Anda di halaman 1dari 8

ANALISA PENENTUAN KOEFISIEN ABSORPSI SUARA DENGAN METODE PEMODELAN KOTAK

Akeh Siswanto, Raymond Amir, Wisnu Eka Yulyanto Ervan A. B1, V. Vekky R. Repi, Ajat Sudrajat, Raymond Amir
1

Teknik Fisika, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Nasional, Jl. Sawo Manila No.61 Pejaten, Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoneia E-mail :

Abstrak
ANALISA PENENTUAN KOEFISIEN ABSORPSI SUARA DENGAN METODE PEMODELAN

KOTAK. Kebisingan dewasa ini dirasa sangat mengganggu terutama ketika siang hari, tetapi jika selama masih dalam batas toleransi biasanya banyak yang tidak memperdulikan. Disadari atau tidak bising mempunyai efek kurang baik terhadap kesehatan manusia, efek yang menyertai mulai dari tuli sementara, gangguan psikologis (trauma), sampai gangguan kesehatan lainnya. Pengendalian bising bukan hanya meredam sumber bising, membuat barrier, juga memakai material peredam. Bahan penyerap suara cukup jarang dijumpai, padahal ini sangat penting karena hal yang paling dekat dengan kehidupan manusia seharihari. Koefisien absorpsi (') merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan sejauh mana suatu bahan dapat menyerap / mereduksi bunyi. Dalam tugas akhir ini mencoba mencari perbandingan metode yang digunakan untuk mencari koefisien absorpsi yang selama ini cukup sulit karena memerlukan peralatan yang mahal serta material uji yang besar. Kotak simulasi ini mempunyai dimensi masing-masing panjang, lebar, dan tinggi 55cm, pengujiannya dilakukan di dalam ruang hemi (semi-anechoic chamber) agar tercipta kondisi latar yang tidak terlalu mengganggu. Percobaan ini menggunakan empat material uji yaitu : plywood, gypsum, karpet berpermukaan halus, dan karpet berpermukaan kasar. Kata kunci : koefisien absorpsi, bahan penyerap suara, kotak. I. Pendahuluan Beberapa parameter utama dalam perencanaan akustik suatu ruangan adalah waktu dengung (Reverberation Time), koefisien absorpsi (') dan rugi transmisi suara (STL) dan pengujiannya dapat menggunakan ruang dengung / gema (Reverberation Room). Akan tetapi bahan material uji haruslah besar dan biaya untuk pengujiannya mahal. Pentingnya kenyamanan akustik suatu ruangan sangat ditentukan oleh beberapa factor diantaranya adalah pemilihan bahan penyerap suara yang baik, sehingga perlunya ada metode untuk menentukan koefisien absorpsi suara bahan penyerap bunyi yang sederhana, mudah, murah. II. Metode Eksperimen Metode Pengukuran Data yang digunakan melalui dua cara, yaitu dengan metode literatur dan dengan data dari penelitian secara langsung dengan kotak simulasi berukuran panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 55cm. Pengukuran koefisien absorpsi suara ini menggunakan kotak simulasi berbentuk persegi panjang yang terbuat dari hardboard berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 55 cm, di dalam kotak dilapisi oleh aluminium foil agar bunyi dari

Omnisource speaker tidak terserap oleh papan melainkan dipantulkan berulang-ulang kali sampai menumbuk Metode Pengumpulan Data Persiapan yang harus dilakukan sebelum pengambilan data antara lain : meletakan bahan uji dilantai ruangan semi-anechoic yang berkarpet tebal, selanjutnya menempatkan kotak simulasi tegak lurus tepat diatas lantai, dan kemudian meletakkan omnisource speaker dibagian atas kotak yang tersedia, serta menyiapkan peralatan seperti yang tertera pada gambar 2. Bunyi yang dikeluarkan oleh sumber adalah sinyal white noise diperkuat menggunakan sebuah amplifier, kemudian sinyal yang terangkap oleh mikropon dikonversikan ke alat penganalisis pita frekuensi. Pengukuran Koefisien Absorpsi Untuk mengukur koefisien absorpsi bahan uji menggunakan kotak berukuran, panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 55 cm.

Gambar 2 Kotak Percobaan Pengukuran Koefisien Absorpsi Perhitungan Koefisien Absorpsi Menurut ISO 354-1985 Perhitungan koefisien absorpsi menurut ISO 354-1985 dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :

Persamaan diatas adalah formula Sabine, dengan keterangan sebagai berikut : T = waktu dengung (detik) V = volume ruangan (m3) A = total absorpsi dari masing-masing bidang batas ruangan, yaitu C (luas permukaan) x koefisien absorbsi. Peralatan Pengukuran Pengukuran koefisien absorpsi ini menggunakan beberapa peralatan, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. 1 buah microphone. 2. 1 buah amplifier. 3. Alat pembangkit sumber suara ONO SOKKI tipe SR5300. 4. Alat penganalisis pita frekuensi DS 2000. 5. Speaker Omnisource speaker Bruel & Kjaer. 6. Kalibrator untuk mikropon (Sound Calibrator)

Rion Pistonphone seri NC72 dengan frekuensi 250 Hz dan level suara 114 dB. Pengukuran Acuan Waktu Dengung Pengukuran yang dimaksud adalah mencari nilai acuan waktu dengung (reverberation time) yaitu tanpa adanya keempat bahan uji, jadi pengambilan data ini merupakan penting, yang dilakukan adalah menguji keenam sisi tanpa menggunakan keempat bahan uji, maka data yang didapat sebagai berikut : Tabel 1. Hasil pengukuran Acuan Perbandingan hasil pengukuran

Perbandingan hasil pengukuran dengan literature Hasil pengukuran koefisien absorpsi menggunakan keempat bahan uij yang telah dilakukan akan ibandingkan dengan hasil dari perhitungan koefisien abosrpsi bahan yang sama yang terdapat di literatur. Kotak simulasi terdiri dari 6 sisi kubus yang saling berhubungan, 5 sisi merupakan bahan utama penyusun kotak dan 1 sisi yang lain adalah bahan uji atau sampel, jadi dari persamaan diatas didapat :

Dari persamaan - persamaan diatas maka diperoleh :

maka di dapat harga

III. Analisis Data Dan Pembahasan Bahan Plywood : Tabel 2. Perbandingan Literatur dengan Percobaan

Nilai dari data koefisien absorpsi percobaan pada setiap frekuensi berbeda dengan data yang tertera pada literatur, untuk bahan plywood ini hanya pada frekuensi 125 Hz yaitu sebesar 0.32114 sedangkan sangat mendekati dengan nilai yang tertera pada handbook yaitu sebesar 0.32. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ini baik menyerap bunyi pada frekuensi 125 Hz.

Grafik 1. Perbandingan literatur dan percobaan plywood Korelasi untuk bahan ini adalah : Tabel 3. Korelasi Tiap-tiap frekuensinya

Grafik 2. Korelasi bahan plywood Bahan Gypsum Tabel 4. Perbandingan Literatur dengan Percobaan

Nilai dari data koefisien absorpsi percobaan, sangatlah jauh berbeda dengan data yang tertera pada literatur, untuk bahan gypsum ini data dari percobaan tidak ada yang mendekati nilai koefisien absorpsi bahan menurut literatur. Hal ini mungkin saja terjadi karena perbedaan dari ruang uji bahan tersebut dengan metode yang kami gunakan, yaitu kotak simulasi.

Grafik 3. Perbandingan literatur dan percobaan gypsum Korelasi antara literatur dan percobaan untuk bahan gypsum juga sangatlah jauh berbeda yaitu : Tabel 5. Korelasi Tiap-tiap frekuensinya

Grafik 4. Korelasi bahan gypsum Harga-harga korelasi untuk bahan ini sangat besar itu dikarenakan perbedaan ukuran kotak yang kecil sehingga ketika sumber suara mengeluarkan bunyi, gelombang bunyi tidak dapat langsung terserap ke dalam bahan uji, sehingga menyebabkan adanya penumpukkan bunyi yang tidak terserap oleh bahan gypsum. Maka alat ini tidak cocok untuk bahan uji yang berlapisan keras terutama gypsum. Karpet halus Tabel 6. Perbandingan literatur dan percobaan

Nilai koefisien absorpsi bahan karpet yang berpermukaan halus didapat dari percobaan hanya pada frekuensi 250 Hz sebesar 0.288921 saja yang mendekati dari nilai koefisien absorpsi pada literature yaitu sebesar 0.25. Sedangkan untuk frekuensi 500 Hz sampai 1000 Hz cukup jelas perbedaannya. Grafik dibawah ini dengan jelas menggambarkan nilai koefisien absorpsi masing-masing frekuensi.

Grafik 5 Perbandingan literatur dan percobaan Tabel 7 Korelasi tiap-tiap frekuensi

Korelasi yang terdekat hanya pada frekuensi 500 Hz sampai frekuensi 4000 Hz, hal ini berarti alat ini berfungsi dengan baik dengan bahan karpet berpermukaan halus.

Grafik 6. Korelasi bahan Karpet halus Karpet kasar Tabel 8.Perbandingan literatur dan percobaan

Nilai koefisien absorpsi percobaan memang cukup jauh berbeda dengan nilai yang tertera pada literatur, bila dilihat dengan seksama maka nilai koefisien absorpsi percobaan antara karpet berpemukaan halus dengan kasar tidak jauh berbeda.

Grafik 7. Perbandingan literatur dan percobaan Karpet kasar Korelasi untuk bahan karpet kasar adalah sebagai berikut : Tabel 9. Korelasi tiap-tiap frekuensi

Korelasi yang terkecil adalah pada frekuensi 4000 Hz yaitu sebesar 1.403046 sedangkan untuk yang terbesar adalah frekuensi 125 Hz adalah sebesar 2.995606. IV.Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada babbab sebelumnya, maka penulis dapat merumuskan beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Metode pemodelan kotak ini lebih mudah untuk dilakukan dan hasilnya sudah cukup baik untuk bahan uji lunak yaitu karpet halus dan karpet kasar hal tersebut terlihat pada tabel data dan grafik korelasi, untuk bahan uji kapet halus hasil dan karpet kasar korelasinya cukup baik untuk rentang frekuensi tinggi diatas 500 Hz, sedangkan untuk bahan uji keras yaitu plywood dan gypsum tidak cocok dikarenakan dimensi kotak yang terlalu kecil. 2. Perbedaan antara harga literatur dan percobaan pada material uji menandakan bahwa kotak ini dapat berfungsi untuk bahan uji lunak yaitu karpet halus dan karpet kasar sedangkan bahan uji keras terjadi standing wave yang kemungkinan akan hilang bila dimensi kotak diperluas. DAFTAR PUSTAKA 1. ----------------, Teori Dasar Kebisingan, Laboratorium Kebisingan dan Getaran, Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan, Serpong 1999. 2. Asharani, Kajian Desain Pengendali Kebisingan Pada Sumber Statis, Skripsi Jurusan Teknik Lingkungan, Universitas Trisakti, Jakarta, 2006. 3. Beranek, Leo L and Istval L Ver, Noise and Vibration Control Engineering : Principal and Application, McGraw- Hill Inc. USA. 4. Cowan, James P., Handbook of Environmental Acoustic, VON NOSTRAND REINHOLD, New York, 1994. 5. Doelle, Leslie L., Akustika Lingkungan, Erlangga, Jakarta, 1972 6. Ih, Jeong-Guon, Workshop on Fundamentals of Noise Control : Noise Conrol Elements, KK Teknik Fisika FTI-ITB, Bandung 2006. 7. ISO 354 : Measurement of Sound Absorpstion In A Reverberation Room, Geneve : International Organization for Standarization. 8. Keputusan Menteri Negara Ligkungan Hidup No.48/MENKLH/11/1996, tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta, 1996. 9. Merthayasa, IGN, Workshop on Fundamentals of Noise Control : Community Noise Perception & Hearing Conservation Program, KK Teknik Fisika FTI-ITB, Bandung 2006. 10. Mediastika, Christina E., Akustika Bangunan : Prinsip-prinsip dan Penerapannya di Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta 2005. 11. Putra, I. B. Ardhana, Dasar-dasar Akustik, Bahan Penyerap Suara, Panel Absorber, Catatan Mata Kuliah Akustik, Teknik Fisika ITB. 12. Purwanto, Budi, Efektifitas Penghalang Bunyi Bahan Plywood dengan bentuk I dan T, Skripsi Jurusan Teknik Fisika Sekolah Tinggi Teknologi Mutu Muhammadiyah, Tangerang 2004. 13. Rochmah., Teknik Akustik 2, Penerbit PT. Roda Pelita, 1983. 14. Sudrajat, Ajat., Catatan Mata Kuliah Akustik, Jurusan Teknik Fisika, Universitas Nasional, Jakarta 2005. 15. Turner, J. D. and A. J. Pretlove, Acousticfor Engineers, MACMILLANS