Anda di halaman 1dari 10

CABLE-STAYED BRIDGE (JEMBATAN KABEL PENAHAN)

Jembatan dengan kabel sebagai elemen utama pendukung konstruksi umumnya dipakai dalam bentuk konfigurasi gantung, cable-stayed atau kombinasi kedua sistem tersebut.

Sedangkan jembatan dengan konfigurasi cable-stayed dimana sistem deck jembatan didukung oleh kabel yang dihubungkan langsung ke tower umumnya di pakai untuk jembatan dengan bentangan sedang sampai dengan 450 meter. Jembatan terpanjang yang menggunakan konfigurasi cable-stayed adalah Jembatan Tatara di Jepang dengan bentang utama 890 meter.

Gambar 1. Tatara Bridge, Jepang

Jembatan cable-stayed memiliki 3 komponen utama, sistem kabel (cable system), deck dan menara (tower/pylon).

1.

Sistem Kabel (Cabel System) Sistem kabel merupakan salah satu hal yang mendasar dalam perencanaan jembatan cable-stayed. Kabel digunakan untuk menopang gelagar di antara dua tumpuan dan memindahkan beban tersebut ke menara. Secara umum sistem kabel dapat dilihat sebagai tatanan kabel transversal dan tatanan kabel longitudinal. Pemilihan tatanan kabel tersebut didasarkan atas berbagai hal karena akan memberikan pengaruh yang berlainan terhadap perilaku struktur, terutama pada bentuk menara dan tampang gelagar.

a. Tatanan Kabel Transversal Tatanan kabel transversal terhadap arah sumbu longitudinal jembatan dapat dibuat satu atau dua bidang dan sebaliknya ditempatkan secara simetri. Ada juga perencana yang menggunakan tiga bidang kabel sampai sekarang belum diterapkan di lapangan.

1) Sistem satu bidang

Gambar 2. Tatanan kabel transversal sistem satu bidang

Gambar 3. Sunshine Skyway Bridge, St. Petersburg, Florida and Bradenton, Florida. Tatanan kabel transversal sistem satu bidang

Sistem ini sangat menguntungkan dari segi estetika karena tidak terjadi kabel bersilangan yang terlihat oleh pandangan sehingga terlihat penampilan struktur yang indah. Kabel ditempatkan ditengah-tengah dek dan membatasi dua arah jalur lalu lintas. Untuk jembatan bentang

panjang biasanya memerlukan menara yang tinggi menyebabkan lebar menara di bawah dek sangat besar. Secara umum jembatan yang sangat panjang atau sangat lebar tidak cocok dengan penggantung kabel satu bidang.

2) Sistem dua bidang

Gambar 4. Tatanan kabel transversal sistem dua bidang

Gambar 5. Ed Hendler (Pasco-Kennewick), Washington, USA. Tatanan kabel transversal sistem dua bidang

Penggantung dengan dua bidang dapat berupa dua bidang vertikal sejajar atau dua bidang miring yang pada sisi atas lebih sempit.

3) Sistem tiga bidang

Gambar 6. Golden Ears Bridge, Canada. Tatanan kabel transversal sistem tiga bidang

Pada perencanaan jembatan yang sangat lebar atau membutuhkan jalur lalu lintas yang banyak, akan ditemui torsi yang sangat besar bila menggunakan sistem kabel satu bidang dan momen lentur yang besar pada tengah balok melintang bila menggunakan sistem dua bidang. Kejadian ini menyebabkan gelagar sangat besar dan menjadi tidak ekonomis lagi. Penggunaan penggantung tiga bidang dapat

mengurangi torsi, momen lentur, dan gaya geser yang berlebihan. Penggunaan penggantung tiga bidang sampai saat ini masih berupa inovasi dan baru sampai pada tahap desain (Walther,1988).

b. Tatanan Kabel Longitudinal Tatanan kabel longitudinal juga memiliki banyak variasi yang berbeda. Untuk bentang yang lebih pendek kabel tunggal mungkin sudah cukup untuk menahan beban rencana. Untuk bentang utama yang panjang dan bentang yang tidak isometrik yang menggunakan angker, variasi tatanan kabel tidak cukup dengan kebutuhan secara teknis tetapi harus menghasilkan konfigurasi dasar tatanan kabel longitudinal seperti fun system/radiating system, modified fan system dan harp system.

1) Fun system

Gambar 7. Tatanan kabel longitudinal Fun system

Gambar 8. Ed Hendler (Pasco-Kennewick) Bridge, Washington, USA. Tatanan kabel longitudinal Fun system

Kabel dipusatkan pada ujung atas menara dan disebar sepanjang bentang pada gelagar.

2) Modified fan system

Gambar 9. Tatanan kabel longitudinal Modified fan system

Gambar 10. Can Tho Bridge, Vietnam. Tatanan kabel longitudinal Modified fan system

Kabel disebar pada bagian atas menara dan pada dek sepanjang bentang, menghasilkan kabel tidak sejajar.

3) Harp system

Gambar 11. Tatanan kabel longitudinal Harp system

Gambar 12. Oresund Bridge, Denmark. Tatanan kabel longitudinal Harp system

Kabel-kabel penggantung dipasang sejajar dan disambungkan ke menara dengan ketinggian yang berbeda-beda.

c. Kabel Sistem deck didukung oleh kabel yang dihubungkan langsung ke menara. Konstruksi kabel terdiri atas beberapa strand (untaian kawat-kawat baja). 1) Spiral-strand Spiral-strand terdiri dari kawat-kawat bulat digalvanis berdiameter besar yang dipuntir bersama-sama. Kawat-kawat tersebut diuntai dalam satu atau lebih layer, umumnya dengan arah yang berlawanan, untuk mencapai diameter yang diperlukan.

Gambar 13. Tipikal Spiral Strand

2) Locked Coil Strand Locked coil strand terdiri dari sebuah pusat dari satu atau lebih layer kawat-kawat bulat digalvanis berdiameter besar yang dipuntir bersama-sama. Kawat-kawat tersebut diuntai oleh kawat-kawat persegi digalvanis berdiameter besar yang terdiri dari satu atau lebih layer, umumnya dengan arah yang berlawanan, untuk mencapai diameter yang diperlukan.

Gambar 14. Tipikal Locked Coil Strand

3) Parallel Wire Strand Parallel wire strand terdiri dari kawat bulat digalvanis berdiameter 5mm sampai 7mm berbentuk hexagonal, dengan suatu helix panjang. Kawat tersebut kemudian biasanya dibungkus oleh High Density polyethylene (HDPE) tube.

Gambar 15. Tipe Paralel Wire Strand

4) Structural Rope Structure Rope biasanya terdiri dari 6 buah strand (untaian kawat) yang dipuntir mengelilingi steel core. Diameter kawat digalvanis biasanya kecil sehingga memberikan kelenturan yang tinggi.

Gambar 16. Tipe Struktural Rope

2.

Deck Bentuk gelagar jembatan cable stayed sangat beragam namun yang paling sering digunakan ada dua yaitu stiffening truss dan solid web (Podolny and Scalzi, 1976). Stiffening truss digunakan untuk struktur baja dan solid web digunakan untuk struktur baja atau beton baik beton bertulang maupun beton prategang. Pada awal perkembangan jembatan cable stayed modern, stiffening truss banyak digunakan tetapi sekarang sudah mulai ditinggalkan dan jarang digunakan dalam desain, karena mempunyai banyak kekurangan.

Kekurangannya adalah membutuhkan fabrikasi yang besar, perawatan yang relatif sulit, dan kurang menarik dari segi estetika. Meskipun demikian dapat digunakan sebagai gelagar dengan alasan memiliki sifat aerodinamik yang baik.

3.

Menara (Pylon) Pemilihan menara sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kabel, estetika dan kebutuhan perencanaan serta pertimbangan biaya. Bentuk-bentuk menara dapat berupa rangka portal tropezoidal, menara kembar, menara A, atau menara tunggal.Selain bentuk menara yang telah disebutkan, masih banyak bentuk bentuk menara lain namun jarang digunakan seperti menara Y, menara V, dan lain sebagainya.

Gambar 17. Taoyaomen Bridge Zhoushan, RRC. Pylon A

Gambar 18. Jingyue Bridge Jingzhou, RRC. Pylon H

Gambar 19. Rama VIII Bridge in Bangkok, Thailand. Pylon Upside Down Y

Gambar 20. Oakland Bay Bridge, San Francisco. Pylon I

10