Anda di halaman 1dari 5

Kesehatan dan Keselamatan Kerja

BAB 7 PENATALAKSANAAN PENYAKIT PARU AKIBAT KERJA


PENDAHULUAN Penyakit paru kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh partikel, uap, gas atau kabut berbahaya yng menyebabkan kerusakan paru bila terinhalasi selama bekerja. American Lung Association membagi penyakit paru akibat kerja menjadi dua kelompok besar : pneumoconiosis disebabkan karena debu yang masuk ke dalam paru serta penyakit hipersensitivitas seperti asma yang disebabkan karena eaksi yang berlebihan terhadap polutan di udara. Beberapa kasus kanker paru dan bronkitis juga termasuk ke dalam penyakit paru akibat kerja. Tabel 1. Respons Bagian Sistem Pernapasan terhadap Bahan di Lingkungan Kerja Lokasi Jalan napas Penyakit Asma Bronkitis / bronkiolitis akut Bronkitis kronik Karsinoma bronkogenik Bisinosis Pneumokoniosis (asbestosis, silikosis, dll) Pneumonia (TB) Pneumonitis akibat bahan kimia (RADS) Alveolitis ekstrinsik alergik Penyakit yang berhubungan dengan asbestos Demam asap logam Sindrom gedung sakit Asap tembakau lingkungan

Parenkim / alveoli

Lain-lain

PREVALENSI Laporan ILO (International Labor Organizaton) tahun 1991 tentang penyakit paru akibat kerja memperkirakan insiden rata-rata dari penyakit akibat kerja adalah sekitar satu kasus per 1000 pekerja setiap tahun. Diantara semua penyakit akibat kerja, 10-30% adalah penyakit paru. ILO telah mendeteksi sekitar 40.000 kasus baru pneumoconiosis terjadi di seluruh dunia setiap tahun yang mempunyai akibat serius. Lebih dari 3% kematian akibat penyakit paru kronik di New York adalah berhubungan dengan pekerjaan. Di Inggris pada tahun 1989 dilakukan penelitian The Surveillance of Work Related and Occupational Respiratory Disease (SWORD). Dari data tahun 1996 ditemukan 3300 kasus baru penyakit paru yang berhubungan dengan pekerjaan. Di Indonesia belum ada data resmi tentang beberapa banyak angka kejadian kassus penyakit paru akibat kerja, tetapi dari beberapa penelitian yang dilakukan cukup banyak dijumpai kasus penyakit paru akibat kerja.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja DIAGNOSIS Empat kriteria dapat digunakan sebagai petunjuk dalam diagnosis : 1. Didapatkan pajanan terhadap bahan yang diketahui berbahaya. Tidak semua bahan dengan bau yang menyengat atau bubuk putih berbahaya. Material Safety Data Sheet (MSDS) dapat digunakan untuk mengetahui komposisi bahan dan efek pajanan terhadap bahan berbahaya. 2. Lama pajanan dan permulaan timbulnya gejala harus sesuai. Diperlukan periode laten selama 20 tahun sebelum dapat mendiagnosis asbestosis jadi pajanan hanya dalam waktu beberapa hari tidak sesuai. 3. Gejala klinis harus sesuai dengan gejala yang berhubungan dengan pajanan. 4. Tidak ada penyebab lain yang dapat menerangkan terjadinya keluhan dan gejala. Sebagian besar penyakit paru akibat kerja dapat didiagnosis berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, foto toraks, uji faal paru dan pemeriksaan laboraturium. a. Anamnesis 1. Batuk : - Berapa lama - Waktu (pagi, sepanjang hari) - Tiga bulan berturut-turut 2. Dahak : - Ada atau tidak - Jumlah - Warna 3. Sesak : - Berapa lama - Apakah disertai dengan flu - Pada waktu tertentu atau sepanjang hari - Adakah hubungan dengan tempat kerja 4. Batuk darah : - Bloodstreak - Darah segar 5. Rokok : - Umur mulai merokok, jenis, cara hisapan - Jumlah batang/hari - Kapan mulai berhenti 6. Riwayat pekerjaan : - Pekerjaan pada musim tertentu - Pekerjaan di kawasan militer - Pekerjaan yang pertama - Hobi - Lingkungan rumah - Tipe pajanan

Kesehatan dan Keselamatan Kerja Kapan mulai terpajan Tingkat pajanan Total lama pajanan

b. Pemeriksaan Fisik - Sesak napas - Jari tubuh atau sianosis - Pembesaran kelenjar getah bening - Perubahan bentuk dada - Intensitas suara napas - Ronki (inspirasi atau ekspirasi) - Mengi - Pemeriksaan jantung - Pembesaran hepar atau limpa - Edema tungkai c. Radiologi - Hiperinflasi - Diafragma mendatar - Bayangan udara retrosternal - Bulla - Perselubungan : nodular atau retikuler, lokasi - Sarang tawon - Kelainan pleura d. Uji Faal Paru - KVP (Kapasitas Vital Paksa) - VEP1 (Volume Ekspirasi Paru Detik Pertama) - VEP1/KVP - Kapasiti Difusi - AGDA (Analisis Gas Darah) - Uji Provokasi Bronkus e. Pemeriksaan Laboraturium - Darah - Urine - Dahak

PENATALAKSANAAN a. Penilaian Cacat Kecacatan adalah ukuran ketidakmamapuan penderita untuk melakukan kegiatan sehari-hari, lebih dari sekedar pengukuran uji faal paru. Menentukan derajat

Kesehatan dan Keselamatan Kerja kecacatan adalah dengan cara menilai kapasitas seseorang untuk melakukan suatu fungsi dengan cara tertentu dan membandingkannya dengan kapasitas normal yang dibutuhkan untuk melakukan fungsi tersebut. Untuk menentukan kecacatan paru akibat kerja diperlukan 5 langkah yang harus dilakukan meliputi diagnosis, hubungan diagnosis dengan pekerjaan, derajat kelainan/gangguan fungsi, penilaian kebutuhan kerja dan penilaian kecacatan. Gangguan fungsi paru dapat dinilai untuk menentukan derajat beratnya kelainan serta gangguan fungsi baik secara subyektif dan obyektif. Penilaian subyektif dengan mengamati gejala yang terjadi dan yang paling dominan yaitu sesak napas. Sesak napas adalah suatu persepsi subyektiif seperti nyeri yang sering dilebihlebihkan dan tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan fungsi paru. Tabel 2. Klasifikasi Derajat Sesak Napas Menurut ATS (American Thoracic Society) Kelas Gradasi Sesak 0 Tidak ada sesak pada aktiviti normal. Sesak timbul pada latihan seperti yang dialami orang sehat pada umur, tinggi dan jenis kelamin yang sama. 1 Sesak ringan. Dapat mengikuti orang sehat pada tempat yang datar tetapi merasa sesak waktu menanjak atau menaiki tangga. 2 Sesak sedang. Tidak dapat mengikuti orang sehat pada tempat darat, tetapi dapat berjalan pada kemampuan sendiri lebih dari 1 km. 3 Sesak berat. Tidak dapat berjalan lebih dari 100 m tanpa istirahat. 4 Sangat sesak. Sesak napas sudah timbul bahkan waktu berbicara atau berpakaian. Pemeriksaan obyektif dengan menggunakan spirometri merupakan pemeriksaan yang harus dilakukanuntuk menentukan gangguan fungsi pada penyakit paru akibat kerja. Tabel 3. Kriteria Gangguan Fungsi Paru Menurut ATS KVP VEP1 VEP1/KVP DLCO VO2 m (%pred) (%pred) (%) (%pred) (ml/kg/mt) > atau = 80 > atau = 80 > atau = 75 > atau = 80 > atau = 25 60 - 79 60 79 60 - 74 60 - 79 16 - 24 51 - 59 41 59 41 - 59 41 - 59 16 - 24 < atau = 50 < atau = 40 < atau = 40 < atau = 40 < atau = 15

Kategori Normal Ringan Sedang Berat

Kesehatan dan Keselamatan Kerja Tabel 4. Penilaian Kecacatan Berdasarkan VEP1 dan Derajat Sesak Persentase cacat Derajat Sesak VEP1 (L) fungsi (%) 0 : Normal > 2,5 1 : Ringan 1,6 - 2,5 25 2 : Sedang 1,1 1,5 50 3 : Berat 0,5 1 75 4 : Sangat Berat <1 100 b. Prognosis Prognosis berdasarkan pada pengetahuan tentang riwayat perjalanan penyakit serta hasil-hasil pemeriksaan lain. Dengan ini dokter dapat membuat rencana pengobatan untuk menghentikan perburukan penyakitnya serta mengurangi keluhan. Salah satu program penting adalah rehabilitasi. Rehabilitasi merupakan suatu proses untuk membantu individu yang mengalami kecacatan dalam mempertahankan tingkat maksimal dari setiap fungsinya. Diharapkan dapat berhubungan baik dengan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. c. Obat-obatan Obat-obatan mempunyai peran yang sedikit dan terapi yang terdiri dari anjuran untuk menghindari pajanan lebih lanjut terhadap bahan yang berbahaya. Obat yang diberikan biasanya bersifat simtomatis. d. Menghindari Pajanan 1. Mengganti (subsitusi) bahan yang berbahaya dengan bahan yang kurang atau tidak berbahaya. 2. Membatasi bahan pajanan. 3. Ventilasi keluar. 4. Memakai APD.

Nama : Putri Wella Suresty (111000048) Ririn C. Nainggolan (111000266) Buku : Kesehatan dan Keselamatan Kerja BAB 7 PENATALAKSANAAN PENYAKIT PARU AKIBAT KERJA