Anda di halaman 1dari 14

Home About Me Jual Suplemen Otak SagePlus Privacy Policy Contact Me

Laporan Praktikum Sediaan Steril Tetes Mata Kloramfenikol


Posted on | June 29, 2012 | No Comments PRAFORMULASI I.1

TINJAUAN FARMAKOLOGI BAHAN OBAT Kloramfenikol merupakan antibiotika yang mempunyai daya antimikroba yang kuat. Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptide pada proses sintesis protein kuman. Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi, kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Spektrum antibaktei kloramfenikol cukup luas dan kebanyakan kuman anaerob. Indikasi: Konjungtivitis akut dan kronis disebabkan mikroorganisme E. coli, H. influenzae, Staph. aureus, Strep. hemolitikus; keratokonjungtivitis, iritis, uveitis, trakoma, dakriosistitis. Kontraindikasi: Hipersensitivitas, myelosuppresion, histori diskaria, anemia aplastik. Efek samping: Dapat terjadi pembengkakan sekitar mata atau eritema yang hebat, erupsi papilomakuler sekitar mata, alergi.

(Farmakologi UI)

I.2

TINJAUAN SIFAT FISIKA KIMIA BAHAN OBAT 1. Struktur dan berat molekul

C11H12Cl2N2O5 OH CH2OH O2N H H H O C H C BM : 323,13 N C CCl2

1. Kelarutan

Dalam air : sukar larut dalam air (1 : 400) Dalam etanol : mudah larut (1 : 2,5) Dalam CHCL3 : sukar larut Kelarutan dalam propilen glikol 1:7, sukar larut dalam eter, mudah larut dalam aseton, dalam etil asetat, sedikit larut dalam asam dan alkali, tidak larut dalam benzena. Penambahan benzalkonium klorida (BKC) dapat meningkatkan kelautan dalam air (Codex)

1. Stabilitas

Terhadap cahaya :

tidak stabil

Exposure kloramfenikol (eye drops, 10 mg/L, dapar fosfat pH 7,0) terhadap cahaya matahari menyebabkan degradasi 80% dalam waktu 45 menit. (Codex)

Terhadap suhu

: tidak stabil

Pada larutan air akan terhidrolisis 4% (pemanasan 100C, 3 menit) dan 10% (pemanasan 115C, 30 menit). Pada pH 7,2 lebih cepat terdegradasi daripada di pH 4,8 (pemanasan 100C/120C).

Terhadap pH

: pH larutan jenuh 4,5-7,5 (Farmakope Indonesia IV)

pH stabilitas optimum 6,0

Stabil terhadap larutan netral dan asam, cepat rusak oleh larutan alkali (Remington) Stabil pada pH yang luas untuk larutan air (pH 2-7)

Terhadap oksigen :

tidak stabil

1. Titik lebur : 149C 153C 1. Inkompatibilitas :


Dengan parasetamol : menurunkan waktu paruh kloramfenikol dan meningkatkan klirens Dengan kontrasepsi oral : menurunkan efikasi kontrasepsi oral Dengan diuretik : meningkatkan ekskresi kloramfenikol (furosemid)

menurunkan ekskresi kloramfenikol (HCT)

I.3

BENTUK SEDIAAN, DOSIS DAN CARA PEMBUATAN

Bentuk sediaan : Larutan tetes mata kloramfenikol Dosis : Tetes mata mengandung kloramfenikol 0,5% Cara pemberian : Beberapa kali sehari (Farmakologi UI)

Sesekali selama 4-12 jam sehari

BAB II FORMULASI

Bentuk dan volume sediaan yang dibuat : Larutan tetes mata kloramfenikol volume 5 ml

II.1 1. 2. 3. 4. 5. 6.

PERMASALAHAN Kloramfenikol tidak stabil terhadap cahaya Kloramfenikol tidak stabil terhadap pemanasan Kelarutan kloramfenikol dalam air keci (1:400), sedangkan dosis sediaan 0,5% (1:200) Sediaan multiple dose sehingga dapat terjadi kontak langsung dengan udara dan mikroba pH optimum kloramfenikol = 6 Kloramfenikol tidak stabil terhadap oksigen

II.2

PENYELESAIAN MASALAH

1. Dipilih wadah sediaan yang tidak tembus cahaya 2. Sterilisasi dengan cara filtrasi butuh ruangan khusus (teknik aseptik) Atau dengan suhu rendah (98C-100C) autoklaf dengan tekanan tidak terlalu tinggi 1. 2. 3. 4. Dibuat sediaan menggunakan dapar sitrat pH 6 Ditambahkan pengawet tertentu pH sediaan dibuat 6 Pada pembuatannya dialiri gas inert, misalnya N2. Atau ditambah antioksidan

II.3

MACAM-MACAM FORMULASI

Kloramfenikol Eye Drops (Martindale 28th ed. page 1141) 1. Kloramfenikol Borax Asam borat 500 mg 300 mg 1,5 g

Phenyl mercuric nitrate 2 mg WFI ad 100 ml

II.4

FORMULA YANG DIBUAT 0,5% 0,16% 1,9% 0,01% 25 mL

Kloramfenikol Asam sitrat Natrium sitrat Benzalkonium klorida WFI steril ad

Akan dibuat 3 botol @ 5 ml, maka volume yang dibuat adalah = ( 3 5 ml ) + 20% = 18 ml ? 25 ml Berat : Kloramfenikol Asam sitrat Natrium sitrat 0,1% = 0,5% 25 ml = 125 mg

= 0,16% 25 ml = 40 mg = 1,9% 25 ml = 475 mg

Benzalkonium klorida

= 0,01% 25 ml = 2,5 ml

Water For Injection (WFI) ad 25 ml Nama Bahan Fungsi KloramfenikolAsam Bahan sitrat aktifDapar Na sitrat BKC WFI Dapar mudah larut air 5-8 Pengawet Pembawa Autoklaf Autoklaf Kelarutan pH stabilitas CaraSterilisasi 1 : 400 ( air )- 6AutoklafAutoklaf Autoklaf

Cara sterilisasi sediaan : Filtrasi teknik aseptis

BAB III PELAKSANAAN

III.1

CARA KERJA

1. Ditimbang 125 mg kloramfenikol dengan gelas arloji steril 2. Ditimbang 40 mg asam sitrat dengan gelas arloji steril 3. Ditimbang 475 mg Na sitrat dengan gelas arloji steril QC : Kecocokkan bahan dan jumlah penimbangan 1. Ukur larutan benzalkonium klorida 0,1% 2,5 ml dalam gelas ukur 10 ml 2. (2) + WFI 20 ml diaduk ad larut dengan batang pengaduk steril dalam beaker glass 50 ml 3. (5) + (3) diaduk ad larut dengan batang pengaduk steril 4. (6) + (4) diaduk ad homogen dengan batang pengaduk steril QC : Kejernihan dan cek pH

1. (7) dicek pH dengan cara meneteskan sedikit larutan pada kertas indikator yang diletakkan pada gelas arloji steril ? cek pH = 6 2. (8) + (1) diaduk ad larut dengan batang pengaduk steril (untuk mempercepat kelarutan dapat menggunakan pemanasan) cek pH= 6 10. (9) dituang dalam gelas ukur 25 ml dan ditambahkan WFI ad 25 ml 11. (10) disaring menggunakan corong gelas dengan kertas saring 0,45 mm ditampung dalam erlenmeyer 50 ml cek kejernihan 12. (11) diambil dengan spuit injeksi 5,0 ml ganti jarum dengan filter holder 0,2 mm 13. (12) ditekan masuk ke dalam botol tetes kemudian ditutup 14. (13) diberi etiket, dimasukkan kemasan sekunder dan diberi brosur.

Keterangan Poin 1 4 : Tahap penimbangan bahan Poin 5 10 : Tahap pelarutan dan pencampuran III.2 ALAT ALAT YANG DIGUNAKAN DAN CARA STERILISASINYA

No. 12 3

Nama Alat Ukuran Gelas arlojiBatang pengaduk kecil Penara logam 50 ml Pipet tetes 10 ml

Jumlah CaraSterilisasi Suhu Waktu o o 41 OvenOven 180 C180 C 30`30` q.s 1 2 1 1 1 3 1 Oven Oven Oven Oven Autoklaf Autoklaf Autoklaf Oven 250oC 180oC 180oC 180oC 115oC 115oC 115oC 180oC 60` 30` 30` 30` 30` 30` 30` 30`

4 Beaker gelas 5 Pinset logam 6 Spatel logam 7 Gelas ukur

8 9

10

Erlenmeyer Corong gelas + kertas saring

25 ml panjang 50 ml

Autoklaf

115oC

30`

11 Spuit injeksi 12 Filter holder + membran 0,2 mm 13 Wadah + tutup

Autoklaf 1 Autoklaf

115oC 115oC

30 30

kecil

5 ml 5 ml

Autoklaf

115oC

30

BAB IV EVALUASI

IV. 1 UJI TEKANAN TITIK GELEMBUNG (Bubble Point Test) Uji tekanan titik gelembung dilakukan untuk mengetahui integritas dari pasangan penyaring. Uji ini dilakukan sebelum dan atau sesudah proses penyaringan. Cara kerja : Untuk membran penyaring berdiameter 13 mm dan 25 mm 1. Isi semprit injeksi dengan 2 ml aquadest steril 2. Pasang filter holder pada ujung semprit, kemudian tekan penyemprit hingga membran penyaring dalam filter holder terbasahi. 3. Lepas filter holder dari semprit injeksi 4. Isi semprit injeksi dengan udara sampai tanda 5 ml. 5. Pasang filter holder pada ujung semprit. 6. Siapkan gelas piala 100 ml, isi dengan aquadest steril.

7. Letakkan filter holder sampai tercelup di bawah air. 8. Tekan penyemprit dan catat kedudukannya pada saat gelembung udara pertama keluar dari ujung filter holder. Volume udara yang tersisa dalam semprit (V) harus lebih kecil dari bilangan tercantum dalam tabel.

Tabel Hubungan diameter membran ukuran pori dan volume udara sisa pada tekanan titik gelembung dengan menggunakan semprit injeksi 5 ml Diameter 13 mm 25 mm Ukuran pori 0,2 mm 0,2 mm 0,45 mm 1,2 mm : Volume 0,8 ml Rata-rata = 0,767 ml Volume 0,8 ml 0,7 ml 1.0 ml 2,3 ml Hasil Bubble Point Test Replikasi I : Volume 0,7 ml Replikasi II

Replikasi III : Volume 0,8 ml Volume udara yang tersisa dalam semprit lebih kecil dari 0,8 ml (memenuhi syarat).

IV. 2 BEBAS PARTIKEL Penyaring membran dibebaskan dari partikel, kemudian sediaan disaring dengan penyaring membran. Seluruh penyaring membran diamati dibawah mikroskop yang sesuai dengan perbesaran 100 kali, dengan penyinaran pada sudut 10?-20? terhadap garis horizontal. Dihitung jumlah partikel dimensi partikel dimensi 10 m/7,25 m. Syarat: mengandung tidak lebih dari 50 partikel/ml yang berukuran lebih dari sama dengan 10 m dan tidak lebih 5 partikel lebih dari sama dengan 25 m dalam dimensi linier.

IV. 3 PENETAPAN pH Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat mendekati pH fisiologis mata. Dalam praktikum ini, pH sediaan dibuat 6. Untuk evaluasi, pH larutan dicek dengan menggunakan pH meter.

IV. 4 VOLUME Pada wadah diberi tanda, dan tanda tersebut dapat diamati bila volume kurang dari yang seharusnya. Bila berkurang karena penguapan saat pemanasan, misalnya dapat ditambahkan. Syarat: volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah

IV. 5 UJI STERILISASI MENGGUNAKAN PENYARINGAN MEMBRAN Alat : membrane filter ukuran 0,45 m, diameter 47 mm.

Filter holder dan spuit injeksi. Prosedur : 1. Buatlah media uji yang terdiri dari media uji untuk inokulasi 15 ml dan media uji untuk membran 100 ml 2. Pindahkan volume yang didinginkan untuk kedua media sebanyak 20 wadah 3. Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring dengan tekanan bantuan pompa vakum atau

IV. 6 PENETAPAN KADAR Alat : Kromatografi Cair Kinerja tinggi

Prosedur : 1. Buat larutan baku : timbang seksama sejumlah kloramfenikol, larutkan dalam fase gerak dan encerkan secara kuantitatif 2. Buat larutan uji : ukur seksama sejumlah volume sediaan uji setara dengan lebih kurang 50 mg kloramfenikol, masukkan kedalam labu ukur 100 ml, tambahkan fase gerak sampai tanda. Pipet 5 ml larutan ke dalam labu ukur 25 ml ad.kan sampai tanda. Saring melalui penyaring dengan porositas 0,5 m atau lebih kecil dan gunakan filtrat yang jernih sebagai larutan uji 3. Fase gerak = air : metanol : asam asetat glasial (55:45:0,1) 4. Suntikkan secara terpisah masing-masing sejumlah volume sama (10L) larutam baku dan larutan uji ke dalam kromatografi, rekam dan ukur respon puncak utama, hitung jumlah dalam mg, dengan rumus : 2,5C (ru/rs)

Ket : C

= kadar kloramfenikol dalam g/ml

ru dan rs = respon puncak larutan baku dan uji.

BAB V PEMBAHASAN

Sediaan tetes mata adalah sediaan steril yang bebas dari partikel asing dan mikroorganisme, dibuat dengan cara yang sesuai serta dikemas untuk digunakan pada mata. Struktur penyusun organ mata bersifat sensitif sehingga mudah terluka dan terinfeksi bila terkena partikel asing dan bakteri. Mata juga dilindungi oleh cairan-cairan (mengandung enzim yang bersifat bakteriostatik) yang dihasilkan kelenjar air mata. Cairan mata juga merupakan cairan steril yang secara terus menerus membilas mata dari bakteri, debu dan lain-lain. Karena hal-hal tersebut, maka sediaan mata harus steril. Bahan tambahan dan cara pembuatan obat tetes mata sangat tergantung dari sifat fisika kimia bahan aktifnya. Pada sediaan parenteral, termasuk sediaan mata, bahan tambahan yang digunakan tidak terlalu banyak karena mempertimbangkan stabilitas dan tonisitas sediaan. Penggunaan bahan tambahan bertujuan untuk menjaga stabilitas kimia, memperbaiki efek klinis serta mengurangi ketidaknyamanan. Pada praktikum ini, bahan aktif yang digunakan adalah kloramfenikol. Kloramfenikol tidak stabil terhadap cahaya dan suhu. Oleh karena itu diperlukan perlakuan tertentu untuk menjaga stabilitas, yaitu menggunakan wadah sediaan yang tidak tembus cahaya serta menggunakan metode filtrasi untuk sterilisasi sediaan. Selain itu perlu ditambahkan dapar untuk menjaga pH sediaan agar sesuai dengan pH stabilitas kloramfenikol (4,5 7,5) dan diusahakan tidak terlalu jauh dari pH fisiologis mata (3,5 10,5) agar tidak menimbulkan rasa sakit dan iritasi saat penggunaan. Berdasarkan hal tersebut, maka dipilih dapar sitrat dengan pH 6. Sediaan obat tetes mata yang dibuat adalah multiple dose sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi bakteri selama pemakaian dan penyimpanan sediaan. Untuk mengantisipasi kontaminasi tersebut maka perlu ditambahkan bahan pengawet, yang terpilih adalah benzalkonium klorida.

Volume sediaan yang dibuat adalah 5 ml. Pada umumnya, volume sediaan tetes mata tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan jaminan sterilitas sediaan tetes mata multiple dose hanya sekitar satu bulan. Jika lebih lama dari itu, dikhawatirkan telah banyak mikroorganisme yang mengkontaminasi sediaan sehingga akan menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sterilisasi dilakukan dengan filtrasi teknik aseptis, sehingga proses pembuatan sediaan ini dilakukan di dalam laminar air flow (LAF). Setelah menimbang seluruh bahan, dapar dilarutkan dalam WFI steril dan ditambahkan bahan aktif. Kemudian dimasukkan pengawet sambil dicek pHnya. Selanjutnya sediaan disaring sebanyak dua kali, yang pertama disebut klarifikasi dengan tujuan untuk menurunkan jumlah partikel dan mengurangi bioburden. Klarifikasi dilakukan dengan menggunkan kertas saring Whatman 54 dengan diameter pori 0, 45 m. Penyaringan yang kedua (filtrasi) bertujuan untuk membebaskan larutan dari bakteri, dilakukan dengan menggunakan filter membran dengan diameter pori 0,2 m. Proses filtrasi ini sekaligus pengisian ke dalam wadah dan merupakan tahapan yang paling kritis, karena sebelum melewati membran, larutan masih belum steril, namun larutan yang telah melewati membran dan menetes masuk ke wadah sediaan adalah larutan yang sudah steril, sehingga sterilitas sediaan tetes mata sangat ditentukan pada tahap ini. Untuk menguji sterilitas sediaan tetes mata yang telah dibuat maka dapat dilakukan beberapa uji evaluasi, diantaranya bubble point test, uji sterilitas, uji bebas partikel, cek pH dan volume sediaan akhir, serta penetapan kadar.

BAB VI KESIMPULAN

pH akhir sediaan tetes mata = 6.

Hal ini berarti pH yang dicapai telah sesuai dengan yang diinginkan.

Hasil Bubble Point Test :

Volume udara yang tersisa dalam semprit adalah 0,767 ml (lebih kecil dari 0,8 ml) memenuhi syarat

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswara, S. G. 1995 Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hal. 657-659.

Lund, W. 1994. The Pharmaceutical Codex. Principles and Practice of Pharmacutics. Twelfth Edition. London : The Pharmaceutical Press. p.786-790.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Connors, K.A., 2000. Complex Formation, In: Alfonso R. Gennaro (Ed.), Remington: The Science and Practice of Pharmacy, 20th ed., Philadelphia: Lippincott Williams and Walkins. p. 1210.

Reynolds, 1992. Martindale, The Extra Pharmacopeia, 28th ed., London: The Pharmaceutical Press. p. 1141.