Anda di halaman 1dari 23

ASKEP KANKER LIDAH

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Anatomi dan Fisiologi Lidah
Lidah dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. Lidah berfungsi untuk
menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan, untuk pengecapan dan dalam produksi
wicara.
a. Otot-otot ekstrinsik lidah berawal pada tulang dan jaringsn diluar lidah serta berfungsi dalam
pergerakan lidah secara keseluruhan.
b. Otot-otot intrinsik lidah memiliki serabut yang menghadap keberbagai arah untuk membentuk
sudut satu sama lain. Ini memberikan mobilitas yang besar pada lidah.
c. Papila adalah elevasi jaringan mukosa dan jaringan ikat pada permukaan dorsal lidah. Papila-
papila ini menyebabkan tekstur lidah menjadi kasar.
1. Papila fungiformis dan papila sirkumvalata memiliki kuncup-kuncup pengecap.
2. Sekresi berair dari kelenjar Von Ebner, terletak di otot lidah, bercampur dengan makanan pada
permukaan lidah dan membantu pengecapan rasa.
d. Tonsil-tonsil lingua adalah agregasi jaringan limfoid pada sepertiga bagian belakang lidah
(Sloane, 2003).
Lidah secara anatomi terbagi atas 3 bagian, yakni :
1. Apek linguae (ujung lidah)
2. Corpus linguae (badan lidah)
3. Radix linguae (akar lidah)

a) Struktur-struktur Superficial Dari Lidah
Membran mukosa yang melapisi lidah yaitu dipunggung lidah, dipinggir kanan dan kiri
dan disebelah muka terdapat tonjolan yang kecil-kecil disebut dengan papillae. Dasarnya papillae
ini terdapat kuncup-kuncup pengecap sehingga kita dapat menerima / merasa cita rasa. Ada
empat macam yaitu: papillae filiformes, papillae fungiformes, papillae circumvallatae dan
papillae foliatae.
Area dibawah lidah disebut dasar mulut. Membran mukosa disini bersifat licin, elastis dan
banyak terdapat pembuluh darah yang menyebabkan lidah ini mudah bergerak, serta pada
mukosa dasar mulut tidak terdapat papillae. Dasar mulut dibatasi oleh otot-otot lidah dan otot-
otot dasar mulut yang insertionya disebelah dalam mandibula. Disebelah dalam mandibula ini
terdapat kelenjar-kelenjar ludah sublingualis dan submandibularis.

b) Otot-otot Pada Lidah
otot-otot ekstrinsik melekatkan lidah ke bagian eksternal yaitu hioglosus, genioglosus,
palatoglosus, pharingoglosus dan stiloglusus. Otot-otot intrinsik ini berjalan vertikal, transversal
dan longirudinal. Dengan struktur otot ekstrinsik dan intrinsik memungkinkan lidah untuk
bergerak lincah (Suyatno, 2010)

c) Persarafan Pada Lidah
Otot-otot lidah di inervasi oleh nervus hipoglosus (N.XII). Sensasi untuk perabaan (touch
sensation) dari lidah 2/3 depan dibawah oleh N. Trigeminus (N. V cabang lingualis) dan dari 1/3
belakang lidah dibawah olhe N Glosopharingeus (N. IX). Sensasi untuk pengecapan (taste
sensation) dari 2/3 depan dibawah oleh N. Fasialis (VII) dan dari 1/3 belakang lidah melalui N.
Glosopharingeus. Vaskularisasi lidah terutama disediakan oleh arteri lingualis(Suyatno, 2010).

d) Aliran Limfa Pada Lidah
Aliran limfa disini penting oleh karena berhubungan dengan penyebaran dini carcinoma
lidah.Penyaluran limfe melalui lingua terjadi melalui 4 jalur :
1) Limfe dari bagian 1/3 posterior lingua disalurkan ke cervikalis profunda superior dikedua sisi.
2) Limfe dari bagian medial 2/3 anterior lingua disalurkan langsung ke cervicalis profunda
inferior.
3) Limfe dari bagian lateral 2/3 anterior lingua disalurkan ke submandibularis
4) Limfe dari ujung lingua disalurkan ke submentalis

B. Pengertian Kanker Lidah
Karsinoma lidah adalah suatu tumor yang terjadi didasar mulut, kadang-kadang meluas
kearah lidah dan menyebabkan gangguan mobilitas lidah (Van de Velde, 1999). Kanker lidah
(2/3 anterior). Sebagian besar (40%) dari kanker rongga mulut adalah kanker lidah. Lokasi tumor
paling sering adalah tepi lateral pada perbatasan antara bagian tengah dengan 1/3 belakang lidah.
Kanker lidah adalah suatu neoplasma maligna yang timbul dari jaringan epitel mukosa
lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (cell epitel gepeng berlapis), juga
beberapa penyakit-penyakit tertentu (premaligna). Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi ke
daerah sekitarnya, disamping itu dapat melakukan metastase secara limfogen dan hematogen.

C. ETIOLOGI
Kanker rongga mulut memiliki penyebab yang multifaktorial dan suatu proses yang
terdiri dari beberapa langkah yang melibatkan inisiasi, promosi dan perkembangan tumor. Secara
garis besar, etiologi kanker lidah:
1. Tembakau: 80% penderita kanker lidah adalah perokok. Risiko perokok adalah 5-9 kali lebih
besar dibandingkan bukan perokok.
2. Alkoholisme: peminum berat mempunyai risiko 30 kali lebih besar dan efeknya sinergis dengan
merokok.
3. Infeksi virus dalam rongga mulut: Human papilloma virus (HPV) khususnya HPV 16 dan HPV
18.
4. Oral hygiene yang jelek.
5. Sunburn: iritasi sinar matahari dan iritasi kronis lainnya.
6. Gaya hidup: kebiasaan mengunyah sirih.

D. PATOFISIOLOGI
Dasar lidah memainkan peran penting dalam berbicara dan menelan. Selama fase faring
menelan, makanan dan cairan yang mendorong ke arah oropharingdari rongga mulut oleh lidah
dan otot-otot pengunyahan. Laring terangkat, efektif menekan katub tenggorok dan memaksa
makanan, cair, dan air liur kedalam kerongkongan hypopharynx.
Meskipun laring menghasilkan suara, lidah dan faring adalah organ utama yang
membentuk suara. Kerugian jaringan dari dasar daerah lidah mencegah penutupan yang kedap
air dengan laring selama tindakan menelan. Ketidaksesuaian ini memungkinkan makanan dan
cairan untuk melarikan diridalam faring dan laring, koreografer dengan hati-hati mengubah
reflex menelan dan sering mengakibatkan aspirasi. Baik neurologis penurunan dan perubahan
dalam tindakan terkoordinasi menelan dari penyakit berbahaya didaerah ini dapat merusak
mempengaruhi pada kemampuan berbicara dan menelan.
Squamous sel carcinoma pada lidah sering timbul pada daerah epithelium yang tidak
normal, tetapi selain keadaan tersebut dan mudahnya dilakukan pemeriksaan mulut, lesi sering
tumbuh menjadi lesi yang besar sebelum pasien akhirnya datang ke dokter gigi. Secara histologis
tumor terdiri dari lapisan atau kelompok sel-sel eosinopilik yang sering disertai dengan
kumparan keratinasi. Menurut tanda histology, tumor termasuk dalam derajat I-IV (Broder). Lesi
yang agak jinak adalah kelompok pertama yang disebut carcinoma verukcus oleh Ackerman.
Pada kelompok ini, sel tumor masuk, membentuk massa papileferuspada permukaan. Tumor
bersifat pasif pada daerah permukaannya, tetapi jarang meluas ke tulang dan tidak mempunyai
anak sebar. Lidah mempunyai susunan pembuluh limfe yang kaya, hal ini akan mempercepat
metastase kelenjar getah bening dan dimungkinkan oleh susunan pembuluh limfe yang saling
berhubungan kanan dan kiri.
Tumor yang agak jinak cenderung membentuk massa papiliferus dengan penyebaran
ringan kejaringan didekatnya. Tumor paling ganas menyebar cukup dalam serta cepat ke jaringan
didekatnya dengan penyebaran permukaan yang kecil, terlihat sebagai ulser nekrotik yang dalam.
Sebagian besar lesi yang terlihat terletak diantara kedua batas tersebut dengan daerah nekrose
yang dangkal pada bagian tengah lesi tepi yang terlipat serta sedikit menonjol. Walaupun
terdapat penyebaran local yang besar, tetapi anak sebar tetap berjalan. Metastase haematogenus
terjadi pada tahap selanjutnya.

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Tanda awal umumnya berupa ulkus tanpa nyeri yang tidak sembuh-sembuh. Kemudian
membesar dan menekan atau menginfiltrsi jaringan sekita yang megakibatkan nyeri lokal, otalgia
ipsilateral dan nyeri mandibula (Suyatno, 2010).
2. Infiltrasi ke otot-otot ini mengakibatkan gerakan lidah terbatas sehingga proses menelan bolus
makanan dan bicara terganggu. Kanker ini dapat menginfiltrasi jaringan sekitarnya seperti dasar
mulut (floor of mouth, FOM), dasar lidah dan tonsil (Suyatno, 2010).
3. Sejalan dengan kemajuan kanker pasien dapat mengeluhkan nyeri tekan, kesulitan mengunyah,
menelan, dan berbicara, batuk dengan sputum bersemu darah atau terjadi pembesaran nodus
limfe servikal. (Baughman Diane C, 2000).
F. Pemeriksaan Diagnosis
1. CT-scan atau MRI dilakukan untuk menilai detail lokasi tumor, luas ekstensi tumor primer.
2. USG hepar, Foto thorax dan bone scan untuk evaluasi adanya metastasis jauh.
3. Biopsi
- FNAB ( Fine Needle Apiration Biopsy), dilakukan pada tumor primer yang metastasis ke
kelenjar getah bening leher.
- Biopsi insisi atau biopsi cakot (punch) dilakukan bila tumor besar (>1 cm)
- Biopsi eksisi dilakukan pada tumor yang kecil ( 1 cm atau kurang) (Suyatno, 2010).

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan bervariasi dengan sifat dari lesi, cara yang dipilih dokter, dan pilihan
pasien:
1. Lesi kecil (T1, T2) terapi utama adalah pembedahan dan radioterapi. Radioterapi mungkin dapat
memberiikan hasil kuratif pada lesi T1 dan T2 dengan preservasi struktur anatomi dan fungsi
yang normal. Namun radioterapi sering menimbulkan kompllikasi berupa edema lidah yang
memerlukan trakeostomi, xerostomia, disgeusia dan osteoradionekrosis, hal ini mengakibatkan
tindakan kurang diminati (Suyatno, 2010).
2. Terapi pembedahan pada kanker lidah adalah eksisi luas dengan batas sayatan bebas tumor
(konfirmasi potong beku). Tindakan ini memerlukan partial glosectomy dan umumnya pasca
operasi fungsi baik. Lokal kontrol untuk 5 tahun pada T1 adalah 85% dan T2 adalah 80%. Pada
T3 dan T4 terapi utama adalah pembedahan. Hasil kuratif hanya bisa dicapai dangan reseksi en
bloc yang komplet daris emua tumor dan jaringan sekitar dengan sayatan secara mikroskopis
bebas tumor. RND (Radical Neck Dissection) harus dilakukan pada klinis N positif, RND adalah
pengangkatan kelenjar getah bening leher level I sampai V, musculus sternokleidomastoid, vena
jugularis interna, dan nervus assesoris (en bloc). Batas diseksi, superior adalah musculus
trapezius, anterior adalah tepi lateral musculus sternohiod dan batas bagian dalam adalah fasia
servikal yang menutupi musculus levator scapulae dan scalenus. SND (selective neck dissection)
level 1-3 dilakukan pada N0 SND harus dilakukan oleh tingginya insiden occult metastasis
kelenjar getah bening leher. SND adalah pengangkatan kelenjar getah bening pada level tertentu
yang mempunyai risiko tinggi metastasis dengan mempertahankan nervus assesorius, vena
jugularis interna dan musculus sternokleidomastoid. Pembedahan memberikan kuratifitas yang
lebih baik dibandigkan radioterapi dan memungkinkan untuk evaluasi patologi dari faktor
prognositik. Terkadang dibutuhkan rekonstruksi langsung (myocutaneous flap atau vacular free
flap) untuk mempertahankan fungsi dan kosmetik (Suyatno, 2010).
Reseksi pembedahan pada kanker mulut mencakup mandibulectomi parsial,
hemiglossectomi atau total glossectomi, dan resection bagian dasar mulut dengan buccal
mukosa. Prosedur pembedahan mencakup pembedahan leher dengan pengangkatan otot leher
lain, vena jugularis interna, kelenjar gondok, kelenjar submandibular, dan saraf spinal tambahan.
Penanganan pasien yang menderita kanker mulut dikelola oleh seluruh tim kesehatan. Rujukan
pada terapi bicara, terapi pekerjaan, psikolog, dan ahli diet sangat penting karena berhubungan
dengan masalah yang mungkin muncul berikut ini yaitu komunikasi verbal, mengunyah, dan
menelan yang membawa perubahan tampilan diri serta harga diri. (Charlene J. Reeves, 2001).

H. Prognosis
Karsinoma lidah yang kecil tanpa ada metastasis kelenjar getah bening adalah baik.
Namun bila sudah ada metastasis ke kelanjar getah benning prognosanya memburuk. Untuk lesi
T1 dan T2 rata-rata disease free survival 5 tahun adalah 80-90 % dengan terapi kuratif. Rata-rta
survival 5 tahuan untuk stadium III dan IV adalah 30-50%. Adanya metastasis ke kelenjar getah
bening leher menurunkan survival 15-30%. Unutk evaluasi prognosis dan hasil terapi yang lebih
baik, beberapa penelitian memperhatikan faktor pertumbuhan dan tumor marker. Over ekspresi
dari EGFR (epidermal growth factor) yang sangat bermanfaat untuk memprediksikan hasil terapi
dan survival (Suyatno, 2010).


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, nomor register, tanggal masuk,
dan nama penanggung jawab pasien elama dirawat.
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Alasan spesifik, untuk kunjugan anak ke klinik, kantor atau rumah sakit.
b) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama dari awitan paling awal sampai perkembangannya saat ini. Terdapat komponen
utama yaitu: rincian awitan, riwayat interval yang lengkap, status saat ini, alasan untuk mencari
bantuan saat ini.
c) Riwayat penyakit dahulu
d) Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada didalam keluarga ada salah satu anggota yang menderita tumor lidah.
e) Riwayat imunisasi
3. Pemeriksaan fisik
B1 (Breathing)
Merokok (tembakau, hidup dengan seseorang yang merokok)
B2 (Blood)
Takikardia, Hipertensi (nyeri hebat).
B3 (Brain)
Sakit kepala, tinitus, tuli, juling
B4 (Bladder)
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urine, perubahan bising usus,
distensi abdomen.
B5 (Bowel)
Anoreksia, mual, muntah, mulut rasa kering, inteleransi makanan, perubahan berat badan
B6 (Bone)
Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
4. Pemeriksaan diagnostik
a) Ultrasound yaitu dipakai untuk menilai massa superficial.
b) CT scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) yaitu digunakan untuk lesi lebih dalam dan
menilai struktur lebih dalam pada tumor dan menunjukkan apakah terdapat metastase atau tidak.
(Charlene J. Reeves, 2001)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampua untuk
mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral
3. Nyeri berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, efek dari pembedahan reseksi
4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan neurology dan kemampuan
menelan
5. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan penyakit atau pengobatan
6. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx. 1 : Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit
Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal
KH : - Suhu tubuh dalam batas normal
- Badan tidak terasa panas
Intervensi :
1. Kaji suhu dan tanda-tanda vital keadaan klien
R/ Memantau perubahan suhu tubuh
2. Pantau suhu klien, perhatikan menggigil
R/ Suhu 38-41C menunjukkan proses penyakit infeksius
3. Berikan kompres mandi hangat
R/ Dapat membantu mengurangi demam
4. Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ Mempertahankan intake
5. Anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat
R/ Menurunkan suhu tubuh
6. Kolaborasi pemberian antipiretik
R/ Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus
Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampua
untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral
Tujuan : Nutrisi terpenuhi
KH : - BB sesuai usia
- Nafsu makan meningkat
- Tidak mual / muntah
Intervensi :
1. Timbang BB setiap hari
R/ Untuk mengetahui terjadinya penurunan BB dan mengetahui tingkat perubahan
2. Berdiit makanan yang tidak merangsang (lunak / bubur)
R/ Untuk membantu perbaikan absorbsi usus
3. Anjurkan klien untuk makan dalam keadaan hangat
R/ Keadaan hangat dapat meningkatkan nafsu makan
4. Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering
R/ Untuk memenuhi asupan makanan
5. Berikan diit tinggi kalori, protein dan mineral serta rendah zat sisa
R/ Untuk memenuhi gizi yang cukup
6. Kolaborasi pemberian obat antipiretik
R/ Untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa mual dan muntah
Dx 3 : Nyeri berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, pembedahan reseksi
Tujuan : Nyeri hilang lebih berkurang, rasa nyaman terpenuhi
KH : - Skala nyeri 0
- Klien mengatakan nyeri berkurang
- Nadi 60-90x/menit
- Klien nyaman, tenang, rileks
Intervensi :
1. Kaji karakteristik nyeri
R/ Untuk menentukan tindakan dalam mengatur nyeri
2. Ubah posisi klien bila terjadi nyeri, arahkan ke posisi yang paling nyaman
R/ Posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri
3. Observasi nyeri berkurang atau tidak
R/ /Mengetahui skala nyeri saat ini
4. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
R/ Mengurangi rasa nyeri
5. Diskusikan dengan keluarga tentang nyeri yang di alami klien
R/ Keluarga berpartisipasi dalam pengobatan
6. Kolaborasi untuk mendapatkan obat analgesic
R/ Untuk memblok syaraf yang menimbulkan nyeri
Dx 4 : Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurologi dan
kemampuan menelan
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
KH : Komunikasi lancer
Intervensi :
1. Kaji kemampuan komunikasi klien
R/ Mengetahui kemampuan komunikasi klien
2. Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien tidak dapat
berkomunikasi verbal
R/ Membantu dalam berkomunikasi
3. Responsive terhadap bel panggilan dari klien
R/ Menjaga kepercayaan dari klien
Dx 5 : Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan penyakit atau pengobatan
Tujuan : tidak terjadi infeksi
KH : - Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor,color,dolor,tumor, fungsio lesa)
- TTV normal terutama suhu (36-37C)
Intervensi :
1. Monitor TTV
R/ Suhu yang meningkat dapat menunjukkan terjadi infeksi (color)
2. Kaji luka pada abdomen dan balutan
R/ Mengidentifikasi apakah ada tanda-tanda infeksi adanya pus
3. Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan pasien, teknik rawat luka dengan antiseptic
R/ Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organisme infeksius
4. Kolaborasi pemberian antibiotic
R/ Antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi
Dx 6 : Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan
Tujuan : Keluarga dapat menyatakan pemahaman proses penyakit
KH : Menyatakan pemahaman proses penyakit
Intervensi :
1. Kaji ulang proses penyakit, penyebab / efek hubungan factor yang menimbulkan gejala dan
mengidentifikasi cara menurunkan factor pendukung
R/ Mengetahui sejauh mana keluarga memahami penyakit tersebut
2. Tentukan persepsi tentang proses penyakit
R/ Menyamakan pola pikir
3. Jelaskan tentang penyakit yang diderita klien
R/ Memberikan informasi
4. Diskusikan kembali dengan keluarga
R/ Mengetahui sejauh mana informasi yang diterima keluarga


Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta.

Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

Roezin Averdi. 2004. Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta: FKUI.

Roezin, Averdi. 2003. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta:
FKUI.

Schrock, Theodore. 1995. Ilmu Bedah (Handbook Of Surgery). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Sjamsuhidayat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Suyatno. 2010. Bedah Onkologi Diagnostik dan Terapi. Jakarta: Sagung Seto.

ASKEP KANKER LIDAH

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Anatomi dan Fisiologi Lidah
Lidah dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. Lidah berfungsi untuk
menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan, untuk pengecapan dan dalam produksi
wicara.
a. Otot-otot ekstrinsik lidah berawal pada tulang dan jaringsn diluar lidah serta berfungsi dalam
pergerakan lidah secara keseluruhan.
b. Otot-otot intrinsik lidah memiliki serabut yang menghadap keberbagai arah untuk membentuk
sudut satu sama lain. Ini memberikan mobilitas yang besar pada lidah.
c. Papila adalah elevasi jaringan mukosa dan jaringan ikat pada permukaan dorsal lidah. Papila-
papila ini menyebabkan tekstur lidah menjadi kasar.
1. Papila fungiformis dan papila sirkumvalata memiliki kuncup-kuncup pengecap.
2. Sekresi berair dari kelenjar Von Ebner, terletak di otot lidah, bercampur dengan makanan pada
permukaan lidah dan membantu pengecapan rasa.
d. Tonsil-tonsil lingua adalah agregasi jaringan limfoid pada sepertiga bagian belakang lidah
(Sloane, 2003).
Lidah secara anatomi terbagi atas 3 bagian, yakni :
1. Apek linguae (ujung lidah)
2. Corpus linguae (badan lidah)
3. Radix linguae (akar lidah)

a) Struktur-struktur Superficial Dari Lidah
Membran mukosa yang melapisi lidah yaitu dipunggung lidah, dipinggir kanan dan kiri
dan disebelah muka terdapat tonjolan yang kecil-kecil disebut dengan papillae. Dasarnya papillae
ini terdapat kuncup-kuncup pengecap sehingga kita dapat menerima / merasa cita rasa. Ada
empat macam yaitu: papillae filiformes, papillae fungiformes, papillae circumvallatae dan
papillae foliatae.
Area dibawah lidah disebut dasar mulut. Membran mukosa disini bersifat licin, elastis dan
banyak terdapat pembuluh darah yang menyebabkan lidah ini mudah bergerak, serta pada
mukosa dasar mulut tidak terdapat papillae. Dasar mulut dibatasi oleh otot-otot lidah dan otot-
otot dasar mulut yang insertionya disebelah dalam mandibula. Disebelah dalam mandibula ini
terdapat kelenjar-kelenjar ludah sublingualis dan submandibularis.

b) Otot-otot Pada Lidah
otot-otot ekstrinsik melekatkan lidah ke bagian eksternal yaitu hioglosus, genioglosus,
palatoglosus, pharingoglosus dan stiloglusus. Otot-otot intrinsik ini berjalan vertikal, transversal
dan longirudinal. Dengan struktur otot ekstrinsik dan intrinsik memungkinkan lidah untuk
bergerak lincah (Suyatno, 2010)

c) Persarafan Pada Lidah
Otot-otot lidah di inervasi oleh nervus hipoglosus (N.XII). Sensasi untuk perabaan (touch
sensation) dari lidah 2/3 depan dibawah oleh N. Trigeminus (N. V cabang lingualis) dan dari 1/3
belakang lidah dibawah olhe N Glosopharingeus (N. IX). Sensasi untuk pengecapan (taste
sensation) dari 2/3 depan dibawah oleh N. Fasialis (VII) dan dari 1/3 belakang lidah melalui N.
Glosopharingeus. Vaskularisasi lidah terutama disediakan oleh arteri lingualis(Suyatno, 2010).

d) Aliran Limfa Pada Lidah
Aliran limfa disini penting oleh karena berhubungan dengan penyebaran dini carcinoma
lidah.Penyaluran limfe melalui lingua terjadi melalui 4 jalur :
1) Limfe dari bagian 1/3 posterior lingua disalurkan ke cervikalis profunda superior dikedua sisi.
2) Limfe dari bagian medial 2/3 anterior lingua disalurkan langsung ke cervicalis profunda
inferior.
3) Limfe dari bagian lateral 2/3 anterior lingua disalurkan ke submandibularis
4) Limfe dari ujung lingua disalurkan ke submentalis

B. Pengertian Kanker Lidah
Karsinoma lidah adalah suatu tumor yang terjadi didasar mulut, kadang-kadang meluas
kearah lidah dan menyebabkan gangguan mobilitas lidah (Van de Velde, 1999). Kanker lidah
(2/3 anterior). Sebagian besar (40%) dari kanker rongga mulut adalah kanker lidah. Lokasi tumor
paling sering adalah tepi lateral pada perbatasan antara bagian tengah dengan 1/3 belakang lidah.
Kanker lidah adalah suatu neoplasma maligna yang timbul dari jaringan epitel mukosa
lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (cell epitel gepeng berlapis), juga
beberapa penyakit-penyakit tertentu (premaligna). Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi ke
daerah sekitarnya, disamping itu dapat melakukan metastase secara limfogen dan hematogen.

C. ETIOLOGI
Kanker rongga mulut memiliki penyebab yang multifaktorial dan suatu proses yang
terdiri dari beberapa langkah yang melibatkan inisiasi, promosi dan perkembangan tumor. Secara
garis besar, etiologi kanker lidah:
1. Tembakau: 80% penderita kanker lidah adalah perokok. Risiko perokok adalah 5-9 kali lebih
besar dibandingkan bukan perokok.
2. Alkoholisme: peminum berat mempunyai risiko 30 kali lebih besar dan efeknya sinergis dengan
merokok.
3. Infeksi virus dalam rongga mulut: Human papilloma virus (HPV) khususnya HPV 16 dan HPV
18.
4. Oral hygiene yang jelek.
5. Sunburn: iritasi sinar matahari dan iritasi kronis lainnya.
6. Gaya hidup: kebiasaan mengunyah sirih.

D. PATOFISIOLOGI
Dasar lidah memainkan peran penting dalam berbicara dan menelan. Selama fase faring
menelan, makanan dan cairan yang mendorong ke arah oropharingdari rongga mulut oleh lidah
dan otot-otot pengunyahan. Laring terangkat, efektif menekan katub tenggorok dan memaksa
makanan, cair, dan air liur kedalam kerongkongan hypopharynx.
Meskipun laring menghasilkan suara, lidah dan faring adalah organ utama yang
membentuk suara. Kerugian jaringan dari dasar daerah lidah mencegah penutupan yang kedap
air dengan laring selama tindakan menelan. Ketidaksesuaian ini memungkinkan makanan dan
cairan untuk melarikan diridalam faring dan laring, koreografer dengan hati-hati mengubah
reflex menelan dan sering mengakibatkan aspirasi. Baik neurologis penurunan dan perubahan
dalam tindakan terkoordinasi menelan dari penyakit berbahaya didaerah ini dapat merusak
mempengaruhi pada kemampuan berbicara dan menelan.
Squamous sel carcinoma pada lidah sering timbul pada daerah epithelium yang tidak
normal, tetapi selain keadaan tersebut dan mudahnya dilakukan pemeriksaan mulut, lesi sering
tumbuh menjadi lesi yang besar sebelum pasien akhirnya datang ke dokter gigi. Secara histologis
tumor terdiri dari lapisan atau kelompok sel-sel eosinopilik yang sering disertai dengan
kumparan keratinasi. Menurut tanda histology, tumor termasuk dalam derajat I-IV (Broder). Lesi
yang agak jinak adalah kelompok pertama yang disebut carcinoma verukcus oleh Ackerman.
Pada kelompok ini, sel tumor masuk, membentuk massa papileferuspada permukaan. Tumor
bersifat pasif pada daerah permukaannya, tetapi jarang meluas ke tulang dan tidak mempunyai
anak sebar. Lidah mempunyai susunan pembuluh limfe yang kaya, hal ini akan mempercepat
metastase kelenjar getah bening dan dimungkinkan oleh susunan pembuluh limfe yang saling
berhubungan kanan dan kiri.
Tumor yang agak jinak cenderung membentuk massa papiliferus dengan penyebaran
ringan kejaringan didekatnya. Tumor paling ganas menyebar cukup dalam serta cepat ke jaringan
didekatnya dengan penyebaran permukaan yang kecil, terlihat sebagai ulser nekrotik yang dalam.
Sebagian besar lesi yang terlihat terletak diantara kedua batas tersebut dengan daerah nekrose
yang dangkal pada bagian tengah lesi tepi yang terlipat serta sedikit menonjol. Walaupun
terdapat penyebaran local yang besar, tetapi anak sebar tetap berjalan. Metastase haematogenus
terjadi pada tahap selanjutnya.

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Tanda awal umumnya berupa ulkus tanpa nyeri yang tidak sembuh-sembuh. Kemudian
membesar dan menekan atau menginfiltrsi jaringan sekita yang megakibatkan nyeri lokal, otalgia
ipsilateral dan nyeri mandibula (Suyatno, 2010).
2. Infiltrasi ke otot-otot ini mengakibatkan gerakan lidah terbatas sehingga proses menelan bolus
makanan dan bicara terganggu. Kanker ini dapat menginfiltrasi jaringan sekitarnya seperti dasar
mulut (floor of mouth, FOM), dasar lidah dan tonsil (Suyatno, 2010).
3. Sejalan dengan kemajuan kanker pasien dapat mengeluhkan nyeri tekan, kesulitan mengunyah,
menelan, dan berbicara, batuk dengan sputum bersemu darah atau terjadi pembesaran nodus
limfe servikal. (Baughman Diane C, 2000).
F. Pemeriksaan Diagnosis
1. CT-scan atau MRI dilakukan untuk menilai detail lokasi tumor, luas ekstensi tumor primer.
2. USG hepar, Foto thorax dan bone scan untuk evaluasi adanya metastasis jauh.
3. Biopsi
- FNAB ( Fine Needle Apiration Biopsy), dilakukan pada tumor primer yang metastasis ke
kelenjar getah bening leher.
- Biopsi insisi atau biopsi cakot (punch) dilakukan bila tumor besar (>1 cm)
- Biopsi eksisi dilakukan pada tumor yang kecil ( 1 cm atau kurang) (Suyatno, 2010).

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan bervariasi dengan sifat dari lesi, cara yang dipilih dokter, dan pilihan
pasien:
1. Lesi kecil (T1, T2) terapi utama adalah pembedahan dan radioterapi. Radioterapi mungkin dapat
memberiikan hasil kuratif pada lesi T1 dan T2 dengan preservasi struktur anatomi dan fungsi
yang normal. Namun radioterapi sering menimbulkan kompllikasi berupa edema lidah yang
memerlukan trakeostomi, xerostomia, disgeusia dan osteoradionekrosis, hal ini mengakibatkan
tindakan kurang diminati (Suyatno, 2010).
2. Terapi pembedahan pada kanker lidah adalah eksisi luas dengan batas sayatan bebas tumor
(konfirmasi potong beku). Tindakan ini memerlukan partial glosectomy dan umumnya pasca
operasi fungsi baik. Lokal kontrol untuk 5 tahun pada T1 adalah 85% dan T2 adalah 80%. Pada
T3 dan T4 terapi utama adalah pembedahan. Hasil kuratif hanya bisa dicapai dangan reseksi en
bloc yang komplet daris emua tumor dan jaringan sekitar dengan sayatan secara mikroskopis
bebas tumor. RND (Radical Neck Dissection) harus dilakukan pada klinis N positif, RND adalah
pengangkatan kelenjar getah bening leher level I sampai V, musculus sternokleidomastoid, vena
jugularis interna, dan nervus assesoris (en bloc). Batas diseksi, superior adalah musculus
trapezius, anterior adalah tepi lateral musculus sternohiod dan batas bagian dalam adalah fasia
servikal yang menutupi musculus levator scapulae dan scalenus. SND (selective neck dissection)
level 1-3 dilakukan pada N0 SND harus dilakukan oleh tingginya insiden occult metastasis
kelenjar getah bening leher. SND adalah pengangkatan kelenjar getah bening pada level tertentu
yang mempunyai risiko tinggi metastasis dengan mempertahankan nervus assesorius, vena
jugularis interna dan musculus sternokleidomastoid. Pembedahan memberikan kuratifitas yang
lebih baik dibandigkan radioterapi dan memungkinkan untuk evaluasi patologi dari faktor
prognositik. Terkadang dibutuhkan rekonstruksi langsung (myocutaneous flap atau vacular free
flap) untuk mempertahankan fungsi dan kosmetik (Suyatno, 2010).
Reseksi pembedahan pada kanker mulut mencakup mandibulectomi parsial,
hemiglossectomi atau total glossectomi, dan resection bagian dasar mulut dengan buccal
mukosa. Prosedur pembedahan mencakup pembedahan leher dengan pengangkatan otot leher
lain, vena jugularis interna, kelenjar gondok, kelenjar submandibular, dan saraf spinal tambahan.
Penanganan pasien yang menderita kanker mulut dikelola oleh seluruh tim kesehatan. Rujukan
pada terapi bicara, terapi pekerjaan, psikolog, dan ahli diet sangat penting karena berhubungan
dengan masalah yang mungkin muncul berikut ini yaitu komunikasi verbal, mengunyah, dan
menelan yang membawa perubahan tampilan diri serta harga diri. (Charlene J. Reeves, 2001).

H. Prognosis
Karsinoma lidah yang kecil tanpa ada metastasis kelenjar getah bening adalah baik.
Namun bila sudah ada metastasis ke kelanjar getah benning prognosanya memburuk. Untuk lesi
T1 dan T2 rata-rata disease free survival 5 tahun adalah 80-90 % dengan terapi kuratif. Rata-rta
survival 5 tahuan untuk stadium III dan IV adalah 30-50%. Adanya metastasis ke kelenjar getah
bening leher menurunkan survival 15-30%. Unutk evaluasi prognosis dan hasil terapi yang lebih
baik, beberapa penelitian memperhatikan faktor pertumbuhan dan tumor marker. Over ekspresi
dari EGFR (epidermal growth factor) yang sangat bermanfaat untuk memprediksikan hasil terapi
dan survival (Suyatno, 2010).


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, nomor register, tanggal masuk,
dan nama penanggung jawab pasien elama dirawat.
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Alasan spesifik, untuk kunjugan anak ke klinik, kantor atau rumah sakit.
b) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama dari awitan paling awal sampai perkembangannya saat ini. Terdapat komponen
utama yaitu: rincian awitan, riwayat interval yang lengkap, status saat ini, alasan untuk mencari
bantuan saat ini.
c) Riwayat penyakit dahulu
d) Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada didalam keluarga ada salah satu anggota yang menderita tumor lidah.
e) Riwayat imunisasi
3. Pemeriksaan fisik
B1 (Breathing)
Merokok (tembakau, hidup dengan seseorang yang merokok)
B2 (Blood)
Takikardia, Hipertensi (nyeri hebat).
B3 (Brain)
Sakit kepala, tinitus, tuli, juling
B4 (Bladder)
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urine, perubahan bising usus,
distensi abdomen.
B5 (Bowel)
Anoreksia, mual, muntah, mulut rasa kering, inteleransi makanan, perubahan berat badan
B6 (Bone)
Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
4. Pemeriksaan diagnostik
a) Ultrasound yaitu dipakai untuk menilai massa superficial.
b) CT scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) yaitu digunakan untuk lesi lebih dalam dan
menilai struktur lebih dalam pada tumor dan menunjukkan apakah terdapat metastase atau tidak.
(Charlene J. Reeves, 2001)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampua untuk
mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral
3. Nyeri berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, efek dari pembedahan reseksi
4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan neurology dan kemampuan
menelan
5. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan penyakit atau pengobatan
6. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx. 1 : Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit
Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal
KH : - Suhu tubuh dalam batas normal
- Badan tidak terasa panas
Intervensi :
1. Kaji suhu dan tanda-tanda vital keadaan klien
R/ Memantau perubahan suhu tubuh
2. Pantau suhu klien, perhatikan menggigil
R/ Suhu 38-41C menunjukkan proses penyakit infeksius
3. Berikan kompres mandi hangat
R/ Dapat membantu mengurangi demam
4. Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ Mempertahankan intake
5. Anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat
R/ Menurunkan suhu tubuh
6. Kolaborasi pemberian antipiretik
R/ Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus
Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampua
untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral
Tujuan : Nutrisi terpenuhi
KH : - BB sesuai usia
- Nafsu makan meningkat
- Tidak mual / muntah
Intervensi :
1. Timbang BB setiap hari
R/ Untuk mengetahui terjadinya penurunan BB dan mengetahui tingkat perubahan
2. Berdiit makanan yang tidak merangsang (lunak / bubur)
R/ Untuk membantu perbaikan absorbsi usus
3. Anjurkan klien untuk makan dalam keadaan hangat
R/ Keadaan hangat dapat meningkatkan nafsu makan
4. Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering
R/ Untuk memenuhi asupan makanan
5. Berikan diit tinggi kalori, protein dan mineral serta rendah zat sisa
R/ Untuk memenuhi gizi yang cukup
6. Kolaborasi pemberian obat antipiretik
R/ Untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa mual dan muntah
Dx 3 : Nyeri berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, pembedahan reseksi
Tujuan : Nyeri hilang lebih berkurang, rasa nyaman terpenuhi
KH : - Skala nyeri 0
- Klien mengatakan nyeri berkurang
- Nadi 60-90x/menit
- Klien nyaman, tenang, rileks
Intervensi :
1. Kaji karakteristik nyeri
R/ Untuk menentukan tindakan dalam mengatur nyeri
2. Ubah posisi klien bila terjadi nyeri, arahkan ke posisi yang paling nyaman
R/ Posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri
3. Observasi nyeri berkurang atau tidak
R/ /Mengetahui skala nyeri saat ini
4. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
R/ Mengurangi rasa nyeri
5. Diskusikan dengan keluarga tentang nyeri yang di alami klien
R/ Keluarga berpartisipasi dalam pengobatan
6. Kolaborasi untuk mendapatkan obat analgesic
R/ Untuk memblok syaraf yang menimbulkan nyeri
Dx 4 : Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurologi dan
kemampuan menelan
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
KH : Komunikasi lancer
Intervensi :
1. Kaji kemampuan komunikasi klien
R/ Mengetahui kemampuan komunikasi klien
2. Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien tidak dapat
berkomunikasi verbal
R/ Membantu dalam berkomunikasi
3. Responsive terhadap bel panggilan dari klien
R/ Menjaga kepercayaan dari klien
Dx 5 : Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan penyakit atau pengobatan
Tujuan : tidak terjadi infeksi
KH : - Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor,color,dolor,tumor, fungsio lesa)
- TTV normal terutama suhu (36-37C)
Intervensi :
1. Monitor TTV
R/ Suhu yang meningkat dapat menunjukkan terjadi infeksi (color)
2. Kaji luka pada abdomen dan balutan
R/ Mengidentifikasi apakah ada tanda-tanda infeksi adanya pus
3. Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan pasien, teknik rawat luka dengan antiseptic
R/ Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organisme infeksius
4. Kolaborasi pemberian antibiotic
R/ Antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi
Dx 6 : Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan
Tujuan : Keluarga dapat menyatakan pemahaman proses penyakit
KH : Menyatakan pemahaman proses penyakit
Intervensi :
1. Kaji ulang proses penyakit, penyebab / efek hubungan factor yang menimbulkan gejala dan
mengidentifikasi cara menurunkan factor pendukung
R/ Mengetahui sejauh mana keluarga memahami penyakit tersebut
2. Tentukan persepsi tentang proses penyakit
R/ Menyamakan pola pikir
3. Jelaskan tentang penyakit yang diderita klien
R/ Memberikan informasi
4. Diskusikan kembali dengan keluarga
R/ Mengetahui sejauh mana informasi yang diterima keluarga


Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta.

Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

Roezin Averdi. 2004. Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta: FKUI.

Roezin, Averdi. 2003. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta:
FKUI.

Schrock, Theodore. 1995. Ilmu Bedah (Handbook Of Surgery). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Sjamsuhidayat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Suyatno. 2010. Bedah Onkologi Diagnostik dan Terapi. Jakarta: Sagung Seto.