Anda di halaman 1dari 73

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Demam Dengue/DF dan Demam Berdarah Dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan demam hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditadai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/ syok.1 Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara.2 Menurut data CDC sekitar 2.5 milyar penduduk atau 40% dari populasi dunia menempati wilayah yang memiliki resiko terhadap penularan DBD. DBD menjadi endemik tidak kurang dari 100 negara di Asia Pasifik, Amerika, Afrika dan Karibia. WHO memperkirakan terjadi 50 sampai 100 juta kasus infeksi terjadi tiap tahun termasuk 500,000 kasus DBD dan 22,000 kematian yang kebanyakan terjadi pada anak-anak.3

Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita Demam Berdarah di tiap tahunnya. World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus Demam Berdarah tertinggi di Asia Tenggara.4 Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat penting di Indonesia dan sering menimbulkan suatu letusan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan kematian yang besar.5 Pada tahun 2009, terdapat 158.912 kasus dengan jumlah kematian 1.420 orang. Dengan demikian, Incidence Rate (IR) DBD pada tahun 2009 adalah 68,22 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,89%. Angkaangka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan IR sebesar 59,02 per 100.000 penduduk dan CFR sebesar 0,86%.6 Meskipun CFR tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan tahun 2008, namun sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008, nampak adanya kecenderungan penurunan CFR. Kecenderungan penurunan tersebut tidak nampak pada IR per 100.000 penduduk. Angka Insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta, yaitu 313,41 per 100.000 penduduk, Sedangkan IR terendah di Provinsi NTT sebesar 8,44 dan Jambi sebesar 8,55 per 100.000 penduduk. 6 Dari jumlah keseluruhan kasus tersebut, sekitar 95% terjadi pada anak di bawah 15 tahun.4 Pada tahun 2009, provinsi dengan CFR tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung sebesar 4,58%, sedangkan CFR terendah terdapat di provinsi

Sulawesi Barat, dimana tidak ada kasus meninggal, dan DKI Jakarta sebesar 0,11%.6 Di Sulawesi Selatan, menurut laporan dari Subdin P2&PL tahun 2004, telah dilaporkan kejadian penyakit Demam Berdarah sebanyak 2.598 penderita (termasuk data Sulawesi Barat) dengan kematian 19 orang (CFR=0,7%). Pola kejadian tersebut berlangsung antara Januari April, Juni, Oktober dan Desember (memasuki musim penghujan). Jumlah kasus tertinggi terjadi di Kota Makassar, Kab. Gowa dan Barru. Untuk tahun 2005, tercatat jumlah penderita DBD sebanyak 2.975 dengan kematian 57 orang (CFR=1,92%). Sementara untuk tahun 2006, kasus DBD dapat ditekan dari 3.164 kasus tahun 2005 menjadi 2.426 kasus (22,6%) pada tahun 2006, demikian pula angka kematian (CFR) dari 1,92% turun menjadi 0,7% pada tahun 2006, dengan kelompok penduduk yang terbanyak terserang adalah pada kelompok usia anak sekolah (5-14 tahun) sebesar 55%, kemudian pada kelompok usia produktif (15-44 tahun) sebesar 25%, kelompok usia anak balita (1-4 tahun) sebesar 16% dan usia diiatas 45 tahun serta usia dibawah 1 tahun masing-masing sebesar 2%.4 Pada tahun 2007 kasus DBD kembali meningkat dengan jumlah kasus sebanyak 5.333 kasus dan jumlah kasus yang terbesar berada di kab.Bone (1030) kasus, menyusul Kota Makassar (452) kasus, Kab. Bulukumba (376) kasus, Kab.Pangkep (358) kasus.4 Kasus DBD di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 kategori tinggi pada Kab. Bone, Bulukumba, Pinrang, Makassar dan Gowa, sedangkan kabupaten/

kota yang tidak terdapat kasus DBD yaitu Kab. Luwu Utara, Tator, Enrekang, Maros, Jeneponto dan Selayar. CFR DBD di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebesar 0,83. Sedangkan pada Kab./ kota tertinggi yaitu di Luwu Utara (14,29), menyusul Maros (13,33), Pinrang (3,42), Sidrap (1,61), kemudian Wajo, Makassar, Parepare, Gowa dan Bone masing-masing di bawah 1,5.4,7 Oleh karena masih cukup tingginya kasus DBD di Sulawesi Selatan khususnya di daerah Makassar, maka perlu dilakukan penelitian mengenai karakteristik dari penderita Demam Berdarah Dengue periode 1 januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2010. Penelitian ini akan dilakukan di RSU Haji.

1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah: 1. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan waktu kejadian ? 2. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan umur ? 3. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan jenis kelamin ? 4. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan pekerjaan ? 5. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan suku ? 6. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan tempat tinggal ? 7. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan jaminan pembiayaan ? 8. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan riwayat demam? 9. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan cara masuk rumah sakit ?

10. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan gejala klinis ? 11. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan derajat penyakit ? 12. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan keadaan pasien saat keluar rumah sakit ? 13. Bagaimanan distribusi pasien DBD berdasarkan kadar hematokritnya pada pemeriksaan pertama saat di rumah sakit ? 14. Bagaimana distribusi pasien DBD berdasarkan jumlah trombositnya pada pemeriksaan pertama saat di rumah sakit ?

1.3 Batasan Masalah Banyaknya variabel yang dapat dijadikan penilaian karakteristik penyakit DBD, keterbatasan data yang ada dalam rekam medik pasien dan juga keterbatasan waktu, biaya serta kemampuan, maka dalam penelitian ini kami hanya akan meneliti bagaimana distribusi penyakit DBD

1.4 Tujuan penelitian 1.4.1 Tujuan Umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita demam berdarah dengue yang dirawat di RSU Haji periode 1 januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2010.

1.4.2 Tujuan Khusus Tujuan Khusus dalam penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan waktu

kejadian. 2. 3. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan umur. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan jenis

kelamin 4. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan

pekerjaan. 5. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan riwayat

demam 6. 7. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan suku Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan cara masuk

rumah sakit. 8. Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan tempat

tinggal 9. Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan jaminan

pembiayaan. 10. 11. Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan gejala klinis Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan derajat

penyakit. 12. Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan keadaan

pasien saat keluar rumah sakit.

13.

Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan kadar

hematokritnya pada pemeriksaan pertama saat di rumah sakit 14. Untuk mengetahui distribusi pasien DBD berdasarkan jumlah

trombositnya pada pemeriksaan pertama saat di rumah sakit.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Praktis Manfaat praktis penelitian ini adalah sebagai sumber informasi bagi para praktisi kesehatan mengenai kasus demam berdarah dengue, sehingga timbul kepedulian untuk bekerja sama dalam menuntaskan permasalahan penyakit ini dimasa yang akan datang. 1.5.2 Manfaat Teoritis 1. Sebagai bahan masukan bagi pihak instansi yang berwenang unuk digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil dan

memutuskan kebijakan-kebijakan kesehatan. 2. Sebagai tambahan ilmu, kompetensi, dan pengalaman berharga bagi peneliti dalam melakukan penelitian kesehatan pada umumnya dan terkait tentang demam berdarah dengue pada khususnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendahuluan Demam Dengue/DF dan Demam Berdarah Dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan demam hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditadai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/ syok.1 Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus grup famili Togaviridae. Virus ini mempunyai ukuran diameter sebesar 30 nanometer terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106 dan terdiri dari 4 serotipe, yakni dengue (DEN) 1, DEN 2, DEN 3, DEN 4. Keempat serotipe ditemukan di indonesia dengan DEN 3 merupakan serotipe terbanyak. Terdapat reaksi silang antara serotipe dengue

dengan flavivirus lain seperti Yellow fever, Japanese Enchehphalitis dan West Nile virus. Virus yang ditularkan pada manusia melalui gigtan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, pada suhu 30 C memerlukan waktu 8-10 hari untuk menyelesaikan masa inkubasi ekstrinsik dari lambung sampai kelenjar ludah nyamuk tersebut. Sebelum demam muncul pada penderita virus ini sudah dulu berada dalam darah 1-2 hari. Selanjutnya penderita berada dalam kondisi viremia selama 4-7 hari. 1,7

2.2 Vektor dan Cara Penularan Virus dengue Vektor utama DBD adalah nyamuk rumah yang disebut Aedes Aegypti, sedangkan vektor potensialnya yang lain adalah Aedes Albopictus yang banyak ditemukan di semak-semak sekitar rumah. Nyamuk dewasa betina Aedes aegypti menghisap darah manusia pada siang hari yang dilakukan, baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Untuk menjadi kenyang, nyamuk betina memerlukan 2-3 kali hinggap dan menghisap darah (multiple biters). Penghisapan darah dilakukan dari pagi sampai petang dengan dua puncak waktu yaitu setelah matahari terbit (08.00-12.00) dan sebelum matahari tenggelam (15.00-17.00).8 Virus dengue yang sudah masuk di tubuh manusia akan bersirkulasi dalam tubuh manusia selama 2-7 hari atau selama demam terjadi. Dalam waktu 4-7 hari, virus dengue di tubuh penderita dalam keadaan viremia dan pada masa itulah penularan terjadi. Apabila penderita digigit oleh nyamuk penular, maka virus dengue juga akan terhisap dalam tubuh nyamuk. Virus

tersebur kemudian berada dalam lambung nyamuk dan akan memperbanyak diri selanjtnya akan berpindah ke kelenjar ludah nyamuk. Proses itu memakan waktu 8-10 hari sebelum ditularkan kembali ke manusia.7

2.3 Epidemiologi Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa (KLB) hingga 35 per 100.000 penduduk, sedangkan angka mortalitas cenderung menurun seiring dengan waktu.1 Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD, dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 32 dan 382 kabupaten/kota pada tahun 2009. Maka beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu 1) vektor : perkembangbiakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di lingkungan, transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain; 2) pejamu: terdapatnya penderita di lingkungan/ keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin; 3) lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk.1,9 Secara nasional penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia setiap tahun terjadi pada buan September s/d Februari dengan puncak pada bulan

10

Desember atau Januari yang bertepatan dengan waktu musim hujan. Akan tetapi Untuk kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya musim penularan terjadi pada bulan Maret s/d Agustus dengan puncak terjadi pada bulan Juni atau Juli.9 Kasus DBD perkelompok umur dari tahun 1993 - 2009 terjadi pergeseran. Dari tahun 1993 sampai tahun 1998 kelompok umur terbesar kasus DBD adalah kelompok umur <15 tahun, tahun 1999 - 2009 kelompok umur terbesar kasus DBD cenderung pada kelompok umur >=15 tahun. 9 Melihat data ini kemungkinan penularan tidak hanya di rumah tetapi di sekolah atau di tempat kerja. Selain itu tampak telah terjadi perubahan pola penyakit DBD, dimana dahulu DBD adalah penyakit pada anak-anak dibawah 15 tahun, saat ini telah menyerang seluruh kelompok umur, bahkan lebih banyak pada usia produktif.3 Bila dilihat, distribusi kasus berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2008, persentase penderita laki-laki dan perempuan hampir sama. Jumlah penderita berjenis kelamin laki-laki adalah 10.463 orang (53,78%) dan perempuan berjumlah 8.991 orang (46,23%). Hal ini menggambarkan bahwa risiko terkena DBD untuk laki-laki dan perempuan hampir sama, tidak tergantung jenis kelamin. 9

2.4 Patogenesis Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam berdarah dengue hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian

11

besar menganut The secondary heterologous infection hypothesis yang mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi dengue pertama mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan dalam jangka waktu yang tertentu yang diperkirakan antara 6 bulan sampai 5 tahun.3 Akibat infeksi kedua oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, respons antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan menghasilkan antibodi IgG anti dengue titer tinggi. Disamping itu replikasi virus dengue terjadi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah yang banyak. Hal-hal ini semuanya akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang

selanjutnya akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat antivasi C3 dan C5 menyebabkan meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Pada penderita renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari pada 30% dan berlangsung selama 24-48 jam. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekuat akan menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. 3 Sebab lain dari kematian pada DBD ialah perdarahan saluran pencernaran hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi. Trombositopenia merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar penderita DBD. Nilai trombosit mulai 12

menurun pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan. Jumlah tromosit secara cepat meningkat pada masa konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai sampai hari ke 10 sejak permulaan penyakit. 3 Kelainan sistem koagulasi mempunyai juga peranan sebagai sebab perdarahan pada penderita DBD. Berapa faktor koagulasi menurun termasuk faktor II, V, VII, IX, X dan fibrinogen. Faktor XII juga dilaporkan menurun. Perubahan faktor koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hepar yang fungsinya memang terbukti terganggu, juga oleh aktifasi sistem koagulasi. Disseminated Intravascular Coagulation/DIC secara potensial dapat terjadi juga pada penderita DBD tanpa atau dengan renjatan. Renjatan pada DIC akan saling mempengaruhi sehingga penyakit akan memasuki renjatan irrevesible disertai perdarahan hebat, terlihatnya organ-organ vital dan berakhir dengan kematian. 3

2.5 Gejala, Klasifikasi dan Berat Penyakit Tanda-tanda dan gejala penyakit DBD adalah :
1.

Demam Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terusmenerus berlangsung 2 - 7 hari, kemudian turun secara cepat. Demam secara mendadak disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti: anorexia, lemas, nyeri pada tulang, sendi, punggung dan kepala.3

2.

Manifestasi Pendarahan

13

Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3 setelah demam. Sebab perdarahan adalah trombositopenia. Bentuk perdarahan dapat berupa 3
-

Petechiae Purpura Echymosis Perdarahan konjunctiva Perdarahan dari hidung (epistaxis) Perdarahan gusi Muntah darah (hematemesis) Buang air besar berdarah (melena) Kencing berdarah (hematuria)

Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu diperlukan torniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar penderita Demam Berdarah Dengue. 3
3.

Pembesaran hati (Hepatomegali) Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan berapa penyakit Pembesan hati mungkin berkaitan dengan strain serotype virus dengue. 3

4.

Renjatan (Shock) Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7 mulai sakit. Renjatan terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma ke

14

daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak. Adapun tanda-tanda perdarahan:
-

Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki. Penderita menjadi gelisah. Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba. Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang)
- Tekanan

darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg

atau kurang). Renjatan yang terjadi pada saat demam, biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih buruk. 3
5.

Gejala klinis lain Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah : anoreksia, mual, muntah, lemah, sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang. 3

Diagnosis Demam Berdarah Dengue berdasarkan WHO 1997.3 Kriteria Klinis 1) Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 2 7 hari. 2) Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan : Uji tourniquet positif Petekie, ekimosis, epitaksis, perdarahan gusi. Hemetamesis dan atau melena. 3) Pembesaran hati 4) Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.3

15

Kriteria Laboratorium 1) Trombositopenia (100.000 sel/ mm3 atau kurang) 2) Hemokonsentrasi peningkatan hematoksit 20% atau lebih Mengingat derajat berat ringan penyakit berbeda-beda, maka diagnosa secara klinis dapat dibagi atas : Derajat I: Demam disertai gejala tidak khas dan satu satunya manifestasi ialah uji tourniquet positif dan atau mudah memar Derajat II: Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain. Derajat III: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan rendah, kulit dingin atau lembab dan penderita tampak gelisah. Derajat IV: Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur. Perubahan epidemiologi demam berdarah menyebabkan masalah dalam menggunakan klasifikasi WHO yang ada. Gejala virus dibagi mejadi Undifferentiated Fever, Dengue Fever, Dengue Haemorrhagic Fever dan lalu diklasifikasi menjadi grade I sampai IV menyebabkan banyaknya laporan kesulitan penggunaan klasifikasi sehingga sulit dalam menentukan keparahan pasien sehingga dibuatlah kriteria baru klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan menurut panduan WHO tahun 2009.10 1. Dengue tanpa tanda bahaya / peringatan (dengue without warning signs), 2. Dengue dengan tanda bahaya/ peringatan (dengue with warning signs), 16

3. Dengue berat (severe dengue). 10 1. Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya: Tersangka Dengue: Bertempat tinggal di /bepergian ke daerah endemik dengue. Demam disertai 2 dari hal berikut : Mual, muntah Ruam Sakit dan nyeri Uji torniket positif Lekopenia Adanya tanda bahaya Tanda bahaya adalah : Nyeri perut atau nyeri tekan Muntah berkepanjangan Terdapat akumulasi cairan Perdarahan mukosa Letargi, lemah Pembesaran hati > 2 cm Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma tidak jelas). 10

17

2. Kriteria dengue berat : Kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan disertai dengan distress pernafasan. Perdarahan hebat, yang dievaluasi oleh paramedis Gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ lain). 10 2.6 Gambaran Klinis Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatis atau dapat berupa demam yang tidak khas, pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari yang diikuti fase kritis selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasein sudah tidak demam tetapi memiliki resiko tinggi terjadinya renjatan Gambaran klinis nya terdiri atas 3 fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.1,10 Fase febris biasanya demam mendadak tinggi 2 7 hari, disertai muka kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorok, injeksi farings dan konjungtiva. Anoreksia, mual dan muntah sering terjadi. Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti petekie, perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal. Pembesaran dan nyeri tekan hepar sering tampak setelah beberapa hari demam. Sedangkan pada pemeriksaan darah lengkap tanda abnormal yang dapat di lihat secara dini adalah penurunan progresif dari jumlah total leukosit. Setelah fase febris, akan terjadi fase kritis pada hari 3

18

7 sakit dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh (37,5-38C atau kurang) disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24 48 jam. Kebocoran plasma dapat terlihat dari adanya efusi pleura, asites, dan sering didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan jumlah trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok yang memiliki beberapa tanda peringatan seperti penurunan temperatur suhu tubuh. Bila fase kritis terlewati maka terjadi Fase pemulihan yang berupa pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48 72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali, hemodinamik stabil dan diuresis membaik. 10 Jika tidak segera ditangani atau ditangani secara tidak tepat, penyakit ini dapat menjadi berat dan menyebabkan kematian. Dengue berat harus dicurigai bila pada pasien berasal dari daerah resiko tinggi penyakit dengue dengan demam yang berlangsung 2-7 hari disertai dengan ditemuan berikut: Bukti kebocoran plasma seperti hematokrit yang tinggi atau meningkat secara progresif, adanya efusi pleura atau asites, gangguan sirkulasi atau syok (takikardi, ekstremitas yang dingin, waktu pengisian kapiler (capillary refill time) > 3 detik, nadi lemah atau tidak terdeteksi, tekanan nadi yang menyempit atau pada syok lanjut tidak terukurnya tekanan darah) Adanya perdarahan yang signifikan Gangguan kesadaran

19

Gangguan gastrointestinal berat (muntah berkelanjutan, nyeri abdomen yang hebat atau bertambah, ikterik) Gangguan organ berat (gagal hati akut, gagal ginjal akut,

ensefalopati/ensefalitis, kardiomiopati dan manifestasi lainnya yang tak lazim.10

2.7 Diagnosis Untuk mengantisipasi agar diagnosis DBD dapat ditegakkan dengan segera, diperlukan pemahaman imunopatogenesis penyakit DBD,

pemeriksaan laboratorium yang tepat dan interpretasi yang didapat dari hasil laboratorium untuk melengkapi gejala klinis yang ada. Permasalahan sering timbul akibat dari miskomunikasi klinisi dengan pihak laboratorium, baik dokter spesialis patologi klinik, analis, teknisi dan pasien, di samping tahapan praanalitik, analitik dan paskaanalitik.11 Gambaran klinis penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue ini sering tidak khas, dapat menyerupai penyakit flu, demam tifoid, demam chikungunya, leptospirosis, malaria dan berbagai penyakit lain. Manifestasi klinis akibat infeksi virus dengue ini dapat menyebabkan keadaan yang beranekaragam, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik), demam ringan yang tidak spesifik (undifferentiated febrile illness), demam dengue (DD) atau bentuk yang lebih berat yaitu demam berdarah dengue (DBD) dan sindrom syok dengue (SSD) . 11

20

Penegakkan diagnosis DBD masih menggunakan kriteria WHO 1997, yaitu kriteria klinis dan laboratoris berupa trombositopenia kurang dari 100.000/ul atau peningkatan hematokrit 20%. Untuk mendapatkan peningkatan hematokrit sebesar 20% secara tepat, sulit dilakukan, mengingat belum ada nilai standar hematokrit orang Indonesia anak-anak maupun dewasa. Hal yang tak kalah penting adalah memahami kelemahan pemeriksaan laboratorium tersebut. Pemeriksaan hemoglobin, leukosit, hitung jenis, hapusan darah tepi maupun enzim hati seperti SGOT dan SGPT, juga diperlukan di samping trombosit dan hematokrit, untuk memberi informasi lebih, dalam menunjang diagnosis DBD. 11 Pemeriksaan serologis berupa IgM dan IgG antidengue diperlukan untuk membedakan demam yang diakibatkan virus dengue ataukah demam oleh sebab lain (demam tifoid, influenza, malaria, hepatitis dan lain-lain). Saat ini sudah ada tes yang dapat mendiagnosis DBD dalam waktu demam 8 hari pertama yaitu antigen virus dengue yang disebut dengan antigen Non Stereotypic antigen-1 (NS1). Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa perlu menunggu terbentuknya antibodi. Pemeriksaan NS1 lebih unggul sensitivitasnya dibandingkan kultur virus dan pemeriksaan PCR maupun antibodi IgM dan IgG antidengue. Spesifisitas antigen NS1 100% sama tingginya seperti pada gold standard kultur virus maupun PCR.11 Antigen NS1 terdapat baik pada infeksi primer maupun sekunder. Antigen NS1 dapat dideteksi dalam 9 hari pertama demam, yang terdapat

21

baik pada serotipe DEN-1 (terbanyak), DEN-2, DEN-3 dan DEN-4). Kumarasamy meneliti sensitivitas dan spesifisitas NS1 pada 554 donor sehat dan 297 pasien terinfeksi virus dengue dimana 157 pasien PCRnya positif dan pasien diperiksa juga IgM dan IgG antidengue. Beliau mendapatkan spesifisitas 100% dan sensitivitas 91,0 % dari 157 sampel yang positif PCR nya dengan perbedaan yang tidak signifikan untuk ke empat serotipe, sedangkan Blacksell meneliti NS1 dan beliau mendapatkan sensitivitas NS1 63% dan spesifisitas 100% dengan memperhatikan adanya perbedaan sekresi yang bervariasi antar serotipe.11 Terdapat 2 macam kit pemeriksaan antigen NS1 di Indonesia, yaitu dari Panbio dan BioRad, keduanya memakai prinsip metode ELISA (Enzymelinked immunosorbent assay). Saat ini juga sudah terdapat reagen NS1 dalam bentuk rapid test (ICT).11 Pemeriksaan IgM dan IgG antidengue tetap diperlukan untuk membedakan infeksi primer atau infeksi sekunder. Hal ini penting untuk penatalaksanaan manajemen terapi di samping epidemiologi, karena pada infeksi sekunder keadaan dapat menjadi lebih berat. IgM dan IgG antidengue, baik dengan cara rapid test menggunakan metode imunokromatografi (ICT) ataupun enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).11 Pada respon imun primer, IgM diproduksi dimulai pada hari ke 3, namun pada umumnya baru dapat dideteksi pada hari ke 7 demam atau lebih kadar IgM ini terus meningkat dalam 1-3 minggu dan dapat terdeteksi sampai 2 bulan setelah infeksi. IgG antidengue diproduksi pada 2 minggu sesudah

22

infeksi dan akan tetap ada di dalam tubuh selamanya, namun untuk kadar yang dapat dideteksi dengan reagen komersial. IgG capture ELISA, pada umumnya adalah IgG dalam kadar setara dengan infeksi sekunder (batas Hemagglutination Inhibition > 1/1280 atau ada reagen komersial yang mematok batas HI > 1/2560). Keadaan akut juga dapat ditentukan dengan menggunakan rasio IgM dibandingkan dengan IgG antidengue. 11 Pada respon imun sekunder, IgM dapat dimulai timbul pada hari ke 3, namun optimal paling sedikit 5 hari setelah demam, bahkan 25-78% tidak terdeteksi pada infeksi sekunder. IgG antidengue pada respon imun sekunder, meningkat cepat dalam 3-5 hari demam. Pola reaktivitas IgM dan IgG yang ditentukan dengan menggunakan ELISA ini, telah dapat membedakan infeksi primer atau sekunder. Keberadaan antibodi IgM tanpa IgG menunjukkan infeksi primer, sedangkan IgG yang kadarnya meningkat jauh melebihi IgM menunjukkan infeksi sekunder. IgM dan IgG ini dapat dijumpai baik pada semua manifestasi klinis infeksi virus dengue, baik yang asimtomatik,

demam dengue, demam berdarah dengue hingga syok sindrom dengue.11 Antigen NS1 dianjurkan diperiksa pada awal demam sampai hari ke delapan. Sensitivitas antigen NS1 berkisar 63% - 93,4% dengan spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifisitas gold standard kultur virus. Hati-hati hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus dengue, dimana variasi hasil ini diduga berkaitan dengan serotipe virus dengue yang menginfeksi. Disarankan pemeriksaan antigen NS1 tetap disertai dengan pemeriksaan antibodi IgM dan IgG antidengue sebagai penentu infeksi primer

23

ataupun sekunder, sekaligus untuk mengatasi kemungkinan hasil negatif palsu pada pemeriksaan antigen NS1.11

2.8 Penatalaksanaan Dalam Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control New terbaru penatalaksanaan pasien berdasarkan 3 kategori kelompok yaitu: 1. Kategori kelompok A adalah Pasien yang tidak memerlukan perawatan rumah sakit dan dapat dipulangkan kerumah. 2. Kategori kelompok B adalah pasien yang membutuhkan perawatan rumah sakit 3. Kategori kelompok C adalah pasien yang membutuhkan penanganan kegawatdaruratan. 10 Pasien yang tergolong kategori A adalah mereka yang mampu atau memiliki asupan cairan yang adekuat dan kencing minimal sekali tiap enam jam serta tidak memiliki tanda peringatan apapun terutama saat demam mulai mereda. Penanganan pasien dapat dilakukan dalam beberapa langkah yang dimulai dengan menganjurkan pasien untuk meminum cairan rehidrasi, jus buah dan cairan lainnya yang mengandung elektrolit dan gula untuk menggantikan komponen yang hilang hilang karena demam atau muntah.

24

Tindakan berikutnya adalah pemberian parasetamol pada pasien yang demam tinggi jika pasien tersebut tidak nyaman dengan keadaannya tersebut. Dosis parasetamol sebaiknya di minum dengan rentang tidak kurang dari enam jam. Kompres pasien dengan kompres hangat jika pasien masih tetap demam tinggi setelah pemberian parasetamol. Jangan memberikan asam asetilsalisilat (Aspirin), ibuprofen atau golongan anti inflamasi lainnya karena dapat memicu terjadinya radang lambung (Gastritis) dan perdarahan. Langkah

terakhir adalah mengingatkan keluarga pasien atau orang yang mengurus pasien agar memperhatikan dan segera membawa pasien jika terjadi hal-hal seperti: tidak terjadi perbaikan kondisi pasien atau malah memburuk, Nyeri abdomen yang berat, muntah yang terus-menerus, tangan dan kaki yang terasa dingin serta lembab, gangguan kesadaran, perdarahan (seperti muntah dan BAB hitam) atau tidak kencing lebih dari 4- 6 jam. Selanjutnya tenaga medis harus memantau pasien yang dipulangkan kerumah tiap harinya dengan melihat suhu, asupan dan cairan yang hilang, urin yang keluar, tandatanda peringatan, tanda kebocoran plasma dan perdarahan serta pemantauan darah rutin (Hematokrit, jumlah trombosit dan leukosit) . 10 Pasien yang tergolong kategori B adalah pasien yang memerlukan observasi lebih terutama ketika mereka akan memasuki fase kritis. Termasuk didalamnya pasien yang memiliki tanda-tanda peringatan, dan atau memiliki kondisi khusus yang membuat penyakit DBD dan penaganannnya menjadi lebih rumit seperti wanita hamil, lansia, penderita diabetes melitus, gagal ginjal dan anak-anak. Pasien yang tinggal sendiri atau tinggal jauh dari pusat

25

kesehatan tanpa memiliki transportasi yang memadai juga termasuk kategori ini. 10 Jika pasien DBD dengan tanda peringatan maka rencana tindakannya adalah sebagai berikut: Diperlukan adanya data Hematokrit sebelum memulai terapi cairan. Berikan hanya cairan isotonik seperti saline 0,9%, ringer laktat atau caitan hartmann, yang dimulai dengan 5-7 ml/Kg/ jam untuk 1-2 jam pertama, kemudian turunkan menjadi 3-5ml/Kg/ jam untuk 2-4 jam berikutnya dan turunkan lagi menjadi 2-3 ml/Kg/ jam atau kurang tergantung dari respon klinis. Nilai kondisi dan periksakan kembali hematokrit pasien, jika nilai hematokritnya masih tetap sama atau hanya mningkat sedikit maka lanjutkan pemberian cairan 2-3 ml/Kg/ jam selama 2-4 jam. Jika tanda vital memburuk dan hematokrit meningkat dengan cepat maka tingkatkat pemberian cairan menjadi 5-10 ml/Kg/ jam berikan selama 1-2 jam. 10 Berikan cairan intravena yang minim sesuai kebutuhan untuk menjamin perfusi jaringan yang baik serta menjamin pengluaran urin sekitar 0,5 ml/Kg/ jam. Infus cairan hanya dibutuhkan selama 24-48 jam. Pengurangan cairan intravena dilakukan jika jumlah kebocoran plasma telah menurun yang diindikasikan dengan keseimbangan antara asupan cairan dengan jumlah urin yang keluar, atau hematokrit menurun dibawah nilai batas pada pasien stabil. Pasien yang menunjukan tanda-tanda peringatan harus tetap dipantau tanda vital dan perfusi perifer (1-4 jam setelah pasien keluar dari fase kritis), pengeluaran urinnya (tiap 4-6 jam), Hematokrit (Sebelun dan sesudah terapi

26

cairan serta 6- 12 jam berikutnya, gula darah dan fungsi organ lainnya seperti fungsi ginjal, hati dan pembekuan darah). 10 Jika pasien DBD tanpa tanda peringatan maka rencana tindakannya adalah sebagai berikut: Pasien dianjurkan untuk minum. Jika hal ini tidak dapat ditoleransi dengan baik maka dapat diberikan cairan intravena dengan menggunakan saline 0,9% atau ringer laktat dengan atau tanpa pemberian dextrose dengan dosis perawatan. Untuk pasien dengan berat badan berlebih dan obesitas, perhitungan jumlah cairan intravena menggunakan berat badan idealnya. Pasien harus memulai asupan cairan oral setelah beberapa jam terapi cairan intravena. Berikan cairan intravena yang minim sesuai kebutuhan untuk menjamin perfusi jaringan yang baik serta menjamin pengluaran urin. Infus cairan hanya dibutuhkan selama 24-48 jam. Pasien yang tetap dipantau tanda vital dan perfusi perifer, pengeluaran urinnya (volume dan frekunsinya), Hematokrit, jumlah leukosit dan trombosit. Tes laboratorium lainnya seperti fungsi organ lainnya seperti fungsi ginjal dan hati dapat disesuaikan dengan gambaran klinis dan fasilitas yang ada dipusat kesehatan tersebut. 10 Pasien yang tergolong kategori C adalah pasien yang mengalami kebocoran plasma berat yang mengarah ke syok dan / atau akumulasi cairan dengan gangguan pernafasan, pasien dengan perdarahan yang masif, atau gangguan fungsi organ berat seperti kerusakan hati, gangguan ginjal, kardiomiopati, ensefalitis atau ensefalopati. 10

27

Semua pasien yang masuk dalam kategori C ini harus mendapatkan perawatan di ruangan intensive care serta mendapatkan trasfusi darah. Cairan kristaloid yang digunakan harus bersifat isotonik dan volumenya hanya cukup untuk mengatur sirkulasi yang efektif selama terjadinya kebocoran plasma. Cairan plasma yang hilang harus segera tergantikan dengan pemberian cairan kristaloid isotonik atau dalam kasus yang terjadi syok hipotensi, cairan koloid menjadi pilihan yang lebih baik. Jika memungkinkan selalu melakukan pemeriksaan nilai hematokrit sebelum dan sesudah terapi cairan. Penggantian cairan plasma yang hilang harus dilanjutkan hingga 24-48 jam. Untuk pasien dengan berat badan berlebih dan obesitas maka perhitungan cairan menggunakan ukuran berat badan ideal pasien tersebut. Terapi transfusi darah harus diberikan hanya pada kasus yang diduga atau telah nyata adanya perdarahan yang banyak. 10 Target dari terapi cairan ini adalah adanya perbaikan sirkulasi sentral dan perifer yang ditandai dengan perbaikan tekanan darah, denyut nadi, capillary refill time dibawah 2 detik dan ekstemitas yang teraba hangat. Selain itu penilain juga di ambil dari perbaikan perfusi ke organ akhir, membaiknya keadaan asidosis metabolik serta pengeluaran urin diatas sama dengan 0.5 ml/kg/jam. 10

2.9 Prognosis Prognosis demam dengue dapat beragam, dipengaruhi oleh adanya antibodi yang didapat secara pasif atau infeksi sebelumnya. Pada DBD,

28

kematian telah terjadi pada 40-50% pasien dengan syok, tetapi dengan penanganan intensif yang adekuat kematian dapat ditekan <1% kasus. Keselamatan secara langsung berhubungan dengan penatalaksanaan awal dan intensif. Pada kasus yang jarang, terdapat kerusakan otak yang disebabkan syok berkepanjangan atau perdarahan intrakranial. Kematian disebabkan banyak faktor, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Keterlambatan diagnosis Keterlambatan diagnosis shock Keterlambatan penanganan shock Kelebihan cairan Kebocoran hebat Pendarahan masif Kegagalan organ Ensefalopati Sepsis. 12

29

BAB III KERANGKA KONSEP

3.1 Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti. Pada setiap populasi, tiap individu anggota tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda untuk setiap penyakit tertentu. Berdasarkan tinjauan pustaka, tujuan penelitian dan manfaat penelitian maka kami akan medeskripsikan karakteristik penderita Demam Berdarah Dengue. Terdapat berbagai macam karakteristik pasien DBD diantarannya umur, jenis kelamin, waktu kejadian penyakit, pekerjaan dan lamanya demam. Penentuan variabel ini didasarkan pada ketersediaan data dari rekam medik pasien, dengan tetap mengingat kepentingan keterikatan variabel terdebut dengan kasus DBD. 1) Umur Kasus DBD kebanyakan terjadi pada usia anak-anak dan jarang terjadi pada bayi dan dewasa. Namun data terakhir menunjukkan adanya

30

pergeseran kelompok umur kasus DBD yang cenderung terjadi pada kelompok umur >=15 tahun. 2) Jenis kelamin. Mengenai kasus DBD baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kemungkinan sama menderita penyakit tersebut dan sebagai bahan perbandingan, akan kami teliti tingkat kerentanan DBD berdasarkan jenis kelamin.

3) Waktu kejadian Bulan kejadian DBD sangat tergantung dengan siklus vektornya yaitu nyamuk Aedes. Vektor ini sendiri memiliki siklus yang mengikuti curah hujan serta pergantian musim kemarau ke musim hujan. 4) Suku Suku merupakan faktor resiko untuk suatu penyakit. Sehingga dalam kasus DBD ingin dilakukan penelitian hubungan suku dengan penyakit. 5) Tempat tinggal Tempat tinggal sangat berpengarauh erat dengan kejadian DBD, muali dari sanitasi dan kebijakan pemerintah setempat terhadap penanggulangan penyakit. 6) Jaminan pembiayaan Jaminan pembiayaan akan menggambarkan keadaan ekonomi dari pasien yang berobat dirumah sakit tersebut. 7) Pekerjaan

31

Pekerjaan menjadi salah satu instrumen yang diteliti untuk mengetahui gambaran pekerjaan yang mempengaruhi kerentanan terhadap gigitan nyamuk. 8) Gejala klinis Gejala klinis untuk setiap pasien DBD akan berbeda-beda tergantung kondisi fisik pasien tersebut ketika terserang penyakit. Namun gejala awal yang umumnya muncul dan menjadi keluhan adalah demam.

9) Riwayat demam di rumah Riwayat demam di rumah dapat mempengaruhi prognosis dan perjalanan serta cara penaganan pasien demam berdarah. Semakin lama pasien mengalami demam tanpa adanya usaha penggantian cairan tubuh yang hilang akibat demam tersebut dapat membuat perburukan kondisi pasien hingga ketahap syok. 10) Derajat penyakit Derajat penyakit dibuat berdasarkan tingkat keparahan dan akan mempengaruhi tatalaksana terapi. Derajat ini didasarkan kriteria WHO. Derajat ini terdiri dari empat tingkatan yaitu tingkat I, II, II, dan IV. 11) Keadaan pasien saat keluar rumah sakit Keadaan pasien saat keluar rumah sakit akan menunjukkan kemampuan tenaga medis dalam melakukan tatalaksana penyakit DBD, yang jika dilakukan sesuai dengan standar WHO akan memberikan tingkat kesembuhan atau perbaikan kondisi yang tinggi.

32

12) Kadar hematokrit pada pemeriksaan pertama saat dirumah sakit. Kadar hematokrit yang diperiksa saat pertama kali masuk rumah sakit memiliki peran penting dalam menggambarkan keadaan plasma yang tersisa dalam pembuluh darah, semakin tinggi nilai hematokrit maka akan semakin berkurang kadar plasma dalam darah. 13) Kadar trombosit pada pemeriksaan pertama saat dirumah sakit Jumlah trombosit yang ditemukan pada pemeriksaan trombosit saat pertama kali masuk rumah sakit dapat menggambarkan kemungkinan resiko perdarahan yang terjadi di dalam tubuh pasien, semakin sedikit jumlah trombosit maka semakin besar resiko perdarahan pada pasien tersebut.

Oleh karena keterbatasan waktu dan tempat penelitian, maka penelitian ini dikhususkan bagi pasien DBD yang dirawat di Rumah sakit Umum Haji Makassar terhitung tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember tahun 2010.

33

3.2 Kerangka Konsep

Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Suku Tempat tinggal Jaminan pembayaran

Bulan Kejadian Riwayat demam di Rumah Cara masuk Gejala klinis Derajat Penyakit Kadar hematokrit Jumlah trombosit Keadaan Pasien saat keluar rumah sakit

Demam Berdarah Dengue (DBD

Serotipe Virus Lingkungan Tempat Tinggal

Variabel dependent Variabel independent (yang diteliti) Variabel independent (yang tidak diteliti)

34

3.3 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 3.3.1 Variabel Dependen 3.3.1.1 Pasien dengan Riwayat Demam Berdarah Definisi: Pasien yang dinyatakan menderita penyakit Demam Berdarah Dengue dalam rekam medik.

3.3.2 Variabel Independen 3.3.2.1 Umur a. Definisi: Lamanya hidup seseorang dari lahir hingga saat ini sesuai dengan yang tercatat dalam rekam medik di rumah sakit Umum Haji. b. Kriteria Objektif : 1. 0-28 hari 2. 1 bulan-11 bulan 3. 1 tahun-4 tahun 4. 5 tahun-14 tahun 5. 15 tahun-24 tahun 6. 25 tahun- 44 tahun 7. 45 tahun-64 tahun 8. >65 tahun 3.3.2.2 Jenis Kelamin a. Definisi : Perbedaan seksual secara fisik dan biologis yang

terdiri dari laki-laki dan perempuan.

35

b.

Kriteria Objektif :

1. Laki-laki 2. Perempuan 3.3.2.3 Waktu Kejadian a. Definisi : waktu saat pasien masuk rumah sakit dan

terdiagnosis DBD sesuai dengan yang tercatat dalam rekam medik di Rumah Sakit Umum Haji Makassar b. Kriteria Objektif :

Sesuai dengan bulan yang terdapat dalam kalender. 3.3.2.4 Suku a. Definisi : kebangsaan atau kelompok yang memiliki

karakteristik sosiobudaya yang sama dan khas dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. b. i. ii. iii. iv. v. 3.3.2.5 Tempat Tinggal a. Definisi : Tempat pasien menetap. Kriteria Objektif : Makassar Bugis Toraja Maluku Jawa

36

b. Kriteria Objektif 1. Dalam Kota Makassar 2. Luar Kota Makassar 3.3.2.6 Jaminan Pembiayaan a. Definisi : Sesuai dengan program pembiayaan pelayanan kesehatan yang digunakan pasien untuk berobat di rumah sakit, yang tertera dalam rekam medik. b. Kriteria Objektif : 1. UMUM 2. ASKES 3. JAMKESMAS 4. JAMKESDA 5. ASKES GAKIN 6. NA 3.3.2.7 Pekerjaan a. Definisi : Pekerjaan ialah sesuatu yang dilakukan untuk

mendapat nafkah. b. Kriteria Objektif : 1.PNS 2. 3. 4. Wiraswasta Pekerja Berat (buruh, petani, nelayan) Tidak Bekerja (Non produktif/pengangguran)

37

3.3.2.8

Gejala Klinis a. Definisi : Gejala yang timbul akibat penyakit dan atau komplikasinya, sesuai yang tercatat dalam rekam medik. b. Kriteria Objektif : i.Demam ii.Menggigil iii.Sakit kepala iv.Nyeri ulu hati v. Gejala gastrointestinal vi. vii. viii. ix. Batuk Nyeri otot Diare Berkeringat dingin

3.3.2.9 Riwayat Demam a. Definisi : Lamanya perlangsungan kondisi suhu tubuh pasien yang melebihi nilai normal (36,5o-37,2oC) yang dinilai dengan pengukur suhu atau perabaan tangan sebelum pasien tersebut dirawat di rumah sakit. Variabel ini dinilai dalam satuan hari. b. Kriteria Objektif : 1. <3 hari 2. 3-5 hari 3. >5 hari 3.3.2.10 Cara Masuk a. Definisi : alasan nsehingga

pasien mengunjungi rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, sesuai dengan data dalam rekam medik

38

b. 1. 2. 3. 4. 3.3.2.11 Derajat Penyakit

Kriteria Objektif : Datang Sendiri Rujukan dari luar kota Rujukan dari dalam kota Rujukan dari dokter praktek

a. Definisi : suatu pengelompokan dan klasifikasi keadaan pasien DBD berdasarkan Keadaan klinis dan hasil laboratorium yang dikeluarkan oleh WHO tahun 1997. b. Kriteria Objektif : 1. Derajat I Demam disertai gejala tidak khas dan satu satunya manifestasi ialah uji tourniquet positif. 2. Derajat II Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain. 3. Derajat III Didapatkan kegagalan sirekulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan mulut, kulit dingin atau lembab dan penderita tampak gelisah. 4. Derajat IV Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur. 3.3.2.12 Keadaan Keluar a. Definisi : kondisi pasien setelah mendapatkan perawatan meninggalkan rumah sakit. serta

39

b.

Kriteria Objektif : Sembuh Membaik Pulang paksa Meninggal 3.3.2.13 Kadar Hematokrit a. Definisi : nilai yang menggambarkan proporsi volume

sampel darah dengan sel darah merah (sel darah merah yang padat) diukur dalam persen yang diperiksa pertama kali saat masuk rumah sakit. b. 3.3.2.14 Kadar Trombosit a. Definisi : salah satu komponen darah yang berperan dalam sistem pembekuan darah diukur dalam mikroliter yang diperiksa pertama kali saat masuk rumah sakit. b. Kriteria Objektif : < 150000 150000-400000 >400000 Kriteria Objektif : Kurang dari nilai normal Normal Lebih dari nilai normal

40

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain penelitian deskriptif, yang mana pengukuran variabel dilakukan pada saat tertentu yang sama untuk mengetahui karakteristik penderita demam berdarah dengue yang dirawat di rumah sakit umum Haji, dengan menggunakan rekam medik sebagai data penelitian.

4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian 4.2.1 Waktu penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada 12 September 2011 hingga tanggal 25 September 2011 4.2.2 Lokasi penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di Rumah sakit Umum Haji Makassar

4.3 Populasi dan Sample Penelitaian 4.3.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita demam berdarah dengue yang dirawat di RSU Haji

41

4.3.2 Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah penderita demam berdarah dengue yang dirawat di RSU Haji terhitung sejak tanggal 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2010. 4.3.3 Cara Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sample adalah dengan menggunakan metode total sampling yaitu semua populasi dijadikan sebagai sample. 4.3.4 Kriteria Seleksi a. Kriteria Inklusi Memiliki rekam medik

4.4 Jenis Data dan Instrument Penelitian. 4.4.1 Jenis data Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui rekam medik subjek penelitian. 4.4.2 Instrumen penelitian Alat pengumpul data dan instrumen penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu tabel-tabel tertentu untuk merekam atau mencatat data yang dibutuhkan dari rekam medik.

42

4.5 Manajemen Penelitian 4.5.1 Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan setelah mengurus perizinan dari pihak pemerintah dan RSU Haji. Kemudian nomor rekam medik penderita demam berdarah dengue dalam periode yang telah ditentukan dikumpulkan dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Haji. Setelah itu, dilakukan pengamatan dan pencatatan langsung ke dalam kuisioner yang telah disediakan. 4.5.2 Teknik pengelolaan data Data yang dikumpulkan diolah secara manual dengan menggunakan program computer SPSS 16.0 dan Microsoft Excel untuk memperoleh hasil statistik deskriptif yang diharapkan. 4.5.3 Penyajian data Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram dengan penjelasan untuk menggambarkan karakteristik penderita demam berdarah dengue yang dirawat di Rumah sakit Umum Haji periode 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2010.

4.6 Etika Penelitian Hal-hal yang terkait etika dengan penelitian dalam penelitian ini adalah: 1. Menyertakan surat pengantar yang dirujukan kepada pihak pemerintah setempat sebagai permohonan izin untuk melakukan penelitian.

43

2. Berusaha menjaga kerahasiaan identitas pasien yang terdapat pada rekam medik, sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas penelitian yang dilakukan. 3. Diharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat kepada semua pihak yang terkait sesuai dengan manfaat penelitian yang telah disebutkan sebelumnya.

44

BAB V GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 5.1 Sejarah RSU. Haji merupakan bekas lokasi RS Kusta Jongaya, latar belakang pendiriannya untuk mendukung kelancaran kegiatan pelayanan calon jemaah haji wilayah Makassar, masyarakat disekitarnya termasuk seluruh lapisan masyarakat. Latar belakang sebagai rumah sakit korban Syuhada Mina di Mekkah Arab Saudi, diresmikan tanggal 16 Juli 1992. Tanggal 13 Desember 1993 DEPKES menetapkan RSU Haji sebagai RSU milik PEMDA Provinsi Sul-Sel dengan Tipe C (Kep. No. 762/XII/l993). Pada tahun 2011 RSU Haji mendapatkan kunjungan akreditasi dan mendapat peningkatan dari Tipe C menjadi Rumah Sakit tipe B dengan 12 pelayanan. Direktur RSU Haji Makassar saat ini yaitu drg. Nurhasanah Palinrungi, M.Kes.

TRANSFORMASI I : RSU KUSTA TRANSFORMASI II : RSU HAJI tahun 1992 TRANSFORMASI III: RSU (rencana menjadi pusat rujukan infeksi)

5.2 Visi Visi RSU Haji makassar ialah Menjadi Rumah Sakit Terpercaya, Terbaik dan Pilihan Utama di Sulawesi Selatan

45

5.3 Misi

Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Paripurna dan Professional Meningkatkan cakupan pelayanan untuk meningkatkan pendapatan Rumah Sakit

Meningkatkan kualitas pelayanan melalui pengembangan Sumber Daya Manusia

Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana rumah sakit Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan staf sebagai aset yang berharga bagi rumah sakit.

5.4 Tujuan Membantu Pemerintah Daerah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan peningkatan PAD, melalui peningkatan SDM, efisiensi dan kualitas pelayanan. 5.5 Falsafah Sebagai Rumah Sakit penyelenggara pelayanan kesehatan paripurna yang
Professional berlandaskan perikemanusiaan, adil dan merata serta dijiwai

oleh Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa MOTTO: "CEPAT"

Cepat Etika Profesional Akurat

46

5.6 Fasilitas Pelayanan Kesehatan 5.6.1 Instalasi di RSU. Haji Makassar : a. Rawat Jalan b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Rawat Inap IRD Bedah Sentral Radiologi Perawatan Intensif Farmasi Gizi Laboratorium Rehabilitasi Medis Pemeliharaan sarana RS Kedokteran Forensik Luas areal tanah RSU. HAJI Makassar seluruhnya adalah 6.297 m2, yang meliputi:

Gedung Poliklinik (351 m2) Gedung Perawatan (312 m2) Gedung darurat/ kebidanan (500 m2) Gedung Perawatan I (406 m2) Gedung Perawatan II (406 m2) Gedung Perawatan III (VIP + Anak) (538,08 m2) Gedung Laboratorium (200 m2)

47

Gedung OK/ Operasi (450 m2) Gedung Gizi/ Laundry (364 m2) Gedung Radiology (340 m2) Kamar Jenazah (63 m2) Taman (2000 m2) Parkir (7000 m2) Farmasi ( 88,2m2)

5.6.2 Kegiatan Pelayanan Medis Instalasi Rawat Jalan Terdiri dari sebelas poliklinik yang melayani setiap hari kerja.
1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11)

Poliklinik Penyakit Dalam (Interna) Poliklinik Bedah Poliklinik Syaraf Poliklinik Mata Poliklinik THT Poliklinik Gigi dan Mulut Poliklinik Anak Poliklinik Kulit dan Kelamin Poliklinik Kebidanan/ Kandungan Poliklinik Penyakit Jiwa Poliklinik Paru

48

Instalasi Gawat Darurat Melayani penderita yang tergolong gawat darurat selama 24 jam, namun tidak tertutup kemungkinan merawat penderita yang bukan gawat darurat. Instalasi Rawat Inap 1. 39 ruangan perawatan umum 2. 3 ruangan perawatan khusus (ruang bedah sentral, isolasi, kamar bersalin) 3. Jumlah tempat tidur yang tersedia 122 TT Instalasi Bedah Sentral Dari empat ruangan operasi yang ada, yang digunakan hanya dua buah ruangan saja, karena ruangan itu saja yang fasilitasnya memadai. Pelayanan 24 jam selama 7 hari Kegiatannya meliputi : Pembedahan kecil, sedang, dan berat Ruang di Bedah Sentral meliputi ruang tunggu, ruang dokter, r. Gips/ suster, ruang pemulihan, ruang Operasi (2), Spoolhox (2), r. ganti, persiapan, gudang, sentralisasi, dan KM/WC 5.6.3 Kegiatan Penunjang Medis Instalasi radiologi Pelayanannya meliputi : Rontgen foto dengan atau tanpa kontras dan USG Instalasi Laboratorium Patologi klinik Memberikan pelayanan selama 24 jam. Jenis pelayanan yang dapat diberikan:

49

1) 2) 3) 4)

Darah yaitu Hematologi, Kimia klinik, Imunoserologi Cairan tubuh yaitu Air kemih, Tinja, Cairan otak Pemeriksaan biologi Pemeriksaan dahak

Instalasi Farmasi Instalasi Farmasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan :


>

Peracikan, penyimpanan dan penyaluran obat-obatan, gas medis serta bahan kimia.

>

Penyimpanan dan penyaluran alat kedokteran, alat perawatan dan alatalat kesehatan yang dilakukan oleh tenaga/pegawai dalam jabatan fungsional.

>

Pelayanan farmasi oleh instalasi farmasi diberikan selama 24 jam setiap hari.

Unit Rehabilitasi Medis Terdiri dari Fisioterapi, terapi wicara, latihan fisik dan aktino terapi. Instalasi Gizi Instalasi gizi melayani proses penyediaan makanan mulai dari bahan mentah hingga siap dikonsumsi baik oleh pasien maupun karyawan rumah sakit. Kegiatan diinstalasi gizi terdiri dari : ~ Kegiatan pengadaan makanan ~ Kegiatan penyuluhan dan konsultasi gizi - Kegiatan pelayanan gizi diruang perawatan / rawat jalan

50

Instalasi pemeliharaan rumah sakit Instalasi pemeliharaan rumah sakit mempunyai tugas : ~ Pemeliharaan dan perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit. ~ Penyediaan air bersih ~ Sanitasi Lingkungan rumah sakit

51

BAB VI HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di RSU Haji Makassar dari tanggal 5 September 2011- 16 September 2011, mengenai karakteristik penyakit Demam Berdarah Dengue di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010. Adapun hasil yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Tabel 6.1 Distribusi pasien DBD berdasarkan umur, jenis kelamin, tempat tinggal yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 Variabel 1. Umur 1-11 bulan 1 - 4 tahun 5 -14 tahun 15 -24 tahun 25 -44 tahun 45 -64 tahun >64 tahun 2. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 3. Tempat tinggal Dalam Makassar Luar Makassar n (197) 2 29 95 37 28 4 2 99 98 160 37 (%) 1,02 14,72 48,22 18,78 14,21 2,03 1,02 50,25 49,75 81,22 18,78

Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik RSU Haji Makassar)

52

Grafik 6.1 Distribusi pasien DBD berdasarkan umur yang tercatat dalam rekam medik RSU Haji Makassar periode 1 Januari-31 Desember 2010
> tahun 64 45-64tahun 25-44tahun 15-24tahun 5-14tahun 1 - 4 tahun 1-11bulan 0 20 40 60 80 100 jum lah

Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik RSU Haji Makassar) Pada pasien yang dirawat di RSU Haji Makassar berumur mulai dari 0,4 tahun sampai dengan 74 tahun dengan rata-rata pasien berumur 14 tahun. Jika dikelompokkan maka kelompok tertinggi adalah usia 5-14 tahun dengan 95 kasus (48,22%) dan kelompok terendah pada rentang usia lebih dari 64 tahun dengan 2 kasus (1,02%). Untuk kategori jenis kelamin dari 197 pasien, 99 pasien (50,25%) adalah perempuan dan laki-laki 98 pasien (49,75%). Untuk kategori tempat tinggal, pasien terbanyak berasal dari kota Makassar sendiri yang berjumlah 160 pasien (81,22%) dari total pasien DBD tersebut.

53

Tabel 6.2 Distribusi pasien DBD berdasarkan bulan masuk yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik) Grafik 6.2 Distribusi pasien DBD berdasarkan bulan masuk yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 n(197) 9 34 35 26 20 17 14 16 10 6 9 1 Persen(%) 4,57 17,26 17,77 13,2 10,15 8,63 7,11 8,12 5,08 3,05 4,57 0,51

Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik)

54

Dari Tabel 6.2 diperoleh data distribusi penyakit DBD terbanyak pada bulan Maret sebanyak 35 kasus (17.8%) dan distribusi terendah pada bulan Desember dengan angka kejadian 1 kasus (0.5%). Tabel 6.3 Distribusi pasien DBD berdasarkan jaminan pembayaran dan cara masuk rumah sakit saat masuk di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 Variabel 1.. Cara masuk rumah sakit Datang sendiri (IRJ dan IRD) Rujukan luar kota Rujukan dalam kota Rujukan dr praktek 2. Jaminan pembayaran ASKES JAMKESDA JAMKESMAS JAMSOSTEK UMUM n(197) 137 21 29 10 26 100 28 11 32 Persen (%) 69,55 10,66 14,72 5,08 13,2 50,76 14,21 5,58 16,24

Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik) Berdasarkan tabel 6.2 tampak bahwa sebagian besar pasien DBD datang sendiri yaitu 137 pasien (69,55%) dan pasien yang datang melalui rujukan dokter praktek 10 pasien (5,08%). Jaminan pembayaran pasien di RSU Haji terbanyak

55

menggunakan JAMKESDA yaitu 100 pasien (50,76%) dan jaminan pembayaran yang paling sedikit digunakan ialah JAMSOSTEK yaitu 11 pasien (5,58%).

Tabel 6.4 Distribusi pasien DBD berdasarkan gejala klinis yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 Variabel Gejala klinis Demam Menggigil Sakit kepala Gejala gastrointestinal Frekuensi 197 5 92 182 Persen (%) 100 2,54 46,7 92,8 15,74 3,55 5,58

31 Batuk 7 Nyeri otot 11 Pendarahan spontan Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik)

Tabel 6.4 menunjukkan distribusi gejala klinis, dimana gejala klinis demam merupakan gejala dominan dengan 197 kasus (100%) diikuti gejala

gastrointestinal sebanyak 182 kasus (92,8%) Tabel 6.5 Distribusi pasien DBD berdasarkan riwayat demam yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 Variabel Riwayat demam <3 hari 3-5 hari > 5 hari NA Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik) n(197) 31 137 22 7 Persen (%) 15,74 69,54 11,17 3,55

56

Berdasarkan tabel 6.5 kelompok pasien yang mengalami demam 3 sampai 5 hari sebelum masuk rumah sakit merupakan kelompok dengan jumlah terbanyak yaitu 137 pasien atau 69,54%.

Tabel 6.6 Distribusi pasien DBD berdasarkan derajat penyakit yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 Variabel Derajat penyakit Derajat I DBD Derajat II DBD Derajat III DBD Derajat IV DBD Tidak ada data n (197) 77 45 4 1 70 Persen (%) 39,09 22,84 2,03 0,51 35,53

Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik) Berdasarkan derajat penyakit DBD yang dialami oleh pasien, tampak kasus terbanyak adalah DBD derajat I dengan jumlah 77 pasien (39,09 %). Namun data ini dapat menjadi bias diakibatkan ada 70 pasien (35,53%) yang tidak memiliki derajat demam pada rekam medik. Tabel 6.7 Distribusi pasien DBD berdasarkan keadaan keluar yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010

57

Variabel n(197) Keadaan keluar 153 Sembuh 34 Membaik 10 Pulang paksa Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik)

Persen (%) 77,66 17,26 5,08

Dari tabel 6.7 diperoleh data dari 197 pasien yang dirawat dengan diagnosis DBD, 153 pasien (77,66%) keluar rumah sakit dalam keadaan sembuh dan 10 pasien (5,08%) yang pulang paksa.

Tabel 6.8 Distribusi Pasien DBD berdasarkan pemeriksaan hematokrit dan trombosit yang tercatat di RSU Haji Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2010 Variabel n(197) Hematokrit < rendah 63 normal 119 >normal 5 Tidak terlampir 10 Trombosit <150000 160 150000-400000 30 >400000 0 Tidak terlampir 7 Sumber: Data Sekunder (Rekam Medik) Persen (%) 31,98 60,41 2,54 5,08 81,22 15,23 0 3,55

Berdasarkan kadar hematokrit saat pemeriksaan di rumah sakit, kelompok dengan kadar hematokrit dalam batas normal (37%-47%) merupakan kelompok dengan jumlah terbanyak yaitu 119 pasien atau 60,41%. Sedangkan berdasarkan jumlah trombosit yang juga diperiksa di rumah sakit, tampak bahwa jumlah pasien

58

dengan kategori di bawah nilai normal (<150.000ul) merupakan yang terbanyak yaitu 160 pasien atau 81,22 %.

BAB VII PEMBAHASAN

7.1 Karakteristik pasien DBD berdasarkan umur, jenis kelamin, tempat tinggal Dari tabel 6.1 dapat disimpulkan bahwa kelompok umur terbanyak 5 sampai 14 tahun (48,22%). Penelitian lain yang dilakukan di Palu Selatan tahun 2008 juga memperlihatkan umur terbanyak penderita DBD pada umur kurang dari 15 tahun (46,6%).13 Penelitian di negara Brasil pada tahun 2008 memperoleh hasil yang sama bahwa pasien DBD terbanyak pada umur kurang dari 15 tahun (65,4%).14 Hal ini disebabkan pada pasien dengan usia anak-anak dan remaja lebih sering melakukan aktifitas di luar rumah seperti

59

berkumpul dengan teman-teman atau bermain di saat sore hari yang sesuai dengan waktu menghisap darah nyamuk Aedes aegypty. Sedangkan penelitian di Makassar tahun 2011 di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo memperlihatkan kelompok umur terbanyak pada usia 15 sampai 24 tahun (45,3%) (Aqilah, tidak diterbitkan). Di Taiwan dalam kurun waktu 2002-2007 diperoleh data pasien terbanyak pada umur 50 sampai 54 tahun.15 Penelitian di Singapore tahun 2009, pasien terbanyak pada umur 35 sampai 44 tahun (25,2%)16. Penelitian di Penambuco selama 11 tahun diperoleh pasien terbanyak pada umur 20 sampai 49 tahun (55%) .17 Untuk jenis kelamin, pada penelitian ini ditemukan bahwa jumlah pasien laki-laki hampir sebanding dengan jumlah perempuan dimana pasien laki-laki 99 orang (50,25%). Penelitian di Palu Selatan tahun 2008 diperoleh data lakilaki lebih banyak (52,48%).13 Hasil yang sama diperoleh pada penelitian di Seluruh Indonesia pada tahun 2009 dimana pasien DBD berjenis kelamin laki-laki sebanyak 53,78%.9 Penelitian di Pakistan dalam kurun waktu 2002 sampai 2007 juga menyatakan bahwa penderita DBD laki-laki lebih banyak (63,2%).18 Penelitian di Taiwan tahun 2007 menunjukkan penderita laki-laki 944 kasus (51,8%).15 Namun penelitian di Singapura tahun 2009 menunjukkan hal yang sebaliknya. Angka pasien perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki yaitu 2.094 pasien (50,4%).16 Prevalensi laki-laki yang lebih tinggi ini mungkin disebabkan oleh karena aktifitas laki-laki yang lebih sering dilakukan di luar rumah dibandingkan dengan perempuan yang lebih banyak

60

memiliki aktifitas di dalam rumah. Hal ini juga dikaitkan dengan umur pasien terbanyak pada usia remaja yang lebih sering beraktifitas di luar. Distribusi pasien berdasarkan suku tidak dapat diinterpretasikan disebabkan tidak tercantumnya data suku di seluruh rekam medik pasien DBD tahun 2010 di RSU Haji. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2011 menunjukkan bahwa suku terbanyak adalah Makassar yang diikuti dengan Toraja dan suku lain di luar Sulawesi. Namun, data ini juga tidak dapat digunakan menjadi acuan oleh karena 70% dari data penelitian tersebut tidak tercantum suku dalam rekam medik. (Aqilah, tidak diterbitkan) Berdasarkan distribusi tempat tinggal pasien DBD RSU Haji tahun 2010, mayoritas pasien berdomisili di dalam kota Makassar yaitu 160 pasien (81,22%), yang tersebar di berbagai kecamatan seperti kecamatan Makassar, Mamajang, Mangala, Mariso, Panakkukang, Rappocini, Tallo, dan yang terbanyak berada di kecamatan Tamalate. Hal ini mungkin disebabkan letak RSU Haji yang berada dalam wilayah Makassar dan terletak di daerah padat penduduk. Hal ini juga didukung oleh fungsi RSU Haji sebagai salah satu rumah sakit rujukan puskesmas di Makassar. Sedangkan yang berada di luar kota Makassar hanya 37 pasien (18,78%) yang berasal dari daerah Bone, Enrekang, Jeneponto, Takalar, Pinrang, Bulukumba, dan yang terbanyak dari Gowa.

7.2 Karakteristik pasien DBD berdasarkan bulan kejadiannya

61

Berdasarkan tabel 6.2 menunjukkan bahwa bulan kejadian DBD terbanyak dimulai pada bulan Februari dan mencapai puncak pada bulan Maret sebanyak 35 pasien (17,77%) yang berangsur-angsur menurun sampai akhir tahun. Penelitian serupa di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo tahun 2011 diperoleh hasil kejadian terbanyak pada bulan Maret (19,2%) (Aqila, tidak diterbitkan). Data tersebut sama halnya dengan data penelitian di Kalimantan Timur tahun 2009 yang juga menunjukkan peningkatan angka kejadian DBD di bulan Maret.9 Hal ini diduga berkaitan dengan awal musim penghujan pada daerah Sulawesi yang dimulai pada awal Desember dengan puncak pada bulan Januari sampai Februari.20

7.3 Karakteristik pasien DBD berdasarkan cara masuk rumah sakit dan jaminan pembayaran Dari tabel 6.3 terlihat bahwa 137 pasien (69,55%) masuk ke RSU haji dengan cara datang sendiri. Hal ini mungkin disebabkan karena kebanyakan pasien yang masuk ialah yang berdomisili dekat dengan rumah sakit sehingga menjadikan RSU Haji sebagai pilihan pertama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Tabel 6.3 menunjukkan kategori terbanyak untuk jaminan pembayaran adalah menggunakan JAMKESDA (50,76%). Hal ini diduga disebabkan karena RSU Haji Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah kota Sulawesi Selatan yang mencanangkan program kesehatan

62

gratis bagi seluruh masyarakat. Namun, tidak berarti RSU Haji tidak menerima pasien dengan jaminan lain, hal ini terlihat dengan adanya cara pembayaran kategori umum sebanyak 16,24%.

7.4 Karakteristik Pasien DBD menurut

riwayat demam, gejala klinis,

derajat demam, keadaan pasien saat keluar rumah sakit Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa sebagian besar pasien telah mengalami demam selama 3-5 hari di rumah sebelum mengunjungi rumah sakit (69,54%). Penelitian yang dilakukan di Bandung tahun 2003 menunjukkan 42% pasien mengalami demam selama kurang dari 4 hari sebelum masuk rumah sakit.21 Pada penelitian di Rumah Sakit Tertiary Makkah, Saudi Arabia tahun 2009 menunjukkan bahwa rata-rata pasien DBD mereka telah mengalami demam berkisar 4,832,48 hari.22 Penelitian lain di Taiwan tahun 2005 menunjukkan bahwa pasien mengalami demam selama 1 sampai 7 hari dengan rata-rata 4 hari sebelum masuk rumah sakit.23 Riwayat demam yang dialami pasien tidak dapat menjadi acuan karena riwayat demam sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengetahuan masyarakat, pengetahuan orangtua, kesadaran masyarakat menuju tempat pelayanan kesehatan, dan jarak tempat tinggal ke rumah sakit. Berdasarkan gejala klinis, gejala yang dominan adalah demam dimana gejala ini dialami oleh seluruh pasien DBD di RSU Haji Makassar, diikuti gejala gastrointestinal (92,8%), dan sakit kepala (46,7%). Hasil penelitian di Jakarta tahun 2004 menyatakan bahwa gejala demam dikeluhkan seluruh

63

pasien diikuti gejala mual dan muntah (90%).24 Penelitian di Taiwan pada tahun 2002 menunjukkan hal yang sama, dimana demam dikeluhkan oleh 96,1% pasien lalu diikuti sakit kepala sebanyak 55,1%.25 Demikian juga penelitian lain yang dilakukan di Havana, Kuba tahun 2001 dimana demam merupakan gejala yang dialami semua pasien dan 89 % diantaranya jugs mengalami sakit kepala.26 Gejala tersebut sesuai dengan gejala umum pada penyakit infeksi virus seperti demam, sakit kepala, mual-muntah dan nyeri sendi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa demam, gejala gastrointestinal dan sakit kepala menjadi gejala yang dominan pada pasien DBD di RSU Haji Makassar. Walaupun dalam beberapa penelitian lain seperti yang dilakukan di Pakistan dari tahun 2003 sampai 2007 melaporkan gejala mual sebagai gejala dominan (59,3%) diikuti gejala gatal sebanyak 36,4%.18 Derajat terbanyak pada penelitian ini ialah DBD grade I (39,09%), namun data ini dapat menjadi bias disebabkan ada 70 kasus (35,53%) yang tidak dilengkapi keterangan derajat DBD pada rekam medik. Pada penelitian serupa yang dilakukan di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo, diperoleh data bahwa DBD grade I (63,3%) merupakan grade yang terbanyak. (Aqila, tidak diterbitkan). Sementara itu data yang diperoleh dari penelitian di Polinesia, Perancis tahun 2001 menyatakan grade III dan IV adalah grade yang terbanyak (20%).27 Adanya perbedaan data ini dapat disebabkan perbedaan

64

kelompok umur yang terinfeksi virus dengue dimana di Polinesia, Perancis didominasi bayi sedangkan di Indonesia dialami oleh anak-anak dan remaja. Dalam rekam medik pasien di RSU Haji Makassar, tidak terdapat data mengenai pekerjaan pasien, sehingga tidak dapat dilakukan interpretasi hasil untuk kategori pekerjaan ini. Tetapi dari penelitian lain yang dilakukan di Singapore tahun 2005, pegawai swasta menempati 69,4% dari total pasien DBD.16 Berdasarkan keadaan pasien saat keluar dari rumah sakit diperoleh sebanyak 77,66% pasien keluar dari rumah sakit dalam keadaan sembuh, 17,26% pasien dalam keadaan membaik dan tidak didapatkan adanya pasien yang meninggal. Kondisi ini membuktikan pelayanan kesehatan di RSU Haji Makassar untuk pasien DBD sangat memuaskan. Terdapat 10 orang pasien yang pulang paksa tiga diantaranya menggunakan JAMKESDA, tiga menggunakan JAMKESMAS, dua

menggunakan ASKES, dan dua umum. Alasan pasien untuk mengambil tindakan pulang paksa tidak diketahui secara pasti namun beberapa pasien melakukan tindakan ini dengan alasan ingin pindah ke rumah sakit lain.

7.5 Pasien DBD menurut pemeriksaan hematokrit dan trombosit pada pemeriksaan pertama saat di rumah sakit Tabel 6.8 menunjukkan pasien DBD yang hematokritnya dalam batas normal (37%-47%) mencapai 60,41%. Penelitian di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo tahun 2011 menunjukkan bahwa kadar hematokrit terbanyak

65

yaitu dalam batas normal (54,2%) (Aqilah, tidak diterbitkan). Penelitian dengan metode cross sectional di Jakarta tahun 2004 mendapatkan kadar hematokrit 40,834,84%.24 Penelitian lain di Malaysia pada tahun 2010

menunjukkan nilai maksimum hematokrit yang tercatat adalah 43%.28 Tidak terjadinya peningkatan hematokrit semata-mata disebabkan peningkatan hematokrit dibandingkan dengan laboratorium sebelumnya biasanya terjadi mulai hari ke 3.1 Pada penelitian ini diperoleh data bahwa 81,22% pasien memiliki nilai trombosit di bawah 150.000ul (trombositopenia). Hasil penelitian di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo tahun 2011 diperoleh hasil pasien terbanyak ialah dengan nilai hematokrit di bawah normal (81,1%). (Aqilah, tidak dipublikasikan) . Penelitian di Jakarta dengan metode cross sectional tahun 2004 mendapatkan hasil hematokrit seluruh pasien di bawah nilai normal (62,2433,43ul).24 Penelitian lain yang dilakukan di Pakistan tahun 2002 sampai 2007 diperoleh data bahwa 79,4% pasien mengalami

trombositopenia.18 Hal ini disebabkan oleh sifat virus dengue yang menyebabkan supresi sumsum tulang, terjadinya pemendekan masa hidup trombosit, dan reaksi imun yang menyebabkan terjadinya destruksi trombosit.1 Keadaan ini tentunya sangat berbahaya mengingat rendahnya trombosit dapat mengakibatkan kemungkinan pendarahan semakin besar.

66

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 197 pasien DBD periode 1 Januari 31 Desember 2010, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan umur, kategori umur 5-14 tahun mendominasi penderita DBD di RSU Haji Makassar pada tahun 2010. 2. Jumlah pasien DBD laki-laki dibanding pasien DBD perempuan hampir sama.

67

3. Berdasarkan waktu kejadian, penyakit DBD terbanyak didapatkan pada bulan Maret. 4. Angka kejadian berdasarkan tempat tinggal menunjukkan insiden tertinggi terjadi di kota Makassar. 5. Pasien yang datang ke RSU Haji Makassar mayoritas menggunakan pembayaran JAMKESDA. 6. Pasien yang datang terbanyak memiliki keluhan Demam, dengan riwayat demam selama 3-5 hari dan derajat dengue grade I. 7. Sebagian besar pasien yang keluar rumah sakit dinyatakan dalam keadaan sembuh. 8. Berdasarkan hasil laboratorium, mayoritas penderita DBD memiliki nilai hematokrit normal dan trombosit dibawah normal. 8.2 Saran Berdasarkan apa yang penulis lihat dan rasakan di lapangan ketika melakukan penelitian, maka saran yang dapat penulis berikan antara lain:
1. Menyarankan kepada Dinas Kesehatan agar melakukan usaha

preventif untuk mengantisipasi terjadinya DBD terutama pada musim hujan yang dapat dilakukan dengan kampanye maupun perbaikan infrastruktur.
2. Mengingat tingginya insiden DBD pada usia anak-anak dan remaja,

diperlukan upaya kampanye maupun pengenalan mengenai gejala,

68

vektor, dan cara penanganan DBD pada tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah.
3. Mengingat banyaknya rekam medik yang tidak ditemukan, maka

sebaiknya kesadaran tentang pentingnya kelengkapan dan ketelitian dalam menyimpan catatan medik yang ada di bagian Rekam Medik RSU Haji Makassar ditingkatkan.
4. Perlu kiranya dokter-dokter di RSU Haji Makassar menganamnesis

secara lebih rinci lagi mengenai suku, pekerjaan, dan riwayat penyakit sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA 1. Suhendro, Leonar Nainggolan, Khie Chen, Herdiman T. Pohan. Demam Berdarah Dengue. In: Sudoyo, Aru, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata, Sitti Setiati., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III ed IV. Jakarta: Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007; 1709 2. Siregar, Faziah A. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Available at: www.scribd.com/doc/57457867/demamberdarah . Accesed Agustus 2011.

69

3. CDC.

Epidemiology

Dengue.

Available Accessed

at: Agustus

http://www.cdc.gov/Dengue/epidemiology/index.html. 2011. 4. Waspada Demam Berdarah.

Available

at:

http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/01/15/waspada-demam-berdarah/ Accessed Agustus 2011. 5. Fathi, Soedjajadi K, Chatarina U.W. Peran faktor Lingkungan dan Perilaku Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Mataram. J Kesehatan Lingkungan Vol 2 No.1, Juli 2005; 2 6. Kementrian Kesehatan Indonesia. Demam Berdarah Dengue. In: Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta:Departemen Kesehatan. 2010; 47-9 7. Hairani, Lila Kesuma. 2009, Gambaran Epidemiologi Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Insidennya. Skripsi Sarjana. Universitas Indonesia. Jakarta. 8. Agoes, Ridad. Nyamuk sebagai Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue .In Natadisastra, Djaenudin. Ed Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC, 2009; 315-7 9. Sutjana, Primal. Demam Berdarah Dengue di Indonesia Tahun 1968-2009. Buletin Jendela Epidemiologi ed Agustus Volume II. 2010; 1, 21-4 10. World Health Organization. Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New edition. Geneva. 2009. 11. Aryati. The Role Of Dengue NS-1 Antigen As Diagnostic Tool. Available at http://itd.unair.ac.id/index.php?

70

option=com_content&task=view&id=686&Itemid=136. 2011 .

accessed

Agustus

12. Siregar, Nikodemus. 2011. Hubungan Hasil Pemeriksaan Jumblah Trombosit Dengan Lama Rawat Inap Pada Pasien Demam Berdarah Dengue Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUPHAM) Medan . Skripsi Sarjana. Universitas Sumatra Utara. Medan. 13. Oslan, Daut. 2008. Studi Epidemiologik Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue Dengan Pendekatan Spasial Sistem Informasi Geografis Di Kecamatan Palu Selatan Kota Palu. Tesis Sarjana. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. 14. Teixeira, Maria Gloria, Costa MCM, Coelho Giovanini, Bareto Maurico L. Recent Shift in Age Pattern of Dengue Hemorrhagic Fever Brazil In Emerging Infection Disease Vol 14 No10. Available at: www.cdc.gov/eid accessed 23 September 2011 15. Lin, Chien Chou, Huang,Hsiung YH, Shu Yun Pei, Ho Sheng Wu, Yee Shin Lin, et al. Characteristic of Dengue Disease in Taiwan: 20022007. Am. J. Trop Med 2010; 82: 731-9. 16. Yew, Yik Ling, Tun Ye, Li weng Ang, Lee Ching Ng, Grace Yap, Lyn James, et al. Seroepidemiology of Dengue Virus Infection Among Adult in Singapore. Ann Acad Med Singapore 2009;38;667-75 17. Cordeiro, Marli Tenoiro, Hermann GS, Rita Maria RN, Valdate F de Oliver, Wellinton T de Melo, et al. Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever in The

71

State of Penambuco,1995-2006. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical 2007; 40(6); 605-11. 18. Khan Erum, Mehreen Kisat, Nabil Khan, Amna Nasir, Salma Ayub, Rumina Hasan. Demographic and Clinical Features of Dengue Fever in Pakistan from 20032007: A Retrospective Cross-Sectional Study. Avilable at : 23

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2938342/.Accessed September 2011.

19. Lin, Chiao Wen, Chin Xian Wang, Chein Sheng Lim, Mei Ling Wu, et al. Dengue Fever Epidemic in Tainan In Taiwan Epidemiologi Bulletin vol.25 No 6 page 401-21. 20. Jauhari, Muh Tantowi, Estika Wd Nelly. Karakteristik dan Upaya Penanggulangan Dini Penderita Demam Berdarah dengue di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar. Skripsi Sarjana. Universitas Hasanuddin. Makassar. 2006. 21. Chairulfatah Alex, Djatnika Setiabudi, Ridad Agoes, Robert Colebunders. Thrombocytopenia and Platelet Transfusions in Dengue Haemorrhagic Fever and Dengue Shock Syndrome. Dengue Bulletin Vol 27, 2003; 138-43. 22. W Shahin, A Nassar, M. Kalkattawi, H. Bokhari. Dengue Dengue fever in a tertiary hospital in Makkah, Saudi Arabia. Dengue Bulletin Volume 33, 2009; 34-44. 23. Phing CL, Susan Sing Jl, Chih HK, Yao SY, Chun KH, Wey RL, et al. Characteristics of dengue hemorrhagic fever outbreak in 2001 in Kaohsiung. J Microbiol Immunol Vol 37, 2004; 266-70.

72

24. Pusparini. Kadar hematokrit dan trombosit sebagai indikator diagnosis infeksi dengue primer dan sekunder. J Kedokteran Trisakti Volume 23, 2004; 51-6. 25. Lee, Min Sheng, Kao Pin Hwang, Tun C Chen, Po L Lu, Tyen PoChen. Clinical Characteristics of Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever in a Medical Centre of Southern Taiwan During The 2002 Epidemic. J Microbiol Immunol Infect 2006;39: 121-9. 26. Pelaez, Otto, Maria G Gusman, Gustavo Kouri, Raul Perez, Jose L, et al. Dengue epidemic, Havana, 2001 in Emerging Infectious Disease Vol 10 No.4 April 2004. Available at: www.cdc.gov/eid accessed 23 September 2011. 27. Hubert Bruno, Halstead B Scott. Dengue 1 Virus and dengue Hemorrhagic Fever, French, Polynesia, 2001 In Emerging Infectious Disease Vol 15 No 8 Aug 2009. Available at: www.cdc.gov/eid . Accessed 22 September 2011. 28. Appanna, Ramapraba, Ponnampalavanar, Sasheela, Luci, Sekaran Shamala. Suceptible and Protective HLA class 1 Alleles Against Dengue Fever and Dengue Hemorrhagic Fever patients in Malaysian Population. 2010 Vol 5 p 130.

73