Anda di halaman 1dari 39

PERCOBAAN VII

PENYEARAH TAK TERKENDALI TIGA-FASA GELOMBANG PENUH


7.1

TUJUAN PERCOBAAN

Menjelaskan prinsip kerja penyearah tiga-fasa gelombang penuh tak


terkendali.

Membuat rangkaian penyearah tiga-fasa gelombang penuh tak terkendali.

Mengukur besaran output dan input dari suatu rangkaian dari penyearah tigafasa gelombang penuh tak terkendali.

Menghitung parameter-parameter unjuk kerja suatu rangkaian penyearah tigafasa gelombang penuh tek terkendali.

Menentukan frekuensi gelombang output dari suatu rangkaian penyearah tigafasa gelombang penuh tak terkendali.

7.2

TEORI DASAR

PENYEARAH JEMBATAN TIGA-FASA DENGAN BERBEBAN RESISTIF


Gambar 7.1 memperlihatkan diagram rangkaian penyearah tiga-fasa gelombang
penuh tak terkendali berbeban resistif. Nama lain penyearah tersebut adalah
penyearah tiga-fasa enam pulsa atau penyearah jembatan tiga-fasa (there-phase
bridge rectifier). Dalam gambar tersebut, tegangan bolak-balik (ac) tiga-fasa yang
akan diserahkan dapat berupa tegangan sekunder transformator tiga-fasa yang
terhubung segitiga (delta). Sekunder transforma-tor yang terhunung bintang dapat
pula digunakan, namun titik netral (N) tidak dipakai. Primer transformatornya dapat
terhubung bintang (Y) atau segitiga/delta.

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-1

Untuk mempermudah analisisnya, maka beban yang disuplai oleh penyearah ini
diambil yang bersifat resistif saja. Gambar 7.2 memperlihatkan bentuk-bentuk
gelombang untuk beban resistif.

Gambar 7.1 Penyearah tiga-fasa gelombang penuh tak terkendali.

Tegangan fasa pada input penyearah dalam hal ini dimisalkan mempunyai
persamaan :
Va = Vm sin t ............................................................................................. (7-1)
Vb = Vm sin (t - 2 / 3) .............................................................................. (7-2)
Vc = Vm sin (t + 2 / 3) .............................................................................. (7-3)
dimana :
Vm

= harga maksimum tegangan fasa pada input penyearah

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-2

= 2ft = sudut fasa sesaat gelombang tegangan input

= frekuensi gelombang tegangan input

Berdasarkan persamaan (7-2) dan (7-3) diatas, maka tegangan antara fasa
pada input penyearah adalah :
Vab = Vm

sin (t + / 6) .................................................................... (7-4)

Vba = Vm

sin (t - 5 / 6) ................................................................... (7-5)

Vbc = Vm

sin (t - / 2) ..................................................................... (7-6)

Vcb = Vm

sin (t + / 2) .................................................................... (7-7)

Vca = Vm

sin (t + 5 / 6) .................................................................. (7-8)

Vac = Vm

sin (t - / 6) ..................................................................... (7-9)

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-3

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-4

Gambar 7.2

Bentuk-bentuk gelombang dari penyearah pada gambar 7.1

Untuk /6 t /2, v ab adalah tegangan antar fasa sesaat yang terbesar di


antara 6 tegangan antar fasa seperti yang dinyatakan dalam persamaan (7-4) sampai
(7-9). Ini memberi prategangan maju pada dioda D 1 dan D6 sehingga konduksi.
Empat buah dioda lainnya mendapat prategangan balik sehingga mem blok. Arus
mengalir dari fasa a melalui beban, D6, dan kembali ke fasa b. Tegangan yang
muncul di beban adalah tegangan vab.
Untuk /2 t 5/6, vac adalah tegangan antar fasa sesaat yang terbesar di
antara 6 tegangan antar fasa ; memberi prategangan maju pada dioda D 1 dan D2
sehingga konduksi. Empat buah dioda lainnya mendapat prategangan balik sehingga
mem blok. Arus mengalir dari fasa a melalui D1, beban, D2, dan kembali ke fasa
c. Tegangan yang muncul di beban adalah tegangan vac.
Untuk 5/6 t 7/6, vbc adalah tegangan antar fasa sesaat yang terbesar di
antara 6 tegangan antar fasa ; memberi prategangan maju pada dioda D 2 dan D3
sehingga konduksi. Empat buah dioda lainnya mendapat prategangan balik sehingga
mem blok. Arus mengalir dari fasa b melalui D3, beban, D2, dan kembali ke fasa
c. Tegangan yang muncul di beban adalah tegangan vbc.
Untuk 7/6 t 3/2, vba adalah tegangan antar fasa sesaat yang terbesar di
antara 6 tegangan antar fasa ; memberi prategangan maju pada dioda D 3 dan D4
sehingga konduksi. Empat buah dioda lainnya mendapat prategangan balik sehingga
mem blok. Arus mengalir dari fasa b melalui D3, beban, D4, dan kembali ke fasa
a. Tegangan yang muncul di beban adalah tegangan vba.
Untuk 3/2 t 11/6, v ca adalah tegangan antar fasa sesaat yang terbesar
di antara 6 tegangan antar fasa ; memberi prategangan maju pada dioda D 5 dan D4
sehingga konduksi. Empat buah dioda lainnya mendapat prategangan balik sehingga

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-5

mem blok. Arus mengalir dari fasa c melalui D5, beban, D4, dan kembali ke fasa
a. Tegangan yang muncul di beban adalah tegangan vca.
Untuk 11/6 t 13/6, vcb adalah tegangan antar - fasa sesaat yang terbesar
di antara 6 tegangan antar fasa ; memberi prategangan maju pada dioda D 5 dan D6
sehingga konduksi. Empat buah dioda lainnya mendapat prategangan balik sehingga
mem-blok. Arus mengalir dari fasa c melalui D5, beban, D6, dan kembali ke fasa
b. Tegangan yang muncul di beban adalah tegangan vcb.
Untuk 13/6 t 15/6, siklus kembali berulang dimana vab adalah tegangan
antar fasa sesaat yang terbesar, menyebabkan dioda D1 dan D6 kembali konduksi
sementara empat dioda lainnya mem-blok. Demikian seterusnya.
Dari pembahasan diatas dapat dikatakan bahwa dalam satu siklus, keenam dioda
konduksi secara berurutan dimana setiap pasangan dioda akan konduksi selama 1 / 6
siklus (atau selama t = / 3). Terlihat dari Gambar 7.2, bahwa dalam satu siklus
dihasilkan enam pulsa. Oleh sebab itu, penyearah ini disebut juga penyearah tiga-fasa
enam pulsa.
Persamaan untuk tegangan output adalah :
vo = Vm

sin (t + / 6) untuk / 6 t / 2

= Vm

sin (t - / 6) untuk / 2 t 5 / 6

= Vm

sin (t - / 2) untuk 5 / 6 t 7 / 6

= Vm

sin (t - 5 / 6) untuk 7 / 6 t 3 / 2

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-6

= Vm

sin (t + 5 / 6) untuk 3 / 2 t 11 / 6

= Vm

sin (t + / 2) untuk 11 / 6 t 13 / 6 .......................... (7-10)

Jika f dan T berturut turut adalah frekuensi dan periode gelombang tegangan
input, serta f dan T berturut turut adalah frekuensi dan periode gelombang
tegangan output (beban), maka dari Gambar 7.2 terlihat bahwa :
T = 2 ...................................................................................................... (7-11)
dan :
T = / 3 .................................................................................................. (7-12)
sehingga :
T = T / 6 .................................................................................................... (7-13)
dan :
f = 1/T = 6/T = 6f .................................................................................... (7-14)
Jadi dapat disimpulkan bahwa frekuensi gelombang output adalah 6 kali
frekuensi gelombang input. Penyearah 6 pulsa dapat pula diperoleh dengan
menerapkan sistem bintang enam fasa.
Dengan menggunakan rumus harga rata rata dan harga afektif, maka untuk
penyearah tiga fasa jembatan ini didapatkan :

.......................................................................... (7-15)

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-7

..................................................................................... (7-16)
Jika Vs(L-L) adalah harga efektif tegangan input antar-fasa, maka persamaan (7-15) dan
(7-16) di atas dapat dinyatakan lain :
Vdc = 1,35 Vs(L-L) ........................................................................................ (7-17)
Vrms = 1,3517 Vs(L-L) .................................................................................. (7-18)
Untuk beban resistif dengan resistansi R, berlaku :
Idc = 1,654 Im .............................................................................................. (7-19)
Irms = 1,6554 Im .......................................................................................... (7-20)
dimana :
Im = (1 /

) kali harga maksimum arus beban = Vm/R

Arus - arus dalam salah satu dioda dan salah satu fasa pada input adalah :
Is = 1,3517 Im ............................................................................................. (7-21)
Id(rms) = 0,955 Im ......................................................................................... (7-22)
Is(av) = 1,35 Im ............................................................................................. (7-23)
Id = 0,955 Im ............................................................................................... (7-24)

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-8

Dengan menggunakan nilai-nilai besaran diatas maka dapat ditentukan nilai


pendekatan secara teoritis parameter penyearahan tiga-fasa jembatan untuk beban
resistif.

FFv = FFI = 1,0009 .............................................................................. (7-25)

RFv = RFI =

= 0,042 ........................................................... (7-26)

= 99,8 % .................................................................................. (7-27)

TUF = 0,954 .................................................................................... (7-28)


CF

= 1,281..................................................................................... (7-29)

PENYEARAH JEMBATAN TIGA-FASA DENGAN BERBEBAN INDUKTIF


. .Beban-beban induktif adalah beban-beban yang terdiri dari resistansi (R),
induktansi (L) dan kapasitansi (C) dengan L >

1
, atau terdiri dari R dan L.
C

Beban yang mengandung L saja disebut beban induktif murni; sedangkan beban yang
mempunyai L >> R atau (L -

1
) >> R disebut beban induktif tinggi
C

(highly inductive). Perlulah dicatat bahwa penggunaan kata tinggi disini hanyalah
untuk melukiskan pengaruh resistansi yang cukup kecil terhadap reaktansi.
Adanya sifat induktif dari beban akan memperhalus arus yang mengalir dalam
beban, artinya mengurangi faktor ripel-nya. Untuk penyearah p-pulsa dengan p > 1
Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-9

maka pada umumnya arus beban induktif tersebut sudah menjadi kontinu (tidak
putus).
Pada kondisi berbeban induktig, persamaan tegangan keluaran (tegangan
beban) sesaat tetap sama seperti yang dinyatakan dalam persamaan (7-15)

Gambar 7.3 Bentuk gelombang keluaran pada penyearah jembatan tiga-fasa


berbeban induktif.

Persamaan arus beban adalah :

( t ) / tan

Vm 3
sin e 2

io =
sin(t + 6 ) + e / 3 tan 1 .................................. (7-30)
Z

untuk

t
6
2

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-10

Bentuk lain persamaan untuk Vo dan io adalah :

untuk

....................................................... (7-31)

dan :

untuk

............. (7-32)

Dengan diketahuinya persamaan arus beban dalam persamaan (7-27), maka harga
rata-ratanya dan harga efektif (rms) dari arus beban dapat ditentukan dengan rumus
berikut :
I dc =

1
T'

T'

i o dt =
0

i o dt

.........................................................................

(7-33)

Irms =

1 To 2
i o dt =
To 0

3 / 2 2
i o dt ............................................................ (7 / 6

34)
sehingga diperoleh :

................................................................................................ (7-35)

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-11

dan :

............... (7-36)

dalam hal ini :

................................................................................................... (7-37)

.............................................................................................. (7-38)

.............................................................................................................. (7-39)
Nilai pendekatan untuk parameter penyearahan adalah sebagai berikut :
Besaran tegangan :
FFv = 1,0009 ...................................................................................................... (7-40)
RFv = 0,042 ........................................................................................................ (7-41)
Besaran arus :

FFI =

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-12

.......... (7-42)

RFI =

.................... (7-43)

........................ (7-44)

............ (7-45)

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-13

................. (7-46)

dalam hal ini sudut ditentukan dengan cara trial and error dari persamaan :

.................................... (7-47)

7.3

DIAGRAM RANGKAIAN

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-14

Gambar 7.4 Diagram rangkaian penyearah tiga-fasa gelombang penuh tak


terkendali.

7.4

7.5

ALAT DAN BAHAN

Osiloskop

Regulator ac 3 fasa

Dioda

Amperemeter

Voltmeter

Tahanan geser

Kabel secukupnya

PROSEDUR PERCOBAAN
1. Membuat rangkaian seperti gambar 7.3 dimana beban yang digunakan adalah
tahanan geser 42 .
2. Dalam keadaan output regulator ac tiga-fasa minimum, memasukkan saklar S.

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-15

3. Menaikkan tegangan antar-fasa dari output regulator (Vs (L-L)) hingga


mencapai 20 V. [terlihat penunjukan V1].
4. Mencatat harga rata-rata dari tegangan output, arus beban, arus input dalam
salah satu fasa, dan arus dalam salah satu dioda. [terlihat penunjukan V2, A2,
A1 dan A3]. Kemudian memasukkan data ke dalam tabel.
5. Dengan menggunakan osiloskop 1-saluran, mengamati dan mengambarkan
bentuk gelombang dari tegangan beban, arus beban, arus input dalam salah
satu dioda. Catatan: harus dijaga dalam penggunaan probe agar terminal (+)
tidak terhubung singkat dengan terminal (-).
6. Mencatat harga efektif (rms) dari tegangan output, arus beban, arus input
dalam salh satu fasa, dan arus dalam salah satu dioda. [terlihat penunjukan
V2, A2, A1 dan A3]. Memasukkan data ke dalam tabel yang telah disediakan.
7. Mengulangi langkah no. (4) sampai no. (6) diatas hingga tegangan output
regulator antar-fasa (Vs(L-L)) sebesar 40 V.
8. Mengulangi langkah no. (1) sampai no. (7) di atas untuk beban induktif (R-L).
9. Meminimumkan kembali tegangan output regulator hingga penunjukan nol
dan kemudian membuka saklar S. Percobaan selesai.

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-16

7.6

HASIL PERCOBAAN

Tabel 7.1

Data hasil percobaan penyearah tiga-fasa gelombang penuh untuk beban


R dengan alat ukur analog.

Vs(L-L)
(v)

Vdc
(v)

Idc
(A)

Is(av)
(A)

Id
(A)

Vrms
(v)

Vrms
(v)

Irms
(A)

Irms
(A)

Is
(A)

Id(rms)
(A)

Id(rms)
(A)

20

27,5

0,62

0,22

62

28,91

0,92

0,543

0,495

0,53

0,303

40

55,5

1,26

0,4

124

57,82

2,28

1,305

1,005

0,575

Keterangan:
Vrms = Vrms/ Fkv ; Irms = Irms / Fki ; Id(rms) = Id(rms) / Fki; Fkv = 2,1445; Fki = 1,747

Tabel 7.2

Data hasil percobaan penyearah tiga-fasa gelombang penuh untuk beban


R dengan alat ukur digital.

Vs(L-L)
(v)

Vdc
(v)

Idc
(A)

Is(av)
(A)

Id
(A)

Vrms
(v)

Irms
(A)

Is
(A)

Id(rms)
(A)

20

26,05

0,63

0,01

0,24

26,1

0,63

0,53

0,40

40

56,2

1,32

0,42

56,4

1,32

1,02

0,72

Tabel 7.3

Data hasil percobaan penyearah tiga-fasa gelombang penuh untuk beban


R-L dengan alat ukur analog.

Vs(L-L)
(v)

Vdc
(v)

Idc
(A)

Is(av)
(A)

Id
(A)

Vrms
(v)

Vrms
(v)

Irms
(A)

Irms
(A)

Is
(A)

Id(rms)
(A)

Id(rms)
(A)

40

51

0,49

0,17

120

55,95

0,72

0,412

0,405

0,41

0,237

80

106,
5

0,87

0,305

243

113,3

1,38

0,78

0,75

0,73

0,417

Keterangan:
Vrms = Vrms/ Fkv ; Irms = Irms / Fki ; Id(rms) = Id(rms) / Fki; Fkv = 2,1445; Fki = 1,747

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-17

Tabel 7.4

Data hasil percobaan penyearah tiga-fasa gelombang penuh untuk beban


R-L dengan alat ukur digital.

Vs(L-L)
(v)

Vdc
(v)

Idc
(A)

Is(av)
(A)

Id
(A)

Vrms
(v)

Irms
(A)

Is
(A)

Id(rms)
(A)

40

57,2

0,48

0,01

0,18

57,3

0,49

0,39

0,31

80

110,8

0,87

0,32

111

0,92

0,75

0,57

Keterangan :
- Beban Resistif (R) = 42
- Ballast (L) = 20 W; 220-240 V; 0,37 A; 50 Hz

Gambar 7.5 Bentuk gelombang tegangan beban (vo) dan arus beban (io)
penyearah tak terkendali tiga fasa gelombang penuh beban resistif
Vs = 20 V; time/div=5 ms; V/div=10 V; A/div=0,3 A [garis merah =
io; garis biru= vo]

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-18

Gambar 7.6 Bentuk gelombang tegangan beban (vo) dan arus beban (io)
penyearah tak terkendali tiga fasa gelombang penuh beban resistif
pada Vs = 40 V; time/div=5 ms; V/div=100 V; A/div=0,3 A [garis
merah = io; garis biru = vo]

Gambar 7.7 Gelombang masukan arus is dengan beban resistif pada Vs = 20 V;


time/div=5ms; V/div = 100 V; A/div = 0,3 A [garis merah = is]

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-19

Gambar 7.8

Gelombang masukan arus is dengan beban resistif pada Vs = 40


V; time/div = 5ms; V/div = 100V; A/div = 3 A [garis merah = is]

Gambar 7.9 Gelombang keluaran arus dioda beban resistif pada V s = 20V;
time/div = 5ms; V/div = 200 v; A/div = 0,3 A [garis merah = id]

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-20

Gambar 7.10 Gelombang keluaran arus dioda beban resistif pada V s= 40V;
time/div = 5ms; V/div = 200 V; A/div = 3 A [garis merah = id]

Gambar 7.11 Bentuk gelombang tegangan beban (vo) dan arus beban (io)
penyearah tak terkendali tiga fasa gelombang penuh beban
induktif pada Vs = 40V; time/div = 5ms; V/div = 100V; A/div = 0,3
A [garis merah = io; garis biru = vo]

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-21

Gambar 7.12 Bentuk gelombang tegangan beban (vo) dan arus beban (io)
penyearah tak terkendali tiga fasa gelombang penuh beban
induktif pada Vs = 80V; time/div = 5ms; V/div = 100V; A/div =
0,3 A [garis merah = io; garis biru = vo]

Gambar 7.13 Gelombang masukan is beban induktif pada Vs = 40V; time/div =


5ms; V/div = 100V; A/div = 0,3A [garis merah = is]

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-22

Gambar 7.14 Gelombang masukan is beban induktif pada Vs = 80V; time/div =


5ms; V/div = 100V; A/div = 0,3A [garis merah = is]

Gambar 7.15 Gelombang keluaran arus dioda beban induktif pada Vs= 40V;
time/div = 5ms; V/div = 200; A/div= 0,3 A [garis merah = id]

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-23

Gambar 7.16 Gelombang keluaran arus dioda beban induktif pada Vs=80;
time/div = 5ms; V/div = 200; A/div= 0,3 A [garis merah = id]

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-24

7.7

ANALISA HASIL PERCOBAAN

7.7.1

Perhitungan nilai induktansi dari beban


Dengan menggunakan beban induktif berupa ballast maka nilai induktansi

beban dapat dihitung dengan data berikut :


P = 20 W
V = 220 240 V
I = 0,37 A
f = 50 Hz
Penyelesaian :

7.7.2

Perhitungan parameter unjuk kerja

7.7.2.1

Beban Resistif

Alat ukur analog


Diketahui :

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-25

Vs

= 20 V

= 42

Dari tabel hasil percobaan pada no. 1 pada beban resistif dengan
menggunakan alat ukur analog diperoleh:
Vs

= 20 V

Vrms

= 62 V

Vdc = 27,5 V

Vrms = 28,91 V

Idc

Irms

= 0,95 A

Is(av) = 0 A

Irms

= 0,543 A

Id

= 0,22 A

Is

= 0,495 A

= 42

Id(rms) = 0,53 A

= 0,62 A

Id(rms) = 0,303 A
Ditanyakan :
a. FF

= .?

b. RF

= .?

c.

= .?

d. TUF

= .?

e. CF

= .?

Penyelesaian :

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-26

a. Faktor Bentuk (FF)


FF =

V rms '
28,91
=
= 1,05
Vdc
27,5

FF =

I rms '
0,543
=
= 1,48
I dc
0,62

b. Faktor Kerut (RF)


RF =

Vac
=
Vdc

( FF ) 2 1 = (1,05) 2 1 =

RF =

V ac
=
V dc

( FF ) 2 1 = (1,48) 2 1 = 1,1

0,32

c. Efisiensi Penyearahan ()

Pdc
Vdc x I dc
27,5 x 0,62
=
x100% =
x100% = 64,1 %
Pac
Vrms x I rms '
62 x 0,543

d. Faktor Utilisasi Transformator (TUF)


TUF =

Pdc
V x I dc
= dc
=
Si
Vs x I s

27,5 x 0,62
3 x 20 x 0,495

= 0,994

e. Faktor Kecuraman (CF)


Nilai Is(peak) diperoleh dari gambar 7.7

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-27

CF =

I s ( peak )
Is

(2,2 + 2,4) x 0,3 / 2


0,495
0.69
=
0,495
= 1,39
=

Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.5

Alat ukur digital

Sedangkan dari tabel hasil percobaan pada no. 1 pada beban resistif
dengan menggunakan alat ukur digital diperoleh:
Vs

= 20 V

Vrms = 26,1 V

Vdc = 26,05 V

Irms = 0,63 A

Idc

Is

= 0,63 A

= 0,53 A

Is(av) = 0,01 A

Id(rms) = 0,40 A

Id

= 0,24 A

= 42

Ditanyakan :
a. FF

= .?

b. RF

= .?

c.

= .?

d. TUF

= .?

e. CF

= .?

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-28

Penyelesaian :
a. Faktor Bentuk (FF)
FF =

Vrms
26,1
=
= 1,002
Vdc
26,05

FF =

I rms
0,63
=
= 1
I dc
0,63

b. Faktor Kerut (RF)


RF =

Vac
=
Vdc

RF =

I ac
=
I dc

( FF ) 2 1 = (1,002) 2 1 =
( FF ) 2 1 = (1) 2 1 =

0,062

c. Efisiensi Penyearahan ()
=

Pdc
Vdc x I dc
26,05 x 0,63
=
x100% =
x100% = 99,8 %
Pac
Vrms x I rms
26,1x 0,63

d. Faktor Utilisasi Transformator (TUF)


TUF =

Pdc
V x I dc
= dc
=
Si
Vs x I s

26,05 x 0,63
3 x 20 x 0,53

= 0,894

e. Faktor Kecuraman (CF)


Nilai Is(peak) diperoleh dari gambar 7.7

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-29

CF =

I s ( peak )
Is

(2,2 + 2,4) x0,3 / 2


0,53
0.69
=
0,53
= 1,3
=

Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.6


7.7.2.2

Beban Induktif
Alat ukur analog
Diketahui dari tabel hasil percobaan pada no. 1 pada beban R-L dengan
menggunakan alat ukur analog diperoleh:
Vs

= 40 V

Vrms

= 120 V

Vdc = 51 V

Vrms = 55,95 V

Idc

Irms

= 0,72 A

Is(av) = 0 A

Irms

= 0,412 A

Id

Is

= 0,405 A

= 0,49 A

= 0,17 A

Id(rms) = 0,41 A
Id(rms) = 0,237 A

Ditanyakan :
a. FF

= .?

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-30

b. RF

= .?

c.

= .?

d. TUF

= .?

e. CF

= .?

Penyelesaian :
a. Faktor Bentuk (FF)
V rms '
55,95
=
= 1,1
V dc
51
I
0,72
FF = rms =
= 1,47
I dc
0,49

FF =

b. Faktor Kerut (RF)


RF =

Vac
=
Vdc

( FF ) 2 1 = (1,1) 2 1 =

RF =

I ac
=
I dc

( FF ) 2 1 = (1,47 ) 2 1 = 1,08

0,45

c. Efisiensi Penyearahan ()
=

Pdc
Vdc x I dc
51 x 0,49
=
x100% =
x100% = 62,03 %
Pac
V rms x I rms '
120 x 0,412

d. Faktor Utilisasi Transformator (TUF)


TUF =

Pdc
V x I dc
= dc
=
Si
Vs x I s

51 x 0,49
3 x 40 x 0,405

= 0,891

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-31

e. Faktor Kecuraman (CF)


Nilai Is(peak) diperoleh dari gambar 7.13
CF =

I s ( peak )
Is

(1,6 + 1,6) x0,3 / 2


0,405
0,48
=
0,405
= 1,18
=

Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.7

Alar ukur digital


Diketahui dari tabel hasil percobaan pada no. 1 pada beban R-L dengan
menggunakan alat ukur digital diperoleh:
Vs

= 40 V

Vrms = 57,3 V

Vdc = 57,2 V

Irms = 0,49 A

Idc

Is

= 0,48 A

Is(av) = 0,01 A
Id

= 0,39 A

Id(rms) = 0,31 A

= 0,18 A

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-32

Ditanyakan :
a. FF

= .?

b. RF

= .?

c.

= .?

d. TUF

= .?

e. CF

= .?

Penyelesaian :
a. Faktor Bentuk (FF)
Vrms
57,3
=
= 1,002
Vdc
57,2
I
0,49
FF = rms =
= 1,02
I dc
0,48

FF =

b. Faktor Kerut (RF)


RF =

Vac
=
Vdc

( FF ) 2 1 = (1,002) 2 1 =

RF =

I ac
=
I dc

( FF ) 2 1 = (1,02) 2 1 =

0,059

0,205

c. Efisiensi Penyearahan ()
=

Pdc
V x I dc
57,2 x 0,48
= dc
x100% =
x100% = 97,79 %
Pac
Vrms x I rms
57,3 x 0,49

d. Faktor Utilisasi Transformator (TUF)


TUF =

Pdc
V x I dc
= dc
=
Si
Vs x I s

57,2 x 0,48
3 x 40 x 0,39

= 1,016

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-33

e. Faktor Kecuraman (CF)


Nilai Is(peak) diperoleh dari gambar 7.13
CF =

I s ( peak )
Is

(1,6 + 1,6) x0,3 / 2


0,39
0,48
=
0,39
= 1,23
=

Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.8

7.7.3

Perhitungan frekuensi keluaran berdasarkan bentuk gelombang

7.7.3.1

Beban Resistif
Berdasarkan gambar 7.5 atau 7.6
1 div ~ 1,35 cm ~ 5 ms
Periode (To) ~ 0,9 cm ~
= 3,33 ms = 3,33 x 10-3 s
Frekuensi (fo)

=
= 300,003 Hz
7.7.3.2

Beban Induktif
Berdasarkan gambar 7.11 atau 7.12
1 div ~ 1,35 cm ~ 5 ms

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-34

Periode (To) ~ 0,9 cm ~


= 3,33 ms = 3,33 x 10-3 s
Frekuensi (fo)

=
= 300,003 Hz
7.7.4

Hubungan antara Idc dan Is(av) dan hubungan antara Irms dan Is
Berdasarkan gambar 7.5 terlihat bahwa pada gelombang Idc terdapat
enam pulsa dalam satu gelombang atau satu periode. Sedangkan pada
percobaan diperoleh nilai (Is(av)) nol di setiap besaran masukan tegangan, hal
ini dapat dibuktikan dengan melihat pada gambar 7.7 (Is(av)) dalam satu periode
terdapat empat pulsa. Dua pulsa pada sisi atas (+) dan dua pulsa pada sisi
bawah (-), sehingga diperoleh nilai nol pada (I s(av)). Sehingga nilai Idc tidak
ada pengaruhnya terhadap (Is(av)) karena berapa pun nilai Idc, (Is(av)) akan tetap
bernilai nol.
Hubungan Irms dan Is diperoleh berdasarkan gambar 7.5 dan 7.7. Nilai
Irms diperoleh dengan melihat gelombang pada gambar 7.5 dimana terdapat
enam pulsa dalam satu gelombang atau satu periode. Sedangkan nilai (Is)
diperoleh dengan melihat gelombang pada gambar 7.7 (Is) dimana dalam satu
periode terdapat empat pulsa. Dengan melihat persamaan Is / Irms =
sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya nilai Irms dapat mempengaruhi
besarnya nilai Is.

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-35

7.7.5

Perbandingan antara hasil percobaan dan hasil perhitungan menurut


teori

7.7.5.1 Beban Resistif


Nilai teoritis dari FF, RF, , TUF, dan CF telah dinyatakan dalam persamaan
(7-25) sampai dengan (7-29).
Tabel 7.5 Tabel perbandingan secara aktual dan teori dengan beban R menggunakan
alat ukur analog
FF

RF

Vs(L-L) (V)

20

40

TUF

CF

Tegangan

Arus

Tegangan

Arus

Teori

1,0009

1,0009

0,042

0,042

99,8 %

0,954

1,281

Aktual

1,05

1,48

0,32

1,1

64,1 %

0,994

1,39

Error (%)

4,9

47,9

661,9

2519

35,77

4,19

8,5

Teori

1,0009

1,0009

0,042

0,042

99,8 %

0,954

1,281

Aktual

1,04

1,036

0,292

0,27

92,67 %

1,009

1,2

Error (%)

3,9

3,5

595,2

542,8

7,14

5,76

6,32

Tabel 7.6 Tabel perbandingan secara aktual dan teori dengan beban R menggunakan
alat ukur digital
FF

RF

Vs(L-L) (V)

20

TUF

CF

Tegangan

Arus

Tegangan

Arus

Teori

1,0009

1,0009

0,042

0,042

99,8 %

0,954

1,281

Aktual

1,002

0,062

99,8 %

0,894

1,3

Error (%)

0,11

0,09

47,62

100

6,3

1,48

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-36

40

Teori

1,0009

1,0009

0,042

0,042

99,8 %

0,954

1,281

Aktual

1,004

0,08

99,64 %

1,05

1,17

Error (%)

0,31

0,09

90,47

100

0,16

10,06

8,66

7.7.5.2 Beban Induktif


Nilai teoritis dari FFv dan RFv telah dinyatakan dalam persamaan (7-40) dan
(7-41). Sedangkan, nilai FFI, RFI, , TUF diperoleh dengan mensubtitusikan dalam
persamaan (7-42) sampai dengan (7-45). Nilai dapat dihitung sebagai berikut:

sehingga diperoleh :
FFI = 1,000002571
RFV = 0,0023

= 99,91 %

TUF = 0,955
Dengan cara trial and error dalam persamaan (7-47) maka diperoleh :
= 76,68553214o
sehingga diperoleh nilai CF = 1,229
Tabel 7.7 Tabel perbandingan secara aktual dan teori dengan beban R-L
menggunakan alat ukur analog
FF

RF

Vs(L-L) (V)

Tegangan

Arus

Tegangan

TUF

CF

Arus

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-37

40

80

Teori

1,0009

1,000

0,042

0,0023

99,91 %

0,955

1,229

Aktual

1,1

1,47

0,45

1,08

62,03 %

0,891

1,18

Error (%)

9,9

47

971,4

46856

37,9

6,7

3,98

Teori

1,0009

1,000

0,042

0,0023

99,91 %

0,955

1,229

Aktual

1,06

1,586

0,36

1,23

59,25 %

0,892

1,2

Error (%)

5,9

58,6

757,14

53378

40,7

6,59

2,36

Tabel 7.8 Tabel perbandingan secara aktual dan teori dengan beban R-L
menggunakan alat ukur digital
FF

RF

Vs(L-L) (V)

40

80

TUF

CF

Tegangan

Arus

Tegangan

Arus

Teori

1,0009

1,000

0,042

0,0023

99,91 %

0,955

1,229

Aktual

1,002

1,02

0,059

0,205

97,79 %

1,016

1,23

Error (%)

0,11

40,47

8813

2,12

6,4

0,08

Teori

1,0009

1,000

0,042

0,0023

99,91 %

0,955

1,229

Aktual

1,002

1,06

0,06

0,344

94,39%

0,93

1,2

Error (%)

0,11

42,85

19964

5,5

2,6

2,36

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-38

7.8

KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan pembacaan alat ukur (praktikum),besar Vrms pada
parameter output cenderung lebih besar dari pada besar V rms pada parameter
output dengan teoritis.

Dari tabel hasil pengamatan terlihat nilai Is (dc) pada alat ukur analog selalu
menunjukkan nilai nol, ini diakibatkan oleh nilai arus masukan pada rangkaian
sebelum diarahkan adalah arus ac.

Penyearah Tak Terkendali Tiga-Fasa Gelombang Penuh

7-39