Bab I

Pendahuluan

I.1. Latar Belakang Komponen-komponen biaya konstruksi terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung (AACE, 1992). Biaya langsung adalah biaya yang terkait langsung dengan volume pekerjaan yang terdapat dalam pay item seperti biaya upah, biaya peralatan, biaya material, dan sebagainya. Sedangkan biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak terkait langsung dengan volume pekerjaan. Namun biaya tidak langsung berkontribusi dalam penyelesaian pekerjaan proyek yang mencakup biaya overhead, risiko, contingency, dan sebagainya. Estimasi biaya langsung dihitung berdasarkan perkalian harga satuan penawaran dengan volume pekerjaan yang mengacu pada gambar dan spesifikasi teknis, sedangkan perkiraan biaya tidak langsung tidak mudah dilakukan karena tidak adanya rujukan informasi yang akurat sebagaimana halnya dengan gambar dan spesifikasi teknis (Yusuf, 2010). Pada penelitian terdahulu mengenai pemodelan estimasi komponen biaya tidak langsung proyek konstruksi bangunan gedung diperoleh suatu kesimpulan sebagai berikut: “Diperoleh adanya suatu pola karakteristik kontraktor dalam mengestimasi biaya tidak langsung. Mekanisme penetapan biaya tidak langsung pada kontraktor besar dengan nilai tertentu dimana memiliki standar tersendiri diperusahaanya yang ditetapkan berdasarkan dua hal diantaranya berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya dan perkiraan yang dilakukan oleh kontraktor. Kontraktor besar menghitung komponen biaya tidak langsung satu persatu yang pada akhirnya nilai tersebut dijadikan persentase terhadap biaya langsung sehingga setelah beberapa proyek diestimasi kontraktor dapat menemukan suatu nilai yang menjadi gambaran kasar berupa prosentase biaya tidak langsung. Pada kontraktor menengah nilai tertentu diambil selain berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya juga berdasarkan standar tersendiri diperusahaannya seperti halnya kontraktor besar, namun tidak seperti kontraktor besar terutama dalam hal

1

kelengkapan inventarisasi data proyek sebelumnya terutama proyek-proyek yang khusus dan tingkat pengalaman serta sumberdaya manusia berupa tenaga ahli yang terbatas di perusahaan. Sama halnya dengan kontraktor besar pada akhirnya nilai tersebut dijadikan persentase terhadap biaya langsung. Pada kontraktor kecil sebagian besar menetapkan nilai tertentu hanya berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya karena data historis proyek tidak terinventarisir dengan baik oleh perusahaan dan pada akhirnya nilai tersebut diambil berupa persentase secara umum terhadap biaya langsung untuk mempermudah penetapannya. Tidak teridentifikasi secara detail komponen-komponen biaya tidak langsung apa saja yang diperhitungkan, jadi hanya sebagai persentase perkiraan kasar yang sukses pada proyek yang pernah dikerjakan sebelumnya” (Pradoto, 2010). Beranjak dari kesimpulan penelitian tersebut, salah satu yang mempengaruhi estimasi biaya tidak langsung pada proyek konstruksi adalah jenis kontrak konstruksi yang terdapat pada dokumen proyek. Pada proyek bangunan gedung, umumnya kontrak konstruksi yang digunakan adalah kontrak lump sum. Hipotesis sementara bahwa pemodelan estimasi biaya tidak langsung setiap proyek konstruksi berbeda-beda dikarenakan menggunakan kontrak konstruksi yang berbeda. Pada proyek infrastruktur jalan kontrak konstruksi yang digunakan pada umumnya adalah kontrak unit price (Soemardi, 2010). Suatu survei pendahuluan mengenai estimasi biaya tidak langsung pada proyek infrastruktur jalan telah diketahui bahwa estimasi biaya tidak langsung yang dilakukan sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan memenangkan proyek dalam proses pelelangan. Selain itu dengan melakukan estimasi biaya tidak langsung secara tidak langsung dapat mengatasi resiko yang akan dihadapi dari proyek tersebut. Pada umumnya penetapan besaran biaya tidak langsung merupakan persentase dari total nilai proyek secara keseluruhan. Komponen biaya tidak langsung yang sering digunakan oleh kontraktor jalan adalah pajak, jaminan, asuransi, biaya umum, resiko, dan overhead. Pada tahun 2008 jumlah kontraktor di Indonesia berdasarkan Asosiasi Kontraktor Jalan Indonesia (AKJI) dan golongannya secara keseluruhan adalah sebesar 1.193

2

badan usaha dengan jumlah kontraktor kecil sebesar 921 badan usaha atau 77.20 %, kontraktor menengah sebesar 223 badan usaha atau 18.69 %, dan kontraktor besar sebesar 49 badan usaha atau 4.10 % (LPJK, 2008). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa persaingan diantara kontraktor jalan pada tiap kualifikasinya secara nasional begitu ketat. Dengan begitu ketatnya persaingan tersebut tentunya untuk mendapatkan peluang pasar dan bertahan dalam dunia konstruksi nasional sangat berat. Hal ini terutama terjadi pada kontraktor kualifikasi kecil dan menengah dengan prosentase jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan kontraktor kualifikasi besar. Untuk mendapatkan pasar konstruksi berupa proyek konstruksi infrastruktur jalan yang dilelangkan, tentunya kontraktor harus pandai dalam memenangkan setiap proses lelang yang diukutinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan kontraktor adalah dengan merancang dan mengajukan harga penawaran yang kompetitif dan rancangan konstruksi yang baik. Isu dari salah satu faktor tersebut adalah bagaimana cara untuk melakukan estimasi biaya proyek dalam RAB yang diajukan dalam proses pelelangan, khususnya dalam mengestimasi biaya tidak langsung pada proyek infrastruktur jalan. Namun kendala utama dalam melakukan estimasi biaya tidak langsung tersebut adalah belum diperolehnya informasi yang pasti pada proyek non-gedung, khususnya pada pekerjaan jalan. I.2. Rumusan Masalah Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rahadian (2010) dan Yusuf (2010) mengenai praktek estimasi komponen biaya tidak langsung pada proyek bangunan gedung oleh kontraktor menengah dan besar di daerah Bandung dan Jakarta, terdapat pola karakteristik estimasi biaya tidak langsung dengan menentukan besarnya nilai biaya tidak langsung sebagai persentase dari biaya langsung. Pada bagian lain dari penelitian mereka ditemukan pemodelan estimasi biaya tidak langsung dengan model matematis regresi non linier yang memiliki kecenderungan model menggambarkan hubungan semakin besar nilai kontrak maka nilai persentase rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek akan semakin kecil.

3

Mekanisme penetapan biaya tidak langsung juga dipengaruhi oleh karakteristik proyek konstruksi (Rahadian dan Yusuf, 2010). Hal ini berarti setiap proyek konstruksi memiliki mekanisme yang berbeda satu dengan yang lain dalam melakukan estimasi biaya tidak langsung. Jika dilihat dari karakteristik proyeknya, proyek bangunan gedung pada umumnya memiliki tingkat ketidakpastian dan variasi yang relatif lebih kecil karena volumenya telah dapat diperkirakan dengan cukup akurat lewat spesifikasinya yang lengkap. Sementara pada proyek non-gedung, khususnya pada proyek jalan, volumenya belum dapat diketahui secara rinci lewat spesifikasinya, karena taksiran volume yang kurang jelas terutama pada pekerjaan-pekerjaan bawah tanah seperti pekerjaan sub-base, base, atau sub-grade. Merujuk pada kondisi di atas, menarik untuk dilakukan penelitian mengenai karakteristik estimasi biaya tidak langsung pada proyek non-gedung, khususnya pada proyek jalan. Untuk mengetahui ada tidaknya kesamaan dengan yang terjadi pada proyek-proyek bangunan gedung. Dengan mengetahui ada tidaknya kesamaan praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek jalan dan bangunan gedung, maka hal tersebut dapat dijadikan sebagai informasi berupa referensi bagi kontraktor dalam melakukan estimasi biaya pada setiap proyek konstruksi. I.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi apakah ada perbedaan prinsip dan mekanisme praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek jalan terhadap proyek bangunan gedung yang telah diteliti sebelumnya. 2. Mengetahui apakan ada persamaan atau tidak antara model estimasi biaya tidak langsung proyek jalan dengan model estimasi biaya tidak langsung proyek bangunan gedung. I.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan pendidikan penelitian di bidang Manajemen dan Rekayasa Konstruksi serta dapat menjadi informasi berupa referensi bagi kontraktor dalam melakukan estimasi biaya tidak

4

langsung pada proyek jalan dalam upaya memingkatkan efektifitas pembiayaan dan harga penawaran yang kompetitif. Peneltian ini juga memberikan informasi tambahan mengenai informasi hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan tentang estimasi biaya tidak langsung oleh peneliti sebelumnya. Pada akhirnya diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi yang berguna bagi penelitian berikutnya. I.5. Ruang Lingkup Penelitian Dalam pembahasannya, penelitian ini dibatasi sebagai berikut: 1. Responden yang akan dilibatkan dalam penelitian ini adalah kontraktor kualifikasi kecil, menengah, dan besar berdasarkan pada penggolongan kualifikasi kontraktor pada Peraturan LPJK No. 11a Tahun 2008 tentang Registrasi Usaha Jasa Konstruksi. 2. Cakupan kuisioner adalah secara nasional yang diwakili oleh wilayah Sumatera dan Jawa. 3. Data yang akan digunakan untuk pemodelan estimasi biaya tidak langsung adalah data estimasi biaya proyek pada laporan aktual. Berdasarkan penelitian terdahulu, data estimasi biaya proyek pada laporan aktual sulit untuk diperoleh, sehingga memungkinkan untuk menggunakan data alternatif berupa data estimasi biaya proyek pada RAB proyek infrastruktur jalan yang meliputi data nilai total proyek dan biaya tidak langsung proyek. 4. Kajian penelitian ini menitikberatkan pada proyek jalan. berupa proyek rehabilitasi jalan, dan pembangunan jalan baru I.6. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan yang digunakan dalam tesis ini sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5

Meliputi landasan teori yang digunakan dalam tesis yang berisikan uraian yang bersifat teoritis yang berisikan hal-hal yang terkait dengan estimasi biaya proyek, proyek jalan, komponen biaya proyek konstruksi, kontrak konstruksi, dan perusahaan kualifikasi perusahaan kontraktor. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Meliputi tahapan-tahapan penelitian yang terdiri dari pendekatan penelitian, rancangan penelitian, target responden, perancangan model kuesioner, teknik pengumpulan data dan jadwal pelaksanaan penelitian. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Meliputi hasil analisa serta pembahasan terhadap data yang telah dikumpulkan berdasarkan teknik pengumpulan data yang telah dilakukan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Meliputi kesimpulan dari uraian-uraian pada bab-bab sebelumnya, serta saran yang berguna bagi penelitian selanjutnya.

6

Bab II Tinjauan Pustaka

II.1. Penelitian Terkait Telah banyak dilakukan penelitian mengenai estimasi biaya proyek konstruksi. Hal tersebut terkait dengan estimasi estimasi biaya proyek keseluruhan, maupun bersifat secara parsial mengenai estimasi biaya langsung proyek konstruksi. Penelitian mengenai estimasi biaya tidak langsung proyek konstruksi masih terbatas. Dari kajian literatur yang dilakukan, berikut penelitian mengenai estimasi biaya tidak langsung pada proyek konstruksi yang telah dilakukan khususnya pada bangunan gedung. 1. Rahadian (2010), melakukan penelitian berupa kajian praktek estimasi biaya tidak langsung proyek konstruksi bangunan gedung pada kontraktor kualifikasi menengah. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut: a. Kontraktor kualifikasi menengah sebagian besar melakukan estimasi biaya tidak langsung dengan menetapkan nilai tertentu diambil selain berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya juga berdasarkan standar tersendiri diperusahaannya. Pada akhirnya nilai tersebut dijadikan persentase terhadap biaya langsung. b. Ditemukannya pola suatu model estimasi biaya tidak langsung berdasarkan data laporan biaya proyek pada RAB. Dari model tersebut terdapat hubungan nonlinier antara nilai proyek dengan resiko biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Besarnya rasio antara biaya tidak langsung terhadap total nilai proyek cenderung menurun seiring dengan kenaikan proyek. Model yang dihasilkan juga tidak memprediksikan biaya tidak langsung yang hampir sama, yaitu berkisar 10% meskipun dengan nilai proyek yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang dihasilkan tidak merepresentasikan nilai biaya tidak langsung secara actual pada suatu proyek konstruksi. 2. Yusuf (2010), melakukan penelitian berupa kajian praktek estimasi biaya tidak langsung proyek konstruksi bangunan gedung pada kontraktor

7

kualifikasi besar. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut: a. kontraktor kualifikasi besar telah melakukan estimasi biaya tidak langsung. Secara konsisten pola estimasi biaya tidak langsung dilakukan dengan prosentase terhadap biaya langsung yang mengacu kepada faktor internal yang meliputi data historis perusahaan serta keahlian personil dan pengalaman perusahaan dalam estimasi. Selain faktor internal, nilai prosentase biaya tidak langsung juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang meliputi karakteristik proyek, dokumen proyek, karakteristik perusahaan, situasi tender, situasi ekonomi, karakteristik klien, dan karakteristik konsultan. b. Ditemukan pola suatu model estimasi biaya tidak langsung berdasarkan data laporan biaya proyek pada RAB. Dari hasil model tersebut terdapat hubungan nonlinear antara nilai proyek dengan rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Kecenderungan model menggambarkan bahwa semakin besar nilai kontrak maka rasio biaya tidak langsung terhadap nilai kontrak semakin kecil, artinya nilai biaya tidak langsung semakin besar seiring dengan besarnya nilai kontrak. II.2. Estimasi Biaya Proyek Konstruksi II.1.2. Definisi Estimasi Biaya Proyek Konstruksi Estimasi biaya proyek konstruksi adalah perencanaan perkiraan biaya terhadap sumberdaya yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu proyek. Dalam perkiraan biaya yang dihasilkan juga mempertimbangkan penyebab variasi biaya proyek dengan tujuan agar proyek dapat dikelola dengan baik (PMI, 2000). Estimasi biaya proyek konstruksi merupakan proses analisis perhitungan berdasarkan pada metode konstruksi, volume pekerjaan, dan ketersediaan berbagai sumber daya, dimana keseluruhan membentuk operasi pelaksanaan optimal yang membutuhkan pembiayaan (Muzayanah, 2008).

8

Estimasi biaya proyek konstruksi adalah perkiraan dari keseluruhan biaya yang akan dikeluarkan dalam pelaksanaan proyek konstruksi serta sumber daya apa saja yang diperlukan untuk dapat menyelesaikan proyek tersebut. Estimasi biaya dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian anggaran biaya, tingkat resiko yang mungkin terjadi secara efektifitas pebiayaan guna mencapai harga penawaran yang kompetitif atau dapat bersaing dalam proses pelelangan konstruksi (Yusuf, 2010). Estimasi biaya konstruksi merupakan perkiraan terhadap keseluruhan biaya yang akan dikeluarkan dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi di masa yang akan datang dimana sumberdaya apa saja yang diperlukan untuk dapat menyelesaikan seluruh kegiatan dalam proyek konstruksi. Perlunya melakukan proses estimasi sebagai alas an akurasi yang dapat mengurangi ketidakpastian dan tingkat risiko yang mungkin terjadi pada suatu proyek konstruksi, serta untuk mendapatkan profit sesuai dengan yang diinginkan (Rahadian, 2010). Estimasi biaya proyek adalah unsur penting dalam pengelolaan biaya proyek secara keseluruhan karena memiliki fungsi yang amat luas dalam merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material, tenaga kerja, waktu dan lainlain (Latupeirissa, 2007). Estimasi biaya proyek (cost estimating) dapat digunakan untuk beberapa tujuan, seperti penentuan kelayakan ekonomi suatu proyek, evaluasi beberapa alternatif proyek, perencanaan anggaran proyek, dan penyediaan biaya proyek awal dan pengendalian jadwal proyek (AACE, 1992). II.2. Metode Estimasi Biaya Konstruksi Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam estimasi biaya sebagai berikut: 1. Berdasarkan AACE International - the Association for the Advancement of Cost Engineering Tahun 1992 adalah: a. Metodologi konseptual yang terdiri dari beberapa metodologi, yaitu: 1. Metode End-Product Units

9

Metode estimasi ini digunakan ketika estimator telah cukup memiliki data historis yang sesuai untuk beberapa proyek yang sama. Metoda ini melakukan pendekatan estimasi dengan cara menghubungkan total unit produk yang dihasilkan (capacity units) dari suatu proyek terhadap biaya konstuksi yang telah dikeluarkan untuk proyek tersebut. Metode ini hanya memperkirakan secara cepat terhadap kapasitas produk akhir dari suatu proyek. Beberapa contoh dari hubungan antara biaya konstruksi dan produk akhir yang dihasilkan, seperti biaya konstruksi dari sebuah pembangkit listrik terhadap kapasitas dari pembangkit itu sendiri dalam kilowatt, dan biaya konstruksi dari pembangunan hotel terhadap kapasitas kamar hotel tersebut. 2. Metode Physical Dimentions Pendekatan sama seperti metode End-Product Units, namun metode Physical Dimentions menggunakan dimensi fisik, seperti panjang, volume, area, luasan tertentu. Dimensi tersebut digunakan sebagai faktor pengendali dalam estimasi. Contohnya estimasi bangunan dilakukan dengan pendekatan square feet/meters atau volume dari bangunan tersebut. 3. Metode Capacity Factor Suatu pendekatan estimasi biaya dengan perkiraan faktor kapasitas adalah satu dimana biaya fasilitas baru berasal dari biaya fasilitas semacam itu dari kapasitas yang diketahui. Itu bergantung pada hubungan non-linier antara kapasitas (capacity) dan biaya (cost). Pendekatan estimasi biaya dengan metode ini cepat dan cukup akurat khususnya untuk persiapan estimasi lebih awal selama perencanaan proyek. Metode ini membutuhkan data biaya historis dan data kapasitas untuk proses dan kegiatan yang sama. Selain itu pendekatan metode ini sering digunakan untuk estimasi akurat secara cepat dan sering digunakan untuk pengambilan keputusan pada masa pra perencanaan suatu proyek.

10

4. Metode Ratio or Factor Metode ratio or factor adalah suatu pendekatan estimasi yang digunakan dalam situasi dimana biaya total dari suatu item atau fasilitas dapat secara andal di estimasi dari biaya komponen utamanya. 5. Metode Parametric Pendekatan estimasi biaya proyek dengan metode parametic adalah satu pendekatan ekstrim untuk persiapan awal estimasi konseptual ketika tidak terdapat banyak data teknik sebagai dasar untuk estimasi dengan metode estimasi yang lebih detail. Metode parametric adalah sebuah representasi matematik dari hubungan biaya yang mencakup keterkaitan yang logis dan dapat diprediksi antara karakteristik fungsional dari suatu proses dan biayanya. b. Metodologi Deterministic (Detail) Estimating Adalah suatu pendekatan estimasi biaya proyek secara detail yang mana dipersiapkan untuk mendukung anggaran final yang telah direncanakan, dokumen penawaran, cost control selama proyek berjalan, dan lainnya. Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam persiapan sebuah detail estimasi: 1. Mempersiapkan jadwal dan dasar estimasi proyek, 2. Mempersiapkan estimasi biaya langsung proyek, 3. Mempersiapkan estimasi biaya tidak langsung proyek, 4. Mempersiapkan estimasi biaya kantor (operasional kantor), 5. Mempersiapkan estimasi pajak penjualan, 6. Mempersiapkan eskalasi estimasi, 7. Mempersiapkan estimasi fee proyek (untuk kontraktor), 8. Mepersiapkan analisis biaya resiko, analisis contingency, dan 9. Melihat ulang setiap estimasi yang telah dilakukan. 2. Berdasarkan Project Manajement institute (PMI) tahun 2000 adalah: a. Estimasi Analogi Estimasi analogi atau estimasi top-down adalah estimasi yang

menggunakan biaya aktual dari proyek yang pernah dikerjakan sebelumnya dimana proyek sebelumnya memiliki persamaan karakteristik

11

dengan proyek yang akan dikerjakan. Hal ini dilakukan karena keterbatasan informasi yang diperoleh mengenai proyek yang akan dikerjakan. Estimasi analogi juga merupakan bentuk lain dari expert judgement. Secara umum estimasi analogi menghabiskan biaya yang sedikit dibandingkan metode lainnya, namun hasilnya kurang akurat. Metode ini biasanya digunakan bila: 1. Proyek yang sebelumnya pada kenyataannya sama bukan hanya dari tampilannya saja. 2. Individu atau kelompok membutuhkan keahlian dalam mengestimasi.

b. Model Parameter Model parameter melibatkan penggunaan karakteristik proyek yang digunakan sebagai parameter dalam model matematis untuk memprediksi biaya. Model parameter dapat berupa persamaan sederhana dimana biaya dapat ditentukan berdasarkan luas bangunan ataupun suatu persamaan yang kompleks dimana diperlukan alat bantu perangkat lunak dalam aplikasinya dan melibatkan banyak variabel pengaruh dalam

perhitungannya. Antara biaya dan tingkat akurasi dalam metode ini sangat besar variasinya. Metode ini umumnya digunakan bila: 3. Informasi proyek sebelumnya digunakan untuk mengembangkan model agar menjadi akurat. 4. 5. Parameter yang digunakan dalam model sudah terukur. Model terskala (contohnya model dapat digunakan untuk proyek dengan skala kecil maupun besar). c. Estimasi Bottom-up Metode ini melibatkan proses estimasi secara individual dari masingmasing kegiatan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek kemudian dirangkum dalam biaya proyek keseluruhan. Biaya dan tingkat akurasi estimasi bottom up adalah digerakkan berdasarkan ukuran item pekerjaan individual, semakin sedikit item pekerjaan dapat meningkatkan biaya dan tingkat akurasi. Tim manajemen proyek harus

12

mempertimbangkan penambahan tingkat akurasi dibandingkan dengan penambahan biaya. d. Komputerisasi Penggunaan alat bantu komputer dalam estimasi biaya seperti penggunaan WinEst atau software lainnya yang menggunakan analisa statistik sudah banyak digunakan dan sangat membantu dalam proses estimasi biaya yang menghasilkan perkiraan biaya yang akurat. e. Metode lain Metode lainnya yang dapat digunakan adalah analisis penawaran yang dilakukan oleh kontraktor dalam dokumen penawaran suatu proyek konstruksi. 3. Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002) dalam Estimating Construction Costs, estimasi biaya konstruksi dibagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Estimasi Taksiran (Approximate Estimate) Estimasi ini biasanya dilakukan untuk memberikan informasi bagi pemilik (owner) secara cepat untuk memutuskan apakah proyek akan dibangun atau tidak. Selain itu estimasi taksiran juga untuk tujuan perhitungan pajak yang perlu dibayarkan jika proyek diimplementasikan (Litupeirissa, 2007). b. Estimasi Secara Rinci Estimasi secara rinci dilakukan untuk dua penggunaan, yaitu untuk mengajukan penawaran harga terhadap suatu pekerjaan dan digunakan sebagai basis dalam melakukan kontrol dari suatu proyek. Estimasi biaya secara rinci dapat dilakukan setelah lengkap data/informasi dari proyek seperti tersedianya dokumen gambar, spesifikasi teknis dan persyaratan pendukung lainnya. Estimasi ini akan memberikan hasil yang lebih akurat dengan semakin lengkapnya dukungan dari data/informasi yang dimiliki. Estimasi ini juga dapat dilakukan oleh owner guna dijadikan acuan bagi harga penawaran yang diajukan oleh penawar. Tingkat akurasi dari estimasi ini berkisar antara + 15% dan – 15% (Litupeirissa, 2007). Beberapa input yang digunakan untuk mengestimasi biaya adalah: 1. 2. Work Breakdown Structure (WBS). Jenis resource dan jumlah yang dibutuhkan pada setiap komponen WBS.

13

3. 4. 5.

Unit rate resource, seperti pekerja biaya per jam dan material biaya per m3. Estimasi durasi kegiatan. Informasi historis yang berasal dari proyek-proyek sebelumnya, atau data biaya estimasi komersil atau pengetahuan tim proyek.

6.

Bagan yang menjelaskan kode yang digunakan untuk melaporkan informasi keuangan dalam buku kas perusahaan.

II.3. Proyek Konstruksi Proyek merupakan suatu rangkaian kegiatan dan kejadian yang saling terkait untuk mencapai tujuan tertentu dan membuahkan hasil dalam suatu jangka tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia (Muzayanah, 2008). Proyek didefinisikan sebagai suatu usaha yang bersifat sementara yang berada dalam suatu keterbatasan untuk menciptakan suatu produk atau pelayanan yang unik (PMI Guide to Project Management Body of Knowledge, 2000). Definisi dari proyek konstruksi adalah suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu, dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan jelas. II.3.1. Jenis-Jenis Proyek Konstruksi Jenis proyek konstruksi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Proyek konstruksi bangunan gedung Adalah proyek konstruksi yang menghasilkan tempat orang bekerja atau tinggal. Proyek konstruksi bangunan gedung meliputi rumah, kantor, pabrik, apartemen, dan sebagainya. 2. Proyek konstruksi non-gedung (Bangunan Sipil) Proyek konstruksi Proyek konstruksi yang digunakan untuk

mengendalikan alam agar berguna bagi kepentingan manusia. Proyek bangunan sipil meliputi infrastruktur jalan, jembatan, dan bendungan. Proyek konstruksi tentunya memiliki suatu karakteristik tersendiri yang bersifat heterogen, artinya antara jenis proyek yang satu berbeda dengan proyek lainnya

14

baik dari segi perencanaan, spesifikasi dan volume pekerjaan, komponen estimasi biaya proyek, dan ketidakpastian dan tingkat resikonya. Pada proyek bangunan gedung memiliki tingkat ketidakpastian, dan variasi yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan pada proyek bangunan gedung memiliki spesifikasi dan volum pekerjaan yang rinci dan lengkap. Sedangkan pada proyek konstruksi non-gedung, seperti proyek infrastruktur jalan, tidak seperti pada proyek bangunan gedung. Dimana proyek infrastruktur jalan memiliki tingkat ketidakpastian, dan variasi yang lebih besar. Hal ini dikarenakan spesifikasi dan volume pekerjaan yang kurang jelas terutama untuk pekerjaan bawah tanah seperti pekerjaan subbase, base, dan subgrade. II.3.2. Komponen Biaya Proyek Konstruksi Pada perencanaan dan pelaksanaan suatu proyek konstruksi, komponen yang terkait di dalamnya adalah biaya, mutu, dan waktu. Ketiga komponen tersebut merupakan suatu batasan yang harus dipenuhi oleh kontraktor. Ketiga batasan di atas disebut sebagai tiga kendala (triple constraint) (Ahuja; Dozzi; Abourizk, 1994). Terkait dengan penjelasan di atas, komponen terpenting dari ketiga batasan di atas adalah biaya. Hal ini berkaitan langsung dengan terlaksana atau tidaknya suatu proyek. Dalam proses pelelangan pun kontraktor harus dapat mengestimasi biaya proyek sebaik mungkin agar dapat bersaing dengan kontraktor lainnya. Hal yang dijadikan sebagai penilaian utama dari suatu proses pelelangan proyek adalah kontraktor yang dapat memberikan penawaran yang paling rendah diantara kontraktor-kontraktor pesaing lainnya. Setelah proyek konstruksi dimenangkan, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh kontraktor adalah mengupayakan pengawasan dan pengendalian anggaran biaya yang telah ditetapkan dalam kontrak kontruksi sesuai dengan perencanaan sebelumnya. Rekayasa biaya konstruksi (cost engineering) adalah area dari kegiatan engineering dimana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan dalam masalah perkiraan biaya, pengendalian biaya, rencana bisnis dan pengetahuan manajemen, analisa

15

keuangan, manajemen proyek, dan perencanaan dan penjadwalan (AACE International, 1992). Dalam melakukan estimasi biaya proyek secara keseluruhan tentunya memiliki komponen-komponen yang menentukan besaran total biaya proyek tersebut. Menurut AACE Iternational Tahun 1992, struktur dari biaya konstruksi terdiri dari dua komponen utama, yaitu biaya langsung (direct cost), dan biaya tidak langsung (indirect cost). Secara umum struktur biaya proyek konstruksi digambarkan sebagai berikut.
Estimasi Biaya Biaya Langsung Biaya Tidak Langsung Kondisi Umum Keuntungan

Pekerja

Material

Peralatan

Subkontraktor

Pajak

Risiko

Overhead Biaya tidak terduga

(Sumber: The Assosiation for the Advancement of Cost Engineering, 1992)
Gambar II.1. Struktur Biaya Proyek Konstruksi

16

Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002), komponen estimasi biaya konstruksi dalam estimasi biaya secara rinci adalah sebagai berikut:

Estimasi Biaya Konstruksi

Biaya Langsung

Biaya Tidak Langsung

Biaya Material

Biaya Peralatan

Biaya Upah Tenaga Kerja

Biaya Subkontraktor

Biaya Overhead

Contingencies

Keuntungan (profit)

Gambar II.2 Komponen-Kompnen Estimasi Biaya Konstruksi Dalam Estimasi Biaya Secara Rinci Menurut Direktorat Bina Marga dalam Panduan Analisis Harga Satuan (PAHS) (2006), komponen estimasi biaya konstruksi adalah sebagai berikut:

Gambar II.3 Struktur Estimasi Biaya Dalam Panduan Analisis Harga Satuan (PAHS)

17

Dari ketiga jenis struktur biaya konstruksi, terdapat perbedaan yang mencolok. Pada struktur estimasi biaya yang dimiliki oleh AACE memperlihatkan lebih detail jika dibandingkan dengan yang lainnya. Terlihat pada komponen-komponen biaya tidak langsung, yaitu adanya pemisahan antara komponen overhead dan kondisi umum (general condition). Sedangkan pada struktur kedua tidak terlihat dalam komponen biaya tidak langsung yang merupakan komponen kondisi umum. Pada struktur ketiga, biaya umum masuk ke dalam overhead. II.3.2.1. Biaya Langsung Proyek Konstruksi Biaya langsung proyek konstruksi adalah komponen biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang tertera dalam item pembayaran atau komponen hasil akhir proyek berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi teknis dalam kontrak konstruksi. Komponen biaya langsung terdiri dari biaya upah tenaga kerja, operasi peralatan, material, dan semua biaya yang berada di bawah kendali sub-kontraktor (AACE,1992). Biaya langsung adalah semua biaya yang menjadi komponen permanen hasil akhir proyek, terdiri dari biaya material, biaya peralatan, biaya upah tenaga kerja dan biaya subkontraktor (Oberlender dan Peurifoy, 2002).

II.3.2.2. Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi Biaya tidak langsung proyek konstruksi adalah biaya yang tidak berkaitan secara langsung dalam pelaksanaan proyek konstruksi, namun memiliki support dalam pelaksanaan proyek konstruksi yang terkait dengan beberapa pekerjaan konstruksi. Biaya tidak langsung dialokasikan untuk pekerjaan yang berdasarkan pada beberapa komponen biaya langsung seperti waktu penyelesaian pekerjaan, biaya material atau keduanya (AACE, 1992). Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002) biaya tidak langsung adalah semua biaya yang mendukung pekerjaan tetapi tidak tercantum dalam mata pembayaran dari pekerjaan seperti biaya overhead (general overhead dan project overhead), contingencies dan keuntungan (profit).

18

Komponen-komponen biaya tidak langsung menurut AACE International - the Association for the Advancement of Cost Engineering Tahun 1992 adalah sebagai berikut: 1. Pajak (Taxes) Pajak yang termasuk dalam komponen biaya tidak langsung bermacammacam, yaitu pajak material, pajak peralatan, pajak pekerja, dsb. Nilai pajak bervariasi secara signifikan tergantung dari lokasi dan status pajak owner. Pada umumnya mereka mempunyai katalog secara terpisah untuk memfasilitasi kegiatan keuangan. 2. Kondisi Umum (General Condition) Persyaratan umum kontrak menetapkan dan mendefinisikan hak dan kewajiban dari tiap pihak yang terlibat dalam kontrak dan membuat peraturan-peraturan proyek yang bersifat non teknis atau administratif. Peraturan ini masih bersifat umum dan tergantung dari karakteristik proyek. Hal yang termasuk ke dalam kondisi umum adalah pekerjaan yang tidak terdapat dalam dokumen kontrak yang harus dilaksanakan oleh kontraktor guna menunjang kegiatan konstruksi yang akan dilakukan sesuai dengan dokumen kontrak. Sebagai contoh adalah pekerjaan pembangunan jalan akses menuju lokasi proyek. Jika tidak terdapat di dalam spesifikasi pekerjaan dalam dokumen kontrak, maka pekerjaan pembangunan jalan akses tersebut masuk ke dalam kondisi umum. Selain itu yang termasuk dalam kondisi umum salah satunya adalah eskalasi. Eskalasi adalah kenaikan biaya dari suatu barang dan jasa yang diakibatkan karena faktor inflasi. Eskalasi berpengaruh pada biaya proyek dan pada umumnya dihitung dengan rumus tertentu sesuai dengan peraturan yang ada dan telah disepakati sebelumnya oleh kontraktor dan owner. 3. Biaya Resiko (Risk) Elemen risiko terdiri dari dua kategori, yaitu:

19

a. Keuntungan (Profit) Keuntungan adalah sejumlah uang yang oleh kontraktor dimasukkan kedalam harga sebagai kompensasi risiko, upaya, dan usaha untuk menjalankan sebuah proyek. Keuntungan sebenarnya adalah "sisa" dari uang yang tersisa setelah kontraktor telah memenuhi semua biaya (baik langsung maupun tidak langsung) pada suatu proyek. Jumlah keuntungan yang akan ditambahkan adalah sangat subjektif dan tergantung pada pertimbangan seperti kompetisi, seberapa penting proyek, pasar kerja, kondisi pasar lokal dan ekonomi. b. Biaya Tak Terduga (Contigency Fee) Biaya tak terduga adalah sejumlah nilai yang dimasukkan dalam estimasi bilamana terjadi perubahan atau penambahan biaya proyek yang diperlukan berdasarkan pengalaman. Biaya tak terduga dapat dihitung melalui analisis statistik proyek dimasa lalu dengan menerapkan biaya atau pengalaman yang diperoleh pada proyek-proyek yang sejenis. Hal ini biasanya tidak termasuk perubahan kejadian tidak terduga yang besar seperti pemogokan atau gempa bumi. Biaya tak terduga mencakup biaya yang mungkin disebabkan oleh desain yang tidak lengkap, kondisi yang tak terduga, atau ketidakpastian dalam lingkup proyek yang ditetapkan. Jumlah kontingensi akan tergantung pada status desain, pengadaan dan konstruksi, serta kompleksitas dan ketidakpastian dari bagian komponen proyek. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011), contingency adalah tak terduga, kemungkinan dan ketidaktentuan. Sedangkan contingency fee adalah biaya tak terduga. Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002) dalam Estimating

Construction Costs, contingency adalah komponen yang diperlukan dalam suatu estimasi. Contingency dimasukkan ke dalam estimasi berdasarkan pada ketidakpastian (uncertainty) seperti harga satuan,

eskalasi / kenaikan, jadwal, kelalaian, dan kesalahan dalam pelaksanaan proyek. Dalam pengertian sederhana, contingency adalah sejumlah uang

20

yang ditambahkan ke dalam estimasi awal yang bertujuan untuk memperoleh prediksi biaya total proyek yang lebih baik (Oberlender dan Peurifoy, 2002). 4. Overhead Overhead dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: 1. Overhead Kantor (Home Office Overhead) Overhead kantor adalah biaya akhir dan berdasarkan pengalaman dikeluarkan dalam melakukan bisnis, terlepas dari jumlah pekerjaan yang sudah diselesaikan atau kontrak yang diterima. Overhead kantor meliputi item seperti sewa kantor, utilitas, peralatan komunikasi (telepon dan mesin faks), iklan, gaji pegawai kantor (misalnya, direksi, estimator, dan staf pendukung lainnya), sumbangan, biaya hukum, dan pengeluaran akuntansi. Dengan kata lain, overhead kantor mewakili biaya overhead yang tidak dibebankan pada suatu proyek tertentu. Salah satu metode penghitungan biaya overhead kantor adalah dengan menggunakan metode prosentase dimana prosentase yang digunakan adalah rasio total biaya proyek tertentu terhadap seluruh total biaya divisi atau perusahaan. 2. Overhead Proyek (Job Site Overhead) Overhead proyek adalah ketentuan yang terdapat di dalam kontrak, pemesanan pembelian, atau spesifikasi yang tidak khusus untuk transaksi tertentu, tetapi yang berlaku untuk semua transaksi. Biasanya, item ini tidak dapat dibebankan pada elemen pekerjaan tertentu. Pada umumnya mencakup pengawasan, fasilitas sementara, kantor proyek, toilet, utilitas, transportasi, pengujian, ijin, foto, alat-alat kecil dan item serupa lainnya. Hal ini juga mungkin termasuk biaya obligasi dan asuransi yang terkait dengan suatu proyek tertentu. Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002), Komponen biaya tidak langsung dalam estimasi biaya konstruksi pada estimasi secara rinci, yaitu: 1. Biaya overhead, dibagi atas:

21

a. General Overhead / Overhead kantor, merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk operasional perusahaan ke dalam paket pekerjaan, seperti sewa kantor, gaji dan segala tunjangan direksi, karyawan (fasilitas karyawan, asuransi), biaya utilitas (listrik, air, telepon, retribusi lainnya), pemasaran, depresiasi dan lain-lain. b. Project Overhead / Overhead Proyek, merupakan biaya tidak langsung yang dikeluarkan untuk keperluan proyek dan dialokasikan proporsional terhadap paket pekerjaan seperti: biaya untuk melakukan estimasi; biaya mengikuti tender; biaya untuk jaminan proyek (Bid bond, performance bond, dll); biaya asuransi tenaga kerja, peralatan, material; perijinan; biaya utilitas proyek. 2. Contingencies (Kontijensi) Biaya ini dialokasikan untuk mengantisipasi atas kekurangan informasi dan kesalahan dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh sehingga menimbulkan suatu ketidakpastian (uncertainty) Hal ini dapat menjadi salah satu risiko yang akan dihadapi dalam pelaksanaan nantinya. Sebaiknya pengalokasian biaya kontijensi diminimalkan dengan melakukan estimasi dengan sebaik-baiknya dan melengkapi ketidakjelasan atau kekurangan informasi tersebut dengan menanyakan langsung kepada untuk mendapatkan nilai-niilai penawaran yang tetap. 3. Keuntungan (Profit) Tujuan estimator dalam menganalisis keuntungan adalah mengharapkan keuntungan yang maksimal. Keuntungan dapat diartikan sebagai suatu yang diperoleh atas risiko yang dihadapi. Besarnya nilai keuntungan dapat ditambahkan pada nilai estimasi yang dibuat. II.4. Model Estimasi Biaya Model estimasi biaya adalah serangkaian hubungan matematis yang diatur dalam urutan yang sistematis untuk merumuskan metodologi biaya dimana output, berupa estimasi biaya, berasal dari input yang terdiri dari kuantitas dan harga. Model estimasi biaya dapat disebut sebagai Cost Estimating Relationship (CER), yang dinyatakan dalam suatu persamaan matematis dimana biaya dapat dihitung secara proporsional dari variabel-variabel pembentuknya. Masing-masing

22

variabel mempunyai parameter tersendiri untuk membentuk persamaan tersebut (US DOE, 1997). Cost behaviour merupakan cara biaya untuk mengubah kedalam volume atau kegiatan. Analisa cost behaviour adalah pengujian dari variabel biaya yang spesifik untuk menentukan tanggapan mereka untuk mengubah kedalam produksi atau volume penjualan. Metode untuk menentukan cost behaviour adalah melalui model biaya (cost model) yang dapat ditentukan dengan engineering method, account analysis, scatter plot, high low dan statistical methods (regression) (Yusuf, 2010). Salah satu metode yang dapat digunakan dalam membuat suatu model estimasi biaya dengan pendekatan analisa statistik adalah dengan analisis regresi. Pendekatan analisis statistik dengan analisis regresi ini merupakan pendekatan yang baik dalam menentukan hubungan antara parameter dengan biaya serta menentukan persamaan matematis yang digunakan sebagai model estimasi biaya. Pemodelan estimasi biaya dengan bentuk regresi sangat tergantung pada banyaknya data historis yang diolah dalam analisis statistik. Berikut merupakan hasil penelitian mengenai pemodelan estimasi biaya, khususnya yang

menggunakan pendekatan analisis statistik dengan analisis regresi: 1. US DOE (1997), Melakukan perhitungan biaya tidak langsung dengan memplot rasio perbandingan antara biaya material dengan biaya tenaga kerja pada Gambar 2.2 sehingga didapatkan prosentase biaya tidak langsung terhadap biaya langsung. Gambar tersebut adalah sebuah diagram yang

dikembangkan melalui serangkaian kerangka waktu untuk rata-rata biaya tidak langsung dari berbagai kontraktor fixed price yang bekerja di Idaho Laboratorium Energi Nasional.

23

(Sumber: US DOE, 1997)
Gambar II.2 Idaho International Energy Laboratory Indirect Cost

2. Rahadian (2010), Melakukan perhitungan biaya tidak langsung dengan memodelkan estimasi biaya tidak langsung proyek konstruksi bangunan gedung pada kontraktor kualifikasi menengah berdasarkan data laporan biaya proyek pada RAB. Dari model tersebut terdapat hubungan nonlinier antara nilai proyek dengan resiko biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Besarnya rasio antara biaya tidak langsung terhadap total nilai proyek cenderung menurun seiring dengan kenaikan proyek. Model yang dihasilkan juga tidak memprediksikan biaya tidak langsung yang hampir sama, yaitu berkisar 10% meskipun dengan nilai proyek yang berbedabeda. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang dihasilkan tidak merepresentasikan nilai biaya tidak langsung secara aktual pada suatu proyek konstruksi. 3. Yusuf (2010), Melakukan perhitungan biaya tidak langsung dengan memodelkan estimasi biaya tidak langsung proyek konstruksi bangunan gedung pada kontraktor kualifikasi besar berdasarkan data laporan biaya proyek pada RAB. Dari hasil model tersebut terdapat hubungan nonlinear antara nilai

24

proyek dengan rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Kecenderungan model menggambarkan bahwa semakin besar nilai kontrak maka rasio biaya tidak langsung terhadap nilai kontrak semakin kecil, artinya nilai biaya tidak langsung semakin besar seiring dengan besarnya nilai kontrak. II.5. Kontrak Konstruksi Kontrak kerja adalah suatu persetujuan yang dibuat oleh satu pihak untuk mengerjakan sesuatu bagi kepentingan pihak yang lain menurut persyaratan yang telah ditentukan dan disepakati bersama (Artikel non-personal, 2010). Kontrak konstruksi adalah keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi (UUJK No.18, 1999). Kontrak konstruksi pada dasarnya adalah suatu bentuk formal perjanjian yang mengalihkan penanggungan suatu resiko dari satu pihak ke pihak lainnya melalui mekanisme pemberian suatu imbalan tertentu. Resiko pembangunan yang dihadapi oleh pemilik dialihkan kepada kontraktor melalui perjanjian kontrak konstruksi. Sebaliknya, pemilik berjanji menanggung resiko pembayaran kepada kontraktor sebagai imbalan melaksanakan pembangunan konstruksi yang diinginkannya (Patar, 2005). Penyebab suatu proyek konstruksi memiliki ketidakpastian dan tingkat resiko tertentu salah satunya oleh jenis kontrak konsrtuksi yang dipakai oleh. Hal ini memungkinkan untuk setiap proyek konstruksi memiliki perlakukan yang berbeda dalam melakukan estimasi biaya total proyek.

II.5.1. Jenis-Jenis Kontrak Konstruksi Pemilihan jenis kontrak konstruksi dalam suatu proyek didasarkan pada karakteristik proyek yang akan diselesaikan. Kontrak kontsruksi untuk peruntukan

25

proyek bangunan gedung tentunya berbeda dengan kontrak konstruksi untuk peruntukan proyek non-gedung. Salah satu jenis kontrak konstruksi adalah kontrak fixed price. Kontrak Fixed price adalah kontrak konstruksi yang mengatur proses penyelesaian pekerjaan konstruksi didasarkan pada harga yang disetujui dan pelaksanaannya menurut bestek (tender dokumen) yang ditetapkan dan diterima kontraktor. Kontrak fixed price terdiri dari dua, yaitu kontrak lump sum dan kontrak unit price. II.5.1.1. Kontrak Lump Sum Definisi kontrak lum sump adalah kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap serta semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan yang sepenuhnya ditanggung oleh penyedia jasa sepanjang gambar dan sepesifikasi tidak berubah (PP No. 29 Tahun 2000 Pasal 21 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi). Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa pada kontrak lump sum terdapat halhal sebagai berikut: 1. Jumlah harga tidak berubah kecuali adanya perintah perubahan jumlah harga dari pengguna jasa konstruksi (owner). 2. Volume pekerjaan dalam kontrak tidak boleh diukur ulang. 3. Nilai kontrak berubah bila ada perintah perubahan seperti kerja tambah, kurang atau perubahan spek. 4. Resiko salah hitung volume ada pada penyedia jasa.

II.5.1.2. Kontrak Unit Price Kontrak unit price adalah kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu, yang volume

26

pekerjaannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia jasa (PP No. 29 Tahun 2000 Pasal 21 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi). Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa pada kontrak unit price terdapat halhal sebagai berikut: 1. Tidak ada resiko bagi pengguna jasa terhadap kelebihan membayar. 2. Tidak ada keuntungan mendadak bagi penyedia jasa. 3. Memungkinkan terjadinya pekerjaan ulang sehingga dapat menimbulkan terjadinya tindakan kolusi.

27

II.6. Kualifikasi Perusahaan Kontraktor Berdasarkan Perlem LPJK No. 11a Tahun 2008 tentang Registrasi Usaha Jasa Konstruksi Pasal 10, perusahaan kontraktor dikualifikasikan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu kontraktor kualifikasi kecil, menengah, dan besar. Kemudian dalam peraturan tersebut, perusahaan kontraktor dikualifikasikan sebagai berikut:
Tabel II.1. Persyaratan Penetapan Kualifikasi Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi

Keuangan No. Gol. Usaha Kualifikasi Batas Nilai Satu Pekerjaan (Rp) Jumlah Paket Pek Sesaat Kekayaan Bersih (Rp) (6) Kemampuan Keuangan Sesaat (Seluruh Paket) (Rp) (7) Tidak Persyaratkan 50.000.000 s/d 600.000.000 100.000.000 s/d 800.000.000 400.000.000 s/d 1000.000.000 90.000.000 s/d 1.080.000.000 180.000.000 s/d 1.440.000.000 720.000.000 s/d 1.800.000.000

(1)

(2)

(3) Grd 1

(4) 0 s/d 50.000.000 0 s/d 300.000.000 0 s/d 600.000.000 0 s/d 1000.000.000

(5) 2

1.

K E C I L

Grd 2

3

Grd 3

3

Grd 4

3

28

2.

M E N E N G A H

Grd 5

>1000.000.000 s/d 10.000.000.000

5

1000.000.000 s/d 10.000.000.000

4.200.000.000 s/d 42.000.000.000

Grd 6 B E S A R Grd 7

>1000.000.000 s/d 25.000.000.000 > 1000.000.000 s/d Tak Terbatas

8

3000.000.000 s/d 25.000.000.000

64.000.000.000 s/d 160.000.000.000 64.000.000.000 s/d Tak Terbatas

3.

8 Atau 10.000.000.000 1, 2, N s/d N = Jumlah Tak Terbatas Paket Sesaat

29

Bab III Metodologi Penelitian

Penelitian ini adalah suatu kajian mengenai praktek estimasi biaya tidak langsung proyek infrastruktur jalan yang dilakukan oleh kontraktor kualifikasi kecil, menengah, dan besar termasuk mengidentifikasi komponen-komponen biaya tidak langsung yang diestimasi. Bagian lain penelitian ini juga dibuat suatu model biaya tidak langsung yang dapat digunakan dalam estimasi biaya proyek konstruksi, khususnya pada proyek infrastruktur jalan. III.1. Pendekatan Penelitian Penelitian dirancang sebagai studi yang bertujuan sebagai berikut: 1. Mempelajari prinsip-prinsip, dan mekanisme estimasi biaya tidak langsung pada proyek jalan. 2. Membuat model estimasi biaya tidak langsung sehingga dapat digunakan untuk menghitung besarnya biaya tidak langsung pada proyek jalan. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan secara kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran karakteristik dan prilaku praktek estimasi biaya tidak langsung proyek infrastruktur jalan yang dilakukan oleh kontraktor kualifikasi kecil, menengah, dan besar. Sedangkan pendekatan kuantitatif dilakukan untuk merumuskan model estimasi biaya berdasarkan data empirik berupa data estimasi biaya proyek pada laporan aktual, dan data estimasi biaya proyek pada RAB. Pengambilan data akan dilakukan dengan melalui mekanisme wawancara, penyebaran kuesioner dan pengumpulan data laporan aktual dan data RAB dari calon responden yang berasal dari kontraktor kualifikasi kecil, menengah, dan besar di Indonesia. Dengan pendekatan yang ada, maka survei dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Kuesioner Pengambilan data dengan kuesioner dilakukan dengan melakukan pendekatan secara kualitatif untuk memperoleh gambaran bagaimana cara

30

setiap manajer konstruksi melakukan penetapan dan perhitungan biaya tidak langsung dalam suatu proyek jalan. Selain itu dengan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan variabel-variabel yang digunakan dalam menentukan besaran biaya tidak langsung tersebut. 2. Wawancara Pengambilan data dengan wawancara ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif untuk mendukung data kualitatif hasil kuesioner yang telah dilakukan, dan untuk mengetahui setiap biaya tidak langsung serta variabel-variabelnya disetiap proyek jalan yang ditangani oleh kontraktor di Indonesia. Pengambilan data dengan wawancara ini bersifat optional, jika dari responden bersedia untuk diwawancara lebih lanjut, maka akan dilakukan wawancara langsung kepada responden. Namun jika tidak bersedia untuk diwawancara lebih lanjut, maka hanya dilakukan pengambilan data dengan kuesioner. Pengambilan data kepada setiap responden bisa dilakukan dengan kedua instrumen survei tersebut berupa kuesioner, dan wawancara atau hanya dengan kueasioner saja. 3. Pengambilan data Pendekatan lainnya adalah pendekatan kuantitatif yang dilakukan untuk merumuskan model estimasi biaya berdasarkan data empirik dengan metode yang digunakan adalah pengumpulan data estimasi biaya proyek dari RAB, dan data laporan aktual proyek. III.2. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang akan digunakan sama seperti penelitian terdahulu, yaitu praktek estimasi biaya tidak langsung yang dilakukan kontraktor pada proyek bangunan gedung. Rancangan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Tahap Pertama Pada tahap pertama dilakukan kajian literatur terkait dengan referensi mengenai estimasi biaya konstruksi. Kajian literatur dilakukan bertujuan untuk menyusun instrumen penelitian kajian praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek infrastruktur jalan. Hasil output dari tahap pertama

31

adalah instrumen penelitian berupa kuesioner kajian praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek infrastruktur jalan. Kuesioner dilampirkan pada bagian lampiran. 2. Tahap Kedua Pada tahapan kedua berupa rancangan instrumen penelitian dalam bentuk survei dan pengambilan data. Penelitian dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu: a. Pendekatan kualitatif berupa survei yang dilakukan dengan pengisian kuesioner dan wawancara. Pendekatan ini dilakukan bertujuan untuk memperoleh gambaran karakteristik dan prilaku praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek infrastruktur jalan secara nasional. b. Pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data empirik berupa hasil estimasi biaya proyek dilakukan untuk merumuskan model estimasi biaya berdasarkan data empirik berupa data estimasi biaya pada saat proses lelang dan aporan Pelaksanaan Proyek Infrastruktur Jalan. 3. Tahap Ketiga Pada tahapan ketiga adalah menganalisis data yang telah diperoleh baik dari survei yang telah dilakukan, kemudian merumuskan model estimasi biaya tidak langsung pada proyek infrastruktur jalan. Pada proses analisa data, adanya tahapan normalisasi data empirik yang diperoleh. Normalisasi data dilakukan dengan cara menjadikan angka moneter nilai proyek dalam waktu yang sama pada saat penelitian terjadi, yaitu pada tahun 2011. Nilai proyek tiap tahunnya dapat dipengaruhi oleh inflasi sehingga perlu adanya normalisasi menjadi nilai sekarang (present worth). Data indeks biaya yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan sumber lain yang dipakai untuk mengoreksi data. Setelah proses normalisasi, data kemudian dianalisis berdasarkan instrumen survei yang dipakai, yaitu kuesioner untuk melihat praktek estimasi biaya tidak langsung yang dilakukan oleh kontraktor kecil, menengah, dan besar pada proyek infrastruktur jalan. Dalam kuisioner

32

dapat terlihat karakteristik kontraktor dari instrumen pertanyaan yang diberikan, yang mana adalah pengetahuan kontraktor mengenai pengertian biaya tidak langsung, bagaimana penetapan dan pengendalian estimasi biaya tidak langsung, data pengalaman mengerjakan proyek infrastruktur jalan, dan komponen-komponen yang mempengaruhi biaya tidak langsung pada proyek infrastruktur jalan. Untuk data empirik berupa data laporan biaya pelaksanaan proyek infrastruktur jalan yang diperoleh dari kontraktor kecil, menengah, dan besar dianalisis dengan menggunakan analisis statistik. Parameter yang digunakan dalam biaya tidak langsung diidentifikasikan berdasarkan

pengaruhnya terhadap estimasi biaya proyek. Berdasarkan pendekatan tersebut, maka data dianalisis dengan pendekatan regresi non-linier untuk mendapatkan hubungan antara parameter dan persamaan matematis untuk mengestimasi biaya tidak langsung. 4. Tahap Akhir Pada tahap akhir adalah perumusan gambaran karakteristik praktek estimasi biaya dan pemodelan estimasi biaya tidak langsung yang dilakukan oleh kontraktor kualifikasi kecil, menengah, dan besar di Indonesia.

33

Berikut ini bagan proses penelitian yang akan dilakukan.
TAHAPAN PENELITIAN OUTPUT

Penajaman Rumusan Masalah dan Metodologi Penelitian

Pernyataan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian, dan ruang lingkup penelitian

TAHAP I Kajian Literatur

1. Komponen biaya proyek 2. Metode dalam model biaya

TAHAP II Rancangan Survei dan Pengumpulan Data Empirik

1. Desain instrumen survei (wawancara dan kuesioner) 2. Kumpulan data hasil dari survei yang dilakukan

Instrumen survai berupa Kuesioner

Data empirik berupa data estimasi biaya proyek untuk proses lelang dan data laporan aktual proyek

TAHAP III Analisis Data dan Pembuatan Model Estimasi Biaya Tidak Langsung

1. Praktek yang digunakan kontraktor dalam mengestimasi biaya tidak langsung 2. Model estimasi biaya tidak langsung

TAHAP IV Kesimpulan Praktek Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Infrastruktur Jalan

Rumusan gambaran karakteristik pola estimasi biaya tidak langsung yang dapat dijadikan sebagai referensi oleh kontraktor kecil, menengah, dan besar dalam melakukan estimasi biaya proyek

Gambar III.1. Bagan Proses Penelitian

III.3. Target Responden Berdasarkan pada Peraturan LPJK No.11a Tahun 2008 tentang Registrasi Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi, definisi dari klasifikasi adalah bagian kegiatan registrasi untuk menetapkan penggolongan usaha jasa pelaksanaan konstruksi menurut bidang, subbidang dan bagian subbidang. Sedangkan kualifikasi adalah bagian kegiatan registrasi untuk menetapkan penggolongan usaha jasa pelaksanaan konstruksi menurut tingkat atau kedalaman kompetensi dan potensi kemampuan usaha.

34

Pada Pasal 10 Peraturan LPJK No.11 Tahun 2008, yang termasuk dalam golongan kualifikasi usaha kecil adalah badan usaha gred 1, gred 2, gred 3 dan red 4. Kualifikasi usaha menengah adalah badan usaha gred 5. Sedangkan kualifikasi usaha besar adalah badan usaha gred 6 dan gred 7. Responden yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah kontraktor dengan klasifikasi usaha bidang infrastruktur jalan (berupa proyek rehabilitasi jalan yang sudah ada dan proyek pembangunan jalan baru) dan golongan kualifikasi kecil, menengah dan besar di Indonesia. Responden yang diharapkan menjawab kuesioner ini adalah orang yang berpengalaman dalam pembiayaan proyek konstruksi, baik terlibat langsung dalam melakukan estimasi biaya proyek pada proses pelelangan maupun pengendalian dalam pelaksanaan biaya konstruksi khususnya biaya tidak langsung. III.4. Perancangan Model Kuesioner Kuesioner digunakan sebagai instrumen yang menggambarkan karakteristik kontraktor dalam melakukan estimasi biaya tidak langsung proyek infrastruktur jalan. Melalui pengisian kuesioner ini diharapkan dapat diketahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki kontraktor dalam melakukan estimasi biaya tidak langsung dan apakah metode yang dipakai selama ini cukup efektif atau tidak. Model kuesioner yang digunakan adalah model kuesioner tertutup namun tetap memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan alternatif jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya kuesioner akan dianalisisi berdasarkan analisis statistik deskriptif.

35

Berikut adalah alur pertanyaan dan tujuan dari setiap bagian kuesioner.
Pendahuluan Tujuan Survei Instrumen Survei Disclaimer Bag. A Informasi Umum A.1. Data Perusahaan A.2. Data Resoponden TUJUAN: Untuk mengetahui apakah responden memahami tentang biaya tidak langsung dan mengetahui sejauh mana pemahaman responden terhadap biaya tidak langsung. Bag. B Pengertian Biaya Tidak Langsung Bag. C Mekanisme Penetapan dan Pengendalian Estimasi Biaya Tidak Langsung TUJUAN: 1. Untuk mengetahui bagaimana cara responden menghitung besarnya biaya tidak langsung dalam suatu proyek konstruksi. TUJUAN: 1. Untuk mendapatkan data empirik nilai proyek dan besarnya biaya tidak langsung. 2. Untuk mengetahui jenis kontrak yang sering digunakan dalam proyek infrastruktur jalan. TUJUAN: Untuk menelusuri apakah mekanisme yang dilakukan dalam mengestimasi biaya tidak langsung sama? Bila tidak, dimana letak perbedaaannya dan faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan tersebut. TUJUAN: Untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap responden.

Bag. D Pengalaman Mengerjakan Proyek Infrastruktur Jalan

Bag. E Komponen Biaya Tidak Langsung

Gambar III.2. Bagan Pertanyaan dan Tujuan Kuesioner

Penjelasan bagan alur kuesioner: 1. Pada Bagian A output yang diperoleh adalah tingkat validasi dari kuesioner yang telah diisi. Bagian ini merupakan bagian penting dari

36

semua bagian kuesioner karena digunakan sebagai penilaian awal untuk mensortir kuesioner yang telah diperoleh kembali dari responden. 2. Setelah Bagian A dinyatakan valid, maka analisa kuesioner dapat dilanjutkan ke bagian berikutnya, yaitu pada Bagian B, C, D, dan E. pada Bagian B untuk menentukan apakah responden menggunakan estimasi biaya tidak langsung sebagai suatu metoda dalam menentukan estimasi biaya proyek. 3. Setelah Bagian B diketahui, maka peneliti dapat mengatahui mekanisme dari responden dalam menetapkan estimasi biaya tidak langsung dengan melalui pertanyaan-pertanyaan yang ada pada Bagian C. Jika pada Bagian B diketahui bahwa responden tidak memahami mengenai biaya tidak langsung, maka responden tidak diharuskan untuk mengisi pertanyaanpertanyaan pada Bagian E. 4. Pada Bagian D digunakan untuk mendapatkan data empirik pengalaman kontraktor dalam melaksanakan proyek infrastruktur jalan. Data tersebut berupa data nilai proyek dan besarnya biaya tidak langsung dari nilai proyek yang ditetapkan. Besaran biaya tidak langsung ini dapat berupa nilai moneter atau prosentase tertentu dari nilai total proyek yang ditetapkan. 5. Pada Bagian E berkaitan dengan kuesioner Bagian B. Dengan mengetahui informasi bahwa responden memahami mengenai biaya tidak langsung, maka peneliti dapat menelusuri apakah mekanisme yang dilakukan oleh responden dalam menetapkan biaya tidak langsung sama. Jika terdapatnya suatu perbedaan, maka dimana letak perbedaan tersebut, factor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.

37

III.5. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner ke kontraktor kualifikasi kecil, menengah dan besar di Indonesia melalui pos. dalam jangka waktu 2 (dua) bulan peneliti menunggu jawaban responden. Selanjutnya kuesioner yang telah dijawab dan dikembalikan oleh responden ditindak lanjuti untuk dilakukan wawancara. Upaya wawancara dilakukan untuk mengetahui data informasi yang lebih detail mengenai biaya tidak langsung. Proses pengumpulan data dari pengiriman berkas kuesioner, pengembalian sampai wawancara direncanakan akan memakan waktu sekitar 3 (tiga) bulan.

38

Bab IV

Analisis Data

IV.1. Rekap Data Kuesioner Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan melalui survei dengan instrumen kuesioner dan wawancara. Pada tahap awal dilakukan survei pendahuluan, berupa penyebaran kuesioner dan wawancara di Kota Palembang. Survei dilakukan dengan penyebaran kuesioner ke tujuh kontraktor dengan kualifikasi kontraktor menengah dan besar. Kemudian kuesioner yang telah dijawab ditindaklanjuti dengan wawancara kepada resoponden. Tujuan dilakukannya wawancara adalah untuk mendapatkan data dan informasi yang lebih detail dan jelas mengenai estimasi biaya tidak langsung yang dilakukan oleh responden. Pada survei selanjutnya, penyebaran kuesioner dilakukan melalui pos dan email dari bulan Desember 2010 hingga bulan Juni 2011 mencapai 21 kuesioner atau 32.30% dari total pengiriman kuesioner untuk wilayah Medan, Padang,

Palembang, Bengkulu, Jakarta, Bandung, dan Purwokerto. Kuesioner yang tidak dikembalikan oleh responden berjumlah 44 kuesioner atau 67%. Berikut rekapitulasi jumlah data responden pada kontraktor menengah dan besar.
Tabel IV.1. Rekapitulasi Pengembalian Kuesioner
Jumlah Kuesioner Kuesioner Kuesioner Kuesioner Tidak Disebar Kembali Kembali 5 1 4 10 1 9 15 10 5 10 0 10 10 5 5 10 3 7 5 1 4 65 21 44 100% 32.30% 67,69%

No. 1 2 3 4 5 6 7

Wilayah Medan Padang Palembang Bengkulu Jakarta Bandung Purwokerto Jumlah

39

Tabel IV.1 menjelaskan informasi rekapitulasi dari jawaban responden berdasarkan survei dengan instrumen kuesioner dan wawancara yang telah dilakukan. Pertanyaan yang diberikan terdiri dari lima bagian, yaitu Informasi Umum berupa Data Perusahaan dan Data Responden, Pengertian Biaya Tidak Langsung, Mekanisme Penetapan dan Pengendalian Estimasi Biaya Tidak Langsung, Pengalaman Mengerjakan Proyek Jalan, dan Komponen Biaya Tidak Langsung. Pada bagian informasi umum berupa data perusahaan, dan data responden terdapat dua kelompok pertanyaan, yaitu data perusahaan yang terdiri dari 11 pertanyaan, dan data responden yang terdiri dari sembilan pertanyaan. Pada bagian pengertian biaya tidak langsung hanya terdiri dari satu pertanyaan yang berkaitan dengan informasi mengenai pengertian biaya tidak langsung yang diketahui oleh responden. Pada bagian mekanisme penetapan dan pengendalian estimasi biaya tidak langsung terdiri dari delapan pertanyaan yang berkaitan dengan informasi mengenai mekanisme penetapan dan pengendalian estimasi biaya tidak langsung yang diketahui oleh responden. Pada bagian pengemalam kontraktor mengerjakan proyek jalan terdiri dari tiga pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman dalam mengerjakan proyek jalan, jumlah, jenis proyek dan tipe kontrak yang sering digunakan serta data proyek jalan yang pernah atau sedang dikerjakan. Pada bagian komponen biaya tidak langsung terdapat empat pertanyaan mengenai informasi komponen yang terdapat dalam estimasi biaya tidak langsung yang diketahui oleh responden. IV.2. Informasi Umum Pada bagian kelompok pertanyaan ini mengenai profil perusahaan yang mencakup data perusahaan dan data responden. Bagian ini digunakan untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap responden, sejauh mana responden dapat memberikan informasi terhadap pertanyaan yang diberikan, apakah profil perusahaan dan profil responden sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dan apakah responden adalah orang yang tepat sebagai perwakilan dari perusahaan untuk diwawancara. Berikut merupakan informasi hasil pengumpulan data yang telah dilakukan.

40

a. Data Perusahaan Data perusahaan menggambarkan informasi berupa profil. Bagian ini memberikan informasi mengenai validitas perusahaan sesuai dengan objek dalam penelitian ini.

Gambar IV.1 Persentase Jenis Usaha
Kategori Kategor Persentase Kategori Perusahaan Perusahaa i n, Swasta Perusah Nasional, aan, BUMN Swasta 71.43%, 71% Asing,… Swasta Nasional Kategori Swasta Asing Perusahaa n, BUMN, 28.57%, 29%

Gambar IV.2 Persentase Kategori Perusahaan

41

Gambar IV.3 Persentase Kualifikasi Perusahaan Berdasarkan Klasifikasinya

Gambar IV.4 Persentase Umur Perusahaan

Gambar IV.5 Persentase Klasifikasi Perusahaan

42

Gambar IV.6 Persentase Jenis Proyek Yang Sering Ditangani

Persentase Ketersediaan Divisi Estimasi Biaya Pada Perusahaan Apakah ada
divisi yang menangani Ada estimasi biaya Ada Tidak pada perusaha…

Apakah ada divisi yang menangani estimasi biaya pada perusaha…

Gambar IV.7 Persentase Ketersediaan Divisi Estimasi Biaya Pada Perusahaan
Persentase Persentase Persentase Persentase Latar Belakang Pendidikan Latar Latar Latar Personil Estimasi Belakang Belakang Belakang SMP Pendidikan Pendidikan Pendidikan Personil Personil Personil SMA/STM Estimasi,… Estimasi,… Estimasi,… D3 Persentase Persentase S1 Latar Latar Belakang Belakang S2 Pendidikan Pendidikan Personil Personil Estimasi,… Estimasi,…

Gambar IV.8 Persentase Latar Belakang Pendidikan Personil Estimasi

43

Persentase Persentase Pengalaman Personil Pengalama Estimasi n Personil Estimasi, > 10 tahun, < 5 tahun Persentase 32%, 32% 5-10 tahun Pengalama Persentase >n Personil 10 tahun Pengalama Estimasi, < n Personil 5 tahun, Estimasi, 532%, 32% 10 tahun, 36%, 36%

Gambar IV.9 Persentase Pengalaman Personil Estimasi

Informasi yang dapat diperoleh berdasarkan Gambar IV.1 – Gambar IV.9 di atas berupa kategori kontraktor yang dijadikan objek penelitian adalah kontraktor nasional, yaitu kontraktor BUMN dan swasta nasional (kontraktor besar dan menengah) dengan didominasi sebagian besar adalah kontraktor besar yang memiliki pengalaman di dunia konstruksi lebih dari 10 tahun dengan klasifikasi perusahaan adalah infrastruktur jalan dan bangunan lainnya. Kebanyakan proyek yang ditangani sejalan dengan klasifikasi perusahaan, yaitu jenis proyek jalan dan bangunan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan kontraktor di Indonesia dalam skala nasional adalah general contractor dalam menjalankan kegiatannya. Informasi lainnya yang dapat diperoleh bahwa sebagian besar responden memiliki divisi estimasi, sehingga dapat dikatakan bahwa responden baik kontraktor BUMN maupun swasta nasional telah fokus mengenai estimasi biaya. Hal ini didukung juga dengan latar belakang pendidikan dari personil estimasi yang sebagian besar berasal dari latar belakang pendidikan S1 dengan pengalaman kerja dibagian estimasi 5-10 tahun. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden adalah kontraktor besar dan menengah swasta nasional dengan

pengalaman lebih dari 10 tahun dan sebagian besar perusahaan memiliki divisi estimasi dengan personil estimasi berlatar belakang pendidikan S1 dan pengalaman 5-10 tahun dibagian estimasi. Hal ini dianggap dapat mewakili

44

pandangan industri konstruksi secara nasional mengenai praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek jalan di Indonesia. b. Data Responden Data responden memperlihatkan informasi berupa profil responden yang mengisi kuesioner dan diwawancara. Dengan adanya informasi tersebut dapat diketahui apakah responden orang yang tepat untuk mewakili perusahaannya dalam menjawab kuesioner dan diwawancara mengenai praktek estimasi biaya tidak langsung pada perusahaannya. Berikut informasi yang diperoleh mengenai data profil responden.
Jabatan Jabatan Jabatan Persentase Jabatan Responden Estimator/Enginee responden, responden, responden, Manajer, Direktur, r Estimator/ 14.29%, 4.76%, 5% Engineer, Staf Engineering 15% 28.57%, 30% Kepala Jabatan Jabatan Departemen responden, responden, Manajer Kepala Staf Departeme Engineerin n, 23.81%, Direktur g, 23.81%, 25% 25%

Gambar IV.10 Persentase Jabatan Responden
Pendidikan Pendidikan Persentase Pendidikan TerakhirPendidikan terakhir, terakhir, terakhir, Responden S3, 0%, 0% 9.52%, S2, 14.29%, D3, 14% 10%D3 S1 S2 Pendidikan terakhir, S1, 76.19%, 76% S3

Gambar IV.11 Persentase Pendidikan Terakhir Responden

45

Latar Persentase Latar Belakang Keilmuan Latar belakang belakang Responden keilmuan, keilmuan, Arsitektur, Politeknik, 4.76%, 5% 9.52%, Politeknik 9% Latar belakang keilmuan, Teknik Sipil, 85.71%,… Teknik Sipil Arsitektur

Gambar IV.12 Persentase Latar Belakang Keilmuan Responden
Pengalama Persentase Pengalaman Kerja Pengalama Pengalama n kerja n kerja n kerja Responden Di Perusahaan dibagian dibagian dibagian teknik, >15 teknik, <5 tahun <5 teknik, 11tahun, tahun, 15 tahun, 5-10 tahun 19.05%,… 38.10%,… 4.76%, 5% Pengalama 11-15 tahun n kerja >15 tahun dibagian teknik, 510 tahun, 33.33%,…

Gambar IV.13 Persentase Pengalaman Kerja Responden Di Perusahaan
Pengalama Pengalama Persentase Pengalaman Kerja Pengalama n kerja n kerja n kerja dibagianResponden Sebagai Profesional dibagian dibagian teknik, 11teknik, >15 teknik, <5 tahun <5 15 tahun, tahun, tahun, 5-10 tahun 0%, 0% 9.52%,… 19.05%,… Pengalama 11-15 tahun n kerja >15 tahun dibagian teknik, 510 tahun, 9.52%,…

Gambar IV.14 Persentase Pengalaman Kerja Responden Sebagai Profesional

Dari Gambar IV.10 – Gambar IV.14 di atas terlihat bahwa sebagian besar responden adalah estimator/engineer, staf engineer dan kepala departemen dengan latar belakang pendidikan S1 teknik sipil yang memiliki pengalaman kerja < 5

46

tahun di perusahaan dan sebagai profesional. Responden dapat memenuhi target yang diharapkan karena responden adalah orang yang dapat mewakili perusahaan mengenai pandangan praktek estimasi biaya tidak langsung untuk memenangkan suatu proyek konstruksi. Namun jika dibandingkan secara statistik jumlah responden yang didapat dengan jumlah perusahaan konstruksi secara nasional, data perusahaan dan responden memiliki tingkat keandalan yang rendah. IV.3. Pemahaman Kontraktor Mengenai Biaya Tidak Langsung Objektif dari kelompok pertanyaan ini adalah untuk mengetahui apakah responden, kontraktor, mengerti tentang biaya tidak langsung atau tidak, sejauh mana pemahaman responden mengenai biaya tidak langsung dan dari mana mereka mengetahuinya. Berikut informasi yang diperoleh mengenai pemahaman kontraktor mengenai biaya tidak langsung.
Apakah Persentase Responden Mengerti Yang saudara Dimaksud Dengan Biaya Tidak Langsung mengerti apa yang dimaksud Ya dengan… Apakah Tidak saudara mengerti apa yang dimaksu d…

Gambar IV.15 Persentase Responden Mengerti Mengenai Biaya Tidak Langsung

Gambar IV.16 Persentase Alasan Responden Mengetahui Biaya Tidak Langsung

47

Berdasarkan hasil survei pada Gambar IV.15

terlihat bahwa sebagian besar

responden mengerti tentang biaya tidak langsung. Sedangkan untuk mengetahui dari mana responden mengetahui mengenai biaya tidak langsung dapat dilihat pada Gambar IV.16. Sebagian besar responden menjawab mengetahui biaya tidak langsung karena bagian dari pekerjaan. Namun beberapa dari responden menjawab alasan mengetahui biaya tidak langsung adalah gabungan dari bagian dari pekerjaan, berdasarkan pengalaman dan dari informasi dan pengetahuan. Berdasarkan fakta yang ada, maka kontraktor besar dan menengah telah mengetahui pengertian biaya tidak langsung. Untuk dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan kontraktor dalam mendeskripsikan dan memahami biaya tidak langsung dapat dianalisis dari mana mereka mengetahuinya. Sebagian besar responden menjawab bahwa mengetahui pengertian biaya tidak langsung karena merupakan bagian dari pekerjaan mereka. Artinya responden mengetahui bahwa biaya tidak langsung adalah bagian dari tahap perencanaan pembiayaan proyek untuk membuat suatu pengajuan harga penawaran yang akan diikutkan dalam pelelangan proyek konstruksi, sehingga dalam masa tahap perencanaan perlu dilakuakannya estimasi biaya untuk mendapatkan nilai yang optimal. Beberapa responden menjawab mengetahui biaya tidak langsung dari gabungan pekerjaan, berdasarkan pengalaman, dan informasi dan pengetahuan. Hal ini dapat berarti bahwa responden mengenal cukup jauh apa itu biaya tidak langsung, sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai landasan untuk mengetahui mekanisme, dan faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangan dalam mengestimasi biaya tidak langsung. Dari informasi data responden, sebagian besar jabatan responden adalah estimator/engineer di perusahaannya dengan pengalaman < 5 tahun dan beberapa responden lainnya sebagai staf engineer dan kepala departemen dengan pengalaman 5-10 tahun. Informasi ini berkaitan dengan informasi responden mengetahui pengertian biaya tidak langsung dari informasi dan pengetahuan sebagaimana dijelaskan di atas. Responden mengestimasi biaya lebih banyak

48

menggunakan informasi dan pengetahuan mereka dengan latar belakang pendidikan S1 dan dari lingkungan kerja. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa responden, baik kontraktor menengah maupun besar memiliki pemahaman yang baik mengenai biaya tidak langsung. Dapat dijelaskan dari personil dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang baik, diwakili oleh estimator/engineer, staf engineer dan kepala departemen dengan pengalaman 5-10 tahun. Selain itu didukung juga perusahaan kontraktor menengah dan besar (BUMN dan swasta nasional) dengan pengalaman 10-20 tahun. Pemahaman responden mengenai biaya tidak langsung sebagian besar diperoleh dari pekerjaan mereka dalam mengestimasi biaya dan berdasarkan pengalaman. Ini artinya responden telah dapat mengidentifikasi mekanisme yang dipakai dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya dalam mengestimasi biaya tidak langsung. IV.4. Mekanisme Penetapan dan Pengendalian Estimasi Biaya Tidak Langsung Objektif dari kelompok pertanyaan ini secara umum adalah untuk mengetahui bagaimana mekanisme kontraktor dalam menetapkan dan menghitung besarnya biaya tidak langsung dalam suatu proyek konstruksi, apakah setiap proyek memiliki perlakuan yang sama atau berbeda dalam mengestimasi biaya proyeknya, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya serta apa saja usaha kontraktor dalam upaya mengendalikan biaya tidak langsung. a. Pentingnya Estimasi Biaya Tidak Langsung Objektif dari bagian pertanyaan ini adalah untuk mengetahui seberapa penting responden menganggap estimasi biaya tidak langsung dalam tahapan

mengestimasi biaya proyek konstruksi dan alasan yang menganggap hal tersebut menjadi penting. Berikut informasi yang diperoleh berdasarkan hasil survei mengenai pentingnya estimasi biaya tidak langsung.

49

Menurut Persentase Pentingnya Estimasi Biaya saudara saudara Tidak Langsung seberapa seberapa penting perusahaan saudara… penting perusahaan saudara… Tidak penting Penting Menurut Tidak Menjawab saudara seberapa penting perusahaan saudara…

Menurut

Gambar IV.17 Persentase Pentingnya Estimasi Biaya Tidak Langsung

Gambar IV.18 Persentase Alasan Pentingnya Estimasi Biaya Tidak Langsung

Dari hasil survei yang dilihatkan pada Gambar IV.17 mengenai pentingnya estimasi biaya tidak langsung terlihat bahwa sebagian besar responden menjawab estimasi biaya tidak langsung penting. Kemudian pada Gambar IV.18 menjelaskan alasan responden menganggap estimasi biaya tidak langsung penting. Dari hasil survei terlihat bahwa sebagian besar responden karena dapat mempengaruhi keuntungan dan berguna untuk antisipasi biaya risiko. Ini berarti bahwa responden tidak hanya fokus kepada pencapaian target keuntungan namun juga telah memikirkan lebih jauh mengenai antisipasi biaya risiko. Selanjutnya setelah kedua hal tersebut terpenuhi, barulah responden berfikir untuk

50

mengestimasi biaya tidak langsung dengan optimal untuk menang dalam penawaran. Sebagian dari responden beralasan pentingnya estimasi biaya tidak langsung adalah karena gabungan untuk mempengaruhi kesempatan menang dalam penawaran, mempengaruhi keuntungan yang akan diperoleh dan berguna untuk mengantisipasi biaya risiko. Hal ini berarti responden dengan jawaban tersebut menganggap estimasi biaya tidak langsung sangat penting dengan berusaha menerapkan ketiganya. Selain itu jika dikaitkan dengan hasil survei sebelumnya pada Gambar IV.7 dimana sebagian besar kontraktor telah memiliki divisi estimasi dalam perusahaannya. Dengan adanya divisi estimasi dan kesadaran yang tinggi akan pentingnya estimasi biaya serta didukung dengan sumber daya manusia (personil estimasi) dengan latar belakang pendidikan yang baik, memperlihatkan bahwa kontraktor telah fokus untuk mendukung hasil estimasi biaya yang baik. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa responden menganggap melakukan estimasi biaya tidak langsung akan berpengaruh pada besar-kecilnya keuntungan yang akan diperoleh dan berguna untuk mengantisipasi biaya risiko, sehingga menganggap penting untuk melakukan estimasi biaya tidak langsung. b. Mekanisme Penetapan Biaya Tidak Langsung Objektif dari bagian ini adalah untuk mengetahui bagaimana mekanisme yang dilakukan oleh kontraktor dalam menetapkan biaya tidak langsung. Setiap kontraktor memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengestimasi biaya tidak langsung. Semakin tinggi kualifikasi perusahaan konstruksi, semakin kompleks organisasinya dan semakin detail bagian-bagian divisi di dalamnya termasuk divisi estimasi. Hal ini dikarenakan semakin besarnya nilai proyek yang mereka ikutkan dalam penawaran. Sebaliknya semakin rendah kualifikasi kontraktor, maka semakin sederhana organisasi yang dimiliki perusahaan dan tentunya bagian-bagian divisi dalam manajemen perusahaan semakin ramping.

Berdasarkan hasil survei sebagian besar responden, kontraktor, telah memiliki divisi estimasi. Artinya semakin fokus kontraktor menengah dan besar dalam

51

mengestimasi biaya proyek. Alasan mereka menganggap penting estimasi biaya tidak langsung dikarenakan dapat mempengaruhi keuntungan yang akan diperoleh dan berguna untuk mengantisipasi biaya risiko. Setiap kontraktor tentunya berusaha untuk memiliki personil estimasi yang handal dalam melakukan tugasnya, sehingga hasil estimasi biaya dapat bersaing dengan kontraktor lainnya dengan harapan dapat memenangkan penawaran. Tidak ada penjelasan yang pasti tentang standar perhitungan estimasi biaya tidak langsung di Indonesia. Kontraktor dalam melakukan estimasi pun tidak memiliki standar tertentu dan hanya tergantung dari kebijakan perusahaan masing-masing. Namun secara umum kontraktor menetapkan mekanisme estimasi biaya tidak langsung dengan nilai persentase dari biaya langsung ataupun dari total nilai kontrak (Yusuf, 2010). Berikut hasil survei mengenai mekanisme penetapan biaya tidak langsung.

Gambar IV.19 Persentase Mekanisme Penetapan Biaya Tidak Langsung
% Nilai Persentase Mekanisme % Nilai Dalam % Nilai terhadap:, Penetapan Biaya Tidak Langsung kontrak Total nilai terhadap: Nilai item pekerjaan (pekerjaan subbase,…

% Nilai terhadap:, Nilai lain (biaya, upah, material,…

, Total nilai kontrak, 28.57%,… Nilai lain (biaya, upah, material, dll)

Gambar IV.20 Persentase Mekanisme % Nilai Dalam Penetapan Biaya Tidak Langsung

52

Nilai Nilai Persentase Mekanisme Nilai tertentu Nilai tertentu tertentu tertentu Besarnya resiko Dalam berdasarkan Penetapan Estimasi Biaya Tidak berdasarkan proyek berdasarkan Langsung pertimbang pertimbang pertimbang an:, , an:, Besarnya nilai an:, 14.29%,… Proyek Besarnya… Besarnya… Nilai tertentu berdasarkan pertimbang an:, Gabungan… Karakteristik proyek Nilai tertentu berdasarkan Gabungan ketiganya pertimbang an:, Karakteris…

Gambar IV.21 Persentase Mekanisme Nilai Tertentu Dalam Penetapan Estimasi Biaya Tidak Langsung

Dari hasil survei yang telah dilakukan sebagaimana diperlihatkan pada Gambar IV.19 mengenai mekanisme penetapan biaya tidak langsung. Sebagian besar responden menjawab bahwa mekanisme yang mereka gunakan adalah dengan persen nilai. Besar/kecilnya persen nilai ditentukan dari pengalaman mereka dalam mengestimasi biaya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada responden, mereka menyatakan bahwa penetapan tersebut dilandaskan pada proyek-proyek terdahulu. Untuk dapat melakukan analisis estimasi, maka responden mencari proyek-proyek sejenis dengan karakteristik yang mendekati proyek baru. Misal, jika kontraktor akan mengestimasi proyek jalan berupa rehabilitasi jalan dengan panjang tertentu maka mereka akan mencari proyek terdahulu dengan karakteritik sejenis. Hal tersebut lebih memudahkan kontraktor dalam mengestimasi biaya, khususnya dalam menetapkan besaran persen nilai biaya tidak langsung. Penetapan persen nilai diestimasi terhadap total nilai kontrak dan nilai lainnya ( biaya, upah, material, dll) yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan. Ini diperlihatkan pada Gambar IV.20. Nilai lainnya tersebut terdiri dari biaya, upah, material yang merupakan komponen-komponen dari biaya langsung. Sehingga dapat dikatakan bahwa kontraktor dalam menetapkan mekanisme biaya tidak langsung dengan persen nilai terhadap dua hal, yaitu total nilai proyek dan biaya langsung.

53

Sebagian responden menjawab penetapan persen nilai berdasarkan pada total nilai kontrak. Artinya responden telah memiliki pengalaman yang cukup sehingga dapat menetapkan persen nilai biaya tidak langsung terhadap total nilai kontrak. Jika dikaitkan dengan hasil survei sebelumnya yang diperlihatkan pada Gambar IV.8 mengenai latar belakang pendidikan terakhir responden dan Gambar IV.9 mengenai pengalaman personil estimasi pada divisi estimasi, yaitu didominasi dengan latar belakang pendidikan S1 Teknik sipil dan dengan pengalaman 5-10 tahun di divisi estimasi, maka hal ini cukup membuktikan mekanisme yang digunakan kontraktor dalam mengestimasi biaya sesuai dengan kondisi perusahaannya. kontraktor didukung oleh personil estimasi yang berpengalaman dibidangnya dengan latar belakang yang baik. Sebagian responden lainnya menjawab penetapan persen nilai terhadap nilai lain seperti biaya, upah dan material yang merupakan komponen-komponen biaya langsung. Artinya responden telah melakukan terlebih dahulu estimasi biaya langsung berupa biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan sesuai dengan proyek yang ada. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada responden diperoleh informasi bahwa responden dalam melakukan estimasi biaya langsung berdasarkan cacatan estimasi proyek sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa responden telah memiliki cacatan tentang estimasi proyek yang cukup baik. Pada bagian lain dari hasil survei diperlihatkan pada Gambar IV.21, sebagian responden menggunakan mekanisme nilai tertentu dalam mengestimasi biaya tidak langsung. Mekanisme nilai tertentu berdasarkan pada gabungan dari besarnya risiko proyek, besarnya nilai proyek dan karakteristik proyek. Informasi ini dapat menjelaskan bahwa responden beranggapan dalam mengestimasi biaya proyek agar mendapatkan hasil optimal, harus memikirkan juga alokasi biaya untuk menutupi besarnya risiko yang dihadapi dan dari karakteristik proyek itu sendiri. Dalam menetapkan biaya risiko, kontraktor juga melihat besarnya nilai proyek yang bisa diestimasi, sehingga pada akhirnya kontraktor akan memperoleh hasil estimasi biaya optimal yang dapat bersaing dalam proses penawaran dengan kontraktor lainnya.

54

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kontraktor menengah dan besar menggunakan mekanisme persen nilai dalam mengestimasi biaya tidak langsung berdasarkan pada total nilai kontrak dan nilai lainnya (biaya, upah, material, dll) / biaya langsung. c. Tingkat Efektivitas Biaya Tidak Langsung Objektif dari bagian pertanyaan ini adalah untuk mengukur apakah penetapan besarnya biaya tidak langsung yang telah dilakukan cukup baik dan bagaimana responden mengetahui apakah mekanisme penetapan tersebut efektif atau tidak. Berikut hasil survei yang telah dilakukan. Persentase Ukuran Efektifitas Biaya saudara, saudara, apakahTidak Langsung apakah
mekanisme mekanisme penetapan penetapan besarnya… besarnya… Efektif Kurang efektif Menurut Tidak efektif saudara, Tidak Menjawab apakah mekanisme penetapan besarnya… Menurut Menurut

Menurut saudara, apakah mekanisme penetapan besarnya…

Gambar IV.22 Persentase Ukuran Efektifitas Biaya Tidak Langsung

Gambar IV.23 Persentase Tingkat Efektifitas Biaya Tidak Langsung

Dari Gambar IV.22 diperlihatkan mengenai ukuran efektifitas biaya tidak langsung. Sebagian besar responden menjawab bahwa mekanisme penetapan biaya tidak langsung yang telah dilakukan sudah efektif. Tingkat efektifitasnya

55

diukur berdasarkan parameter yang diperlihatkan pada Gambar IV.23 di atas. Berdasarkan informasi pada Gambar IV.23, sebagian besar responden menjawab bahwa tingkat efektifitas estimasi biaya tidak langsung berdasarkan pada kesesuaian risiko yang ditangani dan dari persentase keberhasilan memenangkan penawaran. Artinya pertimbangan utama kontraktor dalam mengestimasi biaya tidak langsung adalah risiko proyek. Risiko proyek merupakan bagian dari faktor eksternal yang mempengaruhi kontraktor dalam mengestimasi biaya tidak langsung. Pada faktor ekseternal, hal yang menjadi penting adalah informasi proyek yang diperoleh pada tahapan disain dan data historis perusahaan. Informasi yang banyak dan didukung dengan pengalaman perusahaan akan menghasilkan hasil estimasi biaya yang lebih baik dan akurat (Yusuf, 2010). Jika dikaitkan dengah hasil survei bagian pertanyaan mengenai pentingnya estimasi biaya tidak langsung pada Gambar IV.17 dan alasan responden

menganggap penting estimasi biaya tidak langsung pada Gambar IV.18, estimasi biaya tidak langsung dipengaruhi oleh karakteristik proyek dan risiko merupakan bagian didalamnya. Artinya risiko menjadi bagian utama dalam kontraktor mengestimasi biaya tidak langsung, sehingga dapat dikatakan bahwa tren yang terjadi adalah biaya tidak langsung harus dapat mengcover biaya risiko proyek. Jika hal ini dapat dilakukan dengan cukup baik, maka keuntungan yang diharapkan oleh kontraktor dapat tercapai. Beberapa responden menjawab efektivitas dinilai berdasarkan parameter biaya pekerjaan, daerah / lokasi proyek dan perbandingan antara laporan aktual proyek terhadap anggaran perencanaan. Hal ini memperlihatkan bahwa tingkat efektifitas dari estimasi biaya tidak langsung dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal perusahaan. Faktor eksternal tersebut berupa karakteristik proyek dengan salah satu faktornya adalah lokasi proyek. Lokasi proyek dijadikan sebagai salah satu parameter responden dalam menentukan tingkat efektivitas estimasi biaya tidak langsung karena lokasi proyek jalan kebanyakan berada di daerah yang sulit dijangkau, khususnya transportasi material dan alat berat yang digunakan. Jika kontraktor salah perhitungan dalam mengestimasi biaya, maka keuntungan yang diharapkan sulit untuk tercapai dengan kemungkinan besar mendapatkan

56

kerugian. Sedangkan faktor internal berupa biaya pekerjaan, dan perbandingan antara laporan aktual proyek terhadap anggaran perencanaan. Hal ini sangat bergantung pada personil estimasi yanng dimiliki kontraktor. Personil dengan latar belakang yang sejalan dengan kebutuhan divisi estimasi serta berpengalaman dapat menghasilkan estimasi biaya yang baik. Dari penjelasan hasil survei di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum mekanisme penetapan biaya tidak langsung yang dilakukan oleh kontraktor besar dan menengah sudah baik. Hal ini dinilai berdasarkan asumsi kontraktor yang menguraikan komponen-komponen biaya tidak langsung dengan aspek-aspek ketidakpastian yang mungkin terjadi yang dapat mempengaruhi estimasi baik faktor internal maupun eksternal. Selain itu faktor-faktor tersebut dijadikan sebagai parameter untuk menentukan tingkat efektivitas mekanisme estimasi biaya tidak langsung. Mekanisme yang dilakukan berupa persen nilai terhadap total nilai kontrak dan nilai lainnya (biaya, upah, material) / biaya langsung yang menggambarkan satu hal, yaitu harus sesuai dengan tingkat risiko yang ditangani. d. Mekanisme Penetapan Biaya Tidak Langsung Pada Setiap Proyek Proyek konstruksi memiliki karakteristik yang unik dan berbeda satu dengan yang lainnya. Objektif dari bagian pertanyan ini adalah untuk menelusuri apakah mekanisme yang dilakukan kontraktor dalam mengestimasi biaya tidak langsung sama untuk setiap proyeknya. Jika tidak, dimana letak perbedaannya dan faktorfaktor apa saja yang menjadi pertimbangan dalam perbedaan tersebut. Berikut hasil survei yang telah dilakukan mengenai mekanisme penetapan biaya tidak langsung pada setiap proyek.

57

Persentase Membedakan Penetapan Apakah saudara Biaya Tidak Langsung Masing-Masing membedak Proyek an
mekanisme Ya penetapa… Apakah saudara membedak an mekanisme penetapa… Tidak

Gambar IV.24 Persentase Membedakan Penetapan Biaya Tidak Langsung MasingMasing Proyek
Jika Ya, Persentase Faktor Yang Mempengaruhi Faktor-faktor Mekanisme Penetapan Biaya Tidak Langsung apa saja yang

Jika Ya, Faktor-faktor apa saja yang mempengaru hi perbedaanny a?, Lain-…

mempengaru Proyek pemerintah pusat atau hi daerah perbedaanny a?, Tidak… Jika Ya, Faktor-faktor Jika Ya, apa saja yang Faktor-faktor proyek Karakteristik mempengaru apa saja yanggedung, bangunan (bangunan hi mempengaru lainnya) air, bangunan perbedaanny hi a?, Proyek… perbedaanny a?,…

Gambar IV.25 Persentase Faktor Yang Mempengaruhi Mekanisme Penetapan Biaya Tidak Langsung

Dari Gambar IV.24 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden membedakan penetapan biaya tidak langsung masing-masing proyek. Faktor yang

mempengaruhi adalah karakteristik proyek karena setiap proyek memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hasil survei mengenai faktor tersebut diperlihatkan pada Gambar IV.25 di atas. Berdasarkan wawancara yang

dilakukan kepada responden, karakteristik proyek yang mereka maksud mencakup berbagai hal baik terkait langsung dengan proyek maupun hanya sebagai pendukung, seperti jenis proyek, owner (pemerintah pusat / daerah), lokasi proyek, aksesbilitas menuju lokasi proyek, jadwal proyek, lingkungan sekitar proyek, proses birokrasi yang akan dilalui, risiko proyek, kompleksitas proyek,

58

pihak-pihak luar yang terlibat dalam proyek (pemerintah sebagai owner, konsultan perencana, subkontraktor, suplier), spesifikasi, dokumen kontrak, organisasi proyek, ketersediaan tenaga kerja dan lain sebagainya. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kontraktor dalam mengestimasi biaya sangat

membutuhkan banyak informasi terkait dengan proyek yang masuk dalam target penawaran karena banyaknya ketidakpastian dan faktor yang komplek pada tahap awal persiapan penawaran. Sebagian responden lainnya beranggapan bahwa faktor owner (pemilik proyek) pada proyek jalan, yaitu pemerintah pusat atau daerah. Berdasarkan dari wawancara yang telah dilakukan kepada responden, mereka beranggapan bahwa semakin kompleks kondisi proyek jika ownernya adalah pemerintah pusat. Kompleksitas tersebut dapat berupa spesifikasi teknis, dokumen kontrak, persyaratan terntentu selama pelaksanaan proyek dan jalur birokrasi yang harus dilalui. Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kontraktor besar dan menengah membedakan mekanisme penetapan biaya tidak langsung pada setiap proyek konstruksi. Faktor utama yang membuat kontraktor membedakan mekanismenya adalah karakteristik proyek, karena setiap proyek unik dan memiliki karakteristik masing-masing. Oleh karena itu diperlukan mekanisme yang berbeda dalam menetapkan biaya tidak langsung pada saat mengestimasi harga penawaran. e. Pengendalian Biaya Tidak Langsung Objektif dari bagian pertanyaan ini adalah untuk mengetahui apakah kontraktor melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung dan mengetahui upaya apa saja yang dilakukan oleh kontraktor untuk mengendalikan biaya tidak langsung. Berikut hasil survei yang telah dilakukan mengenai pengendalian biaya tidak langsung.

59

Apakah Persentase Pengendalian Terhadap perusahaan Biaya Tidak Langsung saudara melakukan pengendali an…

Ya Apakah Tidak perusahaan saudara melakukan pengendali an…

Gambar IV.26 Persentasi Pengendalian Terhadap Biaya Tidak Langsung

Gambar IV.27 Persentase Upaya Pengendalian Terhadap Biaya Tidak Langsung

Dari Gambar IV.26 dan Gambar IV.27 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung melalui laporan keuangan proyek. Laporan keuangan proyek berisikan arus keluar masuk keuangan yang terjadi pada suatu proyek. Segala kegiatan pengeluaran dan pemasukan proyek dicatat melalui laporan keuangan (Yusuf, 2010). Kemudian laporan keungan dilaporkan dengan periode tertentu. Biasanya dilaporkan setiap minggu, setiap bulan, dan/ atau pertiga bulan melalui rapat personil lapangan dengan perwakilan dari kantor pusat untuk kemudian dilakukan evaluasi apakah kondisi keuangan sudah baik dan diharapkan perbedaan antara laporan aktual dan rencana tidak begitu signifikan.

60

Berdasarkan informasi yang diperoleh di atas dapat dikatakan bahwa baik kontraktor besar dan menengah telah melakukan pengendalian estimasi biaya tidak langsung dengan menggunakan laporan keuangan proyek. Hal ini berarti kontraktor telah memiliki catatan laporan keuangan proyek-proyek yang dikerjakan dan selanjutnya laporan keuangang tersebut dijadikan sebagaian alat untuk mengestimasi biaya tidak langsung proyek selanjutnya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada responden mengenai dengan pengendalian biaya tidak langsung, sebagian responden menggunakan laporan keuangan beberapa proyek beberapa tahun terakhir. Tidak ada penjelasan konkrit mengenai batasan tahun laporan keuangan proyek yang digunakan untuk mengestimasi biaya. Pada setiap akhir proyek laporan keuangan dievaluasi terhadap laporan rencana yang telah disusun sebelumnya, sehingga jika terjadi penyimpangan dapat dijadikan sebagai gambaran untuk mengestimasi proyekproyek selanjutnya. Beberapa dari responden menjawab bahwa mereka melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung dengan melakukan analisis dan manajemen terhadap risiko masing-masing komponen biaya tidak langsung berdasarkan kebiasaan dan kondisi saat itu dari kelancaran proyek dan rapat mingguan, bulanan dan per tiga bulanan sesuai dengan progres. Pada bagian lain dari pertanyaan tersebut terdapat responden menjawab tidak melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung dikarenakan keterbatasan tenaga ahli. Jika diurut mengenai data perusahaan, maka responden termasuk ke dalam kontraktor kualifikasi menengah dan tidak memiliki divisi estimasi diperusahaannya. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden dapat membuat rekapitulasi pengeluaran dan pemasukan biaya proyek dalam bentuk laporan keuangan proyek. Laporan tersebut digunakan untuk melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung. Keterbatasan tenaga ahli merupakan faktor utama mengapa responden tidak melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung.

61

IV.5. Pengalaman Kontraktor Dalam Melaksanakan Proyek Jalan Objektif kelompok pertanyan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengalaman kontraktor dalam melaksanakan proyek jalan. Jika dikaitkan dengan hasil survei sebelumnya pada Gambar IV.6 mengenai jenis proyek yang sering ditangani kebanyakan responden mengerjakan proyek infrastruktur jalan dan bangunan sipil lainnya. Artinya responden termasuk dalam kontraktor umum (general contractor), sehingga dengan adanya bagian pertanyaan ini dapat diketahui lebih mendalam mengenai pengalaman kontraktor dalam mengerjakan proyek jalan. Berikut hasil survei yang telah dilakukan mengenai pengalaman kontraktor dalam mengerjakan proyek jalan.
Seberapa Persentase Pengalaman Kontraktor Seberapa lama lama perusahaan Mengerjakan Proyek Jalan perusahaan saudara saudara <5 tahun telah telah 5-10 tahun mengerja… mengerja… Seberapa lama perusahaan saudara telah mengerja… Seberapa 10-20 tahun lama >20 tahun perusahaan saudara telah mengerja…

Gambar IV.28 Persentase Pengalam Kontrakto Mengerjakan Proyek Jalan Tabel IV.2 Pelaksanaan Proyek Jalan Dalam Dua Tahun Terakhir Terhitung Tahun 2008
No. 1 Jenis Proyek Jalan Rehabilitasi jalan baru: Jumlah ditangani proyek yang <5 proyek 5-10 proyek >10 proyek Nilai proyek rata-rata <5 M 5-10 M >10 M Nilai proyek terbesar <5 M 5-10 M 6 4 1 5 2 3 4 1 28.57% 19.05% 4.76% 23.81% 9.52% 14.29% 19.05% 4.76% Jawaban Jumlah Persentase

62

>10 M Durasi proyek rata-rata <3 bulan 3-6 bulan >6 bulan Jenis kontrak yang Unit price Lump sum Lainnya 2 Pembangunan jalan baru: Jumlah ditangani proyek yang <5 proyek 5-10 proyek >10 proyek Nilai proyek rata-rata <5 M 5-10 M >10 M Nilai proyek terbesar <5 M 5-10 M >10 M Durasi proyek rata-rata <3 bulan 3-6 bulan >6 bulan Jenis kontrak yang Unit price Lump sum Lainnya digunakan digunakan

6 0 6 2 10 1 0

28.57% 0% 28.57% 9.52% 47.62% 4.76% 0%

7 4 1 3 5 3 1 4 5 0 2 5 10 1 0

33.33% 19.05% 4.76% 14.29% 23.81% 14.29% 4.76% 19.05% 23.81% 0% 9.52% 23.81% 47.62% 4.76% 0%

Dari Gambar IV.28 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki pengalaman mengerjakan proyek jalan selama 5-10 tahun. Ini berarti responden telah memiliki cukup pengalaman dalam mengerjakan proyek jalan. Sedangkan pada Tabel IV.2 menunjukkan sebagian besar responden menjawab kontrak

konstruksi yang sering digunakan dalam proyek jalan baik berupa proyek rehabilitasi jalan dan pembangunan jalan baru adalah kontrak unit price. Pada bagian pertanyaan lainnya jumlah proyek rata-rata dalam dua tahun terakhir terhitung tahun 2008 yang dikerjakan oleh kontraktor adalah < 5 proyek jalan. Sedangkan besarnya nilai proyek jalan yang dikerjakan oleh kontraktor rata-rata <

63

5 Milyar untuk proyek rehabilitasi jalan dan 5-10 Milyar untuk proyek pembangunan jalan baru. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kontraktor besar dan menengah memiliki pengalaman 5-10 tahun dalam mengerjakan proyek jalan dengan kontrak yang sering digunakan adalah kontrak unit price. IV.6. Komponen-komponen Biaya Tidak Langsung Objektif dari bagian pertanyaan ini adalah untuk mengetahui komponen apa saja yang dihitung oleh kontraktor yang masuk ke dalam komponen-komponen biaya tidak langsung pada harga penawaran dan mengetahui mekanisme responden dalam menetapkan nilai komponen-komponen tersebut. Berdasarkan AACE (1992), komponen biaya tidak langsung adalah pajak, kondisi umum, risiko dan overhead. Selain itu untuk mengetahui apakah standar komponen-komponen biaya tidak langsung yang ditetapkan oleh AACE diterapkan oleh kontraktor di Indonesia khususnya dalam perhitungan harga penawaran proyek jalan. a. Komponen-komponen Biaya Tidak Langsung Yang Berpengaruh Pada Harga Penawaran Berdasarkan hasil survei yang dilakukan mengenai komponen-komponen biaya tidak langsung yang diisi oleh 11 responden, sebagian besar responden beranggapan bahwa komponen-komponen estimasi biaya tidak langsung yang masuk dalam harga penawaran adalah pajak, biaya jaminan (bond), asuransi, biaya umum (general condition), risiko dan overhead (kantor&proyek). Kemudan responden merinci kembali dengan ditail komponen-komponen biaya tidak langsung tersebut perbagian. Komponen yang sangat berpengaruh pada estimasi biaya tidak langsung adalah komponen risiko dan overhead karena keduanya memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi.

64

Tabel IV.3 Komponen-komponen Biaya Tidak Langsung
No Komponen Biaya Tidak Langsung . 1 Pajak: Pajak Penghasilan (PPh) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pajak Upah Lainnya: Subkontraktor. 2 Biaya Jaminan (Bond): Penawaran Pelaksanaan Pembayaran Uang Muka Lainnya:Retensi. Pemeliharaan 3 Asuransi: Asuransi Proyek (CAR) Asuransi Pihak Ketiga Asuransi Tenaga Kerja Jamsostek Lainnya: Angkutan mineral. 4 Biaya Umum (General Condition): Operasional Kendaraan Operasional Peralatan Pemeliharaan Kendaraan Pemeliharaan Peralatan Biaya Perlengkapan Rumah Tangga Retribusi/Ijin Biaya Keberhasilan Proyek Biaya Keamanan Proyek Lainnya: Biaya melancarkan proyek (uang pelicin). 5 Resiko: Keuntungan (profit) Biaya Tidak Terduga (contingency) Lainnya: 6 Overhead: a. Kantor: Direksi Gaji Karyawan Kantor Sewa Kantor Biaya Perlengkapan Kantor Lainnya: Biaya makan dan minum. b. Proyek: Biaya Administrasi Proyek Listrik, Air & Telepon Proyek Gaji Pegawai Proyek Kantor Proyek Gudang Biaya Perlengkapan Camp. Karyawan Biaya Peralatan Proyek Biaya Cetak Gambar Biaya Engineering Biaya Pengujian Biaya Survei Kerja Ulang Lainnya: Dari nilai proyek untuk pemeliharaan selama 6 bulan. Ya 12 10 9 2 Berpengaruh Pada Penawaran Persentase Tidak Persentase 57.14% 47.62% 42.86% 9.52% 2 5 6 0 9.52% 23.81% 28.57% 0%

10 10 5 9 2

47.62% 47.62% 23.81% 42.86% 9.52%

5 5 10 6 0

23.81% 23.81% 47.62% 28.57% 0%

9 6 10 9 1

42.86% 28.57% 47.62% 42.86% 4.76%

6 9 5 6 -

28.57% 42.86% 23.81% 28.57% -

12 11 11 9 8 10 6 11 2

57.14% 52.38% 52.38% 42.86% 38.10% 47.62% 28.57% 52.38% 9.52%

3 4 4 5 6 5 8 4 0

14.29% 19.05% 19.05% 23.81% 28.57% 23.81% 38.10% 19.05% 0%

13 12

61.90% 57.14%

1 2

4.76% 9.52%

12 11 10 10 1

57.14% 52.38% 47.62% 47.62% 4.76%

3 4 5 4 0

14.29% 19.05% 23.81% 19.05% 0%

11 12 11 11 10 9 8 9 10 10 10 9 1

52.38% 57.14% 52.38% 52.38% 47.62% 42.86% 38.10% 42.86% 47.62% 47.62% 47.62% 42.86% 4.76%

4 3 4 4 5 5 7 6 5 5 5 4 0

19.05% 14.29% 19.05% 19.05% 23.81% 23.81% 33.33% 28.57% 23.81% 23.81% 23.81% 19.05% 0%

65

Dari hasil survei pada Tabel IV.3 dapat dilihat bahwa komponen-komponen biaya tidak langsung secara detail adalah sebagai berikut: 1. Pajak Sebagian besar responden menjawab bahwa jenis pajak yang masuk dalam komponen biaya tidak langsung adalah Pajak Penghasilan (PPh). Artinya pajak yang sering dimasukkan dalam estimasi biaya tidak langsung pada harga penawaran adalah Pajak Penghasilan (PPh). Beberapa responden menjawab selain Pajak Penghasilan (PPh) terdapat jenis pajak lainnya yang masuk dalam estimasi biaya tidak langsung, yaitu Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Upah. 2. Biaya Jaminan (Bond) Sebagian responden menjawab bahwa biaya jaminan yang masuk dalam komponen biaya tidak langsung adalah penawaran, pelaksanaan dan uang muka. Namun beberapa responden menjawab bahwa pembayaran tidak termasuk dalam komponen biaya jaminan (bond) yang merupakan bagian dari komponen estimasi biaya tidak langsung pada harga penawaran. Artinya komponen biaya jaminan (bond) yang masuk dalam komponen estimasi biaya tidak langsung adalah penawaran, pelaksanaan dan uang muka. 3. Asuransi Sebagian besar responden menjawab bahwa komponen asuransi yang masuk dalam komponen estimasi biaya tidak langsung adalah asuransi proyek (CAR), asuransi tenaga kerja dan Jamsostek. Namun berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada responden, asuransi yang sering digunakan dalam estimasi biaya tidak langsung pada penawaran adalah asuransi tenaga kerja dan Jamsostek. Hal ini berarti pada proyek jalan tetap mengalokasikan sejumlah biaya untuk menjamin keselamatan kerja dilapangan bagi personilnya dalam bentuk asuransi. Pada bagian lain beberpa responden beranggapan asuransi pihak ketiga tidak termasuk ke dalam komponen estimasi biaya tidak langsung.

66

Berdasarkan pada Panduan Analisis Harga Satuan, komponen asuransi masuk dalam komponen pajak dan dihitung berupa persen (%) nilai terhadap biaya langsung keseluruhan (Direktorat Jenderal Bina Marga, 2006). 4. Biaya Umum (General Condition) Sebagian besar responden menjawab bahwa komponen biaya umum yang masuk dalam komponen estimasi biaya tidak langsung adalah biaya operasional kendaraan, biaya operasional peralatan, biaya pemeliharaan kendaraan, biaya pemeliharaan peralatan, retribusi/ijin dan biaya keamanan proyek. Beberapa responden memasukkan biaya untuk melancarkan proyek yang diberikan kepada pihak tertentu dalam estimasi biaya tidak langsung. Berdasarkah hasil wawancara responden

beranggapan bahwa pengalokasian biaya untuk melancarkan proyek perlu dilakukan karena jika tidak dialokasikan maka dapat mempengaruhi besarnya keuntungan yang diperoleh. Terkadang jika jalur birokrasi yang dilalui terbilang sulit dan berliku, maka akan membutuhkan biaya melancarkan proyek yang lebih besar jumlahnya dari perencanaan awal. Berdasarkan Panduan Analisis Harga Satuan, komponen biaya umum dalam komponen biaya overhead dan dihitung beruap persen (%) nilai terhadap biaya langsung keseluruhan (Direktorat Jenderal Bina Marga, 2006). Sehingga dapat dikatakan biaya umum (overhead) adalah biaya yang diperhitungakan sebagai biaya operasional dan pengeluaran biaya kantor pusat yang bukan dari biaya pengadaan untuk setiap mata pembayaran, biaya manajemen, akuntansi, pelatihan dan auditing, perjanjian, registrasi, biaya iklan, humas dan promosi, dan lain sebagainya. 5. Risiko Sebagian besar responden menjawab bahwa komponen dari risiko yang masuk dalam estimasi biaya tidak langsung pada biaya penawaran adalah keuntungan (profit) dan biaya tak terduga (contingency). Kedua komponen ini mengandung ketidakpastian yang tinggi, sehingga diperlukan

67

ketajaman analisa dari divisi estimasi dalam mengestimasi komponen tersebut. Jika salah perhitungan, bukan tidak mungkin kontraktor akan mengalami kerugian. 6. Overhead Yang termasuk dalam overhead adalah overhead kantor dan overhead proyek. Berdasarkan hasil survey sebagian besar responden memasukkan komponen overhead kantor dalam estimasi tidak langsung seperti fee direksi, gaji karyawan kantor, sewa kantor dan biaya peralatan kantor. Sedangkan untuk overhead proyek, sebagian responden memasukkan komponen-komponen seperti biaya administrasi proyek, biaya listrik, air dan telepon, gaji karyawan proyek, sewa kantor proyek, gudang, biaya perlengkapan camp karyawan proyek, biaya cetak gambar, biaya engineering, biaya survey, biaya pengujian dan biaya kemungkinan terjadinya kerja ulang. Pada bagian lain terdapat responden yang memasukkan biaya lainnya berupa biaya selama masa pemeliharaan ke dalam komponen overhead. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kontraktor besar dan menengah telah memikirkan secara detail komponen-komponen apa saja yang masuk ke dalam estimasi biaya tidak langsung pada harga penawaran. Walaupun pada kenyataannya tidak ada perhitungan secara ditail mengenai hal tersebut. Komponen yang paling berpengaruh besar terhadap biaya penawaran adalah komponen risiko karena komponen risiko memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi dibandingkan komponen-komponen lainnya. Pada bagian lain beberapa responden menjawab biaya penawaran dan asuransi pihak ketiga tidak berpengaruh pada estimasi biaya tidak langsung pada harga penawaran. b. Mekanisme Kontraktor Dalam Menetapkan Besarnya Komponenkomponen Estimasi Biaya Tidak Langsung Objektif dari bagian pertanyaan ini adalah untuk mengetahui mekanisme apa yang digunakan kontraktor dalam menetapkan besarnya komponen komponen estimasi biaya tidak langsung pada harga penawaran. Berdasarkan hasil survei yang dapat dilihat pada Tabel IV.4 di bawah metode yang dipakai dalam menetapkan besaran

68

komponen-komponen tersebut adalah dengan persentase nilai dan nilai tertentu. Komponen-komponen yang dihitung dengan menggunakan persentase nilai adalah pajak, biaya jaminan, asuransi, biaya umum, risiko dan overhead. Berikut penjelasan mengenai berapa besarnya persentase komponen-komponen terserbut yang ditetapkan oleh kontraktor.

69

Tabel IV.4 Metode Yang Digunakan Dalam Estimasi Komponen Biaya Tidak Langsung
No. 1 Komponen Biaya Tidak Langsung Pajak: Pajak Penghasilan (PPh) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pajak Upah Lainnya: Subkontraktor. 2 Biaya Jaminan (Bond): Penawaran Pelaksanaan Pembayaran Uang Muka Lainnya:Retensi. Pemeliharaan 3 Asuransi: Asuransi Proyek (CAR) Asuransi Pihak Ketiga Asuransi Tenaga Kerja Jamsostek Lainnya: Angkutan mineral. Biaya Umum (General Condition): Operasional Kendaraan Operasional Peralatan Pemeliharaan Kendaraan Pemeliharaan Peralatan Biaya Perlengkapan Rumah Tangga Retribusi/Ijin Biaya Keberhasilan Proyek Biaya Keamanan Proyek Lainnya: Biaya melancarkan proyek (uang pelicin). 5 Resiko: Keuntungan (profit) Biaya Tidak Terduga (contingency) Lainnya: 6 Overhead: a. Kantor: Direksi Gaji Karyawan Kantor Sewa Kantor Biaya Perlengkapan Kantor Lainnya: Biaya makan dan minum. b. Proyek: Biaya Administrasi Proyek Listrik, Air & Telepon Proyek Gaji Pegawai Proyek Kantor Proyek Gudang Biaya Perlengkapan Camp. Karyawan Biaya Peralatan Proyek Biaya Cetak Gambar Biaya Engineering Biaya Pengujian Biaya Survei Kerja Ulang Lainnya: Dari nilai proyek untuk pemeliharaan selama 6 bulan. 9 7 0 42.86% 33.33% 0% 1 1 0 4.76% 4.76% 0% 0 0 0 0% 0% 0% 3 2 4 3 3 2 2 3 0 14.29% 9.52% 19.05% 14.29% 14.29% 9.52% 9.52% 14.29% 0% 3 1 2 0 1 1 0 2 0 14.29% 4.76% 9.52% 0% 4.76% 4.76% 0% 9.52% 0% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 7 6 3 7 0 33.33% 28.57% 14.29% 33.33% 0% 1 1 1 1 0 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 0% 0 0 0 0 0 0% 0% 0% 0% 0% 8 8 6 2 38.10% 38.10% 28.57% 9.52% 1 1 1 0 4.76% 4.76% 4.76% 0% 0 0 0 0 0% 0% 0% 0% % Nilai Persentase Metode yang Digunakan Nilai Tertentu Persentase Lainnya Persentase

4 3 4 4 0

19.05% 14.29% 19.05% 19.05% 0%

1 1 1 1 0

4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 0%

0 0 0 0 0

0% 0% 0% 0% 0%

4

4 4 1 2 0

19.05% 19.05% 4.76% 9.52% 0%

1 3 2 2 0

4.76% 14.29% 9.52% 9.52% 0%

0 0 0 0 0 0

0% 0% 0% 0% 0% 0%

3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 1

14.29% 14.29% 19.05% 14.29% 14.29% 14.29% 14.29% 14.29% 19.05% 14.29% 14.29% 14.29% 4.76%

2 3 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 -

9.52% 14.29% 14.29% 14.29% 14.29% 9.52% 9.52% 9.52% 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% -

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

70

1. Pajak Jenis pajak yang diestimasi adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak upah dimana besarannya berkisar antara 3-10%, 5-10%, dan 1.5-5%. 2. Biaya Jaminan (Bond) Besarnya persentase komponen-komponen biaya jaminan berkisar antara 1-10% untuk biaya penawaran, 5-10% untuk biaya pelaksanaan dan 5-20% untuk uang muka. 3. Asuransi Besarnya persentase komponen-komponen asuransi berkisar antara 0.2-5% untuk asuransi proyek, 0.2-2% untuk asuransi tenaga kerja dan 0.15-0.2% untuk Jamsostek. 4. Biaya Umum (General Condition) Besarnya persentase komponen-komponen biaya umum berkisar antara 0.2-0.8% untuk biaya operasional kendaraan, 0.002-0.005% untuk biaya pemeliharaan kendaraan, dan 0.001% untuk biaya keamanan. Namun ada beberapa kontraktor yang menghitung besarnya persentase biaya umum secara keseluruhan terhadap komponen-komponen didalamnya, yaitu berkisar antara 2-5%. 5. Risiko Besarnya persentase komponen-komponen risiko berkisar antara 1-20% untuk keuntungan (profit) dan 0.5-5% untuk biaya tak terduga (contingency). 6. Overhead Untuk overhead kantor, besarnya persentase berkisar antara 0.2-1% untuk direksi, 0.3-1% untuk gaji karyawan kantor dan 0.001-0.003% untuk biaya peralatan kantor. Sedangkan untuk overhead proyek, besarnya persentase berkisar antara 0.01% untuk biaya administrasi proyek, 0.2% untuk biaya listrik, air dan telepon, 0.05-1% untuk gaji karyawan proyek, 0.02% untuk kantor proyek, 0.5-1% untuk gudang, 0.002% untuk biaya camp karyawan proyek, 0.001-1% untuk biaya peralatan proyek, biaya cetak gambar, biaya

71

pengujian dan biaya survey, 0.05% untuk biaya kerja ulang, dan 0.02% untuk biaya lainnya berupa biaya selama masa pemeliharaan proyek. Komponen yang dihitung dengan metode nilai tertentu adalah beberapa komponen biaya umum, overhead kantor dan biaya overhead proyek. Untuk komponen biaya umum yang dihitung dengan metode nilai tertentu seperti biaya operasional kendaraan dan biaya pemeliharaan kendaraan. Besarnya nilai tertentu tersebut dihitung berdasarkan lamanya waktu pelaksanaan proyek yang dikonversikan menjadi pengeluaran per bulan. Besarnya nilai tertentu tersebut berkisar Rp.6000.000-12.000.000/bulan dan Rp. 500.000/bulan. Untuk komponen biaya overhead kantor yang dihitung dengan metode nilai tertentu seperti gaji karyawan kantor, biaya sewa kantor dan biaya perlengkapan kantor. Besarnya nilai tertentu tersebut berkisar Rp.4000.000/bulan, Rp.40.000.000/bulan dan Rp.500.000/bulan. Untuk komponen biaya overhead proyek yang dihitung dengan metode nilai tertentu seperti biaya listrik, air dan telepon, gaji pegawai proyek, biaya kantor proyek, gudang, biaya perlengkapan camp karyawan, biaya peralatan proyek, dan biaya cetak gambar. Besarnya biaya tersebut dihitung per bulan dan tergantung dari lamanya waktu pelaksanaan proyek. Besarnya biaya tersebut berkisar Rp.15.000.000/bulan, Rp.3000.000/bulan, Rp.1.500.000/bulan, proyek,

Rp.1.200.000/bulan,

Rp.1.500.000/waktu

pelaksanaan

Rp.2.000.000/bulan, dan Rp.2.500.000/bulan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kontraktor besar dan menengah telah melakukann perhitungan besarnya komponen estimasi biaya tidak langsung secara detail dan berdasarkan dengan pengalaman melaksanakan proyek sebelumnya. Jika dikaitkan dengah hasil survei sebelumnya mengenai upaya pengendalian biaya tidak langsung dengan laporan keuangan proyek, maka laporan tersebut dapat dijadikan acuan kontraktor dalam mengestimasi biaya proyek.

72

Berikut tabel rangkuman penelitian estimasi biaya tidak langsung. Tabel ini merupakan rangkuman jawaban responden kontraktor menengah dan besar berdasarkan pertanyaan yang diberikan melalui kuesioner.
Tabel IV.5 Rangkuman Penelitian Bagian A. Informasi Umum
Objektif No. Kelompok Pertanyaan 1 Informasi Umum Data Perusahaan Penjelasan Fakta Statistik Kesimpulan Kontraktor yang menjadi responden adalah kontraktor BUMN dan swasta nasional dengan Responden merupakan kontraktor kualifikasi besar dan menengah. spesialis jalan, kontraktor umum, dan kontraktor yang pernah melaksanakan proyek jalan yang terdiri dari 21 Sebagian besar responden memiliki divisi perusahaan konstruksi dengan estimasi biaya pada perusahaannya. kualifikasi besar dan menengah. Sebagian besar staf di divisi estimasi biaya Responden sebagian besar memiliki berpendidikan S1, D3, dan SMA. divisi estimasi biaya pada Staf divisi estimasi memiliki pengalaman yang perusahaannya dimana sebagian merata, yaitu <5 tahun, 5-10 tahun, dan >10 besar pegawainya memiliki tingkat tahun. pendidikan S1, D3, dan SMA dengan pengalaman setiap personalnya Sebagian besar responden bersedia untuk merata, yaitu <5 tahun, 5-10 tahun, melakukan wawancara lebih lanjut. dan >10 tahun. Jabatan responden yang mengisi kuesioner sebagian besar adalah estimator/engineer, Responden yang mengisi kuesioner staf engineering, dan kepala departemen sebagian besar berpendidikan S1 terkait dengan estiamasi biaya. dengan latar belakang keilmuan teknik Sebagian besar responden berpendidikan S1. sipil. Responden merupakan estimator/engineer, staf engineer, Sebagian besar responden memiliki latar kepala departemen terkait dengan belakang keilmuan teknik sipil. estimasi biaya, dan pemilik Sebagian besar responden memiliki perusahaan, sehingga data yang pengalaman di perusahaan, yaitu <5 tahun diperoleh pada penelitian ini dapat dan 5-10 tahun. Sebagian kecil dari dipercaya. responden memiliki pengalaman sebagai profesional, yaitu <5 tahun dan >15 tahun.

Mengetahui tingkat kepercayaan terhadap responden, sejauh mana responden dapat memberikan informasi terhadap pertanyaan yang diberikan, apakah profil perusahaan dan profil responden sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dan apakah responden adalah orang yang tepat sebagai perwakilan dari perusahaan untuk diwawancara.

Data Responden

Tabel IV.6 Rangkuman Penelitian Bagian B. Pemahaman Kontraktor Mengenai Biaya Tidak Langsung
Objektif Mengetahui apakan responden, kontraktor, mengerti tentang biaya tidak langsung atau tidak. No. Kelompok Pertanyaan 2 Biaya Tidak Langsung Penjelasan Fakta Statistik Sebagian besar responden mengerti tentang biaya tidak langsung. Sebagian besar responden mengerti tentang biaya tidak langsung karena bagian dari pekerjaan mereka. Kesimpulan Sebagian besar responden mengerti tentang biaya tidak langsung karena bagian dari pekerjaan mereka.

73

Tabel IV.7 Rangkuman Penelitian Bagian C. Mekanisme Penetapan dan Pengendalian Biaya Tidak Langsung
Objektif No. Kelompok Pertanyaan 3 Estimasi Biaya Tidak Langsung Penjelasan Fakta Statistik Sebagian besar responden menganggap penting estimasi biaya tidak langsung. Kesimpulan

Sebagian besar responden menganggap bahwa melakukan estimasi biaya tidak langsung berpengaruh besar-kecilnya Sebagian besar responden yang menganggap keuntungan yang akan diperoleh dan penting estimasi biaya tidak langsung, karena berguna untuk mengantisipasi biaya beralasan dapat mempengaruhi keuntungan resiko, sehingga menganggap penting dan berguna untuk mengantisipasi biaya untuk melakukan estimasi biaya tidak resiko. langsung. Sebagian besar responden menggunakan mekanisme % Nilai terhadap total nilai kontrak dan nilai lainnya dalam mengestimasi besarnya biaya tidak langsung dan mereka menganggap bahwa mekanisme Sebagian besar responden menganggap penetapan biaya tidak langsung estimasi biaya tidak langsung yang telah tersebut sudah cukup efektif. Akan dilakukan selama ini sudah efektif yang tetapi mekanisme yang dilakukan diketahui dari adanya kesesuaian dengan terhadap total nilai kontrak dan nilai resiko yang ditangani. lainnya merepresentasikan satu hal, yaitu sesuai dengan tingkat resiko proyek yang ditangani. Karakteristik proyek merupakan faktor Sebagian responden membedakan mekanisme utama mengapa responden penetapan biaya tidak langsung pada masing- membedakan mekanisme penetapan masing proyek dan faktor yang paling biaya tidak langsung karena masingmempengaruhinya adalah karakteristik masing proyek dengan karakteristik proyek. yang berbeda memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda. Sebagian besar responden sudah melakukan Sebagian besar responden dapat pengendalian terhadap biaya tidak langsung. membuat rekapitulasi pengeluaran dan pemasukan biaya proyek dalam bentuk laporan keuangan proyek yang Sebagian besar responden melakukan digunakan untuk melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung pengendalian terhadap biaya tidak melalui laporan keuangan proyek. langsung. Keterbatasan tenaga ahli merupakan faktor utama mengapa Responden yang tidak melakukan responden tidak melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung pengendalian terhadap biaya tidak beralasan karena adanya keterbatasan langsung. tenaga ahli yang dimiliki perusahaan. Sebagian besar responden menggunakan mekanisme % Nilai terhadap total nilai kontrak dan biaya langsung.

Mengetahui bagaimana mekanisme kontraktor dalam menetapkan biaya tidak langsung dan faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangannya.

Tabel IV.8 Rangkuman Penelitian Bagian D. Pengalaman Kontraktor Mengerjakan Proyek Jalan
Objektif No. Kelompok Pertanyaan 4 Pengalaman Mengerjakan Proyek Jalan Penjelasan Fakta Statistik Sebagian besar responden memiliki pengalaman dalam mengerjakan proyek jalan adalah 5-10 tahun. Sebagian besar responden dalam menangani proyek jalan berupa rehabilitasi jalan selama dua tahun terakhir, jumlah proyek yang ditangani <5 proyek, nilai rata-rata Sebagian besar responden memiliki proyeknya adalah <5 M, proyek terbesar pengalaman 5-10 tahun dalam bernilai >10 M, lamanya proyek berjalan ratamengerjakan proyek jalan dan jenis rata 3-6 bulan, dan jenis kontrak yang sering kontrak yang sering digunakan dalam digunakan adalah kontrak unit price. proyek jalan adalah kontrak unit price. Sebagian besar responden dalam menangani proyek jalan berupa pembangunan jalan baru selama dua tahun terakhir, jumlah proyek yang sering ditangani adalah <5 proyek, nilai rata-rata proyek 5-10 M, nilai proyek terbesar >10 M, durasi rata-rata penyelesaian proyek >6 bulan, dan jenis kontrak yang sering digunakan adalah kontrak unit price. Kesimpulan

Jalan Rehabilitasi

Mengetahui sejauh mana pengalaman responden, kontraktor, selama melaksanakan proyek jalan. Jalan Baru

74

Tabel IV.9 Rangkuman Penelitian Bagian E1. Komponen-Komponen Biaya Tidak Langsung
Objektif No. Kelompok Pertanyaan 5 Komponen Biaya Tidak Langsung Pajak Penjelasan Fakta Statistik

Kesimpu

Sebagian besar responden beranggapan bahwa pajak yang masuk ke dalam komponen biaya tidak langsung yang berpengaruh terhadap harga penawaran adalah Pajak Penghasilan (PPh).

Biaya Jaminan (Bond )

Sebagian besar responden beranggapan komponen biaya jaminan (Bond) yang berpengaruh pada harga penawaran adalah biaya penawaran, biaya pelaksanaan, dan uang muka. Namun sebagian besar responden yang menjawab beranggapan bahwa biaya pembayaran tidak berpengaruh pada harga penawaran.

Asuransi

Mengetahui komponen biaya tidak langsung apa saja yang berpengaruh pada harga penawaran. Biaya Umum (General Condition )

Sebagian besar Sebagian besar responden beranggapan beranggapan bahw bahwa asuransi yang berpengaruh pada jaminan (bond), asura harga penawaran, yaitu Asuransi Proyek (general c ondition) (CAR), Asuransi Tenaga Kerja, dan overhead (kantor&p Jamsostek. Namun sebagian besar responden merupakan kompon yang menjawab beranggapan asuransi pihak biaya tidak lang ke tiga tidak berpengaruh pada harga berpengaruh pada ha penawaran. Namun sebagian re menjawab beranggap sebagian besar responden beranggapan penawaran dan asura komponen biaya umum (general c ondition) tidak berpengaruh yang berpengaruh pada harga penawaran penawar adalah biaya operasional kendaraan, biaya peralatan, biaya pemeliharaan kendaraan, dan biaya keamanan proyek. Sebagian besar responden beranggapan bahwa besarnya keuntungan dan biaya tak terduga (c ontigenc y) berpengaruh pada harga penawaran. Sebagian besar responden beranggapan komponen overhead yang berpengaruh pada harga penawaran adalah; untuk overhead kantor, yaitu fee direksi, dan gaji karyawan kantor; untuk overhead proyek, yaitu biaya administrasi proyek, listrik, air dan telepon proyek, gaji pegawai proyek, kantor proyek, gudang, biaya engineering, biaya pengujian, dan biaya survei.

Resiko

Overhead

Mekanisme Menetapkan Besarnya Komponen Biaya Tidak Langsung Pajak

Sebagian besar responden menggunakan mekanisme % nilai terhadap Pajak Penghasilan (PPh).

Biaya Jaminan (Bond )

Sebagian besar responden yang menjawab menggunakan mekanisme % Nilai dalam menetapkan besarnya biaya penawaran, biaya pelaksanaan dan uang muka. Sebagian besar responden yang menjawab menggunakan mekanisme % Nilai dalam menetapkan besarnya biaya asuransi proyek (CAR), asuransi tenaga kerja dan Jamsostek.

Asuransi

Mengetahui mekanisme responden, kontraktor, dalam menetapkan besarnya komponenkomponen biaya tidak langsung pada harga penawaran.

Biaya Umum (General Condition )

Sebagian besar responden yang menjawab menggunakan mekanisme % Nilai dalam menetapkan besarnya komponen- komponen biaya umum, yaitu biaya operasional kendaraan, biaya operasional peralatan, biaya pemeliharaan kendaraan, biaya pemeliharaan peralatan, biaya perlengkapan rumah tangga, dan biaya keamanan proyek. Sebagian besar responden yang menjawab menggunakan mekanisme % Nilai dalam menetapkan besarnya keuntungan (profit), dan biaya tak terduga (c ontigenc y). Sebagian besar responden yang menjawab menggunakan mekanisme % Nilai dalam menetapkan besarnya biaya overhead baik di kantor maupun di proyek.

Sebagian besar res menjawab, kontrakto mekanisme % Nilai da besarnya komponen tidak langsung, yait jaminan, asuransi, bia dan overhead. Peneta Nilai dihitung terhada

Resiko

Overhead

75

IV.7. Pemodelan Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada bagian ini dibahas mengenai pembuatan suatu model estimasi estimasi biaya tidak langsung proyek jalan dengan menggunakan pendekatan statistik berupa analisa regresi. Untuk membuat suatu model estimasi biaya tidak langsung sebaiknya merujuk pada laporan biaya pelaksanaan proyek yang dimiliki oleh kontraktor. Data laporan biaya pelaksanaan dapat merepresentaseikan secara akurat biaya proyek konstruksi yang sebenarnya dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai acuan estimasi biaya untuk harga penawaran tender (Rahadian, 2010). Pemodelan estimasi biaya tidak langsung dilakukan dengan menggunakan data laporan biaya beberapa proyek jalan. Sebaiknya laporan biaya proyek yang seharusnya digunakan adalah laporan biaya pelaksanaan proyek. Namun kenyataannya selama melakukan survei, kontraktor sulit untuk memberikan laporan biaya pelaksanaan proyek. Kontraktor hanya mau memberikan informasi mengenai total nilai suatu proyek besarta nilai biaya tidak langsung terhadap nilai proyek serta karakteristik dari proyek tersebut. Informasi tersebut diperoleh berdasarkan rekaman data historis yang dimiliki oleh responden dari kontraktor besar dan menengah. Jumlah data yang didapat dari hasil survei sebanyak 41 data proyek jalan di beberapa Propinsi di Indoensia, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Data yang diperoleh merupakan data biaya proyek yang berasal dari kontraktor besar dan menengah terdiri dari kontraktor BUMN dan kontraktor swasta nasional. Data ditampilkan dalam bentuk tabel yang berisikan informasi karakteristik proyek, total nilai kontrak dan nilai biaya tidak langsung. Nilai biaya tidak langsung yang diberikan oleh responden adalah jumlah dari biaya tidak langsung yang dijabarkan dengan persen (%) nilai terhadap nilai proyek yang mencakup risiko biaya tak terduga (contigency) dan keuntungan (profit). Informasi karakteristik proyek yang diberikan mencakup jenis proyek, lokasi proyek, tahun konstruksi, panjang jalan, jenis proyek berupa proyek rehabilitasi jalan dan pembangunan jalan baru, dan waktu pelaksanaan proyek. Berikut data proyek yang diperoleh dari hasil survei.

76

Tabel IV.10 Data Proyek Jalan Di Indonesia
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Nama Proyek Proyek Jalan 1 Proyek Jalan 2 Proyek Jalan 3 Proyek Jalan 4 Proyek Jalan 5 Proyek Jalan 6 Proyek Jalan 7 Proyek Jalan 8 Proyek Jalan 9 Proyek Jalan 10 Proyek Jalan 11 Proyek Jalan 12 Proyek Jalan 13 Proyek Jalan 14 Proyek Jalan 15 Proyek Jalan 16 Proyek Jalan 17 Proyek Jalan 18 Proyek Jalan 19 Proyek Jalan 20 Proyek Jalan 21 Proyek Jalan 22 Proyek Jalan 23 Proyek Jalan 24 Proyek Jalan 25 Proyek Jalan 26 Proyek Jalan 27 Proyek Jalan 28 Proyek Jalan 29 Proyek Jalan 30 Proyek Jalan 31 Proyek Jalan 32 Proyek Jalan 33 Proyek Jalan 34 Proyek Jalan 35 Proyek Jalan 36 Proyek Jalan 37 Proyek Jalan 38 Proyek Jalan 39 Proyek Jalan 40 Proyek Jalan 41 Karakteristik Proyek Nilai Proyek (Rp) Biaya Tidak Langsung ( Rp / %) *) Lokasi 130,000,000,000.00 5% DKI Jakarta 900,000,000,000.00 5% Jawa Barat 40,000,000,000.00 5% Jawa Barat 29,000,000,000.00 5% Jawa Barat 75,000,000,000.00 5% Jawa Barat 16,000,000,000.00 5% Jawa Barat 75,000,000,000.00 5% Jawa Barat 26,000,000,000.00 5% Jawa Barat 2,416,695,051.00 8% DI Yogyakarta 1,933,429,000.00 5% Jawa Tengah 2,358,358,000.00 8% Jawa Tengah 2,364,168,000.00 8% Jawa Tengah 1,034,326,000.00 5% Jawa Tengah 1,107,107,000.00 5% Jawa Tengah 1,268,789,000.00 5% Jawa Tengah 7,898,000,000.00 10% Jawa Tengah 1,669,998,000.00 5% Jawa Tengah 1,014,877,000.00 5% Jawa Tengah 1,705,705,000.00 6% Jawa Tengah 1,027,027,000.00 5% Jawa Tengah 1,933,933,000.00 7% Jawa Tengah 5,699,049,503.00 6% Jawa Barat 15,698,572,000.00 3% Jawa Barat 6,311,000,000.00 5% Jawa Barat 5,273,217,273.00 19,94% Sumatera Utara 12,996,914,259.00 2% Sumatera Utara 9,521,906,575.00 4.50% Sumatera Utara 12,093,800,105.00 3.80% Sumatera Utara 5,273,217,273.00 5% Jambi 12,996,914,259.00 3% Sumatera Selatan 9,521,906,575.00 3% Sumatera Selatan 12,093,800,105.00 3% Sumatera Selatan 14,900,000,000.00 4% Sumatera Selatan 9,521,906,575.00 3% Sumatera Selatan 12,093,800,105.00 3% Sumatera Selatan 14,900,000,000.00 4% Sumatera Selatan 9,521,906,575.00 4% Sumatera Selatan 12,093,800,105.00 3% Sumatera Selatan 14,900,000,000.00 23% Sumatera Barat 9,521,906,575.00 28% Sumatera Barat 12,093,800,105.00 27% Sumatera Barat Tahun Panjang Jalan Kontrak (km) 2007 4 km 2008 35 km 2010 10 km 2010 4 km 2009 53 km 2009 25 km 2010 53 km 2010 35 km 2010 1.10 km 2009 2009 2008 2008 2008 2008 2007 2007 2007 2007 2007 2005 2008 6 km 2008 10 km 2008 7 km 2009 1.5 km 2009 3.7 km 2010 2.6 km 2010 3.5 km 2009 2 km 2007 20 km 2008 1.6 km 2009 2.25km 2009 1.05km 2009 12km 2010 5km 2010 2.5km 2011 2km 2011 1.9km 2010 8km 2010 10km 2011 5km Jenis Proyek *) Rehab. Jln Baru Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Jln Baru Jln Baru Rehab. Rehab. Rehab. Jalan baru Rehab. Rehab. Rehab. Jalan Baru Rehab. Rehab. Jalan Baru Jalan Baru Rehab. Jalan Baru Rehab. Jalan Baru

Waktu 6 bln 12 bln 6 bln 5 bln 6 bln 3 bln 7 bln 6 bln 4 Bln 6 Bln 6 Bln 6 Bln 4 Bln 4 Bln 4 Bln 7 Bln 2 Bln 4 Bln 4 Bln 2 Bln 1 Bln 180 hari 4 bln 6 bln 5 bln 4 bln 7 bln 7 bln 1 th 6 bln 6 bln 6 bln 6bln 5bln 6bln 6bln 6bln -

77

Data proyek jalan yang diperlihatkan pada Tabel IV.10 di atas berasal dari proyek jalan yang dikerjakan oleh kontraktor besar dan menengah selama lima tahun terakhir terhitung dari tahun 2005 – tahun 2011. Dilihat dari besaran persentase biaya tidak langsung terhadap nilai proyek, maka terdapat beberapa proyek yang memiliki besaran persentase biaya tidak langsung di luar data sampling. Idealnya besaran rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek adalah berbanding terbalik, yaitu semakin besar nilai proyek maka semakin kecil rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek tersebut (Yusuf, 2010). Artinya biaya tidak langsung terhadap nilai proyek adalah berbanding lurus. Proyek- proyek yang memiliki persentase biaya tidak langsung terhadap nilai proyek diluar dari data sampling yang ada adalah sebagai berikut:
Tabel IV.11 Proyek Jalan Diluar Populasi Data
No. Nama Proyek Karakteristik Proyek Nilai Proyek (Rp) Biaya Tidak Langsung ( Rp / %) *) Lokasi 5,273,217,273.00 19,94% Sumatera Utara 14,900,000,000.00 23% Sumatera Barat 9,521,906,575.00 28% Sumatera Barat 12,093,800,105.00 27% Sumatera Barat Tahun Panjang Jalan Kontrak (km) 2009 1.5 km 2010 8km 2010 10km 2011 5km Jenis Proyek *) Jln Baru Jalan Baru Rehab. Jalan Baru

1 Proyek Jalan 25 2 Proyek Jalan 39 3 Proyek Jalan 40 4 Proyek Jalan 41

Waktu 5 bln -

Untuk mengurangi tingkat kesalahan (error sampling) dalam analisis regresi, maka data tersebut dihilangkan. Jika dibandingkan dengan proyek lainnya, nilai proyek terhadap persen (%) biaya tidak langsung tidak valid. Selain itu setelah dilakukan penelusuran hasil kuesioner terhadap data tersebut, persentase biaya tidak langsung yang diberikan oleh kontraktor merupakan persentase total dari biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Data proyek di atas diperoleh dari dokumen kontrak dan RAB kontraktor (data fakta) dan dari hasil observasi berupa kuesioner dan wawancara. Sehingga dalam menganalisis selanjutnya perlu dilakukan pengelompokan data menjadi dua kelompok besar, yaitu data fakta dan data observasi. Masing-masing data tersebut kemudian dinormalisasi menjadi kelompok data pada tahun yang sama, yaitu pada Mei 2011. Normalisasi dilakukan pada nilai proyek setiap proyek jalan. Berikut tahapan analisis model estimasi biaya tidak langsung ditampilkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

78

Data Proyek Jalan

37 data proyek jalan di Indonesia

Data Hasil Observasi

Data Fakta

Normalisasi data dengan Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Indonesia, BPS 2011

Kelompok Tahun 2005 & 2008

Kelompok Tahun 2006, 2007, 2009, 2010 & 2011

Pengelompokan tahun karena adanya perbedaan kondisi ekonomi

Nilai R kuadrat paling besar

Analisis Regresi

Jalan Baru

Rehabilitasi Jalan

Regresi Logaritmik

Regresi Eksponensial

Regresi Linier

Wilayah

Sumatera & Jawa

Klasifikasi Kontraktor

Perlem LPJK No.11a Tahun 2008

Waktu Pelaksanaan

≤ 5 bulan ≥ 6 bulan

Normalisasi Panjang Jalan

Rp/KM

Gambar IV. 29 Bagan Analisis Model Estimasi Biaya Tidak Langsung

Berdasarkan Data Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia (BPS, 2011) terjadi perbedaan kondisi ekonomi di Indonesia dari tahun 2005 hingga tahun 20011. Berdasarkan besaran nilai inflasi tiap tahunnya, maka pada tahun 2005 dan tahun 2008 terjadi inflasi yang cukup tinggi, yaitu sebesar 17.11 dan 11.06. Adanya perbedaan inflasi yang cukup tinggi pada tahun tersebut, maka data kemudian dikelompokkan kembali menjadi dua kelompok, yaitu data kelompok tahun 2005 dan 2008, dan data kelompok tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011. Selanjutnya dari kelompok tahun tersebut data kemudian dikelompokkan kembali menjadi dua kelompok proyek jalan berdasarkan jenis proyeknya, yaitu proyek jalan baru dan proyek rehabilitasi jalan. Baru kemudian dilakukan analisis regresi untuk masing-masing kelompok data tersebut. Analisis regresi yang dilakukan dengan pendekatan regresi linier, eksponensial dan logaritmik. Kemudian dicari nilai R kuadrat yang paling besar diantara ketiga pendekatan tersebut. Selanjutnya dengan pendekatan regresi dengan nilai R kuadrat paling besar yang akan ditetapkan sebagai model estimasi biaya tidak langsung yang paling mendekati kondisi sebenarnya populasi.

79

IV.7.1. Normalisasi Data Normalisasi data dilakukan dengan tujuan untuk menyamakan nilai moneter dari nilai proyek dan biaya tidak langsung dari setiap data proyek jalan menjadi waktu yang sama. Kontrak setiap proyek bervariasi dari tahun 2005 hingga 2011, sehingga dibutuhkan kesamaan nilai jika data ingin dianalisis pada waktu tertentu. Diasumsikan data dianalisis pada Mei 2011. Dalam melakukan normalisasi data digunakan Data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Inflasi Bulanan Indonesia Tahun 2005-2011. Data IHK yang digunakan adalah data IHK bulan Mei tahun kontrak setiap proyek jalan. Berikut Data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Inflasi Bulanan Indonesia Tahun 2005-2011 ditampilkan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel IV.12 IHK dan Inflasi Bulanan Indonesia Tahun 2005-2011
Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia, 2005, 2006, 2007, Jan-Mei 2008 ( 2002=100 ), Juni - Desember 2008, 2009, 2010, 2011 ( 2007 = 100 ) 2006 2007 2008 2009 Inflasi IHK Inflasi IHK Inflasi IHK Inflasi 158.26 159.29 160.81 161.73 164.01 110.08*) 111.59 112.16 113.25 113.76 113.90 113.86 1.77 0.65 0.95 0.57 1.41 2.46*) 1.37 0.51 0.97 0.45 0.12 -0.04 11.06 113.78 114.02 114.27 113.92 113.97 114.10 114.61 115.25 116.46 116.68 116.65 117.03 -0.07 0.21 0.22 -0.31 0.04 0.11 0.45 0.56 1.05 0.19 -0.03 0.33 2.78

Bulan

2005 IHK Inflasi IHK

2010 IHK 118.01 118.36 118.19 118.37 118.71 119.86 121.74 122.67 123.21 123.29 124.03 125.17 Inflasi 0.84 0.30 -0.14 0.15 0.29 0.97 1.57 0.76 0.44 0.06 0.60 0.92 IHK 126.29 126.46 126.05 125.66 125.81 126.50

2011

Inflas

Januari 118.53 1.43 138.72 1.36 147.41 1.04 Februari 118.33 -0.17 139.53 0.58 148.32 0.62 Maret 120.59 1.91 139.57 0.03 148.67 0.24 April 121.00 0.34 139.64 0.05 148.43 -0.16 Mei 121.25 0.21 140.16 0.37 148.58 0.10 Juni 121.86 0.50 140.79 0.45 148.92 0.23 Juli 122.81 0.78 141.42 0.45 149.99 0.72 Agustus 123.48 0.55 141.88 0.33 151.11 0.75 September 124.33 0.69 142.42 0.38 152.32 0.80 Oktober 135.15 8.70 143.65 0.86 153.53 0.79 November 136.92 1.31 144.14 0.34 153.81 0.18 Desember 136.86 -0.04 145.89 1.21 155.50 1.10 Tingkat Inflasi 17.11 6.60 6.59 *) Sejak Juni 2008, IHK didasarkan pada pola konsumsi pada survei biaya hidup di 66 kota tahun 2007 (2007=100)

0.89 0.13 -0.32 -0.31 0.12 0.55

6.96

1.06

(Sumber: BPS, 2011) Berikut contoh perhitungan normalisasi data proyek jalan: Nilai Proyek Jalan 1 Tahun Kontrak 2007 = A = Rp. 130,000,000,000 CPI sesuai kontrak (Mei 2007) = B = 148.58 CPI Mei 2011 = C = 125.81 Nilai Proyek Jalan 1 Mei 2011 = D = A x (C/B) = Rp. 130,000,000,000 x (125.81 / 148.58) = Rp. 110,077,399,381 Jadi nilai Proyek Jalan 1 pada Mei 2011 adalah Rp. 110,077,399,381. Untuk perhitungan selanjutnya ditabulasikan sebagai berikut:

80

Tabel IV.13 Data Proyek Jalan Setelah Normalisasi Data
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Nama Proyek Proyek Jalan 1 Proyek Jalan 2 Proyek Jalan 3 Proyek Jalan 4 Proyek Jalan 5 Proyek Jalan 6 Proyek Jalan 7 Proyek Jalan 8 Proyek Jalan 9 Proyek Jalan 10 Proyek Jalan 11 Proyek Jalan 12 Proyek Jalan 13 Proyek Jalan 14 Proyek Jalan 15 Proyek Jalan 16 Proyek Jalan 17 Proyek Jalan 18 Proyek Jalan 19 Proyek Jalan 20 Proyek Jalan 21 Proyek Jalan 22 Proyek Jalan 23 Proyek Jalan 24 Proyek Jalan 26 Proyek Jalan 27 Proyek Jalan 28 Proyek Jalan 29 Proyek Jalan 30 Proyek Jalan 31 Proyek Jalan 32 Proyek Jalan 33 Proyek Jalan 34 Proyek Jalan 35 Proyek Jalan 36 Proyek Jalan 37 Proyek Jalan 38 Nilai Proyek (Rp) Tahun Kontrak 130,000,000,000.00 2007 900,000,000,000.00 2008 40,000,000,000.00 2010 29,000,000,000.00 2010 75,000,000,000.00 2009 16,000,000,000.00 2009 75,000,000,000.00 2010 26,000,000,000.00 2010 2,420,000,000.00 2010 2,358,358,000.00 2009 1,935,450,000.00 2009 2,364,168,000.00 2008 1,034,236,000.00 2008 7,898,000,000.00 2008 1,268,789,000.00 2008 1,669,998,000.00 2007 1,107,107,000.00 2008 1,014,877,000.00 2007 1,705,705,000.00 2007 1,027,027,000.00 2007 1,933,933,000.00 2005 5,699,049,503.00 2008 15,698,572,000.00 2008 6,311,000,000.00 2008 12,996,914,259.00 2009 9,521,906,575.00 2010 12,093,800,105.00 2010 5,273,217,273.00 2009 12,996,914,259.00 2007 9,521,906,575.00 2008 12,093,800,105.00 2009 14,900,000,000.00 2009 9,521,906,575.00 2009 12,093,800,105.00 2010 14,900,000,000.00 2010 9,521,906,575.00 2011 12,093,800,105.00 2011 Lokasi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Jambi Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan CPI Sesuai Kontrak CPI Bulan Mei 2011 Nilai Proyek Bulan Mei 2011 (RP) 148.58 125.81 110,077,399,380.81 164.01 125.81 690,378,635,449.06 118.71 125.81 42,392,384,803.30 118.71 125.81 30,734,478,982.39 113.97 125.81 82,791,524,085.29 113.97 125.81 17,662,191,804.86 118.71 125.81 79,485,721,506.19 118.71 125.81 27,555,050,122.15 118.71 125.81 2,564,739,280.60 113.97 125.81 2,603,360,708.78 113.97 125.81 2,136,518,070.54 164.01 125.81 1,813,523,419.79 164.01 125.81 793,349,376.01 164.01 125.81 6,058,456,069.75 164.01 125.81 973,272,020.55 148.58 125.81 1,414,069,513.93 164.01 125.81 849,247,799.95 148.58 125.81 859,346,314.24 148.58 125.81 1,444,304,388.54 148.58 125.81 869,634,317.34 121.25 125.81 2,006,664,830.76 164.01 125.81 4,371,668,910.26 164.01 125.81 12,042,176,350.95 164.01 125.81 4,841,088,409.24 113.97 125.81 14,347,124,532.11 118.71 125.81 10,091,408,189.71 118.71 125.81 12,817,125,694.63 113.97 125.81 5,821,035,931.53 148.58 125.81 11,005,127,089.28 164.01 125.81 7,304,134,297.91 113.97 125.81 13,350,188,569.01 113.97 125.81 16,447,916,118.28 113.97 125.81 10,511,108,767.23 118.71 125.81 12,817,125,694.63 118.71 125.81 15,791,163,339.23 125.81 125.81 9,521,906,575.00 125.81 125.81 12,093,800,105.00

IV.7.2. Data Observasi Definisi dari data observasi pada penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil pengisian kuesioner dan wawancara. Responden dalam memberikan informasi data tersebut tidak berdasarkan dokumen kontrak yang ada. Namun data tersebut diambil dari rekapitulasi proyek yang telah dikerjakan, sehingga besarnya persentase biaya tidak langsung terhadap nilai kontrak diberikan berdasarkan perkiraan responden. Berikut data observasi yang diperoleh dari hasil survei.

81

Tabel IV.14 Data Observasi
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 6% 3% 5% 2% 2% 5% 4% 5% 3% 3% 3% 4% 3% 3% 4% 4% Karakteristik Proyek Tahun Panjang Jalan Kontrak DKI Jakarta 2007 4 km Jawa Barat 2008 35 km Jawa Barat 2010 10 km Jawa Barat 2010 4 km Jawa Barat 2009 53 km Jawa Barat 2009 25 km Jawa Barat 2010 53 km Jawa Barat 2010 35 km Jawa Barat 2008 6 km Jawa Barat 2008 10 km Jawa Barat 2008 7 km Sumatera Utara 2009 3.7 km Sumatera Utara 2010 2.6 km Sumatera Utara 2010 3.5 km Jambi 2009 2 km Sumatera Selatan 2007 20 km Sumatera Selatan 2008 1.6 km Sumatera Selatan 2009 2.25km Sumatera Selatan 2009 1.05km Sumatera Selatan 2009 12km Sumatera Selatan 2010 5km Sumatera Selatan 2010 2.5km Sumatera Selatan 2011 2km Sumatera Selatan 2011 1.9km Waktu Penyeleasai 6 bln 12 bln 6 bln 5 bln 6 bln 3 bln 7 bln 6 bln 180 hari 4 bln 6 bln 4 bln 7 bln 7 bln 1 th 6 bln 6 bln 6 bln 6bln 5bln 6bln 6bln 6bln

Nilai Proyek (Rp)

Lokasi (Provinsi)

Jenis Proyek Rehab. Jln Baru Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Jln Baru Rehab. Rehab. Rehab. Jalan baru Rehab. Rehab. Rehab. Jalan Baru Rehab. Rehab. Jalan Baru Jalan Baru Rehab.

1 110,077,399,380.81 2 690,378,635,449.06 3 42,392,384,803.30 4 30,734,478,982.39 5 82,791,524,085.29 6 17,662,191,804.86 7 79,485,721,506.19 8 27,555,050,122.15 22 4,371,668,910.26 23 12,042,176,350.95 24 4,841,088,409.24 26 14,347,124,532.11 27 10,091,408,189.71 28 12,817,125,694.63 29 5,821,035,931.53 30 11,005,127,089.28 31 7,304,134,297.91 32 13,350,188,569.01 33 16,447,916,118.28 34 10,511,108,767.23 35 12,817,125,694.63 36 15,791,163,339.23 37 9,521,906,575.00 38 12,093,800,105.00

IV.7.3. Data Fakta Definisi dari data fakta pada penelitian ini adalah data yang diperoleh dari responden berdasarkan pada dokumen kontrak dan RAB yang dimiliki oleh kontraktor. Sehingga persentasi biaya tidak langsung yang diberikan terhadap nilai proyek bukan berdasarkan perkiraan responden. Berikut data fakta yang diperoleh dari hasil survei.
Tabel IV.15 Data Fakta
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nilai Proyek (Rp) 2,561,236,663.86 2,134,287,114.94 2,603,360,708.78 1,813,523,419.79 793,418,413.88 849,247,799.95 973,272,020.55 6,687,625,387.00 1,281,034,378.27 859,346,314.24 1,444,304,388.54 869,634,317.34 2,006,664,830.76 Biaya Tidak Langsung (%) 8% 5% 8% 8% 5% 5% 5% 10% 5% 5% 6% 5% 7% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak DI Yogyakarta 2010 Jawa Tengah 2009 Jawa Tengah 2009 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2005 Panjang Jalan (KM) 1.1 12.21 15 37.87 1.8 13.53 16.56 Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 4 Bln 6 Bln 6 Bln 6 Bln 4 Bln 4 Bln 4 Bln 7 Bln 2 Bln 4 Bln 4 Bln 2 Bln 1 Bln

IV.8. Analisis Regresi

82

Pada bagian ini, data biaya tidak langsung dan nilai proyek yang terdapat pada Tabel IV.14 dan Tabel IV.15 dikelompokkan kembali dalam kelompok tahun. selanjutnya dikelompokkan lagi dalam kelompok jenis proyek jalan, yaitu kelompok jalan baru dan rehabilitasi jalan seperti pada Gambar IV.29. Analisis regresi dilakukan pada setiap kelompok data observasi dan data fakta dengan pendekatan regresi linier, eksponensial, dan logaritmik. Seperti telah dijelaskan di atas, dalam menentukan model estimasi biaya tidak langsung berdasarkan pada nilai R2 yang paling besar dari ketiga pendekatan tersebut. IV.8.1. Analisis Regresi Data Observasi Data observasi pada Tabel IV.14 di atas dikelompokkan dalam kelompok tahun 2005 dan 2008, dan kelompok tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, hal ini dilakuakan karena adanya perbedaan kondisi ekonomi yang cukup siknifikan pada tahun 2005 dan 2008.
Tabel IV.16 Data Proyek Jalan Kelompok Tahun 2005 dan 2008
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 Proyek Jalan 2 Proyek Jalan 22 Proyek Jalan 23 Proyek Jalan 24 Proyek Jalan 31 Nilai Proyek (Rp) 690,378,635,449.06 4,371,668,910.26 12,042,176,350.95 4,841,088,409.24 7,304,134,297.91 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 6% 3% 5% 3% Karakteristik Proyek Tahun Lokasi (Provinsi) Kontrak Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2008 Sumatera Selatan 2008 Panjang Jalan 35 km 6 km 10 km 7 km 1.6 km Jenis Proyek Jln Baru Rehab. Rehab. Jln Baru Rehab. Waktu Penyeleasaian 12 bln 7 bln 4 bln 6 bln 6 bln

Tabel IV.17 Data Proyek Jalan Kelompok Tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011

83

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Nama Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan 1 3 4 5 6 7 8 26 27 28 29 30 32 33 34 35 36 37 38

Nilai Proyek (Rp) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 30,734,478,982.39 82,791,524,085.29 17,662,191,804.86 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 14,347,124,532.11 10,091,408,189.71 12,817,125,694.63 5,821,035,931.53 11,005,127,089.28 13,350,188,569.01 16,447,916,118.28 10,511,108,767.23 12,817,125,694.63 15,791,163,339.23 9,521,906,575.00 12,093,800,105.00

Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 2% 2% 4.50% 3.80% 5% 3% 3% 4% 3% 3% 4% 4%

Lokasi (Provinsi)

Karakteristik Proyek Tahun Kontrak DKI Jakarta 2007 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Sumatera Utara 2009 Sumatera Utara 2010 Sumatera Utara 2010 Jambi 2009 Sumatera Selatan 2007 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2010 Sumatera Selatan 2010 Sumatera Selatan 2011 Sumatera Selatan 2011

Panjang Jalan 4 km 10 km 4 km 53 km 25 km 53 km 35 km 3.7 km 2.6 km 3.5 km 2 km 20 km 2.25km 1.05km 12km 5km 2.5km 2km 1.9km

Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Jalan baru Rehab. Rehab. Jalan Baru Rehab. Rehab. Jalan Baru Jalan Baru Rehab.

Waktu Penyeleasaian 6 bln 6 bln 5 bln 6 bln 3 bln 7 bln 6 bln 4 bln 7 bln 7 bln 1 th 6 bln 6 bln 6bln 5bln 6bln 6bln 6bln

IV.8.1.1. Analisis Regresi Kelompok Tahun 2005 dan 2008 Analisis regresi untuk Data Kelompok Tahun 2005 dan 2008 pada Tabel IV.16 tidak dapat dilakukan langsung, karena terdapat karakteristik data yang berbeda, yaitu adanya data proyek jalan baru dan proyek rehabilitasi jalan. Selanjutnya data dikelompokkan terlebih dahulu sesuai dengan jenis proyeknya. a. Data Proyek Jalan Baru Berikut pengelompokan data berdasarkan jenis proyeknya berupa proyek jalan baru.
Tabel IV.18 Data Proyek Jalan Baru
No. Nama Proyek 1 Proyek Jalan 2 2 Proyek Jalan 24 Biaya Tidak Nilai Proyek (Rp) Langsung (%) 690,378,635,449.06 5% 4,841,088,409.24 5% Karakteristik Proyek Tahun Lokasi (Provinsi) Kontrak Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2008 Panjang Jalan 35 km 7 km Jenis Proyek Jln Baru Jln Baru Waktu Penyeleasaian 12 bln 6 bln

Dari Tabel IV.18 dapat terlihat karakteristik proyek jalan berupa jalan baru di Provinsi Jawa Barat. Data tersebut tidak memungkinkan untuk dianalisis karena jumlah data yang sedikit. Besarnya rasio biaya tidak langsung terhadap proyek rata-rata 5%. Rata-rata penyelesaian proyeknya adalah 9 bulan.

b. Data Proyek Rehabilitasi Jalan

84

Berikut pengelompokan data berdasarkan jenis proyeknya berupa proyek rehabilitasi jalan.
Tabel IV.19 Data Proyek Rehabilitasi Jalan
No. Nama Proyek 1 Proyek Jalan 22 2 Proyek Jalan 23 3 Proyek Jalan 31 Biaya Tidak Nilai Proyek (Rp) Langsung (%) 4,371,668,910.26 6% 12,042,176,350.95 3% 7,304,134,297.91 3% Karakteristik Proyek Tahun Lokasi (Provinsi) Kontrak Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2008 Sumatera Selatan 2008 Panjang Jalan 6 km 10 km 1.6 km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 7 bln 4 bln 6 bln

Dari Tabel IV.19 dapat terlihat karakteristik proyek jalan berupa rehabilitasi jalan di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Sumatera Selatan. Data tersebut tidak memungkinkan untuk dianalisis karena jumlah data yang sedikit. Rata-rata besaran rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek pada data tersebut sebesar IV% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp.7,905,993,186.38. Waktu penyelesaian proyek rata-rata sebesar 5.67 bulan dengan panjang jalan rata-rata sebesar 5.87 km. IV.8.1.2. Analisis Regresi Kelompok Tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011 Analisis regresi untuk Data Kelompok Tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011 pada Tabel IV.17 tidak dapat dilakukan langsung karena terdapat karakteristik data proyek jalan yang berbeda, yaitu proyek jalan baru dan proyek rehabilitasi jalan. Selanjutnya data dikelompokkan terlebih dahulu sesuai dengan jenis proyeknya. a. Data Proyek Jalan Baru Berikut pengelompokan data berdasarkan jenis proyeknya berupa proyek jalan baru.
Tabel IV.20 Data Proyek Jalan Baru
No. 1 2 3 4 Nama Proyek Proyek Jalan 29 Proyek Jalan 33 Proyek Jalan 36 Proyek Jalan 37 Nilai Proyek (Rp) 5,821,035,931.53 16,447,916,118.28 15,791,163,339.23 9,521,906,575.00 Biaya Tidak Langsung (%) 3.80% 3% 3% 4% Karakteristik Proyek Tahun Lokasi (Provinsi) Kontrak Jambi 2009 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2010 Sumatera Selatan 2011 Panjang Jalan 2 km 1.05km 2.5km 2km Jenis Proyek Jalan baru Jalan Baru Jalan Baru Jalan Baru Waktu Penyeleasaian 6 bln 6bln 6bln

85

Dari tabel IV.20 di atas dapat terlihat karakteristik proyek jalan berupa jalan baru di wilayah Sumatera. Data tersebut tidak memungkinkan untuk dianalisis karena jumlah data yang sedikit. Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.20 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 3.IV5% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 11,895,505,IV91.01. Waktu penyelesaian proyek rata-rata 6 bulan dengan panjang jalan rata-rata 1.87 km. b. Data Proyek Rehabilitasi Jalan Berikut pengelompokan data berdasarkan jenis proyeknya berupa proyek rehabilitasi jalan.
Tabel IV.21 Data Proyek Rehabilitasi Jalan
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Proyek Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan 1 3 4 5 6 7 8 26 27 28 30 32 34 35 38 Nilai Proyek (Rp) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 30,734,478,982.39 82,791,524,085.29 17,662,191,804.86 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 14,347,124,532.11 10,091,408,189.71 12,817,125,694.63 11,005,127,089.28 13,350,188,569.01 10,511,108,767.23 12,817,125,694.63 12,093,800,105.00 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 2% 2% 4.50% 5% 3% 4% 3% 4% Lokasi (Provinsi) Karakteristik Proyek Tahun Kontrak DKI Jakarta 2007 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Sumatera Utara 2009 Sumatera Utara 2010 Sumatera Utara 2010 Sumatera Selatan 2007 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2010 Sumatera Selatan 2011 Panjang Jalan 4 km 10 km 4 km 53 km 25 km 53 km 35 km 3.7 km 2.6 km 3.5 km 20 km 2.25km 12km 5km 1.9km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 6 bln 6 bln 5 bln 6 bln 3 bln 7 bln 6 bln 4 bln 7 bln 7 bln 12 bln 6 bln 6bln 5bln 6bln

Dari Tabel IV.21 di atas dapat dilihat karakteristik proyek jalan berupa proyek rehabilitasi jalan di wilayah Sumatera dan Jawa. Rata-rata persentase rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 4% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 32,515,IV50,621.77. Waktu penyelesaian proyek rata-rata selama 6.13 bulan dengan rata-rata panjang jalan 15.66 km. b.1. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Tahapan analisis regresi yang dilakukan untuk data pada Tabel IV.21 adalah data biaya tidak langsung dan nilai proyek diplot dalam grafik pada program exel dengan sumbu x adalah nilai proyek dan sumbu y adalah rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dalam persentase. Tren yang terjadi adalah semakin besar nilai proyek maka persen rasio biaya tidak langsung terhadap nilai

86

proyek semakin kecil. Artinya semakin besar nilai proyek makan semakin besar juga nilai biaya tidak langsungnya terhadap nilai proyek tersebut. Analisis regresi dilakukan untuk melihat kuat atau lemahnya hubungan diantara keduanya. Nilai proyek sebagai variable bebas dan persen rasio biaya tidak langsung sebagai variable terikat. Setelah diplot ke dalam grafik, maka dilakukan analisis regresi untuk mencari hubungan antara rasio biaya tidak langsung dengan nilai proyek. Berikut hasil ploting data ditampilkan dalam gambar.
Proyek Rehabilitasi Jalan Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek y = 0.0079ln(x) - 0.1474 R² = 0.3397

Rehabilitasi Jalan Log. (Rehabilitasi Jalan)

Nilai Proyek

Gambar IV.30 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan di Indonesia

Dari Gambar IV.30 terlihat bahwa analisis regresi dengan R2 terbesar adalah regresi logaritmik dengan persamaannya adalah Y = 0.0079 In(X) – 0.1IV7IV. Besarnya nilai R2 = 0.3397. Hal ini berarti terdapatnya hubungan yang sangat lemah antara nilai proyek sebagai variabel bebas dan rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat. Namun demikian, model regresi yang dihasilkan merupakan representasi dari data observasi yang diperoleh dari hasil survei. Untuk mendapatkan model estimasi biaya tidak langsung dengan nilai R2 yang memperlihatkan hubungan yang kuat, maka peneliti melakukan penghilangan data

87

pada Tabel IV.21. berikut data proyek jalan yang dihilangkan dalam Tabel di bawah ini.

Tabel IV.22 Data Proyek Rehabilitasi Jalan Yang Dihilangkan
No. 1 2 3 4 Nama Proyek Proyek Jalan 29 Proyek Jalan 33 Proyek Jalan 36 Proyek Jalan 37 Nilai Proyek (Rp) 5,821,035,931.53 16,447,916,118.28 15,791,163,339.23 9,521,906,575.00 Karakteristik Proyek Biaya Tidak Tahun Lokasi (Provinsi) Langsung (%) Kontrak 3.80% Jambi 2009 3% Sumatera Selatan 2009 3% Sumatera Selatan 2010 4% Sumatera Selatan 2011 Panjang Jalan 2 km 1.05km 2.5km 2km Jenis Proyek Jalan baru Jalan Baru Jalan Baru Jalan Baru Waktu Penyeleasaian 6 bln 6bln 6bln

Jika data pada Tabel IV.22 diplot pada Gambar IV.30, maka data proyek jalan tersebut merupakan data yang memiliki simpangan yang besar dibandingkan dengan data lainnya. Sehingga jika data tersebut dihilangkan dari Gambar IV.30, maka akan diperoleh model estimasi biaya tidak langsung yang baru sebagai berikut.

Proyek Rehabilitasi Jalan
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%) y = 0.0075ln(x) - 0.131 R² = 0.7132

Proyek Rehabilitasi Jalan Log. (Proyek Rehabilitasi Jalan)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.31 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Di Indoensia

Dari Gambar IV.31 di atas terlihat bahwa model estimasi yang dihasilkan berupa persamaan regresi logaritmik Y = 0.0075In(X) – 0.131 dengan nilai R2 = 0.7132. Hal ini berarti adanya hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung

88

terhadap nilai proyek dengan nilai proyek. Namun konsekuensinya jumlah data menjadi lebih sedikit dari sebelumnya, sehingga model estimasi biaya tidak langsung tidak langsung tersebut dapat dikatakan valid sepenuhnya untuk merepresentasikan praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan di Indonesia. b.2. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Wilayah Analisis model estimasi biaya tidak langsung selanjutnya adalah berdasarkan wilayah. Pengelompokan wilayah menjadi dua kelompok besar, yaitu wilayah Sumatera dan Jawa. Hal ini dikarenakan jumlah data yang terbatas jika pengelompokan data berdasarkan provinsi. Pengelompokan data berdasarkan wilayah ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel IV.23 Data Proyek Rehabilitasi Jalan di Wilayah Sumatera
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Proyek Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan 26 27 28 30 32 34 35 38 Nilai Proyek (Rp) 14,347,124,532.11 10,091,408,189.71 12,817,125,694.63 11,005,127,089.28 13,350,188,569.01 10,511,108,767.23 12,817,125,694.63 12,093,800,105.00 Biaya Tidak Langsung (%) 2% 2% 4.50% 5% 3% 4% 3% 4% Lokasi (Provinsi) Karakteristik Proyek Tahun Kontrak Sumatera Utara 2009 Sumatera Utara 2010 Sumatera Utara 2010 Sumatera Selatan 2007 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2010 Sumatera Selatan 2011 Panjang Jalan 3.7 km 2.6 km 3.5 km 20 km 2.25km 12km 5km 1.9km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 4 bln 7 bln 7 bln 12 bln 6 bln 6bln 5bln 6bln

Tabel IV.24 Data Proyek Rehabilitasi Jalan di Wilayah Jawa
No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Proyek Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan 1 3 4 5 6 7 8 Nilai Proyek (Rp) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 30,734,478,982.39 82,791,524,085.29 17,662,191,804.86 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% Karakteristik Proyek Tahun Lokasi (Provinsi) Kontrak DKI Jakarta 2007 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Panjang Jalan 4 km 10 km 4 km 53 km 25 km 53 km 35 km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 6 bln 6 bln 5 bln 6 bln 3 bln 7 bln 6 bln

Dari Tabel IV.23 dan Tabel IV.24, data rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dan nilai proyek diplot dalam grafik Exel. Hasil ploting data untuk wilayah Sumatera dan Jawa dapat dililhat pada gambar sebagai berikut.

89

Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Sumatera
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek

yWilayah Sumatera = -2E-12x + 0.0584 R² = 0.0693 Linear (Wilayah Sumatera)

Nilai Proyek

Gambar IV.32 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Sumatera

Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Jawa
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek

y = 0.05 R² = 0 Wilayah Jawa Log. (Wilayah Jawa)

Nilai Proyek

Gambar IV.33 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Jawa

Dari Gambar IV.32 dapat dilihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan di wilayah Sumatera memiliki persamaan Y = -2E-12X + 0.0584 yang merupakan regresi linier dengan nilai R2 = 0.0693. Hal ini berarti antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek

90

memiliki hubungan yang sangat lemah. Sehingga model estimasi biaya tidak langsung tersebut tidak dapat dijadikan sebagai model dasar untuk mengestimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan di wilayah Sumatera. Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.23 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek untuk proyek rehabilitasi jalan di wilayah Sumatera sebesar 3% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp.

12,129,126,080.20. Waktu penyelesaian proyek rata-rata selama 6.625 bulan dengan rata-rata panjang jalan 6.36 km. Untuk mendapatkan model estimasi biaya tidak langsung dengan nilai R2 memperlihatkan hubungan yang kuat, maka data proyek rehabilitasi jalan pada Tabel IV.23 ada yang dihilangkan. Berikut data yang dihilangkan ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel IV.25 Data Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Sumatera yang Dihilangkan
No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan 1 3 4 5 6 7 8 Nilai Proyek (Rp) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 30,734,478,982.39 82,791,524,085.29 17,662,191,804.86 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% Lokasi (Provinsi) Karakteristik Proyek Tahun Kontrak DKI Jakarta 2007 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Panjang Jalan 4 km 10 km 4 km 53 km 25 km 53 km 35 km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 6 bln 6 bln 5 bln 6 bln 3 bln 7 bln 6 bln

pada Tabel IV.25, jika dilihat dari karakteristik proyeknya, khususnya pada besarnya persentase biaya tidak langsung sebesar 2% dengan nilai proyek Rp. 10,091,408,189.71 tidak sesuai dengan tren yang ada dengan perbandingan terbalik antara rasio biaya tidak langsung nilai proyek dengan nilai proyek. Selain itu jika dibandingkan dengan proyek jalan lainnya, yaitu Proyek Jalan 34 dengan nilai proyek yang hampir sama berkisar 10 M sekian, besarnya persentase biaya tidak langsung adalah 4%.

91

Berikut hasil ploting setelah data Proyek Jalan 27 dihilangkan dalam gambar di bawah ini.

Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Sumatera
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

Wilayah Sumatera y = 0.3555e-2E-10x R² = 0.6316 Expon. (Wilayah Sumatera)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.34 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Sumatera

Pada Gambar IV.34 dapat terlihat bahwa model estimasi setelah adanya penghilangan data Proyek Jalan 27, dihasilkan persamaan regresi eksponensial Y = 0.3555e-2E-10X dengan nilai R2 = 0.6316. Hal ini berarti hubungan yang terbentuk antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek memiliki hubungan yang kuat. Adanya peningkatan R2 yang siknifikan dengan persamaan regresi yang sama, yaitu regresi eksponensial. Model estimasi biaya tidak langsung tersebut dapat merepresntasikan praktek estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan di wilayah Sumatera. Namun model estimasi tersebut tidak dapat dikatakan valid sepenuhnya, karena adanya keterbatasan jumlah data. Pada Gambar IV.33 dapat dilihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan di wilayah Jawa tidak memiliki hubungan sama sekali antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai varibel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Hal ini terlihat dari nilai R2 = 0. Persamaan model estimasi biaya tidak langsung berupa persamaan regresi

92

logaritmik, yaitu Y = 0.05. Hal ini terjadi karena persentase rasio biaya tidak langsung untuk semua proyek rehabilitasi jalan bernilai 5%. Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.23 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 5% dengan rata-rata nilai proyek sebesar Rp.55,81IV,107,2IV0.71. Waktu pelaksanaan rata-rata 5.57 bulan dengan ratarata panjang jalan 26.28 km. b.3. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Waktu Pelaksanaan Proyek Analisis model estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan berdasarkan waktu pelaksanaan proyek dikelompokkan dalam dua kelompok waktu, yaitu ≤ 5 bulan dan ≥ 6 bulan. Pengelompokan data berdasarkan waktu pelaksanaan proyek ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel IV.26 Data Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pelaksanaan ≤ 5 bulan
No. 1 2 3 4 Nama Proyek Proyek Jalan 4 Proyek Jalan 6 Proyek Jalan 26 Proyek Jalan 35 Nilai Proyek (Rp) 30,734,478,982.39 17,662,191,804.86 14,347,124,532.11 12,817,125,694.63 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 2% 3% Karakteristik Proyek Tahun Lokasi (Provinsi) Kontrak Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2009 Sumatera Utara 2009 Sumatera Selatan 2010 Panjang Jalan 4 km 25 km 3.7 km 5km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 5 bln 3 bln 4 bln 5bln

Tabel IV.27 Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pelaksanaan ≥ 6 bulan
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Proyek Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan 1 3 5 7 8 27 28 30 32 34 38 Nilai Proyek (Rp) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 82,791,524,085.29 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 10,091,408,189.71 12,817,125,694.63 11,005,127,089.28 13,350,188,569.01 10,511,108,767.23 12,093,800,105.00 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 2% 4.50% 5% 3% 4% 4% Lokasi (Provinsi) Karakteristik Proyek Tahun Kontrak DKI Jakarta 2007 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2009 Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2010 Sumatera Utara 2010 Sumatera Utara 2010 Sumatera Selatan 2007 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2009 Sumatera Selatan 2011 Panjang Jalan 4 km 10 km 53 km 53 km 35 km 2.6 km 3.5 km 20 km 2.25km 12km 1.9km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 6 bln 6 bln 6 bln 7 bln 6 bln 7 bln 7 bln 12 bln 6 bln 6bln 6bln

Dari Tabel IV.26 dapat dilihat karakterisitik proyek jalan berupa proyek rehabilitasi jalan dengan waktu pelaksanaan proyek ≤ 5 bulan. data tersebut tidak memungkinkan untuk dianalisis karena jumlah data yang sedikit. Informasi yang dapat diperoleh dari tabel tersebut adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung

93

terhadap nilai proyek sebesar 4% dengan nilai proyek rata-rata Rp. 18,890,230,253.50. Waktu pelaksanaan proyek rata-rata 4.25 bulan dengan ratarata panjang jalan 9.425 km. Dari Tabel IV.27 data rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dan data nilai proyek diplot dalam grafik Exel. Informasi yang dapat diperoleh adalah ratarata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 4% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 37,470,076,210.24. Rata-rata waktu pelaksanaan proyek adalah 6.81 bulan dengan rata-rata panjang jalan 17.93 km. Berikut hasil ploting data tersebut diperlihatkan dalam gambar dibawah ini.

Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek

Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pelaksanaan y = 0.0065ln(x) - 0.1132 ≥ 6 Bulan
R² = 0.3739

≥ 6 Bulan Log. (≥ 6 Bulan)

Nilai Proyek

Gambar IV.35 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pengerjaan ≥ 6 Bulan

Dari Gambar IV.35 dapat dilihat bahwa antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek pada proyek rehabilitasi jalan dengan waktu pengerjaan ≥ 6 bulan memiliki hubungan yang sangat lemah. Persamaan dari model estimasi tersebut adalah Y = 0.0065 In(X) – 0.1132 yang merupakan persamaan regresi logaritmik. Besarnya nilai R2 adalah 0.3739. Untuk mendapatkan model estimasi biaya tidak langsung yang memperlihatkan hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek

94

dengan nilai proyek, maka dilakukan penghilangan data proyek jalan pada Tabel IV.27 berikut data yang dihilangkan ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel IV.28 Data Proyek Rehabilitasi Jalan Dengan Waktu Pelaksanaan ≥ 6 Bulan Yang Dihilangkan
No. 1 2 3 4 Nama Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Jalan Jalan Jalan Jalan 4 6 26 35 Nilai Proyek (Rp) 30,734,478,982.39 17,662,191,804.86 14,347,124,532.11 12,817,125,694.63 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 2% 3% Lokasi (Provinsi) Karakteristik Proyek Tahun Kontrak Jawa Barat 2010 Jawa Barat 2009 Sumatera Utara 2009 Sumatera Selatan 2010 Panjang Jalan 4 km 25 km 3.7 km 5km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 5 bln 3 bln 4 bln 5bln

Data pada Tabel IV.28 jika dilihat pada Gambar IV.35 adalah data proyek jalan yang memiliki simpangan terbesar jika dibandingkan dengan data lainnya. Sehingga jika data pada tabel IV.27 diplot kembali dalam grafik, maka dihasilkan grafik model estimasi biaya tidak langsung sebagai berikut.

Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

Proyek Rehabilitasi Jalan Dengan Waktu Pelaksanaan ≥ 6 Bulan y = 0.0041ln(x) - 0.0524
R² = 0.7299

Waktu Pelaksanaan ≥ 6 Bulan Log. (Waktu Pelaksanaan ≥ 6 Bulan)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.36 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Dengan Waktu Pelaksanaan ≥ 6 Bulan

Dari Gambar IV.36 dapat dilihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan setelah adanya penghilangan data proyek. persamaan yang dihasilkan berupa persamaan regresi logaritmik Y = 0.004In(X) – 0.052 dengan nilai R2 = 0.729. Hal ini berarti adanya hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek. Jika dibandingkan dengan nilai R2 sebelum adanya penghilangan data adanya peningkatan yang siknifikan

95

dengan persamaan regresi yang sama. Model estimasi biaya tidak langsung tersebut dapat merepresentasikan estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan dengan waktu pelaksanaan ≥ 6 bulan. Namun hasil tersebut belum dapat dikatakan valid sepenuhnya, karena adanya keterbatasan jumlah data. b.4. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Kualifikasi Kontraktor Analisis model estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan berdasarkan kualifikasi kontraktor merujuk pada Peraturan Lembaga LPJK No.11a Tahun 2008 Pasal 10 tentang Registrasi Usaha Konstruksi. Pada peraturan lembaga tersebut kualifikasi kontraktor dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu kualifikasi kecil, menengah dan besar serta terdiri dari 7 grade. Seperti telah dijelaskan pada Sub Bab II.6. untuk kontraktor kecil terdiri dari grade 2-grade 4, kontraktor menengah terdiri dari grade 5 dan kontraktor besar terdiri dari grade 6 dan 7. Pada penelitian ini, data pada Tabel IV.21 dikelompokkan dalam kualifikasi kontraktor sesuai dengan nilai kontrak proyek yang masuk dalam kualifikasi mana. Berdasarkan nilai kontrak, maka data tersebut masuk dalam kelompok kontraktor kualifikasi besar grade 6 dan 7. Berikut pengelompokan data ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel IV.29 Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 6
Karakteristik Proyek No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Proyek Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan 6 26 27 28 30 32 34 35 38 Nilai Proyek (Rp) 17,662,191,804.86 14,347,124,532.11 10,091,408,189.71 12,817,125,694.63 11,005,127,089.28 13,350,188,569.01 10,511,108,767.23 12,817,125,694.63 12,093,800,105.00 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 2% 2% 4.50% 5% 3% 4% 3% 4% Lokasi (Provinsi) Jawa Barat Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Sumatera Selatan Tahun Kontrak 2009 2009 2010 2010 2007 2009 2009 2010 2011 Panjang Jalan 25 km 3.7 km 2.6 km 3.5 km 20 km 2.25km 12km 5km 1.9km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 3 bln 4 bln 7 bln 7 bln 12 bln 6 bln 6bln 5bln 6bln Kualifikasi Kontraktor Grade Grade Grade Grade Grade Grade Grade Grade Grade 6 6 6 6 6 6 6 6 6

Tabel IV.30 Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 7

96

Karakteristik Proyek No. 1 2 3 4 5 6 Nama Proyek Proyek Jalan 1 Proyek Jalan 3 Proyek Jalan 4 Proyek Jalan 5 Proyek Jalan 7 Proyek Jalan 8 Nilai Proyek (Rp) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 30,734,478,982.39 82,791,524,085.29 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 5% Lokasi (Provinsi) DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Tahun Kontrak 2007 2010 2010 2009 2010 2010 Panjang Jalan 4 km 10 km 4 km 53 km 53 km 35 km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 6 bln 6 bln 5 bln 6 bln 7 bln 6 bln

Kualifikasi Kontraktor Grade Grade Grade Grade Grade Grade 7 7 7 7 7 7

Dari Tabel IV.29 dan Tabel IV.30 data rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan data nilai proyek diplot dalam grafik exel kemudian dianalisis regresi. Berikut hasil ploting ditampilkan dalam gambar di bawah ini. Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 6
y = 1E-12x + 0.0222 R² = 0.0463 Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 6 Linear (Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 6)

Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.37 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 6

97

Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 7
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 7 y = 0.05e3E-26x Expon. (Kontraktor R² = -5E-16 Kualifikasi Besar Grade 7)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.38 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 7

Dari Gambar IV.37 terlihat bahwa model estimasi yang dihasilkan memiliki persamaan regresi linier Y = 1E-12 X + 0.02222 dengan R2 = 0.0463. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Model estimasi tersebut tidak dapat merepresentasikan hubungan antara biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Namun informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.29 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 4% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 12,743,911,160.72. Waktu pelaksanaan proyek rata-rata 6.22 bulan dengan rata-rata panjang jalan 8.33 km. Untuk mendapatkan model estimasi biaya tidak langsung yang memperlihatkan hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek, maka data pada Tabel IV.29 ada yang dihilangkan. Berikut data yang dihilangkan ditampilkan dalam tabel di bawah ini.

98

Tabel IV. 31 Data Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 6 Yang Dihilangkan
Karakteristik Proyek No. 1 2 3 4 5 6 Nama Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Proyek Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan 1 3 4 5 7 8 Nilai Proyek (R p) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 30,734,478,982.39 82,791,524,085.29 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 5% 5% 5% Lokasi (Provinsi) DKI Jakart a Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Tahun Kontrak 2007 2010 2010 2009 2010 2010 Panjang Jalan 4 km 10 km 4 km 53 km 53 km 35 km Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 6 bln 6 bln 5 bln 6 bln 7 bln 6 bln Kualifikasi Kontraktor Grade Grade Grade Grade Grade Grade 7 7 7 7 7 7

Dari Tabel IV.31 dapat dilihat bahwa jika data proyek jalan tersebut dilihat pada grafik Gambar IV.37, maka merupakan data yang memiliki simpangan besar. Selain itu jika dilihat kembali karakteristik proyeknya persentase biaya tidak langsung kedua proyek tidak sesuai dengan tren yang terjadi, yaitu semakin besar nilai proyek maka rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek semakin kecil. Jika dibandingkan dengan data lainnya maka persentase biaya tidak langsungnya tidak valid terhadap nilai proyek. Berikut hasil ploting data pada Tabel IV.29 setelah dihilangkan data Proyek Jalan 6 dan Proyek Jalan 27 ditampilkan dalam gambar dibawah ini.

Gambar IV.39 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Pada Kontraktor Kualifikasi Besar Grade 6

Dari Gambar IV.39 terlihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan berupa persamaan regresi eksponensial Y = 0.355 e-2E-10x dengan nilai R2 = 0.631. Hal ini berarti adanya hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyeknya. Jika dibandingkan dengan nilai R2 pada Gambar IV.37 adanya peningkatan yang siknifikan terhadap nilai R2.

99

Model estimasi biaya tidak langsung tersebut dapat merepresentasikan praktek estimasi biaya tidak langsung proyek rehabiiitasi jalan pada kontraktor besar grade 6. Namun model tersebut belum dapat dikatakan valid sepenuhnya karena adanya keterbatasan jumlah data. Dari Gambar IV.38 terlihat bahwa model estimasi yang dihasilkan memiliki persamaan regresi eksponensial Y = 0.05e6E-26X dengan R2 = -2E-15. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Model estimasi tersebut tidak dapat merepresentasikan hubungan antara biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Sedangkan informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.27 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 5% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 62,172,759,813.35. Waktu pelaksanaan proyek rata-rata 6 bulan dengan rata-rata panjang jalan 26.5 km. b.5. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Normalisasi Panjang Jalan Data yang dinormalisasi adalah data nilai proyek terhadap panjang jalan dari proyek tersebut. Analisis model estimasi biaya tidak langsung ini bertujuan untuk melihat hubungan besaran rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan panjang jalan tertentu. Sehingga dapat diketahui dengan nilai proyek per panjang jalan tertentu berapa besar biaya tidak langsungnya. Data normalisasi nilai proyek terhadap panjang jalan pada proyek rehabilitasi jalan ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.

100

Tabel IV.32 Data Proyek Rehabilitasi Jalan Berupa Normalisasi Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Proyek Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan Proyek Jalan 1 3 4 5 6 7 8 26 27 28 30 32 34 35 38 Nilai Proyek (Rp) 110,077,399,380.81 42,392,384,803.30 30,734,478,982.39 82,791,524,085.29 17,662,191,804.86 79,485,721,506.19 27,555,050,122.15 14,347,124,532.11 10,091,408,189.71 12,817,125,694.63 11,005,127,089.28 13,350,188,569.01 10,511,108,767.23 12,817,125,694.63 12,093,800,105.00 Biaya Tidak Normalisasi Nilai Proyek Terhadap Panjang Panjang Jalan (KM) Langsung (%) Jalan (Rp/KM) 5% 4 27,519,349,845.20 5% 10 4,239,238,480.33 5% 4 7,683,619,745.60 5% 53 1,562,104,228.02 5% 25 706,487,672.19 5% 53 1,499,730,594.46 5% 35 787,287,146.35 2% 3.7 3,877,601,224.90 2% 2.6 3,881,310,842.20 4.50% 3.5 3,662,035,912.75 5% 20 550,256,354.46 3% 2.25 5,933,417,141.78 4% 12 875,925,730.60 3% 5 2,563,425,138.93 4% 1.9 6,365,157,950.00

Dari Tabel IV.32 data data rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan data normalisasi nilai proyek terhadap panjang jalan diplot dalam grafik exel kemudian dianalisis regresi. Berikut hasil ploting ditampilkan dalam gambar di bawah ini.

Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

y = -0.0013x + 0.052 R² = 0.2595 Normalisasi Panjang Jalan Linear (Normalisasi Panjang Jalan)

Nilai Proyek (Rp/KM)

Gambar IV.40 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Berupa Normalisasi Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan

Dari Gambar IV.40 terlihat bahwa model estimasi yang dihasilkan memiliki persamaan linier Y = -0.0013X + 0.052 dengan R2 = 0.2595. Hal ini berarti terdapat hubungan yang sangat lemah antara rasio biaya tidak langsung terhadap

101

nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Walaupun terdapat hubungan yang sangat lemah, model estimasi tersebut tidak dapat merepresentasikan hubungan antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek yang dapat merefleksikan nilai biaya tidak langsung terhadap nilai proyek per panjang jalan tertentu. Sedangkan informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.32 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 4% dengan nilai proyek per panjang jalan rata-rata sebesar Rp. 4,780,463,200.52. Untuk mendapatkan model estimasi biaya tidak langsung yang memperlihatkan hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek, maka data proyek jalan pada Tabel IV.32 ada yang dihilangkan. Berikut data proyek jalan ditampilkan dalam table di bawah ini.
Tabel IV.33 Data Proyek Rehabilitasi Jalan Berupa Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan Yang Dihilangkan

Data yang dihilangkan adalah data yang memiliki simpangan besar. Berikut hasil ploting Tabel IV.32 setelah dihilangkan data proyek jalan seperti pada Tabel IV.33.

102

Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan
y = -0.004ln(x) + 0.13 R² = 0.7944 Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan Log. (Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan)

Axis Title

Axis Title

Gambar IV.41 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Berupa Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan

Dari Gambar IV.41 terlihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan berupa persamaan regresi logaritmik Y = -0.00In(X) + 0.13 dengan nilai R2 = 0.794. Hal ini berarti adanya hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyeknya. Jika dibandingkan dengan nilai R2 pada Gambar IV.40 terdapat peningkatan nilai R2 yang siknifikan. Model estimasi biaya tidak langsung tersebut dapat merepresentasikan praktek estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan berupa nilai proyek terhadap panjang jalannya. Namun model tersebut belum dapat dikatakan valid sepenuhnya karena adanya keterbatasan jumlah data. IV.8.2. Analisis Regresi Data Fakta Data fakta pada Tabel IV.15 di atas dikelompokkan dalam kelompok tahun 2005 dan 2008, dan kelompok tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011. Hal ini dilakuakan karena adanya perbedaan kondisi ekonomi yang cukup siknifikan pada tahun 2005 dan 2008. Berikut pengelompokan data fakta berdasarkan perbedaan kondisi ekonomi yang terjadi dari tahun 2005 hingga 2011 ditampilkan dalam tabel di bawah ini.

103

Tabel IV.34 Data Proyek Jalan Kelompok Tahun 2005 dan 2008
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 Proyek Jalan 12 Proyek Jalan 13 Proyek Jalan 14 Proyek Jalan 15 Proyek Jalan 21 Nilai Proyek (Rp) 1,813,523,419.79 793,418,413.88 849,247,799.95 973,272,020.55 2,006,664,830.76 Biaya Tidak Langsung (%) 8% 5% 5% 5% 7% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2005 Panjang Jalan (KM) 37.87 1.8 13.53 Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 6 Bln 4 Bln 4 Bln 4 Bln 1 Bln

Tabel IV.35 Data Proyek Jalan Kelompok Tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 6 7 8 Proyek Jalan 9 Proyek Jalan 10 Proyek Jalan 11 Proyek Jalan 16 Proyek Jalan 17 Proyek Jalan 18 Proyek Jalan 19 Proyek Jalan 20 Nilai Proyek (Rp) 2,561,236,663.86 2,134,287,114.94 2,603,360,708.78 6,687,625,387.00 1,281,034,378.27 859,346,314.24 1,444,304,388.54 869,634,317.34 Biaya Tidak Langsung (%) 8% 5% 8% 10% 5% 5% 6% 5% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak DI Yogyakarta 2010 Jawa Tengah 2009 Jawa Tengah 2009 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Panjang Jalan (KM) 1.1 12.21 15 16.56 Jenis Proyek Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Rehab. Waktu Penyeleasaian 4 Bln 6 Bln 6 Bln 7 Bln 2 Bln 4 Bln 4 Bln 2 Bln

IV.8.2.1. Analisis Regresi Kelompok Tahun 2005 dan 2008 Analisis regresi untuk Data Kelompok Tahun 2005 dan 2008 pada Tabel IV.29 hanya mencakup karakteristik data proyek rehabilitasi jalan. a. Data Proyek Rehabilitasi Jalan Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.34 adalah data proyek rehabilitasi jalan merupakan representasi proyek rehabilitasi jalan di Provinsi Jawa Tengah. Rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 6% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 1,286,193,477.20 serta lamanya pelaksanaan proyek rata-rata 3.5 bulan. a.1. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Data proyek rehabilitasi jalan pada Tabel IV.34 yang diplot dalam grafik exel berupa data rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel tetap dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Berikut hasil ploting data ditampilkan dalam gambar di bawah ini.

104

Proyek Rehabilitasi Jalan
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%) y = 0.0366e4E-10x R² = 0.8835 Rehabilitasi Jalan Expon. (Rehabilitasi Jalan)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.42 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan

Dari Gambar IV.42 di atas terlihat bahwa persamaan yang dihasilkan dari grafik tersebut berupa persamaan regresi eksponensial Y = 0.0366e4e-10X dengan nilai R2 = 0.8835. Hal ini berarti bahwa model estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan untuk data fakta dapat merepresentasikan hubungan antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek. Hubungan yang terjadi sangat kuat dengan nilai R2 mendekati satu. Informasi yang dapat diperoleh dari gambar tersebut adalah adanya hubungan terbalik antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Semakin besar nilai proyeknya maka rasio biaya tidak langsungnya semakin kecil. Hal ini berarti besarnya biaya tidak langsung linier dengan besarnya nilai proyek, yaitu semakin besar nilai proyek maka biaya tidak langsung yang dibutuhkan akan semakin besar. Namun hal tersebut terbatas pada jumlah data, sehingga model tersebut belum dapat dikatakan valid sepenuhnya. a.2. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Wilayah Berdasarkan Tabel IV.34 terlihat bahwa data proyek rehabilitasi jalan hanya mewakili satu provinsi, yaitu Provinsi Jawa Tengah. Sehingga model estimasi biaya tidak langsung Provinsi Jawa Tengah sama seperti model estimasi biaya

105

tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan pada pembahasan sebelumnya di atas. berikut gambar grafik model estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan Provinsi Jawa Tengah. Proyek Rehabilitasi Jalan Di Provinsi Jawa Tengah
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%) y = 0.0366e4E-10x R² = 0.8835 Rehabilitasi Jalan Expon. (Rehabilitasi Jalan)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.43 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Jawa Tengah

Dari Gambar IV.43 terlihat model estimasi yang dihasilkan merupakan persamaan regresi eksponensial Y = 0.0366e4e-10X dengan nilai R2 = 0.8835. Hal ini berarti adanya hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek. a.3. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Waktu Pelaksanaan Proyek Analisis model estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan berdasarkan waktu pelaksanaan proyek dikelompokkan dalam dua kelompok waktu, yaitu ≤ 5 bulan dan ≥ 6 bulan. Pengelompokan data berdasarkan waktu pelaksanaan proyek ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.

106

Tabel IV.36 Data Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pelaksanaan ≤ 5 Bulan
No. Nama Proyek 1 2 3 4 Proyek Jalan 13 Proyek Jalan 14 Proyek Jalan 15 Proyek Jalan 21 Nilai Proyek (Rp) 793,418,413.88 849,247,799.95 973,272,020.55 2,006,664,830.76 Biaya Tidak Langsung (%) 5% 5% 5% 7% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2005 Panjang Jalan (KM) 1.8 13.53 Jenis Waktu Proyek Penyeleasaian Rehab. 4 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 1 Bln

Tabel IV.37 Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pelaksanaan ≥ 6 bulan
No. Nama Proyek 1 Proyek Jalan 12 Nilai Proyek (Rp) 1,813,523,419.79 Biaya Tidak Langsung (%) 8% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak Jawa Tengah 2008 Panjang Jalan (KM) 37.87 Jenis Waktu Proyek Penyeleasaian Rehab. 6 Bln

Dari Tabel IV.36 dapat diperoleh informasi bahwa rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 6% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 1,155,650,766.28 dan waktu pelaksanaan rata-rata selama 3.25 bulan. Dari jumlah data yang sedikit tidak memungkinkan untuk dianalisis lebih lanjut. Sama seperti pada Tabel IV.36, Tabel IV.37 memiliki jumlah data hanya satu proyek, sehingga tidak memungkinkan untuk dianalisis lebih lanjut. a.4. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Berdasarkan Kualifikasi Kontraktor Analisis model estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan berdasarkan kualifikasi kontraktor merujuk pada Peraturan Lembaga LPJK No.11a Tahun 2008 Pasal 10 tentang Registrasi Usaha Konstruksi. Pada peraturan lembaga tersebut kualifikasi kontraktor dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu kualifikasi kecil, menengah dan besar serta terdiri dari 7 grade. Seperti telah dijelaskan pada Sub Bab II.6. untuk kontraktor kecil terdiri dari grade 2-grade 4, kontraktor menengah terdiri dari grade 5 dan kontraktor besar terdiri dari grade 6 dan 7. Pada penelitian ini, data pada Tabel IV.21 dikelompokkan dalam kualifikasi kontraktor sesuai dengan nilai kontrak proyek yang masuk dalam kualifikasi mana. Berdasarkan pada nilai proyeknya sebelum dinormalisasi data proyek

107

termasuk dalam pekerjaan kontraktor kualifikasi menengah grade 5. Berikut data ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel IV.38 Proyek Rehabilitasi Jalan Kontrakor Kualifikasi Menengah Grade 5
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 Proyek Jalan 12 Proyek Jalan 13 Proyek Jalan 14 Proyek Jalan 15 Proyek Jalan 21 Nilai Proyek (Rp) 1,813,523,419.79 793,418,413.88 849,247,799.95 973,272,020.55 2,006,664,830.76 Biaya Tidak Langsung (%) 8% 5% 5% 5% 7% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2005 Panjang Jalan (KM) 37.87 1.8 13.53 Jenis Waktu Proyek Penyeleasaian Rehab. 6 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 1 Bln Kualifikasi Kontraktor Grade 5 Grade 5 Grade 5 Grade 5 Grade 5

Data pada Tabel IV.38 diplot dalam grafik exel dengan membandingkan rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Berikut hasil ploting data ditampilkan dalam gambar di bawah ini. Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 4E-10x y = 0.0366e 5 R² = 0.8835 Kontraktor
Kualifikasi Menengah Grade 5 Expon. (Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 5) Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.44 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 5

Dari Gambar IV.44 dapat terlihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan berupa persamaan regresi ekesponensial Y = 0.0366e4e-10X dengan nilai R2 = 0.8835. Hal ini berarti terdapat hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek. Hubungan ini dapat merepresentasikan kondisi proyek jalan berupa proyek rehabilitasi jalan pada kontraktor kualalifikasi menengah grade 5. Namun hal tersebut tidak dapat dikatakan valid sepenuhnya karena adanya keterbatasan jumlah data.

Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

108

a.5. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Normalisasi Nilai Proyek Panjang Jalan Data yang dinormalisasi adalah data nilai proyek terhadap panjang jalan dari proyek tersebut. Analisis model estimasi biaya tidak langsung ini bertujuan untuk melihat hubungan besaran rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan panjang jalan tertentu. Sehingga dapat diketahui dengan nilai proyek per panjang jalan tertentu berapa besar biaya tidak langsungnya. Data normalisasi nilai proyek terhadap panjang jalan pada proyek rehabilitasi jalan ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel IV.39 Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 Proyek Jalan 12 Proyek Jalan 13 Proyek Jalan 14 Proyek Jalan 15 Proyek Jalan 21 Nilai Proyek (Rp) 1,813,523,419.79 793,418,413.88 849,247,799.95 973,272,020.55 2,006,664,830.76 Biaya Tidak Panjang Jalan Normalisasi Nilai Proyek Langsung (%) (KM) Terhadap Panjang Jalan (Rp/KM) 8% 37.87 47,888,128.33 5% 1.8 440,788,007.71 5% 13.53 62,767,760.53 5% 7% -

Dari Tabel IV.39 di atas dengan kondisi jumlah data yang sedikit, maka tidak memungkinkan untuk dianalisis berdasarkan nilai proyek terhadap panjang jalan. Hal ini dikarenakan Proyek Jalan 15 dan Proyek Jalan 21 tidak memiliki informasi mengenai panjang jalan, sehingga tidak valid dimasukkan dalam analisis data. Informasi yang dapat diperoleh dari Proyek Jalan 12, 13 dan 14 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 6% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 1,152,063,211.21.

109

IV.8.2.2. Analisis Regresi Kelompok Tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011 Analisis regresi untuk Data Kelompok Tahun 2006, 2007, 2009, 2010 dan 2011 pada Tabel IV.35 hanya terdapat karakteristik data proyek jalan berupa proyek rehabilitasi jalan. a. Data Proyek Rehabilitasi Jalan Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.35 adalah data proyek rehabilitasi jalan merupakan representasi proyek rehabilitasi jalan di Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 7% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 2,305,103,659.12 serta lamanya pelaksanaan proyek rata-rata 3.375 bulan. a.1 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Data proyek rehabilitasi jalan pada Tabel IV.35 yang diplot dalam grafik exel berupa data rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel tetap dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Berikut hasil ploting data ditampilkan dalam gambar di bawah ini. Proyek Rehabilitasi Jalan
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%) y = 0.0254ln(x) - 0.4762 R² = 0.8042 Proyek Rehabilitasi Jalan Log. (Proyek Rehabilitasi Jalan)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.45 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan

Dari Gambar IV.45 dapat terlihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan berupa persamaan regresi logaritmik Y = 0.0245In(X) – 0.4762

110

dengan nilai R2 = 0.8042. Hal ini berarti adanya hubungan yang kuat antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Model estimasi biaya tidak langsung ini dapat merepresentasikan praktek estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan. a.2. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Wilayah Berdasarkan Tabel IV.35 terlihat bahwa data proyek rehabilitasi jalan mewakili dua provinsi, yaitu Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Untuk data proyek rehabilitasi jalan Provinsi DI Yogyakarta hanya diwakili oleh satu data proyek jalan, yaitu Proyek Jalan 9. Dengan kondisi tersebut, maka analsis regresi model estimasi biaya tidak langsung dianalisis berdasarkan wilayah, yaitu Jawa. Sehingga model estimasi biaya tidak langsung wilayah Jawa sama seperti model estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan pada pembahasan sebelumnya di atas. berikut gambar grafik model estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan wilayah Jawa. Proyek Rehabilitasi Jalan Wilayah Jawa
Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%) y = 0.0254ln(x) - 0.4762 R² = 0.8042 Proyek Rehabilitasi Jalan Log. (Proyek Rehabilitasi Jalan)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.46 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Rehabilitasi Jalan Di Wilayah Jawa.

Dari Gambar IV.46 terlihat bahwa model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan berupa persamaan regresi logaritmik Y = 0.0245In(X) – 0.4762 dengan nilai R2 = 0.8042. Hal ini berarti adanya hubungan yang kuat antara rasio biaya

111

tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas. Model estimasi biaya tidak langsung ini dapat merepresentasikan praktek estimasi biaya tidak langsung khususnya di wilayah Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek memiliki hubungan berbanding terbalik, sehingga semakin besar nilai proyek maka akan semakin besar biaya tidak langsung yang dibutuhkan. a.3. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Waktu Pelaksanaan Analisis model estimasi biaya tidak langsung proyek rehabilitasi jalan berdasarkan waktu pelaksanaan proyek dikelompokkan dalam dua kelompok waktu, yaitu ≤ 5 bulan dan ≥ 6 bulan. Pengelompokan data berdasarkan waktu pelaksanaan proyek ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel IV.40 Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Pada Waktu Pelaksanaan Proyek ≤ 5 Bulan
No. Nama Proyek 1 Proyek Jalan 9 2 Proyek Jalan 17 3 Proyek Jalan 18 4 Proyek Jalan 19 5 Proyek Jalan 20 Nilai Proyek (Rp) 2,561,236,663.86 1,281,034,378.27 859,346,314.24 1,444,304,388.54 869,634,317.34 Biaya Tidak Langsung (%) 8% 5% 5% 6% 5% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak DI Yogyakarta 2010 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Panjang Jalan (KM) 1.1 16.56 Jenis Waktu Proyek Penyeleasaian Rehab. 4 Bln Rehab. 2 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 2 Bln

Tabel IV.41 Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Pada Waktu Pelaksanaan Proyek ≥ 6 Bulan
No. Nama Proyek 1 Proyek Jalan 16 2 Proyek Jalan 17 Biaya Tidak Nilai Proyek (Rp) Langsung (%) 6,687,625,387.00 10% 1,281,034,378.27 5% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Panjang Jalan (KM) 16.56 Jenis Waktu Proyek Penyeleasaian Rehab. 7 Bln Rehab. 2 Bln

Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.40 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 6% dengan nilai proyek rata-rata Rp. 1,403,111,212.45 dan waktu pelaksanaan proyek rata-rata 3.2 bulan.

112

Dari Tabel IV.40 data proyek berupa rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dan nilai proyek diplot dalam grafik exel. Berikut hasil ploting grafik ditampilkan dalam gambar di bawah ini. Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pelaksanaan ≤ 5 Bulan y = 2E-11x + 0.0325
R² = 0.9378 Waktu Pelaksanaan ≤ 5 Bulan Linear (Waktu Pelaksanaan ≤ 5 Bulan)

Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.47 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan dengan Waktu Pelaksanaan ≤ 5 Bulan

Dari Gambar IV.47 dapat dilihat bahwa persamaan regresi yang dihasilkan adalah persamaan regresi linier Y = 2E-11X + 0.0325 dengan nilai R2 = 0.9378. Hal ini berarti hubungan rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas memiliki hubungan yang sangat kuat. Sehingga hal ini dapat merepresentasikan praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan dengan waktu pengerjaan ≤ 5 bulan. Namun hal tersebut tidak dapat dikatakan valid sepenuhnya, karena adanya keterbatasan jumlah data. Pada Tabel IV.41 dengan kondisi jumlah data yang terbatas, maka tidak memungkinkan data untuk dianalisis. Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.41 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 8% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 3,984,329,882.63 dan waktu pelaksanaan proyek rata-rata selama 4 bulan.

113

a.4. Model Estimasi biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Kualifikasi Kontraktor Analisis model estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan berdasarkan kualifikasi kontraktor merujuk pada Peraturan Lembaga LPJK No.11a Tahun 2008 Pasal 10 tentang Registrasi Usaha Konstruksi. Pada peraturan lembaga tersebut kualifikasi kontraktor dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu kualifikasi kecil, menengah dan besar serta terdiri dari 7 grade. Seperti telah dijelaskan pada Sub Bab II.6. untuk kontraktor kecil terdiri dari grade 2-grade 4, kontraktor menengah terdiri dari grade 5 dan kontraktor besar terdiri dari grade 6 dan 7. Pada penelitian ini, data pada Tabel IV.35 dikelompokkan dalam kualifikasi kontraktor sesuai dengan nilai kontrak proyek yang masuk dalam kualifikasi mana. Berdasarkan pada nilai proyeknya sebelum normalisasi data proyek termasuk dalam pekerjaan kontraktor kualifikasi menengah grade 5. Berikut data ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel IV.42 Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 5
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 6 7 8 Proyek Jalan 9 Proyek Jalan 10 Proyek Jalan 11 Proyek Jalan 16 Proyek Jalan 17 Proyek Jalan 18 Proyek Jalan 19 Proyek Jalan 20 Nilai Proyek (Rp) 2,561,236,663.86 2,134,287,114.94 2,603,360,708.78 6,687,625,387.00 1,281,034,378.27 859,346,314.24 1,444,304,388.54 869,634,317.34 Biaya Tidak Langsung (%) 8% 5% 8% 10% 5% 5% 6% 5% Karakteristik Proyek Lokasi Tahun (Provinsi) Kontrak DI Yogyakarta 2010 Jawa Tengah 2009 Jawa Tengah 2009 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Jawa Tengah 2007 Panjang Jalan (KM) 1.1 12.21 15 16.56 Jenis Waktu Proyek Penyeleasaian Rehab. 4 Bln Rehab. 6 Bln Rehab. 6 Bln Rehab. 7 Bln Rehab. 2 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 4 Bln Rehab. 2 Bln Kualifikasi Kontraktor Grade 5 Grade 5 Grade 5 Grade 5 Grade 5 Grade 5 Grade 5 Grade 5

Informasi yang dapat diperoleh dari Tabel IV.42 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 7% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp. 2,305,103,659.12 dengan waktu pelaksanaan proyek rata-rata 4.375 bulan. Data pada Tabel IV.42 diplot dalam grafik exel dengan membandingkan rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai

114

proyek sebagai variabel bebas. Berikut hasil ploting data ditampilkan dalam gambar di bawah ini. Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 5 y = 0.0254ln(x) - 0.4762
R² = 0.8042 Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 5 Log. (Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 5)

Rasio BTL Terhadap Nilai Proyek (%)

Nilai Proyek (Rp)

Gambar IV.48 Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Kontraktor Kualifikasi Menengah Grade 5

Dari Gambar IV.48 dapat dilihat bahwa persamaan model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan adalah persamaan regresi logaritmik Y = 0.0245In(X) – 0.4762 dengan nilai R2 = 0.8042. Hal ini berarti hubungan antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebagai variabel terikat dengan nilai proyek sebagai variabel bebas memiliki hubungan yang sangat kuat. Hal ini dapat merepresentasikan praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek rehabilitasi jalan kontraktor kualifikasi menengah grade 5. a.5. Model Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Normalisasi Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan Data yang dinormalisasi adalah data nilai proyek terhadap panjang jalan dari proyek tersebut. Analisis model estimasi biaya tidak langsung ini bertujuan untuk melihat hubungan besaran rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan panjang jalan tertentu. Sehingga dapat diketahui dengan nilai proyek per panjang jalan tertentu berapa besar biaya tidak langsungnya. Data normalisasi nilai proyek terhadap panjang jalan pada proyek rehabilitasi jalan ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.

115

Tabel IV.43 Proyek Rehabilitasi Jalan Berdasarkan Normaliasai Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan
No. Nama Proyek 1 2 3 4 5 6 7 8 Proyek Jalan 9 Proyek Jalan 10 Proyek Jalan 11 Proyek Jalan 16 Proyek Jalan 17 Proyek Jalan 18 Proyek Jalan 19 Proyek Jalan 20 Nilai Proyek (Rp) 2,561,236,663.86 2,134,287,114.94 2,603,360,708.78 6,687,625,387.00 1,281,034,378.27 859,346,314.24 1,444,304,388.54 869,634,317.34 Biaya Tidak Panjang Jalan Langsung (%) (KM) 8% 1.1 5% 12.21 8% 15 10% 5% 16.56 5% 6% 5% Normalisasi Nilai Proyek Terhadap Panjang Jalan (Rp/KM) 2,328,396,967.14 174,798,289.51 173,557,380.59 77,357,148.45 -

Dari Tabel IV.43 di atas dengan kondisi jumlah data yang sedikit, maka tidak memungkinkan untuk dianalisis berdasarkan normalisasi nilai proyek terhadap panjang jalan. Hal ini dikarenakan Proyek Jalan 15, 18, 19 dan Proyek Jalan 20 tidak memiliki informasi mengenai panjang jalan, sehingga tidak valid dimasukkan dalam analisis data. Informasi yang dapat diperoleh dari Proyek Jalan 9, 10 11 dan Proyek Jalan 17 adalah rata-rata rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek sebesar 7% dengan nilai proyek rata-rata sebesar Rp.

2,144,979,716.46. IV.9. Pembahasan Pada tahapan analisis data yang telah dilakukan di atas, bagian pertama berupa identifikasi prinsip dan mekanisme praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek jalan. Hasil survei memperlihatkan bahwa sebagian besar kontraktor kualifikasi besar dan menengah mengerti dan memahami tentang biaya tidak langsung. Hal ini dijelaskan dari adanya divisi estimasi baik di kontraktor besar maupun kontraktor menengah. Jika dilihat dari personil estimasi yang dimiliki oleh perusahaan, sebagian besar personil memiliki latar belakang pendidikan S1 dengan latar belakang kellmuan teknik sipil dan posisi mereka di perusahaan sebagai estimator/engineer. Hal ini memperlihatkan bahwa kontraktor sudah mapan dalam mengelola proyek konstruksi. Selain itu penjelasan lain pentingnya kontraktor mengetahui biaya tidak langsung adalah merupakan bagian dari pekerjaan mereka. Ini berarti kontraktor fokus dalam melakukan estimasi biaya tidak langsung agar estimasi harga yang dihasilkan dapat menang dalam

116

penawaran. Alasan lainnya adalah agar kontraktor dapat mengatisipasi biaya risiko dan dapat mempengaruhi besar kecilnya keuntungan yang akan diperoleh. Mekanisme penetapan biaya tidak langsung pada proyek jalan dilakukan dengan menetapkan persentase nilai dari nilai proyek keseluruhan. Besarnya persentase nilai tersebut sesuai dengan tingkat risiko yang dihadapi. Catatan mengenai proyek-proyek terdahulu menjadi faktor utama dalam menentukan besarnya persentase nilai biaya tidak langsung tersebut. Sebagian besar kontraktor kualifikasi besar dan menengah melakukan pengendalian biaya tidak langsung setiap proyek melalui laporan keuangan proyek. Laporan keuangan proyek berisikan arus keluar masuk uang yang terjadi pada suatu proyek. Hal ini berarti kontraktor memiliki catatan laporan keuangan proyek-proyek yang dikerjakan dan selanjutnya dijadikan sebagai alat untuk mengestimasi biaya tidak langsung proyek selanjutnya. Berikut ini ditampilkan tabel perbandingan praktek estimasi biaya tidak langsung antara proyek jalan dan proyek bangunan gedung di bawah ini.

117

Tabel IV.44 Perbandingan Pratek Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Jalan dan Proyek Bangunan Gedung

118

Dari Tabel IV.44 terlihat bahwa terdapat beberapa perbedaan antara praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek jalan dan proyek bangunan gedung. Pertama adalah alasan kontraktor melakukan estimasi biaya tidak langsung. Pada proyek jalan untuk mengantisipasi biaya risiko dan mempengaruhi besar keuntungan yang diperoleh. Sedangkan pada proyek bangunan gedung hanya untuk mengantisipasi biaya risiko. Kedua adalah mekanisme penetapan biaya tidak langsung. Pada proyek jalan menggunakan mekanisme persentase (%) nilai terhadap nilai kontrak, yang mana nilai kontrak ini terdiri dari pajak (PPN+PPh) dan biaya langsung. Sedangkan pada proyek bangunan gedung menggunakan mekanisme nilai tertentu terhadap biaya langsung. Ketiga adalah komponen-komponen estimasi biaya tidak langsung yang masuk pada harga penawaran berupa komponen asuransi. Pada proyek jalan asuransi yang masuk dalam harga penawaran adalah asuransi proyek (Construction All Risk), asuransi tenaga kerja dan Jamsostek. Sedangkan pada proyek bangunan gedung lebih kompleks dengan membagi jenis asuransi menjadi dua jenis, yaitu asuransi internal berupa asuransi tenaga kerja, peralatan daan asuransi proyek, asuransi yang mengcover proyek keseluruhan (construction all risk) serta asuransi eksternal berupa asuransi third party liabilities. Keempat adalah mekanisme penetapan komponen-komponen biaya tidak langsung. Untuk proyek jalan mekanisme yang digunakan adalah persentasi nilai, yaitu pada komponen pajak, biaya jaminan, asuransi, biaya umum, risiko, overhead kantor dan overhead proyek. Sedangkan pada proyek bangunan gedung terdapat dua mekanisme yaitu dengan persentase (%) nilai dan nilai tertentu terhadap biaya langsung. Untuk mekanisme penetapan dengan persentase (%) nilai adalah komponen pajak, biaya jaminan, asuransi, risiko dan overhead kantor. Sedangkan untuk mekanisme penetapan dengan nilai tertentu adalah komponen biaya umum dan overhead kantor. Selain itu, perbedaan lainnya adalah besarnya nilai untuk masing-masing komponen biaya tidak langsung. Pada proyek jalan dapat diketahui besar nilai dari setiap komponennya. Sedangkan pada proyek

119

bangunan gedung masih sulit untuk mengetahuinya karena keterbatasan informasi penelitian sebelumnya. Bagian kedua berupa analisis permodelan estimasi biaya tidak langsung. Pada proyek jalan model matematis yang dihasilkan berasal dari data observasi dan data fakta. Model matematis yang dihasilkan dari data obervasi terdapat

hubungan non linier antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek. Kecenderungan model matematis tersebut menggambarkan bahwa semakin besar nilai proyek maka rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek semakin kecil. Hal ini berarti besarnya biaya tidak langsung berbanding lurus terhadap nilai proyek. Sedangkan model matematis yang dihasilkan dari data fakta terdapat hubungan non linieer antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Kecenderungan model matematis tersebut menggambarkan bahwa semakin besar nilai proyek maka rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek semakin besar. Hal ini berarti besarnya biaya tidak langsung berbanding terbalik terbadap nilai proyek. Pada penelitian terdahulu model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan dari proyek bangunan gedung berupa data fakta yang diperoleh dari data historis kontraktor berupa informasi total nilai suatu proyek, besarnya nilai biaya tidak langsung dan informasi karakteristik proyek tersebut. Model matematis yang dihasilkan terdapat hubungan non linier antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek. Kecenderungan model matematis tersebut menggambarkan bahwa semakin besar nilai proyek maka semakin kecil rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek. Hal ini berarti semakin besar nilai proyek maka semakin besar biaya tidak langsungnya. Jika dibandingkan antara model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan dari proyek jalan dengan proyek bangunan gedung, maka adanya perbedaan kecenderungan model matematis proyek jalan dengan proyek bangunan gedung. Pada proyek jalan dan data fakta model matematis yang memiliki kecenderungan model menggambarkan bahwa hubungan antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek berbanding lurus. Sedangkan pada

120

proyek

bangunan

gedung

model

matematis

yang

dihasilkan

memiliki

kecenderungan model menggambarkan bahwa hubungan antara rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek dengan nilai proyek berbanding terbalik. Bab V Kesimpulan dan Saran

V.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian secara umum terdapat perbedaan praktek estimasi biaya tidak langsung pada proyek jalan dan proyek bangunan gedung. Pertama, alasan kontraktor dalam melakukan estimasi biaya tidak langsung. Pada proyek jalan alasan utama kontraktor adalah karena dapat mempengaruhi keuntungan dan mengantisipasi biaya risiko. Sendangkan pada proyek bangunan gedung alasan utamanya adalah untuk mengantisipasi biaya risiko. Hal ini berarti pada proyek jalan kontraktor lebih sulit untuk menentukan besarnya keuntungan yang akan diperoleh atau sebaliknya mengalami kerugian. jika dilihat dari karakteristik proyek, maka proyek jalan memiliki ketidakpastian dan variasi yang lebih besar karena belum dapat diketahui secara rinci dari spesifikasinya terutama pada pekerjaan bawah tanah seperti sub base, base dan sub grade. Kedua, mekanisme penetapan biaya tidak langsung. Pada proyek jalan mekanisme yang digunakan berupa persen (%) nilai terhadap biaya langsung dan nilai proyek. Sedangkan pada proyek bangunan gedung mekanisme yang digunakan berupa nilai tertentu yang pada akhirnya besar nilai tersebut dijadikan sebagai proporsi persentase biaya langsung. Ketiga, komponen biaya tidak langsung yang masuk dalam harga penawaran beruap komponen asuransi. Pada proyek jalan komponen asuransi berupa asuransi proyek (Construction All Risk), asuransi tenaga kerja dan Jamsostek. Sedangkan pada proyek bangunan gedung komponen asuransi lebih kompleks dengan membagi jenis asuransi menjadi dua, yaitu: asuransi internal berupa asuransi tenaga kerja, asuransi peralatan dan proyek, dan asuransi proyek (Construction All Risk); dan asuransi eksternal berupa asuransi third party liabilities.

121

Keempat, mekanisme penetapan komponen-komponen biaya tidak langsung. Untuk proyek jalan mekanisme yang digunakan adalah persen (%) nilai terhadap biaya langsung dan nilai proyek untuk pajak, biaya jaminan, asuransi, biaya umum, risiko, dan overhead kantor dan proyek. Sedangkan pada proyek bangunan gedung terdapat dua mekanisme, yaitu: Persen (%) nilai terhadap biaya langsung untuk pajak, biaya jaminan, asuransi, risiko, dan overhead kantor dan proyek; nilai tertentu terhadap biaya langsung untuk biaya umum dan overhead kantor. Perbedaan lainnya adalah besarnya persentase komponen biaya tidak langsung dapat diketahui dengan jelas untuk masing-masing komponen. Sedangkan pada proyek bangunan gedung masih sulit untuk mengetahuinya karena keterbatasan informasi penelitian sebelumnya. Pada bagian lain dari penelitian ini ditemukan model estimasi biaya tidak langsung proyek jalan berdasarkan data obesrvasi dan data fakta dari dokumen kontrak dan RAB. Model yang dihasilkan pada proyek jalan memiliki kesamaan dengan model yang dihasilkan pada protek bangunan gedung. Model tersebut memiliki hubungan non linier. Namun terdapat perbedaan dari kecenderungan model. Pada proyek jalan kecenderungan model menggambarkan bahwa rasio biaya tidak langsung terhadap nilai proyek berbanding lurus, artinya semakin besar nilai proyek maka rasio biaya tidak langsung akan semakin besar. Sedangkan pada proyek bangunan gedung, kecenderungan model

menggambarkan semakin besar nilai proyek maka rasio biaya tidak langsung akan semakin kecil. V.2 Saran Berikut ini saran yang diberikan terhadap hasil peneltian yang telah dilakukan: a. Komponen-komponen biaya tidak langsung yang diidentifikasi dalam peneltian ini dapat dijadikan informasi berupa referensi bagi kontarktor dalam melakukan estimasi biaya tidak langsung. b. Model estimasi biaya tidak langsung yang dihasilkan belum dapat merepresentasikan secara akurat mengenai praktek estimasi biaya tidak langsung yang sebenarnya oleh kontraktor karena menggunakan data

122

berdasarkan pada dokumen kontrak dan RAB. Untuk mendapatkan model estimasi yang lebih akurat sebaiknya pada penelitian selanjutnya menggunakan data berdasarkan pada laporan aktual proyek dan jumlah data yang banyak dengan karakteristik proyek yang beragam. DAFTAR PUSTAKA American Association of Cost engineering (AACE), (1992) Skills and Knowledge of Cost Engineering, 3rd Edition, ACE, West Virginia. Ang, A.H. dkk, (1992) Konsep-konsep Probabilitas dalam perencanaan dan Perancangan Rekayasa-Prinsip-prinsip Dasar, Jilid 1, Erlangga, Jakarta. Ang, A.H. dan Tang, W.H., (2007) Probability Concepts in Engineering 2nd Edition, Wiley, United States of America. Artikel non-personal, 2 Juli 2010, “Jenis – Jenis Kontrak dalam Konstruksi”, http://iamnotthoseman.wordpress.com/2010/07/02/jenis-jenis-kontrakdalam-proyek-konstruksi-lanjutan/, diakses tanggal 8 Februari 2011. Direktorat Jendral Bina Marga, (2006) Panduan Analisis Harga Satuan, Pendukung Spesifikasi Umum Edisi Desember 2006, Departemen Pekerjaan Umum. L. Grant, Eugene, dkk., (2001) Dasar-Dasar Ekonomi Teknik, Jilid 1, Rineka Cipta, Jakarta. Latief, R., (2005) Kajian Kontrak Modified turn Key Sebagai Alternatif Pada Penanganan Jalan Propinsi Jawa Barat, Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung. Latupeirissa, Josefine Ernestine, (2005) Kerangka Penentuan Biaya Kontijensi Di Dalam Pelaksanaan Konstruksi, Disertasi Proogram Doktor, Institut Teknologi Bandung.

123

Liston, M. dan Patar, R., (2005) Implementasi Model Diekmann dan Girard untuk Memprediksi Potensi Perselisihan Kontrak Pada Pelaksanaan Proyek Jalan Nasional, Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung. Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi, Peraturan Lembaga (Perlem) Nomor 11a Tahun 2008 Tentang Registrasi Usaha Jasa Konstruksi, LPJK, Jakarta. Muzayanah, Yannu, (2008) Pemodelan Proporsi Sumber Daya Proyek Konstruksi, Tesis Program Magister, Universitas Diponegoro. Oberlender, G. D. dan Peurifoy, R. L., (2002) Estimating Contsruction Costs, McGrow-Hill Education, USA. Pradoto, Rani G. K., (2010) Pemodelan Estimasi Komponen Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi, Laporan Penelitian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Insititut Teknologi Bandung. PMI, (2000) A Giude to The Project Management Body of Knowlage, PMI Standart, Pennsylvania. Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, RI, Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia, Undang – Undang Jasa Konstruksi Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi, RI, Jakarta. Rahadian, D., (2010) Kajian Terhadap Praktek Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi Pada Perusahaan Kontraktor Menengah di Daerah Bandung dan Jakarta, Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung. Soemardi, Biemo W., (2010) Pengantar Studi Kajian Pengembangan Sistem Penyelenggaraan Proyek Jalan Nasional Indonesia, Penelitian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Institut Teknologi Bandung.

124

Statistik Badan Usaha Tahun 2008 Daftar Menurut Asosiasi Dan Golongan www.lpjk.org. Di download tanggal 23 September 2009. US Department of Energy, (1997), Cost Estimating Guide, DOE Yusuf, D., (2010) Studi Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi Pada Perusahaan Konstraktor Kualifikasi Besar di Daerah Bandung dan Jakarta, Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung.

125

LAMPIRAN I Kuesioner Kajian Praktek Estimasi Biaya Tidak Langsung Proyek Jalan Di Indonesia

126

LAMPIRAN II Rekapitulasi Hasil Penelitian

127

LAMPIRAN III Bagan Alir Hasil Penelitian

128

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times