Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang --Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab (banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau "deteriorating") yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropiate) atau tumpul (bluntted). Kesadaran yang jernih (clear

consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia puncak adalah 25 sampai 35 tahun. Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah sangat jarang. Penanganan pasien skizofrenia dibagi secara garis besar menjadi: 1. Terapi somatik: terdiri dari obat anti psikotik 2. Terapi psikososial 3. Perawatan rumah sakit (Hospitalize) Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia, penelitian telah menemukan bahwa intervensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis. Modalitas psikososial harus diintegrasikan secara cermat ke dalam regimen obat dan harus mendukung regimen tersebut. Sebagian besar pasien skizofrenia mendapatkan manfaat dari pemakaian kombinasi pengobatan antipsikotik dan psikososial.

BAB II ISI

Definisi
Skizofrenia merupakan sekelompok gangguan psikotik, dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas pada proses pikir. Gejala yang ditimbulkan mencakup banyak fungsi seperti pada gangguan persepsi (halusinasi), keyakinan yang salah (waham), penurunan dari proses berpikir dan berbicara (alogia), gangguan aktivitas motorik (katatonia), gangguan dari pengungkapan emosi (afek tumpul), tidak mampu merasakan kesenangan (anhedonia). Akan tetapi kesadaran serta kemampuan intelektual biasanya tetap dapat dipertahankan, meskipun terjadi defisit kognitif. Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat

ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Skizofrenia secara definisi merupakan suatu gangguan yang harus terjadi sedikitnya selama 6 bulan atau lebih, termasuk sedikitnya selama 1 bulan mengalami waham, halusinasi, pembicaraan yang kacau, perilaku kacau atau katatonik atau simtom-simtom negatif. Meskipun tidak dikenali secara formal sebagai bagian dari kriteria diagnostik untuk skizofrenia, sejumlah studi-studi melakukan subkatagori terhadap gejala-gejala gangguan ini ke dalam 5 dimensi, yaitu simtom positif, simtom negatif, simtom kognitif, simtom agresif / permusuhan dan simptom depresif / ansietas.

Epidemiologi
Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan secara bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 %; konsisten dengan angka tersebut, penelitian Epidemological Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh National Institue of Mental Helath (NIHM) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 1,3 %. Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia puncak adalah 25 sampai 35 tahun. Onset skizofreniasebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah sangat jarang.

Etiologi
1. Model Diatesis Stress. Merupakan model yang sering di gunakan. Model ini mengemukakan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis). Apabila hal tersebut dipengaruhi oleh stressor baik biologis, genetik, psikososial, dan lingkungan akan menimbulkan perkembangan gejala skizofrenia. 2. Faktor Biologis. Area otak utama yang terlibat dalam skizofrenia adalah sistem limbik, ganglia basalis, lobus frontalis. Sistem limbik berfungsi mengendalikan emosi. Pada skizofrenia terjadi penurunan daerah amigdala, hipokampus dan girus parahipokampus. Jika fungsi ini terganggu maka akan menimbulkan gejala skizofrenia yaitu terjadi gangguan emosi. Ganglia basalis berkaitan dengan pengendali pergerakan. Pada pasien dengan gejala skizofrenia memperlihatkan pergerakan yang aneh, seperti gaya berjalan yang kaku, menyeringaikan wajah dan stereotipik. Selain itu, ganglia basalis berhubungan timbal balik dengan

lobus frontalis sehingga jika terjadi kelainan pada area lobus frontalis maka akan mempengaruhi fungsi ganglia basalis. 3. Genetik. Telah banyak penelitian yang memastikan bahwa pengarus genetik sangat besar pada pasien skizofrenia. Kembar monozigot memiliki angka kesesuaian yang tertinggi. Penelitian yang mutakhir telah menemukan bahwa pertanda kromosom yang berhubungan dengan skizofrenia adalah kromosom 5,11 dan 18 pada bagian lengan panjang dan kromosom 19 pada bagian lengan pendek, dan yang paling sering dilaporkan adalah terjadi pada kromosom X. Pada skizofrenia kromososmkromosom ini mengalami kelainan yaitu saat mengkode dapat terjadi kekacauan seprti translokasi. 4. Faktor psikososial a) Teori psikoanalitik mengemukakan bahwa gejala skizofrenia

mempunyai arti simbolik bagi pasien individual. Misalnya, fantasi tentang dunia akan berakhir mungkin menyatakan suatu perasaan bahwa dunia internal seseorang telah mengalami kerusakan. Perasaan kebesaran dapat mencerminkan narsisme yang direaktivasi dimana orang percaya bahw amereka adalah maha kuasa. b) Teori psikodinamik Dasar dari teori dinamika adalah untuk mengerti dinamika pasien dan untuk mengerti makna simbolik dari gejala. Teori ini menganggap bahwa hipersensitivitas terhadap stimuli persepsi yang didasarkansecara kontitusional sebagai suatu defisit. Pendekatan psikodinamika berdasar bahwa gejala psikotik punya arti pada skizofrenia.

Gejala
Skizofrenia memiliki berbagai tanda dan gejala. Kombinasi kejadian dan tingkat keparahan pun berbeda berdasarkan individu masing-masing. Gejalagejalanya dapat terjadi kapan saja. Pada pria biasanya timbul pada akhir masa

kanak-kanak atau awal usia 20-an, sedangkan pada wanita, usia 20-an atau awal 30-an.Skizofrenia dapat mempengaruhi cara berpikir, perasaan dan tingkah laku. Dokter membedakan gejala skizofrenia dalam beberapa kategori sebagai berikut. 1. Gejala positif Tampaknya merefleksikan suatu ketidaksesuaian dengan fungsi-fungsi yang normal dan secara tipikal meliputi waham dan halusinasi, juga termasuk bahasa dan komunikasi yang terdistorsi atau berlebihan (bicara yang kacau) dan juga dalam perilaku (perilaku yang kacau, perilaku katatonik atau perilaku agitasi ). 2. Gejala negatif Terdiri dari sedikitnya 5 tipe gejala, yaitu afek yang datar, alogia, avolisi, anhedonia dan perhatian yang terganggu. Dalam skizofrenia, simtom negatif sering dipertimbangkan sebagai suatu fungsi normal yang berkurang seperti afek yang tumpul, emotional withdrawal, rapport yang buruk, pasif dan penarikan sosial. 3. Gejala kognitif Mungkin dapat dihubungkan dengan negatif. Gejala kognitif termasuk secara spesifik kedalam gangguan pikiran skizofrenia dan kadang-kadang menggunakan bahasa yang aneh, termasuk inkoheren, asosiasi longgar dan neologisme. Perhatian dan proses informasi yang terganggu merupakan gangguan kognitif spesifik lain sehubungan dengan skizofrenia. 4. Gejala agresif dan permusuhan Dapat tumpang-tindih dengan simtom positif tetapi secara spesifik menekankan pada permasalahan dalam mengontrol impuls. Simtom ini meliputi permusuhan yang jelas, seperti perlakuan kasar baik secara verbal atau fisik ataupun sampai melakukan penyerangan. Tipe yang lain yaitu ketidakmampuan mengontrol impuls seperti sexual acting out, juga termasuk kedalam katagori simtom agresif dan permusuhan. 5. Gejala depresif

Patofisiologi
Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Pada otak terjadi proses penyampaian pesan secara kimiawi (neurotransmitter) yang akan meneruskan pesan sekitar otak. Pada penderita skizofrenia, produksi

neurotransmitter-dopamin- berlebihan, sedangkan kadar dopamin tersebut berperan penting pada perasaan senang dan pengalaman mood yang berbeda. Bila kadar dopamin tidak seimbang–berlebihan atau kurang&ndash. Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa perubahan-perubahan pada neurotransmiter dan resptor di sel-sel saraf otak (neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin, ternyata mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif dan negatif skizofrenia. Selain perubahan-perubahan yang sifatnya neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan menggunakan CT Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak pasien, terutama pada penderita kronis. Perubahannya ada pada pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks bagian depan, dan atrofi otak kecil (cerebellum). Faktor-faktor yang mungkin dapat mempengaruhi terjadinya skizofrenia, antara lain: sejarah keluarga, tumbuh kembang ditengah-tengah kota,

penyalahgunaan obat seperti amphetamine, stres yang berlebihan, dan komplikasi kehamilan.

Tipe-tipe Skizofrenia
1. Skizofrenia Paranoid. Skizofrenia dengan ciri yang menonjol berupa waham (delusi) dan halusinasi dengan isi atau tema utama yang menonjol adalah curiga (paranoid), diancam (merasa sering diteror, dikejar-kejar agen rahasia dan lain sebagainya - yang sesungguhnya hanya berada dalam alam khayali penderita semata), ditambah dengan waham kebesaran (misal

mengaku-ngaku titisan nabi, mengaku-ngaku titisan pembesar suatu bangsa atau negara yang bersifat konsisten, tidak dapat dipatahkan, tentu saja lagi-lagi khayal alias tidak dapat dibuktikan kebenaran ungkapan si penderita). 2. Skizofrenia Katatonik. Skizofrenia jenis ini berciri utama seorang yang diam saja berjam-jam, berhari-hari, seperti patung, hampir tidak berespon terhadap lingkungan atau keadaan sekitarnya. Pada skizofrenia jenis ini kita jumpai adanya aspek verbal (kata-kata) dan aspek motorik (gerak) yang sangat terganggu. 3. Skizofrenia Disorganized. Arti nama skizofrenia jenis ini tentu saja merujuk pada tidak ada atau kacaunya organisasi pikiran. Gejala yang menonjol adalah pemikiran, tutur kata, dan perbuatan yang tidak nyambung (disorganisasi) dengan emosi yang flat (datar - tidak beremosi) serta inappropriate (tidak sesuai - dengan yang semestinya). 4. Skizofrenia Undifferentiated. Skizofrenia ini merupakan klasifikasi "tempat sampah" dimana klinisi menemukan adanya kelainan skizofrenia dengan gejala positif/negatif, namun tidak dapat di golongkan dalam ke-3 butir tipe yang sudah disebutkan di atas. 5. Skizofrenia Residual. Skizofrenia "sisa", dimana di masa lalu pernah muncul gejala positif yang akut namun sekarang tidak ada lagi gejala tersebut.

Diagnosis
Secara klinis untuk menegakkan diagnosis skizofrenia diperlukan

kriteria diagnostik. 1. Kriteria diagnosis menurut Eugen Bleuler, dibagi menjadi gejala primer dan sekunder. Gejala primer (4A): 1) Asosiasi terganggu

Suatu proses pikir yang terganggu berupa ide yang satu belum habis diutarakan sudah muncul ide yang lain sehingga pembicaraan menjadi tidak dapat diikuti atau dimengerti. 2) Autisme Suatu k ecenderungan untuk menarik diri dari kehidupan

sosial.Orang tersebut lebih suka menyendiri dan berdialog dengan dunianya sendiri 3) Afek terganggu Suatu gangguan berupa ketidaksesuaian antara antara afek dengan suasana perasaan, dapat berupa afek tumpul, mendatar atau tidak serasi 4) Ambivalensi Dua hal yang berlawanan dapat timbul pada saat yang bersamaan pada objek yang sama.

Selain gejala 4A di atas, beberapa ahli menambahkan adanya gejala A yang lain yang dapat dijumpai pada pasien skizofrenia kronis seperti abulia,menurunnya atensi, apati, alienasi, anhedonia, automatisme, dan lain-lain. Gejala sekunder : a. Waham Keyakinan patologis yang tidak dapat dikoreksi meskipun telah ditunjukkan bukti nyata bahwa k eyakinannya salah dan di luar jangkauan sosio-budayanya. b. Halusinasi Munculnya suatu persepsi baru dari panca indera yang salah (false perception) tanpa adanya rangsangan/objek dari luar. c. Ilusi Munculnya suatu persepsi baru dari panca indera yang salah (falseperception) akibat adanya suatu rangsangan/objek dari luar. d. Depersonalisasi Suatu keadaan dimana seseorang merasa dirinya secara tiba-tiba berubah dan tidak seperti sebelumnya

e. Negativisme Sikap yang menolak atau berlawanan dengan yang diperintahkan kepadanya tanpa suatu alasan f. Automatisasi Suatu pek erjaan yang dilakukan dengan sendirinya tanpa adanya pengaruh dari luar dan tidak mempunyai tujuan g. Echolalia Secara spontan menirukan bunyi, suara atau ucapan yang didengar dari orang lain seperti membeo h. Manerisme Tindakan mengulang-ulang perbuatan tertentu secara eksesif, biasanya dilakukan secara ritual seperti melakukan suatu seremonial i. Stereotipik Tindakan mengulang-ulang suatu pekerjaan atau perbuatan tanpa adanya suatu tujuan (nongoal directed) dan tidak seleai - selesai j. Fleksibilitas Cerea Suatu sikap, bentuk atau posisi yang dipertahankan dalam waktu yang lama. Bila posisi tersebut digeser,maka posisi baru tersebut tetap dipertahankan (seakan-akan seperti lilin). k. Benommenheit Intelektual atau perkembangan mental yang terlambat atau terbatas

2. Kriteria diagnosis menurut Kurt Schneider Gejala tingkat pertama (untuk diagnosis perlu 1 gejala A dan 1 gejala B): A. Halusinasi auditorik, berupa: a) Pikiran yang dapat didengar sendiri b) Suara yang sedang bertengkar c) Suara yang sedang mengomentari perilaku pasien B. Gangguan batas ego, berupa: a) Somatic Passivity yaitu tubuh dan gerakannya seakan-akan dipengaruhi oleh suatu kekuatan dari luar

b) Thought Withdrawal yaitu pikiran penderita seperti disedot keluar c) Thought Insertion yaitu isi pikiran penderita seperti disisipkan atau dipengaruhi oleh orang lain d) Thought Broadcasting yaitu penderita merasa pikirannya seperti disiarkan kepada orang-orang disekitarnya atau isi pikirannya dapat dibaca oleh orang lain e) Made-feeling yaitu perasaannya seperti dibuat oleh orang lain f) Made-im pulse yaitu dorongan kehendaknya seolah-olah dari orang lain g) Made-volitional Acts yaitu kemauan atau tindakannya seperti dipengaruhi oleh orang lain h) Delusional yaitu persepsi yang dipengaruhi oleh waham

Gejala tingkat kedua: A. Gangguan persepsi lain B. Gagasan bersifat wahamyang tiba-tiba C. kebingungan D. Perubahanmood disforik daneuforik E. Perasaan kemiskinanemosional F. dan beberapa lainnya

3. Menurut DSM IV adalah sebagai berikut: A. Terdapat 2 atau lebih gejala karakteristik, yang masing-masing ditemukan untuk sebagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang bila berhasil diobati).Gejala karakteristik tersebut berupa: a) Waham b) Halusinasi c) Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoheren) d) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas

e) Gejala negatif, yaitu afek datar, alogia, atau tidak ada kemauan (avolition). Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham

adalah kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengkomentari perilaku atau pikiran pasien,atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya.

B. Disfungsi sosial atau pekerjaan untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan,satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan diri,adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset padam anakanak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian

interpersonal, akademik,atau pek erjaan yang diharapkan).

C. Durasi tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurang-kurangnya 6 bulan.Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika diobati dengan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaitu, gejala fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala prodomal atau residual, tanda gangguan mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang diperlemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim).

4. Pedoman Diagnostik PPDGJ III Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): 1.a. Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau b. Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari

luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan c. Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. 2. a. Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau b. Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau c. Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap sesuatu kekuatan dari luar. d. Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.

3. Halusinasi auditorik: a. suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau b. mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara). c. jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh

4.Waham - waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

1. Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus; 2. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme; 3. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor; 4. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik

(prodromal) harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial. Menurut Bleuler, diagnosa skizofrenia sudah boleh dibuat bila terdapat ganguan-gangguan primer dan disharmoni pada unsur-unsur kepribadian serta diperkuat dengan adanya gejala-gejala sekunder.

Sedangkan Schneider berpendapat bahwa diagnosa sudah boleh dibuat bila terdapat satu dari gejala-gejala halusinasi pendengaran dan satu gejala gangguan batas ego dengan syarat bahwa kesadaran penderita tidak menurun (PPDGJ III).

Setionegoro (Maramis, 2004) membuat diagnosa skizofrenia dengan memperhatikan gejala-gejala pada tiga buah koordinat. Koordinat pertama (organobiologik) yaitu, autisme, gangguan afek dan emosi, gangguan asosiasi (proses berfikir), ambivalensi (gangguan kemauan) serta gangguan aktifitas maupun gangguan konsentrasi. Koordinat kedua (psikologik) yaitu, gangguan pada cara berfikir yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan keperibadian, dengan memperhatikan perkembangan ego, sistematik motivasi dan

psikodinamika dalam interaksi dengan lingkungan. Koordinat ketiga (sosial) yaitu, gangguan pada kehidupan sosial penderita yang diperhatikan secara fenomenologik.

Kriteria Gejala
Petunjuk penting ke arah diagnosis skizofrenia adalah (jika tidak ada tanda gangguan kongnitif, infeksi, atau intoksikasi yang dapat ditunjukkan). 1. Perubahan kepribadian yang bermanifestasi sebagai penumpulan

emosional dengan jenis khusus diikuti oleh hilangnya inisiatif dan perilaku yang berubah dan seringkali aneh (khususnya pada hebefrenik, perubahan adalah karakteristik dan petunjuk utama ke arah diagnosis). 2. Pada tipe katatonik, riwayat penyakit dan tanda tipikal dalam periode kegelisahan dan stupor (dengan negativisme, wajah berminyak, katalepsi, gejala vegetatif, dll). 3. Pada psikosis paranoid, gejala penting pembelahan keperibadian (atau gejala depersonalisasi) dan hilangnya perasaan realitas (gejala derealisasi) atau waham primer.

Kriteria Perjalanan Penyakit


Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain :

1. Fase Prodomal a) Berlangsung antara 6 bula sampai 1 tahun b) Gangguan dapat berupa Self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan, c) gangguan fungsi sosial, gangguan pikiran dan persepsi.

2. Fase Aktif a) Berlangsung kurang lebih 1 bulan b) Gangguan dapat berupa gejala psikotik; Halusinasi, delusi, disorganisasi proses berfikir, c) gangguan bicara, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi

3. Fase Residual Kien mengalami minimal 2 gejala; gangguan afek dan gangguan peran, serangan biasanya berulang.

Terapi Penyakit Skizofrenia 1. Pemberian obat-obatan


Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekuivalen, perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping: sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). Pemilihan jenis anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekuivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu

tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat anti psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis ekuivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat anti psikosis atipikal. Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal.

Obat antipsikotik yang beredar di pasaran dapat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu anti psikotik generasi pertama (APG I) dan anti psikotik generasi ke dua (APG ll). APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoin fundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping anti kolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguan miksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg di antaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide.

Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg di antaranya adalah chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau anti psikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat

yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispendon. (Luana, 2007).

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan: 1. Onset efek primer (efek klinis): 2-4 minggu. Onset efek sekunder (efek samping): 2-6 jam. 2. Waktu paruh: 12-24 jam (pemberian 1-2x per hari). 3. Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar) sehingga tidak mengganggu kualitas hidup penderita. 4. Obat anti psikosis long acting: fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau haloperidol decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2 4 minggu. Berguna untuk pasien yang tidak/sulit minum obat, dan untuk terapi pemeliharaan.

Cara atau Lama Pemberian Obat

Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hari sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap 2 minggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian dipertahankan 8-12 minggu (stabilisasi). Diturunkan setiap 2 minggu (dosis maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun, diselingi drug holiday tapering off (dosis diturunkan 2-4 minggu) lalu dihentikan. Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multi episode, terapi pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian obat anti psikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis reda sama sekali. Pada penghentian mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian antikolinergikt seperti injeksi sulfas atropin 0,25 mg (secara intra muskular), tablet trihexyphenidyl 3x2 mg/hari, 1-2/hari/minggu) setelah itu. (Luana, 2007)

Obat Neuroleptika

Obat neuroleptika selalu diberikan, kecuali obat-obat ini terkontraindikasi, karena 75% penderita skizofrenia memperoleh perbaikan dengan obat-obat neuroleptika. Kontraindikasi meliputi: a. Neuroleptika yang sangat antikolinergik seperti klorpromazin, molindone, dan thioridazine pada penderita dengan hipertrofi prostate atau glaucoma sudut tertutup. b. Antara sepertiga hingga separuh penderita skizofrenia dapat membaik dengan lithium. Namun, karena lithium belum terbukti lebih baik dari neuroleptika, penggunaannya disarankan sebatas obat penopang.

Meskipun terapi elektrokonvulsif (ECT) lebih rendah dibanding dengan neuroleptika bila dipakai sendirian, penambahan terapi ini pada regimen neuroleptika menguntungkan beberapa penderita skizofrenia.

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama ---Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)

Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh) ---Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat.

Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. ----Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.

Pengobatan Selama fase Penyembuhan ---Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang behenti minum obat setelah episode pertama skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.

Efek Samping Obat-obat Antipsikotik Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut

juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadangkadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati efek samping ini. ---Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana

terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal. ---Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi

seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obatobatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit. ---Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia

yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini. ---Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant

syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam penyakit-penyakit lain. Gejalagejala ini membutuhkan penanganan yang segera.

2. Pendekatan Psikologi a. Terapi perilaku Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif

adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk halhal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang,berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan. b. Terapi berorintasi-keluarga Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga. c. Terapi kelompok Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkanisolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.

d. Psikoterapi individual Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.

PROGNOSIS
Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor yang dapat memberikan prognosis yang baik dan

mempengaruhinya seperti: a) Usia tua b) Faktor pencetus jelas

c) Onset akut d) Riwayat sosial/pekerjaan pramorbid baik e) Gejala depresi f) Menikah g) Riwayat keluarga h) Gangguan mood i) Sistem pendukung baik j) Gejala positif

Sebaliknya, hal-hal berikut ini akan memberikan prognosis yang buruk a) Onset muda b) Tidak ada faktor pencetus c) Onset tidak jelas d) Riwayat sosial buruk e) Autistik f) Tidak menikah/janda/duda g) Riwayat keluarga skizofrenia h) Sistem pendukung buruk i) Gejala negatif j) Riwayat trauma prenatal k) Tidak remisi dalam 3 (tiga) tahun l) Sering relaps m) Riwayat agresif (Luana, 2007).

Kekambuhan gangguan jiwa pisikotik adalah munculnya kembali gejalagejala psikotik yang nyata. Angka kekambuhan secara positif hubungan dengan beberapa kali masuk Rumah Sakit (RS), lamanya dan perjalanan penyakit. Penderita-penderita yang kambuh biasanya sebelum keluar dari RS mempunyai karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan memiliki sedikit keterampilan sosial, (Porkony dkk, 1993).

Porkony dkk (1993), melaporkan bahwa 49% penderita Skizofrenia mengalami rawat ulang setelah follow up selama 1 tahun, sedangkan penderitapenderita non-Skizofrenia hanya 28%. Solomon dkk (1994), melaporkan bahwa dalam waktu 6 bulan pasca rawat didapatkan 30%-40% penderita mengalami kekambuhan, sedangkan setelah 1 tahun pasca rawat 40%-50% penderita mengalami kekambuhan, dari setelah 3-5 tahun pasca rawat didapatkan 65%-75% penderita mengalami kekambuhan, (Porkony dkk, 1993).

Penderita dengan skizofrenia dapat mengalami remisi dan kekambuhan, mereka dapat dalam waktu yang lama tidak muncul gejala, maka skizofrenia sering disebut dengan penyakit kronik, karena itu perlu mendapatkan perhatian medis yang sama, seperti juga individu-individu yang menderita penyakit kronik lainnya seperti hipertensi dan diabetes mellitus.

Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan yang berat yang membuat stress, (cybermed.cbn.net.id).

Menurut Sullinger, 1988 ada 4 (empat) faktor penyebab penderita kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit, diantaranya adalah sebagai berikut:

Penderita

Sudah umum diketahui bahwa penderita yang gagal memakan obat secara teratur mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 25% sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara teratur (Appleton, 1982, dikutip oleh Sullinger, 1988).

Dokter

Makan obat yang teratur dapat mengurangi kekambuhan, namun pemakaian neuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol.

Penanggung jawab penderita

Setelah penderita pulang ke rumah maka pihak rumah sakit tetap bertanggung jawab atas program adaptasi penderita di rumah.

Keluarga

Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi (bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan), hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan 17% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi keluarga yang rendah. Selain itu penderita juga mudah dipengaruhi oleh stres yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan (kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga penderita dan keluarga dapat mengatasi dan mengurangi stres. Cara terapi bisanya: mengumpulkan semua anggota keluarga dan memberi kesempatan menyampaikan perasaan-perasaannya. Memberi kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan baru kepada penderita ganguan jiwa, memfasilitasi untuk menemukan situasi dan pengalaman baru bagi penderita.

BAB III KESIMPULAN

Skizofrenia adalah gangguan jiwa serius yang bersifat psikosis sehingga penderita kehilangan kontak dengan kenyataan dan mempengaruhi berbagai fungsi individu, seperti afeksi dan kognitif. Penderita skizofrenia juga dapat digolongkan dalam beberapa jenis berdasarkan gejala khas yang paling dominan. Tiap jenis selalu ditandai dengan gejala positif dan negatif yang berbeda porsinya. Gejala positif adalah penambahan dari fungsi normal, contohnya halusinasi yaitu persepsi panca indera yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sedangkan gejala negatif berarti pengurangan dari fungsi normal seperti kehilangan minat dan menarik diri dari lingkungan sosial. Hingga saat ini penyebab utama skizofrenia masih menjadi perdebatan di kalangan ahli psikiatri maupun psikologi. Karna itu untuk dapat memahaminya diperlukan multiperspektif yaitu dari sisi biologis, psikologis, sosial dan spiritual.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.scribd.com/doc/22011335/Skizofrenia-Merupakan-PenyakitOtak-Yang-Timbul-Akibat-Ketidakseimbangan-Pada-Dopamine 2. Kaplan, Sadock, Grebb. 1997.Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis Jilid Satu. Jakarta: Binarupa Aksara. 3. Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC 4. Penyakit skizofrenia. http://www.vdshared.com/kesehatan/34-duniamanusia/108-penyakit-skizofrenia.html 5. http://www.downloadpdf.co.uk/pdf/jurnal-skizofrenia-pdf.html