hasil sesuai yang diharapkan,
masalah yang telah terpecahkan, munculnya masalah lanjutan, dll.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 13


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

PROSES PELAKSANAAN PPKP


Proses pelaksanaan PPKP di tingkat kabupaten sampai tingkat kecamatan/desa
dapat digambarkan dalam diagram proses pelaksanaan PPKP sebagai berikut:

Gambar 2.1. Diagram Proses Pelaksanaan PPKP


Penjelasan PPKP pada Tim Kabupaten
Oleh Nara Sumber

Penjelasan PPKP kepada Tim Kecamatan/


Kelompok Pemandu Lapang (KPL)
oleh Tim Kabupaten

Pelaksanaan PPKP di tingkat tersier/sekunder/primer


oleh Tim Kecamatan/KPL

Kelompok Pemandu Lapangan


Tim pemandu P3A tingkat Kabupaten
Kunjungan awal:
ƒ Pembertahuan
ƒ Pengumpulan data sekunder
ƒ Penentuan peserta pertemuan

Observasi Lapang:
ƒ Penelusuran jaringan
ƒ Wawancara informal
Pertemuan PPKP: ƒ Gunakan Daftar Isian (formulir1)
ƒ Pemantauan proses pertemuan
ƒ Supervisi pertemuan
ƒ Gunakan blanko Pemantauan dan Pertemuan PPKP:
Penilaian (M&E), formulir 5 ƒ Pembagian tugas tim pemandu
ƒ Penjelasan maksud pertemuan
ƒ Pemilihan ketua pertemuan
ƒ Gunakan Kertas Peraga (form. 2)
ƒ Gambar skema jaringan

Proses pertemuan:
ƒ Inventarisasi masalah
ƒ Dicari pemecahan masalah
ƒ Klasifikasi kebutuhan petani atas ƒ Disusun skala prioritas
dasar Rekapitulasi dari tim ƒ Pertemuan ditutup tim Kecamatan
kecamatan,
ƒ Gunakan formulir 4
ƒ Rekapitulasi prioritas kebutuhan
petani
ƒ Gunakan formulir 3

Hasil klasifikasi dan M&E dikirim ke Pengiriman rekapitulasi ke Tim


BAPPEDA Tk. II (coordinator) untuk Pemandu Tingkat Kabupaten/Dinas
ditindak lanjuti Pengairan

Sumber: Seri Modul PP1 – Panduan Sosialisasi Pemberdayaan P3A Secara Partisipatif,2000

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 14


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Contoh formulir isian terdapat dalam lampiran 5.


PEMANTAUAN DAN PENILAIAN (monitoring and evaluation – M&E)
Pemantauan dan Penilaian, atau dalam istilah populernya M&E (monitoring and
evaluation) merupakan komponen atau bagian pengelolaan proyek atau program, baik
fisik maupun non fisik. Prinsip M&E adalah kontrol terhadap suatu kegiatan agar dalam
pelaksanaannya dapat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Salah satu sebab kurang
berhasilnya pembangunan adalah kurang berfungsinya sistem kontrol. M&E ini
datangnya dapat dari pelaksana program, dalam hal ini pemerintah maupun dari
masyarakat sebagai pemanfaat proyek itu sendiri, ataupun dari pihak luar, sehingga M&E
yang sifatnya terbuka sangat diperlukan. Begitu pula sasaran M&E juga dapat berasal
dari pelaksana, pemanfaat, maupun dari pihak luar. M&E terhadap program dapat
dilakukan: (i) Pada saat program sedang berjalan, (ii) Setelah satu macam kegiatan
selesai, dan (iii) Beberapa tahun setelah program selesai.

Dalam PPKP ini ada 3 tahap yang harus dilakukan M&E:


1. Tahap persiapan, yaitu memantau apakah persiapan PPKP telah sesuai dengan
rencana (seperti pembentukan tim, susunan yang representatif, pembagian tugas yang
jelas, dll.)
2. Tahap pelaksanaan, adalah untuk memantau kesesuaian pelaksanaan PPKP dengan
rencana (apakah setiap anggota tim telah bekerja dengan baik, kendala-kendala yang
terjadi di lapangan dan cara pemecahannya, dll.)
3. Tahap pasca pelaksanaan, adalah untuk memantau kesesuaian hasil keluaran PPKP
dengan sasaran semula (apakah hasil PPKP sesuai dengan yang sebenarnya, dll.)

M&E yang dipakai dalam PPKP adalah sangat terbuka dan disesuaikan dengan
daerah masing-masing sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi format-format yang
bervariasi tergantung kapasitas dan tujuan, dan kebutuhan dari masing-masing pelaku
M&E, sehingga memungkinkan untuk berkembangnya improvisasi dan variasi.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 II - 15


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi dari penelitian ini dapat digambarkan dalam skema di bawah ini:

Inventarisasi data

Tinjauan Pustaka
Kunjungan ke lokasi dan
pengambilan questioner

Analisa data dan


simulasi kebutuhan air irigasi

Penyusunan laporan dan


Rekomendasi

Gambar 3.1. Bagan Alir Metode Penelitian

1. INVENTARISASI DATA
Inventarisasi data yang perlu untuk mendukung dalam penelitian ini selain data
topografi dan skema jaringan irigasi juga meliputi data-data yang berhubungan dengan
ketersediaan air untuk irigasi dan data kebutuhan air untuk irigasi. Data ketersediaan air
untuk irigasi berupa data debit air Kali Klampok yang dapat ditemukan dari data debit
intake dan limpasan Bendung Tinalun dari tahun 1989 – 2001. (lampiran 4)

Data yang diperlukan untuk menghitung kebutuhan air bagi tanaman maupun
kebutuhan air irigasi:
1. Data klimatologi dan curah hujan Æ tersedia data dari stasiun klimatologi Klas 1
Semarang, tahun 1989 – 2001 (lampiran 2) dan data curah hujan diambil dari
stasiun curah hujan Sta. Klepu (lampiran 3).
2. Data tanaman ada perbedaan antara lahan yang termasuk golongan pertama
maupun lahan golongan kedua.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 III - 1


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Untuk Ds. Wonorejo, Ds. Wonoyoso dan Ds. Candirejo (golongan pertama),
petani menanam padi pada musim tanam pertama dan kedua langsung disusul
palawija jenis jagung dan kacang tanah atau kedelai atau gogorancah yang
ditanam secara tumpang sari. Ada sebagian petani yang menanam tembako atau
tebu. Padi yang ditanam adalah jenis varietas unggul berumur 90 hari serta jagung
berumur 90 hari juga. Sedang untuk Ds. Klepu, Ds. Pringsari dan Ds. Pringapus
(golongan kedua), petani menanam padi pada musim tanam pertama dan kedua
kemudian bero.
3. Data tanah juga ada perbedaan antara lahan golongan pertama maupun lahan
golongan kedua.
Lahan golongan pertama mempunyai jenis tanah lempung yang “keket” dengan
rata – rata perkolasi pada tanah diperhitungkan sebesar 0.8 mm/hari dan
genangan air selama penyiapan lahan mencapai 200 mm. Sedangkan lahan
golongan kedua mempunyai tanah yang sedikit berpasir sehingga rata-rata
perkolasi pada tanah diperhitungkan sebesar 1.5 mm/hari dan genangan air selama
penyiapan lahan mencapai 200 mm.
4. Data pola tanam Æ adanya rotasi dalam 2 golongan.
Golongan pertama dengan pola tanam: padi – padi – bero dan golongan kedua:
padi – padi – palawija/gogorancah.

2. KUNJUNGAN KE LOKASI DAN QUESTIONER


Kunjungan ke lokasi dilakukan ke Kantor Dinas Pekerjaan Umum Subdin
Pengairan untuk inventarisasi data dan juga ke Kantor Pengairan Ranting Ungaran untuk
wawancara dengan Ka. Ranting Ungaran: Pak Mu’in dan ke lokasi Bendung Tinalun
beserta jaringan irigasinya di kecamatan Pringapus untuk survey lapangan dan
wawancara dengan koordinator P3A: Pak Soeroto.

Selain kunjungan ke lokasi untuk inventarisasi data, wawancara dan survey


lapangan dilakukan pengambilan questioner kepada setiap pengurus P3A di keenam desa:
Ds. Klepu, Ds. Pringapus, Ds. Pringsari, Ds. Wonorejo, Ds. Wonoyoso dan Ds.
Candirejo. Format dan hasil questioner terdapat pada lampiran 5.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 III - 2


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

3. ANALISA DATA DAN SIMULASI KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Analisa data dilakukan untuk mengolah data iklim, data curah hujan, data debit
ketersediaan air maupun data hasil questioner.

Simulasi kebutuhan air irigasi dilakukan dengan menggunakan komputer model


“Cropwat” dan didukung dengan program Microsoft Excell untuk menemukan neraca air
antara kebutuhan air irigasi dan ketersediaan air irigasi.

MANUAL CROPWAT VERSI 5.5


Cara pemakaian program Cropwat :
1. Ketik nama file Cropwat pada prompt DOS
2. Pilih menu yang ada dalam program tersebut.
3. Untuk perhitungan ETo Penman, pilih menu “ETo-Penman calculation”
4. Masukkan data-data yang diminta, yaitu :
ƒ Data stasiun klimatologi
ƒ Data-data iklim rata-rata bulanan, meliputi :
• data temperatur harian rata-rata (°C)
• data kelembaban udara (% atau mbar)
• data intensitas penyinaran matahari (jam atau %)
• data kecepatan angin (km/hari atau m/s)
ƒ Isikan data-data tersebut sebanyak bulan yang diinginkan.
5. Hasil dari ETo Penman dapat dilihat pada tabel.
6. Simpan hasil tersebut.
7. Untuk perhitungan kebutuhan air tanaman, pilih menu “Crop Water
Requirement”
8. Masukkan nama file yang telah disimpan dari hasil perhitungan ETo Penman.
9. Masukkan data curah hujan (mm/bulan)
10. Masukkan persentase curah hujan efektif (effective rainfall).
11. Hasil perhitungan curah hujan efektif (effective rainfall) akan terlihat pada
output.
12. Dilanjutkan dengan memasukkan data-data tanaman, yaitu mengenai umur-
umur tanaman, beserta lama masa pertumbuhan yang dibagi dalam beberapa
periode, yaitu :

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 III - 3


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

• initial stage : masa permulaan


• development stage : masa pertumbuhan
• mid season : masa pembungaan
• late season : masa pemasakan dan panen
13. Kemudian data mengenai area persemaian, laju perkolasi dan kedalaman
pembajakan sawah.
14. Setelah data-data tanaman lengkap, dilanjutkan dengan memasukkan data
waktu tanam, yaitu tanggal permulaan tanam (planting date).
15. Hasil output dari kebutuhan air untuk tanaman tersebut dapat dilihat pada
output.
16. Hal ini diulangi sampai beberapa simulasi.
17. Simpan hasil output tersebut.
18. Perhitungan rencana kebutuhan air irigasi bulanan, menu “Scheme Water
supply”.
19. Masukkan nama file dari kebutuhan air tanaman yang telah disimpan.
20. Masukkan berapa persen pembagian area tanam.
21. Ulangi untuk masa berikutnya, sesuai dengan pola tanam.
22. Kebutuhan air irigasi bulanan dapat dilihat pada output.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 III - 4


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

BAB IV
ANALISA DATA
DAN
SIMULASI KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Analisa data yang dilakukan meliputi analisa data iklim, analisa data curah hujan,
analisa data debit dan analisa data questioner. Sedangkan simulasi kebutuhan air irigasi
dilakukan dengan menggunakan komputer model “Cropwat” yang didukung dengan
program microsoft Excell.

1. ANALISA DATA IKLIM


Data iklim yang diperlukan untuk menghitung evapotranspirasi potensial dalam
komputer model “Cropwat” antara lain: temperatur (dalam °C); kelembaban udara (dalam
% atau mbar); radiasi matahari (dalam jam atau %) dan kecepatan angin pada ketinggian
2 m (dalam km/hari atau m/det). Data yang diperoleh dari Stasiun Klimatologi Klas I –
Semarang adalah dari tahun 1989 s.d. 2001.

Data kecepatan angin yang diperoleh dari Badan Klimatologi Jawa Tengah adalah
data kecepatan angin pada ketinggian yang beraneka ragam antara lain: data tahun 1989,
1996, 1997, 1998, 1999, 2000 dan 2001 pada ketinggian 0,5 meter; data tahun 1990 pada
ketinggian 10,0 meter dan pada tahun 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1995 pada ketinggian
2,0 meter. Data kecepatan angin tersebut harus dikonversikan pada ketinggian 2 meter di
atas permukaan tanah dengan menggunakan formula:
0.2
⎛2⎞
U2 = U z ∗ ⎜ ⎟
⎝z⎠
dimana : U2 = kecepatan angin pada elevasi 2 meter di atas permukaan tanah
Uz = kecepatan angin pada elevasi z meter di atas permukaan tanah
z = elevasi pengukuran kecepatan

Hasil pengolahan data kecepatan ini terdapat dalam lampiran 3 halaman L3 – 3


sehingga data iklim yang siap digunakan sebagai input komputer model “Cropwat” dalam
menghitung evapotranspirasi potensial dapat dituliskan seperti dalam tabel 4.1. berikut
ini:

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 1


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Tabel: 4.1. Hasil pengolahan data iklim Stasiun Klimatologi Klas I – Semarang.
Tinggi: 3 m dpl
Koordinat: 60 59‫ ׀‬LS dan 110023‫ ׀‬BT
Temperatur Kelembaban Kec. Angin Penyinaran
Bulan udara udara rata-rata pada matahari
rata-rata ( 0C) rata-rata (%) 2m (km/hari) rata-rata (%)
Januari 26.6 84 66 35
Februari 26.6 84 85 38
Maret 27.1 82 70 46
April 27.6 80 66 52
Mei 28.2 76 76 62
Juni 27.6 74 79 59
Juli 27.3 70 81 68
Agustus 27.4 70 92 71
September 27.9 69 89 72
Oktober 28.4 73 82 64
Nopember 27.9 78 68 51
Desember 27.1 82 74 41
Rata-rata 27.5 77 77.3 55
Sumber: Hasil pengolahan

2. ANALISA DATA CURAH HUJAN


Untuk memperkirakan jumlah hujan bagi kebutuhan air tanaman, suatu analisa
statistik dilakukan untuk mendapatkan beberapa macam variasi data hujan. Masing-
masing data hujan mempunyai probabilitas kegagalan sebesar 20%, 50%, 80% atau yang
lebih dikenal dengan tahun basah, tahun normal dan tahun kering. Data tersebut diolah
dengan menggunakan metode “plotting position” seperti dijelaskan dalam bab II Tinjauan
Pustaka: Pemrosesan data curah hujan.

Ranking data curah hujan tahunan terdapat dalam lampiran 3 halaman: L3 -1 dan
grafik plotting position: lampiran 3 halaman: L3 – 2. Dari grafik “plotting position”
ditemukan: Pwet = P20 = 3500 mm
Pnor = P50 = 2350 mm
Pdry = P80 = 1600 mm

Selanjutnya, curah hujan bulanan dihitung dengan menggunakan rumus berikut


Pdry
ini: Pi dry = Pi av ⋅
Pav

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 2


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

dimana: Pi av = curah hujan rata-rata bulanan pada bulan i


Pi dry = curah hujan bulanan dalam tahun kering pada bulan i
Pav = curah hujan rata-rata tahunan
Pdry = curah hujan tahunan pada 80 % kemungkinan terlampaui

Hasil pengolahan data curah hujan stasiun penakar hujan Sta. Klepu dapat
dituliskan dalam tabel: 4.2. berikut ini:
Tabel: 4.2. Hasil pengolahan data curah hujan pada stasiun penakar hujan Sta. Klepu:
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
Pavg
370 295 313 340 118 139 47 24 39 191 286 299
(mm)
Pnor
353 282 299 325 113 132 45 23 37 182 273 286
(mm)
Pdry
241 192 204 221 77 90 31 15 25 124 186 194
(mm)
Pwet
526 420 445 484 168 197 67 34 56 271 406 425
(mm)
Sumber: Hasil pengolahan

3. ANALISA DATA DEBIT


Untuk memperkirakan ketersediaan air bagi irigasi yaitu debit total yang ada di
sepanjang Kali Klampok, maka dilakukan suatu analisa statistik untuk mendapatkan debit
andalan pada berbacam-macam kemungkinan. Masing-masing data debit mempunyai
probabilitas kegagalan sebesar 20%, 50%, 80% atau yang lebih dikenal dengan tahun
basah, tahun normal dan tahun kering. Data tersebut diolah dengan menggunakan metode
“plotting position” seperti halnya pada data curah hujan.
Ranking data debit tahunan terdapat dalam lampiran 4 halaman: L4 -1 dan grafik
plotting position: lampiran 4 halaman: L4 – 2. Dari grafik “plotting position” ditemukan:
Qwet = Q20 = 26 m3/s
Qnor = Q50 = 20 m3/s
Qdry = Q80 = 16 m3/s

Selanjutnya, debit bulanan dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini:

Qdry
Qi dry = Qi av ⋅
Qav

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 3


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

dimana: Qi av = debit rata-rata bulanan pada bulan i


Qi dry = debit bulanan dalam tahun kering pada bulan i
Qav = debit rata-rata tahunan
Qdry = debit tahunan pada 80 % kemungkinan terlampaui

Hasil pengolahan data debit pada Bendung Tinalun dapat dituliskan dalam tabel:
4.3. berikut ini:
Tabel: 4.3. Hasil pengolahan data debit pada Bendung Tinalun:
Qavg Qnor Qdry Qwet
Bulan
(m3/s) (m3/s) (m3/s) (m3/s)
1 1.293 1.190 0.952 1.547
Januari
2 1.755 1.615 1.292 2.099
1 1.434 1.319 1.055 1.715
Februari
2 1.227 1.129 0.903 1.468
1 1.051 0.967 0.773 1.257
Maret
2 1.814 1.669 1.335 2.170
1 1.377 1.267 1.014 1.647
April
2 1.808 1.664 1.331 2.163
1 1.047 0.963 0.771 1.252
Mei
2 0.534 0.491 0.393 0.639
1 1.275 1.173 0.939 1.526
Juni
2 1.491 1.372 1.097 1.783
1 0.390 0.359 0.287 0.467
Juli
2 0.232 0.213 0.171 0.277
1 0.175 0.161 0.129 0.209
Agustus
2 0.314 0.289 0.231 0.376
1 0.226 0.208 0.166 0.270
September
2 0.189 0.174 0.139 0.227
1 0.170 0.156 0.125 0.203
Oktober
2 0.238 0.219 0.175 0.285
1 0.652 0.600 0.480 0.780
November
2 0.652 0.600 0.480 0.780
1 1.043 0.960 0.768 1.248
Desember
2 1.038 0.955 0.764 1.242
Sumber: Hasil pengolahan

4. ANALISA DATA QUESTIONER


Data questioner yang didapatkan dari lapangan terdapat dalam lampiran 5
meliputi Bagan Susunan Organisasi Forum Koordinasi P3A Darma Tirta DI. Tinalun
dengan 6 Badan Pengurus masing-masing P3A, isian formulir yang telah disediakan
dalam metode Pendekatan Partisipatif Kondisi Pedesaan (PPKP) dan questioner tambahan

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 4


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

untuk mengetahui dampak dan implikasi dari penerapan metode ini. Isian Formulir yang
telah disediakan dalam metode PPKP disajikan secara tabulasi untuk ke-enam P3A yang
ada sehingga mempermudah dalam analisanya.

Analisa hasil pengisian formulir sesuai dalam metode PPKP:


1. Formulir 1. Daftar isian observasi lapang.
A. Sumber air Æ ketersediaan air pada MT-1 dan MT-3 adalah sedikit sedang pada
MT-2 dialami ketersediaan air yang banyak bagi seluruh daerah irigasi kecuali di
desa candisari (paling ujung – bagian hilir) masih dirasa cukup. Pengambilan
akhir dirasa mudah hanya oleh P3A Tirto Asri (klepu – bagian hulu) masih dirasa
sukar. Penggunaan air hampir semua diperuntukan untuk sawah, air minum dll,
dan industri rumah tangga maupun industri besar di bagian hulu – Klepu.
B. Sistem jaringan irigasi adalah berfungsi baik disemua bangunan irigasi antara lain:
bendung, saluran pembawa, bangunan bagi, bangunan ukur dan saluran
pembuang.
C. Operasi dan pemeliharaan Æ Cara pembagian air adalah giliran dalam MT-1 dan
MT-3 sedang pada MT-2 air didistribusikan secara terus menerus. Tentu saja pada
MT-1 dan MT-3 air dirasa tidak cukup dan hanya pada MT-2 air dirasa cukup
meskipun keteraturan pemberian air cukup baik, tepat, dan adil. Pembersihan
saluran dari endapan maupun pemotongan rumput di saluran dilaksanakan dengan
baik hanya pada P3A Tirto Asri – Klepu yang tidak melaksanakan hal ini pada
MT-1 dan MT-3. Pelumasan pada ulir pintu air dan pengecatan pintu air
dilaksanakan oleh semua P3A dengan baik.
D. Organisasi Æ cukup jalan baik saling koordinasi, mempunyai AD/ART dan
kegiatan-kegiatan yang teratur seperti gotong royong pembagian air/pengelolaan
air dan pemeliharaan jaringan irigasi.
E. Pertanian Æ Pada MT-1 menanam palawija jenis jagung, kedelai atau sayuran,
hanya bagi P3A Sumur yang sebagian menanam padi. Untuk MT-2 semua daerah
irigasi menanam padi dan untuk MT-3 kembali menanam palawija jenis jagung,
kedelai atau sayuran dan daerah ujun: Waluyo dan Satriyo menanam padi
sebagian.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 5


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Dalam budidaya pertaniaan banyak mengalami kendala-kendala antara lain yang


berhubungan dengan tenaga kerja maupun hewan, pupuk yang sulit dan mahal.
Sedang untuk bibit tanaman tak ada masalah karena mereka mengadakan sendiri.
F. Lain-lain Æ menyangkut hasil pertanian yang mempunyai harga rendah tidak
sebanding dengan pupuk ataupun obat-obatan yang dipakai sehingga merugikan
petani.

2. Formulir 2. Tabel hasil pelaksanaan PPKP


A. Sumber air Æ masalah kurangnya air pada MT-1 dan MT-3 dan harapan
dibangunnya embung di hulu bendung Tinalun oleh pemerintah
B. Jaringan irigasi Æ masalah tebing tanggul yang kritis, saluran banyak rusak dan
bocor Æ harapan pemecahan masalah oleh pemerintah untuk rehabilitasi saluran
dan petani (hanya dari P3A Satroyo) akan menormalisasi saluran secara swadaya
C. Organisasi Æ masalah honor untuk pengurus dan harapan akan adanya pembinaan
dari pemerintah maupun honor dari pemerintah bagi pengurus
D. Pertanian Æ masalah kekurangan air yang menyebabkan menurunnya produksi
pertanian, juga masalah tenaga kerja/hewan dan harga hasil panen yang rendah Æ
mohon bantuan traktor dari pemerintah maupun peningkatan kinerja personil PU

3. Formulir 3. Rekapitulasi prioritas kebutuhan petani pemakai air


Prioritas 1: Pengadaan embung di hulu bendung Tinalun untuk mengatasi kekurangan
air pada MT-1 dan MT-3
Prioritas 2: Kerusakan saluran dan bocor sehingga efisiensi distribusi air irigasi
menjadi rendah dan menyebabkan air kurang Æ rehabilitasi saluran
irigasi
Prioritas 3: Pintu-pintu yang rusak dan operasional serta pemeliharaan bangunan Æ
peningkatan kinerja personil PU dan bantuan dana
Prioritas 4: Organisasi P3A dalam keterlibatan untuk operasional dan pemeliharaan
Æ
pembinaan P3A dalam kurun waktu tertentu
Prioritas 5: Hasil pertanian yang harganya rendah Æ kenaikan harga jual hasil
Pertanian

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 6


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

4. Formulir 4. Tabel klasifikasi kebutuhan petani pemakai air


Kebutuhan pokok untuk mengatasi masalah kekurangan air irigasi: pengadaan
embung di hulu bendung Tinalun, rehabilitasi jaringan irigasi dan pintu-pintu maupun
bangunan serta bendung suplesi yang rusak, juga pembinaan P3A maupun fasilitas
yang dibutuhkan untuk pertemuan antara lain gedung pertemuan P3A

5. Formulir 5. Daftar isian, pemantauan dan penilaian (M&E) serta penelusuran


kebutuhan petani (PKP)
A. Tahap persiapan perencanaan PKP Æ cukup baik dan tersiapkan
B. Tahap pelaksanaan Æ baik kunjungan lapangan maupun pelaksanaan pertemuan
dengan petani cukup terlaksana dengan baik
C. Pasca pelaksanaan PPKP Æ secara garis besar prosedur sesudah pelaksanaan
PPKP dijalankan dengan baik, hanya untuk P3A Tirto Asri yang tidak
mengirimkan daftar isian ke tim kabupaten

Hasil jawaban questioner yang diberikan oleh peneliti ditampilkan secara tabulasi
seperti dalam lampiran L5 – 19. Dari jawaban ini dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Manfaat dari pelaksanaan PPKP ini sungguh dirasakan sehingga P3A ataupun
masyarakat petani tahu akan kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi dalam
pengelolaan distribusi air irigasi yang mengakibatkan pula munculnya rasa tanggung
jawab dan memiliki untuk mengelola dan memelihara bersama jaringan irigasi.
2. Organisasi P3A ini mampu koordinasi antar petak tersier dan musyawarah bersama
dalam P3A gabungan untuk memecahkan masalah dan menentukan sikap/langkah
secara kekeluargaan serta saling bantu membantu.
3. Pada umumnya P3A siap untuk mengelola dan memelihara secara mandiri jaringan
irigasi bahkan di beberapa jaringan tersier sudah dikelola secara mandiri hanya untuk
saluran primer masih mohon bantuan dari PU.
4. Saran yang muncul kebanyakan sekitar dana untuk honor pengurus P3A dan
pembinaan P3A untuk menuju kemandirian.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 7


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

5. SIMULASI KEBUTUHAN AIR IRIGASI


DENGAN MENGGUNAKAN “CROPWAT” – KOMPUTER MODEL
Simulasi ini dimulai dengan perhitungan evapotranspirasi potensial dari daerah
dengan menggunakan data iklim Stasiun Klimatologi Klas I – Semarang. Kemudian
dengan memasukkan data curah hujan hasil pengolahan dan data tanaman: padi, jagung,
kedelai, kacang tanah, tembako dan tebu maka akan didapatkan hasil perhitungan
kebutuhan air irigasi bagi tiap-tiap tanaman dengan tanggal tanam tertentu.

Hasil perhitungan evapotranspirasi potensial dari daerah Stasiun Klimatologi Klas


I – Semarang ditampilkan dalam tabel berikut ini:
Tabel: 4.4. Hasil perhitungan Evapotranspirasi Potensial Sta. Klimatologi Semarang
┌──────────────────────────────────────────────────────────────────────────┐
│ Reference Evapotranspiration ETo according Modified Penman │
├==========================================================================┤
│ Project : DI TINALUN Climate Station : SEMARANG │
│ Latitude : 7 South. Lat. Altitude : 3 meter │
├──────────────────────────────────────────────────────────────────────────┤
│ Month Temp. Humidity Windspeed Sunshine Radiation ETo-Penman │
│ °C % km/day hours mm/day mm/day │
├──────────────────────────────────────────────────────────────────────────┤
│ January 26.6 84 66 4.4 4.4 3.94 │
│ February 26.6 84 85 4.7 4.6 4.14 │
│ March 27.1 82 70 5.6 4.8 4.36 │
│ April 27.6 80 66 6.2 4.7 4.34 │
│ May 28.2 76 76 7.3 4.5 4.47 │
│ June 27.6 74 79 6.9 4.0 4.17 │
│ July 27.3 70 81 8.0 4.3 4.57 │
│ August 27.4 70 92 8.4 4.9 5.11 │
│ September 27.9 69 89 8.7 5.5 5.62 │
│ October 28.4 73 82 7.8 5.6 5.49 │
│ November 27.9 78 68 6.3 5.1 4.79 │
│ December 27.1 82 74 5.1 4.7 4.26 │
├──────────────────────────────────────────────────────────────────────────┤
│ YEAR 27.5 77 77 6.6 4.8 1682 │
└──────────────────────────────────────────────────────────────────────────┘

Simulasi pola tanam dilakukan dalam 7 simulasi seperti yang ditampilkan di


halaman L6 – 1. Sedangkan kebutuhan air untuk tanaman dengan tanggal tanam tertentuk
dalam tahun hujan kering, tahun hujan normal, dan tahun hujan basah hasil perhitungan
dengan menggunakan “Cropwat” komputer program disajikan di halaman L6 – 2, L6 – 3
dan L6 – 4. Simulasi kebutuhan air sesuai dengan 7 simulasi pola tanam beserta neraca
air dari ketersediaan air dan kebutuhan air dalam tahun hujan kering, tahun hujan normal
dan tahun hujan basah disajikan di halaman L6 – 5&6, L6 – 7&8 dan L6 – 9&10.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 8


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

Analisa neraca air ditampil dalam lampiran 6 halaman L6 – 11 untuk tahun hujan
kering, tahun hujan normal maupun tahun hujan basah. Dari analisa neraca air ini dapat
dilihat bahwa:
1. Simulasi ke-7 adalah simulasi yang terbaik yaitu dimana sebagian petani yaitu pada
golongan 2 menanam tebu.
2. Disusul simulasi ke-1 dimana untuk golongan pertama petani menanam palawija
pada MT-1 dan MT-3 sedang golongan kedua menanam padi dalam MT-1 dan MT-2
serta palawija dalam MT-3
3. Kemudian simulasi ke-3 dimana untuk golongan 1 sebagian petani menanam padi
dalam MT-2 dan palawija dalam MT-1 dan MT-3, sebagian lain menanam hanya dua
kali yaitu dalam MT-1 dan MT-2 menanam padi kemudian bero.
4. Berikutnya simulasi ke-5 dimana untuk golongan 1 menaman seperti dalam simulai
ke-3 sedang golongan 2 menanam padi gogo rancah dalam MT-3 dan padi sawah
dalam MT-1 serta MT-2.
5. Selanjutnya simulasi ke-6 dimana untuk golongan 1 menanam padi-padi-bero dan
sebagian golongan 2 menanam padi-padi-padi gogo rancah serta sebagian lain
menanam padi-padi-tembako.
6. Kemudian simulasi ke-2 dimana untuk golongan 1 menanam padi-padi-bero dan
golongan 2 menanam padi-padi-palawija.
7. Simulasi ke-4 adalah simulai yang paling jelek dimana untuk golongan 1 menanam
padi-padi-bero dan golongan 2 menanam padi-padi-padi gogo rancah.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 IV - 9


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dari analisa data questioner dan analisa simulasi kebutuhan air irigasi maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan:
1. Ketersediaan air irigasi pada MT-1 dan MT 3 adalah kurang. Hal ini sesuai dari hasil
analisa data questioner dan analisa simulasi kebutuhan air irigasi baik dalam tahun
hujan kering, tahun hujan normal dan tahun hujan basah (bdk. hal L5-5 dan L6-11).
2. Sistem jaringan irigasi di DI. Tinalun adalah berfungsi baik namun rehabilitasi untuk
saluran irigasi dan pintu-pintu air sangatlah diperlukan agar dapat meningkatkan
efisiensi dari jaringan irigasi tersebut terlebih untuk ketersediaan air irigasi yang
kurang di DI. Tinalun (bdk. analisa data questioner ad.1B dan ad. 3 prioritas ke-3 dan
4 kebutuhan P3A).
3. Organisasi P3A cukup jalan baik dalam arti: bisa saling koordinasi antar keenam P3A
yang ada di DI. Tinalun; sudah mempunyai AD/ART dan mengadakan kegiatan-
kegiatan yang teratur untuk gotong royong pembagian air/pengelolaan air dan
pemeliharaan jaringan irigasi, namun organisasi ini masih tergantung pada bantuan
pemerintah melalui personil PU – pengairan yang ada di kecamatan (bdk. analisa data
questioner ad. 1D dan ad. 2C dan ad.3 prioritas ke-4 kebutuhan P3A).
4. Metode PPKP ini cukup memberikan manfaat bagi P3A dalam arti kesadaran akan
perannya sebagai subjek dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan irigasi namun
belum sampai pada kemandirian untuk pengelolaan dan pemeliharaan jaringan irigasi
itu sendiri.
5. P3A merasa cukup siap untuk mengelola dan memelihara jaringan irigasi, namun
masih tergantung pada bantuan pemerintah untuk pendanaannya dan belum mampu
untuk mandiri (bdk. analisa data questioner ad. 2C, ad. 3 prioritas kebutuhan dan
analisa hasil jawaban questioner yang diberikan peneliti no. 3 dan 4). Kesadaran akan
nilai air yang diwujudkan dalam iuran untuk menunjang pengelolaan dan
pemeliharaan jaringan irigasi rupanya masih sulit. Petani terbiasa menuntut untuk
pemenuhan akan ketersediaan air dari pemerintah.
6. Pemasaran akan hasil pertanian yang mempunyai harga rendah tidak sebanding
dengan modal pertanian seperti pembelian pupuk dan obat-obatan yang tinggi adalah

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 V-1


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MScHE
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan.

sangat merugikan petani (bdk. analisa data questioner ad. 1F, ad. 2D dan ad. 3
prioritas ke-5 kebutuhan P3A).
7. Urutan pola tanam yang menghasilkan neraca air dari yang terbaik sampai terburuk
adalah simulasi ke-7, simulasi ke-1, simulasi ke-3, simulasi ke-5, simulasi ke-6,
simulasi ke-2 dan simulasi ke-4 (lihat analisa neraca air hal. IV – 9). Pola tanam
dimana sebagian petani menanam tebu memberikan neraca air yang paling baik bila
dibandingkan semua petani menanam padi seperti pada simulasi ke-4 yang
memberikan neraca air paling buruk.

Saran-saran yang dapat diberikan oleh peneliti khususnya menyangkut metode PPKP
(Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan):
1. Pengadaan embung sangat mendukung untuk tandon kelebihan air dimusim hujan dan
dimanfaatkan pada musim kemarau untuk mengatasi kekurangan ketersediaan air
irigasi (bdk. analisa data questioner ad. 2 dan 3 – prioritas pertama kebutuhan P3A).
2. Pemerintah membantu dalam rehabilitasi saluran dan bangunan irigasi agar dapat
berfungsi lebih baik sehingga menghasilkan efisiensi pengelolaan air irigasi yang
tinggi, baru setelah itu menyerahkan pengelolaan dan pemeliharaan selanjutnya pada
P3A.
3. Dari kesimpulan 3-4 dan 5, peneliti menyarankan agar metode PPKP ini dilanjutkan
untuk langkah berikutnya sampai pada kesadaran P3A untuk mandiri dalam
pengelolaan dan pemeliharaan jaringan air irigasi. Hal ini cukup sulit dan
memerlukan waktu karena P3A sudah terbiasa menerima pemenuhan kebutuhan air
secara gratis dari pemerintah.
4. Pemasaran hasil pertanian hendaknya tidak ditetapkan oleh pemerintah (dalam bentuk
harga hasil pertanian maupun tuntutan untuk menjual pada KUD) sehingga petani
mempunyai kebebasan dalam pemasaran dan tidak dirugikan.
5. Pemberian kebebasan pada petani untuk menanam jenis tanaman namun terencana
sehingga neraca ketersediaan air dan kebutuhan air irigasi dapat diantisipasi
sebelumnya sehingga dapat ditemukan pengaturan dan pengelolaan distribusi air
irigasi yang efisien dan optimal. Kebebasan ini dapat diikuti dengan nilai iuran yang
berbeda sesuai dengan pemberian air pada petani.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 V-2


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

DAFTAR PUSTAKA:

1. Budi Santosa, Susilawati CL, 1997, Model Simulasi Kebutuhan Air Irigasi di Petak
Tersier (studi kasus di daerah irigasi krogowanan, Magelang), Laporan Penelitian
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.
2. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Dirjen Pengembangan
Perdesaan Proyek Irigasi Jawa Tengah Bagian Proyek Penyuluhan Tata Guna Air,
2000, Kebutuhan Air Irigasi – seri Modul PT 1, Semarang
3. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Dirjen Pengembangan
Perdesaan Proyek Irigasi Jawa Tengah Bagian Proyek Penyuluhan Tata Guna Air,
2000, Rencana Tata Tanam – seri Modul PT 3, Semarang
4. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Dirjen Pengembangan
Perdesaan Proyek Irigasi Jawa Tengah Bagian Proyek Penyuluhan Tata Guna Air,
2000, Panduan Operasional Metode Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan
(PPKP), Semarang
5. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Dirjen Pengembangan
Perdesaan Proyek Irigasi Jawa Tengah Bagian Proyek Penyuluhan Tata Guna Air,
2000, Panduan Sosialisasi Pemberdayaan P3A Secara Partisipatif – seri Modul PP1,
Semarang
6. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Dirjen Pengembangan
Perdesaan Proyek Irigasi Jawa Tengah Bagian Proyek Penyuluhan Tata Guna Air,
2000, Panduan Operasional PPKP Untuk Tim Tingkat Kabupaten – seri Modul PP2,
Semarang
7. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Dirjen Pengembangan
Perdesaan Proyek Irigasi Jawa Tengah Bagian Proyek Penyuluhan Tata Guna Air,
2000, Panduan Operasional PPKP Untuk Kelompok Pemandu Lapang Tingkat
Kecamatan dan Desa – seri Modul PP3, Semarang
8. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Dirjen Pengembangan
Perdesaan Proyek Irigasi Jawa Tengah Bagian Proyek Penyuluhan Tata Guna Air,
2000, Panduan Operasional PPKP Untuk Petani Pemandu (Petandu) dalam
Memimpin Diskusi – seri Modul PP4, Semarang

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 ii - 1


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

9. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Propinsi Jawa Tengah, 2000, Pembaharuan


Kebijakan Pengelolaan Irigasi Propinsi Jawa Tengah, Semarang
10. Dirgutiswa, 1997, Irigasi dan Bangunan Air, Gunadarma, Jakarta.
11. Efendi Pasandaran & Donald C. Taylor, 1984, Irigasi – Perencanaan dan
Pengelolaan, Jilid I, Seri Pembangunan Pedesaan, PT. Gramedia, Jakarta.
12. Endang, Pipin Tachyan, M.Eng, Ir. Soetjipto, Dipl. HE, 1992, Dasar-dasar dan
Praktek Irigasi, Erlangga, Jakarta.
13. FAO – Irrigation and Drainage Paper N° 24, 1979, Crop Water Requirements, Rome
– Italy.
14. FAO – Irrigation and Drainage Paper N° 33, 1979, Yield Respone to Water, Rome –
Italy.
15. FAO – Land and Water Development division, 1989, Manual for Cropwat, Rome –
Italy.
16. Gandakoesoemah, R., 1975, Irigasi, cetakan kedua, Sumur, Bandung.
17. Hagan, R.M.; Haise, H.R.; Edminster, T.W., 1967, Irrigation of Agricultural Lands,
The series Agronomy N° 11, American Society of Agronomy Publisher, Madison,
Wisconsin, USA.
18. Hall, M.J., 1996, Engineering Hydrology, Lecture note of IHE – Delft, The
Netherlands.
19. Hermawan, Yandi, 1989, Hidrologi Untuk Insinyur, Edisi III, Erlangga, Jakarta.
20. Hofwegen, P.J.M. van, 1998, Irrigation and Drainage System Management, Lecture
note of IHE – Delft, The Netherlands.
21. Laat, P.J.M de, 1997, Soil Water Plant Relation, Lecture note of IHE – Delft, The
Netherlands.
22. Pandey, R.K., 1994, Bertanam Kedelai di Lahan Sawah, Program Nasional
Pengendalian Hama Terpadu, Jakarta.
23. Ritzema (editor – in – chief), 1994, Drainage Principles Application, ILRI
Publication 16, Wageningen, The Netherlands.
24. Sasrodarsono, Suyono, 1987, Hidrologi Untuk Pengairan, Edisi VI, PT Pradnya
Paramita, Jakarta.
25. Soemarto, C.D., 1995, Hidrologi Teknik, Edisi ke-2, Erlangga, Jakarta.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 ii - 2


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang
Sr. Ir. Susi Susilawati PI, MSc.HE.
‰ Pengelolaan Distribusi Air untuk Irigasi dan Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan

26. Sub-Direktorat Perencanaan Teknik Direktorat Irigasi I DirJen Pengairan DPU, 1985,
Pedoman Kebutuhan Air untuk Tanaman Padi dan Tanaman Lain – PSA 010,
Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta.
27. Sub-Direktorat Perencanaan Teknik Direktorat Irigasi I DirJen Pengairan DPU, 1986,
Standar Perencanaan Irigasi – Kriteria Perencanaan bagian Jaringan Irigasi (KP-
01), Edisi Bahasa Indonesia, DirJen Pengairan Departemen Pekerjaan Umum, CV.
Galang Persada, Bandung.
28. Sudjarwadi, 1979, Pengantar Teknik Irigasi, Universitas Gajahmada, Yogyakarta.
29. Susilawati C.L., 1999, Design of Small irrigation and Drainage Scheme in Weberek
Transmigation Location East Timor Indonesia, MSc Thesis, IHE – Delft, The
Netherlands.
30. Susilawati, S., 2000, Evaluasi Pengaturan Distribusi Air di Daerah Irigasi Senjoyo,
Laporan Penelitian Jurusan Teknik Sipil, Universitas Katolik Soegijapranata,
Semarang.
31. Susilawati S., 2001, Pengaturan Distribusi Air Irigasi di Sepanjang Sungai Senjoyo,
Laporan Penelitian Jurusan Teknik Sipil, Universitas Katolik Soegijapranata,
Semarang.
32. Vergara, B.S., 1990, Bercocok Tanam Padi, Proyek Prasarana Fisik Bappenas,
Jakarta.

LAPORAN PENELITIAN – Tahun Anggaran 2001 – 2002 ii - 3


Jurusan Teknik Sipil – UNIKA Soegijapranata Semarang