Anda di halaman 1dari 8

0

KONSTIPASI








Pembimbing :
dr. Mas Wisnu Wardhana, Sp.A

Oleh :
Vallensia Nurdiana Febriyanti (030.09.260)


Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
RSUD Kota Bekasi
Periode 17 Agustus 2014 25 Oktober 2014
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


1

TINJAUAN PUSTAKA
KONSTIPASI
I. Definisi
Definisi konstipasi bersifat relatif, tergantung pada konsistensi tinja, frekuensi buang
air besar dan kesulitan keluarnya tinja. Pada anak normal yang hanya berhajat setiap 2-3 hari
dengan tinja yang lunak tanpa kesulitan bukan disebut konstipasi. Namun, berhajat setiap 3
hari dengan tinja yang keras dan sulit keluar, sebaiknya dianggap sebagai konstipasi.
Konstipasi dapat timbul dari adanya defek pengisian maupun pengososongan rektum.
1

Bayi yang sedang menyusui mungkin sangat jarang buang air besar dengan
konsistensi yang normal; hal ini umumnya masih dalam batas normal. Konstipasi
sesungguuhnya, yang paling mungkin terjadi pada masa neonatus adalah akibat penyakit
Hirschprung, psudo-obstruksi intestinum atau hipotiroidisme.
1

II. Etiologi
Penyebab konstipasi pada anak dapat dibagi menjadi organik dan fungsional. Hampir
95% konstipasi pada anak disebabkan kelainan fungsional dan hanya 5% oleh kelainan
organik.

Penyebab konstipasi yang penting
Idiopatik atau fungsional


Organik
Intestinal

Kurangnya asupan serat, kurangnya
minum, kurang aktivitas fisik, stress dan
perubahan aktivitas rutin, ketersediaan
toilet dan masalah psikososial.

Penyakit Hirschprung, Stenosis ano-
rektal, Striktur, Volvulus, Pseudo-
obstruksi, penyakit Chagas.
2


Neuromuskuler


Metabolik

Obat-obatan

Retardasi psikomotor, tidak ada otot
perut, distrofi miotonik, Lesi tulang
belakang (tumor, spina bifida,
diastematomielia) Amiotonia kongenital.
Dehidrasi, Fibrosis kistik,
Hipotiroidisme, Hipokalemi, Asidosis
tubuler ginjal, Hiperkalsemia
Narkotik, Antidepresan, Psikoaktif,
Vinkristin
1


III. Klasifikasi Konstipasi
Berdasarkan patosiolog konstipasi:
1. Konstipasi akibat kelainan struktural, terjadi melalui proses obstruksi aliran tinja.
2. Konstipasi fungsional, berhubungan dengan gangguan motilitas kolon atau anorektal.
a. Primer: apabila penyebab dasar konstipasi tidak dapat ditentukan.
b. Sekunder: apabila penyebab dasar konstipasi dapat ditentukan.
2

Berdasarkan waktu berlangsungnya konstipasi:
1. Akut: apabila kejadian baru berlangsung selama 1-4 minggu
2. Kronis: apabila kejadian telah berlangsung lebih dari 4 minggu
2







3

IV. Patofisiologi
Konstipasi fungsional pada anak berhubungan dengan kebiasaan anak menahan
defekasi. Kebiasaan menahan tinja yang berulang akan meregangkan rektum dan kemudian
kolon sigmoid yang menampung tinja berikutnya. Statis tinja di kolon akan terus mengalami
reabsorbsi air dan elektrolit yang menyebabkan proses pengeringan tinja yang berlebihan,
membentuk skibala dan kegagalan untuk memulai reflek dari rektum, yang normalnya
memicu evakuasi. Pengosongan rektum melalui evakuasi spontan tergantung pada reflek
defekasi yang dicetuskan oleh reseptor otot-otot rektum. Seluruh proses akan berulang
dengan sendirinya, tinja yang keras dan besar menjadi lebih sulit dikeluarkan melalui kanal
anus, menimbulkan rasa sakit dan kemudian menimbulkan retensi tinja selanjutnya.
1
Dalam
proses defekasi terjadi tekanan yang berlebihan dalam usus besar. Tekanan tinggi ini dapat
memaksa bagian dari dinding usus besar (kolon) keluar dari sekitar otot, membentuk kantong
kecil yang disebut divertikula. Hemoroid juga bisa sebagai akibat dari tekanan yang
berlebihan saat defekasi.
Terdapat pengaruh makanan yang dikonsumsi terhadap konstipasi, ketika serat cukup
dikonsumsi, kotoran/feses akan menjadi besar dan lunak karena serat-serat tumbuhan dapat
menarik air, kemudian akan menstimulasi otot dan pencernaan dan akhirnya tekanan yang
digunakan untuk pengeluaran feses menjadi berkurang. Ketika serat yang dikonsumsi sedikit,
kotoran akan menjadi kecil dan keras.
2
Retensi tinja juga dapat disebabkan oleh lesi yang melibatkan otot-otot rektum,
serabut serabut aferen dan eferen dari tulang belakang bagian sakrum atau otot-otot perut
dan dasar panggul.Kelainan pada relaksasi sfingter anus bisa juga menyebabkan retensi tinja.
1

Pengisian rektum yang tidak sempurna terjadi bila peristaltik kolon tidak efektif,
misalnya pada kasus-kasus hipotiroidisme atau pemakaaian opium, dan bila ada obstruksi
besar yang disebabkan oleh kelainan struktur atau karena penyakit Hirschprung.
1

4



5

V. Diagnosis
Dalam menentukan adanya konstipasi terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan,
yaitu frekuensi BAB, konsistensi tinja, dan temuan pada pemeriksaan fisik. Pada anak berusia
sama atau kurang dari 4 tahun adanya konstipasi detentukan berdasarkan ditemukan minimal
salah satu gejala klinis berikut, (1) defekasi kurang dari 3 kali seminggu, (2) nyeri saat BAB,
(3) impaksi rektum, dan (4) adanya masa feses di abdomen. Kriteria untuk anak di atas 4
tahun agak berbeda digunakan kriteria sebagai berikut, (1) frekuensi BAB kurang atau sama
dengan dua kali seminggu tanpa menggunakan laksatif, (2) dua kali atau lebih episode
soiling/enkopresis dalam seminggu, dan (3) teraba masa feses di abdomen atau rektum pada
pemeriksaan fisik.
2

Anamnesis merupakan hal yang penting dalam menentukan adanya konstipasi pada
anak. Terdapat tiga hal penting yang perlu diketahui, yaitu (1) pola buang air besar seperti
frekuensi BAB, ukuran tinja, konsistensi tinja, dan nyeri saa BAB, (2) keadaan anak secara
umum, dan (3) riwayat konstipasi, seperti saat mekonium pertama kali muncul, dan saat
penerapan latihan berhajat.
2

Pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan pada pasien konstipasi adalah (1) masa tinja
pada abdomen kuadran kiri bawah abdomen, pada konstipasi berat dapat pula ditemukan di
bawah processus xiphoideus, (2) pemeriksaan colok dubur untuk melihat adanya fissura ani,
nyeri pada anus, adanya tinja dan konsistensi tinja di dalam rektum, ada tidaknya darah atau
tinja, tonus, dan konstraksi sfingter anus.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menentukan diagnosis adalah (1)
foto polos abdomen yang berguna untuk menilai adanya skibala dan kelainan pada tulang
belakang, (2) pemeriksaan waktu singgah kolon (transit time) untuk mengevaluasi konstipasi
kronik yang tidak memberikan respon optimal terhadap terapi yang diberikan (3) barium
enema untuk melihat daerah aganglion yang terdapat pada Hirschprung, (4) manometri
anoraktal untuk menilai tekanan rektum dan sfingter anus, serta menilai sensasi rektum,
refleks rekto-ani, dan rectal compliance
2




6

VI. Penatalaksanaan
1. Edukasi yang tepat pada anak dan orangtua dapat meningkatkan keberhasilan terapi
2. Latihan BAB (toilet training)
3. Stimulasi dalam bentuk olah raga pada anak yang kurang aktif
4. Makanan berserat
5. Pemberian laksatif oral atau mineral oil
6. Pembedahan pada kasus konstipasi tertentu
2



















7

DAFTAR PUSTAKA
1. Nelson Waldo, Behrman Waldo, Kliegman Robert, Arvin Ann. Sistem Saluran
pencernaan. In: Wahab Samik. Ilmu Kesehatan Anak. 15th ed. Jakarta: EGC; 2000; p.
1274-75
2. Endyarni Bernie, Syarif Badriul. Konstipasi fungsional. Sari Pedriatri 2004; 6 (suppl
2): 75-80