Anda di halaman 1dari 20

SABUN Makalah ini Disusun Untuk Melengkapi Tugas Petro dan Oleokimia Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,

Universitas Riau, Tahun 2009

Oleh:

BAMBANG SUTIKNO (0707120212) DESIANA KOMALASARI (0707112514) M. SODIQ (0707120271) MELDA JULIANTI ( 0707120236 ) Y.A. ANDIKA DESPARESI ( 0707120207 )

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2009

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis beserta anggota kelompok ucapkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul, SABUN telah dapat diselesaikan. Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas Petro dan Oleokimia, jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riau, Tahun 2009. Untuk bisa mewujudkan makalah ini, penulis beserta anggota kelompok menemui berbagai kendala yang harus dilalui. Namun, berkat dorongan dan bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat juga diselesaikan dengan baik. Sehubungan dengan hal diatas, penulis beserta anggota kelompok ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada: 1. Ibu Nirwana HZ., dosen mata kuliah Petro dan Oleokimia, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Riau tahun 2009. 2. Rekan-rekan satu angkatan yang telah berbagi informasi dalam penyelesain makalah ini. Dalam penulisan makalah ini, penulis dan anggota telah berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan hasil yang terbaik. Namun penulis dan anggota mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan tulisan makalah ini. Penulis dan anggota berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan semoga ALLAH SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan Karunia-nya kepada kita semua, Amin. Pekanbaru, Maret 2009

Penulis

BAB I PENDAHULUAN I. 1 Sejarah dan Latar Belakang Sabun adalah senyawa yang dihasilkan dari reaksi antara asam lemak dengan alkali. Asam lemak ini terdapat di dalam minyak nabati dan lemak hewan. Reaksi dari minyak nabati dan lemak hewan dengan alkali disebut dengan reaksi saponifikasi. Selain berasal dari minyak atau lemak, sabun juga dibuat dari minyak bumi dan gas alam maupun langsung dari tanaman. Dalam sejarah pengetahuan Sumaria, sabun dibuat dari campuran minyak dengan abu yang berasal dari pembakaran katu. Sabun yang dihasilkan disebut dengan sabun kalium dan digunakan untuk mencuci bulu domba. Sabun juga ditemukan dalam catatan medis Mesir Kuno, yang menyebut sabun berasal dari soda alami yang disebut dengan natron yang dihasilkan dari dehidrasi Natrium Karbonat dan dicampur dengan lemak nabati. Dewasa ini banyak pabrik yang memproduksi sabun dalam berbagai macam bantuk dan merk. Masing-masing sabun yang diproduksi memiliki spesifikasi dan mutu tersendiri kemajuan ini terjadi seiring dengan kebutuhan manusia dan perkembangan iptek. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang modern saat ini, telah banyak pula sabun-sabun dibuat untuk maksud pencegehan atau pengobatan terhadap penyakit kulit, sehari-hari pemakaian sabun seiirng digunakan sebagai sabun mandi, di Rumah sakit sering dipakai oleh para dokter dan perawat untuk mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan operasi atau perawatan terhadap pasiennya.

BAB II PEMBAHASAN II. 1 Pengertian Sabun Sabun adalah senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau minyak dengan Alkali. Sabun juga merupakan garam-garam Monofalen dari Asam Karboksilat dengan rumus umumnya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatik) panjang dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara C12-C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau Ion Ammonium. Pembuatan sabun melibatkan teknologi kimia yang dapat mengontrol sifat fisika alami yang terdapat pada sabun. Saponifikasi pada minyak dilihat dari beberapa perubahan fasa untuk menghilangkan impurity (zat pengganggu) dan uap air serta dilihat dengan recovery gliserin sebagai produk samping dari reaksi saponifikasi. Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya air, gliserin, garam dan impurity lain. II. 2 Bahan Dasar Pembuat Sabun Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun. Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih bahan mentah untuk membuat sabun. Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun antara lain: 1. Tallow (Lemak Hewan) Tallow adalah lemak padat pada temperatur kamar dan merupakan hasil pencampuran Asam Oleat (0-40%), Palmitat (25-30%), stearat (15-20%). Sabun yang berasal dari Tallow digunakan dalam industri sutra dan industri sabun mandi. Pada indsutri sabun mandi, tallow biasanya dicampurkan dengan minyak kelapa dengan perbandingan 80% tallow dan 20% minyak kelapa.

2. Minyak Kelapa Minyak kelapa merupakan komponen penting dalam pembuatan sabun, kerena harga minyak kelapa cukup mahal, maka tidak digunakan untuk membuat sabun cuci. Minyak kelapa ini berasal dari kopra yang berisikan lemak putih dan dileburkan pada suhu 15oC. 3. Minyak Inti Sawit Minyak inti sawit memiliki karekteristik umum, seperti minyak kelapa dan dapat dijadikan sebagai substituen dari minyak kelapa di dalam pembuatan sabun mandi. Dengan warna minyak yang terang, minyak inti sawit dapat digunakan langsung untuk membuat sabun tanpa perlakuan pendahuluan terlebih dahulu. 4. Minyak Sawit (Palm Oil) Dalam pembuatan sabun, minyak sawit dapat digunakan dalam berbagai macam bentuk, seperti Crude Palm Oil, RBD Palm Oil (minyak sawit yang telah dibleaching dan dideorisasi), Crude Palm falty Acid dan asam lemak sawit yang telah didestilasi. Crude Plam Oil yang telah dibleaching digunakan untuk membuat sabun cuci dan sabun mandi, RBD Palm Oil dapat digunakan tanpa melalui Pre-Treatment terlebih dahulu. Minyak sawit yang dicampurkan dalam pembuatan sabun sekitar 50% atau lebih tergantung pada kegunaan sabun yang diproduksi. 5. Alkali Bahan terpenting lainnya dalam pembuatan sabun adalah alkali seperti NaOH, KOH, dan lain-lain. NaOH biasanya digunakan untuk membuat sabun cuci, sedangkan KOH digunakan untuk sabun mandi. Alkali yang digunakan harus bebas dari kontaminasi logam berat karena

mempengaruhi nama dan struktur sabun serta dapat menurunkan resistansi terhadap oksidasi.

II. 3 Sifat-Sifat Sabun Sifat sifat sabun yaitu : a. Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa. CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH b. Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap. CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2 c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai

ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.

Non polar : CH3(CH2)16 (larut dalam miyak, hidrofobik, memisahkan kotoran non polar)

Polar : COONa+ (larut dalam air, hidrofilik, memisahkan kotoran polar)

Sifat-sifat fisik sabun yang perlu diketahui oleh design engineer dan kimiawi adalah sebagai berikut: 1. Viskositas Setelah minyak atau lemak disaponifikasi dengan alkali, maka akan dihasilkan sabun yang memiliki viskositas yang lebih besar dari pada minyak atau alkali. Pada suhu di atas 75o C viskositas sabun tidak dapat meningkat secara signifikan, tapi di bawah suhu 75o C viskositasnya dapat meningkatkan secara cepat. Viskositas sabun tergantung pada temperature sabun dan komposisi lemak atau minyak yang dicampurkan. 2. 3. Panas Jenis Panas jenis sabun adalah 0,56 Kal/g Densitas Densitas sabun murni berada pada range 0,96 0,99g II. 4 Reaksi Dasar Pembuatan Sabun Pembuatan sabun tergantung pada reaksi kimia organik, yaitu saponifikasi. Lemak direaksi dengan alkali untuk menghasilkan sabun dan gliserin. Persamaan reaksi dari saponifikasi adalah: C3H3(O2CR)3 Lemak minyak + NaOH 3RCOONa + Alkali Sabun C3H5(OH)3 Gliserin

1. Saponifikasi

Saponifikasi merupakan reaksi ekstern yang menghasilkan padan sekitar 65 kalori per kilogram minyak yang disaponifikasi. pada rumus kimia diatas, R dapat berupa rantai yang sama maupun berbeda-beda dan biasanya dinyatakan dengan R1, R2, R3. rantai R dapat berasal dari laurat, palmitat, stearat, atau asam lainnya yang secara umum di dalam minyak disebut sebagai eter gliserida. Struktur gliserida tergantung pada komposisi minyak. Perbandingan dalam pencampuran minyak dengan beberapa gliserida ditentukan oleh kadar asam lemak pada lemak atau minyak tersebut. Reaksi saponifikasi dihasilkan dari pendidihan lemak dengan alkali dengan menggunakan steam terbuka. 2. Hidrolisa Lemak dan Penetralan dengan Alkali Pembuatan sabun melalui reaksi hidrolisa lemak tidak langsung menghasilkan sabun. Minyak atau lemak diubah terlebih dahulu menjadi asam lemak melalui proses Splitting (hidrolisis) dengan menggunakan air, selanjutnya asam lemak yang dihasilkan dari reaksi hidrolisis tersebut akan dinetralkan dengan alkali sehingga akan dihasilkan sabun. Hidrolisa ini merupakan kelanjutan dari proses saponifikasi. Secara kimia rekasi pembuatan sabunnya adalah : (i) C3H5(O2CR)3 (ii) 3RCOOH + 3H2O Air 3RCO2H + C3H5(OH)3 Sabun Gliserida 3RCOONa + 3H2O Lemak/ Minyak

+ 3NaOH

Air yang digunakan pada proses hidrolisis dapat berupa air dingin, panas atau dalam bentuk uap air panas (steam). Pada proses hidrolisa lemak, air yang digunakan berada pada tekanan dan temperatur yang tinggi, supaya reaksi hidrolisa dapat terjadi dengan cepat. Jika natrium karbonat (Na2CO3) digunakan sebagai penetralan asam lemak, maka selama reaksi saponifikasi akan mengahsilkan CO2 dan menyebabkan massa bertambah sehingga material yang ada di dalam reaksi akan tumpah karena melebihi kapasitas reaksi yang digunakan. Dengan alasan ini, maka Na2CO3 digunakan pada reaksi yang berada pada reactor yang memiliki kapasitas yang cukup besar.

II. 5 Proses Pembuatan Sabun Dalam pembuatan sabun terdapat beberapa metoda yang bermacammacam dengan proses pembuatan sabun secara umum adalah sebagai berikut : 1. Hidrolisa a. Proses Batch Pada proses batch lemak atau minyak yang dipanaskan di dalam reaktor batch dengan menambahakn NaOH, lemak tersebut dipanaskan sampai bau NaOH tersebut hilang. Seletah terbentuk endapan lalu didinginkan kemudian endapan dimurnikan dengan menggunakan air dan diendapkan lagi dengan garam, kemudian endapan tersebut direbus dengan air sehingga terbentuk campuran halus yang membentuk lapisan homogen yang mengapung. b. Proses Kontinue Pada proses kontinue secara umum yaitu lemak atau minyak dimasukkan kedalam reaktor kontinue kemudian dihidrolisis dengan menggunakan katalis sehingga menghasilkan asam lemak dengan gliserin. Kemudian dilakukan peyulingan terhadap asam lemak dengan menambahakna NaOH sehingga terbentuk sabun.

Table 1. Perbandingan Proses Pembuatan Sabun Parameter Batch autoclave Continous Countereurrent Suhu ( oC ) Tekanan ( Mpa ) Katalis 150 175 5,2 10,0 Zn, Ca, Mg, Oksida , 1 240 2,9 3,1 Tanpa Katalis 250 5,61 Opsional (Batch autoclave atau Twichel)

2% Waktu ( Jam ) Model Operasi Perolehan Keuntungan 5- 10 Batch 85-98% Suhu dan tekanan sedang Dapat diadaptasikan untuk skala kecil Biaya investasi awal lebih murah dari proses continue 2-4 Kontinue 97-99% Tidak butuh ruangan luas Kualitas produk seragam Perolehan lebih tinggi Konsentrasi gliserin tinggi Biaya operasi lebih murah Pengendalian lebih akurat Kelemahan Investasi awal agak tinggi Penanganan katalis Waktu reaksi lebih lambat dari proses continue Biaya tenaga kerja tinggi Perlu lebih satu tahap untuk mendapatkan perolehan yang lebih Investasi awal tinggi Suhu dan tekanan tinggi Perlu tingkat keahlian penanganan yang tinggi

baik

2. Proses pembuatan sabun dalam skala laboratorium yaitu : a. Proses Pendidihan penuh Proses pendidihan penuh pada dasarnya sama dengan proses batch yaitu lemak atau miyak dipanaskan di dalam ketel (batch) dengan menambahakan NaOH yang telah dipanaskan. Selanjutnya campuran tersebut dipanaskan sampai terbentuk pasta kira-kira setelah 3-4 jam pemanasan. Setelah terbentuk pasta tambahakn NaCl (10-12%) maka terbentuklah sabun dan alkali, lalu keduanya dipisahkan dengan menggunakan air panas sehingga dihasilkan produksi utama berupa sabun dan produksi sampiongan berupa gliserin. b. Proses semi pendidihan Pada proses semi pendidiha, semua bahan yaitu lemak atau minyak dan alkali langsung bercampur kemudian dipanaskan secara bersamasama. Terjadilah reaksi saponifikasi. Setelah reaksi saponifikasi sempurna, maka dapat ditambahkan sodium siklikat dan sabun yang dihasilkan berwarna gelap. c. Proses Dingin Pada proses dingin semua bahan yaitu minyak, alkali dan alkohol dibiarkan di dalam suatu tempat tanpa dipanaskan pada temperatur kamar, reaksi antara NaOH dengan uap air (H2O) merupakan reaksi eksoterm, sehingga dapat menghasilkan panas dan panas tersebut yang digunakan untuk mereaksikan alkohol dengan minyak, proses dingin memerlukan waktu selama 24 jam dan mengahsilkan sabun yag berkualitas tinggi Syarat sayarat proses pendinginan adalah : a. b. c. d. Lemak dan minyak harus murni Konsentrasi NaOH harus terukur dengan teliti Temperatur harus terkontrol dengan baik Menggunakan minyak kelapa

Table 2. Perbandingan Proses Pembuatan Sabun Proses Cold-made Soap Semi-boiled Soap Bahan Baku Lebih banyak digunakan fatty acid daripada lemak. Produk Produk bermutu rendah. Fatty acid ( dari minyak kelapa atau minyak marine). Sabun Lunak ( sabun potash), secara umum produk bermutu rendah. Keunggul an Bisa digunakan untuk skala kecil Operasi tidak membutuhk an recovery gliserin Untuk perancanga n skala kecil relative lebih murah Operasi tidak membutuhk an recovery gliserin Waktu reaksi lebih singkat (2-3 jam) Produk lebih mudah dikeluarkan Keseragama n dan kontinitas produk terjaga Gliserin yang dapat di recovery lebih banyak Kelemaha Butuh Butuh Butuh Bisa digunakan pada lemak atau minyak dan fatty acid. Produk sabun murni (neat soap dan bar soap) Continous Proses

beberapaha ri untuk menyempur nakan reaksi Proses rumit Produk sulit dikeluarkan Kualitas produk tidak seragam

beberapa hari untuk menyempur nakan reaksi Proses rumit Produk sulit dikeluarkan Kualitas produk tidak seragam

banyak alat Diperlukan pengontrola n yang akurat Kondisi operasi pada suhu dan tekanan vakum

d.

Penetralan Prinsip dasar proses penetralan adalah lemak atau minyak ditambahakn NaOH sehingga terjadi reaksi saponifikasi dan dihasilkan sabun dan gliserin. Sabun yang dihasilkan tidak bersifat betral sehingga tidak dapat menghasilkan busa yag banyak oleh karena itu perlu dilakukan penetralan yaitu dengna menambahkan Na2CO3.

e.

Pemurnian Sabun Pemurnian sabun adalah suatu perlakuan untuk menghilangkan impurities yang terlarut dalam larutan alkali dan mengcover lagi gliserin yang terbebas pada saat reaksi saponifikasi. Asumsi tentang pemurnian sabun yaitu : Giserol merupakan jumlah total pelarut dalam pencucian larutan alkali. Gliserol ada pada sabun yang dilarutkan dalam larutan alkali.

Ketika sabun dicampurkan dengan pencucian larutan alkali, gliserol pindah dari larutan alkali pada sabun menjadi pencucian alkali sampai konsentrasi keduanya stabil.

Bila campuran tadi dibiarkan di stele kemudian dipisahkan menjadi dua lapisan bagian yaitu lapisan atasnya adalah sabun dan lapisan bawahnya untuk pencucian alkali.

Ketika pencucian meningkat, kebanyakan gliserol diekstrak pada saat banyaknya larutan alkali yang dikorbankan.

Secara umum proses pencucian sabun yaitu : Proses pembasahan, perlakuan terhadap kotoran dan lemak-lemak Proses menghilangkan kotoran dari permukaan Mengatur kotoran-kotoran supaya tetap stabil dari larutannya atau suspensinya. f. Finishing Finishing merupakan langkah akhir pada proses pembuatan sabun, yang meliputi beberapa tahap, yaitu: a. Crutching Jika sabun murni yang berasal dari ketel atau proses lainnya akan dicampurkan dengan menggunakan bahan lain, maka sebelum dibentuk atau dikeringkan, dilakukan pencampuran terlebih dahulu. Campuran itu dilarutkan di dalam mesin crutcher dahulu. Crutcher adalah bejana yang berbentuk silindris dengan ukuran kecil, kapasitasnya 680-2279 dan dilengkapi dengan pengaduk. Crutcher juga digunakan di dalam pencampuran alkali dengan lemak di dalam pembuatan sabun dengan proses pendinginan. b. Framming Metode yang digunakan untuk mengubah sabun murni atau cairan sabun panas menjadi padatan yang mudah dibentuk menjadi batangan atau disebut dengan framming. Framming dilakukan pada

cairan sabun yang berada pada suhu 57-62oC didalam suatu frame yang memiliki berat 454 545 kg berbentuk persegi. Untuk memadatkan sabun murni diperlukan waktu 3-7 hari. Sabun yang telah dicetak dapat dipotong menjadi bagian kecil. Penambahan zat adiktif antioksidan stabilizer dan parfum dilakukan pada saar crutching sebelum framming. c. Drying Berbagai macam metoda pembuatan sabun dengan menggunakan reaksi saponifikasi yang menghasilkan sabun murni mengandung air sekitar 30-35%. Sabun murni tersebut diubah menjadi sabun chip dengan kandungan 5-15% air. Proses pengeringan yang sederhana dikenal dengan spray drying proses. Sabun yang mengandung air dilewatkan melalui spary nozzles. Partikel-partikel kecil ini dikeluarkan oleh spray nozzles dalam bentuk kering. Pengeringan juga daapt dilakukan pada vakum atau di dalam atmospherik flash drying.

II. 6 Kegunaan dan Kelemahan Sabun Sebagian besar kegunaan sabun di dalam kehidupan sehari-hari adalah bahan pencuci. Sedangkan di dalam industri kosmetik sabun memiliki kegunaan tergantung pada komposisi yang terkandung di dalam sabun itu sendiri. Asam lemak seperti asam stearat atau asam aleat sebagian besar dikonversi menjadi sabun dengan mereaksikannya dengan alkali (NaOH, KOH) maupun dengan alkalominida. Asam lemak banyak digunakan di dalam pembuatan cream cukur, cream wajah, hand body lotion, dan pewarna rambut. Sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi antara mineral minyak, lemak ester dan air di dalam pembuatan hand and body lotion. Berdasarkan penggunaannya, sabun dapat diklasifikasi menjadi 3 jenis, yaitu: 1. Laundry Soap; untuk sabun cuci.

2. Toilet soap; yang digunakan untuk mandi dan perawatan kulit, termasuk juga disini medicine soap. 3. Textile soap, yang digunakan untuk pada proses scouring textile, proses degumming sutera dll.

Kekurangan atau kelemahan dari sabun yaitu :


Kurang stabil terhadap asam Kurang stabil terhadap basa Kurang stabil terhadap logam berat Kurang stabil terhadap air sadah

BAB III KESIMPULAN III. 1 Kesimpulan Sabun merupakan senyawa kimia yang berasal dari reaksi lemak atau minyak dengan alkali. Reaksi dasar dari pembuatan sabun yaitu saponifikasi dan hidrolisa lemak. Bahan dasar untuk pembuatan sabun dapat berupa minyak atau lemak, yaitu yang terdiri dari lemak hewan (Tallow), minyak kelapa, minyak tall, minyak inti sawit, minyak sawit, minyak kulit padi dan minyak marine. Bahanbahan tersebut harus memenuhi syarat-syarat karakteristik seperti warna, angka saponifikasi, bilagan iod dan asam lemak bebasnya. Hal demikian agar dihasilkan kualitas sabun yang baik dan tidak tergantung kelancaran proses produksinya. Adapun proses produksi meliputi proses hidrolisa, pendidihan, pendinginan, penetralan, proses kontrol dan finishing. Sabun yang baik bagi kesehatan adalah sabun dengan kadar parfum yang rendah tetapi mengandung bahan-bahan anti septik dan bebas dari bakteri adiktif.

DAFTAR PUSTAKA Hui, Y. H. Baileys Industrial Oil and Fat Products, fifth edition . 1996. New York: John Willey & Sons Inc www.google.com/http:id. http://id.wikipedia.org/wiki/Sabun http://wapedia.mobi/ms/Sabun http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080925015947AAR3lcd

Lampiran

Bahan Baku

Penimbangan

Asam Stearat Minyak

Pemanasan/Pelelehan

Pencampuran

NaOH

Penyiapan Stock Sabun

Pencampuran

Etanol, NaCl

Sediaan 1 Pencampuran

Pewarna

Sediaan 2 Pencampuran

Pewang i

Pencetakkan

Pengemasan