Anda di halaman 1dari 65

PENGEMBANGAN PANAS BUMI DI JAWA BARAT : KONTRIBUSI DAN HARAPAN DAERAH

Disampaikan pada Acara Seminar Nasional Panas Bumi : Panas Bumi sebagai Energi Andalan Masa Kini dan Mendatang Bali, 3 April 2006

DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI PROVINSI JAWA BARAT Jl. Soekarno-Hatta No. 576 Bandung 40286 (022) 7562048-49 www. distamben-jabar.go.id

PERAN PERTAMBANGAN DAN ENERGI DALAM PENGELOLAAN ISU-ISU STRATEGIS JAWA BARAT
1. PENGURANGAN JUMLAH PENDUDUK MISKIN 2. PENINGKATAN PENYEDIAAN LAPANGAN KERJA 3. MENGURANGI DISPARITAS ANTARA WILAYAH DAN KESENJANGAN ANTAR GOLONGAN 4. MEMACU LAJU PERTUMBUHAN INVESTASI DAN PENINGKATAN DAYA SAING EKONOMI 5. PENCEGAHAN DAN PENANGANAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN 6. PENGEMBANGAN WILAYAH 7. PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS INFRASTRUKTUR 8. MENGANTISIPASI TINGGINYA RESIKO BENCANA ALAM 9. MENINGKATKAN SINERGITAS ANTAR UNIT KERJA DAN ANTAR TINGKAT PEMERINTAHAN 10. PENINGKATAN JALINAN KERJASAMA ANTAR DAERAH DAN GLOBAL 11. OPTIMALISASI PEMBANGUNAN DI JAWA BARAT BAGIAN SELATAN DAN DAERAH PERBATASAN

POTENSI MIGAS DAN PANAS BUMI VS PENGEMBANGAN WILAYAH JAWA BARAT

Sebagian besar daerah yang memiliki sumber daya energi yang relatif besar berada di wilayah dengan tingkat Pra KS yang relatif besar. Sumberdaya Migas dan PB belum memberikan dampak bagi masyarakat sekitar

Kontribusi Jawa Barat


POTENSI JAWA BARAT DALAM KONSTELASI NASIONAL :
PROPINSI DENGAN JUMLAH PENDUDUK TERBESAR (18 %) SALAH SATU PUSAT KEGIATAN INDUSTRI MANUFAKTUR DAN STRATEGIS NASIONAL LOKASI INSTALASI VITAL NASIONAL (PENDIDIKAN, LITBANG DAN HANKAM) BERBATASAN DENGAN IBUKOTA NEGARA PROPINSI DENGAN STRUKTUR GEOLOGI YANG KOMPLEKS MEMILIKI TIGA PUSAT KEGIATAN NASIONAL DAN DUA KAWASAN TERTENTU MEMILIKI TAMAN NASIONAL, SUAKA MARGASATWA DAN CAGAR ALAM

KONTRIBUSI JAWA BARAT TERHADAP NASIONAL :


PROPINSI Kab. Bekasi DKI Kota Bekasi Kab. Karawang Kota Depok Kab. Indramayu Kab. Subang Kota Bogor Kab. Bogor PROPINSI BANTEN Kab. Sumedang Kab. Majalengka Kota Sukabumi Kota Cimahi Kota Bandung Kab. Kuningan Kab. Bandung PROPINSI JAWA TENGAH Kota Tasikmalaya Kab. Garut Kab. Tasikmalaya Kab. Ciamis Kota Banjar Kab. Purwakarta Kab. Cirebon Kota Cirebon

Kab. Sukabumi

Kab. Cianjur

KONTRIBUSI THD PDB NASIONAL (14 %) KONTRIBUSI PMA JAWA BARAT TERHADAP NASIONAL (34,46 %) MENYUMBANG PRODUKSI BERAS NASIONAL (17,84 %) SALAH SATU PROPINSI PRODUSEN KOMODITI EKSPOR NASIONAL (AS 18,4%, JEPANG 12,52% DLL)

Kontribusi Jawa Barat


KONTRIBUSI JAWA BARAT TERHADAP REGIONAL JAWA BALI :
LINTASAN UTAMA ARUS REGIONAL BARANG DAN PENUMPANG SUMATERA-JAWA-BALI PMDN TERTINGGI DI P. JAWA-BALI (19,76 % TAHUN 2002) PENYEDIA LISTRIK DENGAN KAPASITAS DAYA TERPASANG 3.337 MW LUAS KAWASAN HUTAN TERBESAR DI JAWA-BALI SEBESAR (1,04 JT HA) MEMILIKI 40 DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) MERUPAKAN TUJUAN WISATA (BANDUNG, PANGANDARAN, PUNCAK, CIREBON)

KONTRIBUSI JAWA BARAT TERHADAP IBUKOTA NEGARA :


PENYEDIA AIR BAKU DKI TURUT MENYUMBANG PENYEDIAAN BAHAN PANGAN DKI PENYEDIA LAHAN DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG AKTIVITAS DKI (TPA, PERUMAHAN DLL) MENAMPUNG LIMPASAN MIGRASI MASUK KE DKI

RESTRUKTURISASI SEKTOR ENERGI


UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas UU No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi UU No. 07 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air PP No. 03 Tahun 2005 tentang Perubahan PP No. 10/89 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik. Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional

MEMBERIKAN DAMPAK TERHADAP DAERAH (OTONOMI DAERAH)

PRINSIP PELAKSANAAN TUGAS


MENDUKUNG PELAKSANAAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL NASIONAL SECARA KHUSUS DITUJUKAN UNTUK MENDUKUNG PENCAPAIAN VISI JAWA BARAT 2010 SESUAI DENGAN KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB DAERAH : DESENTRALISASI, DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN MEMPERHATIKAN KARAKTERISTRIK REGIONAL JAWA BARAT

GAMBARAN SEKTOR ENERGI DI JAWA BARAT


Jawa Barat sebagai daerah pengkonsumsi energi yang besar, dengan laju permintaan yang tinggi dengan komposisi konsumsi terbesar menurut sektor : industri, rumah tangga, transportasi dan komersial. Akses masyarakat masih menjadi persoalan (rasio elektrifikasi rendah, pemakaian energi perkapita rendah), efisiensi rendah (intensitas energi tinggi), ditambah dengan jumlah penduduk miskin yang besar Struktur pemanfaatan energi primer masih berbasis kepada energi komersial (migas) Terdapat potensi energi terbarukan yang besar : panas bumi, hidro skala kecil/menengah dll yang belum dimanfaatkan secara maksimal Peningkatan infrastruktur energi memerlukan investasi yang besar.

PEMAKAIAN ENERGI FINAL MENURUT SEKTOR DI JAWA BARAT (2000)


10% 12% 34%
Sektor Rumah Tangga Sektor Komersial Sektor Industri Sektor Transportasi Sektor Lainnya

2% 42%

KONDISI PENGGUNAAN JENIS BAHAN BAKAR DI SEKTOR RUMAH TANGGA DI JAWA BARAT

23.93% Minyak Tanah Gas Kayu Bakar 68.03%

8.04%

Biaya Input Energi


F urnitur 11% 0% M akanan dan M inuman 0% 5%

Indus tri Mak anan dan Minum an

1% 4% R adio, televisi dan peralatan komunikasi 0% 1% 1% 0% 2% T ekstil 28%

P engolahan Tem bak au Tek s til P ak aian J adi K ulit K ay u K ertas P enerbitan B atubara

Barang dari Log am 7%

K im ia K aret B arang G alian N on Logam Logam D as ar

1%

B arang dari Logam Mes in dan peralatanny a Mes in dan peralatan k antor Mes in lainny a dan perlengk apanny a R adio, telev is i dan peralatan k om unik as i

Barang G alian N on Log am 10% Kulit 1% 2% Karet 4% Kimia 9% 0% 0% Kertas 10%

3%

P eralatan K edok teran K endaraan berm otor A lat angk utan F urnitur D aur ulang

Kondisi dan Perkembangan Ketenagalistrikan Jawa Barat


PERKEMBANGAN KETENAGALISTRIKAN PLN DI JAWA BARAT 2000 - 2004
TAHUN ENERGI TERJUAL (MWh) Pertumbuhan energi terjual (%) PENDAPATAN (Juta Rp) Peningkatan pendapatan (%) Rupiah/kWh Peningkatan rupiah/kWh (%) DAYA TERSAMBUNG (MVA) Pertumbuhan daya tersambung (%) PELANGGAN Pertumbuhan pelanggan (%) 2000 17,798,283 4,622,850 260 7,269,227 5,240,377 2001 19,299,917 8.44 6,049,304 30.86 313 20.68 7,951,680 9.39 5,504,283 5.04 2002 20,025,350 3.76 8,438,410 39.49 421 34.44 8,409,485 5.76 5,713,827 3.81 2003 19,966,220 -0.30 10,508,250 24.53 526 24.90 8,716,527 3.65 5,953,955 4.20 2004 21,771,355 9.04 12,160,500 15.72 559 6.13 9,070,314 4.06 6,145,591 3.22 Rata2 5.24 27.65 21.54 5.71 4.07

Sumber : PLN Distribusi Jabar-Banten, 2004 (diolah)


Daya Tersambung (MVA) Tahun 2004
20,539 0.34%

Jumlah Pelanggan (2004)


1 0,034 0.1 7% 1 22,425 2.03%

E n erg iT erjua l (G W h) T ah un20 04

191.17 2% 3,525.22 39%

1 70,675 2.84%

3 ,28 0.10 13 %

4,237.80 47%

Sosial Rumah Tangga Bisnis Publik Industri


5,696,501 94.62%

Sosial 1 2,0 10 .45 Rumah Tangga 50 % Bisnis Publik Industri


40 .6 5 3 22 .40 1,5 6 % 1 %

7,49 4.8 0 3 0%

S o sial R u m ahT a ng ga B isn is P u blik In du stri

152.53 2%

921.58 10%

PEMBANGKIT EKSISTING
DATA PEMBANGKIT DI JAWA BARAT
Tegangan Lokasi Pembangkit 20 Bengkok Kracak - Bogor Selatan Ubruk - Sukabumi 30 Plengan 70 Lamajan Cikalong Parakan Sunyaragi 150 Jatiluhur Kamojang 1 Kamojang 2 Kamojang 3 Darajat-PLN Darajat Amoseas WY. Windu Gunung Salak 500 Saguling Cirata Muara Tawar Jenis PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTG PLTA PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTA PLTA PLTGU PLTG PLTGU Kapasitas (MW) 3,35 3.35 3x6 18.00 3x6 18.00 5,5 5.50 18 18.00 18 18.00 10,2 10.20 4 x 18 72.00 6 x 25 150.00 30 30.00 55 55.00 55 55 85 110 3 x 58 3 x 60 4 x 175 8 x 125 4 x 138 1 x 200 6 x 138 55.00 55.00 85.00 110.00 174.00 180.00 700.00 1,000.00 552.00 200.00 828.00 4,337.05

JENIS DAN KAPASITAS PEMBANGKIT (MW) DI JAWA BARAT

1,580.00 36%

744.00 17% PLTP PLTA PLTG PLTGU 1,941.05 45%

72.00 2%

PLTA : 46,21% Indonesia (4200 MW) PLTP : 92,81% Indonesia (807 MW)

TOTAL

Ketenagalistrikan Jawa Barat dalam Sistem Jawa-Bali


K O N S U M S I L IS T R IK J A W A B A R A T V S J A W A B A L I

SLAYA
19966 24%

CLGON KMBNG 459 kV

451 kV CWANG

MRTWR 471 kV CBATU CRATA 471 kV 454 kV CRBON BDSLN 469 kV


64703 76% J A W A B A RA T (GW h) L U A R J A W A B A R A T( G W h )

Region 1

GNDUL BKASI 451 kV 461 kV 461 kV CIBNG

470 kV SGLNG

Region 2 2565 MW

344 1800 MW

UNGAR

GRSIK

MADURA

Region 3
BEBAN LISTRIK JAWA BARAT VS JAWA BALI

SBBRT

1420 2400 MW
GRATI PDAN PITON 409 kV

KDBRU

Region 4
BALI

3747 28% JAWA BARAT (MW) LUAR JAWA BARAT (MW) 9853 72%

Elektrifikasi Desa, Rasio Elektrifikasi dan Konsumsi Listrik perKapita


TINGKAT ELETRIFIKASI DESA, RASIO ELEKTRIFIKASI DAN KONSUMSI LISTRIK/KAPITA DI JAWA BARAT TAHUN 2005 Jumlah Desa 426 348 348 440 424 351 345 376 424 331 269 310 252 192 309 187 68 33 139 22 56 63 15 69 22 5,819 Desa Berlistrik 424 348 331 440 421 351 343 376 424 331 269 310 252 192 309 187 68 33 139 22 56 63 15 69 22 5,795 Tingkat Elektrifikasi Desa (%) 99.53 100.00 95.11 100.00 99.29 100.00 99.42 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 99.59 Pelanggan Listrik PLN 449,754 241,375 261,123 548,073 249,326 179,061 162,874 210,756 238,731 209,326 193,935 243,598 257,734 121,528 325,979 354,776 146,692 53,812 394,535 97,689 166,953 350,583 120,165 118,123 inc. ciamis 5,696,501 Listrik Non Jumlah Akses PLN Listrik 2,187 2,644 12,255 23,782 11,754 3,918 1,975 748 473 513 3,500 11,016 1,630 9,073 521 296 1,787 187 inc. ciamis 88,259 451,941 244,019 273,378 571,855 261,080 182,979 164,937 210,756 239,479 209,799 194,448 247,098 268,750 123,158 335,052 355,297 146,692 54,108 394,535 97,689 168,740 350,583 120,352 118,123 inc. ciamis 5,784,848 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab/Kota Kab.Bogor Kab.Sukabumi Kab.Cianjur Kab.Bandung Kab.Garut Kab.Tasikmalaya Kab.Ciamis Kab.Kuningan Kab.Cirebon Kab.Majalengka Kab.Sumedang Kab.Indramayu Kab.Subang Kab.Purwakarta Kab.Karawang Kab.Bekasi Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar TOTAL Jumlah RT 931,812 618,718 585,640 1,070,190 557,056 460,720 531,936 279,330 527,584 358,492 316,916 492,752 432,024 203,712 541,053 479,126 193,984 72,196 655,009 73,287 457,824 317,262 125,856 160,848 inc. ciamis 10,443,327 RE (%) 48.50 39.44 46.68 53.43 46.87 39.72 31.01 75.45 45.39 58.52 61.36 50.15 62.21 60.46 61.93 74.16 75.62 74.95 60.23 133.30 36.86 110.50 95.63 73.44 55.39 kWh/Kapita 517.59 186.79 159.98 675.00 137.98 87.91 105.77 200.85 325.26 180.72 1,009.45 216.20 354.83 1,580.94 1,003.55 1,031.61 1,116.06 417.12 996.30 1,070.45 897.96 803.56 na na na 594.36

NERACA DAYA LISTRIK JAWA BARAT


9.000 8.000 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 (1.000) (2.000) Prakiraan Beban Puncak DMN Pembangkit PLN Eksisting DMN Pembangkit Komitmen PLN DMN Netto Total 1 Kelebihan (Kekurangan) Daya 1 DMN Masih Diperlukan DMN Total 2 Kelebihan (Kekurangan) Daya 2 2004 3.747 4.337 4.337 590 4.337 590 2005 3.950 4.207 4.207 257 4.207 257 2006 4.152 4.081 220 4.301 148 300 4.601 448 2007 4.355 3.958 110 4.288 (67) 300 4.888 533 2008 4.558 3.840 120 4.290 (268) 300 5.190 632 2009 4.760 3.724 4.174 (586) 5.074 314 2010 4.963 3.613 4.063 (900) 4.963 (0) 2011 5.165 3.504 1.230 5.184 19 6.084 919 2012 5.368 3.399 1.230 6.309 941 7.209 1.841 2013 5.570 3.297 600 6.807 1.237 7.707 2.137 2014 5.773 3.198 6.708 935 7.608 1.835

PANAS BUMI DI JAWA BARAT


Indonesia memiliki sumberdaya panas bumi terbesar di dunia (+ 27.000 MWe); dimana sekitar 21.7% berada di Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi panas bumi terbesar, tersebar pada 44 lokasi di 11 Kabupaten. Panas Bumi merupakan energi andalan bagi Jawa Barat; Kebijakan Nasional (PerPres No. 5/2006 tentang KEN) mentargetkan peningkatan peran energi panasbumi menjadi 5% pada tahun 2025 (eksisting 2003 adalah 1,4%). Pada tahun 2004, kontribusi energi panasbumi Jawa Barat terhadap nasional sebesar 749 MW dari total 807 MW (92,81%), berasal dari 4 PLTP yaitu Kamojang (140 MW), Awibengkok G. Salak (terpasang 6 x 55, terbangkitkan 354 MW), Darajat (145 MW) dan Wayang Windu (110 MW). Di Jawa Barat terdapat 7 (tujuh) eksisting project PB dengan ESC total sebesar 2295 MW. Total pengembangan baru mencapai 749 MW (32,6%). Sisanya masih dalam pengembangan seperti Drajat III, Kamojang IV dan Wayang Windu II, serta belum dikembangkan/dioperasikan seperti lapangan PB Patuha, Cibuni dan Karaha Bodas.

SASARAN ENERGI MIX NASIONAL 2025


Blueprint PEN
Coal; 32.7% Mini/micro hydro; 0.216% Biofuel; 1.335% Hydropower; 2.4% Geothermal; 3.8% Other; 4.4% Solar energy; 0.0204% Wind power; 0.028% Fuel cell; 0.0001% Biomass; 0.766%

Natural gas; 30.6%

Nuclear; 1.993%

Oil; 26.2%

Perpres No 5/2006 Tentang KEN


Coal, 33%

Hydropower, 2.4% Geothermal, 5% Other, 7.6% Mini/micro hydro, 0.2% Natural gas, 30% Solar energy, 0.0% Wind power, 0.0% Oil, 20% Fuel cell, 0.0% Biomass, 0.6% Nuclear, 1.7% Biofuel, 5%

TOTAL LISTRIK TERBANGKITKAN : 749 MW


BEKASI INDRAMAYU

Cadangan = 600 MWe Kapasitas terpasang = 354 MWe


BOGOR PURWAKARTA

SUKABUMI CIANJUR

SUMEDANG

CIREBON

Sumber daya = 75 MWe Cadangan = 385 MWe Kapasitas terpasang = 110 MWe

BANDUNG
GARUT

KUNINGAN

TASIK

BANJAR

Cadangan = 350 MWe Kapasitas terpasang = 145 MWe

Cadangan = 300 MWe Kapasitas terpasang = 140 MWe

Rencana Pengembangan Panas Bumi di Jawa Barat


Optimalisasi pemanfaatan potensi panas bumi :
Mendukung percepatan peningkatan kapasitas pembangkit listrik PB sesuai dengan kontrak yang telah disepakati; Melakukan strategi optimalisasi pemanfaatan di lapangan eksisting melalui :
Direct use Mendorong pengembangan PLTP skala kecil

Pengembangan potensi panas bumi


Strategi pengembangan :
Menarik investasi melalui : Kemudahan perizinan Dukungan infrastruktur Dukungan data dan informasi Dll

Fasilitasi dukungan dalam rangka pemanfaatan dan pengusahan energi panas bumi :
Inventarisasi, survey pendahuluan Promosi investasi dan pengembangan panas bumi Penentuan kawasan pengelolaan dan pengusahaan energi panas bumi Penelitian Teknologi pengembangan pemanfaatan usaha panas bumi Koordinasi dengan para pihak

YANG KAMI KERJAKAN UNTUK PANAS BUMI


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Melakukan inventarisasi dan identifikasi sumberdaya panas bumi; Melakukan survey pendahuluan di lapangan panas bumi yang bisa dikembangkan (Tangkuban Perahu, Cisolok-Cisukarame, Tampomas) dalam rangka permohonan WKP oleh Daerah; Menyusun Pengembangan Panas Bumi berbasis Kawasan dalam rangka pemanfaatan dan optimalisasi potensi panas bumi di Jawa Barat (Integrasi pemanfaatan panas bumi dalam pengembangan wilayah) Peningkatan investasi dalam pengembangan Panas Bumi melalui promosi dan penciptaan iklim investasi yang kondusif Studi sampai implementasi pemanfaatan panas bumi secara langsung untuk kebutuhan agroindustri Pengembangan partisipasi daerah melalui peningkatkan jejaring kerja (network) diantara para pihak dalam rangka pengembangan panas bumi Pengadaan hardware dan software serta melakukan penyusunan database dan aplikasi GIS dalam rangka pengembangan panas bumi di Jawa Barat Menyusun Peraturan Daerah untuk mendorong pendayagunaan sumberdaya panas bumi dan mendukung pengembangan lapanganlapangan eksisting Mendukung dan mendorong pendirian lembaga pendidikan tinggi di Bandung sebagai pusat penelitian dan pengembangan panas bumi di Indonesia

1. Hasil Inventarisasi dan Identifikasi Sumberdaya PB PETA SEBARAN MANIFESTASI PANAS BUMI JAWA BARAT
0 40 Km

100 50

PLTP Awibengkok G. Salak

25

185 100

72

30

100 100

330 115 485 25 50 50 25 25 25 65 247 170 140 25 100 84 140 225 25 25

50

50

25 140 73 277 PLTP Kamojang 50 100 120 PLTP Darajat 125 75 280 120 80 120 110 75 135 250 PLTP Wayang Windu 25 70 25 75

50

100 25

PLTP : 749 MWe


Kamojang : 140 MWe Darajat : 145 MWe Wayang Windu : 110 MWe Awibengkok G.Salak : 354 MWe

100 25 Kapasitas Terpasang Sumberdaya Spekulatif Sumberdaya Hipotetik Potensi Terduga Potensi Mungkin Potensi Terbukti 25 25

25

2. SURVEY PENDAHULUAN

CisolokCisukarame
Kab. Sukabumi

Tangkuban Perahu
Kab. Bandung

Tampomas
Kab. Sumedang

Lokasi Proyeksi Pasokan Listrik Tahapan Eksplorasi

Dekat kawasan wisata Pelabuhan Ratu Mendukung pengembangan Jawa Barat Selatan Indentifikasi

Antara Kota Bandung dan Subang Dikoneksikan dengan jaringan Jawa- Bali Indentifikasi

Dekat calon lokasi landasan Udara Palasah Mendukung kebutuhan listrik untuk Pantura dan Renc Bandara Internasional Indentifikasi

Ringkasan Potensi

Jenis
Manifestasi Permukaan

CisolokCisukarame
Mata air panas, geyser, solfatar, alterasi hidrotermal, suhu 81- 980 C. Hipotetik : 50 MW, Terduga : 133 MW Cisolok : 3 x 5 MW Cisukarame : 2x15 MW Aktivitas tektonik dan intrusi andesitis pada sedimen marin

Tangkuban perahu
kawah,solfatar,fumarole Tanah beruap panas, sinter silika, alteriasi hidrotermal, suhu 1720 C. 190 MW (hipotetik 100 MW, terduga 90 MW) 2 x 30 MW (kaldera Sunda) Aktivitas vulkanik aktif pada endapan vulkanik quarter

Tampomas
Mata air panas, sinter silika, travertin, tanah terubah terduga 100 MW 1 x 30 MW atau 2 x 15 MW Aktivitas vulkanik pada endapan sedimen tersier

Potensi Panas Bumi Prediksi Potensi Listrik Dapat terbangkitkan Sistem Panasbumi

3. Pengembangan Konsep Kawasan PB


ILUSTRASI KAWASAN PANAS BUMI

KAWASAN PANAS BUMI WAYANG WINDU KONDISI EKSISTING

WILAYAH ADMINISTRASI PB EKSISTING:


Kawasan Panas Bumi dan Kawasan Pengaruh
PANGALENGAN

WAYANG WINDU
Kec. Kertasari (BDG) Kec. Pangalengan (BDG) Kec. Talegong (GRT) Kec. Bungbulang (GRT) Kec. Cisewu (GRT)

KAMOJANG
Kec. Ibun (BDG) Kec. Paseh (BDG) Kec. Leles (GRT) Kec. Samarang (GRT)
LELES KABUPATEN GARUT

KABUPATEN BANDUNG
KERTASARI TALEGONG

CISEWU

PASEH IBUN

KABUPATEN GARUT
BUNGBULANG

KABUPATEN BANDUNG

SAMARANG

DARAJAT
PACET

KABUPATEN BANDUNG

Kec. Kertasari (BDG) Kec. Pacet (BDG) Kec. Pasirwangi (GRT) Kec. Sukaresmi (GRT)
PASIRWANGI

PAMIJAHAN

KABUPATEN BOGOR

AWI BENGKOK

KERTASARI

KABUPATEN GARUT
SUKARESMI

Kec. Pemijahan (BGR) KABUPATEN SUKABUMI Kec. Kabandungan (SKB) PARAKAN SALAK Kec. Parakansalak (SKB) KABANDUNGAN
KALAPA NUNGGAL

JUMLAH & KEPADATAN PENDUDUK


350.000 300.000 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 0 Wayang Windu 314.959 416 Darajat 237.586 736 Awi Kamojang Bengkok 295.963 1.035 179.812 616 1.400 1.200 1.000 800 600 400 200 0

Peringkat Jumlah Penduduk 1. Wayang Windu 2. Kamojang 3. Darajat 4. Awi Bengkok Peringkat Kepadatan Penduduk 1. Kamojang 2. Darajat 3. Awi Bengkok 4. Wayang Windu

Jumlah (jiwa) Kepadatan (jiwa/km2)

Catatan Kebijakan Jumlah Penduduk Jumlah stakeholders yang perlu diperhatikan yang akan terkena dampak pengembangan kawasan panas bumi Kepadatan Penduduk Tingkat rural-urban kawasan, luasan wilayah terbangun (built-up areas)

MATA PENCAHARIAN & PENDIDIKAN


70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%
Kertasari Pangalengan (Wayang (Wayang Pacet (Darajat) Windu, Darajat) Windu) 21% 5% 62% 42% 47% 43% 49% Ibun (Kamojang) 23% 23% 36% Paseh (Kamojang) 18% 24% 37%

Petani Buruh Tani Industri

Catatan Kebijakan Tingkat urban Kecamatan >> Mata pencaharian Industri >>, Mata Pencaharian Pertanian << Tingkat pendidikan di setiap kecamatan 55-80% berpendidikan SD atau lebih rendah Tingkat pengangguran >> Banyak buruh tani, penggunaan lahan dibatasi oleh fungsi lindung

GAMBARAN UMUM TATA RUANG KAWASAN WAYANG WINDU


Memiliki luas wilayah seluas 128 km2 Secara administratif berada di 2 wilayah Kabupaten yaitu: 1. Kabupaten Bandung meliputi: - Kec. Pangalengan; - Kec. Kertasari 2. Kabupaten Garut meliputi: - Kec. Talegong; - Kec. Bungbulang; - Kec. Cisewu

770000

780000

790000

800000

810000

820000

9220000

9220000

LOKASI USAHA WAYANG WINDU


KETERANGAN :
Sumur Wayang Windu PLTP Wayang Windu \ & Lokasi Industri Kecil \ Lokasi Industri Besar & Jalan Batas Kecamatan Batas Desa Kawasan Panasbumi Wayang-Windu Batas Kabupaten KABUPATEN BANDUNG KABUPATEN CIANJUR KABUPATEN GARUT
# S

LAMAJANG

9210000
PULOSARI

TRIBAKTIMULYA MARGAMULYA PANGALENGAN

9210000
SUKAPURA

\ &

PANGALENGAN & &\ \ &\


WARNASARI

9200000

KABUPATEN& BANDUNG \ & # \ S #


SUKALUYU MARGALUYU

# S # S MARGAMUKTI # S # & S #S SUKAMANAH \ CIBEUREUM CIHAWUK # S MARGAMEKAR # S # # # S S # S CIKEMBANG S BANJARSARI # S S # \ &

\ &

\ &

S &S \ #

9200000

\ &

TARUMAJAYA

WANASUKA MEKARMUKTI MEKARMULYA SUKAMULYA SUKALAKSANA

TALEGONG
\ &
9190000
SELAAWI

\ &\ & \ &

KERTASARIHUTAN
SANTOSA NEGLAWANGI

\ &

SUKAMAJU NYALINDUNG GIRIMUKTI

\ &

\ &

9190000

CISEWU CISEWU \ &


SUKAJAYA

\ &

MEKARBAKTI

N
9180000

9180000

NEGLASARI CIKARANG

\ & KABUPATEN GARUT


PAMALAYAN CIHIKEU BOJONG

W S
4 0 4 8 12

WANGUNJAYA BUNGBULANG MEKARJAYA HANJUANG

TEGALEGA BUNGBULANG MARGALAKSANA

\ &

\ &

16 Kilometers

9170000

SINARJAYA KARANGWANGI CIJAYANA

GUNAMEKAR

9170000

DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI PROPINSI JAWA BARAT


9160000 9160000

PT. DEKA PETRA KONSULTAN

770000

780000

790000

800000

810000

820000

2004

KETERKAITAN PENGEMBANG-USAHA LOKAL KAWASAN WAYANG WINDU


No. 1. Parameter Parameter 1 : Aksesibilitas kampung/desa terdekat dengan pengembang Kabupaten Bandung Kertasari Jalan antara desa/kampung terdekat yaitu Desa Tarumajaya, Desa Cibeureum dan Desa Santosa dengan kawasan panasbumi sudah ada namun demikian kondisi jalan masih sangat buruk. Tidak ada Pangalengan Jalan antara desa/kampong terdekat yaitu Desa Wanasuka, Desa Banjarsari, Desa Sukamanah, Desa Margaluyu dengan kawasan panasbumi sudah ada dan kondisinya sudah cukup memadahi. Tidak ada Cisewu Saat ini belum ada jalan yang menghubungkan desa terdekat dengan kawasan panasbumi Wayang Windu. Kabupaten Garut Bungbulang Saat ini belum ada jalan yang menghubungkan desa terdekat dengan kawasan panasbumi Wayang Windu Talegong Sudah terdapat jalan yang menghubungkan antara desa terdekat yaitu Desa Girimukti dengan kawasan panasbumi namun demikian kondisinya masih berupa jalan setapak. Tidak ada

2.

Parameter 2 Perekrutan SDM Lokal Parameter 3 Keterbukaan kawasan pengembang Parameter 4 Program-program

Tidak ada

Tidak ada

3.

close system

close system

close system

close system

close system

4.

community development

Pengembangan fisik

Pengembangan fisik

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

GAMBARAN UMUM TATA RUANG KAWASAN DARAJAT


Memiliki luas wilayah seluas 14,13 km2 Secara administratif berada di 2 wilayah Kabupaten yaitu: 1. Kabupaten Bandung meliputi: - Kec. Kertasari; - Kec. Pacet 2. Kabupaten Garut meliputi: - Kec. Sukaresmi; - Kec. Pasirwangi

785000 9220000

790000

795000

800000

805000

810000 9220000

LOKASI USAHA DARAJAT


KETERANGAN :
PLTP Darajat Sumur Darajat Jalan \ Lokasi industri besar & \ & Lokasi industri kecil Batas Kecamatan Kawasan panasbumi Darajat Batas Desa Kabupaten KABUPATEN BANDUNG KABUPATEN GARUT
# Y

9215000

TANJUNGWANGI CIPEUJEUH MEKARSARI MARUYUNG MANDALAHAJI \ & NAGRAK MEKARJAYA \ & \ & CIKAWAO PACET CINANGGELA PANGAUBAN GIRIMULYA KABUPATEN BANDUNG CIKITU

9215000

9210000

9210000

SUKAPURA

\ &

SUKARAME
9205000

BARUSARI CIBEUREUM CIHAWUK


# Y # # Y Y # PADAAWAS Y # PASIRWANGI Y

9205000

CIKEMBANG
9200000

# Y

KERTASARI

\ &
SANTOSA

TARUMAJAYA

PASIRWANGI \ & # Y PADAMULYA # Y # # Y #Y Y # KARYAMEKAR Y \ & SIRNAJAYA TALAGA # Y # Y # Y SARIMUKTI \ & PADAASIH # Y 9200000 PASIRKIAMIS # Y # Y \ & \ & \ & CINTADAMAI HUTAN SUKARESMI \ & PADAMUKT \ & \ & SUKAJAYA \ & \ & \ & \ & \ & \ \ & & SUKAMULYA

KABUPATEN GARU

N W S E

SUKARESMI
\ &

9195000

NEGLAWANGI

9195000

8 Kilometers

9190000

9190000

DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI PROPINSI JAWA BARAT


PT. DEKA PETRA KONSULTAN

785000

790000

795000

800000

805000

810000

2004

KETERKAITAN PENGEMBANG-USAHA LOKAL KAWASAN DARAJAT


No. Parameter Kabupaten Bandung Kertasari 1. Parameter 1 : Aksesibilitas kampung/desa terdekat dengan pengembang Jalan antara desa/kampung terdekat yaitu Desa Cihawuk, Desa Cikembang dan Desa Tarumajaya dengan kawasan panasbumi belum ada. Tidak ada Pacet Jalan antara desa terdekat yaitu Desa Sukarame, Desa Nagrak, Desa Cikawao dan kawasan panasbumi Darajat sudah ada namun kondisi jalan kurang memadahi Tidak ada Sukaresmi Jarak antara desa/kampung terdekat yaitu Desa Sukaresmi, Desa Sukamulya dan Desa Mekarjaya dengan pengembang (Amoseas) cukup dekat dan kondisi jalan sudah cukup bagus Tidak ada Kabupaten Garut Pasirwangi Jarak antara desa/kampung terdekat yaitu Desa Padaawas, Desa Karyamekar, Desa Sarimukti, Desa Barusari dengan pengembang (Amoseas) cukup dekat dan kondisi jalan sudah bagus Keterlibatan masyarakat lokal dari adanya KPB Darajat-Amoses sebagai tenaga kerja pelengkap (tenaga kasar + security) close system

2.

Parameter 2 Perekrutan SDM Lokal

3.

Parameter 3 Keterbukaan kawasan pengembang Parameter 4 Program-program

close system

close system

close system

4.

community development

Belum ada program community development yang dikembangkan

Belum ada program community development yang dikembangkan

Program CD yang rutin di lakukan oleh Amoses : Infrastruktur (pemeliharaan jalan) Pendidikan (perbaikan sarana prasaranan sekolah & beasiswa) Keagamaan (pembangunan sarana ibadah)

Program CD yang rutin di lakukan oleh Amoses : Infrastruktur (pemeliharaan jalan) Pendidikan (perbaikan sarana prasaranan sekolah & beasiswa) Keagamaan (pembangunan sarana ibadah) Menurut informasi dr Kecamatan Jumlah anggaran CD dari Amoeses pertahun diperkirakan melebihan anggaran yang diberikan pemda utk kecamatan.

ANALISIS TATA RUANG KAWASAN KAMOJANG


Memiliki luas wilayah seluas 31,68 km2 Secara administratif berada di 2 wilayah Kabupaten yaitu: 1. Kabupaten Bandung meliputi: - Kec. Ibun; - Kec. Paseh 2. Kabupaten Garut meliputi: - Kec. Leles; - Kec. Samarang

800000

805000

810000

815000

820000

825000

9225000

\ & CIGENTUR CIPEDES TANGSIMEKAR

\ &

9225000

LOKASI USAHA KAMOJANG


KETERANGAN :

9220000

CIJAGRA \ & MEKARPAWITAN SUKAMANAH \ & KARANGTUNGGAL SUKAMANTRI CIPAKU \ &\ & &\ \ & TANGGULUN SINDANGSARI TALUN LAMPEGAN

9220000

9215000

KABUPATEN BANDUNG

9210000

PASEH\ & SUDI KARYALAKSANA \ & DRAWATI JANGKURANG \ & \ & CIBEET \ & \ & \ & \ & \ & MEKARWANGI \ & PANGGUH \ & & CANGKUANG IBUN \ & \ LOA SALAMNUNGGAL \ & LELES LELES \ & \ &\ & \ & # Y &\ \ & \ & LEMBANG \ & \ & \ & \ & \ & \ & DANO \ & IBUN SUKARAME CIPANCAR MARGALUYU # Y # \ & Y \ & # Y # \ & Y \ & \ & HARUMAN # \ & CIBURIAL #Y Y #Y #Y Y # DUKUH \ # LAKSANA Y \ & # # # # Y YYY #Y Y #Y NEGLASARI & # # Y # Y Y \ & Y # \ &# # Y \ & # Y \ & # \ & Y Y # Y #

9215000

PLTP Kamojang # Lokasi Sumur Y Jalan \ & Lokasi industri kecil Batas Kecamatan Kawasan panasbumi Kamojang Batas Desa Kababupaten KABUPATEN BANDUNG KABUPATEN GARUT
N W E S
2 0 2 4 6 8 Kilometers

KABUPATEN GARUT

9210000

# Y

Y # Y # Y

# Y

# Y

\ &

\ &

CISARUA
9205000

SUKAKARYA \ & TANJUNG KARYA

9205000

SAMARANG
PARAKAN SAMARANG SUKALAKSANA SUKARASA & \ \ & \ & CINTARAYAT \ & CINTAASIH CINTARASA SIRNASARI \ & CINTAKARYA

9200000

9200000

DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI PROPINSI JAWA BARAT


PT. DEKA PETRA KONSULTAN

800000

805000

810000

815000

820000

825000

2004

KETERKAITAN PENGEMBANG-USAHA LOKAL KAWASAN KAMOJANG


No. 1. Parameter Parameter 1 : Aksesibilitas kampung/desa terdekat dengan pengembang Kabupaten Bandung Ibun Jalan yang menghubungkan desa terdekat yaitu Desa Laksana dengan kawasan panasbumi Kamojang sudah ada dengan kondisi jalan sudah cukup baik Paseh Jalan yang menghubungkan desa terdekat yaitu Desa Loa dengan kawasan panasbumi Kamojang sudah ada dengan kondisi jalan sudah cukup baik Kabupaten Garut Leles Jalan yang menghubungkan desa terdekat yaitu Desa Dano dengan kawasan panasbumi Kamojang sudah ada dengan kondisi jalan sudah cukup baik Samarang Jalan yang menghubungkan desa terdekat yaitu Desa Cisarua, Parakan, Sukakarya, Sukarasa, Tanjungkarya, dengan kawasan panasbumi Kamojang sudah ada dengan kondisi jalan sudah cukup baik Tidak ada Close system

2. 3.

Parameter 2 Perekrutan SDM Lokal Parameter 3 Keterbukaan kawasan pengembang Parameter 4 Program-program

Tidak ada Close system

Tidak ada Close system

Tidak ada Close system

4.

community development

Ada, berupa pengembangan fisik

Ada, berupa pengembangan fisik

Tidak ada

Tidak ada

ANALISIS TATA RUANG KAWASAN AWI BENGKOK


Memiliki luas wilayah seluas 14,62 km2 Secara administratif berada di 2 wilayah Kabupaten yaitu: 1. Kabupaten Sukabumi meliputi: - Kec. Parakansalak; - Kec. Kabandungan 2. Kabupaten Bogor meliputi: - Kec. Pamijahan

670000 9270000

675000

680000

685000

690000

695000 9270000

LOKASI USAHA AWIBENGKOK


KETERANGAN :
PLTP Awibengkok

CIMAYANG
9265000

CIBITUNG WETAN CIBENING PAMIJAHAN CIBITUNG KULON GUNUNG PICUNG GUNUNG BUNDER 1 CIBUNIAN
9260000 9260000

\ & PASAREAN GUNUNG MENYAN \ & PAMIJAHAN

9265000

\ & KABUPATEN BOGOR \ & \ &


BANTAR KARET
9255000

GUNUNG SARI CIASMARA CIASIHAN GUNUNG BUNDER 2

PURWABAKTI
# Y # Y # Y # Y # Y # Y # Y HUTAN

# Y

# Y

# Y

9255000

MALASARI

# Y

Sumur Produksi Jalan \ & Industri Kecil Batas Kecamatan Desa Kawasan panasbumi.shp Kabupaten KABUPATEN BOGOR KABUPATEN SUKABUMI
# Y

9250000

KABUPATEN SUKABUMI SIRNARESMI


KABANDUNGAN

CIPEUTEUY

& \ & \ \ & PARAKANSALAK \ &

CIDAHU
9250000

N W S E

\ & \ &
CIHAMERANG
9245000

LEBAKSARI

SUKAKERSA PARAKAN \ & SALAK \ &

PULOSARI SUKATANI

\ &

BOJONGASIH

KABANDUNGAN

\ & GUNUNG ENDUT BOJONGLONGOK \ & CIBODAS TUGUBANDUNG PALASARI GIRANG KALAPA NUNGGAL MEKARSARI MEKARJAYA WALANGSARI KALAPANUNGGAL KADUNUNGGAL CIKIRAY GUNUNG MALANG

9245000

8 Kilometers

9240000

9240000

DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI PROPINSI JAWA BARAT


PT. DEKA PETRA KONSULTAN

670000

675000

680000

685000

690000

695000

2004

KETERKAITAN PENGEMBANG-USAHA LOKAL KAWASAN AWI BENGKOK


No. 1. Parameter Parameter 1 : Aksesibilitas kampung/desa terdekat dengan pengembang Kabupaten Sukabumi Parakansalak Jalan yang menghubungkan antara desa terdekat yaitu Desa Sukatani dengan kawasan panasbumi Awi Bengkok berupa jalan setapak. Kabandungan Jalan yang menghubungkan antara desa terdekat dengan kawasan panasbumi Awi Bengkok sudah ada dan kondisi jalan sudah memadahi karena jalan ini merupakan jalan yang menjadi akses utama menuju kawasan panasbumi. Tidak ada Kabupaten Bogor Pamijahan Jalan yang menghubungkan antara desa terdekat yaitu Desa Purwabakti, Ciasihan, Ciasmara dengan kawasan panasbumi Awi Bengkok sudah ada jalan namun kondisinya sangat buruk.

2.

Parameter 2 Perekrutan SDM Lokal Parameter 3 Keterbukaan kawasan pengembang Parameter 4 Program-program community

Tidak ada

Tidak ada

3.

close system

close system

close system

4.

Tidak ada

development

Ada, berupa pengembangan fisik

Ada, berupa pengembangan fisik

INTERAKSI SOSIAL PENGEMBANG-MASYARAKAT


Potensi konflik
Kecemburuan sosial: larangan alih fungsi lahan masyarakat sedangkan para pengembang diperkenankan beraktivitas di kawasan lindung Tuntutan perbaikan jalan desa belum direalisasikan pengembang Ketidakpuasan masyarakat terhadap kepedulian pengembang terhadap sekitar Terjadi pencurian pipa Premanisme yang memunculkan hidden-cost bagi pengembang

Kondisi kerjasama
Pengembangan sarana-prasarana fisik masyarakat oleh pengembang Kerjasama bantuan modal dan beasiswa

4. STUDI DAN IMPLEMENTASI DIRECT USE


Studi Pengeringan Teh di Malabar Implementasi Sterilisasi Media Tanam Jamur di Kamojang

ILUSTRASI PENGEMBANGAN KAWASAN PANAS BUMI DAN PEMANFAATAN LANGSUNG (Direct Use)
Separator PLTP

Sumur Produksi

Sumur Injeksi

Memanfaatkan fluida sisa PLTP (Indirect Use) yang akan diinjeksikan ke bumi, sebagai sumber energi untuk berbagai proses industri agribisnis pada kawasan panas bumi

Pabrik

KAWASAN PANAS BUMI WAYANG WINDU, MALABAR PANGALENGAN

Ruangan tempat heat exchanger

4 3 1
ALTERNATIVE HEAT EXCHANGER

5 6 7

KOMPONEN PABRIK TEH YANG DIGANTIKAN OLEH KOMPONEN PEMANFAATAN LANGSUNG

SKEMA PROSES INDUSTRI PABRIK TEH PTPN VIII

Sterilisasi Media Tanam Jamur di Kamojang

Mushroom Greenhouse

Fresh Water

Water Out

Waste Geothermal Fluids Out

Room Sterilization Before/After Mushroom Growing Season

Water Pump

Fresh Water Steam Out Fresh Water In

Sterilization Chamber (Autoclave)

Mushroom Growing Media Inside

Water Tower

Geothermal Fluids In

Steam Generator (Heat Exchanger)

Geothermal Well

Skema pemanfaatan energi panas bumi untuk sterilisasi media tanam (jamur) di Kamojang

5. APLIKASI SIG PANAS BUMI DI JAWA BARAT

KAWASAN PB VS PKN & PKW

5. RAPERDA PANAS BUMI


TUJUAN PENGELOLAAN
a. Mendayagunakan sumberdaya dan potensi untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah secara keseluruhan; b. Memberikan landasan hukum bagi langkah-langkah pembaruan dalam penataan penyelenggaraan pengelolaan dan pemanfaatan panas bumi demi pencapaian iklim investasi yang kondusif; c. Meningkatkan pendapatan negara dan masyarakat untuk mendorong pertumbuhan perekonomian nasional demi terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara nyata dan juga dapat diandalkan sebagai usaha dalam menghadapi persaingan global;

SISTEMATIKA RAPERDA
BAB I KETENTUAN UMUM BAB II KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB BAB III PENGELOLAAN PANAS BUMI 1. Inventarisasi Potensi 2. Data dan Informasi 3. Pengusahaan 4. Penelitian dan Pengembangan 5. Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia 6. Pembinaan dan Pengawasan

BAB IV PENDAPATAN DAERAH BAB V PENGELOLAAN LINGKUNGAN 1. Penggunaan Lahan 2. Penanggulangan Dampak Lingkungan 3. Pengembangan dan pemberdayaan Masyarakat BAB VI PENYIDIKAN BAB VII KETENTUAN PIDANA BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN BAB X KETENTUAN PENUTUP

6. PENGEMBANGAN PARTISIPASI DAERAH


POTENSI KONTRIBUSI DAERAH DALAM PENGEMBANGAN GEOTHERMAL
POTENSI
9 LAHAN 9 PROSES PEMBEBASAN LAHAN (?)

KETERANGAN
Terkait dominan lahan milik rakyat
Fasilitator Sosialisasi

JASA

(?)

9 JASA TEKNIS


9 JASA

KONSTRUKSI LINGKUNGAN HAZARDS

Competensi teknis pekerjaan sipil (konstruksi) Pemberdayaan potensi SDM, Perguruan Tinggi.

SECURITY

9 SHARE EQUITY (Rp)

Catatan : Perlu klarifikasi dan konfirmasi Peraturan pendukung yang berlaku

KEMITRAAN DALAM PENGEMBANGAN BISNIS GEOTHERMAL


JOINT DEVELOPMENT AGREEMENT

SWASTA PENGEMBANG LOAN US$ ?


EQUITY

BUMD

PT. PLN (PERSERO)


EQUITY

EQUITY

US$

US$ ( ? )

US$ ( ? )

US$ ( ? ) CONSORTIUM US$ ( ? )

GEOTHERMAL PROJECT

LISTRIK Rp. /US$

PT. PLN (PERSERO)

HAMBATAN DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN PANAS BUMI

PERSPEKTIF DAERAH

HAMBATAN
Pertama, kendala regulasi, sejauh ini UU No. 27/2003, belum menghasilkan peraturan turunannya yang lebih operasional untuk mengatur berbagai hal dalam pengembangan pemanfaatan panas bumi. Hal ini akan mempengaruhi banyak aspek yang secara krusial akan berdampak terhadap iklim investasi dan operasi pengembangan panas bumi, seperti adanya kendala dalam rangka birokratisasi pelayanan investasi, bagi hasil, pemberdayaan masyarakat, ketentuan dalam optimalisasi pemanfaatan dsb. Kedua, dalam hal operasi panas bumi, bahwa kegiatan operasi panas bumi masih menunjukkan kesan eksklusivitas yang menjadikan adanya persepsi bahwa operasi panas bumi kurang memberikan manfaat serta kurang melibatkan peran aktif dari masyarakat dan daerah dimana operasi panas bumi berada.

TANTANGAN Kejelasan peran dan kewenangan Provinsi dalam pengaturan lokasi yang belum dieksplorasi oleh Pertamina (di wilayah WKP Pertamina) untuk di promosikan ke investor (open area). Peraturan yang jelas dan kondusif untuk menyambut minat investasi panas bumi dengan segera ada WKP yang dapat ditawarkan dan prosedur lelang untuk eksplorasi dan eksploitasi, termasuk (Ijin Usaha Pengelolaan Panas Bumi), peraturan yang mengatur penerbitan IUP Eksplorasi dan eksploitasi panas bumi

Provinsi sudah siap dalam pengembangan dan mempromosikan panas bumi serta fasilitasi koordinasi dengan Kabupaten yang dapat memberikan peran yang lebih besar kepada Provinsi sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Pusat dalam pengelolan panas bumi. Prinsip penerbitan batas WKP berdasarkan reservoar sistem panas bumi dengan daerah sekecil-kecilnya sesuai dengan batas IUP perlu dipertimbangkan, karena akan memberikan pengelolaan panas bumi terkotak-kotak tidak terpadu dan tidak terintegrasi dalam sistem kawasan panas bumi yang dikembangkan. Pengembangan Community Development di sekitar lokasi panas bumi belum terintegrasi dengan pengembangan wilayah.

PENUTUP Percepatan penyusunan dan penetapan peraturan pelaksana dari UU No. 27/2003 yang mendorong penciptaan iklim investasi yang kondusif, memberikan jaminan keamanan investasi, melibatkan peran aktif daerah dan memberikan dampak terbaik bagi masyarakat sekitar dan daerah dimana potensi panas bumi itu berada; Operator/pengembang panas bumi sebaiknya membuka diri dan partisipatif terhadap perkembangan dan dinamika masyarakat dan harapan optimalisasi panas bumi di daerah; Kami siap memfasilitasi investasi dan pengembangan panas bumi di Jawa Barat

JADIKAN JAWA BARAT SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN PANAS BUMI DI INDONESIA .DUNIA (A VISION FOR OUR FUTURE) TERIMAKASIH

ARAHAN KEBIJAKAN
1.

Arahan Ekonomi
Rekomendasi sektor dan komoditas ekonomi unggulan untuk optimalisasi panas bumi

2.

Arahan Kebijakan Teknologi


Rekomendasi usaha yang potensial bagi pemanfaatan directuse Rekomendasi penyediaan listrik dan indirect-use

3.

Arahan Kebijakan Tata Ruang


Arahan lokasi usaha dan pengembangan infrastruktur directuse Arahan pemanfaatan ruang

4.

Arahan Sosial Budaya


Arahan Pengembangan Masyarakat (Community Development)

1. Arahan Kebijakan Ekonomi:


Mendorong sektor basis dan komoditas prospektif di masing-masing kecamatan untuk menjadi sektor dan komoditas unggulan Memperkuat keterkaitan sektor basis dengan sektor non-basis sehingga muncul efek pengganda (multiplier effect) yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi di setiap sektor Memfasilitasi sektor dan komoditas unggulan yang dapat memanfaatkan energi panas bumi untuk mengoptimalisasi sumber daya panas bumi yang ada

2. Indikasi Program Ekonomi:


No. 1. Program Program Pacu Perkembangan Usaha (Dukungan Pelatihan, Akses Pasar, Modal, Teknologi) Program Pengembangan Ekonomi Lokal Tepadu untuk Peningkatan Ekspor Wilayah Program Sosialisasi Teknis-EkonomisEkologis Pemanfaatan Sumber Daya Panas Bumi Sasaran Pengusaha (terutama Kecil & Menengah) Pengusaha Stakeholders Pengusaha, Pemerintah, Perbankan Pengusaha, Pemerintah, Masyarakat Pemerintah, Pengembang, Pengusaha

2.

3.

Pengusaha

1. Arahan Kebijakan Teknologi:


Meningkatkan kedalaman pengkajian penerapan Direct-Use dari sisi Teknologi-Ekonomi-Sosial-Budaya pada usaha-usaha di sekitar Kawasan Panas Bumi Meningkatkan pemahaman dunia usaha dan masyarakat lokal mengenai potensi pemanfaatan teknologi berbasis Direct-Use dan proses alih teknologi Meningkatkan kedalaman pengkajian implementasi Indirect-Use dalam bentuk Small-Scale Geothermal Power Plant yang dapat mengungkap pola teknis produksi, pola distribusi, kebutuhan dan kemampuan masyarakat serta pola pembiayaan investasi.

2. Indikasi Program Teknologi:


No. Program Sasaran Stakeholders

1.

Program Pengkajian Pra-Kelayakan Implementasi Direct-Use pada usaha-usaha prospektif di sekitar Kawasan Panas Bumi Program Sosialisasi Teknis-EkonomisEkologis Pemanfaatan Sumber Daya Panas Bumi Program pengkajian Pra-Kelayakan Pengembangan Small-Scale Geothermal Powerplant pada Kawasan Panas Bumi Jawa Barat

Pengusaha

Pemerintah, Pengusaha, Pengembang, Masyarakat, Investor Pemerintah, Pengembang, Pengusaha Pemerintah,Investor Masyarakat, Pengembang, Pengusaha,

2.

Pengusaha

3.

Investor, Masyarakat

1. Arahan Kebijakan Tata Ruang:


Meningkatkan kedalaman pengkajian mengenai klaster usaha yang prospektif bagi implementasi direct-use dan perumusan rancangan teknis infrastruktur teknologi direct-use Menyusun pola pemanfaatan ruang yang lebih disesuaikan dengan kondisi aktual (adanya Kawasan Pengembang, Taman Nasional, Akses Jalan, Kawasan Berfungsi Lindung, dsb.) Menyusun kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang yang memperhatikan kebutuhan dan keterlibatan masyarakat disamping aspek lingkungan

2. Indikasi Program Penataan Ruang:


No. Program Sasaran Stakeholders

1.

Program Pengkajian Klaster Usaha Pengguna Direct-Use dan Kelembagaan Pengelolaannya Program Penyusunan Detail Engineering Design Infrastruktur Teknologi Direct-Use bagi Usaha Pengguna Direct-Use Program Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Panas Bumi Skala Detail

Pengusaha Pengguna DirectUse Pengusaha Pengguna DirectUse, Pengembang Pengusaha dan Masyarakat Lokal

Pengusaha, Pemerintah, Masyarakat Pengusaha, Pemerintah, Masyarakat, Pengembang Pemerintah, Pengusaha, Masyarakat, Pengembang

2.

3.

1. Arahan Kebijakan Sosial Budaya:


Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan panas bumi pola Direct-Use maupun Indirect-Use bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Peningkatan interaksi kerjasama antara Pengembang dan Masyarakat Lokal dalam peningkatan ekonomi lokal dan kesejahteraan sosial Pengembangan kelembagaan yang dapat memfasilitasi komunikasi antara Pengembang dan Masyarakat Lokal untuk meresolusi konflik maupun menjembatani kepentingan masing-masing pihak

2. Indikasi Program Sosial Budaya:


No. 1. Program Program Sosialisasi Pemanfaatan Panas Bumi dan Kesejahteraan Masyarakat Program Pengembangan Masyarakat (Community Development) bagi pengembangan Infrastruktur Fisik, Ekonomi Lokal, dan Kesejahteraan Sosial Program Pengembangan Kelembagaan Komunikasi Masyarakat dan Pengembang Sasaran Masyarakat Stakeholders Pemerintah, Pengembang, Masyarakat Pengembang, Pemerintah, Masyarakat, Pemerintah, Masyarakat, Pengembang

2.

3.

Masyarakat, Pengusaha KecilMenengah, Koperasi Masyarakat, Pengembang