Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN SIROSIS HEPATIS I. KONSEP DASAR PENYAKIT A.

PENGERTIAN Sirosis hepatis adalah penyakit hati menahun yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2001). Sirosis hepatis adalah penyakit hati kronik yang dicirikan dengan distorsi arsitektur hati normal oleh lembarlembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal (Price & Willson, 2005, hal : 493). Sirosis hepatis adalah penyakit kronik hati yang dikarakteristikkan oleh gangguan struktur dan perubahan degenerasi, gangguan fungsi seluler, dan selanjutnya aliran darah ke hati (Doenges, dkk, 2000, hal: 544). B. ETIOLOGI Ada 3 tipe sirosis hepatis : a. Sirosis portal Laennec (alkoholik nutrisional), dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis. b. Sirosis pasca nekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya. c. Sirosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi di dalam hati di sekitar saluran empedu. Terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi (kolangitis). 1. Etiologi yang diketahui penyebabnya : - Hepatitis virus B dan C. - Alcohol. - Metabolic. - Kolestasis kronik/sirosis siliar sekunder intra dan ekstra hepatic. - Obstruksi aliran vena hepatic. - Gangguan imunologis hepatitis lupoid, hepatitis kronik aktif. - Toksik dan obat INH, metilpoda. - Operasi pintas usus halus pada obesitas. - Malnutrisi, infeksi seperti malaria. 2. Etiologi tanpa diketahui penyebabnya : - Sirosis yang tidak dikethui penyebabnya dinamakan sirosis kriptogenik/heterogenous. C. PATOFISIOLOGI Minuman yang mengandung alkohol, zat kimia (tetraklorida, naftalon, terklorinasi, arsen atau fosfor) Adanya kapilerisasi Membentuk ekstraseluler matriks Pembengkakan pada (ukuran pori seperti yang mengandung kolagen, hati endotel kapiler) glikoprotein, dan proteglikans (dibentuk oleh sel stellata) Terjadinya penekanan pada banyak Mengganggu proses vena di hati aliran darah ke sel hati Hipertensi porta Sel hati mati Asites Banyaknya fungsi hati yang Varises gastrointestinal rusak Edema gagal hati kronis D. MANIFESTASI KLINIS Penyakit sirosis hepatis mempunyai gejala seperti ikterus dan febris yang intermiten. Adanya pembesaran pada hati. Pada awal perjalanan sirosis hepatis ini, hati cenderung membesar dan sel-selnya dipenuhi oleh lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi

sebagai akibat dari pembesaran hati yang cepat dan baru saja terjadi sehingga mengakibatkan regangan pada selubung fibrosa hati (kapsula glisoni). Pada perjalanan penyakit yang lebih lanjut, ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan jaringan hati. Apabila dapat dipalpasi, permukaan hati akan teraba benjol-benjol (noduler). Obstruksi portal dan asites. Semua darah dari organ-organ digestif praktis akan berkumpul dalam vena portal dan dibawa ke hati. Pasien juga cenderung menderita dyspepsia kronis atau diare. Berat badan pasien secara berangsur-angsur mengalami penurunan. Cairan yang kaya protein dan menumpuk di rongga peritoneal akan menyebabkan asites. Splenomegali juga terjadi. Jaring-jaring telangi ektasis, atau dilatasi arteri superfisial menyebabkan jaring berwarna biru kemerahan, yang sering dapat dilihat melalui inspeksi terhadap wajah dan keseluruhan tubuh. Varises gastrointestinal. Edema, gejala lanjut lainnya pada sirosis hepatis ditimbulkan oleh gagal hati yang kronis. E. KOMPLIKASI Bila penyakit sirosis hati berlanjut progresif, maka gambaran klinis, prognosis, dan pengobatan tergantung pada 2 kelompok besar komplikasi : a. Kegagalan hati (hepatoseluler) : timbul spider nevi, eritema Palmaris, atrofi testis, ginekomastia, ikterus, ensefalopati, dll. b. Hipertensi portal : dapat menimbulkan splenomegali, pemekaran pembuluh vena esophagus/cardia, caput medusa, hemoroid, vena kolateral dinding perut. Bila penyakit berlanjut maka dari kedua komplikasi tersebut dapat timbul komplikasi dan berupa : - Asites. - Ensefalopati. - Peritonitis bacterial spontan. - Sindrom hepatorenal. - Transformasi kea rah kanker hati primer (hepatoma).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Laboratorium a. Pada darah dijumpai HB rendah, anemia normokrom nomosister, hipokrom mikrosister/hipokrom makrosister. b. Kenaikan kadar enzim transaminase-SGOT, SGPT bukan merupakan petunjuk berat ringannya kerusakan parenkim hati, kenaikan kadar ini timbul dalam serum akibat kebocoran dari sel yang rusak, pemeriksaan billirubin, transaminase dan gamma GT tidak meningkat pada sirosis inaktif. c. Albumin akan merendah karena kemampuan sel hati yang berkurang, dan juga globulin yang naik merupakan cerminan daya tahan sel hati yang kurang dan menghadapi stress. d. Pemeriksaan CHE (kolinesterasi). Ini penting karena bila kadar CHE turun, kemampuan sel hati turun, tapi bila CHE normal/tambah turun akan menunjukkan prognosis jelek. e. Kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretic dan pembatasan garam dalam diet, bila ensefalopati, kadar Na turun dari 4 meg/L menunjukkan kemungkinan telah terjadi sindrom hepatorenal. f. Pemeriksaan marker serologi seperti virus, HbsAg/HbsAb, HbcAg, HcvRNA, untuk menentukan etiologi sirosis hati dan pemeriksaan AFP (Alfa Feto Protein) penting dalam menentukan apakah telah terjadi transformasi ke arah keganasan. 2. Pemeriksaan Penunjang Lainnya a. Radiologi : dengan barium swallow dapat dilihat adanya varises esophagus untuk konfirmasi hipertensi portal. b. Esofagoskopi : dapat dilihat varises esophagus sebagai komplikasi sirosis hati/hipertensi portal. c. Ultrasonografi : pada saat pemeriksaan USG sudah mulai dilakukan sebagai alat pemeriksaan rutin pada penyakit hati.

G. PENATALAKSANAAN Terapi dan prognosis sirosis hati tergantung pada derajat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal. Dengan kontrol pasien yang teratur pada fase dini akan dapat dipertahankan keadaan kompensasi dalam jangka panjang dan kita dapat memperpanjang timbulnya komplikasi. 1. Pasien dalam keadaan kompensasi hati yang baik cukup dilakukan control yang teratur, istirahat yang cukup, susunan TKTP. 2. Pasien sirosis hati dengan sebab yang diketahui, seperti : alcohol, dan obat-obatan lain dianjurkan menghentikan penggunaannya. Alcohol akan mengurangi pemasukan protein ke dalam tubuh. Hemokromatosis, dihentikan pemakaian preparat yang mengandung besi atau terapi kelasi (desperioxamine). Dilakukan vanaseksi 2x seminggu sebanyak 500cc selama setahun. Pada penyakit willson (penyakit metabolic yang diturunkan) diberikan D-penicilamine 20 mg/kg BB/hari yang akan mengikat kelebihan cuprum, dan menambah ekskresi melalui urine. Pada hepatitis kronik autoimun diberikan kortikosteroid, pada keadaan lain dilakukan terapi terhadap komplikasi yang timbul. a. Untuk asites, diberikan diet rendah garam 0,5 g/hari dan total cairan 1,5 L/hari. Spirolakton dimulai dengan

dosis awal 4 x 25 mg/hari dinaikkan sampai total dosis 800 mg sehari, bila perlu dikombinasi dengan furosemid. b. Perdarahan varises esophagus. Pasien dirawat di RS sebagai kasus perdarahan saluran cerna. Pertama melakukan pemangan NGT, disamping melakukan aspirasi cairan lambung. Bila perdarahan banyak, tekanan sistolik 100 x/menit atau Hb 9 g% dilakukan pemberian dekstrosa/salin dan tranfusi darah secukupnya. Diberikan vasopresin 2 amp. 0,1 g dalam 500 cc cairan d 5 % atau salin pemberian selama 4 jam dapat diulang 3 kali. Dilakukan pemasangan SB tube untuk menghentikan perdarahan varises. Dapat dilakukan skleroterapi sesudah dilakukan endoskopi kalau ternyata perdarahan berasal dari pecahnya varises. Operasi pintas dilakukan pada child AB atau dilakukan transeksi esophagus (operasi Tannerso). Bila tersedia fasilitas dapat dilakukan foto koagulasi dengan laser dan heat probe. Bila tidak tersedia fasilitas diatas, untuk mencegah rebleeding dapat diberikan propanolol. c. Untuk ensefalopati dilakukan koreksi factor pencetus seperti pemberian KCL pada hipokalemia, aspirasi cairan lambung bagi pasien yang mengalami perdarahan pada varises, dilakukan klisma, pemberian neomisin per oral. Pada saat ini sudah mulai dikembangkan transplantasi hati dengan menggunakan bahan Cadaveric Liver. d. Terapi yang diberikan berupa antibiotic seperti cefotaxime 2 g/8 jam I.V. amoxicillin, aminoglikosida. e. Sindrom hepatorenal/nefropati hepatic, terapinya adalah imbangan air dan garam diatur dengan ketat, atasi infeksi dengan pemberian antibiotic, dicoba melakukan parasentesis abdominal dengan ekstra hati-hati untuk memperbaiki aliran vena cava, sehingga timbul perbaikan pada curah jantung dan fungsi ginjal. II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang muncul pada sirosis hepatis adalah sebagai berikut: 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Tujuan/Kriteria Hasil: Status nutrisi baik. Intervensi: - Kaji intake diet, ukur pemasukan diet, timbang BB tiap minggu. Rasional: Membantu dalam mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. - Berikan makanan sedikit dan sering sesuai dengan diet. Rasional: Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik. - Identifikasi makanan yang disukai termasuk kebutuhan cultural. Rasional : Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan, maka dapat meningkatkan nafsu makan pasien. - Motivasi pasien untuk menghabiskan diet, anjurkan makan makanan lunak. Rasional : Membantu proses pencernaan dan mudah dalam penyerapan makanan, karena pasien mengalami gangguan system pencernaan. - Berikan diet 1700 kkal (sesuai terapi) dengan tinggi serat dan tinggi karbohidrat. Rasional : Pengendalian asupan kalori total untuk mencapai dan mempertahankan berat badan sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. - Berikan obat sesuai dengan indikasi : tambahan vitamin, thiamin, besi, asam folat dan enzim pencernaan. Rasional : Hati yang rusak tidak dapat menyimpan vitamin A, B komplek, D dan K, juga terjadi kekurangan besi dan asam folat yang menimbulkan anemia. - Kolaborasi pemberian antiemetic. Rasional : Untuk menghilangkan mual/muntah dan dapat meningkatkan pemasukan oral. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan berat badan. Tujuan/Kriteria hasil : peningkatan energy dan partisipasi dalam aktivitas. Intervensi : - Tawarkan diet tinggi kalori, tinggi protein (TKTP). Rasional : Memberikan kalori bagi tenaga dan protein bagi proses penyembuhan. - Berikan suplemen vitamin (A, B komplek, C dan K). Rasional : Memberikan nutrien tambahan. - Motivasi pasien untuk melakukan latihan yang diselingi istirahat. Rasional : Menghemat tenaga pasien sambil mendorong pasien untuk melakukan latihan dalam batas toleransi pasien. - Motivasi dan bantu pasien untuk melakukan latihan dengan periode waktu yang ditingkatkan secara bertahap. Rasional : Memperbaiki perasaan sehat secara umum dan percaya diri. 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema. Tujuan/Kriteria hasil : Integritas kulit baik. Intervensi : - Berikan perhatian dan perawatan yang cermat pada kulit. Rasional : Jaringan dan kulit yang edematous mengganggu suplai nutrient dan sangat rentan terhadap tekanan serta trauma. - Ubah posisi tidur pasien dengan sering. Rasional : Meminimalkan tekanan yang lama dan meningkatkan mobilisasi edema. - Timbang berat badan dan catat asupan serta haluaran cairan setiap hari. Rasional : Memungkinkan perkiraan status cairan dan pemantauan terhadap adanya retensi serta kehilangan

cairan dengan cara yang paling baik. - Lakukan latihan gerak secara pasif, tinggikan ekstremitas edematous. Rasional : Meningkatkan mobilisasi edema. DAFTAR PUSTAKA Smeltzer, Suzanne C, dkk. (2001). Keperawatan Medikal Bedah 2. Edisi 8. Jakarta. Doenges, Marilynn E, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta. Tjokonegoro, dkk. (1996). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. FKUI. Jakarta. Price, Sylvia A, dkk. (1994). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC. Jakarta. Soeparman. (1987). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. FKUI. Jakarta.

ASKEP SIROSIS HEPATIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SIROSIS HEPATIS A. Definisi Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkhim hati. (Arief Mansjoer, 1999) Sirosis hepatis adalah penyakit kronis yang menyebabkan destruksi sel dan fibrosis (jaringan parut), jaringan hepatik. (Sandra M. Nettina, 2001) Sirosis hepatis adalah penyakit hati menahun yang difus, ditandai dengan adanya pembentukan jaringan disertai nodul. Dimulai dengan proses peradangan, nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. (Iin Inayah, 2004). B. Etiologi Penyebab terjadinya sirosis hati adalah : 1. Hepatitis virus B atau C 2. Alkohol 3. Metabolisme hemokromatosis idiopatik, penyakil wildon, defisiensi alfa I, antitripsin, galaktosemia, tirosinemia kongenital, DM, penyakit penimbunan glikogen. 4. Kolestasis kronis, sirosis biliar sekunder intra dan ekstra hepatik 5. Obstruksi aliran vena hepatik, penyakit vena oklusif, sindrom budd chiari perikarditis konstriktiva dan payah jantung kanan. 6. Gangguan imunologis hepatis : hepatitis kronis aktif 7. Toksik dan obat : MTX, INH, dan Metildopa 8. Operasi pintas usus halus pada obesitas 9. Malnutrisi, infeksi seperti malaria, sistosomiasis 10. Idiopatik (Iin Inayah, 2004) C. Tanda dan Gejala Menurut H.M. Sjaifoellah Noer (1997) tanda dan gejala dari sirosis hepatitis adalah : 1. Merasa lebih cepat letih 2. Nafsu makan menurun 3. Perasaan kembung dan mual 4. Kadang-kadang diare atau buang air besar lebih sering dari biasanya atau konstipasi. 5. Pada gejala lanjut timbul pembengkakan pada kedua tungkai bawah terutama bila terlalu lama berdiri dan akan berkurang dengan posisi berbaring. 6. Dapat terjadi perubahan warna urine menjadi lebih kuning tua atau kecoklatan 7. Mata tampak berwarna kekuningan 8. Terdapat gejala perdarahan saluran dan bagian atas 9. Pada gejala yang berat timbul hematemisis dari melena D. Penatalaksanaan Penatalaksanaan sirosis hepatis untuk mengetahui dan mengatasi edema dan asites menurut Arief Mansjoer (1999) adalah : 1. Istirahat dan diet rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam (2.500 gr/hari) kadang-kadang asitas dan edema yang telah dapat diatasi. Adakalanya harus dibantu dengan mengatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam, hanya sampai 1 liter atau kurang. 2. Bila dengan istirahat dan diet tidak dapat diatasi, diberikan pengobatan diuretik berupa spinorolakton 50100 mg/hr (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari setelah 3-4 hari terdapat perubahan. 3. Bila terjadi asites refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi medikamientosa yang intensif). Dilakukan terapi parasintesis, walaupun merupakan cara pengobatan asites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai komplikasinya parasintesis parasimpatis banyak kembali dicoba untuk digunakan. Pada umumnya parasimpatis aman apabila disertai dengan infus albumin sebanyak 6-8 untuk setiap liter cairan asites. Selain albumin dapat pula digunakan setelah parasintesis. Pengaturan diet rendah garam dan diuretik biasanya tetap diperlukan. 4. Pengendalian cairan asites, diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/ 2 hari atau keseimbangan

cairan negatif 600-800 ml/hr. Hati-hati bila cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam satu saat, dapat mencetuskan ensefalopati hepatis. E. Fokus Pengkajian Pengkajian untuk sirosis hepatis meliputi : 1. Keluhan utama, yakni keletihan, anoreksia, edema pergelangan kaki pada sore hari, epistaksis, perdarahan gusi, dan penurunan berat badan. 2. Pada penyakit lanjut, perhatikan : a. Dispepsia kronis, konstipasi atau diare. b. Dilatasi vena kutan disekitar umbilikus (kaput medusa). haemorrhoid internal, asites, splenomegali. c. Keletihan, kelemahan dan wasting yang disebabkan oleh anemia dan nutrisi buruk. d. Ketidakseimbangan ekstrogen, androgen yang bisa menyebabkan angioma laba-laba dan palmar critema, kehilangan libido, menstruasi tidak teratur pada wanita,atropi testikular dan prostat, ginekomastis dan impotensi pada pria. 3. Hepar nodular mengalami pembesaran 4. Kaji aktivitas atau latihan atau istirahat meliputi kelemahan, kelelahan, terlalu lelah, letargi, penurunan masa otot/ tonus. 5. Kaji pada eliminasi klien yang meliputi flatus, distensi abdomen (hematomegali, splenomegali, asites). Penurunan atau tak adanya bising usus, feses, warna tanah liat/ melena urine gelap, pekat. 6. Kaji nyeri meliputi nyeri tekan abdomen atau nyeri kuadran kanan atas pruritus, neuritis perifer, perilaku hati-hati atau distraksi, fokus terhadap diri sendiri. F. Nursing Care Plans 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ybd menurunnya nafsu makan. NOC : Tujuan klien mencapai status nutrisi adekuat pada tgl 6 Mei 2007 a. Status nutrisi Indikator 1 2 3 4 5 1. Intake nutrisi 2. Intake makanan dan cairan 3. Energi 4. Berat tubuh 5. Pengukuran biokemia Keterangan : 1. Tidak sesuai yang diharapkan 2. Kurang sesuai yang diharapkan 3. Cukup sesuai yang diharapkan 4. Sesuai yang diharapkan 5. Sangat sesuai yang diharapkan b. Diet Indikator 1 2 3 4 5 1. Mendeskripsikan tentang diet 2. Mendeskripsikan tentang keuntungan dari pengaturan diet 3. Merancang tujuan untuk pengaturan diet 4. Memilih diet 5. Menyusun menu diet 6. Mengembangkan kebiasaan pengaturan diet sehat Keterangan : 1. Tidak pernah melakukan 4. Sering melakukan 2. Jarang melakukan 5. Selalu melakukan 3. Kadang-kadang melakukan NIC 1) Monitor Nutrisi Aktivitas : - Timbang BB pasien pada interval yang spesifik - Monitor turgor kulit sesuai kebutuhan - Monitor pertumbuhan dan lingkungan - Monitor energi, penurunan fungsi organ - Minitor kalori dan pemasukan nutrisi - Kolaborasi dengan ahli gizi

- Buat jadwal waktu makan 2) Terapi Nutrisi Aktivitas : - Monitor makanan/ minuman harian dan pemasukan kalori - Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai kebutuhan - Lakukan pemasangan NGT jika perlu - Bantu pasien duduk sebelum makan - Mengajarkan tentang diet dan rencananya sesuai kebutuhan 2. Pola Napas Tidak Efektif NOC : klien mampu meningkatkan status respirasi setelah dilakukan tindakan keperawatan sampai pada tanggal Status nutrisi Indikator 1 2 3 4 5 1. Respirasi dalam batas normal 2. Irama respirasi dalam batas normal 3. Dispnea saat tidur tidak tampak 4. Auskultasi suara napas dalam batas normal 5. Fungsi paru dalam batas normal Keterangan : 1. Tidak sesuai yang diharapkan 2. Kurang sesuai yang diharapkan 3. Cukup sesuai yang diharapkan 4. Sesuai yang diharapkan 5. Sangat sesuai yang diharapkan NIC Monitoring respirasi Aktivitas : - Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kemampuan bernapas - Monitor pola napas, biadypnea, tachipnea, hiperventilasi, kusmalul - Auskultasi suara napas - Monitor pernapasang hidung misalnya snoring 3. Kelebihan Volume Cairan NOC: Klien mampu mendapatkan status hidrasi yang adekuat sampai pada tanggal: Status hidrasi Indikator 1 2 3 4 5 1. Hidrasi kulit 2. Edema perifer tidak tampak 3. Asites tidak tampak 4. Demam tidak tampak 5. Urine output batas normal Keterangan : 1. Tidak sesuai yang diharapkan 2. Kurang sesuai yang diharapkan 3. Cukup sesuai yang diharapkan 4. Sesuai yang diharapkan 5. Sangat sesuai yang diharapkan NIC : Manajemen cairan Aktivitas : - Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa) - Monitor vital sign jika diperlukan - Monitor indikasi kelebihan cairan (krakles, peningkatan cup, edema, tekanan vena jugularis,asites ) jika diperlukan 4. Intoleransi Aktivitas NOC : klien mampu meningkatkan kebutuhan energi dalam melakukan aktifitas sehari-hari setelah dilakukan tindakan keperawatan sampai pada tanggal Activity tolerance

Kriteria : Indikator 1 2 3 4 5 1. Warna kulit pucat 2. Usaha bernapas 3. Langkah saat berjalan 4. Kemampuan melakukan ADL Keterangan : 1. Dalam batas normal 2. 3. Sesuai yang diharapkan 4. Sangat sesuai yang diharapkan NIC : Manajemen energi Aktivitas : - Identifikasi keterbatasan fisik pasien - Dorong klien mampu mengungkapkan keterbatasan fisiknya - Identifikasi apa dan berapa banyak aktivitas yang masih bisa dilakukan oleh klien - Monitor asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk sumber energi - Monitor adanya kelelahan fisik dan emosi yang berlebihan - Monitor respon cardiopulmonal terhadap aktivitas : takikardi, disritmia dsypnoe, diaphoresis, pucat, perubahan hemodinamik, perubahan irama pernapasan - Monitor dan catat pola tidur klien - Monitor adanya nyeri atau ketidaknyamanan saat klien beraktivitas - Kurangi ketidaknyamanan fisik yang mempengaruhi aktivitas fisik dan psikis - Batasi pengunjung secara tepat - Tingkatkan kualitas tidur klien