Anda di halaman 1dari 7

Naskah Publikasi, November 2008

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Pengaruh Lamanya Posisi Kerja Terhadap Keluhan Subyektif Low Back Pain Pada Pengemudi Bus Kota di Terminal Giwangan Yogyakarta
Risyanto; Sunarto; Zainuri Sabta Nugraha

Abstrak
Latar Belakang: Pengemudi merupakan salah satu jenis pekerjaan mempunyai resiko gangguan pada otot. Posisi duduk yang salah adalah fakor penyebab yang sering ditemukan. Kondisi ini juga dialami oleh para pengemudi bus kota di Yogyakarta yang setiap harinya melayani peduduk Yogyakarta dengan mobilitas yang tinggi. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aspek-aspek usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, BMI, lama bekerja serta riwayat Low Back Pain pada pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta, untuk mengetahui pengaruh lamanya posisi kerja sebagai pengemudi bus kota teradap keluhan subyektif Low Back Pain pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta, dan untuk mengetahui tingkat Low Back Pain pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analitik mengenai pengaruh lamanya posisi kerja terhadap keluhan subyektif Low Back Pain pada pengemudi bus kota di terminal Giwangan Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan cara survey kepada responden. Penelitian dilakukan di Terminal Pusat Giwangan Yogyakarta. Populasi sekaligus subyek penelitian adalah seluruh pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta. Metode analisis data pertama akan dideskripsikan mengenai persebaran dari responden penelitian meliputi jenis kelamin, umur, lama kerja BMI, dan VAS. Sedangkan untuk mengetahui hubungan lamanya posisi duduk tidak benar beserta variable penggangu dengan keluhan suyektif Low Back Pain menggunakan metode Pearson Correlation. Hasil: Berdasarkan hasil analisis korelasi antara lamanya posisi kerja dengan keluhan subyektif Low Back Pain pada pengemudi bus kota menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara lamanya posisi duduk dengan keluhan subyektif Low back Pain pada pengemudi bus kota. Kesimpulan: lamanya posisi duduk tidak berubungan secara signifikan dengan keluhan subyektif Low Back Pain pada pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta. Kata kunci: Lama posisi kerja, keluhan subyektif Low Back Pain, pengemudi bus kota. 1

Pendahuluan
Pengemudi merupakan salah satu jenis pekerjaan sektor informal yang mempunyai resiko gangguan kesehatan berupa gangguan pada otot. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kusiyono (2004) menyebutkan bahwa gangguan otot akan diperberat oleh situasi tertentu misalnya posisi duduk yang tidak benar, usia, postur tubuh serta kursi yang tidak ergonomis. Kesekian faktor yang menyebabkan keluhan gangguan otot maka posisi duduk yang tidak benarlah faktor paling banyak ditemukan. Posisi duduk yang tidak alamiah atau tidak ergonomis akan menimbulkan kontraksi otot secara isometris (melawan tahanan) pada otot-otot utama yang terlibat dalam pekerjaan (Sutajaya, 1997). Otot-otot punggung akan bekerja keras menahan beban anggota gerak atas yang sedang melakukan pekerjaan. Akibatnya beban kerja bertumpu di daerah pinggang dan menyababkan otot pinggang sebagai penahan beban utama akan mudah mengalami kelelahan dan selanjutnya akan terjadi nyeri pada otot sekitar pinggang atau punggung bawah. Namun juga terdapat keluhan lain pada sopir karena posisi duduk yang tidak benar yaitu tumpuan lengan pada setir dan tumpuan kaki pada pedal (Lientje, 2000). Posisi kaki yang memendek akan menyebabkan tidak ada keseimbangan penyebaran gaya pada otot selain punggung bawah. Untuk memberikan tekanan pada kaki maka punggung bawah/pinggang melakukan gerakan tidak alamiah. Selain menyebabkan keluhan nyeri punggung bawah (Low Back Pain (LBP)), keluhan lain akibat posisi duduk yang tidak benar adalah nyeri tengkuk, dan kelelahan. Hal ini terungkap dalam penelitian Mulyawan (2006) bahwa gangguan otot pada pengemudi bus kota Non AC di kota Bandung yang sering dikeluhkan adalah kelelahan, nyeri tengkuk dan nyeri pada punggung bawah (Low Back Pain). Kondisi ini juga dialami oleh para pengemudi bus kota di Yogyakarta yang setiap harinya melayani penduduk Yogyakarta dengan mobilitas yang tinggi. Pengemudi bus kota di Yogyakarta dalam kesehariaanya bekerja dalam posisi duduk yang statis dan dalam jangka waktu yang lama, hal ini kemungkinan berpengaruh besar terhadap teradap terjadinya Low Pack Pain. Samara (2004) dalam Idyan (2007) mengemukakan bahwa posisi duduk baik tegak maupun membungkuk dalam jangka waktu lebih dari 30 menit dapat mengakibatkan gangguan pada otot.

Penelitian yang dilakukan Jimi (2007) mengidentifikasi ada hubungan yang bermakna antara duduk lama saat proses pembelajaran dengan gangguan pada otot. Penelitian tersebut dilakukan terhadap murid Sekolah Dasar di Sinduadi 1 Mlati Slemen yang usianya masih sangat muda.. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa 41,6 % murid menderita nyeri pinggang bawah selama duduk di kelas. Terdiri dari 30 % yang duduk selama satu jam, dan 70 % yang duduk lebih dari satu jam menderita nyeri pinggang bawah. Dari keteranganketerangan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti pengaruh lamanya posisi kerja sebagai pengemudi bus kota terhadap keluhan subyektif berupa Low Back Pain pada pegemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta. Penulis mengambilan lokasi di Terminal Giwangan karena berkaitan dengan fungsi Terminal Giwangan sebagai terminal bus angkutan dalam kota sehingga dimungkinkan untuk mendapatkan subjek penelitian yang lebih mudah.

penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% (Arikunto, 2002). Oleh karena itu, sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 25% dari populasi atau sebanyak: 0,25 x 483 orang = 121 orang Jadi sample penelitian ini adalah 121 orang pengemudi bus kota Yogyakarta yang ada di terminal Giwangan. Pertama akan dideskripsikan mengenai persebaran dari responden penelitian meliputi jenis kelamin, umur, lama kerja BMI, dan VAS. Sedangkan untuk mengetahui hubungan lamanya posisi duduk tidak benar beserta variable penggangu dengan gangguan Low Back Pain menggunakan metode Pearson Correlation. Alasan menggunakan korelasi Pearson Correlation karena penelitian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya pengaruh atau hubungan antara variabel bebas (x) dengan variabel tergantung (y) (Azwar, 1997). Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Correlation.

Metode
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analitik mengenai pengaruh lamanya posisi kerja terhadap keluhan subyektif Low Back Pain pada pengemudi bus kota di Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan cara survey kepada responden. Penelitian dilakukan di Terminal Pusat Giwangan Yogyakarta. Populasi sekaligus subyek penelitian adalah seluruh pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta. Kriteria inklusi, yaitu: Pengemudi utama (bukan cadangan) bus kota jenis KOPATA, ASPADA, KOBUTRI, atau PUSKOPAR di Terminal Giwangan Yogyakarta. Bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi, yaitu : Pengemudi bus kota selain jenis yang disebut diatas. Tidak bersedia menjadi responden Responden yang tidak mengembalikan kuesioner Variabel Penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah lamanya posisi kerja, dalam penelitian ini lamanya posisi kerjanya dalam posisi duduk. Variabel terikat keluhan subyektif Low Back Pain. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari subyek penelitian yang berasal dari kuisioner. Data dikumpulkan dengan cara kuisioner dan pengamatan. Kuesioner, yaitu serangkaian pertanyaan yang berisi hal-hal yang berkenan dengan identitas, dan riwayat low back pain pengemudi bus kota. Pengamatan, yaitu dengan cara melihat langsung ke lapangan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Populasi dalam penelitian ini adalah pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta yang berjumlah 483 orang. Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan 2

Hasil dan Pembuatan


Hasil Penelitian Karakteristik Responden. Penelitian dilakukan di Terminal Giwangan Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober-2 November 2008 dengan menyebarkan kuisioner kepada 121 responden. Selama penyebaran kuisioner peneliti memberikan dan menunggu responden untuk mengisinya sehingga dari 121 kuisioner yang disebar seluruhnya kembali untuk dilakukan analisis lebih lanjut. Umur responden. Sebaran umur responden adalah sebagai berikut: Tabel 1. Sebaran Responden Berdasarkan Umur (n=121) Usia 21-30 31-40 41-50 51-60 Jumlah Persen 23.97 25.62 37.19 13.22 100.00 Angka Kejadian (%) Tidak LBP LBP 37,93 62,07 41,94 58,06 33,33 66,67 18,75 81,25 34,71 65,29

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa mayoritas responden memiliki umur 41-50 tahun yaitu sebanyak 45 atau 37,19%, kemudian disusul usia 31-40 sebanyak 31 responden atau sebanyak 25,62%, kemudian usia 21-30 tahun sebanyak 29 tahun sebanyak 23,97%, dan usia 5160 sebanyak 16 orang atau 13,22%. Dalam kolom angka kejadian menunjukkan bahwa semakin tinggi kelompok umur responden prosentase responden yang menderita LBP semakin tinggi pula kecuali pada kelompok umur 21-30 tahun, hal ini sesuai dengan pendapat adelia (2007), bahwa umur merupakan salah satu faktor resiko terjadinya Low Back Pain. Adelia (2007) menyatakan nyeri biasanya mulai dirasakan pada mereka yang

berumur dekade kedua dan insiden tertinggi dijumpai pada dekade kelima. Bahkan keluhan nyeri pinggang ini semakin lama semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun. Berat Badan Responden. Sebaran berat badan responden adalah sebagai berikut: Tabel 2. Sebaran Responden Berdasarkan Berat Badan (n=121) Berat Badan (Kg) 50 51-60 61-70 71-80 81-90 >90 Jumlah Persen 11,6 28,9 40,5 12,4 5,0 1,7 100.0 Angka Kejadian (%) Tidak LBP LBP 28,57 71,43 40,00 60,00 30,61 69,39 26,67 73,33 66,67 33,33 50,00 50,00 34,71 65,29

LBP pada responden justru tertinggi terdapat pada kelompok dengan tinggi badan 151-155 cm (75,00%), dan ini bertentangan dengan pendapat Adelia (2007), yang menyatakan bahwa semakin tinggi tinggi badan seseorang maka semakin tinggi pula resiko terjadinya Low Back Pain pada seseorang. Ini kemungkinan terjadi karena jumlah responden yang berada dalam kelompok tinggi badan 150-155 cm sedikit jumlahnya (4 orang) berbeda dengan kelompok yang lain yang jumlah respondennya cukup banyak. Sebaran Indeks Massa Tubuh. Sebaran indeks masa tubuh responden adalah sebagai berikut: Tabel 4. Sebaran Indeks Massa Tubuh Responden (n=121) IMT <17 17-18,4 18,5-25 25,1-27 >27 Jumlah Persen 1.65 2.48 73.55 6.61 15.70 100.00 Angka Kejadian (%) Tidak LBP 50,00 0,00 35,96 25,00 36,84 34,71 LBP 50,00 100,00 64,04 75,00 63,16 65,29

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki berat badan 61-70 kg yaitu sebanyak 49 orang atau 40,5%, memiliki berat badan kurang dari 50 kg sebanyak 14 orang atau 11,6%, kemudian memiliki berat badan 51-60 kg sebanyak 35 orang atau 28,9%, memiliki berat badan 71-80 kg sebanyak 15 orang atau 12,4%, memiliki berat badan 8190 kg sebanyak 6 orang atau 5,0%. Dan sisanya sebanyak 2 orang atau 1,7% memiliki berat badan lebih dari 90 Kg. Angka kejadian Low Back Pain berdasarkan tabel diatas menunjukkan persebaran yang tidak teratur, dan ini tidak sesuai dengan teori bahwa kejadian Low Back Pain akan meningkat sesuai dengan meningkatnya berat badan seseorang. Hal ini dapat terjadi karena selain faktor berat badan juga terdapat faktor lain seperti umur, dan lama dia bekerja. Sebaran Tinggi Badan. Sebaran tinggi badan responden dalam cm adalah sebagai berikut: Tabel 3. Sebaran Tinggi Badan Responden (n=121) Tinggi Badan (Cm) 151-155 156-160 161-165 166-170 >170 Jumlah Persen 3.31 28.10 23.14 31.40 14.05 100.00 Angka Kejadian (%) Tidak LBP LBP 25,00 75,00 38,24 61,76 25,57 71,43 34,21 65,79 41,18 58,82 34,71 65,29

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki indeks massa tubuh 18,5-25 (normal) yaitu sebanyak 89 orang atau 73,55%, memiliki indeks massa tubuh >27 sebanyak 19 orang atau 15,70%, memiliki indeks massa tubuh 25,1-27 sebanyak 8 orang atau 6,61%, memiliki indeks masa tubuh 17-18,4 sebanyak 3 orang atau 2,48%, dan sisanya sebanyak 2 orang (1,65%) memiliki indeks masa tubuh <17. Perosentase tertinggi kejadi low back pain ada pada kelompok dengan IMT 17-18,4 (100,00%), kemudian disusul kelompok 25,1-27 (75,00%), kelompok 18,5-25 (64,04%), kelompok >27 (63,16%), dan prosentase terendah pada kelompok <17 (50,00%) Lama bekerja. Sebaran responden berdasarkan lama bekerja samapai sekarang dalam tahun adalah: Tabel 5. Sebaran Data Responden Berdasarkan Lama Bekerja (n=121) Lama Bekerja (tahun) 5 6-10 11-15 16-20 21-25 >25 Jumlah Persen 19.01 23.14 23.97 12,40 11.57 9.92 100.00 Angka Kejadian (%) Tidak LBP LBP 47,83 52,17 39,29 60,71 20,69 79,31 40,00 60,00 21,43 78,57 41,67 58,33 34,71 65,29

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tinggi badan 166-170 cm yaitu sebanyak 38 orang atau 31,40%, memiliki tinggi badan 156-160 cm sebanyak 34 orang atau 28,10%, memiliki tinggi badan 161-165 cm sebanyak 28 orang atau 23,14%, responden memiliki tinggi badan >170 cm sebanyak 17 atau 14,05% dan sisanya sebanyak 4 orang atau 3,31% memiliki tinggi badan 151-155 cm. Jika dilihat dari pangka kejadian LBP berdasar pengelompokan tinggi badan, prosentase angka kejadian 3

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki masa kerja 11-15 tahun yaitu sebanyak 29 orang atau 23,97%, memiliki masa kerja 610 sebanyak 28 orang atau 23,14%, memiliki masa kerja kurang dari 5 tahun sebanyak 23 orang atau 19,01%,

responden memiliki masa kerja 16-20 sebanyak 15 atau 12,40%, responden memiliki masa kerja 21-25 sebanyak 11 atau 11,57% dan sisanya sebanyak 12 orang atau 9,92% memiliki masa kerja lebih dari 25 tahun. Lama bekerja sebagai supir per hari. Sebaran responden berdasarkan lama bekerja samapai sekarang dalam tahun adalah: Tabel 6. Sebaran Data Responden Berdasarkan Lama bekerja sebagai supir per hari (n=121) Lama bekerja sebagai supir per hari (Jam) 5 6-10 11-15 Jumlah Persen 0.83 37.19 61.98 100.00 Angka Kejadian (%) Tidak LBP 100,00 37,78 32,00 34,71 LBP 0,00 62,22 68,00 65,29

istirahat pengemudi bus kota tersebut. Ini sesuai dengan teori bahwa dengan istirahat seseorang dapat mengurangi resiko terjadinya Low Back Pain pada orang tersebut. Riwayat Sakit Pinggang. Kuesioner bagian 2 merupakan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada riwayat sakit pinggang dengan sebaran sebagai berikut: Tabel 8. Sebaran Data Responden Berdasarkan Riwayat Sakit Pinggang (n=121) Pertanyaan Mempunyai keluhan sakit/nyeri pada punggung bagian bawah Mempunyai pekerjaan lain selain bekerja sebagai sopir Sebelum bekerja menjadi sopir, pernah mempunyai keluhan pada punggung bagian bawah Keluhan pada punggung bagian bawah terjadi setelah menjadi sopir Gangguan otot pada punggung bagian bawah tersebut mempengaruhi saat bekerja Ya (%) 65.29 22.31 13.22 57.02 58.68 Tidak (%) 34.71 77.69 86.78 42.98 41.32

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki masa kerja 11-15 jam per hari yaitu sebanyak 75 orang atau 61,98%, memiliki masa kerja 510 sebanyak 45 orang atau 37,19%, memiliki masa kerja kurang dari 5 jam per hari sebanyak 1 orang atau 0,83%, dan tidak ada responden yang bekerja lebih dari 15 jam per harinya. Jika dilihat dari kolom angka kejadian LBP terlihat bahwa prosentase angka kejadian Low Back Pain berdasar lama pengemudi bekerja perhari menunjukkan peningkatan frekuensi terjadinya low back pain seiring dengan meningkatnya lama pengemudi bekerja perhari. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Idyan (2007) dan jimi (2007) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara lama duduk terhadap kejadian Low Back Pain. Lama Istirahat. Sebaran responden berdasarkan lama istirahat samapai sekarang dalam tahun adalah: Tabel 7. Sebaran Data Responden Berdasarkan Lama Istirahat Per Hari (n=121) Lama Istirahat Per Hari (jam) <1 1-1.9 2-2.9 3-3.9 4 Jumlah Persen 24,0 49,6 19,0 3,3 4,1 100.0 Angka Kejadian (%) Tidak LBP 27,59 31,67 43,38 50,00 60,00 34,71 LBP 72,41 68,33 56,62 50,00 40,00 65,29

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai keluhan sakit/nyeri pada punggung bagian bawah sebanyak 79 orang atau 65.29%, selain bekerja sebagai sopir tidak mempunyai pekerjaan lain sebanyak 94 atau 77.69%, tidak pernah mempunyai keluhan pada punggung bagian bawah sebelum bekerja menjadi sopir sebanyak 105 atau 86.78%, keluhan pada punggung bagian bawah terjadi setelah menjadi sopir sebanyak 69 orang atau 57.02%, dan bahwa gangguan otot pada punggung bagian bawah tersebut mempengaruhi saat bekerjayaitu sebanyak 71 orang atau 58.68%. Pengukuran derajat nyeri menggunakan Visual Analoque Scale, yaitu peneliti membuat skala nilai nyeri dari 0 sampai 10. Nilai 0 menggambarkan bahwa nyeri tidak ada sama sekali, nilai 5 menyatakan nyeri sedang, nilai 10 menggambarkan bahwa nyeri yang diderita sudah tidak tertahankan lagi. Tabel 9. Sebaran Data Responden Berdasarkan Tingkat Sakit Pinggang (n=121) VAS 0 1-10 Total Persen 34,71 65,29 100,00

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar responden beristirahat 1-1,9 jam per hari yaitu sebanyak 60 orang atau 49,6%, beristirahat <1 jam sebanyak 29 orang atau 24,0%, beristirahat 2-2,9 jam per hari sebanyak 23 orang atau 19,0% beristirahat kurang 3-3,9 jam per hari sebanyak 4 orang atau 3,3%, dan 5 orang yang istirahat 4 jam atau lebih per harinya. Dari tabel dapat diketahui bahwa ada penurunan prosentse angka kejadian Low Back Pain seiring dengan meningkatnya jam 4

Tabel 10. Sebaran Data Responden Berdasarkan Tingkat Sakit Pinggang (n=79) VAS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Persen 2,53 2,53 7,59 6,33 51,90 10,13 1,27 1,27 3,80 12,66 100,00

orang atau 12,40%, minum obat sebanyak 14 orang atau 11,57%, pergi ke dokter sebanyak 13 orang atau 10,74%, pijat dan kerokan sebanyak 8 orang atau 6,61%. Pembahasan Berbagai pendapat telah dikemukakan tentang posisi duduk yang ergonomis ketika duduk dikursi atau ditempat lain. Duduk dengan sudut sederhana yaitu tungkai ditekuk dengan sudut 90o dengan kaki bertumpu pada lantai, posisi ini telah dipertimbangkan sebagai postur yang baik pada saat duduk ((Hemmings & Hemming, 1989 dalam Idyan, 2007). Mandal (1981) dalam Idyan (2007) mendukung posisi duduk yang disarankan Hemmings dan juga mengusulkan posisi yang lain yaitu duduk dengan posisi bantal duduk miring kebawah dengan sudut 45o dengan paha miring dan tungkai tegak lurus. Grandjean (1988), mengemukakan alternatif posisi duduk yang lain disarankan dengan bantal duduk miring keatas dengan sudut 14o untuk mengurangi tekanan pada otot. Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan. Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya pada pekerja kantoran yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi, atau seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada waktu menulis. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di lapangan sebagian besar kursi pengemudi bus kota di Terminal Giwangan yang menjadi sampel penelitian dapatt dikatakan tidak layak karena tidak dapat menopang postur tubuh pengemudi dengan baik. Hal ini ditandai dari banyaknya kursi pengemudi yang duduk dengan tungkai ditekuk dengan sudut kurang dari 90 o agar kakinya bertumpu pada lantai. Secara keseluruhan pengemudi yang mengalami Low Back Pain adalah sebanyak 79 orang atau 65.29% dari total 121 responden. Namun tingkat Low Back Pain yang dialami pengemudi bervariasi dari angka 1 sampai lebih dari 5.

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa responden tidak pernah mengalami sakit pinggang atau nila VASnya 0 adalah sebanyak 42 orang atau 34,7%, sedangkan sisanya sebanyak 79 orang atau 65,29% pernah mengalami sakit pinggang yang tersebar pada beberapa tingkatan yaitu terbanyak mengalami sakit pinggang dengan nilai 5 sebanyak 41 orang atau 51,90%, kemudian yang mengalami sakit pinggang dengan nilai 10 sebanyak 10 orang atau 12,66%, mengalami sakit pinggang dengan nilai 6 sebanyak 8 orang atau 10,13%, mengalami sakit pinggang dengan nilai 3 sebanyak 6 orang atau 7,59% mengalami sakit pinggang dengan nilai 4 sebanyak 5 orang atau 6,33%, mengalami sakit pinggang dengan nilai 9 sebanyak 3 orang atau 3,80%, mengalami sakit pinggang dengan nilai 1 dan 2 sebanyak 2 orang atau 2,53% dan mengalami sakit pinggang dengan nilai 7 dan 8 sebanyak 2 orang atau 1,27%. Tabel 11. Sebaran Data Responden Berdasarkan Cara Mengatasi Sakit Pinggang (n=121) Cara Mengatasi Sakit Pinggang Tidak pernah Jamu Obat Pijat Kerokan Dokter Istirahat Jumlah Persen 34.71 17.36 11.57 6.61 6.61 10.74 12.40 100.00

Tidak Mengalami LBP 35%

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar responden tidak pernah mengalami sakit pinggang adalah sebanyak 42 orang atau 34,71%, sedangkan sisanya sebanyak 79 orang atau 65,29% pernah mengalami sakit pinggang dan melakukan berbagai upaya untuk mengatasi sakit pinggang yaitu dengan minum jamu sebanyak 21 orang atau 17,36%, isitirahat sebanyak 15 5

Mengalami LBP 65%

Gambar 1. Kompisisi Responden yang mengalami Low Back Pain dan yang Tidak

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa lebih dari separuh pengemudi (79 orang atau 65%) mengalami keluhan Low Back Pain. Hal ini menunjukkan bahwa posisi kerja memiliki keterkaitan dengan timbulnya keluhan Low Back Pain pada pengemudi. Kondisi ini diperparah oleh lamanya bekerja sampai sekarang yang mayoritas masa kerjanya 11-15 tahun yaitu sebanyak 29 orang atau 23,97% dengan jam kerja 11-15 jam per hari yaitu sebanyak 75 orang atau 61,98%. Namun, secara statistik ternyata hubungan antara lamanya bekerja (tahun) dan lamanya bekerja perhari (jam) dengan kejadian LBP dan tingkat Low Back Pain itu tidak signifikan (p=0,351, p=0,313, p=0.483 dan p=0.889). Dengan demikian maka hipotesis penulis bahwa lamanya posisi kerja sebagai pengemudi bus kota berpengaruh terhadap keluhan Low Back Pain pada pengemudi bus kota diterminal Giwangan Yogyakarta tidak diterima karena seluruh p > 0,05. Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Idyan (2007) dan jimi (2007) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara lama duduk terhadap kejadian Low Back Pain. Ada beberapa faktor yang kemungkinan mempengaruhi hasil penelitian ini yang pertama lama responden bekerja perhari dalam keadaan duduk paling sedikit 3 jam dan sisanya lebih dari 5 jam perhari. Padahal menurut Samara (2004) dalam Idyan (2007) posisi duduk baik tegak maupun membungkuk dalam jangka waktu lebih dari 30 menit dapat mengakibatkan Low Back Pain, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa batasan antara lama duduk yang lama dan tidak lama adalah 30 menit. Sedangkan dalam penelitian responden yang bekerja dalam posisi duduk kurang dari 30 menit tidak ada, jadi ini jelas akan mempengaruhi hasil penelitian. Yang kedua Penelitian ini dalam mengukur tingkat nyeri responden digunakan metode visual analoque scale yang sifatnya sangat subyektif. Artinya satu responden menyatakan nyerinya hebat belum tentu responden lain menyatakan nyerinya hebat, bisa jadi responden satunya menyatakan nyerinya sedang. Hal ini juga dapat mempengarui hasil penelitian. Berikut adalah tabel analisis korelasi antara lamanya bekerja (tahun) dan lamanya bekerja perhari (jam) dengan tingkat Low Back Pain: Tabel 12. Korelasi antara lamanya bekerja (tahun) dan lamanya bekerja perhari (jam) dengan kejadian LBP dan tingkat Low Back Pain Variabel Lama Bekerja Sampai Sekarang (Tahun) dan kejadian LBP Lama Bekerja perhari (Jam) dan kejadian LBP Lama Bekerja Sampai Sekarang (Tahun) dan tingkat nyeri Lama Bekerja perhari (Jam) dan tingkat nyeri P 0,351 0,313 0,483 0,889 Keterangan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan

Beberapa variabel pengganggu yang kemungkinan mempengaruhi hasil pengukuran nyeri terhadap subjek, adalah umur, lama bekerja, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan. Oleh karena itu peneliti melakukan analisis korelasi. Dari hasil analisis Pearson Correlation pada lampiran menunjukkan bahwa yang secara statistik menunjukkan hubungan korelasional dengan tingkat nyeri (LBP) adalah usia (koefisien korelasi 0,170). Makin tua umur pengemudi yang pernah mengalami Low Back Pain, berarti tinggi pula tingkat Low Back Pain yang dideritanya. Terdapatnya rentang usia 21-40 sangat sesuai dengan pendapat Toha Muslim dalam Kuntono (2002) bahwa keluhan nyeri pungung bawah mulai dirasakan pada usia 20-40 tahun yang diperkirakan disebabkan oleh faktor degenerasi dan beban statik serta osteoporosis. Penelitian ini memiliki kelebihan sekaligus kekurangan yang hendaknya diperhatikan untuk melakukan penelitian berikutnya khususnya dalam penggunaan metode VAS: Kelebihan penelitian: Metode Visual Analoque Scale(VAS) memiliki kelebihan mudah digunakan karena obyek penelitian sendiri yang memberikan nilai pada tingkat nyeri yang dideritanya Metode penyebaran kuisioner sudah tepat untuk mengenai riwayat sakit pinggang dan karakteristik responden. Kekurangan penelitian: Metode Visual Analoque Scale (VAS) memiliki kekurangan dalam hal obyektivitas hasil pengukuran karena tidak ada standarisasi dalam pengukuran yang dilakukan oleh subyek Dalam penelitian ini tidak diukur atau diteliti posisi duduk dari sopir dalam hal kesesuaian antropometri dengan kursi yang mereka gunakan sehari-hari sehingga tidak dapat diperoleh data hubungan antara posisi duduk dengan kejadian LBP padahal posisi duduk juga merupakan faktor penyebab LBP.

Kesimpulan
Deskripsi aspek-aspek usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, BMI, lama bekerja serta riwayat Low Back Pain pada pengemudi bus kota di Terminal Giwangan Yogyakarta adalah bahwa mayoritas responden memiliki umur 41-50 tahun yaitu sebanyak 45 atau 37,19%, mengemudi bis armada ASPADA sebanyak 41 orang atau 33,88%, memiliki berat badan 61-70 yaitu sebanyak 49 orang atau 40,5%, memiliki tinggi badan 166-170 yaitu sebanyak 38 orang atau 31,40%, memiliki indeks massa tubuh 18,5-25 yaitu sebanyak 89 orang atau 73,55%, memiliki masa kerja 11-15 tahun yaitu sebanyak 29 orang atau 23,97%, memiliki masa kerja 11-15 jam per hari yaitu sebanyak 75 orang atau 61,98%, dan beristirahat 1-1,9 jam per hari yaitu sebanyak 60 orang atau 49,6% 6

Berdasarkan hasil analisis korelasi antara lamanya posisi duduk dengan timbulnya keluhan Low Back Pain pada pengemudi bus kota menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara lamanya posisi duduk dengan kejadian LBP dan tingkat keluhan subyektif Low Back Pain pada pengemudi bus kota. Berdasarkan hasil pengukuran tingkat keluhan subyektif Low Back Pain menggunakan VAS (Visual Analoque Scale) dari pengemudi terhadap tingkat LBP-nya didapatkan hasil sebagian besar responden yang pernah mengalami sakit pinggang mempunyai nilai VAS adalah 5 yaitu sebanyak 41 orang atau 51,90%.

Practice, Vol 3. Number 4. July 2000, Philadelphia: Lippincott William & William Inc. Kuntono, H.P., 2002. Penggunaan Korset Lumbal dan Back exercise untuk mengurangi Keluhan Low Back Pain Karyawati Garmen di PT Sritek Solo. Thesis S2pada PPS UGM Yogyakarta. Lientje, S.M., 2000. Pengaruh Pengadaan Peralatan yang Ergonomis terhadapTingkat Kelelahan Kerja dan StressPsikososial. Proceeding SeminarErgonomi. Surabaya: Guna Widya. Nettina, S.M., 2000, Taking Care Of Your Lower Back and Neck Pain, Lippncotts Primary Care Practice, Vol 3. Number 4. July 2000,Philadelphia : Lippincott William & William Inc Nusdwinuringtyas, N., 2008. Nyeri Pinggang. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id= 6441&post=14 Pheasant, S., 1991. Ergonomics, Work and Health. London: Macmillan AcademicProfesional Ltd.Susilowati, Sierly Y.1999. Pengaruh Posisi kerja terhadap produktifitas dan keluhanSubjektif karyawan. Surabaya : Lembaga Penelitian Ubaya. Santoso, T.B., 2004. Pengaruh Posisi Kerja Terhadap Timbulnya Nyeri Punggung Bawah Pada Pengrajin Rotan Di Desa Trangsan Kabupaten Sukoharjo, Jurnal Infokes Vol 8 No 1 Maret September 2004 Sidharta, P., 2004. Sakit Pinggang: Neurologi Klinis Dalam Praktik Umum, edisi III, cetakan kelima. PT Dian Rakyat, Jakarta : 203-205 Sumamur, J, 1999, Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja, CV Haji Masagung, Jakarta Sutajaya, I.M., 1997. A Musckuloskeletal Disorders and Working Heart Rate AmongBatako Worker at Gianyar Regency, Bali. Presented in InternationalConference on Ocupational Health and Safety in the Informal Sector, Oktober21-24.Bali.

Daftar Pustaka
Adelia, R., 2007. Nyeri Pinggang/Low Back Pain. www.fkunsri.wordpress.com/2007/09/01/nyeripinggang-low-back-pain.html Anonim., 2008. http://www.depkes.go.id/ Nyeri Tengkuk,

Arikunto, S., 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta Azwar, S., 1997. Reliabilitas dan Validitas. Edisi Ketiga Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Budiyati, S., 1995. Analisis profil dan pola industri kecil yang berorientasi Ekspor. Yogyakarta : UGM Press. Cahyaningrum, L., 2008. dengan judul Keluhan Subyektif Kesehatan Akibat Getaran Seluruh Tubuh pada Pengemudi Truk di PT. VARIA USAHA Gresik, Skripsi Universitas Airlangga Surabaya. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004, Ergonomi, http://www.depkes.go.id/ Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006, Nyeri Tengkuk, http://www.depkes.go.id/ Grandjean, E., 1988. Fitting The Task to The Man, A Text book of Occupational Ergonomics, 4 th edition. London : Taylor and Francis Ltd. Hasyim, H., 2000. Low Back Pain pada Operator Komputer.Temu Ilmiah TahunanFisioterapi TITAFI XV.Kroemer, Idyan, Z., 2007. Hubungan Lama Duduk Saat Perkuliahan Dengan Keluhan Low Back Pain. www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&file= article&sid=130 Jimi, S., 2007, Analisis Meja Kursi Sekolah Dasar Yang Ergonomis Di SDN 1 Sinduadi Mlati Sleman, Skripsi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta Kroemer, K.H.E & Grandjean, E., 1997. Fitting The Task to The Human, A textbook ofOccupational Ergonomic. Fifth edition. Taylor & Francis Publisher. Kaufmann, J.A., Low Back Pain : Diagnosis and Management in Primary care. Lippncotts Primary Care 7