Anda di halaman 1dari 24

OVERVIEW: AKUNTANSI KEUANGAN

PEMERINTAH DAERAH
1 1
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

2 2
BAB I
OVERVIEW:
AKUNTANSI KEUANGAN
PEMERINTAH DAERAH

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari materi akuntansi keuangan pemerintahan daerah ini, peserta
secara garis besar akan memahami dasar-dasar akuntansi yang menjadi pedoman
pelaksanaan akuntansi di daerah.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mempelajari materi dasar-dasar akuntansi keuangan Pemerintah Daerah,
peserta secara khusus akan memahami Definisi Akuntansi; Dasar-dasar dan
Teknis Akuntansi Pemerintah Daerah; Jenis-jenis Transaksi di Pemda; Struktur
Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah; Jenis-jenis Akuntansi; Standar Akuntansi
Pemerintahan dan Kebijakan Akuntansi Keuangan Daerah.

A. PENDAHULUAN
Mengacu pada siklus pengelolaan keuangan daerah, fase pertama dari siklus
tersebut adalah perencanaan fundamental yang menjadi tanggung jawab legislatif dan
eksekutif dan dituangkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJPD). Selanjutnya disusun perencanaan jangka menengah yang dituangkan
dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Fase
kedua merupakan tahap perencanaan operasional, selanjutnya eksekutif menyusun
perencanaan tahunan yang dituangkan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD) yang didukung oleh rencana kerja (Renja) SKPD dan PPKD.

3 3
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

Dokumen perencanaan ini selanjutnya menjadi acuan pada fase ketiga yaitu
penganggaran. Pada fase keempat, merupakan tahapan pelaksanaan anggaran dan
pengukuran. Pada fase inilah akuntansi keuangan daerah memainkan peranannya. Fase
kelima merupakan tahapan terakhir, yaitu pelaporan dan umpan balik. Dari tahapan
pelaporan ini akan dihasilkan Laporan Realisasi Anggaran (LRA), neraca, laporan arus
kas, dan catatan atas laporan keuangan; yang dapat memberikan umpan balik bagi
fase-fase sebelumnya.
Karena tujuan dari materi ini adalah untuk menjelaskan secara garis besar akuntansi
keuangan pemerintah daerah, maka dapat dijelaskan bagaimana kedudukan dan peran
akuntansi di pemerintah daerah.
Akuntansi keuangan pemerintah daerah merupakan bagian dari akuntansi sektor
publik, yang mencatat dan melaporkan semua transaksi yang berkaitan dengan keuangan
daerah. Yang disebut keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam
rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang, termasuk
di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
daerah tersebut.
Ruang lingkup keuangan negara yang dikelola langsung oleh Pemerintah Pusat
adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan yang dikelola langsung
oleh Pemerintah Daerah adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Baik APBN maupun APBD merupakan inti dari akuntansi keuangan pemerintahan. Oleh
karena itu, kedudukan APBN dan APBD dalam penatausahaan keuangan dan akuntansi
pemerintahan sangatlah penting.
APBN dan APBD merupakan rencana kegiatan pemerintah yang dinyatakan
dalam satuan uang dan meliputi rencana pengeluaran dan pemenuhan pengeluaran
tersebut.
Definisi anggaran menurut The National Committee on Governmental Accounting
(NCGA) adalah “Rencana kegiatan yang diwujudkan dalam bentuk finansial, yang meliputi
usulan pengeluaran yang diperkirakan untuk suatu periode waktu tertentu, beserta usulan
cara-cara memenuhi pengeluaran tersebut”.
Setelah dikeluarkannya paket Undang-Undang Keuangan Negara yaitu UU No. 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara, maka informasi keuangan negara yang meliputi Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah dilengkapi dengan informasi Neraca, Laporan Arus Kas, Catatan
atas Laporan Keuangan, selain informasi mengenai Laporan Realisasi APBN/APBD.
Pelaporan keuangan pemerintah selanjutnya harus mengacu pada Standar Akuntansi
Pemerintah seperti yang tertuang dalam PP 24 Tahun 2005.
Selanjutnya dalam PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
diatur bahwa Pemerintah Daerah harus membuat sistem akuntansi yang diatur dengan
Peraturan Kepala Daerah. Sistem akuntansi keuangan pemerintah daerah adalah
sistem akuntansi untuk mencatat, menggolongkan, menganalisis, mengikhtisarkan dan

4
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

melaporkan transaksi-transaksi keuangan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam


rangka pelaksanaan APBD.

B. DEFINISI AKUNTANSI
Definisi akuntansi menurut Accounting Principles Board (1970) adalah “Suatu
kegiatan jasa yang fungsinya menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat
keuangan tentang entitas ekonomi, digunakan untuk pengambilan keputusan ekonomi
dalam membuat pilihan-pilihan alternatif arah tindakan”.
Definisi akuntansi menurut American Accounting Association (1966) adalah “Suatu
proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi
(keuangan) dari suatu organisasi/entitas yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka
pengambilan keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan”. Pengertian ini
juga dapat melingkupi analisis atas laporan yang dihasilkan oleh akuntansi tersebut.
Dalam kedua definisi tersebut dapat diketahui bahwa:
1. Peran akuntansi adalah menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat
keuangan, tentang ’entitas’ ekonomi.
2. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi yang dimaksudkan agar berguna
sebagai input yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang
rasional.

Akuntansi Sektor Publik didefinisikan sebagai sistem informasi yang mengidentifikasi,


mengatur, dan mengkomunikasikan informasi ekonomi dan entitas sektor publik.
Informasi ekonomi sektor publik berguna untuk pengambilan keputusan:
1. Alokasi sumber daya ekonomi
2. Pelayanan publik
3. Kinerja Organisasi sektor publik
4. Penilaian kemampuan likuiditas
5. Distribusi pendapatan dan stabilitas ekonomi

C. DASAR-DASAR DAN TEKNIS AKUNTANSI KEUANGAN


PEMERINTAH DAERAH
C.1. Pembukuan Tunggal (Single Entry) dan Pembukuan Berpasangan (Double
Entry)
C.1.1. Pembukuan Tunggal (Single Entry)
Sistem pencatatan single entry sering disebut juga dengan sistem tata buku tunggal
atau tata buku saja. Dalam sistem ini, pencatatan transaksi ekonomi dilakukan dengan

5
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

mencatat secara tunggal (tidak berpasangan). Transaksi yang berakibat bertambahnya


kas akan dicatat pada sisi Penerimaan dan transaksi yang berakibat berkurangnya kas
akan dicatat pada sisi Pengeluaran. Di Pemerintah Daerah selama hampir 3 dekade,
pencatatan ini dipraktikkan, contohnya dalam Buku Kas Umum (BKU).
Pencatatan semacam itu disebut juga pembukuan. Sistem tata buku tersebut
merupakan sebagian kecil dari akuntansi. Sistem ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu
sederhana dan mudah dipahami. Akan tetapi, sistem ini juga memiliki kelemahan, antara
lain kurang lengkap untuk pelaporan karena hanya dapat melaporkan saldo kas, dan tidak
dapat melaporkan utang, piutang, dan ekuitas dana. Juga sulit untuk melakukan kontrol
transaksi, akibatnya sulit menelusuri kesalahan pembukuan yang terjadi. Oleh karena
itu, dalam akuntansi terdapat sistem pencatatan yang lebih baik dan dapat mengatasi
kelemahan di atas. Sistem ini disebut sistem double entry. Sistem pencatatan double
entry inilah yang sering disebut akuntansi.

C.1.2. Pembukuan Berpasangan (Double Entry)


Sistem pencatatan double entry juga sering disebut sistem tata buku berpasangan.
Menurut sistem ini, pada dasarnya suatu transaksi akan dicatat secara berpasangan
(double= berpasangan, entry= pencatatan). Pencatatan dengan sistem ini disebut dengan
istilah menjurnal. Dalam pencatatan tersebut ada sisi Debit dan Kredit. Sisi Debit ada
di sebelah kiri, sedangkan sisi Kredit ada di sebelah kanan. Setiap pencatatan harus
menjaga keseimbangan persamaan dasar akuntansi, yaitu aset = kewajiban + ekuitas
dana.

C.2. Siklus Akuntansi


Akuntansi adalah suatu sistem. Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas
subsistem-subsistem atau kesatuan yang lebih kecil, yang berhubungan satu sama lain
dan memiliki tujuan tertentu. Suatu sistem mengolah masukan (input) menjadi keluaran
(output). Input sistem akuntansi adalah bukti-bukti transaksi dalam bentuk dokumen
atau formulir. Output-nya adalah laporan keuangan. Di dalam proses akuntansi, terdapat
beberapa catatan yang dibuat. Catatan-catatan tersebut adalah jurnal, buku besar, dan
buku pembantu.
Sistem akuntansi dapat dijelaskan secara rinci melalui siklus akuntansi. Yang di-
maksud dengan siklus akuntansi adalah tahap-tahap yang ada dalam sistem akuntansi.
Apabila digambarkan sebagai berikut:

6
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

PROSES AKUNTANSI POKOK

Dokumen Catatan Laporan

APBD Ditetapkan
Dewan
Jenis-jenis transaksi
keuangan Pemda
Realisasi
APBD
Pencatatan & Peringkasan Pelaporan
Penggolongan
Dokumen Sumber : Buku Buku Laporan
- SP2D
- SPJ Jurnal Besar Keuangan
- Bukti Memorial

Buku
Pembantu Kertas
Kerja

̇ Bukti Penerimaan Kas ̇ Buku Jurnal Kumpulan


̇ Laporan Realisasi
Penerimaan Kas Anggaran
Rekening
̇ Bukti Pengeluaran Kas ̇ Buku Jurnal (Ringkasan & ̇ Laporan Arus Kas
Pengeluaran Kas Rincian) ̇ Neraca Daerah
̇ Bukti Memorial ̇ Buku Jurnal Umum ̇ CALK

Kebijakan Akuntansi

C.2.1 Persamaan Akuntansi


Persamaan dasar akuntansi merupakan alat bantu untuk memahami sistem pencata-
tan ini. Persamaan dasar akuntansi tersebut dalam konteks akuntansi pemerintahan
dapat diuraikan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
ASET = KEWAJIBAN + EKUITAS DANA

ASET = KEWAJIBAN + EKUITAS DANA + PENDAPATAN - BELANJA

ASET + BELANJA = KEWAJIBAN + EKUITAS DANA + PENDAPATAN

ASET + BELANJA + KEWAJIBAN + EKUITAS DANA +


PENGELUARAN PEMBIAYAAN = PENERIMAAN PEMBIAYAAN
1

Keterangan : Keempat tahap persamaan akuntansi di atas, berlaku untuk


7
akuntansi di SKPD dan PPKD. Namun karena di SKPD tidak ada transaksi
pembiayaan, maka hanya berlaku tahap persamaan satu sampai tiga.
Definisi dari akun-akun yang terdapat dalam persamaan akuntansi di
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

Keterangan: Keempat tahap persamaan akuntansi di atas, berlaku untuk akuntansi


di SKPD dan PPKD. Namun karena di SKPD tidak ada transaksi pembiayaan, maka
hanya berlaku tahap persamaan satu sampai tiga.
Definisi dari akun-akun yang terdapat dalam persamaan akuntansi di atas adalah
sebagai berikut:
Aset adalah sumber-sumber ekonomis yang dikuasai oleh pemerintah dan diharap-
kan memberikan kemanfaatan di masa yang akan datang.
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya
mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah di masa yang akan
datang.
Ekuitas dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara
aset dan kewajiban pemerintah.
Pendapatan adalah semua penerimaan daerah dalam periode tahun anggaran
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan menambah ekuitas dana lancar.
Belanja adalah semua pengeluaran Pemerintah Daerah pada suatu periode anggaran
yang mengurangi ekuitas dana lancar.
Pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan
maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.

Diagram Persamaan Akuntansi

Persamaan Akuntansi Umum

Debit/Dr (Sisi Kiri) Credit/Cr (Sisi Kanan)

1.2.2.2 Konsep Debit dan Kredit


Aset Suatu transaksi= yang
Ekuitas Dana bertambahnya aktiva akan dicatat
berakibat
Aset pada sisi Debit, sedangkan
= Kewajiban yang berakibat
+ Ekuitas Dana berkurangnya aktiva
akan dicatat pada sisi Kredit. Hal yang sama dilakukan untuk
Aset = Kewajiban+ Ekuitas Dana + (Pendapatan - Belanja)
belanja.
Aset + Belanja = Kewajiban + Ekuitas Dana + Pendapatan

Hal yang sebaliknya


Aset + Belanja dilakukan
= Kewajiban untuk
+ Ekuitas Danautang, ekuitas+ dana, dan
+ Pendapatan
(Penerimaan Pembiayaan – Pengeluaran Pembiayaan)
pendapatan. Apabila suatu transaksi mengakibatkan
Aset + Belanja
bertambahnya =utang, maka pencatatan
+ Pengeluaran Kewajiban + Ekuitas Dana akan dilakukan pada sisi
+ Pendapatan
+ Penerimaan Pembiayaan
Kredit, jika mengakibatkan berkurangnya utang, pencatatan
Pembiayaan
dilakukan pada sisi Debit. Cara yang sama dilakukan untuk

8
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

C.2.2. Konsep Debit dan Kredit


Suatu transaksi yang berakibat bertambahnya aset akan dicatat pada sisi Debit,
sedangkan yang berakibat berkurangnya aset akan dicatat pada sisi Kredit. Hal yang
sama dilakukan untuk belanja dan pengeluaran pembiayaan karena memiliki kesamaan
sifat dengan aset dalam konsep debit/kreditnya.
Hal yang sebaliknya dilakukan untuk kewajiban, ekuitas dana, dan pendapatan.
Apabila suatu transaksi mengakibatkan bertambahnya kewajiban, maka pencatatan
akan dilakukan pada sisi Kredit, jika mengakibatkan berkurangnya kewajiban, pencatatan
dilakukan pada sisi Debit. Hal serupa dilakukan untuk ekuitas dana, pendapatan, dan
penerimaan pembiayaan karena memiliki kesamaan sifat dengan aset dalam konsep
debit/kreditnya.

C.2.3. Penjurnalan (Journalizing)


Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005, sistem pencatatan yang
digunakan pada akuntansi keuangan pemerintah daerah adalah sistem akuntansi
berpasangan (double entry system). Dalam sistem ini, dikenal istilah penjurnalan.
Menjurnal adalah prosedur mencatat transaksi keuangan di buku jurnal. Buku jurnal
adalah media untuk mencatat transaksi secara kronologis (berdasarkan urutan waktu
terjadi transaksi).
Jurnal dirancang sedemikian rupa sehingga menampung transaksi beserta
keterangan-keterangan dan kondisi-kondisi yang menyertainya. Keberadaan jurnal dalam
proses akuntansi tidak menggantikan peran rekening/akun (account) dalam mencatat
transaksi, tetapi merupakan sumber untuk pencatatan ke dalam rekening/akun. Oleh
karena itu, jurnal sering disebut sebagai the books of original entry (catatan akuntansi
permanen yang pertama). Dengan adanya jurnal, pencatatan ke rekening/akun menjadi
lebih mudah, sebab jurnal memilah-milah transaksi pendebitan dan pengkreditan
yang sesuai dengan rekening/akun yang bersangkutan. Penjurnalan harus menjaga
keseimbangan persamaan akuntansi.
Di bawah ini ditunjukkan format jurnal yang umumnya dijumpai di dalam sistem
akuntansi. Contoh:

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA

SKPD : JURNAL UMUM Hal. ……….


SKPD : Hal. ……….
SKPD : Hal. ……….
Kode Organisasi :

Tanggal Kode Rek. Uraian Ref. Debit Kredit


(Rp) (Rp)

9
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

C.2.4. Buku Besar


Buku besar adalah buku yang berisi kumpulan rekening/akun/perkiraan (account).
Rekening-rekening digunakan untuk mencatat secara terpisah aktiva, kewajiban, dan
ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Dengan demikian, rekening/akun
merupakan kumpulan informasi dalam suatu sistem akuntansi. Untuk kelompok aktiva,
SKPDakan dijumpai rekening/akun
misalnya, : Kas untuk mencatat Hal.
kas,……….
rekening Piutang
untuk mencatat piutang pajak, piutang retribusi, dan lain-lain, dan rekening Tanah
untuk mencatat tanah. Dalam kelompok Utang akan dijumpai rekening seperti Utang
Perhitungan Pihak Ketiga, Utang pada Bank A, dan seterusnya. Dalam kelompok Ekuitas
Dana akan dijumpai antara lain rekening Ekuitas Dana Lancar, Ekuitas Dana Investasi,
dan Ekuitas Dana Cadangan.
Transaksi ekonomi mula-mula dicatat menggunakan jurnal. Kemudian jurnal tersebut
diposting ke rekening-rekening buku besar yang sesuai. Tindakan ini disebut posting.
Posting ke buku besar sekaligus merupakan penggolongan dan peringkasan transaksi
sebab tiap-tiap data transaksi dibawa ke tiap-tiap rekening/akun yang sesuai. Posting
dapat dilakukan secara kronologis sebagaimana halnya penjurnalan, tetapi dapat juga
secara periodik (mingguan atau bulanan). Buku besar merupakan catatan akuntansi
permanen yang terakhir, sehingga dikenal dengan the books of final entry.
Bentuk rekening Buku Besar yang paling sederhana adalah sebagai berikut:

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
BUKU BESAR
SKPD : Hal. ……….

KODE ORGANISASI :
NAMA AKUN/ REKENING :
KODE REKENING :

Tanggal Uraian Ref. Debit Kredit Saldo


(Rp) (Rp) (Rp)

Format rekening dapat pula berbentuk menyerupai aksara T sehingga kerap


disebut bentuk T. Rekening berbentuk T tampak sebagai berikut:

10
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
BUKU BESAR
SKPD : Hal. ……….
KODE ORGANISASI :
NAMA AKUN/REK :
KODE REKENING :

Tanggal Uraian Ref. Debit Tanggal Uraian Ref. Kredit


(Rp) (Rp)

C.2.5. Saldo Normal


Seperti telah dijelaskan sebelumnya mengenai konsep Debit dan Kredit, sisi kiri
atau Debit digunakan untuk mencatat kenaikan saldo rekening aktiva, belanja, dan
pengeluaran pembiayaan. Sebaliknya sisi kanan atau Kredit digunakan untuk mencatat
kenaikan rekening kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, dan penerimaan pembiayaan.
Apabila dihubungkan dengan persamaan dasar akuntansi, hal ini dapat digambarkan
dalam rekening bentuk T seperti gambar berikut:
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Pengeluaran Ekuitas Penerimaan
Aset + Belanja + Pembiayaan = Kewajiban + Dana + Pendapatan + Pembiayaan
Pengeluaran Ekuitas Penerimaan
Aset Belanja Pembiayaan Kewajiban Dana Pendapatan Pembiayaan
D K D K D K D K D K D K D K

+ - + - + - - + - + - + - +

Berdasarkan gambar di atas, penjelasan Debit dan Kredit dapat dirinci sebagai
berikut:
(1) Saldo normal rekening kelompok Aset bertambah di sisi Debit dan berkurang di sisi
Kredit;
(2) Saldo normal rekening kelompok Belanja bertambah di sisi Debit dan berkurang di
sisi Kredit;
(3) Saldo normal rekening kelompok Pengeluaran Pembiayaan bertambah di sisi Debit
dan berkurang di sisi Kredit;
(4) Saldo normal rekening kelompok Kewajiban bertambah di sisi Kredit dan berkurang
di sisi Debit;

11
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

(5) Saldo normal rekening kelompok Ekuitas Dana bertambah di sisi Kredit dan berkurang
di sisi Debit;
(6) Saldo normal rekening kelompok Pendapatan bertambah di sisi Kredit dan berkurang
di sisi Debit;
(7) Saldo normal rekening akun Penerimaan Pembiayaan bertambah di sisi Kredit
dan berkurang di sisi Debit, sedangkan saldo normal rekening akun Pengeluaran
Pembiayaan bertambah di sisi Debit dan berkurang di sisi Kredit.

Dengan kata lain, saldo normal rekening kelompok Aset, Belanja, dan Pengeluaran
Pembiayaan adalah Debit, sedangkan saldo normal rekening kelompok Kewajiban,
Ekuitas Dana, Pendapatan, dan Penerimaan Pembiayaan adalah Kredit.

C.2.6 Laporan Keuangan


Laporan keuangan terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus
Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Laporan Realisasi Anggaran
Menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang
dikelola oleh pemerintah daerah, yang menggambarkan perbandingan antara
anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan. Pelaporan mencerminkan
kegiatan keuangan pemerintah daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap
pelaksanaan APBD. Dengan demikian, Laporan Realisasi Anggaran menyajikan
pendapatan pemerintah daerah selama satu periode, belanja, surplus/defisit,
pembiayaan dan sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran.

2. Neraca
Adalah laporan keuangan yang menyajikan posisi keuangan entitas ekonomi pada
suatu saat (tanggal) tertentu. Laporan ini dibuat untuk menyajikan informasi keuangan
yang dapat dipercaya mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana.

3. Laporan Arus Kas


Menyajikan informasi tentang sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara
kas, selama satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal
pelaporan.
Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi,
pembiayaan, dan non-anggaran.

4. Catatan atas Laporan Keuangan


Disajikan secara sistematis sesuai dengan Stándar Akuntansi Pemerintahan, di mana
setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas, harus
mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Di samping itu juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang
digunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan

12
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

untuk diungkapkan di dalam standar akuntansi pemerintahan serta ungkapan-


ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara
wajar.

D. JENIS-JENIS TRANSAKSI PEMERINTAH DAERAH (PEMDA)


Dalam akuntansi keuangan pemerintah daerah, jenis transaksi dapat dirinci
berdasarkan struktur APBD yang terdiri dari pendapatan daerah, belanja daerah, dan
pembiayaan daerah. Selain itu masih ada jenis transaksi lain, yaitu transaksi Non-Kas
Pemda, dan transaksi Rekening Antar-Kantor (RAK), yaitu antara PPKD-SKPD. Rekening
Antar-Kantor akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab III.
Di samping itu, berdasarkan sifat dan jenis entitas, transaksi masih dapat dibagi ke
dalam akuntansi untuk transaksi di SKPD atau disebut transaksi SKPD dan transaksi
untuk tingkat Pemda yang ditangani PPKD atau disebut juga transaksi PPKD.

D.1. Pendapatan Daerah


Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum
daerah, yang menambah ekuitas dana. Ini merupakan hak daerah dalam satu tahun
anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan daerah meliputi:
Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang
Sah.

D.2. Belanja Daerah


Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang
mengurangi ekuitas dana, merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran
dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja Daerah meliputi:
Belanja Langsung, yaitu belanja yang terkait langsung dengan pelaksanaan program;
Belanja Tidak Langsung, yaitu belanja tugas pokok dan fungsi yang tidak dikaitkan
dengan pelaksanaan program.

D.3. Pembiayaan Daerah


Pembiayaan daerah meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau
untuk memanfaatkan surplus. Pembiayaan Daerah terdiri dari Penerimaan Pembiayaan,
Pengeluaran Pembiayaan, dan Sisa Lebih Anggaran Tahun Berkenaan. Termasuk dalam
transaksi Penerimaan Pembiayaan yang dimaksudkan untuk mengatasi defisit anggaran
adalah: Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya; Pencairan dana
cadangan; Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; Penerimaan pinjaman
daerah; Penerimaan kembali pemberian pinjaman; Penerimaan piutang daerah.
Sedangkan yang termasuk dalam Pengeluaran Pembiayaan Daerah yang dimaksudkan

13
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

untuk menyalurkan surplus anggaran adalah: Pembentukan dana cadangan; Penyertaan


modal (investasi) pemerintah daerah; Pembayaran pokok utang; Pemberian pinjaman
daerah.

D.4. Transaksi selain Kas


Prosedur akuntansi selain kas meliputi serangkaian proses, mulai dari pencatatan,
pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua
transaksi atau kejadian selain kas yang meliputi transaksi: koreksi kesalahan dan
penyesuaian; pengakuan aset tetap, utang jangka panjang, dan ekuitas; depresiasi; dan
transaksi yang bersifat accrual dan prepayment; hibah selain kas.

D.4.1. Koreksi Kesalahan dan Penyesuaian


Koreksi kesalahan pencatatan merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam
membuat jurnal dan telah diposting ke buku besar; sedangkan penyesuaian
adalah transaksi penyesuaian pada akhir periode untuk mengakui pos-pos seperti
persediaan, piutang, utang, dan yang lain yang berkaitan dengan adanya perbedaan
waktu pencatatan dan yang belum dicatat pada transaksi berjalan atau pada periode
yang berjalan.

D.4.2. Pengakuan Aset Tetap, Utang Jangka Panjang, dan Ekuitas


Pengakuan Aset Tetap merupakan pengakuan terhadap perolehan aset yang
dilakukan oleh Satuan Kerja. Pengakuan aset tetap dan ekuitas sangat terkait dengan
belanja modal yang dilakukan oleh Satker (lihat pada Akuntansi Belanja).
Pengakuan Utang, jika dalam hal ini adalah pengakuan utang perhitungan pihak
ketiga di Satker, maka sangat terkait dengan transaksi belanja yang mengharuskan
pemotongan pajak atau potongan-potongan belanja lainnya (lihat pada Akuntansi
Belanja). Namun jika utang yang dimaksud adalah utang jangka panjang, maka hal
ini timbul dari transaksi pembiayaan penerimaan yang dilakukan oleh PPKD.

D.4.3. Depresiasi
Depresiasi dilakukan untuk menyusutkan nilai aset yang dimiliki oleh Satker (apabila
diperlukan).

D.4.4. Transaksi yang bersifat accrual dan prepayment


Transaksi yang bersifat accrual dan prepayment muncul karena adanya transaksi
yang sudah dilakukan Satker namun pengeluaran kas belum dilakukan (accrual) atau
terjadi pengeluaran kas untuk belanja di masa yang akan datang (prepayment).

D.4.5. Hibah selain Kas


Penerimaan atau pengeluaran hibah selain kas adalah penerimaan atau pengeluaran
sumber ekonomi nonkas yang merupakan pelaksanaan APBD yang mengandung
konsekuensi ekonomi bagi pemerintah daerah.

14
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

E. STRUKTUR AKUNTANSI KEUANGAN PEMERINTAH


DAERAH
Struktur akuntansi di pemerintah daerah menggunakan konsep transaksi Kantor
Pusat – Kantor Cabang (Home Office – Branch Office Transaction atau disingkat menjadi
HOBO). Di Pemda yang bertindak sebagai Kantor Pusat adalah PPKD dan yang bertindak
sebagai Kantor Cabang adalah SKPD. Pemilihan struktur ini sesuai dengan Undang
Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pasal 10 ayat (3) dan Peraturan
Pemerintah No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 100,
yang menetapkan bahwa pelaksanaan akuntansi dan pelaporan keuangan dilakukan di
tingkat SKPD sebagai entitas akuntansi dan Pemda sebagai entitas pelaporan. Sebagai
konsekuensi dari struktur akuntansi tersebut diperlukan kontrol pencatatan antara PPKD
dan SKPD melalui mekanisme akun resiprokal (reciprocal account) yaitu akun Rekening
Koran-PPKD yang ada di SKPD dan akun Rekening Koran-SKPD yang ada di PPKD.
Akuntansi Rekening Koran-PPKD merupakan akuntansi ekuitas dana di tingkat SKPD.
Akun “Rekening Koran-PPKD” setara dengan akun “Ekuitas Dana”, tetapi penggunanya
khusus SKPD. Hal ini dikarenakan SKPD merupakan cabang dari Pemda, sehingga
sebenarnya SKPD tidak memiliki ekuitas dana sendiri, melainkan hanya menerima
ekuitas dana dari Pemda, melalui mekanisme transfer. Akun “Rekening Koran-PPKD”
akan bertambah bila SKPD menerima transfer aset (seperti menerima SP2D UP dan GU,
menerima aset tetap dari Pemda), pelunasan pembayaran belanja LS (menerima SP2D
LS), dan akan berkurang bila SKPD mentransfer aset ke Pemda (seperti penyetoran
uang ke Pemda).
Saldo normal akun “Rekening Koran-PPKD” adalah kredit (Cr). Akun “Rekening Koran-
PPKD” dapat dibagi menjadi:
- Rekening Koran-PPKD Kas
- Rekening Koran-PPKD Piutang
- Rekening Koran-PPKD Persediaan
- Rekening Koran-PPKD Aset Tetap
- Rekening Koran-PPKD Aset lainnya
- Rekening Koran-PPKD Belanja
- Rekening Koran-PPKD Utang

Akun Rekening Koran-PPKD Utang merupakan contra account dari Rekening


Koran-PPKD, sehingga saldonya adalah Debit (Dr). Akun-akun Rekening Koran-PPKD
ini rekening resiprokal-nya yaitu akun Rekening Koran-SKPD yang ada di PPKD
sebagai akun aset.
Saldo normal akun “Rekening Koran-SKPD” adalah Debit (Dr). Akun “Rekening Koran-
SKPD” dapat dibagi menjadi:
- Rekening Koran-SKPD Kas
- Rekening Koran-SKPD Piutang

15
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

- Rekening Koran-SKPD Persediaan


- Rekening Koran-SKPD Aset Tetap
- Rekening Koran-SKPD Aset lainnya
- Rekening Koran-SKPD Belanja
- Rekening Koran-SKPD Utang

Akun Rekening Koran-SKPD Utang merupakan contra account dari Rekening


Koran-SKPD, sehingga saldonya adalah Kredit (Cr). Akun-akun Rekening Koran-PPKD
dan Rekening Koran-SKPD ini akan dieliminasi pada saat akan dibuat penggabungan
laporan keuangan di Pemda oleh PPKD/BUD.

F. JENIS-JENIS AKUNTANSI
F.1. Akuntansi Berbasis Anggaran (Budgetary based Accounting)
Akuntansi anggaran adalah akuntansi yang mencatat, mengklasifikasi, dan meng-
ikhtisarkan transaksi berdasarkan anggaran pendapatan ataupun belanja. Istilah
‘akuntansi anggaran’ mengacu pada praktik yang dijalankan oleh beberapa pemerintah
negara bagian di Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Sistem akuntansi ini memasukkan
jumlah yang dianggarkan dan jumlah aktual dalam catatan ganda. Jumlah pemasukan
yang dianggarkan dimasukkan dalam pos kredit, kemudian sebagai pengeluaran
debit dimasukkan sebagai penyeimbang dari kredit tadi. Keseimbangan rekening
memperlihatkan jumlah anggaran yang masih belum dibelanjakan.
Kendala utama perhitungan sistem akuntansi anggaran adalah kompleksitas
penerimaan dan pengeluaran yang dianggarkan. Untuk menyederhanakan kerumitan
ini, maka dilakukan pembandingan yang sistematik dan berkelanjutan antar-angka
aktual dan angka anggaran, tanpa melalui proses penjurnalan anggaran, melainkan
cukup mengandalkan data anggaran yang telah direkam dalam Dokumen Pelaksanaan
Anggaran (DPA). Sehingga, laporan keuangan pemerintah tidak hanya menunjukkan
penerimaan dan pengeluaran aktual, tetapi juga perbandingannya dengan penerimaan
dan pengeluaran yang dianggarkan.
Praktik ini berbeda di perusahaan swasta. Anggaran tidak termasuk laporan yang
dipublikasi. Sedangkan di pemerintahan, anggaran adalah laporan utama yang harus
menjadi dokumen publik.

F.2. Akuntansi Berbasis Kas (Cash based Accounting)


Akuntansi berbasis kas adalah akuntansi yang mengakui dan mencatat transaksi
keuangan pada saat kas diterima atau dibayarkan. Fokus pengukurannya pada saldo
kas dan perubahan saldo kas, dengan cara membedakan antara kas yang diterima dan
kas yang dikeluarkan. Lingkup akuntansi berbasis kas ini meliputi saldo kas, penerimaan
kas, dan pengeluaran kas.

16
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

Keterbatasan sistem akuntansi ini adalah keterbatasan informasi yang dihasilkan


karena terbatas pada pertanggungjawaban kas saja, tetapi tidak memperlihatkan
pertanggungjawaban manajemen atas aktiva dan kewajiban.

F.3. Akuntansi Berbasis Akrual (Accrual based Accounting)


Akuntansi berbasis akrual adalah akuntansi yang mengakui dan mencatat transaksi
atau kejadian keuangan pada saat terjadi atau pada saat perolehan. Fokus sistem
akuntansi ini pada pengukuran sumber daya ekonomis dan perubahan sumber daya
pada suatu entitas.
Sistem akuntansi ini merupakan sistem yang paling modest. Keberhasilan New
Zealand menerapkan akuntansi akrual telah menyebabkan berbagai perubahan dalam
manajemen sektor publik. Dalam akuntansi akrual, informasi yang dihasilkan jauh lebih
lengkap dan menyediakan informasi yang rinci mengenai aktiva dan kewajiban.

F.4. Akuntansi Berbasis Kas menuju Akrual (Cash Toward Accrual based Accounting)
Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah, yaitu basis
kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan, sedangkan basis
akrual digunakan untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana.

F.5. Ilustrasi Perbedaan antara Basis Kas (Cash Basis) dengan Basis Akrual
(Accrual Basis)
Diilustrasikan sebuah pemerintahan memiliki saldo kas awal sebesar 10.000 tanpa
memiliki kekayaan lainnya. Neraca awal, baik berbasis kas maupun berbasis akrual,
akan terlihat sama dalam contoh di bawah ini.

KAS 10.000

EKU ITAS DANA 10.000

Misalnya terjadi transaksi pembelian kendaraan senilai 3.000, neraca setelah


transaksi tersebut akan ditampilkan secara berbeda di tiap-tiap basis.

Pada basis kas, pembelian kendaraan tersebut dianggap sebagai belanja (biaya).
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah:

17
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

Dr. Belanja Kendaraan Rp 3.000,00


Cr. Kas Rp 3.000,00

Pada akhir periode, semua akun belanja (biaya) akan ditutup dan mengurangi nilai
ekuitas dana. Sehingga yang akan muncul di neraca pada basis kas tetap akun KAS
saja di sisi aktiva, karena fokus pengukuran basis kas hanya pada KAS.
NERACA BERBASIS KAS
KAS 7.000

EKU ITAS DANA 7.000

Karena fokus pengukuran pada basis akrual adalah semua sumber daya yang
dimiliki, maka transaksi pembelian kendaraan tersebut akan dicatat dengan jurnal
sebagai berikut:

Dr. Kendaraan Rp 3.000,00


Cr. Kas Rp 3.000,00

Dengan demikian, neraca pada basis akrual akan menampilkan akun Kendaraan
(Aset Tetap) selain KAS di sisi aktiva, sedangkan Ekuitas Dana di sisi pasiva tetap
10.000. Hal tersebut menunjukkan fokus pengukuran basis akrual yang melaporkan
semua perubahan kekayaan sehingga transaksi tersebut dianggap sebagai penambahan
aset tetap.

NERACA BERBASIS AKRUAL


KAS 7.000

MOBIL 3.000

EKU ITAS DANA 10.000

18
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

Terlihat terjadi perbedaan dalam kedua neraca tersebut sebagai akibat dari satu
kejadian transaksi yang sama. Dalam neraca berbasis akrual terdapat akun mobil yang
tidak diakui pada neraca berbasis kas. Akan tetapi, yang lebih penting untuk diperhatikan
adalah dari transaksi yang sama kedua neraca tersebut menghasilkan nilai ekuitas dana
yang berlainan (7.000 pada neraca berbasis kas dan 10.000 pada neraca berbasis akrual).
Ketika sebuah entitas pemerintah harus memilih salah satu dari kedua basis tersebut,
pertanyaannya adalah, informasi ekuitas dana yang mana yang lebih baik?
Informasi tentang ekuitas dana yang disampaikan oleh Neraca berbasis akrual diyakini
memberikan informasi yang lebih komprehensif karena merepresentasikan seluruh
sumberdaya yang dimiliki pemerintah. Akan tetapi, banyak pihak juga menghendaki
pelaporan ekuitas dana seperti yang tercantum dalam neraca berbasis kas kerena benar-
benar menunjukkan jumlah ketersediaan kas yang dimiliki pemerintah, sebuah informasi
yang berguna dalam pengendalian anggaran sekaligus menunjukkan kemampuan
keuangan pemerintah dalam mengeksekusi program-program jangka pendeknya.
Basis Kas Modifikasi adalah sebuah pendekatan yang mencoba menampilkan
informasi yang dihasilkan basis kas sekaligus juga menyajikan informasi yang hanya
bisa dimunculkan oleh basis Akrual. Dengan basis kas modifikasi, transaksi-transaksi
dicatat berdasarkan kas yang diterima atau dibayarkan, sehingga neraca yang dihasilkan
akan seperti neraca berbasis kas. Perbedaannya, basis kas modifikasi menggunakan
fokus pengukuran atas semua sumber daya (all resources).
Dengan ilustrasi transaksi yang sama, transaksi pembelian kendaraan dalam basis
kas modifikasi akan dicatat sebagai transaksi belanja dan mengurangi ekuitas dana
menjadi 7.000.

Dr. Belanja Kendaraan Rp 3.000,00


Cr. Kas Rp 3.000,00

Namun, fokus pengukuran menghendaki informasi tentang kendaraan dimunculkan


dalam neraca sehubungan dengan fokus pengukurannya yang menghendaki semua
kekayaan yang dimiliki ditampilkan di neraca. Akibatnya, pelaporan ekuitas dana juga
tidak lagi 7.000 tetapi menjadi 10.000, padahal berdasarkan transaksi seharusnya nilai
ekuitas dana hanya 7.000.

Maka, dalam basis kas modifikasi, dilakukan jurnal tambahan untuk mengakui mobil
dan melakukan penyesuaian pada ekuitas dana sebagai berikut:

Dr. Kendaraan Rp 3.000,00


Cr. Ekuitas Dana yang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 3.000,00

19
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

Sehingga basis kas modifikasi akan menghasilkan neraca seperti contoh di bawah
ini.
NERACA BERBASIS KAS MODIFIKASI
KAS 7.000

MOBIL 3.000

EKU ITAS DANA 7.000


Ekuitas Dana y ang Diinvestasikan
dalam Aset Tetap 3.000

Negara-negara penganut basis kas modifikasi merasa bahwa informasi yang


dihasilkan oleh basis ini lebih informatif daripada yang dihasilkan oleh basis kas maupun
basis akrual. Bagian ekuitas dana selain menunjukkan informasi tentang ekuitas dana
lancar yang memungkinkan kontrol atas kas, juga memberikan informasi tentang kondisi
kekayaan yang berupa aset tetap.
Sementara itu, basis akrual modifikasi lebih banyak diimplementasikan pada negara-
negara yang menggunakan multidana dalam akuntansi pemerintahannya. Basis akrual
modifikasi pada dasarnya adalah basis akrual yang mencatat transaksi-transaksi sesuai
dengan kejadiannya, tidak semata-mata pada saat kas diterima atau dibayarkan. Namun,
basis akrual modifikasi mempunyai fokus pengukuran hanya pada sumber daya yang
bersifat lancar.
Akuntansi pemerintahan di Amerika misalnya, menggunakan basis akrual modifikasi
untuk pencatatan di General Fund. Maka, General Fund akan mencatat transaksi-
transaksinya tidak semata-mata berdasarkan kas, seperti halnya basis akrual tetapi
neraca yang diterbitkan hanya memuat sumber daya lancar saja. Transaksi-transaksi
yang terkait dan atau menghasilkan aset tetap/utang jangka panjang akan dicatat dalam
fund tersendiri. Di Amerika, fund tersebut disebut sebagai Account Group, yang terdiri
atas General Capital Asset untuk melaporkan transaksi aset tetap dan General Long
Term Liabilities untuk melaporkan transaksi utang jangka panjang.

G. STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DAN KEBIJA-


KAN AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
Standar akuntansi pemerintah dan kebijakan akuntansi keuangan pemerintah
daerah terutama mengatur mengenai 3 (tiga) hal, yaitu: Pertama, masalah pengakuan.
Pertanyaannya kapan suatu transaksi diakui untuk dicatat. Kedua, masalah pengukuran.
Pertanyaannya bagaimana menetapkan nilai uang untuk dicatat dalam pos-pos laporan
keuangan. Ketiga, masalah pengungkapan (disclosure).

20
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

G.1. Pengakuan
Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria
pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi
bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan
pembiayaan, sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang
bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos
laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait.
Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui,
yaitu:
a. Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau
peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan
yang bersangkutan,
b. Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau
dapat diestimasi dengan andal.
Dalam menentukan apakah suatu kejadian/peristiwa memenuhi kriteria pengakuan,
perlu dipertimbangkan aspek materialitas.

G.2. Pengukuran
Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan
setiap pos dalam laporan keuangan. Pengukuran pos-pos dalam laporan keuangan
menggunakan nilai perolehan historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara
kas atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut.
Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal.
Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Transaksi
yang menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam
mata uang rupiah.

G.3. Pengungkapan (Disclosure)


Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh
pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat
ditempatkan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan atau Catatan atas
Laporan Keuangan.
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka
yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan
atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang
dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan
untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan
yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

21
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

Agar dapat digunakan oleh pengguna dalam memahami dan membandingkannya


dengan laporan keuangan entitas lainnya, Catatan atas Laporan Keuangan sekurang-
kurangnya disajikan dengan susunan sebagai berikut:
1. Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target
Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi
dalam pencapaian target
2. Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan
3. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan
akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian
penting lainnya
4. Pengungkapan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan
5. Pengungkapan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan
dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya
dengan penerapan basis kas
6. Informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan
dalam lembar muka laporan keuangan
7. Daftar dan skedul.

Catatan atas Laporan Keuangan disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas harus memiliki referensi
silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis
atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan
Laporan Arus Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah pe-
nyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan
serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar
atas laporan keuangan, seperti kewajiban kontijensi dan komitmen-komitmen lainnya.
Dalam keadaan tertentu masih dimungkinkan untuk mengubah susunan penyajian
atas pos-pos tertentu dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Misalnya informasi tingkat
bunga dan penyesuaian nilai wajar dapat digabungkan dengan informasi jatuh tempo
surat-surat berharga.
Selain itu, suatu entitas pelaporan mengungkapkan hal-hal berikut ini apabila belum
diinformasikan dalam bagian manapun dari laporan keuangan, yaitu:
• Domisili dan bentuk hukum suatu entitas serta juridiksi di mana entitas tersebut
beroperasi
• Penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan pokoknya
• Ketentuan perundang-undangan yang menjadi landasan kegiatan operasionalnya.

22
BAB I OVERVIEW: Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah

PENUTUP
Setelah mempelajari mengenai konsep akuntansi keuangan pemerintahan daerah
secara umum, diharapkan peserta dapat memahami dasar-dasar akuntansi yang menjadi
pedoman pelaksanaan akuntansi di setiap pemerintah daerah.
Di samping itu secara spesifik diharapkan peserta juga mampu memahami:
1. Definisi Akuntansi;
2. Dasar-dasar dan Teknis Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah;
3. Jenis-jenis Transaksi di Pemda;
4. Struktur akuntansi keuangan Pemda;
5. Jenis-jenis Akuntansi;
6. Standar akuntansi pemerintahan dan kebijakan akuntansi keuangan daerah.

23
Modul Akuntansi Pemerintah Daerah

24