Anda di halaman 1dari 0

METODE ANALISIS FUNDAMENTAL

by Teguh Hidayat, www.teguhidx.blogspot.com


Contact author by email: teguh.idx@gmail.com

1. Definisi Analisis Fundamental

Pada dasarnya, analisis fundamental adalah cara untuk menilai seberapa baik kinerja
sebuah perusahaan (emiten), dan untuk menilai apakah harga sahamnya di market
wajar atau tidak jika dibandingkan dengan kinerjanya tersebut. Analisis fundamental
ini rumus-rumusnya sebenarnya gampang kok, karena hanya menggunakan kali, bagi,
tambah, dan kurang. J ika anda tidak mengerti matematika dasar seperti ini, maka anda
harus ikutan acara Are You Smarter Than a Fifth Grader.

Oke, kembali ke masalah saham. Layaknya sebuah barang yang diperjual belikan,
dimana semakin bagus sebuah barang maka akan semakin mahal pula harganya, maka
demikian pula perusahaan: semakin bagus kinerjanya maka semakin tinggi pula harga
sahamnya. Artinya? Harga saham sebuah emiten bisa saja tinggi, tapi bisa jadi harga
yang tinggi tersebut masih termasuk wajar, karena kinerja perusahaannya bagus.
Sebaliknya, harga saham sebuah emiten bisa saja rendah, tapi mungkin termasuk
mahal karena kinerja perusahaannya payah.

Tentunya, anda jangan sampai memilih saham yang harganya tinggi dan kinerjanya
jelek. Biasakanlah untuk memilih saham yang harganya masih rendah dan kinerjanya
bagus.

2. Yang Perlu Diperhatikan dari Laporan Keuangan

Untuk menilai kinerja emiten, maka kita punya sarananya yaitu: laporan keuangan
(LK). Setiap emiten wajib merilis LK terbarunya setiap tiga bulan sekali di
www.idx.co.id, yaitu LK untuk akhir Maret, J uni, September, dan Desember.
Biasanya, LK tersebut akan dirilis sebulan setelah tanggal neraca. Misalnya untuk LK
yang berakhir pada J uni 2010, maka LK tersebut akan terbit pada akhir J uli 2010.

Setiap LK yang diterbitkan memiliki tebal antara puluhan hingga ratusan halaman,
sehingga cukup pusing membacanya. Tapi sebenarnya, untuk melakukan analisis
fundamental yang mendasar, kita cuma perlu membaca bagian neraca dan laba-
rugi, yang tebalnya hanya tiga atau empat halaman, yang terletak dibagian awal LK.
Itupun tidak semua angka disana harus kita perhatikan.

Berikut adalah contoh LK milik Unilever Indonesia (UNVR) untuk first half 2010
(1H10). Sengaja penulis pilih UNVR karena UNVR merupakan salah satu emiten
yang memiliki kinerja yang sangat baik. Halaman pertama adalah catatan aset,
halaman kedua adalah catatan kewajiban dan ekuitas, dan halaman ketiga adalah
catatan laba rugi.

Yang perlu kita perhatikan hanyalah bagian yang ditandai. Berikut adalah halaman
pertama (angka-angka dalam jutaan Rupiah, kecuali disebutkan lain):
1



Pada bagian ini, yang perlu kita perhatikan adalah A. jumlah aset/total assets. Tabel
diatas menunjukkan bahwa total aset UNVR pada 1H10 adalah Rp 9,770 milyar atau
Rp 9.8 trilyun. Sedangkan total aset UNVR pada 1H09 adalah Rp 7,979 milyar atau
Rp 8.0 trilyun.

J ika anda ingin menganalisis secara lebih detail, maka perhatikan pula perbandingan
antara jumlah aset lancar dengan jumlah aset tak lancar. Yang dimaksud aset
lancar adalah aset yang bisa dicairkan/diuangkan dalam waktu maksimal 1 tahun,
sementara aset tak lancar kebalikannya. Perusahaan bisa dikatakan bagus jika
memiliki aset lancar lebih besar dibanding aset tak lancar-nya, karena itu berarti
perusahaan tersebut asetnya likuid dan mudah dicairkan jika sewaktu-waktu terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan (misalnya bangkrut).

Perhatikan bagian yang dikotak: Pada 1H10, jumlah aset lancar UNVR adalah Rp 5.4
trilyun, lebih besar dari jumlah aset tak lancar-nya yang hanya Rp 4.3 trilyun. Pada
periode 1H10 juga sama: aset lancarnya (Rp 4.4 trilyun) lebih besar dari aset tak
2
lancarnya (Rp 3.5 trilyun). Sehingga dari sisi ini, kita bisa menilai bahwa UNVR
memiliki kinerja yang cukup baik.

Berikut adalah halaman kedua:



Pada bagian ini, yang perlu kita perhatikan adalah B. jumlah kewajiban/total
liabilities, C. saldo laba/retained earnings, D. jumlah ekuitas/total equities, dan E.
modal saham/share capital.

Kewajiban adalah kata lain dari utang. Saldo laba adalah bagian dari ekuitas yang
berasal dari laba bersih yang selama ini diperoleh. Ekuitas adalah modal bersih.
Modal saham adalah jumlah saham yang diterbitkan perusahaan dan beredar di
market.

Catatan:
1. Pada modal saham, ambil modal ditempatkan dan disetor penuh, jangan
ambil yang modal dasar. Pada contoh UNVR diatas, kebetulan modal dasar
adalah sekaligus modal ditempatkan. Namun pada beberapa LK emiten
lainnya, modal dasar biasanya jumlahnya lebih besar dibanding modal
3
ditempatkan. Terkadang jumlah saham pada periode 1H10 berbeda dengan
jumlah saham pada periode sebelumnya (1H09). J ika demikian, ambil jumlah
saham pada periode yang terbaru. Terkadang pula, jumlah saham dipisah-
pisahkan menjadi saham seri A, seri B, dan seterusnya. Kalau begitu, totalnya
tinggal dijumlah saja.
2. Saldo laba, seperti contoh diatas, terkadang dipisahkan menjadi saldo laba
yang dicadangkan, dan saldo laba yang belum dicadangkan. Kalau di LK-nya
dicantumkan seperti itu, maka tinggal dijumlahkan saja.

Seperti diatas, jika anda hendak menganalisis secara lebih detail, maka perhatikan
juga jumlah kewajiban lancar dan jumlah kewajiban tak lancar. Analisisnya sama:
perusahaan termasuk bagus jika kewajiban lancarnya lebih besar dari kewajiban tak
lancarnya.

Berikut adalah halaman ketiga:


Pada bagian ini, yang perlu kita perhatikan adalah F. penjualan bersih/net sales, G.
laba usaha/operating income, H. laba bersih/net income, dan I. laba bersih per
saham/Earnings per Share (EPS).

Penjualan bersih adalah.. (ga perlu dijelasin lagi kan?). Laba usaha adalah laba yang
diperoleh dari operasional perusahaan (nilai penjualan dikurangi gaji karyawan, dan
sebagainya). Laba bersih adalah laba usaha dikurangi beban-beban non operasional
(biaya pajak, biaya bunga utang, dll). Dan EPS adalah laba bersih dibagi jumlah
4
saham. Dalam contoh ini, EPS UNVR pada 1H10 adalah Rp 1.8 trilyun dibagi 7.6
milyar lembar saham, hasilnya adalah Rp 232 per saham.

Setelah semua data-data diatas diolah menggunakan MS Excel, maka jadinya seperti
berikut (agar lebih mudah, angka-angka dibuat dalam milyar rupiah, kecuali
disebutkan lain):

Tabel 1
Code Unilever 1H10 1H09 Change (%)
A Assets 9,770 7,979 22.4
B Liabilities 6,573 5,055 30.0
C Retained Earnings 3,019 2,745 10.0
D Equity 3,192 2,917 9.4
E Share Capital (Million) 7,630 7,630 0.0
F Sales 9,923 8,956 10.8
G Operating Income 2,361 2,074 13.9
H Net Income 1,770 1,495 18.4
I EPS (Rp) 232 196 18.4
in billion Rp, EPS in Rp, shares capital in million

Dari tabel diatas, kita tahu bahwa aset (kode A) UNVR naik/bertambah 22.4% pada
1H10 dibanding 1H09. Ngitungnya bagaimana? Dengan 9,770 dibagi 7,979, lalu
hasilnya dikurangi 1. Hasilnya adalah 0.224 atau 22.4%. Yang lainnya juga caranya
sama begitu. Contohnya untuk yang paling bawah yaitu net income, angka 18.4%
diperoleh dari 1,770 dibagi 1,495, lalu dikurangi 1. Hasilnya adalah 0.184 alias
18.4%.

J ika change-nya bernilai minus, maka itu berarti aset dll mengalami
penurunan/berkurang. Pada contoh diatas, kebetulan semua change-nya bernilai plus,
yang berarti semua komponen LK UNVR mengalami kenaikan dengan persentasenya
masing-masing.

Catatan:
1. J ika asset naik, maka itu tidak berarti apapun. Tapi jika liabilities naik maka
itu berarti buruk, sementara jika equity naik maka itu berarti baik. Tapi
kenaikan equity berarti baik hanya jika disebabkan oleh kenaikan retained
earnings (jadi perhatikan apakah retained earnings-nya naik juga atau tidak).
J ika kenaikannya disebabkan oleh penambahan modal, right issue, atau
lainnya, maka itu justru berarti buruk.
2. J ika sales, operating income, dan net income semuanya naik, maka itu berarti
baik. Lebih baik lagi jika kenaikannya berurutan, dari kecil ke besar.
Contohnya seperti diatas: sales naik 10.8%, operating income naik 13.9%, net
income naik 18.4%. Caution: hati-hati jika net income naik, tapi sales atau
operating income-nya malah turun. Lebih hati-hati lagi kalau ketiga tiganya
turun semua.
3. Operating dan net income bisa bernilai minus, yang itu berarti perusahaan
merugi. J ika net income minus, maka otomatis EPS-nya juga minus. Equity
juga bisa bernilai minus (biasa disebut defisiensi modal), jika jumlah utang
perusahaan lebih lebih besar dari asetnya, yang biasanya disebabkan karena
perusahaan terus merugi dalam waktu yang lama.

5
3. Ayo Menganalisis!

Sebelum kita membahas harga sahamnya, pertama-tama kita keluarkan dulu rasio-
rasio fundamental penting dari tabel yang sudah kita buat diatas, juga pake MS Excel.
Berikut hasilnya:

Tabel 2
Ratios (%) 1H10 1H09 Change (%)
EDR 48.6 57.7 -15.8
EER 94.6 94.1 0.5
EAR 32.7 36.6 -10.6
Annualized ROA 36.2 37.5 -3.3
Annualized ROE 117.3 109.0 7.6
OPM 23.8 23.2 2.8
NPM 17.8 16.7 6.9

Semua angka dalam persentase (%). Membaca tabel diatas sangat mudah, yaitu:
pokoknya semakin besar angkanya, maka semakin bagus perusahaannya.
Berikut penjelasannya:

Rasio neraca

EDR = Equity to Debt Ratio =rasio ekuitas terhadap kewajiban. Semakin besar
jumlah ekuitas dibanding utangnya, maka tentunya semakin bagus perusahaannya.
Angka 48.6% berasal dari 3,192 / 6,573 =0.486 =48.9%, sehingga bermakna: pada
1H10, jumlah ekuitas UNVR adalah 48.6% kewajibannya. Karena jumlah ekuitas
bisa lebih besar dari kewajiban, maka nilai EDR bisa diatas 100%.

Pada contoh diatas, ekuitas UNVR lebih kecil dari liabilities-nya, sehingga EDR-nya
menjadi dibawah 100%. J ika dilihat dari sini, maka UNVR tidak begitu bagus.
Namun mengingat mayoritas liabilities UNVR bukanlah utang-utang yang berbahaya,
seperti utang bank, obligasi, dll.. (baca lagi LK halaman kedua), melainkan utang-
utang operasional, maka meski EDR-nya kecil, namun UNVR tetap merupakan
perusahaan yang bagus.

EER = Earnings to Equity Ratio = rasio saldo laba terhadap ekuitas. Angka
94.6% berasal dari 3,019 : 3192 =0.946 =94.6%. Angka ini menunjukkan bahwa
ekuitas UNVR hampir sepenuhnya berasal dari saldo laba-nya, atau berarti UNVR
merupakan perusahaan yang padat berisi, sekaligus secara sekilas menunjukkan
bahwa kinerja UNVR dimasa lalu sama baiknya dengan saat ini/first half 2010.

Karena saldo laba merupakan bagian dari ekuitas, maka EER tidak bisa lebih besar
dari 100%. Semakin EER mendekati 100%, maka semakin bagus perusahaannya.
Caution: hati-hati jika EER ini nilainya terlalu kecil, apalagi minus, karena itu
menunjukkan bahwa perusahaan yang bersangkutan gak ada isinya alias rugi melulu.

EAR = Equity to Assets Ratio = rasio ekuitas terhadap aset. Pada prinsipnya,
EAR sama saja dengan EDR. Kalau EDR membandingkan ekuitas dengan utang,
maka EAR membandingkan ekuitas dengan aset. Semakin EAR mendekati 100%,
maka semakin besar nilai modal bersih dibanding total asetnya. Pada tabel diatas,
tampak bahwa EAR UNVR pada 1H10 adalah 32.7%, turun 10.6% dibanding 1H09,
6
yang mencapai 36.6%. Hal ini disebabkan karena kewajiban UNVR naik lebih banyak
dibanding ekuitasnya (baca lagi tabel 1)

Rasio Laba bersih terhadap neraca

Annualized ROA = Annualized Return on Asset = rasio laba bersih dibanding
total aset yang sudah disetahunkan. Rasio ini diperoleh dari laba bersih dikalikan
dua kemudian dibagi aset, sehingga 1,770 x 2 / 9,770 =0.362 =36.2%. Kenapa harus
dikali dua dulu? Karena LK-nya merupakan LK first half 2010, alias untuk 6 bulan,
jadi harus disetahunkan dulu dengan cara dikali dua (6 bulan x 2 =12 bulan =1
tahun). Semakin besar rasio ini, maka semakin menguntungkan perusahaannya.

Catatan: J ika LK-nya adalah LK kuartal pertama, maka laba bersihnya di-setahun-kan
dengan cara dikali empat terlebih dahulu (3 bulan x 4 =12 bulan =1 tahun),
kemudian baru dibagi aset. Sedangkan jika LK-nya adalah LK kuartal ketiga, maka
laba bersihnya disetahunkan dengan cara dikali empat per tiga (9 bulan x 4/3 =12
bulan =1 tahun). Bagaimana kalau LK-nya adalah LK full year? Ya laba bersihnya ga
perlu disetahunkan terlebih dahulu, karena memang sudah untuk satu tahun.

Annualized ROE sama saja dengan Annualized ROA. J ika ROA membandingkan
laba bersih dengan aset, maka ROE ini membandingkan laba bersih dengan ekuitas.
Pada tabel diatas, tampak bahwa Annualized ROE UNVR untuk 1H10 mencapai
117.3%, atau dengan kata lain, laba bersih UNVR pada 1H10 secara annualized,
sudah lebih besar dari ekuitas UNVR itu sendiri. Berarti, usaha UNVR bisa balik
modal hanya dalam tempo 1 tahun.

Catatan: Angka ROE inilah yang membuat saham UNVR sangat mahal. Di
perusahaan manapun diseluruh dunia, jika ROE mencapai 20% saja sudah termasuk
bagus. Atau dengan kata lain, sebuah perusahaan dikatakan bagus jika nilai
investasinya bisa balik modal dalam tempo 5 tahun. Dan ternyata, UNVR tidak perlu
waktu sampai 5 tahun untuk balik modal, melainkan hanya 1 tahun saja.

Seperti ROA, semakin besar ROE ini maka semakin menguntungkan perusahaannya.
Hati-hati pada perusahaan yang ROE-nya dibawah 5%.

Bagaimana jika ROA dan ROE minus? Itu berarti perusahaan mengalami rugi. J angan
beli sahamnya!

Rasio laba bersih dan pendapatan

OPM = operating profit margin =margin laba usaha terhadap pendapatan, yaitu
laba usaha dibagi pendapatan. Sedangkan NPM = net profit margin =margin laba
bersih terhadap pendapatan, yaitu laba bersih dibagi pendapatan.

Catatan: OPM dan NPM ini tidak begitu penting jika dibandingkan dengan ROA dan
ROE, karena hanya menggambarkan persentase keuntungan dibanding nilai total
pendapatan perusahaan. Namun boleh tetap diperhatikan untuk jadi bahan
pertimbangan. Perusahaan-perusahaan dengan kinerja solid seperti INKP, UNVR, dan
TLKM, rata-rata memiliki OPM dan NPM yang tinggi, sehingga mereka layak
dikoleksi untuk long term.
7
4. Analisis yang Lebih Mendetail

Ketika anda sedang membaca neraca (aset, kewajiban, dan ekuitas), perhatikan hal-
hal berikut:

1. Goodwill: terkadang dalam susunan aset sebuah perusahaan, terdapat poin yang
disebut goodwill. Goodwill ini adalah aset yang baru akan direalisasikan di masa
depan, atau dengan kata lain, aset tersebut sebenarnya tidak ada. Hati-hati pada
perusahaan yang memiliki nilai goodwill (atau semacamnya) yang terlalu besar pada
asetnya. Tapi kalau nilainya kecil sih gak masalah.

2. Hati-hati pula jika poin aset lain-lain jumlahnya terlalu besar. Bisa jadi aset lain-
lain ini merupakan semacam goodwill juga.

3. Bentuk aset yang paling bagus adalah uang tunai (cash). Biasanya diletakkan
dibagian paling atas dari aset. Semakin besar kas, semakin bagus perusahaannya.

4. Bentuk kewajiban yang paling jelek adalah utang bank, obligasi, senior notes, dan
semacamnya. Sebab bunga yang harus dibayar dari pinjaman-pinjaman tersebut dapat
dengan mudah menggerogoti laba bersih perusahaan, sehingga sebuah perusahaan
bisa saja mengalami rugi bersih karena besarnya bunga pinjaman, meski
pendapatannya sebenarnya meningkat. Hati-hati jika sebuah perusahaan memiliki
banyak utang dalam bentuk-bentuk tersebut dalam susunan kewajibannya.

5. Pada ekuitas, perhatikan apakah jumlah ekuitas yang besar memang berasal dari
saldo labanya, atau berasal dari poin-poin lainnya, seperti tambahan modal disetor dll.
Hal ini sebenarnya bisa langsung dilihat dengan membaca EER. Tapi lebih baik jika
anda mengeceknya agar lebih pasti. Berikut adalah contoh LK dengan komposisi
ekuitas yang nggak bagus:

8
Perhatikan bagian yang ditandai: Disana tampak bahwa ekuitas perusahaan naik
drastis dari Rp 2.6 trilyun pada 1H09, menjadi Rp 7.6 trilyun pada 1H10. Padahal
saldo labanya sendiri hanya naik sedikit, yaitu dari Rp 644 milyar menjadi Rp 810
milyar. Lalu dari mana sumber peningkatan ekuitas tersebut? Ternyata dari tambahan
modal ditempatkan dan disetor. Seperti yang bisa anda lihat, tambahan modal disetor
meningkat dari Rp 1.6 trilyun menjadi Rp 5.5 trilyun. Peningkatan ekuitas ini sekilas
membuat perusahaan menjadi tampak lebih baik, karena rasio EDR-nya membaik,
padahal sebenarnya tidak.

LK diatas adalah milik Bakrie Sumatra Plantations (UNSP). Tambahan modal disetor
sebesar Rp 5.5 trilyun tersebut berasal dari right issue perusahaan pada sekitar awal
tahun 2010. Itu sebabnya right issue tidak pernah disukai investor karena hanya
membuat perusahaan menjadi lebih besar, namun fundamentalnya justru menjadi
lemah, karena porsi saldo laba terhadap total ekuitasnya menjadi sangat kecil.

Meski demikan, ekuitas UNSP diatas terbilang masih lumayan karena saldo labanya
masih positif, dan memang meningkat. Di BEI ada banyak perusahaan yang
kerjaannya merugi melulu sehingga posisi saldo labanya negatif (defisit). J ika anda
melihat bahwa saldo laba sebuah perusahaan minus, maka tidak ada toleransi: jangan
beli sahamnya!

Lima poin diatas adalah yang perlu diperhatikan dari halaman neraca. Anda bisa
menambahkan poin-poin lainnya jika perlu. Dan berikut ini adalah yang perlu
diperhatikan dari halaman laba rugi.

1. Idealnya, sebuah perusahaan seharusnya mengalami peningkatan pendapatan dan
laba secara konstan setiap tahunnya, sehingga perusahaan yang baik adalah yang
pendapatan, laba operasional, dan laba bersihnya senantiasa lebih besar dari periode
sebelumnya.

2. Yang paling harus dicermati adalah beban atau pendapatan non operasional.
Perusahaan yang baik biasanya tidak memiliki beban non operasional dalam nilai
besar yang bisa menggerus laba bersih, seperti bunga utang, beban karena selisih kurs,
dll. Idealnya beban non operasional tidak lebih dari pajak saja, dan beban-beban
lainnya seperti faktor kurs Rupiah, yang jumlahnya kecil.

3. Logikanya, laba bersih nilainya lebih kecil dari laba usaha (karena sudah dikurangi
pajak). J ika terjadi sebaliknya (laba bersih lebih besar dari laba usaha), maka biasanya
itu karena perusahaan mendapat tambahan pendapatan diluar pendapatan secara
operasional. J ika tambahan pendapatan tersebut bersifat nyata, seperti laba dari
perusahaan asosiasi, maka itu bagus. Tapi jika tambahan pendapatan tersebut bersifat
tidak nyata, seperti revaluasi, pendapatan kurs, keuntungan dari perubahan nilai
obligasi, pendapatan dari penjualan aset dsb, maka itu buruk.

4. EPS yang dicantumkan dibawah laba bersih terkadang ada dua, yitu EPS dasar dan
EPS terdilusi. J ika demikian, maka ambil nilai EPS yang terdilusi. EPS terdilusi
adalah EPS yang dihitung berdasarkan jumlah saham yang terbaru, yang mungkin
bertambah atau berkurang dibanding jumlah saham sebelumnya, karena right issue
dsb.

9

5. Menilai Harga Wajar Saham

Untuk menentukan harga wajar saham, caranya sangat mudah karena poin-poin yang
harus diperhatikan hanya sedikit, meski untuk lebih akuratnya dibutuhkan
pengalaman yang cukup. Berikut adalah analisis harga saham dari LK UNVR diatas:

Tabel 3
Current Price (Rp) 17,150
Mkt Cap (billion Rp) 130,855
Mkt Cap/Assets (X) 13.4
Annualized PER (X) 37.0
PBV (X) 43.3

Cara membaca tabel 3 diatas adalah kebalikan dari cara membaca tabel 2: semakin
besar angkanya, semakin mahal sahamnya. Berikut penjelasannya:

Kapitalisasi pasar alias market capitalization, biasa disingkat Mkt Cap, adalah
harga perusahaan di pasar modal. Cara ngitungnya, harga saham dikali jumlah
saham. Karena ketika e-book ini ditulis harga UNVR berada di posisi 17,150, maka
pada contoh ini, angka Rp 130.9 trilyun diatas diperoleh dari Rp 17,150 x 7,630 juta
lembar saham =Rp 130.9 trilyun. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa jika
seseorang ingin mengakuisisi 100% saham UNVR, maka orang tersebut harus
merogoh kocek hingga Rp 130.9 trilyun.

Mkt Cap sebesar Rp 130.9 trilyun tersebut adalah 13.4 kali aset dari UNVR sendiri,
yang cuma Rp 9.8 trilyun, dan 43.3 kali ekuitasnya, yang cuma Rp 3.2 trilyun
(perhatikan poin PBV). PBV adalah singkatan dari Price to Book Value, alias nilai
saham dibanding nilai buku. Anda tidak perlu pusing dengan istilah ini, karena
rumusnya sederhana: market cap dibagi ekuitas, itu saja.

Melihat PBV UNVR yang mencapai 43.3 kali, apa itu artinya? Artinya saham UNVR
pada harga 17,150 terbilang sangat mahal, karena rata-rata PBV di BEI hanya di
kisaran 2 3 kali. Tapi mengingat kinerja UNVR yang sangat solid selama bertahun-
tahun dan terus berlanjut hingga 1H10 kemarin, maka dari sisi kinerjanya, harga
17,150 tersebut dapat dikatakan masih wajar, meski tentunya tidak bisa dikatakan
murah.

Annualized PER adalah Price to Earning Ratio yang sudah disetahunkan. PER
adalah harga saham dibandingkan dengan laba bersih yang diperoleh perusahaan per
lembar sahamnya. Rumusnya, harga saham dibagi EPS (Earning Per Share). Angka
37.0 kali diatas diperoleh dari Rp 17,150 : (Rp 232 x 2) =37.0 kali. Kenapa EPS-nya
dikali dua? Baca lagi penjelasan diatas soal Annualized atau disetahunkan.

Seperti PBV, PER 37.0 kali tersebut juga menunjukkan bahwa harga saham UNVR di
posisi 17,150 terbilang mahal, karena rata-rata PER di BEI hanya 4 8 kali dalam
kondisi IHSG bearish (turun melulu), 8 15 kali dalam kondisi IHSG normal, dan 15
25 kali dalam kondisi IHSG bullish (naik melulu). Namun sekali lagi, karena
UNVR kinerjanya sangat baik, maka PER yang terbilang tinggi tersebut masih bisa
disebut wajar.
10
Ketika anda sudah menemukan angka PER dan PBV sebuah saham, dan sudah
membandingkannya dengan kinerja perusahaannya, maka itu belum menghasilkan
kesimpulan yang lengkap. Anda masih harus membandingkannya dengan saham
perusahaan lain di sektor yang sama, atau perusahaan dengan ukuran setara.
Contohnya jika ingin menilai harga wajar ADRO, maka anda harus
membandingkannya dengan BUMI, PTBA, ITMG, BRAU, dst. Simpel saja: jika PER
atau PBV sebuah saham ternyata lebih kecil dari rata-rata PER dan PBV sektornya,
maka saham tersebut bisa dikatakan masih murah. Tapi sekali lagi, lihat kinerjanya.

Hati-hati pada saham yang PER dan PBV-nya kecil, sehingga bisa dikatakan murah,
tapi begitu anda analisis kinerjanya ternyata berantakan. Di BEI bahkan terdapat
cukup banyak saham yang sudah kinerjanya buruk, harga sahamnya mahal pula.

Catatan:
1. J ika sebuah emiten melakukan penambahan jumlah saham yang beredar,
misalnya dengan cara right issue, maka biasanya harga sahamnya akan turun,
karena nilai market cap-nya akan menyesuaikan diri. Maka tak heran kalau
menjelang right issue, biasanya harga sebuah saham akan dikerek terlebih
dahulu, agar nanti ketika jatuh, sebenarnya itu tidak jatuh melainkan kembali
ke posisi semula.
2. Di BEI, jarang ada saham yang PBV-nya dibawah 1.0 kali. J ika ada, maka itu
berarti harga sahamnya murah sekali. Namun nilai PBV yang kecil tidak selalu
bermakna harga sahamnya murah, tapi bisa juga karena nilai ekuitasnya yang
besar. Oleh karena itu, jika menemukan saham dengan PBV kelewat kecil,
maka coba cek ekuitasnya: apakah memang besar karena besarnya saldo laba
atau bukan (contohnya kaya UNSP diatas, PBV-nya jadi kecil karena
ekuitasnya meningkat drastis, padahal peningkatan tersebut bukan berasal dari
kinerja perusahaan).
3. Sebuah saham yang PER-nya tinggi namun PBV-nya kecil, bisa jadi karena
labanya kecil sekali (bisa ditunjukkan dari ROE-nya yang biasanya gak
nyampe 10%). Karena sebaiknya kita memilih perusahaan yang profitable
(menguntungkan, laba bersihnya besar), maka sebaiknya jangan memilih
saham yang seperti itu.
4. Seperti yang sudah disebutkan diatas, rata-rata PBV di BEI adalah 2 3 kali,
sementara rata-rata PER tergantung dari kondisi IHSG. Sekali lagi, untuk
menentukan apakah harga sahamnya mahal atau tidak berdasarkan PER dan
PBV, maka sebelumnya anda harus menilai apakah kinerja perusahaannya
bagus atau tidak.
5. PER bisa bernilai minus, jika laba bersih perusahaan bernilai minus (rugi).
PBV juga bisa bernilai minus, jika ekuitas perusahaan bernilai minus
(defisiensi modal). J ika anda menemukan bahwa PER atau PBV sebuah saham
bernilai negatif, apalagi dua-duanya, maka jangan beli saham tersebut.
6. Terkadang, sebuah saham memiliki PER yang rendah karena laba bersihnya
besar, sehingga kita bisa katakan harga sahamnya murah. Tapi kok sahamnya
ga naik-naik? Kalau begitu coba cek lagi: apakah laba bersih yang besar
tersebut berasal dari aktivitas operasional perusahaan, ataukah berasal dari
pendapatan-pendapatan yang aneh-aneh diluar operasional? Maka penting
bagi kita untuk juga memperhatikan laba usaha selain laba bersih.


11
6. Bagaimana jika LK-nya dalam US Dollar, bukan Dalam Rupiah?

J ika sebuah emiten menyusun LK-nya dalam USD, misalnya LK-nya BUMI, maka
sebelum menghitung PBV dan PER, ekuitas dan EPS yang tercantum di LK-nya
dibuat menjadi Rupiah dulu. Caranya? Ya tinggal dikali kurs Rupiah saja, katakanlah
sekitar Rp 9,000 per dollar.

Misalnya, nilai ekuitas BUMI pada 1H10 adalah US$ 1.47 milyar. Setelah dikali Rp
9,000, maka hasilnya Rp 13.2 trilyun. Angka 13.2 trilyun inilah yang dibandingkan
dengan market cap, sehingga akan menghasilkan PBV.

Demikian juga dengan PER. EPS dilusian BUMI pada 1H10 adalah US$ 6.94 per
1,000 lembar saham. Setelah dikali Rp 9,000, maka hasilnya Rp 62,460 per 1,000
lembar saham, alias Rp 62.5 per lembar saham. Angka Rp 62.5 inilah yang
dibandingkan dengan harga saham BUMI, sehingga akan menghasilkan PER.


7. Kelebihan Melakukan Analisis Sendiri

Tanpa perlu melakukan analisis pun, anda sebenarnya bisa membaca rekomendasi
yang disajikan para analis sekuritas. Selain itu, rata-rata software untuk trading saham
juga sudah menyediakan data-data fundamental saham secara komplit, seperti PER,
PBV, ROE, dan sebagainya. Namun, ada beberapa kelebihan jika anda melakukan
analisis sendiri dari sebuah LK:

Pertama, anda bisa langsung melakukan analisis begitu sebuah emiten merilis LK
terbarunya di website BEI (www.idx.co.id), sehingga anda bisa langsung menentukan
keputusan untuk buy atau sell, sebelum sahamnya keburu naik atau turun duluan.
Sementara update LK terbaru di software trading biasanya agak terlambat. Tidak
semua data dari LK terbaru langsung dengan seketika masuk ke software begitu LK
tersebut dirilis.

Kedua, data-data fundamental yang disajikan software trading tidak selengkap jika
anda menganalisis sendiri. Anda tidak akan menemukan data komponen beban non
operasional, komponen ekuitas dll di software, kecuali jika anda membaca sendiri
LK-nya. Singkatnya, software tidak menyajikan analisis fundamental yang mendetail.

Ketiga, dalam menganalisis diperlukan pula intuisi dan pendapat dari anda pribadi
dalam menyimpulkan apakah sebuah saham layak dikoleksi atau tidak. Analis
sekuritas dalam menyajikan analisisnya, juga sama seperti itu. Biasanya intuisi ini
akan semakin tajam seiring bertambahnya pengalaman. Meski memang anda
sebaiknya mempertimbangkan pendapat dari orang lain sebelum anda mengambil
keputusan, namun akan lebih baik lagi jika anda juga bisa menilai kinerja sebuah
emiten dan harga sahamnya berdasarkan intuisi anda sendiri.

Dan keempat, tidak semua rekomendasi atau rumor yang anda baca benar-benar
murni rekomendasi. Beberapa malah cenderung merupakan pesanan dari pihak-pihak
tertentu. J adi misalnya anda membaca rekomendasi untuk membeli sebuah saham,
namun setelah anda analisis sendiri ternyata saham tersebut justru jelek, maka anda
tidak akan terjebak.
12
8. Menganalisis Dalam Hitungan Menit?

Penulis pribadi dalam melakukan analisis, adalah cukup dengan meng-copy paste
data-data dari LK ke tabel 1. Sementara tiap sel di tabel 2 dan tabel 3 sudah diisi
dengan rumusnya masing-masing, sehingga angkanya akan berubah dengan
sendirinya begitu data-data di tabel 1 terisi. Yap, hanya copy paste saja.

Setelah membaca ketiga tabel tersebut, penulis lalu sekali lagi membaca LK-nya
untuk analisis yang lebih detail, dan membandingkan PER dan PBV dari saham yang
bersangkutan dengan PER dan PBV dari saham lainnya sebagai perbandingan.
Seluruh proses tersebut hanya memakan waktu paling lama 10 menit.


9. Lain-Lain

1. J ika anda ingin membaca kinerja perusahaan yang historis, maka anda bisa men-
download Annual Report dari emiten yang bersangkutan, juga di www.idx.co.id, yang
diterbitkan setiap akhir tahun (biasanya pada bulan April, bersamaan dengan
dirilisnya LK untuk kuartal pertama). Disana dicantumkan kinerja perusahaan selama
lima tahun terakhir. Cara membaca dan menganalisisnya sama saja dengan membaca
LK terbaru.

2. Pengetahuan akan analisis fundamental mutlak diperlukan untuk investasi mid dan
long term. J ika anda membuka rekening sekuritas dalam rangka berinvestasi di pasar
modal, dan bukan untuk trading yang beresiko tinggi, maka anda wajib menguasai
analisis fundamental ini, setidaknya secara basic. Membeli saham tanpa informasi
lengkap mengenai fundamentalnya, adalah sama seperti membeli kelinci dalam
kardus.

3. J ika anda bisa memadukan analisis fundamental dengan analisis teknikal, maka
anda bisa meraih gain yang besar dari market dengan cara aktif melakukan buy dan
sell pada saat-saat tertentu, namun resikonya tentu lebih tinggi.

4. Akhir kata, good luck!



Kunjungi blog penulis yang diupdate setidaknya sekali setiap minggu. Disana
disajikan banyak sekali informasi menarik seputar saham di BEI:
www.teguhidx.blogspot.com

Regards,
TH

*) Ebook ini bersifat gratis dan terbuka, sehingga boleh disebar luaskan tanpa mengubah isi yang
terkandung di dalamnya. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.
13