Anda di halaman 1dari 104

KATA PENGANTAR

Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan, merupakan sebuah ruang apresiasi intelegensia yang dihadirkan oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan bagi pengembangan ilmu politik dan pemerintahan. Perkenankan redaksi pada edisi perdana ini, JIPP menghampiri ruang pembaca yang budiman dengan memuat tulisan-tulisan terpilih, tentunya dengan keragaman topik yang berkaitan dengan dinamika politik dan pemerintahan, yakni ; Analisa Politik kegagalan restorasi showa dalam peristiwa 26 februari 1936 ( studi tentang peran politik militer jepang pada pemerintahan showa, Demokrasi media massa dalam prinsip kebebasan, Pergeseran peran ideologi dalam partai politik, Keterlibatan kiai dalam pilkada (studi kasus pilkada di kabupaten banjarnegara tahun 2006), Analisis penyebab masyarakat tidak memilih dalam pemilu, Pemberdayaan aparatur daerah (telaah teoritis terhadap kinerja aparatur daerah), Kebijakan pemerintah dalam pengendalian pencemaran air sungai siak (studi pada daerah aliran sungai bagian hilir, dan Khilafah dalam sistem pemerintahan islam. Kemudian, dengan kerendahan hati redaksi menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu redaksi dalam penyelesaian jurnal ini, dan tentunya redaksi Jurnal Ilmu Politik dan pemerintahan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengguna jurnal atas kesediaan memberikan saran dan kritik bagi penyempurnaan jurnal ini, dan selamat membaca ! Tanjungpinang,10 Oktober 2011

Redaksi

KATA SAMBUTAN

Jurnal yang sampai di pembaca ini, merupakan jerih payah seluruh civitas akademika Program Studi Ilmu Pemerintahan yang didukung keluarga besar FISIP UMRAH. Jurnal ini merupakan hasil pergulatan pemikiran para penulisnya yang merupakan potret dari fenomena yang terjadi disekitar kita. Oleh karena itu, adalah wajar tulisan-tulisan yang hadir memiliki dinamika yang berbeda-beda, namun semuanya mengandung semangat yang sama, yakni mimbar akademis yang berkualitas. Kekuatan ini tentu perlu disyukuri bersama, karena dalam usianya yang masih sangat muda, Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UMRAH mampu menghadirkan bacaan ilmiah untuk mengisi kekosongan bacaan serupa di Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal ini dapat menjadi media yang menarik untuk berdiskusi, baik di kalangan birokrasi, mahasiswa, ataupun masyarakat secara luas Luasnya jelajah empirik yang ada, juga menjadi bacaan yang menarik, karena studinya tidak hanya di wilayah Kepri, tapi juga di wilayah-wilayah lain di Indonesia, sehingga suasana keindonesiaan juga terasa dalam jurnal ini. Akhirnya, semoga sedikit kontribusi dari Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UMRAH mampu meningkatkan mutu pendidikan civitas akademika UMRAH pada khususnya dan Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya. Selamat Menikmati. Wallahu alam bisshawab Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan

Alim Bathoro, M.Si

iii

DAFTAR ISI

Analisa Politik Kegagalan Restorasi Showa Peristiwa 26 Februari (1936) (Studi Tentang Peran Politik Militer Jepang pada Pemerintahan Showa) ........... Kustiawan Demokratisasi Media Masa dalam Prinsip Kebebasan ................................ Jamhur Poti Pergeseran Peran Ideologi dalam Partai Politik ............................................ Iman Yudhi Prasetya Keterlibatan Kiai dalam Pilkada (Studi Kasus Pilkada di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2006) .......................... Rudi Subiyakto Analisis : Penyebab Masyarakat Tidak Memilih dalam Pemilu .................................... Bismar Arianto Pemberdayaan Aparatur Daerah (Telaah Teoritis Terhadap Kinerja Aparatur Daerah) .................................... Agus Hendrayadi Kebijakan Pemerintah Dalam Pengendalian Pencemaran Air Sungai Siak (Studi Pada Daerah Aliran Sungai Siak Bagian Hilir) ............................................ N.A. Dwi Putri Khilafah Dalam Sistem Pemerintahan Islam .................................................. Oksep Adhayanto

1 - 16 17 - 29 30 - 40

41 - 50

51 - 60

61 - 67

68 - 79 80 - 98

ANALISA POLITIK KEGAGALAN RESTORASI SHOWA DALAM PERISTIWA 26 PEBRUARI (1936) (Studi Tentang Peran Politik Militer Jepang pada Pemerintahan Showa) Kustiawan1

Abstract This study was written with the political events in the military government in Japan. Political events which the writer suggested here is the event on 26 February 1936 or better known as Ni-ten-ni-roku-jiken. This event lasted for four days, from 26 to 29 February 1936. What is interesting in this event is the political thought of the perpetrators of the young officers of the rank of lieutenant to captain. Since the beginning of the Shoowa, Japan faces many difficulties that plagued the community, both in terms of economic, social, or political. Of the many people who feel they are not satisfied with the condition of the country at the time, came the young observer group from the armed forces. The difficulties that occur in the Japanese nation that encourages groups of young officers to think that Japan needs a restoration which they named Restoration Shoowa (Shoowa-Ishin), which means the national reorganization by way of revolution, an idea inspired by the success of restoration Meeji (Meeji -Ishin). Key Word : Restoration Shoowa,The young officers, The spirit of Japan, The Military, The Emperor

Pendahuluan Peristiwa politik yang penulis kemukakan disini adalah peristiwa pada 26 Pebruari 1936 atau lebih dikenal dengan nama Ni-ten-ni-roku-jiken. Gerakan yang terjadi pada masa pemerintahan Shoowa ini merupakan gerakan politik militer terbesar di Jepang selama abad ke-20. Peristiwa ini berlangsung selama empat hari, dari tanggal 26 sampai dengan 29 Pebruari 1936. Yang menarik dalam peristiwa ini adalah pemikiran politik pelakunya yaitu para perwira muda yang berpangkat letnan sampai kapten. Sejak awal masa Pemerintahan Shoowa, Jepang menghadapi berbagai kesulitan yang melanda masyarakatnya, baik dalam hal ekonomi, sosial, maupun politik. Masyarakat umum menganggap bahwa berbagai kesulitan itu terjadi akibat perilaku pemerintah yang berkolaborasi
1

Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

dengan kaum zaibatsu, dengan mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan pihak zaibatsu untuk kepentingan pribadi bukan untuk kejayaan Jepang. Pemerintah dianggap tidak mampu mengatasi berbagai kesulitan tersebut, bahkan kebijakan pemerintah dalam hal diplomasi luar negeri dinilai mengakibatkan kedudukan Jepang dipandang remeh oleh kekuatan Barat terutama Amerika dan Inggris. Dari sekian banyak masyarakat yang merasa tidak puas atas kondisi negeri saat itu, muncullah kelompok pemerhati muda yang berasal dari angkatan bersenjata, adalah sekelompok perwira muda yang berumur 22 tahun sampai 34 tahun. Kelompok perwira muda ini merasa terpanggil untuk melakukan usaha memperbaiki keadaan dalam negeri. kelompok perwira muda menganggap kenyataan yang dialami bangsanya saat itu disebabkan oleh ide-ide Barat yang telah terserap oleh orang-orang pemerintah. Kalau pengaruh pemikiran Barat ini dibiarkan, mereka khawatir itu akan merusak lembaga luhur kekaisaran yang unik. Berbagai kesulitan yang terjadi pada bangsa Jepang, mendorong kelompok perwira muda untuk berpikir bahwa Jepang membutuhkan sebuah restorasi yang mereka namakan Restorasi Shoowa (Shoowa-ishin) reorganisasi nasional dengan jalan revolusi , sebuah ide yang diilhami oleh keberhasilan Restorasi Meeji (Meeji-ishin). Untuk mencapai tujuan tersebut kelompok perwira muda membuat rencana aksi pemberontakan dan pembunuhan terhadap pejabat pemerintah yang tidak mereka sukai. Sebelumnya berbagai aksi dilakukan oleh aktivis-aktivis lain yang pada umumnya berasal dari kelompok fanatik bersayap kanan, yaitu Peristiwa Maret (Sangatsu-jiken) dan Peristiwa Oktober (Juugatsu-jiken) di tahun 1931, Peristiwa Ketsumeedan (Ketsumeedan-jiken) dan Peristiwa 15 Mei (Go-ten-ichigo-jiken) di tahun 1932, Peristiwa November (Juuichigatsu-jiken) di tahun 1934, dan lain-lain. Namun, keseluruhan aksi tersebut gagal dan tidak membawa hasil sebagaimana yang diharapkan. Aksi para perwira muda pada 26 Februari 1936 merupakan aksi terbesar dan sekaligus terakhir dari serentetan aksi pada awal masa Shoowa. Kelompok perwira muda berharap pengaruh pem-baratan kehidupan sosial Jepang dalam segala segi akan hilang setelah cita restorasi berhasil. Para perwira muda ingin membawa semangat Jepang (Nihon-seeshin) untuk melakukan perubahan nasional dengan membentuk sistem pemerintahan dibawah kaisar. Untuk mencapai cita-citanya tersebut cara satu-satunya yang dapat mereka tempuh adalah kudeta. Ternyata kudeta yang mereka lakukan itu mengalami kegagalan dan cita-cita mulia mereka untuk membentuk sistem pemerintahan di bawah kaisar pun ikut gagal. Permasalahan Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukan diatas, maka timbul pertanyaan yang menjadi pokok permasalahan, yaitu mengapa aksi yang dilakukan oleh kelompok perwira muda mengalami kegagalam dalam mewujudkan keinginannya? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah memahami sampai sejauh mana pemikiran politik dalam militer Jepang khususnya para perwira muda Jepang dalam kontribusinya terhadap kemajuan bangsanya. Selanjutnya diharapkan menambah wawasan kita mengenai beberapa kejadian politik militer pada masa lampau di masa pemerintahan Shoowa Jepang dan juga dapat memperkaya informasi mengenai studi tentang peran politik militer Jepang pada masa Shoowa. 2
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Metode Penelitian Pendekatan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yaitu mengumpulkan data sebanyak-banyaknya mengenai faktor-faktor yang merupakan penyebab kegagalan Restorasi Showa pada gerakan politik 26 Februari 1936, Pendekatan kualitatif yang digunakan adalah pendekatan Grounded (penyusunan teori dari bawah), dimana penelitian ini bisa memahami secara komprehenshif tentang para perwira muda. Penyusunan Grounded Theory perlu dipahami tiga unsur dasar grounded theory yaitu konsep, kategori, dan proposisi. Konsep adalah suatu kajian dasar karena hal itu dibentuk dari konseptualisasi data berdasarkan teori yang disusun. Kategori didefinisikan sebagai kumpulan yang lebih tinggi dan lebih abstrak dari konsep. Sedangkan proposisi menunjukkan hubungan-hubungan kesimpulan. Antara satu kategori dan konsepkonsep yang menyertainya dan diantara kategori yang diskrit, unsur ini dinamakan hipotesis. (Lexy, 2007: 72,73). Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yakni di Tokyo, Jepang, diantaranya markas granisun Angkatan Darat, Hotel Sanno, dan tempat kejadian peristiwa 26 Pebruari 1936. Penelitian ini dilakukan mulai pada saat penulis berkesempatan memperoleh beasiswa pertukaran mahasiswa selama satu tahun di universitas Chiba, Jepang, yaitu dari tanggal 01 Oktober 1998 sampai dengan tanggal 30 September 1999. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang menjadi perhatian penulis, yaitu data primer, dimana datadata dapat melalui observasi dan penulis menyusun berbagai keterangan dan menceritakan kembali apa yang telah dikemukakan oleh para pakar militer politik Jepang modern di dalam buku-buku tersebut sesuai dengan permasalahan penulis yang telah diketengahkan di depan, dengan sedikit memasukkan pandangan penulis sendiri. Sumber keterangan dan pembahasan yang dipaparkan di dalam penelitian ini sengaja tidak penulis sebutkan dalam teks kecuali yang dianggap perlu dan penting saja. Sedangkan data sekunder penulis dapatkan dari catatat dan mengedepankan pengunaan metode dokumentasi, dimana penulis mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa dokumen, buku, surat kabar, majalah, transkrip, prasasti, dan lain-lain yang berkaitan dengan peristiwa politik militer Jepang pada masa Shoowa. Pengunaan Dokumen Pengunaan dokumen ini dibedakan menjadi. Pertama, dokumen resmi. Kedua, dokumen pribadi, dan ketiga, kajian isi (Content Analysis). Guba dan Lincoln (19981:228) membedakan antara dokumen dan record. Record adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa. Sedangkan dokumen ialah setiap bahan tertulis atau film, lain dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik (Lexy : 2007 : 216). Penelitian yang mengunakan dokumen resmi terbagi atas dokumen internal dan eksternal. Dokumen internal berupa memo, pengumuman, instruksi, aturan suatu lembaga masyarakat tertentu. Sedangkan dokumen eksternal berisi bahan-bahan informasi yang dihasilkanoleh suatu lembaga sosial, misalnya majalah, bulletin, pernyataan, dan berita yang disiarkan kepada media
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

massa (Lexy : 2007 : 219). Keterangan dan pembahasan di dalam penelitian ini diambil dari buku-buku dan dokumendokumen tentang Peristiwa 26 Pebruari dan tentang politik militer Jepang pada masa Shoowa. Penulis menyusun dan mendeskripsikan apa yang telah dikemukakan oleh para pakar politik militer Jepang modern di dalam buku-buku tersebut sesuai dengan permasalahan penulis yang telah diketengahkan di depan. Kerangka Teori Teori Konflik Menurut Paul Conn (Ramlan, 1992 : 154), situasi konflik pada dasarnya dibedakan menjadi konflik menang-kalah (zero-sum conflict) dan konflik menang-menang (non zero-sum conflict). Konflik menang-kalah adalah situasi konflik yang bersifat antagonistic sehingga tidak memungkinkan tercapainya suatu kompromi diantara pihak-pihak yang terlibat konflik. Dalam hal ini yang terlibat konflik politik dalam sipil-militer adalah para perwira muda dan pemerintah yang berkuasa, yaitu Tenno keika, pemimpin tertinggi militer Jepang. Konflik menang-menang ialah suatu situasi konflik dalam mana pihak-pihak yang terlibat dalam konflik masih mungkin untuk mengadakan kompromi dan bekerja sama sehingga semua pihak akan mendapatkan bagian dari konflik tersebut. Ciri struktur konflik ini adalah dialog, konpromi, dan kerja sama sehingga semua pihak akan mendapatkan keuntungan kedua belah pihak. Intensitas konflik tidak sama artinya dengan konflik yang mengandung kekerasan. Intensitas konflik mengarah pada tingat keterlibatan para perwira muda dalam peristiwa 26 Pebruari 1936. Konflik yang mengandung kekerasan lebih merujuk pada akibat konflik daripada sebab-sebabnya. Termasuk senjata yang digunakan oleh pihak-pihak yang berkonflik untuk menyatakan permusuhan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas dan violence (kekerasan) ada dua aspek, yaitu pertama segi eksternal. Aspek ini meliputi kondisi organisasi, stratifikasi social, kelas, dan kemungkinan perubahan status. Kedua segi internal, faktor yang mempengaruhi intensitas suatu konflik adalah besar-kecilnya sumber-sumber yang diperebutkan, dan besar-kecilnya risiko yang timbul dari konflik tersebut. Teori Bangsa-Negara Pengertian bangsa dalam istilah satu bangsa berbeda dengan pengertian bangsa dalam istilah bangsa-negara (nation-state). Bangsa dalam bangsa-negara mencakup jumlah kelompok masyarakat (berbagai suku bangsa dan ras) yang lebih luas daripada bangsa dalam suku bangsa. Kesamaan identitas cultural dalam suku bangsa lebih sempit cakupannya daripada identitas cultural dalam bangsa-negara. Ben Anderson, seorang ilmuwan politik dari Universitas Cornell merumuskan pengertian bangsa secara unik. Menurut Anderson, bangsa merupakan komunitas politik yang dibayangkan (imagined political community) dalam wilayah yang jelas batasnya dan berdaulat (Ramlan, 1992:42). Sedangkan Negara didefinisikan oleh beberapa ahli politik diantaranya Roger H.Soltau menyatakan bahwa negara adalah agen atau kewenangan yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat. Sedangkan menurut Harold J.Leski mengatakan suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat 4
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

memaksa yang secara sah lebih berkuasa daripada individu yang merupakan bagian dari masyarakat (Budiarjo;2003) . Negara dapat disimpulkan adalah Suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangan melalui penguasaan (kontrol) monopolistis terhadap kekuasaan yang sah. Negara bersifat memaksa, memonopoli, dan mencakup semua. Menurut Charles E Merriam fungsi negara adalah untuk keamanan ekstern , ketertiban intern, keadilan, kesejahteraan, kebebasan (Budiarjo, 2003) Tinjauan Pustaka Kelompok Bersenjata (Militer) Ruling Class juga disebut political class (klas politik) dan dengan sendirinya politik menimbulkan persoalan kekuatan (power). Menurut F.A.M de Voltaire, mengatakan raja pertama adalah seorang tentara. Pada mulanya dalam sejarah umat manusia, golongan memerintah terdiri dari golongan militer (men of the sword) atau orang yang berpedang. Golongan ini berpartner dengan men of the pen (para cerdik pandai) seperti Ulama (Islam), gerejawan (katolik), para brahmana (Hindu). Militer adalah seorang ahli perang atau ahli menggunakan kekerasan. Tatanan masyarakat Jepang yang bisa dianalogkan dengan militer adalah kaum samurai. Samurai adalah sama dengan militer modern. Revolusi Meiji merupakan sukses golongan militer dalam upaya industrialisasi dan moderenisasi suatu Negara Asia. Rezim Meiji adalah adalah sebuah rezim kekaisaran tradisional yang berusia lama, yang secara cerdik mengunakan dukungan samurai bawahan untuk menghabisi riwayat dominasi sebuah kasta militer yang rapuh karena feodalisme yang korup dan irasional. Perwira Muda Kelompok perwira muda terbentuk pada pertengahan tahun 1920-an di Akademi Angkatan Darat Tookyoo. Pada waktu itu Kepala Akademi Militer dijabat oleh Mazaki. Semasa menjadi kepala sekolah itu, Mazaki selalu menanamkan pada siswanya pentingnya patriotisme dan nasionalisme. Untuk lebih memahami pengetahuan tentang nasionalisme, para siswa kemudian masuk Daigakuryoo.2 Setelah mereka benar-benar paham konsep nasionalisme, salah seorang penggerak para perwira muda Nishida Mitsugu bersama teman-temannya secara terselubung mendirikan Tenkentoo (nama organisasi untuk memperjuangkan reformasi) tahun 1927. Anggota kelompok intinya adalah Ookura Eeichi, Muranaka Kooji, Kooda Kiyosada, Andoo Teruzoo, Koono Hisashi, dan Suematsu Tahee. Selain itu terdapat juga pemimpin perwira muda angkatan laut Fujii Hitoshi dan Koga Kiyoshi (keduanya penentang Perjanjian Angkatan Laut London). Organisasi itu kemudian tidak bertahan lama. Pihak polisi militer mengumumkan bahwa organisasi itu dianggap ilegal kemudian dibubarkan. Meskipun organisasi Nishida dan kawan-kawan dibubarkan, anggota kelompok baik dari angkatan darat maupun angkatan laut telah memelihara hubungan yang baik. Pada tahun 1930 mereka pun sudah membentuk simpatisan di daerah-daerah. hubungan baik itulah yang menjadi
2

Daigakuryoo merupakan sebuah lembaga penelitian yang mengajarkan nasionalisme. Lembaga ini didirikan oleh seorang sipil sayap kanan Ookawa Shuumee pada tahun 1923.

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

landasan kuat bagi mereka untuk melakukan aksi-aksi teroris selanjutnya. Pada perkembangan berikutnya, sekitar akhir tahun 1930 timbul gagasan para perwira muda untuk membuat sebuah restorasi yang mereka namakan Restorasi Shoowa. Ide itu muncul karena mereka ingin melakukan perubahan nasional untuk mengangkat harkat rakyat pedesaan yang menderita. Restorasi Showa Restorasi Shoowa (Shoowa-ishin), yang berarti reorganisasi nasional dengan jalan revolusi, sebuah ide yang diilhami oleh keberhasilan Restorasi Meeji (Meeji-ishin). Ide restorasi ini mengarah pada semangat nasionalisme Jepang yang mengagungkan keberadaan kaisar. Menurut J.S Mill (1806-1873) bahwa semangat restorasi atau nasionalitas sebagai kondisi esensial dari stabilitas dalam masyarakat politik ketika nasionalitas berisi perasaan tentang kepentingan bersama di antara mereka yang hidup di bawah pemerintahan yang sama. Semangat nasionalitas ditanamkan kaisar melalui konsep fasisme Jepang. Konsep fasisme Jepang tidak dapat dipisahkan dari Restorasi Meiji. Fasisme di Jepang dipelopori oleh Perdana Menteri Tanaka, masa pemerintahan Kaisar Hirohito dan dikembangkan oleh Perdana Menteri Hideki Tojo. Untuk memperkuat kedudukannya sebagai negara fasis, Kaisar Hirohito melakukan beberapa hal, yaitu mengagungkan semangat bushido, menyingkirkan tokoh-tokoh politik yang anti militer, melakukan perluasan wilayah ke negara-negara terdekat seperti Korea, Manchuria, dan Cina, memodernisasi angkatan perang, mengenalkan ajaran shinto Hakko I Chiu yaitu dunia sebagai satu keluarga yang dipimpin oleh Jepang. Berkembangnya negara-negara fasis seperti Italia, Jerman, dan Jepang membuat situasi politik di kawasan Eropa semakin menghangat, dan diwarnai dengan ketegangan yang mendorong terjadinya Perang Dunia II. Semangat bushido yang diagungkan dalam fasisme Jepang diartikan sebagai semangat berani mati. Semangat ini juga mencerminkan etos yang tinggi. Kondisi Perekonomian Jepang Terutama di Pedesaan Sejak awal pemerintahan Shoowa menyadari bahwa Perang Dunia Pertama berakibat sangat buruk terhadap situasi dalam negeri Jepang terutama perekonomian. Ketika Perang Dunia Pertama berakhir pada tahun 1919, dapat dikatakan perekonomian Jepang sudah mulai memburuk. Padahal, pada masa Perang Dunia Pertama perekonomian Jepang berkembang sangat pesat. Jepang berada di pihak Inggris, Francis, dan Rusia yaitu negara-negara yang menang perang. Sementara negara-negara Eropa sibuk dengan perang, Jepang yang merebut daerah jajahan Jerman di Shantung (Cina) dapat memperoleh keuntungan perdagangan di daerah itu. Pada waktu itu Jepang banyak menghasilkan produk industri tekstil (kain katun dan sutra), dan memajukan usaha Pengapalan, bidang usaha yang banyak didominasi negaranegara Eropa dulu. Pada bulan September tahun 1923, perekonomian Jepang terpukul lagi dengan terjadinya gempa bumi besar yang melanda daerah Kantoo. Gempa bumi itu menghancurkan daerahdaerah yang merupakan pusat industri Jepang, yaitu Tookyoo dan sekitarnya. Kondisi perekonomian Jepang yang terpukul berkali-kali itu mengakibatkan utang-utang bank menumpuk. Untuk mengatasi situasi tersebut, pada bulan April 1927 Perdana Manteri Tanaka Giichi menjalankan moratorium selama tiga minggu. Hal itu dilakukan pemerintah untuk memberi waktu pada bank yang bermasalah untuk mengatasi krisisnya. Dengan adanya moratorium itu, 6
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

krisis yang terjadi pada bank kecil dan menengah bisa diatasi dan uang nasabah pun menjadi selamat. Namun, krisis itu meninggalkan ketidakpercayaan masyarakat pada bank kecil dan menengah. Kebanyakan dana nasabah dipindahkan ke bank-bank besar, yaitu bank milik zaibatsu. Jadi, ketika rakyat kecil semakin menderita, justru zaibatsu semakin kuat. Hal itu mengakibatkan kesenjangan sosial antara yang miskin dan yang kaya semakin besar. Kesulitan hidup petani kecil itu ternyata juga bersamaan dengan kegagalan panen pada tahun 1931 di daerah Hokkaido dan Toohoku. Kemudian pada tahun 1934 terjadi kekeringan hebat yang menyebabkan kegagalan panen besar-besaran di daerah utara dan timur Jepang. Para buruh pabrik yang di PHK tersebut kebanyakan anak-anak muda pedesaan yang merantau ke kota. Namun, karena tidak bisa bekerja lagi di kota, mereka kembali ke desa, tetapi di desa pun mereka tidak ada pekerjaan dan tidak ada makanan. Akhirnya, anak laki-laki desa yang di PHK tadi berupaya agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak ada jalan lain saat itu kecuali menjadi tentara. Makanya, pada waktu itu banyak anak muda pedesaan berbondongbondong menjadi tentara nasional. Setelah anak-anak desa menjadi prajurit, atasannya yaitu para perwira muda yang kebanyakan berasal dari keluarga elit di perkotaan mendengarkan cerita prajurit bawahannya dan merasa tidak tega serta tidak sampai hati melihat betapa menderitanya rakyat pedesaan, kemudian mereka berusaha untuk melakukan sesuatu yang dapat mambantu rakyat pedesaan. Para perwira muda menganggap bahwa pederitaan rakyat desa itu akibat ulah para pejabat pemerintah yang mereka anggap penjahat. Nampaknya pemerintah sudah tidak mampu lagi mengatasi krisis ekonomi rakyat. Karena itu, para perwira muda yang dipimpin Isobe Asaichi dan kawan-kawan berpikir bahwa Jepang memerlukan sebuah restorasi dengan mengembalikan kekuasaan kepada kaisar yang suci. Inilah salah satu yang mendorong para perwira muda untuk melakukan Peristiwa 26 Pebruari [Kawara, 1990:63]. Pertentangan Antara Pemerintah Sipil dan Militer Sejak tahun 1924, pemerintahan Jepang dikuasai oleh orang-orang sipil. Hamaguchi, seorang sipil yang menjadi perdana menteri pada tahun 1929 merupakan orang yang sangat menentang militerisme. Pada bulan April 1930, pemerintah sipil di bawah Hamaguchi menandatangani Perjanjian Angkatan Laut London yang membatasi jumlah tonase kapal perang pelengkap. Perjanjian itu merupakan lanjutan dari perjanjian yang dibuat di Washington pada tahun 1922. Perjanjian yang diadakan di London ini diikuti oleh lima negara besar, yaitu Jepang, Amerika, Inggris, Prancis, dan Italia. Delegasi Jepang yang dipimpin oleh Wakatsuki Reejiroo dan Takarabe Takeshi menyetujui rasio tonase kapal perang pelengkap 10-10-6,975 untuk Amerika, Inggris, dan Jepang. Rasio tonase yang ditandatangani itu ternyata tidak sesuai dengan kehendak militer. Meskipun delegasi Jepang sudah memperjuangkan rasio 10-10-7, karena didesak oleh delegasi Amerika dan Inggris, akhirnya delegasi dan kabinet mengalah dengan rasio 10-10-6,975. Keputusan delegasi itu dibuat tanpa sepengetahuan kalangan militer [Sasaki, 1995:24]. Setelah perjanjian itu ditandatangani, munculah perdebatan antara militer dan kabinet. Kalangan militer yang merasa dilangkahi mempermasalahkan perjanjian itu dalam sidang diet. Mereka mengutuk tindakan pemerintah sipil yang terlanjur menandatangani perjanjian itu. Mereka membuat alasan dengan mengklaim bahwa pemerintah sipil sudah melanggar hak pengomandoan yang ada di tangan kaisar. Tindakan kabinet itu dinilai pihak militer sudah menyalahi konstitusi. Secara konstitusi Meiji yang berlaku saat itu, bahwa kaisar mempunyai wewenang untuk membuat perjanjian-perjanjian, dan pihak militer bertanggung jawab kepada
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

kaisar dalam masalah yang berkaitan dengan militer. Karena itu, menurut pihak militer, semestinya yang menentukan besar kecilnya persenjataan adalah militer, dan bilamana kabinet menandatangani perjanjian tentang persenjataan tanpa persetujuan militer, secara tidak langsung pemerintah sipil melanggar hak kaisar [Oouchi, 1984:279-282]. Di sisi lain, pemerintah sipil juga mempunyai alasan. Mereka menyatakan bahwa perjanjian itu merupakan masalah diplomasi yang seharusnya berada di tangan kabinet bukan militer. Akhirnya perjanjian itu diratifikasi sebagaimana yang diingini oleh kabinet, tetapi masalah ini meninggalkan permusuhan yang mendalam di antara pemerintah sipil dan militer beserta kelompok sayap kanan. Terutama kelompok sayap kanan tidak menerima dan tidak memaafkan tindakan pemerintah yang dianggap melangkahi wewenang kaisar. Setelah perjanjian Angkatan Laut London itu diratifikasi, di dalam tubuh angkatan laut muncul dua kubu yang saling bertentangan. Dua kubu itu adalah Jooyakuha yang merupakan faksi yang menyetujui perjanjian itu dan Kantaiha yang tidak hanya tidak menyetujui perjanjian itu, tetapi juga menentang adanya pembatasan jumlah tonase. Jooyakuha didukung oleh orang-orang yang berkuasa di pemerintah seperti Hamaguchi, Takarabe (menteri angkatan laut), Wakatsuki (mantan perdana menteri), dan Okada Keesuke (anggota dewan tertinggi militer)3. Sedangkan Kantaiha didukung oleh Kepala Staf AL (gunreebusoochoo) Katoo Kanji, para perwira muda angkatan darat dan angkatan laut. Dalam perselisihan itu, kelompok Kantaiha akhirnya lebih dominan (Sasaki, 1995:24). Setiap kali tentara di lapangan mau bergerak maju, ada saja gangguan dari pemerintah sipil yang selalu menghalang-halangi kehendak tentara itu. Pimpinan militer termasuk menteri AD ketika itu memang berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Di satu sisi mereka sangat setuju dengan usulan perwira di lapangan, tetapi di lain sisi juga harus tunduk kepada keputusan pemerintah. Perpecahan dalam Angkatan Darat Sekitar tahun 1931, dalam tubuh militer terutama angkatan darat mulai terjadi perpecahan. Sejak saat itu tubuh militer sendiri terpilah menjadi dua faksi yang saling berseteru untuk memperebutkan posisi periling dalam angkatan darat dan pemerintah. Dua faksi yang berlawanan itu adalah faksi bernama Koodooha dan Tooseeha. Posisi penting dalam militer itu adalah jabatan menteri AD. Jabatan menteri AD itu memang merupakan posisi yang mempunyai pengaruh besar dalam menentukan siapakah yang duduk dalam jabatan strategis di AD. Faksi Koodooha sebenamya sudah ada sejak tahun 1920-an. Pada waktu itu yang mencetuskan Koodooha adalah Araki Sadao dan Mazaki Jinzaburoo. Araki mencetuskan nama Koodooha yang asal katanya dari koo yang berarti kaisar dan doo yang berarti jalan. Dari nama itu dapat disimpulkan bahwa, mereka adalah orang-orang yang fanatik kepada kaisar. Ada beberapa orang Koodooha yang pernah mengajar di Akademi Angkatan Darat,4 bahkan Mazaki dan Araki pernah menjadi kepala sekolah di akademi itu. Semasa menjadi guru, Mazaki dan Araki selalu mengajarkan pada anak didiknya pemahaman ciri khas negara Jepang yang memiliki lembaga kekaisaran dan menanamkan nasionalisme yang berdasarkan kesetiaan kepada kaisar. Usia yang masih muda dan sifat patriotis, menjadikan siswa-siswa mereka sangat antusias menanggapi ajaran-ajaran itu, sehingga mereka, Araki dan Mazaki, pun menjadi populer
3

Dewan Tertinggi Militer itu terjemahan dari gunji-sangi-in. Dewan ini mempunyai kedudukan yang istimewa dalam militer, sehingga setiap keputusan dewan mempunyai pengaruh yang kuat dalam militer. Istilah Jepangnya adalah Tookyoo-rikugun-daigakkoo

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

di kalangan para siswa dan para perwira muda lulusan akademi itu. Jadi, Koodooha itu lama-lama menjadi besar karena didukung oleh para perwira muda yang fanatik. [Shillony, 1973:14-18]. Orang-orang Koodooha selalu menganggap bahwa esensi negara Jepang berada pada kaisar yang bersifat mulia dan mutlak yang tiada taranya. Menurut mereka, kaisar merupakan pewaris sejarah dan mempunyai kedudukan tersendiri dalam struktur negara sebagai keturunan dewa. Mereka menentang pemikiran Barat yang mempengaruhi pejabat pemerintah, para politisi, dan perwira tinggi militer. Bagi mereka, konsep Barat yang menganggap kaisar hanya sebagai salah satu jabatan itu sudah sangat merendahkan keberadaan lembaga kekaisaran. Karena itu, Mazaki dan kawan-kawan mengutuk pengaruh pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan ciri khas negara Jepang di bawah Kaisar Yang Mulia. Menurut mereka, pengaruh pemikiran Barat itu tercermin dalam sikap para politisi yang korup, kaum konglomerat yang mementingkan diri sendiri, dan adanya dominasi klan tertentu dalam militer. Para perwira muda yang bergabung dengan kelompok Koodooha itu lama-lama semakin fanatik. Kemudian mereka merencanakan untuk melakukan perubahan, yaitu membentuk pemerintah militer dengan cara kudeta pada tahun 1930. Melihat radikalisme Koodooha, muncul kelompok lain yang terkenal dengan nama Tooseeha sebagai tandingannya. Anggota kelompok ini sebagian besar perwira-perwira tinggi yang berpangkat kolonel sampai jendral yang berpengalaman, bukan perwira-perwira yang muda. Orang-orang Tooseeha itu sebagian besar lulus sekolah akademi militer di Barat. Mereka berwawasan lebih luas, pintar dalam masalah politik, dan ahli dalam membuat strategi aksi militer. Tooseeha sebagai kelompok pengimbang dari Koodooha itu bermaksud mengontrol tindakan para perwira muda Koodooha yang menyimpang dari kedisiplinan militer. Mereka sementara lebih cenderung memihak pemerintah. Memang mereka pun prihatin terhadap keadaan negara Jepang yang terpuruk dan menginginkan membentuk pemerintah militer, tetapi mereka tidak menginginkan perubahan yang drastis melalui revolusi atau kudeta sebagaimana yang diinginkan oleh para perwira muda Koodooha. Tooseeha menginginkan perubahan secara bertahap tanpa gejolak yang besar. Pada bulan November 1934, perseteruan antara Koodooha dan Tooseeha itu semakin memuncak. Pada waktu itu menteri AD memerintahkan polisi militer untuk menangkap Isobe Asaichi dan Muranaka Kooji yang merupakan pimpinan perwira muda Koodooha. Mereka dituduh merencanakan kudeta untuk menggulingkan pemerintah bersama dengan siswa-siswa akademi militer. Peristiwa penangkapan terhadap Isobe dan kawan-kawan ini disebut dengan Peristiwa November (Juuichigatsu-jiken) (tentang peristiwa ini lihat halaman 33). Tuduhan yang ditujukan terhadap mereka itu tidak tepat dan tidak ada bukti yang kuat atas isu keterlibatan mereka itu. Sebenarnya tuduhan itu hanyalah dibuat-buat oleh orang-orang Tooseeha agar Koodooha tersingkir. Mereka merekayasa penangkapan itu. Padahal, Isobe dan Muranaka sama sekali tidak mempunyai maksud untuk melakukan kudeta. Akhirnya pada bulan Maret 1935, Isobe dan Murakana dipecat dari dinas aktif militer. Setelah dipecat, Isobe dan Muranaka yang merasa tersingkirkan itu membuat pamflet dan menyebarkannya ke tempat-tempat umum. Pamflet yang berjudul Beberapa Pandangan mengenai Usaha Perbaikan Angkatan Darat (Shukugun ni kansuru ikensho) itu berisi kecaman terhadap sikap perwira tinggi Tooseeha yang menyulut terjadinya perpecahan dalam AD. Pamflet yang membocorkan rahasia-rahasia di dalam AD itu berakibat buruk bagi Koodooha di luar sangkaan mereka karena sejak saat itu, Tooseeha selalu meningkatkan pengawasan terhadap perwira-perwira muda Koodooha. Pada tanggal 16 Juli 1935, menteri AD melakukan mutasi di jajaran perwira tinggi angkatan
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

darat. Yang dimutasi adalah Mazaki (pemimpin Koodooha). Ketika itu Mazaki dipecat dari jabatan inspektur jendral pendidikan militer. Hal ini merupakan pukulan fatal bagi Koodooha. Mutasi yang diperintah oleh menteri AD sudah sesuai dengan hukum yang berlaku ketika itu. Tetapi, Mazaki yang bersikeras tidak mau menurut malah sengaja membocorkannya kepada para perwira muda dengan mengklaim bahwa pemecatan itu tidak sah, hanya dibuat-buat oleh orangorang Tooseeha atas prakarsa Nagata dan Hayashi untuk menyingkirkannya. Setelah itu, Mazaki membocorkan peristiwa pemecatannya disertai cerita-cerita rekayasa sendiri yang membenarkan posisinya kepada para perwira muda Koodooha yang sangat fanatik. Para perwira muda yang mendengarkan itu menjadi marah dan bermaksud untuk melakukan tindakan balasan dengan mengancam orang-orang Tooseeha. Setelah Peristiwa November dan pemecatan Mazaki, kekecewaan para perwira muda Koodooha sulit untuk dikendalikan. Pada tanggal 12 Agustus 1935, seorang perwira muda yang bernama Aizawa Saburoo membunuh Nagata Tetsuzan yang dianggap dalang atas tersingkirnya para perwira tinggi Koodooha seperti Peristiwa November 1934 dan pemecatan Mazaki pada bulan Juli 1935. Sejak pertengahan bulan Agustus 1935 itu, para perwira muda yang merasa tersingkir mulai memikirkan rencana kudeta secara lebih kongkret untuk membinasakan pejabat pemerintah dan orang-orang Tooseeha. Rentetan peristiwa mulai dari Peristiwa November, pemecatan Mazaki sampai pembunuhan Nagata itu lama-lama mendorong para perwira muda Koodooha untuk membuat rencana aksi kudeta yang nyata sebagai satu-satunya pemecahan atas keadaan serba buntu yang dialaminya [Oouchi, 1984:407]. Gerakan 26 Pebruari : Gerakan Politik Para Perwira Muda Setelah tiga bulan lebih melakukan persiapan demi persiapan dengan semangat sebagai patriot, akhirnya seluruh kelompok perwira muda berketeguhan hati untuk melakukan aksi pembunuhan terhadap penjahat-penjahat pada tanggal 26 Pebruari 1936. Pada tanggal 26 Pebruari, di pagi yang bersalju, sekitar pukul 02.00 dini hari, sebuah terompet dibunyikan di markas militer resimen infantri pertama di Roppongi, resimen infantri ketiga di Azabu, dan resimen infantri ketiga pasukan khusus pengawal istana di Akasaka. Suara terompet itu menandakan dimulainya sebuah aksi kudeta besar pada masa Shoowa. Beberapa perwira aksi memimpin apel besar dan mengumumkan kepada prajuritnya bahwa pagi itu akan diadakan aksi penyerangan ke pusat pemerintahan Tookyoo untuk membinasakan para penjahat yang telah membuat rakyat menderita. Bendera yang berslogan Sonnoo Tookari5 dikibarkan. (Shillony, 1973:135). Dampak Politik Yang Ditimbulkan 1. Dampak Hukum dan Politik Terhadap Perwira Muda Pada tanggal 1 Maret, menteri angkatan darat menyatakan bahwa para perwira muda yang terlibat dipecat dengan resmi dari dinas militer. Beberapa hari kemudian kaisar menunjuk Hirota Kooki sebagai perdana menteri yang baru menggantikan Okada. Hirota yang juga termasuk Tooseeha menunjuk Terauchi Hisaichi sebagai Menteri AD yang baru. Terauchi mempunyai tugas menyelesaikan kasus para perwira muda yang melakukan kudeta terhadap negara. Pada tanggal 4 Maret Menteri AD membentuk Dewan Mahkamah Militer Istimewa (Tokubetsu5

Istilah Soonoo Tookan dalam bahasa Indonesia berarti hormati kaisar, hancurkan pengkhianat negara.

10

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

gunpoo-kaigi) dan memutuskan bahwa sidang mahkamah militer itu rahasia, tidak terbuka untuk umum, dan menunjuk Ishimoto Torazoo sebagai ketua hakim yang mengadili para perwira muda. Setelah kurang lebih 1400 orang yang terlibat diintrogasi, berdasarkan bukti yang ada, Dewan Mahkamah Militer Istimewa memutuskan bahwa hanya 123 orang yang dinyatakan bersalah dan dijadikan terdakwa, yaitu 19 orang perwira muda, 74 orang bintara, 19 orang prajurit tanpa pangkat, satu orang pumawirawan, dan 10 orang sipil [Takahashi, 1965:179]. Pada tanggal 28 April, mulai diselenggarakan persidangan bagj 19 orang perwira muda. Di bawah dewan hakim yang diketuai oleh Ishimoto, para perwira muda tidak diberi kesempatan secara leluasa untuk mengungkapkan motif mereka. Kawashima yang mewakili perwira tinggi Koodooha mengatakan bahwa para perwira muda sudah melakukan kesalahan besar, yakni mengerahkan tentara nasional tanpa perintah dari pimpinan militer dan juga tidak menuruti perintah Kaisar agar menarik diri dari lokasi yang sudah diduduki. Padahal mereka mengetahui bahwa orang yang melawan perintah kaisar adalah pembangkang. 2. Menguatnya Kekuasaan Tooseeha Setelah gerakan militer para perwira muda, Tooseeha berhasil mengokohkan kekuatan mereka di dalam AD. Tooseeha merupakan kumpulan orang yang mempunyai wawasan yang luas di diet, bahkan sampai tahun 1945 yang menjadi perdana menteri selalu dari angkatan darat. Ditunjuknya Terauchi sebagai Menteri AD dan Sugiyama sebagai kepala staf AD semakin menambah kekuatan Tooseeha dalam militer. Di bawah kekuasaannya, orang-orang Tooseeha mengadakan pembersihan di lingkungan angkatan darat terutama terhadap Koodooha. Semua anggota Koodooha yang terlibat itu ditahan dan dikucilkan. Tooseeha memecat dan mengucilkan pemimpin Koodooha, yaitu Mazaki, Araki, dan lain-lain sampai beberapa tahun. Hasil Penelitian 1. Sikap Kaisar terhadap Gerakan Politik Para Perwira Muda Ketika berita terjadinya aksi pembunuhan pada pagi hari tanggal 26 Pebruari terdengar oleh kalangan istana, kaisar menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Kaisar dengan muka masam mengatakan para pelaku pembunuhan itu adalah pengkhianat negara. Kawashima yang datang untuk melaporkan tentang adanya peristiwa berdarah itu menyela dengan mengatakan bahwa tindakan perwira muda itu didasari oleh kesetiaan mereka kepada kaisar yang mulia dan negara yang suci. Dengan sikap yang tegas, kaisar memerintahkan Kawashima agar segera menumpas pemberontak dan dengan nada yang marah mengatakan, Mereka telah membunuh para pembantu kepercayaan saya. Motif mereka sebaik apapun pembenaran apa yang dapat diterima atas kebrutalan tindakan mereka? Saya memerintahkan untuk menumpas pemberontak itu segera. Honjoo Shigeru yang khawatir bahwa penggunaan kata pemberontak akan menimbulkan rasa tidak senang di kalangan militer menyela, Mungkin Paduka Yang Mulia berkenan mempertimbangkan penggunaan kata pemberontak. Akan tetapi kaisar tetap pada pendiriannya dan berkata, Tentara yang bertindak tanpa perintah saya bukanlah prajuritku. Mereka adalah pemberontak! (Kawara, 1990:I72). Sikap kaisar di atas terlihat sangat berbeda dengan sikap sebelumnya yang selalu patuh terhadap apa yang diingini oleh pihak militer. Kaisar mengritik keras pekerjaan perwira tinggi militer yang lambat memberikan komando kepada pasukannya untuk menumpas para pemberontak. Kaisar Hirohito adalah seorang yang pintar, ramah, menghormati pembantu
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

11

terdekatnya, tetapi juga kadangkala tidak tegas dalam bertindak. Namun dalam Peristiwa 26 Pebruari ini, kaisar memperlihatkan sikap yang tegas yang terkesan berbeda dari biasanya. Semenjak hari pertama sampai selesai pemberontakan, kaisar selalu bersikap tegas dan marah. Menurut penulis, kemarahan kaisar yang diperlihatkannya sejak hari pertama sampai selesainya pemberontakan itu lebih disebabkan karena dia merasa sangat dirugikan atas terbunuhnya para pembantu kepercayaannya. Melihat usianya yang begitu muda (berumur 34 tahun), kaisar memang belum berpengalaman dalam memimpin negara. Pada waktu itu kaisar yang hanya mempunyai keahlian dalam bidang biologi harus mengandalkan sesepuh-sesepuh baik militer maupun sipil seperti Makino, Saitoo, Suzuki, Honjoo, Araki, dan yang lainnya. Kepada para sesepuh militer itulah kaisar selalu minta petunjuk dan nasehat dalam mengatasi persoalanpersoalan negara. 2. Sikap Perwira Tinggi Militer Setelah melihat sikap kaisar yang tegas, Dewan Tertinggi Militer (Gunji-sangi-iri) mulai mencari akal untuk menyelesaikan aksi para perwira muda. Untuk mencegah situasi dalam negeri agar tidak memburuk, pada sore hari tanggal 26 Pebruari anggota dewan segera mengadakan pertemuan. Keputusan rapat Dewan Tertinggi Militer itu menjadi sah dan memiliki wewenang jika rapat itu dibuka atas permintaan kaisar yang merupakan panglima tertinggi militer. Namun rapat dewan kali ini diselenggarakan bukan atas permintaan kaisar tetapi atas inisiatif anggota dewan yang memihak Koodooha. Dengan demikian, dilihat dari segi hukum rapat dewan tersebut sama sekali tidak memiliki wewenang apa-apa. Bagaimanapun, rapat dewan tetap juga diadakan dan dihadiri oleh 12 orang jenderal dan 3 orang letnan jenderal. Antara 15 orang yang hadir itu terdapat dua faksi yang berbeda, yaitu faksi yang pro pemberontak dan faksi yang anti pemberontak. Faksi yang pro pemberontakan ada 12 orang, yaitu Menteri Angkatan Darat Jendral Kawashima, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Fushimi-no-miya, Kepala Garnisun Tookyoo Letnan Jendral Kashii Kohee, Kepala Badan Intelijen Angkatan Darat Letnan Jenderal Yamashita Tomoyuki, dan mantan pejabat tiga besar angkatan darat yaitu Mazaki, Araki, Hayashi, Terauchi, Nishi Gi ichi, Asaka-no-miya, Ueda Kenkichi, dan Abe Nobuyuki. Sementara itu, faksi anti pemberontakan ada tiga orang, yaitu Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Sugiyama, Menteri Angkatan Laut Laksamana Oosumi Mineo, dan Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Shimada Shigetaroo. Jadi, dapat di katakan rapat itu didominasi oleh kelompok yang mendukung pemberontak. Kelompok perwira muda telah mendengar perintah kaisar itu secara tidak resmi. Mendengar perintah kaisar, kelompok perwira muda sangat terkejut karena tidak menyangka sama sekali kalau kaisar bersikap begitu dingin terhadap mereka. Dalam situasi tertekan tersebut, kelompok perwira muda dihadapkan pada dua pilihan, yaitu menuruti perintah kaisar dan kembali ke komando komandan mereka masing-masing, atau tetap mempertahankan posisi mereka sekarang. Jika kelompok perwira muda mematuhi perintah kaisar, itu berarti mereka kalah dan tentunya cita-cita restorasi akan hilang. Tetapi jika mereka tetap keras kepala untuk mempertahankan posisi sekarang, maka Isobe dan kawan-kawan akan menjadi musuh kaisar. Mana yang harus mereka pilih? Para perwira muda bingung untuk menentukan sikap mereka selanjutnya. Pada waktu itu di antara para perwira muda sendiri ada yang ingin mundur dan ada pula yang ingin maju. Kita sudah terlanjur melakukan aksi. Jadi mau tidak mau kita harus tetap maju untuk mencapai citacita suci restorasi sampai berhasil. Akhirnya mereka menyatukan pendapat dan memutuskan 12
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

untuk tetap meneruskan aksi. Sementara itu, kaisar yang mengeluarkan hoochoku-meeree pada pagi hari tanggal 28 Pebruari masih menunggu-nunggu penumpasan terhadap pemberontak. Namun sampai siang hari tanggal 28 Pebruari ternyata penumpasan itu belum juga dilaksanakan oleh pimpinan militer. Kepada kaisar dilaporkan bahwa penundaan itu terjadi karena evakuasi penduduk sipil dari lokasi yang diduduki pemberontak memakan waktu lama. Padahal alasan itu hanya dibuat-buat pimpinan militer. Maka pada malam hari tanggal 28 Pebruari kaisar yang tidak sabar lagi memanggil Honjoo dan mengatakan jika pimpinan militer belum juga bergerak melakukan penumpasan, maka dia sendiri akan maju dengan membawa pasukan pengawal istana dan menumpas pemberontak. Pagi-pagi tanggal 29 Pebruari itu, pimpinan militer pertama-tama membujuk dan mengajak melalui pamflet-pamflet, balon-balon pengumuman yang digantungkan di pesawat, dan melalui siaran radio agar para tentara pembangkang menyerahkan diri dan kembali ke baraknya masingmasing. Salah satu ajakan yang disiarkan langsung melalui radio pada pukul 06.00 pagi hari tanggal 29 Pebruari berbunyi sebagai berikut. Kalian pasti percaya bahwa perintah-perintah dari atasan adalah benar dan kalian telah benar dalam mematuhinya dengan baik. Tetapi, Kaisar Yang Mulia telah memerintahkan kamu semua kembali ke barakmu masing-masing. Kalian harus mematuhi ucapan Yang Mulia. Jika menentang maka kalian selamanya akan dianggap sebagai pemberontak. Saat saya bicara ini belum terlambat untuk menyerahkan diri. Turunkan senjatamu dan kembalilah ke unitmu masing-masing, maka kalian akan dimaafkan [Kawara, 1990:78] Mendengar himbauan itu, tentara-tentara yang terlibat pemberontakan goyah hatinya dan mulai ada yang menyerah. Sampai pukul 11.30 tanggal 29 Pebruari semua tentara pemberontak sudah menyerah kecuali 200 tentara di bawah komando Kapten Andoo di Sannoo-hoteru. Namun tentara Andoo pun pada akhirnya menyerah pada siang hari pukul 14.00. Jadi, pada pukul 14.00 itu tentara pemberontak tidak ada yang tersisa dan semuanya sudah menyerah. Jadi, dari awal sampai akhir para perwira muda yang terlalu muda dan kurang berwawasan luas itu terus menerus dipermainkan oleh para perwira tinggi. 3. Kemarahan Kalangan Perwira Tinggi Angkatan Laut Pada malam hari tanggal 26 Pebruari, kalangan perwira tinggi angkatan laut mengadakan rapat di markas besar angkatan laut. Mereka mengecam tindakan perwira muda yang melakukan aksi pembunuhan terhadap perwira tinggi angkatan laut. Pihak angkatan laut mengritik sikap Menteri Angkatan Darat Kawashima dan Dewan Tertinggi Militer yang mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kehendak kaisar. Mereka menentang tindakan perwira tinggi Koodooha itu yang seakan-akan melecehkan kekuasaan kaisar dengan membuat pernyataan tanpa sepengetahuan Yang Mulia. Menurut penulis, wajar jika kalangan angkatan laut sangat menentang dan mengecam tindakan perwira muda angkatan darat dan pendukungnya. Hal tersebut lebih disebabkan karena di antara enam korban Peristiwa 26 Pebruari, tiga di antaranya (Saitoo, Okada, dan Suzuki) adalah perwira tinggi angkatan laut. 4. Gagalnya Menghubungi Chichibu-no-miya Peran Chichibu-no-miya sangat berarti bagi perjuangan kelompok perwira muda untuk mencapai kemenangan cita-cita restorasi. Hal tersebut bukan hanya karena Chichibu-no-miya
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

13

merupakan pedukung terkuat kelompok perwira muda, tetapi karena dia adalah orang pertama pewaris tahta kerajaan. Dia merupakan calon pengganti Kaisar Hirohito bila Hirohito wafat atau diturunkan dari singgasana. Chichibu-no-miya sangat mengecam keras terhadap pejabat istana yang memanfaatkan lembaga kekaisaran untuk kepentingan pribadi dengan mengabaikan keadaan masyarakat pedesaan yang menderita. Berbeda dengan Kaisar Hirohito yang tidak menginginkan reformasi nasional untuk memperbaiki keadaan negara, Chichibu-no-miya bahkan sangat menginginkan reformasi nasional dengan cara revolusi militer. Pandangan Chichibu-nomiya pada dasarnya sama dengan Nishida yang merupakan teman seangkatannya di Akademi Militer tahun 1920-24 dan Andoo yang merupakan teman sejawat di resimen ketiga tahun 193032. Hubungan dekat Chichibu-no-miya dengan para perwira muda yang radikal itu mendapat tanggapan serius dari kaisar dan para panasehatnya. Akibatnya, pada tahun 1932 ketika Konoe Fumirnaro ingin menyerahkan kursi Ketua Dewan Penasehat Istana (naidaijin) kepada Chichibuno-miya, dengan tegas kaisar menolaknya. Akhirnya dia hanya dijadikan anggota markas besar angkatan darat selama tahun 1932-1935. Perhatian Chichibu-no-miya terhadap tindakan perwira muda juga dibuktikan semasa mereka masih sama-sama di resimen ketiga pada tahun 1930 di Azabu. Chichibu-no-miya pemah mengatakan kepada Letnan Satu Sakai Naoshi bahwa pada saat kalian memberontak, datanglah kepadaku dengan serombongan pasukan [Hane, 1982:50]. Kalangan istana yang mengetahui hubungan dekat Chichibu-no-miya dengan para perwira muda sangat khawatir. Kekhawatiran kalangan istana itu terutama disebabkan ketika itu adanya desas-desus bahwa para perwira muda akan menculik Hirohito dan mengangkat Chichibu-no-miya ke singgasana menggantikan Kaisar Hirohito jika Hirohito tidak merestui cita-cita suci mereka, yaitu Restorasi Shoowa. 5. Simpatisan Aksi di Daerah-daerah Tidak diberitahu Para perwira muda mempunyai banyak simpatisan di daerah-daerah. Simpatisan perwira muda di daerah-daerah tidak diberitahu sama sekali mengenai rencana kudeta itu. Karena itu, tidak heranlah bila berita kudeta kelompok perwira muda pada tanggal 26 Pebruari itu agak mengejutkan para simpatisan mereka di daerah-daerah. Para simpatisan yang mengetahui berita itu dari surat kabar yang terbit saat itu tidak bisa berbuat banyak. Sebelumnya, pada bulan Agustus 1935 Isobe pernah memberitahu Kooga Kiyoshi (pemimpin simpatisan di daerah Kantoo) melalui telepon tentang rencana aksi pembunuhan terhadap penjahat tetapi tidak menyebutkan waktunya. Setelah itu, Isobe tidak lagi menghubungi simpatisan di daerah. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari analisa politik kegagalan para perwira muda dalam Peristiwa 26 Pebruari ini, maka kegagalan aksi perwira muda itu disebabkan oleh lima hal yaitu, I). Sikap kaisar terhadap tindakan perwira muda. Setelah mendengar para pembantu terdekatnya terbunuh, kaisar menunjukkan sikap yang tegas dan marah sehingga dia tidak mendukung perbuatan para perwira muda. II). Sikap perwira tinggi militer. Dalam tubuh petinggi AD sendiri terdapat dua faksi yang bertentangan, yaitu Koodooha yang mendukung perbuatan perwira muda dan Tooseeha yang merupakan faksi penentang. Ketika diadakan rapat Dewan Tertinggi Militer, Koodooha dapat dikatakan menang karena keputusan rapat dewan mendukung aksi perwira muda. Namun, ketika kaisar menolak pengunduran diri kabinet, perwira tinggi Koodooha malah membelot, sedang peran Tooseeha semakin kuat. Perintah kaisar yang resmi sebagaimana 14
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

yang dikehendaki Tooseeha pun dikeluarkan. Perintah yang pada intinya menyuruh perwira muda menarik pasukannya itu membuat para perwira muda terkejut. Mereka merasa dikhianati oleh perwira tinggi militer yang tadinya sudah mendukung. Bahkan sampai di pengadilan pun mereka selalu dipersalahkan sehingga perwira muda dijadikan tumpuan kesalahan oleh kedua faksi yang bertentangan itu. III). Kemarahan kalangan perwira tinggi angkatan laut. Kalangan perwira tinggi angkatan laut tidak bisa begitu saja menerima perbuatan perwira muda yang mencoba membunuh perwira tinggi AL (Saitoo, Suzuki, dan Okada). Para perwira muda yang berupaya mencari dukungan dari kalangan angkatan laut melalui Laksamana Ogasawara pun gagal. IV). Gagalnya menghubungi Chichibu-no-miya. Usaha perwira muda untuk mendapatkan dukungan dariChichibu-no-miya (saudara pertama kaisar) juga gagal. Chichibuno-miya terus dikawal ketat oleh penasehat-penasehat kaisar selama terjadinya Peristiwa 26 Pebruari sehingga para perwira muda tidak berhasil menghubungi Chichibu-no-niya. Bahkan ketika dia tiba di Tookyoo dia terus dikawal secara ketat oleh pasukan pengawal istana dan dikarantinakan di ruang pribadi kaisar sampai pemberontakan selesai. V). Simpatisan aksi di daerah-daerah tidak diberitahu. Para perwira muda tidak memberitahu simpatisan aksi itu karena mereka merasa yakin bahwa aksi itu akan berjalan lancar. Berdasarkan hasil penelitian dan setelah melihat kelima sebab gagalnya Peristiwa 26 Pebruari di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa penyebab kesalahan yang paling menentukan adalah penyebab yang pertama yaitu sikap kaisar. Para perwira muda terlalu terburu-buru tanpa mempelajari situasi dan kondisi dengan seksama termasuk pemikiran kaisar. Ternyata setelah melihat kejadian itu kaisar tidak mendukung tindakan para perwira muda, bahkan dia sangat marah atas tindakan para perwira muda. Kaisar tidak menerima pembunuhan terhadap para pembantu terdekatnya. Ini berarti adanya kesalahpahaman antar perwira muda terhadap pemikiran kaisar. DAFTAR PUSTAKA Gaffar, Affan, Politik Indonesia. Transisi Menuju Demokrasi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 2006 Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik. Indonesia. Pustaka Utama. Jakarta, 2003. Bergamini, David. Japan s Imperial Conspiracy. New York: William and Company, 1971 Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik, Jakarta : Grasindo, 1992 Furukawa Kiyoyuki. Suupaa Nihonshi (Sejarah Jepang Super). Tookyoo : Koodansha, 1991 Moelong, Lexy. Metode Penelitian Sosial, Bandung, Remaja Rusdakarya, 2007 Hiramatsu Ichiroo. Nihonshi-jiten (Kamus Sejarah Jepang). Tookyoo: Tookyoosoogensha, 1990 Imanishi Eezoo. Shoowashi: Ni-ten-ni-roku-jiken zengo (Sejarah Shoowa: Sebelum dan Sesudah Peristiwa 26 Pebruari). Tookyoo : Chuxikoo-bunko , 1975 Sartono Kartodirjo. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum, 1990 Jawara, Toshiki. Hirohito and His Times. Tookyoo: Kodansha International, 1990 Maki, John M. Japans Militarism. New York: Alfred A. Knopf. Inc, 1945 Ookura Eeichi. Ni-ten-ni-roku-jiken e no Banka (Sajak Ratapan untuk Peristiwa 26 Pebruari) Tookyoo: Yumiuri-shinbunsha, 1971 Oouchi Cikara. Fashizumu e no michi (Jalan menuju Fasisme). Tookyoo: Chuuoo kooronsha, 1984
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

15

Sawachi Hisae , 1974. Tsumatachi no Ni-ten -ni-roku-jiken (Peristiwa 26 Pebruari bagi Isteri Perwira Muda). Tookyoo : Chuukoobunko Sasaki Ryuuji. Shoowashino Jiten (Kamus Sejarah Shoowa) Tookyoo : Chuuookooronsha , 1995 Shillony, Ben Ami. Revolt in Japan and The Young Officers. New Jersey: Princeton University Press, 1973 Takahashi Masae. Ni-ten-ni-roku-jiken (Peristiwa 26 Pebruari). Tookyoo : Chuukoo shinsho, 1965 Takahara Tomiyasu. Ichiokunin no Shoowashi- Ni-ten-ni-roku-jiken to Nitchuu sensoo Vol.2. Tookyoo : Mainichi shinbunsha , 1975

16

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

DEMOKRATISASI MEDIA MASSA DALAM PRINSIP KEBEBASAN Jamhur Poti1


Abstract Democratization of the mass media is a central issue in the era of globalization. The development of mass media in various parts of the world so quickly and growing democratization of mass media is relatively new and difficult to measure with political issues, economic, cultural and other. Democracy has become a unity in all community activities such as the freedom to communicate, express and association are rights fundamental as a citizen. Democratization in the perspective of how the mass media of communication associated gain freedom in carrying out its function and role as the press in presenting information, and realize the rights of citizens to obtain information in the space of civil society, including in the freedom to think and act without the intervention and pressure from any party . Due to the freedom think honest communication is achieved, will make public an informative, intelligent and evolved. The silencing of a freedom in the mass media will make people less informative and will become a marginalized community. Keywords; Demokratisasi, Media Massa Pendahuluan Bangsa kita telah melalui tahapan sejarah yang sangat penting dengan melangsungkan pemilihan presiden secara langsung. Namun, ini baru awal. Sangatlah dini mengklaim sukses pemilu sebagai sukses demokratisasi. Pemahaman demokratisasi di negara-negara yang sedang melangsungkan transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi seperti negara kita masih bersifat minimal. Demokrasi dimengerti hanya sebagai pemilihan umum yang berlangsung fair, jujur dan adil. Demokrasi minimalis ini mengabaikan proses di antara pemilihan umum yang satu dan pemilihan umum yang lain. Namun, jika bertolak dari konsep demokrasi itu sendiri, kita tak dapat berhenti pada sikap minimalis. Demokratisasi adalah suatu proses dalam sistem suatu negara menuju bentuk demokrasi, dimana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat dan untuk rakyat. Abraham Lincoln pada tahun 1967, memberikan pengertian demokrasi sebagai Governmens of the people, by the people, and for the people. Demokrasi adalah suatu penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan tanpa demokrasi
1

Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji, saat ini menjabat Pembantu Dekan III

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

17

kreativitas manusia tidak mungkin didapat dan berkembang, secara historis perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme merupakan bagian dari perjuangan demokrasi. Belakangan para tokoh nasional juga memandang bahwa demokrasi merupakan tujuan utama dari perjuangan anti-kolonialisme. Prinsip dasar dari sebuah demokrasi yaitu bahwa demokrasi terkait dengan interaksi sesama manusia dan dalam keterkaitan itu terdapat saling memahami atau mengenal, prinsip tersebut sesuai dengan karakter manusia sebagai homo-social. Demokrasi sebagai suatu sistem telah dijadikan alternatif dalam berbagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara di beberapa negara termasuk memberikan ruang bagi media massa yang bebas untuk menjalankan fungsi persnya. Salah satu konsep dari sistem negara yang yang demokrasi menurut Huntington (2008), yaitu adanya peran media massa yang bebas. Hal yang terkait erat dengan hak publik untuk tahu adalah dengan media massa yang bebas, yaitu surat kabar, televisi, radio dan media baru yang bisa menginvestigasikan jalannya pemerintahan dan melaporkannya tanpa takut adanya penuntutan dan hukuman. Eskalasi demokratisasi media massa dewasa ini begitu cepat, dunia yang begitu luas telah menjadi sebuah desa yang global (global village), apa yang dikemukakan oleh Marshall Mc. Lucham pada tahun 1964, sekarang memang benar-benar menjadi kenyataan. Penduduk dunia saling berhubungan semakin erat dan hampir disemua aspek kehidupan. Dari bertukar informasi, budaya, ekonomi, pariwisata, politik hingga persoalan pribadi, ataupun aspek kehidupan lain. Perkembangan yang signifikan memang berimbas ke media massa yang global seperti; CNN, MTV, CNBC, HBO, BBC, ESPN, dan lain -lain, telah menjangkau dan menembus yuridiksi berbagai negara. Informasi mengalir deras melalui jaringan media global dan kantor-kantor berita internasional, seperti Reuters, UPI, AP, AFP dan lain-lain. Informasi-informasi itu sering dimaknai didalamnya mengandung kebudayaan, maka terjadilah penyebaran budaya, perilaku dan gaya hidup yang global. Perkembangan dan pertumbuhan media massa di Indonesia juga mengalami kemajuan yang sangat signifikan, setelah terjadinya reformasi pada tahun 1997-1998, kemajuan media massa tidak dapat dipisahkan dari perubahan sistem politik disuatu negara. Media massa diharapkan dan yang diandalkan dapat berperan sebagai pengawas (watch dog function) untuk mengungkap kebenaran dan kesalahan yang dilakukan oleh penyelengara pemerintahan atau yang memiliki kekuasaan. Banyak sekali peran yang dapat dilakukan oleh media massa pada suatu negara yang menjamin terhadap kebebasan pers dalam menjalankan fungsinya. akan tetapi kecenderungan beberapa media massa disuatu negara dalam perspektif komunikasi khususnya belum demokratis dan masih bersifat linier dalam menyampaikan arus informasi dari atas ke bawah (top down), agar media massa mampu menjalankan peranannya maka perlu adanya kebebasan pers dalam menjalankan tugas serta fungsinya secara professional. Menurut Denis McQuail, 1987:126), Kebebasan media massa atau pers harus diarahkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan khalayaknya, bukan hanya sekadar untuk membebaskan media massa dan pemiliknya dari kewajiban harapan dan tuntutan masyarakat. Istilah demokratisasi media massa memang relatif baru, dan sulit untuk mengukur dan membatasi secara tegas dengan demokrasi dalam aspek kehidupan sehari-hari yang lain seperti politik, sosial ekonomi dan budaya. Oleh karena itu bahwa karakteristik komunikasi adalah Omnipresent atau ada di mana-mana. Theodorson (1969) juga berpendapat bahwa, Walaupun demokrasi pada dasarnya suatu konsep politik, tetapi dipergunakan juga dalam pengertian filosofis untuk menunjukkan suatu yang melekat erat (inherent) mengenai persamaan, 18
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

kebebasan untuk mendapatkan manfaat dan hak-hak azasi manusia yang fundamental Reformasi di Indonesia yang terjadi pada tahun 1998, merupakan transisi demokrasi dari otoritarian menuju liberatarian, demokrasi di Indonesia di era tahun 1968-1998 cenderung menganut sistem otoritarian dimana media massa dan kebebasan pers dibatasi oleh Undangundang dan peraturan pemerintah dibawah kendali orde baru, sehingga media massa tunduk dibawah kekuasaan pemerintah. Begitu besarnya kontrol pemerintah terhadap media massa pada saat orde baru tersebut, seolah kran-kran pers dikunci rapat oleh pemerintah, akibatnya pers tidak dapat memberikan informasi yang akurat dan terbuka (transparancy) kepada masyarakat, media tidak dapat mengkritik kebijakan pemerintah yang menyimpang, kritik dibungkam dan system oposisi diharamkan, yang ahirnya penyimpangan yang dilakukan pemerintahan itu berakibat seperti semakin merajarelanya koncoisme korupsi, kolusi nepotisme, pembangunan yang tidak merata, bertambahnya kesenjangan sosial, ketika media massa tidak bebas untuk menyampaikan informasi maka pengetahuan masyarakat tentang informasi yang sebenarnya termarjinalisasikan. Kasus yang paling terlihat dengan banyaknya surat kabar dan majalah yang dibreidel, seperti kasus majalah Tempo dan majalah Detik pada tahun 1997, karena tidak tunduk pada pemerintah yang berkuasa, maka kedua koran dan majalah tersebut dibreidel, begitu ketatnya pengawasan pemerintahan yang otoriterian terterhadap kebebasan pers, namun tidak semua hal yang buruk pada teori otoriterian, ada sisi kebaikan yang dapat dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia, meskipun saat itu media massa dan persnya seolah-olah dibungkam dan dikontrol oleh pemerintah yang berkuasa, namun dari sisi ketahanan dan keamanan bangsa terjamin, angka kriminal berkurang, disintegrasi dapat dibilang hampir tidak ada, konflik antar etnis, agama dapat diminimalisir. Kini, berbagai tayangan media massa yang mengungkapkan perilaku pejabat tinggi, kritikan terhadap pemerintah, proses persidangan dapat dilihat oleh masyarakat tanpa ditutup-tutupi, mahasiswa dan masyarakat dapat berdemonstrasi menyampaikan aspirasinya, dan lain sebagainya, sehingga masyarakat semakin cerdas dan kritis. Puncaknya yaitu pemilihan langsung para kepala daerah serta presiden Republik Indonesia. Demokrasi memang identik dengan kebebasan, namun harus dapat dipertanggungjawabkan. Karena demokrasi yang kebablasan akan menimbulkan potensi konflik yang tinggi. Begitu besarnya pengaruh tekanan pemerintah yang menganut system otoritarian terhadap media massa, sulit bagi media massa untuk menghindari campur tangan kekuasaan pemerintah, sebab dalam sistem politik apa pun media massa selalu mendapat kontrol dari pemerintah yang berkuasa, guna mempertahankan kekuasaannya, agar kesalahan-kesalahan yang terjadi dan yang dilakukan oleh pemerintahannya tidak ekpose diruang publik. Belajar dari sejarah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang pernah ada beberapa puluh tahun yang lalu, demokrasi menjadi sistem alternatif yang dipilih oleh beberapa negara yang sudah maju. Demokrasi sebagai suatu sistem telah dijadikan alternatif dalam berbagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara di beberapa negara termasuk memberikan ruang bagi media massa yang bebas untuk menjalankan fungsi persnya. Gambarannya adalah pemerintah tidak dapat mengontrol apa yang ditulis atau disiarkan oleh media massa, dan pemerintah tidak dapat menjebloskan orang ke dalam penjara karena pandangannya. Tanda yang paling jelas dari suatu rezim yang tidak demokratis adalah pelanggaran akan hak-hak yang fundamental. jika gagasan-gagasan mengalir secara bebas tetapi tidak menyentuh kehidupan rakyat, jika pers independent dari pemerintah tetapi dipenuhi oleh hal-hal yang tidak prinsip, jika lapangan publik terbuka tetapi juga kosong maka demokrasi dapat tergerus sebagaimana tentunya
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

19

ia akan runtuh ketika hak-hak fundamental dilarang. Begitu besarnya peran yang dimainkan oleh media massa, sehingga media massa ditempatkan menjadi pilar keempat setelah legislatif, eksekutif dan yudikatif dalam sebuah negara yang menganut sistem demokrasi. Akan tetapi pada realitasnya saat ini peran media massa tidak jarang justru menjadi bias, karena apa yang disuguhkan oleh media massa itupun sarat dengan kepentingan. Media massa tidak selamanya jujur tapi mengandung pesan tertentu. Kebebasan media massa saat ini telah menjadi kebablasan, contoh kecil maraknya majalah orang dewasa (porno) yang di jual bebas hingga anak di bawah umur pun dapat membelinya, hal ini justru mempengaruhi moral generasi bangsa yang semakin buruk bahkan ada yang berakhir ke tindakan pencabulan, kriminalitas yang di lakukan anak di bawah umur. Kasus lain yang pernah hangat-hangatnya adalah berita sengketa perbatasan dengan negara tentangga seperti dengan negara Malaysia, pemberitaan yang secara berturut-turut di ekspos media massa hingga terjadinya demontrasi yang dilakukan mahasiswa untuk mengkritik pemerintah Indonesia agar bertindak tegas kepada pemerintahan Malaysia, namun alih-alih justru terjadi aksi anarkis yang di lakukan mahasiswa dengan aparat kepolisian di negeri sendiri. Kebebasan bukan segala-galanya atau bukan tanpa batas, sama halnya dengan demokrasi. Demokrasi juga membutuhkan tegaknya tatanan hukum dan ketertiban, tanpa semua itu, demokrasi menjadi tidak mungkin. Semestinya kebebasan hak-hak untuk berkomunikasi yang disampaikan oleh media massa tetap menjadi sarana utama dan eksklusif bagi tindakan sistem politik. Sistem politik suatu negara sangat menentukan bagaimana sistem media massa tersebut berperan, yang pasti sangat dipengaruhi oleh ideologi yang dalam arti luas sering disebut filsafat sosial. Menurut Ati Rahmiati, (2007), dalam filsafat sosial hubungan manusia dengan negara di bagi menjadi 2 (dua) yaitu : 1. Rasional: hubungan manusia dan negara ligaliter atau setara, dalam hal ini manusia mampu eksis secara individu, maka dari itu ia menuntut kebebasan yang sebebas-bebasnya, namun demikian pada umumnya manusia selalu menempatkan dirinya secara proposional, tahu kapan saatnya untuk bebas dan tidak. 2. Absolutisme: Cara pandang manusia yang tidak akan eksis bila tidak ada kelompok. adanya sistem otoritarian, manusia tidak ada apa-apanya tanpa kelompok. Contoh nyata sistem otoritarian di terapkan di negara Malaysia. Dapat diambil kesimpulan bahwa sistem media massa dipengaruhi oleh sistem sosial politik dan filsafat sosial (rasionalisme dan absolutisme), Kini, berbagai tayangan media massa yang mengungkapkan perilaku pejabat tinggi, kritikan terhadap pemerintah, proses persidangan dapat dilihat oleh masyarakat tanpa ditutup-tutupi, mahasiswa dan masyarakat dapat berdemonstrasi menyampaikan aspirasinya, dan lain sebagainya, sehingga masyarakat semakin cerdas dan kritis. Puncaknya yaitu pemilihan langsung para kepala daerah serta presiden Republik Indonesia. Demokrasi memang identik dengan kebebasan, namun harus dapat dipertanggungjawabkan. Karena demokrasi yang kebablasan akan menimbulkan potensi konflik yang tinggi. Demokratisasi Untuk mengetahui arti demokratisasi, dapat dilihat dari dua sisi tinjauan yaitu tinjauan bahasa (etimologis) dan tinjauan istilah (terminologis). Secara etimologis demokrasi terdiri dari dua 20
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat, dan cratein atau cratos yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara bahasa demos-cratein atau demos-cratos (demokrasi) adalah keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Pada abad ke-20, demokrasi sudah digunakan dalam sistem politik. Sistem itu dipilih melalui pemilihan umum yang adil, jujur, dan berkala, dan didalam sistem itu para calon secara bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir semua penduduk dewasa berhak memberikan suara. Dengan demikian menurut definisi diatas, demokrasi mengandung dua dimensi, yaitu kontes dan partisipasi. Menurut Affan Gaffar (2000:3) memaknai demokrasi dalam dua bentuk, yaitu pemaknaan secara normatif (demokrasi normatif) dan empirik (demokrasi empirik). Demokrasi normatif adalah demokrasi yang secara ideal hendak dilakukan oleh sebuah negara. Sedangkan demokrasi empirik adalah demokrasi yang perwujudannya telah ada pada dunia politik praktis. Demokrasi empirik dianggap diterima oleh masyarakat karena dirasakan sesuai dengan normanorma yang ada dalam masyarakat selama ini. Sementara Robert Dahl mengatakan, hal yang paling menentukan juga bagi sistem dalam demokrasi adalah bagaimana masyarakat untuk mengimplikasikan hak-hak fundamental seperti adanya kebebasan untuk berekpresi, berkomunikasi, berkumpul, dan berorganisasi, yang dibutuhkan bagi perdebatan politik dan pelaksanaan kampanye-kampanye pemilihan itu. Theodorson (1969) juga sependapat, walaupun demokratisasi pada dasarnya suatu konsep politik, tetapi dipergunakan juga dalam pengertian filosofis untuk menunjukkan suatu yang melekat erat (inherent) mengenai persamaan, kebebasan untuk mendapatkan manfaat dan hak-hak azasi manusia yang mendasar, seperti kebebasan untuk berkomunikasi dan berkepresi. Demokratisasi merupakan tema sentral yang sudah menjadi isu globalisasi dalam perubahan ekonomi-politik dunia dewasa ini, yang didalamnya tercakup berbagai persoalan yang saling terkait antara satu sama lainnya. Sebagai suatu tema sentral demokratisasi telah menjadi objek studi yang sangat luas pembahasannya, ada yang menekankan pada pendekatan atau masalah nilai dan budaya (Almond, Verba, 1984). Sementara Demokratisasi menurut Charles Tilly, 2011. Adalah perubahan dari suatu rejim, sebagaimana schema yang tergambar di bawah;

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

21

Sumber : Charles Tilly, 2011 Mahfud MD (1999:2) membenarkan pandangan di atas, yaitu bahwa terdapat dua alasan mengapa negara lebih memilih demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara, yaitu: 1. Hampir semua negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai asas yang fundamental; 2. Demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah memberikan arah bagi peran masyarakat untuk menyelenggarakan negara sebagai organisasi tertingginya. Karena itulah diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar kepada warga masyarakat tentang demokrasi. Pemahaman mengenai demokrasi di Indonesia mungkin belum sepenuhnya dikuasai dan dimengerti oleh masyarakat. Beberapa konflik di Indonesia terjadi karena pihakpihak yang terkait merasa memiliki kebebasan terhadap hak-hak yang fundamental seperti hak untuk mendapatkan dan menyampaikan informasi. Demokratisasi dalam konteks komunikasi selalu dikaitkan dengan bagaimana warga negara dapat merealisasikan atau mewujudkan hak-hak sebagai kewarganegaraannya. Demokratisasi sangat berkaitan dengan kebebasan berkarya dan berekpresi individu dalam ruang civil society, 22
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

termasuk di dalamnya, antara lain kebebasan untuk berkomunikasi, kebebasan berpikir dan beragama kebebasan untuk berpendapat dan berasosiasi serta kebebasan untuk memiliki dan mengatur kepemilikannya. Sebaliknya, demokratisasi lainnya dapat berbagi perspektif politik menempatkan nilai lebih pada keselarasan antara masyarakat dan pimpinan lembaga negara dengan cara terpercaya, prioritas kepentingan tentang hak-hak masyarakat dan kekuasaan negara untuk membuat undang-undang yang dianggap perlu. dengan kondisi-kondisi yang menjamin setiap warga negara bebas dalam penggunaan kekuatan politik dengan menguasai lembaga negara. (McQuail, 2001, Huntington, 2001) Berbicara tentang kebebasan berkomunikasi, berekpresi dengan kontek media massa dalam menjalankan peran dan fungsinya, sebagai landasan dari sistem press dunia Four Theories of The Press oleh Fred S.Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm,1956 (dalam Empat Teori Press,1986:8), yang mengkategorikan teori-teori pers didunia dalam empat teori pers, yaitu: teori press otoriter, teori pers bebas (liberatarian), teori pers bertanggungjawab sosial dan teori pers komunis Soviet. Empat teori pers tersebut secara umum sudah banyak menjadi tulisan dan pembahasan. Kemudian McQuail (1991:95), menambahkan 2 teori pers lagi, yaitu teori pers pembangunan dan teori pers partisipan demokratik. Teori pers pembangunan oleh McQuail dikaitkan dengan negara-negara dunia ketiga yang tidak memiliki ciri-ciri system komunikasi yang sudah maju Pada tahun 1967, dengan berdirinya Press Foundation of Asia menawarkan konsep jurnalisme pembangunan yang mendapat sambutan bagi negara-negara berkembang. Unsur positif dari pers pembangunan, bahwa pers harus digunakan secara positif dalam pembangunan nasional.,untuk otonomi dan identitas kebudayaan nasional. Teori pers keenam, teori pers partisipan demokratik. Teori ini lahir pada masyarakat liberal yang sudah maju. Lahir sebagai reaksi atas komersialisasi dan monopolisasi media yang dimiliki swasta dan sentralisme dari birokratisasi institusi-institusi siaran publik yang timbul dari tuntutan norma tanggungjawab sosial.(McQuail,1991:121). Inti dari demokratisasi terletak pada kebutuhan-kebutuhan, kepentingan dan aspirasi pihak penerima pesan komunikasi dalam masyarakat politis. Prinsip ini menyukai baragaman, skala kecil, lokalitas, de-institusionalisasi, kesederajatan dalam masyarakat dan interaksi. Pers selalu mengambil bentuk dan warna struktur-struktur sosial politik di mana pers itu beroperasi. Untuk melihat perbedaan dan perspektif di mana pers berfungsi, harus dilihat asumsiasumsi dasar yang dimiliki masyarakat itu mengenai: hakikat manusia, hakikat masyarakat dan negara, hubungan antara manusia dan negara, hakikat pengetahuan dan kebenaran. Pada akhirnya perbedaan antara system pers merupakan perbedaan filsafat yang mendasarinya. Demokratisasi di Indonesia. Perkembangan demokrasi di Indonesia saat ini, sangat berpotensi menjadi kiblat demokrasi di kawasan Asia, berkat keberhasilan mengembangkan dan melaksanakan sistem demokrasi. mantan wakil perdana menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, (2010), menyebutkan bahwa demokrasi telah berjalan baik di Indonesia dan hal itu telah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan populasi 4 besar dunia yang berhasil melaksanakan demokrasi. Hal ini juga membuat Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia yang telah berhasil menerapkan demokrasi. Anwar Ibrahim, juga berharap agar perkembangan ekonomi juga makin meyakinkan sehingga demokrasi bisa disandingkan dengan kesuksesan pembangunan. Hal tersebut tentunya bisa terjadi bila demokrasi dapat mencegah korupsi dan penumpukan kekayaan hanya pada elit tertentu. Demokrasi, menurut Anwar Ibrahim, adalah pemberian kebebasan kepada warga negara,
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

23

sedangkan kegagalan atau keberhasilan ekonomi menyangkut sistem yang diterapkan. Demokrasi di Indonesia memberikan harapan akan tumbuhnya masyarakat baru yang memiliki kebebasan berpendapat, berserikat, berkumpul, berpolitik dimana masyarakat mengharap adanya iklim ekonomi yang kondusif. Untuk menghadapi tantangan dan mengelola harapan ini agar menjadi kenyataan dibutuhkan kerjasama antar kelompok dan partai politik agar demokrasi bisa berkembang ke arah yang lebih baik.(Amartya Zen, 2010). Demokrasi pada saat ini belum dapat memberikan suatu perubahan yang berarti bagi masyarakat Indonesia, namun demikian, demokratisasi yang sedang berjalan di Indonesia memperlihatkan beberapa kemajuan dibandingkan masa-masa sebelumnya. Pemilihan umum dengan diikuti banyak partai adalah sebuah kemajuan yang harus dicatat. Disamping itu pemilihan presiden secara langsung yang juga diikuti oleh pemilihan kepala daerah secara langsung adalah kemajuan lain dalam tahapan demokratisasi di Indonesia, kebebasan informasi, mengeluarkan pendapat dan menyampaikan aspirasi masyarakat juga semakin meningkat. Para kaum yang termarjinal juga mampu menyuarakan keluhan mereka di depan publik sehingga masalah-masalah yang selama ini terpendam dapat diketahui oleh publik. Pemerintah pun sangat mudah dikritik bila terlihat melakukan penyimpangan dan bisa diajukan ke pengadilan bila terbukti melakukan kesalahan dalam mengambil suatu kebijakan publik. Peran Media Massa Peran kedua adalah mendidik (to educate). Lewat pemberitaannya, pers mencoba memberi pencerahan, mencerdaskan, dan meluaskan wawasan khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsanya. Dalam konteks politik, pers memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, menyadarkan mereka akan hak dan kewajibannya sebagai warga. Peran ketiga adalah menghibur (to entertain). Hal-hal yang bersifat menghibur sering kita temukan di media massa seperti: berita seputar selebritis, teka-teki silang, cerita bersambung, dan lain-lain sebagai selingan dari berita-berita berat yang lain. Peran keempat adalah mempengaruhi (to influence). Media yang independen dan bebas dapat mempengaruhi dan melakukan fungsi kontrol sosial (social control). Yang dikontrol bukan cuma penguasa, pemerintah, parlemen, institusi pengadilan, militer, tetapi juga berbagai hal di dalam masyarakat itu sendiri. Seperti yang dikatakan Deddy Mulyana, (2001:121), media massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak tentang dampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi, sikap dan perilaku masyarakat. Media massa merupakan agen sosialisasi (penyebaran nilai-nilai) memainkan peranan penting dalam transmisi sikap (behaviour), pikiran (cognitifve) dan hubungan (interaksional). Konsep kebebasan pers sangat tergantung pada sistim politik dimana pers itu berada. Dalam negara komunis atau otoriter, kebebasan pers dikembangkan untuk membentuk opini yang mendukung penguasa. Sedangkan dalam negara liberal atau demokrasi, kebebasan pers pada prinsipnya diarahkan untuk menuju suatu perubahan masyarakat yang sehat, cerdas bebas berpendapat dan berdemokrasi. Hasil penelitian Freedom House, (2008). Cina adalah salah-satu contoh negara yang paling tidak demokrasi dalam kebebasan pers, menurut penelitian dari 189 negara yang diurutkan posisi kebebasan persnya, Cina berada di peringkat ke 181, selain terus mengendalikan media siaran dan media cetak, pemerintah Cina bahkan memperketat tekanan terhadap media baru (new media) seperti internet dan media massa yang baru saja berkembang termasuk Twitter, Google, Yahoo dan lainnya. Sementara itu, menurut hasil survey Reporters Without Borders, 24
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

2008. Indonesia menduduki posisi kedua di ASEAN dalam rangking kebebasan pers, namun diukur peringkat seluruh dunia Indonesia menempati posisi ke 117, sedang Singapura berada diperingkat ke 136, Malaysia berada pada peringkat ke 141 dan Thailand peringkat ke 153, Philipina jauh ketinggalan berada lebih rendah yaitu pada urutan 156. Namun yang sangat mengejutkan negara Timor Leste meskipun baru beridiri melalui sebuah proses referendum berpisah dengan negera Indonesia menduduki posisi paling tinggi di Asia tenggara (ASEAN) dan berada di posisi ke 93 untuk seluruh dunia. Salah satu alasan untuk menilai kebebasan pers di Indonesia termasuk yang baik diperingkat Asia Tenggara (ASEAN) ialah karena setelah terjadinya reformasi di Indonesia pada tahun 1998, tidak lagi terjadi tekanan dan pengendalian oleh negara terhadap pers. Meskipun Indonesia telah mengadopsi berbagai instrumen hukum dan regulasi yang menuju demokrasi untuk menjamin kebebasan pers, namun ancaman terhadap kemerdekaan dan kebebasan pers tidak serta merta lenyap dan berakhir. Ancaman tersebut masih saja terjadi bisa berasal dari pemerintahan yang korup maupun dari masyarakat yang tak paham peran dan fungsi pers, berbagai ancaman terhadap demokrasi media massa dan pers juga berasal dari kepentingan politik, kepentingan ekonomi dan kepentingan pemilik (Owner) juga tidak bisa dipungkiri. Fenomena menarik yang juga harus dicermati beragam ancaman itu justru dilakukan melalui mekanisme hukum yang sah atau regulasi, seperti lewat proses legislasi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau melalui pengadilan (justice). Di sisi lain mekanisme non hukum dan upaya pembungkaman pers lewat kekerasan terhadap editor terus juga terjadi, merupakan penghambat terjadinya proses demokrasi dalam media massa. Sementara itu kebebasan pers di Cambodia tidak hanya dijamin oleh konstitusi negara tapi juga oleh Undang-Undang Pers yang disahkan pada tahun 1995. beberapa pasal dalam UU Pers menyatakan negara berhak membatasi kebebasan pers dan menindak media massa yang terbukti bersalah menurut hukum. Kasus kebebasan pers di Cambodia masih terancam oleh banyak hal, seperti banyaknya kasus pencemaran nama baik. Berdasarkan laporan Club of Cambodian Journalist (CCJ), dalam kurun waktu Mei 2005-Mei 2006, enam jurnalis digugat melakukan pencemaran nama baik, termasuk satu orang yang dijebloskan ke penjara. Di tahun berikutnya 2006-2007, dalam periode yang sama empat kasus serupa menimpa jurnalis lain namun untungnya mereka tidak ditangkap. Hingga saat ini, laporan periode ini belum dipublikasikan. (Pa Nguon Teang Direktur Program Radio Voice of Democracy (VOD), Cambodia, 2008). Namun berbeda menurut, Jim Nolan, Barrister at Law, Sydney Australia (2007), Australia adalah sebuah negara yang tegas serta kaya, dan menganut demokrasi parlementer federal dengan pers bebas yang sedang berkembang. Meskipun muncul kekuatiran mengenai kepemilikan media massa yang terkonsentrasi dalam suatu keluarga atau kelompok, dan adanya beberapa perubahan terkini undang-undang dan regulasi media massa yang mungkin semakin mengkonsentrasikan kepemilikan tersebut. Munculnya media baru (internet), tentu saja membuat peran pers meningkat pesat. Demikian pula perkembangan sejumlah suara-suara independen yang memiliki akses dengan audiensnya, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan beberapa tahun sebelumnya. Tak ada keraguan bahwa pengaruh internet, pada gilirannya berdampak pada pers, radio dan televise mainstream. Dampak internet memang belum mendeterminasi media-media mainstream dalam skala besar namun secara umum kondisi ini telah meningkatkan kebebasan pers dan media massa serta kebebasan berbicara di Australia. Hal lain yang menjadi perhatian media massa dan pers di Australia adalah minimnya undang-undang perlindungan
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

25

jurnalis dimana undang-undang menyediakan tingkat perlindungan yang lebih besar, yang mengizinkan jurnalis tidak mengungkapkan nara sumber mereka di pengadilan atau pemeriksaan pendahuluan lainnya, di Indonesia lebih di kenal dengan perlindungan terhadap nara sumber. Demokratisasi Media Massa Media massa sekarang kini telah masuk dalam arus globalisasi yang mana media massa bersifat universal dan tiada mengenal batas wilayah dan hukum suatu negara. Jenis dan fungsinya juga semakin canggih sehubungan dengan perkembangan arus modenisasi dan tekhnologi pada masa kini. Media sebaran sudah dianggap sesuatu yang lazim yang selaras dengan kemajuan masyarakat manusia modern (Spark, 2000, Chan, 2001). Media massa dapat diklasifikasikan kepada dua kategori yaitu media cetak dan media elektronik. Media cetak terdiri daripada sumber bertulis seperti surat kabar, majalah, buku dan bahan percetakan yang lain, sedangkan media elektronik pula terdiri daripada televisi, radio, internet blog, telefon seluler dan sebagainya. Salah satu bentuk media massa yang paling dominan sekaligus memiliki kekhasan, adalah media penyiaran, khususnya televisi. Penyiaran menggunakan ranah publik, yaitu frekuensi yang jumlahnya terbatas, sehingga diperlakukan secara berbeda dengan media cetak. Penyiaran senantiasa sarat dengan aturan highly regulated, baik infrastruktur maupun isinya. (McQuail, 2002: 207). Media massa merupakan pilar keempat setelah eksekutif, legilslatif dan yudikatif dalam sistem negara yang menganut demokrasi. Media massa berperan sebagai pengawas (watch dog function) yang dapat diandalkan untuk mengungkap kebenaran dan kebohongan serta kecurangan yang dilakukan oleh penyelengara pemerintahan atau yang memiliki kekuasaan. Media massa juga merupakan sebagai penyaluran informasi (to inform) yang benar dan terpercaya, agar masyarakat mendapatkan pengetahuan dan mengetahui perkembangan terkini. Banyak sekali peran yang dilakukan oleh media massa dalam menjalankan fungsi pers dalam mewujudkan system negara yang demokrasi. Perkembangan media massa di Indonesia setelah terjadinya reformasi pada tahun 1998 mengalami peningkatan dan perkembangan yang sangat signifikan. Sejak akhir 1980-an dan awal 1990-an, perkembangan lembaga media massa khususnya televisi dan radio (broadcast) sudah mulai berlangsung di mana-mana. Perkembangan tersebut sebagai cerminan berlangsungnya proses demokratisasi dalam sistem penyiaran Indonesia. Dalam hal ini, apa yang terjadi dalam sistem penyiaraan nampak sebagai sesuatu yang tak terlepas dari dan bahkan mengawali sebuah gelombang kebebasan, dalam sistem media massa di Indonesia sejak tahun 1990-an yang dianggap memiliki sumbangan penting dalam membawa Indonesia masuk ke dalam era reformasi informasi. Kecenderungan beberapa media massa disuatu negara dalam perspektif komunikasi khususnya belum demokratis dan masih bersifat linier dalam menyampaikan arus informasi yaitu dari atas ke bawah (top down communication). Namun, agar media massa dikatakan demokrasi dalam menjalankan peranannya terutama dalam menunjang menyampaikan informasi, maka perlu adanya kebebasan pers dalam menjalankan tugas serta fungsinya secara professional. (McQuail, 2002: 208). Prinsip Kebebasan Kebebasan pers yang awalnya cenderung hanya diartikan sebagai kebebasan untuk menyebarkan informasi dan pikiran-pikiran melalui media massa tanpa adanya kekangan dari 26
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

penguasa, kini berkembang tidak hanya freedom from namun bebas untuk freedom for. Kebebasan pers mencakup kebebasan eksternal dan kebebasan internal. Kebebasan eksternal adalah jaminan kemeredekaan bagi pers untuk menyiarkan dan menulis berita tanpa ada intervensi pihak lain. Sementara kebebasan internal adalah kebebasan pers dalam menulis dan menyiarkan berita tanpa ancaman dari dalam, yaitu pihak birokrasi media itu sendiri secara institusional. Kebebasan pers dapat menjadi sarana public empowerment, karena menghendaki peran serta masyarakat sebagai kekuatan sosial, didukung pemodal sebagai kekuatan ekonomi, serta negara dan aparaturnya sebagai kekuatan politik untuk turut membangun dan mendorong demokratisasi pers. (Werner J. Severin & James W. Tankard, 2005:373). Kebebasan pers juga tidak hanya berarti kebebasan satu arah dari pihak media atau peran pers saja, namun menjamin keterlibatan masyarakat untuk menggunakan hak-hak sebagai wargenegara apabila merasa dirugikan oleh pers. Kebebasan pers pada gilirannya akan menumbuhkan enlightened understanding dari persoalan-persoalan publik hingga persoalan politik. Melalui pers, masyarakat dapat berpartisipasi secara efektif mempengaruhi agenda publik. Selain itu, lewat upaya pencerdasan, kesadaran masyarakat terhadap hukum semakin tinggi dan tidak akan mudah menempuh jalan main hakim sendiri, termasuk terhadap pers. John Stuart Mill, (2000:15), berpendapat bawa manusia harus bebas untuk bertindak berdasarkan pendapat mereka tanpa halangan apapun baik yang bersifat fisik maupun moral dari pihak manapun. Tentu saja kebebasan disini bukanlah perpanjangan hak untuk menyakiti orang lain, bahkan kebebasan berbicara harus dibatasi dalam keadaan tertentu dimana ekspresi kebebasan tersebut bukan pancingan terhadap tindakan yang merusak. Berbagai karakter dan pengalaman dalam hidup harus memiliki ruang tertentu sehingga hanya mempedulikan urusan pribadi masing-masing atau urusan terhadap yang lain yakni kebebasan, sukarela, perhatian dan partisipasi yang jujur. Aturan individu mengenai perilaku juga harus berdasarkan kepada karakter masing-masing dan bukan kepada tradisi atau adat kebiasaan orang lain. Dengan demikian prinsip dari suatu kebebasan adalah, tidak adanya perampasan hak-hak individu warganegara, terwujudnya masyarakat yang madani (civil-society), Perampasan dari kebebasan membuat mustahil komunikasi dan informasi akan asli, dan yang pertama tanda dari penindasan pada semua masyarakat biasanya pemendekan dari kebebasan berbicara, pembungkaman dari orang-orang seperti suatu format dari hukuman, atau masih lebih buruk, pembatasan penyendiri, tetapi kebebasan haruslah menjadi bagian dari hidup individu sebagai kebebasan untuk berpartisipasi, kebebasan untuk menjadi bagian dari satu bangsa dan dari keluarga manusia, kebebasan untuk membentuk satu kolektif. Dalam Undang-Undang negera RI Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, telah melakukan reformasi penyiaran dari sentralistik ke desentralisasi. Spirit dari undang-undang ini hendak mewujudkan demokratisasi penyiaran sesuai dengan asas diversity of ownership dan asas diversity of content. Dengan begitu, kita telah meninggalkan fase yang menempatkan pengaruh negara (state-centered) yang begitu dominan dan fase yang melulu diarahkan pada mekanisme pasar (market-centered). Regulasi penyiaran kita saat ini diharuskan mengabdi pada kepentingan publik (public-centered), mengingat penyiaran merupakan industri yang mempergunakan ranah publik (public domain) yang mesti diabadikan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Kesimpulan : Ekspektasi dan euforia terhadap media massa dalan menjalankan kebebasan fungsi persnya
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

27

di Indonesia setelah reformasi 1998 medapat angin segar, setelah pemerintah membubarkan departemen penerangan pada masa kekuasaan rezim Orde baru yang selama 32 tahun menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kalangan media massa dan pers. Kini media massa apakah itu media cetak dan media elektronik berkembang sangat signifikan seperti cendawan tumbuh dimusin hujan. Pertumbuhan media massa setelah reformasi menandakan telah terjadi perubahan yang mendasarkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini, terjadinya demokratisasi dalam sistem negara Indonesia, yang dulu pengaruh negara (state) terhadap media massa begitu dominan sekali, kepemilikan media massa dibatasi hanya kepada orang-orang atau kolega yang berada dilingkungan yang dekat dengan kekuasaan saat itu, isi pemberitaan dibatasi (censor) dan tidak semua apa yang menjadi kebutuhan publik dapat dipublikasikan oleh media, media massa tidak berfungsi dan berperan sebagaimana mestinya, media massa tidak bebas sebagai social-control, sehingga terjadi pemerintahan yang mengarah pada sistem otoritarian, media massa yang kritis terhadap jalannya pemerintahan saat itu dibredel, tidak ada opsisi, pengetahuan masyarakat terhadap pembangunan dan perkembangan termarjinalisasi, sehingga terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme. Akan tetapi dari segi keamanan dan kenteraman masyarakat dan negara dapat dirasakan. Buah dari hasil dari reformasi tersebut terjadi kebebasan (liberty) terhadap media massa, regulasi terhadap kehadiraan media massa dialihkan kepada masyarakat (public), terutama lembaga penyiaran seperti rado dan televisi diharuskan untuk dapat memberikan kontribusi terhadap kesejateraan dan kemakmuran masyarakat. Media massa diberi ruang yang bebas dalam menjalankan peran dan fungsi persnya, hanya dengan kebebasan berkomunikasi dan berkepresilah informasi yang benar terwujud, tidak boleh lagi terjadi pressure dan orang dipanjara karena perbedaan pendapat. Masyarakat harus mendapatkan hah-hak yang fundamental, sebagai masyarakat yang madani (civil-society). Akan tetapi kebebasan bukanlah suatu kebebasan yang tidak ada batasannya, kebebasan harus diartikan saling ada penegrtian dan saling memahami hak-hak sebagai antar warganegara, tidak boleh terjadi tirani hak antara mayoritas dan moniritas, akan tetapi yang minoritas harus merasa dilindungi oleh yang mayoritas, tidak terjadi perampasan hak asazi masing-masing individu. Saat ini kebebasan yang terjadi sudah kebablasan, informasi yang disampaikan oleh media massa saat ini sudah menjadi hyperrealitas, yang memiliki tujuan membentuk persepsi yang cenderung palsu (seolah-olah mewakili kenyataan). Opini yang kadang-kadang dibentuk oleh media massa saat ini sudah mengarah kepada suatu penghakiman (justice), Inikah wajah dari sebuah demokratisasi media massa yang diharapkan.

28

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

DAFTAR PUSTAKA Almond, Gabriel, dan Sidney Verba. Budaya Politik: Tingkah Laku Politik dan Demokratisasi di Lima Negara. Jakarta: Bina Aksara,1984. Affan Gaffar. Demokrasi Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan. Politekhnik-Bandung, 1999. Altschull, J. H.. Agents of Power: The Role of the, News Media in Human Affairs. New York: Longman, 1984 Atie Rahmiatie. Radio Komunitas Eskalasi Demokratisasi Komunitas, Remaja RosdakaryaBandung, 2007 Bourdieu, P., On Television: New York: The new Press, 1998 Burhan, Bungin. Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, KencanaJakarta, 2006 Colin Sparks, Democratisation and the Media, A Preliminary Discussion of Experirences in Europe and Asia, in Jurnal the Public vol.8 (2001),4,7-30. University of Westminster, 2001 Charless Tilly. Processes and Mechanisms of Democratization, Source: Sociological Theory, Vol. 18, No. 1 (Mar., 2000), pp. 1-16, Published by: American Sociological Association, 2000 Deddy Mulyana. Nuansa-Nuasa Komunikasi; Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer, Remaja Rosdakarya-Bandung, 2001 Dominick, Joseph R. The Dynamics of Mass Communication, Third edition McGraw-Hill Publishing Company, 1990 Dahl, Robert. Democracy, Identity, and Equality (Oslo: Norwegian University Press, 1986 Fred S.Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm,1956 (dalam, Fours Theori Press ,1986:8), John Stuart Mill, On Liberty and Utilitarianism, New York: Bantam Books, 2002 McQuail, Denis. McQuails. Mass Communication Theory. Third Edition. London: SAGE Publications, 2002 Mc Quail, Denis. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Edisi Kedua, Jakarta, Erlangga,1991 Mahfud, MD. Demokrasi Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan. Politekhnik-Bandung, 1999 Severin, Werner, james W. Tankard Jr. Communication Theoires. Five Edition, Addison Wesleyn Longman Inc.Jakarta-Kencana, 2005 http://www.freedomhouse.org tgl 25 Agustus 2011 hhh://www.id.wikipedia.org/wiki/demokrasi. 20 Agustus 2011

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

29

PERGESERAN PERAN IDEOLOGI DALAM PARTAI POLITIK Imam Yudhi Prasetya1

Abstract Paost-political reformation was big change on the politic system in Indonesia, especialy political partys emerged. Changed of single principle on politic that is given political partys space for being except ideology of Pancasila. Then with maked direct general elections constituion on central or local government that is given colour an in self on politic. Be side it, participants of general elections than caused smallest chance to politic partys emerged to acquired absolute vote and thing will dificulty for politic partys to reach or hold of power. On reality coalition is not only inter party with the same ideology but is diferent ideology that is can be occure as long as advantage from power aspect. As temporariness writer conlcusion, figure become central politic activity be cause politic party trade on figure than trade on work program as fascination politic partys. Keyword: ideology, politic party Pasca reformasi gairah perpolitikan di Indonesia mulai berkembang lagi, partai politik yang dulu tidak berdaya ketika berhadapan dengan penguasa mulai saat itu mulai menampakkan kekuatanya sebagai pengontrol jalannya kekuasaan. Sebenarnya gairah seperti ini pernah muncul diawal kemerdekaan sebagai buah dari revolusi panjang sebuah negara dalam melawan penindasan kolonial. Euforia kebebasan politik waktu itu sangat tergambarkan oleh muncul banyak sekali partai politik dengan segala identitasnya. Banyak kalangan yang menilai bahwa pemilu pertama merupakan pemilu yang paling demokratis, dengan banyaknya peserta pemilu dan asas jurdil yang relatif bisa dipertanggung jawabkan karena penguasaa belum mempunyai kekuasaan dalam mempengaruhi jalannya pesta demokrasi dan hal seperti ini yang pada saat sekarang menjadi persoalan tersendiri dimana penguasa masih dapat mempengaruhi proses pemilu, baik melalui mobilisasi pemilih untuk memilih partai penguasa, politik uang, permainan data pemilih dan juga permainan dari penyelenggara pemilu sendiri dalam memenangkan kandidat (Pemilu Legislatif) tertentu. Saat pemilu pertama pada tahun 1955 diikuti oleh 172 partai politik, hal ini menunjukan bagaimana eforia kebebasan berpolitik benar-benar terjadi setelah lamanya terbelenggu oleh penjajahan. Dibawah Orde Baru partai politik hanya dijadikan legitimasi penguasa saat itu untuk memperlihatkan pada dunia internasional bahwa Indonesia taat dalam menjalankan asas demokrasi, dimana partai politik merupakan salah satu pilar atau penanda bahwa demokrasi itu ada di negara tersebut. Partai tidak berdaya ketika berhadapan dengan penguasa, partai politik
1

Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

30

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

tidak bisa memainkan perannya sebagai alat kontrol bagi penguasa, partai politik tidak bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang menginginkan perubahan. Bahkan adanya yang menyebutkan bahwa partai saat itu (nonGolkar) seperti PPP diartikan sebagai partai pelengkap pembangunan, sedangkan PDI dikatakan sebagai partai damai itu indah. Pandangan itu sangat wajar ketika parti tersebut tidak mempunyai kekuatan apapun untuk mempengaruhi kebijakankebijakan penguasaa saat itu. Bagaimana tidak, penguasa mampu mengendalikan partai-partai tersebut dengan mempengaruhi pemenangan elit partai yang akomodatif terhadap pemerintah untuk menjadi ketua umum partai. Kasus Partai Demokrasi Indonesia merupakan contoh yang paling jelas. Dalam tubuh partai tersebut berulangkali terjadi konflik, dan konflik itu merupakan rekayasa dari pemerintah melalui aparatnya untuk melemahkan partai dan mencari pengurus yang akomodatif terhadap Soeharto. Berulangkali konflik internal terjadi, sejak masa kepemimpinan Sanusi Hardjadinata, yang kemudian berlanjut dalam kepemimpinan Hardjanto, sampai kepengurusan Suryadi (Syaukani et. All, 2002: 134). Selepas lengsernya kekuasaan Orde partai politik menemukan nafasnya lagi dalam kehidupan politik. Ruang yang begitu luas diberikan melalui undang-undang untuk membuat partai politik dan kondisi semacam yang terjadi diawal kemerdekaan dengan munculnya banyak sekali partai politik waktu itu dengan 171 partai politik peserta pemilu. Dengan banyaknya partai politik hal ini menandakan bahwa partisipasi masyarakat untuk berpolitik tinggi. Dengan tidak diberlakukannya asas tunggal pancasila sebagai ideologi maka hal memberikan ruang yang cukup bebas bagi masyarakat membuat partai yang berbeda. Ideologi merupakan hal yang terbuka bagi setiap individu, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang suatu hal, setiap orang mempunyai impian tentang masyarakat yang ideal. Ideologi Ideologi merupakan kata yang angker untuk didengar dan dipelajari saat pemerintahan orde baru, karena saat itu tidak diperolehkan ada ideologi selain pancasila. Tentunya hal tersebut membuat kita semakin penasaran tentang apa itu ideologi. Pada dasarnya ideologi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari dua kata, yaki ideo artinya pemikiran; logis artinya logika, ilmu, pengetahuan. Dapat bahwa didefiniskan ideologi merupakan ilmu mengenai keyakinan dan cita-cita (Ali Syariati dalam Firdaus. 2007:238). Pengertian yang lebih luas menurut Steger (dalam Firmansyah. 2011:96) mendefiniskan ideologi sebagai suatu sistem sebaran ide, kepercayaan yang membentuk sistem nilai dan norma serta peraturan ideal yang diterima sebagai fakta dan kebenaran oleh kelompok tertentu. Sedangkan menurut Lane (dalam Firmansyah, 2011:97) ideologi dicirikan oleh; pertama, ideologi politik berkaitan dengan pertanyaan siapa yang akan menjadi pemimpin? Bagaimana mereka dipilih, dan dengan prinsip-prinsip apa mereka memimpin? Hal ini akan berkaitan dengan seperti apa pemimpin yang layak untuk memimpin masyarakat banyak, apakah yang dipertimbangkan masalah religiusitasnya, jiwa sosialnya, kekayaanya, kemampuan akademiknya, fisik atau penampilnya, suku atau etnisnya, laki-laki atau perempuan, selain itu bagaimana untuk medapatkan pemimpin dengan kriteria tersebut? Apakah berdasarkan keturunan (stratifikasi tertutup) ataukah tidak mempersoalkan keturunan asalkan ada beberapa kriteria seperti yang telah dijelaskan diatas. Kedua, ideologi mengandung banyak sekali argumen untuk persuasi atau melawan (counter) ide-ide berlawanan. Ketiga, ideologi sangat mempengaruhi banyak sekali aspek kehidupan manusia, mulai aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan,
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

31

dan sebagainya. Dalam gagasan yang ada dalam ideologi tersebut tentunya akan berawal dari ide/gagasan tentang masyarakat seperti apa yang ingin diwujudkan. Dari sudut ekonomi, hal akan berkaitan dengan persoalan kekayaan, kemudian bagaimana distribusi kekayaan yang ada, apakah masyarakat diberikan ruang sebebas-bebasnya dalam mengejar kekayaan. Seperti yang diungkapkan oleh (Deliarnov. 2006:16) bahwa Manusia adalah makhluk rasional yang didorongan kepentingan pribadi (berproduksi, membeli dan menjual) baik itu barang maupun jasa. Apakah manusia perlu dibatasi dalam mengejar kekayaan tadi, dan kemudian dengan batas-batas seperti apa? Selanjutnya bagaimana distribusi dari kekayaan tersebut serta bagaimana mewujudkan kesejahteraan, ketika kita berbicara masyarakat maka didalam masyarakat akan ada kaya, menengah, miskin, mayoritas dan minoritas. Kemudian bagaimana hubunganya mereka?bagaimana cara mengatur hubungan tersebut (ketika mereka yang mempunyai ideologi tertentu mempunyai kekuasaan untuk melakukanya). Keempat, ideologi sangat terkait dengan hal-hal penting dalam kehidupan sosial, baik mengajukan program ataupun menentangnya. Dalam ideologi tersebut terdapat ide-ide ataupun gagasan bagaimana masyarakat hidup dan diatur oleh norma-norma yang diyakini maka hal ini dijadikan landasan dalam menyusun rencana berupa kebijakan ataupun program yang tepat dan sesuai kepentingan untuk masyarakat tersebut. Di lain pihak dengan ide-ide tersebut dapat juga dijadikan dasar untuk merespon dan bahkan menentang tatkala muncul kebijakan-kebijakan yang dirasa membahayakan atau merugikan dari tatanan masyarakat yang dicita-citakan. Kelima, ideologi mencoba merasionalisasikan kepentingan kelompok sehingga kepentingan tersebut sangat beralasan dan layak diperjuangkan. Hal ini berkaitan dengan ciri yang keempat, dengan adanya ide/gagasan atau cita-cita tatanan masyarakat yang diinginkan yang didalam menyangkut masalah ekonomi atau kesejahteraan masyakat banyak maka hal tersebut dijadikan landasan yang mantap untuk melindungi atau mempertahankan masyarakat yang memang manjadi basis. Keenam, ideologi berisikan hal-hal yang bersifat normatif, etis, dan moral. Dari penjelasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa ideologi adalah sebuah tatanan masyarakat yang didalamnya menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial dan budaya yang citacitakan oleh individu, kelompok, golongan atau masyarakat luas yang kemudian menjadi landasan untuk bertindak. Partai politik Dalam kehidupan yang demokrasi seperti di Indonesia sekarang ini, partai politik merupakan instrumen yang wajib ada disuatu negara yang menjalankan demokrasi. Bahkan pendapat yang ekstrim yang mengatakan bahwa tidak ada demokrasi ketika tidak ada partai politik didalamnya, karena partai politiklah yang memainkan peranan penting dalam sistem demokrasi. Dengan adanya partai politik maka masyarakat akan merasakan mempunyai negara/pemerintah, karena ketika tidak ada kekuatan penyeimbang dari penguasa maka kecenderungannya adalah kekuasaan tersebut akan digunakan secara berlebihan dan tentunya masyarakatlah disini yang akan selalu dirugikan melalui kebijakan-kebijakanya. menurut Carl J. Friedrich (Miriam Budiarjo: 404) mendefiniskan partai politik adalah sekompok manusia yang terorganisir sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil. Sedangkan menurut Sigmund Neumann (Miriam Budiarjo:404) mengatakan bahwa Partai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan 32
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

pemerintahan serta merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu golongan atau golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Kemudian kalau kita melihat UndangUndang RI Nomor 2 Tahun 2008 tentang partai politik memberikan definisi sebagai berikut; Partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Dari definisi-definisi yang telah diuraikan diatas dapat kita simpulkan bahwa partai politik adalah organisasi yang dibentuk oleh masyarakat dewasa dengan landasan kepercayaan tentang nilai-nilai tertentu tentang masyarakat yang dicita-citakan. Selanjutnya organisasi tersebut digunakan untuk menciptakan masyarakat yang cita-citakan melalui cara-cara yang sah yaitu dengan mendapatkan kekuasaan dibidang politik. Dengan dimilikinya kekuasaan tersebut maka mereka akan lebih mudah untuk menciptakan masyarakat yang dicita-citakan melalui kebijakankebijakan yang dibuat. Ketika definisi diatas belum memberikan gambaran yang utuh tentang partai politik maka untuk lebih jelasnya kita lihat apa fungsi dari partai politik tersebut. Ada tujuh Fungsi partai politik (Ramlan Surbakti: 116); Sosialisasi politik Sosialisasi politik ialah proses pembentukan sikap dan orientasi politik para anggota masyarakat, melalui proses sosialisasi politik inilah masyarakat mengetahuinya arti pentingnya politik beserta instumen-instumennya. Sosialisasi politik kemudian menghasilkan budaya politik politik dalam bentuk perilaku politik yang tidak destruktif, mengutamakan konsensus dibanding menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan konflik, mempunyai pertimbangan yang rasional dalam menentukan pilihan atau membuat keputusan yang kemudian perilaku seperti akan menjadi modal untuk pelaksanaan demokrasi (kedewasaan demokrasi). Rekrutmen politik Rekrutmen politik ialah seleksi dan pemilihan atau seleksi dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintah pada khususnya. Dari partai politiklah diharapakan ada proses kaderisasi pemimpin-pemimpin ataupun individu-individu yang mempunyai kemampuan untuk menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan jabatan yang mereka pegang. Dalam alam demokrasi walaupun individu disini diberikan kesempatan sama untuk mencapai derajat tertentu, untuk mendapatkan suatu hal tetapi ada aturan bagaimana cara individu tersebut mencapai hal tersebut melalui undang-undang atau peraturan yang ada. Dengan adanya partai politik maka individu-individu tadi akan lebih mudah untuk mendapatkan keinginya di bidang politik, dalam artian walaupun tanpa partai politikpun bisa mendapatkannya tetapi tentunya akan lebih sulit. Partisipasi politik Partai politik dengan fungsi komunikasi dan sosialisasi politiknya akan membawa kepada pencerahan yang rasional kepada masyarakat untuk kegiatan politik. Dengan fungsi tersebut kemudian diharapkan akan memunculkan kesadaran masyarakat terkait nasibnya di masa yang akan datang. Nasib mereka dimasa yang akan datang tersebut akan sangat bergantung pada
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

33

kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, baik itu pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah, presiden, gubernur atau walikota dan bupati, apakah itu dewan perwakilan rakyat pusat atau dewan perwakilan daerah. Dari pihak-pihak tersebutlah kebijakan yang ditujukan untuk mengalokasikan nilai-nilai (ekonomi, pendidikan, kesehatan dan yang lain) akan dibuat dan diperuntukan kepada masyarakat luas. Partisipasi politik ialah kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan umum dan dalam ikut menentukan pemimpinan pemerintah. Pemandu kepentingan Dalam masyarakat terdapat sejumlah kepentingan yang berbeda bahkan acapkali bertentangan, seperti antara kehendak mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan kehendak untuk mendapatkan barang dan jasa dengan harga murah tetapi bermutu; antara kehendak untuk mencapai efisiensi dan penerapan teknologi yang canggih, tetapi memerlukan tenaga kerja yang sedikit, dan kehendak untuk mendapat dan mempertahankan pekerjaan; antara kehendak untuk mendapatkan dan mempertahankan pendidikan tinggi yang bermutu tinggi, tetapi dengan Kegiatan menampung, menganalisis dan memadukan berbagai kepentingan yang berbeda bahkan bertentangan menjadi berbagai alternatif kebijakan umum, kemudian diperjuangkan dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Itulah yang dimaksud dengan fungsi pemandu kepentingan. Komunikasi politik Komunikasi politik adalah proses penyampaian informasi mengenai politik dari pemerintahan kepada masyarakat dan dari masyarakat ke pemerintah. Informasi merupakan hal yang sangat penting ketika kita berbicara organisasi modern, karena organisasi (Pemerintah) tersebut akan dapat mempertahan kekuasaan ketika mengerti apa saja yang menjadi kebutuhan dari masyarakatnya. Banyak rezim di dunia ini yang tidak dapat mempertahankan kekekuasaannya yang dikarenakan mereka tidak mengerti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat sehingga dari situ muncul ketidak puasan masyarakat kepada penguasanya yang kemudian berujung pada proses penggantian penguasa baik itu dengan cara yang diatur secara konstitusi ataupun dengan kudeta. Disisi lain informasi juga dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengetahui sejauh mana pemerintah dalam menjalankan fungsinya, dengan cara seperti apa dan bagaimana capaian yang dikehendaki. Partai politik ini berada diantara pemerintah dan masyarakat, sehingga sangat strategis posisinya dalam hubungan ini. Dalam hubunga ini tentunya akan sangat tergantung di pihak mana partai politik berada, apakah di pihak pemerintah ataukah oposisi, tentunya hal ini akan mempengaruhi isi dari pemberian informasi yang diberikan kepada masyarakat terkait dengan sudut pandang atau nilai-nilai yang diperjuangkan. Pengendalian konflik Berbicara konflik ini kemudian akan berkaitan dengan kepentingan, konflik ini muncul karena ada kepentingan-kepentingan yang berbeda saling bertemu. Kepentingan disini adalah kepentingan dari orang, kelompok, atau golongan-golongan yang ada dalam masyarakat. Mengingat di dalam masyarakat Indonesia khususnya, dimana dengan berbagai macam keberagaman yang ada baik itu golongan, agama, etnis ataupun yang bersifat sektoral. Tentunya akan banyak sekali kepentingan yang akan saling berbenturan, hal ini tentunya akan membawa 34
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

dampak yang luar biasa ketika dibiarkan begitu saja. Memang konflik dalam masyarakat itu tidak bisa dihilangkan tetapi yang harus dilakukan adalah bagaimana memanajemen konflik tersebut supaya konflik tersebut sifatnya tidak merusak hubunga antar golongan tadi dengan cara-cara kekerasan. Partai politik sebagai salah satu lembaga demokrasi berfungsi untuk mengendalikan konflik melalui cara berdialog dengan pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan memadukan berbagai aspirasi dan kepentingan pihak-pihak yang berkonflik dan membawa permasalahan kedalam musyarawarah badan perwakilan rakyat untuk mendapatkan penyelesaian berupa keputusan politik. Kontrol politik Kontrol politik ialah kegiatan untuk menunjukkan kesalahan, kelemahan dan penyimpangan dalam isi suatu kebijakan atau dalam pelaksanaan kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintahan. Produk dari pemerintahan ada suatu kebijakan, kebijakan-kebijakan ini yang kemudian akan menyangkut kepentingan masyarakat secara umum. Baik buruknya kebijakan tentunya sangat bisa diperdebatkan mengingat kebijakan pemerintah tidak akan pernah mungkin bisa memberikan kepuasan kepada semua orang. Permasalahan yang muncul adalah kepada siapa kebijakan itu akan memberi keuntungan. Pada titik inilah kemudian kontrol partai politik memainkan fungsinya untuk menyikapi suatu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait kelemahan yang ada dan kemana alokasi nilai-nilai dari kebijakan itu akan diberikan. Ketika suatu kebijakan telah dibuat dan dimplementasikanpun perang partai politik masih diperlukan untuk mengawal kebijakan tersebut sesuai dengan tujuan awal yaitu untuk apa kebijakan itu dibuat. Ketika kebijakan itu sudah menjadi keputusan tidak serta merta dapat menyelesaikan permasalahan seperti yang telah direncanakan. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya kebijakan tersebut dalam menyelesaikan masalah. Faktor pelaksana kebijakan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh, karena dibanyak kasus banyak kebijakan itu gagal atau kurang berhasil yang diakibatkan oleh pelaku atau oknum yang mengejar kepentingan pribadinya. Ideologi dan partai politik Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ideologi merupakan hal wajib bagi partai politik, dengan ideologinya sebuah partai politik akan terlihat bentuknya. Bentuk disini adalah kemana arah partai politik ini akan memainkan fungsinya, apa yang akan disosialisaskan ke masyarakat, sikap dan orientasi politik seperti apa yang akan dibentuk, masyarakat seperti apa yang menjadi basis perjuangan partai, dengan nilai-nilai seperti apa perjuangan itu akan dilakukan, bentuk masyarakat seperti apa yang akan dibentuk dan lain sebagainya. dengan dasar ideologilah partai itu akan begerak melalui program kebijakan partai yang kemudian akan menjadi program kerja nyata yang bisa dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat. Berawal dari program kerja inilah kemudian cita-cita untuk mewujudkan atau membentuk masyarakat yang diimpikan akan terwujud. Ideologi digunakan sebagai arah ataupun ukuran kemudian ketika menyikapi persoalan yang ada didalam masyarakat. Di dalam ideologi disitu terkandung hal-hal yang sifatnya formal dan ideal tentang banyak hal, ideologi akan menyangkut bagaimana ekonomi dan politik itu akan dijalankan, bagaimana distribusi nilai-nilai itu akan dilakukan. Nilai-nilai disini berkaitan dengan kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, ketenangan, kenyamanan masyarakat yang akan diciptakan ketika partai tersebut mendapatkan kekuasaan.
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

35

Dengan cita-cita tentang masyarakat ideal tadi, hal tersebut dapat digunakan sebagai landasan partai politik untuk menyikapi setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah (ketika partai tersebut ber opoisisi) yang ditujukan kepada masyarakat ketika kebijakan-kebijakan tersebut merugikan ataupun mengahambat tercapaiinya masyarakat yang ideal tadi. Dalam setiap memberikan tanggapan apakah itu kritik ataupun penolakan terhadap suatu kebijakan sebagai pelaksanaan fungsi kontrol partai politik tentunya dapat dirasionalisasikan baik secara akademis dan politis sehingga bisa dipertanggungjawabkan kepada masyakat yang menjadi basis perjuangan ataupun pihak yang berlawanan. Dengan ideologinya masing-masing partai politik itu akan mempunyai identitas yang jelas, hal tesebutlah kemudian yang memudahkan partai politik tersebut dalam mendapatkan massa pendukung. Di sisi yang lain masyarakatpun akan lebih mudah untuk menentukan partai mana yang sesuai dengan keinginan yang memang memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat. Tabel 1 Ideologi partai politik (partai dengan perolehan suara teratas pemilu 2009)

Sumber: diolah dari berbagai sumber Untuk masa sekarang dengan begitu banyak partai politik yang muncul kita mengalami kebingungan untuk mengidentifikasikan penggolongan partai berdasarkan ideologi. Hal yang paling mudah kita bisa melihat dari asas partai yang secara formal tercantum pada AD/ART partai. Dengan melihat hal tersebutpun kita belum sampai pada analisa yang sifatnya substantif tentang partai tersebut karena pada tataran empiris kadang tidak sejalan antara azaz, platform partai dengan perilaku elit, pemilih, serta program-program partai. Sedangkan Asep Nurjaman mengelompokan ideologi partai politik, kedalam empat kategori, yaitu partai yang berideologi Islam, Partai yang berideologi Nasionalis Sekuler, Partai yang berideologi Nasionalis Religius, serta partai yang berideologi Kristen seperti yang ditunjukkan tabel berikut. 36
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Tabel 2 Peta ideologi partai Poltik (Versi Asep Nurjaman)

Sumber : Asep Nurjaman, ejournal.umm.ac.id Memang untuk penggolongan sangat debateble karena penggolangan-penggolongan akan berbeda ketika menggunakan indikator yang berbeda pula. Ideologi Islam di situ digunakan ketika suatu partai menggunakan istilah-istilah Islam dalam AD/ART-nya, sedangkan untuk nasionalisme religius disitu walaupun tidak menyebutkan Islam secara eksplisit tetapi dalam AD/ ART mencantumkan nilai-nilai agama dan moral. Sedangkan Nasionalisme, ketika AD/ART tidak menyebutkan istilah-istilah Islam, moral, nilai-nilai ajaran agama. Dan terakhir Kristen ketika di dalam AD/ARTnya secara eksplisit mencantumkan nilai-nilai, istilah atau ajaran-ajaran dalam agama kristen. Partai politik dan pemilu Salah satu instrumen paling penting dalam pemilu adalah dengan adanya peserta pemilu, yaitu partai politik. Partai politiklah yang berkompetisi baik partai politik itu sendiri ataupun anggota partai yang mencalonkan menjadi anggota legislatif ataupun menjadi presiden. Pemilu merupakan arena bagi partai politik dalam bersaing dengan partai politik lainya untuk mendapatkan kekuasaan yang sah sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Pada tataran teoris partai politik bersaing dengan ideologi yang kemudian termanistasikan ke dalam kebijakan partai dan selanjutnya munculah program partai. Program-program tersebutlah yang kemudian menjadi
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

37

aksi nyata yang langsung dapat diamati dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan. Partai politik hadir dengan menawarkan berbagai program yang diyakini akan mampu menyelesaikan persoalan bangsa ataupun akan memperjuangkan sesuatu bagi masyarakat banyak sesuai dengan ideologi yang diyakininya. Dengan hadirnya begitu banyak partai politik tentunya membuat pemilu semakin meriah, baik itu partai lama (partai yang telah pemilu sebelumnya) ataupun partai baru (termasuk partai pecahan partai lama). Persaingan antar partai politik akan semakin sengit dalam mendapatkan suara, apa lagi dengan munculnya partai baru yang tentunya mempunyai warna baru dan harapan baru. Partai politik hadir dengan asa yang dibawa, yaitu ingin memperjuangkan atau mewujudkan masyarakat yang didam-idamkan. Yaitu dengan menawarkan banyak harapan, bagaimana cara mewujudukan, tipe masyakat yang mana akan menjadi basis perjuangan; apakah petani, buruh, atau nelayan, masyarakat yang ada diperkotaan atau pedesaan dan sebagainya. Seperti fungsi partai politik yaitu sebagai sarana rekruitmen, bahwa rekrutmen politik ialah seleksi dan pemilihan atau seleksi dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintah pada khususnya. Dengan hadirnya sistem pemilihan langsung baik untuk tingkat nasional ataupun di daerah maka fungsi rekrutmen yang dilakukan partai politik semakin penting peranannya. Penting disini adalah dari proses kaderisasi yang dilakukan oleh partai politik maka akan muncul caloncalon pemimpin yang memang telah teruji (kemampuan teoritis atau konsep dan praktek) baik itu kerja-kerja organisasi ataupun dalam bermasyarakat. Partai politik dapat dikatakan sebagai tempat mencetak kader yang dapat dijadikan calon-calon pemimpin baik di tingkat pusat ataupun di daerah. Ketika negara kita sederhanakan menjadi organisasi, peran pemimpin merupakan hal yang pokok, dari pemimpin iniliah kemudian akan muncul keputusan-keputusan yang diarahkan untuk tercapai cita-cita organisasi (negara). Kader-kader dari partai inilah yang kemudian menjadikan cerminan dari partai politik terkait dengan ideologi, yang diharapkan kelak ketika menjadi seorang pemimpin dapat membuat kebijakan-kebijakan sesuai dengan ideologi partai, tidak bersebrangan dengan ideologi partai. Tentunya kebijakan ini tidak sebatas kebijakan pemerintah pusat melalui presiden, tetapi juga gubernur, walikota ataupun bupatui. Seiring dengan otonomi daerah dimana kemudian daerah mempunyai kewenangan yang luas untuk mengatur rumah tangga dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dengan besarnya kewenangan yang bergitu besar maka hal menjadi kesempatan yang bagus untuk partai politik membuat kebijakan sebagai bentuk manifestasi ideologi partai di daerah melalui kepala daerah. Dengan semakin banyak partai politik hal ini membawa implikasi bahwa masyarakat semakin bingung untuk memilih partai mana yang dipercaya dapat memperjuangkan atau mewujudkan kepentinganya. Dengan semakin banyak partai poltik hal ini seakan menutup kemungkinan untuk salah satu partai memenangkan pemilu secara mutlak. Sehinga dengan kondisi seperti ini maka, kemungkinan untuk melakukan kerjasama atau koalisi dalam pemenangan calon eksekutif baik pusat maupun daerah. Secara teoritis dalam melakukan koalisi partai politik akan melihat siapa yang akan diajak berkoalisi? Tentunya partai politik yang sepaham (seideologi). Karena dengan begitu maka akan lebih mudah untuk bekerjasama ketika banyak kesamaan nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi. Sebagai contoh partai yang berideologi Islam dengan nilainilai Islam yang menjadi landasan kebijakan akan berkoalisi dengan partai yang berideoligi liberal dengan nilai kebebasan yang menjadi landasan kebijakan partai, tentunya hal ini akan sangat sulit menyamakan persepsi tentang banyak hal. Banyak hal disini seperti; bagaimana sistem ekonomi, sosial ini akan dijalankan, bagaimana seharusnya pemerintah dalam melakukan 38
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

fungsi terkait hal tersebut? Fenomena sekarang yang terjadi di Indonesia perbedaan partai politik sudah semakin kabur. hal ini mungkin disebabkan tidak ada perbedaan yang ekstrim antar partai politk.Terjadi pergeseran secara ideologi yaitu mengkombinasikan nasionalis dan Islam yang kemudian muncul istilah Nasionalis-Religius. Selain itu dipengaruhi basis masa yang akan dibidik, sebagai contoh; walaupun berhaluan nasionalis tetapi ingin membidik golongan islam untuk mendulang suara, sehingga hal ini kemudian memaksa untuk membuat organisasi keagamaan (Islam) atau semacamnya yang terafiliasi dengan partai tersebut. Koalisi partai-partai politik yang dilakukan sifatnya jangka pendek, yaitu bagaimana mendapatkan kekuasaan. Yang seharusnya arah koalisi partai politik dilandasi oleh ideologi partai yang kemudian menjadi identitas yang termanifestasi pada program partai tetapi yang terjadi adalah partai apapun dimungkinkan melakukan koalisi selama hal itu menguntungkan. Yang terjadi adalah bukan persoalan jika kemudian bekerjasama dengan partai yang berbeda ideologi, asalkan hal itu mempermudah untuk mendapatkan kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dari koalisi partai politik, dimana tidak ada keseragaman koalisi baik ditingkat pusat maupun didaerah. Ditingkat pusat, Partai demokrat berkoalisi dengan PPP, PAN, PKB, PKS, dan Golkar yang berseberangan dengan oposisi yang terdiri dari PDI-P, Gerindra, Hanura. Tetapi di daerah terjadi koalisi yang beragam, kalau memang koalisi kemudian tidak berdasarkan ideologi tetapi berdasarkan komando kepemimpinan partai pusat itu masih menunjukkan arah kebijakan elit partai. Tetapi yang terjadi adalah tidak ada keberagaman terkait koalisi antara pusat daerah, pada tingkat pusat antara PDI-P dan Demokrat tetapi di daerah sangat dimungkinkan untuk terjadi koalisi antar kedua partai tersebut. Kenderungan koalisi lebih pada kombinasi antara partai Islam dan Nasionalis dan hal tersebut tidak seragam, bisa berkoalisasi dengan partai Islam atau Nasionalis manapun asalkan koalisi tersebut memberi keuntungan yang cepat. Tabel 3 Peta Koalisi Partai Politik (pusat dan sebagian kepri)

Sumber: dari berbagai media Kesimpulan Dengan dimungkinkan untuk pemilihan langsung baik presiden, Gubernur, Walikota dan bupati perpolitikan indonesia semakin meriah, masyarakat semakin sering terlibat dengan kegiatan politik dalam arti sempit (pemilu). Ideologi lebih terkesampingkan oleh peran ketokohan, ketokohan
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

39

kemudian yang menjadi pertimbangan masyarakat umum ketika menentukan pilihanya bukan pada ideologi apa yang dipeganganya hal ini merupakan konsekuensi dari pemilihan langsung. Ketokohanlah yang kemudian menjadi incaran atau yang dikejar ideologi melalui partai politik dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari kekuasaan politik. Politik pencitraanlah kemudian yang menonjol dalam tarik menarik mencari dukungan dalam pemilu. Dengan peran media yang begitu besar baik media cetak maupun elektonik. Di satu sisi masyarakat lebih mudah mengenali sang kandidat melalui apa yang dilihat melalui media, tetapi disisi yang lain masyarakat luas mudah terkecoh dengan pencitraan yang mereka bangun. Kondisi seperti inilah yang kemudian sering menyebabkan kekecewaan di masyarakat dikemudian hari. Disisi lain terjadi pergeseran peran ideologi, ideologi yang seharus dijadikan landasan partai politik beserta kadernya dalam melakukan kerja-kerja politik yang menyangkut banyak hal tetapi ideologi dijadikan konten pencitraan yang acapkali manipulatif. Ideologi kemudian hanya menjadi aksesoris dari partai politik, ideologi dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek elit-elit partai politik dalam mengejar kepentingan pribadi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya elit partai politik berpindah dari satu partai ke partai yang lain. Ideologi tidak bisa mengikat perlaku elit-elit partai politik, perilaku elit kadang tidak mencerminkan ideologi partai politik, baik dari tindakan asusila, korupsi, atau kebijakan yang bertentangan dengan ideologi partai ketika ia menjadi pejabat negara. Tentunya fenomena menyulitkan untuk mendapatkan calon yang tepat, bukan karena keterbatasan infomasi tetapi karena banyaknya informasi yang ditawarkan tokoh dengan pencitraannya melalui media yang ada, diharapkan kita lebih hati-hati dalam menentukan pilihan (dalam pemilu). DAFTAR PUSTAKA Budiardjo, Miriam, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Deliarnov. 2006. Ekonomi Politik; Mencangkup berbagai teori dan konsep yang kompreshensif. Jakarta. Erlangga. Firmansyah. 2011, Mengelola partai politik, Komunikasi dan positioning idelogi politik di era demokrasi. Jakarta, Yayasan pustaka obor Indonesia. Nurjaman, Asep, http://ejournal.umm.ac.id/index.php/bestari/article/view/126 Surbakti, Ramlan. 1992, Memahami Ilmu Politik, Jakarta. Grasindo. Syam, Firdaus, 2007. Pemikiran Politik Barat. Jakarta. Bumi Aksara Syaukani, H et all, 2002. Otonomi Daerah dalam negara kesatuan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2008 tentang partai politik Sumber Website; http://www.golkar.or.id/pages-tentang/15/ad-art/ http://www.pdiperjuangan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=135&Itemid=91 http://www.pk-sejahtera.org/content/falsafah-dasar-perjuangan-dan-platform-kebijakanpembangunan-pks http://www.ppp.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=173&Itemid=203 http://www.pan.or.id/platform.html http://www.dpp.pkb.or.id/index.php?option=com_content&view=section&layout= blog&id=17&Itemid=294 http://www.demokrat.or.id/wp-content/uploads/2011/07/Anggaran-Dasar.pdf 40
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

KETERLIBATAN KIAI DALAM PILKADA (Studi Kasus Pilkada di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2006) Rudi Subiyakto1
Abstract This research was intended to describes Kiais (Moslem scholars) involvement in regional head election (PILKADA) of Banjarnegara in 2006. Kiai as social figures not only has charisma in religion case but also played the significant roles in politic case. Moreover, Kiai has various roles in political activities. Kiai is not only as religious figures but also has the significant role in Indonesia democratic development. Social reality has historical dimension, cultural dimension and interaction dimension such as the problems in this research are suitable to use the qualitative method. This is based on dialectic relation concept in social interaction between Kiai and society. The result of this research is find two line politic of Kiai. The first, Kiai as the actor. It means, Kiai who is join in some political party and became advocate team to district head (Bupati) and district heads deputy (wakil Bupati) aspirant. Their political activities are to expose the district head (Bupati) and district heads deputy (wakil Bupati) aspirant to the society through religious activities. The Kiai also dare urge the couple aspirant, who is supported by them, to join in the social activities which are held both the society and the boarding school (pesantren). The Second, Kiai as a participant. It means, they have joined some political party and they became advocate team. However, only implicitly they launch a campaign for the couple aspirant, who is supported by them. They think, in fact, the society will know and follow by themselves about the Kiai political choice. This Kiai figures also urge the political members to move much more than themselves. This case, in order to keep the good role of the Kiai as the religious leaders. However, This Kiai is not looking for pragmatism advantages. They, of course, accept only the aid (if anyone is giving) from the couple aspirant, who is supported by them. . Key word: Kiai and Kiais involvement Pendahuluan Peran Kiai dalam politik selalu menarik untuk dibahas. Hal ini dikarenakan, studi tentang Kiai tidak hanya dapat dilihat dari satu faktor saja (Kiai sebagai pemuka/tokoh agama), melainkan Kiai mempunyai banyak wajah (multy faces) yang mencerminkan kompleksitas atau keragaman cara pandangan Kiai dalam berpolitik. Keterlibatan para Kiai dalam proses
1

Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

41

pemilihan Kepala Daerah secara langsung tidak bisa dihindarkan, karena mereka adalah potensi lokal yang dapat memberikan kontribusi atau memberi warna tersendiri bagi perpolitikan di tingkat daerah. Dengan kemampuannya bisa menciptakan kondisi politik yang kondusif dimana peran mereka sangat menentukan dalam menciptakan rakyat yang partisipatif. Keterlibatan dalam penggalangan massa misalnya, mereka mempunyai kemampuan masingmasing. Kiai dengan karismanya mampu menggeraknya kesadaran masyarakat dalam menentukan pilihan. Hal ini dikarenakan, pola hubungan Kiai dan santri yang sangat erat, merupakan faktor penting dan berpengaruh dalam menentukan pilihan politik. Hal ini juga didasarkan pada fakta hubungan santri dan Kiai tidak hanya terbatas pada saat berada dalam dunia pesantren. Kiai sebagai elit lokal mempunyai karakteristik tersendiri dalam memberikan dukungan. Kiai dengan massa yang sangat hormat kepadanya mampu mendorong atau mendulung suara kemenangan untuk calon Bupati atau Wakil Bupati. Sebagai imbalan atas jerih payah Kiai, Kepala Daerah (Bupati atau Wakil Bupati) akan memberikan berbagai macam fasilitas, sehingga implikasi politik yang ada berpengaruh terhadap pilihan politik rakyat yang sudah dipengaruhi oleh berbagai macam imingiming, tidaklah lagi otonom karena hak yang seharusnya lebih banyak dimanfaatkan oleh rakyat sebagai cermin dari kedaulatan sudah teracuni berbagai kepentingan materi dan kekuasaan. Tarik menarik kepentingan antara kandidat dengan Kiai menjadi hal yang wajar. Hal ini dikarenakan, posisi Kiai sangat menentukan keberhasilan seorang calon Kepala Daerah. Kiai dengan karismanya mampu memobilisasi massa dalam rangka penggalangan massa untuk berkampanye. Ketika Kiai masuk dalam sistem politik melalui parpol, secara otomatis Kiai mendapat jatah untuk menjadi tim sukses atau juru kampanye calon yang didukung oleh parpol yang bersangkutan. Bermodal basis massa dan karisma, Kiai mampu memainkan peran penting dalam suksesi seorang calon Kepala Daerah. Selain Kiai terjun langsung ke gelanggang politik, ada Kiai yang hanya menjadi partisipan atau hanya memberi restu kepada calon tertentu. Keadaan ini sebagai antisipasi perkembangan pesantren dan masa depan karir Kiai jika ternyata calon yang didukung kalah dalam pilkada. Kiai tidak terlibat dalam kegiatan politik secara langsung. Ia hanya menjadi pendukung di garis belakang. Artinya, tidak menjadi tim sukses atau juru kampanye calon tertentu. Keterlibatan Kiai dalam politik hanya sebatas pemberian restu kepada calon yang datang dan memohon restu ke pesantren. Lebih lanjut, pemberian restu tidak hanya diberikan kepada satu calon saja, melainkan ketika ada calon yang datang ke pesantren sang Kiai dengan rela memberi restu untuk maju dalam pilkada. Dari pemaparan di atas menunjukan bahwa, keragaman atau kompleksitas Kiai dalam berpolitik tidaklah tunggal. Artinya, Kiai tidak hanya menjadi tokoh atau panutan dalam hal agama saja, melainkan, mempunyai peran yang cukup signifikan dalam perkembangan demokratisasi di Indonesia. Rumusan Masalah Berdasarkan uraianuraian pada latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian sebagai berikut, bagaimana keterlibatan Kiai dalam Pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006? Dan apa dampak keterlibatan Kiai dalam Pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006? 42
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Tujuan Penelitian, Untuk mengetahui keterlibatan Kiai dalam Pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006. Untuk mengetahui dampak keterlibatan Kiai dalam Pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006. Kerangka Teori 1. Memahami Elit Kata elite digunakan pada abad ketujuh belas untuk menggambarkan barang-barang dengan kualitas yang sempurna, penggunaan kata itu kemudian diperluas untuk merujuk kelompok-kelompok sosial unggul, misalnya unit-unit militer kelas satu atau tingkatan bangsawan yang tinggi. Dalam bahasa Inggris penggunaan awal kata elite, menurut Oxford English Dictionary adalah pada tahun 1823, ketika kata itu telah diterapkan untuk kelompokkelompok sosial. Namun istilah itu belum digunakan secara luas dalam tulisan-tulisan sosial dan politik hingga akhir abad kesembilan belas di Eropa, atau hingga tahun 1930-an di Inggris dan Amerika, ketika kata itu disebarkan melalui teori-teori sosiologis tentang elite, terutama dalam tulisan-tulisan Vilfredo Pareto. (dalam Akbar Tandjung Institute, 2006:1) Untuk menjelaskan pengertian elite, Pareto mengajak untuk mengamati kehidupan masyarakat dengan segala macam aktivitas yang ada di dalamnya. Dia menawarkan bahwa dalam setiap cabang kehidupan yang ada di masyarakat, aktivitas yang dilakukan setiap individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut diberi angka indeks sebagai penunjuk kemampuannya. Dinyatakan bahwa pengacara sukses dengan klien yang jumlahnya banyak, diberi angka tertinggi 10; sementara pengacara lainnya yang mempunyai klien dalam jumlah yang lebih sedikit diberi angka 1 sebagai indeks terendah. Dilukiskan dalam cabang kehidupan yang lainnya, cabang ekonomi misalnya, seorang pengusaha yang berhasil dengan penghasilan setiap bulan mencapai angka ratusan juta rupiah diberi angka 10; pengusaha lainnya dengan penghasilan jutaan rupiah setiap bulan diberi angka indeks 6, dan pengusaha lainnya lagi yang hanya membawa keuntungan puluhan ribu rupiah diberi angka indeks 1, dan seterusnya. Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik benang merah bahwa dalam setiap cabang kehidupan yang ada di masyarakat akan memunculkan sebagian anggotanya sebagai elite (Haryanto, 2005:1-2). Sembari mengutip Lipset dan Solari dalam Schoorl, Haryanto mendefinisikan elite sebagai posisi di dalam masyarakat di puncak struktur-struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi-posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan, aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran dan pekerjaan-pekerjaan bebas ( Haryanto, 2005: 68). Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa elite adalah sesuatu yang ada di dalam struktur masyarakat. Elite adalah puncak tertinggi dalam struktur masyarakat. Elite ada karena penilaian seseorang atau cara pandang yang mempengaruhi seseorang. Elite tidak ada dengan sendirinya. Hal ini dikarekan, ia ada karena bagian atau keadaan orang lain. 2. Kiai sebagai Elit Lokal a. Basis Kekuasaan Elite lokal adalah seorang yang menduduki jabatan-jabatan strategis dan mempunyai pengaruh untuk memerintah orang lain daalm lingkungan masyarakat. Elit seperti ini sering disebut dengan elite non politik. Elit non politik ini seperti, elite keagamaan, elite organisasi
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

43

kemasyarakatan, kepemudaan, profesi dan lain sebagainya (Nurhasim, 2005: 13). Kiai menurut WJS Poerwodarminto dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, adalah sebutan bagi alim ulama Islam. Sedangkan Zamakhsari Dhofier, Kiai adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang ahli agama Islam yang mengajarkan kitabkitab klasik kepada santrinya (Dhofier, 1982:55) Andree Feillard mendefinisikan Kiai dalam makna spesifik sebagai seorang dengan kapasitas keilmuan agama yang tidak diragukan lagi, kini telah mengalami pergeseran posisi. Feillard menyatakan bahwa sekarang kata Kiai memang masih digunakan oleh masyarakat sebagai ekpresi rasa hormat. Namun demikian, kata Kiai telah mengalami disorientasi, karena masih banyak diantara mereka yang belum masuk kriteria untuk disebut sebagai Kiai, ternyata telah menyandang gelar Kiai. Misalnya, orang muda yang belum tentu mempunyai pengetahuan agama yang benar (Feillard, 1999:356). Dari beberapa pengertian Kiai tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pertama, Kiai adalah seorang yang menjadi panutan bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan ia memiliki pemahaman lebih mengenai agama Islam dan mengajarkannya kepada masyarakat baik dalam lingkungan umum maupun di dalam pesantren. Inilah yang kemudian disebut sebagai basis simbolik Kiai. Kiai merupakan tokoh masyarakat yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan, meminjam istilah Abdur Rozaki(2004:87) kharisma yang menjadi rujukan masyarakat. Kedua, Kiai juga berarti seseorang yang mempunyai pengaruh dalam lingkungan masyarakat. Hal ini dikarenakan, Kiai mempunyai pendukung yang fanatik dan selalu dihormati oleh siapapun, karena bertindak tidak sopan kepada Kiai berarti berani menentang ajaran agama. b. Strategi politik Kiai Konsepsi seperti ini telah lama dibahas oleh Geertz. Sebagaimana kita ketahui bersama Geertz telah mampu mengkategorikan keberagamaan masyarakat Jawa dalam tiga hal. Pertama, Abangan, Santri, dan Priyayi. Santri adalah seseorang yang bergelut dalam dinamika atau perkembangan ilmu agama Islam. Priyayi adalah seseorang yang mempunyai jabatan atau pangkat dalam masyarakat. Sedangkan abangan adalah orang biasa atau orang kebanyakan. Ia belajar agama dari santri dan manaruh hormat kepada priyayi(Geertz, 1989). Dalam perjalanan selama lima puluh tahun kemudian, sekat-sekat yang ada dalam ketiga varian ini kelihatannya semakin luruh. Berkat pendidikan modern, kelompok santri pedesaan memasuki lingkaran birokrasi yang dahulu menjadi ranah priyayi; bahkan ada kecenderungan anak-anak kaum santri tidak mau lagi belajar bahasa Arab, mereka lebih senang berbahasa Inggris. Setelah kehilangan orientasi budaya pada Barat (Belanda), tidak lagi berbicara dengan hollandse spreken, dan ruang gerak aliran kebatinan kian sempit, kelompok priyayi giat belajar mengaji. Mereka mendatangkan guru-guru ngaji yang mengajarkan agama, tidak saja kepada orangtua, tetapi tak lupa kepada anak-anaknya. Ketika membangun rumah, mereka tak lupa menyisakan satu ruang untuk bersembahyang (mushola). Anak-anak yang lahir pun diberi nama islami, setidak-tidaknya nama Nabi atau orang suci lainnya ada di depan sebelum namanya sendiri (Azra. A, 1999). Fenomena pertama oleh Aswab Mahasin(1993:153), disebut sebagai priyayisasi santri, yakni proses perubahan kelompok santri dari lingkungan tradisional memasuki kehidupan birokrasi dan ekonomi modern, tepatnya pemborjuisan anak-anak kaum santri. Pada saat 44
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

yang sama terjadi fenomena santrinisasi priyayi, yakni meluasnya penggunaan atribut keagamaan kedalam kehidupan keluarga priyayi. Tetapi, sejumlah karakter yang dipandang Jawa seperti perilaku santun, trima, sabar dan ikhlas sebenarnya mewarnai ketiga figur di atas. Kelompok priyayi menekankan semua ini sebagai perwujudan dari sikap manunggaling kawula lan gusti, pasrah dan mengikuti kehendak dari Gusti Pangeran. Sedangkan Kiai tidak berperilaku secara khusus untuk berdakwah, tetapi lebih untuk membangun hubungan habluminan nas, selain habluminallah, seperti yang diajarkan dalam Islam. Kata Gusti Pangeran mewakili personifikasi dari yang maha luar biasa dan berkuasa atas diri manusia. Kata ini sebutan lain dari Allah s.w.t, bagi orang Jawa. Dengan demikian, Kiai mempunyai peran khusus dalam pendidikan politik masyarakat. Hal ini nampak dari pola atau pergeseran kelas sosial ala Geertz. Kaum Santri (Kiai) banyak memasuki wilayah politik (kekuasaan) yang selama ini menjadi identitas kaum priyayi. Walaupun tidak secara khusus Kiai bermain atau memasuki wilayah politik, ia menjadi bagian tak terpisahkan dari proses dukungan calon pemimpin politik (dalam penelitian ini calon Kepala Daerah). c. Orientasi politik Kiai Menurut Bambang Purwoko, digelarnya model pemilihan Kepala Daerah secara langsung membawa dampak yang cukup serius terhadap perilaku politik di tingkat lokal. Para aktor politik lokal tiba-tiba mendapatkan arena bermain yang cukup luas untuk menyalurkan bakat-bakat politik mereka secara bebas. Tentu saja banyak yang tergagap dengan perubahan mendadak ini. Elit agama (Kiai) termasuk kelompok yang relitif belum siap menyikapi terbukanya kesempatan politik di tingkat lokal ini. Tampilnya para kandidat calon Kepala Daerah dalam arena pilkada langsung mau tidak mau harus menyeret dukungan dari berbagai kekuatan yang memiliki basis massa yang kuat. Organisasi sosial keagamaan adalah lahan potensial yang menjadi lahan rebutan para kandidat Kepala Daerah (Bupati, Walikota atau pun Gubernur). Orientasi politik setidaknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu pragmatis dan ideologis. Orientasi pragmatis adalah dimana Kiai memosisikan dirinya sebagai elit lokal yang mempunyai kekuatan untuk memenangkan hajatan lima tahunan ini. Dengan demikian, ia berhak mendapatkan hadiah atau imbalan setimpal dari apa yang telah dikerjakannya. Namun, orientasi pragmatis seperti tidaklah mudah dilihat dan diteliti. Hal ini dikarenakan, Kiai adalah figur sentral masyarakat, dan jika Kiai melakukan hal-hal yang sedikit saja melenceng dari norma masyarakat, ia akan dijauhi oleh masyarakat. Maka, dalam berpolitik Kiai tidak akan pernah menonjolkan hal tersebut. Namun, banyak Kiai tidak menampik kemungkinan jika ada calon yang memberikan sumbangan dana atas jerih payahnya selama ini. Orientasi ideologis adalah terjunnya Kiai ke gelanggang politik merupakan panggilan hati untuk mengawal proses demokratisasi agar tercipta masyarakat yang aman, tentram, adil dan makmur. Atau dengan bahasa agama, masuknya Kiai ke ranah politik sebagai bagian amar maruf nahi munkar. Dan orientasi inilah yang paling menonjol dalam setiap aktifitas Kiai dalam ranah politik. 3. Kiai dan Politik Karir politik Kiai saat ini bukanlah hal yang baru. Keterlibatan Kiai dalam permainan
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

45

politik sudah ada sejak zaman pra-kemerdekaan. Jika pada zaman pra-kemerdekaan mereka meneriakkan kemerdekaan melalui pesantren (pendidikan), lobi kultural dan perang melawan penjajahan, maka, pasca-kemerdekaan mereka terjun ke dunia politik melalui partai politik. Hal ini dapat dilihat pada pemilu pertama tahun 1955 sampai pemilu terakhir tahun 2004 yang lalu. Panggung politik nasional selalu diramaikan dengan para Kiai yang wira-wiri masuk dalam partai politik. Hal ini tentunya semakin menambah meriah pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia. Hal ini dikarenakan, Kiai memiliki pengikut yang setia seperti fans dalam dunia infotaiment. Lebih lanjut, kharisma Kiai selalu dapat menarik simpati konstituen, karena mereka dianggap orang suci dan doanya selalu makbul (diterima) oleh Tuhan. Menurut Bambang Purwoko, setidaknya ada tiga periode pentas politik elit agama (Kiai) dalam percaturan perpolitikan nasional. Pertama, adalah periode 1945 sampai dengan periode tahun 1965, ketika para politisi dengan basis agama masih bisa berkiprah secara relatif bebas dalam perpolitikan nasional. Dalam periode ini para elit agama (Kiai) yang menjadi politisiselanjutnya disebut sebagai politisi Islambisa menjadi pelaku aktif atau subyek dari permainan politik Indonesia. Kedua, adalah masa-masa dimana politisi Islam lebih berperan sebagai obyek yang dibelenggu oleh sistem maupun rezim pemerintahan otoriter Orde Baru yang menganggap kekuatan Islam sebagai musuh besar negara dan karena itu para elitnya harus dikooptasi sedemikian rupa sehingga bisa meminimalisir semua potensi perlawanan dan pembangkangan terhadap dominasi negara. Periode kedua ini berlangsung cukup lama, biasanya dikenal dengan 32 tahun masa kejayaan Orde Baru antara tahun 1966 sampai dengan 1998. Ketiga, adalah periode antara tahun 1998-2006 yang ditandai dengan kembalinya kebebasan untuk mengekspresikan hak-hak politik warga negara termasuk ekspresi politik para elit Islam. Dalam kurun waktu yang cukup pendek sejak tahun 1998 kita telah menyaksikan sedemikian banyak peristiwa politik yang melibatkan para politisi Islam dari berbagai jenis massa. Selama periode ketiga ini pula kita menyaksikan perilaku dan wajah politik yang ternyata tidak tunggal, ada yang bopeng tetapi banyak juga yang mulus. Aktualisasi strategi politik Kiai tidak jarang dilakukan baik secara oribadi atau pun melalui organisasi seperti NU dan Muhammadiyah atau partai politik. Kiprah politik Kiai secara perseorangan tidak lepas dari kewibawaan dan kemampuan memanfaatkan peluang serta meminimalkan berbagai kendala. Di samping itu kemampuan Kiai sebagai enterprenuer politik pada posisinya sebagai cultural broker, menghasilkan strategi politik Kiai yang aktualisasinya dapat diterima oleh umat. Penerimaan oleh umat menjadi faktor penting karena tanpanya dapat mereduksi kewibawaan yang dimiliki oleh Kiai tersebut. Orientasi politik Kiai sesungguhnya adalah amar ma;ruf nahi munkar. Orientasi ini kemudian dikemas dalam kepentingan kekuasaan. Secara teoritis, kekuasaan adalah naluri manusia dalam perilaku politik yang tidak bisa diabaikan(Andrain. F, 1992:135). Retorika politik Kiai dalam menggunakan simbol-simbol agama perlu dibuktikan secara nyata dalam kerja-kerja politik yang lebih riil. Kiai juga lebih bisa berperan mencerdaskan umat melalui komunikasi politik dan bahasa politik. Ketika misi Kiai berpolitik adalah amar maruf nahi munkar, maka kerja Kiai lebih fokus pada strategi menyelesaikan kemungkaran yang bisa dirasakan bagi umat. Sebab apabila bahasa simbol agama yang lebih dikedepankan tanpa kerja-kerja politik yang lebih riil, akan menciptakan suatu fanatisme berlebihan terhadap 46
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

diri Kiai oleh umat. Kepentingan merupakan tujuan yang dikejar oleh pelaku atau kelompok politik. Dalam hal ini Laswell sebagaimana dikutip Miriam Budiardjo menyatakan pada dasarnya dalam mengejar kepentingan tersebut membutuhkan nilai-nilai, kekuasaan, kasih sayang, keadilan dan kejujuran(Budiardjo, 2006:33). Kepentingan orientasi poltik Kiai adalah kepentingan memperjuangkan umat, sedangkan kepentingan individu dan kelompok tidak dinyatakan secara eksplisit. Realitas sosial berdimensi historis, kultural dan interaksionis, seperti dalam kasus penelitian ini, lebih tepat untuk diteliti dengan menggunakan metode kualitatif. Dipilihnya metode kualitatif ini didasarkan pada konsep hubungan dialektik dalam interaksi sosial antara elit lokal (Kiai) dengan masyarakat. Penelitian tentang peran elit lokal (Kiai) dalam pilkada ini menuntut pemahaman yang verstehen, dan dengan demikian menuntut pemetaan awal yang lebih kategoris untuk mengklasifikasikan pola-pola interaksi yang berkembang dalam masyarakat, sehingga dapat menjelaskan pola interaksi antara elit lokal. Pola interaksi ini menjadi penting, karena elit lokal dapat menjadi penentu dalam pengambilan kebijakan dan keputusan yang pada akhirnya mempengaruhi pola pikir masyarakat. Berdasarkan hal itu, penelitian ini beroperasi dari data naratif seperti yang ditafsir sesuai maknanya bagi si pelaku (Geertz, 1975). Keabsahan data dilihat dari keberlakukannya dalam komunitas, sehingga analisis diperlukan sejak pendataan. Kesimpulan akhir merupakan uji ulang penyimpulan bersama pendataan, sehingga abstraksi logis-interpretatif diletakkan dalam hubungan kritis faktafakta(Hubermen dan Miles, 2002: 67). PETA POLITIK DI KABUPATEN BANJARNEGARA Stabilnya suara partai berbasis massa agama ini didorong oleh kiprah Kiai NU yang mampu mengorganisir warganya dengan baik. Warga Banjarnegara yang sebagian besar berideologikan NU yang hidup di pedesaan dengan kondisi pendidikan yang rendah semakin memudahkan Kiai mengorganisir warganya. Orang dengan pendidikan yang rendah biasanya akan manut kepada orang yang dianggap berilmu, apalagi seseorang tersebut mempunyai kelebihan ilmu agama (Kiai). Hal ini ditambah dengan sikap patuh warga NU pada petuah Kiai menjadi modal utama Kiai memobilisasi massanya. Maka, dapat disimpukan bahwa pilihan politik atau peta politik Kabupaten Banjarnegara dari Orde Lama hingga Era Reformasi masih dikuasai oleh kelompok tradisionalis dan nasionalis. Walaupun suaranya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan perolehan suara partai berbasis massa agama. Berbeda dengan era sebelumnya, di era otonomi daerah yang ditandai dengan pemilihan kepala daerah secara langsung, terjadi penyebaran suara yang cukup beragam. Artinya, partai politik dengan basis massa agama dan partai politik dengan basis massa tradisionalis dan nasionalis tidak memperlihatkan perbedaan-perbedaan itu. Bahkan di era ini, sekat ideologi partai mulai luntur. Partai dengan basis massa agama yang kuat dapat berkoalisi dengan partai dengan basis massa tradisional dan nasionalis. PETA POLITIK KIAI DALAM PILKADA DI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2006 Pada bagian ini membahas keberhasilan pasangan Djasri-Soehardjo karena didukung oleh Kiai sepuh yang mempunyai jamaah banyak. Kiai sepuh pendukung pasangan ini
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

47

memiliki jamaah yang samina wa athona (taat dan patuh) terhadap perintah Kiai. Ketika pilihan politik Kiai sepuh jatuh pada pasangan Djasri-Soehardjo, maka masyarakat sekitar dan loyalis Kiai tidak mempunyai pilihan lain, selain memilih pasangan incumbent Bupati ini. Hal ini berbeda dengan karakteristik Kiai pendukung pasangan calon Sutedjo Slamet Utomo-Bambang Prawoto Sutikno. Kiai pendukung pasangan ini yang berkultur Muhammadiyah tidak kuasa memaksakan kehendak kepada masyarakat atau jamaahnya. Mereka menyerahkan sepenuhnya tindak lanjut dari usaha yang telah dilakukan secara maksimal oleh Kiai dilakukan oleh mesin partai politik. Sedangkan, Kiai pendukung pasangan Hadi Supeno-M. Najib, pada dasarnya memiliki kemiripan dengan karakteristik Kiai pendukung pasangan Djasri-Soehardjo. Namun dari sisi kualitas keilmuan dan jaringan, Kiai pendukung pasangan nomor urut tiga ini masih kalah dengan Kiai pendukung pasangan nomor urut satu. Bahkan Kiai Shodiq F.A, sebagai Kiai pendukung pasangan Hadi Supeno-M. Najib, tidak melakukan kampanye secara langsung. Artinya, Kiai Shodiq, hanya akan berkampanye atau memperkenalkan pilihan politiknya ketika ada warga masyarakat atau jamaah yang menanyakan. Namun, pada dasarnya kemenangan Kiai pendukung pasangan Djasri-Soehardjo, selain karena kharisma Kiai yang begitu kuat juga didukung oleh sikap kepasrahan masyarakat kepada Kiai. Masyarakat percaya sepenuhnya bahwa pilihan politik Kiai tersebut benar dan baik, maka menjadi kewajibannya untuk mengikutinya. Hal ini dikarenakan, masyarakat sangat bergantung pada Kiai dalam berbagai hal, seperti masalah sosial, budaya dan agama. Dengan demikian, pada dasarnya tidak sangat kentara system patronase dalam pilkada Kabupaten Banjarnegara. Walaupun di dalamnya memang ada Kiai pesantren yang disepuhkan. Namun, kemenangan pasangan Djasri tidak hanya kerena sepuhnya Kiai, akan tetapi, peran serta Kiai dalam memosisikan dirinya di tengah masyarakat tepat sehingga mampu menyakinkan pemilih untuk memilih pasangan calon nomor urut satu ini. POLITIK KIAI DALAM PILKADA Dalam pembahasan ini dapat diutarakan bahwa, setidaknya ada beberapa karakteristik Kiai dalam mendukung atau menentukan kemenangan bagi calon, pertama, Kiai yang berani terjun langsung ke gelanggang pilkada. Keberanian Kiai untuk terjun langsung dalam arena pilkada akan sangat mendukung perolehan suara pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Selain itu, keberanian Kiai untuk terjun langsung dalam gelanggang politik akan berimplikasinya nyata dalam perubahan pesantren dan tentunya pundi-pundi kekayaan Kiai akan bertambah dengan sendirinya. Lebih dari itu, jaringan Kiai dengan kekuasaan (pemerintah) semakin kokoh. Hal ini akan semakin mengokohkan peran dan posisi Kiai di tengah masyarakat. Namun, apa yang telah dilakukan oleh Kiai dalam mendukung pasangan calon pada dasarnya berorientasi pada faktor ideologi, amar maruf nahi munkar. Ada pun nantinya ada hadiah yang diberikan oleh pasangan calon kepada Kiai semata-mata sebagai ucapan terima kasih, dan bukan merupakan tujuan utama dalam berpolitik. Kedua, Kiai yang masih canggung dalam berpolitik. Karakteristik Kiai seperti ini kurang dapat mendukung perjuangan memperoleh kemenangan bagi pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Walaupun pesantren mereka mendapat bantuan dari pasangan calon saat kampanye, namun keberlanjutan bantuan akan berhenti karena pasangan calon yang 48
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

didukung tidak menduduki posisi penting di pemerintahan. Namun, jaringan kerja secara pribadi dan kelembagaan masih terus di jalin. Ketiga, Kiai karena kultur yang mengharuskan dia untuk membebaskan atau menyerahkan sepenuhnya pilihan politik kepada masyarakat sendiri. Kiai hanya sebagai jembatan penghubung dengan masyarakat, kewajiban untuk meyakinkan dan menindaklanjuti apa yang telah dilakukan Kiai diserahkan sepenuhnya kepada mesin partai pendukung pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Kehadiran Kiai dalam pilkada di Kabupaten Banjarnegara juga telah mencegah adanya money politic yang telah membudaya di tengah masyarakat Indonesia. Himbauan dan fatwa Kiai mengenai haramnya money politic diikuti masyarakat secara sadar. Walaupun tentunya masih ada orang-orang yang memanfaatkan momentum ini untuk menggeruk pundi-pundi calon Bupati dan Wakil Bupati. Kehadiran tokoh agama (Kiai) dalam politik juga semakin mengokohkan peran posisi ulama di tengah masyarakat. Kiai tidak lagi hanya mengurusi masalah-masalah profan saja. Kiai kini mempunyai tugas dan tanggung jawab mendampingi dan mendidik masyarakat agar melek politik. Politik sekarang tidak hanya menjadi lahan garap tokoh-tokoh politik saja, melainkan menjadi hal yang biasa dan menjadi milik siapa saja yang mau dan peduli mengenai masa depan daerah termasuk di dalamnya adalah tokoh agama (Kiai). KESIMPULAN Keterlibatan Kiai dalam pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006 dapat dibagi menjadi dua, pertama: Kiai sebagai aktor. Yaitu Kiai yang masuk dalam partai politik tertentu dan menjadi tim sukses pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Aktivitas politik yang mereka lakukan adalah dengan mengenalkan pasangan calon yang didukung kepada masyarakat melalui mimbar-mimbar agama. Para Kiai juga tidak sungkan mengajak pasangan calon dalam setiap agenda sosial kemasyarakatan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat sendiri ataupun pihak pesantren. Kedua, Kiai sebagai partisipan. Yaitu mereka yang sebenarnya sudah masuk kedalam partai politik tertentu dan namanya tercantum dalam tim sukses. Namun, mereka tidak secara terbuka mengkampanyekan pasangan calon yang didukung. Kiai ini berpandangan bahwa masyarakat pada dasarnya akan mengetahui dan mengikuti dengan sendiri mengenai pilihan politik Kiai. Kiai model ini juga mempersilahkan dan mendorong mesin politik (kader partai) bergerak lebih banyak dari pada dirinya. Hal ini agar peran Kiai sebagai pemimpin agama tetap terjaga dengan baik. Namun demikian, model Kiai seperti tidak mencari keuntungan pragmatis. Mereka tetap hanya menerima (kalau toh ada yang memberi) bantuan dari pasangan calon yang mereka dukung. Dampak keterlibatan Kiai dalam pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006 dapat dibagi menjadi 3 hal, dampak bagi kandidat, bagi Kiai dan dampak bagi santri: Kiai mempunyai peran ganda, sebagai elit lokal keagamaan dan elit lokal politik. Bagi kandidat, dengan merangkul Kiai diharapkan akan mendapatkan dukungan suara yang signifikan dari para pengikut Kiai di Banjarnegara, hal ini sangat bergantung pada kinerja Kiai pendukung kandidat. Relatifitas ini terjadi karena terdapat Kiai yang menjadi aktor dan Kiai partisipan. Kiai aktor, dengan sendirinya akan mempengaruhi pilihan politik pengikutnya. Sedangkan Kiai partisipan akan menyerahkan pilihan politik pengikutnya sesuai dengan pilihannya sendiri. Kiai akan mendapatkan keuntungan berupa jaminan bantuan dana bagi pembangunan
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

49

dan pengembangan pesantren yang dipimpinnya. Tetapi meskipun tak signifikan, keterlibatan Kiai dalam kancah politik lokal tersebut berpengaruh terhadap proses pembelajaran karena aktifitas Kiai tersebut menyebabkan sering meninggalkan pesantren yang dipimpinnya. Keterlibatan Kiai juga berimplikasi bagi santri. Perubahan dan penambahan berbagai fasilitas pesantren yang berasal dari bantuan para kandidat disini sangat membantu kegiatan belajar mengajar di pesantren.

DAFTAR PUSTAKA Andrain, Carless F. Kehidupan Politik dan Perubahan Sosia, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992 Bottomore, T.B.. Elite dan Masyarakat, Jakarta: Akbar Tandjung Institute, 2006 Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, 2006 Dhofier, Zamakhsari.. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3ES. 1982 Feillard, Andree. NU Via-a-Vis Negara, Yogyakarta: LKiS, 1999 Geertz, Clifford. .Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya, 1989 _____________,. Islam Observed, Religious Development in Moroco and Indonesia, London: the University of Chicago Press, 1975 Haryanto. Kekuasaan Elite Suatu Bahasan Pengantar, Yogyakarta: PLOD dan JIP Universitas Gadjah Mada, 2005 Ibn Hamim, Asykuri dkk. Muhammadiyah dan Kesenian Lokal di Lamongan: Apresiasi dan Interaksi di Tengah Purifikasi Agama, Jurnal Media Inovasi, No. 1. Th. XII/, 2002 Mahasin, Aswab. Kelas Menengah Santri: Pandangan dari Dalam, dalam Richard Tanter dan Kenneth Young, Politik Kelas Menengah Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1993 Nurhasim, Moch. Konflik Antar Elit Politik lokal dalam Pemilihan Kepala Daerah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Pusat Penelitian Politik-LIPI, Novemver, 2005 Purwoko, Bambang, Perilaku Politik Elit Agama dalam Dinamika Politik Lokal, dalam Focus Groups Discussion, Perilaku Elit Politik dan Elit Agama dalam Pilkada di Kabupaten Kulonprogo, diselenggarakan oleh LABDA Shalahuddin, JPPR, dan The Asia Foundation, Yogyakarta, 3 Agustus 2006. Rozaki, Abdur. Menabur Kharisma Menuai Kuasa, Kiprah Kiai dan Blater sebagai Rezim Kembar di Madura,Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2004

50

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

ANALISIS PENYEBAB MASYARAKAT TIDAK MEMILIH DALAM PEMILU Bismar Arianto1

Abstract Number of unvoting electors or generally termed as golongan putih or the white group continuously increases from every election in Indonesia . Several factors have reasonably caused the idea of this not voting behavior. This study identifies five responsible factors comprising technical, occupational and administrative factors, socialization and politics as well. Keywords : general election, the white group

Pendahuluan Bangsa Indonesia sejak tahun 1955 hingga 2009 sudah melaksanakan 10 kali pemilihan umum legislatif (pileg). Fakta dalam setiap pelaksanaan pileg masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya selalu ada dan cendrung meningkat dari setiap pelaksanaan pileg. Perilaku tidak memilih pemilih di Indonesia dikenal dengan sebutan golput. Kata golput adalah singkatan dari golongan putih. Makna inti dari kata golput adalah tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu dengan berbagai faktor dan alasan. Fenomena golput sudah terjadi sejak diselenggarakan pemilu pertama tahun 1955, akibat ketidaktahuan atau kurangnya informasi tentang penyelenggaraan pemilu. Biasanya mereka tidak datang ke tempat pemungutan suara. Sedangkan di era Orde Baru, golput lebih diartikan sebagai gerakan moral untuk memprotes penerapan sistem pemilu yang tidak demokratis oleh penguasa saat itu. Sejak era reformasi tren golput cendrung meningkat. Pileg 1999 angka golput mencapai 6,4%, pileg 2004 meningkat menjadi 15,9% dan pileg 2009 menvapai angka 29,1%. Secera lebih jelas tren golput tersebut dapat dilihat pada grafik berikut ;

Sekretaris Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

51

Golput tidak hanya terjadi dalam pemilu legislatif. Dalam perhelatan politik di tingkat lokal seperti pemilihan umum kepala daerah (pilkada) gejala golput juga terjadi. Dalam pilkada Gubernur Kepulauan Riau dari data quick count yang dilakukan LSI golput mencapai angka 50%. Pilkada Batam 2011 angka masyarakat yang tidak memilih melebihi angka 50 %, kasus yang sama juga terjadi di Kabupaten Karimun di atas 40% dipastikan tidak menggunakan hak pilih. Fenomena semakin banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan hak pilih juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Sebagai perbandingan kondisi yang sama juga terjadi di Provinsi Riau seperti yang terlihat pada tabel berikut : Tabel 1.1. Jumlah Pemilih yang Memilih dan Tidak Memilih di Provinsi Riau pada Pileg 2009

52

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Sumber : Data olahan tahun 2011 Pemaparan singkat di atas menggambar bahwa dalam setiap pemilu golput selalu ada dan cenderung meningkat. Fenomena lain terkait dengan golput adalah di tingkat daerah juga terjadi. Berangkat dari pemaparan ini tulisan ini mencoba menganalisa penyebab masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya (golput). Kerangka Teori Dalam kajian perilaku pemilih hanya ada dua konsep utama, yaitu; perilaku memilih (voting behavior) dan perilaku tidak memilih (non voting behavior). David Moon mengatakan ada dua pendekatan teoritik utama dalam menjelaskan prilaku non-voting yaitu: pertama, menekankan pada karakteristik sosial dan psikologi pemilih dan karakteristik institusional sistem pemilu; dan kedua, menekankan pada harapan pemilih tentang keuntungan dan kerugian atas keputusan mereka untuk hadir atau tidak hadir memilih (dalam Hasanuddin M. Saleh;2007). Istilah golput muncul pertama kali menjelang pemilu pertama zaman Orde Baru tahun 1971. Pemakarsa sikap untuk tidak memilih itu, antara lain Arief Budiman, Julius Usman dan almarhum Imam Malujo Sumali. Langkah mereka didasari pada pandangan bahwa aturan main berdemokrasi tidak ditegakkan, cenderung diinjak-injak (Fadillah Putra ;2003 ; 104). Golput menurut Arif Budiman bukan sebuah organisasi tanpa pengurus tetapi hanya merupakan pertemuan solidaritas (Arif Budiman). Sedangkan Arbi Sanit mengatakan bahwa golput adalah gerakan protes politik yang didasarkan pada segenap problem kebangsaan, sasaran protes dari dari gerakan golput adalah penyelenggaraan pemilu. Mengenai golput alm. KH. Abdurrahaman Wahid pernah mengatakan kalau tidak ada yang bisa di percaya, ngapain repotrepot ke kotak suara? Dari pada nanti kecewa (Abdurrahamn Wahid, dkk, 2009; 1). Sikap orang-orang golput, menurut Arbi Sanit dalam memilih memang berbeda dengan kelompok pemilih lain atas dasar cara penggunaan hak pilih. Apabila pemilih umumnya menggunakan hak pilih sesuai peraturan yang berlaku atau tidak menggunakan hak pilih karena berhalangan di luar kontrolnya, kaum golput menggunakan hak pilih dengan tiga kemungkinan. Pertama, menusuk lebih dari satu gambar partai. Kedua ,menusuk bagian putih dari kartu suara. Ketiga, tidak mendatangi kotak suara dengan kesadaran untuk tidak menggunakan hak pilih. Bagi mereka, memilih dalam pemilu sepenuhnya adalah hak. Kewajiban mereka dalam kaitan dengan hak pilih ialah menggunakannya secara bertanggungjawab dengan menekankan kaitan
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

53

penyerahan suara kepada tujuan pemilu, tidak hanya membatasi pada penyerahan suara kepada salah satu kontestan pemilu (Arbi Sanit ; 1992) Jadi berdasarkan hal di atas, golput adalah mereka yang dengan sengaja dan dengan suatu maksud dan tujuan yang jelas menolak memberikan suara dalam pemilu. Dengan demikian, orang-orang yang berhalangan hadir di Tempat Pemilihan Suara (TPS) hanya karena alasan teknis, seperti jauhnya TPS atau terluput dari pendaftaran, otomatis dikeluarkan dari kategori golput. Begitu pula persyaratan yang diperlukan untuk menjadi golput bukan lagi sekedar memiliki rasa enggan atau malas ke TPS tanpa maksud yang jelas. Pengecualian kedua golongan ini dari istilah golput tidak hanya memurnikan wawasan mengenai kelompok itu, melainkan juga sekaligus memperkecil kemungkinan terjadinya pengaburan makna, baik di sengaja maupun tidak. Eep Saefulloh Fatah, mengklasifikasikan golput atas empat golongan. Pertama, golput teknis, yakni mereka yang karena sebab-sebab teknis tertentu (seperti keluarga meninggal, ketiduran, dan lain-lain) berhalangan hadir ke tempat pemungutan suara, atau mereka yang keliru mencoblos sehingga suaranya dinyatakan tidak sah. Kedua, golput teknis-politis, seperti mereka yang tidak terdaftar sebagai pemilih karena kesalahan dirinya atau pihak lain (lembaga statistik, penyelenggara pemilu). Ketiga, golput politis, yakni mereka yang merasa tak punya pilihan dari kandidat yang tersedia atau tak percaya bahwa pileg/pilkada akan membawa perubahan dan perbaikan. Keempat, golput ideologis, yakni mereka yang tak percaya pada mekanisme demokrasi (liberal) dan tak mau terlibat di dalamnya entah karena alasan fundamentalisme agama atau alasan politik-ideologi lain (dalam Hery M.N. Fathah). Sedangkan menurut Novel Ali(1999;22)., di Indonesia terdapat dua kelompok golput Pertama, adalah kelompok golput awam. Yaitu mereka yang tidak mempergunakan hak pilihnya bukan karena alasan politik, tetapi karena alasan ekonomi, kesibukan dan sebagainya. Kemampuan politik kelompok ini tidak sampai ke tingkat analisis, melainkan hanya sampai tingkat deskriptif saja. Kedua, adalah kelompok golput pilihan. Yaitu mereka yang tidak bersedia menggunakan hak pilihnya dalam pemilu benar-benar karena alasan politik. Misalnya tidak puas dengan kualitas partai politik yang ada. Atau karena mereka menginginkan adanya satu organisasi politik lain yang sekarang belum ada. Maupun karena mereka mengkehendaki pemilu atas dasar sistem distrik, dan berbagai alasan lainnya. Kemampuan analisis politik mereka jauh lebih tinggi dibandingkan golput awam. Golput pilihan ini memiliki kemampuan analisis politik yang tidak Cuma berada pada tingkat deskripsi saja, tapi juga pada tingkat evaluasi. Tinjauan Penelitian Sebelumnya Banyak kajian penelitian sebelumnya yang membahas tentang perilaku masyarakat yang tidak memilih. Salah satunya dilakaukan Tauchid Dwijayanto dengan judul penelitian Fenomena Golput Pada Pilgub Jateng 2008-2013 (Studi Kasus Masyarakat Golput Kota Semarang) Berdasarkan hasil penelitianan yang dilakukan oleh Tauchid Dwijayanto ada tiga faktor utama yang menyebabkan tingginya angka golput dalam Pilgub Jateng 2008-2013 di Kota Semarang yaitu ; 1. Masih lemahnya sosialisasi tentang Pilgub Jawa Tengah. Dari temuan penelitian tersebut di tegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang serta Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinyatakan masih sangat kecil peranannya dalam rangka mensosialisasikan pengetahuan tentang pelakasanaan Pemilihan Gubernur Jawa Tengah. 54
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

2. Masyarakat lebih mementingkan kebutuhan ekonomi. Tauchid Dwijayanto mengatakan bahwa maka mayoritas responden lebih memilih untuk bekerja dari pada datang ke TPS memberikan suara, karena faktor ekonomi dimana masyarakat lebih memilih bekerja dari pada hilang pengasilannya dari pada hadir di TPS yang berdampak pada berkurangnya penghasilan, sementara tuntutan ekonomi keluarga semakin kuat. 3. Sikap apatisme terhadap pemilihan gubernur. Hasil temuan penelitian Tauchid Dwijayanto mengatakan mayoritas responden (67%) menganggap bahwa dengan dilaksanakannya Pilgub ini tidak akan membawa perubahan apapun baik terhadap provinsi maupun kehidupan mereka. Menurut mereka perhelatan semacam Pilgub ini hanyalah sebuah rutinitas politik saja tanpa menjanjikan suatu perubahan yang berarti. Peneliti lain yang membahas tentang fenomoena golput adalah Efniwati, penelitiannya berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Hak Pilih pada Pemilihan Presiden 2009 di Kota Dumai (Studi Kasus di Kecamatan Dumai Timur dan Kecamatan Sei. Sembilan). Temuan kajian Efniwati yang dilakukan di dua kelurahan di Kota Dumai untuk perilaku masyarakat tidak memilih menunjukkan ada dua faktor yang kuat mempengaruhi masyarakat. Faktor pekerjaan responden adalah faktor yang paling dominan mempengaruhi pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya di Kelurahan Sukajadi yaitu sebesar 16,9%, sedangkan di Kelurahan Bangsal Aceh faktor lokasi TPS (X12) adalah foktor yang paling dominan mempengaruhi pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada Pilpres 2009 yaitu sebesar 15,9%. Hingga saat ini, ada sejumlah penjelasan yang dikemukakan oleh para pengamat atau penyelenggara Pemilu tentang penyebab adanya Golput. Pertama, administratif. Seorang pemilih tidak ikut memilih karena terbentur dengan prosedur administrasi seperti tidak mempunyai kartu pemilih, tidak terdaftar dalam daftar pemilih dan sebagainya. Kedua, teknis. Seseorang memutuskan tidak ikut memilih karena tidak ada waktu untuk memilih seperti harus bekerja di hari pemilihan, sedang ada keperluan, harus ke luar kota di saat hari pemilihan dan sebagainya. Ketiga, rendahnya keterlibatan atau ketertarikan pada politik (political engagement). Seseorang tidak memilih karena tidak merasa tertarik dengan politik, acuh dan tidak memandang Pemilu atau Pilkada sebagai hal yang penting. Keempat, kalkulasi rasional. Pemilih memutuskan tidak menggunakan hak pilihnya karena secara sadar memang memutuskan untuk tidak memilih. Pemilu legislatif dipandang tidak ada gunanya, tidak akan membawa perubahan berarti. Atau tidak ada calon kepala daerah yang disukai dan sebagainya (Eriyanto ; 2007). Analisa Penyebab Golput Berdasar pemaparan secara teoritis dan tinjauan penelitian sebelumnya ada perbedaan pendapat para ahli dan temuan hasil penelitian tentang fenomena golput. Menurut David Moon ada perilaku non-voting yaitu pertama, menekankan pada karakteristik sosial dan psikologi pemilih serta karakteristik institusional sistem pemilu; dan kedua, menekankan pada harapan pemilih tentang keuntungan dan kerugian atas keputusan mereka untuk hadir atau tidak hadir memilih. Merujuk pedapat Arbi Sanit golput dapat diklasifikasi menjadi tiga yaitu Pertama, menusuk lebih dari satu gambar partai. Kedua ,menusuk bagian putih dari kartu suara. Ketiga, tidak mendatangi kotak suara dengan kesadaran untuk tidak menggunakan hak pilih. Sedangkan menurut Novel Ali dapat di bagi dua kelompok golput awam dan kelompok golput pilihan. Secara
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

55

lebih detail diuraikan oleh Eep Saefulloh Fatah golput teknis, golput teknis-politis golput politis dan golput ideologis. Hasil penelitian Tauchid Dwijayanto dalam kasus pilkada Jawa Tengah ada tiga yang menyebabkan terjadinya golput yaitu lemahnya sosialisasi, masyarakat lebih mementingkan kebutuhan ekonomi dan sikap apatisme masyarakat. Berdasarkan hasil temuan Efniwati ada dua hal yang menyebabkan pemilih golput yaitu faktor pekerjaan dan faktor lokasi TPS. Kemudian Eriyanto mengatakan ada empat alasan mengapa pemilih golput yaitu karena administratif, teknis, rendahnya keterlibatan atau ketertarikan pada politik (political engagement) dan kalkulasi rasional. Berangkat dari penjelasan ini dalam pemahaman penulis faktor yang menyebabkan masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilihnya secara sederhana dapat di klasifikasikan kedalam dua kelompok besar yaitu faktor dari internal pemilih dan faktor ekternal. Faktor internal yang penulis maksud adalah alasan pemilih untuk tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan ekternal alasan tersebut datang dari luar dirinya. Secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut ini Tabel 1.2. Faktor Internal dan Ekternal Penyabab Pemilih Golput

Sumber ; olahan 2011 1. Faktor Internal Tabel di atas menunjukkan tiga alasan yang datang dari individu pemilih yang mengakibatkan mereka tidak menggunakan hak pilih. Diantaranya alasan teknis dan pekerjaan pemilih. a. Faktor Teknis Faktor teknis yang penulis maksud adalah adanya kendala yang bersifat teknis yang dialami oleh pemilih sehingga menghalanginya untuk menggunakan hak pilih. Seperti pada saat hari pencoblosan pemilih sedang sakit, pemilih sedang ada kegiatan yang lain serta berbagai hal lainnya yang sifatnya menyangkut pribadi pemilih. Kondisi itulah yang secara teknis membuat pemilih tidak datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Faktor teknis ini dalam pemahaman dapat di klasifikasikan ke dalam dua hal yaitu teknis mutlak dan teknis yang bisa di tolerir. Teknis mutlak adalah kendala yang serta merta membuat pemilih tidak bisa hadir ke TPS seperti sakit yang membuat pemilih tidak bisa keluar rumah. Sedang berada di luar kota. Kondisi yang seperti yang penulis maksud teknis mutlak. Teknis yang dapat di tolerir adalah permasalahan yang sifatnya sederhana yang melakat pada pribadi pemilih yang mengakibat tidak datang ke TPS. Seperti ada keperluan keluarga, merencanakan liburan pada saat hari pemilihan. Pada kasus-kasus seperti ini dalam pemahaman penulis pemilih masih bisa mensiasatinya, yaitu dengan cara mendatangi TPS untuk menggunakan hak pilih terlebih dahulu baru melakukan aktivitas atau keperluan yang bersifat pribadi. 56
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Pemilih golput yang karena alasan teknis yang tipe kedua ini cenderung tidak mengetahui essensi dari menggunakan hak pilih, sehingga lebih mementingkan kepentingan pribadi dari pada menggunakan pilihnya. Pemilih ideal harus mengetahui dampak dari satu suara yang diberikan dalam pemilu. Hakikatnya suara yang diberikan itulah yang menentukan pemimpin lima tahun mendatang. Dengan memilih pemimpin yang baik berarti pemilih berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik pula. b. Faktor Pekerjaan Faktor pekerjaan adalah pekerjaan sehari-hari pemilih. Faktor pekerjaan pemilih ini dalam pemahaman penulis memiliki kontribusi terhadap jumlah orang yang tidak memilih. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010 dari 107,41 juta orang yang bekerja, paling banyak bekerja di sektor pertanian yaitu 42,83 juta orang (39,88 persen), disusul sektor perdagangan sebesar 22,21 juta orang (20,68 persen), dan sektor jasa kemasyarakatan sebesar 15,62 juta orang (14,54 persen). Data yang hampir sama di Provinsi Kepuluan Riau berdasrakan Data BPS 2010, sebanyak 31,9% penduduk bekerja di sektor industri, sektor jasa kemasyarakatan sebesar 20,7%, sektor perdagangan sebesar 18,18% dan pertanian dan perkebunan 13,5%. Data di atas menunjukkan sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor informal, dimana penghasilanya sangat terkait dengan intensitasnya bekerja. Banyak dari sektor informal yang baru mendapatkan penghasilan ketika mereka bekerja, tidak bekerja berarti tidak ada penghasilan. Seperti tukang ojek, buruh harian, nelayan, petani harian. Kemudian ada pekerjaan masyarakat yang mengharuskan mereka untuk meninggal tempat tinggalnya seperti para pelaut, penggali tambang. Kondisi seperti membuat mereka harus tidak memilih, karena faktor lokasi mereka bekerja yang jauh dari TPS. Maka dalam pemahaman penulis faktor pekerjaan cukup singifikan pada pada faktor internal membuat pemilih untuk tidak memilih. Pemilih dalam kondisi seperti ini dihadapkan pada dua pilihan menggunakan hak pilih yang akan mengancam berkurang yang penghasilannya atau pergi bekerja dan tidak memilih. 2. Faktor Eksternal Faktor ektenal faktor yang berasal dari luar yang mengakibatkan pemilih tidak menggukan hak pilihnya dalam pemilu. Ada tiga yang masuk pada kategori ini menurut pemilih yaitu aspek administratif, sosialisasi dan politik. a. Faktor Administratif Faktor adminisistratif adalah faktor yang berkaitan dengan aspek adminstrasi yang mengakibatkan pemilih tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Diantaranya tidak terdata sebagai pemilih, tidak mendapatkan kartu pemilihan tidak memiliki identitas kependudukan (KTP). Hal-hal administratif seperti inilah yang membuat pemilih tidak bisa ikut dalam pemilihan. Pemilih tidak akan bisa menggunakan hak pilih jika tidak terdaftar sebagai pemilih. Kasus pemilu legislatif 2009 adalah buktinya banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak bisa ikut dalam pemilu karena tidak terdaftar sebagai pemilih. Jika kondisi yang seperti ini terjadi maka secara otomatis masyarakat akan tergabung kedalam kategori golput.
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

57

Faktor berikut yang menjadi penghalang dari aspek administrasi adalah permasalahan kartu identitas. Masih ada masyarakat tidak memilki KTP. Jika masyarakat tidak memiliki KTP maka tidak akan terdaftar di DPT (Daftar Pemimilih Tetap) karena secara administtaif KTP yang menjadi rujukkan dalam mendata dan membuat DPT. Maka masyarakat baru bisa terdaftar sebagai pemilih menimal sudah tinggal 6 bulan di satu tempat. Golput yang diakibat oleh faktor administratif ini bisa diminimalisir jika para petugas pendata pemilih melakukan pendataan secara benar dan maksimal untuk mendatangi rumah-rumah pemilih. Selain itu dituntut inisiatif masyarakat untuk mendatangi petugas pendataan untuk mendaftarkan diri sebagai pemilih. Langkah berikutnya DPS (Daftar Pemilih Sementara) harus tempel di tempat-tempat strategis agar bisa dibaca oleh masyarakat. Masyarakat juga harus berinisiatif melacak namanya di DPS, jika belum terdaftar segara melopor ke pengrus RT atau petugas pendataan. Langkah berikut untuk menimalisir terjadi golput karen aspek adminitrasi adalah dengan memanfaatkan data kependudukan berbasis IT. Upaya elektoronik Kartu Tanda Penduduk (E KTP) yang dilakukan pemerintahan sekarang dalam pandangan penulis sangat efektif dalam menimalisir golput administratif. b. Sosialisasi Sosialisasi atau menyebarluaskan pelaksanaan pemilu di Indonesia sangat penting dilakukan dalam rangka memenimalisir golput. Hal ini di sebabkan intensitas pemilu di Indonesia cukup tinggi mulai dari memilih kepala desa, bupati/walikota, gubernur pemilu legislatif dan pemilu presiden hal ini belum dimasukkan pemilihan yang lebih kecil RT/ RW. Kondisi lain yang mendorong sosialisi sangat penting dalam upaya meningkatkan partisipasi politik masyarakat adalah dalam setiap pemilu terutama pemilu di era reformasi selalu diikuti oleh sebagian peserta pemilu yang berbeda. Pada Pemilu 1999 diikuti sebanyak 48 partai politik, pada pemilu 2004 dikuti oleh 24 partai politik dan pemilu 2009 dikuti oleh 41 partai politik nasional dan 6 partai politik lokal di Aceh. Kondisi ini menuntut perlunya sosialisasi terhadap masyarakat. Permasalahan berikut yang menuntut perlunya sosialisasi adalah mekanisme pemilihan yang berbeda antara pemilu sebelum reformasi dengan pemilu sebelumnya. Dimana pada era orde baru hanya memilih lambang partai sementara sekarang selian memilih lambang juga harus memilih nama salah satu calon di pertai tersebut. Perubahan yang signifikan adalah pada pemilu 2009 dimana kita tidak lagi mencoblos dalam memilih tetapi dengan cara menandai. Kondisi ini semualah yang menuntu pentingnya sosialisasi dalam rangka menyukseskan pelaksanaan pemilu dan memenimalisir angka golput dalam setiap pemilu. Terlepas dari itu semua penduduk di Indonesia sebagai besar berada di pedesaan maka menyebar luaskan informasi pemilu dinilai pentingi, apalagi bagi masyarakat yang jauh dari akses transportasi dan informasi, maka sosiliasi dari mulut ke mulut menjadi faktor kunci mengurangi angka golput. c. Faktor Politik Faktor politik adalah alasan atau penyebab yang ditimbulkan oleh aspek politik masyarakat tidak mau memilih. Seperti ketidak percaya dengan partai, tak punya pilihan 58
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

dari kandidat yang tersedia atau tak percaya bahwa pileg/pilkada akan membawa perubahan dan perbaikan. Kondisi inilah yang mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Stigma politik itu kotor, jahat, menghalalkan segala cara dan lain sebagainya memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap politik sehingga membuat masyarakat enggan untuk menggunakan hak pilih. Stigma ini terbentuk karena tabiat sebagian politisi yang masuk pada kategori politik instan. Politik dimana baru mendekati masyarakat ketika akan ada agenda politik seperti pemilu. Maka kondisi ini meruntuhkan kepercayaan masyarakat pada politisi. Faktor lain adalah para politisi yang tidak mengakar, politisi yang dekat dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Sebagian politisi lebih dekat dengan para petinggi partai, dengan pemegang kekuasaan. Mereka lebih menngantungkan diri pada pemimpinnya di bandingkan mendekatkan diri dengan konstituen atau pemilihnya. Kondisi lain adalah tingkah laku politisi yang banyak berkonflik mulai konflik internal partai dalam mendapatkan jabatan strategis di partai, kemudian konflik dengan politisi lain yang berbeda partai. Konflik seperti ini menimbulkan anti pati masyarakat terhadap partai politik. Idealnya konflik yang di tampilkan para politisi seharusnya tetap mengedepankan etika politik (fatsoen). Politik pragamatis yang semakin menguat, baik dikalangan politisi maupun di sebagian masyarakat. Para politisi hanya mencari keuntungan sesaat dengan cara mendapatkan suara rakyat. Sedangan sebagian masyarakat kita, politik dengan melakukan transaksi semakin menjadi-jadi. Baru mau mendukung, memilih jika ada mendapatkan keutungan materi, maka muncul ungkapan kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau sudah jadi/terpilih mereka akan lupa janji. Kondisi-kondisi yang seperti penulis uraikan ini yang secara politik memengaruhi masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Sebagian Masyarakat semakin tidak yakin dengan politisi. Harus diakui tidak semua politisi seperti ini, masih banyak politisi yang baik, namun mereka yang baik tenggelam dikalahkan politisi yang tidak baik. Penutup Angka masyarakat yang tidak memilih atau golput dari pemilu ke pemilu terus meningkat. Dari pembahasan tulisan ini tergambar setidaknya ada lima faktor yang membuat orang tidak memilih mulai dengan faktor teknis dan pekerjaan merupakan faktor internal serta faktor ekternal yang terdiri dari administratif, sosialisasi dan politik. Kelima faktor ini berkontribusi terhadap meningkatnya angka golput. Harus ada upaya yang maksimal untuk memenimalisir meningkatnya angka masyarakat yang tidak memilih dalam pemilu. Karena kualitas pemilu secara tidak langsung juga dilihat dari legitimasi pemimpin yang terpilih. Semakin kuat dukungan rakyat semakin kuatlah tingkat kepercayaan rakyat.

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

59

DAFTAR PUSTAKA Ali, Novel,. Peradaban Komunikasi Politik, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1999 J Prihatmoko, Joko. Pemilu 2004 dan Konsolidasi Demokrasi, LP21Semarang dan LP3M Unwahas, 2003 Pito, Toni Adrianus, Efriza, Fasyah, Kemal. Mengenal Teori-Teori Politik, Nuansa, Bandung, 2006 Putra, Fadillah. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004 Sanit, Arbi (Eds). Aneka Pandangan Fenomena Politik Golput, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1992 Sastroadmojo, Sudjono. Perilaku Politik, IKIP Semarang Press, 1995 Wahid, Abdurrahman, Halim HD, Dkk. Mengapa Kami Memilih Golput, Sagon, Jakarta, 2009 Jurnal, Makalah, Peraturan Perundang-Undangan dan Internet Eep Saefulloh Fatah dalam Hery M.N. Fathah, Fenomena Golput dan Krisis Kepercayaan, http/ /lampungpost.com Hasanuddin M. Saleh, Perilaku Tidak Memilih Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Langsung Di Riau: Suatu Bahasan Awal, Makalah pada seminar yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Politik Pasca Sarjana Universitas Riau, 2 September 2007 di Pekanbaru Sumber Website : www.lsi.co.id Golput Dalam Pilkada, Kajian Bulanan LSI Edisi 05 September 2007, oleh Eriyanto.

60

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

PEMBERDAYAAN APARATUR DAERAH (Telaah Teoritis Terhadap Kinerja Aparatur Daerah) Agus Hendayady1
Abstract Empower means to enable, to allow or to permit and can be conceived as both self initiated by other. Empowering is an act of building, developing, and increasing power through cooperation, performance, sharing, and working together. It is an interactive process based on synergistic, with asumption about power, that is the process of empowerment enlarges the power is the situation as opposed to merely redistributing it. Keyword : Empowerment, Performance, authority and responsibility. Pendahuluan Paradigma penyelenggaraan pemerintahan telah mengalami pergeseran, dari paradigma rule government menjadi good governance. Dalam rangka mencapai good governance maka yang dibutuhkan adalah pemberdayaan aparatur sehingga aparatur memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidang tugasnya. Walau bagaimanapun juga seorang aparatur yang merupakan bagian dari masyarakat harus bisa menjadi agen perubahan (agent of change) sekaligus pendukung utama dalam penyelenggaraan negara. Agar dapat menjalankan fungsi penyelenggaraan negara maka yang dibutuhkan adalah pemberdayaan pegawai. Pemberdayaan pegawai adalah usaha-usaha atau upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran atas potensi yang dimiliki oleh setiap aparatur, serta usaha-usaha nyata untuk mengembangkannya, dengan harapan apabila hal ini dapat diwujudkan, maka pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya akan lebih optimal. Pemberdayaan merupakan alat yang penting untuk memperbaiki kinerja pegawai sehingga pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Makmur (2003 : 45) yang menyatakan bahwa keuntungan utama adanya upaya pemberdayaan adalah peningkatan kinerja dan hasil semakin besar pula karena setiap anggota masyarakat dan aparatur pemerintah merasa memiliki rasa tanggungjawab. Karena itu, dengan pemberdayaan, pegawai yang merasa diberdayakan akan dapat meningkatkan kepribadian, prestasi kerja serta dapat meningkatkan disiplin kerja yang tinggi. Hal ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh Nisjar (dalam Sedarmayanti, 2003 : 146), bahwa pemberdayaan dapat dilakukan melalui pendelegasian wewenang, pemberian wewenang, sehingga diharapkan orang lebih fleksibel, efektif, inovatif, kreatif, etos kerja tinggi yang pada akhirnya produktivitas organisasi menjadi meningkat.
1

Penulis dalah Dosen FISIP UMRAH Tanjungpinang. Saat ini menjabat sebagai PD I

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

61

Pemberdayaan Pemberdayaan berasal dari kata empowering, asal katanya adalah power yang artinya control, authority, dominion. Awalan emp artinya to put on to atau to cover with jelasnya more power. Jadi empowering is passing on authority and responsibility yaitu lebih berdaya dari sebelumnya dalam arti wewenang dan tanggungjawabnya termasuk kemampuan individual yang dimilikinya. Dari penjelasan ini jelaslah bahwa pemberdayaan adalah suatu konsep yang mengandung makna perubahan yang terjadi pada diri seseorang atau dengan kata lain pemberdayaan bertujuan mengangkat harga diri seseorang, dimana dalam kesehari-hariannya dalam melakukan pekerjaan tidak lagi ketergantungan dengan pimpinan serta memiliki kewenangan dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini ada hubungannya dengan profesionalisme yang pada awalnya selalu dimiliki oleh individu. Oleh karenanya empowerment terjadi manakala when power goes to employees who then experience a sence of ownership and control over (Brown dalam Hendrayady, 2006:32) yang maknanya adalah peningkatan tanggungjawab pegawai. Empowered individuals know that their jobs belong to them. Given a say in how things are done, employees feel more responsible. When they feel responsible, they show more initiative in their work, get more done, and enjoy their work more (William dalam Hendrayady, 2006:32). Maknanya apabila pegawai merasa bertanggungjawab maka mereka akan menunjukkan lebih mempunyai inisiatif, hasil pekerjaannya lebih banyak dan mereka akan lebih menikmati pekerjaannya. Dengan demikian makna dari pemberdayaan menurut penulis adalah memberikan kewenangan penuh kepada seseorang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki untuk melakukan tugas dan fungsinya secara bertanggungjawab. Untuk memperoleh hasil yang optimal mengenai pemberdayaan menurut Handoko dan Tjiptono (dalam Said, 2003: 22), dibutuhkan lima strategi sebagai berikut : 1. No Discretion, menggambarkan tugas yang sangat rutin dan repetitif. Pegawai tidak ikut merancang pekerjaan. Pemantauannya pun diserahkan kepada orang lain. Dengan demikian, tidak terdapat wewenang pengambilan keputusan yang berkaitan dengan job content dan job context. 2. Task Setting, yaitu pegawai diberikan tanggungjawab penuh terhadap keputusan atas job content dan sedikit tanggungjawab atas job context. Pegawai diberdayakan dalam membuat keputusan mengenai cara terbaik untuk merampungkan tugas yang diberikan. Dalam hal ini manajemen menetapkan misi dan tujuan, sedangkan pegawai diberdayakan untuk mengupayakan cara terbaik untuk mewujudkannya. 3. Participatory Empowerment, dimana pegawai dilibatkan dalam sebagian pengambilan keputusan atas job content maupun job context. Mereka dilibatkan dalam identifikasi masalah, pengembangan alternatif, dan rekomendasi alternatif dalam job content. Mereka juga dilibatkan untuk aktivitas yang sama di dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan job context. 4. Mission Defining, dimana pegawai diberdayakan untuk memutuskan job context saja. 5. Self-Management, yaitu memberikan wewenang punuh kepada para pegawai untuk mengambil keputusan mengenai job content dan job context. Untuk itu dibutuhkan kepercayaan atas kemampuan pegawai untuk menggunakan empowerment tersebut guna meningkatkan efektivitas organisasi, dilain pihak diperlukan pula keterlibatan tinggi dari para pegawai dalam pengembangan misi dan tujuan organisasi. 62
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Pemberdayaan Dan Kinerja Aparatur Dalam kaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemberdayaan aparatur yang semakin baik akan meningkatkan kinerja aparatur. Hal ini sesuai dengan 6 manfaat dari pemberdayaan : 1. Meningkatkan kualitas, inovasi, loyalitas, rasa berprestasi dan produktivitas pegawai. 2. Meningkatkan kreativitas dan komitmen para pegawai. 3. Salah satu aspek penting bagi keberhasilan masa transisi dari organisasi birokratik ke organisasi yang berdasarkan tim. 4. Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. 5. Alat penting untuk memperbaiki kinerja melalui penyebaran pembuatan keputusan dan tanggung jawab karena mendorong keterlibatan para pegawai. 6. Dapat menyadarkan, mendukung, mendorong, dan membantu mengembangkan potensi yang terdapat pada diri individu sehingga menjadi manusia mandiri tetapi tetap berkepribadian. Untuk mewujudkan pemberdayaan aparatur guna meningkatkan kinerja organisasi menurut Said (2003:23-25), perlu diterapkan suatu solusi etika bekerja dan nilai dalam kepegawaian dengan pendekatan 6 dasar sebagai berikut : 1. Nilai Dasar Personal (Basic Personal Values) yang meliputi : a. Kepercayaan; kecurigaan antara sesama pegawai, dalam segala aspek perlu dihilangkan, sehingga dapat menciptakan sinergi dalam melakukan pekerjaan. b. Bertanggungjawab; karena rasa saling curiga tidak ada lagi diantara pegawai, sehingga memungkinkan semua pegawai merasa memiliki, sekaligus merasa bertanggungjawab terhadap semua kegiatan organisasi. c. Bersungguh-sungguh; pegawai dalam menghadapi tugas dan tanggungjawab yang diembannya, bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. d. Pengabdian; dalam aspek pengabdian disini karena semua pegawai merasa diberdayakan; maka tugas-tugas yang diberikan dijadikan sebagai suatu tugas pengabdian yang menuntut pengorbanan. e. Ketertiban; dalam ketertiban disini segala penugasan yang diberikan secara tertib dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. f. Bekerjasama; setiap permasalahan yang terjadi selalu dilaksanakan secara bersamasama tanpa sesuatu beban yang berlainan dan perlakuan dan pengakuan yang khusus dari hasil yang dicapai. g. Bersih Diri; karena adanya kerjasama yang baik diantara pegawai, memungkinkan saling mengawasi satu sama lain guna menciptakan pemerintahan yang bersih. h. Rajin atau Tekun; karena merasa memiliki sikap kerajinan menjadi sesuatu kebutuhan setiap pegawai. i. Lemah Lembut; nampak keramah tamahan dalam memberikan pelayanan. 2. Nilai yang Berfokus pada Kebiasaan (Custome-Focussed Values) meliputi : a. Mulia; dalam melakukan aktivitasnya menunjukkan pegawai yang patut dihargai, karena dalam bekerja selalu menjaga konsistensi tindakan yang dilakukan. b. Sabar; dalam memberikan pelayanan maupun dalam menghadapi permasalahan selalu mengutamakan kesabaran daripada emosional yang tidak mencerminkan sebagai pegawai. c. Sopan; dalam berkomunikasi dengan orang lain selalu menjaga tatakrama
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

63

d. Ramah; rasa bersahabat diantara sesama pegawai maupun terhadap orang yang dilayani. 3. Nilai Kepemimpinan (Leadership Values) yang meliputi : a. Adil; dalam membuat keputusan selalu berusaha menciptakan rasa adil diantara sesama pegawai tanpa adanya kesan diskriminasi. b. Berani; tegas dan tanpa ragu-ragu dalam mengambil keputusan. c. Bersedia Menerima; menghargai setiap pendapat pegawai yang ada dalam lingkungannya maupun yang dilingkungan organisasinya. 4. Nilai Profesional (Professional Values) yang meliputi : a. Pengetahuan; memiliki wawasan yang luas untuk mempertimbangkan segala aspek dalam menentukan kebijakan. b. Memiliki Daya Cipta; selalu berusaha untuk dapat menciptakan sesuatu dan sekaligus mendorong setiap pegawai untuk menemukan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi organisasi. c. Pembaharuan; tidak terikat terhadap sesuatu yang biasanya yang menurut perkembangan tidak sesuai lagi untuk diterapkan. d. Kejujuran Intelektual; tidak mengakui terhadap sesuatu ia ciptakan menurut pikirannya adalah hasil ciptaan dari orang lain. e. Bertanggungjawab; terhadap setiap masalah yang dihadapi selalu dipertanggungjawabkan tanpa harus meminta orang lain untuk bertanggungjawab. f. Tidak Memihak; dalam menyelesaikan permasalahan tidak berdiri disalah satu pihak. 5. Nilai Kualitas dan Produktivitas (Productivity/Quality Values) : a. Berproduksi; hasil yang dicapai selalu dapat dimanfaatkan oleh orang lain. b. Berkualitas; hasil yang dimanfaatkan orang lain tersebut sekaligus berkualitas. 6. Nilai Umum (Universal Values) : a. Berterima Kasih; menyampaikan suatu penghargaan terhadap siapa saja yang diketahui berhasil. b. Kepercayaan; selalu memberikan penugasan kepada siapa saja yang memiliki kompetensi tanpa harus mencurigai. c. Bertaqwa Kepada Tuhan; saling meyakinkan satu sama lain bahwa segala seuatu yang dicapai itu adalah berkat kekuasaan Tuhan, dan berusaha menghindari segala perbuatan yang tercela. Dengan menerapkan nilai-nilai dasar tersebut, maka pemberdayaan aparatur dapat diwujudkan. Dengan demikian kekuasaan-kekuasaan yang menjadi penghalang dan menjadi tantangan dalam suatu pemberdayaan dapat dihilangkan. Sedangkan fenomena yang mencuat selama ini dari kinerja birokrasi di Indonesia adalah : 1. Cenderung lamban, kaku, kegemukan sehingga produktivitas rendah. 2. Bersifat feodal, patrimonial, dan tradisional. 3. Cenderung berbau kolusi, korupsi, dan nepotisme serta berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang lainnya. 4. Masih sering terjadi overlapping dalam tugas dan fungsi serta program karena birokrasi tidak mempunyai struktur dan fungsi yang jelas. 5. Mutu pelayanan kurang optimal. 6. Prosedur kerja masih berbelit-belit. 7. Mekanisme kerja yang tidak efisien dan tidak efektif karena secara administratif tidak 64
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

menumbuhkan the right man on the right place. Dari beberapa fenomena yang tampak ini jelas menunjukkan bahwa pemberdayaan aparatur pemerintah merupakan suatu hal yang mutlak, hal ini berlaku mulai dari tingkat bawahan operasional hingga tingkat pimpinan tertinggi dalam suatu organisasi. Karena dengan adanya pemberdayaan bagi aparatur harapan yang muncul adalah peningkatan kinerja dan hasil semakin besar karena adanya rasa tanggungjawab dari setiap aparatur. Pemberdayaan Aparatur Pemerintah Pemberdayaan aparatur pemerintah merupakan suatu sistem, karena memiliki berbagai komponen yang saling berkaitan dan mempengaruhi antara komponen yang satu dengan komponen yang lain untuk menciptakan suatu output. Keterkaitan antar komponen dalam sistem pemberdayaan aparatur dapat digambarkan dalam model, sebagai berikut :

Sumber : Winardi (dalam Makmur, 2003:47). Komponen input dalam sistem pemberdayaan aparatur pemerintah tidak berdiri sendiri tetapi merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Komponen proses dalam sistem pemberdayaan aparatur pemerintah meliputi perangkat lunak dan perangkat keras, dimana komponen ini diolah sehingga dapat berfungsi sebagai alat kontrol dan alat pelengkap dalam kegiatan proses pemberdayaan aparatur pemerintah. Komponen output adalah merupakan hasil dari kegiatan proses yang meliputi output mind (knowledge, sciences & skill) dan output material (barang, bangunan, konsep kebijakan). Sedangkan komponen outcome adalah komponen dari hasil output yang melepaskan diri dari keterkaitan dengan komponen lainnya. Wujud outcome ini cenderung bersifat output yang nyata. Dan yang terakhir adalah komponen umpan balik yang merupakan komponen hasil dari output yang terkait dengan komponen lainnya sehingga keberadaannya dalam suatu sistem kembali kepada input. Komponen dari umpan balik ini wujudnya lebih cenderung bersifat output yang tidak nyata. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa aparatur pemerintah perlu dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan yang menunjang dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Hanya saja yang harus diingat bahwa potensi yang dimiliki setiap aparatur tentunya berbeda satu dengan lainnya, dan potensi itu dapat diarahkan dan dikembangkan. Agar dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan maka aparatur harus diberikan kesempatan dan dimampukan untuk melakukannya.
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

65

Namun yang perlu diingat bahwa didalam implementasinya, pemberdayaan aparatur perlu dibarengi oleh dukungan baik dari pimpinan maupun dukungan organisasi sebagai upaya sehingga proses pemberdayaan dapat dilakukan. Oleh karena itu penulis sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Winarty (2003:54-60), bahwa langkah-langkah yang diperlukan dalam pemberdayaan aparatur pemerintah pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Dukungan dari pimpinan. Maksudnya adalah seorang pimpinan berkewajiban untuk menggali, menyalurkan, membina serta mengembangkan potensi pegawainya. 2. Pendelegasian. Pemberdayaan erat kaitannya dengan pendelegasian, oleh karena itu pendelegasian wewenang hendaknya diarahkan agar bawahan mempunyai inisiatif dalam pengambilan keputusan. 3. Bimbingan. Pimpinan sebagai fasilitator dan organisator diharapkan mampu memberikan bimbingan dan pengarahan kepada bawahannya dalam mengembangkan kemampuan dan pengetahuan yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya. 4. Kemampuan sistem informasi. Tersedianya informasi yang lengkap akan mempermudah pegawai dalam pelaksanaan pekerjaannya. Semakin lengkap sistem informasi yang tersedia akan sangat membantu dalam proses pengambilan keputusan. 5. Dukungan dari organisasi. Organisasi dalam hal ini menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam hal pelaksanaan pekerjaan. Baik itu kegiatan diklat, maupun dalam hal penghargaan kepada pegawai, bisa dalam bentuk promosi, mutasi untuk menghindari kejenuhan, serta penempatan pegawai pada jabatan/pekerjaan yang tepat. 6. Kinerja organisasi publik. Cara termudah dalam mengukur kinerja sektor publik adalah dengan kriteria efisiensi dan efektivitas. 7. Kebutuhan Learning and Growth bagi aparatur. Organisasi yang mampu bertahan dimasa depan adalah organisasi yang melakukan proses learning dengan baik. Oleh karena itu dituntut upaya yang sungguh-sungguh dari apaatur untuk meningkatkan kemampuan yang dimilikinya. 8. Kepuasan Pegawai. Tingkat kepuasan kerja pegawai dapat menunjukkan suatu keadaan emosional yang menyenangkan dengan mana apartur memandang pekerjaan mereka. Sikap ini dicerminkan oleh moral, disiplin kerja, dan prestasi kerja pegawai. 9. Motivasi. Kondisi ini tercermin dari banyaknya saran yang disampaikan aparatur, banyaknya saran yang dilaksanakan/direalisasikan, banyaknya saran yang berhasil guna, serta banyaknya aparatur yang mengetahui dan mengerti visi dan misi organisasi. Penutup Aparatur pemerintah sebagai sumber utama dalam pelaksanaan pelayanan kepada publik perlu diberikan peningkatan kemampuan dan memampukan aparatur sehingga dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawab mereka dengan baik. Apalagi kebutuhan pelayanan masyarakat saat ini meningkat dengan cepat sejalan dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Namun semua itu dibutuhkan adanya pemberdayaan aparatur pemerintah, yang bukan saja harus tetapi sudah sangat krusial. Pemberdayaan aparatur pemerintah ini hanya akan wujud bila ada dukungan dari pimpinan, dan juga dukungan dari organisasi.

66

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Daftar Pustaka Hendrayady, Agus. Hubungan antara Aspek-Aspek Pemberdayaan dengan Kualitas Pelayanan Pegawai : Studi pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Janggi Tanjungpinang Kabupaten Bintan Propinsi Kepulauan Riau. Tesis, Program Magister Ilmu Sosial Untan Pontianak 2006 Makmur. Pemberdayaan Aparatur Pemerintah dalam Masyarakat, dalam Jurnal Ilmiah Good Governance Vol. 2 No. 1, Maret Tahun 2003, Jakarta, STIA-LAN, 2003 Said, Ismail. Tantangan Sumber Daya Aparatur, dalam Jurnal Ilmiah Good Governance Vol. 2 No. 1, Maret Tahun 2003, Jakarta, STIA-LAN. 2003 Sedarmayanti. Good Governance (Kepemerintahan Yang Baik) dalam rangka Otonomi Daerah : Upaya Membangun Organisasi Efektif dan Efisien melalui Restrukturisasi dan Pemberdayaan, Bandung, CV. Mandar Maju, 2003 Winarty, Army. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik, dalam Jurnal Ilmiah Good Governance Vol. 2 No. 1, Maret Tahun 2003, Jakarta, STIA-LAN, 2003

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

67

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR SUNGAI SIAK ( Studi pada Daerah Aliran Sungai Siak Bagian Hilir ) N.A.Dwi Putri1
Abstract Siak river water pollution problem has reached the threshold of anxiety, therefore, the government issued a policy of Siak river waterpollution control to tackle the pollution problem, but from twelve programs implemented only nine programs are implemented and three other programs are not implemented, as for the factor-factors in hibiting the implementation of water pollution control programs such Siak river does not run smoothly is communication between the provincial and regency / city, the meeting did not go smoothly coordination between provincial and district governments, lack of human resources, limited funds, and natural resources are not yet available. Key words : Water pollution, Public policy Pendahuluan Di Indonesia, sungai dapat dijumpai di setiap tempat dengan kelasnya masing-masing. Sungai di manfaatkan untuk memenuhi keperluan sehari-hari, baik transportasi, mandi, mencuci dan sebagainya bahkan untuk diwilayah tertentu sungai dapat dimanfaatkan untuk menunjang makan dan minum. Sungai sebagai sumber air, sangat penting fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, sebagai sarana penunjang utama dalam meningkatkan pembangunan nasional dan sebagai sarana transportasi yang relatif aman untuk menghubungkan wilayah satu dengan lainnya. Sungai sebagai sumber air merupakan salah satu sumber daya alam berfungsi serbaguna bagi kehidupan dan penghidupan makhluk hidup. Air merupakan segalanya dalam kehidupan ini yang fungsinya tidak dapat digantikan dengan zat atau benda lainnya, namun dapat pula sebaliknya, apabila air tidak dijaga nilainya akan sangat membahayakan dalam kehidupan ini. Maka sungai sebagaimana dimaksudkan harus selalu berada pada kondisinya dengan cara (Joko Subagyo;1992) : 1. Dilindungi dan dijaga kelestariannya. 2. Ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya. 3. Dikendalikan daya rusaknya terhadap lingkungan.
1

Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

68

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Air atau sungai dapat merupakan sumber malapetaka apabila tidak di jaga, baik dari segi manfaatnya maupun pengamanannya. Hal Ini dapat kita lihat sebagaimana yang terjadi pada Sungai Siak di Propinsi Riau. Sungai Siak memiliki fungsi penting untuk memenuhi berbagai keperluan, diantaranya; sarana transportasi air, sumber air bersih, dan pusat kegiatan bisnis. Seiring dengan usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat, perkembangan kawasan untuk berbagai pemenuhan kebutuhan (sarana pemukiman, perdagangan & industri, perhubungan, perkantoran, pariwisata dan lain-lain) akan meningkat dengan cepat. Dengan adanya perubahan penggunaan lahan tersebut maka implikasinya adalah adanya perubahan perilaku sungai, baik yang menyangkut pola distribusi aliran sungai maupun perubahan kualitas sumberdaya air sungai. Banjir, kekeringan, erosi, sedimentasi, dan pencemaran air sungai, merupakan respon atas pengelolaan lahan di DAS Siak (Bapedal Propinsi Riau:2005). Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Daerah Aliran Sungai Siak sebagai bagian dari ruang yang memiliki karakteristik tersendiri, wilayahnya melintasi 4 kabupaten dan 1 kota yang merupakan satu kesatuan ekologis yang tidak dapat dipisahkan. Keempat kabupaten dan kota yang termasuk ke dalam wilayah DAS Siak adalah Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak. Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan di DAS Siak sudah mengarah pada taraf yang dapat mengancam keberlanjutan pasokan sumberdaya alam untuk pembangunan di masa mendatang atau dengan kata lain sudah dalam tahap kritis. Beberapa isu penting kerusakan sumber daya alam dan lingkungan di DAS Siak seperti yang dipaparkan Menteri Pekerjaan Umum dalam seminar penyelamatan dan pelestarian DAS Siak dan dapat dijadikan indikator kritisnya DAS tersebut adalah sebagai berikut : 1. Penurunan kualitas dan kuantitas sungai Siak yang sudah berada di bawah ambang batas ketentuan sungai yang lestari. 2. Tingginya Konversi Lahan 3. Kerusakan Lingkungan a) Penggundulan Hutan b) Abrasi Tebing c) Sedimentasi d) Pencemaran Air Dari beberapa isu penting kerusakan sumber daya alam dan lingkungan DAS Siak diatas, penulis tertarik untuk meneliti khusus tentang pencemaran air Sungai Siak. Ini dilakukan penulis dikarenaknan oleh dua alasan yaitu : Pertama, untuk memperkecil ruang lingkup dari pada penelitian, dimana lokasi yang akan diteliti adalah Daerah Aliran Sungai Siak bagian hilir, ini disebabkan karena bagian hilir merupakan daerah padat penduduk yang banyak menyumbangkan limbah domestik berupa limbah rumah tangga. Selain itu berdasarkan studi konservasi DAS Siak, persoalan-persoalan di DAS Siak ini memang lebih banyak terjadi di bagian hilir,seperti yang terlihat pada tabel I dibawah ini.

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

69

Tabel I. Jenis Persoalan dan akar masalah di DAS Siak.

Sumber: Studi konservasi Das Siak,2005.Bapedal Propinsi Riau Kedua, permasalahan pencemaran air Sungai Siak ini sangat penting karena air Sungai Siak merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh penduduk yang tinggal di Daerah Aliran Sungai Siak. Berikut penjelasan lebih rinci tentang pencemaran air Sungai Siak berdasarkan hasil studi konservasi DAS Siak dan fenomena-fenomena yang terjadi : 70
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Pencemaran Air Sungai Siak Sebagai dampak dari pengelolaan lingkungan yang masih belum optimal, pencemaran air Sungai Siak akan terus terjadi dan dapat menimbulkan kualitas air sungai yang makin besar. Selama ini DAS Siak sangat berguna untuk berbagai kepentingan seperti industri, pemukiman, pertanian, perikanan, dan transportasi. Kerusakan dan pencemaran air sungai akhirnya akan menjadikan fungsi sungai semakin kecil/rendah. Beberapa sumber pencemar menjadi penyebab timbulnya kerusakan kualitas air Sungai Siak. Dengan beban pencemaran yang cukup tinggi, senyawa pencemar yang masuk ke dalam air sungai akan mempengaruhi kualitas air sungai. Beban pencemaran yang berasal dari kegiatan domestik memberikan kecenderungan peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang terdapat pada DAS Siak. Berbeda dengan beban pencemaran domestik, beban pencemaran industri cenderung menurun. Hal ini dimungkinkan ada beberapa industri yang telah melakukan pengolahan limbah cair industri. Namun demikian pencemaran yang berasal dari industri perlu diperhatikan, karena sifat dan jumlahnya yang sangat mempengaruhi kondisi air sungai. Selain yang berasal dari kegiatan domestik dan industri, kerusakan kualitas air Sungai Siak juga di akibatkan oleh adanya konversi lahan pekebunan, pertambangan, dan transportasi air. Berdasarkan pemantauan terakhir dan pemeriksaan kualitas air Sungai Siak yang dilakukan oleh Bapedal-Riau tahun 2005, telah ada parameter-parameter yang berada diluar baku mutu yang telah ditetapkan. Jika kondisi ini tidak diperbaiki dan daya dukung lingkungan semakin berkurang, maka kerusakan kualitas air sungai akan semakin parah di masa-masa mendatang. Sedangkan fenomena-fenomena pencemaran yang terjadi menurut Bapak Tengku Ariful Amri (Dir Rona lingkungan UNRI) yaitu akibat dari pencemaran itu masyarakat yang bermukim dipinggir Sungai Siak menderita penyakit gatal-gatal dan diare. Ini disebabkan karena lingkungan mereka tidak higienis karena air yang dipakai untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK) juga digunakan untuk minum. Dan menurut Bapak Lukman Abbas kepala Bapedal Propinsi Riau, air Sungai Siak sudah tidak lagi layak untuk dikonsumsi dan aktivitas masyarakat seperti cuci, masak dan mandi. Persoalan-persoalan di DAS Siak ini harus di tanggulangi secepat mungkin, yaitu dengan suatu pengelolaan yang baik dan harus sedini mungkin untuk dilaksanakan. Berbeda dengan sumberdaya alam lain seperti hutan, tanah, yang pada umumnya memiliki status kepemilikan yang jelas, sumberdaya air (termasuk di dalamnya Daerah Aliran Sungai) termasuk dalam sumberdaya yang memiliki sifat kepemilikan bersama (common property). Oleh karena sifat tersebutlah maka kesadaran, motivasi, dan partisipasi para pihak (terutama swasta dan masyarakat) relatif rendah untuk memelihara kelestarian suatu DAS. Dalam kondisi seperti itu maka peran pemerintah selaku pemegang kebijakan menjadi sangat penting. Daerah Aliran Sunngai merupakan satuan ekologi yang melintasi batas-batas administrasi pemerintahan, maka dalam pengelolaannya pun seharusnya bersifat lintas batas administratif dan lintas sektoral. Sebagaimana halnya kasus DAS Siak, kepentingan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat di Wilayah Hulu berbeda dengan kepentingan para pihak di Wilayah Tengah dan Wilayah Hilir DAS Siak. Dalam kondisi seperti ini tanpa adanya perangkat kebijakan yang dapat memayungi seluruh kepentingan, maka yang terjadi kemudian adalah munculnya ego dan interest masing-masing lembaga/sektoral. Suatu kebijakan umumnya terdiri dari apa saja kebijakan itu, bagaimana pelaksanaannya dan evaluasi dari pada kebijakan tersebut yang nantinya akan ditemukan faktot-faktor penghambat dalam pelaksanaannya jika kebijakan itu ternyata tidak terlaksana dan factor-faktor pendukungnya
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

71

jika kebijakan itu terlaksana. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR SUNGAI SIAK (Studi Pada Daerah Aliran Sungai Siak Bagian Hilir). Gambaran Teoritis Peran suatu pemerintah salah satunya adalah menyelesaikan permasalahan yang menyangkut dengan kepentingan masyarakat, salah satu contohnya adalah seperti masalah kerusakan lingkungan yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Siak Propinsi Riau. Dengan diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, setiap pemerintah daerah dituntut untuk siap menerima delegasi wewenang dari pemerintah pusat atau pemerintah diatasnya tidak hanya dalam hal penyelenggaraan pemerintahannya, tetapi juga dalam hal pemecahan permasalahan dan pendanaan kegiatan pembangunannya. Hal tersebut membawa konsekuensi perlunya pelaksanaan management pembangunan daerah yang lebih professional, bottom up dan mandiri. Artinya, pemerintah daerah dituntut untuk melaksanakan fungsi-fungsi management yang lebih komprehensif, yaitu adanya keterkaitan proses antara perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pembangunan daerah yang berkesinambungan. Dalam rangka otonomi daerah dua tugas pokok PEMDA adalah : menggali dan memanfaatkan sumberdaya (manusia, alam, uang, sentra industry dan ekonomi) untuk kegiatan pembangunan. Kegiatan yang dilakukan harus merupakan kegiatan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dan berwawasan terhadap lingkungan. Pengertian pembangunan yang berkelanjutan pada hakekatnya merupakan proses pemenuhan semua aspek kebutuhan kehidupan pada saat ini (present) dengan tanpa menimbulkan dampak negatif untuk saat yang akan datang (future) . Definisi berkelanjutan juga dapat diterjemahkan sebagai suatu kehidupan social yang harmonis dengan system alam yang sehat. Pengelolaan sistem pembangunan dalam basis keterpaduan adalah sangat sulit. Karena saling ketergantungan dari sistem, kerangka dan aspek-aspek sosial-ekonomi-alam adalah sangat kompleks, sehingga kemungkinan dan peluang terjadinya salah pengelolaan dan pembangunan yang mubasir adalah cukup besar. Bagian yang paling sulit adalah keterpaduan dari keseluruhan sistem yang ada (Kodotie, J. Suharyanto, dkk, 2002:4). Menurut Undang-Undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pasal 15,Wewenang dan tanggung jawab pemerintah propinsi dalam pengelolaan sumber daya air meliputi: a. Menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan nasional sumber daya air dengan memperhatikan kepentingan propinsi sekitarnya. b. Menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/ kota. c. Menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/ kota dengan memperhatikan kepentingan propinsi sekitarnya. d. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota. e. Melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan propinsi sekitarnya. f. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; g. Mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, pengambilan, peruntukan, penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas 72
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

kabupaten/kota; h. Membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat propinsi dan/atau pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; i. Memfasilitasi penyelesaian sengketa antarkabupaten/kota dalam pengelolaan sumber daya air; j. Membantu kabupaten/kota pada wilayahnya dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat atas air; k. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; dan l. Memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah kabupaten/kota. Seperti yang dikatakan diatas bahwa proses suatu kebijakan salah satunya adalah formulasi kebijakan berupa langkah yang dilakukan setelah pemilihan alternative. Langkah tersebut dapat berupa suatu program-program yang akan dilaksanakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Program berarti rancangan mengenai asas serta usaha yang akan dilaksanakan. Dengan demikian program dapat dikatakan sebagai sebuah rencana yang didalamnya mencakup sejumlah usaha yang ingin dilakukan meski tidak semuannya dapat terealisasikan. Sebuah program besar dapat didefinisikan sebagai rencana komprehensif yang meliputi penggunaan macam-macam sumber untuk masa yang akan datang dalam sebuah pola yang terintegrasi dan menetapkan suatu urutan masing-masing tindakan tersebut dalam rangka usaha untuk mencapai sasaran-sasaran yang ditetapkan. Charles O jones dalam bukunya Public Policy menjelaskan program adalah cara yang disahkan untuk mencapai tujuan, kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, peraturan-peraturan, pemberian tugas, langkah-langkah yang harus diambil, sumber-sumber yang harus dimanfaatkan dan elemen-elemen lain yang diperlukan untuk melaksanakan arah dan tindakan tertentu(Jones. O,1991:256). Program ini biasanya dijabarkan atau dirinci dalam sejumlah proyek dan didukung oleh anggaran. Widavsky mengungkapkan dalam batasan yang paling umum, penganggaran diartikan sebagai pengalihan sumber daya financial bagi kemanfaatan serta mencapai tujuan untuk manusia. Oleh karena itu sebuah anggaran dapat dicirikan sebagai serangkaian tujuan dengan daftar harga terlampir. Sebuah program brisi tindakan yang diusulkan pemerintah yang dalam rangka mencapai sasaran yang ditetapkan dari sebuah kebijakan yang pencapaiannya problematic. Program akan ada apabila kondisi permulaan yaitu tahapan apabila dari hipotesis kebijakan telah dirumuskan. Kata program sendiri menegaskan perubahan (konversi) dari suatu hipotesis tersebut telah disahkan, sedang derajat keterlaksanaan konsekuensi atau akibat yang diharapkan (yang merupakan tahapan selanjutnya) disebut penerapan. Selanjutnya program itu juga memperlihatkan (T. Megareta, 2006). 1) Langkah-langkah utama yang perlu dipersiapkan untuk mencapai suatu tujuan, 2) Urutan/anggota yang bertanggungjawab untuk setiap langkah,dan 3) Urutan serta pengaturan langkah. Namun, sebaik apapun program tanpa ada implementasi, mustahil sasaran dan tujuantujuan yang dikehendaki dapat tercapai.Udologi mengatakan pelaksanaan kebijakan adalah suatu yang penting bahkan jauh lebih penting dari pada pembuatan kebijakan, kebijakan-kebijakan akan sekedar impian atau rencana bagus yang tersimpan rapat dalam arsip kalau tidak
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

73

diimplementasikan (Abdul Wahab, 1991:45). Kajian terhadap implementasi kebijakan publik akan memfokuskan kepada dua aspek yaitu siapa yang akan melaksanakan policy dan pengaruhnya terhadap isi kebijakan serta dampak dari kebijakan elites tersebut. Beberapa pendekatan dalam implementasi kebijakan public meliputi: a. Pendekatan yang dilakukan oleh G.C Eduards III menyangkut syarat-syarat penting, sebagaimana dikutip oleh Karmin (1993:17-18), meliputi. 1) Komunikasi, hal ini penting karena implementasi suatu kebijakan menyangkut banyak pihak, terutama para pejabat birokrasi yang melaksanakan kebijakan tersebut. Mereka harus berhubungan satu dengan yang lain secara sinergis. Untuk keperluan tersebut informasi yang disampaikan harus jelas, konsisten dan tepat waktu. Hal ini akan dapat mengurangi erosi maupun distorsi terhadap pesan yang disampaikan. 2) Sumber daya manusia. Mereka adalah yang melaksanakan pekerjaan. Untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik diperlukan jumlah maupun mutu yang sesuai. Disamping itu masih diperlukan pula adanya wewenang dan tanggungjawab yang jelas serta fasilitas memadai. 3) Sikap para pelaksana. Yang dimaksudkan disini adalah kesepakatan terhadap kebijakan yang telah ditentukan. Hal ini dapat diperoleh melalui penciptaan budaya organisasi. 4) Struktur birokrasi. Struktur ini harus mampu mewadahi proses kerja organisasi bersangkutan dan pengaruh lingkungan. b. Pendekatan Warwick. Menurut pendekatan ini tingkat keberhasilan implementasi suatu kebijakan dipengaruhi oleh kuat lemahnya faktor pendorong dan penghambat yang ada dalam organisasi. Faktor pendorong meliputi : 1) Komitmen pimpinan politik. 2) Kemampuan organisasi. 3) Komitmen para pelaksana. 4) Dukungan dari kelompok kepentingan. Adapun faktor-faktor yang menghambat meliputi Budiardjo, Pudjiastuti. T.N, 1996:242) : 1) Banyaknya pelaku yang terlibat. Hal ini menyangkut masalah span of control serta rumitnya komunikasi. 2) Terdapatnya loyalitas ganda. Hal ini dikarenakan setiap anggota memiliki kepentingankepentingan individual yang akan memberikan warna pada perilaku yang bersangkutan. 3) Sifat yang melekat pada program itu sendiri. Hal ini mungkin berupa faktor teknis, faktor ekonomi maupun faktor sosial. 4) Panjangnya masa penyelesaian suatu program. Semakin lama penyelesaian suatu program semakin banyak masalah yang timbul. 5) Terlalu sering dan cepatnya suatu mutasi pimpinan. Hal ini dapat merugikan individu maupun organisasi yang bersangkutan sebab setiap orang memerlukan masa penyesuaian dengan jabatan baru atau pimpinan/anak buah baru. PELAKSANAAN PROGRAM PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR SUNGAI SIAK Program Pengendalian Pencemaran Air Sungai Siak terdiri dari 12 program. Berdasarkan hasil penelitian dilapangan dari 12 Program yang dilaksanakan ternyata hanya 9 program yang terlaksana dan 3 Program tidak terlaksana sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan, 74
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

adapun waktu pelaksanaan dari program pengendalian pencemaran air sungai siak ini dimulai pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Adapun 9 Program pengendalian pencemaran air sungai siak yang terlaksana yaitu: 1. program pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah komunal, 2. Penyediaan sarana sanitasi pedesaan, 3. Pelatihan pengelolaan lingkungan untuk masyarakat, 4. Pengembangan tempat pengolahan samah terpadu, 5. Peningkatan kinerja pengolahan air limbah industri, 6. Pengembangan dan penerapan Teknik Produksi Bersih untuk industri, 7. Pengendalian limbah cair dan sludge kegiatan pertambangan, 8. Pengembangan sistem informasi lingkungan, 9. Pengawasan dan evaluasi implementasi program dan revisi program Tiga Program pengendalian pencemaran air sungai siak yang tidak terlaksana yaitu : 1. program pengembangan Instalasi pengolahan air limbah terpadu untuk industri kecil/ menengah, 2. Evaluasi dan penyempurnaan implementasi pemantauan kualitas air yang telah berjalan, 3. Pemantauan rutin kualitas limbah cair dan Pengembangan sarana dan prasarana pemantauan kualitas air dan limbah cair, serta laboratorium terakreditasi. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PELAKSANAAN PROGRAM PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR SUNGAI SIAK. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa faktor-faktor penghambat pelaksanaan program pengendalian pencemaran air Sungai Siak adalah sebagai berikut : 1. Koordinasi tidak berjalan lancar antara pemerintah Propinsi dengan Kabupaten/ Kota. Dari hasil penelitian dan pengamatan penulis sewaktu melakukan wawancara, untuk pihak Bapedalda Kota Pekanbaru memang tidak mengetahui sama sekali tentang program-program diatas. Menurut ibu Jasmiati (Bidang AMDAL Bapedal Kota Pekanbaru) kami memang tidak mengetahui sama sekali tentang program pengendalian pencemaran air Sungai Siak yang di buat oleh Bapedalda Propinsi, yang kami lakukan sekarang untuk hal pengendalaian penemaran air Sungai Siak adalah berupa program penyelamatan DAS. Pemerintah Propinsi dalam hal ini Bapedalda Propinsi jarang sekali sharing (berbagi) program dengan kami, sehingga kami lebih dekat dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup Regional Sumetera. (16/10/2008, 09.45, Bapedal Kota Pekanbaru) Adapun program dari Bapedalda Kota Pekanbaru untuk pengendalian pencemaran air Sungai Siak terdiri dari : 1. Pemantauan kualitas air Sungai Siak dan anak Sungai Siak di Kota Pekanbaru. Dimana dari hasil laporan kegiatan yang dilakukan pada tahun 2007 oleh pihak Bapedalda Kota Pekanbaru di dapatkan bahwa yaitu : a. Beberapa parameter air Sungai Siak dan anak Sungai Siak melebihi nilai ambang
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

75

batas maksimum yang telah ditetapkan dalam PP No.82 Tahun 2001 untuk air kelas II. Hal ini memerlukan pengawasan yang lebih ketat lagi oleh instansi atau dinas terkait di Propinsi Riau ini khususnya Kota Pekanbaru. b. Indeks mutu lingkungan perairan Sungai Siak dan anak Sungai Siak di Kota Pekanbaru dapat dikategorikan buruk sampai sangat buruk. Sehingga perlu adanya pengelolaan yang lebih baik. c. Beberapa parameter pengamatan air Sungai Siak pada saat sebelum aktivitas (pagi) dan setelah aktivitas (sore) mengalami peningkatan. 2. Analisis limbah cair kegiatan hotel dan wisma, rumah makan dan kegiatan industry. Dari hasil kegiatan ini di dapatkan bahwa : a. Hasil analisis yang dilakukan bahwa air buangan di pusat perbelanjaan merupakan salah satu sumber dari limbah organik, dimana terlihat dengan jelas bahwa parameter yang keberadaannya berhubungan dengan bahan organik melebihi nilai ambang batas. b. Kegiatan hotel dan wisma dalam penelitian ini semuanya tidak memiliki penanganan hasil buangan yang baik, sehingga konsentrasi parameter yang diukur sangat tergantung dari aktifitas hotel dan wisma tersebut. Bila aktifitasnya tinggi maka kemungkinan besar konsentrasi setiap parameter akan meningkat pula. c. Kegiatan rumah makan yang dipantau tidak satupun yang memiliki pengelolaan limbah yang baik , semua kegiatan langsung di buang di selokan, sehingga beberapa parameter yang diukur seperti TSS,COD,BOD, ammonia, nitrit dan fosfat telah melewati baku mutu berdasarkan PP No.82 Tahun 2001 Kelas I. d. Setiap kegiatan industry yang dipantau, ada beberapa parameter yang telah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa kurang optimalnya kerja dari IPAL yang dimiliki. Ketidaktahuan pemerintah daerah tentang program yang dibuat propinsi juga dialami oleh Bapedalda Kabupaten Siak. mengatakan bahwa : kami memang ada di beritahu tentang master plan ini tetapi sampai sekarang tidak ada kami dapatkan, pihak kami sudah mencoba untuk meminta tetapi pihak propinsi mengatakan kalau master plan tersebut belum siap, sehingga untuk saat ini kami mempunyai program sendiri dalam hal pengendalian pencemaran Sungai Siak di wilayah kami.(18/09/2008, 12:07 wib, Bapedal kabupaten Siak) Namun, setelah di konfirmasi dengan pihak Bapedal Propinsi, program-program pengendalian pencemaran air sungai tersebut sudah di ketahui, bahkan pihak propinsi dalam hal ini Bpk.Makruf Siregar sebelumnya merekomendasikan agar program-program tersebut di tanya langsung ke pihak Bapedal kabupaten dan kota untuk lebih jelasnya. Hal ini terjadi dilatarbelakangi oleh satu sebab yaitu koordinasi yang tidak berjalan lancar. 2. Rapat koordinasi tidak berjalan lancar antar pemerintah kabupaten/kota dengan pihak propinsi Berdasarkan penelitian yang dilakukan rapat koordinasi tidak berjalan lancar. Dari 76
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

hasil wawancara dengan Pihak Bapedalda Kabupaten Siak (Ibu Zulmaniyetti) rapat koordinasi hanya dijalankan apabila ada masalah, kalau tidak ada masalah maka rapat tidak akan diadakan. Sehingga dari pengamatan peneliti disini mereka harus menunggu suatu masalah terlebih dahulu timbul. sehingga sifatnya mengendalikan dampak yang sudah terjadi bukan mencegahnya. Hal ini juga dapat dilihat dari pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal, dimana menurut pihak Propinsi ( Bpk. Makruf Siregar ) Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal didirikan atau di bangun di dua tempat yaitu tepatnya di Kota Pekanbaru yaitu terletak di Desa Kampong Bandar dan di Kabupaten Siak yaitu terletak di Pasar Perawang. Namun setelah dikonfirmasi dengan pihak Bapedalda Kabupaten Siak (Ibu Zulamaniyetti), ternyata mereka tidak mengetahui sama sekali bahwa ada di bangun Intstalasi Pengolahan Air Limbah Komunal di daerah mereka. Menurut pengematan penulis seharusnya mereka mengetahuinya mengingat di bangun di daerah yang memang teritorial mereka, tetapi kenyataannya mereka tidak tahu sehingga disini dapat di lihat bahwa tidak adanya koordinasi antar pemerintah daerah dan propinsi. 3. Kurangnya sumber daya manusia. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Bapedalda Kabupaten Siak yaitu dengan Ibu Zulmaniyetti (Sekretaris Bapedalda Kabupaten Siak) salah satu factor yang menyebabkan ketidakteraturan mereka dalam melakukan program pemantauan kualitas air Sungai Siak adalah dikarenakan kurangnya sumber daya manusia yang ahli di bidang tersebut.Menurut pihak Bapedalda Kabupaten Siak biasanya dalam sekali pemenatauan dibutuhkan 4 samapi 5 orang tenaga pemantau, namaun mereka hanya punya 3 tenaga ahli sehingga mereka biasa meminta bantuan propinsi serta perguruan tinggi. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Bapedal Propinsi yaitu dengan salah satu staf penegndalian pencemaran Bapedal Propinsi, peneliti menemukan bahwa masih kurangnya kemampuan sumber daya manusia yang ada, dalam hal ini kita ambil contoh yaitu ibu Ristauli yang tidak mengetahui arti dari komunal, menurut peneliti untuk seorang staf pengendalian pencemaran hal ini seharusnya tentu sangat dikuasai apa itu septitank komunal atau arti dari komunal itu sendiri. 4. Keterbatasan Dana. Dari hasil wawancara dengan ketiga instansi tersebut yaitu pihak Bapedal Propinsi dengan Bpk. Makruf Siregar dan Ibu Ristauli, Kota Pekanbaru dengan Ibu Jasmiati, dan Kabupaten Siak dengan Ibu Zulamniyetti salah satu penyebab program pengendalian pencemaran air Sungai Siak dalam hal ini pemantauan kualitas air Sungai Siak kurang berjalan lancar adalah karena faktor keterbatasan dana. Menurut ibu Ristauli ( staf pengendalian pencemaran Bapedal Propinsi ) mereka akan turun kelapangan dengan system kondisional atau melihat keadaan, jika ada dana kita turun, kalau tidak ada dana terpaksa kita menggunakan dana seadanya, beginilah resiko orang lapangan. ( 30/10/2008, 14:03, Bapedal Propinsi Riau) Menurut peneliti ini pastinya akan berdampak dengan hasil dari pemantauan kualitas air sungai tersebut. Hasilnya akan tidak maksimal tentunya. Selain itu berapa jumlah dana yang dibutuhkan dalam sekali pemantauan, menurut ibu Ristauli tergantung dari
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

77

luas wilayah yang dipantau. Dan Sumber dana berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Propinsi. Selain itu dana dari pusat juga tidak mencukupi, dengan kondisi keuangan yang ada, pada tahun 2003 Kementerian Lingkungan Hidup, baru mampu memberikan bantuan dana stimulant Pemantauan kualitas Air Sungai untuk 30 (tiga puluh) Bapedalda propinsi masing-masing (Rp.17.000.000). Anggaran ini sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan untuk mendapatkan kualitas air yang memadai sehingga menyulitkan pemerintah untuk menanggulangi masalah pencemaran air di daerah. Dari hasil wawancara juga didapat bahwa mereka akan turun kelapangan jika ada laporan pencemaran yang terjadi, sehingga disini menurut peneliti mereka hanya akan turun jika ada masalah dan hanya akan turun karena merupakan suatu rutinitas yang tentunya apabila dana tersedia. 5. Sumber daya alam yang belum tersedia. Yaitu belum tersedianya tanah untuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah untuk industri kecil dan menengah. Maksud dari belum adanya tanah yang tersedia adalah belum adanya lokasi yang sesuai dan tepat untuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah, ada yang tepat tetapi tanah atau lokasi tersebut merupakan tanah warga. PENUTUP Untuk menyelesaikan permasalahan kebijakan pengendalian pencemaran air sungai siak ini diharapkan untuk diibuatnya suatu badan yang khusus menangani pencemaran yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Siak, yang mempunyai legalitas dan sebaiknya program awal pengendalian pencemaran air Sungai Siak ini di tujukan terlebih dahulu pada perubahan pola hidup masyarakat sekitar sungai. Setiap pemerintah yang mempunyai kepentingannya masing-masing sebaiknya lebih memperhatikan dampak dari kepentingan tersebut terhadap lingkungan khusunya untuk kelestarian sungai. Antara Pemerintah propinsi dengan kabupaten/kota juga harus menjaga hubungan yang harmonis, agar koordinasi berjalan lancar. Untuk pembiayaan program sebaiknya jangan hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah tetapi juga mengajak pihak swasta atau dunia usaha dan masyarakat untuk terlibat didalamnya. DAFTAR PUSTAKA Charles. O. Jones. Pengantar Kebijakan Publik ( Publik Policy ),CV. Rajawali, Jakarta, 1991 D.Joko Subagyo. Hukum Lingkungan,Masalah dan Penanggulangannya, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2002 Miriam Budiardjo, Tri Nuke Pudjiastuti. Teori-Teori Politik Dewasa Ini. PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996 Robert J.Kodotie, Suharyanto, Sri Sangkawati, Sutarto Edhisono.. Pengelolaan Sumber Daya Air Dalam Otonomi Daerah. Andi, Yogyakarta, 2002 Solichin Abdul Wahab. Analisis Kebijaksanaan : Dari Formulasi ke implementasi kebijaksanaan negara, Bumi Aksara, Jakarta, 1991 78
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Studi Konservasi DAS Siak tahun 2005, Bapedal Provinsi Riau. Megareta.T, Implementasi Program Dana Bos Bagi Pendidikan Dasar Di Kota Pekanbaru Tahun 2006. Skripsi Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisip Unri Perundang-undangan Undang-Undang No.7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air Peraturan Daerah Propinsi Riau No. 32 Tahun 2001 Tentang Pembentukan, Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Gubernur Riau Nomor 12 Tahun 2003 tentang peruntukan dan baku mutu air sungai Siak Provinsi Riau.

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

79

KHILAFAH DALAM SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM

Oksep Adhayanto1
Abstract In the perspective of the Quran, the state as a necessary institution of Islamic rule as an effective instrument for realizing his teachings in a historical context. Form of the Khilafah is singular, in contrast to a Republican form of modern state or the monarchy or the others. In the Islamic system of government actually everything is based on the provisions of Personality and every person has the right to run the government states. Furthermore, all the provisions and rules in the Islamic government that there is no basis of its provisions in the Quran, Sunnah, Ijma , or Qiyas not be the basis and terms of the running wheel Islamic government itself. Keyword : Khilafah, Islamic government PENDAHULUAN Dalam perspektif Al-Quran, negara sebagai institusi kekuasaan diperlukan Islam sebagai instrumen yang efektif untuk merealisasikan ajarannya dalam konteks sejarah. Islam merupakan risalah yang paripurna dan universal. Islam mengatur seluruh masalah kehidupan, serta hubungan antara kehidupan itu dengan sebelum dan sesudah kehidupan. Ia juga memecahkan seluruh masalah manusia, sebagai manusia. Islam juga mengatur interaksi manusia dengan penciptanya, dirinya sendiri, serta sesama manusia di setiap waktu dan tempat. Islam telah membawa corak pemikiran yang khas yang dapat melahirkan sebuah peradaban yang berbeda dengan peradaban mana pun, yang mana melahirkan kumpulan konsepsi kehidupan, membuat perasaan para penganutnya mendarah daging dengan corak peradabannya. Pemikiran-pemikiran yang di bawa Islam juga mampu melahirkan pandangan hidup tertentu, yaitu pandangan halal dan haram, sebuah metode yang unik dalam kehidupan, serta mampu membangun sebuah masyarakat yang pemikiran, perasaan, sistem dan individuindividunya berbeda dengan masyarakat manapun. Al-Quran pada dasarnya adalah kitab yang memuat pesan-pesan, petunjuk-petunjuk, dan perintah moral bagi kepentingan hidup manusia di muka bumi. Petunjuk dan perintah ini bercorak universal, abadi, dan fungsional, sebagai intisari wahyu terakhir. Al-Quran bukanlah sebuah wacana hukum atau kitab politik. Oleh sebab itu, kitab suci ini tidak pernah berbicara secara gamblang dan rinci tentang bentuk-bentuk masyarakat sipil atau masyarakat non sipil, dan bentuk negara yang harus diciptakan umat sepanjang sejarah. Sekalipun demikian, Al-Quran mengisyaratkan dasar-dasar fundamental
1

Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

80

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

tentang bangunan masyarakat dan negara yang wajib dijadikan awan bagi penciptaan sebuah potity ( masyarakat dan negara yang teratur ) bagi umat. Menurut Al-Farabi (dalam Ahmad, 1964 : 30), mengatakan bahwa negara adalah : satu tubuh yang hidup, sebagai halnya tubuh manusia; tubuh manusia yang menyusun satu kesatuan . Penerapan hukum-hukum Islam oleh negara-negara di dalam negeri, ketika negara menerapkan hukum-hukum Islam di dalam wilayah yang tunduk di bawah kekuasaannya, mengatur muamalah, menegakkan hudud, menerapkan sanksi hukum, menjaga akhlak, menjamin pelaksanaan syiar-syiar ibadah, serta mengurus seluruh urusan rakyat sesuai dengan hukum-hukum Islam. Semua ini dilaksanakan dengan tata cara yang jelas oleh Islam. Pada waktu Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi Rasul, kondisi masyarakat Mekah berikut keyakinannya, nilai-nilainya, perasaan, serta hukum-hukum yang dianut di tengah-tengah masyarakat sama sekali tidak Islami. Dengan latar belakang seperti ini, tahap pembinaan dimanfaatkan Rasulullah saw untuk membangun akidah Islam dalam diri para pengikutnya serta memperkokoh keimanan mereka kepada Allah SWT. Tahap ini digunakan untuk mengganti nilai-nilai jahiliyah dengan konsep tauhid, yakni keesaan Allah SWT. Rasulullah saw mengumpulkan para pengikutnya di Dar al-Arqam dan membentuk kepribadian mereka sesuai petunjuk Al-Quran. Hijrahnya Rasullah dari Mekah ke Madinah, pada tahun ke-23 kenabian atau 622 Masehi membuka era baru bagi Nabi Muhammad dalam rangka menyebarkan Islam sebagai agama. Tujuan utama dari hijrah dari Mekah ke Madinah adalah untuk mendirikan masyarakat muslim di bawah naungan negara Islam (Yusuf Qardawy, 1999). Nama Madinah, yang digunakan untuk menggantikan Yatsrib tidak sekedar berarti kota. Nama itu memiliki pengertian yang lebih luas lagi, yaitu kawasan tempat menetap dan bermasyarakat mereka yang memiliki tamaddun peradaban dan budaya, yang mencakup daulah (negara) dan hukumah (pemerintahan) (Mohammad Shoelhi, 2003). Di belakang kata Madinah, ditambahkan kata Munawwarah atau Madinah Al Munawwarah. Artinya, negara dan pemerintahan yang diberi cahaya wahyu Setelah Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, ajaran Islam dilengkapi dengan perincian hukum-hukum ibadah, demikian pula aturan-aturan yang menyangkut tata kehidupan bermasyarakat. Kemudian pada periode Madinah inilah dimulai pembentukan masyarakat. Hubungan antara umat Islam dan bukan umat Islam mulai diatur yang mana sikap kaum kafir Quraisy terhadap umat Islam perlu pelayanan yang dicerminkan dalam aturan-aturan hukum antarnegara. Perselisihan-perselisihan yang terjadi dalam masyarakat mengenai berbagai macam hal diselesaikan melalui pengadilan. Ringkasnya, syariat Islam yang diturunkan dalam periode Madinah ini telah memerlukan adanya lembaga yang mengelolanya (Ahmad Azhar Basyir, 1984). Lembaga yang diperlukan itu tidak lain ialah sebuah negara. Tanpa adanya sebuah negara, eksistensi Islam sebagai sebuah ideologi serta sistem kehidupan akan menjadi pudar, yang ada hanyalah Islam sebagai upacara ritual serta sifat-sifat akhlak semata (Abdul Qadim Zallum, 2002). Karena itulah, negara Islam harus senantiasa ada dan keberadaannya juga tidak boleh hanya sementara saja. Demikianlah untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam lahir negara di bawah pimpinan Nabi Muhammad saw sendiri. Dalam periode Madinah inilah ayat-ayat Al-Quran tentang tata hidup kemasyarakatan berangsur-angsur diwahyukan selama hampir kurang lebih sepuluh tahun kepada Nabi Muhammad saw. Diantara ayat-ayat yang diturunkan pada periode Madinah ini
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

81

yang merupakan pedoman bagi hidup bernegara adalah antara lain Al-Quran Surat An-Nisa (4) ; 59 yang berbunyi: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika diantara kamu berlainan pendapat tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (As-Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu). Disebutkan diayat di atas dengan adanya ulil amri tersebut memberikan isyarat kepada kita bahwa adanya ulil amri untuk dapat terselenggaranya kehidupan kemasyarakatan umat Islam itu memang diperlukan dan jika telah terjadi, rakyat wajib mentaatinya. Dari segi lainnya, diletakkannya perintah taat kepada ulil amri setelah perintah taat kepada Allah dan Rasulnya itu mengandung ajaran pula bahwa kewajiban taat kepada ulil amri itu dikaitkan kepada adanya syarat bahwa ulil amri dalam melaksanakan pimpinannya harus berpedoman teguh pada ajaran-ajaran Allah dalam Al-Quran dan ajaran-ajaran Rasul-Nya dalam sunnah. Demikianlah untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam lahir negara dibawah pimpinan Nabi Muhammad saw sendiri. Dalam periode Madinah inilah ayat-ayat Al-Quran tentang tata kehidupan kemasyarakatan berangsur-angsur diwahyukan selama sepuluh tahun kepada Nabi Muhammad saw. Diantara ayat yang turun dalam periode ini merupakan pedoman hidup bernegara adalah Al-Quran Surah An-Nisa (4): 59 yang mengajarkan : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikalah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu). Al-Maududi menegaskan bahwa (Mohd.Azizuddin Mohd .Sani, 2002 : 59 : Negara dan pemerintahan Islam bukanlah boleh lahir secara mukjizat dengan tiba-tiba sempurnanya (meskipun Allah SWT bisa melakukannya), ia mestilah melalui suatu usaha yang besar dan menyeluruh termasuklah proses pentarbiyahan serta pembentukan fikiran rakyat umum. Sejalan dengan ketentuan bahwa asas negara menurut ajaran Islam adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul, tujuan negara menurut ajaran Islam adalah terlaksananya ajaran-ajaran Al-Quran dan Sunah Rasul dalam kehidupan masyarakat, menuju kepada tercapainya kesejateraan hidup di dunia, material dan spritual, perseorangan dari kelompok serta mengantarkan kepada tercapainya kebahagian hidup di akhirat kelak. Al-Quran dan As-Sunnah telah menjawab mengenai akan bangkitnya al-Islam melalui tegaknya Khilafah Islam. Salah satunya adalah seperti diisyaratkan Allah SWT dalam Al-Quran surat an-Nur ayat 55 : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan orangorang yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan berkuasanya orang-orang sebelum mereka. Sungguh, Dia pasti meneguhkan bagi mereka dien yang diridhai-Nya dan Dia benar-benar akan mengembalikan keadaan mereka setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa; (dengan syarat) mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukanKu dengan sesuatu apapun. Siapa saja kafir setelah janji itu, mereka-lah orang-orang fasiq. Kemudian Rasullah saw bersabda dalam hadist Imam Ahmad yang diriwayatkan dari al82
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Bazar, yang mafhumnya : telah datang masa kenabian, atas kehendak Allah, kemudian berakhir. Setelah itu, akan datang Khilafah rasyidah sesuai garis kenabian, atas kehendak Allah, kemudian akan berakhir. Lalu, akan datang masa kekuasaan Islam yang didalamnya terdapat banyak ke-zhalim-an, atas kehendak Allah, kemudian berakhir pula. Lantas, akan datang jamannya para diktator, atas kehendak Allah, kemudian akan berakhir pula. Dan terakhir, akan datang kembali masa khilafah rasyidah yang selaras dengan garis kenabian, sehingga Islam akan meliputi seluruh permukaan bumi. Berangkat dari pemikiran di atas, maka penulis bermaksud untuk meneliti lebih jauh lagi tentang eksistensi Khilafah Islamiyah dalam sistem pemerintahan Islam. PERMASALAHAN Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang penulis kemukakan di atas, maka yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk negara Khilafah dalam Sistem Pemerintahan Islam. TUJUAN PENELITIAN Adapun berdasaskan uraian yang telah dikemukakan sebagaimana di dalam pendahuluan dan permasalahan di atas yang menjadi tujuan mengapa penulis melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk Negara Khilafah didalam Sistem Pemerintahan Islam. METODE PENELITIAN Jenis dan Sifat Penelitian Penelitian yang penulis lakukan ini merupakan suatu penelitian yang tercakup dalam penelitian hukum normatif. Dengan spesifikasi khusus tentang studi dokumentasi di mana data-data serta bahan-bahan yang penulis perlukan atau gunakan didalam penelitian ini berdasarkan atas studi terhadap dokumen berupa literatur-literatur atau buku-buku yang penulis dapatkan dengan cara penelusuran kepustakaan. Soejono Soekanto ( 1984 : 51 ) mengemukakan bahwa penelitian hukum normatif mencakup : penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematika hukum, taraf sinkronisasi hukum, sejarah hukum, dan perbandingan hukum, yang datanya diperoleh berdasarkan data dokumen. Sedangkan menurut sifatnya, maka penelitian ini adalah dikategorikan sebagai penelitian yang bersifat deskriptif di mana penulis bermaksud mendeskripsikan secara sistematis. Soejono Soekanto (1984 : 10) mengemukakan suatu penelitian deskriptif yaitu penelitian yang memberikan data seteliti mungkin tentang manusia, keadaan dan gejala-gejala lainnya. Maksudnya adalah terutama untuk mempertegas hipotesa-hipotesa, agar dapat membantu di dalam memperkuat teori-teori lama, atau di dalam kerangka menyusun teori-teori baru. Apabila pengetahuan tentang sesuatu masalah sudah cukup, maka sebaiknya dilakukan penelitian eksplanatoris (Thamrin S, 1996; 10-11) yang terutama dimaksudkan untuk menguji hipotesa-hipotesa tertentu. Jenis dan Sumber Data Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini, terutama didasarkan atas data sekunder yang penulis dapatkan melalui literatur-literatur dan buku-buku lainnya yang dapat
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

83

dijadikan sebagai pedoman untuk mengembangkan penelitian ini. Secara lebih jelasnya, maka sumber data tersebut dikategorikan sebagai berikut : a. Bahan Hukum Primer Adalah : merupakan data pokok yang dijadikan sebagai dasar dari penulisan ini. ( Al-Quran, As-Sunnah, Ijma Sahabat, Qiyas ). b. Bahan Hukum Sekunder Berupa data-data yang penulis peroleh dari buku-buku dan literatur-literatur penunjang, melalui studi kepustakaan serta data-data lainnya yang ada hubungannya dengan judul penelitian yang akan penulis teliti, yang kesemuanya itu turut mendukung bahan primer dalam penelitian ini, khususnya dalam masalah Khilafah Islamiyah. c. Bahan Hukum Tersier Merupakan data yang diperoleh dari pengumpulan bahan-bahan yang ada kaitannya dengan Khilafah Islamiyah dan Sistem Pemerintahan Islam dengan melakukan penemuan data dan fakta melalui media internet, media massa, buletin, majalah dan makalah-makalah seminar yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Analisa Data dan Penarikan Kesimpulan Secara eksplisit penulis menggunakan analisa data dalam penelitian yang bersifat normatif ini yaitu dengan cara di mana data yang telah penulis peroleh dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, berupa buku-buku atau literatur-literatur melalui penelusuran kepustakaan serta bahan hukum tersier dan bahan-bahan yang penulis peroleh dari internet, media massa, majalah, buletin, makalah-makalah seminar yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Kemudian data tersebut dirangkum dengan melakukan pengelompokkan yang didasarkan atas jenis dari masing-masing bahan tersebut dengan maksud agar dapat memberikan kemudahan bagi penulis dalam menulis penelitian ini yang tersusun secara rapi, selanjutnya barulah disajikan dalam bentuk kalimat-kalimat yang tersusun secara sistematis. Tahapan berikutnya, dari kalimat demi kalimat yang telah tersusun secara sistematis tersebut, penulis akan melakukan proses pengolahan data, penganalisaan data dan membahasnya serta melakukan perbandingan antara teori-teori, pendapat-pendapat para ahli serta membandingkan dengan yang terkandung di dalam Al-Quran, As-Sunah, Ijma Sahabat, dan Qiyas yang berkenaan dengan Khilafah Islamiyah dalam Sistem Pemerintahan Islam. Kemudian barulah penulis melakukan penarikan kesimpulan dari apa yang penulis peroleh, untuk selanjutnya penulis kumpulkan ke dalam suatu tulisan ilmiah yang tersusun secara sistematis dari pembahasan yang berpedoman pada tujuan penelitian. KERANGKA TEORI Sudah jamak diketahui bahwa pada intinya ajaran islam melingkupi dua hal, yakni hubungan vertikal dengan Tuhan, dan hubungan horizontal dengan sesama manusia dan lingkungan hidup. Hubungan yang sifatnya vertikal tersebut tidak penulis jabarkan di dalam penelitian ini karena itu merupakan hubungan individu kepada pencipta-Nya. Akan halnya dengan hubungan yang sifatnya horizontal, Islam sangat mengajarkan umatnya agar mengembangkan prinsip perbaikan kualitas diri dan masyarakat sebagai upaya mencapai tingkat peradaban, harkat dan martabat yang tinggi. 84
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Tabel II.1 Perumusan Kebebasan Beragama Dalam Beberapa Negara

Bagaimanapun, penjajahan telah berhasil menciptakan beberapa kelompok orang yang meyakini bahwa agama tidak punya tempat dalam mengarahkan dan menata negara, bahwa agama adalah sesuatu dan politik adalah sesuatu yang lain, dan bahwa hal ini berlaku terhadap Islam. Diantara semboyan sesat yang tersebar luas adalah ; Agama urusan Allah dan tanah air urusan kita semua Yang dimaksud dengan ungkapan agama adalah urusan Allah adalah bahwa agama hanya sekedar hubungan antara dhamir (perasaan) manusia dengan Rabb-nya, sehingga agama tidak memiliki tempat dalam sistem kehidupan dan sosial manusia. Hubungan antara agama dan negara ini dapat dilihat pada praktek bernegara pada beberapa negara sesuai pada tabel di bawah ini ; Dalam as-siyasah asy-Syariyyah, Ibnu Taimiyah menulis Wilayah (organisasi politik) bagi persoalan (kehidupan sosial) manusia merupakan keperluan agama yang terpenting. Tanpa topangannya, agama tidak akan tegak secara kokoh dan karena Allah SWT mewajibkan kerja amar maruf nahi munkar, dan menolong pihak yang teraniaya. Semua yang Dia wajibkan tentang jihad, keadilan, dan menegakkan hudud, tidak mungkin sempurna kecuali dengan kekuatan dan kekuasaan. (Ibn Taimiyah, 1966 ; 138 lihat juga Abdul Kadir Zaidan, 1970 ; 9). Dr. Abdul Karim Zaidan (1970) dalam bukunya al-Fard wa ad-Daulah fiiasy-syariah alIslamiyyah menyimpulkan pendapat Ibn Taimiyah ; maka menegakkan Daulah Islamiyah merupakan perkara yang wajib untuk melaksanakan hukum-hukum syariat. Al-Quran sendiri tidak mengungkapkan konsep negara dan rincian teorinya, akan tetapi menurut Syafii Maarif2 disebabkan dua alasan; pertama , Al-Quran pada prinsipnya adalah petunjuk etik bagi umat manusia, bukanlah sebuah kitab ilmu politik, kedua, sudah merupakan kenyataan bahwa institusi-institusi sosio politik dan organisasi manusia selalu berubah dari
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

85

masa ke masa. Dengan demikian, diamnya Al-Quran dalam masalah ini dimaksudkan agar tidak terjadi kebekuan hukum-hukum kenegaraan dalam setiap periode sejarah umat manusia Karena ketidakjelasan inilah pada praktek sistem ketatanegaraan dalam sejarah Islam selanjutnya selalu berubah-rubah. Dalam masa empat khalifa al-rasyidin saja dapat dilihat kebijaksanaan masing-masing mereka yang sangat bervariasi, terutama sekali dalam masalah suksesi. (M. Hasbi Zainuddin, 2000). Misalnya Abu Bakar menjadi khalifah yang pertama melalui pemilihan dalam satu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Nabi Muhammad saw wafat. Umar Bin Khattab mendapat kepercayaan sebagai Khalifah kedua tidak melalui pemilihan dalam suatu forum musyawarah terbuka, tetapi melalui penunjukkan dan wasiat pendahulunya. Sebagaimana pada akhir hidupnya, Khalifah Abu Bakar sibuk bertanya pada banyak orang, bagaimana pendapatmu tentang Umar? hampir semua orang menyebut Umar adalah seorang yang keras, namun jiwanya sangat baik. Setelah itu, Abu Bakar meminta kepada Usman bin Affan untuk menuliskan wasiat bahwa penggantinya kelak adalah Umar. Tampaknya Abu Bakar khawatir jika umat Islam akan berselisih pendapat bila ia tak menuliskan wasiat. Utsman bin Affan menjadi Khalifah yang ketiga melalui pemilihan oleh sekelompok orangorang yang telah ditetapkan oleh Umar sendiri sebelum Ia wafat. Umar memberikan enam nama yaitu Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff dan Thalhah anak Ubaidillah. Pada akhirnya yang lainnya mundur dari pencalonan dan tinggallah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dan terpilihlah Umar untuk menjadi Khalifah tertua pada waktu dengan usia 70 tahun. Selanjutnya Ali Bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah keempat melalui pemilihan yang penyelenggaraannya jauh dari sempurna (H.Munawir Sjadzali, 1990 : 28-29). Berbeda dengan pendapat Imam Khomeini (2002 : 59) yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw melihat dengan jelas bahwa perselisihan akan sangat mungkin terjadi sepeninggalan beliau saw, dikarenakan terbatasnya pengetahuan mereka akan Islam dan Iman. Atas dasar ini, maka Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk menyampaikan permasalahan berupa siapa yang akan menjadi penerus kepemimpinan beliau. Sebenarnya diperiode silam, periode klasik dan abad pertengahan banyak pakar Islam telah berusaha untuk merumuskan sistem ketatanegaraan secara Islam, baik itu berupa bentuk negara maupun syarat-syarat kepala negara dan lain sebagainya. Misalnya pendapat al-Mawardi mengenai bentuk negara, kendatipun pemimpin negara dipilih tetapi dia tetap memilih negara sistem monarkhi yaitu sistem kerajaan yang sedang berkembang dimasanya. Al-Mawardi juga mengisyaratkan calon pemimpin negara harus barbangsa Arab dan Quraisy.( Abu Hasan alMawardi, tt : 6), Ibnu Khaldun juga masih mengisyaratkan seorang pemimpin negara Islam harus bersuku Quraisy. (Abd.al-Rahman Ibn Khaldun, tt : 5). Kiranya perlu ada penegasan sikap dalam menghadapi pemikiran seperti di atas. Hal ini dengan menegaskan kekomprehensifan Islam dan mengangkat sisi yang vital ini yang dilengkapi dengan hukum dan nilai-nilai Islam, yaitu sisi yang berkaitan dengan negara, baik dari segi penataan maupun pengarahannya sesuai dengan hukum dan adab Islam. Kemudian dengan menyatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem Islam yang Komprehensif, berlaku untuk segala zaman dan tempat serta untuk semua manusia. Al-Quran diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu, seperti yang terlihat dalam firman Allah SWT Surat Al-Nahl ayat 89 dibawah ini : Dan kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri3. 86
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Beberapa contoh yang dikemukakan di bawah ini tentang bagaimana Islam mengatur segala aspek kehidupan mulai dari aspek muamalah, kehidupan bernegara, kehidupan berekonomi, kehidupan berhubungan antarnegara, antara lain : a. Kehidupan bernegara diperoleh pedomannya dalam banyak ayat Al-Quran antara lain QS An Nisa (4) : 58 mengajarkan : sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan ( menyuruh kamu ) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat . Yang dimaksud dengan menetapkan hukum dalam ayat di atas ialah memutuskan hukum dalam pengadilan merupakan salah satu bagian dari kekuasaan kenegaraan. ( Ahmad Azhar Basyir, 2000). b. Kehidupan ekonomi diperoleh pedomannya dalam banyak ayat Al-Quran, antara lain pada QS An Nisa (4): 29 yang mengajarkan, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu . Skema II.2. Berikut Skema Secara Sistematika Yang Menggambarkan Bagaimana Kekomprehensifan Islam ;(Endang Saifuddin Anshari, 2004 ; 47)

c. Kehidupan hubungan antarnegara diperoleh pedomannya dalam ayat Al-Quran antara lain pada QS Al Hajj (22): 39-40 yang mengajarkan ,
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

87

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata,Tuhan kami hanyalah Allah.dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagaian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang-orang Yahudi dan masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut-sebut asma Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya, dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa Islam sebagai sebuah agama dan ideologi, akan dapat dilaksanakan secara utuh apabila tiga asas penerapan hukum Islam(Hafidz Abdurrahman, 1998) ada di dalam kehidupan umat, yaitu ; (1) Ketaqwaan individu yang mendorongnya untuk terikat kepada hukum syara, (2) Kawalan masyarakat, dan (3) Negara Islam yang menerapkan syariat Islam secara utuh. Apabila salah satu asas ini telah runtuh, maka penerapan syariat Islam dan hukum-hukumnya akan mengalami penyimpangan, dan akibatnya Islam sebagai sebuah agama dan ideologi tidak akan ada lagi. Islam telah menegaskan kedudukan khalifah kaum muslimin sebagai rain (pengembala) yang bertanggungjawab keatas raiyah (gembala)-nya. Apabila ada yang sakit, kelaparan, terjadi pergaduhan antara satu gembala dengan gembala yang lainnya, atau apabila ada gembalanya yang dizalimi oleh gembala yang lainnya, dan begitu seterusnya, semuanya merupakan tanggungjawab penggembala (khalifah). Yang wajib ia selesaikan dengan baik, yaitu dengan menghukumi masingmasing gembala tersebut dengan hukum syara. Sebagaimana sabda Rasullah saw : Kamu semuanya adalah penanggungjawab keatas gembalanya. Maka, pemimpin adalah pengembala, dan dialah yang selalu bertanggungjawab keatas gembalanya.( HR.ahmad Bukhari, muslim, Abu Dwud dan At Turmizi dari Ibnu Umar). (Al-JamiAs-Shaghir,AsSuyuthi,II/289;hadist nomor 6370.) Hadist di atas menerangkan kedudukan khalifah dan negara Islam, yang menerapkan hukum Islam. Oleh karena itu, apabila khalifah dan negara Islam ini wujud, di samping ketaqwaan individu, masyarakat dan pemerintah (khalifah dan para pembantunya), niscaya semua hukum Islam akan dapat diterapkan secara utuh. Sebagai sebuah ideologi bagi sebuah negara, masyarakat serta kehidupan, Islam telah menjadikan negara beserta kekuasaannya sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Islam. Islam telah memerintahkan kaum muslimin agar mendirikan negara dan pemerintahan, serta memerintah berdasarkan hukumhukum Islam. Ada berpuluh-puluh ayat Al-Quran yang menyangkut masalah pemerintahan dan kekuasaan itu diturunkan. Ayat-ayat tersebut memerintahkan kaum muslimin agar menjalankan pemerintahan berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman : Maka Putuskanlah perkara menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (QS.Al-Maidah : 48). Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir .(QS.Al-Maidah ; 44 ). Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim (QS.Al-Maidah ; 45) 88
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS.Al-Maidah ; 47) Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil (QS.An-Nisa ; 58). Bahkan masih banyak lagi ayat yang menyangkut dengan masalah ini yang tidak dapat penulis sajikan di sini. Bahkan selain itu masih banyak juga ayat-ayat lain yang menerangkan dan membahas tentang hukum perang, politik, pidana, sosial, muamalah dan lain-lain. Ditinjau dari perspektif seorang muslim, negara (dalam hal ini adalah negara Islam) merupakan ideologi yang dibangun bersumber pada akidah Islamiyah, yaitu sistem undangundangnya bersumber pada akidah tersebut. Karena berdasarkan konsep akidah semata, negara ini tidak dibatasi oleh teritorial, ras, suku, keturunan, atau warna kulit tertentu. (Abdul Karim Zaidan, 1984 : 17). Tata negara Islam tegak pada landasan La ilaha illah karenanya pertama-tama yang menjadi perhatian haruslah ditujukan ke arah membersihkan hati nurani para anggotanya dari penghambaan diri kepada yang lain selain Allah SWT dalam bentuk manapun juga. Mereka inilah yang pantas mendirikan masyarakat Islam. Dalam masyarakat itu terlambang La ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah. (Sayid Qutub, tt : 101). Untuk itu Rasullah Saw tidaklah meninggalkan warisan politik yang terperinci tentang bagaimana menyusun Syura, maka terserahlah bagaimana hendaknya teknik malancarkan syura itu menurut keadaan dan tempat zaman. Apakah akan mengadakan pemilu, MPR, DPR, Dewan Senat bukanlah menjadi soal, yang penting adalah bahwa dalam masyarakat mestilah ada syura, musyawarah diantara mereka (Hamka, 1983 ; 152). Islam memberikan kepada setiap muslim suatu aqidah (keimanan) dan seperangkat solusi untuk seluruh permasalahan yang dihadapinya. Pelaksanaan setiap solusi permasalahan itu dipandang sebagai ibadah. Ketika kaum muslim menerapkan seperangkat solusi itu, yaitu hukum syariat dan mengatur segala urusan yang menyangkut tentang kehidupannya harusnya sesuai dengan Islam serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, negara Islam yang ditegakkan berdasarkan akidah dan pemikiran bukan negara lokal, tetapi adalah negara yang mempunyai misi internasional. Sebab, Allah SWT sendiri menugaskan umat Islam untuk berdakwah kepada seluruh umat manusia dengan petunjuk dan cahaya yang ada pada mereka. Di samping itu, Allah juga menjadikan umat Islam sebagai saksi dan pengasuh umat manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzaab ; 72 yaitu; Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gununggunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh Terlihat jelas di ayat di atas bahwa diantara makluk Allah SWT, manusialah yang bersedia mengemban amanah Illahi. Namun di sisi lain, kita tidak mendapatkan pemerintahan Islam yang melaksanakan kewajiban dakwah Islamiyah, mengumpulkan sisi-sisi kebaikan dari berbagai sistem yang ada dan membuang sisi-sisi buruknya, kemudian menyajikan hal tersebut kepada masyarakat dunia sebagai sebuah sistem internasional yang dapat memberikan penyelesaian yang melegakan atas persoalan manusia, sedangkan Islam menjadikan dakwah Islamiyah
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

89

sebagai suatu kewajiban dan keharusan bagi seluruh kaum muslimin baik sebagai bangsa ataupun kelompok, sebelum berbagai sistem tersebut diciptakan dan sebelum dikenal sistem propaganda. Firman Allah SWT ; Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung(Ali Imran ; 104). Suatu sistem pada waktu yang sama mungkin saja dinilai dengan dua penilaian. Sebab, Islam adalah suatu agama yang komprehensif yakni menyatukan berbagai persoalan moril dan materil, serta mencakup berbagai kegiatan manusia dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Bahkan falsafah umat menggabungkan antara dua persoalan tersebut, dan tidak membedakan antara keduanya selain hanya perbedaan sisi pandang saja. Adapun pada dasarnya, kedua hal tersebut merupakan sebuah kesatuan yang serasi, harmonis, dan terkait, yang tidak mungkin dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Salah satu argumentasi yang kerap dilontarkan untuk menolak sistem khilafah adalah alasan sejarah. Sejarah Khilafah digambarkan sebagai fragmen kehidupan yang penuh darah, kekacauan dan konflik. Paling tidak, ada tiga argumentasi sejarah yang sering dilontarkan : (1) Khalifah yang otoriter dan diktator; (2) Pembunuhan yang terjadi pada masa Khulafur Rasyidin; (3) Perlakuan yang diskriminatif terhadap non-Muslim dan wanita. ( Al-Waie, No.46 Tahun IV, 2004 ; 35) Berdasarkan prinsip-prinsip realitas kenegaraan yang terkandung di dalam Al-Quran, Rasulullah saw pernah membangun suatu Daulah Islamiyah (negara Islam). Montgomery Watt menyatakan bahwa negara Islam yang dibangun Nabi Muhammad Saw itu merupakan suatu negara yang penduduknya terdiri dari percampuran berbagai suku bangsa Arab. Mereka, para suku itu bercampur dengan tujuan untuk mengadakan persekutuan dengan Nabi Muhammad saw. Wilayah kekuasaan Nabi Muhammad saw ini pada mulanya sekitar Mekah dan Madinah saja, yang kemudian setelah melakukan perluasan wilayah, kekuasaanya melebar keseluruh jazirah Arab. Tolak ukur Watt (Montgomery Watt, 1969) menilai kekuasaan Nabi Muhammad Saw sebagai negara Islam adalah karena telah terdapatnya perangkat-perangkat dasar pemerintahan yang ternyata telah memenuhi persyaratan sebagai suatu negara Modern. Persyaratan pokok tersebut antara lain ; adanya kelompok manusia, adanya ketaatan kepada suatu aturan tertentu, mempunyai wilayah tertentu, mempunyai pemerintahan, memiliki ikatan bersama. Semua jaminan hak asasi ini ditetapkan dengan terlebih dahulu yang menentukan antara hak dan kewajiban mereka didalam suatu konstitusi atau undang-undang tertuls. Misalnya, seperti yang tercantum dalam konstitusi Madinah pasal 25 dan pasal 37 yang berbunyi ; Pasal 25 Konstitusi Madinah : kaum Yahudi dan Bani Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya. Pasal 37 Konstitusi Madinah ; bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan Muslimin) bantu membantu dalam menghadapi musuh Piagam ini. 90
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Mereka saling memberi saran dan nasihat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat(kesalahan)sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya. Menurut para ilmuwan politik, Piagam Madinah dapat merupakan atau konstitusi tertulis pertama didunia (First Written Constitution in the World). Nabi Muhammad Saw menandatangani piagam ini pada tahun 1 hijriah (622 M) sebagai lahirnya negara Islam pertama. Berdasarkan kenyataan historis ini, Montgomery Watt, Arnold Toynbee, dan Michael Hart sampai pada kesimpulan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak hanya merupakan seorang Nabi (the prophet) tetapi juga seorang negarawan (the statesmen) yang berhasil. PEMBAHASAN Karena Khilafah atau negara Islam ini merupakan institusi politik, yang tidak akan dapat diasingkan daripada aktivitas politik. Sedangkan aktivitas politik Islam didasarkan kepada empat asas. Untuk itu terlebih dahulu penulis uraikan mengenai empat asas aktivitas politik dalam Islam, yakni yang terdiri dari ; Asas Pertama; kedaulatan ditangan syara (As-Siyadah li As-Syari), kata kedaulatan sebenarnya bukan berasal daripada konsep Islam. Kata tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Arab dengan perkataan as-siyadah. Dalam bahasa Inggrisnya disebut sovereignty. Makna yang dikehendaki oleh lafadz tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang mengendalikan dan melaksanakan aspirasi. (Hafidz Abdurrahman, 1998). Apabila seseorang mengendalikan dan melaksanakan aspirasinya sendiri, maka dia menjadi hamba (abdun) sekaligus sebagai tuan (sayyid). Apabila orang lain yang mengendalikan, maka dia menjadi hamba orang lain. Demikian pula, apabila umat mengendalikan aspirasinya sendiri, maka umat itu menjadi hamba sekaligus tuan bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia diperhambakan oleh manusia yang lain. Dengan begitu hukumnya adalah haram, sebab, yang boleh memperhambakan manusia hanyalah Allah SWT. Islam mengajarkan kedaulatan berada ditangan syara, bukan berada ditangan manusia, umat atau yang lainnya. Dengan demikian ajaran tersebut membawa konsekuensi sebagai berikut ; Pertama; yang menjadi pengendali dan penguasa adalah hukum syara, bukannya akal. Itu berarti semua masalah dalam urusan politik, atau penerapan hukum syara akan dikembalikan kepada hukum syara. Oleh karena itu tidak ada satu masalah yang terlepas dari pada hukum syara. Kedua; siapapun akan mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum syara, apakah dia penguasa (Ial-hakim) ataupun rakyatnya (al-mahkum). Dan karena itu, tidak ada seorang pun yang mempunyai imunity (kekebalan hukum) dalam negara Islam. Ketiga; ketaatan kepada penguasa terikat dengan ketentuan hukum syara, dan bukannya ketaatan secara mutlak. Karena rakyat hanya diwajibkan untuk taat kepada penguasa apabila ia melaksanakan hukum syara. Sebagaimana yang dinyatakan dalam surat An Nisa ayat 59 ; wahai orang-orang yang beriman, taatilah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang menjadi pemimpin diantara kamu. Apabila kamu berselisih dalam suatu urusan, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, apabila kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhir
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

91

Juga diriwayatkan oleh H.R.Ahmad yang berbunyi ; tidak ada (kewajiban) taat dalam melakukan kemaksiatan kepada Yang Maha Pencipta (Allah). H.R.Bukhari yang berbunyi : Mendengarkan dan mentaati adalah kewajiban orang Islam, apakah itu masalah yang ia sukai ataupun tidak, selagi tidak diperintahkan untuk melakukan maksiat. Apabila diperintahkan untuk melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengarkan (perintah) dan mentatainya. Ayat di atas memberikan gambaran bahwa hukum ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak. Sedangkan hukum ketaatan kepada penguasa (al-hakim) diikat oleh ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga, apabila penguasa tersebut telah memerintahkan kepada perkara maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk ditaati, sebagaimana yang dinyatakan di dalam hadist di atas. Demikian juga, apabila berlaku perselisihan, perbedaan pandangan atau apa saja yang berhubungan dengan penguasa dan rakyat, mestilah dikembalikan kepada hukum syara. Bahkan, ini merupakan indikasi kepada seseorang, apakah ia masih beriman ataukah tidak. Keempat; wajib mengembalikan masalah kepada hukum syara, apabila berlaku perselisihan antara penguasa dengan rakyat, sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat di atas. Kelima, Wajib melakukan pengawasan ke atas negara yang dilakukan umat, apabila terjadi penyimpangan negara atau penguasa dari salah satu hukum syara. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Quran surat Ali Imran : 104 yang berbunyi : Hendaklah ada diantara kamu sekelompok ummat yang menyeru kepada jalan kebaikan, memerintahkan kepada kemakrufan, serta mencegah daripada kemungkaran. Keenam; adanya mahkamah yang bertugas untuk menghilangkan penyimpangan terhadap hukum syara adalah wajib. Mahkamah itu disebut mahkamah madzalim. Sebab, berlakunya perselisihan antara penguasa dengan ummat wajib dikembalikan kepada hukum syara. Sedangkan kembali kepada hukum syara memerlukan lembaga selain daripada rakyat dan penguasa, yaitu pihak ketiga, yang bertugas menjatuhkan hukum atau keputusan kepada kedua pihak yang berselisih. Maka, adanya lembaga tersebut menjadi wajib, berdasarkan kaedah usul fiqh yaitu ; Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan adanya sesuatu, maka adanya sesuatu itu menjadi wajib. Ketujuh; mengangkat senjata untuk mengambil alih kekuasaan apabila Khalifah kaum muslimin telah menyimpang daripada hukum syara dan nyata kufur adalah wajib. Pengangkatan senjata seperti ini tidak dihukumi sebagai tindakan pembangkangan kepada negara. Asas Kedua dari aktivitas politik di dalam Islam adalah Kekuasaan ditangan ummat (assulthan li al-ummat). Kekuasaan ditangan ummat ini tercermin daripada pengambilan kekuasaan yang diambil dalam Al-Hadist maupun Ijma sahabat, yang semuanya dilakukan melalui baiat, sedangkan baiat adalah akad yang diberikan oleh ummat kepada Khalifah. Adapun konsekuensinya daripada asas kedua mengenai aktivitas politik didalam Islam, yaitu kekuasaan ditangan ummat adalah ; Pertama; tidak ada satu kekuasaan pun yang diperolehi oleh seorang muslim, kecuali diberikan oleh ummat. Caranya adalah melalui baiat. Dan karena itu, hukum baiat untuk mengangkat 92
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

Khalifah ini adalah fardhu kifayah. Sedangkan baiat untuk mentaatinya adalah fardhu ain. ( (Hafidz Abdurrahman, 1998 ; 191) Kedua; ummat mempunyai hak untuk mengangkat khalifah dengan ridha, tidak dibenarkan melalui paksaan. Oleh karena itu, Islam mengharamkan pemerintahan atau kekuasaan yang diperolehi dengan cara paksaan daripada ummat ataupun dengan menakut-nakutkan dengan maksud menekan mereka. Yang dalam istilah fiqh disebut Hukmu al-mutasalli. Seperti kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sofyan, yang mulanya diambil dengan paksa dari Imam Ali bin Abi Thalib. Ketiga; Pemerintahan Islam tidak berbentuk kerajaan, yang diperolehi dengan warisan. Sebab, kekuasaan ditangan ummat yang diberikan melalui baiat, yang dilakukan secara sukarela oleh ummat. Oleh karena itu, sistem kerajaan, apakah monarkhi absolut, ataukah monarkhi parlementer, nyata bertentangan dengan Islam. Keempat; meskipun ummat berhak mengangkat penguasa, namun kedudukan ummat bukan sebagai mustajir (majikan) manakala khalifah bukan pula sebagai ajir (buruh). Oleh karena itu, kedudukan khalifah menjadi kuat, sebab ia bukan diperhambakan oleh rakyat, atau dikontrak oleh rakyat untuk menjalankan aspirasinya. Dan ia dapat bertindak tegas kepada rakyat, apabila mereka melakukan penyelewengan. Kelima; ummat mempunyai hak syura kepada khalifah. Meskipun tidak mempunyai hak untuk memecat jabatan khalifah. Sebab, khalifah bukanlah pegawai yang digaji, tetapi merupakan penguasa yang diangkat dengan akad baiat. Dan bukan akad ijarah, di mana khalifah dibayar karena berkhidmat kepada majikannya. Yaitu rakyat atau ummat. Keenam; penguasa adalah pelayan ummat yang melayani mereka dengan memenuhi maslahat mereka dan mencegah mudharat yang menimpa mereka berdasarkan hukm syara. Karena ia dibaiat untuk memerintah ummat atau rakyat dengan hukum syara. Asas ketiga mengenai aktivitas politik di dalam Islam adalah pengangkatan satu khalifah untuk seluruh kaum muslimin hukumnya wajib (wujud nashbi al-khalifah al-wahid li al-muslimin). Adapun konsekuensi dari asas pengangkatan khalifah ini adalah : Pertama; khalifah Islam wajib hanya seorang saja. Tidak boleh ada lebih daripada satu kekhalifahan dalam satu masa. Apa yang berlaku dalam sejarah, seperti adanya kekhalifahan lebih daripada satu pada zaman Abbasiyah adalah kesalahan sejarah yang tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum syara. Sebab, sejarah bukan merupakan sumber hukum syara. Kedua; bentuk negara kekhalifahan Islam adalah berbentuk kesatuan. Tidak dibenarkan menganut bentuk persekutuan (federation). Sebab, hanya dibenarkan ada satu ketua negara, satu undangundang dan satu negara. Ketiga; sistem pemerintahan Khilafah Islam mengikut sistem pusat (centralization), sedangkan sistem administrasinya mengikut sistem tidak terpusat (desentralization). Karena, pemerintahan merupakan kuasa khalifah, dan kekuasaan dalam satu negara adalah tunggal. Adapun administrasi pemerintahan merupakan masalah teknikal, yang berbeda dengan pemerintahan. Keempat; khilafah adalah negara, karena konsep negara di dalam Islam berbeda dengan konsep kapitalisme maupun sosialisme. Ahli politik barat mendefinisikan negara adalah kumpulan daripada wilayah, rakyat dan pemerintahan. ((Hafidz Abdurrahman, 1998 : 192). Islam menggambarkan negara sebagai kekuasaan saja, sebab wilayah negara dalam Islam senantiasa berkembang, dan tidak ada wilayah yang bersepadan. Rakyat bukannya pemegang kedaulatan, meskipun rakyat mempunyai kekuasaan. Oleh karena itu, dalam pandangan Islam negara adalah kekuasaan. Dan karena yang memegang kekuasaan adalah khalifah, maka khalifah adalah negara. (Hafidz Abdurrahman, 1998 : 193) Dan karena itu, khalifah mempunyai kuasa untuk mengangkat dan memecat jabatan semua aparat pemerintahan, seperti muawin, wali, amil, qadhi dan sebagainya.
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

93

Asas Keempat dari aktivitas politik di dalam Islam adalah Khalifah-lah satu-satunya yang mempunyai hak untuk mengambil dan menetapkan hukum syara untuk menjadi undang-undang (li al-khalifah wahdah haq at-tabbani). Berdasarkan asas tersebut di atas ada beberapa konsekuensi hak untuk mengambil dan menetapkan hukum syara, antara lain, sebagai berikut: Pertama; tidak ada yang berhak membuat apa-apa undang-undang kecuali khalifah. Termasuk majlis ummat sendiri tidak berhak membuat dan mengubah undang-undang. Karena itu, tidak ada lembaga legislatif di dalam khilafah Islam. Khalifahlah lembaga legislatifnya. Kedua; kekuasaan untuk membuat keputusan ada ditangan seorang saja, yaitu khalifah. Namun, kewajiban untuk melakukan keputusan ada dibahu semua rakyat. Jadi meskipun yang berhak mengambil keputusan hanyalah satu orang, akan tetapi apabila keputusan tersebut telah diambil, maka seluruh rakyat wajib melaksanakan. Ketiga; kepemimpinan Negara Islam bersifat tunggal, tidak ada kepemimpinan kolektif dalam negara Islam. Dan karena itulah, tidak ada lembaga yang lain yang memegang kuasa pemerintahan dalam negara Islam, kecuali khalifah. Dan karena itu, maka Islam tidak mengenal konsep Trias Politica (pembagian kekuasaan), yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif. Karena itu pula, sistem demokrasi sangat bertentangan dengan sistem Khilafah Islam. Demikian sebaliknya, sistem Khilafah tidak berbentuk sistem demokrasi. Tetapi sistem pemerintahannya berbentuk Khilafah. Keempat; khalifah mempunyai hak untuk mengambil dan menetapkan hukum syara untuk menghilangkan perselisihan di tengah masyarakat. Hal ini sesuai dengan kaedah hukum syara: Perintah Imam dapat menghilangkan perselisihan (yang berlaku ditengah masyarakat). Kelima; dalam mengambil dan menetapkan hukum syara bagi khalifah hukumnya adalah mubah.(Hafidz Abdurrahman, 1998 : 193). Apabila berlaku mudharat jika tidak diambil dan ditetapkan oleh Khalifah, karena akan menimbulkan perselisihan di tengah ummat, maka ketika itu mengambil dan menetapkan hukum syara hukumnya adalah wajib, karena itu, tidak semua masalah akan diambil dan ditetapkan hukumnya oleh khalifah. Seperti masalah aqidah dan ibadah, kecuali masalah dalil aqidah dan ibadah yang berkenaan dengan orang ramai. Seperti zakat, penentuan tanggal 1 Ramadhan, atau 1 Syawal. Keenam; Khalifah dalam mengambil dan menetapkan semua undang-undang dan peraturan apa saja mesti terikat dengan hukum syara. Khalifah juga wajib mengambil dan menetapkan hukum syara tersebut dengan cara yang tidak bertentangan dengan qaidah at-tabbani li al-ahkam as-syariyah (kaedah mengambil dan menetapkan hukum syara). Yaitu, hanya akan menggunakan Al-Quran, Al-Hadist, Ijma Sahabat dan Qiyas untuk mengambil dan menetapkan hukum syara. Seperti yang dijelaskan di atas mengenai aktivitas politik di dalam Islam jelas sekali terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara Sistem Pemerintahan Islam yang berlandaskan hukum Syara dengan bentuk negara modern yang ada saat ini melalui aktivitas politik yang dijalankannya. Dengan demikian, Islam adalah sistem yang paripurna dan komprehenship bagi seluruh kehidupan manusia, yang tidak hanya mengatur kehidupan yang bersifat ritual saja akan tetapi juga turut mengatur sistem kehidupan ummatnya. Oleh karena itu, kaum muslimin diwajibkan untuk memberlakukannya secara total dalam sebuah negara yang memiliki bentuk tertentu dan khas, yang terlukis di dalam sebuah sistem Khilafah. a. Struktur Negara Khilafah Islamiyah dalam Sistem Pemerintahan Islam Sementara itu struktur dalam Khilafah Islam adalah setiap aktivitas pemerintahan yang mempunyai dalil syara. Adapun setiap pemerintahan yang aktivitas serta prosedurnya tidak 94
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

didukung oleh dalil syarasecara langsung, maka ia tidak dapat dianggap sebagai struktur. Dengan meneliti dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Quran, Al-Hadist ataupun Ijma Sahabat dan Qiyas, maka struktur pemerintahan yang terdapat dalam pemerintahan Islam hanya ada delapan bagian, yaitu ; 1. Khalifah Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam urusan pemerintahan dan kekuasaan serta menerapkan hukum-hukum syara.(Abdul Qaddim Zallum, 2002). Karena Islam telah menjadikan pemerintahan dan kekuasaan itu milik ummat. Dalam hal ini umat mewakilkan kepada seseorang untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai wakilnya. 2. Muawin Tafwidh (Wakil khalifah bidang pemerintahan) Muawin Tafwidh adalah seorang pembantu yang diangkat oleh Khalifah agar dia bersamasama dengan Khalifah memikul tanggungjawab pemerintahan dan kekuasaan. Maka dengan demikian, seorang Khalifah akan menyerahkan urusan-urusan negara dengan pendapatnya serta memutuskan urusan-urusan tersebut dengan menggunakan Ijtihadnya, berdasarkan hukum-hukum syara. Mengangkat muawin merupakan masalah yang dimubahkan, sehingga seorang Khalifah diperbolehkan untuk mengangkat muawinnya untuk membantunya dalam seluruh tanggungjawab dan tugas yang menyangkut dengan masalah pemerintahan. Al-Hakim dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan sebuah hadist dari Abi Said al-Khudri yang mengatakan, bahwa Rasulullah saw telah bersabda yang isinya; Dua pembantuku dari (penduduk) langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan dari (penduduk) bumi ini adalah Abu Bakar dan Umar. Tugas dari Muawin Tafwidh adalah menyampaikan kepada Khalifah apa yang menjadi rencananya dalam mengatur urusan-urusan pemerintahan, lalu dia melaporkan tindakan-tindakan yang telah dia lakukan dalam mengurusi urusan tersebut kepada Khalifah, kemudian dia melaksanakan wewenang dan mandat yang ia miliki. Maka tugas Muawin Tafwidh tersebut adalah menyampaikan laporan kegiatannya serta melaksanakannya selama tidak ada teguran atau pembatalan dari Khalifah. Seorang Khalifah wajib mengontrol tugas-tugas serta kebijakan-kebijakan untuk mengatur berbagai hal, yang telah dilakukan oleh Muawin Tafwidhnya, sehingga tidak dibiarkan begitu saja. Dan kalau ada yang benar, Khalifah harus menerimanya. Dan kalau ada yang salah, dia pun bisa mengetahuinya. 3. Muawin Tanfiz (setia usaha negara) Muawin Tanfiz adalah pembantu yang diangkat oleh seorang Khalifah untuk membantunya dalam masalah operasional dan senantiasa menyertai Khalifah dalam melaksanakan tugas-tugasnya (Abdul Qaddim Zallum, 2002 : 167). Dia adalah seorang protokoler yang menjadi penghubung antara Khalifah dengan rakyat, dan antara Khalifah dengan negaranegara lain. Ia bertugas menyampaikan kebijakan-kebijakan dari Khalifah kepada mereka, serta menyampaikan informasi-informasi yang berasal dari mereka kepada Khalifah. Muawin Tanfiz merupakan pembantu Khalifah dalam melaksanakan berbagai hal, namun dia bukan yang mengatur dan menjalankannya. Dia juga bukan yang diserahi untuk mengurusi berbagai persoalan tersebut. Sehingga, tugasnya adalah semata-mata tugastugas administratif, bukan tugas pemerintahan.
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

95

4. Amir Jihad (panglima perang) Amir Jihad adalah orang yang diangkat oleh Khalifah untuk menjadi seorang pimpinan yang berhubungan dengan urusan luar negeri, militer, keamanan dalam negeri dan perindustrian. Dia bertugas untuk memimpin dan mengaturnya (Abdul Qaddim Zallum, 2002 : 171). Hanya saja dia disebut dengan sebutan Amir Jihad adalah karena keempat hal tersebut merupakan bidang yang berhubungan secara langsung dengan jihad. 5. Wullat (pimpinan daerah tingkat I dan II) Wullat atau biasa disebut dengan sebutan wali adalah orang yang diangkat oleh Khalifah untuk menjadi pejabat pemerintahan di suatu daerah tertentu serta menjadi menjadi pimpinan di daerah tersebut (Abdul Qaddim Zallum, 2002 :209). Adapun negeri yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah bisa diklasifikasikan menjadi beberapa bagian. Masingmasing bagian itu disebut wilayah (setingkat propinsi). Setiap wilayah dibagi lagi menjadi beberapa bagian, di mana masing-masing bagian itu disebut imalah (setingkat kabupaten). Orang yang memimpin wilayah disebut wali, sedangkan orang yang memimpin imalah disebut amil atau hakim. 6. Qadhi atau Qadha (Hakim atau lembaga peradilan) Qadhi atau Qadha adalah lembaga yang bertugas untuk menyampaikan keputusan hukum yang sifatnya mengikat (Abdul Qaddim Zallum, 2002 : 225). Lembaga ini bertugas menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara sesama anggota masyarakat atau mencegah hal-hal yang dapat merugikan hak masyarakat atau mengatasi perselisihan yang terjadi antara warga masyarakat dengan aparat pemerintahan, baik Khalifah, pejabat pemerintahan atau pegawai negeri yang lain. Qadhi sendiri dibagi menjadi tiga bagian, yaitu ; pertama, qadhi yaitu qadhi yang mengurusi penyelesaian perkara sengketa di tengah masyarakat dalam hal muamalah atau uqubat (sanksi hukum). Kedua, qadhi hisbah/muhtasib yaitu qadhi yang mengurusi penyelesaian perkara penyimpangan yang bisa membahayakan hak jamaah. Ketiga, qadhi madzalim adalah qadhi yang mengurusi penyelesaian perkara perselisihan yang terjadi antara rakyat dengan negara. 7. Jihad Idari (jabatan administrasi umum) Penanganan urusan negara serta kepentingan rakyat diatur oleh suatu departemen, jawatan atau unit-unit yang didirikan untuk menjalankan urusan negara serta memenuhi kepentingan rakyat tersebut. Pada masing-masing departemen tersebut akan diangkat kepala jawatan yang mengurusi jawatannya, termasuk yang bertanggungjawab secara langsung terhadap jawatan tersebut. Seluruh pimpinan itu bertanggungjawab kepada orang yang memimpin departemen, jawatan dan unit-unit mereka yang lebih tinggi, dari segi kegiatan mereka serta tanggungjawab kepada wali, dari segi keterikatan pada hukum dan sistem secara umum. 8. Majllis Ummat Majllis Ummat adalah majlis yang terdiri dari orang-orang yang mewakili aspirasi kaum muslimin, agar menjadi pertimbangan Khalifah dan tempat Khalifah meminta masukan dalam urusan-urusan kaum muslimin. Mereka mewakili ummat dalam muhasabah (kontrol dan koreksi) terhadap pejabat pemerintahan (hukkam) (Abdul Qaddim Zallum, 2002 : 69). Anggota Majllis Ummat dipilih melalui pemilihan umum, bukan dengan penunjukkan atau pengangkatan, karena status mereka adalah mewakili semua rakyat dalam menyampaikan pendapat mereka, sedangkan seorang wakil itu hakekatnya hanya akan dipilih oleh orang yang mewakilkan. 96
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

b. Skema Negara Khilafah Dalam Sistem Pemerintahan Islam ;

Kesimpulan Berdasarkan dari hasil uraian di atas dan analisis data yang telah penulis lakukan, terakhir dapat penulis uraikan beberapa kesimpulan antara lain, pertama, bentuk Negara Khilafah adalah berbentuk tunggal, berbeda dengan negara modern yang berbentuk Republik atau Monarkhi maupun yang lainnya. Kedua, di dalam sistem pemerintahan Islam sesungguhnya segala sesuatunya didasarkan pada ketentuan syara dan setiap rakyat berhak untuk menjalankan pemerintahan. Selanjutnya segala ketentuan dan aturan didalam Pemerintahan Islam yang tidak ada dasar ketentuannya didalam Al-Quran, As-Sunnah, Ijma, maupun Qiyas bukan menjadi dasar maupun ketentuan didalam menjalankan roda Pemerintahan Islam itu sendiri. Daftar Pustaka Abdul Qadim Zallum. Sistem Pemerintahan Islam, Al-Izzah, Jakarta. 2002 Abdul Kadir Zaidan. al-Fard wa ad-Daulah fiiasy-syariah al-Islamiyyah al-ittihad al- Islami alalami, 1970 Abdul Karim Zaidan, Rakyat dan Negara dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984 Abu Hasan al-Mawardi, tt, Al-Ahkam al-Sultaniyah, Dar al-Kitab al-Alamaiyah, Beirut. Abd.al-Rahman Ibn Khaldun, tt, Muqaddimah Ibn Khaldun, Dar Al-Fikri. Ahmad Azhar Basyir., Negara dan Pemerintahan dalam Islam, UUI Press, Yogyakarta, 2000 Aunur Rohim Fakih & Iip Wijayanto, Kepemimpinan Islam, UII Press, Yogyakarta, 2001 Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam, Gema Insani, Jakarta,2004 H.Z.A. Ahmad, Negara Utama ( Madinatul- Fadillah ); teori kenegaraan dari sarjana Islam AlJurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011

97

Farabi, Jakarta, 1964 H.Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara : Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, UII Press, Jakarta, 1990 Hamka, Tafsir Al-azhar, Juzuk IV, 1983 Hafidz Abdurrahman. Islam Politik dan Spritual,Lisan Ul-Haq, Singapura, 1998 Ibn Taimiyah. as-siyasah asy-Syariyyah,Beirut,Dar al-Kitab al-Arabiya, 1966 Imam Khomeini. Sistem Pemerintahan Islam,Pustaka Zahra, Jakarta, 2002 M.Hasbi Amiruddin. Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman,UII Press,Yogyakarta, 2000 Montgomery Watt, Muhammad Prophet and Statesman, London; oxford, 1969 Mohd.Azizuddin Mohd .Sani. Hak Asasi Manusia Menurut Pandangan islam dan Barat. Malaysia, 2002 Mohammad Shoelhi. Demokrasi Madinah; Model Demokrasi Cara Rasullah, Republika, Jakarta, 2003 Soejono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta, 1984 Thamrin S. Metode Penelitian. Sari Kuliah. Pekanbaru, 1996 Yusuf Qardawy. Fiqh Negara, Robbani Press, Jakarta, 1997 Al-Waie, No.46 Tahun IV, 1-30 Juni 2004, Mendudukan Sejarah KeKhilafah Islam.

98

Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011