Anda di halaman 1dari 391

PROFIL KESEHATAN INDONESIA

TAHUN 2013




































KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2014
351.770.212
Ind
p




























351.770.212
Ind
P
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Sekretariat Jenderal
Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. --
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2014

ISBN 978-602-235-645-5
1. Judul I. HEALTH STATISTICS


Buku ini diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432, 5277168
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes .go.id
Web site: http://www.kemkes.go.id
ii
TIM PENYUSUN


Pengarah
dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI

Ketua
drg. Oscar Primadi, MPH
Kepala Pusat Data dan Informasi

Editor
drg. Vensya Sitohang, M.Epid
Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes
Boga Hardhana, S.Si, MM
drg. Titi Aryati Soenardi, M.Kes

Anggota
Farida Sibuea, SKM, MScPH; Ir. Zulfi, MM;
Marlina Indah Susanti, SKM, M.Epid; Supriyono Pangribowo, SKM, MKM;
Budi Prihantoro, S.Si ; Margiyono, SKom;
Dewi Roro Kumbini, S.Pd, MKM; Annisa Harpini, SKM, MKM;
Sarinah Bintang, SKM, Eka Satriyani Sakti, SKM;
B.B. Sigit; Hellena Maslinda; Hadi Nuramsyah

Kontributor
Biro Perencanaan dan Anggaran; Biro Kepegawaian; Biro Keuangan dan BMN;
Pusat Promosi Kesehatan;Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan;
Set. Ditjen Bina Gizi dan KIA; Dit. Bina Kesehatan Ibu; Dit. Bina Kesehatan Anak;
Dit. Bina Gizi; Set. Ditjen Bina Upaya Kesehatan; Dit. Bina Upaya Kesehatan Dasar;
Dit. Bina Upaya Kesehatan Rujukan; Set. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan;
Set. Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; Dit. Surveilans Imunisasi,
Karantina, dan Kesehatan Matra; Dit. Pengendalian Penyakit Menular Langsung;
Dit. Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang; Dit. Pengendalian Penyakit Tidak Menular;
Set. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; Set. Badan PPSDM Kesehatan;
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
iii


KATA PENGANTAR
SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
kami dapat menyelesaikan Profil Kesehatan Indonesia 2013 ini
dengan baik. Profil Kesehatan Indonesia merupakan salah satu media
publikasi data dan informasi yang terkait dengan situasi dan kondisi
kesehatan yang relatif komprehensif.
Sumber data Profil Kesehatan Indonesia berasal dari unit teknis di
lingkungan Kementerian Kesehatan serta institusi lain yang memiliki
data terkait bidang kesehatan seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Data yang ditampilkan pada Profil Kesehatan Indonesia dapat membantu kita dalam
membandingkan capaian pembangunan kesehatan antara satu provinsi dengan provinsi
lainnya, mengukur capaian pembangunan kesehatan di Indonesia, serta sebagai dasar untuk
perencanaan program pembangunan kesehatan selanjutnya.
Terdapat perbedaan Profil Kesehatan Indonesia 2013 dibandingkan dengan Profil Kesehatan
Indonesia yang diterbitkan pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu perubahan sistematika bab.
Pada Profil Kesehatan Indonesia terdahulu, sistematika bab secara berurutan terdiri dari ;
Pendahuluan, Gambaran Umum, Situasi Derajat Kesehatan, Upaya Kesehatan, Sumber Daya
Kesehatan, dan Perbandingan antara negara. Sedangkan pada Profil Kesehatan Indonesia 2013
urutan bab terdiri dari Demografi, Sarana Kesehatan, Tenaga Kesehatan, Pembiayaan
Kesehatan, Kesehatan Keluarga (Kesehatan Ibu & Kesehatan Anak), serta Pengendalian
Penyakit dan Kesehatan Lingkungan.
Buku Profil Kesehatan Indonesia 2013 ini disajikan dalam bentuk cetakan dan soft copy (CD)
serta dapat diunduh di website www.kemkes.go.id. Semoga publikasi ini dapat berguna bagi
semua pihak, baik pemerintah, organisasi profesi, akademisi, sektor swasta dan masyarakat
serta berkontribusi secara positif bagi pembangunan kesehatan di Indonesia. Kritik dan saran
kami harapkan sebagai penyempurnaan profil yang akan datang.
Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Profil Kesehatan Indonesia
2013 ini, kami mengucapkan terima kasih.

Jakarta, Juli 2014
Sekretaris Jenderal
Kementerian Kesehatan


dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS
NIP. 195408112010061001
iv


KATA SAMBUTAN

MENTERI KESEHATAN RI

Data dan informasi merupakan salah satu komponen krusial dalam
pembangunan kesehatan yang berperan pada tahap perencanaan
sebelum pengambilan keputusan dilakukan. Oleh karena itu, Saya
menyambut gembira atas terbitnya Profil Kesehatan Indonesia 2013.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan secara
gamblang mengamanatkan bahwa setiap orang berhak atas informasi
dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
Dengan demikian sudah menjadi tugas kita bersama selaku pemangku
kepentingan di sektor kesehatan untuk menyediakan data dan
informasi yang berkualitas.
Profil Kesehatan Indonesia 2013 sebagai media publikasi data dan informasi kesehatan terus
melakukan perbaikan dan pembenahan sehingga dapat menyajikan data dan informasi yang
lebih berkualitas, valid, dan konsisten. Pemenuhan kelengkapan data dan ketepatan waktu
pengiriman data baik dari segi cakupan wilayah maupun indikator merupakan masalah utama
yang ditemui dalam proses penyusunan Profil Kesehatan Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan
penguatan komitmen terhadap integrasi data dan informasi serta koordinasi antara pusat dan
daerah.
Apresiasi yang setinggi-tingginya Saya berikan kepada semua pihak yang berperan dalam
proses penyusunan Profil Kesehatan Indonesia 2013 dari hulu sampai hilir. Saya sangat
berharap publikasi ini bisa menjadi acuan dalam hal data dan informasi bagi semua pihak yang
berkepentingan terhadap upaya pembangunan kesehatan di Indonesia.

Jakarta, Juli 2014
Menteri Kesehatan






v

DAFTAR SINGKATAN

3M Plus : Menguras, Menutup, Mengubur, plus Menghindari
gigitan nyamuk
ABH : Anak yang Berhadapan Hukum
ACT : Artemisinin-based Combination Therapy
ADB : Asian Development Bank
ADD : Anak Dengan Disabilitas
AFP : Acute Flaccid Paralysis
AHH : Angka Harapan Hidup
Jumlah rata-rata usia yang diperkirakan pada
seseorang atas dasar angka kematian pada masa
tersebut yang cenderung tidak berubah di masa
mendatang
AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome
AKABA : Angka Kematian Balita
AKB
- Infant Mortality Rate (IMR)

: Angka Kematian Bayi
AKI
- Maternal Mortalite Rate (MMR)

: Angka Kematian Ibu
AKN
- Neonatal Mortality Rate

: Angka Kematian Neonatal
AMH : Angka Melek Huruf
AMP : Audit Maternal Perinatal

Andikpas : Anak didik pemasyarakatan
APBD

: Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
API : Annual Parasite Incidence
APK

: Angka Partisipasi Kasar
APM : Angka Partisipasi Murni
APS : Angka Partisipasi Sekolah
xvi xvi vi



ASEAN : Association of Southeast Asian Nations
ASI Eksklusif

: Pemberian Air Susu Ibu saja tanpa tambahan makanan
dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai usia
6 bulan.
BABS : Buang Air Besar Sembarangan
BB/TB : Status gizi berdasarkan Berat Badan menurut Tinggi
Badan
BB/U : Status gizi berdasarkan Berat Badan menurut Umur
BBLR : Berat Bayi Lahir Rendah
BCG

: Bacille Calmette-Gurin
BJP : Bukan Jaringan Perpipaan
BOK : Biaya Operasional Kesehatan
BPS : Badan Pusat Statistik
BTA + : Basil Tahan Asam positif
BUMN : Badan Umum Milik Negara
CBE : Clinical Breast Examiniation
CBR : Crude Birth Rate = Angka Kelahiran Kasar
CDR : Case Detection Rate
CFR : Case Fatality Rate
CNR : Case Notification Rate
CR : Cure Rate = Angka Kesembuhan
CRPD : Convention on the Rights of Persons with Disabilities
CSR : Corporate Social Responsibility
CTKI : Calon Tenaga Kerja Indonesia
D/S : Cakupan penimbangan balita di posyandu
DAK : Dana Alokasi Khusus
DBD

: Demam Berdarah Dengue
DBK : Daerah yang Bermasalah Kesehatan
DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
vii

DJJ : Denyut Jantung Janin
DO Rate : Drop Out Rate
DPT : Diphteri Pertusis Tetanus
DTPK : Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan
EKG : Elektrokardiogram
EMAS : Expanding Maternal and Neonatal Survival
FCP : Female Cancer Program
FGD : Focus Group Discussion
GHPR

: Gigitan Hewan Penular Rabies
HAM : Hak Asasi Manusia
Hb : Hemoglobin
HDI : Human Development Index
HDK : Hipertensi Dalam Kehamilan
HIV : Human Immunodeficiency Virus
ICCP

: Indonesian Cancer Control Progam
ICWRMIP : Integrated Citarum Water Resources Management
Investment Program
IDAI : Ikatan Dokter Anak Indonesia
IDU : Injecting Drug User
IEBA : Industri Ekstrak Bahan Alam
IMD : Inisiasi Menyusu Dini
IMS : Infeksi Menular Seksual
IMT
Body Mass Index (BMI)

: Indeks Massa Tubuh
IMT/U : Status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut
Umur
IOT : Industri Obat Tradisional
IPM

: Indeks Pembangunan Manusia
IR : Incidence Rate
viii


ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut
IVA : Inspeksi Visual dengan Asam Asetat
IUD : Intra Uterine Device
Jamkesmas : Jaminan Kesehatan Masyarakat
Jampersal : Jaminan Persalinan
JMP : Joint Monitoring Program
K1

: Kunjungan baru ibu hamil, yaitu kunjungan ibu hamil
pertama kali pada masa kehamilan.
K4 : Kontak minimal empat kali selama masa kehamilan
untuk mendapatkan pelayanan antenatal, yang terdiri
atas minimal satu kali kontak pada trimester pertama,
satukali pada trimester kedua dan duakali pada
trimester ketiga.
KB : Keluarga Berencana
KF 3 : Kunjungan Nifas; Pelayanan kepada ibu nifas
sedikitnya 3 kali, pada 6 jam pasca persalinan s.d 3
hari; pada minggu ke II, dan pada minggu ke VI
termasuk pemberian vitamin A 2 kali serta persiapan
dan/atau pemasangan KB pasca persalinan.
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KIE : Komunikasi, Informasi dan Edukasi
KKI : Konsil Kedokteran Indonesia
KKS : Kabupaten/Kota Sehat
KLB : Kejadian Luar Biasa
KMS : Kartu Menuju Sehat
KN1 : Kunjungan Neonatus 1; pelayanan kesehatan neonatal
dasar, kunjungan ke-1 (pertama) pada 6-24 jam
setelah lahir.
KN Lengkap

: Kunjungan Neonatus Lengkap ; pelayanan kesehatan
neonatal dasar meliputi ASI ekslusif, pencegahan
infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian
vitamin K1 injeksi bila tidak diberikan pada saat lahir,
pemberian imunisasi hepatitis B1 bila tidak diberikan
pada saat lahir, dan manajemen terpadu bayi muda.
Dilakukan sesuai standar sedikitnya 3 kali, pada 6-24
jam setelah lahir, pada 3-7 hari dan pada -28 hari
setelah lahir yang dilakukan di fasilitas kesehatan
ix

maupun kunjungan rumah.
KOMNAS : Komisi Nasional
KPDT : Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
KT : Konseling dan Tes HIV
KtA : Kekerasan Terhadap Anak
KTR : Kawasan Tanpa Rokok
KUHAP : Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
KVA : Kekurangan Vitamin A
Lapas : Lembaga Pemasyarakatan
LBH : Lembaga Bantuan Hukum
LIL : Lima Imunisasi Dasar Lengkap
LILA : Lingkar Lengan Atas
LKSA : Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak
LMKM : Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui
LP/LS : Lintas Program / Lintas Sektor
LPA : Lembaga Perlindungan Anak
LPP : Laju Pertumbuhan Penduduk
LSL : Lelaki Seks dengan Lelaki
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
MA : Madrasah Aliyah
MAK : Manajemen Aktif Kala
MB : Multi Basiler
MDGs

: Millenium Development Goals
MOP

: Metode Operatif Pria; cara kontrasepsi dengan
tindakan pembedahan pada saluran sperma pria.
MOW

: Metode Operatif Wanita; cara kontrasepsi dengan
tindakan pembedahan pada saluran telur wanita.
MP ASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu
MTBM

: ManajemenTerpadu Balita Muda; suatu pendekatan
keterpaduan dalam tata laksana bayi umur 1 hari 2
bulan, baik yang sehat maupun yang sakit, baik yang
x


datang ke fasilitas rawat jalan pelayanan kesehatan
dasar maupun yang dikunjungi oleh tenaga kesehatan
pada saat kunjungan neonatal.

MTBS

: ManajemenTerpadu Balita Sakit; suatu pendekatan
yang terintegrasi/terpadu dalam tata laksana balita
sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59
bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan
merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu
pendekatan/cara menatalaksana balita sakit.
MTs

: Madrasah Tsanawiyah
NAPZA

: Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain
NCDR : Newly Case Detection Rate
NSPK : Norma Standar Prosedur Kriteria
P4K : Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi
PAK : Penyakit Akibat Kerja
PAK : Penyalur Alat Kesehatan
PAMSTBM : Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat
PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa
PBF : Pedagang Besar Farmasi
PD3I : Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum
Perpres

: Peraturan Presiden
PET : Post Exposure Treatment
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PJK : Penyakit Jantung Koroner
PJPD : Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
PK : Penanganan Komplikasi Maternal
PKH : Program Keluarga Harapan
PKHS : Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat
xi

PKK : Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
PKPR : Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
PKRT : Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
PKT : Pusat Krisis Terpadu
PMS : Penyakit Menular Seksual
PN (Salinakes) : Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
PNS : Pegawai Negeri Sipil
POGI : Perkumpulan Obstetri Dan Ginekologi Indonesia
Polindes : Pondok Bersalin Desa
POLRI : Polisi Republik Indonesia
Poltekkes : Politeknik Kesehatan
POMP : Pemberian Obat Massal Pencegahan; program untuk
filariasis
PONED : Pelayanan emergensi Obstetrik dan Neonatal Dasar
PONEK : Pelayanan emergensi Obstetrik dan Neonatal
Komprehensif
Posbindu : Pos Pembinaan Terpadu
Poskesdes

: Pos Kesehatan Desa
Posyandu : Pos Pelayanan Terpandu
PP : Peraturan Pemerintah
PPA : Project Partnership Agreement
PPT : Pusat Pelayanan Terpadu
PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk
PTM : Penyakit Tidak Menular
PTT : Pegawai Tidak Tetap
PUS : Pasangan Usia Subur
Puskesmas

: Pusat Kesehatan Masyarakat
Pustu : Puskesmas Pembantu
RAN : Rencana Aksi Nasional
xii


Renstra : Rencana Strategis
Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar
RITL : Rawat Inap Tingkat Lanjut
RITP : Rawat Inap Tingkat Pertama
RJTL : Rawat Jalan Tingkat Lanjut
RJTP : Rawat Jalan Tingkat Pertama
RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RPSA : Rumah Perlindungan Sosial Anak
RPTC : Rumah Perlindungan Trauma Center
RSIA : Rumah Sakit Ibu Anak
RSK : Rumah Sakit Khusus
RSU : Rumah Sakit Umum
Rutan : Rumah Tahanan
Satker : Satuan Kerja
SD : Sekolah Dasar
SDIDTK : Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang
SDKI : Survei Demografi Kesehatan Indonesia
SDM : Sumber Daya Manusia
SEARO : WHO South-East Asia Regional
Sentra P3T : Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan
Tradisional
SK : Surat Keputusan
SKRT : Survei Kesehatan Rumah Tangga
SLB : Sekolah Luar Biasa
SLTA : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
SLTP : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
SMK : Sekolah Menengah Kejuruan
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SPAL : Saluran Pembuangan Air Limbah
xiii

SPM : Standar Pelayanan Minimal
SR

: Success Rate = Angka Keberhasilan Pengobatan
SpOG : Spesialis Obstetri Ginekologi/ Spesialis Kebidanan dan
Kandungan
Srikandi : Sistem Registrasi Kanker di Indonesia
STBM : Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
STBP : Survei Terpadu Biologis dan Perilaku
STR : Surat Tanda Registrasi
STRA : Surat Tanda Registrasi Apoteker
STRTTK

: Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian
STTB

: Surat Tanda Tamat Belajar
Susenas : Survei Sosial Ekonomi Indonesia
TB : Tuberkulosis
TB : Tinggi Badan
TB/U : Status gizi berdasarkan Tinggi Badan menurut Umur
THT : Telinga, Hidung, dan Tenggorokan
TKI : Tenaga Kerja Indonesia
TNI : Tentara Nasional Indonesia
Toga : Tokoh Agama
Toma : Tokoh Masyarakat
TOT : Training of Trainer
TPT : Tingkat Pengangguran Terbuka
TT : Tetanus Toksoid
UCI

: Universal Child Immunization; tercapainya imunisasi
dasar secara lengkap pada bayi (0-11 bulan), ibu
hamil, wanita usia subur dan anak sekolah tingkat
dasar. Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi: 1
dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 4 dosis hepatitis
B, 1 dosis campak. Pada ibu hamil dan wanita usia
subur meliputi 2 dosis TT. Untuk anak sekolah tingkat
dasar rneliputi 1 dosis DT, 1 dosis campak dan 2 dosis
TT.
xiv


UKBM : Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat;
Bentuk UKBM yang adalah Poskesdes, Polindes, Pos
UKK, Poskestren, TOGA, Saka Bhakti Husada, dan lain-
lain.
UKGS : Usaha Kesehatan Gigi Sekolah
UKOT : Usaha Kecil Obat Tradisional
UKS : Usaha Kesehatan Sekolah
UMOT : Usaha Mikro Obat Tradisional
UNICEF : United Nations Children's Fund
UPPA : Unit Perlindungan Perempuan dan Anak
UPT : Unit Pelaksana Teknis
VAR : Vaksin Anti Rabies
VCT : Voluntary, Counseling, and Testing
WDF : World Diabetes Foundation
WHO : World Health Organization
WNA : Warga Negara Asing
WUS

: Wanita Usia Subur; keadaan organ reproduksinya
berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun.




xv

DAFTAR GAMBAR

BAB I. DEMOGRAFI
GAMBAR 1.1 JUMLAH PENDUDUK INDONESIA MENURUT JENIS KELAMIN
TAHUN 2010 2013 ............................................................................................................. 3
GAMBAR 1.2 JUMLAH PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 ............................... 4
GAMBAR 1.3 PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2013 ............................................... 5
GAMBAR 1.4 PETA PERSEBARAN KEPADATAN PENDUDUK INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 6
GAMBAR 1.5 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2009 2013 (%) ............ 9
GAMBAR 1.6 PERSENTASE RATA-RATA PENGELUARAN PER KAPITA/BULAN
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 10
GAMBAR 1.7 PERSENTASE TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA MENURUT
PENDIDIKAN DI INDONESIA KONDISI AGUSTUS 2013 ..................................... 12
GAMBAR 1.8 GARIS KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 2009 2013 ............................... 13
GAMBAR 1.9 PETA PERSEBARAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 14
GAMBAR 1.10 PETA PERSEBARAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL
DI INDONESIA TAHUN 2013 ............................................................................................ 15
GAMBAR 1.11 RATA-RATA LAMA SEKOLAH PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE
ATAS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013 ................................ 16
GAMBAR 1.12 PERSENTASE PENDUDUK USIA 15 TAHUN KEATAS MENURUT STTB
TERTINGGI YANG DIMILIKI TAHUN 2012 ................................................................ 17
GAMBAR 1.13 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MELEK
HURUF MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 ............................................................ 18
GAMBAR 1.14 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH PENDIDIKAN MENURUT
USIA SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2008 2013 .......................................... 19
GAMBAR 1.15 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR PENDIDIKAN DI INDONESIA
TAHUN 2008 2013 ............................................................................................................. 20
GAMBAR 1.16 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI PENDIDIKAN DI INDONESIA
TAHUN 2008 2013 ............................................................................................................. 21
GAMBAR 1.17 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA TAHUN 2008 2012 .... 22
GAMBAR 1.18 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 22
GAMBAR 1.19 ANGKA HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR (DALAM TAHUN) INDONESIA
TAHUN 2008 2012 ............................................................................................................. 23
xvi

BAB II. SARANA KESEHATAN
GAMBAR 2.1 JUMLAH PUSKESMAS TAHUN 2009 2013 ............................................................. 28
GAMBAR 2.2 RASIO PUSKESMAS PER 30.000 PENDUDUK TAHUN 2009 2013 ............ 28
GAMBAR 2.3 RASIO PUSKESMAS PER 30.000 PENDUDUK TAHUN 2013 ............................ 29
GAMBAR 2.4 JUMLAH PUSKESMAS RAWAT INAP DAN NON RAWAT INAP TAHUN
2009 2013 .............................................................................................................................. 30
GAMBAR 2.5 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA YANG MEMENUHI SYARAT MINIMAL
4 PUSKESMAS PONED DI INDONESIA TAHUN 2013 ........................................... 31
GAMBAR 2.6 JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN
KESEHATAN PEDULI REMAJA DI INDONESIA TAHUN 2013 .......................... 32
GAMBAR 2.7 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT
KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2009 2013 ......................................................... 36
GAMBAR 2.8 PERSENTASE RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) MENURUT JENIS DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 36
GAMBAR 2.9 RASIO JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT PER 1.000 PENDUDUK
DI INDONESIA TAHUN 2009 2013 ........................................................................... 37
GAMBAR 2.10 RASIO TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT PER 1.000 PENDUDUK DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 38
GAMBAR 2.11 PERSENTASE RUMAH SAKIT MENURUT KELAS DI INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 38
GAMBAR 2.12 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2013 ............................................................................................ 40
GAMBAR 2.13 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2013 ............................................................................................ 41
GAMBAR 2.14 PERSENTASE RATA-RATA PENGGUNAAN OBAT GENERIK DI
FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2013 ........................................... 42
GAMBAR 2.15 PERSENTASE DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF TAHUN 2013 ........... 43
GAMBAR 2.16 PERSENTASE POSYANDU MENURUT STRATA DI INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 44
GAMBAR 2.17 RASIO POSYANDU TERHADAP DESA/KELURAHAN DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 45
GAMBAR 2.18 JUMLAH PROGRAM STUDI POLTEKKES DIPLOMA III DAN IV DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 46
GAMBAR 2.19 JUMLAH PESERTA DIDIK DIPLOMA III POLTEKKES DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 46
GAMBAR 2.20 JUMLAH LULUSAN DIPLOMA III POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN
2013 ................................................................................................................................................ 47

xvii

BAB III. TENAGA KESEHATAN
GAMBAR 3.1 RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 52
GAMBAR 3.2 RASIO PERAWAT TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 53
GAMBAR 3.3 RASIO BIDAN TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 54
GAMBAR 3.4 RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH
PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2013 ................................................................ 55
GAMBAR 3.5 JUMLAH TENAGA KESEHATAN MENURUT JENIS DI PUSKESMAS DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 55
GAMBAR 3.6 JUMLAH TENAGA KESEHATAN MENURUT JENIS DI RUMAH SAKIT DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 56
GAMBAR 3.7 JUMLAH DOKTER UMUM PTT, DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT
AKTIF MENURUT KRITERIA WILAYAH DI INDONESIA TAHUN 2013 ....... 57
GAMBAR 3.8 JUMLAH PENGANGKATAN DOKTER/DOKTER GIGI SPESIALIS, DOKTER
UMUM, DOKTER GIGI DAN BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP
(PTT) MENURUT KRITERIA WILAYAH DI INDONESIA TAHUN 2013 ........ 58

BAB IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN
GAMBAR 4.1 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2008 2013 ............................................................................................................. 63
GAMBAR 4.2 PERSENTASE ANGGARAN KESEHATAN TERHADAP APBD MENURUT
PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013 ..................................................................... 64
GAMBAR 4.3 JUMLAH KUNJUNGAN RJTP, RITP, RJTL & RITL DI INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 66
GAMBAR 4.4 PENCAPAIAN JUMLAH KUNJUNGAN RJTP, RITP, RJTL & RITL DI
INDONESIA TAHUN 2009-2013 ..................................................................................... 66
GAMBAR 4.5 PERSENTASE PENYERAPAN DANA BANTUAN OPERASIONAL
KESEHATAN (BOK) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 .................................. 68

BAB V. KESEHATAN KELUARGA
GAMBAR 5.1 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI
INDONESIA TAHUN 2004 2013 .................................................................................. 73
GAMBAR 5.2 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 MENURUT
PROVINSI, TAHUN 2013 ..................................................................................................... 74

xviii
GAMBAR 5.3 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K1 DAN K4 IDEAL DI
INDONESIA, TAHUN 2013 ................................................................................................. 75
GAMBAR 5.4 CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2004 2013 ............................................................................ 76
GAMBAR 5.5 CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 .............................................................................. 76
GAMBAR 5.6 PROPORSI KELAHIRAN BERDASARKAN TEMPAT BERSALIN DI
INDONESIA, RISKESDAS 2013 ......................................................................................... 77
GAMBAR 5.7 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 DAN CAKUPAN PERTOLONGAN
PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004
2013 ........................................................................................................................................... 78
GAMBAR 5.8 PROPORSI PENOLONG PERSALINAN DENGAN KUALIFIKASI
TERTINGGI DI INDONESIA, RISKESDAS TAHUN 2013 ....................................... 78
GAMBAR 5.9 PROPORSI PERSALINAN SESAR DARI KELAHIRAN PERIODE 1 JANUARI
2010 SAMPAI SAAT WAWANCARA MENURUT KARAKTERISTIK DI
INDONESIA, RISKESDAS 2013 ......................................................................................... 79
GAMBAR 5.10 CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA TAHUN 2008
2013 ................................................................................................................................................ 80
GAMBAR 5.11 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN DI INDONESIA
TAHUN 2008 2013 ............................................................................................................. 81
GAMBAR 5.12 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT
PROVINSI TAHUN 2013 ...................................................................................................... 81
GAMBAR 5.13 PENYEBAB KEMATIAN IBU DI INDONESIA TAHUN 2010 ............................... 82
GAMBAR 5.14 PERSENTASE PEMAKAIAN ALAT/CARA KB PADA WANITA USIA SUBUR
(15-49 TAHUN) YANG BERSTATUS KAWIN DI INDONESIA, RISKESDAS
2013 .............................................................................................................................................. 84
GAMBAR 5.15 PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
DI INDONESIA TAHUN 2013 ............................................................................................ 84
GAMBAR 5.16 PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 ... 85
GAMBAR 5.17 PERSENTASE PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 86
GAMBAR 5.18 CAKUPAN PESERTA KB BARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 ........... 86
GAMBAR 5.19 PERSENTASE BERAT BAYI LAHIR RENDAH MENURUT PROVINSI,
RISKESDAS 2013 .................................................................................................................... 88
GAMBAR 5.20 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT
PROVINSI TAHUN 2013 ...................................................................................................... 89
GAMBAR 5.21 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA DI INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 91
xix

GAMBAR 5.22 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP DI INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 91
GAMBAR 5.23 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP DI INDONESIA TAHUN
2009-2013 .................................................................................................................................. 92
GAMBAR 5.24 CAKUPAN KUNJUNGAN BAYI DI INDONESIA TAHUN 2013 ............................ 93
GAMBAR 5.25 PERSENTASE BAYI MULAI MENDAPAT ASI KURANG DARI 1 JAM
PERTAMA (INISIASI MENYUSU DINI) PADA ANAK UMUR 0-23 BULAN
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS TAHUN 2013 .................................................. 95
GAMBAR 5.26 CAKUPAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 96
GAMBAR 5.27 PERSENTASE PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA ANAK UMUR (6-
59 BULAN) MENURUT PROVINSI, RISKESDAS TAHUN 2013 ......................... 99
GAMBAR 5.28 PERSENTASE PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA ANAK UMUR (6-
59 BULAN) SELAMA ENAM BULAN TERAKHIR MENURUT PROVINSI,
RISKESDAS TAHUN 2013 ................................................................................................... 100
GAMBAR 5.29 CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA (D/S) DI INDONESIA TAHUN 2013 101
GAMBAR 5.30 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK DI INDONESIA TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 103
GAMBAR 5.31 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK PADA ANAK UMUR 12-23
BULAN DI INDONESIA TAHUN 2013 ........................................................................... 104
GAMBAR 5.32 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 105
GAMBAR 5.33 CAKUPAN DESA/KELURAHAN UCI DI INDONESIA TAHUN 2013 ............... 106
GAMBAR 5.34 ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT/HB1 - CAMPAK PADA
BAYI DI INDONESIA TAHUN 2007-2013 .................................................................. 107
GAMBAR 5.35 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 108
GAMBAR 5.36 CAKUPAN SEKOLAH DASAR YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN
SISWA SD/SETINGKAT KELAS 1 DI INDONESIA TAHUN 2013 ..................... 110
GAMBAR 5.37 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA DENGAN MINIMAL 4 PUSKESMAS
MAMPU TATA LAKSANA PKPR DI INDONESIA TAHUN 2013 ........................ 112
GAMBAR 5.38 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA DENGAN MINIMAL 2 PUSKESMAS
MAMPU TATA LAKSANA KTA DI INDONESIA TAHUN 2013 ........................... 115
GAMBAR 5.39 PERSENTASE BALITA KEKURANGAN GIZI BERDASARKAN BERAT
BADAN MENURUT UMUR BB/U DI INDONESIA TAHUN 2013 ..................... 119
GAMBAR 5.40 PERSENTASE BALITA DENGAN TINGGI BADAN DI BAWAH NORMAL
BERDASARKAN TINGGI BADAN MENURUT UMUR TB/U DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 120
GAMBAR 5.41 PERSENTASE BALITA KURUS BERDASARKAN BERAT BADAN
MENURUT TINGGI BADAN (BB/TB) DI INDONESIA, RISKESDAS TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 121
xx
GAMBAR 5.42 PERSENTASE KELEBIHAN BERAT BADAN PADA PENDUDUK DEWASA
BERDASARKAN KATEGORI INDEKS MASA TUBUH MENURUT
PROVINSI, RISKESDAS, TAHUN 2013 .......................................................................... 122

BAB VI. PENGENDALIAN PENYAKIT DAN KESEHATAN LINGKUNGAN
GAMBAR 6.1 PROPORSI KASUS BARU BTA + MENURUT KELOMPOK UMUR TAHUN
2013 ............................................................................................................................................. 128
GAMBAR 6.2 PROPORSI BTA POSITIF DI ANTARA SELURUH KASUS TB PARU DI
INDONESIA TAHUN 2008-2013 ..................................................................................... 128
GAMBAR 6.3 PROPORSI BTA POSITIF DI ANTARA SELURUH KASUS TB PARU
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 .............................................................................. 129
GAMBAR 6.4 ANGKA NOTIFIKASI KASUS BTA+ DAN SELURUH KASUS PER 100.000
PENDUDUK TAHUN 2008-2013 ..................................................................................... 130
GAMBAR 6.5 ANGKA NOTIFIKASI KASUS TB PARU BTA+PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 .............................................................................. 130
GAMBAR 6.6 ANGKA KESEMBUHAN DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB BTA+DI
INDONESIA TAHUN 2008-2013 ..................................................................................... 131
GAMBAR 6.7 JUMLAH KASUS BARU HIV POSITIF DI INDONESIA SAMPAI TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 133
GAMBAR 6.8 PETA EPIDEMI HIV DI INDONESIA TAHUN 2012 ................................................ 134
GAMBAR 6.9 JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG
TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN DI INDONESIA
SAMPAI TAHUN 2013 .......................................................................................................... 134
GAMBAR 6.10 PROPORSI KASUS BARU AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 135
GAMBAR 6.11 PERSENTASE KASUS BARU AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 135
GAMBAR 6.12 PERSENTASE KASUS AIDS MENURUT FAKTOR RISIKO DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 136
GAMBAR 6.13 ANGKA KEMATIAN AKIBAT AIDS YANG DILAPORKAN DI INDONESIA
TAHUN 2000-2013 ................................................................................................................ 136
GAMBAR 6.14 PERIOD PREVALENCE PNEUMONIA MENURUT PROVINSI RISKESDAS
2007 DAN 2013 ....................................................................................................................... 139
GAMBAR 6.15 CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA
TAHUN 2008-2013 ................................................................................................................ 140
GAMBAR 6.16 ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA
(NCDR) TAHUN 2008-2013 .............................................................................................. 141
GAMBAR 6.17 ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013 ............................................. 141
xxi

GAMBAR 6.18 ANGKA CACAT TINGKAT II PER 1.000.000 PENDUDUK TAHUN 2008-
2013 .............................................................................................................................................. 142
GAMBAR 6.19 ANGKA CACAT TINGKAT II KUSTA PER 1.000.000 PENDUDUK PER
PROVINSI TAHUN 2013 ...................................................................................................... 142
GAMBAR 6.20 PROPORSI KUSTA MB DAN PROPORSI KUSTA PADA ANAK TAHUN
2008-2013 .................................................................................................................................. 143
GAMBAR 6.21 PERIOD PREVALENCE DIARE (> 2 MINGGU 1 BULAN SEBELUM
WAWANCARA)MENURUT GEJALA, RISKESDAS 2013 ........................................ 144
GAMBAR 6.22 INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK MENURUT
PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013 ..................................................................... 145
GAMBAR 6.23 PROPORSI KASUS CAMPAK MENURUT KELOMPOK UMUR DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 146
GAMBAR 6.24 PROPORSI KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 147
GAMBAR 6.25 NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA
TAHUN 2013 ............................................................................................................................ 147
GAMBAR 6.26 PERSENTASE SPESIMEN ADEKUAT AFP MENURUT PROVINSI TAHUN
2013 .............................................................................................................................................. 148
GAMBAR 6.27 ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000
PENDUDUK TAHUN 2008-2013 ..................................................................................... 149
GAMBAR 6.28 ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000
PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 ................................................... 150
GAMBAR 6.29 JUMLAH KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN
2008-2013 .................................................................................................................................. 150
GAMBAR 6.30 ANGKA BEBAS JENTIK DI INDONESIA TAHUN 2008-2013 ............................. 151
GAMBAR 6.31 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2008-2013 ......... 152
GAMBAR 6.32 JUMLAH KASUS KLINIS FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2008 2013
........................................................................................................................................................... 152
GAMBAR 6.33 PETA ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2012 DAN 2013 . 153
GAMBAR 6.34 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA MENURUT TINGKAT ENDEMISITAS
TAHUN 2011-2013 ................................................................................................................ 153
GAMBAR 6.35 ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE /API)
PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO TAHUN 2005-2013 ....................................... 154
GAMBAR 6.36 SITUASI RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009 2013 ....................................... 155
GAMBAR 6.37 SEBARAN KASUS GHPR DAN KEMATIAN AKIBAT RABIES (LYSSA) DI
INDONESIA TAHUN 2013 ................................................................................................. 156
GAMBAR 6.38 SITUASI LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2008 2013 ..................... 157
GAMBAR 6.39 JUMLAH KASUS DAN CFR ANTRAKS DI INDONESIA TAHUN 2008-2013 158
xxii
GAMBAR 6.40 JUMLAH KASUS, KEMATIAN, DAN CASE FATALITY RATE (CFR) FLU
BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2013 ........................................................... 159
GAMBAR 6.41 PREVALENSI STROKE PADA UMUR 15 TAHUN () BERDASARKAN
DIAGNOSIS DOKTER MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 DAN 2013 ......... 162
GAMBAR 6.42 PREVALENSI PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA UMUR 15 TAHUN
BERDASARKAN DIAGNOSIS DOKTER/GEJALA MENURUT PROVINSI
TAHUN 2013 ............................................................................................................................. 163
GAMBAR 6.43 PREVALENSI HIPERTENSI PADA UMUR 18 TAHUN BERDASARKAN
WAWANCARA MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 DAN 2013....................... 163
GAMBAR 6.44 PREVALENSI PREVALENSI PENYAKIT KANKER () BERDASARKAN
DIAGNOSIS DOKTER/GEJALA MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 ............. 165
GAMBAR 6.45 PREVALENSI DIABETES PADA UMUR 15 TAHUN BERDASARKAN
DIAGNOSIS DOKTER/GEJALA MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 DAN
2013 .............................................................................................................................................. 167
GAMBAR 6.46 PREVALENSI PPOK PADA UMUR > 30 TAHUN BERDASARKAN GEJALA
(%) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 .............................................................. 170
GAMBAR 6.47 PETA PREVALENSI PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIS PADA UMUR
15 TAHUN DI INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................... 170
GAMBAR 6.48 PREVALENSI PENYAKIT ASMA BERDASARKAN GEJALA (%) MENURUT
ROVINSI TAHUN 2013 ......................................................................................................... 171
GAMBAR 6.49 PROPORSI PENDUDUK BERDASARKAN USIA PERTAMA KALI
MEROKOK TIAP HARI DI INDONESIA TAHUN 2013 .......................................... 172
GAMBAR 6.50 PROPORSI PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN YANG MEROKOK TIAP
HARI MENURUT PROVINSI TAHUN 2013 ................................................................. 172
GAMBAR 6.51 PROPORSI RUMAH TANGGA BERDASARKAN JENIS SUMBER AIR
MINUM DI INDONESIA, RISKESDAS 2013 ................................................................. 174
GAMBAR 6.52 PROPORSI RUMAH TANGGA YANG MENGOLAH AIR MINUM SEBELUM
DIMINUM DI INDONESIA, RISKESDAS 2013 ............................................................ 175
GAMBAR 6.53 PROPORSI RUMAH BERDASARKAN CARA PENGOLAHAN AIR MINUM
SEBELUM DIMINUM DI INDONESIA, RISKESDAS 2013 ..................................... 176
GAMBAR 6.54 PROPORSI RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI AKSES TERHADAP
SUMBER AIR MINUM IMPROVED BERDASARKAN KRITERIA JMP WHO-
UNICEF 2006, RISKESDAS 2013 ..................................................................................... 177
GAMBAR 6.55 PROPORSI RUMAH TANGGA BERDASARKAN PENGGUNAAN FASILITAS
BUANG AIR BESAR DI INDONESIA, RISKESDAS 2013 ........................................ 178
GAMBAR 6.56 PROPORSI RUMAH TANGGA BERDASARKAN JENIS TEMPAT BUANG
AIR BESAR DI INDONESIA, RISKESDAS 2013 ......................................................... 179
GAMBAR 6.57 PROPORSI RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI AKSES TERHADAP
FASILITAS SANITASI IMPROVED BERDASARKAN KRITERIA JMP WHO-
UNICEF 2006, RISKESDAS 2013 ..................................................................................... 180
xxiii

DAFTAR TABEL

TABEL 1.1 JUMMLAH PENDUDUK DAN ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT
JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK USIA PRODUKTIF DAN NON
PRODUKTIF DI INDONESIA TAHUN 2013 ................................................................. 7
TABEL 1.2 PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN DI
INDONESIA TAHUN 2013 .................................................................................................. 8
TABEL 1.3 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA, PENDUDUK YANG BEKERJADAN
PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2011 2013 ............... 11
TABEL 1.4 PERSEBARAN JUMLAH DAN PROPORSI PENDUDUK MISKIN MENURUT
KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2011 2013 ................. 14
TABEL 2.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT MENURUT KEPEMILIKAN DI
INDONESIA TAHUN 2011 2013 .................................................................................. 35
TABEL 6.1 PREVALENSI TB PARU BERDASARKAN DIAGNOSIS DAN GEJALA TB
PARU MENURUT KARAKTERISTIK,RISKESDAS 2013 ........................................ 132
TABEL 6.2 PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-54
TAHUN
1
YANG PERNAH MENDENGAR TENTANG HIV AIDS MENURUT
KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG TAHUN 2012 ............................................ 137
TABEL 6.3 PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-54
1

TAHUN TENTANG CARA MENGURANGI RISIKO TERKENA HIV AIDS
MENURUT KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG TAHUN 2012 .................... 138
TABEL 6.4 DISTRIBUSI KASUS LEPTOSPIROSIS DI 9 PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2005 2013 ............................................................................................................. 157

****
xxiv

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I. DEMOGRAFI
Lampiran 1.1 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 1.2 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur dan Jenis
Kelamin Tahun 2013
Lampiran 1.3 Estimasi Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 1.4 Estimasi Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Luas Wilayah dan
Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 1.5 Estimasi Jumlah Lahir Hidup, Jumlah Bayi (0 Tahun), Jumlah Batita (0-2
Tahun), Jumlah Anak Balita (1 - 4 Tahun), Jumlah Balita (0 - 4 Tahun)
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 1.6 Estimasi Jumlah Penduduk Menurut Penduduk Usia Muda, Usia Produktif dan
Usia Non Produktif Menurut Jenis Kelamin Provinsi Tahun 2013
Lampiran 1.7 Estimasi Jumlah Wanita Usia Subur (15 - 49 Tahun), WUS Imunisasi (15 - 39
Tahun), Ibu Hamil, Ibu Bersalin Dan Ibu Nifas Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 1.8 Estimasi Jumlah Anak Pra Sekolah, Jumlah Anak Usia Kelas 1 SD/Setingkat,
dan Jumlah Anak Usia SD/Setingkat Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 1.9 Indeks Gini Menurut Provinsi Tahun 2010 - 2013
Lampiran 1.10 Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan
Tahun 2000 - 2013
Lampiran 1.11 Garis Kemiskinan, Jumlah, dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi
dan Tipe Daerah Tahun 2013
Lampiran 1.12 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 1.13 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pendidikan Menurut Provinsi Tahun 2010
2012
Lampiran 1.14 Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Menurut Provinsi Tahun 2010
2012
Lampiran 1.15 Angka Partisipasi Murni (APM) Pendidikan Menurut Provinsi Tahun 2010-
2012
Lampiran 1.16 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Melek Huruf Menurut
Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2010 - 2012
Lampiran 1.17 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun 2011-
2012
Lampiran 1.18 Jumlah dan Persentase Kabupaten Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2010
2013
xxv

BAB II. SARANA KESEHATAN
Lampiran 2.1 Jumlah Puskesmas dan Rasionya Terhadap Penduduk Menurut Provinsi
Tahun 2009 2013
Lampiran 2.2 Jumlah Puskesmas Perawatan Rawat Inap dan Non Rawat Inap Menurut
Provinsi Tahun 2009 - 2013
Lampiran 2.3 Jumlah Puskesmas dan Rumah Sakit dengan Pelayanan Pengembangan
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 2.4 Jumlah Kabupaten/Kota dengan Puskesmas yang Nakesnya Dilatih Kesehatan
Tradisional, Alternatif Dan Komplementer Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 2.5 Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 2.6 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola
Tahun 2009 - 2013
Lampiran 2.7 Jumlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidur Menurut Jenis Rumah Sakit
Tahun 2009 - 2013
Lampiran 2.8 Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur Menurut Kelas Rumah Sakit dan
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 2.9 Jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Menurut Kelas Perawatan dan Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 2.10 Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut
Provinsi Tahun 2011-2013
Lampiran 2.11 Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut
Provinsi Tahun 2011-2013
Lampiran 2.12 Jumlah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 2.13 Jumlah RW, Desa dan Kelurahan Siaga Aktif Serta Posyandu Menurut Provinsi
dan Tingkatan (Strata) di Indonesia Tahun 2013
Lampiran 2.14 Jumlah Program Studi Diploma IV Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes)
Menurut Provinsi Sampai dengan Desember Tahun 2013
Lampiran 2.15 Jumlah Jurusan/Program Studi Diploma III Institusi Politeknik Kesehatan
(Poltekkes) Menurut Jurusan dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 2.16 Jumlah Perserta Didik Diploma III Poltekkes Menurut Jenis Tenaga Kesehatan
Tahun Ajaran 2011/2012 Sampai Dengan 2013/2014
Lampiran 2.17 Jumlah Peserta Didik Program Diploma III Poltekkes Berdasarkan Jenis
Tenaga Kesehatan Tahun 2013
Lampiran 2.18 Jumlah Lulusan Program Studi Diploma III Poltekkes Menurut Jenis Tenaga
Kesehatan Tahun 2011-2013
Lampiran 2.19 Jumlah Lulusan Program Studi Diploma III Poltekkes Menurut Jenis Program
Studi Tahun 2013
xxvi

Lampiran 2.20 Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin di Indonesia Sampai Dengan Bulan
November 2013
Lampiran 2.21 Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin di Indonesia Sampai Dengan Bulan
November 2013
Lampiran 2.22 Penggunaan Obat Generik pada Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut
Provinsi Tahun 2013

BAB III. TENAGA KESEHATAN
Lampiran 3.1 Rekapitulasi Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Menurut Jenis Tenaga
dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.2 Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis
Tenaga dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.3 Rasio Dokter Umum, Dokter Gigi, Perawat, dan Bidan Terhadap Jumlah
Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.4 Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan di Rumah Sakit Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.5 Jumlah Dokter Umum, Dokter Spesialis, Dokter Gigi dan Dokter Gigi Spesialis
yang Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Menurut Provinsi Sampai Dengan
Desember Tahun 2013
Lampiran 3.6 Jumlah Tenaga Kesehatan Yang Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR)
Menurut Provinsi Tahun 2011 Sampai Dengan Desember Tahun 2013
Lampiran 3.7 Jumlah Dokter Spesialis dan Dokter Gigi Spesialis Sebagai Pegawai Tidak
Tetap (PTT) Aktif Menurut Kriteria Wilayah dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.8 Jumlah Dokter Umum Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Menurut
Kriteria Wilayah dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.9 Jumlah Dokter Gigi Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Menurut Kriteria
Wilayah dan Provinsi Kondisi 31 Desember 2013
Lampiran 3.10 Jumlah Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Menurut Kriteria
Wilayah dan Provinsi Kondisi 31 Desember 2013
Lampiran 3.11 Jumlah Keberadaan Aktif Tenaga Residen dan Tenaga Penugasan Khusus D-III
Kesehatan Di Kabupaten Prioritas DTPK dan DBK Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 3.12 Jumlah Pengangkatan Dokter Spesialis dan Dokter Gigi Spesialis Sebagai
Pegawai Tidak Tetap (PTT) Menurut Kriteria Wilayah dan Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 3.13 Jumlah Pengangkatan Dokter Umum Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT)
Menurut Kriteria Wilayah Dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.14 Jumlah Pengangkatan Dokter Gigi Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT)
Menurut Kriteria Wilayah Dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 3.15 Jumlah Pengangkatan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) Menurut
Kriteria Wilayah dan Provinsi Tahun 2013
xxvii
Lampiran 3.16 Jumlah Pengangkatan Tenaga Residen Dan Tenaga Penugasan Khusus D-III
Kesehatan di Kabupaten Prioritas DTPK dan DBK Menurut Provinsi Tahun
2013

BAB IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Lampiran 4.1 Alokasi Dan Realisasi Anggaran Kementerian Kesehatan Ri Menurut Eselon I
Tahun 2013
Lampiran 4.2 Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi
Menurut Fungsi dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 4.3 Alokasi Dan Realisasi Bantuan Operasional Kesehatan (Bok) Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 4.4 Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Tahun 2013
Lampiran 4.5 Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di Puskesmas Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 4.6 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Peserta Jamkesmas
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 4.7 Jumlah Kunjungan Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) Peserta Jamkesmas
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 4.8 Jumlah Kunjungan Peserta Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) Menurut
Provinsi Tahun 2013

BAB V. KESEHATAN KELUARGA
Lampiran 5.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1, K4, Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan,
dan Kunjungan Ibu Nifas Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.2 Persentase Kelahiran Menurut Riwayat Pemeriksaan Kehamilan pada Masa
Kehamilannya, Serta Cakupan Indikator ANC Menurut Provinsi, Riskesdas
Tahun 2013
Lampiran 5.3 Cakupan Pemberian 90 Tablet Tambah Darah Pada Ibu Hamil Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.4 Persentase Kelahiran Berdasarkan Jumlah Hari Mengkonsumsi Zat Besi (Fe)
Selama Masa Kehamilan Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.5 Cakupan Imunisasi TT Pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.6 Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.7 Proporsi Penolong Persalinan Dengan Kualifikasi Tertinggi Menurut Provinsi,
Riskesdas 2013
Lampiran 5.8 Proporsi Penolong Persalinan Dengan Kualifikasi Terendah Menurut Provinsi,
Riskesdas 2013
Lampiran 5.9 Proporsi Kelahiran Berdasarkan Tempat Bersalin Menurut Provinsi,
Riskesdas 2013
Lampiran 5.10 Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan Menurut Provinsi Tahun 2013
xxviii

Lampiran 5.11 Proporsi Pelayanan Kesehatan Masa Nifas Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.12 Cakupan Peserta KB Baru dan KB Aktif Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.13 Persentase Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 5.14 Persentase Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 5.15 Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 5.16 Persentase pemakaian Alat/Cara KB pada Wanita Usia Subur (15 49)
Tahun) Yang Berstatus Kawin Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.17 Persentase pemakaian Alat/Cara KB pada Wanita Usia Subur (15 49)
Tahun) Yang Berstatus Kawin Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.18 Proporsi WUS Kawin yang Menggunakan Alat/Cara KB Modern Berdasarkan
Jenis dan Jangka Waktu Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.19 Jumlah Kunjungan Peserta Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.20 Persentase Balita (0-59 Bulan) Menurut Berat Badan Lahir dan Provinsi,
Riskesdas Tahun 2013
Lampiran 5.21 Persentase Proses Mulai Mendapat ASI pada Anak Umur 0-23 Bulan Menurut
Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.22 Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.23 Cakupan Penanganan Neonatal Dengan Komplikasi Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 5.24 Cakupan Imunisasi Dasar Pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.25 Cakupan Imunisasi Dasar Pada Anak Umur 12-23 Bulan Menurut Provinsi,
Riskesdas 2013
Lampiran 5.26 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi Dpt/Hb(1) - Campak dan Cakupan
Imunisasi DPT/HB(1) DPT/HB(3) pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2011-
2013
Lampiran 5.27 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi Dan Anak Balita Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 5.28 Persentase Imunisasi Dasar Lengkap Pada Anak Umur 12-23 Bulan Menurut
Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.29 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Menurut
Provinsi Tahun 2010-2013
Lampiran 5.30 Cakupan Imunisasi Anak Sekolah Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.31 Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Pada Balita 6-59 Bulan Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.32 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima kapsul Vitamin A selama
Enam Bulan Terakhir Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
xxix
Lampiran 5.33 Cakupan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi 0-6 Bulan Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 5.34 Cakupan Balita Ditimbang Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.35 Kasus Gizi Buruk Pada Balita Ditemukan Dan Mendapat Perawatan Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.36 Persentase Kabupaten/Kota Dengan Minimal 2 Puskesmas Mampu
Tatalaksana Kasus Kekerasan Terhadap Anak Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.37 Persentase Kabupaten/Kota Dengan Minimal 4 Puskesmas Mampu Laksana
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.38 Jumlah Puskesmas Yang Melakukan Pembinaan Kesehatan Anak Di Panti
Anak Terlantar Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.39 Cakupan Sekolah Dasar (SD) Yang Melaksanakan Penjaringan Siswa SD/MI
Kelas 1 menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.40 Puskesmas Membina Lapas/Rutan Anak Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 5.41 Puskesmas Membina Kesehatan Anak Penyandang Cacat Melalui Program
UKS di Sekolah Luar Biasa Sampai Dengan Tahun 2013
Lampiran 5.42 Prevalensi Status Gizi Balita Berdasarkan Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.43 Prevalensi Status Gizi Balita Berdasarkan Tinggi Badan Menurut Umur
(TB/U) Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.44 Prevalensi Status Gizi Balita Berdasarkan Berat Badan Menurut Tinggi Badan
(BB/TB) Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 5.45 Prevalensi Status Gizi Balita Berdasarkan Tinggi Badan Menurut Umur Dan
Berat Badan Menurut Tinggi Badan (TB/U Dan BB/TB) Menurut Provinsi,
Riskesdas 2013
Lampiran 5.46 Prevalensi Status Gizi Penduduk Dewasa (>18 Tahun) Berdasarkan Kategori
Indeks Massa Tubuh (IMT) Dan Provinsi, Riskesdas 2013

BAB VI. PENGENDALIAN PENYAKIT DAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Lampiran 6.1 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 6.2 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur, Jenis
Kelamin dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.3 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 6.4 Prevalensi TB Paru Berdasarkan Diagnosis dan Gejala TB Paru Menurut
Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 6.5 Cakupan TB Paru BTA Positif Sembuh, Pengobatan Lengkap dan Angka
Keberhasilan Pengobatan (Success Rate) Menurut Provinsi Tahun 2013
xxx

Lampiran 6.6 Jumlah Kasus Baru Aids dan Kasus Kumulatif Aids Menurut Provinsi sampai
dengan Desember 2013Lampiran 6.7 Jumlah Kasus Baru Infeksi HIV Menurut
Provinsi Tahun 2011 - 2013
Lampiran 6.8 Jumlah Dan Persentase Kasus Aids pada Pengguna Napza Suntikan (IDU)
Menurut Provinsi Sampai Dengan Desember 2013
Lampiran 6.9 Jumlah Layanan dan Kunjungan Konseling Dan Tes HIV Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 6.10 Jumlah Kasus Pneumonia Pada Balita Menurut Provinsi Dan Kelompok Umur
Tahun 2013
Lampiran 6.11 Case Fatality Rate Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi dan Kelompok
Umur Tahun 2013
Lampiran 6.12 Period Prevalence ISPA, Pneumonia, Pneumonia Balita, dan Prevalensi
Pneumonia Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 6.13 Insiden Diare dan Diare Balita serta Period Prevalence Diare Menurut
Provinsi, Riskesdas Tahun 2013
Lampiran 6.14 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Menurut Provinsi Tahun 2011 - 2013
Lampiran 6.15 Penemuan Kasus Diare Ditangani Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.16 Jumlah Kasus Baru Kusta dan Case Detection Rate (CDR) Per 100.000
Penduduk Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2013
Lampiran 6.17 Proporsi Kecacatan Kusta Tingkat 2 dan Kasus Kusta pada Anak 0-14 Tahun
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.18 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 6.19 Jumlah Kasus, Meninggal, dan Incidence Rate (IR) Campak Menurut Provinsi
Tahun 2013
Lampiran 6.20 Jumlah Kasus Campak dan Kasus Campak yang Divaksinasi Menurut
Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.21 Frekuensi KLB Dan Jumlah Kasus pada KLB Campak
Lampiran 6.22 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi Tahun
2013
Lampiran 6.23 Jumlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur Dan Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.24 Non Polio AFP Rate Per 100.000 Penduduk Usia < 15 Tahun dan Persentase
Spesimen Adekuat Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.25 Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Malaria Per 1.000 Penduduk Berisiko
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.26 Insiden dan Prevalensi Malaria Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 6.27 Annual Parasite Insidence (API) Malaria Menurut Provinsi Tahun 2010-2013
Lampiran 6.28 Proporsi Penderita Malaria yang Diobati Dengan Pengobatan Sesuai Program
dan Penderita Malaria yang Mengobati Sendiri Menurut Provinsi, Riskesdas
2013
xxxi
Lampiran 6.29 Jumlah Penderita, Incidence Rate Per 100.000 Penduduk, Kasus Meninggal,
dan Case Fatality Rate (%)Demam Berdarah Dengue Lampiran 6.38
Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Jenis Sumber Air Menurut Provinsi
Tahun 2013 (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.30 Jumlah Kabupaten/Kota Yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue Menurut
Provinsi Tahun 2011 - 2013
Lampiran 6.31 Situasi Rabies Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2011-2013
Lampiran 6.32 Jumlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2009-2013
Lampiran 6.33 Jumlah Kasus, Meninggal, dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis Menurut
Provinsi Tahun 2011 2013; Situasi Antraks Pada Manusia Menurut Provinsi
Tahun 2011 2013
Lampiran 6.34 Prevalensi Penyakit asma, PPOK, dan Kanker Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.35 Prevalensi Diabetes, Hipertiroid, dan Hipertensi pada Umur 18 Tahun
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.36 Prevalensi Penyakit Jantung Koroner, Gagal Jantung, dan Stroke Pada Umur
15 Tahun Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.37 Prevalensi Penyakit Gagal ginjal Kronis, Batu Ginjal, dan Sendi pada Umur
15 Tahun Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.38 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Pengolahan Air Minum Sebelum
Diminum Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.39 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Kualitas Fisik Air Minum Menurut
Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.40 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Pengolahan Air Minum Sebelum
Diminum Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 6.41 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Cara Pengolahan Air Minum Sebelum
Diminum Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 6.42 Proporsi Rumah Tangga Yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum
Berdasarkan Kriteria JMP WHO - Unicef 2006 Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.43 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar
Menurut Provinsi Tahun 2013
Lampiran 6.44 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Tempat Buang Air Besar Menurut
Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 6.45 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Tempat Pembuangan Akhir Tinja
Menurut Provinsi, Riskesdas 2013
Lampiran 6.46 Proporsi Rumah Tangga Yang Memiliki Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi
Berdasarkan Kriteria Jmp Who - Unicef 2006 Menurut Provinsi, Riskesdas
2013
Lampiran 6.47 Jumlah Lokasi Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Tahun 2013
Lampiran 6.48 Pencapaian Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
Tahun 2013
xxxii

Lampiran 6.49 Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Lokasi Rumah Menurut Provinsi,
Riskesdas 2013
Lampiran 6.50 Jumlah Kabupaten/Kota Penyelenggara Kabupaten/Kota Sehat (KKS) di
Indonesia Tahun 2013
Lampiran 6.51 Peraturan Tentang Kawasan Tanpa Rokok Tingkat Provinsi dan Kabupaten/
Kota Tahun 2013

***
xxxiii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................................................................. iv
Kata Sambutan .................................................................................................................................................................. v
Daftar Singkatan ............................................................................................................................................................... vi
Daftar Gambar ................................................................................................................................................................... xvi
Daftar Tabel ........................................................................................................................................................................ xxiv
Daftar Lampiran ............................................................................................................................................................... xxv
Daftar Isi ............................................................................................................................................................................... xxxiv

BAB 1 DEMOGRAFI ....................................................................................................................................................... 3
A. KEADAAN PENDUDUK ................................................................................................................................. 3
B. KEADAAN EKONOMI ..................................................................................................................................... 9
C. KEADAAN PENDIDIKAN .............................................................................................................................. 16
D. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA ...................................................................................................... 21

BAB 2 SARANA KESEHATAN.................................................................................................................................... 27
A. PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT ....................................................................................................... 27
1. Puskesmas dengan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar
(PONED) ............................................................................................................................................... 30
2. Puskesmas dengan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) ......................... 32
3. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Kerja ...................................................................... 32
4. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Olahraga .............................................................. 33
5. Puskesmas dengan Tatalaksana Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA) .......... 34
6. Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer ........................ 34
B. RUMAH SAKIT.................................................................................................................................................... 34
1. Jumlah dan Jenis Rumah Sakit .................................................................................................. 35
2. Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) ............ 39
C. SARANA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN ......................................................................... 39
1. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan................ 39
2. Ketersediaan Obat dan Vaksin .................................................................................................. 41
3. Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan ................................... 42
D. UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT ............................................................ 42
E. INSTITUSI PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN POLTEKKES.................................................. 45
1. Jumlah Poltekkes ............................................................................................................................. 45
2. Peserta Didik ...................................................................................................................................... 46
3. Lulusan .................................................................................................................................................. 47

BAB 3 TENAGA KESEHATAN .................................................................................................................................. 51
A. JUMLAH DAN RASIO TENAGA KESEHATAN ...................................................................................... 51
1. Tenaga Kesehatan di Puskesmas............................................................................................. 54
2. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit ......................................................................................... 56
B. TENAGA KESEHATAN DENGAN STATUS PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) ........................ 56
C. TENAGA KESEHATAN DENGAN STATUS PENUGASAN KHUSUS ............................................ 58
D. REGISTRASI TENAGA KESEHATAN ........................................................................................................ 59
xxxiv
BAB 4 PEMBIAYAAN KESEHATAN ....................................................................................................................... 63
A. ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN ......................................................................................... 63
B. ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) BIDANG KESEHATAN ... 64
C. JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT ................................................................................................. 65
D. BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN .............................................................................................. 67

BAB 5 KESEHATAN KELUARGA ............................................................................................................................ 71
A. KESEHATAN IBU .............................................................................................................................................. 71
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil .............................................................................................. 72
2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin ......................................................................................... 75
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas ................................................................................................ 79
4. Pelayanan/Penanganan Komplikasi Kebidanan ............................................................. 80
5. Pelayanan Kontrasepsi ................................................................................................................. 83
B. KESEHATAN ANAK.......................................................................................................................................... 87
1. Berat Badan Lahir Bayi ................................................................................................................. 87
2. Penanganan Komplikasi Neonatal .......................................................................................... 88
3. Pelayanan Kesehatan Neonatal ................................................................................................ 89
4. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi .............................................................................................. 92
5. Proses Bayi Mulai Mendapat ASI ............................................................................................. 93
6. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif .......................................................................................... 95
7. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 6 59 Bulan ............................ 97
8. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) .......................................................... 100
9. Imunisasi ............................................................................................................................................. 102
a. Imunisasi Dasar pada Bayi ............................................................................................ 102
b. Universal Child Immunization ...................................................................................... 105
10. Pelayanan Kesehatan Anak Balita........................................................................................... 107
11. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan Setingkat ..................................................... 108
12. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) ................................................................... 110
13. Pelayanan Kesehatan pada Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA)..................... 113
14. Pelayanan Kesehatan Anak Terlantar dan Anak Jalanan di Panti .......................... 116
15. Pelayanan Kesehatan Anak Dengan Disabilitas (ADD) ................................................ 116
16. Pelayanan Kesehatan Anak yang Berhadapan Hukum (ABH) ................................. 118
C. STATUS GIZI ........................................................................................................................................................ 118
1. Status Gizi Balita .............................................................................................................................. 118
2. Status Gizi Penduduk Dewasa ................................................................................................... 122

BAB 6 PENGENDALIAN PENYAKIT DAN KESEHATAN LINGKUNGAN .......................................... 127
A. PENGENDALIAN PENYAKIT ....................................................................................................................... 127
1. PenyakitMenular.............................................................................................................................. 127
a. Tuberkulosis Paru .............................................................................................................. 127
b. HIV & AIDS.............................................................................................................................. 133
c. Pneumonia.............................................................................................................................. 139
d. Kusta .......................................................................................................................................... 140
e. Diare .......................................................................................................................................... 143
f. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) ............................... 144
g. Demam Berdarah Dengue (DBD) ............................................................................... 148
h. Chikungunya.......................................................................................................................... 151
i. Filariasis .................................................................................................................................. 152
xxxv

j. Malaria ...................................................................................................................................... 153
k. Rabies ........................................................................................................................................ 155
l. Leptospirosis ......................................................................................................................... 156
m. Antraks ..................................................................................................................................... 158
n. Flu Burung .............................................................................................................................. 158
2. PENYAKIT TIDAK MENULAR .................................................................................................... 159
a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah .................................................................. 161
b. Penyakit Kanker .................................................................................................................. 164
c. Penyakit Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik ......................................... 166
d. Penyakit Kronis dan Degeneratif ............................................................................... 167
B. KESEHATAN LINGKUNGAN ........................................................................................................................ 173
1. Air Minum ............................................................................................................................................ 173
2. SanitasiLayak ..................................................................................................................................... 178
3. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ....................................................................................... 181
4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ............................................................................................ 181
5. Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat ........................................................................... 182




xxxvi


3 Demografi


DEMOGRAFI


Secara geografis Indonesia terletak di antara dua benua, Benua Asia dan Australia, di
antara dua samudera, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Secara astronomis Indonesia
terletak antara 6
o
Lintang Utara sampai 11
o
Lintang Selatan dan 95
o
sampai 141
o
Bujur Timur
yang meliputi rangkaian pulau antara Sabang sampai Merauke. Data yang bersumber dari
Badan Informasi Geospasial, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan
jumlah pulau sebesar 13.466, luas daratan sebesar 1.922.570 km
2
dan luas perairan sebesar
3.257.483 km
2
.
Tahun 2013, secara administratif wilayah Indonesia terbagi atas 33 provinsi, 497
kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota), 6.994 kecamatan, 8.309 kelurahan dan 72.944
desa. Kondisi ini berdasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2013
tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, Kementerian Dalam Negeri.
Pembagian wilayah Indonesia secara administratif menurut provinsi pada tahun 2013 dapat
dilihat pada Lampiran 1.1.

A. KEADAAN PENDUDUK
Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan dengan bimbingan dari Badan Pusat
Statistik menghitung estimasi penduduk dengan metode geometrik. Metode ini menggunakan
prinsip bahwa parameter dasar demografi yaitu parameter fertilitas, mortalitas, dan migrasi per
tahun tumbuh konstan. Metode ini lebih mudah dilakukan dengan mengkaji pertumbuhan
penduduk di dua atau lebih titik waktu yang berbeda.
GAMBAR 1.1
JUMLAH PENDUDUK INDONESIA MENURUT JENIS KELAMIN TAHUN 2010 - 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2010, Hasil Sensus Penduduk
Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013, Hasil Estimasi
Hasil estimasi jumlah penduduk pada tahun 2013 sebesar 248.422.956 jiwa, yang terdiri
atas jumlah penduduk laki-laki sebesar 125.058.484 jiwa dan jumlah penduduk perempuan


4 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
123.364.472 jiwa. Jumlah penduduk di Indonesia meningkat dengan relatif cepat. Diperlukan
kebijakan untuk mengatur atau membatasi jumlah kelahiran agar kelahiran dapat dikendalikan
dan kesejahteraan penduduk makin meningkat. Rasio jenis kelamin pada tahun 2013 sebesar
101. Angka ini berarti bahwa terdapat 101 laki-laki diantara 100 perempuan. Rincian jumlah
penduduk menurut jenis kelamin dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 1.3.
GAMBAR 1.2
JUMLAH PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013, Hasil Estimasi
Pada Gambar 1.2, berdasarkan hasil estimasi, jumlah penduduk tertinggi di Indonesia
terdapat di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk sebesar 45.472.830, Jawa Timur
sebesar 38.268.825 dan Jawa Tengah sebesar 32.684.579. Sedangkan jumlah penduduk
terendah terdapat di Provinsi Papua Barat dengan jumlah penduduk sebesar 846.711,
Gorontalo sebesar 1.110.294 dan Maluku Utara sebesar 1.114.917.
Struktur umur penduduk menurut jenis kelamin dapat digambarkan dalam bentuk
piramida penduduk. Berdasarkan estimasi jumlah penduduk yang telah dilakukan, dapat
disusun sebuah piramida penduduk tahun 2013. Dasar piramida menunjukkan jumlah
penduduk, badan piramida bagian kiri menunjukkan banyaknya penduduk laki-laki dan badan
piramida bagian kanan menunjukkan jumlah penduduk perempuan. Piramida tersebut
merupakan gambaran struktur penduduk yang terdiri dari struktur penduduk muda, dewasa,
dan tua. Struktur penduduk ini menjadi dasar bagi kebijakan kependudukan, sosial, budaya, dan
ekonomi.






5 Demografi
GAMBAR 1.3
PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013, Hasil Estimasi
Pada Gambar 1.3 ditunjukkan bahwa struktur penduduk di Indonesia termasuk struktur
penduduk muda. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya jumlah penduduk usia muda yang
masih tinggi. Badan piramida besar, ini menunjukkan banyaknya penduduk usia produktif
terutama pada kelompok umur 25-29 tahun dan 30-34 tahun, baik laki-laki maupun
perempuan. Jumlah golongan penduduk usia tua juga cukup besar, terutama perempuan. Hal ini
dapat dimaknai dengan semakin tingginya usia harapan hidup, terutama perempuan. Kondisi ini
menuntut kebijakan terhadap penduduk usia tua. Bertambahnya jumlah penduduk tua dapat
dimaknai sebagai meningkatnya tingkat kesejahteraan, meningkatnya kondisi kesehatan tetapi
juga dapat dimaknai sebagai beban karena kelompok usia tua ini sudah tidak produktif lagi.
Rincian jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur di Indonesia tahun 2013
dapat dilihat pada Lampiran 1.2.
Konsentrasi penduduk disuatu wilayah dapat di pelajari dengan menggunakan
kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk menunjukkan rata-rata jumlah penduduk per 1
kilometer persegi. Semakin besar angka kepadatan penduduk menunjukkan bahwa semakin
padat penduduk yang mendiami wilayah tersebut. Kepadatan rata-rata penduduk di
Indonesia berdasarkan hasil estimasi sebesar 130 penduduk per km
2
. Kepadatan penduduk
berguna sebagai acuan dalam rangka mewujudkan pemerataan dan persebaran penduduk.
Kepadatan penduduk menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 1.4.









6 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 1.4
PETA PERSEBARAN KEPADATAN PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013, Hasil Estimasi
Pada Gambar 1.4, kepadatan penduduk di Indonesia belum merata. Kepadatan
penduduk tertinggi tertinggi terdapat di Pulau Jawa. Kepadatan penduduk terendah terdapat di
Pulau Papua dan Kalimantan. Kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia terdapat di Provinsi
DKI Jakarta sebesar 15.063 penduduk per km
2
, Jawa Barat sebesar 1.285 penduduk per km
2
,
dan Banten sebesar 1.193 penduduk per km
2
. Kepadatan penduduk terendah di Indonesia
terdapat di Provinsi Papua Barat sebesar 9 penduduk per km
2
, Papua sebesar 10 penduduk per
km
2
dan Kalimantan Tengah sebesar 15 penduduk per km
2
.
Untuk pemerataan penduduk di Indonesia dapat digunakan cara, antara lain :
transmigrasi atau program memindahkan penduduk dari tempat yang padat ke tempat yang
jarang penduduknya baik dilakukan atas bantuan pemerintah maupun keinginan diri sendiri;
pemerataan lapangan kerja dengan mengembangkan industri, terutama untuk provinsi yang
berada di luar Pulau Jawa; pengendalian jumlah penduduk dengan menurunkan jumlah
kelahiran melalui program keluarga berencana atau penundaan umur nikah pertama.
Indikator penting terkait distribusi penduduk menurut umur yang sering digunakan
untuk mengetahui produktivitas penduduk adalah Angka Beban Tanggungan atau Dependency
Ratio. Angka Beban Tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara
banyaknya orang yang tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan umur 65 tahun ke atas)
dengan banyaknya orang yang termasuk umur produktif (umur 1564 tahun). Secara kasar
perbandingan angka beban tanggungan menunjukkan dinamika beban tanggungan umur
produktif terhadap umur nonproduktif. Angka ini dapat digunakan sebagai indikator yang
secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi persentase
dependency ratio menunjukkan semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang
produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin
rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang
belum produktif dan tidak produktif lagi.







7 Demografi
TABEL 1.1
JUMLAH PENDUDUK DAN ANGKA BEBAN TANGGUNGAN
MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK USIA PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF
DI INDONESIA TAHUN 2013
No Usia Laki-laki Perempuan
Laki-laki dan
Perempuan
1 0 14 Tahun 36.890.004 34.818.903 71.708.907
2 15 64 Tahun 82.545.369 81.615.459 164.160.828
3 65 Tahun ke atas 5.623.111 6.930.110 12.553.221
Jumlah 125.058.484 123.364.472 248.422.956
Angka Beban Tanggungan 51,5 51,2 51,3
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013, Hasil Estimasi
Pada Tabel 1.1, Angka Beban Tanggungan penduduk Indonesia pada tahun 2013 sebesar
51,3. Hal ini berarti bahwa 100 penduduk Indonesia yang produktif, di samping menanggung
dirinya sendiri, juga menanggung 51,3 orang yang belum/sudah tidak produktif lagi. Apabila
dibandingkan antar jenis kelamin, maka Angka Beban Tanggungan laki-laki sedikit lebih besar
jika dibandingkan dengan perempuan. Pada tahun 2013, angka beban tanggungan laki-laki
sebesar 51,5, yang berarti bahwa 100 orang penduduk laki-laki yang produktif, di samping
menanggung dirinya sendiri, akan menanggung beban 51,5 penduduk laki-laki yang
belum/sudah tidak produktif lagi.
Penduduk sebagai determinan pembangunan harus mendapat perhatian yang
serius. Program pembangunan, termasuk pembangunan dibidang kesehatan, harus didasarkan
pada dinamika kependudukan. Upaya pembangunan di bidang kesehatan tercermin dalam
program kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif.
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Pencapaian derajat kesehatan yang optimal bukan hanya menjadi tanggung jawab
dari sektor kesehatan saja, namun sektor terkait lainnya seperti sektor penididikan, sektor
ekonomi, sektor sosial dan pemerintahan juga memiliki peranan yang cukup besar. Untuk
mendukung upaya tersebut diperlukan ketersediaan data mengenai penduduk sebagai sasaran
program pembangunan kesehatan.











8 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
TABEL 1.2
PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2013
No Sasaran Program
Kelompok
Umur/Formula
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 Bayi 0 Tahun 2.360.851 2.235.686 4.596.537
2 Batita 0 2 Tahun 7.206.110 6.813.909 14.020.019
3 Anak Balita 1 4 Tahun 9.826.945 9.277.194 19.104.139
4 Balita 0 4 Tahun 12.187.810 11.512.866 23.700.676
5 Pra Sekolah 5 6 Tahun 4.910.185 4.627.189 9.537.374
6 Anak Usia Kelas 1 SD/Setingkat 7 Tahun 2.504.571 2.359.109 4.863.680
7 Anak Usia SD/Setingkat 7 12 Tahun 14.963.805 14.099.541 29.063.346
8 Penduduk Usia Muda < 15 Tahun 36.890.004 34.818.903 71.708.907
9 Penduduk Usia Produktif 15 64 Tahun 82.545.369 81.615.459 164.160.828
10 Penduduk Pra Usia Lanjut 45 59 Tahun 18.083.505 17.511.166 35.594.671
11 Penduduk Usia Lanjut 60 Tahun 8.666.060 10.195.760 18.861.820
12
Penduduk Usia Lanjut Risiko
Tinggi 70 Tahun 3.280.197 4.341.648 7.621.845
13 Wanita Usia Subur 15 49 Tahun - 68.133.634 68.133.634
14 Wanita Usia Subur Imunisasi 15 39 Tahun - 52.239.003 52.239.003
15 Ibu Hamil 1,1 X lahir hidup - 5.212.568 5.212.568
16 Ibu Bersalin 1,05 X lahir hidup - 4.975.633 4.975.633
17 Ibu Nifas 1,05 X lahir hidup - 4.975.633 4.975.633
18 Lahir Hidup - 2.433.864 2.304.828 4.738.692
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013, Hasil Estimasi
Data penduduk sasaran program sangat diperlukan bagi pengelola program terutama
untuk menyusun perencanaan (tahunan, lima tahunan) serta evaluasi hasil pencapaian upaya
kesehatan yang telah dilaksanakan. Dalam perencanaan biasanya diperlukan untuk menghitung
sasaran, menyusun rencana kegiatan serta kebutuhan sumber daya dalam pelaksanaan
kegiatan.



9 Demografi
B. KEADAAN EKONOMI
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan
keberhasilan pembangunan suatu negara. Berdasarkan data dari BPS, Besaran Pertumbuhan
Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2013 atas dasar harga berlaku mencapai
Rp 9.084,0 triliun, naik sebesar Rp 151,4 triliun dibandingkan tahun 2012. Atas dasar harga
konstan (tahun 2000) Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2013 mencapai Rp 2.770,3
triliun, naik Rp 151,4 triliun dibandingkan tahun 2012 (Rp 2.618,9 triliun).
Produk Domestik Bruto per kapita merupakan Produk Domestik Bruto atas dasar harga
berlaku dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Dalam kurun waktu 20092013,
Produk Domestik Bruto per kapita atas dasar harga berlaku terus mengalami peningkatan,
tahun 2009 sebesar Rp 23,9 juta, tahun 2010 sebesar Rp 27,0 juta, tahun 2011 sebesar
Rp 30,7 juta, tahun 2012 sebesar Rp 33,5 juta, dan tahun 2013 sebesar Rp 36,5 juta.
GAMBAR 1.5
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2009 2013 (%)

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Gambar 1.5, data BPS menunjukkan bahwa Pertumbuhan Produk Domestik Bruto tahun
2013 meningkat sebesar 5,78% terhadap tahun 2012. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada
tahun 2013 ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada
tahun 2012 dan 2011. Hal ini disebabkan terjadinya krisis pada perekonomian global, sehingga
mempengaruhi pendapatan dari sektor ekspor dan kunjungan wisatawan di Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2009-2013 belum stabil, yang antara lain
dipengaruhi oleh kondisi politik dan iklim investasi yang ada.
Besarnya pendapatan yang diterima rumah tangga dapat menggambarkan
kesejahteraan suatu masyarakat. Namun data pendapatan yang akurat sulit diperoleh, sehingga
dilakukan pendekatan melalui data pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga yang
terdiri dari pengeluaran makanan dan bukan makanan dapat menggambarkan bagaimana
penduduk mengalokasikan kebutuhan rumah tangganya. Walaupun harga antar daerah
berbeda, namun nilai pengeluaran rumah tangga masih dapat menunjukkan perbedaan tingkat
kesejahteraan penduduk antar provinsi khususnya dilihat dari segi ekonomi.





10 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 1.6
PERSENTASE RATA-RATA PENGELUARAN PER KAPITA/BULAN INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Gambar 1.6, berdasarkan hasi Susenas Modul Konsumsi Triwulan I tahun 2013,
persentase pengeluaran yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non makanan lebih
rendah jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk makanan. Kondisi ini mencerminkan ciri
dari suatu negara berkembang. Pengeluaran untuk non makanan sebesar 49,34% dan
pengeluaran untuk makanan sebesar 50,66%. Pengeluaran makanan terbesar untuk makanan
jadi, padi-padian dan tembakau/sirih. Pengeluaran non makanan terbesar untuk perumahan
dan fasilitas rumah tangga, barang dan jasa serta barang-barang tahan lama. Biaya kesehatan
per kapita sebulan hanya sebesar 3,44% dari total pengeluaran per kapita sebulan. Nilai ini
masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan terhadap pengeluaran untuk tembakau
dan sirih sebesar 6,24%.
Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan kesempatan kerja di Indonesia. Penduduk
dilihat dari sisi ketenagakerjaan merupakan suplai bagi pasar tenaga kerja, namun tidak semua
penduduk mampu melakukannya karena hanya penduduk yang masuk usia kerja yang dapat
menawarkan tenaganya di pasar kerja. Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua golongan yaitu
yang termasuk angkatan kerja dan yang bukan angkatan kerja. Angkatan kerja sendiri terdiri
dari mereka yang aktif bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan. Mereka yang
sedang mencari pekerjaan, sedang mempersiapkan suatu usaha dan mereka yang sudah
memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja itulah yang dinamakan sebagai pengangguran
terbuka.








11 Demografi

TABEL 1.3
PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA, PENDUDUK YANG BEKERJA
DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2011 2013
Keadaan
2011
Februari
2011
Agustus
2012
Februari
2012
Agustus
2013
Februari
2013
Agustus
Jumlah Angkatan
Kerja
119.399.375 117.370.485 120.417.046 118.053.110 121.191.712 118.192.778
Tingkat
Partisipasi
Angkatan Kerja
(%)
69,96 68,34 69,66 67,88 69,21 66,90
Jumlah penduduk
yang bekerja
111.281.744 109.670.399 112.802.805 110.808.154 114.021.189 110.804.041
Pengangguran
terbuka
8.117.631 7.700.086 7.614.241 7.244.956 7.170.523 7.388.737
Tingkat
pengangguran
terbuka (%)
6,80 6,56 6,32 6,14 5,92 6,25
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Tabel 1.3 dapat diketahui keadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada Tahun 2013.
Kondisi Agustus 2013 terjadi penurunan jumlah angkatan kerja, penduduk yang bekerja dan
terjadi peningkatan jumlah pengangguran terbuka dibandingkan dengan kondisi Februari 2013.
Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2013 mencapai 118,2 juta orang, lebih rendah
jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja Februari 2013 sebanyak 121,2 juta orang.
Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Agustus 2013 mencapai 110,8 juta orang,
lebih sedikit jika dibandingkan keadaan pada Februari 2013. Berdasarkan tingkat partisipasi
angkatan kerja pada bulan Agustus 2013 menurun jika dibandingkan dengan periode bulan
Februari 2013 maupun bulan Agustus 2012.
Berdasarkan publikasi data BPS, pada bulan Agustus 2013 terjadi kenaikan angka
pengangguran. Jumlah pengangguran pada Agustus 2013 mencapai 7,4 juta orang, meningkat
dari kondisi Agustus 2012. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kondisi Agustus 2013 sebesar
6,25% meningkat jika dibandingkan dengan kondisi Agustus 2012 dan Februari 2013. Proporsi
pengangguran terbuka dari angkatan kerja berguna untuk acuan pemerintah dalam pembukaan
lapangan kerja baru di masa mendatang..
Pembahasan yang cukup menarik tentang pengangguran adalah pengangguran
berdasarkan tingkat pendidikan. Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara
jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja. Pengangguran terbuka di sini didefinisikan
sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau
juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan,
termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja. Pengangguran
terbuka tidak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus rumah tangga


12 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

GAMBAR 1.7
PERSENTASE TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA MENURUT PENDIDIKAN
DI INDONESIA KONDISI AGUSTUS 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Gambar 1.7, dapat ditunjukkan bahwa pengangguran tertinggi ada pada penduduk
yang pendidikan pada tingkat SLTA sebesar 43,11%. Pengangguran tertinggi kedua ada pada
penduduk dengan tingkat pendidikan SLTP sebesar 22,76%. Tingkat pengangguran tertinggi
ketiga adalah penduduk dengan tingkat pendidikan SD sebesar 18,12%. Tingkat pengangguran
pada tingkat pendidikan diploma/universitas sebesar 8,50%. Hal ini menunjukkan bahwa pada
tahun 2013 masih terdapat pengangguran yang berpendidikan relatif tinggi (SLTA ke atas).
Pengukuran kemiskinan dari BPS menggunakan konsep memenuhi kebutuhan dasar
(basic need approach). Kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang atau
sekelompok orang tidak mampu memenuhi hakhak dasarnya untuk mempertahankan dan
mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Distribusi pendapatan merupakan salah satu
aspek kemiskinan yang perlu dilihat karena pada dasarnya merupakan ukuran kemiskinan
relatif. Karena data pendapatan sulit diperoleh, pengukuran distribusi pendapatan selama ini
didekati dengan menggunakan data pengeluaran. Kemiskinan dipahami sebagai
ketidakmampuan ekonomi penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan maupun non
makanan yang diukur dari pengeluaran.
Pengukuran kemiskinan dilakukan dengan cara menetapkan nilai standar kebutuhan
minimum, baik untuk makanan maupun untuk non makanan yang harus dipenuhi seseorang
untuk hidup secara layak. Nilai standar kebutuhan minimum tersebut digunakan sebagai garis
pembatas untuk memisahkan antara penduduk miskin dan tidak miskin. Garis pembatas
tersebut yang sering disebut dengan garis kemiskinan.Kategori penduduk miskin adalah
penduduk dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan kurang dari garis kemiskinan.





13 Demografi
GAMBAR 1.8
GARIS KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 2009 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Gambar 1.8 menunjukkan peningkatan garis kemiskinan di Indonesia. Pada tahun 2013,
jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah penduduk dengan tingkat pengeluaran per kapita
per bulan kurang dari Rp 292.951,00 lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar
Rp 259.520,00 per kapita per bulan. Perhitungan garis kemiskinan dilakukan 2 kali pengukuran
penduduk miskin, yaitu bulan Maret dan September. Pengukuran dibedakan atas wilayah desa,
kota serta desa dan kota. Pada perhitungan kondisi September 2013, kategori penduduk miskin
di desa adalah mereka dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan kurang dari Rp
275.779,00 dan penduduk miskin di kota adalah mereka dengan tingkat pengeluaran per kapita
per bulan kurang dari Rp 308.826,00. Rincian lengkap mengenai garis kemiskinan per tahun
desa dan kota dapat dilihat pada Lampiran 1.11.
Untuk meningkatkan efektifitas upaya penanggulangan kemiskinan, Presiden telah
mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan
Kemiskinan, yang bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan hingga delapan
s.d. sepuluh persen pada akhir tahun 2014. Pada tahun 2013, jumlah penduduk miskin
berjumlah 28,55 jiwa, turun jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang berjumlah 28,59 jiwa.
Secara persentase, penduduk miskin tahun 2013 sebesar 11,47%. Persentase ini masih cukup
tinggi bila dibandingkan dengan target yang telah dicanangkan pada tahun 2014, yaitu sebesar
delapan s.d. sepuluh persen. Secara persentase kemiskinan semakin turun jika dibandingkan
per tahun, tetapi jumlah penduduk miskin di Indonesia masih cukup besar. Secara lengkap
jumlah dan persentase penduduk miskin terdapat pada Lampiran 1.11.
















14 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 1.9
PETA PERSEBARAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Gambar 1.9 ditunjukkan peta persebaran persentase penduduk miskin di
Indonesia keadaan September 2013. Persentase penduduk miskin terbesar terdapat di Pulau
Papua. Pada Pulau Jawa, Provinsi DI Yogyakarta mempunyai persentase penduduk miskin yang
besar, berada pada persentase 15-20%. Hal berbeda ditunjukkan di Pulau Kalimantan yang
semua provinsi mempunyai persentase penduduk miskin kurang dari 10%. Persentase
penduduk miskin terbesar pada tahun 2013 terdapat di Provinsi Papua dengan persentase
penduduk miskin 31,53% dan Provinsi Papua Barat dengan persentase penduduk miskin
sebesar 27,14% dan Nusa Tenggara Timur sebesar 20,24%. Penduduk miskin terendah di
Indonesia terdapat di Provinsi DKI Jakarta dengan persentase penduduk miskin sebesar 3,72%
dan Provinsi Bali Jakarta dengan persentase penduduk miskin sebesar 4,49%, dan Kalimantan
Selatan sebesar 4,76%.
TABEL 1.4
PERSEBARAN JUMLAH DAN PROPORSI PENDUDUK MISKIN
MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2011 2013
No Kelompok Pulau
2011 2012 2013
Jumlah
(ribu)
%
Jumlah
(ribu)
%
Jumlah
(ribu)
%
1 Sumatera 6.451,6 21,5 6.177,2 21,6 6.190,1 21,7
2 Jawa 16.726,9 55,7 15.882,6 55,3 15.546,9 54,4
3 Kalimantan 969,5 3,2 932,9 3,3 978,7 3,4
4 Bali dan Nusa Tenggara 2.073,9 6,9 1.989,6 7,0 1.998,1 7,0
5 Sulawesi 2.144,6 7,1 2.045,6 7,1 2.139,6 7,5
6 Maluku dan Papua 1.652,3 5,5 1.626,8 5,7 1.700,5 6,0
Total 30.018,9 100 28.594,7 100 28.553,9 100
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Jumlah dan proporsi penduduk miskin antar pulau menunjukkan perbedaan. Tabel 1.4
memperlihatkan bahwa lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa.


15 Demografi
Hal ini disebabkan karena jumlah penduduk di Pulau Jawa yang jauh lebih banyak dibandingkan
dengan jumlah penduduk di pulau lainnya. Jumlah penduduk di Pulau Jawa lebih dari 141 juta
jiwa atau hampir 57% penduduk Indonesia. Wilayah Maluku dan Papua mempunyai jumlah
penduduk yang kecil, tetapi mempunyai persentase penduduk miskin yang besar.
Masalah kemiskinan bukan hanya sekedar jumlah dan persentase penduduk miskin saja,
ada dimensi lain yang perlu diperhatikan yaitu tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.
Indeks Kedalaman Kemiskinan, merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-
masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh
rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Indeks Keparahan Kemiskinan
memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin
tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Rincian
mengenai indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan dapat dilihat pada
Lampiran 1.12.
Ukuran yang dapat menggambarkan ketimpangan pendapatan adalah koefisien
Gini/Indeks Gini (Gini Ratio). Indeks Gini adalah suatu koefisien yang menunjukkan tingkat
ketimpangan atau kemerataan distribusi pendapatan secara menyeluruh. Nilai indeks Gini ada
diantara 0 dan 1. Semakin tinggi nilai indeks Gini menunjukkan ketidakmerataan pendapatan
yang semakin tinggi. Apabila nilai indeks Gini adalah 0 artinya terdapat kemerataan sempurna
pada distribusi pendapatan, sedangkan jika bernilai 1 berarti terjadi ketidakmerataan
pendapatan yang sempurna. Rincian mengenai indeks Gini dapat dilihat pada Lampiran 1.9.
Pembangunan ekonomi diharapkan mampu mendorong kemajuan, di segenap pelosok
negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal. Suatu daerah dikategorikan menjadi
daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab, yaitu: geografis, sumber daya alam, sumber
daya manusia, prasarana dan sarana, daerah rawan bencana dan konflik sosial, dan kebijakan
pembangunan. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya
kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk
melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.
GAMBAR 1.10
PETA PERSEBARAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 2014
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) telah menetapkan 183
kabupaten yang dikategorikan sebagai kabupaten tertinggal. Ketetapan ini berdasarkan
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010 2014. Saat
ini di Indonesia terdapat 45 kabupaten perbatasan, 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk,
183 daerah tertinggal dan 158 Kabupaten Prioritas Percepatan Pembangunan Kualitas


16 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal. Rincian kabupaten tertinggal per provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 1.18.
Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar juga
memprioritaskan pembangunan pada Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK).
Salah satu agenda kegiatan adalah pembangunan kesehatan di 45 Kabupaten Prioritas Nasional
di Perbatasan dengan Negara Tetangga. Dengan menggunakan skala prioritas, terdapat 45
kabupaten prioritas dan 101 puskesmas prioritas kabupaten prioritas nasional di perbatasan
dengan negara tetangga.

C. KEADAAN PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur
tingkat pembangunan manusia suatu negara. Pendidikan berkontribusi terhadap perubahan
perilaku masyarakat. Pendidikan menjadi pelopor utama dalam rangka penyiapan sumber daya
manusia dan merupakan salah satu aspek pembangunan yang merupakan syarat mutlak untuk
mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Untuk peningkatan peran pendidikan dalam
pembangunan, maka kualitas pendidikan harus ditingkatkan salah satunya dengan
meningkatkan rata-rata lama sekolah.
GAMBAR 1.11
RATA-RATA LAMA SEKOLAH PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Gambar 1.11, berdasarkan perhitungan dari Susenas Triwulan I tahun 2013, rata-
rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia adalah 8,14 tahun. Walaupun
rata-rata lama sekolah dari tahun ke tahun semakin meningkat, tetapi angka ini belum
memenuhi tujuan program wajib belajar 9 tahun. Rata-rata lama sekolah tertinggi terdapat di
provinsi DKI Jakarta sebesar 10,62 tahun dan terendah di provinsi Papua sebesar 6,1 tahun.


17 Demografi
Pada provinsi DKI Jakarta dapat disebabkan lokasi sekolah yang mudah dijangkau, ketersediaan
fasilitas yang memadai, guru yang berkualitas yang menyebabkan rata-rata lama sekolah dapat
memenuhi tujuan dari wajib belajar 9 tahun. Sedangkan pada provinsi Papua, jumlah sekolah
yang masih sedikit diikuti dengan akses menuju sekolah yang jauh dan sulit dimungkinkan
menjadi penyebab rendahnya rata-rata lama sekolah.
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan
keterampilan manusia. Peningkatan mutu pendidikan harus terus diupayakan, dimulai dengan
membuka kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan, hingga
pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. Ijazah/STTB
tertinggi yang dimiliki seseorang merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal.
Semakin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu negara semakin tinggi
taraf intelektualitas negara tersebut.
GAMBAR 1.12
PERSENTASE PENDUDUK USIA 15 TAHUN KEATAS MENURUT STTB
TERTINGGI YANG DIMILIKI TAHUN 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Gambar 1.12, berdasarkan perhitungan dari Susenas Triwulan I tahun 2013,
ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki tertinggi pada tingkat pendidikan SD/MI/Paket A dan
SMP/MTs/Paket B. Penduduk dengan ijazah/STTB tertinggi Diploma/Akademi/Sarjana sebesar
6,78%. Penduduk yang tidak memiliki ijazah/STTB masih cukup tinggi, yaitu 19,34%. Apabila
dibandingkan per jenis kelamin, persentase penduduk laki-laki yang mempunyai ijazah/STTB
SD ke atas relatif lebih tinggi daripada penduduk perempuan.
Kemampuan membaca dan menulis merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan
oleh penduduk untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Kemampuan membaca dan
menulis tercermin dari angka melek huruf dan angka buta huruf. Kemampuan baca tulis
tercermin dari penduduk 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin, huruf
arab, dan huruf lainnya. Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan, penduduk
yang tidak dapat membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan,
sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan.


18 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Secara nasional persentase penduduk yang buta huruf pada tahun 2013 sebesar 5,86%
lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar 6,75%. Persentase penduduk
yang buta huruf terkecil terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0,81% dan tertinggi terdapat
di Provinsi Papua sebesar 32,4%. Apabila dibandingkan antar perdesaan dan perkotaan, angka
buta huruf lebih tinggi di kawasan perdesaan. Hal ini dimungkinkan karena kesempatan belajar
yang didukung dengan banyaknya fasilitas belajar mengajar lebih banyak di kawasan
perkotaan.
Indikator pendidikan lainnya adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase
penduduk berumur 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis serta mengerti sebuah
kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Penggunaan AMH adalah untuk :
1. Mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di daerah
perdesaan yang masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak
tamat SD;
2. Menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari
berbagai media;
3. Menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Angka melek huruf mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus
kontribusi terhadap pembangunan daerah. Semakin besar angka melek huruf diharapkan dapat
mengurangi tingkat kemiskinan sehingga tingkat kesejahteraan dapat semakin meningkat.
GAMBAR 1.13
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Gambar 1.13, persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf
secara nasional sebesar 94,14% lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2012 yang


19 Demografi
sebesar 93,25%. Persentase penduduk yang melek huruf tertinggi di DKI Jakarta dan terendah
di Provinsi Papua. Persentase penduduk yang melek huruf lebih tinggi laki-laki dibandingkan
dengan perempuan. Apabila dibandingkan antar daerah perkotaan dan perdesaan, persentase
penduduk yang melek huruf relatif lebih tinggi di daerah perkotaan. Hal ini dimungkinkan
dengan relatif majunya fasilitas pendidikan dan relatif baiknya akses sarana menuju tempat
pendidikan. Rincian persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf per
provinsi dan per jenis kelamin dapat dilihat pada Lampiran 1.16.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah
murid kelompok usia sekolah tertentu yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan
dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase.
Indikator ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang masih bersekolah
di semua jenjang pendidikan. APS dari BPS secara umum dikategorikan menjadi 3 kelompok
umur, yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD, 13-15 tahun mewakili umur setingkat
SMP/MTs, dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SMA/SMK. Semakin tinggi APS berarti
semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah. Berdasarkan angka ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin rendah nilai APS.
GAMBAR 1.14
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH PENDIDIKAN MENURUT USIA SEKOLAH
DI INDONESIA TAHUN 2008 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Gambar 1.14 menunjukkan nilai APS Pendidikan Indonesia menurut usia sekolah dari
tahun 2008 s.d. 2013. Semakin tinggi kelompok umur maka tingkat partisipasi sekolahnya
semakin kecil. Hal ini dimungkinkan pada kelompok umur 16-18 tahun dan 19-24 tahun telah
masuk dalam angkatan kerja dan bekerja. APS pada kelompok umur 712 tahun dan 1315
tahun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa program
pendidikan sembilan tahun semakin baik dijalankan. Rincian APS menurut provinsi dan
kelompok umur dari tahun 2008 s.d. 2013 dapat dilihat pada Lampiran 1.13.
Analisis tentang kondisi pendidikan di Indonesia dapat menggunakan dua indikator
partisipasi sekolah, yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).
Kedua ukuran tersebut mengukur partisipasi penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan.
Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang
pendidikan. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan
umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan.


20 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
APK adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat
pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang
pendidikan tertentu. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu
jenjang pendidikan. Angka ini merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur
daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Hasil perhitungan APK
ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan
tertentu pada wilayah tertentu. Semakin tinggi APK menunjukkan semakin banyak anak usia
sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah.
APK membagi jumlah siswa dengan tingkat pendidikan tanpa menggunakan batasan
kelompok umur. Hal ini memungkinkan nilai APK yang melebihi 100%. Kondisi ini sering terjadi
pada jenjang pendidikan SD/MI. Nilai diatas 100% ini terjadi karena terdapat penduduk dengan
umur dibawah 7 tahun yang sudah bersekolah ditingkat sekolah dasar, atau penduduk yang
berusia lebih dari 12 tahun yang masih bersekolah pada tingkat SD/MI.
GAMBAR 1.15
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR PENDIDIKAN
DI INDONESIA TAHUN 2008 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pada Gambar 1.15 diketahui nilai APK untuk SD/MI melebihi 100%, sedangkan untuk
pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA lebih rendah dari nilai APK SD. Pada tahun 2013 nilai
APK untuk SD/sederajat sebesar 107,69%, SMP/sederajat sebesar 89,98% dan SMA/sederajat
sebesar 68,34%. Kondisi pada tahun 2013 ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2012
pada semua jenjang pendidikan. Rincian persentase APK per provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 1.14.
Nilai APK ini kurang bagus untuk mencerminkan kondisi pendidikan, karena
memasukkan semua penduduk dalam jenjang pendidikan tanpa dibatasi dengan kelompok
umur yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sehingga diperlukan indikator yang lebih
mencerminkan partisipasi sekolah, yaitu APM.
APM didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah
pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang sesuai dengan usianya.
Indikator APM ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah
pada suatu jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. Semakin tinggi APM menandakan
semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah. Jika dibandingkan APK,
APM merupakan indikator pendidikan yang lebih baik karena memperhitungjkan juga


21 Demografi
partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar
tersebut.
GAMBAR 1.16
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI PENDIDIKAN
DI INDONESIA TAHUN 2008 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
APM membagi jumlah siswa dengan jenjang pendidikan dengan menggunakan batasan
kelompok umur. Kondisi ini tidak memungkinkan nilai APM yang melebihi 100%, sehingga nilai
APM lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai APK. Pada Gambar 2.16, tahun 2012 nilai APM
untuk tingkat SD/MI sebesar 92,49%, SMP/MTs 70,84% dan SMA/SMK 51,46%. Nilai APM ini
jika dibandingkan dengan tahun 2011 mengalami kenaikan pada semua jenjang pendidikan.
Kondisi APM ini lebih mencerminkan kondisi partisipasi sekolah. Rincian APM per provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 1.15.

D. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan suatu ukuran standar
pembangunan manusia yaitu indeks pembangunan manusia (IPM) atau Human Development
Index (HDI). Indeks ini dibentuk berdasarkan empat indikator, yaitu angka harapan hidup,
angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan kemampuan daya beli. Indikator angka harapan
hidup merepresentasikan dimensi umur panjang dan sehat. Selanjutnya, angka melek huruf dan
rata-rata lama sekolah mencerminkan capaian pembangunan di bidang pendidikan. Sedangkan
indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat
dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan yang mewakili capaian
pembangunan untuk hidup lebih layak.








22 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 1.17
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA TAHUN 2008 - 2012

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013
Nilai IPM Indonesia tahun 2012 sebesar 73,29 lebih tinggi jika dibandingkan dengan
kondisi tahun 2011 yang sebesar 72,77. Nilai ini masuk dalam kategori nilai IPM sedang.
Peningkatan ini dikarenakan meningkatnya nilai dari komponen pembuat IPM ini, yaitu
kenaikan pada komponen angka harapan hidup dan angka melek huruf. Pada tahun 2008 nilai
IPM Indonesia sebesar 71,17 dan nilai ini meningkat menjadi 71,76 pada tahun 2009, dan pada
tahun 2012 sebesar 73,29.
GAMBAR 1.18
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2012

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013


23 Demografi
Gambar 1.18 menunjukkan nilai IPM di Indonesia tahun 2012. Pembagian nilai IPM
dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu nilai IPM tinggi, sedang dan rendah. IPM tinggi mempunyai
nilai 80, IPM sedang mempunyai nilai 50-79,9 dan IPM rendah kurang < 50. Berdasarkan
pembagian tersebut, belum ada provinsi di Indonesia yang mempunyai nilai IPM tinggi. Semua
provinsi di Indonesia masuk dalam kategori IPM sedang. Nilai IPM tertinggi terdapat di Provinsi
DKI Jakarta sebesar 78,33 dan IPM terendah terdapat di Provinsi Papua sebesar 65,86.
Strategi pembangunan nasional menempatkan sumber daya manusia sebagai perspektif
pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi seiring dengan peningkatan sumber daya
manusia. Beberapa faktor penting dalam pembangunan yang sangat efektif bagi pembangunan
manusia adalah pendidikan dan kesehatan. Kedua faktor ini merupakan kebutuhan dasar
manusia yang perlu dimiliki untuk meningkatkan potensinya dalam pembangunan. Pendidikan
tercermin dalam rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf sedangkan pembangunan
bidang kesehatan tercermin dalam angka harapan hidup waktu lahir.
Angka Harapan Hidup (AHH) adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan
asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas (kematian) menurut umur. Angka ini adalah angka
pendekatan yang menunjukkan kemampuan untuk bertahan hidup lebih lama. AHH merupakan
alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk
pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.
GAMBAR 1.19
ANGKA HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR (DALAM TAHUN)
INDONESIA TAHUN 2008 - 2012

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013
Gambar 1.19 menunjukkan peningkatan AHH yang terjadi di Indonesia selama tahun
2008-2012. Pada tahun 2012, nilai AHH Indonesia mencapai 69,87 tahun lebih tinggi jika
dibandingkan dengan nilai AHH tahun 2011 yang sebesar 69,65 tahun. Provinsi dengan nilai
AHH tertinggi terdapat di DKI Jakarta dengan nilai 73,49 dan DI Yogyakarta sebesar 73,33.
Provinsi dengan nilai AHH terendah terdapat di Nusa Tenggara Barat sebesar 62,73 dan
Kalimantan Selatan sebesar 64,52. Rincian lengkap mengenai nilai AHH dan IPM dapat dilihat
pada Lampiran 1.17.

***



24 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013







Pedoman pelaksanaan kegiatan


27 Sarana Kesehatan


SARANA KESEHATAN


Derajat kesehatan masyarakat suatu negara dipengaruhi oleh keberadaan sarana
kesehatan. Sarana kesehatan yang diulas pada pada bagian ini terdiri dari fasilitas pelayanan
kesehatan dan institusi pendidikan kesehatan milik pemerintah yang menghasilkan tenaga
kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dibahas pada bagian ini terdiri dari : puskesmas,
Rumah Sakit, dan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM).
Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa fasilitas
pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun
rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

A. PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar
Puskesmas mendefinisikan puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya. Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh
bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan,
pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer, dan pusat
pelayanan kesehatan perorangan primer, puskesmas berkewajiban memberikan upaya
kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan.
Upaya kesehatan wajib terdiri dari
1. Upaya promosi kesehatan
2. Upaya kesehatan lingkungan
3. Upaya kesehatan ibu dan anak serta Keluarga Berencana
4. Upaya perbaikan gizi
5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
6. Upaya pengobatan
Jumlah puskesmas di Indonesia sampai dengan Desember 2013 sebanyak 9.655 unit.
Jumlah tersebut terdiri dari 3.317 unit puskesmas rawat inap dan 6.338 unit puskesmas non
rawat inap. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yaitu sebanyak 9.510 unit. Dalam
kurun waktu 5 tahun terakhir, jumlah puskesmas memang mengalami peningkatan seperti yang
terdapat pada gambar berikut.



28 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 2.1
JUMLAH PUSKESMAS TAHUN 2009 2013

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2014
Gambar di atas menunjukkan peningkatan jumlah puskesmas dari tahun 2009 sampai
dengan tahun 2013. Peningkatan jumlah puskesmas tidak mengindikasikan secara langsung
seberapa baik keberadaan puskesmas mampu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan
primer di masyarakat. Indikator yang mampu menggambarkan secara kasar tercukupinya
kebutuhan pelayanan kesehatan primer oleh puskesmas adalah rasio puskesmas terhadap
30.000 penduduk. Rasio puskesmas terhadap 30.000 penduduk pada tahun 2013 sebesar 1,17
puskesmas per 30.000 penduduk. Rasio ini menunjukkan kecenderungan peningkatan
setidaknya sejak tahun 2009 sampai dengan 2013, yaitu 1,13 puskesmas per 30.000 penduduk
menjadi 1,17 puskesmas per 30.000 penduduk. Kecenderungan peningkatan ini ditampilkan
pada gambar berikut.
GAMBAR 2.2
RASIO PUSKESMAS PER 30.000 PENDUDUK TAHUN 2009 2013

Sumber : Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013


29 Sarana Kesehatan
Rasio puskesmas per 30.000 penduduk pada tahun 2013 sebesar 1,17. Angka ini tidak
menunjukkan peningkatan maupun penurunan dibandingkan tahun 2012. Provinsi dengan
rasio tertinggi adalah Papua Barat sebesar 5,07 per 30.000 penduduk, sedangkan Provinsi
Banten memiliki rasio terendah sebesar 0,6 per 30.000 penduduk. Rasio puskesmas per 30.000
penduduk belum menggambarkan kondisi real aksessibilitas masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan dasar. Sebagai contoh, 3 provinsi dengan rasio tertinggi semuanya berada di wilayah
timur yaitu Papua Barat, Papua, dan Maluku. Hal ini dapat disebabkan karena jumlah penduduk
yang relatif sedikit sedangkan wilayah kerja sangat luas.
GAMBAR 2.3
RASIO PUSKESMAS PER 30.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013
Pada gambar di atas nampak bahwa selain Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur juga
memiliki rasio rendah yaitu sebesar 0,69 dan 0,75 per 30.000 penduduk. Selain 3 provinsi
tersebut, seluruh provinsi di Pulau Jawa memiliki rasio puskesmas yang rendah. Hal ini
disebabkan karena jumlah dan kepadatan populasi yang tinggi. Jika dilihat dari rasio terhadap
jumlah penduduk, memang seluruh provinsi di Jawa memiliki angka yang rendah, namun
demikian dalam hal keberadaan pelayanan kesehatan dasar, provinsi di Jawa memiliki kondisi
baik yang berasal dari penyedia sektor swasta. Kondisi seperti ini sebetulnya tetap harus
diperhatikan, karena meskipun kebutuhan pelayanan kesehatan dasar dapat dipenuhi oleh
sektor swasta, suatu wilayah tetap membutuhkan entitas yang berperan sebagai
penanggungjawab upaya kesehatan masyarakat.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan dasar,
puskesmas melaksanakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan
masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan yang diberikan terdiri dari pelayanan rawat jalan
dan rawat inap untuk puskesmas tertentu jika dianggap diperlukan. Meskipun pelayanan
kesehatan masyarakat merupakan inti dari puskesmas, pelayanan kesehatan perorangan juga
menjadi perhatian dari Pemerintah. Bagi daerah yang termasuk DTPK, Dana Alokasi Khusus


30 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
(DAK) digelontorkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota untuk, pembangunan pustu dan
puskesmas serta peningkatan puskesmas non rawat inap menjadi puskesmas rawat inap. Bagi
daerah di luar kategori DTPK, DAK bisa digunakan untuk rehabilitasi puskesmas/rumah dinas,
dan peningkatan PONED
Berikut ini disajikan perkembangan jumlah puskesmas rawat inap dan non rawat inap
dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013.
GAMBAR 2.4
JUMLAH PUSKESMAS RAWAT INAP DAN NON RAWAT INAP
TAHUN 2009 2013

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013
Pada gambar di atas diketahui bahwa jumlah puskesmas non rawat inap meningkat dari
6.033 unit pada tahun 2009 menjadi 6.338 unit pada tahun 2013. Meskipun demikian, terjadi
penurunan dari 6.358 unit pada tahun 2012 menjadi 6.338 unit pada tahun 2013. Hal ini dapat
disebabkan karena adanya perubahan status dari puskesmas non rawat inap menjadi
puskesmas rawat inap. Peningkatan jumlah juga terjadi pada puskesmas rawat inap yaitu dari
2.704 unit pada tahun 2009 menjadi 3.317 unit pada tahun 2013.
Selain enam upaya kesehatan wajib yang harus diberikan, puskesmas juga
menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan pengembangan
puskesmas dapat berupa berupa pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi dasar (PONED),
pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR), upaya kesehatan kerja, upaya kesehatan olahraga,
dan tatalaksana kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA). Upaya kesehatan pengembangan
diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan yang ada di wilayah kerja. Sebagai contoh upaya
kesehatan kerja dibutuhkan pada puskesmas dengan wilayah kerja yang memiliki banyak pusat
industri. Gambaran lebih rinci tentang jumlah dan jenis puskesmas menurut provinsi terdapat
pada Lampiran 2.1 dan Lampiran 2.2.
1. Puskesmas dengan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar
(PONED)
Salah satu upaya pengembangan puskesmas yang penting adalah Pelayanan Obstetrik
dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Upaya kesehatan ini dilakukan untuk mendekatkan


31 Sarana Kesehatan
akses masyarakat kepada pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar. Akses
masyarakat yang semakin mudah terhadap pelayanan kegawatdaruratan diharapkan dapat
berkontribusi kepada penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Badan kesehatan dunia (WHO) menargetkan agar minimal terdapat 4 Puskesmas
PONED di tiap kabupaten/kota. Sampai dengan tahun 2013 jumlah kumulatif Puskesmas
PONED sebanyak 2.782 unit. Terdapat 333 kabupaten/kota (67%) yang telah memenuhi syarat
minimial tersebut. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2012 sebesar 304 kabupaten/kota
(61,17%). Pada tahun 2013, jumlah kabupaten/kota yang hanya memiliki 1-3 Puskesmas
PONED sebanyak 131 dan terdapat 33 kabupaten/kota yang belum memiliki Puskesmas
PONED.
Provinsi dengan persentase kabupaten/kota yang telah memenuhi syarat minimal
empat Puskesmas PONED tertinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Tegah, dan
Sulawesi Barat dengan masing-masing persentase 100%. Sedangkan provinsi dengan
persentase terendah adalah Papua sebesar 10,34%, diikuti oleh Papua Barat sebesar 18,18%
dan Kepulauan Bangka Belitung 28,57%. Persentase kabupaten/kota yang telah memenuhi
syarat minimal 4 Puskesmas PONED terdapat pada gambar berikut.
GAMBAR 2.5
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA
YANG MEMENUHI SYARAT MINIMAL 4 PUSKESMAS PONED
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen. Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Konsep rawat inap yang digunakan dalam Puskesmas PONED berbeda dengan konsep
yang digunakan puskesmas rawat inap. Konsep rawat inap pada Puskesmas PONED adalah
perawatan inap kepada pasien pasca tindakan emergensi (one day care). Dengan demikian,
puskesmas non rawat inap yang memiliki tempat tidur dan mampu melakukan tindakan
emergensi obstetri dan neonatal dasar, dapat menyelenggarakan PONED.


32 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan menetapkan indikator persentase puskesmas
rawat inap yang mampu PONED dengan target pada tahun 2013 sebesar 90%. Jumlah
puskesmas rawat inap yang mampu PONED pada tahun 2013 sebanyak 2.782 puskesmas
dengan persentase sebesar 95,86%. Angka ini telah memenuhi target 90% pada tahun 2013.
2. Puskesmas dengan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Sejak tahun 2003 telah dikembangkan program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR). Upaya pelayanan kesehatan ini diselenggarakan di puskesmas yang terdiri dari
penyuluhan, pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang, konseling, Pendidikan
Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya serta
pelayanan rujukan. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di dalam dan di luar gedung ini
memiliki sasaran kelompok remaja sekolah dan kelompok luar sekolah seperti kelompok anak
jalanan, karang taruna, remaja masjid/gereja/vihara/pura, pondok pesantren, asrama dan
kelompok remaja lainnya.
Jumlah puskesmas mampu PKPR pada tahun 2013 sebesar 2.745. Jumlah tersebut lebih
rendah dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 3.191. Informasi lebih rinci menurut provinsi
tentang jumlah Puskesmas PKPR tahun 2013 dapat dilihat pada gambar berikut. Data dan
informasi mengenai jumlah puskesmas yang memiliki PKPR terdapat pada Lampiran 2.3.
GAMBAR 2.6
JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen. Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
3. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Kerja
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa upaya
kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari


33 Sarana Kesehatan
gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Upaya kesehatan
kerja juga berlaku bagi setiap orang selain pekerja yang berada di lingkungan tempat kerja dan
juga bagi kesehatan pada lingkungan Tentara Nasional Indonesia baik darat, laut, maupun udara
serta Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Upaya kesehatan kerja di puskesmas diselenggarakan sesuai dengan keadaan dan
permasalahan yang ada di wilayah puskesmas atau spesifik lokal. Dengan demikian sampai saat
ini upaya kesehatan kerja di puskesmas lebih dititikberatkan pada wilayah industri.
Pembinaan upaya kesehatan kerja dilaksanakan melalui kegiatan penguatan pelayanan
kesehatan kerja, seperti pelatihan peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam bidang
kesehatan kerja, pelatihan diagnosa Penyakit Akibat Kerja (PAK), peningkatan fasilitas
pelayanan kesehatan bidang kesehatan kerja, gerakan pekerja perempuan sehat dan produktif
termasuk kesehatan reproduksi di tempat kerja dan pembinaan pelayanan kesehatan kerja di
sektor informal dan formal termasuk perkantoran serta pembinaan Calon Tenaga Kerja
Indonesia (CTKI) dengan fokus kegiatan pembinaan pelayanan kesehatan Tenaga Kerja
Indonesia (TKI).
Terdapat peningkatan jumlah puskesmas yang memiliki pelayanan upaya kesehatan
kerja, yaitu 764 puskesmas pada tahun 2012 menjadi 1.034 puskesmas pada tahun 2013.
Sampai dengan tahun 2013 puskesmas yang memiliki pelayanan upaya kesehatan kerja
tersebar di 26 provinsi. Jumlah provinsi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2012 ketika
hanya 18 provinsi yang memiliki puskesmas dengan upaya kesehatan kerja. Data dan informasi
mengenai jumlah puskesmas yang menyelenggarakan upaya kesehatan kerja terdapat pada
Lampiran 2.3.
4. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Olahraga
Upaya kesehatan olahraga diselenggarakan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan
dan kebugaran jasmani masyarakat sebagai upaya dasar dalam meningkatkan prestasi belajar,
prestasi kerja dan prestasi olahraga melalui aktivitas fisik, latihan fisik dan olahraga seperti
tercantum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009. Upaya kesehatan olahraga dapat
dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas maupun pelayanan kesehatan
rujukan.
Upaya kesehatan olahraga yang diselenggarakan di puskesmas meliputi pembinaan dan
pelayanan kesehatan olahraga. Pembinaan kesehatan olahraga berupa pendataan kelompok,
pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan kesehatan olahraga, ditujukan pada kelompok
olahraga di sekolah, klub jantung sehat, Posyandu usia lanjut, kelompok senam ibu hamil,
kelompok senam diabetes, kelompok senam pencegahan osteoporosis, pembinaan kebugaran
jasmani jemaah calon haji, fitness center dan kelompok olahraga/latihan fisik lain. Pelayanan
kesehatan olahraga antara lain konsultasi kesehatan olahraga, pengukuran tingkat kebugaran
jasmani, penanganan cedera olahraga akut dan sebagai tim kesehatan pada event olahraga.
Terdapat 671 puskesmas yang telah menyelenggarakan upaya kesehatan olahraga
sampai dengan tahun 2013. Upaya pengembangan secara bertahap akan dilakukan sehingga
peningkatan tidak hanya dalam hal jumlah puskesmas, namun juga jumlah kabupaten/kota dan
provinsi yang sampai tahun 2013 hanya 28 provinsi yang telah memiliki puskesmas dengan
pelayanan upaya kesehatan olahraga. Jumlah provinsi tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun
2012, yaitu hanya 17 provinsi yang memiliki puskesmas dengan upaya kesehatan olahraga. Data
dan informasi lebih detil tentang jumlah puskesmas yang melaksanakan upaya kesehatan
olahraga menurut provinsi terdapat pada Lampiran 2.3.


34 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
5. Puskesmas dengan Tatalaksana Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA)
Anak merupakan salah satu aset berharga dalam pembangunan kesehatan. Tindak
kekerasan terhadap anak sangat berdampak pada kesehatan anak yang menjadi korban. Dengan
demikian, dibutuhkan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan berkualitas. Pelayanan
kesehatan bagi korban KtA dapat diberikan melalui pelayanan di tingkat dasar, salah satunya
puskesmas. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan telah menetapkan agar setiap
kabupaten/kota harus memiliki minimal 2 (dua) puskesmas mampu tatalaksana kasus
kekerasan terhadap anak.
Jumlah puskesmas mampu tatalaksana KtA sampai dengan tahun 2013 sebesar 1.526
unit yang telah tersebar di 33 Provinsi di Indonesia. Namun demikian, hanya 76,26%
kabupaten/kota yang telah memiliki minimal 2 puskemas yang mampu tatalaksana kasus
kekerasan terhadap anak. Informasi lebih rinci mengenai jumlah puskesmas yang mampu
tatalaksana kasus kekerasan terhadap anak menurut provinsi terdapat pada Lampiran 2.3.
6. Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer
Program pelayanan kesehatan tradisional terus berkembang dan mendapat perhatian
khusus dari pemerintah. Pelayanan kesehatan tradisional merupakan pengobatan dan/atau
perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun
temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku di masyarakat. Pengobatan secara tradisional dilakukan penelitian dan bila
dapat dibuktikan secara ilmiah menjadi pengobatan tradisional yang aman dan bermanfaat
sehingga dapat diterapkan di fasilitas kesehatan sebagai pengobatan alternatif dan
komplementer.
Unit yang melakukan penelitian/pengkajian/pengujian ini yaitu Sentra Pengembangan
dan Penerapan Pengobatan Tradisional (Sentra P3T). Fungsi lainnya dari Sentra P3T yaitu
pelayanan kesehatan tradisional, institusi pendidikan dan pelatihan pelayanan kesehatan
tradisional yang aman dan bermanfaat, dan menyelenggarakan jaringan informasi dan
dokumentasi pelayanan kesehatan tradisional.
Pada tahun 2013 terdapat 846 puskesmas dan 224 kabupaten/kota dengan tenaga
kesehatan puskesmas terlatih. Adapun persentase kabupaten/kota dengan tenaga kesehatan
puskesmas terlatih adalah 44,27%. Terdapat empat provinsi dengan persentase
kabupaten/kota memiliki tenaga kesehatan terlatih sebesar 100% yaitu Daerah Istimewa
Yogyakarta, Banten, Bali, dan Sulawesi Selatan. Angka 100% artinya seluruh kabupaten/kota
yang ada di provinsi tersebut telah memiliki puskesmas dengan tenaga kesehatan terlatih,
meskipun belum semua puskesmas yang ada di kabupaten/kota tersebut. Gambaran menurut
provinsi mengenai jumlah puskesmas, kabupaten/kota, dan persentase kabupaten/kota dengan
tenaga kesehatan terlatih dapat dilihat pada Lampiran 2.4.

B. RUMAH SAKIT
Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat juga diperlukan upaya
kuratif dan rehabilitatif selain upaya promotif dan preventif. Upaya kesehatan yang bersifat
kuratif dan rehabilitatif dapat diperoleh melalui rumah sakit yang juga berfungsi sebagai
penyedia pelayanan kesehatan rujukan.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 147/Menkes/PER/I/2010 tentang Perizinan
Rumah Sakit mengelompokkan rumah sakit berdasarkan kepemilikan, yaitu rumah sakit publik
dan rumah sakit privat. Rumah sakit publik adalah rumah sakit yang dikelola Pemerintah,


35 Sarana Kesehatan
Pemerintah Daerah dan Badan Hukum yang bersifat nirlaba. Sedangkan rumah sakit privat
adalah rumah sakit yang dikelola oleh bahan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk
perseroan terbatas atau persero.
1. Jumlah dan Jenis Rumah Sakit
Rumah sakit publik di Indonesia dikelola oleh Kementerian Kesehatan, Pemerintah
Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, TNI/Polri, kementerian lain serta swasta non profit
(organisasi keagamaan dan organisasi sosial). Jumlah rumah sakit publik di Indonesia sampai
dengan tahun 2013 sebanyak 1.562 unit, yang terdiri atas Rumah Sakit Umum (RSU) berjumlah
1.277 unit dan Rumah Sakit Khusus (RSK) berjumlah 285 unit.
Berbeda dengan rumah sakit publik, rumah sakit privat dikelola oleh BUMN dan swasta
(perorangan, perusahaan dan swasta lainnya). Pada tahun 2013 terdapat 666 unit rumah sakit
privat di Indonesia yang terdiri dari 448 unit RSU dan 218 unit RSK.
Jumlah rumah sakit publik maupun privat menunjukkan peningkatan pada kurun waktu
2011 sampai dengan 2013 seperti yang disajikan pada tabel berikut.
TABEL 2.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT MENURUT KEPEMILIKAN
DI INDONESIA TAHUN 2011 2013
No Pengelola/Kepemilikan 2011 2012 2013
1 Publik
Kementerian Kesehatan dan
Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota
614 656 676
TNI/Polri 134 154 159
Kementerian Lain 3 3 3
Swasta Non Profit 655 727 724
Jumlah Publik 1.406 1.540 1.562
2 Privat
BUMN 77 75 67
Swasta 238 468 599
Jumlah Privat 315 543 666
Jumlah 1.721 2.083 2.228
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit mengelompokkan rumah sakit
berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan menjadi rumah sakit umum dan rumah sakit
khusus. Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada
semua bidang dan jenis penyakit. Adapun rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang
memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan
disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.
Jumlah rumah sakit umum dan rumah sakit khusus pada tahun 2013 adalah 1.725 unit
dan 503 unit. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2012 yang masing-masing


36 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
sebesar 1.608 dan 475. Gambar berikut ini menggambarkan perkembangan jumlah rumah sakit
umum dan rumah sakit khusus dalam lima tahun terakhir.
GAMBAR 2.7
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS
DI INDONESIA TAHUN 2009 2013

Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Jumlah RSK pada tahun 2013 sebagain besar adalah rumah sakit ibu dan anak berjumlah
159 unit dengan persentase 31,61%. Proporsi jenis RSK di Indonesia pada tahun 2013 terdapat
pada gambar berikut.
GAMBAR 2.8
PERSENTASE RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK)
MENURUT JENIS DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013


37 Sarana Kesehatan
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa persentase tertinggi adalah Rumah Sakit Ibu
dan Anak. Persentase rumah sakit khusus lainnya juga memiliki proporsi yang besar yaitu
29,82% yang terdiri dari RS Jantung, RS Kanker, RS Orthopedi, RS Penyakit Infeksi, RS Stroke,
RS Anak dan Bunda, RSK Anak, RSK Bedah, RSK Ginjal, RSK Gigi dan Mulut, RSK Otak, RSK
Penyakit Dalam, dan RSK THT.
Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan
dan perorangan di suatu wilayah dapat dilihat dari rasio tempat tidur terhadap 1.000
penduduk. Rasio tempat tidur di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2014 adalah 1,12 per
1.000 penduduk. Rasio ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 sebesar 0,95 per 1.000
penduduk. Rasio tempat tidur di rumah sakit di Indonesia sejak tahun 2009 sampai dengan
tahun 2013 ditampilkan pada gambar berikut.
GAMBAR 2.9
RASIO JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT
PER 1.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 2013

Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Jika dilihat secara nasional pada tahun 2013 memang nampaknya jumlah tempat tidur
telah mencukupi, namun masih terdapat beberapa provinsi dengan rasio kurang dari 1 tempat
tidur per 1.000 penduduk.
Pada tingkat provinsi terdapat 13 provinsi dengan dengan rasio kurang dari 1 per 1.000
penduduk. Rasio tertinggi terdapat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 2,92, DKI Jakarta sebesar
2,19, dan Sulawesi Utara sebesar 2,16. Sedangkan provinsi dengan rasio terendah adalah Nusa
Tenggara Barat sebesar 0,65, Sulawesi Barat sebesar 0,67, dan Banten sebesar 0,72.









38 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 2.10
RASIO TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT
PER 1.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Rumah sakit juga dikelompokkan menurut kelas berdasarkan fasilitas dan kemampuan
pelayanan menjadi Kelas A, Kelas B, Kelas C, dan Kelas D. Pada tahun 2013, terdapat 57 unit RS
kelas A, 293 unit kelas B, 741 unit RS kelas C, 517 unit RS kelas D, dan sebanyak 620 unit RS
belum ditetapkan kelasnya.
GAMBAR 2.11
PERSENTASE RUMAH SAKIT MENURUT KELAS
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013


39 Sarana Kesehatan
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa Rumah Sakit kelas C memiliki persentase
tertinggi sebesar 33,26%. Sedangkan persentase terendah adalah rumah sakit kelas A sebesar
2,56%. Informasi lebih rinci tentang rumah sakit menurut provinsi terdapat pada Lampiran 2.5,
26, 2.7, 2.8, dan 2.9.
2. Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK)
Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif adalah upaya yang
dilakukan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka kematian Anak. Beberapa
penelitian menyimpulkan bahwa kematian ibu dan kematian anak banyak terjadi di Rumah
Sakit. Rumah Sakit berkontribusi terhadap 40-70% Angka Kematian Ibu, persalinan di rumah
berkontribusi sebesar 20-35%, dan persalinan yang terjadi di perjalanan sebesar 10-18%
(Lancet, 2005). Dengan melihat fakta tersebut maka dapat dikatakan bahwa dibutuhkan adanya
upaya penurunan AKI yang difokuskan di rumah sakit.
Salah satu program kesehatan yang dilaksanakan untuk menurunkan kematian ibu
adalah implementasi Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
Jumlah Rumah Sakit PONEK sampai dengan tahun 2013 sebanyak 424 unit. Jumlah ini
meningkat dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 410 unit rumah sakit melaksanakan PONEK.

C. SARANA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
1. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
Ketersediaan farmasi dan alat kesehatan memiliki peran yang signifikan dalam
pelayanan kesehatan. Akses masyarakat terhadap obat khususnya obat esensial merupakan
salah satu hak asasi manusia. Dengan demikian penyediaan obat esensial merupakan kewajiban
bagi pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan baik publik maupun privat. Sebagai
komoditi khusus, semua obat yang beredar harus terjamin keamanan, khasiat dan mutunya agar
dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu salah satu upaya yang dilakukan
untuk menjamin mutu obat hingga diterima konsumen adalah menyediakan sarana
penyimpanan obat dan alat kesehatan yang dapat menjaga keamanan secara fisik serta dapat
mempertahankan kualitas obat di samping tenaga pengelola yang terlatih.
Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan
adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk menjamin keamanan,
khasiat dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan. Hal ini bertujuan untuk melindungi
masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penyalahgunaan sediaan farmasi dan alat
kesehatan atau penggunaan yang salah/tidak tepat serta tidak memenuhi mutu keamanan dan
pemanfaatan yang dilakukan sejak proses produksi, distribusi hingga penggunaannya di
masyarakat. Cakupan sarana produksi bidang kefarmasian dan alat kesehatan menggambarkan
tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan yang melakukan upaya produksi di bidang
kefarmasian dan alat kesehatan. Yang termasuk sarana produksi di bidang kefarmasian dan alat
kesehatan antara lain Industri Farmasi, Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan
Alam (IEBA), Industri Kosmetika, Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat
Tradisional (UMOT), Produksi Alat Kesehatan Produksi Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
(PKRT), dan Industri Kosmetika.
Sarana produksi dan distribusi di Indonesia masih menunjukkan adanya ketimpangan
dalam hal persebaran jumlah. Sebagian besar sarana produksi maupun distribusi berlokasi di
Indonesia bagian Barat yaitu Sumatera dan Jawa dengan proporsi, yaitu sebesar 94,4% sarana
produksi dan 78,4% sarana distribusi. Ketersediaan ini terkait dengan sumberdaya yang


40 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
dimiliki dan kebutuhan pada wilayah setempat. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai salah satu
acuan dalam kebijakan untuk mengembangkan jumlah sarana produksi dan distribusi
kefarmasian dan alat kesehatan di Indonesia bagian Tengah dan Timur, sehingga terjadi
pemerataan jumlah sarana tersebut di seluruh Indonesia. Selain itu, hal ini bertujuan untuk
membuka akses terhadap keterjangkauan masyarakat terhadap sarana kesehatan di bidang
kefarmasian dan alat kesehatan.
Jumlah sarana produksi pada tahun 2013 sebesar 3.828 sarana. Jumlah ini lebih tinggi
dibandingkan tahun 2012 yang sebanyak 2.958 sarana produksi. Pada tahun 2013 terdapat 8
provinsi yang tidak memiliki ke-enam jenis industri kefarmasian dan alat kesehatan yang
disebutkan di atas. Provinsi dengan jumlah sarana produksi terbanyak adalah Jawa Barat
sebesar 1.031 sarana. Hal ini dapat disebabkan karena Jawa Barat memiliki populasi yang besar
dan wilayah yang luas. Jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan pada tahun
2013 terdapat pada gambar berikut.
GAMBAR 2.12
JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen. Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan yang dipantau jumlahnya oleh Ditjen
Binfar dan Alkes antara lain yaitu : Pedagang Besar Farmasi (PBF), Apotek, Toko Obat dan
Penyalur Alat Kesehatan (PAK). Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan pada
tahun 2013 sebesar 33.731 sarana. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan tahun 2012 yaitu
sebesar 29.137 sarana. Gambar berikut menyajikan jumlah sarana distribusi kefarmasian pada
tahun 2013. Data lebih rinci menurut provinsi mengenai jumlah sarana produksi dan distrbusi
kefarmasian terdapat pada Lampiran 2.10 dan Lampiran 2.11.








41 Sarana Kesehatan
GAMBAR 2.13
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen. Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
2. Ketersediaan Obat dan Vaksin
Dalam upaya pelayanan kesehatan, ketersediaan obat dalam jenis yang lengkap, jumlah
yang cukup, terjamin khasiatnya, aman, efektif dan bermutu dengan harga terjangkau serta
mudah diakses adalah sasaran yang harus dicapai. Kementerian Kesehatan telah menetapkan
indikator rencana strategis tahun 2010-2014 terkait program kefarmasian dan alat kesehatan,
yaitu meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau
oleh masyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil tersebut pada tahun 2014 yaitu
persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%. Dalam rangka mencapai target
tersebut, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan ketersediaan obat esensial
generik di sarana pelayanan kesehatan dasar.
Pemantauan ketersediaan obat digunakan untuk mengetahui kondisi tingkat
ketersediaan obat di berbagai unit sarana kesehatan seperti Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
(IFK) dan puskesmas. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung pemerintah pusat dan daerah
dalam rangka menentukan langkah-langkah kebijakan yang akan diambil di masa yang akan
datang. Di era otonomi daerah, pengelolaan obat merupakan salah satu kewenangan yang
diserahkan ke kabupaten/kota, akibatnya sulit bagi pemerintah pusat untuk mengetahui
kondisi ketersediaan obat di seluruh Indonesia. Dengan tidak adanya laporan secara periodik
yang dikirim oleh provinsi, maka relatif sulit bagi pemerintah pusat untuk menentukan langkah-
langkah yang harus dilakukan. Adanya data ketersediaan obat di provinsi atau kabupaten/kota
akan mempermudah penyusunan prioritas bantuan maupun intervensi program di masa yang
akan datang.
Untuk mendapatkan gambaran ketersediaan obat dan vaksin di Indonesia, dilakukan
pemantauan ketersediaan obat dan vaksin. Obat yang dipantau ketersediaannya merupakan
obat indikator yang digunakan untuk pelayanan kesehatan dasar dan obat yang mendukung
pelaksanaan program kesehatan. Jumlah item obat yang dipantau adalah 144 item obat dan
vaksin yang terdiri dari 135 item obat untuk pelayanan kesehatan dasar dan 9 jenis vaksin
untuk imunisasi dasar.


42 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Indikator persentase ketersediaan obat dan vaksin tahun 2013 memiliki target sebesar
95%, dari data dan perhitungan yang dilakukan oleh Ditjen Binfar dan Alkes didapatkan
persentase ketersediaan rata-rata nasional pada tahun 2013 sebesar 96,93%. Dengan demikian
apabila dibandingkan dengan target tahun 2013, maka capaian kinerja indikator persentase
ketersediaan obat dan vaksin tersebut adalah sebesar 102,03%. Data dan informasi lebih rinci
mengenai ketersediaan obat dan vaksin 144 item terdapat pada Lampiran 2.20 dan 2.21.
3. Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan juga memantau pemanfaatan obat
generik melalui indikator persentase penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan
yaitu di puskesmas dan rumah sakit. Rata-rata penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan
kesehatan pada tahun 2013 sebesar 85,49%. Penggunaan tersebut telah memenuhi target tahun
2013 yaitu sebesar 75%.
GAMBAR 2.14
PERSENTASE RATA-RATA PENGGUNAAN OBAT GENERIK
DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar provinsi telah memenuhi
target 75%, yaitu 31 provinsi (93,94%). Provinsi dengan rata-rata penggunaan tertinggi adalah
Maluku Utara sebesar 96,31% diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 95,11% dan Aceh sebesar
95%. Sedangkan provinsi dengan persentase terendah adalah Riau sebesar 73,04% diikuti oleh
Jawa Timur sebesar 74,21% dan Lampung sebesar 76,11%. Data dan informasi lebih rinci
menurut provinsi mengenai penggunaan obat generik terdapat pada Lampiran 2.22.

D. UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT
Pembangunan kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya juga memerlukan peran masyarakat. Melalui konsep Upaya Kesehatan
Target Renstra 2013 :
75%


43 Sarana Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), masyarakat berperan serta aktif dalam penyelenggaraan
upaya kesehatan. Bentuk UKBM antara lain Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pos Kesehatan
Desa (Poskesdes), dan RW/desa/kelurahan siaga aktif.
RW/Desa/kelurahan Siaga Aktif adalah desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa
(Poskesdes) atau UKBM lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan
kesehatan dasar, penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, surveilans berbasis
masyarakat yang meliputi pemantauan pertumbuhan (gizi), penyakit, lingkungan dan perilaku
sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Terdapat 54.570 RW/Desa/kelurahan Siaga Aktif dengan persentase sebesar 65,2%.
Provinsi dengan persentase tertinggi adalah Jawa Tengah sebesar 99,99%, Bali sebesar 97,76%,
dan Sulawesi Selatan sebesar 96,49%. Sedangkan persentase terendah adalah Provinsi Papua
Barat sebesar 1,99%, Aceh sebesar 8,94% dan Nusa Tenggara Timur sebesar 15,69%. Dalam
memberikan pelayanan kesehatan, RW/Desa/kelurahan Siaga Aktif terbagi menjadi empat
strata, yaitu pratama, madya, purnama, dan mandiri. RW/Desa/kelurahan Siaga Aktif pratama
sebanyak 28.404, madya sebanyak 10.976, purnama sebanyak 4.910, dan mandiri sebanyak
1.550.
GAMBAR 2.15
PERSENTASE DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Jenis UKBM lainnya adalah Poskesdes, yaitu UKBM yang dibentuk di desa untuk
mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa sehingga mempermudah akses
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan utama poskesdes yaitu pelayanan
kesehatan bagi masyarakat desa berupa pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan
ibu menyusui, pelayanan kesehatan anak, pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans
penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku berisiko, surveilans lingkungan dan masalah
kesehatan lainnya), penanganan kegawatdaruratan kesehatan serta kesiapsiagaan terhadap
bencana. Jumlah poskesdes yang beroperasi pada tahun 2013 sebanyak 54.731 unit. Jumlah ini
meningkat dibandingkan tahun 2012 sebesar 54.142 unit.


44 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
bencana. Jumlah poskesdes yang beroperasi pada tahun 2013 sebanyak 54.731 unit. Jumlah ini
meningkat dibandingkan tahun 2012 sebesar 54.142 unit.
Salah satu UKBM yang memiliki peran signifikan dalam pemberdayaan masyarakat
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah posyandu. Posyandu dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar
bagi masyarakat terutama ibu, bayi dan anak balita. Posyandu memiliki 5 program prioritas
yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, imunisasi, gizi serta pencegahan dan
penanggulangan diare.
Terdapat 280.225 Posyandu pada tahun 2013 di Indonesia. Dari jumlah tersebut,
posyandu pratama sebanyak 32,7%, madya sebanyak 29,1%, purnama sebanyak 29,9%, dan
mandiri sebanyak 8,3%.
GAMBAR 2.16
PERSENTASE POSYANDU MENURUT STRATA DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa proporsi tertinggi adalah posyandu pratama
dan proporsi terendah adalah posyandu mandiri. Dengan demikian diperlukan upaya intensif
untuk meningkatkan jumlah posyandu mandiri. Dalam menjalankan fungsinya, perlu diketahui
rasio kecukupan posyandu terhadap masyarakat yang ada. Pada tahun 2013, rasio posyandu
terhadap jumlah desa/kelurahan adalah 3,35. Pada tingkat nasional, rasio posyandu terhadap
jumlah desa/keluarahan memang nampak telah mencukupi yaitu lebih dari satu. Namun jika
dilihat pada tingkat provinsi terdapat dua provinsi yang memiliki rasio kurang dari satu, yaitu
Papua dan Papua Barat.



45 Sarana Kesehatan
GAMBAR 2.17
RASIO POSYANDU TERHADAP DESA/KELURAHAN
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Gambar di atas menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki rasio tertinggi sebesar 8,29.
Papua dan Papua Barat memiliki rasio kurang dari satu, masing-masing sebesar 0,62 dan 0,72.
Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan juga memerlukan peran serta kader dan tokoh
masyarakat/agama. Sampai dengan dengan tahun 2013 terdapat 336.586 kader/toma/toga
terlatih. Rasio kader/toga/toma terlatih terhadap desa/kelurahan di Indonesia sebesar 4, 02.
Terdapat 11 provinsi dengan rasio kader/toga/toma terlatih terhadap desa/kelurahan kurang
dari satu. Data/informasi lebih rinci mengenai jumlah UKBM menurut provinsi tahun 2013
terdapat pada Lampiran 2.12, dan Lampiran 2.13.

E. INSTITUSI PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN POLTEKKES
1. Jumlah Poltekkes
Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai
baik dari segi jenis, jumlah maupun kualitas. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang
berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula. Kementerian
Kesehatan RI merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di dalam penyediaan
tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut.
Institusi pendidikan tenaga kesehatan selain tenaga medis terdiri dari Politeknik
Kesehatan (Poltekkes) dan Non Politeknik Kesehatan (Non Poltekkes). Kementerian Kesehatan
melakukan pembinaan terhadap institusi Poltekkes. Sampai dengan Desember 2013, terdapat
38 Poltekkes di Indonesia yang terdiri dari program studi strata Diploma IV sebanyak 133
jurusan/program studi, dan strata Diploma III terdiri dari 262 jurusan/program studi.



46 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 2.18
JUMLAH PROGRAM STUDI POLTEKKES DIPLOMA III DAN IV
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Gambar di atas menunjukkan bahwa jurusan/program studi terbanyak adalah
keperawatan dengan jumlah 151 pada Diploma III dan 79 pada diploma IV. Jurusan/program
studi keperawatan terdiri dari keperawatan, kebidanan, dan keperawatan gigi.
Jurusan/program studi keterapian fisik yang terdiri fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara,
akupunktur memilki jumlah terendah yaitu 5 program studi pada diploma III dan 6 program
studi pada diploma IV.
2. Peserta Didik
Peserta didik pada Diploma III yang dimiliki oleh Poltekkes di Indonesia pada tahun
2013 terdiri dari peserta didik tingkat I (tahun ajaran 2011/2012), tingkat II (tahun ajaran
2012/2013), dan tingkat III (tahun ajaran 2013/2014) yaitu berjumlah 208.363 orang. Jumlah
tersebut terdiri 66.699 peserta didik tingkat I, 70.890 peserta didik tingkat II, dan 70.774
peserta didik tingkat III. Jumlah peserta didik terbanyak berasal dari Program Studi
Keperawatan sebanyak 135.017 peserta didik atau 64,8% dari seluruh peserta didik. Sedangkan
jumlah peserta didik terendah berasal dari program studi keterapian fisik sebanyak 4.388
peserta didik atau 2,11% dari seluruh peserta didik.
GAMBAR 2.19
JUMLAH PESERTA DIDIK DIPLOMA III POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013


47 Sarana Kesehatan
Data dan informasi lebih rinci mengenai jumlah peserta didik di institusi Poltekkes
terdapat pada Lampiran 2.16 dan 2.17.
3. Lulusan
Peserta didik yang telah selesai menempuh pendidikan akan menjadi lulusan Poltekkes.
Jumlah lulusan pada tahun 2013 adalah sebanyak 22.797 orang. Jumlah ini meningkat
dibandingkan tahun 2012 yaitu sebanyak 21.630 orang. Sesuai dengan jumlah peserta didik
yang memiliki jumlah terbesar dari program studi keperawatan, hal serupa juga terjadi pada
jumlah lulusan dengan jumlah lulusan terbanyak adalah program studi keperawatan sebanyak
15.781 orang atau 69,22% dari total lulusan.
GAMBAR 2.20
JUMLAH LULUSAN DIPLOMA III POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Pada tingkat provinsi, terdapat 3 provinsi yang menghasilkan jumlah lulusan terbanyak
dari Poltekkes yaitu Jawa Tengah sebanyak 2.398 lulusan, Jawa Timur sebanyak 2.124 lulusan,
dan DKI Jakarta sebanyak 1.365 lulusan. Tiga provinsi tersebut memang memiliki jumlah
Poltekkes lebih dari satu. Jumlah lulusan Poltekkes menurut program studi terdapat pada
Lampiran 2.18 dan 2.19.

***



48 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Pemeriksaan kadar gula darah


51 Tenaga Kesehatan


TENAGA KESEHATAN

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal 21 menyebutkan
bahwa pemerintah mengatur perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan
pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
Dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional dijelaskan
bahwa untuk melaksanakan upaya kesehatan dalam rangka pembangunan kesehatan
diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis dan
kualitasnya serta terdistribusi secara adil dan merata.
Sumber daya manusia kesehatan yang disajikan pada bab ini lebih diutamakan pada
kelompok tenaga kesehatan. Dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan memutuskan bahwa tenaga kesehatan terdiri dari tenaga medis, tenaga
keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian
fisik dan tenaga keteknisian medis.
Gambaran mengenai jumlah, jenis, dan kualitas, serta penyebaran tenaga kesehatan di
seluruh wilayah Indonesia dilakukan dengan cara pengumpulan data pada sarana pelayanan
kesehatan baik di wilayah dinas kesehatan kabupaten/kota maupun dinas kesehatan provinsi.
Pengumpulan data tenaga kesehatan meliputi tenaga kesehatan yang berstatus PNS pusat, PNS
daerah, Pegawai Tidak Tetap (PTT), TNI/POLRI, dan swasta. Metode pengumpulan data yang
digunakan melalui mekanisme pemutakhiran data secara berjenjang mulai dari dinas kesehatan
kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi dan secara nasional dikelola oleh Badan
Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (Badan PPSDMK)
Kementerian Kesehatan RI melalui Sistem Informasi SDMK.

A. JUMLAH DAN RASIO TENAGA KESEHATAN
Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah
tenaga kesehatan yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat. Tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Pendataan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Badan PPSDMK menggunakan
pendekatan tenaga kesehatan yang melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya. Berdasarkan
pendekatan tersebut, pada tahun 2013 jumlah SDM Kesehatan yang tercatat sebanyak 877.088
orang yang terdiri atas 681.634 tenaga kesehatan dan 195.454 tenaga non kesehatan. Tenaga
kesehatan terdiri atas 90.444 tenaga medis (dokter spesialis, dokter umum dan dokter gigi),
288.405 perawat, 137.110 bidan, 40.181 tenaga farmasi, dan 125.494 tenaga kesehatan lainnya.
Rincian lengkap mengenai rekapitulasi sumber daya manusia kesehatan menurut jenis tenaga
dapat dilihat pada Lampiran 3.1.
Sedangkan pendataan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Sekretariat Konsil
Kedokteran Indonesia (KKI) menggunakan pendekatan jumlah dokter/dokter spesialis, dokter


52 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
gigi/dokter gigi spesialis yang mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR). Berdasarkan hal
tersebut, jumlah dokter umum di Indonesia berjumlah 94.727. Berdasarkan jumlah dokter dan
jumlah penduduk disusun rasio dokter per 100.000 penduduk. Rasio dokter umum di Indonesia
pada tahun 2013 sebesar 38,1 dokter umum per 100.000 penduduk. Rasio dokter umum
terhadap jumlah penduduk menurut provinsi pada tahun 2013 terlihat pada Gambar 3.1 berikut
ini.
GAMBAR 3.1
RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2013

Sumber : Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia, Kemenkes RI, 2014
Provinsi dengan rasio dokter umum terhadap 100.000 penduduk tertinggi terdapat di
Provinsi DKI Jakarta sebesar 155,5 dan Sulawesi Utara sebesar 83,3. Sedangkan rasio dokter
umum per 100.000 penduduk terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 8,8 dan
Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 10,5 dokter umum per 100.000 penduduk. Jumlah
dokter gigi pada tahun 2013 tercatat sebanyak 24.598 dan jumlah dokter gigi spesialis sebesar
2.182 orang. Rasio dokter gigi per 100.000 penduduk sebesar 9,9 dokter gigi per 100.000
penduduk. Rincian lengkap mengenai jumlah tenaga dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan
dokter gigi spesialis yang mempunyai STR dapat dilihat pada Lampiran 3.5.
Jenis tenaga kesehatan berikutnya adalah tenaga keperawatan, yang terdiri dari tenaga
perawat dan bidan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat, perawat
adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jumlah perawat pada
tahun 2013 tercatat sebanyak 288.405 orang. Rasio perawat terhadap jumlah penduduk
menurut provinsi pada tahun 2013 terlihat pada Gambar 3.2 berikut ini.




53 Tenaga Kesehatan
GAMBAR 3.2
RASIO PERAWAT TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Rasio perawat terhadap penduduk sebesar 116,1 perawat per 100.000 penduduk.
Provinsi dengan rasio tertinggi terdapat di Papua Barat sebesar 320,1 perawat per 100.000
penduduk, Maluku sebesar 305,2 perawat per 100.000 penduduk dan Maluku Utara sebesar
280,1 perawat per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio perawat terendah terdapat di
Sumatera Utara sebesar 65,7 perawat per 100.000 penduduk, Jawa Barat sebesar 68,2 perawat
per 100.000 penduduk dan Banten sebesar 68,4 perawat per 100.000 penduduk.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/MENKES/SK/III/2007
tentang Standar Profesi Bidan, bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan
bidan yang diakui oleh pemerintah dan organisasi profesi di wilayah negara Republik Indonesia
serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk di register, sertifikasi dan atau secara sah
mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan. Bidan diakui sebagai tenaga
profesional yang bertanggung jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan
untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasihat selama hamil, masa kehamilan dan masa
nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi
baru lahir dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal,
deteksi komplikasi pada ibu dan anak, akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta
melaksanakan tindakan kegawatdaruratan.
Jumlah bidan di Indonesia pada tahun 2013 tercatat sebanyak 137.110 orang, dengan
rasio bidan terhadap penduduk sebesar 55,2 bidan per 100.000 penduduk. Rasio bidan
terhadap jumlah penduduk menurut provinsi pada tahun 2013 terlihat pada Gambar 3.3.
Provinsi dengan rasio bidan terhadap penduduk tertinggi tertinggi terdapat di Aceh
sebesar 204,3 bidan per 100.000 penduduk, Bengkulu sebesar 141,7 bidan per 100.000
penduduk dan Papua Barat sebesar 105,7 bidan per 100.000 penduduk. Rasio bidan terhadap
penduduk terendah terdapat di DKI Jakarta sebesar 28,8 bidan per 100.000 penduduk, Jawa
Barat sebesar 29,2 bidan per 100.000 penduduk dan Banten sebesar 30,5 bidan per 100.000


54 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
penduduk. Jumlah sumber daya manusia kesehatan tahun 2013 menurut provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 3.1.
GAMBAR 3.3
RASIO BIDAN TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
1. Tenaga Kesehatan di Puskesmas
Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat
pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Kinerja dari puskesmas sangat
dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki, terutama ketersediaan tenaga
kesehatan. Pada tahun 2013, terdapat 349.198 orang yang bertugas di puskesmas dengan
rincian 314.363 tenaga kesehatan dan 34.835 tenaga non kesehatan. Dari seluruh jumlah tenaga
kesehatan, dokter umum yang bertugas di puskesmas sebanyak 17.767 orang, dengan rasio 1,84
dokter umum per puskesmas. Rasio dokter umum di puskesmas terhadap jumlah puskesmas
tahun 2013 menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Rasio dokter umum terhadap puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi Kepulauan Riau
sebesar 4,6 dokter umum per puskesmas, DI Yogyakarta sebesar 3,02 dokter umum per
puskesmas dan Riau sebesar 2,79 dokter umum per puskesmas. Rasio dokter umum per
puskesmas terendah terdapat di Provinsi Papua Barat sebesar 0,43 dokter umum per
puskesmas, Sulawesi Tenggara sebesar 1 dokter umum per puskesmas dan Papua sebesar 1,01
dokter umum per puskesmas.







55 Tenaga Kesehatan
GAMBAR 3.4
RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Jumlah dokter spesialis di puskesmas di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 135 orang.
Jumlah tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 34 orang dan Jawa Timur sebesar 31
orang. Jumlah dokter gigi yang bertugas di puskesmas pada tahun 2013 sebanyak 6.883 orang.
Bila dibandingkan dengan jumlah seluruh puskesmas di Indonesia (9.655) maka dapat diartikan
bahwa belum seluruh puskesmas memiliki dokter gigi. Sedangkan jumlah perawat gigi di
Indonesia sebesar 10.150 orang. Jumlah tenaga kesehatan di puskesmas di sajikan dalam
Gambar 3.5 berikut.
GAMBAR 3.5
JUMLAH TENAGA KESEHATAN MENURUT JENIS DI PUSKESMAS
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2014


56 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 115.747 orang, sehingga rata-rata tiap
puskesmas memiliki 12 orang perawat. Jumlah perawat gigi sebesar 10.150 orang perawat gigi.
Jumlah tenaga bidan sebanyak 102.176 orang, sehingga rata-rata tiap puskesmas memiliki 11
orang bidan. Rincian jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 3.2.
2. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 tentang
Klasifikasi Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Sumber daya manusia kesehatan
memegang peranan penting dalam pelayanan kesehatan. Sumber daya manusia kesehatan yang
bertugas di rumah sakit pada tahun 2013 berjumlah 458.340 orang dengan rincian 319.707
tenaga kesehatan dan 138.633 tenaga non kesehatan.
GAMBAR 3.6
JUMLAH TENAGA KESEHATAN MENURUT JENIS DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan, dokter spesialis yang bertugas di rumah sakit
sebanyak 36.081 orang, dengan rata-rata 16 dokter spesialis per rumah sakit; dokter umum
yang bertugas di rumah sakit sebanyak 21.283 orang, dengan rata-rata 10 dokter umum per
rumah sakit dan dokter gigi yang bertugas di rumah sakit sebanyak 4.295 orang, dengan rata-
rata 2 dokter gigi per rumah sakit. Perawat yang bertugas di rumah sakit sebanyak 164.309
orang, dengan rata-rata 74 perawat per rumah sakit dan bidan yang bertugas di rumah sakit
sebanyak 31.254 orang, dengan rata-rata 14 bidan per rumah sakit. Rincian jumlah tenaga
kesehatan di rumah sakit pemerintah dapat dilihat pada Lampiran 3.4.

B. TENAGA KESEHATAN DENGAN STATUS PEGAWAI TIDAK TETAP
(PTT)
Permasalahan distribusi tenaga kesehatan masih merupakan isu yang sampai saat ini
masih ada dalam sistem kesehatan di Indonesia. Indonesia mempunyai ciri geografis yang
khusus antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya dan keadaan sosial ekonomi yang
menunjukkan perbedaan yang cukup tinggi ditambah dengan desentralisasi yang belum mampu


57 Tenaga Kesehatan
menunjukkan hasil yang diharapkan dalam menyelesaikan permasalahan pemerataan tenaga
kesehatan, terutama pada daerah sangat terpencil, terpencil dan perbatasan.
Pemenuhan tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan terutama puskesmas dan
jaringannya pada daerah terpencil/sangat terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan
(DTPK) serta daerah bermasalah kesehatan (DBK), salah satunya diisi dengan cara
pengangkatan Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan Penugasan Khusus.
Pemenuhan tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter umum, dokter gigi,
dokter spesialis, dokter gigi spesialis dan bidan. Konstribusi yang diberikan cukup besar
pengaruhnya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Sampai dengan 31 Desember
2013 tercatat sebanyak 46.512 tenaga kesehatan PTT Pusat yang masih aktif bertugas dengan
komposisi dokter spesialis dan dokter gigi spesialis sejumlah 56 orang, dokter umum sejumlah
3.153 orang, dokter gigi sejumlah 1.168 orang dan bidan sejumlah 42.135 orang.
GAMBAR 3.7
JUMLAH DOKTER UMUM PTT, DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT AKTIF
MENURUT KRITERIA WILAYAH DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Pada Gambar 3.7, tahun 2013 dapat dilihat jumlah tenaga PTT terutama untuk dokter
umum dan dokter gigi terbesar ada pada daerah dengan kriteria sangat terpencil dan terpencil.
Dokter PTT di di daerah sangat terpencil berjumlah 1.815 orang, daerah terpencil berjumlah
1.112 orang dan dokter PTT di daerah biasa hanya 226 orang. Jumlah dokter gigi PTT aktif di
daerah sangat terpencil dan terpencil juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah di
daerah biasa. Jumlah dokter gigi di daerah sangat terpencil berjumlah 628 orang, daerah
terpencil berjumlah 495 orang sedangkan di daerah biasa hanya berjumlah 45 orang.
Hal berbeda terjadi pada tenaga bidan PTT aktif. Jumlah bidan PTT di daerah biasa lebih
besar jika dibandingkan dengan daerah terpencil atau daerah sangat terpencil. Jumlah bidan di
daerah biasa berjumlah 21.452 orang, sedangkan jumlah bidan di daerah terpencil berjumlah
11.991 orang dan daerah sangat terpencil berjumlah 8.692 orang. Rincian lengkap mengenai
jumlah dokter/dokter gigi spesialis PTT, dokter umum PTT, dokter gigi PTT, bidan PTT aktif
menurut kriteria wilayah dan provinsi di Indonesia tahun 2013 dapat dilihat di Lampiran 3.7
s.d. 3.10.
Pada tahun 2013 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan kriteria
biasa, terpencil, dan sangat terpencil sebanyak 15.931 orang, yang terdiri dari dokter spesialis


58 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
dan dokter gigi spesialis PTT sejumlah 57 orang, dokter umum PTT sejumlah 3.075 orang,
dokter gigi PTT sebanyak 1.169 orang dan bidan PTT sejumlah 11.630 orang.
GAMBAR 3.8
JUMLAH PENGANGKATAN DOKTER/DOKTER GIGI SPESIALIS, DOKTER UMUM,
DOKTER GIGI DAN BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)
MENURUT KRITERIA WILAYAH DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Gambar 3.8 menunjukkan jumlah pengangkatan tenaga kesehatan PTT didaerah biasa,
terpencil dan sangat terpencil pada tahun 2013 untuk tenaga dokter/dokter gigi spesialis,
dokter umum, dokter gigi dan bidan. Jumlah pengangakatan dokter/dokter gigi spesialis hanya
ada pada daerah terpencil, sebesar 57 orang. Jumlah pengangkatan dokter umum dan dokter
gigi terbesar pada daerah sangat terpenci. Pada pengangkatan bidan, lebih banyak di daerah
biasa dibandingkan dengan daerah terpencil dan sangat terpencil. Rincian lengkap mengenai
jumlah pengangkatan dokter/dokter gigi spesialis, dokter umum, dokter gigi dan bidan dapat
dilihat pada Lampiran 3.12 s.d. 3.15.

C. TENAGA KESEHATAN DENGAN STATUS PENUGASAN KHUSUS
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2013 tentang Penugasan
Khusus Tenaga Kesehatan, penugasan khusus adalah pendayagunaan secara khusus tenaga
kesehatan dalam kurun waktu tertentu guna meningkatkan akses dan mutu pelayanan
kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan,
Daerah Bermasalah Kesehatan serta Rumah Sakit Kelas C dan Kelas D di kabupaten yang
memerlukan pelayanan medik spesialistik. Jenis tenaga kesehatan yang dapat diangkat dalam
penugasan khusus pada fasilitas pelayanan kesehatan terdiri dari Residen dan tenaga kesehatan
dengan pendidikan diploma III.
Residen merupakan dokter/dokter gigi yang sedang menempuh pendidikan dokter
spesialis/dokter gigi spesialis. Tenaga kesehatan dengan pendidikan diploma III terdiri dari
bidan, perawat, sanitarian, tenaga gizi, dan analis kesehatan. Tenaga kesehatan penugasan
khusus ditempatkan pada (1) Puskesmas dan jejaringnya, (2) Rumah Sakit Kelas C dan Kelas D
yang telah memiliki peralatan kesehatan, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi serta fasilitas
lain sesuai kebutuhan medik spesialistik (tidak termasuk Rumah Sakit Bergerak), (3) Rumah
Sakit yang membutuhkan jenis pelayanan medik spesialistik tertentu.


59 Tenaga Kesehatan
Selama tahun 2013 telah dilakukan pengangkatan penugasan khusus sebanyak 2.379
orang, yang terdiri dari 873 residen, 927 perawat, 203 tenaga gizi, 181 tenaga kesehatan
lingkungan, 105 analis kesehatan, 15 bidan, 52 farmasi, 20 tenaga kesehatan gigi, 1 fisioterapis,
1 radiografer dan 1 perekam dan info kesehatan. Jumlah penugasan khusus tenaga kesehatan
terbesar terdapat di Provinsi Aceh sebanyak 290 orang, Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak
249 orang dan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 229 orang. Sedangkan jumlah
penugasan khusus tenaga kesehatan tidak terdapat di Provinsi DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
Secara lengkap, jumlah pengangkatan tenaga residen dan tenaga penugasan khusus dapat
dilihat pada Lampiran 3.16.

D. REGISTRASI TENAGA KESEHATAN
Registrasi tenaga kesehatan (selain tenaga medis dan kefarmasian) diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 161/Menkes/Per/I/2010 dan direvisi dalam Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1796/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.
Setiap tenaga kesehatan yang akan menjalankan pekerjaannya wajib memiliki Surat Tanda
Registrasi (STR). STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga
kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan. Untuk mendapatkan STR, tenaga kesehatan harus memiliki ijazah dan sertifikat
kompetensi. STR berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang setiap lima tahun. Rincian
jumlah tenaga kesehatan (selain tenaga medis dan kefarmasian) yang telah memiliki STR
menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.6.
Registrasi tenaga medis diatur pelaksanaannya dalam Undang Undang Nomor 29 Tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran. Praktik kedokteran bertujuan memberikan perlindungan
kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh
dokter dan dokter gigi, dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat. Setiap dokter
dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki Surat Tanda
Registrasi (STR) dokter dan STR dokter gigi termasuk dokter dan dokter gigi lulusan luar
negeri. STR dokter dan dokter gigi diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan
berlaku selama lima tahun dan diregistrasi ulang setiap lima tahun sekali.
Data yang tercatat di KKI sampai dengan 31 Desember 2013 yaitu dokter dan dokter gigi
yang memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) sejumlah 146.048 orang yang terdiri dari dokter
umum 94.727 orang, dokter spesialis 24.541 orang, dokter gigi 24.598 orang dan dokter gigi
spesialis 2.182 orang. Dokter dan dokter gigi lulusan luar negeri yang akan melaksanakan
praktik kedokteran di Indonesia juga harus memiliki STR sementara atau STR bersyarat. STR
sementara diberikan kepada dokter dan dokter gigi Warga Negara Asing (WNA) yang akan
melakukan kegiatan dalam rangka pendidikan, pelatihan, penelitian, pelayanan kesehatan di
bidang kedokteran atau kedokteran gigi yang bersifat sementara di Indonesia. STR sementara
berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang untuk satu tahun berikutnya. STR bersyarat
diberikan kepada peserta program pendidikan dokter spesialis atau dokter gigi spesialis WNA
yang mengikuti pendidikan dan pelatihan di Indonesia. Sampai dengan akhir tahun 2013, data
STR dokter dan dokter gigi WNA, yaitu STR sementara sebanyak delapan orang dan STR
bersyarat sebanyak dua belas orang.
Registrasi tenaga kefarmasian diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.
Setiap tenaga kefarmasian yang menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat tanda
registrasi. Tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang
terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan


60 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Surat
Tanda Registrasi Apoteker (STRA) dan Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian
(STRTTK) berlaku selama 5 (lima) tahun. Surat tanda registrasi juga diperlukan untuk apoteker
warga negara asing lulusan luar negeri yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian di
Indonesia (surat tanda registrasi apoteker khusus/STRA Khusus). STRA, STRTTK dan STRA
Khusus dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional.

***




63 Pembiayaan Kesehatan


PEMBIAYAAN KESEHATAN

Penyelenggaraan pembangunan kesehatan memerlukan komponen pembiyaan. Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa pembiayaan kesehatan
bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah
yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan. Pembiayaan kesehatan terdiri dari
pembiayaan bersumber pemerintah dan pembiayaan bersumber masyarakat.

A. ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN
Alokasi anggaran kesehatan yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan pada tahun
2014 sebesar 38,64 trilyun rupiah dengan realisasi sebesar 35,42 trilyun rupiah. Besar alokasi
maupun realisasi anggaran mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012, yaitu alokasi
sebesar 33,29 trilyun rupiah dengan realisasi sebesar 30,66 trilyun rupiah . Meskipun dalam hal
besaran anggaran mengalami peningkatan, namun persentase realisasi tahun 2103 mengalami
penurunan dibandingkan tahun 2012, yaitu 92,08% pada tahun 2012 menjadi 91,66% pada
tahun 2013.
GAMBAR 4.1
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2008 2013

Sumber : Biro Keuangan dan BMN, Kemenkes RI, 2014
Gambar di atas menunjukkan bahwa terdapat peningkatan alokasi dan realisasi
anggaran Kementerian Kesehatan dalam lima tahun terakhir. Pada Tahun 2008 Kementerian
Kesehatan RI memiliki alokasi anggaran sebesar 18,55 trilyun rupiah dengan realisasi 15,89
trilyun rupiah dan persentase realisasi sebesar 85,62%, jumlah tersebut meningkat pada tahun
2013 menjadi 38,64 trilyun rupiah dengan realisasi sebesar 35,42 trilyun rupiah dan persentase
realisasi sebesar 91,66%.


64 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Distribusi anggaran Kementerian Kesehatan RI menurut unit kerja eselon I
menunjukkan bahwa alokasi terbesar terdapat pada Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
(Ditjen BUK) sebesar 25,27 trilyun rupiah, sedangkan alokasi terendah untuk Inspektorat
Jenderal sebesar 96,08 miliar rupiah. Anggaran yang dialokasikan pada Ditjen BUK tersebut
didistribusikan pada 429 satuan kerja (kantor pusat, kantor daerah, dekonsentrasi dan tugas
pembantuan), sedangkan anggaran yang dialokasikan pada Inspektorat Jenderal hanya untuk
satu Satuan Kerja (Satker). Unit Eselon I dengan persentase realisasi anggaran tertinggi adalah
Badan Litbangkes sebesar 95,01%, sedangkan realisasi terendah adalah Inspektorat Jenderal
dengan persentase realisasi sebesar 79,66%. Data dan Informasi mengenai alokasi dan realisasi
anggaran Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2013 terdapat pada Lampiran 4.1.

B. ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) BIDANG
KESEHATAN
Pembiayaan kesehatan harus mampu menjamin kesinambungan jumlah yang
mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna
sehingga pembangunan kesehatan demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-
tingginya dapat terlaksana. Sumber pembiayaan kesehatan berasal dari pemerintah,
pemerintah daerah, masyarakat, swasta dan sumber lain.
Sesuai Undang-Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, anggaran
kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota memiliki alokasi minimal sepuluh
persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di luar gaji (belanja
pegawai). Persentase anggaran kesehatan Pemerintah Daerah Provinsi terhadap total APBD di
33 provinsi di Indonesia disajikan pada Gambar berikut.
GAMBAR 4.2
PERSENTASE ANGGARAN KESEHATAN TERHADAP APBD
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran, Kemkes, 2013


65 Pembiayaan Kesehatan
Persentase anggaran kesehatan Pemda Provinsi terhadap total APBD di atas termasuk
dengan gaji pegawai. Pada gambar di atas terdapat tujuh provinsi dengan persentase melebihi
sepuluh persen. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2012 ketika hanya 6 provinsi
dengan persentase anggaran kesehatan di atas sepuluh persen. Tujuh provinsi dengan
persentase anggaran kesehatan di atas sepuluh persen pada tahun 2013 yaitu Kalimantan
Selatan, Bali, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Barat, DKI Jakarta, dan Maluku. Sedangkan 26
provinsi lainnya memiliki anggaran kesehatan pada APBD provinsinya kurang dari sepuluh
persen. Data dan informasi lebih rinci mengenai APBD provinsi pada tahun 2013 terdapat pada
Lampiran 4.2.

C. JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT
Sampai dengan Desember 2013 terdapat 181.292.912 orang yang memiliki jaminan
kesehatan dengan persentase terhadap jumlah penduduk sebesar 76,18%. Jumlah ini lebih
tinggi dibandingkan tahun 2012 ketika terdapat 163.547.921 orang yang memiliki jaminan
kesehatan atau sebesar 66,82% terhadap jumlah penduduk. Salah satu program jaminan
kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah Jamkesmas.
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diselenggarakan untuk meningkatkan
akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin
agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Jamkesmas
diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu, menurunkan angka kematian bayi dan
balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan
bagi masyarakat miskin. Program ini telah memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses
pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di puskesmas dan jaringannya,
pelayanan kesehatan di rumah sakit serta memberikan perlindungan finansial dari pengeluaran
kesehatan akibat sakit.
Penduduk yang menjadi sasaran program Jamkesmas adalah tetap sejak tahun 2008,
yaitu sebanyak 76,4 juta jiwa yang terdiri dari masyarakat sangat miskin, miskin dan tidak
mampu. Jumlah tersebut terdiri atas 73.726.290 jiwa kepesertaan berdasarkan Surat Keputusan
(SK) Bupati/Walikota dan selebihnya adalah peserta di luar SK Bupati/Walikota yang berjumlah
2.673.710 jiwa. Kepesertaan di luar SK Bupati/Walikota terdiri dari gelandangan, pengemis,
anak terlantar, panti sosial, penghuni rutan/lapas, korban bencana pasca tanggap darurat,
peserta program keluarga harapan (PKH), dan penderita thalasemia mayor.
Cakupan program Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan
pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit. Kunjungan di pelayanan kesehatan di Puskesmas
terdiri dari Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP).
Sedangkan kunjungan di pelayanan kesehatan di Rumah Sakit terdiri dari Rawat Jalan Tingkat
Lanjut (RJTL) dan Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL). Gambar berikut ini menyajikan jumlah
kunjungan peserta Jamkesmas di puskesmas dan rumah sakit.








66 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 4.3
JUMLAH KUNJUNGAN
RJTP, RITP, RJTL & RITL DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Pada gambar di atas nampak bahwa jumlah kunjungan rawat jalan pada tingkat pertama
jauh lebih besar dibandingkan rawat inap. Pola yang sama juga nampak pada layanan kesehatan
tingkat lanjut di rumah sakit, yaitu jumlah kunjungan rawat jalan lebih besar dibandingkan
rawat inap.
Pada tahun 2013, terdapat 76,29 juta kunjungan peserta jamkesmas ke pelayanan
kesehatan rawat jalan, yang terdiri dari 69,51 juta kunjungan rawat jalan tingkat pertama dan
6,78 juta kunjungan rawat jalan tingkat lanjut. Sedangkan gambaran pada pelayanan kesehatan
rawat inap adalah sebanyak 5,12 juta yang terdiri dari 3,48 juta kunjungan rawat inap tingkat
pertama dan 1,64 juta kunjungan rawat inap tingkat lanjut. Jumlah kunjungan di pelayanan
kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjut pada tahun 2013 lebih tinggi dibandingkan jumlah
kunjungan pada tahun 2012 seperti yang terdapat pada gambar berikut.
GAMBAR 4.4
JUMLAH KUNJUNGAN
RJTP, RITP, RJTL & RITL DI INDONESIA TAHUN 2009-2013

Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2013


67 Pembiayaan Kesehatan
Sejak tahun 2011 telah dilakukan perluasan program Jamkesmas dengan
diluncurkannya Jaminan Persalinan (Jampersal) sesuai dengan surat edaran Menkes RI Nomor
TU/Menkes/E/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan. Jampersal adalah pembiayaan
pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan
nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Jampersal
melingkupi seluruh ibu yang belum memiliki jaminan kesehatan. Jumlah kunjungan Jampersal
tertinggi terdapat pada pelayanan pasca persalinan sebanyak 6.828.137 kunjungan, pelayanan
pada Ante Natal Care (K1 dan K4) sebanyak 5.760.455 kunjungan, dan persalinan normal
sebanyak 2.226.845 kunjungan. Kunjungan pada ANC yang tinggi diharapkan dapat membantu
menurunkan komplikasi maternal dan neonatal serta kematian ibu dan anak melalui
pendeteksian dini kehamilan berisiko tinggi. Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi
mengenai cakupan pelayanan Jamkesmas dan Jampersal terdapat pada Lampiran 4.4, 4.5 4.6,
4.7, dan 4.8.

D. BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) merupakan bantuan dana dari Pemerintah
melalui Kementerian Kesehatan RI dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota untuk
meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatan
Puskesmas untuk mendukung tercapainya target Millennium Development Goals (MDGs) bidang
kesehatan tahun 2015. Selain itu diharapkan dengan bantuan ini dapat meningkatkan kualitas
manajemen Puskesmas, terutama dalam perencanaan tingkat Puskesmas dan lokakarya mini
Puskesmas, meningkatkan upaya untuk menggerakkan potensi masyarakat dalam
meningkatkan derajat kesehatannya, dan meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan yang
bersifat promotif dan preventif yang dilakukan oleh Puskesmas dan jaringannya serta
Poskesdes dan Posyandu.
Pemanfaatan dana BOK difokuskan pada beberapa upaya kesehatan promotif dan
preventif meliputi KIA, KB, imunisasi, perbaikan gizi masyarakat, promosi kesehatan, kesehatan
lingkungan dan pengendalian penyakit, dan upaya kesehatan lain sesuai risiko dan masalah
utama kesehatan di wilayah setempat dengan tetap mengacu pada pencapaian target Standar
Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan serta target MDGs Bidang Kesehatan tahun 2015.
Pada proses pelaksanaan, penyaluran dana BOK melalui Tugas Pembantuan
telah dilakukan berbagai upaya penyempurnaan. Realisasi pemanfaatan dana BOK pada tahun
2013 sebesar Rp 1.096.020.049.109 dari alokasi sebesar Rp 1.113.255.075.000 dengan
persentase realisasi 98,45%. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang
sebesar 96,7%.










68 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 4.5
PERSENTASE PENYERAPAN DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen. BinaGizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa Provinsi Bengkulu memiliki penyerapan
dana BOK tertinggi sebesar 99,92% dan Provinsi Kalimantan Timur memiliki penyerapan
terendah sebesar 89,6%. Pada tahun 2013, terdapat 8 provinsi dengan realisasi lebih rendah
dari persentase penyerapan nasional. Data dan informasi mengenai alokasi serta realisasi dana
BOK menurut provinsi tahun 2013 terdapat pada Lampiran 4.3..
BOK merupakan salah satu program strategis Kementerian Kesehatan RI disamping
Jamkesmas/Jampersal sehingga terus diupayakan perbaikan agar BOK dimanfaatkan dengan
optimal oleh Puskesmas. Dinas kesehatan provinsi sebagai perpanjangan tangan Kementerian
Kesehatan juga memiliki peran serta yaitu melakukan pembinaan dan evaluasi pelaksanaan
BOK di kabupaten/kota. Dengan kehadiran BOK diharapkan petugas kesehatan/kader
kesehatan tidak lagi mengalami kendala dalam melakukan kegiatan untuk mendekatkan akses
pada masyarakat. Hal penting yang perlu dipahami, BOK bukan merupakan dana utama
penyelenggaraan upaya kesehatan di kabupaten/kota, namun hanya dana tambahan yang
bersifat bantuan sehingga tidak dapat menjawab semua permasalahan kesehatan. Sumber
pembiayaan kesehatan yang utama tetap harus disediakan oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota.

***


71 Kesehatan Keluarga


KESEHATAN KELUARGA

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari sekelompok orang
yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dan biasanya memiliki
hubungan darah atau perkawinan, dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga memiliki
fungsi yang sangat strategis dalam mempengaruhi status kesehatan diantara anggotanya.
Diantara fungsi keluarga dalam tatanan masyarakat yaitu memenuhi kebutuhan gizi dan
merawat serta melindungi kesehatan para anggotanya.
Anak dan ibu merupakan dua anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja
upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan. Hal tersebut disebabkan Angka
Kematian Ibu dan Anak merupakan dua indikator yang peka terhadap kualitas fasilitas
pelayanan kesehatan. Kualitas fasilitas pelayanan kesehatan yang dimaksud termasuk
aksesibilitas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan itu sendiri.

A. KESEHATAN IBU
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka
kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per
100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi apalagi jika dibandingkan dengan
negaranegara tetangga.
Sejak tahun 1990 upaya strategis yang dilakukan dalam upaya menekan Angka
Kematian Ibu (AKI) adalah dengan pendekatan safe motherhood, dengan menganggap bahwa
setiap kehamilan mengandung risiko, walaupun kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama
kehamilan dalam keadaan baik. Di Indonesia Safe Motherhood initiative ditindaklanjuti dengan
peluncuran Gerakan Sayang Ibu di tahun 1996 oleh Presiden yang melibatkan berbagi sektor
pemerintahan di samping sektor kesehatan. Salah satu program utama yang ditujukan untuk
mengatasi masalah kematian ibu adalah penempatan bidan di tingkat desa secara besar-
besaran yang bertujuan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir
ke masyarakat. Di tahun 2000, Kementerian Kesehatan RI memperkuat strategi intervensi
sektor kesehatan untuk mengatasi kematian ibu dengan mencanangkan strategi Making
Pregnancy Safer. Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program Expanding
Maternal and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan
neonatal sebesar 25%. Program ini dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah
kematian ibu dan neonatal yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Dasar pemilihan provinsi-provinsi tersebut dikarenakan
52,6% dari jumlah total kejadian kematian ibu di Indonesia berasal dari enam provinsi tersebut.
Sehingga dengan menurunkan angka kematian ibu di enam provinsi tersebut diharapkan akan
dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia secara signifikan.
Upaya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian neonatal melalui program
EMAS dilakukan dengan cara:


72 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150
rumah sakit (PONEK) dan 300 Puskesmas/Balkesmas (PONED).
Memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar Puskesmas dan Rumah Sakit.
Selain itu, pemerintah bersama masyarakat juga bertanggung jawab untuk menjamin
bahwa setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, mulai dari
saat hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih, dan perawatan pasca
persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan
memperoleh cuti hamil dan melahirkan serta akses terhadap keluarga berencana. Di samping
itu, pentingnya melakukan intervensi lebih ke hulu yakni kepada kelompok remaja dan dewasa
muda dalam upaya percepatan penurunan AKI.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal
sekurang-kurangnya 4 kali selama masa kehamilan, dengan distribusi waktu minimal 1 kali
pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal 1 kali pada trimester kedua
(usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal 2 kali pada trimester ketiga (usia kehamilan
24minggu - lahir). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan
terhadap ibu hamil dan atau janin, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan
penanganan dini komplikasi kehamilan.
Pelayanan antenatal diupayakan agar memenuhi standar kualitas, yaitu :
a) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan;
b) Pengukuran tekanan darah;
c) Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA);
d) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri);
e) Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid sesuai
status imunisasi;
f) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan;
g) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ);
h) Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk
keluarga berencana);
i) Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb),
pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah
dilakukan sebelumnya); dan
j) Tatalaksana kasus.
Capaian pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator
Cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan
antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu
wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Sedangkan Cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil
yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali sesuai
jadwal yang dianjurkan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada
kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan
terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke
tenaga kesehatan.
Gambaran kecenderungan cakupan K1 dan K4 sejak tahun 2004 hingga tahun 2013
dapat dilihat pada gambar 5.1.



73 Kesehatan Keluarga
GAMBAR 5.1
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI INDONESIA TAHUN 2004 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar 5.1 di atas terlihat bahwa secara umum cakupan pelayanan kesehatan ibu
hamil K1 dan K4 mengalami kenaikan. Cakupan K1 dan K4 yang secara umum mengalami
kenaikan tersebut menunjukkan semakin baiknya akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan ibu hamil yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Dari gambar tersebut juga dapat
dilihat bahwa kenaikan cakupan K1 dari tahun ke tahun relatif lebih stabil jika dibandingkan
dengan cakupan K4. Cakupan K1 selalu mengalami peningkatan, kecuali di tahun 2013 dimana
angkanya mengalami penurunan dari 96,84% pada tahun 2012 menjadi 95,25% pada tahun
2013. Hal itu sedikit berbeda dengan cakupan K4 yang pernah mengalami kenaikan yang cukup
signifikan dari 80,26% pada 2007 menjadi 86,04% pada 2008, namun setelah itu mengalami
penurunan menjadi 84,54% di tahun berikutnya. Kemudian setelah terus mengalami kenaikan,
cakupan K4 kembali menurun pada 2013 menjadi 86,85% dari 90,18% pada tahun sebelumnya.
Secara nasional, indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada
tahun 2013 belum dapat mencapai target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan
tahun yang sama, yakni sebesar 93%. Meski demikian, terdapat 4 (empat) provinsi yang
angkanya telah dapat mencapai target tersebut. Keempat provinsi tersebut adalah DKI Jakarta
(95,76%), Jambi (93,61%), Sumatera Selatan (93,21%), dan Bali (93,06%). Capaian pelayanan
kesehatan ibu hamil K4 dari masing-masing provinsi dapat dilihat pada gambar 5.2.















74 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 5.2
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 MENURUT PROVINSI, TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar 5.2 dapat diketahui bahwa terdapat 3 (tiga) provinsi yang memiliki
cakupan pelayanan ibu hamil K4 relatif rendah, yakni Papua (31,90%), Papua Barat (50,09%),
dan Nusa Tenggara Timur (61,78%). Secara nasional, cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil
K4 pada tahun 2013 adalah sebesar 86,85%.
Berbagai program dan kegiatan telah dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan untuk
semakin mendekatkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat hingga
ke pelosok desa, termasuk untuk meningkatkan cakupan pelayanan antenatal. Dari segi sarana
dan fasilitas pelayanan kesehatan, hingga bulan Desember 2013, tercatat terdapat 9.655
Puskesmas di seluruh Indonesia. Dengan demikian rasio Puskesmas terhadap 30.000 penduduk
sudah melampaui rasio ideal 1:30.000 penduduk. Demikian pula dengan Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) seperti Poskesdes dan Posyandu. Sampai dengan tahun
2013, tercatat terdapat 54.731 Poskesdes yang beroperasi dan 280.225 Posyandu di Indonesia.
Upaya meningkatkan cakupan pelayanan antenatal juga makin diperkuat dengan adanya
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sejak tahun 2010 dan diluncurkannya Jaminan
Persalinan (Jampersal) sejak tahun 2011, dimana keduanya saling bersinergi. BOK dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan luar gedung, seperti pendataan, pelayanan di Posyandu,
kunjungan rumah, sweeping kasus drop out, pelaksanaan kelas ibu hamil serta penguatan
kemitraan bidan dan dukun. Sementara itu Jampersal mendukung paket pelayanan antenatal,
termasuk yang dilakukan pada saat kunjungan rumah atau sweeping, baik pada kehamilan
normal maupun kehamilan dengan risiko tinggi.
Semakin kuatnya kerja sama dan sinergi berbagai program yang dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat termasuk sektor swasta diharapkan dapat
mendorong tercapainya target cakupan pelayanan antenatal.



75 Kesehatan Keluarga
GAMBAR 5.3
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K1 DAN K4 IDEAL DI INDONESIA, TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, dan Badan Litbangkes, Kemenkes RI, 2014
Gambar 5.3 di atas memperlihatkan perbedaan antara hasil pencatatan rutin dan hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan
Pengambangan Kesehatan. Untuk cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K1 ideal, data
menurut pencatatan rutin adalah 95,25%, sedangkan menurut Riskesdas 81,6%. Untuk cakupan
K4 idealnya, menurut pencatatan rutin adalah sebesar 86,85%, sedangkan menurut Riskesdas
adalah 70,4%. Perbedaan ini dikarenakan pada Riskesdas 2013, sampel penelitian adalah ibu
yang pernah hamil anak terakhir sejak 1 Januari 2010 hingga pada saat wawancara dilakukan.
Selain itu, masih terdapat perbedaan persepsi di daerah mengenai definisi operasional dari
cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K1 dan K4. Data dan informasi terkait pelayanan
kesehatan ibu hamil disajikan pada lampiran 5.1 5.6.
2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
Upaya kesehatan ibu bersalin dilaksanakan dalam rangka mendorong agar setiap
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu dokter spesialis kebidanan dan
kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, serta diupayakan dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan. Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan yang dimulai pada kala I
sampai dengan kala IV persalinan. Pencapaian upaya kesehatan ibu bersalin diukur melalui
indikator persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan terlatih (Cakupan Pn). Indikator ini
memperlihatkan diantaranya tingkat kemampuan pemerintah dalam menyediakan pelayanan
persalinan berkualitas yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
Dari gambar 5.4 dapat diketahui bahwa secara umum cakupan pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Cakupan secara
nasional pada tahun 2013 adalah sebesar 90,88%, dimana angka ini telah dapat memenuhi
target Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2013 yakni sebesar 89%.
Sebagian besar provinsi (21 provinsi) telah dapat mencapai target renstra tersebut, dan
selebihnya yakni sebanyak 12 provinsi belum dapat mencapai target. Tiga provinsi dengan
cakupan tertinggi adalah Jawa Tengah (99,89%), Sulawesi Selatan (99,78%), dan Sulawesi Utara
(99,59%). Sedangkan tiga provinsi dengan cakupan terendah adalah Papua (33,31%), Papua
Barat (73,20%), dan Nusa Tenggara Timur (74,08%). Pada ketiga provinsi dengan cakupan
terendah tersebut, hanya Papua saja yang cakupannya mengalami penurunan dari tahun


76 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
sebelumnya, dua provinsi yang lain mengalami kenaikan. Cakupan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan di provinsi Papua pada 2013 adalah 33,31%, sedangkan capaian pada tahun
sebelumnya adalah sebesar 43,54%. Selengkapnya tentang cakupan pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan di Indonesia menurut provinsi tahun 2013 disajikan pada gambar 5.5.
GAMBAR 5.4
CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA
TAHUN 2004 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
GAMBAR 5.5
CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014


77 Kesehatan Keluarga
Analisis kematian ibu yang dilakukan Direktorat Bina Kesehatan Ibu pada tahun 2010
membuktikan bahwa kematian ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan tempat/
fasilitas persalinan. Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti berkontribusi terhadap
turunnya risiko kematian ibu. Demikian pula dengan tempat/fasilitas, jika persalinan dilakukan
di fasilitas pelayanan kesehatan, juga akan semakin menekan risiko kematian ibu.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan tetap konsisten dalam menerapkan kebijakan
bahwa seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dan didorong untuk dilakukan
di fasilitas pelayanan kesehatan. Kebijakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan
menggariskan bahwa pembangunan Puskesmas harus satu paket dengan rumah dinas tenaga
kesehatan. Demikian pula dengan pembangunan Poskesdes yang harus bisa sekaligus menjadi
rumah tinggal bagi bidan di desa. Dengan disediakan rumah tinggal, maka tenaga kesehatan
termasuk bidan akan siaga di tempat tugasnya dan dapat memberikan pertolongan persalinan
setiap saat.
Untuk daerah dengan akses sulit, kebijakan Kementerian Kesehatan adalah dengan
mengembangkan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran. Para
dukun diupayakan bermitra dengan bidan dengan hak dan kewajiban yang jelas. Pemeriksaan
kehamilan dan pertolongan persalinan tidak lagi dikerjakan oleh dukun, namun dirujuk ke
bidan.
Bagi ibu hamil yang di daerah tempat tinggalnya tidak ada bidan atau jauh dari fasilitas
pelayanan kesehatan, maka menjelang hari taksiran persalinan diupayakan sudah berada di
dekat fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu di Rumah Tunggu Kelahiran. Rumah Tunggu
Kelahiran tersebut dapat berupa rumah tunggu khusus maupun di rumah sanak saudara yang
dekat dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, Kementerian Kesehatan sejak tahun 2011 hingga tahun 2013 juga telah
meluncurkan Jaminan Persalinan (Jampersal) yang merupakan jaminan paket pembiayaan sejak
pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, hingga pelayanan nifas termasuk pelayanan
bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Penyediaan Jampersal diyakini turut meningkatkan
cakupan Pn di seluruh wilayah Indonesia. Keberhasilan pencapaian target indikator Pn
merupakan hasil dari kerja keras dan pelaksanaan berbagai program yang dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat termasuk sektor swasta.
GAMBAR 5.6
PROPORSI KELAHIRAN BERDASARKAN TEMPAT BERSALIN DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes, Kemenkes RI 2014



78 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Seperti terlihat pada gambar 5.6 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar
kelahiran dilakukan di Rumah Bersalin/Klinik/Praktek Tenaga Kesehatan yakni sebesar 38,0%.
Terbanyak ke dua adalah di rumah (29,6%), kemudian di Rumah Sakit (21,4%). Dari data
tersebut terlihat bahwa persalinan yang dilakukan di rumah masih cukup tinggi, dimana rumah
merupakan tempat ke dua terbanyak sebagai tempat melahirkan. Sedangkan
Polindes/Poskesdes merupakan tempat bersalin yang paling sedikit, dimana hanya 3,7% saja
yang memanfaatkannya sebagai tempat bersalin. Selain itu, sebesar 7,3% kelahiran dilakukan di
Puskesmas/Pustu.
GAMBAR 5.7
CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 DAN CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN
OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Dari gambar 5.7 dapat dilihat bahwa meski cakupan pelayanan ibu hamil K4 secara
nasional mengalami penurunan, namun cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
mengalami kenaikan. Persentasenya bahkan melebihi cakupan K4. Hal ini menjadi tantangan
tersendiri bagi Pemerintah. Pelayanan antenatal memiliki peranan yang sangat penting, di
antaranya agar dapat dilakukan deteksi dan tata laksana dini komplikasi yang dapat timbul
pada saat persalinan. Apabila seorang ibu datang langsung untuk bersalin di tenaga kesehatan
tanpa adanya riwayat pelayanan antenatal sebelumnya, maka faktor risiko dan kemungkinan
komplikasi saat persalinan akan lebih sulit diantisipasi.
GAMBAR 5.8
PROPORSI PENOLONG PERSALINAN DENGAN KUALIFIKASI TERTINGGI
DI INDONESIA, RISKESDAS TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes, Kemenkes RI 2014


79 Kesehatan Keluarga
Dalam analisis Riskesdas, penolong persalinan dinyatakan dalam penolong persalinan
kualifikasi tertinggi dan kualifikasi terendah. Penolong persalinan dengan kualifikasi tertinggi
yakni apabila terdapat lebih dari satu penolong maka dipilih yang kualifikasinya paling tinggi.
Begitu juga dengan kualifikasi yang terendah. Dari gambar 5.8 terlihat bahwa penolong
persalinan dengan kualifikasi tertinggi dilakukan oleh bidan (68,6%), kemudian oleh dokter
(18,5%), lalu non tenaga kesehatan (11,8%). Namun sebanyak 0,8% kelahiran dilakukan tanpa
ada penolong, dan hanya 0,3% kelahiran saja yang ditolong oleh perawat sebagai tenaga dengan
kualifikasi tertinggi. Data dan informasi terkait pelayanan kesehatan ibu bersalin disajikan pada
lampiran 5.7 - 5.9.
Selain melalui persalinan normal, persalinan juga dapat dilakukan dengan cara bedah
perut/sesar. Pada Riskesdas 2013 ditanyakan mengenai proses persalinan yang dialami.
Gambar 5.9 menyajikan proporsi persalinan dengan bedah sesar menurut karakteristik. Dari
gambar tersebut dapat diketahui bahwa secara umum pola persalinan melalui bedah sesar
menurut karakteristik menunjukkan proporsi tertinggi pada ibu yang menyelesaikan D1-
D3/perguruan tinggi (PT) nya (25,1%), pekerjaannya sebagai pegawai (20,9%), tinggal di
perkotaan (13,8%), dan kuintil indkes kepemilikannya teratas (18,9%).
GAMBAR 5.9
PROPORSI PERSALINAN SESAR DARI KELAHIRAN PERIODE 1 JANUARI 2010
SAMPAI SAAT WAWANCARA MENURUT KARAKTERISTIK DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes, Kemenkes RI 2014
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Nifas adalah periode mulai dari 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan.
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibu nifas sesuai standar, yang
dilakukan sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu pada 6 jam
sampai dengan 3 hari pasca persalinan, pada hari ke-4 sampai dengan hari ke-28 pasca
persalinan, dan pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 pasca persalinan.
Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi :
a) Pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu);
b) Pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri);
c) Pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;
d) Pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;


80 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
e) Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu nifas dan bayi
baru lahir, termasuk keluarga berencana;
f) Pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.
Keberhasilan upaya kesehatan ibu nifas diukur melalui indikator cakupan pelayanan
kesehatan ibu nifas (Cakupan KF3). Indikator ini menilai kemampuan negara dalam
menyediakan pelayanan kesehatan ibu nifas yang berkualitas sesuai standar.
GAMBAR 5.10
CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA TAHUN 2008 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa capaian cakupan kunjungan nifas (KF3) di
Indonesia dalam kurun waktu 6 tahun terakhir mengalami kenaikan. Capaian indikator KF
lengkap yang meningkat dalam 6 tahun terakhir merupakan hasil dari berbagai upaya yang
dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat termasuk sektor swasta. Program penempatan
Pegawai Tidak Tetap (PTT) untuk dokter dan bidan terus dilaksanakan. Selain itu, dengan
diluncurkannya Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sejak tahun 2010, Puskesmas,
Poskesdes, dan Posyandu lebih terbantu dalam mengintensifkan implementasi upaya kesehatan
termasuk di dalamnya pelayanan kesehatan ibu nifas, di antaranya kegiatan sweeping atau
kunjungan rumah bagi yang tidak datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Dukungan
Pemerintah makin meningkat sejak diluncurkannya Jampersal pada tahun 2011, dimana
pelayanan nifas termasuk paket manfaat yang dijamin oleh Jampersal. Data dan informasi
terkait pelayanan kesehatan ibu nifas disajikan pada lampiran 5.11.
4. Pelayanan/Penanganan Komplikasi Kebidanan
Komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan atau
janin dalam kandungan, baik langsung maupun tidak langsung, termasuk penyakit menular dan
tidak menular yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau janin, yang tidak disebabkan oleh
trauma/kecelakaan. Pencegahan dan penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayanan
kepada ibu dengan komplikasi kebidanan untuk mendapatkan perlindungan/pencegahan dan
penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan
dasar dan rujukan.
Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pencegahan dan penanganan
komplikasi kebidanan adalah cakupan penanganan komplikasi kebidanan (Cakupan PK).
Indikator ini mengukur kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan
secara profesional kepada ibu (hamil, bersalin, nifas) dengan komplikasi.


81 Kesehatan Keluarga
Capaian indikator penanganan komplikasi kebidanan di Indonesia dari tahun 2008
hingga tahun 2013 disajikan pada Gambar berikut.
GAMBAR 5.11
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN DI INDONESIA TAHUN 2008 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar 5.11 di atas dapat diketahui bahwa secara umum, cakupan penanganan
komplikasi kebidanan di Indonesia selama kurun waktu 6 tahun terakhir mengalami kenaikan,
meski pada tahun 2009 sempat mengalami penurunan. Cakupan penanganan komplikasi
kebidanan secara nasional pada tahun 2013 ialah 73,31%.
GAMBAR 5.12
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014


82 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Gambaran mengenai cakupan penanganan komplikasi kebidanan pada tahun 2013
menurut provinsi yang disajikan pada gambar 5.12 menunjukkan bahwa cakupan penanganan
komplikasi kebidanan tertinggi yaitu di Provinsi Jawa Tengah (102, 2%). Angka cakupan yang
melebihi 100% ini dimungkinkan karena jumlah sasaran yang digunakan adalah perkiraan,
yakni diperkirakan pada kurun waktu 1 tahun sebanyak 20% dari jumlah sasaran ibu hamil di
suatu wilayah kerja akan mengalami komplikasi kebidanan. Cakupan tertinggi ke dua dan ke
tiga berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (98%) dan DIY (87,3%). Sedangkan cakupan
terendah berturut-turut yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat (19,2%), serta Sumatera Utara
(30,3%).
Lima penyebab kematian ibu terbesar adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan
(HDK), infeksi, partus lama/macet dan abortus. Kematian ibu di Indonesia tetap didominasi
oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), dan
infeksi. Proporsi ketiga penyebab kematian ibu telah berubah, dimana perdarahan dan infeksi
cenderung mengalami penurunan sedangkan HDK proporsinya semakin meningkat. Lebih dari
30% kematian ibu di Indonesia pada tahun 2010 disebabkan oleh HDK.
GAMBAR 5.13
PENYEBAB KEMATIAN IBU DI INDONESIA TAHUN 2010

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, Hasil Analisis Lanjut
Sensus Penduduk Tahun 2010
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa diperkirakan 20% kehamilan akan mengalami
komplikasi. Sebagian komplikasi ini dapat mengancam jiwa, tetapi sebagian besar komplikasi
dapat dicegah dan ditangani bila : 1) ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan; 2)
tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai, antara lain penggunaan
partograf untuk memantau perkembangan persalinan, dan pelaksanaan manajemen aktif kala
III (MAK III) untuk mencegah perdarahan pasca-salin; 3) tenaga kesehatan mampu melakukan
identifikasi dini komplikasi; 4) apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan
pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan;
5) proses rujukan efektif; 6) pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna.
Terdapat tiga jenis area intervensi yang dilakukan untuk menurunkan angka kematian
dan kesakitan ibu dan neonatal yaitu melalui : 1) peningkatan pelayanan antenatal yang mampu
mendeteksi dan menangani kasus risiko tinggi secara memadai; 2) pertolongan persalinan yang
bersih dan aman oleh tenaga kesehatan terampil, pelayanan pasca persalinan dan kelahiran;
serta 3) pelayanan emergensi obstetrik dan neonatal dasar (PONED) dan komprehensif
(PONEK) yang dapat dijangkau.


83 Kesehatan Keluarga
Upaya terobosan dalam penurunan AKI dan AKB di Indonesia salah satunya melalui
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) yang menitikberatkan
fokus totalitas monitoring yang menjadi salah satu upaya deteksi dini, menghindari risiko
kesehatan pada ibu hamil serta menyediakan akses dan pelayanan kegawatdaruratan obstetri
dan neonatal dasar di tingkat Puskesmas (PONED) dan pelayanan kegawatdaruratan obstetri
dan neonatal komprehensif di Rumah Sakit (PONEK). Dalam implementasinya, P4K merupakan
salah satu unsur dari Desa Siaga. P4K mulai diperkenalkan pada tahun 2007. Sampai dengan
tahun 2013, tercatat 66.629 (86%) desa/kelurahan telah melaksanakannya. . Pelaksanaan P4K
di desa-desa tersebut perlu dipastikan agar mampu membantu keluarga dalam membuat
perencanaan persalinan yang baik dan meningkatkan kesiap-siagaan keluarga dalam
menghadapi tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas agar dapat mengambil tindakan yang
tepat.
Sesuai Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014, ditargetkan pada
akhir tahun 2014 di setiap kabupaten/kota terdapat minimal 4 (empat) Puskesmas rawat inap
mampu PONED dan 1 (satu) Rumah Sakit Kabupaten/Kota yang mampu melaksanakan
PONEK. Melalui pengelolaan pelayanan PONED dan PONEK, Puskesmas dan Rumah Sakit
diharapkan bisa menjadi institusi terdepan dimana kasus komplikasi dan rujukan dapat diatasi
dengan cepat dan tepat.
Standardisasi PONEK untuk rumah sakit dilakukan oleh Direktorat Bina Upaya
Kesehatan Rujukan bekerjasama dengan organisasi profesi yang terkait (POGI, IDAI dan IBI)
serta Badan PPSDMKes Kemenkes RI. Lokakarya PONEK dilakukan selama 5 hari, meliputi
materi manajemen dan klinik PONEK yang kemudian diikuti dengan latihan on the job training
PONEK untuk mengenalkan cara melakukan bimbingan teknis untuk perbaikan kinerja Tim
PONEK rumah sakit. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, jumlah
rumah sakit siap PONEK di Indonesia sampai dengan Desember 2013 sebanyak 424 rumah sakit
dari 750 rumah sakit umum milik Pemerintah, sedangkan jumlah Puskesmas PONED sampai
dengan Desember tahun 2013 adalah 2.782 puskesmas. Data dan informasi selengkapnya
mengenai rumah sakit siap PONEK dan Puskesmas PONED disajikan pada lampiran 2.3 dan 2.5.
Selain itu dilakukan pula kegiatan Audit Maternal Perinatal (AMP), yang merupakan
upaya dalam penilaian pelaksanaan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi
baru lahir melalui pembahasan kasus kematian ibu atau bayi baru lahir sejak di level
masyarakat sampai di level fasilitas pelayanan kesehatan. Kendala yang timbul dalam upaya
penyelamatan ibu pada saat terjadi kegawatdaruratan maternal dan bayi baru lahir akan dapat
menghasilkan suatu rekomendasi intervensi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan
kesehatan ibu dan bayi di masa mendatang. Data dan informasi terkait pelayanan/penanganan
komplikasi maternal disajikan pada lampiran 5.10.
5. Pelayanan Kontrasepsi
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi untuk mengurangi
kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T; terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20
tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di
atas usia 35 tahun). Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu cara yang paling efektif
untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta
perempuan. Pelayanan KB menyediakan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi laki-laki dan
perempuan untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak,
berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak.
Baik suami maupun istri memiliki hak yang sama untuk menetapkan berapa jumlah
anak yang akan dimiliki dan kapan akan memiliki anak. Melalui tahapan konseling pelayanan


84 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
KB, pasangan usia subur (PUS) dapat menentukan pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi
dan kebutuhannya berdasarkan informasi yang telah mereka pahami, termasuk keuntungan
dan kerugian, risiko metode kontrasepsi dari petugas kesehatan.
Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan dalam rangka mengatur jumlah kelahiran
atau menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
lebih dititikberatkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada kisaran usia
15-49 tahun.
GAMBAR 5.14
PERSENTASE PEMAKAIAN ALAT/CARA KB PADA WANITA USIA SUBUR (15-49 TAHUN)
YANG BERSTATUS KAWIN DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014
Dari gambar 5.14 dapat kita lihat bahwa sebagian besar WUS saat ini menggunakan
kontrasepsi, yakni sebanyak 59,7%. Dimana sebanyak 59,3% wanita usia subur menggunakan
kontrasepsi modern, dan hanya 0,4% nya yang menggunakan kontrasepsi cara tradisional.
Selain itu, dapat diketahui pula bahwa sebanyak 24,8% dari wanita usia subur mengaku pernah
menggunakan kontrasepsi, meski saat ini tidak sedang menggunakannya. Sedangkan 15,5%
wanita usia subur mengaku tidak pernah menggunakan kontrasepsi.
GAMBAR 5.15
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014


85 Kesehatan Keluarga

Dari gambar 5.15 dapat dilihat bahwa metode kontrasepsi yang paling banyak
digunakan oleh peserta KB aktif adalah suntikan (46,87%) dan terbanyak ke dua adalah pil
(24,54%). Sedangkan metode kontrasepsi yang paling sedikit dipilih oleh peserta KB aktif
adalah Metoda Operasi Pria (MOP), yakni sebanyak 0,69%, kemudian kondom sebanyak 3,22%.
Persentase peserta KB aktif di tiap provinsi selengkapnya dapat dilihat pada gambar 5.16.
GAMBAR 5.16
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014
Gambar 5.16 di atas menunjukkan bahwa provinsi dengan persentase peserta KB aktif
tertinggi ialah Provinsi Aceh (89,9%), kemudian DIY (89,08%), dan Bali (86,16%). Sedangkan
provinsi dengan persentase peserta KB aktif terendah ialah Provinsi Papua Barat (4,80%) dan
Provinsi Papua (16,09%). Secara nasional, persentase peserta KB aktif pada tahun 2013 ialah
sebesar 76,73%.
Sedangkan pada peserta KB baru, persentase metode kontrasepsi yang terbanyak
digunakan adalah suntikan, yakni sebesar 48,56%. Metode terbanyak ke dua adalah pil, sebesar
26,60%. Metode yang paling sedikit dipilih oleh para peserta KB baru adalah metode operasi
pria (MOP) sebanyak 0,25%, kemudian metode operasi wanita (MOW) sebanyak 1,52%, dan
kondom (6,09%). Gambaran mengenai persentase peserta KB baru menurut metode
kontrasepsi tahun 2013 selengkapnya dapat dilihat pada gambar 5.17. Selain itu, persentase
peserta KB baru menurut provinsi tahun 2013 disajikan pada gambar 5.18.








86 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 5.17
PERSENTASE PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI TAHUN 2013

Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014

GAMBAR 5.18
CAKUPAN PESERTA KB BARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014
Dari gambar 5.18 di atas dapat dilihat bahwa provinsi dengan persentase peserta KB
baru tertinggi ialah Provinsi DKI Jakarta (36,35%), kemudian Bengkulu (28,79%), dan Sumatera
Selatan (24,9%). Sedangkan provinsi dengan persentase peserta KB baru terendah ialah
Provinsi Papua (8,85%), Bali (11,21%), dan Papua Barat (11,59%). Secara nasional, persentase
peserta KB baru pada tahun 2013 adalah sebesar 18,49%. Data dan informasi terkait
kontrasepsi selengkapnya disajikan pada lampiran 5.12 5.18.



87 Kesehatan Keluarga

B. KESEHATAN ANAK
Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan
generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka
kematian bayi dan anak. Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih
dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18 (delapan belas) tahun.
Upaya kesehatan anak antara lain diharapkan untuk mampu menurunkan angka
kematian anak. Indikator angka kematian yang berhubungan anak adalah Angka Kematian
Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA).
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka
Kematian Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19 per 1000 kelahiran hidup menurun dari
20 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2007 dan 23 per 1000 kelahiran hidup berdasarkan hasil
SDKI 2002. Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal (0-28 hari) menjadi
penting karena kematian neonatal memberi kontribusi terhadap 56% kematian bayi.
Untuk mencapai target penurunan AKB pada MDG 2015 yaitu sebesar 23 per 1000
kelahiran hidup maka peningkatan akses dan kualitas pelayanan bagi bayi baru lahir (neonatal)
menjadi prioritas utama. Komitmen global dalam MDGs menetapkan target terkait kematian
anak yaitu menurunkan angka kematian anak hingga dua per tiga dalam kurun waktu 1990-
2015.
Data dan informasi yang akan disajikan berikut ini menerangkan berbagai indikator
kesehatan anak yang meliputi prevalensi berat badan lahir rendah (BBLR), penanganan
komplikasi neonatal, kunjungan neonatal, pelayanan kesehatan bayi, inisiasi menyusu dini,
pemberian ASI eksklusif, pemberian vitamin A, penimbangan balita di Posyandu, imunisasi
dasar, pelayanan kesehatan balita, pelayanan kesehatan pada siswa SD/setingkat, pelayanan
kesehatan peduli remaja, pelayanan kesehatan pada kasus kekerasan anak, dan pelayanan
kesehatan anak terlantar dan anak jalanan di panti.
1. Berat Badan Lahir Bayi
Berat bayi lahir adalah berat badan bayi yang di timbang dalam waktu 1 jam pertama
setelah lahir. Hubungan antara waktu kelahiran dengan umur kehamilan, kelahiran bayi dapat
dikelompokan : bayi kurang bulan (prematur), yaitu bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi
(kehamilan) < 37 minggu (<259 hari). Bayi cukup bulan, bayi yang dilahirkan dengan masa
gestasi antara 37-42 minggu (259 - 293 hari); dan bayi lebih bulan, bayi yang dilahirkan dengan
masa gestasi > 42 minggu (>294 hari).
Berkaitan dengan berat badan bayi lahir, bayi dapat dikelompokkan berdasarkan berat
lahirnya:, yaitu bayi berat lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir <2500 gram, bayi berat lahir
sedang, yaitu berat lahir antara 2500-3999 gram, dan berat badan lebih, yaitu berat lahir 4000
gram. Persentase balita (0-59 bulan) menurut berat badan lahir menurut provinsi hasil
Riskesdas tahun 2013 disajikan pada lampiran 5.20.
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram. Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematuritas dengan
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat kurang
dari 2500 gram pada waktu lahir bayi prematur. Persentase berat bayi lahir rendah disajikan
pada gambar 5.15 berikut ini.



88 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

GAMBAR 5.19
PERSENTASE BERAT BAYI LAHIR RENDAH
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013

Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Hasil Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa persentase balita (0-59 bulan) dengan
BBLR sebesar 10,2%. Persentase BBLR tertinggi terdapat di provinsi Sulawesi Tengah (16,8%)
dan terendah di Sumatera Utara (7,2%).
Masalah pada bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) terutama pada prematur terjadi
karena ketidakmatangan sistem organ pada bayi tersebut. Bayi berat lahir rendah mempunyai
kecenderungan ke arah peningkatan terjadinya infeksi dan mudah terserang komplikasi.
Masalah pada BBLR yang sering terjadi adalah gangguan pada sistem pernafasan, susunan saraf
pusat, kardiovaskular, hematologi, gastro intestinal, ginjal, termoregulasi.
2. Penanganan Komplikasi Neonatal
Neonatal dengan komplikasi adalah neonatal dengan penyakit dan atau kelainan yang
dapat menyebabkan kecacatan dan atau kematian, seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus
neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR (berat lahir < 2.500 gram), sindroma gangguan
pernafasan, dan kelainan kongenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning dan merah pada
pemeriksaan dengan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM).
Komplikasi yang menjadi penyebab kematian terbanyak adalah asfiksia, bayi berat lahir
rendah dan infeksi (Riskesdas, 2007). Komplikasi ini sebetulnya dapat dicegah dan ditangani.
Namun terkendala oleh akses ke pelayanan kesehatan, kemampuan tenaga kesehatan, keadaan


89 Kesehatan Keluarga
sosial ekonomi, sistem rujukan yang belum berjalan dengan baik, terlambatnya deteksi dini dan
kesadaran orang tua untuk mencari pertolongan kesehatan.
Penanganan neonatal dengan komplikasi adalah penanganan terhadap neonatal sakit
dan atau neonatal dengan kelainan atau komplikasi/kegawatdaruratan yang mendapat
pelayanan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan atau perawat) terlatih baik di
rumah, sarana pelayanan kesehatan dasar maupun sarana pelayanan kesehatan rujukan.
Pelayanan sesuai standar antara lain sesuai dengan standar MTBM, manajemen Asfiksia Bayi
Baru Lahir, manajemen Bayi Berat Lahir Rendah, pedoman pelayanan neonatal essensial di
tingkat pelayanan kesehatan dasar, PONED, PONEK atau standar operasional pelayanan lainnya.
Pada gambar 5.16 berikut ini disajikan gambaran cakupan penanganan neonatal dengan
komplikasi menurut provinsi tahun 2013.
GAMBAR 5.20
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Capaian penanganan neonatal dengan komplikasi mengalami peningkatan dari tahun
2012 yang sebesar 48,48% menjadi 51,47% pada tahun 2013. Meskipun terjadi peningkatan
capaian, namun masih terdapat disparitas yang cukup besar antar provinsi. Capaian tertinggi
diperoleh Provinsi DI Yogyakarta dengan angka sebesar 90,60% diikuti oleh Jawa Tengah
sebesar 75,36%, dan Bali sebesar 71,27%. Capaian terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara
Timur sebesar 15,34%, diikuti oleh Papua sebesar 15,38%, dan Sumatera Utara sebesar
18,69%.
Informasi lebih rinci menurut provinsi tentang penanganan komplikasi neonatal
terdapat pada lampiran 5.23.
3. Pelayanan Kesehatan Neonatal


90 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan 28 hari, dimana terjadi
perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim menjadi di luar rahim. Pada masa
ini terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan
merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Pada usia
yang rentan ini, berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Tanpa penanganan yang tepat, bisa
berakibat fatal. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada
kelompok ini diantaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai
standar pada kunjungan bayi baru lahir.
Masalah utama penyebab kematian pada bayi dan balita adalah pada masa neonatus
(bayi baru lahir umur 0-28 hari). Menurut hasil Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa 78,5%
dari kematian neonatal terjadi pada umur 0-6 hari. Komplikasi yang menjadi penyebab
kematian terbanyak adalah asfiksia, bayi berat lahir rendah dan infeksi.
Dengan melihat adanya risiko kematian yang tinggi dan berbagai serangan komplikasi
pada minggu pertama, maka setiap bayi baru lahir harus mendapatkan pemeriksaan sesuai
standar lebih sering (minimal 2 kali) dalam minggu pertama. Langkah ini dilakukan untuk
menemukan secara dini jika terdapat penyakit atau tanda bahaya pada neonatus sehingga
pertolongan dapat segera diberikan untuk mencegah penyakit bertambah berat yang dapat
menyebabkan kematian. Kunjungan neonatus merupakan salah satu intervensi untuk
menurunkan kematian bayi baru lahir.
Terkait hal tersebut, pada tahun 2008 ditetapkan perubahan kebijakan dalam
pelaksanaan kunjungan neonatal, dari 2 kali yaitu satu kali pada minggu pertama dan satu kali
pada 8-28 hari, menjadi 3 kali yaitu dua kali pada minggu pertama dan satu kali pada 8 28
hari. Dengan demikian, jadwal kunjungan neonatal yang dilaksanakan saat ini adalah pada umur
6-48 jam, umur 3-7 hari dan umur 8-28 hari. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen
program Kesehatan Ibu Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan neonatal yang
komprehensif.
Kunjungan neonatal pertama (KN1) adalah cakupan pelayanan kesehatan bayi baru
lahir (umur 6 jam - 48 jam) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani
sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih di seluruh sarana pelayanan kesehatan. Pelayanan
yang diberikan saat kunjungan neonatal adalah pemeriksaan sesuai standar Manajemen
Terpadu Bayi Muda (MTBM) dan konseling perawatan bayi baru lahir termasuk ASI eksklusif
dan perawatan tali pusat. Pada kunjungan neonatal pertama (KN1), bayi baru lahir
mendapatkan vitamin K1 injeksi dan imunisasi hepatitis B0 bila belum diberikan pada saat
lahir. Cakupan indikator kunjungan neonatal pertama menurut provinsi, digambarkan pada
gambar 5.17.
Selain KN1, indikator yang menggambarkan pelayanan kesehatan bagi neonatal adalah
KN lengkap yang mengharuskan agar setiap bayi baru lahir memperoleh pelayanan Kunjungan
Neonatal minimal 3 kali, yaitu 1 kali pada 6-48 jam, 1 kali pada 3-7 hari, 1 kali pada 8-28 hari
sesuai standar di satu wilayah kerja pada satu tahun







91 Kesehatan Keluarga
GAMBAR 5.21
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA (KN1)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Capaian KN lengkap di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 87,23%. Capaian ini telah
memenuhi target program tahun 2013 sebesar 84%. Terdapat 27 provinsi telah memenuhi
target tersebut. Gambaran cakupan kunjungan KN lengkap menurut provinsi di Indonesia
terdapat pada gambar 5.18 berikut ini.
GAMBAR 5.22
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014


92 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Pada gambar di atas terlihat bahwa pencapaian indikator KN lengkap cukup baik di
Indonesia yang dapat dilihat dari capaian yang cukup tinggi di sebagian besar provinsi.
Terdapat 26 provinsi telah mencapai Renstra 2013, yaitu 84%, dimana capaian tertinggi
terdapat di Provinsi Jawa Tengah sebesar 95,41%, diikuti oleh Kepulauan Bangka Belitung
sebesar 94,47%, dan DI Yogyakarta sebesar 94,33%. Sedangkan provinsi dengan capaian
terendah adalah Papua sebesar 25,41%, diikuti oleh Papua Barat sebesar 51,79%, dan Sumatera
Utara sebesar 68,22%.
Capaian KN lengkap secara nasional mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012,
yaitu dari 87,79% menjadi 87,23% pada tahun 2013. Gambar berikut ini menampilkan cakupan
KN lengkap dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013. Pada tahun 2008, mulai ditetapkan
kebijakan KN lengkap yang mensyaratkan 3 kali kunjungan.
GAMBAR 5.23
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP
DI INDONESIA TAHUN 2009-2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Cakupan KN lengkap nampak mengalami sedikit penurunan dari 78,04% pada tahun
2009 menjadi 71,5% pada tahun 2010. Cakupan ini kembali meningkat menjadi 84,14% pada
tahun 2011. Kemudian cakupan KN lengkap menunjukkan kecenderungan peningkatan seiring
dengan pemberlakuannya kebijakan KN lengkap tahun 2008 yang mensyaratkan 3 kali
kunjungan diimplementasikan.
Informasi lebih lanjut mengenai kunjungan neonatal dapat dilihat pada lampiran 5.22.
4. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi
Bayi juga merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan
maupun serangan penyakit. Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan
kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Pelayanan kesehatan bayi termasuk salah satu
dari beberapa indikator yang bisa menjadi ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan
bayi dan balita. Pelayanan kesehatan pada bayi ditujukan pada bayi usia 29 hari sampai dengan
11 bulan dengan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi klinis kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) minimal 4
kali, yaitu pada 29 hari 2 bulan, 3 5 bulan, 6 8 bulan dan 9 12 bulan sesuai standar di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.


93 Kesehatan Keluarga
Pelayanan ini terdiri dari penimbangan berat badan, pemberian imunisasi dasar (BCG,
DPT/ HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang
(SDIDTK) bayi, pemberian vitamin A pada bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi
serta penyuluhan ASI Eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) dan lain-lain.
Cakupan pelayanan kesehatan bayi dapat menggambarkan upaya pemerintah dalam
meningkatan akses bayi untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini
mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit
serta peningkatan kualitas hidup bayi.
Gambaran capaian indikator ini di 33 provinsi menunjukkan bahwa sebagian besar
provinsi telah memenuhi target Renstra tahun 2013 seperti yang disajikan pada gambar berikut
ini.
GAMBAR 5.24
CAKUPAN KUNJUNGAN BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar 5.20 di atas dapat dilihat bahwa terdapat 18 provinsi (54,5%) dengan
capaian melebihi 87%. Provinsi DKI Jakarta memiliki capaian tertinggi sebesar 97,29% diikuti
oleh Bali sebesar 96,39% dan Jawa Timur sebesar 95,76%. Provinsi Kepulauan Riau memiliki
capaian terendah sebesar 31,72% diikuti oleh Papua sebesar 35,12%, dan Papua Barat sebesar
56,39%. Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait pelayanan kesehatan pada bayi tahun
2013 terdapat pada lampiran 5.27.
5. Proses Bayi Mulai Mendapat Air Susu Ibu
Kategori proses bayi mulai mendapat air susu ibu (ASI) menurut Riskesdas 2013 adalah
kurang dari 1 jam (inisiasi menyusu dini/IMD), antara 1 sampai 6 jam, 7 sampai 23 jam, 24
sampai 47 jam dan sama dengan atau lebih dari 47 jam.


94 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Dua puluh empat jam pertama setelah ibu melahirkan adalah saat yang sangat penting
untuk keberhasilan menyusui selanjutnya. Pada jam-jam pertama setelah melahirkan
dikeluarkan hormon oksitosin yang bertanggung jawab terhadap produksi ASI.
Waktu pertama kali mendapatkan ASI segera setelah lahir secara bermakna
meningkatkan kesempatan hidup bayi. Jika bayi mulai menyusui dalam waktu 1 jam setelah
lahir, 22 % bayi yang meninggal dalam 28 hari pertama (setara dengan sekitar satu juta bayi
baru lahir setiap tahun di dunia) sebenarnya dapat dicegah. Jika proses menyusui ini dimulai
dalam satu hari pertama, maka hanya 16 % bayi yang dapat diselamatkan.
Inisiasi menyusu dini adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, dimana
bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu).
Menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif baik bagi ibu maupun bayinya.,
bagi bayi kehangatan saat menyusu menurunkan risiko kematian karena hypothermia
(kedinginan). Selain itu juga, bayi memperoleh bakteri tak berbahaya dari ibu, menjadikannya
lebih kebal dari bakteri lain di lingkungan. Dengan kontak pertama, bayi memperoleh
kolostrum, yang penting untuk kelangsungan hidupnya, dan bayi memperoleh ASI (makanan
awal) yang tidak mengganggu pertumbuhan, fungsi usus, dan alergi sehingga bayi akan lebih
berhasil menyusu ASI eksklusif dan mempertahankan menyusui. Sedangkan manfaat bagi ibu
adalah menyusui dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas karena proses menyusui akan
merangsang kontraksi uterus sehingga mengurangi perdarahan pasca melahirkan (postpartum).
Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef yang merekomendasikan
inisiasi menyusu dini sebagai tindakan penyelamatan kehidupan, karena inisiasi menyusu dini
dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan. Maka diharapkan
semua tenaga kesehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan dapat mensosialisasikan
program tersebut.
Hasil Riskesdas 2013 menyatakan bahwa persentase proses mulai mendapat ASI kurang
dari satu jam (inisiasi menyusu dini) pada anak umur 0-23 bulan di Indonesia pada tahun 2013
sebesar 34,5%. Persentase proses mulai mendapat ASI antara 1 6 jam sebesar 35,2%,
persentase proses mulai mendapat ASI antara 7 23 jam sebesar 3,7%, sedangkan persentase
proses mulai mendapat ASI antara 24 47 jam sebesar 13,0% dan persentase proses mulai
mendapat ASI lebih dari 47 jam sebesar 13,7%.
Persentase proses mulai mendapat ASI kurang dari satu jam (inisiasi menyusu dini)
tertinggi terdapat di Nusa Tenggara Barat sebesar 52,9% diikuti oleh Sulawesi Selatan sebesar
44,9%, dan Sumatera Barat sebesar 44,2%. Sedangkan persentase inisiasi menyusu dini
terendah terdapat di provinsi Papua Barat sebesar 21,7%, diikuti oleh provinsi Riau sebesar
22,1%, dan Kepulauan Riau sebesar 22,7%. Gambaran proses mulai mendapat ASI kurang dari
satu jam (inisiasi menyusu dini) menurut provinsi disajikan pada gambar 5.25.










95 Kesehatan Keluarga
GAMBAR 5.25
PERSENTASE BAYI MULAI MENDAPAT ASI KURANG DARI 1 JAM PERTAMA
(INISIASI MENYUSU DINI) PADA ANAK UMUR 0-23 BULAN
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS TAHUN 2013

Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Data dan Informasi mengenai persentase proses mulai mendapat ASI pada anak umur 0-
23 bulan pada tahun 2013 terdapat pada lampiran 5.21.
6. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif
Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai umur
24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai
dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi yang mengandung sel darah putih, protein
dan zat kekebalan yang cocok untuk bayi. ASI membantu pertumbuhan dan perkembangan anak
secara optimal serta melindungi terhadap penyakit.
Persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2013
sebesar 54,3%, sedikit meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar 48,6%.
Persentase pemberian ASI eksklusif tertinggi terdapat di Nusa Tenggara Barat sebesar 79,74%,
diikuti oleh Sumatera Selatan sebesar 74,49%, dan Nusa Tenggara Timur sebesar 74,37%.
Sedangkan persentase pemberian ASI eksklusif terendah terdapat di Provinsi Maluku sebesar


96 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
25,21%, diikuti oleh Jawa Barat sebesar 33,65% dan Sulawesi Utara sebesar 34,67%. Gambaran
pemberian ASI eksklusif menurut provinsi disajikan pada gambar berikut ini.
GAMBAR 5.26
CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Ditjen Gizi dan KIA Kemenkes RI, 2014
Permasalahan terkait pencapaian cakupan ASI Eksklusif antara lain :
a) Pemasaran susu formula masih gencar dilakukan untuk bayi 0-6 bulan yg tidak ada
masalah medis
b) Masih banyaknya perusahaan yang mempekerjakan perempuan tidak memberi
kesempatan bagi ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan untuk melaksanakan pemberian
ASI secara eksklusif. Hal ini terbukti dengan belum tersedianya ruang laktasi dan
perangkat pendukungnya
c) Masih banyak tenaga kesehatan ditingkat layanan yang belum peduli atau belum
berpihak pada pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif, yaitu masih
mendorong untuk memberi susu formula pada bayi 0-6 bulan.
d) Masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI
e) Belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI, dan belum semua rumah sakit melaksanakan 10 Langkah Menuju
Keberhasilan Menyusui (LMKM).
Upaya yang dilakukan dalam memecahkan masalah tersebut yaitu:
a) Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian
ASI Eksklusif
b) Melakukan pelatihan konseling menyusui dan konseling Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI). Sampai tahun 2012 telah dilakukan pelatihan konseling menyusui kepada
3.929 orang dan MP-ASI sebanyak 416 orang.


97 Kesehatan Keluarga
c) Melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM), yaitu:
1) Membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada
semua staf pelayanan kesehatan ;
2) Melatih semua staf pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan
menyusui tersebut;
3) Menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen
menyusui;
4) Membantu ibu menyusui dini dalam 30 menit pertama persalinan;
5) Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu
dipisah dari bayinya;
6) Memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis;
7) Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam);
8) Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi;
9) Tidak memberi dot kepada bayi;
10) Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu
kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan;
d) Sosialisasi dan kampanye ASI Eksklusif
e) KIE melalui media cetak dan elektronik
f) Mengembangkan Strategi Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif
g) Menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap perilaku menyusui melalui
peraturan perundang-undangan dan kebijakan atau PP
h) Penguatan sarana pelayanan kesehatan (RS/RSIA, Puskesmas perawatan, klinik
bersalin) dalam menerapkan 10 LMKM
i) Peningkatan komitmen dan kapasitas stakeholder dalam meningkatan, melindungi,
dan mendukung pemberian ASI
j) Pemberdayaan ibu, keluarga, dan masyarakat dalam praktek pemberian ASI
k) Menjamin terlaksananya strategi pemberian ASI
l) Pengembangan peraturan perundangan-undangan dan kebijakan atau PP
m) Pelaksanaan revitalisasi RS dan sarana pelayanan kesehatan sayang bayi
n) Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan
o) Pemberdayaan ibu, bapak, dan keluarga, serta masyarakat
p) Perlindungan pekerja perempuan
q) Bekerjasama dengan lintas sektor terkait dalam pengawasan pemasaran susu
formula dan produk makanan bayi sesuai standar produk makanan (codex
alimentarius)
r) Advokasi dan promosi peningkatan pemberian ASI
Data dan informasi mengenai pemberian ASI Eksklusif pada tahun 2013 terdapat pada
lampiran 5.33.
7. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 6 59 Bulan
Sampai dengan usia enam bulan, ASI merupakan sumber utama vitamin A jika ibu
memiliki vitamin A yang cukup berasal dari makanan atau suplemen. Anak yang berusia enam
bulan sampai lima tahun dapat memperoleh vitamin A dari berbagai makanan seperti hati, telur,
ikan, minyak sawit merah, mangga dan papaya, jeruk, ubi, sayur daun berwarna hijau dan
wortel.
Anak memerlukan vitamin A untuk membantu melawan penyakit, melindungi
penglihatan mereka, serta mengurangi risiko meninggal. Anak yang kekurangan vitamin A
kurang mampu melawan berbagai potensi penyakit yang fatal dan berisiko rabun senja. Oleh
karena itu dilakukan pemberian kapsul vitamin A dalam rangka mencegah dan menurunkan


98 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
prevalensi kekurangan vitamin A (KVA) pada balita. Cakupan yang tinggi dari pemberian kapsul
vitamin A dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi masalah KVA pada masyarakat.
Di beberapa negara dimana kekurangan vitamin A telah terjadi secara luas, dan anak
sering meninggal karena diare, dan campak, vitamin A dalam bentuk kapsul dosis tinggi
dibagikan dua kali dalam setahun kepada anak usia enam bulan hingga lima tahun. Diare dan
campak dapat menguras vitamin A dari tubuh anak. Anak yang menderita diare atau campak,
atau menderita kurang gizi harus diobati dengan suplemen vitamin A dosis tinggi yang bisa
diperoleh dari petugas kesehatan terlatih.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis bukan lagi masalah kesehatan masyarakat
(prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada 10 provinsi
tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0,13%, sedangkan hasil survey
vitamin A pada tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian KVA subklinis, yaitu tingkat yang belum menampakkan gejala nyata,
masih ada pada kelompok balita. KVA tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan
memeriksa kadar vitamin A dalam darah di laboratorium. Selain itu, sebaran cakupan
pemberian vitamin A pada balita menurut provinsi masih ada yang dibawah 75%. Dengan
demikian kegiatan pemberian vitamin A pada balita masih perlu dilanjutkan, karena bukan
hanya untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, namun lebih penting lagi, vitamin A
meningkatkan kelangsungan hidup, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Pemberian kapsul vitamin A dilakukan terhadap bayi (6-11 bulan) dengan dosis
100.000 SI, anak balita (12-59 bulan) dengan dosis 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul
vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI.
Pemberian Kapsul Vitamin A diberikan secara serentak setiap bulan Februari dan Agustus pada
balita usia 6-59 bulan.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita usia 6-59 bulan di Indonesia tahun
2013 mencapai 83,9%. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang sebesar
82,8%. Dengan peningkatan yang tidak terlalu tinggi, maka masih diperlukan upaya untuk
meningkatkan cakupan pemberian kapsul vitamin A. Upaya tersebut antara lain melalui
peningkatan integrasi pelayanan kesehatan anak, sweeping pada daerah yang cakupannya
masih rendah dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Provinsi dengan cakupan pemberian vitamin A tertinggi pada tahun 2013 adalah DI
Yogyakarta sebesar 98,88%, diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 98,61% dan Bali sebesar 96,79%.
Sedangkan cakupan terendah terdapat di Provinsi Papua sebesar 45,92%, diikuti oleh Papua
Barat sebesar 50,70% dan Maluku sebesar 62,91%. Cakupan pemberian kapsul vitamin A
menurut provinsi ditampilkan pada gambar 5.27.












99 Kesehatan Keluarga
GAMBAR 5.27
CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA (6-59 BULAN)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Data dan informasi tentang pemberian vitamin A pada balita yang dirinci menurut
provinsi pada tahun 2013 dapat dilihat pada lampiran 5.31.
Menurut data Riskesdas 2013, persentase anak umur 6-59 bulan yang menerima kapsul
vitamin A selama enam bulan terakhir tahun 2013 di Indonesia tahun 2013 mencapai 75,5%.
Provinsi dengan cakupan pemberian vitamin A tertinggi berdasarkan Riskesdas 2013
adalah Nusa Tenggara Barat sebesar 89,20%, diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 84,40% dan
Jawa Tengah sebesar 84,00%. Sedangkan cakupan terendah terdapat di Provinsi Sumatera
Utara sebesar 52,30%, diikuti oleh Papua sebesar 53,10% dan Sulawesi Barat sebesar 59,60%.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut provinsi dari hasil Riskesdas tahun 2013
ditampilkan pada gambar berikut ini.











100 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 5.28
PERSENTASE PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA ANAK UMUR (6-59 BULAN)
SELAMA ENAM BULAN TERAKHIR
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS TAHUN 2013

Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Data dan informasi tentang pemberian vitamin A pada balita selama enam bulan
terakhir yang dirinci menurut provinsi pada tahun 2013 dari hasil Riskesdas dapat dilihat pada
lampiran 5.32.
8. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S)
Sejak lahir sampai dengan usia lima tahun, anak seharusnya ditimbang secara teratur
untuk mengetahui pertumbuhannya. Cara ini dapat membantu untuk mengetahui lebih awal
tentang gangguan pertumbuhan, sehingga segera dapat diambil tindakan tepat secepat
mungkin.
Hasil penimbangan, dapat mengetahui apakah seorang anak terlalu cepat bertambah
berat badannya dibandingkan usianya atau tidak bertambah berat badannya. Untuk itu
memerlukan pemeriksaan berat badan anak lebih lanjut terkait dengan tinggi badannya, yang
dapat menentukan apakah seorang anak mempunyai berat badan berlebih/kurang.
Kegiatan penimbangan balita di Posyandu (D/S) menjadi salah satu indikator yang
ditetapkan pada Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Indikator ini berkaitan
dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya
imunisasi serta penanganan prevalensi gizi kurang pada balita. Dengan cakupan D/S yang
tinggi, diharapkan semakin tinggi pula cakupan vitamin A, cakupan imunisasi dan semakin
rendah prevalensi gizi kurang.


101 Kesehatan Keluarga
Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) di Indonesia pada tahun 2013 sebesar
80,30%. Cakupan ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 75,1%. Capaian pada
tahun 2013 telah memenuhi target Renstra 2013 sebesar 80%. Pada tingkat provinsi terdapat
18 provinsi dengan capaian melebihi target 80% seperti yang ditampilkan pada gambar berikut.
GAMBAR 5.29
CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA (D/S)
DI INDONESIATAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar diatas diketahui bahwa provinsi yang memiliki capaian tertinggi adalah
Jawa tengah sebesar 89,43%, diikuti oleh Gorontalo sebesar 88,42%, dan Jawa Timur sebesar
88,36%. Sedangkan capaian terendah terdapat di Provinsi Papua sebesar 38,85%, diikuti oleh
DKI Jakarta sebesar 54,37% dan Papua Barat sebesar 56,50%.
Setiap anak harus memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) yang terdapat dalam buku KIA
agar dapat dipantau pertumbuhannya. Dengan KMS terlihat apakah anak tumbuh dengan baik
sesuai usianya. KMS diberikan pada orang tua pada saat kunjungan balita ke Posyandu. Maka
kunjungan balita ke Posyandu sangat berkaitan dengan indikator D/S.
Namun demikian terdapat beberapa kendala yang dihadapi terkait dengan kunjungan
balita ke posyandu. Permasalahan tersebut antara lain : dana operasional dan sarana prasarana
untuk menggerakkan kegiatan Posyandu, tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas
dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling, tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat
terhadap manfaat Posyandu, serta pelaksanaan pembinaan kader. Data dan informasi tentang
penimbangan balita di posyandu pada tahun 2013 terdapat pada lampiran 5.34.


102 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
9. Imunisasi
Setiap tahun lebih 1,4 juta anak di dunia meninggal karena berbagai penyakit yang
sesungguhnya dapat dicegah dengan imunisasi. Beberapa penyakit menular yang termasuk ke
dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) antara lain : Difteri, Tetanus,
Hepatitis B, radang selaput otak, radang paru-paru, pertusis, dan polio. Anak yang telah diberi
imunisasi akan terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya tersebut, yang dapat
menimbulkan kecacatan atau kematian.
Proses perjalanan penyakit diawali ketika virus/ bakteri/ protozoa/ jamur, masuk ke
dalam tubuh. Setiap makhluk hidup yang masuk ke dalam tubuh manusia akan dianggap benda
asing oleh tubuh atau yang disebut dengan antigen. Secara alamiah sistem kekebalan tubuh
akan membentuk zat anti yang disebut antibodi untuk melumpuhkan antigen. Pada saat
pertama kali antibodi berinteraksi dengan antigen, respon yang diberikan tidak terlalu kuat.
Hal ini disebabkan antibodi belum mengenali antigen. Pada interaksi antibodi-antigen yang
ke-2 dan seterusnya, sistem kekebalan tubuh sudah memiliki memori untuk mengenali
antigen yang masuk ke dalam tubuh, sehingga antibodi yang terbentuk lebih banyak dan dalam
waktu yang lebih cepat.
Proses pembentukan antibodi untuk melawan antigen secara alamiah disebut imunisasi
alamiah. Sedangkan program imunisasi melalui pemberian vaksin adalah upaya stimulasi
terhadap sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi dalam upaya melawan penyakit
dengan melumpuhkan antigen yang telah dilemahkan yang berasal dari vaksin. Imunisasi
adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan
sakit atau hanya sakit ringan.
Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap
penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasi yang dianggap rentan
terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita usia subur, dan ibu hamil.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Imunisasi melindungi anak terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi (PD3I). Seorang anak diimunisasi dengan vaksin yang disuntikkan atau diteteskan
melalui mulut. Pada beberapa negara hepatitis masih menjadi masalah. Sepuluh dari 100 orang
akan menderita hepatitis sepanjang hidupnya jika tidak diberi vaksin hepatitis B. Sampai
dengan seperempat dari jumlah anak yang menderita hepatitis B dapat berkembang menjadi
kondisi penyakit hati yang serius, seperti kanker hati. Disamping itu wajib diberikan imunisasi
hepatitis B segera setelah bayi lahir untuk mencegah penularan virus hepatitis dari ibu kepada
anaknya.
Imunisasi BCG dapat melindungi anak dari penyakit tuberculosis. Imunisasi DPT dapat
mencegah penyakit diptheri, pertusis dan tetanus. Diptheri menyebabkan infeksi saluran
pernafasan atas, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kesulitan bernafas bahkan
kematian. Tetanus menyebabkan kekakuan otot dan kekejangan otot yang menyakitkan dan
dapat mengakibatkan kematian. Pertusis atau batuk rejan mempengaruhi saluran pernafasan
dana dapat menyebabkan batuk hingga delapan minggu.
Semua anak perlu mendapatkan imunisasi polio. Tanda-tanda polio adalah tungkai tiba-
tiba lumpuh dan sulit untuk bergerak. Dari 200 anak yang terinfeksi polio, maka satu orang
akan menjadi cacat sepanjang hidupnya.


103 Kesehatan Keluarga
Sebagai salah satu kelompok yang menjadi sasaran program imunisasi, setiap bayi wajib
mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap (LIL) yang terdiri dari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4
dosis polio, 3 dosis hepatitis B, dan 1 dosis campak. Dari kelima imunisasi dasar lengkap yang
diwajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat perhatian lebih yang
dibuktikan dengan komitmen Indonesia pada lingkup ASEAN dan SEARO untuk
mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. Hal ini terkait dengan realita bahwa
campak adalah salah satu penyebab utama kematian pada balita. Dengan demikian pencegahan
campak memiliki peran signifikan dalam penurunan angka kematian balita.
Indonesia memiliki cakupan imunisasi campak pada tahun 2013 sebesar 97,85%.
Capaian tersebut telah memenuhi target 90% yang menjadi komitmen Indonesia pada lingkup
regional. Cakupan pada tahun 2013 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012 yang
sebesar 99,3%. Pada tingkat provinsi, terdapat 21 provinsi yang telah berhasil mencapai target
90% seperti yang disajikan pada gambar 5.25 berikut.
GAMBAR 5.30
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa Provinsi Jawa Barat memiliki capaian
tertinggi sebesar 109,37% diikuti oleh Nusa Tenggara Barat sebesar 107,9% dan Jambi sebesar
104,86%. Sedangkan provinsi dengan cakupan terendah adalah Papua sebesar 66,93%, diikuti
oleh Papua Barat sebesar 76,59% dan Nusa Tenggara Timur sebesar 80,69%.
Sedangkan berdasarkan laporan Riskesdas 2013, persentase imunisasi campak secara
pada anak 12 23 bulan secara nasional sebesar 82,1%. Capaian tersebut belum memenuhi
target 90% yang menjadi komitmen Indonesia pada lingkup regional. Menurut Riskesdas 2013,


104 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
pada tingkat provinsi, hanya 8 provinsi yang telah berhasil mencapai target 90% seperti yang
disajikan pada gambar 5.26 berikut.
GAMBAR 5.31
CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK
PADA ANAK UMUR 12-23 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2014
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa yang memiliki capaian tertinggi adalah
Provinsi DI Yogyakarta sebesar 98,1% diikuti oleh Gorontalo sebesar 94,9% dan Sulawesi Utara
sebesar 94,4%%. Sedangkan provinsi dengan cakupan terendah adalah Papua sebesar 56,8%,
diikuti oleh Aceh sebesar 62,4% dan Banten sebesar 66,7%.
Program imunisasi pada bayi mengharapkan agar setiap bayi mendapatkan kelima jenis
imunisasi dasar lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan 5 jenis imunisasi dasar
tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap. Capaian indikator ini di Indonesia
pada tahun 2013 sebesar 90,00%. Angka ini telah memenuhi target Renstra pada tahun 2013
yang sebesar 88%. Dengan demikian terdapat 15 provinsi (45,45%) yang telah memenuhi
target Renstra tahun 2013.








105 Kesehatan Keluarga
GAMBAR 5.32
CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Tiga provinsi dengan capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi yang tertinggi pada
tahun 2013 adalah di Provinsi Jawa Tengah sebesar 100,73% diikuti oleh Nusa Tenggara Barat
sebesar 99,47%, dan Jawa Timur sebesar 99,31%. Sedangkan tiga provinsi dengan capaian
terendah adalah Papua sebesar 66,57%, diikuti oleh Papua Barat sebesar 67,66%, dan Sulawesi
Tenggara sebesar 69,90%. Data dan informasi terkait imunisasi dasar pada bayi yang dirinci
menurut provinsi tahun 2013 terdapat pada lampiran 5.24.
b. Universal Child Immunization
Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah
Universal Child Immunization atau yang biasa disingkat UCI. UCI adalah gambaran suatu
desa/kelurahan dimana 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan
tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Target UCI pada Renstra tahun 2013 adalah
sebesar 95%. Pada tahun 2013 terdapat 9 provinsi yang memiliki persentase desa UCI melebihi
target 95% seperti yang nampak pada gambar berikut ini.








106 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 5.33
CAKUPAN DESA/KELURAHAN UCI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Pada Gambar 5.14 dapat diketahui bahwa terdapat tiga provinsi memiliki capaian
tertinggi sebesar 100%, yaitu DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Jambi. Kemudian diikuti oleh
Lampung sebesar 99,27%. Sedangkan Provinsi Papua memiliki capaian terendah sebesar
13,05%, diikuti oleh Papua Barat sebesar 41,21%, dan Sulawesi Tenggara sebesar 56,50%.
Informasi terkait capaian desa UCI pada tahun 2011 - 2013 menurut provinsi terdapat pada
lampiran 5.29.
Imunisasi dasar pada bayi seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan umurnya.
Pada kondisi ini, diharapkan sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara optimal. Namun
demikian, pada kondisi tertentu beberapa bayi tidak mendapatkan imunisasi dasar secara
lengkap. Kelompok inilah yang disebut dengan drop out (DO) imunisasi. Bayi yang
mendapatkan imunisasi DPT/HB1 pada awal pemberian imunisasi, namun tidak mendapatkan
imunisasi campak, disebut Drop Out Rate DPT/HB1- Campak. Indikator ini diperoleh dengan
menghitung selisih penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi
DPT/HB1.
Drop Out Rate imunisasi DPT/HB1-Campak pada tahun 2013 sebesar 3,3%. Angka ini
lebih rendah dibandingkan tahun 2011 sebesar 3,6%. DO Rate DPT/HB1-Campak menunjukkan
kecenderungan penurunan sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2013 yang artinya semakin
sedikit bayi yang tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Kecenderungan
penurunan tersebut dijelaskan pada gambar berikut.




107 Kesehatan Keluarga
GAMBAR 5.34
ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT/HB1 - CAMPAK PADA BAYI
DI INDONESIA TAHUN 2007-2013

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
DO rate DPT/HB1-campak diharapkan agar tidak melebihi 5%. Batas maksimal tersebut
telah berhasil dipenuhi sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Pada tahun 2013 terdapat
19 provinsi dengan DO rate 5%. Data dan informasi lebih rinci mengenai drop out rate
cakupan imunisasi pada tahun 2013 DPT/HB1-campak tahun 2013 terdapat pada lampiran
5.26.
10. Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Kehidupan anak, usia dibawah lima tahun merupakan bagian yang sangat penting. Usia
tersebut merupakan landasan yang membentuk masa depan kesehatan, kebahagiaan,
pertumbuhan, perkembangan, dan hasil pembelajaran anak di sekolah, keluarga, masyarakat
dan kehidupan secara umum.
Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu
dalam kondisi optimal. Untuk itu dipakai indikator-indikator yang bisa menjadi ukuran
keberhasilan upaya peningkatan kesehatan bayi dan balita, salah satu diantaranya adalah
pelayanan kesehatan anak balita. Adapun batasan anak balita adalah setiap anak yang berada
pada kisaran umur 12 sampai dengan 59 bulan.
Pelayanan kesehatan pada anak balita dilakukan oleh tenaga kesehatan dan
memperoleh :
1. Pelayanan Pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun (Penimbangan berat
badan dan pengukuran tinggi badan minimal 8 kali dalam setahun).
2. Pemberian vitamin A dua kali dalam setahun yakni setiap bulan Februari dan
Agustus
3. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang balita minimal 2 kali dalam
setahun.
4. Pelayanan Anak Balita Sakit sesuai standar menggunakan Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS).
Capaian Indikator pelayanan kesehatan anak balita pada tahun 2013 sebesar 70,12%
dan itu berarti belum memenuhi target Renstra pada tahun 2013 yang sebesar 83%. Capaian


108 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
indikator ini juga mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 73,52%.
Capaian indikator menurut provinsi juga menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi di
Indonesia memiliki capaian di bawah 83% seperti yang terlihat pada gambar berikut.
GAMBAR 5.35
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Penurunan terjadi dari kondisi pada tahun 2012 dimana terdapat 7 provinsi yang
memiliki capaian kurang dari target 81%, pada tahun 2013 tampak hanya 4 provinsi yang
memiliki capaian melebihi target 83%, yaitu DKI Jakarta, Bali, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah,
seperti yang tampak pada gambar 5.2.9 diatas. DKI Jakarta memiliki capaian tertinggi yaitu
sebesar 93,80%, diikuti oleh Bali sebesar 87,98%, dan DI Yogyakarta sebesar 85,46%.
Sedangkan provinsi dengan capaian terendah adalah Papua sebesar 8,43%, diikuti oleh
Kepulauan Riau sebesar 25,23%, dan Sulawesi Tengah sebesar 38,60%. Data dan informasi
menurut provinsi terkait upaya pelayanan kesehatan anak balita disajikan pada lampiran 5.27
11. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan Setingkat
Mulai masuk sekolah merupakan hal penting bagi tahap perkembangan anak. Banyak
masalah kesehatan terjadi pada anak usia sekolah, seperti misalnya pelaksanaan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar, mencuci tangan
menggunakan sabun, karies gigi, kecacingan, kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan
masalah gizi. Pelayanan kesehatan pada anak termasuk pula intervensi pada anak usia sekolah.
Anak usia sekolah merupakan sasaran yang strategis untuk pelaksanaan program
kesehatan, karena selain jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan sasaran yang mudah
dijangkau karena terorganisir dengan baik. Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini diutamakan
untuk siswa SD/sederajat kelas 1. Pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan
bersama tenaga lainnya yang terlatih (guru UKS/UKSG dan dokter kecil). Tenaga kesehatan


109 Kesehatan Keluarga
disini adalah tenaga medis, tenaga keperawatan atau petugas puskesmas lainnya yang telah
dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS/UKGS. Guru UKS/UKGS adalah guru kelas atau guru yang
ditunjuk sebagai pembina UKS/UKGS di sekolah dan telah dilatih tentang UKS/UKGS. Dokter
kecil adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal dari murid kelas 4 dan 5 SD dan
setingkat yang telah mendapatkan pelatihan dokter kecil.
Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran tentang kebersihan dan kesehatan gigi bisa
dilaksanakan sedini mungkin. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan siswa
tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada khususnya dan kesehatan tubuh
serta lingkungan pada umumnya.
Upaya kesehatan pada kelompok ini yang dilakukan melalui penjaringan kesehatan
terhadap murid SD/MI kelas 1 juga menjadi salah satu indikator yang dievaluasi
keberhasilannya melalui Renstra Kementerian Kesehatan. Kegiatan penjaringan kesehatan
selain untuk mengetahui secara dini masalah-masalah kesehatan anak sekolah sehingga dapat
dilakukan tindakan secepatnya untuk mencegah keadaan yang lebih buruk, juga untuk
memperoleh data atau informasi dalam menilai perkembangan kesehatan anak sekolah,
maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun perencanaan, pemantauan dan
evaluasi kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Kegiatan penjaringan kesehatan ini terdiri dari :
1. Pemeriksaan kebersihan perorangan (rambut, kulit dan kuku)
2. Pemeriksaan status gizi melalui pengukuran antropometri
3. Pemeriksaan ketajaman indera (penglihatan dan pendengaran)
4. Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut
5. Pemeriksaan laboratorium untuk anemia dan kecacingan
6. Pengukuran kebugaran jasmani
7. Deteksi dini masalah mental emosional.
Penjaringan kesehatan dinilai dengan menghitung persentase SD/MI yang melakukan
penjaringan kesehatan terhadap seluruh SD/MI yang menjadi sasaran penjaringan. Cakupan SD
atau sederajat yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk siswa kelas 1 pada tahun 2013
di Indonesia yang sebesar 73,91% mengalami penurunan dibandingkan cakupan tahun 2012
yang sebesar 83,95%. Selain terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, capaian
tersebut juga belum memenuhi target Renstra 2013 yang sebesar 94%.














110 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 5.36
CAKUPAN SEKOLAH DASAR/SETINGKAT YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN
SISWA SD/SETINGKAT KELAS 1 MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Dari gambar 5.30 diketahui bahwa sebagian besar provinsi belum memenuhi target
94%, hanya 6 provinsi yang telah mencapai target Renstra 2013 yaitu Bali, DI Yogyakarta,
Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Sumatera Barat, dan Riau. Ada dua provinsi dengan
capaian 100%, yakni provinsi Bali dan DI Yogyakarta. Kemudian diikuti oleh Kepulauan Bangka
Belitung sebesar 99,63%, DKI Jakarta sebesar 99,07%, Sumatera Barat sebesar 96,83%, dan
Riau sebesar 94,98%. Sedangkan capaian terendah terdapat di Provinsi Maluku sebesar
13,69%, diikuti oleh Nusa Tenggara Timur sebesar 17,81%, dan Papua sebesar 17,85%.
Sedikitnya jumlah provinsi yang telah memenuhi target Renstra Kemenkes berarti sulit
terpenuhinya target penjaringan SD/MI. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa masalah.
Masalah utama yang sering ditemukan di daerah adalah kurangnya tenaga di Puskesmas
sedangkan jumlah SD/MI cukup banyak, sehingga untuk melaksanakan penjaringan kesehatan
membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu juga manajemen pelaporan belum terintegrasi
dengan baik. Walaupun kegiatan penjaringan kesehatan telah dilaksanakan di Puskesmas
namun di beberapa Provinsi, pengelola program UKS di Kabupaten/Kota berada pada struktur
organisasi yang berbeda sehingga menjadi penyebab koordinasi pencatatan dan pelaporan
tidak berjalan dengan baik . Data dan informasi tentang cakupan penjaringan siswa
SD/sederajat kelas 1 menurut provinsi terdapat pada lampiran 5.39.
12. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Salah satu upaya kesehatan anak yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden adalah
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas. Program ini mulai dikembangkan


111 Kesehatan Keluarga
pada tahun 2003 yang bertujuan khusus untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
remaja tentang kesehatan reproduksi dan perilaku hidup sehat serta memberikan pelayanan
kesehatan yang berkualitas kepada remaja.
Puskesmas yang memiliki PKPR memberikan layanan baik di dalam maupun di luar
gedung yang ditujukan bagi kelompok remaja berbasis sekolah ataupun masyarakat. Hal ini
dilakukan agar layanan yang diberikan dapat menjangkau semua kelompok remaja (10-19
tahun). Kriteria yang ditetapkan bagi Puskesmas yang mampu laksana PKPR yaitu :
1) Melakukan pembinaan pada minimal 1 sekolah (sekolah umum, sekolah berbasis
agama) dengan melaksanakan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) di
sekolah binaan minimal 2 kali dalam setahun;
2) Melatih Kader Kesehatan Remaja di sekolah minimal sebanyak 10% dari jumlah murid
di sekolah binaan; dan
3) Memberikan pelayanan konseling pada semua remaja yang memerlukan konseling yang
kontak dengan petugas PKPR.
Layanan PKPR merupakan upaya komprehensif yang menekankan pada langkah
promotif/preventif berupa pembekalan kesehatan dan peningkatan keterampilan psikososial
dengan Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS). Layanan konseling menjadi ciri dari
PKPR mengingat permasalahan remaja yang tidak hanya berhubungan dengan fisik tetapi juga
psikososial. Upaya penjangkauan terhadap kelompok remaja juga dilakukan melalui kegiatan
Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE), Focus Group Discussion (FGD), dan penyuluhan ke
sekolah-sekolah dan kelompok remaja lainnya.
Fenomena peer groups (kelompok sebaya) juga menjadi perhatian pada program PKPR.
Oleh karena itu, program ini juga memberdayakan remaja sebagai konselor sebaya yang
diharapkan mampu menjadi agen pengubah di kelompoknya. Konselor sebaya ini sangat
potensial karena adanya kecenderungan pada remaja untuk memilih teman sebaya sebagai
tempat berdiskusi dan rujukan informasi.
Selain pemberian informasi dan edukasi, dan kegiatan seperti disebutkan diatas,
pelayanan kesehatan sekolah ini meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan perkembangan
kecerdasan, pemberian imunisasi, penemuan kasus-kasus dini yang mungkin terjadi,
pengobatan sederhana, pertolongan pertama serta rujukan bila menemukan kasus yang tidak
dapat ditanggulangi di sekolah.
Persentase kabupaten/kota dengan minimal 4 puskesmas mampu tata laksana PKPR
pada tahun 2013 terdapat pada gambar 5.31.












112 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 5.37
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA
DENGAN MINIMAL 4 PUSKESMAS MAMPU TATA LAKSANA PKPR
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Berdasarkan target tahun 2013 yang ditentukan oleh program yaitu 70%, terdapat 27
provinsi telah melampaui target tersebut. Hanya 6 provinsi yang belum mencapai target tahun
2013. Persentase kabupaten/kota dengan minimal 4 puskesmas mampu tata laksana PKPR di
Indonesia tahun 2013 sebesar 81,6%, mengalami peningkatan dari tahun 2012 yang sebesar
77,67%.
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2013 terdapat 81,69%
kabupaten/kota di Indonesia yang telah memiliki 4 puskesmas mampu laksana PKPR. Pada
tahun 2013 terdapat 11 provinsi dengan persentase 100%, jumlah ini lebih tinggi dibandingkan
tahun 2012 yang sebanyak 10 provinsi. Provinsi dengan persentase 100% artinya seluruh
kabupaten telah memiliki sedikitnya 4 Puskesmas mampu PKPR. Jumlah kab/kota yang
memiliki minimal 4 puskesmas PKPR pada tahun 2013 sebanyak 406 kab/kota. Jumlah
puskesmas PKPR tahun 2013 sebesar 3.077 puskesmas tersebar di 33 provinsi. Data dan
informasi lebih rinci menurut provinsi terkait persentase kabupaten/kota dengan puskesmas
mampu laksana PKPR disajikan pada lampiran 5.37.
Untuk keberhasilan dalam pengembangan pelaksanaan PKPR digunakan strategi
sebagai berikut:
1. Peningkatan Akses dan Kualitas Penyelenggaraan PKPR
Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan terlatih tentang penyelenggraan PKPR
khususnya dalam memberikan konseling. Pelatihan di tingkat provinsi didukung oleh
dana dekon terutama untuk provinsi yang belum mencapai target indikator
Kabupaten/Kota yang memiliki minimal 4 puskesmas mampu laksana PKPR.


113 Kesehatan Keluarga
Pengembangan Standar Nasional Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) agar
mutu penyelenggaraannya PKPR terutama di Puskesmas ditingkatkan mutunya secara
berkesinambungan.
2. Kemitraan
Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor, Lintas Program, Lembaga Swadaya Masyarakat,
donor agency untuk meningkatnya komitmen, koordinasi dan komunikasi terkait
kegiatan kesehatan remaja.
3. Pemberdayaan Remaja
Pelatihan Konselor remaja
Melibatkan remaja dalam perencanaan dan pelaksanaan PKPR
4. Dukungan Manajemen
Pembinaan Teknis Bagi Pengelola Program Anak Usia Sekolah Dan Remaja di
Provinsi dan kabupaten/kota.
Penyediaan dan distribusi buku-buku pedoman/juknis, untuk memberikan acuan/
panduan bagi pengelola program dalam melaksanakan PKPR.
Penyediaan dan distribusi media KIE kesehatan remaja (poster, lembar balik, puzzle,
kartu kwartet, celemek dan panthom kesehatan reproduksi).
13. Pelayanan Kesehatan pada Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA)
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan. Semua anak mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan. Perlindungan anak
adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup,
tumbuh, berkembang dan berpastisipasi, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 131 Tentang Kesehatan menyebutkan
bahwa :
(1) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan
generasi yang akan datang yang sehat, cerdas dan berkualitas serta menurunkan angka
kematian bayi dan anak.
(2) Upaya pemeliharaan kesehatan anak dimulai sejak anak masih dalam kandungan,
dilahirkan, setelah dilahirkan dan sampai berusia 18 tahun.
(3) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak sebagai mana dimaksud pada ayat (1) dan
(2) menjadi tanggung jawab dan kewajiban bersama bagi orang tua, keluarga,
masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Dari jutaan anak di dunia yang tidak mendapat perlindungan penuh, banyak diantara
mereka terlibat dalam kekerasan, terbuang, terlantar, dijadikan pekerja, terabaikan dan
dilecehkan. Berbagai bentuk kekerasan membatasi kesempatan anak-anak untuk bertahan
hidup, tumbuh, berkembang dan mewujudkan impian mereka.
Menurut KOMNAS Perlindungan Anak (2006), pemicu kekerasan terhadap anak
diantaranya adalah : 1) Kekerasan dalam rumah tangga, yaitu dalam keluarga terjadi kekerasan
yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya. Anak seringkali menjadi
sasaran kemarahan orang tua, 2) Disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan
sebagaimana seharusnya. Adanya disfungsi peran ayah sebagai pemimpin keluarga dan peran
ibu sebagai sosok yang membimbing dan menyayangi, 3) Faktor ekonomi, yaitu kekerasan
timbul karena tekanan ekonomi. 4) Pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Orang
tua menganggap bahwa anak adalah seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola
asuh apapun berhak dilakukan oleh orang tua. Disamping itu, kekerasan pada anak terinspirasi
dari tayangan-tayangan televisi maupun media-media lainnya yang tersebar dilingkungan
masyarakat.


114 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kekerasan terhadap anak sebagai
semua bentuk tindakan/perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional,
penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi, komersial atau lainnya, yang
mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak,
kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam
konteks hubungan tanggungjawab.
Dalam bidang kesehatan, pemerintah melakukan intervensi dalam bentuk penyediaan
akses pelayanan kesehatan bagi korban kekerasan pada anak yang terdiri dari pelayanan di
tingkat dasar melalui puskesmas mampu tatalaksana kekerasan terhadap anak dan Pusat
Pelayanan Terpadu (PPT) di rumah sakit untuk penanganan kasus rujukan. Kegiatan yang
dilakukan meliputi upaya pencegahan, deteksi dan penanganan kasus termasuk rujukan oleh
puskesmas yang bekerjasama dengan LP/LS terkait melalui :
o pelayanan di Pusat Pelayanan Terpadu (PPT)/Pusat Krisis Terpadu (PKT) di
RSUP/RS Swasta/RS Bhayangkara dan
o Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) di polres setempat.
o Lembaga Perlindungan Anak/LPA,
o Lembaga Bantuan Hukum/LBH,
o Rumah Perlindungan Trauma Center/RPTC,
o Rumah Perlindungan Sosial Anak/RPSA dan lain-lain
Pendekatan pelayanan kesehatan KtA di Puskesmas dilakukan melalui 3 aspek yaitu
meliputi aspek medis (pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang), medikolegal (Visum et
repertum) dan psikososial (rumah aman). Penatalaksanaan kasus merupakan multidisiplin
dengan melibatkan lembaga pelayanan kesehatan, lembaga perlindungan anak, lembaga
bantuan hukum, aparat penegak hukum dan lembaga sosial lainnya, yang terbentuk dalam
mekanismes kerja jejaring.
Pelayanan kesehatan lebih difokuskan pada upaya promotif dan preventif seperti
penyuluhan mengenai dampak KtA terhadap tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun
psikologis di sekolah melalui program UKS dan di tingkat masyarakat memberikan penyuluhan
kepada ibu-ibu PKK dan lain-lain. Selain itu, puskesmas juga memberikan pelayanan kuratif
yaitu penanganan darurat medis, pelayanan rehabilitatif dengan memberikan konseling.
pelayanan rujukan medikolegal dan psikososial.
Program KtA diarahkan untuk menyediakan akses pelayanan kesehatan secara
komprehensif di pelayanan tingkat dasar dan rujukan. Target Puskesmas mampu Tatalaksana
KtA adalah setiap Kab/Kota memiliki minimal 2 puskesmas Mampu tatalaksana KtA. Kriterianya
adalah memiliki tenaga terlatih tatalaksana kasus KtA yaitu dokter atau doker gigi dan perawat
atau bidan dan melakukan pelayanan rujukan kasus KtA.
Upaya peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan melalui penyiapan
fasilitator pusat dan daerah serta tenaga pemberi pelayanan di puskesmas yang dilakukan
dengan menyelenggarakan pelatihan (TOT) secara berjenjang dalam rangka menyediakan
Puskesmas Mampu Tatalaksana KtA dengan menggunakan dana APBN maupun dekon. Selain
itu, pada tahun 2012 2013 telah dilaksanakan penguatan pelayanan rujukan di rumah sakit.
Hasil cakupan Puskesmas Mampu Tatalaksana KtA pada tahun 2013 adalah 1535 puskesmas
(76,26%) yang melampaui target nasional yaitu 60% dan tersebar di 379 Kabupaten/Kota.
Target Puskesmas Mampu Tatalaksana KtA pada tahun 2014 adalah 90%. Saat ini, sudah
tersedia 67 RS Umum/RS Bhayangkara di 28 provinsi yang memiliki PPT/PKT (menjadi Pusat
Pelayanan Terpadu untuk korban KtA) dan 34 RS di 22 provinsi yang melakukan pelayanan KtA
di IGD oleh tenaga kesehatan terlatih.


115 Kesehatan Keluarga
Kekerasan terhadap anak merupakan tindak pidana berat, dalam Pasal 108 KUHAP ayat
(3) menyatakan bahwa setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang
mengetahui tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib segera
melaporkan hal itu kepada penyelidik atau penyidik. Untuk itu, telah dibuat Permenkes nomor
68 tahun 2013 tentang Kewajiban Pemberi layanan Kesehatan untuk memberikan informasi
atas adanya dugaan kekerasan terhadap anak. Diharapkan dengan Permenkes ini, tenaga
kesehatan di lapangan dapat bekerja secara profesional dan aman.
GAMBAR 5.38
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA
DENGAN MINIMAL 2 PUSKESMAS MAMPU TATA LAKSANA KTA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Pada gambar 5.32 di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2013 terdapat 76,26%
kabupaten/kota di Indonesia yang telah memiliki 2 puskesmas mampu laksana KtA. Pada tahun
2013 terdapat 14 provinsi dengan persentase 100%, jumlah ini sama dengan kondisi pada
tahun 2012 yaitu sebanyak 13 provinsi. Provinsi dengan persentase 100% artinya seluruh
kabupaten/kota di provinsi tersebut telah memiliki sedikitnya 2 Puskesmas mampu
Tatalaksana KtA. Provinsi tersebut yaitu Papua Barat, Maluku, Sulawesi Tenggara, Kalimantan
Timur, Kalimantan Selatan, NTB, Bali, Banten, DIY, Jakarta, Sumatera Selatan, Jambi dan
Sulawesi Utara. Sedangkan provinsi yang capaiannya dibawah target (75 %) adalah Papua,
Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Maluku Utara, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sulawesi barat dan
Kalimantan Barat. Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi terkait persentase
kabupaten/kota dengan puskesmas mampu laksana KtA disajikan pada lampiran 5.36.




116 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
14. Pelayanan Kesehatan Anak Terlantar dan Anak Jalanan di Panti
Upaya kesehatan anak juga dilakukan untuk menjangkau kelompok yang terpinggirkan
yaitu anak terlantar dan anak jalanan. Kelompok umur remaja (usia 14 18 tahun) merupakan
bagian terbesar dari kelompok anak jalanan. Masalah kesehatan yang dihadapi anak jalanan
terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa kondisi
anak jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal yang sehat. Anak jalanan menghabiskan
sebagian besar waktunya di jalanan yang meningkatkan kerentanan mereka terhadap gangguan
kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan, diare, kulit dan lain sebagainya.
Anak jalanan secara psikologis memiliki konsep diri negatif, tidak atau kurang percaya
diri, mudah tersinggung, ketergantungan pada orang lain, dan emosi yang tidak stabil. Kondisi
ini menyebabkan mereka mudah terpengaruh orang lain dan cenderung berperilaku antisosial
(berkelahi, mencuri, merampas, menggunakan NAPZA dan menjalankan bisnis NAPZA, dan
perilaku seks bebas). Selain itu, anak dapat mengalami berbagai bentuk kekerasan baik fisik,
psikis dan seksual. Mereka juga dapat mengalami eksploitasi fisik dan seksual terutama oleh
orang dewasa hingga kehilangan nyawa, sehingga timbul masalah kesehatan yang terkait
kesehatan reproduksi seperti Infeksi Menular Seksual (IMS/PMS) dan HIV/AIDS.
Upaya kesehatan bagi anak terlantar dilakukan pada kelompok-kelompok sasaran
seperti di panti/LKSA anak terlantar/anak jalanan, shelter, rumah singgah dan lain-lain. Upaya
kesehatan yang dilakukan mencakup aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif melalui
pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas bekerjasama dengan
unsur dari sektor terkait dan LSM memberikan pelayanan kesehatan bagi anak terlantar dan
anak jalanan.
Puskesmas melakukan pembinaan kesehatan bagi bayi, balita, anak usia sekolah dan
remaja di panti (LKSA) adalah puskesmas yang melakukan pelayanan kesehatan terhadap anak
dipanti/LKSA serta diberikan berdasarkan paket-paket pelayanan yang disesuaikan dengan
kelompok usia anak yang meliputi: Pelayanan kesehatan bayi, pelayanan kesehatan anak balita
dan pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja. Kegiatan yang dilakukan meliputi
pengobatan, pelayanan imunisasi, pelayanan gizi, promosi kesehatan, penyehatan lingkungan,
pengendalian penyakit, kesehatan jiwa dan pemeriksaan serta pemeliharaan kebersihan diri.
Pada tahun 2013 terdapat 1.751 puskesmas yang memiliki panti anak terlantar di
wilayah kerjanya. Dari seluruh puskesmas yang memiliki panti anak terlantar, terdapat 1.270
(72,53%) puskesmas yang telah melakukan pembinaan. Angka ini meningkat dari tahun 2012
yakni sebesar 1.003 (57,28%) puskesmas yang memiliki panti anak terlantar. Saat ini sasaran
panti yang dibina oleh 1751 puskesmas yang berada di 33 provinsi berjumlah 3348 panti.
Target pembinaan kesehatan Anak di Panti/LKSA yaitu 33 provinsi dimana setiap puskesmas
membina Panti/LKSA yang berada di wilayah kerjanya dan melakukan pelayanan rujukan di
Rumah Sakit. Upaya peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang dilakukan pada
tahun 2013 yaitu, pembinaan kesehatan anak di Panti/LKSA, Pertemuan Koordinasi Yankes
perlindungan Anak LP/LS Tingkat Pusat di Jakarta dan Forum Teknis Perlindungan Kesehatan
Anak. Tahun 2014 akan diadakan Konsolidasi Program Yankes anak di Panti yang melibatkan
LP/LS, Organisasi Profesi dan LSM. Data dan informasi berdasarkan provinsi terkait puskesmas
yang melakukan pembinaan di Panti Anak Terlantar dapat dilihat pada lampiran 5.38.
15. Pelayanan Kesehatan Anak Dengan Disabilitas (ADD)
Anak dengan disabilitas merupakan bagian dari anak Indonesia yang perlu mendapat
perhatian dan perlindungan oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga sesuai dengan amanat
dari Undang undang Nomor 23 Tahun 2001 tentang Perlindungan Anak.


117 Kesehatan Keluarga
Upaya perlindungan bagi anak dengan disabilitas adalah sama dengan anak lainnya
yaitu upaya pemenuhan kebutuhan dasar anak, agar mereka dapat hidup, tumbuh dan
berkembang secara optimal serta berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kebutuhan dasar anak tersebut meliputi asah, asih dan asuh yang dapat diperoleh melalui
upaya di bidang kesehatan maupun pendidikan dan sosial.
Sebagai salah satu negara yang melakukan ratifikasi terhadap konvensi hak-hak
penyandang disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities/ CRPD) melalui UU
nomor 19 tahun 2011, Indonesia memiliki kewajiban untuk agar isi Konvensi agar sepenuhnya
dapat dilakukan di Indonesia. Prinsip umum konvensi adalah meningkatkan pemenuhan hak-
hak penyandang disabilitas termasuk dalam hal aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan.
Terkait anak dengan disabilitas pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan
upaya diantaranya deteksi dini, stimulasi dan intervensi tumbuh kembang anak, skrining
hipotiroid kongenital dan melibatkan anak dengan disabilitas untuk menjadi kader kesehatan di
SLB melalui UKS.
Program ADD merupakan salah satu program yang harus dilaporkan bersama dengan
program kesehatan bagi penyandang disabilitas oleh Kementerian Kesehatan melalui
Kementerian Luar Negeri di tingkat internasional setiap 4 tahun, mengingat Indonesia telah ikut
meratifikasi Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas (Conventinon of The Right of People with
Disability).
Pengembangan program yang dilakukan bagi ADD melalui dua pendekatan yaitu
melalui program UKS di SLB dan melalui pembinaan kesehatan ADD di tingkat keluarga.
Program pembinaan ADD di SLB melalui UKS.
Pembinaan kesehatan ADD di tingkat keluarga dikembangkan, mengingat sebagian
besar ADD berada di masyarakat sehingga perlu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
(community awareness) tentang hak-hak anak dengan disabilitas dan upaya pemberdayaan
masyarakat/keluarga/orangtua, agar dapat melakukan pengasuhan yang benar apabila
memiliki Anak dengan Disabilitas.
Diharapkan program ini dapat menumbuhkan kemandirian orangtua/keluarga untuk
mampu membimbing dan melatih anak tentang aktivitas hidup sehari-hari seperti toilet
training, kebersihan diri termasuk menyikat gigi sendiri, memperhatikan tumbuh kembang
anak dengan memberikan asupan gizi yang memadai, mengenal tanda-tanda penyakit dan
upaya pencegahannya serta memberikan latihan sederhana bagi anak agar dapat mencapai
kemampuan optimal sesuai potensi yang dimiliki.
Target pembinaan SLB oleh puskesmas adalah puskesmas yang melakukan 1 (satu) atau
lebih pelayanan kesehatan melalui UKS di SLB, antara lain penyuluhan tentang kesehatan anak,
penyuluhan tentang kesehatan lingkungan, penjaringan kesehatan, pemberantasan sarang
nyamuk, imunisasi, pengobatan, dan lain - lain.
Tahun 2013 capaian Rencana Aksi Nasional Hak Azasi Manusia (RAN HAM) untuk
pembinaan kesehatan anak di SLB sudah dilakukan di 22 Provinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat,
Lampung, Riau, Kalsel, Banten, Sumatera Selatan, NTB, Sulawesi Utara, Sumatera Utara,
Gorontalo, Kalimantan Barat, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau) capaian
100%. Sejalan dengan sasaran provinsi yang melaksanakan program UKS dengan mengacu pada
buku Pedoman Pembinaan Kesehatan Anak di SLB bagi petugas kesehatan. Kegiatan yang sudah
dilakukan di tahun 2013 yaitu, Revisi Modul RBM untuk yankes anak penyandang cacat dan
pertemuan koordinasi yankes anak penyandang cacat di SLB (Tipe A dan Tipe B).


118 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Sedangkan tahun 2014 target pembinaan pelayanan kesehatan oleh puskesmas melalui
UKS di SLB dilaksanakan di 27 propinsi yaitu 22 prov di tahun 2013 ditambah 5 provinsi
pengembangan baru yaitu, NTT, Aceh, Bengkulu, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
16. Pelayanan Kesehatan Anak yang Berhadapan Hukum (ABH)
Data tentang ABH setiap tahun diperkirakan sekitar 5000-7000 anak yang berhadapan
dengan hukum terdapat di Lapas/Rutan anak maupun dewasa. ABH di Lapas/Rutan mayoritas
adalah anak usia remaja (12-18 tahun) dengan berbagai masalah kesehatan baik pada yang
didapat dari anak maupun akibat pengaruh dampak lingkungan baik fisik maupun psikis. Alasan
utama yang menyebabkan anak terpaksa menjalani hukuman pidana di Lapas, yaitu: terkait 1)
kasus narkoba (NAPZA), 2) perbuatan asusila (pencabulan, perkosaan), 3) dan masalah
kriminal lainnya (pencurian, pembunuhan). ABH dengan kasus asusila dan narkoba sangat erat
terkait dengan masalah kesehatan reproduksi remaja; hal ini berdampak pada gangguan fisik
maupun psikologis. Hasil pemantauan program perlindungan kesehatan anak pada tahun 2011
2012 ditemukan sebagai penyebab tertinggi kekerasan seksual pada anak didik
pemasyarakatan (andikpas) berada di Lapas Anak Kota Kupang NTT (100%), Lapas anak
Gianyar Bali (70%) dan Lapas Sulawesi Selatan (50%).
Sementara itu, gambaran masalah kesehatan pada ABH, pada umumnya meliputi:
Infeksi kulit, seperti scabies,
Infeksi Saluran Pernafasan: ISPA, TB,
Masalah kesehatan reproduksi remaja: Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk
HIV & AIDS,
Masalah narkoba: NAPZA termasuk rokok
Kondisi sanitasi lingkungan Lapas masih kurang
Kebijakan dan strategi dalam program kesehatan bagi ABH dikembangkan sesuai
dengan indikator pada Inpres No 3 Tahun 2010-2011 dilanjutkan pada tahun 2012 2014
sebagai RAN HAM, yaitu: pembinaan kesehatan bagi ABH di Lapas/Rutan dan rujukan di Rumah
Sakit. Kegiatan yang dilakukan meliputi penyuluhan PHBS, penyuluhan tentang kesehatan anak,
penyuluhan tentang kesehatan lingkungan, penjaringan kesehatan, pemberantasan sarang
nyamuk, imunisasi, pengobatan, dan lain lain.
Target program puskesmas membina lapas adalah puskesmas yang melakukan 1 (satu)
atau lebih pelayanan kesehatan di lapas. Tahun 2013 capaian RAN HAM untuk pembinaan
kesehatan di Lapas/Rutan sudah dilaksanakan di 25 provinsi yaitu 96%. Sedangkan tahun 2014
target pembinaan pelayanan kesehatan oleh puskesmas terhadap ABH dilaksanakan di 29
propinsi yaitu 25 prov di tahun 2013 ditambah 4 provinsi pengembangan baru yaitu
Kalimantan Timur, DI Yogyakarta, Gorontalo dan Maluku Utara.

C. STATUS GIZI
1. Status Gizi Balita
Setiap tahun lebih dari sepertiga kematian anak di dunia berkaitan dengan masalah
kurang gizi, yang dapat melemahkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Ibu yang mengalami
kekurangan gizi pada saat hamil, atau anaknya mengalami kekurangan gizi pada usia 2 tahun
pertama, pertumbuhan serta perkembangan fisik dan mentalnya akan lambat.
Salah satu indikator kesehatan yang dinilai pencapaiannya dalam MDGs adalah status
gizi balita. Status gizi anak balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan


119 Kesehatan Keluarga
(TB). Variabel umur, BB dan TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu :
berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan
menurut tinggi badan (BB/TB). Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/U memberikan
indikasi masalah gizi secara umum. Indikator ini tidak memberikan indikasi tentang masalah
gizi yang sifatnya kronis ataupun akut karena berat badan berkorelasi positif dengan umur dan
tinggi badan. Dengan kata lain, berat badan yang rendah dapat disebabkan karena pendek
(masalah gizi kronis) atau sedang menderita diare atau penyakit infeksi lain (masalah gizi akut).
Menurut Riskesdas, pada tahun 2013, terdapat 19,6% balita kekurangan gizi yang
terdiri dari 5,7% balita dengan gizi buruk dan 13,9% berstatus gizi kurang. Sebesar 4,5% balita
dengan gizi lebih. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2007 (18,4 %) dan
tahun 2010 (17,9 %), prevalensi kekurangan gizi pada balita tahun 2013 terlihat meningkat.
Balita kekurangan gizi tahun 2010 terdiri dari 13,0% balita berstatus gizi kurang dan 4,9%
berstatus gizi buruk. Perubahan terutama pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4% tahun
2007, 4,9% pada tahun 2010, dan 5,7% tahun 2013. Untuk mencapai sasaran MDG tahun 2015
yaitu 15,5% maka prevalensi gizi buruk-kurang secara nasional harus diturunkan sebesar 4.1 %
dalam periode 2013 sampai 2015.
Gambaran kekurangan gizi balita pada tahun 2013 terdapat pada gambar berikut ini.
GAMBAR 5.39
PERSENTASE BALITA KEKURANGAN GIZI
BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR BB/U
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS TAHUN 2013

Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Diantara 33 provinsi di Indonesia, 19 provinsi memiliki prevalensi balita kekurangan
gizi di atas angka prevalensi nasional yaitu berkisar antara 19,7% sampai dengan 33,1 persen.
Atas dasar sasaran MDG 2015, terdapat tiga provinsi yang memiliki prevalensi balita
kekurangan gizi sudah mencapai sasaran yaitu: (1) Bali (13,2%), (2) DKI Jakarta (14,0%), (3)


120 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Kepulauan Bangka Belitung (15,1%). Masalah kesehatan masyarakat dianggap serius bila
prevalensi kekurangan gizi pada balita antara 20,0-29,0%, dan dianggap prevalensi sangat
tinggi bila 30 persen (WHO, 2010). Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kekurangan
gizi pada anak balita sebesar 19,6%, yang berarti masalah kekurangan gizi pada balita di
Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat mendekati prevalensi tinggi.
Diantara 33 provinsi, terdapat dua provinsi termasuk kategori prevalensi sangat tinggi, yaitu
Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur (33,0%).
Indikator gizi yang lain yaitu tinggi badan menurut umur (TB/U) memberikan indikasi
masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Misalnya:
kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan pola asuh/pemberian makan yang kurang baik dari
sejak anak dilahirkan yang mengakibatkan anak menjadi pendek. Indikator status gizi
berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat
dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama (singkat). Misalnya: terjadi wabah
penyakit dan kekurangan makan (kelaparan) yang mengakibatkan anak menjadi kurus.
Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk identifikasi kurus dan gemuk. Masalah
kurus dan gemuk pada umur dini dapat berakibat pada risiko berbagai penyakit degeneratif
pada saat dewasa.
Pada tahun 2013 terdapat 37,2% balita dengan tinggi badan di bawah normal yang
terdiri dari 18,0% balita sangat pendek dan 19,2% balita pendek. Dibandingkan tahun 2010,
terjadi peningkatan persentase balita pendek dan sangat pendek pada tahun 2013 dari 35,6%
menjadi 37,2%. Pada tahun 2013 prevalensi sangat pendek menunjukkan penurunan, dari 18,8
% tahun 2007 dan 18,5% tahun 2010. Prevalensi pendek meningkat dari 18,0% pada tahun
2007 menjadi 19,2% pada tahun 2013. Gambaran balita dengan tinggi badan di bawah normal
pada tahun 2013 terdapat pada gambar berikut.
GAMBAR 5.40
PERSENTASE BALITA DENGAN TINGGI BADAN DI BAWAH NORMAL
BERDASARKAN TINGGI BADAN MENURUT UMUR TB/U
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS, TAHUN 2013

Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013


121 Kesehatan Keluarga
Menurut provinsi, prevalensi balita pendek terendah terjadi di Kepulauan Riau (26,3%),
DI Yogyakarta (27,3%), dan DKI Jakarta (27,5%). Sedangkan provinsi dengan prevalensi balita
pendek tertinggi terjadi di Nusa Tenggara Timur (51,7%), Sulawesi Barat (48,0%). Dan Nusa
Tenggara Barat (45,2%).
Masalah kesehatan masyarakat dianggap berat bila prevalensi pendek sebesar 30 39
% dan serius bila prevalensi pendek 40% (WHO 2010). Sebanyak 13 provinsi termasuk
kategori berat, dan sebanyak 15 provinsi termasuk kategori serius. Ke 15 provinsi tersebut
adalah: Papua (40,1%), Maluku (40,6%), Sulawesi Selatan (40,9%), Sulawesi Tengah (41,0%),
Maluku Utara (41,1%), Kalimantan Tengah (41,3%), Aceh (41,5%), Sumatera Utara (42,5%),
Sulawesi Tenggara (42,6%), Lampung (42,6%), Kalimantan Selatan (44,2%), Papua Barat
(44,7%), Nusa Tenggara Barat (45,2%), Sulawesi Barat (48,0%). dan Nusa Tenggara Timur
(51,7%).
Indikator antropometri lain untuk menilai status gizi balita yaitu berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB). Pada tahun 2013 terdapat 12,1% balita wasting (kurus) yang terdiri dari
6,8% balita kurus dan 5,3% sangat kurus. Gambaran balita kurus dengan berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB) pada tahun 2013 terdapat pada gambar berikut.
GAMBAR 5.41
PERSENTASE BALITA KURUS BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN (BB/TB)
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS TAHUN 2013

Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Angka ini menurun dibandingkan tahun 2010 dengan persentase 13,3%. Prevalensi
sangat kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 %, terdapat penurunan
dibandingkan tahun 2010 (6,0 %) dan tahun 2007 (6,2%). Demikian pula halnya dengan
prevalensi kurus sebesar 6,8 persen juga menunjukkan adanya penurunan dari 7,3 persen
(tahun 2010) dan 7,4 % (tahun 2007).
Terdapat 17 provinsi dimana prevalensi balita kurus diatas angka nasional, dengan
urutan dari prevalensi tertinggi, adalah: Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Riau, Nusa Tenggara


122 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Timur, Papua Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Papua, Banten, Jambi, Kalimantan Selatan,
Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau dan Maluku Utara.
Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10,0
14,0%, dan dianggap kritis bila 15,0 persen (WHO 2010). Pada tahun 2013, secara nasional
prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 persen, yang artinya masalah kurus di Indonesia
masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Diantara 33 provinsi, terdapat 23
provinsi yang masuk kategori serius, dan 6 provinsi termasuk kategori kritis, yaitu Kalimantan
Barat, Maluku, Aceh dan Riau
2. Status Gizi Penduduk Dewasa
Gambaran status gizi pada kelompok umur dewasa >18 tahun dapat diketahui melalui
prevalensi gizi berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi pada kelompok
dewasa berusia 18 tahun didominasi dengan masalah obesitas, walaupun masalah kurus juga
masih cukup tinggi. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada
kelompok umur dewasa sebanyak 14,76% dan berat badan lebih sebesar 11,48%. Dengan
demikian prevalensi kelompok dewasa kelebihan berat badan sebesar 26,23%. Sedangkan
prevalensi penduduk dewasa kurus 11,09%.
Prevalensi penduduk laki-laki dewasa obesitas pada tahun 2013 sebanyak 19,7%, lebih
tinggi dari tahun 2007. Pada tahun 2013, prevalensi obesitas perempuan dewasa 32,9%, naik
18,1% dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5% dari tahun 2010 (15,5%). Pada semua kelompok
umur penduduk dewasa, kelebihan berat badan lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-
laki. Rata-rata prevalensi kelebihan berat badan relatif tinggi terdapat pada usia 35-59 tahun
pada laki-laki maupun perempuan. Pada usia tersebut, sekitar sepertiganya mengalami
kelebihan berat badan di kelompok perempuan dan sekitar seperlimanya di kelompok laki-laki.
GAMBAR 5.42
PERSENTASE KELEBIHAN BERAT BADAN PADA PENDUDUK DEWASA
BERDASARKAN KATEGORI INDEKS MASA TUBUH
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS, TAHUN 2013

Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013


123 Kesehatan Keluarga
Menurut laporan Riskesdas tahun 2013 provinsi dengan prevalensi kelebihan berat
badan pada penduduk >18 tahun terendah yaitu Nusa Tenggara Timur (12,95%), Lampung
(18,52%), Nusa Tenggara Barat (19,47%). Provinsi dengan prevalensi kelebihan berat badan
tertinggi yaitu Sulawesi Utara (40,54%), Kalimantan Timur (35,38%), dan DKI Jakarta
(34,67%).
Prevalensi penduduk kurus terendah di Provinsi Sulawesi Utara (5,6%) dan tertinggi di
Nusa Tenggara Timur (19,5%). Dua belas provinsi dengan prevalensi penduduk dewasa kurus
diatas prevalensi nasional, yaitu Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sumatera Barat, Jawa
Timur, Maluku, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan
Selatan, DI Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur. Prevalensi penduduk obesitas terendah di
provinsi Nusa Tenggara Timur (6,2%) dan tertinggi di Sulawesi Utara (24,0%). Enam belas
provinsi dengan prevalensi diatas nasional, yaitu Jawa Barat, Bali, Papua, DI Yogyakarta, Aceh,
Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Bangka Belitung, Sumatera Utara, Papua Barat, Kepulauan Riau,
Maluku Utara, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Gorontalo dan Sulawesi Utara.
Berdasarkan karakteristik, masalah obesitas cenderung lebih tinggi pada penduduk
yang tinggal di perkotaan, berpendidikan lebih tinggi dan pada kelompok status ekonomi yang
tertinggi. Rincian status gizi pada balita dan dewasa menurut provinsi dapat dilihat pada
lampiran 5.42 sampai lampiran 5.46.

***



124 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

Pelatihan SIKDA Generik


127 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan

PENGENDALIAN PENYAKIT
DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Bab 6 berisi pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan. Data mengenai
pengendalian penyakit terdiri atas penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit
menular meliputi penyakit menular langsung dan penyakit yang ditularkan melalui binatang.
Situasi penyakit, baik kesakitan maupun kematian, merupakan indikator dalam menilai derajat
kesehatan suatu masyarakat.

A. PENGENDALIAN PENYAKIT
Selain membahas pengendalian penyakit yang menjadi prioritas pembangunan
kesehatan nasional, pada subbab ini juga dibahas pengendalian penyakit di daerah tropis yang
salah satunya disebabkan oleh nyamuk, juga neglected disease seperti filariasis.
1. Penyakit Menular
a. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi
basil tuberkulosis.
Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan case notification rate
(CNR) dan prevalensi (didefinisikan sebagai jumlah kasus tuberkulosis pada suatu titik waktu
tertentu) dan mortalitas/kematian (didefinisikan sebagai jumlah kematian akibat tuberkulosis dalam
jangka waktu tertentu).
i. Kasus Baru BTA Positif
Pada tahun 2013 ditemukan jumlah kasus baru BTA positif (BTA+) sebanyak 196.310
kasus, menurun bila dibandingkan kasus baru BTA+ yang ditemukan tahun 2012 yang sebesar
202.301 kasus. Jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di provinsi dengan jumlah
penduduk yang besar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kasus baru BTA+ di tiga
provinsi tersebut hampir sebesar 40% dari jumlah seluruh kasus baru di Indonesia.
Menurut jenis kelamin, kasus BTA+ pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu
hampir 1,5 kali dibandingkan kasus BTA+ pada perempuan. Pada masing-masing provinsi di
seluruh Indonesia kasus BTA+ lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.
Disparitas paling tinggi antara laki-laki dan perempuan terjadi di Sumatera Utara, kasus pada
laki-laki dua kali lipat dari kasus pada perempuan.
Menurut kelompok umur, kasus baru yang ditemukan paling banyak pada kelompok
umur 25-34 tahun yaitu sebesar 21,40% diikuti kelompok umur 35-44 tahun sebesar 19,41%
dan pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,39%. Proporsi kasus baru BTA+ menurut
kelompok umur dapat dilihat pada Gambar 6.1 berikut ini.



128 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.1
PROPORSI KASUS BARU BTA+ MENURUT KELOMPOK UMUR
TAHUN 2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Kasus baru BTA+ pada kelompok umur 0-14 tahun merupakan proporsi yang paling
rendah. Dari Gambar 6.1 terlihat bahwa kasus tuberkulosis rata-rata terjadi pada orang dewasa.
ii. Proporsi pasien baru BTA positif di antara semua kasus Tb
Proporsi pasien baru BTA positif di antara semua kasus Tb menggambarkan prioritas
penemuan pasien Tb yang menular di antara seluruh pasien Tb paru yang diobati. Angka ini
diharapkan tidak lebih rendah dari 65%. Apabila proporsi pasien baru BTA+ di bawah 65%
maka hal itu menunjukkan mutu diagnosis yang rendah dan kurang memberikan prioritas
untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA+).
GAMBAR 6.2
PROPORSI BTA+ DI ANTARA SELURUH KASUS TB PARU
DI INDONESIA TAHUN 2008-2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014


129 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
Gambar 6.2 memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2013 proporsi pasien baru
BTA+ di antara seluruh kasus belum mencapai target yang diharapkan meskipun tidak terlalu
jauh berada di bawah target minimal yang sebesar 65%. Hal itu mengindikasikan kurangnya
prioritas menemukan kasus BTA+. Namun, sebanyak 18 provinsi (54,55%) provinsi telah
mencapai target tersebut. Papua Barat, DKI Jakarta, dan Papua merupakan provinsi dengan
proporsi pasien baru BTA+ di antara seluruh kasus yang terendah yaitu masih di bawah 40%.
GAMBAR 6.3
PROPORSI BTA+ DI ANTARA SELURUH KASUS TB PARU
MENURUT PROVINSITAHUN 2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
iii. Angka notifikasi kasus atau case notification rate (CNR)
Angka notifikasi kasus adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang
ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila
dikumpulkan serial akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun
di wilayah tersebut. Angka ini berguna untuk menunjukkan kecenderungan (trend) meningkat
atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.
Gambar 6.4 menunjukkan angka notifikasi kasus baru Tb paru BTA+ dan angka
notifikasi seluruh kasus Tb per 100.000 penduduk dari tahun 2008-2013. Angka notifikasi
kasus BTA+ pada tahun 2013 di Indonesia sebesar 81,0 per 100.000 penduduk.



35
36
38
44
48
49
51
54
56
57
57
58
58
63
65
67
67
67
68
70
72
73
75
75
77
77
82
83
88
89
90
92
95
60
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Papua Barat
DKI Jakarta
Papua
Kepulauan Riau
DI Yogyakarta
Bali
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jawa Timur
Maluku
Kalimantan Tengah
Banten
Kalimantan Timur
Kep. Bangka Belitung
Nusa Tenggara Barat
Riau
Sumatera Selatan
Kalimantan Selatan
Maluku Utara
Sumatera Barat
Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Selatan
Bengkulu
Sulawesi Tengah
Lampung
Sumatera Utara
Aceh
Kalimantan Barat
Sulawesi Barat
Gorontalo
Jambi
Sulawesi Utara
Sulawesi Tenggara
INDONESIA
(%)
target
minimal 65%


130 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.4
ANGKA NOTIFIKASI KASUS BTA+ DAN SELURUH KASUS
PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008-2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Gambar 6.5 berikut memperlihatkan besarnya angka notifikasi atau CNR BTA+ menurut
provinsi tahun 2013.
GAMBAR 6.5
ANGKA NOTIFIKASI KASUS TB PARU BTA+
PER 100.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014


131 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
Provinsi dengan CNR BTA+ terendah yaitu DI Yogyakarta (35,2), Bali (40,1), dan Jawa
Tengah (60,6). Sedangkan provinsi yang tertinggi yaitu Sulawesi Utara (224,2), Sulawesi
Tenggara (183,9), dan Gorontalo (177,3).
iv. Angka Keberhasilan Pengobatan
Salah satu upaya untuk mengendalikan TB yaitu dengan pengobatan. Indikator yang
digunakan sebagai evaluasi pengobatan yaitu angka keberhasilan pengobatan (success rate). Angka
keberhasilan pengobatan ini dibentuk dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.
Berikut ini digambarkan angka kesembuhan dan keberhasilan pengobatan tahun 2008-2013.
GAMBAR 6.6
ANGKA KESEMBUHAN DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB BTA+
DI INDONESIA TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Pada Gambar 6.6 terlihat perkembangan angka keberhasilan pengobatan tahun 2008-2013.
Pada tahun 2013 angka keberhasilan pengobatan sebesar 90,5%. WHO menetapkan standar angka
keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Dengan demikian pada tahun 2013, Indonesia telah
mencapai standar tersebut.
Sementara Kementerian Kesehatan menetapkan target Renstra minimal 87% untuk angka
keberhasilan pengobatan pada tahun 2013. Berdasarkan hal tersebut, capaian angka keberhasilan
pengobatan tahun 2013 yang sebesar 90,5% juga telah memenuhi target Renstra.
Informasi mengenai Tuberkulosis menurut provinsi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran
6.1-6.5.
v. Prevalensi tuberkulosis
Menurut hasil Riskesdas 2013, prevalensi Tb berdasarkan diagnosis sebesar 0,4% dari
jumlah penduduk. Dengan kata lain, rata-rata tiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 400
orang yang didiagnosis kasus Tb oleh tenaga kesehatan. Penyakit Tb paru ditanyakan pada
responden untuk kurun waktu 1 tahun berdasarkan diagnosis yang ditegakkan oleh tenaga
kesehatan melalui pemeriksaan dahak, foto toraks atau keduanya. Hasil Riskesdas 2013
tersebut tidak berbeda dengan Riskesdas 2007 yang menghasilkan angka prevalensi TB paru
0,4%.
91,0 91,0 91,2
90,3 90,2 90,5
81,5
82,9
83,9 83,7 83,7
82,8
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
2008 2009 2010 2011 2012 2013
%
Angka keberhasilan pengobatan
Angka kesembuhan


132 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Prevalensi Tb paru berdasarkan gejala batuk 2 minggu secara nasional sebesar 3,9%
dan prevalensi TB paru berdasarkan gejala batuk darah sebesar 2,8%.
Provinsi dengan prevalensi Tb paru berdasarkan diagnosis tertinggi yaitu Jawa Barat
sebesar 0,7%, DKI Jakarta dan Papua masing-masing sebesar 0,6%. Sedangkan Provinsi Riau,
Lampung, dan Bali merupakan provinsi dengan prevalensi Tb paru berdasarkan diagnosis
terendah yaitu masing-masing sebesar 0,1%.
Berdasarkan karakteristik, semakin tinggi kelompok umur semakin tinggi pula
prevalensi Tb paru (diagnosis), kecuali untuk kelompok umur 1-4 tahun dengan prevalensi
yang cukup tinggi (0,4%). Sebaliknya berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat
pendidikan maka semakin rendah prevalensi TB paru (diagnosis).
Tabel berikut ini memperlihatkan angka prevalensi TB paru berdasarkan diagnosis dan
gejala menurut karakteristik umur, jenis kelamin, pendidikan, dan tempat tinggal.
TABEL 6.1
PREVALENSI TB PARU BERDASARKAN DIAGNOSIS DAN GEJALA TB PARU MENURUT KARAKTERISTIK,
RISKESDAS 2013

Karakteristik
Diagnosis
TB paru (%)
Gejala TB paru (%)
Batuk 2
minggu
Batuk darah
Kelompok umur (tahun)
< 1
1 4
5 14
15 24
25 34
35 44
45 54
55 64
65 74
75
0,2
0,4
0,3
0,3
0,3
0,3
0,5
0,6
0,8
0,7


3,6
3,3
3,4
3,7
4,5
5,6
6,6
7,0


1,3
1,5
2,2
3,0
2,9
3,4
3,4
3,7
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
0,4
0,3
4,2
3,7
3,1
2,6
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD/MI
Tamat SD/MI
Tamat SMP/MTs
Tamat SMA/MA
Tamat D1-D3/PT
0,5
0,4
0,4
0,3
0,3
0,2
5,6
4,5
4,1
3,5
3,2
2,9
3,6
3,0
3,7
2,7
2,3
2,6
Tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan

Jumlah
0,4
0,3

0,4
3,6
4,3

3,9
2,3
3,3

2,8

Prevalensi TB paru pada laki-laki sebesar 0,4%, lebih tinggi dibandingkan dengan
perempuan yang sebesar 0,3%. Prevalensi TB paru pada penduduk di perkotaan sebesar 0,4%,
lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk di perdesaan yang sebesar 0,3%.


133 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
b. HIV & AIDS
HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human
Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut
menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk
terinfeksi berbagai macam penyakit lain.
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah
HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary,
Counseling, and Testing(VCT), sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).
i. Jumlah kasus HIV positif dan AIDS
Setelah tiga tahun berturut-turut (2010-2012) cukup stabil, perkembangan jumlah kasus
baru HIV positif pada tahun 2013 kembali mengalami peningkatan secara signifikan, dengan
kenaikan mencapai 35% dibanding tahun 2012. Perkembangan HIV positif sampai tahun 2013
disajikan pada Gambar 6.7 berikut ini.
GAMBAR 6.7
JUMLAH KASUS BARU HIV POSITIF
DI INDONESIA SAMPAI TAHUN 2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Pemetaan epidemi HIV di Indonesia dibagi menjadi lima kategori, yaitu <90 kasus, 90-
206 kasus, 207-323 kasus, 324-440 kasus, dan >440 kasus. Gambar 6.8 berikut ini
memperlihatkan distribusi HIV di Indonesia.











134 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.8
PETA EPIDEMI HIV DI INDONESIA
TAHUN 2012

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Pada gambar 6.8, terlihat bahwa lebih dari dua per lima provinsi (14 provinsi) di
Indonesia memiliki jumlah kasus HIV > 440, meliputi seluruh provinsi di Pulau Papua dan Pulau
Jawa Bali serta beberapa provinsi di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Jumlah kasus HIV
pada kelompok tersebut menyumbang hampir 90% dari seluruh jumlah kasus HIV di Indonesia.
Provinsi dengan jumlah HIV tertinggi yaitu DKI Jakarta, Papua, dan Jawa Timur.
Sebanyak 6 provinsi memiliki jumlah kasus HIV kurang dari 90 kasus. Bahkan Sulawesi
Barat tidak dilaporkan adanya kasus baru HIV positif pada tahun 2013.
Gambar berikut ini menampilkan kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terjadi
sampai dengan tahun 2013.
GAMBAR 6.9
JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS
YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN
DI INDONESIA SAMPAI TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014



135 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
Pada gambar di atas terlihat adanya kecenderungan peningkatan penemuan kasus baru
sampai tahun 2012. Namun pada tahun 2013 terjadi penurunan kasus baru AIDS menjadi
sebesar 5.608 kasus. Secara kumulatif, kasus AIDS sampai dengan tahun 2013 sebesar 52.348
kasus.
Menurut jenis kelamin, persentase kasus baru AIDS tahun 2013 pada kelompok laki-laki
1,9 kali lebih besar dibandingkan pada kelompok perempuan seperti digambarkan berikut ini.
GAMBAR 6.10
PROPORSI KASUS BARU AIDS MENURUT JENIS KELAMIN
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Penderita AIDS pada laki-laki sebesar 55,1% dan pada perempuan sebesar 29,7%.
Sebesar 15,2% penderita AIDS tidak diketahui jenis kelaminnya. DKI Jakarta merupakan
provinsi yang tidak melaporkan jenis kelamin penderita AIDS.
Pada Gambar 6.11 berikut ini disajikan penderita AIDS menurut kelompok umur.
GAMBAR 6.11
PERSENTASE KASUS BARU AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Gambaran kasus baru AIDS menurut kelompok umur menunjukkan bahwa sebagian
besar kasus baru AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun, dan 40-49 tahun.
< 1 tahun
0,3%
1-4 tahun
1,8%
5-14 tahun
0,8%
15-19 tahun
3,8%
20-29 tahun
25,3%
30-39 tahun
26,0%
40-49 tahun
11,6%
50-59 tahun
4,0%
60 tahun
0,7%
tidak
melaporkan
umur
25,7%


136 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Kelompok umur tersebut masuk ke dalam kelompok usia produktif yang aktif secara seksual
dan termasuk kelompok umur yang menggunakan NAPZA suntik.
HIV/AIDS dapat ditularkan melalui beberapa cara penularan, yaitu hubungan seksual
lawan jenis (heteroseksual), hubungan sejenis melalui Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL),
penggunaan alat suntik secara bergantian, transfusi darah dan dari ibu ke anak. Berikut ini
disajikan persentase kasus AIDS menurut cara penularan tersebut.
GAMBAR 6.12
PERSENTASE KASUS AIDS MENURUT FAKTOR RISIKO
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Pada gambar di atas nampak bahwa hubungan heteroseksual masih merupakan cara
penularan dengan persentase tertinggi pada kasus AIDS yaitu sebesar 78%, diikuti oleh
penasun atau Injecting Drug User (IDU) sebesar 9,3% dan homoseksual sebesar 4,3%.
ii. Angka kematian akibat AIDS
Angka kematian (Case Fatality Rate) akibat AIDS sejak 2004 cenderung menurun seperti
Gambar 6.13 berikut ini. Pada tahun 2013 CFR AIDS di Indonesia sebesar 1,67%.
GAMBAR 6.13
ANGKA KEMATIAN AKIBAT AIDS YANG DILAPORKAN
DI INDONESIA TAHUN 2004-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014


137 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
iii. Pengetahuan tentang HIV/AIDS
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk membentuk tindakan
seseorang, sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih baik dibandingkan dengan yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Hasil SDKI 2012 menunjukan bahwa persentase wanita umur 15-49 tahun yang pernah
mendengar tentang HIV AIDS sebesar 76,7%. Sedangkan pria kawin umur 15-54 tahun yang
pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 82,3%. Tabel berikut ini memperlihatkan
persentase responden yang pernah mendengar tentang HIV AIDS menurut karakteristik latar
belakang.
TABEL 6.2
PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-54 TAHUN
1
YANG PERNAH MENDENGAR
TENTANG HIV AIDS MENURUT KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG
TAHUN 2012
Karakteristik latar belakang
Kelompok Umur (Tahun)
Wanita Pria
Umur
15-24
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
84,4
84,8
84,0
82,2
78,3
62,8
t.a.d
83,8
79,6
84,1
85,4
88,9
79,6
68,2
Status perkawinan
Belum kawin
Pernah berhubungan seks
Tidak pernah berhubungan seks
Kawin atau hidup bersama
Cerai/janda/duda
88,2
82,6
88,3
74,3
62,6
t.a.d
t.a.d
t.a.d
82,3
t.a.d
Tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
87,0
65,6
91,5
72,8
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
Tamat SMTA+

Jumlah
88,2
82,6
88,3
74,3
62,6

76,7
t.a.d
t.a.d
t.a.d
82,3
t.a.d

82,3
t.a.d = tidak sesuai
1
Termasuk pria berstatus hidup bersama

Data pada Tabel 6.2 memperlihatkan bahwa persentase penduduk yang oernah
mendengan tentang HIV AIDS di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan baik pada
wanita maupun pria kawin. Persentase wanita yang pernah mendengar tentang HIV-AIDS
meningkat sejalan dengan tingkat pendidikan.
Hasil SDKI 2012 juga menunjukkan bahwa persentase wanita umur 15-49 tahun yang
memiliki pengetahuan tentang cara mengurangi risiko HIV AIDS dengan menggunakan kondom
dan membatasi berhubungan seks dengan satu pasangan sebesar 37,3%. Sedangkan pria kawin
umur 15-54 tahun yang memiliki pengetahuan yang sama sebesar 49,1%. Tabel berikut ini


138 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
memperlihatkan persentase responden yang memiliki pengetahuan tentang cara mengurangi
HIV AIDS menurut karakteristik latar belakang.
TABEL 6.3
PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-54
1
TAHUN
TENTANG CARA MENGURANGI RISIKO TERKENA HIV AIDS
MENURUT KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG TAHUN 2012
Karakteristik
latar belakang
Persentase wanita yang mengatakan HIV-AIDS
dapat dihindari dengan:
Persentase pria yang mengatakan HIV-AIDS
dapat dihindari dengan:
Menggunakan
kondom
2

Membatasi
berhubungan
seks hanya
dengan satu
pasangan
3

Menggunaka
n kondom
dan
membatasi
berhubungan
seks hanya
dengan satu
pasangan
3

Menggunakan
kondom
2

Membatasi
berhubungan
seks hanya
dengan satu
pasangan
3

Menggunakan
kondom dan
membatasi
berhubungan
seks hanya
dengan satu
pasangan
3

Umur
15-24
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
44,5
40,5
49,0
47,6
45,9
34,6
t.a.d
62,5
61,0
64,0
62,5
60,4
45,8
t.a.d
38,2
34,3
42,5
41,4
40,5
30,0
t.a.d
53,2
61,1
52,6
60,9
65,8
56,3
t.a.d
63,2
62,3
63,3
63,8
69,6
60,1
49,8
44,2
58,4
43,0
50,4
55,8
47,3
35,8
Status perkawinan
Belum kawin
Pernah
berhubungan
seks
Tidak pernah
berhubungan
seks
Kawin atau hidup
bersama
Cerai/janda/duda
46,4


50,9

46,3

42,5
32,5
65,9


62,5

66,0

56,0
44,7
40,0


46,2

39,9

37,1
27,9
t.a.d


t.a.d

t.a.d

58,0
t.a.d
t.a.d


t.a.d

t.a.d

62,1
t.a.d
t.a.d


t.a.d

t.a.d

48,3
t.a.d
Tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
51,5
33,5
68,2
46,0
45,4
28,4
68,2
48,4
72,0
53,2
57,2
40,6
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat
SMTA
Tamat SMTA+

Jumlah
5,9
14,0
28,6
43,0

63,9

42,9
8,1
22,6
41,2
60,7

80,6

57,6
4,1
10,6
23,8
36,1

57,8

37,3
15,7
25,6
49,3
62,8

77,3

58,5
14,5
31,8
51,6
68,1

81,9

62,8
10,9
20,6
38,2
52,7

67,3

49,1
t.a.d = tidak sesuai
1
Termasuk pria yang berstatus hidup bersama
2
Menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks
3
Pasangan yang tidak memiliki pasangan lain
Pengetahuan pria mengenai HIV-AIDS relatif lebih tinggi dibanding wanita Sebanyak
37,3% wanita dan 49,1% pria kawin mengetahui cara mengurangi risiko penularan HIV AIDS
dengan menggunakan kondom dan membatasi seks hanya dengan satu partner (pasangan).
Pengetahuan tentang cara mengurangi risiko terkena HIV-AIDS (menggunakan kondom
dan membatasi berhubungan seks hanya dengan satu pasangan) lebih tinggi di perkotaan


139 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
dibandingkandi perdesaan baik pada wanita maupun pria kawin. Pengetahuan mengenai HIV-
AIDS meningkat sejalan dengan tingkat pendidikan wanita.
c. Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit yang disebabkan kuman pneumococcus, staphylococcus,
streptococcus, dan virus. Gejala penyakit pneumonia yaitu menggigil, demam, sakit kepala,
batuk, mengeluarkan dahak, dan sesak napas. Populasi yang rentan terserang pneumonia
adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang
memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Menurut hasil Riskesdas 2013, period prevalence pneumonia berdasarkan diagnosis
selama 1 bulan sebelum wawancara sebesar 0,2%. Sedangkan berdasarkan diagnosis/gejala
sebesar 1,8%.
Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007 yang sebesar 2,13%, period prevalence
pneumonia berdasarkan diagnosis/gejala pada tahun 2013 mengalami penurunan menjadi
1,8%.Pada balita, period prevalence berdasarkan diagnosis sebesar 2,4 per 1.000 balita dan
berdasarkan diagnosis/gejala sebesar 18,5 per 1.000 balita.
GAMBAR 6.14
PERIOD PREVALENCE PNEUMONIA BERDASARKAN DIAGNOSIS/GEJALA
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2007 DAN 2013

Sumber: Balitbangkes Kemenkes RI, Riskesdas 2007 & 2013
Pada Gambar 6.14 terlihat bahwa sebagian besar provinsi mengalami penurunan period
prevalence pneumonia pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2007. Terdapat 11 provinsi
(33,3%) yang mengalami kenaikan period prevalence pneumonia pada tahun 2013.
Menurut umur, period prevalence pneumonia tertinggi terjadi pada kelompok umur
balita terutama usia <1 tahun. Menurut daerah tempat tinggal, di perdesaan period prevalence
pneumonia (2,0%) lebih tinggi dibandingkan di perkotaan (1,6%). Sedangkan menurut status
ekonomi dengan menggunakan kuintil indeks kepemilikan, semakin rendah kuintil indeks
kepemilikan semakin tinggi period prevalence pneumonia.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan
meningkatkan penemuan pneumonia pada balita. Perkiraan kasus pneumonia pada balita di


140 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
suatu wilayah sebesar 10% dari jumlah balita di wilayah tersebut. Berikut ini gambaran
penemuan peneumonia pada balita tahun 2008-2013.
GAMBAR 6.15
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA PADA BALITA
DI INDONESIA TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Sampai dengan tahun 2013, angka cakupan penemuan pneumonia balita tidak
mengalami perkembangan berarti yaitu berkisar antara 23%-27%. Selama beberapa tahun
terakhir cakupan penemuan pneumonia tidak pernah mencapai target nasional, termasuk
target tahun 2013 yang sebesar 80%.
Angka kematian akibat pneumonia pada balita sebesar 1,19%. Pada kelompok bayi
angka kematian lebih tinggi yaitu sebesar 2,89% dibandingkan pada kelompok umur 1-4 tahun
yang sebesar 0,20%. Cakupan penemuan pneumonia dan kematiannya menurut provinsi dan
kelompok umur dapat dilihat pada Lampiran 6.10 dan 6.11.
d. Kusta
Penyakit Kusta disebut juga sebagai penyakit Lepra atau penyakit Hansen disebabkan
oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini mengalami proses pembelahan cukup lama
antara 23 minggu. Daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari di luar tubuh manusia.
Kuman kusta memiliki masa inkubasi 25 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5
tahun. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif,
menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata.
Selama periode 2008-2013, angka penemuan kasus baru kusta pada tahun 2013
merupakan yang terendah yaitu sebesar 6,79 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka
prevalensi kusta berkisar antara 0,79 hingga 0,96 per 10.000 (7,9 hingga 9,6 per 100.000
penduduk) dan telah mencapai target < 1 per 10.000 penduduk (< 10 per 100.000 penduduk).
Pada tahun 2013 dilaporkan 16.856 kasus baru kusta, lebih rendah dibandingkan tahun
2012 yang sebesar 18.994 kasus. Sebesar 83,4% kasus di antaranya merupakan tipe Multi
Basiler. Sedangkan menurut jenis kelamin, 35,7% penderita berjenis kelamin perempuan.


141 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.16
ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR)
TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Berdasarkan bebannya, kusta dibagi menjadi 2 kelompok yaitu beban kusta tinggi (high
burden) dan beban kusta rendah (low burden). Provinsi disebut high burden jika NCDR (new
case detection rate: angka penemuan kasus baru)> 10 per 100.000 penduduk dan atau jumlah
kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low burden jika NCDR < 10 per 100.000 penduduk dan
atau jumlah kasus baru kurang dari 1.000 kasus.
Pada Gambar 6.17 terlihat bahwa sebanyak 14 provinsi (42,4%) termasuk dalam beban
kusta tinggi. Sedangkan 19 provinsi lainnya (57,6%) termasuk dalam beban kusta rendah.
Hampir seluruh provinsi di bagian timur Indonesia merupakan daerah dengan beban kusta
tinggi.
GAMBAR 6.17
ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Pengendalian kasus kusta antara lain dengan meningkatkan deteksi kasus sejak dini.
Indikator yang digunakan untuk menunjukkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru
kusta yaitu angka cacat tingkat II. Angka cacat tingkat II pada tahun 2013 sebesar 6,82 per 1 juta
penduduk, menurun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 8,71 per 1 juta penduduk.
Berikut grafik angka cacat tingkat 2 selama enam tahun terakhir.
9,4
9,1
8,4
9,6
9,1
7,9
7,60
7,49
7,22
8,30
7,76
6,79
0
2
4
6
8
10
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(
p
e
r

1
0
0
.
0
0
0

p
e
n
d
u
d
u
k
)
Angka prevalensi kusta per 100.000 penduduk
Angka penemuan kasus baru kusta per 100.000 penduduk


142 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.18
ANGKA CACAT TINGKAT II PER 1.000.000 PENDUDUK
TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Provinsi dengan angka cacat tingkat II per 1 juta penduduk tertinggi pada tahun 2013
yaitu Papua (26,88), Aceh (18,62), dan Papua Barat (17,72). Hal itu menunjukkan kemampuan
mendeteksi kasus baru kusta di ketiga provinsi tersebut masih rendah.
GAMBAR 6.19
ANGKA CACAT TINGKAT II KUSTA PER 1.000.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Indikator lain yang digunakan pada penyakit kusta yaitu proporsi kusta MB dan
proporsi penderita kusta pada anak (0-14 tahun) di antara penderita baru yang
26,88
18,62
17,72
14,86
14,41
13,61
13,24
10,76
8,27
8,25
7,82
6,33
6,11
6,03
5,78
5,55
5,47
4,94
3,38
3,19
2,99
2,70
2,70
1,81
1,76
1,72
1,03
1,02
0,48
0,43
0,16
0,00
0,00
6,82
0 10 20 30 40 50 60
Papua
Aceh
Papua Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Jawa Timur
Sulawesi Selatan
Maluku Utara
Sumatera Selatan
Sulawesi Tengah
Maluku
Sulawesi Tenggara
Bengkulu
Jawa Tengah
Jawa Barat
Banten
Kalimantan Selatan
Nusa Tenggara Barat
Sumatera Barat
Sulawesi Barat
Kepulauan Bangka Belitung
Jambi
DKI Jakarta
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Timur
Sumatera Utara
Kepulauan Riau
Lampung
Bali
Kalimantan Tengah
Riau
DI Yogyakarta
Kalimantan Barat
INDONESIA
(per 1.000.000 penduduk)


143 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
memperlihatkan sumber dan tingkat penularan di masyarakat. Proporsi kusta MB dan proporsi
pada anak periode 2008-2013 ditunjukkan pada grafik berikut ini.
GAMBAR 6.20
PROPORSI KUSTA MBDAN PROPORSI KUSTA PADA ANAK
TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Menurut provinsi, Kalimantan Selatan, DKI Jakarta, dan Riau merupakan tiga provinsi
dengan proporsi kusta MB tertinggi pada tahun 2013 yaitu masing-masing sebesar 93,79%,
92,93%, dan 92,59%.
Provinsi dengan proporsi kusta pada anak tertinggi yaitu Nusa Tenggara Timur
(43,40%), Papua Barat (30,15%), dan Sumatera Utara (28,57%). Data/informasi terkait
penyakit kusta menurut provinsi terdapat pada Lampiran 6.16 dan Lampiran 6.17.
e. Diare
Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit
potensial KLB yang sering disertai dengan kematian. Menurut hasil Riskesdas 2007, Diare
merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%),
sedangkan pada golongan semua umur merupakanpenyebab kematianyang ke empat (13,2%).
Menurut Riskesdas 2013, insiden diare ( 2 minggu terakhir sebelum wawancara)
berdasarkan gejala pada seluruh kelompok umur sebesar 3,5% (kisaran menurut provinsi
1,6%-6,3%) dan insiden diare pada balita sebesar 6,7% (kisaran provinsi 3,3%-10,2%).
Sedangkan period prevalence diare pada seluruh kelompok umur (>2 minggu-1 bulan terakhir
sebelum wawancara) berdasarkan gejala sebesar 7% dan pada balita sebesar 10,2%. Gambar
6.21 berikut ini menggambarkan period prevalencediare menurut provinsi.
Jumlah penderita pada KLB diare tahun 2013 menurun secara signifikan dibandingkan
tahun 2012 dari 1.654 kasus menjadi 646 kasus pada tahun 2013. KLB diare pada tahun 2013
terjadi di 6 provinsi dengan penderita terbanyak terjadi di Jawa Tengah yang mencapai 294
kasus. Sedangkan angka kematian (CFR) akibat KLB diare tertinggi terjadi di Sumatera Utara
yaitu sebesar 11,76%.

82,15 82,43
80,73 80,4
82,69
83,42
11,39 12,01
11,19
12,25
10,78
11,88
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(%)
Proporsi kusta MB Proporsi kusta pada anak


144 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.21
PERIOD PREVALENCE DIARE (> 2 MINGGU 1 BULAN SEBELUM WAWANCARA)
MENURUT GEJALA, RISKESDAS 2013

Sumber: Balitbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas 2013

Secara nasional angka kematian (CFR) pada KLB diare pada tahun 2013 sebesar 1,08%.
Sedangkan target CFR pada KLB Diare diharapkan <1%. Dengan demikian secara nasional, CFR
KLB diare hampir memenuhi target program.
f. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
i. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke tubuh
melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan oleh
pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus Tetanus Neonatorum banyak
ditemukan di negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
yang rendah.
Pada tahun 2013, dilaporkan terdapat 78 kasus Tetanus Neonatorum dengan jumlah
meninggal 42 kasus. Dengan demikian, Case Fatality Rate (CFR) Tetanus Neonatorum pada
tahun 2013 sebesar 53,8%, meningkat dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 49,6%. Kasus
yang meninggal tersebut dilaporkan dari 11 provinsi.
Gambaran kasus menurut faktor risiko status imunisasi menunjukkan bahwa sebagian
besar kasus terjadi pada kelompok yang tidak diimunisasi yaitu 51 kasus (65,4%). Sebanyak 55
kasus (70,5%) melakukan pemeriksaan kehamilan dengan bidan/perawat. Namun, menurut
faktor penolong persalinan, 56 kasus (71,8%) ditolong oleh penolong persalinan tradisional,
misalnya dukun. Untuk pemotongan tali pusat, sebagian besar kasus dilakukan pemotongan tali


145 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
pusat dengan gunting yaitu 55 kasus (70,5%). Rincian kasus Tetanus Neonatorum beserta
persentase kasus menurut faktor risiko dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.18.
ii. Campak
Penyakit campak disebabkan oleh virus campak, golongan Paramyxovirus. Penularan
dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh droplet (ludah) orang yang telah
terinfeksi. Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak usia pra sekolah dan usia SD.
Jika seseorang pernah menderita campak, maka dia akan mendapatkan kekebalan terhadap
penyakit tersebut seumur hidupnya.
Pada tahun 2013, dilaporkan terdapat 11.521 kasus campak, lebih rendah dibandingkan
tahun 2012 yang sebesar 15.987 kasus. Jumlah kasus meninggal sebanyak 2 kasus, yang
dilaporkan dari Provinsi Aceh dan Maluku Utara. Incidence rate (IR) campak pada tahun 2013
sebesar 4,64 per 100.000 penduduk, menurun dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 6,53 per
100.000 penduduk.
GAMBAR 6.22
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Gambar 6.22 menyajikan IR campak menurut provinsi. Nusa Tenggara Timur, Nusa
Tenggara Barat, dan Sumatera Utara merupakan provinsi dengan IR campak terendah. Bahkan
di NTT hanya dilaporkan satu kasus campak. Sedangkan Kepulauan Riau, Aceh, dan DI
Yogyakarta merupakan provinsi dengan IR campak tertinggi.


146 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Menurut kelompok umur, kasus campak pada kelompok umur 1-4 tahun dan kelompok
umur 5-9 tahun merupakan yang terbesar yaitu masing-masing sebesar 27,5% dan 26,9%.
Namun jika dihitung rata-rata umur tunggal, kasus campak pada bayi <1 tahun, merupakan
yang tertinggi, yaitu sebanyak 1.120 kasus (9,7%). Gambar 6.23 berikut memperlihatkan
proporsi kasus campak per kelompok umur.
GAMBAR 6.23
PROPORSI KASUS CAMPAK MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Campak dinyatakan sebagai KLB apabila terdapat 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu
4 minggu berturut-turut yang terjadi mengelompok dan dibuktikan adanya hubungan
epidemiologis. Pada tahun 2013, jumlah KLB campak yang terjadi sebanyak 128 KLB dengan
jumlah kasus sebanyak 1.677 kasus. Berdasarkan konfirmasi laboratorium, 24 kejadian (18,8%)
diantaranya merupakan rubella.
Frekuensi KLB campak tertinggi terjadi di Banten sebanyak 36 kejadian dengan 247
kasus. Namun provinsi dengan jumlah kasus terbanyak terjadi di Lampung yaitu sebesar 309
kasus pada 8 KLB. Diikuti Jawa Barat sebanyak 18 KLB dengan 205 kasus dan Sumatera Barat
serta Jawa Tengah masing-masing 9 KLB. Jumlah kasus yang meninggal pada KLB campak
tersebut hanya satu kasus yang dilaporkan dari Maluku Utara.
iii. Difteri
Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang
sistem pernapasan bagian atas. Penyakit difteri pada umumnya menyerang anak-anak usia 1-10
tahun.
Jumlah kasus difteri pada tahun 2013 sebanyak 778 kasus dengan jumlah kasus
meninggal sebanyak 39 kasus sehingga CFR difteri sebesar 5,01%. Dari 19 provinsi yang
melaporkan adanya kasus difteri, kasus tertinggi terjadi di Jawa Timur yaitu sebanyak 610
kasus (78,4%). Dari seluruh kasus tersebut, hampir setengah di antaranya (47,8%) terjadi pada
penderita yang tidak mendapatkan vaksin DPT.





< 1 tahun
9,7%
1-4 tahun
27,5%
5-9 tahun
26,9%
10-14 tahun
14,3%
> 14 tahun
21,6%


147 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.24
PROPORSI KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Gambaran kasus menurut kelompok umur pada tahun 2013 menunjukkan jumlah
distribusi kasus tertinggi terjadi pada kelompok umur > 14 tahun, 5-9 tahun, dan1-4 tahun.
Namun kelompok umur 14 tahun memiliki rentang usia yang panjang dibanding kelompok
umur lainnya.
iv. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)
Polio disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem syaraf sehingga penderita
mengalami kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berusia 0-3 tahun ini
ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher, serta sakit di
tungkai dan lengan.
AFP merupakan kelumpuhan yang sifatnya flaccid yang bersifat lunglai, lemas atau
layuh (bukan kaku), atau terjadi penurunan kekuatan otot, dan terjadi secara akut (mendadak).
Sedangkan non polio AFP adalah kasus lumpuh layuh akut yang diduga kasus Polio sampai
dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium bukan kasus Polio. Kementerian Kesehatan
menetapkan non polio AFP Rate minimal 2/100.000 populasi anak usia < 15 tahun. Pada tahun
2013, secara nasional non polio AFP Rate sebesar 2.74/100.000 populasi anak < 15 tahun yang
berarti telah mencapai standar minimal penemuan.
GAMBAR 6.25
NON POLIO AFP RATE PER 100.000 PENDUDUK < 15 TAHUN
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
< 1 tahun
1,7%
1-4 tahun
24,0%
5-9 tahun
27,5%
10-14 tahun
14,4%
> 14 tahun
32,4%


148 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Dari 33 provinsi, 29 di antaranya (87,8%) telah mencapai target non polio AFP rate> 2
per 100.000 penduduk pada tahun 2013. Sebanyak empat provinsi yang belum mencapai target
non polio AFP rate yaitu Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.
Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans, akan
dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus polio liar. Untuk
itu diperlukan spesimen adekuat yang sesuai dengan persyaratan yaitu diambil 14 hari
setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0C - 8C sampai di laboratorium.
GAMBAR 6.26
PERSENTASE SPESIMEN ADEKUAT AFP
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Standar spesimen adekuat yaitu 80%. Pada tahun 2013 spesimen adekuat di Indonesia
sebesar 87,7%. Dengan demikian spesimen adekuat secara nasional telah sesuai standar.
Sebanyak 25 provinsi (75,8%) telah mencapai standar spesimen adekuat tahun 2013.
Sedangkan 8 provinsi lainnya (24,2%) tidak mencapai standar tersebut. Informasi lebih rinci
mengenai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi menurut provinsi dan kelompok umur
dapat dilihat pada Lampiran 6.12-6.24.
g. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes,
misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus. PenyakitDBD dapat muncul sepanjang tahun dan


149 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
dapat menyerang seluruh kelompok umur. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan
dan perilaku masyarakat.
Pada tahun 2013, jumlah penderita DBD yang dilaporkan sebanyak 112.511 kasus
dengan jumlah kematian 871 orang (Incidence Rate/Angka kesakitan= 45,85 per 100.000
penduduk dan CFR/angka kematian= 0,77%). Terjadi peningkatan jumlah kasus pada tahun
2013 dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 90.245 kasus dengan IR 37,27. Target Renstra
Kementerian Kesehatan untuk angka kesakitan DBD tahun 2013 sebesar 52 per 100.000
penduduk, dengan demikian Indonesia telah mencapai target Renstra 2013. Berikut tren IR DBD
selama kurun waktu 2008-2013.
GAMBAR 6.27
ANGKA KESAKITAN (IR) DEMAM BERDARAH DENGUE
PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Gambaran angka kesakitan DBD menurut provinsi tahun 2013 dapat dilihat pada
Gambar 6.28 Pada tahun 2013 terdapat sebanyak 26 provinsi (78,8%) yang telah mencapai
target 2013. Provinsi dengan IR DBD tertinggi tahun 2013 yaitu Bali sebesar 168,48, DKI Jakarta
sebesar 104,04, dan DI Yogyakarta sebesar 95,99 per 100.000 penduduk.
Kematian akibat DBD dikategorikan tinggi jika CFR > 2%. Dengan demikian pada tahun
2013 terdapat tiga provinsi yang memiliki CFR tinggi yaitu Provinsi Jambi, Kep. Bangka
Belitung, dan Nusa Tenggara Timur. Pada provinsi tersebut masih perlu upaya peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas dan kuantitas SDM kesehatan di rumah
sakit dan puskesmas (dokter, perawat, dan lain-lain) termasuk peningkatan sarana-sarana
penunjang diagnostik dan penatalaksanaan bagi penderita di sarana-sarana pelayanan
kesehatan.









150 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.28
ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Berbeda dengan peningkatan jumlah penderita/angka kesakitan, jumlah
kabupaten/kota terjangkit DBD mengalami penurunan, dari 417 (83,9%) pada tahun 2012
menjadi 412 Kabupaten/Kota (82,9%) pada tahun 2013. Berikut ini gambaran jumlah
kabupaten/kota terjangkit tahun 2008-2013. Selama periode tahun 2008 sampai tahun 2013
jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD cenderung meningkat.
GAMBAR 6.29
JUMLAH KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD
DI INDONESIA TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014


151 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
Salah satu indikator yang digunakan untuk upaya pengendalian penyakit DBD yaitu
angka bebas jentik. Sampai tahun 2013 angka bebas jentik secara nasional belum mencapai
target yang sebesar 95%.
GAMBAR 6.30
ANGKA BEBAS JENTIK
DI INDONESIA TAHUN 2010-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014

Pada tahun 2013 angka bebas jentik di Indonesia sebesar 80,09%. Sampai tahun 2013
angka bebas jentik belum mencapai target nasional yang sebesar 95%. Belum semua provinsi
melaporkan angka bebas jentik.
Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat pada
Lampiran 6.29 dan Lampiran 6.30.
h. Chikungunya
Demam chikungunya (demam chik) adalah suatu penyakit menular dengan gejala utama
demam mendadak, nyeri pada persendian, terutama pada sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan
tangan serta tulang belakang, serta ruam pada kulit. Demam chik ditularkan oleh nyamuk Aedes
albopictus dan Aedes aegypty yang juga merupakan nyamuk penular penyakit demam berdarah
Dengue (DBD).
Demam chik dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan
epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya demam chik yaitu rendahnya status
kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya
tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan.
Selama tahun 2013 terdapat dua kabupaten/kota dari satu provinsi yang melaporkan
terjadinya KLB Chikungunya yaitu Kabupaten Bandung Barat dan Kota Tasikmalaya di Provinsi
Jawa Barat.
Kejadian Demam Chikungunya mengalami penurunan kasus yang cukup signifikan pada
tahun 2009-2012, namun kembali meningkat secara signifikan pada tahun 2013. Hingga saat ini
belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat Chikungunya.




152 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.31
JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA
TAHUN 2009-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Faktor penyebab turunnya kasus antara lain kondisi cuaca yang relatif kering dengan
curah hujan yang rendah dan adanya imunitas pada daerah yang pernah terjangkit.
i. Filariasis
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria, yang
terdiri dari tiga spesies yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Penyakit
inimenginfeksi jaringan limfe (getah bening). Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang
mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh manusia, cacing tersebut tumbuh
menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di
kaki, tungkai, payudara, lengan dan organ genital.
GAMBAR 6.32
JUMLAH KASUS KLINIS FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2010 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Provinsi dengan kasus klinis filariasis tertinggi pada tahun 2013 yaitu Aceh (2.359
kasus), Nusa Tenggara Timur (2.203 kasus), dan Papua (1.346 kasus).
Pada tahun 2013 terdapat sebanyak 302 kabupaten/kota endemis filariasis. Dari jumlah
tersebut hanya 92 kabupaten/kota (30,5%) yang melaksanakan Pemberian Obat Massal
11.969 12.066
11.902
12.714
0
2.500
5.000
7.500
10.000
12.500
15.000
2010 2011 2012 2013
(
j
u
m
l
a
h

k
a
s
u
s
)



153 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
Pencegahan (POMP) filariasis dan sebanyak 32 Kabupaten/Kota yang telah selesai POMP
filariasis selama lima tahun berturut-turut. Belum semua kabupaten endemis filariasis
melaksanakan POMP, hal itu disebabkan kurangnya komitmen pemerintah daerah dalam
menyediakan biaya operasional POMP selama minimal lima tahun berturut- turut yang menjadi
tanggung jawab pemerintah daerah. Sedangkan tanggung jawab pemerintah pusat yaitu
menyediakan obat.
j. Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup
dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria
(Anopheles) betina, dapat menyerang semua orang baik laki-laki ataupun perempuan pada
semua golongan umur dari bayi, anak-anak dan orang dewasa. Berikut gambaran peta
endemisitas malaria per kabupaten/kota di Indonesia.
GAMBAR 6.33
PETA ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA
TAHUN 2012 DAN 2013
Tahun 2012 Tahun 2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Dari gambaran peta dan tabel endemisitas malaria di kabupaten/kota terlihat
penurunan jumlah daerah endemis tinggi dimana pada tahun 2011 kabupaten/kota yang
termasuk daerah endemis tinggi sebanyak 18%, pada tahun 2012 sebanyak 16% dan pada
tahun 2012 menjadi 14%. Sebaliknya, persentase kabupaten/kota dengan endemisitas rendah
meningkat. Gambar 6.34 berikut ini memperlihatkan perubahan persentase endemisitas
malaria tahun 2011-2013.
GAMBAR 6.34
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA MENURUT TINGKAT ENDEMISITAS
TAHUN 2011-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014


154 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
i. Angka Kesakitan Malaria
Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 20052013 cenderung menurun
yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2005 menjadi 1,38 per 1.000 penduduk
berisiko pada tahun 2013. Sementara target Rencana Strategi Kementerian Kesehatan untuk
angka kesakitan malaria (API/annual parasite incidence) tahun 2013 <1,25 per 1.000 penduduk
berisiko. Dengan demikian cakupan API 2013 tidak mencapai target Renstra 2013. Penurunan
API tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.
GAMBAR 6.35
ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE /API)
PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO TAHUN 2005-2013


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Tiga provinsi dengan API tertinggi yaitu Papua (42,65), Papua Barat (38,44) dan Nusa
Tenggara Timur (16,37). Sedangkan provinsi dengan API terendah yaitu DKI Jakarta, Bali, dan
Jawa Timur. Pada tahun 2013 di DKI Jakarta dan Bali tidak ditemukan kasus positif malara,
sedangkan di Jawa Timur hanya ditemukan 7 kasus. Secara nasional, sebesar 85% sediaan
darah dites dengan pemeriksaan mikroskopis dan 15% lainnya dites dengan Rapid Diagnostic
Test (Lampiran 6.25).
Menurut Riskesdas 2013, insiden malaria berdasarkan diagnosis sebesar 0,35% atau 3,5
per 1.000 penduduk. Pada survei ini 3 provinsi dengan insiden tertinggi sama dengan hasil
laporan rutin yaitu Papua (6,1%), Papua Barat (4,5%), dan Nusa Tenggara Timur (2,6%).
Sementara insiden malaria berdasarkan diagnosis/gejala sebesar 1,9% atau 19 per 1.000
penduduk.
ii. Pengobatan Malaria
Pengobatan malaria harus dilakukan secara efektif. Pemberian jenis obat harus benar
dan cara meminumnya harus tepat waktu yang sesuai dengan acuan program pengendalian
malaria. Pengobatan efektif adalah pemberian ACT (Artemicin-based Combination Therapy) pada
24 jam pertama pasien panas dan obat harus diminum habis dalam 3 hari. Hasil Riskesdas 2013
menyatakan bahwa proporsi pengobatan efektif Indonesia sebesar 45,5%. Lima provinsi
tertinggi dalam mengobati malaria secara efektif yaitu Kep. Bangka Belitung (59,2%), Sumatera
Utara (55,7%), Bengkulu (53,6%), Kalimantan Tengah (50,5%), dan Papua (50,0%).
Informasi lengkap mengenai jumlah kasus malaria, jenis tes sediaan darah, dan angka
kesakitan serta pengobatannya dapat dilihat pada Lampiran 6.25 sampai dengan Lampiran 6.28.


155 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
k. Rabies
Rabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus (golongan Rabdovirus)
yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, kelelawar, kera, musang dan
serigala yang di dalam tubuhnya mengandung virus.
Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian
rabies, yaitu: GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies), PET/Post Exposure Treatment
(penatalaksanaan kasus gigitan), dan kasus yang positif rabies dan mati berdasarkan uji Lyssa.
Pada tahun 2013 terdapat 25 provinsi (termasuk Kalimantan Utara) tertular rabies dari
34 provinsi di Indonesia (sesuai SK Menteri Pertanian). Sedangkan sebanyak sembilan provinsi
bebas rabies, lima diantaranya provinsi bebas historis (Papua, Papua Barat, Bangka Belitung,
Kepulauan Riau, dan NTB), dan empat provinsi dibebaskan (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa
Timur, dan DKI Jakarta). Provinsi Kalimantan Barat sejak tahun 2006 hingga saat ini tidak
dilaporkan adanya kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) begitu juga tidak ada kasus
Lyssa. Namun, status daerah kasus tertular rabies masih belum dicabut oleh Kementerian
Pertanian.
Kasus kematian karena rabies (Lyssa) di tahun 2013 secara signifikan mengalami
penurunan dari 195 pada tahun 2009 menjadi 119 kasus Lyssa pada tahun 2013. Demikian juga
dengan jumlah kasus Gigitan Hewan Penular Rabies pada tahun 2013 mengalami penurunan
dibandingkan dengan kasus GHPR dalam tiga tahun terakhir. Kasus GHPR di tahun 2013
mengalami penurunan sebesar 18,4% jika dibandingkan dengan kasus GHPR tahun 2012.
Gambar 6.36 memperlihatkan bahwa penatalaksanaan kasus gigitan/Post Exposure
Treatment (PET) menurun, baik secara jumlah dari 74.331menjadi 54.059, maupun persentase
PET/VAR terhadap GHPR dari 87,7% pada tahun 2012 menjadi 78,5% pada tahun 2013.
GAMBAR 6.36
SITUASI RABIES DI INDONESIA
TAHUN 2009 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Gambar 6.37 berikut ini merupakan sebaran kasus rabies di Indonesia selama tahun
2013.




156 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.37
SEBARAN KASUS GHPR DAN KEMATIAN AKIBAT RABIES (LYSSA) DI INDONESIA
TAHUN 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Pada tahun 2013 terdapat 69.136 kasus gigitan hewan penular rabies. Kasus GHPR
paling banyak terjadi di Bali yaitu sebanyak 37.066 kasus dengan kasus meninggal berdasarkan
tes lyssa yang positif rabies dan mati berjumlah satu orang. Diikuti oleh Riau dengan 5.106
GHPR dan dua belas positif rabies serta Nusa Tenggara Timur sebanyak 5.067 GHPR dan enam
positif rabies.
l. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan zoonosis yang diakibatkan bakteri Leptospira sp. Sumber
infeksi pada manusia biasanya akibat kontak secara langsung atau tidak langsung dengan urine
hewan yang terinfeksi. Penyakit ini bersifat musiman, di daerah yang beriklim sedang masa
puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur karena temperatur adalah faktor
yang mempengaruhi kelangsungan hidup Leptospira, sedangkan didaerah tropis insidens
tertinggi selama musim hujan.
Provinsi yang melaporkan adanya kasus leptopirosis tahun 2013 yaitu Provinsi
Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, dan
Banten. Selama lima tahun terakhir, Sumatera Selatan baru melaporkan kasus leptospirosis
pada tahun 2013.
















157 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
TABEL 6.4
DISTRIBUSI KASUS LEPTOSPIROSIS DI 9 PROVINSI
DI INDONESIATAHUN 2009 2013
Provinsi
Tahun
2009 2010 2011 2012 2013
Sumatera Selatan
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Kalimantan Timur
Sulawesi Selatan
0
8
0
232
95
0
0
0
0
0
15
1
133
230
19
0
0
11
0
11
29
184
626
5
0
2
0
0
10
0
129
72
28
0
0
0
1
66
1
156
163
244
10
0
0
Total 335 409 857 239 641
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Dibandingkan tahun 2012, terdapat kenaikan jumlah kasus yang signifikan yaitu dari
239 kasus menjadi 641 kasus pada tahun 2013. Lonjakan kasus Leptospirosis terjadi di Jawa
Timur, DKI Jakarta, dan DI Yogyakarta. Peningkatan kasus tersebut salah satunya karena KLB di
Kabupaten Sampang Madura yang menyebabkan 96 kasus dengan sembilan kasus meninggal
(CFR=9,37%). KLB terjadi akibat air banjir yang terkontaminasi kencing tikus, lingkungan yang
kurang sehat, dan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat masih kurang.
Angka kematian akibat leptospirosis selama enam tahun terakhir dapat dilihat pada
Gambar 6.38 berikut ini.
GAMBAR 6.38
SITUASI LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA
TAHUN 2008 - 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Walaupun jumlah kasus pada tahun 2013 meningkat dibandingkan tahun 2012, namun
angka kematian (case fatality rate/CFR)akibat leptospirosis menurun dari 12,13% pada tahun
2012 menjadi 9,38% pada tahun 2013. Upaya yang dilakukan untuk menekan angka kematian
cukup efektif.
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosis ditujukan pada upaya
penemuan dini serta pengobatan segera penderita untuk mencegah kematian, intervensi


158 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
lingkungan untuk mencegah munculnya sarang-sarang atau tempat persembunyaian tikus, dan
vaksinasi hewan peliharaan terhadap Leptospira.
m. Antraks
Penyakit antraks disebabkan oleh kuman antraks (Bacillus anthracis). Kuman ini dapat
membentuk spora yang tahan terhadap perubahan lingkungan dan dapat bertahan hidup
selama 60 tahun didalam tanah, sehingga sulit untuk dimusnahkan. Sumber penularan antraks
adalah hewan peliharaan seperti sapi, kerbau, kambing dan domba yang terinfeksi Bacillus
anthracis.
Pada tahun 2013 telah dilaporkan sebanyak sebelas kasus antraks dari satu provinsi
yaitu Sulawesi Selatan dengan kematian sebanyak satu orang (CFR=9,1%). Tahun 2012
ditemukan 18 kasus antraks di Nusa Tenggara Timur dan empat kasus di Sulawesi Selatan.
Sedangkan pada tahun 2011 sebanyak 27 kasus antraks ditemukan di Jawa Tengah dan empat
belas kasus di Nusa Tenggara Timur. Berikut ini digambarkan distribusi kasus antraks selama
enam tahun terakhir.
GAMBAR 6.39
JUMLAH KASUS DAN CFR ANTRAKS
DI INDONESIA TAHUN 2008-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Pengendalian kasus antraks dapat dilakukan dengan peningkatan kegiatan surveilans
yang intensif terhadap kasus antraks dengan fokus daerah endemis atau daerah rawan lainnya.
Kegiatan surveilans diintensifkan pada hari-hari perayaan keagamaan seperti Hari Raya Idul
Fitri, Idul Adha, Natal ataupun perayaan hari besar lainnya dan juga saat dimungkinkan
konsumsi daging meningkat.
n. Flu Burung
Pengendalian flu burung yang dilakukan secara terpadu secara signifikan telah berhasil
menurunkan jumlah kasus konfirmasi flu burung H5N1 di Indonesia pada tahun 2013.
Dibandingkan tahun 2012 yang sebesar sembilan kasus, jumlah kasus konfirmasi flu burung
menurun pada tahun 2013 menjadi tiga kasus konfirmasi. Ketiga kasus tersebut terjadi di
Provinsi Jawa Barat yaitu dua kasus di Kota Bekasi dan satu kasus di Kabupaten Bekasi.
Namun, keseluruhan kasus konfirmasi flu burung pada tahun 2013 tersebut meninggal.
Gambaran penurunan jumlah kasus konfirmasi flu burung H5N1 dapat dilihat pada grafik
berikut ini.


159 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.40
JUMLAH KASUS, KEMATIAN, DANCASE FATALITY RATE (CFR)FLU BURUNG
DI INDONESIA TAHUN 2005-2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014
Sejak dilaporkan kasus pertama pada tahun 2005, penyebaran kasus flu burung H5N1
pada manusia telah terjadi di lima belas provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Sumatera
Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, NTB, dan Sulawesi Selatan.
Secara kumulatif, jumlah kasus tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta sebesar 52
kasus, Jawa Barat sebesar 51 kasus, dan Banten sebesar 32 kasus.
Berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi yang dilakukan oleh Tim terpadu (Ditjen
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Balitbangkes) beberapa hal yang
mempengaruhi tingginya CFR pada tahun 2013 yaitu:
1. Keterlambatan diagnosis dan keterlambatan pemberian Oseltamivir, disamping itu
juga faktor virulensi virus dan hostnya.
2. Dua dari tiga kasus tersebut tidak diberikan Oseltamivir.
3. Beberapa kasus memiliki histori kontak secara tidak langsung dengan faktor risiko,
sehingga petugas kesehatan menjadi kurang waspada terhadap gejala yang
mengarah ke Flu Burung.

2. PENYAKIT TIDAK MENULAR
Penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes
melitus, cedera dan penyakit paru obstruktif kronik serta penyakit kronik lainnya merupakan
63% penyebab kematian di seluruh dunia dengan membunuh 36 juta jiwa per tahun (WHO,
2010). Di Indonesia sendiri, penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting
dan dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM semakin meningkat. Hal tersebut
menjadi beban ganda dalam pelayanan kesehatan, sekaligus tantangan yang harus dihadapi
dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia. Peningkatan PTM berdampak negatif pada
ekonomi dan produktivitas bangsa. Pengobatan PTM seringkali memakan waktu lama dan
memerlukan biaya besar. Beberapa jenis PTM merupakan penyakit kronik dan/atau katastropik
yang dapat mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya. Selain itu, salah satu dampak PTM
adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen. Secara global, regional, dan
nasional pada tahun 2030 diproyeksikan terjadi transisi epidemiologi dari penyakit menular
menjadi penyakit tidak menular.


160 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Berbagai faktor risiko PTM antara lain ialah: merokok dan keterpaparan terhadap asap
rokok, minum minuman beralkohol, diet/pola makan, gaya hidup, kegemukan, obat-obatan, dan
riwayat keluarga (keturunan). Prinsip upaya pencegahan tetap lebih baik dari pengobatan.
Upaya pencegahan penyakit tidak menular lebih ditujukan kepada faktor risiko yang telah
diidentifikasi. Kementerian Kesehatan telah mengembangkan program pengendalian PTM sejak
tahun 2005. Upaya pengendalian faktor risiko PTM yang telah dilakukan berupa promosi
Perilaku Bersih dan Sehat serta pengendalian masalah tembakau. Beberapa Pemerintah Daerah
telah menerbitkan peraturan terkait Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan membentuk Aliansi
Walikota/Bupati dalam Pengendalian Tembakau dan Penyakit Tidak Menular. Sedangkan untuk
pengaturan makanan berisiko, ke depan akan dibuat regulasi antara lain tentang gula, garam
dan lemak dalam makanan yang dijual bebas. Upaya pengendalian PTM tidak akan berhasil jika
hanya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan tanpa dukungan seluruh jajaran lintas sektor,
baik pemerintah, swasta, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, bahkan seluruh lapisan
masyarakat. Data dan informasi mengenai penyakit tidak menular di Indonesia menurut
provinsi berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 disajikan pada lampiran 6.34 6.37.
Beberapa kegiatan yang telah dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan dalam
upayanya untuk mengendalikan penyakit tidak menular pada tahun 2013 adalah sebagai
berikut.

1. Posbindu PTM
Kegiatan yang mulai dikembangkan pada tahun 2011 ini merupakan salah satu wujud
peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut dini
terhadap faktor risiko PTM secara terpadu dan terintegrasi dengan kegiatan rutin di
masyarakat, seperti di lingkungan tempat tinggal dalam wadah desa/kelurahan siaga aktif.
Selain itu, kegiatan tersebut pada saat ini telah dikembangkan pada kelompok khusus
seperti di Perusahaan Outobus (PO), kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH), sekolah, dan
tempat kerja.
2. Meningkatkan Upaya Pengendalian PTM di Puskemas
Pada tahun 2013 setiap kabupaten/kota minimal memiliki satu puskesmas dengan
program unggulan pelayanan PTM yang dilengkapi dengan sumber daya manusia yang
terlatih PTM, fasilitas, dan peralatan untuk penatalaksanaan kasus PTM. Upaya tersebut
antara lain peningkatan promosi kesehatan (health promotion) yang dilakukan melalui
gaya hidup sehat, melaksanakan deteksi dini dan monitoring faktor risiko PTM dan Pandu
PTM, dan atau layanan khusus PTM lainnya (jantung, stroke, Cedera, Tisan, skrining
Thalasemia, SLE, kanker anak, layanan upaya berhenti merokok, diet, aktivitas fisik, stres,
Tisan, PAL, IVA + CBE, rehabilitasi dan atau paliatif PTM).
3. Pengendalian Tembakau
Pengendalian tembakau di Indonesia merupakan salah satu upaya pengendalian faktor
risiko PTM, guna menurunkan prevalensi penyakit tidak menular. beberapa upaya yang
telah dikembangkan adalah:
a. Pengembangan kawasan tanpa rokok
b. Upaya berhenti rokok di Fasyankes Primer
c. Kebijakan pengendalian rokok
d. Jajak pendapat masyarakat mengenai penerapan larangan total iklan, promosi dan
sponsorship rokok.




161 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan

4. Upaya Pengendalian Kecelakaan Lalu Lintas pada Situasi Mudik Lebaran 2013
Pada musim mudik Hari Raya Idul Fitri tahun 2013, Kemenkes RI menerbitkan Buku
Monitoring Evaluasi Kesehatan Pengemudi yang digunakan untuk mengamati
perkembangan kesehatan para pengemudi angkutan umum.
a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Ruang lingkup pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJPD) yang
menjadi tanggung jawab Sub Direktorat Penyakit Jantung Dan Pembuluh Darah, Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan meliputi hipertensi essensial,
penyakit ginjal hipertensi, penyakit jantung hipertensi, stroke, gagal jantung, Penyakit Jantung
Koroner (PJK), kardiomipathy, penyakit jantung rheumatic, penyakit jantung bawaan, dan
infark miocard akut. Prioritas program pengendalian tahun 2010 memperhatikan pada
pengendalian faktor risiko PJPD berbasis masyarakat, deteksi dini, dan jejaring kerja dengan
tahapan kegiatan sebagai berikut :
Penyusunan Norma Standar Prosedur Kriteria (NSPK). Sampai dengan tahun 2010,
NSPK yang telah disusun berupa :
a Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 854/MENKES/SK/IX/2009 Tentang Pedoman
Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
b Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 853/MENKES/SK/IX/2009 Tentang Jejaring
Kerja Nasional
c Buku pedoman Pengendalian Hipertensi pada Ibu Hamil
d Buku Deteksi Dini Faktor Risiko penyakit Jantung dan pembuluh Darah
1. Pengembangan SDM yang terdiri dari Training of Trainers (TOT) di 15 wilayah, dan
kalakarya di lokasi pelaksanaan bimbingan teknis dan sosialisasi.
2. Penyediaan alat stimulan berupa masscrening yang terdiri dari timbangan badan, alat ukur
tinggi badan, lingkar pinggang, tekanan darah, cardiochek, dan EKG yang didistribusikan ke
17 provinsi dan 36 kabupaten/kota.
3. Surveilans Epidemiologi. Kegiatan ini berupa penemuan dan tata laksana penyakit jantung
dan pembuluh darah. Salah satu kegiatan pokok pengendalian penyakit jantung dan
pembuluh darah yaitu penemuan dan tatalaksana yang dilaksanakan melalui deteksi dini
faktor risiko. Lokasi deteksi dini yang dilakukan pada tahun 2010 adalah Bireuen, Kota
Cimahi, Pontianak, Lamongan, Badung, Kota Balikpapan, Kota Pare Pare, dan Kota Banjar
Baru.
4. Pengendalian faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah berbasis masyarakat
melalui peningkatan pemberdayaan peran serta masyarakat. Kegiatan ini dilakukan dengan
melatih kader-kader Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) di 17 provinsi dan 36
kabupaten/kota.
5. Jejaring kerja berdasarkan faktor risiko PJPD. Kegiatan ini dilakukan dengan menjalin
kerjasama dengan lintas sektor, lintas program dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Gambaran prevalensi stroke di Indonesia sebagai salah satu penyakit jantung dan
pembuluh darah hasil Riskesdas tahun 2007 dan 2013 menurut provinsi disajikan pada gambar
berikut.





162 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.41
PREVALENSI STROKE PADA UMUR 15 TAHUN () BERDASARKAN DIAGNOSIS DOKTER
MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 DAN 2013

Sumber: Riskesdas 2007 dan 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI
Dari gambar 6.41 di atas dapat dilihat bahwa provinsi dengan prevalensi stroke pada
umur 15 tahun menurut diagnosis dokter/gejala yang tertinggi pada tahun 2013 ialah
Provinsi Sulawesi Selatan (17,9), kemudian disusul DI Yogyakarta (16,9), dan Sulawesi
Tengah (16,6). Sedangkan prevalensi terendah terdapat di Provinsi Riau (5,2), kemudian
disusul oleh Jambi (5,3), dan Lampung (5,4). Kenaikan prevalensi tertinggi terdapat di
Provinsi Sulawesi Selatan, yakni dari 7,4 pada tahun 2007 menjadi 17,9 pada 2013.
Sedangkan penurunan prevalensi terbanyak terdapat di Provinsi Kepulauan Riau, yaitu dari
14,9 pada 2007 menjadi 8,5 pada 2013. Data dan informasi mengenai stroke menurut
provinsi pada tahun 2013 disajikan pada lampiran 6.36.
Selain stroke, penyakit jantung koroner juga merupakan salah satu penyakit jantung dan
pembuluh darah. Gambaran prevalensi penyakit jantung koroner hasil Riskesdas tahun 2013 di
Indonesia menurut provinsi disajikan pada gambar 6.42.












163 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.42
PREVALENSI PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA UMUR 15 TAHUN BERDASARKAN DIAGNOSIS
DOKTER/GEJALA MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014
Dari gambar 6.42 di atas terlihat bahwa menurut Riskesdas tahun 2013, provinsi
dengan prevalensi penyakit jantung koroner pada umur 15 tahun menurut diagnosis
dokter/gejala tertinggi ialah Provinsi Nusa Tenggara Timur (4,4%). Kemudian disusul oleh
Sulawesi Tengah (3,8%) dan Sulawesi Selatan (2,9%). Sedangkan prevalensi terendah terdapat
di Provinsi Riau (0,3%), Lampung (0,4%), dan Jambi (0,5%).
GAMBAR 6.43
PREVALENSI HIPERTENSI PADA UMUR 18 TAHUN BERDASARKAN WAWANCARA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 DAN 2013

Sumber: Riskesdas 2007 dan 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI


164 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Dari gambar 6.43 dapat dilihat bahwa secara nasional terjadi peningkatan prevalensi
hipertensi berdasarkan wawancara (apakah pernah didiagnosis nakes dan minum obat
hipertensi) dari 7,6 persen pada tahun 2007 menjadi 9,5 persen pada tahun 2013. Dari gambar
tersebut juga dapat dilihat bahwa provinsi dengan prevalensi hipertensi pada umur 18 tahun
berdasarkan wawancara yang tertinggi pada tahun 2013 ialah Provinsi Sulawesi Utara (15,2%),
kemudian disusul Provinsi Kalimantan Selatan (13,3%), dan DI Yogyakarta (12,9).
Sedangkan prevalensi terendah terdapat di Provinsi Papua (3,3%), kemudian disusul oleh
Papua Barat (5,2%), dan Riau (6,1%). Kenaikan prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi
Sulawesi Barat, yakni dari 4,7% pada tahun 2007 menjadi 9,6% pada 2013. Sedangkan
penurunan prevalensi terbanyak terdapat di Provinsi Riau, yaitu dari 8,2% pada 2007 menjadi
6,1% pada 2013. Data dan informasi mengenai hipertensi menurut provinsi pada tahun 2013
disajikan pada lampiran 6.35.
b. Penyakit Kanker
Program pengedalian penyakit kanker dilakukan untuk semua jenis kanker, tetapi saat
ini masih diprioritaskan pada dua kanker tertinggi di Indonesia yaitu kanker leher rahim dan
kanker payudara. Kegiatan yang dilakukan meliputi pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
Pencegahan primer dilakukan melalui pengendalian faktor risiko dan peningkatan komunikasi,
informasi dan edukasi. Pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini dan tatalaksana
yang dilakukan di Puskesmas dan rujukan ke rumah sakit. Deteksi dini kanker leher rahim
menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan krioterapi untuk IVA (lesi
pra kanker leher rahim) positif, sedangkan deteksi dini kanker payudara menggunakan metode
Clinical Breast Examiniation (CBE). Pencegahan tersier dilakukan melalui perawatan paliatif dan
rehabilitatif di unit-unit pelayanan kesehatan yang menangani kanker dan pembentukan
kelompok survivor kanker di masyarakat.
Selain itu, dilakukan juga pengembangan registrasi kanker sebagai suatu sistem
surveilans dengan menggunakan software SriKanDI (Sistem Registrasi Kanker di Indonesia) di
DKI Jakarta sebagai model, yang akan dikembangkan ke daerah lain di Indonesia. Kegiatan yang
dilakukan dalam rangka pengendalian penyakit kanker antara lain :
1. Pencegahan dan pengendalian faktor risiko.
Sampai dengan tahun 2010 telah disusun Pedoman Pengendalian Penyakit Kanker yang
menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan berbagai pihak yang terlibat dalam pengendalian
kanker. Pengendalian faktor risiko kanker juga dilakukan dengan memberikan konseling dan
penyuluhan bagi perempuan yang melakukan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara
di Puskesmas. Sampai tahun 2010 terdapat layanan konseling di 68 kabupaten/kota pada 14
provinsi.
2. Penemuan dan tatalaksana kasus.
Program deteksi dini dan tatalaksana yang dilakukan masih diprioritaskan pada 2 kanker
tertinggi di Indonesia yaitu kanker payudara dan kanker leher rahim. Program ini dimulai
sejak tahun 2007 dan telah dicanangkan sebagai program nasional yang dicanangkan oleh
Ibu Negara pada 21 April 2008. Program tersebut dikembangkan oleh Kementerian
Kesehatan dan Female Cancer Program (FCP).
Sampai dengan tahun 2013 program deteksi dini kanker leher rahim dan payudara sampai
tahun 2013, program deteksi dini kedua kanker tersebut telah berkembang di 207
kabupaten pada 32 provinsi, yang dilaksanakan oleh 717 dari 9500 Puskesmas. Saat ini, telah
ada 405 pelatih atau trainers yang terdiri dari dokter spesialis obstetri ginekologi, dokter
spesialis bedah onkologi, dokter spesialis bedah, dokter umum serta bidan dan diperkuat
oleh 1.682 providers atau pelaksana program terdiri dari dokter umum dan bidan. Jumlah


165 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
diskrining sebanyak 644.951 perempuan atau 1,75% dari target perempuan usia 30-50
tahun, 28.850 (4,47%) IVA positif, curiga kanker leher rahim 840 (1,3 per 1000), benjolan
pada payudara 1.682 (2,6 per 1000).
3. Peningkatan surveilans epidemiologi.
Dalam upaya meningkatkan kualitas surveilans epidemiologi penyakit kanker, agar
diperoleh data kanker yang valid dan tidak ada duplikasi pencatatan di masyarakat, maka
dikembangkan modeling registrasi kanker berbasis populasi di DKI Jakarta. Program
tersebut akan dikembangkan ke daerah lain di Indonesia. Sampai tahun 2010, registrasi di
DKI Jakarta telah dilaksanakan di 79 rumah sakit, 2 klinik, 90 laboratorium patologi, dan 34
Puskesmas kecamatan yang membawahi 301 Puskesmas kelurahan.
4. Peningkatan jejaring kerja dan kemitraan.
Dalam mengembangkan program pengendalian kanker di Indonesia, Kementerian Kesehatan
bekerja sama dengan lintas sektor terkait, pemerintah daerah, organisasi profesi, LSM dalam
dan luar negeri, dan pihak-pihak lainnya. Kerjasama ini diantaranya diwujudkan dalam
penyusunan rencana kerja 5 tahun (2010-2014), yaitu Indonesian Cancer Control Program
(ICCP) yang disusun dari rencana kerja semua pihak yang diintegrasikan. Rencana kerja
tersebut meliputi aspek pencegahan, deteksi dini, diagnosis dan pengobatan, pelayanan
paliatif, surveilans epidemiologi, riset/penelitian, support dan rehabilitasi. Rencana kerja ini
diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun rencana kegiatan
pengendalian kanker di masing-masing daerah.
Gambaran mengenai prevalensi penyakit kanker berdasarkan hasil Riskesdas tahun
2013 menurut provinsi dapat dilihat pada gambar 6.44.
GAMBAR 6.44
PREVALENSI PENYAKIT KANKER () BERDASARKAN DIAGNOSIS DOKTER/GEJALA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014


166 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Berdasarkan gambar 6.44 tersebut, dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit kanker
menurut diagnosis dokter/gejala hasil Riskesdas tahun 2013 yang tertinggi adalah di Provinsi
DI Yogyakarta (4,1), kemudian Jawa Tengah (2,1), dan Bali (2,0). Sedangkan prevalensi
terendah terdapat di Provinsi Gorontalo (0,2), disusul oleh Nusa Tenggara Barat, dan Papua
Barat (0,6).
c. Penyakit Diabetes Melitus dan penyakit metabolik
Ruang lingkup pengendalian penyakit diabetes melitus dan penyakit metabolik yang
ditangani oleh Subdirektorat Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik adalah
diabetes melitus, obesitas, gangguan kelenjar tiroid, dislipidemia, gangguan metabolisme
kalsium, gangguan sekresi korteks adrenal, dan gangguan kelenjar hipotalamus.
Diabetes melitus disebabkan oleh pola makan/nutrisi, kebiasaan tidak sehat, kurang
aktifitas fisik, dan stress. Tujuan program pengendalian diabetes melitus dan penyakit
metabolik adalah terselenggaranya peningkatan kemandirian masyarakat dalam pencegahan
dan penanggulangan faktor risiko penyakit tidak menular dengan melibatkan pengelola
program pusat, daerah, UPT, lintas program, lintas sektor, organisasi profesi, LSM dan
masyarakat.
Kegiatan pengendalian diabetes melitus dan penyakit metabolik yang telah
dilaksanakan terdiri dari pokok-pokok kegiatan yakni sebagai berikut.
1. Penyusunan pedoman
Sampai dengan tahun 2010 telah disusun 7 pedoman dengan revisi sebanyak 3 kali.
Sosialisasi dan advokasi sampai dengan tahun 2010 juga telah dilakukan di 33 provinsi.
2. Peningkatan kapasitas SDM
Upaya ini telah dilakukan melalui training of trainer (TOT) deteksi dini dan tatalaksana
diabetes melitus dan penyakit metabolik di 16 provinsi. Selain itu juga dilaksanakan
pelatihan terhadap 180 dokter spesialis penyakit dalam dan 180 dokter umum di 6 kota,
yaitu Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar.
3. Menjalin kemitraan
Upaya lain terkait pencegahan dan penanggulangan faktor risiko adalah menjalin kemitraan
dengan lintas program/lintas sektor melalui pembentukan jejaring kelompok kerja diabetes
melitus, pengembangan partisipasi masyarakat dalam pengendalian diabetes dan penyakit
metabolik di 10 provinsi, serta pengembangan Forum Diabetes Melitus di Indonesia. Pada
tahun 2010 di bentuk Project Partnership Agreement (PPA) antara Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia melalui Ditjen PPPL dengan World Diabetes Foundation (WDF) yaitu
lembaga swasta dunia yang berdedikasi dalam pencegahan dan pengobatan diabetes melitus
di negara berkembang. Tujuan dari kerja sama ini adalah melakukan intervensi pada
masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengendalian diabetes melitus beserta faktor
risikonya.











167 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.45
PREVALENSI DIABETES PADA UMUR 15 TAHUN BERDASARKAN DIAGNOSIS DOKTER/GEJALA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 DAN 2013

Sumber: Riskesdas 2007 dan 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI
Prevalensi diabetes di Indonesia berdasarkan wawancara tahun 2013 adalah 2,1%.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding dengan tahun 2007 (1,1%). Sebanyak 31 provinsi
(93,9%) menunjukkan kenaikan prevalensi DM yang cukup berarti. Prevalensi tertinggi
Diabetes pada umur 15 tahun menurut diagnosis dokter/gejala hasil Riskesdas tahun 2013
adalah di Provinsi Sulawesi Tengah (3,7%). Kemudian disusul Sulawesi Utara (3,6%) dan
Sulawesi Selatan (3,4%). Sedangkan yang terendah ialah di Provinsi Lampung (0,8%), kemudian
Bengkulu dan Kalimantan Barat (1,0%). Provinsi dengan kenaikan prevalensi terbesar adalah
Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu 0,8% pada tahun 2007 menjadi 3,4% pada 2013. Sedangkan
provinsi dengan penurunan prevalensi terbanyak adalah Provinsi Papua Barat, yakni 1,4% pada
tahun 2007 menjadi 1,2% pada 2013.
d. Penyakit Kronis dan Degeneratif
Lingkup pengendalian penyakit kronik dan degeneratif adalah Penyakit Paru Obstruktif
Kronik (PPOK), osteoporosis, asma, gagal ginjal kronik, thalasemia, SLE/Lupus, osteoartritis,
dan rhinitis kronis. Kegiatan pengendalian diabetes melitus dan penyakit metabolik yang telah
dilaksanakan terdiri dari pokok-pokok kegiatan yaitu sebagai berikut.
1. Penyusunan NSPK PPKD
Sampai dengan tahun 2013, NSPK yang telah disusun adalah Pedoman Pengendalian
Penyakit Kronik dan Degeneratif (PPOK), Kepmenkes No. 1022/Menkes/SK/XI/2008 Tgl. 3
Nopember 2008, Modul TOT PPOK, 2007 Pedoman Pengendalian Penyakit Asma,
Kepmenkes No. 1023/Menkes/SK/XI.2008 Tgl. 3 Nopember 2008, Pedoman Pengendalian
Osteoporosis, Kepmenkes No. 1142/Menkes/SK/XII/ 2008 Tgl. 4 Desember 2008, Petunjuk
Teknis Pengendalian Penyakit Ginjal Kronik, 2008, Standar Prosedur Operasional
Penggunaan Alat Penyakit Kronis Degeneratif, 2010, pedoman teknis thalasemia, 2013,
pedoman teknis SLE, 2013, pedoman teknis, upaya berhenti merokok di fasyankes.
2. Deteksi dini PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) melalui pendekatan praktis penyakit
paru-paru (PAL) dalam perawatan kesehatan primer.


168 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
3. Pengendalian Tembakau
Pengendalian tembakau di Indonesia merupakan salah satu upaya pengendalian faktor
risiko PTM, guna menurunkan prevalensi penyakit tidak menular. beberapa upaya yang
telah dikembangkan adalah sebagai berikut.
a. Pengembangan kawasan tanpa rokok
Kemenkes RI menetapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai salah satu upaya
untuk melindungi masyarakat terhadap dampak paparan asap rokok terhadap
kesehatan. KTR adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk melakukan
kegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi dan penggunaan rokok. Ruang lingkup
KTR meliputi tempat-tempat umum, tempat kerja tertutup, sarana kesehatan,tempat
proses belajar-mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah, dan angkutan umum.
Sampai dengan tahun 2014 (Juni 2014), sebanyak 144 kab/kota di 32 provinsi telah
memiliki kebijakan mengenai KTR.
b. Upaya berhenti rokok di Fasyankes Primer
Penyediakan layanan upaya berhenti merokok khususnya pada pelayanan kesehatan
primer sebagai ujung tombak sarana pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Tenaga
kesehatan akan melakukan konseling, bagaimana cara menghindar untuk menjadi
seorang perokok, dan bagi yang sudah terlanjur menjadi perokok adalah bagimana
cara berhenti dari ketergantungan merokok. Tujuan upaya ini adalah melindungi
kesehatan masyarakat dari dampak buruk akibat merokok. Pada tahun 2013 upaya ini
sudah dikembangkan dengan tersedianya buku upaya berhenti merokok di fasyankes
primer, dan pada tahun 2014 akan dilakukan pelatihan tenaga kesehatan pada 33
provinsi.
c. Aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)
untuk membuktikan komitmen Indonesia dalam pengendalian dampak merokok
terhadap kesehatan, Indonesia berkeinginan untuk mengaksesi Framework
Convention on Tobacco Control (FCTC). Kemenkes sebagai pemprakarsa mengajukan
izin aksesi FCTC kepada presiden melalui Menteri Luar Negeri mengacu pada Undang-
Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan Peraturan Presiden
No.68 Tahun 2005 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-undang,
Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Rancangan Peraturan
Pemerintah, dan Rancangan Peraturan Presiden, melalui Peraturan Presiden.
Jajak Pendapat masyarakat mengenai penerapan larangan total iklan, promosi dan
sponsorship rokok. Survey ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh
gambaran umum pendapat masyarakat mengenai penerapan larangan total iklan,
promosi dan sponsorship rokok. Survei dilaksanakan di 5 kota, yakni Palembang,
Samarinda, Manado, Yogyakarta, dan Denpasar.
d. Total larangan iklan rokok/tembakau
Pada tahun 2013 telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah RI Nomor 109 Tahun
2013 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk
Tembakau bagi Kesehatan yang mengatur peringatan kesehatan bergambar, kawasan
tanpa rokok (KTR), kandungan di dalam rokok (bahan tambahan, nikotin dan tar),
jumlah minimum kemasan, penjualan/peredaran, pengendalian iklan, promosi,
sponsor dan corporate social responsibility (CSR), perlindungan anak dan perempuan
hamil, tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah, serta peran serta
masyarakat.


169 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
4. Pengendalian Systemic lupus erythematosus (SLE)
Penyakit Lupus eritematosus sistemik (Systemic lupus erythematosus/SLE) merupakan
penyakit inflamasi autoimun kronis yang belum jelas penyebabnya. Penyakit ini terutama
menyerang wanita usia produktif dengan angka kematian yang cukup tinggi. Faktor
genetik, imunologik dan hormonal serta lingkungan diduga berperan dalam perjalanan
penyakit ini. Penyakit Lupus ini dikenal juga dengan istilah penyakit seribu wajah, karena
memiliki variasi gambaran klinis yang luas serta tampilan perjalanan penyakit yang
beragam. Kekeliruan dalam pengenalan penyakit ini masih sering terjadi, sehingga
seringkali terlambat dalam diagnosis dan penatalaksanaannya. Pengembangan program ini
pada tahun 2013 adalah penyusunan juknis SLE dan pengembangannya pada dua daerah
yaitu di DKI Jakarta dan Jawa Barat.
5. Pengendalian Thalasemia
Program pencegahan thalassemia perlu dilakukan untuk mengurangi jumlah pasien
thalassemia mayor/homozigot di Indonesia. Dari sisi biaya, pencegahan thalassemia
membutuhkan lebih sedikit biaya daripada terapi pasien thalassemia mayor/homozigot
(Thalassemia mayor: thalassemia dengan gejala klinis yang paling berat, melakukan
transfusi darah rata-rata sebulan sekali seumur hidupnya). Konseling dan tes genetik
disarankan untuk keluarga yang membawa sifat Thalasemia. Dengan skrining diharapkan
dapat mengurangi insiden thalassemia, termasuk skrining pranikah dan pra-natal.
Dianjurkan, setiap orang yang belum menikah (Pria dan Wanita) dan setiap pasangan
menikah sebelum rencana kehamilan harus memastikan melakukan skrining untuk
Thalasemia. Pengembangan program pengendalian Thalasemia sampai dengan tahun 2013
adalah penyusunan juknis dan pilot project di dua daerah yaitu Kota Bandung dan Kab.
Garut.
6. Fasilitasi, bantuan teknis dan bimbingan pengembangan Kawasan Tanpa asap Rokok
7. Pengembangan SDM: pelatihan deteksi dini PPOK untuk perawatan kesehatan primer
8. Sosialisasi PPOK
9. Deteksi Dini PPOK melalui uji spirometri dalam kelompok masyarakat berisiko tinggi /
individu secara teratur, yaitu perokok, pekerja pertambangan, ibu rumah tangga yang
menggunakan kayu bakar
10. Membangun dan memperkuat jejaring kemitraan dengan departemen / lembaga dan LSM
Gambaran penyakit kronis dan degeneratif berdasarkan riskesdas 2013 adalah sebagai
berikut.
a. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
Provinsi dengan prevalensi tertinggi PPOK pada umur > 30 tahun berdasarkan gejala
menurut hasil Riskesdas tahun 2013 adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (10,0%),
kemudian Sulawesi Tengah (8,0%), dan Sulawesi Barat (6,7%). Sedangkan prevalensi PPOK
terendah menurut riset yang sama di tahun yang sama adalah Provinsi Lampung (1,4%),
kemudian Provinsi Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau (2,1%). Gambaran mengenai
prevalensi PPOK menurut provinsi pada tahun 2013 dapat dilihat pada gambar 6.46
berikut.








170 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.46
PREVALENSI PPOK PADA UMUR > 30 TAHUN BERDASARKAN GEJALA (%)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014
b. Gagal Ginjal Kronis
Peta prevalensi penyakit gagal ginjal kronis di Indonesia menurut hasil Riskesdas tahun
2013 dapat dilihat pada gambar berikut.
GAMBAR 6.47
PETA PREVALENSI PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIS PADA UMUR 15 TAHUN
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014


171 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
Prevalensi penyakit gagal ginjal kronis pada umur 15 tahun menurut provinsi tahun 2013
ialah antara 0,1% hingga 0,5%. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah
dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur, NTB, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Kepulauan
Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Riau.
c. Asma
Prevalensi tertinggi penyakit asma berdasarkan gejala tahun 2013 ialah di Provinsi
Sulawesi Tengah (7,8%). Tertinggi ke dua di Provinsi Nusa Tenggara Timur (7,3%),
kemudian di DI Yogyakarta (6,9%). Sementara itu, prevalensi terendah terdapat di Provinsi
Lampung (1,6%), kemudian diikuti Riau, dan Bengkulu (2%). Gambaran mengenai
prevalensi penyakit asma di Indonesia menurut provinsi tahun 2013 dapat dilihat pada
gambar berikut.
GAMBAR 6.48
PREVALENSI PENYAKIT ASMA BERDASARKAN GEJALA (%)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014
Data dan informasi mengenai prevalensi penyakit asma menurut provinsi berdasarkan
hasil Riskesdas 2013 disajikan di lampiran 6.34.
d. Merokok
Usia pertama kali merokok tiap hari di Indonesia pada tahun 2013 terbanyak berada pada
kelompok umur 15 19 tahun (50%). Terbesar ke dua berada pada kelompok umur 20
24 tahun (27%). Gambaran mengenai usia pertama kali merokok tiap hari di Indonesia
pada tahun 2013 dapat dilihat pada gambar 6.49.





172 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.49
PROPORSI PENDUDUK BERDASARKAN USIA PERTAMA KALI MEROKOK TIAP HARI
DI INDONESIA TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014
Proporsi penduduk berumur 10 tahun yang merokok tiap hari terbanyak berada di
Provinsi Kepulauan Riau (27,2%), kemudian Provinsi Jawa Barat dan Bengkulu (27,1%).
Sedangkan proporsi yang terendah berada di Provinsi Papua (16,3%), kemudian Bali (18%),
dan Nusa Tenggara Timur (19,7%). Gambaran mengenai Proporsi penduduk berumur 10
tahun yang merokok tiap hari menurut provinsi pada tahun 2013 dapat dilihat pada gambar
berikut.
GAMBAR 6.50
PROPORSI PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN YANG MEROKOK TIAP HARI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013

Sumber: Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2014


173 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
B. KESEHATAN LINGKUNGAN
Kesehatan lingkungan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, menurut WHO
(World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang
harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
Menurut WHO, ruang lingkup kesehatan lingkungan diantaranya meliputi penyediaan air
minum serta pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran.
Berdasarkan hal tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian
Kesehatan mengadakan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 (Riskesdas 2013). Tujuan dari
Riskesdas 2013 topik kesehatan lingkungan adalah mengevaluasi program yang sudah ada,
menindaklanjuti upaya perbaikan yang akan dijalankan, dan mengidentifikasi faktor risiko
lingkungan berbagai jenis penyakit dan gangguan kesehatan.
1. Air Minum
Komitmen pemerintah terhadap Millenium Development Goals (MDGs) yaitu memastikan
kelestarian lingkungan hidup dengan menurunkan target hingga setengahnya proporsi rumah
tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar hingga 2015.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau
tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
Penyelenggara air minum dapat berasal dari badan usaha milik negara/badan usaha milik
daerah, koperasi, badan usaha swasta, usaha perorangan, kelompok masyarakat, dan/atau
individual yang melakukan penyelenggaraan penyediaan air minum. Tidak semua air dapat
diminum, syarat-syarat kualitas air minum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan
dimaksud, diantaranya adalah sebagai berikut :
Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna;
Parameter Mikrobiologi E Coli dan total Bakteri Kolifrom, kadar maksimum yang di
perbolehkan 0 jumlah per 100 ml sampel;
Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks
500 mg/l), pH 6,5-8,5;
Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air);
Dan parameter tambahan lainnya.
Salah satu parameter air minum adalah parameter fisik. Parameter fisik yang harus
dipenuhi pada air minum yaitu harus jernih, tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.
Selain itu, air minum tidak menimbulkan endapan. Jika air yang kita konsumsi menyimpang dari
hal ini, maka sangat mungkin air telah tercemar. Secara nasional, berdasarkan hasil Riskesdas
2013, kualitas fisik air minum di Indonesia termasuk dalam kategori baik (tidak keruh, tidak
berwarna, tidak berasa tidak berbusa dan tidak berbau) sebesar 94,1%. Rincian lengkap hasil
Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga berdasarkan kualitas fisik air minum dapat
dilihat pada Lampiran 6.39.
Pembahasan air minum meliputi, proporsi rumah tangga berdasarkan jenis sumber air
minum, proporsi rumah tangga berdasarkan kualitas fisik air minum, proporsi rumah tangga
berdasarkan pengolahan air minum sebelum diminum, proporsi rumah tangga berdasarkan
cara pengolahan air minum sebelum diminum, dan proporsi rumah tangga yang memiliki akses
terhadap sumber air minum berdasarkan kriteria JMP WHO-INICEF 2006.



174 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.51
PROPORSI RUMAH TANGGA BERDASARKAN JENIS SUMBER AIR MINUM
DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, 2014
Gambar 6.51 hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa proporsi rumah tangga
berdasarkan jenis sumber air minum di Indonesia terbesar pada sumur gali terlindung sebesar
22,5%, kemudian air isi ulang sebesar 21 % dan sumur bor/pompa sebesar 12,8%. Proporsi
rumah tangga yang menggunakan air isi ulang dan air kemasan mempunyai persentase yang
cukup besar. Hal ini terjadi seiring dengan kemajuan teknologi serta semakin tinggi tingkat
kesadaran masyarakat terhadap kesehatan terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih
untuk minum, sementara itu persediaan air tanah yang selama ini menjadi sumber utama air
minum telah semakin berkurang, rumah tangga kini mulai beralih kepada produk air minum
dalam kemasan/isi ulang. Produk ini merupakan salah satu solusi untuk konsumsi air minum
karena produk dapat langsung diminum karena telah melalui proses produksi. Rincian lengkap
hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga berdasarkan jenis sumber air minum per
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.38.
Air yang layak diminum, mempunyai standar tertentu yaitu telah memenuhi
persyaratan fisik, kimiawi dan bakteriologis, dan syarat tersebut merupakan satu kesatuan. Jadi
apabila ada satu saja parameter yang tidak memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk
diminum. Agar air layak untuk diminum maka diperlukan pengolahan air sebelum diminum.











175 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.52
PROPORSI RUMAH TANGGA YANG MENGOLAH AIR MINUM SEBELUM DIMINUM
DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, 2014
Gambar 6.52 menunjukkan proporsi rumah tangga yang mengolah air minum sebelum
diminum. Secara nasional proporsi rumah tangga yang mengolah air minum sebelum diminum
sebesar 70,1%. Proporsi terbesar terdapat di Provinsi Maluku Utara sebesar 92,7%, Nusa
Tenggara Timur sebesar 90,6%. Proporsi terendah rumah tangga yang mengolah air minum
sebelum diminum terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 33,5%, Kepulauan Riau
sebesar 36,6%. Provinsi DKI Jakarta mempunyai proporsi rumah tangga yang mengolah air
minum sebelum diminum relatif kecil (41,6%). Hal ini dimungkinkan banyaknya rumah tangga
yang menggunakan air mineral (air kemasan dan air isi ulang). Pengolahan air sebelum
diminum meliputi dimasak, penyinaran matahari, ditambah larutan tawas, disaring dan tambah
larutan tawas, disaring saja. Rincian lengkap hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah
tangga yang mengolah air minum sebelum diminum dapat dilihat pada Lampiran 6.40.










176 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
GAMBAR 6.53
PROPORSI RUMAH BERDASARKAN CARA PENGOLAHAN AIR MINUM SEBELUM DIMINUM
DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, 2014
Gambar 6.53 menunjukkan proporsi rumah tangga berdasarkan cara pengolahan air
minum sebelum diminum. Hasil Riskesdas 2013, rumah tangga yang mengolah air minumnya
dengan cara dimasak sebesar 96,5%. Cara ini merupakan yang paling banyak dilakukan oleh
rumah tangga. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Banten sebesar 97,8%, Lampung
sebesar 97,6%. Sedangkan persentase terkecil terdapat di Provinsi Maluku sebesar 90,6% dan
Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 92,6%. Pengolahan air sebelum diminum dengan cara
penyinaran matahari sebesar 2,3%. Cara ini paling banyak dilakukan di Provinsi Bengkulu
sebesar 3,8%. Pengolahan air sebelum diminum dengan cara disaring saja sebesar 0,8%. Cara
ini paling banyak dilakukan di Provinsi Maluku sebesar 6,2%. Pengolahan air sebelum diminum
dengan cara menambah larutan tawas serta disaring dan menambah larutan tawas sebesar
0,2%. Rincian lengkap hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga berdsarkan cara
mengolah air minum sebelum diminum dapat dilihat pada Lampiran 6.41.
Berdasarkan kriteria dari JMP WHO-UNICEF 2006, akses ke sumber air minum
dibedakan menjadi dua, yaitu improved dan unimproved. Improved yaitu rumah tangga yang
mempunyai akses ke sumber air minum air ledeng/PDAM, sumur bor/pompa, sumur gali
terlindung, mata air terlindung, penampungan air hujan, air kemasan (hanya jika sumber air
untuk keperluan rumah tangga lainnya improved). Unimproved yaitu rumah tangga yang
mempunyai akses ke sumber air minum air kemasan, air isi ulang, air ledeng eceran/membeli,
sumur gali tidak terlindung, mata air tidak terlindung, air sungai/danau/irigasi.








177 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.54
PROPORSI RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI AKSES TERHADAP SUMBER AIR MINUM IMPROVED
BERDASARKAN KRITERIA JMP WHO-UNICEF 2006, RISKESDAS 2013

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, 2014
Gambar 6.54 menunjukkan hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga yang
memiliki akses terhadap sumber air minum improved. Secara nasional proporsi rumah tangga
yang telah memiliki akses terhadap sumber air minum improved sebesar 66,8%, sedangkan
rumah tangga yang mempunyai akses terhadap sumber air minum unimproved sebesar 33,2%.
Persentase terbesar rumah tangga yang mempunyai akses terhadap sumber air minum
improved terdapat di provinsi Bali sebesar 82% dan DI Yogyakarta sebesar 81,7%. Persentase
terendah rumah tangga yang mempunyai akses terhadap sumber air minum improved terdapat
di Provinsi Kepulan Riau sebesar 24% dan Kalimantan Timur sebesar 35,2%. Rincian lengkap
hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air
minum dilihat pada Lampiran 6.42.
Upaya untuk dapat meningkatkan akses air minum dan kualitas air minum yang layak
secara nasional terus menerus dilakukan, akan tetapi masih banyak kendala dalam
pencapaiannya. Kendala tersebut antara lain :
1. Adanya kecenderungan meningkatnya penggunaan air kemasan dan isi ulang sebagai
sumber air minum, sementara itu air kemasan dan isi ulang tidak termasuk sebagai sumber
air minum layak. Hal ini terjadi disebabkan oleh pendataan yang dilakukan saat ini hanya
memotret akses terhadap sumber air yang digunakan untuk minum, belum
memperhitungkan kondisi rumah tangga yang memiliki lebih dari satu sumber air yang
layak untuk diminum;
2. Penyediaan infrastruktur air minum yang ada belum dapat mengimbangi laju pertumbuhan
penduduk, maupun faktor urbanisasi dan peningkatan konsumsi;


178 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
3. Untuk penyediaan air minum perpipaan, beberapa permasalahan pada tingkat operator air
minum yaitu minimnya biaya operasional dan pemeliharaan, rendahnya tarif, terbatasnya
SDM yang kompeten dan pengelolaan yang kurang efisien;
4. Terdapat kerusakan di berbagai sarana air minum yang dipakai di masyarakat, termasuk
sumber air minum bukan jaringan perpipaan (BJP) yang tidak terlindungi yang mencapai
10,54%.
2. Sanitasi Layak
Akses terhadap sanitasi layak merupakan salah satu fondasi inti dari masyarakat yang
sehat. Sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia.
Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan berdampak negatif di banyak aspek kehidupan,
mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum
bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya beberapa penyakit.
GAMBAR 6.55
PROPORSI RUMAH TANGGA BERDASARKAN PENGGUNAAN
FASILITAS BUANG AIR BESAR DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, 2014
Gambar 6.55 menunjukkan hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga
berdasarkan penggunaan fasilitas buang air besar. Secara nasional, proporsi rumah tangga yang
menggunakan fasilitas buang air besar milik sendiri sebesar 76,2%, milik bersama 6,7%, umum
4,2% dan buang air besar secara sembarangan sebesar 12,9%. Provinsi yang mempunyai
persentase terbesar rumah tangga yang menggunakan fasilitas buang air besar sendiri terdapat
di Provinsi Riau sebesar 88,4%, menyusul Lampung dan Kepulauan Riau (keduanya sebesar
88,1%) dan terendah terdapat di Provinsi Gorontalo sebesar 50,2%, menyusul Sulawesi Barat
sebesar 52,8% dan Nusa Tenggara Barat sebesar 57,8%. Rincian lengkap hasil Riskesdas 2013
tentang proporsi rumah tangga berdasarkan penggunaan fasilitas buang air besar menurut
provinsi dilihat pada Lampiran 6.43.





179 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
GAMBAR 6.56
PROPORSI RUMAH TANGGA BERDASARKAN JENIS TEMPAT BUANG AIR BESAR
DI INDONESIA, RISKESDAS 2013

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, 2014
Menurut jenis tempat buang air besar yang digunakan, sebagian besar rumah tangga di
Indonesia menggunakan kloset berjenis leher angsa sebesar 84,4%, plengsengan sebesar 4,8%,
cemplung/cubluk/lubang tanpa lantai sebesar 7,2%, dan cemplung/cubluk/lubang dengan
lantai sebesar 3,7%. Rincian lengkap hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga
berdasarkan jenis tempat buang air besar menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.44.
Berdasarkan tempat pembuangan akhir tinja, berdasarkan hasil Riskesdas 2013,
sebesar 66% rumah tangga di Indonesia menggunakan tangki septik sebagai tempat
pembuangan akhir tinja. Rumah tangga yang menggunakan tempat pembuangan akhir tinja
SPAL sebesar 4%, kolam/sawah sebesar 4,4%, sungai/danau/laut sebesar 13,9%, lubang tanah
sebesar 8,6%, pantai/tanah lapang/kebun sebesar 2,7%. Rincian lengkap hasil Riskesdas 2013
tentang proporsi rumah tangga berdasarkan tempat pembuangan akhir tinja menurut provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 6.45.
Berdasarkan konsep dan definisi MDGs, akses sanitasi layak apabila penggunaan
fasilitas tempat buang air besar milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis
leher angsa dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau Sarana
Pembuangan Air Limbah (SPAL). Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban
dengan syarat sebagai berikut :
1. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
2. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau
sumur
3. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
4. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
5. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar, atau bila memang benar-benar diperlukan,
harus dibatasi seminimal mungkin
6. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
7. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
Untuk akses terhadap fasilitas tempat buang air besar (sanitasi) digunakan kriteria JMP
WHO - Unicef tahun 2006. Menurut kriteria tersebut, rumah tangga yang memiliki akses


180 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
terhadap fasilitas sanitasi improved adalah rumah tangga yang menggunakan fasilitas buang air
besar milik sendiri, jenis tempat buang air besar jenis leher angsa atau plengsengan, dan tempat
pembuangan akhir tinja jenis tangki septik.
GAMBAR 6.57
PROPORSI RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI AKSES TERHADAP FASILITAS SANITASI IMPROVED
BERDASARKAN KRITERIA JMP WHO-UNICEF 2006, RISKESDAS 2013

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, 2014
Pada Gambar 6.57 proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas
sanitasi improved berdasarkan kriterian JMP WHO-UNICEF 2006 di Indonesia sebesar 59,8%.
Proporsi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 78,2%, Kepulauan Riau sebesar
74,8% dan Kalimantan Timur sebesar 74,1%. Proporsi terendah rumah tangga yang memiliki
akses terhadap fasilitas sanitasi improved terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua
sebesar 30,5%. Rincian lengkap hasil Riskesdas 2013 tentang proporsi rumah tangga
berdasarkan tempat pembuangan akhir tinja menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran
6.46.
Upaya untuk dapat meningkatkan sanitasi yang layak secara nasional terus menerus
dilakukan, akan tetapi masih banyak kendala dalam pencapaiannya. Kendala tersebut antara
lain :
1. Pembangunan sanitasi belum menjadi kegiatan prioritas di provinsi dan kabupaten / kota.
2. Masih minimnya investasi sektor sanitasi, karena belum mempunyai nilai ekonomis secara
langsung,
3. Proses peningkatan perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara instan, cenderung
membutuhkan waktu yang relatif lama dan kecukupan pendampingan petugas kepada
masyarakat untuk menerapkan perilaku yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari
secara berkesinambungan.


181 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
4. Belum meratanya ketersediaan sarana sanitasi yang mudah, murah, dan terjangkau oleh
masyarakat
Upaya terobosan/inovasi dalam rangka akselerasi pencapaian target melalui
pengalokasian dana APBN dalam bentuk kegiatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (PAMSTBM) yang diharapkan dapat meningkatkan akses penduduk
terhadap sumber air dan sanitasi yang layak di 158 Kabupaten pada 31 Provinsi melalui
mekanisme Tugas Pembantuan dengan komponen kegiatan Rehabilitasi Sarana Air Minum
Bukan Jaringan Perpipaan dan Pembangunan Sarana Air Minum.
Selain itu dilakukan upaya penguatan Kemitraan Pemerintah Swasta (KPS) yakni
melibatkan LSM Lokal/Nasional/Internasional, CSR (Corporate Social Responsibility), donor
agency internasional, seperti World Bank, ADB yang diimplementasikan melalui kegiatan
Pamsimas dan ICWRMIP, serta kegiatan lain yang berorientasi pada pembinaan, penyediaan
sarana air minum dan sanitasi dasar yang layak serta terbangunnya perilaku hidup bersih dan
sehat bagi masyarakat dengan menggunakan pendekatan STBM.
3. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) adalah desa yang sudah stop BABS
minimal 1 dusun, mempunyai tim kerja STBM atau natural leader, dan telah mempunyai
rencana kerja STBM atau rencana tindak lanjut. STBM menjadi ujung tombak keberhasilan
pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan secara keseluruhan. Sanitasi total
berbasis masyarakat sebagai pilihan pendekatan, strategi dan program untuk mengubah
perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan metode
pemicuan dalam rangka mencapai target MDGs. Dalam pelaksanaan STBM mencakup 5 (lima)
pilar yaitu:
1. Stop buang air besar sembarangan,
2. Cuci tangan pakai sabun,
3. Pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga,
4. Pengelolaan sampah dengan benar, dan
5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga dengan aman.
Jumlah desa STBM mengalami peningkatan dari 6.235 jumlah desa pada tahun 2011
kemudian menjadi 11.165 desa. Pada tahun 2013 dari target desa yang melaksanakan STBM
sebanyak 16.000 desa telah tercapai sebanyak 16.228 desa. Jika dilihat jumlah desanya, maka
yang terbanyak adalah di Jawa Timur yaitu 3.618 desa, diikuti oleh Jawa Tengah, Nusa Tenggara
Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan untuk mempercepat pelaksanaan STBM dilakukan bersama penyediaan air
minum dalam satu kegiatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(PAMSTBM). Kegiatan ini dilaksanakan di 158 kabupaten yang berada di 31 provinsi melalui
mekanisme Tugas Pembantuan. Hasil kegiatan ini berupa pembangunan 119 sarana air
komunal dan 14.865 sarana air bukan jaringan perpipaan yang direhabilitasi serta 4.001 desa
dilakukan pemicuan STBM.
4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Dalam upaya meningkatkan kesehatan anggota keluarga, Pusat Promosi Kesehatan
Kemenkes berupaya meningkatkan persentase rumah tangga ber-PHBS. PHBS di rumah tangga
adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu
mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan


182 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
di masyarakat. Untuk mencapai rumah tangga ber-PHBS, terdapat perilaku hidup bersih dan
sehat yang dipantau, yaitu
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan merupakan orang yang ahli
dalam membantu persalinan. Jika ada kelainan dapat diketahui dan ditolong. Peralatan
tenaga kesehatan aman, bersih, dan steril.
2. Memberi bayi ASI eksklusif. Keunggulan ASI diantaranya kandungan gizinya sesuai
kebutuhan bayi, mengandung zat kekebalan, melindungi alergi, terjamin kebersihannya,
tidak basi, memperbaiki refleks menghisap, menelan, dan pernapasan bayi.
3. Menimbang balita setiap bulan. Manfaat yang didapatkan diantaranya mengetahui apakah
balita tumbuh sehat, mencegah gangguan pertumbuhan balita, mengetahui balita sakit,
berat badan dibawah garis merah, gizi buruk, kelengkapan imunisasi, penyuluhan gizi.
4. Menggunakan air bersih. Manfaat air bersih yaitu menghindarkan dari gangguan penyakit
seperti diare, kolera thypus dan lain-lain. Sumber air bersih dari mata air, sumur atau
pompa, ledeng, air hujan atau air kemasan.
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Mencuci tangan membunuh kuman yang ada
di tangan, mencegah penularan penyakit seperti diare, ISPA, penyakit kulit.
6. Menggunakan jamban sehat. Syarat jamban sehat yaitu tidak mencemari sumber air
minum, tidak berbau, kotoran tidak dapaat dijamah serangga dan tikus, tidak mencemari
tanah sekitar, aman dan mudah dibersihkan, dilengkapi dinding dan atap, penerangan dan
ventilasi cukup, lantai kedap air dan luas ruangan memadai, tersedia air, sabun dan alat
pembersih.
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
dengan cara 3M plus (Menguras, Menutup, Mengubur, plus Menghindari gigitan nyamuk).
Menguras dan menyikat tempat penampungan air. Menutup rapat tempat penampungan
air. Mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.
8. Makan sayur dan buah setiap hari. Manfaat makanan berserat diantaranya mencegah
diabetes, melancarkan buang air besar, menurunkan berat badan, membantu pembersihan
racun, mencegah kanker, mengatasi anemia, membantu perkembangan bakteri baik dalam
usus.
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari. Dilakukan sedikitnya 30 menit setiap hari berupa
pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang penting bagi
pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap
sehat dan bugar sepanjang hari.
Pada tahun 2013, persentase rumah tangga yang ber-PHBS tertinggi di provinsi
Kalimantan Timur sebesar 75,26% diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah sebesar 75,14%.
Sedangkan persentase terendah di Provinsi Papua Barat sebesar 25,50% kemudian Provinsi
Nusa Tenggara Barat sebesar 28,94%.
5. Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat
Kabupaten/Kota Sehat (KKS) merupakan salah satu indikator pelaksanaan kegiatan
penyehatan lingkungan dalam RPJMN dan Renstra 2010-2014. KKS adalah suatu kondisi
kabupaten/kota yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai
melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi yang
disepakati masyarakat dan pemerintah kabupaten/kota.
Peraturan bersama antara Menteri Dalam Negeri dengan Menteri Kesehatan Nomor 34
Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kab/Kota Sehat (KKS) merupakan dasar
kegiatan penyehatan lingkungan untuk mewujudkan Kabupaten/Kota Sehat yang dimulai sejak


183 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
tahun 1998. Kegiatan tersebut diawali di Cianjur, Balikpapan, Bandar Lampung, Pekalongan,
Malang, dan Jakarta Timur.
Penghargaan bagi daerah yang melaksanakan KKS berupa penghargaan SWASTISABA
dengan tiga kategori yaitu padapa, wiwerda, dan wistara. Pemberian penghargaan ini telah
diselenggarakan sejak tahun 2005 dan dilakukan setiap dua tahun sekali.
Pendekatan KKS tidak hanya mengutamakan pada terselenggaranya upaya peningkatan
lingkungan fisik tapi juga sosial dan budaya, serta perilaku dan pelayanan kesehatan agar
dilaksanakan secara adil, merata, dan terjangkau dengan memaksimalkan seluruh potensi
sumber daya di kabupaten/kota tersebut secara mandiri sehingga diharapkan dapat
mewujudkan kondisi yang kondusif bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dan
ekonomi wilayah dan masyarakat dalam meningkatkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Pada tahun 2013, kabupaten/kota yang menyelenggarakan program KKS sebanyak 325
kabupaten/kota. Provinsi yang seluruh kabupaten/kotanya telah mencapai KKS sebanyak 12
provinsi. Terdapat 4 provinsi belum ada kabupaten/kotanya yang mencapai KKS yaitu Maluku,
Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

***




184 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013







Sebagian peserta Pelatihan Teknis Penyusunan Profil Kesehatan tingkat nasional di Bali.


185 Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2011. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi. BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik, BKKBN, Kementerian Kesehatan RI. 2012. Survei Demografi Kesehatan
Indonesia 2012. BPS, Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2013. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2012. BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2013. Statistik Indonesia 2013. BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2014. Statistik Indonesia 2014. BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2014. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia,
Februari 2014. BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2014. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 45, Februari 2014. BPS,
Jakarta.
Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar. 2011. Data 101 Puskesmas Prioritas Nasional DTPK
Tahun 2007-2010 Edisi 5. Kemenkes, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri RI. 2013. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2013
Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan. Kementerian Dalam
Negeri, Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2007. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
369/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan. Kementerian Kesehatan RI,
Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1796/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2007. Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas 2007. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas 2013. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas Dalam Angka 2013.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.


186 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2010. Peraturan Presiden Nomor 5
Tahun 2010, Tentang RPJMN 2010 2014. Jakarta.
Pusat Data dan Informasi. 2011. Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan
2011-2014. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan

***


Kabupaten Kota Kabupaten + Kota Kecamatan Kelurahan Desa
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 18 5 23 289 0 6.464
2 Sumatera Utara 25 8 33 436 664 5.281
3 Sumatera Barat 12 7 19 179 259 886
4 Riau 10 2 12 163 241 1.594
5 Jambi 9 2 11 138 162 1.391
6 Sumatera Selatan 11 4 15 228 376 2.768
7 Bengkulu 9 1 10 126 168 1.356
8 Lampung 12 2 14 225 205 2.375
9 Kepulauan Bangka Belitung 6 1 7 47 67 313
10 Kepulauan Riau 5 2 7 65 141 274
11 DKI Jakarta 1 5 6 44 267 0
12 Jawa Barat 17 9 26 626 639 5.295
13 Jawa Tengah 29 6 35 573 769 7.809
14 DI Yogyakarta 4 1 5 78 46 392
15 Jawa Timur 29 9 38 664 783 7.722
16 Banten 4 4 8 155 278 1.273
17 Bali 8 1 9 57 80 634
18 Nusa Tenggara Barat 8 2 10 116 139 941
19 Nusa Tenggara Timur 20 1 21 306 319 2.881
20 Kalimantan Barat 12 2 14 174 89 1.897
21 Kalimantan Tengah 13 1 14 136 138 1.420
22 Kalimantan Selatan 11 2 13 152 143 1.866
23 Kalimantan Timur 10 4 14 151 224 1.268
24 Sulawesi Utara 11 4 15 167 332 1.458
25 Sulawesi Tengah 10 1 11 171 169 1.767
26 Sulawesi Selatan 21 3 24 306 784 2.240
27 Sulawesi Tenggara 10 2 12 205 370 1.772
28 Gorontalo 5 1 6 77 72 657
29 Sulawesi Barat 5 0 5 69 71 533
30 Maluku 9 2 11 118 34 1.135
31 Maluku Utara 7 2 9 112 112 1.039
32 Papua Barat 10 1 11 174 77 1.477
33 Papua 28 1 29 467 91 4.766
399 98 497 6.994 8.309 72.944
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2013
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2013
Lampiran 1.1
Indonesia
PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Pembagian Wilayah
No Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4) (5)
1 0-4 12.192.415 11.516.429 23.708.844
2 5-9 12.518.639 11.791.615 24.310.254
3 10-14 12.192.890 11.521.632 23.714.522
4 15-19 11.095.683 10.729.820 21.825.503
5 20-24 10.334.210 10.453.214 20.787.424
6 25-29 11.112.770 11.161.338 22.274.108
7 30-34 10.400.346 10.328.297 20.728.643
8 35-39 9.760.871 9.582.502 19.343.373
9 40-44 8.700.187 8.573.652 17.273.839
10 45-49 7.351.899 7.325.898 14.677.797
11 50-54 6.132.107 5.953.237 12.085.344
12 55-59 4.600.113 4.231.429 8.831.542
13 60-64 3.059.983 3.273.268 6.333.251
14 65-69 2.326.065 2.580.641 4.906.706
15 70-74 1.601.000 2.012.171 3.613.171
16 75+ 1.679.306 2.329.329 4.008.635
125.058.484 123.364.472 248.422.956
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2013
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2013
Jumlah
Lampiran 1.2
No Provinsi Laki-Laki Perempuan Total Rasio Jenis Kelamin
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 2.336.235 2.335.639 4.671.874 100,0
2 Sumatera Utara 6.686.105 6.705.126 13.391.231 99,7
3 Sumatera Barat 2.496.318 2.538.993 5.035.311 98,3
4 Riau 3.163.482 2.980.192 6.143.674 106,2
5 Jambi 1.701.091 1.628.796 3.329.887 104,4
6 Sumatera Selatan 3.998.335 3.859.102 7.857.437 103,6
7 Bengkulu 918.667 881.001 1.799.668 104,3
8 Lampung 4.055.310 3.825.459 7.880.769 106,0
9 Kepulauan Bangka Belitung 694.047 645.727 1.339.774 107,5
10 Kepulauan Riau 993.305 944.272 1.937.577 105,2
11 DKI Jakarta 5.069.248 4.932.695 10.001.943 102,8
12 Jawa Barat 23.136.432 22.336.398 45.472.830 103,6
13 Jawa Tengah 16.239.620 16.444.959 32.684.579 98,8
14 DI Yogyakarta 1.758.098 1.801.982 3.560.080 97,6
15 Jawa Timur 18.893.068 19.375.757 38.268.825 97,5
16 Banten 5.893.367 5.629.651 11.523.018 104,7
17 Bali 2.085.318 2.054.372 4.139.690 101,5
18 Nusa Tenggara Barat 2.255.609 2.396.039 4.651.648 94,1
19 Nusa Tenggara Timur 2.468.008 2.503.794 4.971.802 98,6
20 Kalimantan Barat 2.303.134 2.205.834 4.508.968 104,4
21 Kalimantan Tengah 1.213.109 1.115.714 2.328.823 108,7
22 Kalimantan Selatan 1.943.008 1.897.539 3.840.547 102,4
23 Kalimantan Timur 2.088.597 1.879.196 3.967.793 111,1
24 Sulawesi Utara 1.201.332 1.153.336 2.354.668 104,2
25 Sulawesi Tengah 1.427.328 1.359.836 2.787.164 105,0
26 Sulawesi Selatan 4.054.974 4.250.180 8.305.154 95,4
27 Sulawesi Tenggara 1.189.631 1.180.918 2.370.549 100,7
28 Gorontalo 555.584 554.710 1.110.294 100,2
29 Sulawesi Barat 626.895 625.176 1.252.071 100,3
30 Maluku 839.425 823.540 1.662.965 101,9
31 Maluku Utara 569.204 545.713 1.114.917 104,3
32 Papua Barat 446.542 400.169 846.711 111,6
33 Papua 1.758.058 1.552.657 3.310.715 113,2
125.058.484 123.364.472 248.422.956 101,4
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2013
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN RASIO JENIS KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
Lampiran 1.3
No Provinsi Laki-Laki Perempuan Total Luas Wilayah (Km
2
)
Kepadatan Penduduk
(Jiwa per Km
2
)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 2.336.235 2.335.639 4.671.874 57.956,00 80,61
2 Sumatera Utara 6.686.105 6.705.126 13.391.231 72.981,23 183,49
3 Sumatera Barat 2.496.318 2.538.993 5.035.311 42.012,89 119,85
4 Riau 3.163.482 2.980.192 6.143.674 87.023,66 70,60
5 Jambi 1.701.091 1.628.796 3.329.887 50.058,16 66,52
6 Sumatera Selatan 3.998.335 3.859.102 7.857.437 91.592,43 85,79
7 Bengkulu 918.667 881.001 1.799.668 19.919,33 90,35
8 Lampung 4.055.310 3.825.459 7.880.769 34.623,80 227,61
9 Kepulauan Bangka Belitung 694.047 645.727 1.339.774 16.424,06 81,57
10 Kepulauan Riau 993.305 944.272 1.937.577 8.201,72 236,24
11 DKI Jakarta 5.069.248 4.932.695 10.001.943 664,01 15.062,94
12 Jawa Barat 23.136.432 22.336.398 45.472.830 35.377,76 1.285,35
13 Jawa Tengah 16.239.620 16.444.959 32.684.579 32.800,69 996,46
14 DI Yogyakarta 1.758.098 1.801.982 3.560.080 3.133,15 1.136,26
15 Jawa Timur 18.893.068 19.375.757 38.268.825 47.799,75 800,61
16 Banten 5.893.367 5.629.651 11.523.018 9.662,92 1.192,50
17 Bali 2.085.318 2.054.372 4.139.690 5.780,06 716,20
18 Nusa Tenggara Barat 2.255.609 2.396.039 4.651.648 18.572,32 250,46
19 Nusa Tenggara Timur 2.468.008 2.503.794 4.971.802 48.718,10 102,05
20 Kalimantan Barat 2.303.134 2.205.834 4.508.968 147.307,00 30,61
21 Kalimantan Tengah 1.213.109 1.115.714 2.328.823 153.564,50 15,17
22 Kalimantan Selatan 1.943.008 1.897.539 3.840.547 38.744,23 99,13
23 Kalimantan Timur 2.088.597 1.879.196 3.967.793 204.534,34 19,40
24 Sulawesi Utara 1.201.332 1.153.336 2.354.668 13.851,64 169,99
25 Sulawesi Tengah 1.427.328 1.359.836 2.787.164 61.841,29 45,07
26 Sulawesi Selatan 4.054.974 4.250.180 8.305.154 46.717,48 177,77
27 Sulawesi Tenggara 1.189.631 1.180.918 2.370.549 38.067,70 62,27
28 Gorontalo 555.584 554.710 1.110.294 11.257,07 98,63
29 Sulawesi Barat 626.895 625.176 1.252.071 16.787,18 74,58
30 Maluku 839.425 823.540 1.662.965 46.914,03 35,45
31 Maluku Utara 569.204 545.713 1.114.917 31.982,50 34,86
32 Papua Barat 446.542 400.169 846.711 99.671,63 8,50
33 Papua 1.758.058 1.552.657 3.310.715 319.036,05 10,38
125.058.484 123.364.472 248.422.956 1.913.578,68 129,82
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, Kemendagri, 2013
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN, LUAS WILAYAH DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
Lampiran 1.4
Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 51.734 48.851 100.585 50.714 47.889 98.603 158.126 149.352 307.478 212.333 200.707 413.040 263.056 248.587 511.643
2 Sumatera Utara 155.503 149.084 304.587 149.327 143.165 292.492 452.951 431.537 884.488 616.563 583.635 1.200.198 765.894 726.792 1.492.686
3 Sumatera Barat 55.136 52.907 108.043 52.946 50.806 103.752 158.181 149.952 308.133 215.523 202.084 417.607 268.501 252.854 521.355
4 Riau 72.822 68.343 141.165 70.658 66.313 136.971 219.238 206.552 425.790 296.992 280.672 577.664 367.663 346.974 714.637
5 Jambi 35.707 33.838 69.545 34.646 32.833 67.479 105.948 100.435 206.383 142.828 135.403 278.231 177.481 168.229 345.710
6 Sumatera Selatan 84.211 79.861 164.072 80.866 76.690 157.556 247.649 234.661 482.310 333.648 315.402 649.050 414.522 392.084 806.606
7 Bengkulu 19.347 18.321 37.668 18.578 17.594 36.172 55.936 52.836 108.772 76.013 71.622 147.635 94.599 89.208 183.807
8 Lampung 83.833 78.274 162.107 80.504 75.166 155.670 238.441 224.361 462.802 312.248 295.168 607.416 392.741 370.339 763.080
9 Kepulauan Bangka Belitung 14.801 13.898 28.699 14.361 13.486 27.847 43.143 40.699 83.842 57.382 54.422 111.804 71.749 67.902 139.651
10 Kepulauan Riau 25.215 23.315 48.530 24.466 22.622 47.088 73.550 68.490 142.040 95.047 89.243 184.290 119.518 111.858 231.376
11 DKI Jakarta 87.605 87.173 174.778 85.878 85.455 171.333 265.418 254.579 519.997 357.600 332.653 690.253 443.372 418.209 861.581
12 Jawa Barat 443.621 420.341 863.962 430.441 407.854 838.295 1.312.134 1.242.049 2.554.183 1.801.610 1.702.863 3.504.473 2.232.065 2.110.707 4.342.772
13 Jawa Tengah 292.542 271.165 563.707 286.778 265.824 552.602 847.099 794.447 1.641.546 1.118.066 1.059.136 2.177.202 1.404.726 1.325.055 2.729.781
14 DI Yogyakarta 27.805 26.479 54.284 27.257 25.958 53.215 82.729 78.068 160.797 108.660 101.984 210.644 135.917 127.940 263.857
15 Jawa Timur 297.538 284.695 582.233 291.676 279.086 570.762 893.840 852.229 1.746.069 1.233.387 1.172.190 2.405.577 1.525.074 1.451.270 2.976.344
16 Banten 114.734 108.312 223.046 110.178 104.011 214.189 342.869 323.490 666.359 474.222 447.026 921.248 584.408 551.035 1.135.443
17 Bali 36.056 32.949 69.005 35.346 32.300 67.646 110.135 101.716 211.851 148.797 138.780 287.577 184.146 171.078 355.224
18 Nusa Tenggara Barat 53.201 49.944 103.145 51.088 47.961 99.049 148.535 140.165 288.700 200.751 190.410 391.161 251.842 238.364 490.206
19 Nusa Tenggara Timur 63.167 60.207 123.374 60.658 57.817 118.475 186.844 178.017 364.861 262.419 249.472 511.891 323.088 307.283 630.371
20 Kalimantan Barat 46.917 44.400 91.317 45.054 42.637 87.691 139.912 132.367 272.279 192.566 182.470 375.036 237.627 225.103 462.730
21 Kalimantan Tengah 23.396 22.102 45.498 22.935 21.667 44.602 73.189 69.196 142.385 102.735 97.137 199.872 125.679 118.798 244.477
22 Kalimantan Selatan 40.863 38.444 79.307 39.240 36.918 76.158 116.636 109.604 226.240 154.879 145.449 300.328 194.126 182.355 376.481
23 Kalimantan Timur 44.884 42.325 87.209 43.999 41.492 85.491 135.177 127.265 262.442 180.617 169.609 350.226 224.624 211.093 435.717
24 Sulawesi Utara 21.165 20.133 41.298 20.536 19.536 40.072 62.987 59.481 122.468 87.295 81.713 169.008 107.846 101.236 209.082
25 Sulawesi Tengah 30.138 28.637 58.775 28.941 27.500 56.441 90.581 85.724 176.305 128.067 120.890 248.957 157.021 148.380 305.401
26 Sulawesi Selatan 84.853 80.862 165.715 81.483 77.652 159.135 246.717 233.650 480.367 337.856 318.442 656.298 419.372 396.060 815.432
27 Sulawesi Tenggara 29.627 28.170 57.797 28.450 27.052 55.502 85.685 81.066 166.751 117.784 110.962 228.746 146.243 138.005 284.248
28 Gorontalo 11.669 11.064 22.733 11.206 10.625 21.831 34.355 32.427 66.782 47.193 44.575 91.768 58.407 55.192 113.599
29 Sulawesi Barat 14.741 14.026 28.767 14.156 13.469 27.625 44.019 41.652 85.671 62.284 58.823 121.107 76.450 72.283 148.733
30 Maluku 20.077 19.316 39.393 19.279 18.550 37.829 60.533 57.744 118.277 84.881 80.156 165.037 104.169 98.699 202.868
31 Maluku Utara 13.084 12.600 25.684 12.565 12.100 24.665 40.171 38.533 78.704 57.215 54.649 111.864 69.786 66.745 136.531
32 Papua Barat 10.617 10.044 20.661 10.196 9.645 19.841 31.874 29.997 61.871 43.453 40.778 84.231 53.654 50.417 104.071
33 Papua 27.255 24.748 52.003 26.445 24.013 50.458 101.508 91.568 193.076 166.031 148.669 314.700 192.444 172.732 365.176
2.433.864 2.304.828 4.738.692 2.360.851 2.235.686 4.596.537 7.206.110 6.813.909 14.020.019 9.826.945 9.277.194 19.104.139 12.187.810 11.512.866 23.700.676
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2013
Lampiran 1.5
ESTIMASI JUMLAH LAHIR HIDUP, JUMLAH BAYI (0 TAHUN), JUMLAH BATITA (0-2 TAHUN), JUMLAH ANAK BALITA (1 - 4 TAHUN), JUMLAH BALITA (0 - 4 TAHUN) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Jumlah Lahir Hidup
Indonesia
Jumlah Bayi (0 tahun) Jumlah Batita (0-2 tahun) Jumlah Anak Balita (1 - 4 tahun) Jumlah Balita (0 - 4 tahun)
Provinsi No
Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 766.308 725.766 1.492.074 1.492.680 1.507.208 2.999.888 77.247 102.665 179.912
2 Sumatera Utara 2.284.638 2.158.616 4.443.254 4.181.621 4.239.722 8.421.343 219.846 306.788 526.634
3 Sumatera Barat 826.453 777.243 1.603.696 1.553.784 1.589.202 3.142.986 116.081 172.548 288.629
4 Riau 1.046.134 986.531 2.032.665 2.040.638 1.911.748 3.952.386 76.710 81.913 158.623
5 Jambi 521.223 493.938 1.015.161 1.122.620 1.072.948 2.195.568 57.248 61.910 119.158
6 Sumatera Selatan 1.219.592 1.153.263 2.372.855 2.629.835 2.531.328 5.161.163 148.908 174.511 323.419
7 Bengkulu 282.235 266.697 548.932 603.398 576.953 1.180.351 33.034 37.351 70.385
8 Lampung 1.191.210 1.123.834 2.315.044 2.671.322 2.507.246 5.178.568 192.778 194.379 387.157
9 Kepulauan Bangka Belitung 201.983 192.159 394.142 469.716 426.441 896.157 22.348 27.127 49.475
10 Kepulauan Riau 292.467 274.939 567.406 681.090 648.832 1.329.922 19.748 20.501 40.249
11 DKI Jakarta 1.225.817 1.161.694 2.387.511 3.697.455 3.607.528 7.304.983 145.976 163.473 309.449
12 Jawa Barat 6.820.939 6.457.014 13.277.953 15.330.091 14.747.793 30.077.884 985.402 1.131.591 2.116.993
13 Jawa Tengah 4.409.137 4.170.286 8.579.423 10.783.631 10.965.193 21.748.824 1.046.852 1.309.480 2.356.332
14 DI Yogyakarta 401.420 379.000 780.420 1.207.109 1.231.881 2.438.990 149.569 191.101 340.670
15 Jawa Timur 4.815.562 4.573.175 9.388.737 12.920.694 13.234.143 26.154.837 1.156.812 1.568.439 2.725.251
16 Banten 1.775.069 1.667.445 3.442.514 3.968.874 3.783.006 7.751.880 149.424 179.200 328.624
17 Bali 553.101 516.602 1.069.703 1.405.521 1.389.761 2.795.282 126.696 148.009 274.705
18 Nusa Tenggara Barat 741.742 704.560 1.446.302 1.414.643 1.576.511 2.991.154 99.224 114.968 214.192
19 Nusa Tenggara Timur 951.957 899.777 1.851.734 1.396.875 1.473.831 2.870.706 119.176 130.186 249.362
20 Kalimantan Barat 734.991 698.571 1.433.562 1.487.582 1.424.297 2.911.879 80.561 82.966 163.527
21 Kalimantan Tengah 370.076 349.198 719.274 809.226 731.754 1.540.980 33.807 34.762 68.569
22 Kalimantan Selatan 575.512 540.633 1.116.145 1.308.563 1.275.917 2.584.480 58.933 80.989 139.922
23 Kalimantan Timur 625.211 586.119 1.211.330 1.414.790 1.245.908 2.660.698 48.596 47.169 95.765
24 Sulawesi Utara 338.640 315.985 654.625 804.787 762.789 1.567.576 57.905 74.562 132.467
25 Sulawesi Tengah 475.683 448.563 924.246 902.052 859.063 1.761.115 49.593 52.210 101.803
26 Sulawesi Selatan 1.317.333 1.244.015 2.561.348 2.543.614 2.740.124 5.283.738 194.027 266.041 460.068
27 Sulawesi Tenggara 427.149 401.894 829.043 721.197 729.035 1.450.232 41.285 49.989 91.274
28 Gorontalo 181.727 173.249 354.976 356.269 358.728 714.997 17.588 22.733 40.321
29 Sulawesi Barat 231.696 218.792 450.488 371.634 378.285 749.919 23.565 28.099 51.664
30 Maluku 310.167 290.044 600.211 497.238 497.588 994.826 32.020 35.908 67.928
31 Maluku Utara 203.893 192.174 396.067 349.814 336.403 686.217 15.497 17.136 32.633
32 Papua Barat 149.359 139.172 288.531 289.430 254.250 543.680 7.753 6.747 14.500
33 Papua 621.580 537.955 1.159.535 1.117.576 1.000.043 2.117.619 18.902 14.659 33.561
36.890.004 34.818.903 71.708.907 82.545.369 81.615.459 164.160.828 5.623.111 6.930.110 12.553.221
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2013
Lampiran 1.6
Indonesia
Jumlah Penduduk Usia Muda (<15 Tahun) Jumlah Penduduk Usia Produktif (15-64 Tahun) Jumlah Penduduk Usia Non Produktif (65+ Tahun)
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT PENDUDUK USIA MUDA, USIA PRODUKTIF DAN USIA NON PRODUKTIF MENURUT JENIS KELAMIN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 1.297.379 1.038.732 110.644 105.615
2 Sumatera Utara 3.566.110 2.767.175 335.046 319.817
3 Sumatera Barat 1.294.275 991.998 118.847 113.445
4 Riau 1.691.253 1.365.431 155.281 148.223
5 Jambi 925.340 733.000 76.500 73.023
6 Sumatera Selatan 2.157.139 1.696.201 180.479 172.275
7 Bengkulu 497.437 392.051 41.435 39.552
8 Lampung 2.124.701 1.642.575 178.318 170.213
9 Kepulauan Bangka Belitung 360.991 287.100 31.569 30.134
10 Kepulauan Riau 588.266 500.139 53.383 50.957
11 DKI Jakarta 3.111.642 2.468.100 192.255 183.516
12 Jawa Barat 12.405.443 9.590.149 950.358 907.160
13 Jawa Tengah 8.776.034 6.388.763 620.078 591.893
14 DI Yogyakarta 970.733 705.171 59.713 56.999
15 Jawa Timur 10.575.339 7.682.285 640.456 611.344
16 Banten 3.329.343 2.664.420 245.351 234.199
17 Bali 1.131.968 841.880 75.906 72.456
18 Nusa Tenggara Barat 1.330.767 1.051.216 113.460 108.303
19 Nusa Tenggara Timur 1.226.077 948.815 135.712 129.543
20 Kalimantan Barat 1.211.846 957.465 100.449 95.883
21 Kalimantan Tengah 642.504 515.774 50.048 47.773
22 Kalimantan Selatan 1.091.768 850.060 87.238 83.273
23 Kalimantan Timur 1.097.357 868.505 95.930 91.570
24 Sulawesi Utara 614.713 457.013 45.428 43.363
25 Sulawesi Tengah 733.460 576.102 64.653 61.714
26 Sulawesi Selatan 2.269.148 1.750.359 182.287 174.001
27 Sulawesi Tenggara 627.218 504.357 63.577 60.687
28 Gorontalo 301.266 234.083 25.007 23.870
29 Sulawesi Barat 322.570 257.613 31.644 30.206
30 Maluku 420.517 333.171 43.333 41.363
31 Maluku Utara 290.361 235.255 28.253 26.969
32 Papua Barat 225.885 183.871 22.727 21.694
33 Papua 924.784 760.174 57.203 54.603
68.133.634 52.239.003 5.212.568 4.975.636
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2013
No Provinsi
Jumlah Wanita Usia Subur (15 -
49 tahun)
Lampiran 1.7
Jumlah WUS Imunisasi (15
- 39 tahun)
Indonesia
Jumlah Ibu Hamil Jumlah Ibu Bersalin/Nifas
ESTIMASI JUMLAH WANITA USIA SUBUR (15 - 49 TAHUN), WUS IMUNISASI (15 - 39 TAHUN), IBU HAMIL, IBU BERSALIN
DAN IBU NIFAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 97.337 92.144 189.481 50.340 47.658 97.998 306.155 289.832 595.987
2 Sumatera Utara 308.786 290.541 599.327 154.632 145.385 300.017 913.162 859.108 1.772.270
3 Sumatera Barat 111.327 103.697 215.024 55.922 52.158 108.080 336.947 315.697 652.644
4 Riau 145.974 137.918 283.892 71.568 67.505 139.073 407.166 383.710 790.876
5 Jambi 69.954 66.218 136.172 35.219 33.311 68.530 207.684 196.625 404.309
6 Sumatera Selatan 164.514 154.608 319.122 82.312 77.302 159.614 483.815 457.366 941.181
7 Bengkulu 37.711 35.440 73.151 18.822 17.699 36.521 113.162 106.962 220.124
8 Lampung 151.495 142.539 294.034 77.428 72.676 150.104 481.987 455.671 937.658
9 Kepulauan Bangka Belitung 27.721 26.426 54.147 13.840 13.206 27.046 78.363 74.895 153.258
10 Kepulauan Riau 42.858 40.572 83.430 19.987 18.903 38.890 102.717 96.545 199.262
11 DKI Jakarta 167.652 155.720 323.372 83.909 78.787 162.696 473.628 445.234 918.862
12 Jawa Barat 908.807 857.146 1.765.953 465.830 439.441 905.271 2.775.025 2.627.265 5.402.290
13 Jawa Tengah 558.139 530.439 1.088.578 291.368 276.274 567.642 1.819.239 1.724.217 3.543.456
14 DI Yogyakarta 51.754 48.889 100.643 26.418 25.050 51.468 159.142 150.072 309.214
15 Jawa Timur 621.869 589.659 1.211.528 324.935 307.942 632.877 1.992.576 1.886.721 3.879.297
16 Banten 231.984 218.157 450.141 119.062 111.773 230.835 724.156 678.132 1.402.288
17 Bali 73.979 69.423 143.402 38.038 35.673 73.711 225.837 211.675 437.512
18 Nusa Tenggara Barat 95.104 90.450 185.554 49.385 46.902 96.287 299.432 284.221 583.653
19 Nusa Tenggara Timur 137.733 129.980 267.713 66.607 62.669 129.276 378.085 355.935 734.020
20 Kalimantan Barat 100.199 95.428 195.627 51.580 49.179 100.759 303.252 288.339 591.591
21 Kalimantan Tengah 51.127 48.209 99.336 26.042 24.524 50.566 149.442 140.869 290.311
22 Kalimantan Selatan 77.660 72.931 150.591 40.248 37.792 78.040 232.245 217.914 450.159
23 Kalimantan Timur 86.635 80.933 167.568 42.910 40.047 82.957 242.066 226.671 468.737
24 Sulawesi Utara 48.380 44.754 93.134 24.134 22.297 46.431 138.230 128.580 266.810
25 Sulawesi Tengah 69.218 65.311 134.529 34.513 32.561 67.074 194.779 183.255 378.034
26 Sulawesi Selatan 175.121 164.838 339.959 91.458 86.130 177.588 553.074 520.804 1.073.878
27 Sulawesi Tenggara 59.625 56.003 115.628 29.378 27.574 56.952 170.457 159.728 330.185
28 Gorontalo 26.340 25.153 51.493 12.785 12.258 25.043 73.759 70.477 144.236
29 Sulawesi Barat 32.671 30.975 63.646 16.460 15.613 32.073 94.782 89.213 183.995
30 Maluku 43.770 40.719 84.489 21.701 20.107 41.808 125.329 116.238 241.567
31 Maluku Utara 29.431 27.881 57.312 14.230 13.413 27.643 80.478 75.168 155.646
32 Papua Barat 21.285 19.974 41.259 10.139 9.501 19.640 57.853 53.599 111.452
33 Papua 84.025 74.114 158.139 43.371 37.799 81.170 269.781 228.803 498.584
4.910.185 4.627.189 9.537.374 2.504.571 2.359.109 4.863.680 14.963.805 14.099.541 29.063.346
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2013
Lampiran 1.8
Indonesia
Jumlah Anak Usia Kelas 1 SD/Setingkat (7 Tahun) Jumlah Anak Usia SD/Setingkat (7 - 12 Tahun)
ESTIMASI JUMLAH ANAK PRA SEKOLAH, JUMLAH ANAK USIA KELAS 1 SD/SETINGKAT, DAN JUMLAH ANAK USIA SD/SETINGKAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Jumlah Anak Prasekolah (5 - 6 tahun)
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 0,30 0,33 0,32 0,34
2 Sumatera Utara 0,35 0,35 0,33 0,35
3 Sumatera Barat 0,33 0,35 0,36 0,36
4 Riau 0,33 0,36 0,40 0,37
5 Jambi 0,30 0,34 0,34 0,35
6 Sumatera Selatan 0,34 0,34 0,40 0,38
7 Bengkulu 0,37 0,36 0,35 0,39
8 Lampung 0,36 0,37 0,36 0,36
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,30 0,30 0,29 0,31
10 Kepulauan Riau 0,29 0,32 0,35 0,36
11 DKI Jakarta 0,36 0,44 0,42 0,43
12 Jawa Barat 0,36 0,41 0,41 0,41
13 Jawa Tengah 0,34 0,38 0,38 0,39
14 DI Yogyakarta 0,41 0,40 0,43 0,44
15 Jawa Timur 0,34 0,37 0,36 0,36
16 Banten 0,42 0,40 0,39 0,40
17 Bali 0,37 0,41 0,43 0,40
18 Nusa Tenggara Barat 0,40 0,36 0,35 0,36
19 Nusa Tenggara Timur 0,38 0,36 0,36 0,35
20 Kalimantan Barat 0,37 0,40 0,38 0,40
21 Kalimantan Tengah 0,30 0,34 0,33 0,35
22 Kalimantan Selatan 0,37 0,37 0,38 0,36
23 Kalimantan Timur 0,37 0,38 0,36 0,37
24 Sulawesi Utara 0,37 0,39 0,43 0,42
25 Sulawesi Tengah 0,37 0,38 0,40 0,41
26 Sulawesi Selatan 0,40 0,41 0,41 0,43
27 Sulawesi Tenggara 0,42 0,41 0,40 0,43
28 Gorontalo 0,43 0,46 0,44 0,44
29 Sulawesi Barat 0,36 0,34 0,31 0,35
30 Maluku 0,33 0,41 0,38 0,37
31 Maluku Utara 0,34 0,33 0,34 0,32
32 Papua Barat 0,38 0,40 0,43 0,43
33 Papua 0,41 0,42 0,44 0,44
0,38 0,41 0,41 0,41
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
Keterangan : Indeks Gini adalah suatu koefisien yang menunjukkan tingkat ketimpangan atau kemerataan distribusi pendapatan, nilai koefisien adalah 0 - 1
Lampiran 1.9
Indonesia
Nilai 0 menunjukkan distribusi yang sangat merata dan nilai 1 menunjukkan distribusi yang timpang
INDEKS GINI MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2013
No Provinsi 2013 2012 2010 2011
Kota Desa Kota + Desa Kota Desa Kota + Desa Kota Desa
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 2000 12,31 26,43 38,74 14,6 22,38 19,14 91.632,00 73.648,00
2 2001 8,60 29,27 37,87 9,79 24,84 18,41 100.011,00 80 382,00
3 2002 13,32 25,08 38,39 14,46 21,1 18,2 130.499,00 96 512,00
4 2003 12,26 25,08 37,34 13,57 20,23 17,42 138.803,00 105.888,00
5 2004 11,37 24,78 36,15 12,13 20,11 16,66 143.455,00 108.725,00
6 2005 12,40 22,7 35,1 11,68 19,98 15,97 165.565,00 117.365,00
7 2006 14,49 24,81 39,3 13,47 21,81 17,75 174.290,00 130.584,00
8 2007 13,56 23,61 37,17 12,52 20,37 16,58 187.942,00 146.837,00
9 2008 12,77 22,19 34,96 11,65 18,93 15,42 204.895,99 161.830,79
10 2009 11,91 20,62 32,53 10,72 17,35 14,15 222.123,10 179.834,57
11 2010 11,10 19,93 31,02 9,87 16,56 13,33 232.989,00 192.353,83
12 Maret 2011 11,05 18,97 30,02 9,23 15,72 12,49 253.015,51 213.394,51
13 September 2011 10,95 18,94 29,89 9,09 15,59 12,36 263.593,84 223.180,69
14 Maret 2012 10,65 18,49 29,13 8,78 15,12 11,96 267.407,53 229.225,78
15 September 2012 10,51 18,09 28,59 8,6 14,7 11,66 277.381,99 240.441,35
16 Maret 2013 10,33 17,74 28,07 8,39 14,32 11,37 289.042,00 253.273,00
17 September 2013 10,63 17,92 28,55 8,52 14,42 11,47 308.626,00 275.779,00
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
Lampiran 1.10
Persentase Penduduk Miskin Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan)
No
JUMLAH PENDUDUK MISKIN, PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DAN GARIS KEMISKINAN
TAHUN 2000 - 2013
Jumlah Penduduk Miskin (dalam Juta Orang)
Tahun
Garis Kemiskinan
(Rp/kapita/bulan)
Jumlah (ribu
orang)
Persentase
Penduduk
Miskin (%)
Garis Kemiskinan
(Rp/kapita/bulan)
Jumlah (ribu
orang)
Persentase
Penduduk
Miskin (%)
Garis Kemiskinan
(Rp/kapita/bulan)
Jumlah (ribu
orang)
Persentase
Penduduk
Miskin (%)
Garis Kemiskinan
(Rp/kapita/bulan)
Jumlah (ribu
orang)
Persentase
Penduduk
Miskin (%)
Garis Kemiskinan
(Rp/kapita/bulan)
Jumlah (ribu
orang)
Persentase
Penduduk
Miskin (%)
Garis Kemiskinan
(Rp/kapita/bulan)
Jumlah (ribu
orang)
Persentase
Penduduk
Miskin (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Aceh 359.217 156,37 11,59 319.416 684,34 19,96 330.654 840,70 17,60 374.261 156,80 11,55 337.962 698,92 20,14 348.172 855,71 17,72
2 Sumatera Utara 307.352 654,04 9,98 263.061 685,12 10,13 284.853 1.339,16 10,06 330.517 689,21 10,45 292.186 701,59 10,33 311.063 1.390,80 10,39
3 Sumatera Barat 332.837 119,53 6,17 288.215 287,94 9,39 305.502 407,47 8,14 360.768 124,89 6,38 321.252 255,74 8,30 336.606 380,63 7,56
4 Riau 346.796 146,30 6,15 312.591 322,98 8,73 325.978 469,28 7,72 366.057 162,71 6,68 339.829 359,82 9,55 350.129 522,53 8,42
5 Jambi 337.930 100,00 9,89 258.408 166,15 7,27 282.803 266,15 8,07 369.835 106,36 10,41 280.660 175,20 7,54 307.885 281,57 8,42
6 Sumatera Selatan 311.606 384,77 13,77 252.497 725,60 14,50 273.682 1.110,37 14,24 328.335 375,96 13,28 270.166 732,25 14,50 291.058 1.108,21 14,06
7 Bengkulu 328.972 91,91 16,64 281.468 235,44 19,10 296.171 327,35 18,34 358.294 97,66 17,29 313.265 222,75 17,97 327.358 320,41 17,75
8 Lampung 310.464 233,01 11,59 265.105 930,05 16,00 276.759 1.163,06 14,86 326.468 222,75 10,89 284.504 911,53 15,62 295.395 1.134,28 14,39
9 Kepulauan Bangka Belitung 390.488 22,73 3,47 409.901 46,49 6,91 400.324 69,22 5,21 416.935 23,07 3,47 436.899 47,83 6,97 427.081 70,90 5,25
10 Kepulauan Riau 383.332 99,67 6,23 326.819 26,99 7,48 372.941 126,67 6,46 405.578 95,34 5,79 364.773 29,68 9,21 398.903 125,02 6,35
11 DKI Jakarta 407.437 354,19 3,55 - - - 407.437 354,19 3,55 434.322 375,70 3,72 - - - 434.322 375,70 3,72
12 Jawa Barat 258.538 2.501,00 8,44 240.945 1.796,04 11,59 252.496 4.297,04 9,52 281.189 2.626,16 8,69 268.251 1.756,49 11,42 276.825 4.382,65 9,61
13 Jawa Tengah 254.800 1.911,21 12,87 235.202 2.821,74 15,99 244.161 4.732,95 14,56 268.397 1.870,73 12,53 256.368 2.834,14 16,05 261.881 4.704,87 14,44
14 DI Yogyakarta 297.391 315,47 13,43 256.558 234,73 19,29 283.454 550,19 15,43 317.925 325,53 13,73 275.786 209,66 17,62 303.843 535,18 15,03
15 Jawa Timur 265.203 1.550,46 8,57 250.530 3.220,80 16,15 257.510 4.771,26 12,55 278.653 1.622,03 8,90 269.294 3.243,79 16,23 273.758 4.865,82 12,73
16 Banten 273.828 363,80 4,76 242.331 292,45 7,72 263.398 656,24 5,74 300.109 414,46 5,27 264.632 268,25 7,22 288.733 682,71 5,89
17 Bali 287.551 96,35 3,90 249.446 66,17 4,04 272.349 162,51 3,95 298.449 105,14 4,17 261.613 81,38 5,00 284.009 186,53 4,49
18 Nusa Tenggara Barat 286.020 391,40 20,28 243.620 439,45 16,32 261.318 830,84 17,97 299.886 364,08 18,69 263.107 438,37 16,22 278.514 802,45 17,25
19 Nusa Tenggara Timur 308.059 113,57 11,54 217.918 879,99 22,13 235.805 993,56 20,03 321.163 98,05 10,10 234.141 911,10 22,69 251.080 1.009,15 20,24
20 Kalimantan Barat 263.058 71,75 5,30 242.321 297,26 9,51 248.592 369,01 8,24 280.423 77,77 5,68 265.898 316,40 10,07 270.306 394,17 8,74
21 Kalimantan Tengah 287.333 33,23 4,30 298.172 103,72 6,75 294.543 136,95 5,93 299.970 45,76 5,80 311.647 99,60 6,45 307.698 145,36 6,23
22 Kalimantan Selatan 298.518 52,05 3,25 272.614 129,69 5,88 283.515 181,74 4,77 313.691 60,97 3,75 290.576 122,31 5,50 300.329 183,27 4,76
23 Kalimantan Timur 401.132 90,42 3,71 349.935 147,54 9,90 381.706 237,96 6,06 435.313 98,88 3,99 389.784 157,03 10,24 417.902 255,91 6,38
24 Sulawesi Utara 242.840 63,81 6,04 233.415 120,59 9,40 237.672 184,40 7,88 255.566 65,06 6,12 245.872 135,10 10,46 250.249 200,16 8,50
25 Sulawesi Tengah 298.646 59,79 8,90 265.582 345,63 16,53 273.624 405,42 14,67 324.072 64,32 9,45 293.567 335,78 15,89 301.000 400,09 14,32
26 Sulawesi Selatan 221.892 147,97 4,89 192.161 639,69 12,24 203.070 787,67 9,54 235.488 160,53 5,23 207.023 696,91 13,31 217.547 857,45 10,32
27 Sulawesi Tenggara 215.910 31,72 4,92 200.058 269,99 15,82 204.406 301,71 12,83 240.089 36,71 5,52 221.905 290,00 16,92 226.990 326,71 13,73
28 Gorontalo 224.622 17,84 4,77 219.827 174,75 24,07 221.457 192,58 17,51 237.600 22,84 6,00 232.048 178,13 24,22 233.942 200,97 18,01
29 Sulawesi Barat 218.429 27,14 9,19 211.850 126,86 13,27 213.403 154,01 12,30 230.973 24,59 8,57 228.346 129,61 13,31 228.944 154,20 12,23
30 Maluku 315.012 48,75 7,93 285.967 273,09 26,35 296.778 321,84 19,49 358.068 51,11 7,96 339.466 271,40 26,30 346.599 322,51 19,27
31 Maluku Utara 284.374 9,19 2,99 248.026 74,25 9,22 258.060 83,44 7,50 317.176 11,06 3,56 281.482 74,77 9,20 291.352 85,82 7,64
32 Papua Barat 382.905 14,21 5,65 355.839 210,06 35,64 363.929 224,27 26,67 414.900 12,85 4,89 389.163 221,38 36,89 397.003 234,23 27,14
33 Papua 362.401 51,90 6,11 298.395 965,46 39,92 315.025 1.017,36 31,13 387.789 45,41 5,22 322.079 1.012,57 40,72 339.096 1.057,98 31,53
289.042 10.325,53 8,39 253.273 17.741,03 14,32 271.626 28.066,55 11,37 308.826 10.634,47 8,52 275.779 17.919,46 14,42 292.951 28.553,93 11,47
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
Lampiran 1.11
Indonesia
No Provinsi
GARIS KEMISKINAN, JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN TIPE DAERAH TAHUN 2013
Maret
Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa
September
Kota
Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 2,34 3,44 3,13 0,72 0,90 0,85 1,96 3,68 3,20 0,51 0,95 0,83
2 Sumatera Utara 1,49 1,58 1,54 0,36 0,38 0,37 1,63 1,80 1,72 0,44 0,47 0,46
3 Sumatera Barat 1,00 1,02 1,01 0,24 0,19 0,21 1,12 1,36 1,27 0,29 0,31 0,30
4 Riau 1,15 1,20 1,18 0,33 0,29 0,30 0,99 1,30 1,18 0,21 0,26 0,24
5 Jambi 1,42 0,80 0,99 0,33 0,14 0,19 1,22 1,07 1,12 0,25 0,26 0,26
6 Sumatera Selatan 1,95 2,15 2,08 0,43 0,48 0,46 2,13 2,69 2,49 0,52 0,85 0,73
7 Bengkulu 2,29 3,32 3,00 0,51 0,84 0,74 3,11 3,29 3,24 0,82 0,92 0,89
8 Lampung 1,99 2,37 2,27 0,50 0,53 0,52 1,67 2,43 2,23 0,39 0,65 0,59
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,37 0,71 0,54 0,07 0,15 0,11 0,35 0,89 0,62 0,04 0,19 0,12
10 Kepulauan Riau 0,75 0,44 0,69 0,17 0,07 0,15 1,04 0,93 1,02 0,27 0,21 0,26
11 DKI Jakarta 0,63 0,00 0,63 0,17 0,00 0,17 0,39 - 0,39 0,07 - 0,07
12 Jawa Barat 1,18 1,60 1,32 0,27 0,37 0,30 1,53 1,89 1,65 0,44 0,45 0,44
13 Jawa Tengah 2,01 2,38 2,21 0,53 0,56 0,54 2,06 2,64 2,37 0,51 0,66 0,59
14 DI Yogyakarta 2,08 3,02 2,40 0,50 0,63 0,55 2,18 2,03 2,13 0,52 0,34 0,46
15 Jawa Timur 1,31 2,32 1,84 0,33 0,52 0,43 1,42 2,66 2,07 0,34 0,66 0,50
16 Banten 0,66 0,76 0,70 0,17 0,13 0,16 1,14 0,77 1,02 0,37 0,12 0,29
17 Bali 0,60 0,28 0,47 0,14 0,03 0,10 0,80 0,55 0,70 0,20 0,10 0,16
18 Nusa Tenggara Barat 2,96 2,59 2,74 0,64 0,59 0,61 3,60 2,09 2,72 0,97 0,43 0,66
19 Nusa Tenggara Timur 1,41 3,88 3,39 0,45 0,98 0,88 1,91 3,31 3,04 0,50 0,73 0,69
20 Kalimantan Barat 0,60 1,45 1,19 0,12 0,34 0,28 0,80 1,52 1,30 0,17 0,38 0,32
21 Kalimantan Tengah 0,63 0,98 0,86 0,13 0,22 0,19 0,38 1,34 1,02 0,04 0,44 0,30
22 Kalimantan selatan 0,36 0,65 0,53 0,07 0,14 0,11 0,47 0,70 0,61 0,10 0,13 0,11
23 Kalimantan Timur 0,42 1,50 0,83 0,10 0,32 0,19 0,80 1,98 1,25 0,27 0,59 0,39
24 Sulawesi Utara 0,94 1,38 1,18 0,21 0,31 0,26 0,96 1,32 1,16 0,22 0,33 0,28
25 Sulawesi Tengah 1,71 3,54 3,09 0,48 1,22 1,04 1,32 2,59 2,28 0,28 0,61 0,53
26 Sulawesi Selatan 0,61 2,28 1,67 0,14 0,68 0,48 0,88 2,10 1,65 0,26 0,49 0,40
27 Sulawesi Tenggara 0,51 2,74 2,12 0,08 0,74 0,56 0,60 2,31 1,83 0,09 0,56 0,43
28 Gorontalo 0,32 4,65 3,18 0,03 1,34 0,90 0,65 4,55 3,22 0,10 1,24 0,85
29 Sulawesi Barat 0,82 2,21 1,89 0,20 0,61 0,52 0,48 1,54 1,30 0,05 0,33 0,27
30 Maluku 1,49 5,30 3,88 0,41 1,61 1,16 1,13 5,00 3,52 0,24 1,36 0,93
31 Maluku Utara 0,31 0,95 0,78 0,05 0,18 0,14 0,27 1,13 0,89 0,04 0,21 0,16
32 Papua Barat 0,60 8,81 6,35 0,11 3,03 2,16 0,63 8,20 5,89 0,12 2,60 1,84
33 Papua 1,11 8,92 6,89 0,29 2,88 2,21 0,48 8,69 6,56 0,10 2,67 2,01
1,25 2,24 1,75 0,31 0,56 0,43 1,41 2,37 1,89 0,37 0,60 0,48
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
Catatan :
*) Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing - masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.
**) Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin, semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) * Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)**
Maret
Lampiran 1.12
September
Indonesia
No Provinsi
INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN (P1) DAN INDEKS KEPARAHAN KEMISKINAN (P2) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) * Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)**
7 - 12 Tahun 13-15 Tahun 16-18 Tahun 19-24 Tahun 7 - 12 Tahun 13-15 Tahun 16-18 Tahun 19-24 Tahun 7 - 12 Tahun 13-15 Tahun 16-18 Tahun 19-24 Tahun 7 - 12 Tahun 13-15 Tahun 16-18 Tahun 19-24 Tahun
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
1 Aceh 99,19 94,99 73,53 24,11 99,03 94,07 72,41 27,48 99,35 94,41 74,44 28,67 99,66 95,20 74,60 29,45
2 Sumatera Utara 98,90 92,26 66,94 15,65 98,33 89,10 67,54 16,42 98,59 90,85 69,73 17,36 99,04 92,01 71,18 21,91
3 Sumatera Barat 98,24 89,51 65,65 21,26 98,10 89,64 68,12 22,00 98,38 90,79 71,38 27,64 98,81 92,22 74,07 31,26
4 Riau 98,75 92,09 64,54 14,02 97,71 87,94 65,06 15,21 98,14 87,64 65,79 16,00 98,59 90,10 69,36 21,70
5 Jambi 98,27 85,56 56,11 12,81 98,34 88,07 59,49 15,36 98,65 90,83 59,11 15,23 98,78 91,53 63,51 19,89
6 Sumatera Selatan 98,00 85,41 54,79 12,07 97,91 85,32 55,93 12,25 98,04 88,52 58,31 13,55 98,52 89,17 60,08 13,88
7 Bengkulu 98,67 88,25 59,63 16,95 98,29 90,82 62,34 16,81 98,96 92,63 66,71 19,32 99,47 92,81 70,51 24,04
8 Lampung 98,71 86,62 51,34 9,82 97,90 85,85 55,41 10,01 98,59 90,03 59,80 11,60 99,03 90,99 64,36 16,32
9 Kepulauan Bangka Belitung 97,10 80,59 47,51 8,90 97,02 83,54 49,17 8,86 97,74 83,52 50,89 8,67 98,12 83,86 55,23 8,93
10 Kepulauan Riau 99,35 92,16 66,56 8,64 97,84 96,42 65,74 8,71 98,27 94,96 69,72 9,60 98,61 96,25 69,36 13,29
11 DKI Jakarta 99,16 91,45 61,99 17,91 98,09 92,01 58,56 17,13 98,97 93,79 60,81 17,79 99,35 95,28 65,54 19,45
12 Jawa Barat 98,29 82,73 47,82 10,38 97,85 85,69 50,37 10,71 98,34 88,51 55,69 12,09 98,86 89,20 59,37 17,20
13 Jawa Tengah 98,95 85,33 53,72 11,34 98,62 88,39 55,00 11,17 98,87 89,59 58,56 11,78 99,28 90,73 59,81 17,43
14 DI Yogyakarta 99,69 94,02 73,06 44,03 99,46 97,59 75,85 41,73 99,77 98,32 80,22 44,32 99,96 96,71 81,50 46,73
15 Jawa Timur 98,74 88,82 59,39 12,43 98,26 90,04 58,79 12,73 98,66 91,70 61,68 14,35 99,06 92,87 62,11 19,29
16 Banten 98,01 81,70 50,90 11,70 98,23 88,36 56,16 12,53 98,29 90,97 58,58 15,55 98,60 90,90 62,31 17,73
17 B a l i 98,69 89,26 65,22 15,31 98,45 92,22 68,91 17,83 99,20 95,15 70,80 18,62 99,27 95,83 73,95 19,48
18 Nusa Tenggara Barat 98,26 86,52 57,71 15,39 97,76 91,52 60,45 16,84 98,19 91,55 60,75 17,59 98,16 92,29 66,13 22,64
19 Nusa Tenggara Timur 96,49 81,24 49,22 14,44 95,96 85,88 60,21 15,37 96,12 88,68 62,15 18,36 97,34 89,39 64,90 22,86
20 Kalimantan Barat 97,04 84,48 50,35 11,43 96,19 83,67 49,89 12,11 96,63 85,22 54,65 14,18 96,86 85,65 58,49 19,52
21 Kalimantan Tengah 98,70 86,83 54,50 11,06 98,10 85,64 54,33 12,59 98,50 85,55 54,06 13,65 99,01 85,88 58,39 19,49
22 Kalimantan Selatan 97,90 80,59 50,23 12,18 97,62 82,89 54,08 13,81 97,90 85,35 57,55 16,68 98,80 86,31 59,78 16,68
23 Kalimantan Timur 98,68 92,49 64,76 14,88 98,68 92,78 67,60 16,56 99,17 96,53 71,16 19,22 99,46 96,62 73,10 23,99
24 Sulawesi Utara 98,30 89,06 56,75 13,30 97,93 87,79 61,09 14,25 98,22 88,50 65,43 16,25 98,91 90,45 66,81 16,29
25 Sulawesi Tengah 97,52 84,17 50,06 14,69 96,58 84,14 57,59 14,40 96,54 84,42 59,60 16,23 97,67 86,84 64,80 21,22
26 Sulawesi Selatan 97,00 82,63 53,00 18,64 97,16 84,04 56,66 20,40 97,59 87,69 61,60 22,76 98,21 89,55 62,23 27,65
27 Sulawesi Tenggara 97,81 88,17 59,93 18,28 97,36 86,88 62,66 19,87 97,41 87,85 65,26 23,70 98,02 89,05 65,81 24,11
28 Gorontalo 96,86 81,78 49,61 12,87 96,87 82,95 57,90 19,33 97,52 82,57 57,82 20,07 97,92 85,91 58,69 24,00
29 Sulawesi Barat 95,93 77,92 44,54 10,47 95,33 81,10 55,72 13,23 95,66 81,13 56,37 14,21 95,03 83,72 58,27 17,43
30 Maluku 98,27 92,85 72,40 21,88 98,18 91,89 67,21 23,65 98,30 94,66 68,40 29,00 98,77 94,32 69,90 33,92
31 Maluku Utara 97,23 90,76 64,12 17,04 97,04 89,89 64,70 16,80 98,24 90,87 68,26 21,70 97,97 93,28 68,67 25,99
32 Papua Barat 94,43 90,25 60,12 14,66 94,38 88,59 65,40 18,31 95,56 91,65 67,18 19,90 95,58 92,81 72,04 24,00
33 Papua 76,22 74,35 48,28 13,18 73,36 71,29 50,55 13,32 75,34 68,99 50,66 13,80 75,51 73,27 53,28 17,69
98,02 86,24 56,01 13,77 97,58 87,78 57,85 14,26 97,95 89,66 61,06 15,84 98,36 90,68 63,48 19,97
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
Keterangan :
1. Perbedaan metodologi penghitungan estimasi. Pada tahun 2010, penghitungan inflate tidak didasarkan pada kelompok umur 5 tahunan, sedangkan pada tahun 2011, penghitungan inflatenya berdasarkan kelompok umur 5 tahunan.
2. Pengumpulan data pada tahun 2010 dilakukan 1 (satu) kali dalamsetahun, sedangkan pada bulan Juli dilakukan triwulanan. Hal ini mempengaruhi penghitungan karena tahun ajaran sekolah yang dimulai pada bulan Juli berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya
2013
LAMPIRAN 1.13
ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH (APS) PENDIDIKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2013
No Provinsi
Penurunan beberapa indikator pendidikan perbandingan tahun 2010 dan 2011 disebabkan:
Indonesia
2010 2011 2012
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/
Paket B
SM/SMK/MA/
Paket C
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/
Paket B
SM/SMK/MA/
Paket C
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/
Paket B
SM/SMK/MA/
Paket C
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/
Paket B
SM/SMK/MA/
Paket C
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 115,06 87,99 80,96 105,59 96,46 78,92 108,39 96,47 77,35 110,44 94,42 74,90
2 Sumatera Utara 114,20 89,83 72,69 104,56 89,02 79,69 106,26 88,55 80,58 109,90 86,67 76,99
3 Sumatera Barat 110,63 80,34 72,82 104,08 87,49 69,18 106,99 87,90 72,17 109,86 85,51 70,81
4 Riau 114,73 85,43 67,94 103,93 89,49 71,64 103,99 93,07 67,24 107,52 88,14 69,07
5 Jambi 113,02 79,29 63,21 105,55 85,98 66,23 106,78 88,26 64,83 109,54 84,79 65,05
6 Sumatera Selatan 113,75 82,12 60,87 103,84 89,62 63,12 106,09 86,62 69.00 110,81 85,85 62,85
7 Bengkulu 112,83 81,34 68,83 106,04 90,55 66,51 107,70 95,84 65,80 111,32 84,62 71,71
8 Lampung 111,18 82,05 57,81 103,78 88,61 60,71 106,84 93,25 61,16 110,70 85,23 63,48
9 Kepulauan Bangka Belitung 116,19 68,75 60,59 106,43 80,82 60,53 109,80 77,10 58,39 110,77 72,93 67,54
10 Kepulauan Riau 111,61 89,68 79,63 102,33 98,86 78,48 105,24 94,61 71,42 109,18 89,79 75,36
11 DKI Jakarta 110,45 91,42 63,14 98,03 90,78 71,76 97,85 94,04 74,37 103,28 86,60 71,97
12 Jawa Barat 110,31 79,27 51,37 101,26 87,56 55,92 103,43 87,14 64,11 106,87 85,04 59,52
13 Jawa Tengah 113,19 80,60 61,61 102,70 92,65 64,04 104,79 91,57 66,90 108,86 87,49 63,92
14 DI Yogyakarta 108,16 93,47 79,29 104,52 89,40 86,50 107,13 88,99 83,09 108,31 83,26 89,74
15 Jawa Timur 110,20 83,10 67,06 100,88 92,89 63,61 102,38 93,68 67,09 105,88 90,31 62,72
16 Banten 111,28 74,19 58,35 103,63 92,14 59,61 104,46 87,75 68,55 107,38 89,42 62,63
17 B a l i 111,56 76,69 82,36 99,95 91,71 84,34 98,87 95,73 86,47 105,84 93,87 80,08
18 Nusa Tenggara Barat 109,47 85,07 62,89 102,57 92,49 69,24 104,60 94,24 67,92 107,87 88,79 64,46
19 Nusa Tenggara Timur 115,59 68,52 58,95 111,09 80,47 58,72 112,40 81,98 59,94 113,49 80,21 64,76
20 Kalimantan Barat 115,61 69,65 57,55 107,20 78,60 52.00 108,27 81,92 51,67 110,73 75,33 58,37
21 Kalimantan Tengah 117,70 74,60 57,61 105,08 89,59 56,92 109,40 79.00 59,02 110,88 80,77 69,84
22 Kalimantan Selatan 112,77 75,59 55,75 102,72 88,18 56,04 104,11 84,38 66,42 108,87 79,14 85,56
23 Kalimantan Timur 113,85 90,86 72,39 104,83 97,62 73.00 107,76 93,24 80,08 107,57 91,06 116,46
24 Sulawesi Utara 115,61 82,92 71,31 102,47 93,57 75,95 104,92 93,84 75,70 107,60 131,84 103,19
25 Sulawesi Tengah 112,08 74,46 60,32 103,13 84,94 65,96 103,80 79,22 69,73 103,96 141,54 89,39
26 Sulawesi Selatan 108,57 75,05 67,71 102,09 87,15 66,17 102,81 88,40 73,90 108,56 114,17 85,48
27 Sulawesi Tenggara 114,77 77,28 73,02 103,63 92,38 72,33 108,04 89,29 71,32 110,26 122,54 83,13
28 Gorontalo 109,16 73,50 61,93 104,57 84,56 60,60 105,78 79,58 60,86 109,91 100,52 72,26
29 Sulawesi Barat 110,88 65,09 52,17 102,30 81,30 61,95 103,24 80,10 62,76 106,12 100,71 79,52
30 Maluku 118,13 86,76 86,92 104,56 97,80 85,69 108,24 91,69 82,88 110,48 116,42 94,28
31 Maluku Utara 116,74 80,52 74,96 108,25 90,04 80,61 108,24 86,96 85,75 110,70 117,18 89,37
32 Papua Barat 115,31 67,32 72,91 104,57 87,63 66,74 105,21 90,95 70,48 105,30 138,06 90,80
33 Papua 93,27 60,05 48,20 84,59 68,69 47,69 84,16 70,99 44,48 86,39 93,45 63,41
111,68 80,59 62,85 102,58 89,57 64,66 104,30 89,38 68,22 107,69 89,98 68,34
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
1. Perbedaan metodologi penghitungan estimasi. Pada tahun 2010, penghitungan inflate tidak didasarkan pada kelompok umur 5 tahunan (0-4, 5-9, 10-14,..), sedangkan pada tahun 2011, penghitungan inflatenya berdasarkan kelompok umur 5 tahunan.
2. Pengumpulan data pada tahun 2010 dilakukan 1 (satu) kali dalamsetahun yaitu pada bulan Juli, sedangkan pada tahun 2011 dilakukan triwulanan. Hal ini mempengaruhi penghitungan indikator pendidikan
karena tahun ajaran sekolah yang dimulai pada bulan Juli berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
2011 2012 2013
No Provinsi
Indonesia
2010
LAMPIRAN 1.14
ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) PENDIDIKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2013
Keterangan : Penurunan beberapa indikator pendidikan perbandingan tahun 2010 dan 2011 disebabkan:
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/ Paket
B
SM/SMK/MA/
Paket C
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/ Paket
B
SM/SMK/MA/
Paket C
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/ Paket
B
SM/SMK/MA/
Paket C
SD/MI/Paket A
SMP/Mts/ Paket
B
SM/SMK/MA/
Paket C
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 97,32 78,58 62,42 92,57 74,76 61,43 94,60 78,84 61,71 96,98 82,58 63,31
2 Sumatera Utara 95,33 74,76 55,72 91,46 67,96 57,83 93,26 70,51 60,02 95,60 73,89 62,19
3 Sumatera Barat 95,51 68,22 55,06 93,47 67,10 54,05 95,74 70,03 55,54 97,05 72,57 60,96
4 Riau 96,24 71,36 52,24 91,67 65,98 53,07 92,99 70,22 52,39 95,33 73,72 58,16
5 Jambi 95,61 66,91 45,31 92,69 66,54 48,55 94,15 69,48 45,42 96,41 72,75 51,77
6 Sumatera Selatan 94,17 66,27 43,49 89,79 64,12 45,34 92,67 67,75 48,98 95,06 71,78 50,92
7 Bengkulu 95,53 70,39 49,97 92,75 68,55 49,91 94,04 71,47 49,59 97,34 72,66 59,52
8 Lampung 95,20 69,61 41,97 91,47 66,56 45,06 93,48 71,64 45,56 97,37 74,62 53,38
9 Kepulauan Bangka Belitung 92,86 53,58 38,69 91,12 60,19 40,91 94,22 62,00 42,12 95,86 63,48 49,75
10 Kepulauan Riau 94,56 72,92 54,74 92,01 73,34 54,25 94,10 79,52 61,71 97,60 82,59 63,45
11 DKI Jakarta 94,59 71,96 50,57 89,79 68,85 49,27 90,14 70,40 53,61 95,79 75,56 54,99
12 Jawa Barat 95,02 68,43 38,84 92,26 69,57 42,50 93,45 73,28 50,61 97,12 76,50 51,67
13 Jawa Tengah 95,93 69,92 45,00 90,19 69,77 47,34 92,00 72,51 50,98 95,65 75,02 51,72
14 DI Yogyakarta 94,76 75,55 59,35 91,98 69,15 59,68 96,03 72,64 64,02 98,72 75,82 64,92
15 Jawa Timur 95,63 70,17 48,60 91,88 71,77 49,32 92,92 74,52 52,12 96,10 77,29 53,05
16 Banten 94,73 60,32 39,61 92,18 71,12 46,17 93,61 73,80 51,86 96,10 77,52 52,76
17 B a l i 95,53 67,83 57,14 90,39 69,16 60,54 91,06 75,07 63,28 94,28 80,69 67,10
18 Nusa Tenggara Barat 95,16 71,73 49,35 92,69 76,70 53,93 93,56 77,81 53,31 96,63 80,18 57,62
19 Nusa Tenggara Timur 93,03 51,03 34,93 92,13 56,74 40,84 92,28 55,89 38,37 93,60 59,24 47,31
20 Kalimantan Barat 94,76 56,06 36,83 92,18 58,75 36,28 92,96 59,30 36,82 94,38 59,17 44,36
21 Kalimantan Tengah 96,63 61,30 39,62 92,25 66,35 43,93 96,01 64,65 42,39 97,41 67,88 44,68
22 Kalimantan Selatan 95,00 60,90 36,24 92,01 65,79 43,01 93,04 66,61 48,90 96,75 69,21 49,75
23 Kalimantan Timur 94,14 72,56 53,66 92,23 72,40 54,58 94,37 74,37 59,75 95,91 76,01 62,22
24 Sulawesi Utara 92,25 67,07 50,70 85,91 61,22 50,55 88,01 62,27 51,40 91,69 64,61 57,08
25 Sulawesi Tengah 93,54 60,83 40,23 89,99 61,74 46,99 91,08 60,98 50,75 90,68 62,91 56,97
26 Sulawesi Selatan 92,86 62,32 42,75 89,48 65,29 47,89 90,61 69,52 53,60 95,67 69,80 53,79
27 Sulawesi Tenggara 95,06 67,14 48,54 88,80 64,31 52,16 92,37 68,43 50,57 95,14 69,30 55,35
28 Gorontalo 90,81 53,83 39,15 90,04 59,17 44,33 92,21 59,82 44,67 95,87 63,95 47,83
29 Sulawesi Barat 93,94 54,24 34,03 89,35 60,34 46,83 91,31 60,89 43,76 93,47 61,15 51,08
30 Maluku 95,00 71,88 59,80 88,00 64,33 52,64 90,21 65,81 49,79 92,52 66,89 55,36
31 Maluku Utara 93,97 66,01 52,68 89,95 65,92 51,88 92,65 64,33 56,82 95,46 70,60 59,07
32 Papua Barat 92,29 50,10 44,75 88,28 57,66 47,88 88,97 59,76 46,46 89,94 60,99 54,20
33 Papua 76,22 49,62 36,06 70,13 46,03 32,45 70,79 43,38 30,05 72,90 45,88 36,53
94,76 67,73 45,59 91,03 68,12 47,97 92,49 70,84 51,46 95,53 73,72 53,89
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
LAMPIRAN 1.15
ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM) PENDIDIKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2013
2012
karena tahun ajaran sekolah yang dimulai pada bulan Juli berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
2010
Keterangan : Penurunan beberapa indikator pendidikan perbandingan tahun 2010 dan 2011 disebabkan:
1. Perbedaan metodologi penghitungan estimasi. Pada tahun 2010, penghitungan inflate tidak didasarkan pada kelompok umur 5 tahunan (0-4, 5-9, 10-14,..), sedangkan pada tahun 2011, penghitungan inflatenya berdasarkan kelompok umur 5 tahunan.
2. Pengumpulan data pada tahun 2010 dilakukan 1 (satu) kali dalamsetahun yaitu pada bulan Juli, sedangkan pada tahun 2011 dilakukan triwulanan. Hal ini mempengaruhi penghitungan indikator pendidikan
Indonesia
No Provinsi
2011 2013
2010 2011 2012 2010 2011 2012 2010 2011 2012
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 97,82 97,68 97,92 95,97 94,05 94,35 96,88 95,84 96,11
2 Sumatera Utara 98,41 98,17 98,60 96,26 95,50 96,13 97,32 96,83 97,35
3 Sumatera Barat 97,82 97,60 97,86 96,40 94,84 95,54 97,09 96,20 96,67
4 R i a u 98,82 98,52 98,73 97,87 96,67 96,80 98,35 97,61 97,79
5 J a m b i 97,41 97,57 98,07 94,31 93,41 93,76 95,88 95,52 95,97
6 Sumatera Selatan 98,18 98,07 98,37 96,52 95,18 95,40 97,36 96,65 96,90
7 Bengkulu 97,58 97,52 97,83 92,99 92,65 93,46 95,30 95,13 95,69
8 Lampung 96,45 97,31 97,36 92,73 92,57 92,77 94,64 95,02 95,13
9 Kepulauan Bangka Belitung 97,34 97,56 97,87 93,45 93,51 93,70 95,46 95,60 95,88
10 Kepulauan Riau 98,20 98,28 98,49 96,21 97,06 97,08 97,19 97,67 97,80
11 DKI Jakarta 99,43 99,47 99,66 98,83 98,21 98,48 99,13 98,83 99,07
12 Jawa Barat 97,76 97,65 97,84 94,60 94,24 94,46 96,18 95,96 96,18
13 Jawa Tengah 93,59 94,38 94,50 86,48 86,46 86,54 89,95 90,34 90,45
14 DI Yogyakarta 95,83 96,28 95,75 86,11 87,09 88,46 90,84 91,49 92,02
15 Jawa Timur 92,77 93,25 93,60 84,16 84,05 85,18 88,34 88,52 89,28
16 Banten 97,56 97,90 98,42 94,81 94,56 94,53 96,20 96,25 96,51
17 B a l i 93,01 94,60 95,30 83,79 83,84 85,03 88,40 89,17 90,17
18 Nusa Tenggara Barat 85,94 88,57 88,74 76,74 78,64 79,17 81,05 83,24 83,68
19 Nusa Tenggara Timur 90,76 89,84 90,52 86,56 85,58 87,04 88,59 87,63 88,73
20 Kalimantan Barat 92,86 94,41 94,81 87,58 85,55 87,31 90,26 90,03 91,13
21 Kalimantan Tengah 98,21 98,18 98,48 96,69 95,44 96,38 97,48 96,86 97,48
22 Kalimantan Selatan 97,60 97,72 98,19 94,26 93,65 94,65 95,94 95,66 96,43
23 Kalimantan Timur 97,69 98,11 98,41 96,33 95,75 96,57 97,05 96,99 97,55
24 Sulawesi Utara 99,41 99,01 99,03 99,18 98,69 98,66 99,30 98,85 98,85
25 Sulawesi Tengah 96,85 96,02 96,04 95,28 92,95 93,80 96,08 94,51 94,95
26 Sulawesi Selatan 90,21 90,30 90,84 85,54 86,06 86,80 87,75 88,07 88,73
27 Sulawesi Tenggara 94,71 94,50 94,24 89,07 88,16 88,81 91,85 91,29 91,49
28 Gorontalo 96,44 94,42 95,03 95,58 94,96 95,41 96,0 94,69 95,22
29 Sulawesi Barat 91,0 91,36 90,98 86,03 83,95 86,66 88,48 87,61 88,79
30 Maluku 98,11 97,48 98,03 96,83 95,77 96,13 97,46 96,63 97,08
31 Maluku Utara 97,49 97,44 97,82 94,66 94,51 94,98 96,08 96,01 96,43
32 Papua Barat 97,04 95,12 96,77 92,99 89,57 92,44 95,12 92,41 94,74
33 Papua 72,86 70,72 71,74 63,29 56,74 58,87 68,27 64,08 65,69
95,35 95,59 95,87 90,52 90,07 90,64 92,91 92,810 93,25
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
LAMPIRAN 1.16
No
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2010 - 2012
Total
Provinsi
Laki-Laki Perempuan
Angka Harapan
Hidup (Tahun)
Rata-rata Lama
Sekolah (Tahun)
Angka Melek
Huruf (%)
Pengeluaran
Riil / Kapita
(Rp.000)
IPM Peringkat
Angka Harapan
Hidup (Tahun)
Rata-rata Lama
Sekolah (Tahun)
Angka Melek
Huruf (%)
Pengeluaran
Riil / Kapita
(Rp.000)
IPM Peringkat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 68,80 8,90 96,95 615,60 72,16 18 68,94 8,93 96,99 618,79 72,51 19
2 Sumatera Utara 69,65 8,91 97,46 640,23 74,65 8 69,81 9,07 97,51 643,63 75,13 8
3 Sumatera Barat 69,76 8,57 97,16 638,73 74,28 9 70,02 8,60 97,23 641,85 74,70 9
4 Riau 71,55 8,63 98,42 650,83 76,53 3 71,69 8,64 98,45 654,48 76,90 3
5 Jambi 69,25 8,05 96,16 637,60 73,30 13 69,44 8,20 96,20 640,82 73,78 13
6 Sumatera Selatan 69,80 7,84 97,44 633,57 73,42 10 70,05 7,99 97,50 637,47 73,99 10
7 Bengkulu 70,16 8,33 95,40 631,86 73,40 11 70,39 8,48 95,69 634,74 73,93 11
8 Lampung 69,75 7,82 95,02 621,77 71,94 20 70,05 7,87 95,13 625,52 72,45 20
9 Kepulauan Bangka Belitung 69,05 7,58 95,83 645,37 73,37 12 69,21 7,68 95,88 648,49 73,78 12
10 Kepulauan Riau 69,85 9,73 97,67 644,96 75,78 6 69,91 9,81 97,80 648,92 76,20 6
11 DKI Jakarta 73,35 10,95 99,15 632,17 77,97 1 73,49 10,98 99,21 635,29 78,33 1
12 Jawa Barat 68,40 8,06 96,29 635,80 72,73 16 68,60 8,08 96,39 638,90 73,11 16
13 Jawa Tengah 71,55 7,29 90,34 640,41 72,94 14 71,71 7,39 90,45 643,53 73,36 15
14 DI Yogyakarta 73,27 9,20 91,49 650,16 76,32 4 73,33 9,21 92,02 653,78 76,75 4
15 Jawa Timur 69,86 7,34 88,52 647,46 72,18 17 70,09 7,45 89,28 651,04 72,83 17
16 Banten 65,05 8,41 96,25 633,64 70,95 23 65,23 8,61 96,51 636,73 71,49 23
17 Bali 70,78 8,35 89,17 637,86 72,84 15 70,84 8,57 90,17 640,86 73,49 14
18 Nusa Tenggara Barat 62,41 6,97 83,24 642,80 66,23 32 62,73 7,19 83,68 645,72 66,89 32
19 Nusa Tenggara Timur 67,76 7,05 88,74 607,31 67,75 31 68,04 7,09 89,23 610,29 68,28 31
20 Kalimantan Barat 66,75 6,89 90,51 635,85 69,66 28 66,92 7,14 91,13 638,82 70,31 28
21 Kalimantan Tengah 71,30 8,06 97,84 640,73 75,06 7 71,41 8,15 97,88 644,21 75,46 7
22 Kalimantan Selatan 64,17 7,68 96,14 640,73 70,44 26 64,52 7,89 96,43 643,66 71,08 25
23 Kalimantan Timur 71,40 9,19 97,21 646,01 76,22 5 71,58 9,22 97,55 649,85 76,71 5
24 Sulawesi Utara 72,33 8,92 99,46 639,57 76,54 2 72,44 9,00 99,53 643,20 76,95 2
25 Sulawesi Tengah 66,86 8,03 96,12 633,31 71,62 22 67,11 8,13 96,16 637,34 72,14 22
26 Sulawesi Selatan 70,20 7,92 88,07 640,30 72,14 19 70,45 7,95 88,73 643,59 72,70 18
27 Sulawesi Tenggara 68,00 8,21 91,95 621,44 70,55 25 68,21 8,25 92,04 625,81 71,05 26
28 Gorontalo 67,11 7,45 96,10 626,77 70,82 24 67,47 7,49 96,16 630,01 71,31 24
29 Sulawesi Barat 68,00 7,15 88,54 635,84 70,11 27 68,27 7,32 88,79 639,56 70,73 27
30 Maluku 67,60 8,82 98,15 617,75 71,87 21 67,84 9,15 98,17 620,08 72,42 21
31 Maluku Utara 66,31 8,86 96,19 603,20 69,47 30 66,65 8,71 96,43 606,22 69,98 30
32 Papua Barat 68,81 8,26 93,39 599,28 69,65 29 69,14 8,45 93,74 601,56 70,22 29
33 Papua 68,85 6,69 75,81 609,18 65,36 33 69,12 6,87 75,83 611,99 65,86 33
69,65 7,94 92,99 638,05 72,77 69,87 8,08 93,25 641,04 73,29
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014
Indonesia
Provinsi No.
LAMPIRAN 1.17
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 - 2012
2011 2012
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 23 12 52,17 23 12 52,17 23 12 52,17 23 12 52,17
2 Sumatera Utara 33 6 18,18 33 6 18,18 33 6 18,18 33 6 18,18
3 Sumatera Barat 19 8 42,11 19 8 42,11 19 8 42,11 19 8 42,11
4 Riau 12 0 0,00 12 0 0,00 12 0 0,00 12 0 0,00
5 Jambi 11 0 0,00 11 0 0,00 11 0 0,00 11 0 0,00
6 Sumatera Selatan 15 7 46,67 15 7 46,67 15 7 46,67 15 7 46,67
7 Bengkulu 10 6 60,00 10 6 60,00 10 6 60,00 10 6 60,00
8 Lampung 14 4 28,57 14 4 28,57 14 4 28,57 14 4 28,57
9 Kepulauan Bangka Belitung 7 1 14,29 7 1 14,29 7 1 14,29 7 1 14,29
10 Kepulauan Riau 7 2 28,57 7 2 28,57 7 2 28,57 7 2 28,57
11 DKI Jakarta 6 0 0,00 6 0 0,00 6 0 0,00 6 0 0,00
12 Jawa Barat 26 2 7,69 26 2 7,69 26 2 7,69 26 2 7,69
13 Jawa Tengah 35 0 0,00 35 0 0,00 35 0 0,00 35 0 0,00
14 DI Yogyakarta 5 0 0,00 5 0 0,00 5 0 0,00 5 0 0,00
15 Jawa Timur 38 5 13,16 38 5 13,16 38 5 13,16 38 5 13,16
16 Banten 8 2 25,00 8 2 25,00 8 2 25,00 8 2 25,00
17 Bali 9 0 0,00 9 0 0,00 9 0 0,00 9 0 0,00
18 Nusa Tenggara Barat 10 8 80,00 10 8 80,00 10 8 80,00 10 8 80,00
19 Nusa Tenggara Timur 21 20 95,24 21 20 95,24 21 20 95,24 21 20 95,24
20 Kalimantan Barat 14 10 71,43 14 10 71,43 14 10 71,43 14 10 71,43
21 Kalimantan Tengah 14 1 7,14 14 1 7,14 14 1 7,14 14 1 7,14
22 Kalimantan Selatan 13 2 15,38 13 2 15,38 13 2 15,38 13 2 15,38
23 Kalimantan Timur 14 3 21,43 14 3 21,43 14 3 21,43 14 3 21,43
24 Sulawesi Utara 15 3 20,00 15 3 20,00 15 3 20,00 15 3 20,00
25 Sulawesi Tengah 11 10 90,91 11 10 90,91 11 10 90,91 11 10 90,91
26 Sulawesi Selatan 24 4 16,67 24 4 16,67 24 4 16,67 24 4 16,67
27 Sulawesi Tenggara 12 9 75,00 12 9 75,00 12 9 75,00 12 9 75,00
28 Gorontalo 6 3 50,00 6 3 50,00 6 3 50,00 6 3 50,00
29 Sulawesi Barat 5 5 100,00 5 5 100,00 5 5 100,00 5 5 100,00
30 Maluku 11 8 72,73 11 8 72,73 11 8 72,73 11 8 72,73
31 Maluku Utara 9 7 77,78 9 7 77,78 9 7 77,78 9 7 77,78
32 Papua Barat 11 8 72,73 11 8 72,73 11 8 72,73 11 8 72,73
33 Papua 29 27 93,10 29 27 93,10 29 27 93,10 29 27 93,10
497 183 36,82 497 183 36,82 497 183 36,82 497 183 36,82
Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 2014
Indonesia
LAMPIRAN 1.18
JUMLAH DAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2013
No Provinsi
2010 2011 2012 2013
2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 309 315 325 330 334 2,12 2,10 2,14 2,15 2,14
2 Sumatera Utara 500 506 542 555 570 1,13 1,17 1,24 1,26 1,28
3 Sumatera Barat 242 246 254 260 262 1,50 1,52 1,55 1,57 1,56
4 Riau 176 193 203 207 207 1,00 1,05 1,06 1,05 1,01
5 Jambi 163 169 174 176 176 1,73 1,64 1,65 1,63 1,59
6 Sumatera Selatan 284 293 304 317 319 1,18 1,18 1,20 1,23 1,22
7 Bengkulu 167 170 178 178 180 3,01 2,97 3,06 3,01 3,00
8 Lampung 264 265 269 276 280 1,06 1,04 1,05 1,06 1,07
9 Kepulauan Bangka Belitung 55 58 58 60 60 1,45 1,42 1,38 1,38 1,34
10 Kepulauan Riau 61 66 67 69 70 1,21 1,18 1,14 1,12 1,08
11 DKI Jakarta 339 341 340 340 340 1,10 1,06 1,05 1,03 1,02
12 Jawa Barat 1.008 1.028 1.046 1.046 1.050 0,73 0,72 0,72 0,70 0,69
13 Jawa Tengah 849 867 867 873 873 0,77 0,80 0,80 0,80 0,80
14 DI Yogyakarta 119 121 121 121 121 1,02 1,05 1,04 1,03 1,02
15 Jawa Timur 944 946 956 960 960 0,76 0,76 0,76 0,76 0,75
16 Banten 196 217 226 228 230 0,60 0,61 0,62 0,61 0,60
17 Bali 114 114 114 118 120 0,96 0,88 0,86 0,87 0,87
18 Nusa Tenggara Barat 145 150 152 157 158 0,98 1,00 1,00 1,02 1,02
19 Nusa Tenggara Timur 288 309 342 349 362 1,87 1,98 2,15 2,15 2,18
20 Kalimantan Barat 229 231 235 237 237 1,59 1,58 1,59 1,59 1,58
21 Kalimantan Tengah 169 174 179 190 194 2,43 2,36 2,39 2,49 2,50
22 Kalimantan Selatan 213 214 224 226 228 1,83 1,77 1,82 1,80 1,78
23 Kalimantan Timur 207 217 215 217 222 1,96 1,83 1,75 1,70 1,68
24 Sulawesi Utara 159 170 170 177 183 2,14 2,25 2,22 2,28 2,33
25 Sulawesi Tengah 165 160 173 176 183 2,00 1,82 1,93 1,93 1,97
26 Sulawesi Selatan 395 416 421 425 440 1,50 1,55 1,55 1,55 1,59
27 Sulawesi Tenggara 223 233 249 258 264 3,16 3,13 3,28 3,33 3,34
28 Gorontalo 75 76 86 87 91 2,29 2,19 2,43 2,40 2,46
29 Sulawesi Barat 77 81 86 91 92 2,20 2,10 2,17 2,24 2,20
30 Maluku 135 156 170 178 190 3,02 3,05 3,24 3,30 3,43
31 Maluku Utara 96 100 115 119 125 2,95 2,89 3,24 3,28 3,36
32 Papua Barat 105 106 126 128 143 4,23 4,18 4,80 4,70 5,07
33 Papua 266 297 334 381 391 3,80 3,14 3,36 3,64 3,54
8.737 9.005 9.321 9.510 9.655 1,13 1,14 1,16 1,17 1,17
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 2.1
JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 - 2013
per 30.000 Penduduk
Indonesia
Rasio Puskesmas
No Provinsi
Jumlah Puskesmas
2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
(8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 115 116 137 144 149 194 199 188 186 185
2 Sumatera Utara 129 140 153 157 164 371 366 389 398 406
3 Sumatera Barat 81 85 86 89 88 161 161 168 171 174
4 Riau 51 53 55 63 75 125 140 148 144 132
5 Jambi 56 59 62 62 68 107 110 112 114 108
6 Sumatera Selatan 80 82 86 106 95 204 211 218 211 224
7 Bengkulu 37 39 43 43 45 130 131 135 135 135
8 Lampung 51 58 60 69 91 213 207 209 207 189
9 Kepulauan Bangka Belitung 20 18 19 20 20 35 40 39 40 40
10 Kepulauan Riau 24 26 26 26 26 37 40 41 43 44
11 DKI Jakarta 51 52 52 52 30 288 289 288 288 310
12 Jawa Barat 171 237 220 220 176 837 791 826 826 874
13 Jawa Tengah 234 252 265 268 309 615 615 602 605 564
14 DI Yogyakarta 41 42 40 42 42 78 79 81 79 79
15 Jawa Timur 365 396 400 441 504 579 550 556 519 456
16 Banten 46 50 53 56 56 150 167 173 172 174
17 Bali 27 28 28 29 34 87 86 86 89 86
18 Nusa Tenggara Barat 80 81 84 84 109 65 69 68 73 49
19 Nusa Tenggara Timur 93 110 123 128 128 195 199 219 221 234
20 Kalimantan Barat 94 93 94 96 94 135 138 141 141 143
21 Kalimantan Tengah 55 69 69 70 73 114 105 110 120 121
22 Kalimantan Selatan 46 48 48 49 45 167 166 176 177 183
23 Kalimantan Timur 100 93 94 94 127 107 124 121 123 95
24 Sulawesi Utara 72 84 85 88 88 87 86 85 89 95
25 Sulawesi Tengah 63 68 72 72 78 102 92 101 104 105
26 Sulawesi Selatan 205 208 218 225 225 190 208 203 200 215
27 Sulawesi Tenggara 69 70 74 74 79 154 163 175 184 185
28 Gorontalo 22 23 23 23 25 53 53 63 64 66
29 Sulawesi Barat 31 35 35 35 43 46 46 51 56 49
30 Maluku 48 56 56 61 63 87 100 114 117 127
31 Maluku Utara 27 27 28 28 27 69 73 87 91 98
32 Papua Barat 36 36 39 39 39 69 70 87 89 104
33 Papua 84 86 92 99 102 182 211 242 282 289
2.704 2.920 3.019 3.152 3.317 6.033 6.085 6.302 6.358 6.338
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Ditjen. Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 2.2
Indonesia
JUMLAH PUSKESMAS RAWAT INAP DAN NON RAWAT INAP
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 - 2013
Jumlah Puskesmas Rawat Inap Jumlah Puskesmas Non Rawat Inap
No Provinsi
Pelayanan Obstetrik
dan Neonatal
Emergensi Dasar
(PONED)
Pelayanan
Kesehatan Peduli
Remaja (PKPR)
Upaya
Kesehatan
Kerja
Upaya
Kesehatan
Olahraga
Upaya Kesehatan
Tradisional,
Alternatif dan
Komplementer
Pembinaan Panti
Anak Terlantar
Tatalaksana
Kasus Kekerasan
terhadap Anak
Pelayanan Obstetrik
dan Neonatal
Emergensi
Komprehensif (PONEK)
Pelayanan
Pencegahan
Penularan HIV dari
Ibu ke Anak
Pelayanan
Perawatan,
Dukungan, dan
Pengobatan (PDP)
HIV/AIDS
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (11)
1 Aceh 88 114 8 4 38 2 38 17 1 8
2 Sumatera Utara 149 241 20 5 25 13 130 25 2 16
3 Sumatera Barat 94 19 8 30 26 68 47 13 1 2
4 Riau 69 80 21 4 30 31 22 14 1 11
5 Jambi 58 54 29 6 8 48 33 12 1 6
6 Sumatera Selatan 105 122 16 13 41 45 33 16 2 8
7 Bengkulu 54 47 8 0 6 13 29 7 1 2
8 Lampung 82 53 29 12 59 30 35 11 2 3
9 Kepulauan Bangka Belitung 24 32 4 28 9 9 20 6 1 3
10 Kepulauan Riau 25 26 18 4 8 19 22 7 3 8
11 DKI Jakarta 17 22 37 25 15 31 12 16 8 52
12 Jawa Barat 232 459 209 30 29 100 108 32 11 40
13 Jawa Tengah 293 34 47 47 34 25 141 40 6 35
14 DI Yogyakarta 68 76 27 8 42 28 28 6 1 5
15 Jawa Timur 283 273 218 156 39 324 145 51 16 39
16 Banten 72 189 153 27 70 19 104 10 5 10
17 Bali 46 50 43 122 36 27 18 10 4 12
18 Nusa Tenggara Barat 55 40 0 18 9 59 20 6 4 4
19 Nusa Tenggara Timur 94 150 0 4 6 17 96 7 5 9
20 Kalimantan Barat 66 124 12 7 30 53 91 9 2 8
21 Kalimantan Tengah 57 18 22 4 7 25 17 12 0 5
22 Kalimantan Selatan 60 52 15 21 8 44 26 14 1 2
23 Kalimantan Timur 96 55 18 10 11 37 37 13 3 9
24 Sulawesi Utara 87 77 17 3 24 20 41 9 3 5
25 Sulawesi Tengah 88 41 20 4 9 11 22 9 1 10
26 Sulawesi Selatan 140 16 7 69 110 67 18 20 3 14
27 Sulawesi Tenggara 73 48 0 0 28 48 28 7 2 2
28 Gorontalo 23 23 17 8 19 16 10 3 0 2
29 Sulawesi Barat 39 29 0 0 17 15 8 3 0 1
30 Maluku 57 93 11 0 26 16 74 3 3 3
31 Maluku Utara 34 22 0 0 5 10 14 4 1 3
32 Papua Barat 21 41 0 1 5 0 40 4 2 15
33 Papua 33 25 0 1 17 0 19 8 12 66
2.782 2.745 1.034 671 846 1.270 1.526 424 108 418
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Ditjen Bina Gizi dan KIA, Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Catatan: PONED = Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar
PONEK = Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif
Angka Pelayanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV/AIDS : merupakan angka yang diperoleh dari Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 481/MENKES/SK/XII/2013 tentang Rumah Sakit Rujukan Bagi Orang dengan HIV dan AIDS
Lampiran 2.3
Indonesia
JUMLAH PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT DENGAN PELAYANAN PENGEMBANGAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Puskesmas Rumah Sakit
No Provinsi
No Provinsi
Jumlah Kabupaten/Kota Dengan Tenaga
Kesehatan Puskesmas Terlatih
Persentase Kabupaten/Kota Dengan
Tenaga Kesehatan Puskesmas Terlatih
Jumlah Puskesmas Dengan Tenaga
Kesehatan Terlatih
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 13 56,52 38
2 Sumatera Utara 3 9,09 25
3 Sumatera Barat 10 52,63 26
4 Riau 11 91,67 30
5 Jambi 3 27,27 8
6 Sumatera Selatan 13 76,47 41
7 Bengkulu 3 30,00 6
8 Lampung 14 93,33 59
9 Kepulauan Bangka Belitung 4 57,14 9
10 Kepulauan Riau 3 42,86 8
11 DKI Jakarta 5 83,33 15
12 Jawa Barat 11 40,74 29
13 Jawa Tengah 9 25,71 34
14 DI Yogyakarta 5 100,00 42
15 Jawa Timur 8 21,05 39
16 Banten 8 100,00 70
17 Bali 9 100,00 36
18 Nusa Tenggara Barat 4 40,00 9
19 Nusa Tenggara Timur 2 9,09 6
20 Kalimantan Barat 12 85,71 30
21 Kalimantan Tengah 2 14,29 7
22 Kalimantan Selatan 3 23,08 8
23 Kalimantan Timur 3 30,00 11
24 Sulawesi Utara 6 40,00 24
25 Sulawesi Tengah 2 15,38 9
26 Sulawesi Selatan 24 100,00 110
27 Sulawesi Tenggara 12 85,71 28
28 Gorontalo 4 66,67 19
29 Sulawesi Barat 4 66,67 17
30 Maluku 9 81,82 26
31 Maluku Utara 2 20,00 5
32 Papua Barat 2 15,38 5
33 Papua 1 3,45 17
224 44,27 846
Sumber: Direktorat Bina Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer, Ditjen Bina Gizi dan KIA, Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
JUMLAH KABUPATEN/KOTA DENGAN PUSKESMAS YANG NAKESNYA DILATIH KESEHATAN TRADISIONAL, ALTERNATIF DAN KOMPLEMENTER
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Lampiran 2.4
Kemenkes/Pemda TNI/POLRI Kementerian Lain Swasta Non Profit Swasta BUMN
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23)
1 Aceh 25 2 27 4 0 4 0 0 0 13 0 13 5 0 5 4 0 4 51 2 53
2 Sumatera Utara 35 3 38 8 0 8 0 0 0 59 9 68 26 2 28 13 1 14 141 15 156
3 Sumatera Barat 20 2 22 4 0 4 0 0 0 11 9 20 3 11 14 1 0 1 39 22 61
4 Riau 16 3 19 4 0 4 0 0 0 5 1 6 16 6 22 3 0 3 44 10 54
5 Jambi 13 1 14 2 0 2 0 0 0 1 1 2 10 1 11 0 0 0 26 3 29
6 Sumatera Selatan 22 5 27 4 0 4 0 0 0 7 4 11 2 2 4 5 0 5 40 11 51
7 Bengkulu 12 1 13 3 0 3 0 0 0 2 0 2 1 0 1 0 0 0 18 1 19
8 Lampung 12 1 13 2 0 2 0 0 0 14 3 17 11 6 17 0 0 0 39 10 49
9 Kepulauan Bangka Belitung 8 1 9 0 0 0 0 0 0 3 0 3 2 0 2 0 0 0 13 1 14
10 Kepulauan Riau 11 0 11 2 0 2 0 0 0 4 2 6 3 1 4 2 0 2 22 3 25
11 DKI Jakarta 10 9 19 9 2 11 2 0 2 32 23 55 34 24 58 4 1 5 91 59 150
12 Jawa Barat 41 10 51 13 0 13 0 0 0 54 20 74 93 38 131 4 1 5 205 69 274
13 Jawa Tengah 51 9 60 12 0 12 0 0 0 101 43 144 34 22 56 3 0 3 201 74 275
14 DI Yogyakarta 7 2 9 4 0 4 0 0 0 26 13 39 11 5 16 0 1 1 48 21 69
15 Jawa Timur 54 9 63 28 2 30 1 0 1 82 34 116 53 43 96 11 2 13 229 90 319
16 Banten 9 1 10 2 0 2 0 0 0 11 5 16 30 18 48 1 0 1 53 24 77
17 Bali 10 2 12 3 0 3 0 0 0 17 5 22 15 5 20 0 0 0 45 12 57
18 Nusa Tenggara Barat 11 1 12 2 0 2 0 0 0 4 0 4 5 0 5 0 0 0 22 1 23
19 Nusa Tenggara Timur 19 0 19 5 0 5 0 0 0 13 3 16 1 0 1 0 0 0 38 3 41
20 Kalimantan Barat 16 3 19 5 0 5 0 0 0 7 1 8 3 4 7 1 0 1 32 8 40
21 Kalimantan Tengah 15 1 16 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 1 17
22 Kalimantan Selatan 14 2 16 4 0 4 0 0 0 3 4 7 2 0 2 2 0 2 25 6 31
23 Kalimantan Timur 16 3 19 4 0 4 0 0 0 5 1 6 12 10 22 3 0 3 40 14 54
24 Sulawesi Utara 17 1 18 4 0 4 0 0 0 14 0 14 2 2 4 0 0 0 37 3 40
25 Sulawesi Tengah 13 1 14 2 0 2 0 0 0 4 4 8 1 1 2 0 0 0 20 6 26
26 Sulawesi Selatan 29 7 36 8 0 8 0 0 0 12 11 23 7 6 13 1 1 2 57 25 82
27 Sulawesi Tenggara 13 1 14 2 0 2 0 0 0 4 0 4 0 4 4 1 0 1 20 5 25
28 Gorontalo 9 0 9 0 0 0 0 0 0 1 1 2 1 0 1 0 0 0 11 1 12
29 Sulawesi Barat 7 0 7 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 9 0 9
30 Maluku 15 1 16 4 0 4 0 0 0 7 0 7 0 0 0 0 0 0 26 1 27
31 Maluku Utara 12 0 12 2 0 2 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 18 0 18
32 Papua Barat 10 0 10 2 0 2 0 0 0 1 0 1 2 0 2 1 0 1 16 0 16
33 Papua 20 2 22 6 0 6 0 0 0 5 0 5 2 0 2 0 0 0 33 2 35
592 84 676 155 4 159 3 0 3 527 197 724 388 211 599 60 7 67 1.725 503 2.228
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Rumah Sakit yang telah memiliki kode RS
RS
Khusus
Jumlah
RS
Umum
RS
Khusus
Jumlah RS Umum
Lampiran 2.5
RS
Khusus
JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA
MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Rumah Sakit Publik Rumah Sakit Privat
Semua RS
RS
Umum
Jumlah
RS
Umum
RS
Khusus
Jumlah
RS
Umum
RS
Khusus
Jumlah RS Umum
RS
Khusus
Jumlah
RS
Umum
RS
Khusus
Indonesia
Jumlah
RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Kementerian Kesehatan 13 9.131 13 8.873 14 9.724 14 10.832 14 11.028
2 Pemerintah Provinsi 44 14.029 45 13.854 47 14.065 49 16.292 53 18.526
3 Pemerintah Kab/Kota 416 47.811 445 43.341 472 52.536 508 74.741 525 84.694
4 TNI/POLRI 123 11.821 129 11.771 132 12.272 151 19.830 155 20.832
5 Kementerian Lain dan BUMN 71 6.747 72 6.925 73 8.535 71 8.040 63 7.444
6 Swasta dan Swasta Non Profit 535 52.064 591 52.306 634 52.694 815 74.033 915 102.816
1.202 141.603 1.295 137.070 1.372 149.826 1.608 203.768 1.725 245.340
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Rumah Sakit yang telah memiliki kode RS
Lampiran 2.6
JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR
MENURUT PENGELOLA TAHUN 2009 - 2013
No Pengelola
Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013
Jumlah
RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 RS Jiwa 51 9.206 52 8.760 52 7.541 53 8.542 51 10.349
2 RS Kusta 22 2.224 23 2.326 23 1.854 22 1.989 18 2.048
3 RS Tuberkulosa Paru 10 731 10 757 10 778 12 915 11 919
4 RS Mata 11 423 12 448 13 519 14 520 15 647
5 RS Bersalin 61 2.475 62 2.453 65 2.334 94 3.150 99 3.457
6 RS Ibu dan Anak 95 4.591 106 4.809 114 5.267 169 7.697 159 8.147
7 RS Khusus Lainnya 71 2.427 72 2.521 72 2.537 111 4.851 150 7.543
321 22.077 337 22.074 349 20.830 475 27.664 503 33.110
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Rumah Sakit yang telah memiliki kode RS
Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013
Jumlah
Lampiran 2.7
JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDUR
MENURUT JENIS RUMAH SAKIT TAHUN 2009 - 2013
No Jenis Rumah Sakit
Tahun 2009
RS TT Persentase RS RS TT Persentase RS RS TT Persentase RS RS TT Persentase RS RS TT Persentase RS RS TT Rasio TT
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (19)
1 Aceh 4.671.874 2 844 3,77 5 1.277 9,43 24 3.315 45,28 10 756 18,87 12 839 22,64 53 7.031 1,50
2 Sumatera Utara 13.391.231 1 755 0,64 21 5.736 13,46 53 6.523 33,97 24 2.005 15,38 57 4.622 36,54 156 19.641 1,47
3 Sumatera Barat 5.035.311 1 276 1,64 4 1.580 6,56 22 2.936 36,07 15 547 24,59 19 927 31,15 61 6.266 1,24
4 Riau 6.143.674 1 182 1,85 8 2.224 14,81 22 2.292 40,74 12 825 22,22 11 450 20,37 54 5.973 0,97
5 Jambi 3.329.887 0 0 0,00 2 541 6,90 10 1.352 34,48 6 471 20,69 11 745 37,93 29 3.109 0,93
6 Sumatera Selatan 7.857.437 3 1.806 5,88 5 1.084 9,80 18 2.775 35,29 11 791 21,57 14 879 27,45 51 7.335 0,93
7 Bengkulu 1.799.668 0 0 0,00 2 580 10,53 4 461 21,05 10 529 52,63 3 211 15,79 19 1.781 0,99
8 Lampung 7.880.769 0 0 0,00 4 1.353 8,16 24 2.656 48,98 7 531 14,29 14 1.138 28,57 49 5.678 0,72
9 Kepulauan Bangka Belitung 1.339.774 0 0 0,00 1 125 7,14 5 695 35,71 7 498 50,00 1 88 7,14 14 1.406 1,05
10 Kepulauan Riau 1.937.577 0 0 0,00 4 916 16,00 9 909 36,00 5 183 20,00 7 439 28,00 25 2.447 1,26
11 DKI Jakarta 10.001.943 12 5.219 8,00 38 8.811 25,33 40 3.216 26,67 13 924 8,67 47 3.773 31,33 150 21.943 2,19
12 Jawa Barat 45.472.830 8 2.474 2,92 47 12.035 17,15 100 10.958 36,50 47 3.431 17,15 72 4.652 26,28 274 33.550 0,74
13 Jawa Tengah 32.684.579 8 4.072 2,91 32 17.662 11,64 106 13.095 38,55 86 5.803 31,27 43 2.146 15,64 275 42.778 1,31
14 DI Yogyakarta 3.560.080 3 986 4,35 11 2.470 15,94 11 4.393 15,94 26 1.545 37,68 18 997 26,09 69 10.391 2,92
15 Jawa Timur 38.268.825 6 3.689 1,88 39 9.818 12,23 99 11.918 31,03 65 4.270 20,38 110 6.863 34,48 319 36.558 0,96
16 Banten 11.523.018 1 294 1,30 12 3.383 15,58 22 1.662 28,57 6 553 7,79 36 2.367 46,75 77 8.259 0,72
17 Bali 4.139.690 3 1.096 5,26 6 1.372 10,53 16 1.817 28,07 13 841 22,81 19 821 33,33 57 5.947 1,44
18 Nusa Tenggara Barat 4.651.648 0 0 0,00 3 637 13,04 8 1.330 34,78 11 1.010 47,83 1 53 4,35 23 3.030 0,65
19 Nusa Tenggara Timur 4.971.802 0 0 0,00 1 379 2,44 11 1.510 26,83 23 1.925 56,10 6 305 14,63 41 4.119 0,83
20 Kalimantan Barat 4.508.968 1 163 2,50 4 1.446 10,00 10 1.227 25,00 13 1.356 32,50 12 776 30,00 40 4.968 1,10
21 Kalimantan Tengah 2.328.823 0 0 0,00 2 522 11,76 7 809 41,18 6 386 35,29 2 68 11,76 17 1.785 0,77
22 Kalimantan Selatan 3.840.547 2 1.087 6,45 2 519 6,45 14 2.174 45,16 2 163 6,45 11 423 35,48 31 4.366 1,14
23 Kalimantan Timur 3.967.793 1 261 1,85 8 2.487 14,81 16 2.391 29,63 23 825 42,59 6 406 11,11 54 6.370 1,61
24 Sulawesi Utara 2.354.668 1 250 2,50 2 1.168 5,00 16 2.354 40,00 10 647 25,00 11 661 27,50 40 5.080 2,16
25 Sulawesi Tengah 2.787.164 0 0 0,00 3 1.044 11,54 9 1.261 34,62 3 219 11,54 11 707 42,31 26 3.231 1,16
26 Sulawesi Selatan 8.305.154 3 1.588 3,66 18 4.122 21,95 32 4.734 39,02 9 495 10,98 20 945 24,39 82 11.884 1,43
27 Sulawesi Tenggara 2.370.549 0 0 0,00 2 587 8,00 7 664 28,00 7 566 28,00 9 490 36,00 25 2.307 0,97
28 Gorontalo 1.110.294 0 0 0,00 2 646 16,67 3 325 25,00 4 231 33,33 3 147 25,00 12 1.349 1,21
29 Sulawesi Barat 1.252.071 0 0 0,00 0 0 0,00 2 372 22,22 2 223 22,22 5 245 55,56 9 840 0,67
30 Maluku 1.662.965 0 0 0,00 2 478 7,41 5 575 18,52 15 867 55,56 5 445 18,52 27 2.365 1,42
31 Maluku Utara 1.114.917 0 0 0,00 1 295 5,56 3 303 16,67 9 678 50,00 5 133 27,78 18 1.409 1,26
32 Papua Barat 846.711 0 0 0,00 0 0 0,00 4 728 25,00 6 424 37,50 6 377 37,50 16 1.529 1,81
33 Papua 3.310.715 0 0 0,00 2 484 5,71 9 1.806 25,71 11 882 31,43 13 553 37,14 35 3.725 1,13
248.422.956 57 25.042 2,56 293 85.781 13,15 741 93.536 33,26 517 35.400 23,20 620 38.691 27,83 2.228 278.450 1,12
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Rumah Sakit yang telah memiliki kode RS
Kelas B Kelas C Kelas D BelumDitetapkan Kelas Total
Indonesia
Lampiran 2.8
JUMLAH RUMAH SAKIT, TEMPAT TIDUR, DAN RASIO TEMPAT TIDUR PER 1.000 PENDUDUK
MENURUT KELAS RUMAH SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Jumlah
Penduduk
Kelas A
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 7.031 113
1,61
437
6,22
561
7,98
819
11,65
3.670
52,20
747
10,62
684
9,73
2 Sumatera Utara 19.641 419
2,13
1.374
7,00
2.900
14,77
4.399
22,40
7.416
37,76
1.980
10,08
1.153
5,87
3 Sumatera Barat 6.266 143
2,28
417
6,65
786
12,54
1.179
18,82
2.656
42,39
592
9,45
493
7,87
4 R i a u 5.973 175
2,93
550
9,21
585
9,79
1.022
17,11
2.419
40,50
737
12,34
485
8,12
5 J a mb i 3.109 51
1,64
297
9,55
395
12,71
519
16,69
1.215
39,08
347
11,16
285
9,17
6 Sumatera Selatan 7.335 127
1,73
470
6,41
894
12,19
1.487
20,27
3.297
44,95
629
8,58
431
5,88
7 Bengkulu 1.781 21
1,18
131
7,36
179
10,05
346
19,43
679
38,12
228
12,80
197
11,06
8 Lampung 5.678 145
2,55
365
6,43
610
10,74
1.133
19,95
2.408
42,41
591
10,41
426
7,50
9 Bangka Belitung 1.406 35
2,49
68
4,84
144
10,24
284
20,20
609
43,31
124
8,82
142
10,10
10 Kepulauan Riau 2.447 41
1,68
155
6,33
268
10,95
460
18,80
1.057
43,20
269
10,99
197
8,05
11 DKI Jakarta 21.943 772
3,52
2.244
10,23
3.016
13,74
4.423
20,16
7.569
34,49
2.536
11,56
1.383
6,30
12 Jawa Barat 33.550 434
1,29
2.365
7,05
4.081
12,16
6.537
19,48
13.157
39,22
4.221
12,58
2.755
8,21
13 Jawa Tengah 42.778 631
1,48
3.183
7,44
4.562
10,66
6.044
14,13
21.893
51,18
4.127
9,65
2.338
5,47
14 D.I. Yogyakarta 10.391 183
1,76
484
4,66
909
8,75
1.623
15,62
5.986
57,61
798
7,68
408
3,93
15 Jawa Timur 36.558 572
1,56
2.885
7,89
4.708
12,88
7.403
20,25
14.065
38,47
4.338
11,87
2.587
7,08
16 Banten 8.259 111
1,34
610
7,39
1.227
14,86
1.768
21,41
2.899
35,10
916
11,09
728
8,81
17 B a l i 5.947 159
2,67
718
12,07
675
11,35
990
16,65
2.285
38,42
691
11,62
429
7,21
18 Nusa Tenggara Barat 3.030 27
0,89
249
8,22
384
12,67
370
12,21
1.271
41,95
408
13,47
321
10,59
19 Nusa Tenggara Timur 4.119 28
0,68
230
5,58
322
7,82
612
14,86
2.056
49,92
463
11,24
408
9,91
20 Kalimantan Barat 4.968 24
0,48
216
4,35
442
8,90
831
16,73
2.492
50,16
556
11,19
407
8,19
21 Kalimantan Tengah 1.785 32
1,79
190
10,64
169
9,47
310
17,37
719
40,28
231
12,94
134
7,51
22 Kalimantan Selatan 4.366 129
2,95
380
8,70
455
10,42
855
19,58
1.734
39,72
496
11,36
317
7,26
23 Kalimantan Timur 6.370 130
2,04
595
9,34
781
12,26
1.261
19,80
2.360
37,05
724
11,37
519
8,15
24 Sulawesi Utara 5.080 81
1,59
227
4,47
479
9,43
1.040
20,47
2.419
47,62
450
8,86
384
7,56
25 Sulawesi Tengah 3.231 4
0,12
221
6,84
299
9,25
438
13,56
1.543
47,76
484
14,98
242
7,49
26 Sulawesi Selatan 11.884 305
2,57
1.116
9,39
1.330
11,19
1.813
15,26
4.701
39,56
1.524
12,82
1.095
9,21
27 Sulawesi Tenggara 2.307 16
0,69
146
6,33
224
9,71
359
15,56
1.036
44,91
214
9,28
312
13,52
28 Gorontalo 1.349 31
2,30
126
9,34
93
6,89
213
15,79
627
46,48
139
10,30
120
8,90
29 Sulawesi Barat 840 21
2,50
50
5,95
70
8,33
142
16,90
354
42,14
80
9,52
123
14,64
30 Maluku 2.365 15
0,63
124
5,24
194
8,20
365
15,43
1.206
50,99
232
9,81
229
9,68
31 Maluku Utara 1.409 39
2,77
128
9,08
137
9,72
207
14,69
606
43,01
155
11,00
137
9,72
32 Papua Barat 1.529 6
0,39
47
3,07
91
5,95
218
14,26
887
58,01
110
7,19
170
11,12
33 Papua 3.725 23
0,62
124
3,33
275
7,38
731
19,62
1.851
49,69
322
8,64
399
10,71
278.450 5.043
1,81
20.922
7,51
32.245
11,58
50.201
18,03
119.142
42,79
30.459
10,94
20.438
7,34
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Keterangan :
Rumah Sakit yang telah memiliki kode RS
* Total tempat tidur mencakup VVIP, VIP, Kelas I, Kelas II, Kelas III, Tempat tidur perawatan lainnya
** Tempat tidur perawatan lainnya mencakup ICU, PICU, NICU, HCU, ICCU, Tempat tidur bayi baru lahir, dan tempat tidur ruang isolasi
*** Tempat tidur non perawatan mencakup tempat tidur di IGD, Kamar Bersalin dan Ruang Operasi
V V I P V I P Kelas I Kelas II Kelas III Ruang Perawatan Lainnya** Ruang Non Perawatan ***
Lampiran 2.9
JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT
MENURUT KELAS PERAWATAN DAN PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
No Provinsi
Total
Tempat
Tidur*
Kelas Perawatan
2011 2012 2013 2011 2012 2013 2011 2012 2013 2011 2012 2013 2011 2012 2013 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Aceh 0 0 0 0 0 0 10 10 9 0 1 1 2 1 1 0 0 0
2 Sumatera Utara 9 9 5 2 2 94 102 94 94 9 14 14 33 31 31 52 47 45
3 Sumatera Barat 1 1 1 0 0 0 21 21 21 0 1 1 0 0 0 2 12 12
4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 Jambi 0 0 0 0 0 0 3 3 3 0 0 0 0 0 1 1 1 1
6 Sumatera Selatan 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0
8 Lampung 0 0 0 0 0 0 4 4 5 0 0 0 0 0 0 4 4 4
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 5 5 0 1 2 0 0 0
11 DKI Jakarta 45 50 50 10 11 102 176 179 179 35 56 41 62 68 77 53 67 67
12 Jawa Barat 87 94 94 42 46 215 207 206 215 114 79 79 266 277 277 135 151 151
13 Jawa Tengah 22 23 23 15 12 283 289 285 283 11 17 17 22 24 24 38 45 45
14 DI Yogyakarta 1 2 2 0 0 73 64 64 73 7 7 7 3 8 8 8 10 10
15 Jawa Timur 45 46 47 15 15 15 136 229 221 27 28 29 44 95 99 113 125 116
16 Banten 1 13 30 19 19 58 64 25 58 23 25 22 71 73 114 109 54 107
17 Bali 0 0 0 1 1 1 16 14 14 0 0 0 0 0 1 12 21 24
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 1 1 9 9 8 2 2 2 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 9 13 14 9 1 1 1 0 0 0 0 1 1
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 3 2 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 1 1 0 26 7 7 0 0 0 0 0 0 21 21 21
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 15 15 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 8 9 8 8 0 0 0 1 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 0 0 0 2 2 1 26 26 9 0 0 0 4 0 11 5 5 2
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 12 12 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
212 239 253 107 110 864 1.205 1.229 1.237 234 237 220 509 579 648 553 564 606
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 2.10
JUMLAH SARANA PRODUKSI
BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2011-2013
No Provinsi
Industri Farmasi Industri Obat Tradisional (IOT)
Usaha Kecil Obat Tradisional
(UKOT)
Produksi Alat Kesehatan
Produksi Perbekalan Kesehatan dan
Rumah Tangga (PKRT)
Industri Kosmetika
Indonesia
2011 2012 2013 2011 2012 2013 2011 2012 2013 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 70 67 26 168 250 298 637 495 433 3 11 11
2 Sumatera Utara 115 116 133 971 977 1.056 805 114 551 16 29 44
3 Sumatera Barat 51 49 53 464 422 486 305 319 319 1 4 28
4 Riau 91 89 89 117 442 480 325 187 193 3 9 9
5 Jambi 34 35 34 218 231 266 161 176 170 0 1 5
6 Sumatera Selatan 98 98 65 355 410 439 147 140 134 9 16 37
7 Bengkulu 22 18 18 155 190 209 78 58 65 0 4 8
8 Lampung 56 55 55 350 412 429 46 77 96 2 8 26
9 Kepulauan Bangka Belitung 15 3 15 105 124 140 98 53 54 0 2 1
10 Kepulauan Riau 37 34 34 182 190 243 207 218 247 2 8 13
11 DKI Jakarta 372 404 432 1.987 2.143 1.843 544 605 605 880 950 950
12 Jawa Barat 446 513 513 3.207 2.959 3.821 1.281 1.038 1.326 141 163 163
13 Jawa Tengah 337 333 333 1.819 1.657 2.302 381 381 381 38 93 87
14 DI Yogyakarta 51 48 50 471 523 528 47 46 48 8 15 15
15 Jawa Timur 224 341 367 2.422 2.380 3.259 297 307 372 59 131 250
16 Banten 82 96 97 349 719 900 111 175 130 62 75 75
17 Bali 74 77 75 525 571 603 206 226 239 10 17 40
18 Nusa Tenggara Barat 40 30 29 253 208 281 158 67 61 2 13 13
19 Nusa Tenggara Timur 33 37 24 154 178 189 125 121 122 0 3 25
20 Kalimantan Barat 54 48 46 28 74 218 111 41 316 2 18 22
21 Kalimantan Tengah 15 14 4 162 160 217 127 127 174 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 53 46 41 260 272 317 790 790 517 3 12 12
23 Kalimantan Timur 51 45 44 425 450 460 237 236 238 2 5 17
24 Sulawesi Utara 47 47 39 123 185 184 57 102 100 1 4 4
25 Sulawesi Tengah 27 28 27 217 215 289 181 134 197 0 1 1
26 Sulawesi Selatan 90 94 102 411 404 674 377 377 377 4 27 57
27 Sulawesi Tenggara 16 12 14 175 209 231 113 127 91 0 1 2
28 Gorontalo 8 7 7 78 89 109 37 36 35 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 1 1 60 46 46 45 45 45 0 0 0
30 Maluku 16 15 17 106 80 127 112 112 112 1 1 3
31 Maluku Utara 9 7 6 86 97 103 23 18 21 0 3 3
32 Papua Barat 14 10 10 122 122 122 52 52 52 0 0 0
33 Papua 47 43 46 210 224 234 26 40 40 0 0 0
2.695 2.860 2.846 16.735 17.613 21.103 8.247 7.040 7.861 1.249 1.624 1.921
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Pedagang Besar Farmasi Apotek Toko Obat Penyalur Alat Kesehatan (PAK)
Indonesia
Lampiran 2.11
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI
BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2011-2013
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 6.464 0 6.464 578 8,94 2.234 7.385 4.500 1,14 0,70
2 Sumatera Utara 5.281 664 5.945 2.956 49,72 3.835 15.303 3.548 2,57 0,60
3 Sumatera Barat 886 259 1.145 1.014 88,56 2.453 7.101 20.813 6,20 18,18
4 Riau 1.594 241 1.835 983 53,57 1.152 5.037 17.918 2,74 9,76
5 Jambi 1.391 162 1.553 1.309 83,52 924 3.250 2.122 2,09 1,37
6 Sumatera Selatan 2.768 376 3.144 2.789 88,71 2.461 6.352 7.487 2,02 2,38
7 Bengkulu 1.356 168 1.524 1.438 94,36 1.547 1.863 3.695 1,22 2,42
8 Lampung 2.375 205 2.580 2.289 85,74 1.447 7.797 7.488 3,02 2,90
9 Kepulauan Bangka Belitung 313 67 380 296 77,89 303 992 714 2,61 1,88
10 Kepulauan Riau 274 141 415 369 84,58 198 1.191 2.350 2,87 5,66
11 DKI Jakarta* - - 2.705 2.006 74,16 1.176 4.297 12.393 1,59 4,58
12 Jawa Barat 5.295 639 5.934 4.945 83,33 5.490 49.193 37.622 8,29 6,34
13 Jawa Tengah 7.809 769 8.578 8.577 99,99 7.670 48.315 80.896 5,63 9,43
14 DI Yogyakarta 392 46 438 413 94,29 421 2.708 432 6,18 0,99
15 Jawa Timur 7.722 783 8.505 7.968 93,69 8.598 45.882 4.086 5,39 0,48
16 Banten 1.273 278 1.551 1.331 85,82 521 10.640 33.308 6,86 21,48
17 Bali 634 80 714 698 97,76 490 4.760 780 6,67 1,09
18 Nusa Tenggara Barat 941 139 1.080 930 86,11 804 6.743 2.664 6,24 2,47
19 Nusa Tenggara Timur 2.881 319 3.200 502 15,69 648 8.573 600 2,68 0,19
20 Kalimantan Barat 1.897 89 1.986 832 41,89 1.349 4.281 1.142 2,16 0,58
21 Kalimantan Tengah 1.420 138 1.558 629 40,37 513 2.236 1.170 1,44 0,75
22 Kalimantan Selatan 1.866 143 2.009 1.581 78,70 1.707 3.724 10.006 1,85 4,98
23 Kalimantan Timur 1.268 224 1.492 948 63,54 655 4.566 4.575 3,06 3,07
24 Sulawesi Utara 1.458 332 1.790 689 38,49 1.048 2.066 4.515 1,15 2,52
25 Sulawesi Tengah 1.767 169 1.936 1.313 67,82 1.154 3.267 17.616 1,69 9,10
26 Sulawesi Selatan 2.240 784 3.024 2.899 96,49 2.820 9.377 35.029 3,10 11,58
27 Sulawesi Tenggara 1.772 370 2.142 1.001 46,73 1.055 2.877 1.968 1,34 0,92
28 Gorontalo 657 72 729 357 48,97 303 1.302 612 1,79 0,84
29 Sulawesi Barat 533 71 604 216 35,76 107 1.731 1.227 2,87 2,03
30 Maluku 1.135 34 1.169 808 69,12 598 1.902 1.880 1,63 1,61
31 Maluku Utara 1.039 112 1.151 859 74,63 252 1.401 100 1,22 0,09
32 Papua Barat 1.477 77 1.554 31 1,99 79 1.122 360 0,72 0,23
33 Papua 4.766 91 4.857 1.016 20,92 719 2.991 12.970 0,62 2,67
72.944 8.309 83.691 54.570 65,20 54.731 280.225 336.586 3,35 4,02
Sumber : Pusat Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan per 17 Januari 2014
Keterangan :
*) Jumlah desa dan kelurahan di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW
Jumlah Desa dan Kelurahan berasal dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2013
Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW Siaga Aktif dan jumlah Desa Siaga Aktif di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah Desa Siaga Aktif ditambah Nagari Siaga Aktif
Data Poskesdes yang Beroperasi merupakan data gabungan dari Dirjen Bina Gizi dan KIA tahun 2009 , Laporan DAK Kab/Kota Tahun 2012 dan Laporan DAK Kab/Kota Tahun 2013
Posyandu
Kader / Toma /
Toga Terlatih
Rasio Posyandu
terhadap
Desa/Kelurahan
Rasio
Kader/Toma
terhadap
Desa/Kelurahan
Lampiran 2.12
Poskesdes yang
Beroperasi
Indonesia
JUMLAH UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT (UKBM) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Desa Kelurahan
Desa dan
Kelurahan
RW, Desa dan
Kelurahan Siaga
Aktif
Persentase RW,
Desa dan
Kelurahan Siaga
Aktif
Pratama Madya Purnama Mandiri Jumlah Pratama Madya Purnama Mandiri Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 578 - - - 578 1.826 4.170 1.226 163 7.385
2 Sumatera Utara - - - - 2.956 2.761 6.661 4.293 1.588 15.303
3 Sumatera Barat 200 354 350 110 1.014 344 2.775 3.005 977 7.101
4 Riau 470 326 119 68 983 1.037 1.904 1.553 543 5.037
5 Jambi 735 353 103 118 1.309 439 1.475 1.036 300 3.250
6 Sumatera Selatan 2.789 0 0 0 2.789 761 2.149 3.018 424 6.352
7 Bengkulu 961 331 140 6 1.438 567 867 363 66 1.863
8 Lampung 1.206 670 316 97 2.289 429 2.821 3.540 1.007 7.797
9 Kepulauan Bangka Belitung - - - - 296 71 376 418 127 992
10 Kepulauan Riau 235 92 32 10 369 146 571 389 85 1.191
11 DKI Jakarta 534 549 598 325 2.006 23 287 1.586 2.401 4.297
12 Jawa Barat - - - - 4.945 49.193 0 0 0 49.193
13 Jawa Tengah 3.386 3.247 1.507 437 8.577 5.018 15.320 18.693 9.284 48.315
14 DI Yogyakarta 176 158 66 13 413 86 641 1.129 852 2.708
15 Jawa Timur 4.674 2.519 689 86 7.968 2.460 15.412 25.771 2.239 45.882
16 Banten 974 350 7 0 1.331 2.768 5.298 2.094 480 10.640
17 Bali 698 0 0 0 698 123 1.643 2.658 336 4.760
18 Nusa Tenggara Barat 667 193 65 5 930 1.339 2.831 2.281 292 6.743
19 Nusa Tenggara Timur - - - - 502 8.573 0 0 0 8.573
20 Kalimantan Barat 832 - - - 832 1.322 2.013 863 83 4.281
21 Kalimantan Tengah 629 0 0 0 629 1.021 854 300 61 2.236
22 Kalimantan Selatan 1.255 186 28 112 1.581 1.159 1.769 699 97 3.724
23 Kalimantan Timur 630 159 139 20 948 906 1.702 1.552 406 4.566
24 Sulawesi Utara 368 126 192 3 689 248 882 916 20 2.066
25 Sulawesi Tengah 1.180 112 15 6 1.313 953 1.455 782 77 3.267
26 Sulawesi Selatan 1.636 757 421 85 2.899 1.659 3.360 3.446 912 9.377
27 Sulawesi Tenggara 833 118 35 15 1.001 561 1.284 830 202 2.877
28 Gorontalo 246 84 26 1 357 32 975 286 9 1.302
29 Sulawesi Barat 133 83 0 0 216 777 696 239 19 1.731
30 Maluku 780 12 0 16 808 909 712 274 7 1.902
31 Maluku Utara 583 197 62 17 859 526 525 309 41 1.401
32 Papua Barat - - - - 31 1.122 0 0 0 1.122
33 Papua 1.016 0 0 0 1.016 2.560 116 128 187 2.991
28.404 10.976 4.910 1.550 54.570 91.719 81.544 83.677 23.285 280.225
Sumber : Pusat Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan per 17 Januari 2014
Keterangan : Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW Siaga Aktif dan jumlah Desa Siaga Aktif di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah Desa Siaga Aktif ditambah Nagari Siaga Aktif
Lampiran 2.13
Indonesia
JUMLAH RW, DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF SERTA POSYANDU
MENURUT PROVINSI DAN TINGKATAN (STRATA) DI INDONESIA TAHUN 2013
No Provinsi
RW, Desa dan Kelurahan Siaga Aktif Posyandu
Kefarmasian Kesehatan Masyarakat Gizi
K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
K
e
b
i
d
a
n
a
n
K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
G
i
g
i
F
a
r
m
a
s
i
K
e
s
e
h
a
t
a
n
L
i
n
g
k
u
n
g
a
n
G
i
z
i
F
i
s
i
o
t
e
r
a
p
i
O
k
u
p
a
s
i
T
e
r
a
p
i
T
e
r
a
p
i
W
i
c
a
r
a
A
k
u
p
u
n
k
t
u
r
A
n
a
l
i
s
K
e
s
e
h
a
t
a
n
T
e
k
n
i
k
E
l
e
k
t
r
o
m
e
d
i
k
T
e
k
n
i
k
R
a
d
i
o
d
i
a
g
n
o
s
t
i
k
O
r
t
o
t
i
k
P
r
o
s
t
e
t
i
k
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 5
2 Medan 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
3 Padang 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
4 Riau 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
5 Jambi 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
6 Palembang 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
7 Bengkulu 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
8 Tanjung Karang 1 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5
9 Tanjung Pinang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Pangkal Pinang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 Jakarta I 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
12 Jakarta II 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 4
13 Jakarta III 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 3
14 Bandung 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 6
15 Tasikmalaya 2 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5
16 Semarang 2 2 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 8
17 Surakarta 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 7
18 DI Yogyakarta 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 6
19 Surabaya 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 6
20 Malang 2 3 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 6
21 Banten 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
22 Denpasar 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4
23 Mataram 2 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 5
24 Kupang 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
25 Pontianak 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 6
26 Palangkaraya 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
27 Banjarmasin 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 6
28 Kalimantan Timur 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
29 Manado 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4
30 Palu 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
31 Makassar 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 8
32 Kendari 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2
33 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
34 Mamuju 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
35 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
36 Ternate 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
37 Jayapura 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
38 Sorong 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
34 36 9 1 13 19 3 1 1 1 9 2 2 2 133
Sumber : Badan PPSDMKesehatan, Kemenkes RI, 2014
Keperawatan Keterapian Fisik Keteknisian Medis
Jurusan/ProgramStudi
Total
Lampiran 2.14
JUMLAH PROGRAM STUDI DIPLOMA IV INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES)
SAMPAI DENGAN DESEMBER TAHUN 2013
No Poltekkes Total
Kesmas Gizi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21)
1 Aceh 3 3 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10
2 Medan 1 3 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9
3 Padang 2 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7
4 Riau 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
5 Jambi 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
6 Palembang 3 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8
7 Bengkulu 2 2 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7
8 Tanjung Karang 2 2 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 10
9 Tanjung Pinang 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
10 Pangkal Pinang 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
11 Jakarta I 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4
12 Jakarta II 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7
13 Jakarta III 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5
14 Bandung 2 3 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 10
15 Tasikmalaya 2 2 1 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 10
16 Semarang 5 4 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 2 0 0 1 16
17 Surakarta 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 8
18 DI Yogyakarta 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
19 Surabaya 4 3 1 0 0 0 2 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 13
20 Malang 3 3 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 8
21 Banten 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 3
22 Denpasar 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
23 Mataram 2 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5
24 Kupang 3 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9
25 Pontianak 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
26 Palangkaraya 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
27 Banjarmasin 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
28 Kalimantan Timur 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4
29 Manado 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7
30 Palu 2 2 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6
31 Makassar 2 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9
32 Kendari 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4
33 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
34 Mamuju 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
35 Maluku 3 2 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8
36 Ternate 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5
37 Jayapura 7 4 0 1 0 0 1 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 16
38 Sorong 3 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6
71 62 18 12 1 1 24 33 2 1 1 1 22 2 3 2 2 4 262
Sumber: Badan PPSDMKesehatan, Kemenkes RI, 2014
A
k
u
p
u
n
k
t
u
r
Poltekkes
O
k
u
p
a
s
i
T
e
r
a
p
i
K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
G
i
g
i
F
i
s
i
o
t
e
r
a
p
i
Keterapian Fisik
Lampiran 2.15
JUMLAH JURUSAN/PROGRAMSTUDI DIPLOMA III INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES)
MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2013
F
a
r
m
a
s
i
Keperawatan
O
r
t
o
t
i
k
P
r
o
s
t
e
t
i
kTotal
T
e
k
n
i
k
E
l
e
k
t
r
o
m
e
d
i
k
Jumlah
K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
K
e
b
i
d
a
n
a
n
G
i
z
i
J
a
m
u
No
P
e
r
e
k
a
m
I
n
f
o
r
m
a
s
i
K
e
s
e
h
a
t
a
n
K
e
s
e
h
a
t
a
n
L
i
n
g
k
u
n
g
a
n
Jurusan / ProgramStudi
Keteknisian Medis
T
e
k
n
i
k
R
a
d
i
o
d
i
a
g
n
o
s
t
i
k
T
e
k
n
i
k
G
i
g
i
Kefarmasian
T
e
r
a
p
i
W
i
c
a
r
a
A
n
a
l
i
s
F
a
r
m
a
s
i
&
M
a
k
a
n
a
n
A
n
a
l
i
s
K
e
s
e
h
a
t
a
n
2011/2012 2012/2013 2013/2014
(1) (3) (4) (5) (6)
A KEPERAWATAN
1 Keperawatan 21.596 22.931 22.250 66.777
2 Kebidanan 16.323 16.959 19.278 52.560
3 Keperawatan Gigi 4.890 4.920 5.870 15.680
42.809 44.810 47.398 135.017
B KEFARMASIAN
1 Analisa Farmasi dan Makanan 285 285 222 792
2 Farmasi 2.085 2.305 2.490 6.880
3 Jamu 101 101
2.370 2.590 2.813 7.773
C KESEHATAN MASYARAKAT
1 Kesehatan Lingkungan 6.790 7.000 5.945 19.735
6.790 7.000 5.945 19.735
D GIZI
1 Akademi Gizi (AKZI) 7.065 7.570 6.097 20.732
7.065 7.570 6.097 20.732
E KETERAPIAN FISIK
1 Fisioterapi 590 760 944 2.294
2 Okupasi Terapi 250 300 334 884
3 Terapi Wicara 160 220 259 639
4 Akupunktur 160 220 191 571
1.160 1.500 1.728 4.388
F KETEKNISIAN MEDIS
1 Analis Kesehatan 4.095 4.730 4.766 13.591
2 Teknik Gigi 380 440 294 1.114
3 Program Teknologi & Tranfusi Darah 0
4 Teknik Radiologi & Radioterapi 875 915 910 2.700
5 Rekam Medis dan Info Kes 120 180 119 419
6 Teknik Elektro Medik 715 715 503 1.933
7 Refraksi dan Optisi 0
8 Ortetik Prostetik 320 440 201 961
6.505 7.420 6.793 20.718
66.699 70.890 70.774 208.363
Sumber: Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 2.16
JUMLAH PESERTA DIDIK DIPLOMA III POLTEKKES MENURUT JENIS TENAGA KESEHATAN
TAHUN AJARAN 2011/2012 SAMPAI DENGAN 2013/2014
No Institusi Poltekkes
Peserta Didik Poltekkes
Jumlah
Sub Total
Sub Total
Sub Total
Sub Total
Total
(2)
Sub Total
Sub Total
Kesmas Gizi
K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
K
e
b
i
d
a
n
a
n
K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
G
i
g
i
F
a
r
m
a
s
i
d
a
n
M
a
k
a
n
a
n
F
a
r
m
a
s
i
J
a
m
u
K
e
s
e
h
a
t
a
n
L
i
n
g
k
u
n
g
a
n
G
i
z
i
F
i
s
i
o
t
e
r
a
p
i
O
k
u
p
a
s
i
T
e
r
a
p
i
T
e
r
a
p
i
A
k
u
p
u
n
k
t
u
r
T
e
k
n
i
k
G
i
g
i
A
n
a
l
i
s
K
e
s
e
h
a
t
a
n
T
e
k
n
i
k
R
a
d
i
o
l
o
g
i
d
a
n
R
a
d
i
o
T
e
r
a
p
i
R
e
f
r
a
k
s
i
O
p
t
i
s
i
T
e
k
n
i
k
E
l
e
k
t
r
o
m
e
d
i
k
O
r
t
o
t
i
k
P
r
o
s
t
e
t
i
k
T
r
a
n
s
f
u
s
i
P
I
K
E
S
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (22) (23) (24)
1 Aceh 1.873 1.198 320 0 209 0 253 309 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4.162
2 Medan 340 963 270 0 290 0 303 299 0 0 0 0 0 282 0 0 0 0 0 0 2.747
3 Padang 481 551 284 0 0 0 288 285 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.889
4 Pekanbaru 181 348 0 0 0 0 0 167 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 696
5 Jambi 274 408 133 0 0 0 103 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 918
6 Bengkulu 465 550 0 0 0 0 159 298 0 0 0 0 0 127 0 0 0 0 0 0 1.599
7 Palembang 838 426 0 0 288 0 0 409 0 0 0 0 0 147 0 0 0 0 0 0 2.108
8 T.Karang 620 590 148 0 119 0 296 195 0 0 0 0 90 320 0 0 0 0 0 0 2.378
9 Gorontalo 554 597 0 0 0 0 0 257 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.408
10 Jakarta I 219 158 136 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 45 0 0 558
11 Jakarta II 0 0 0 222 362 0 345 341 0 0 0 0 204 527 315 0 211 0 0 0 2.527
12 Jakarta III 494 513 0 0 0 0 0 0 94 0 0 0 0 242 0 0 0 0 0 0 1.343
13 Bandung 506 731 211 0 87 0 211 230 0 0 0 0 0 294 0 0 0 0 0 0 2.270
14 Tasikmalaya 438 436 211 0 0 0 0 236 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 119 1.440
15 Semarang 1.435 1.246 317 0 0 0 325 313 0 0 0 0 0 230 595 0 0 0 0 0 4.461
16 Surakarta 545 490 0 0 0 101 0 0 554 334 259 191 0 0 0 0 0 156 0 2.630
17 Yogyakarta 305 310 365 0 0 0 368 313 0 0 0 0 0 422 0 0 0 0 0 0 2.083
18 Malang 954 1.093 439 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.486
19 Surabaya 833 675 242 0 0 0 416 68 0 0 0 0 0 259 0 0 292 0 0 0 2.785
20 Denpasar 264 154 96 0 0 0 116 124 0 0 0 0 0 144 0 0 0 0 0 0 898
21 Mataram 779 705 0 0 0 0 0 166 0 0 0 0 0 210 0 0 0 0 0 0 1.860
22 Kupang 935 388 1.116 0 398 0 274 257 0 0 0 0 0 201 0 0 0 0 0 0 3.569
23 Pontianak 697 377 232 0 0 0 411 160 0 0 0 0 0 203 0 0 0 0 0 0 2.080
24 Palangkaraya 392 618 150 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.160
25 Banjarmasin 220 318 233 0 0 0 174 218 0 0 0 0 0 180 0 0 0 0 0 0 1.343
26 Samarinda 543 812 0 0 0 0 232 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.587
27 Manado 356 343 221 0 249 0 318 265 0 0 0 0 0 207 0 0 0 0 0 0 1.959
28 Palu 650 432 0 0 0 0 246 60 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.388
29 Makassar 888 388 396 0 353 0 292 288 296 0 0 0 0 486 0 0 0 0 0 0 3.387
30 Kendari 527 554 350 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.431
31 Ambon 1.094 462 0 0 0 0 307 281 0 0 0 0 0 70 0 0 0 0 0 0 2.214
32 Ternate 429 480 0 0 0 0 55 181 0 0 0 0 0 45 0 0 0 0 0 0 1.190
33 Jayapura 1.658 735 0 0 0 0 215 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.608
34 Pangkal Pinang 136 139 0 0 135 0 0 127 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 537
35 Banten 254 230 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 170 0 0 0 0 0 0 654
36 Mamuju 145 148 0 0 0 0 112 123 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 528
37 Sorong 688 460 0 0 0 0 0 127 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.275
38 Tanjung Pinang 240 252 0 0 0 0 126 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 618
22.250 19.278 5.870 222 2.490 101 5.945 6.097 944 334 259 191 294 4.766 910 0 503 201 0 119 70.774
Sumber: Badan PPSDMKesehatan, Kemenkes RI, 2014
Total
Lampiran2.17
JUMLAH PESERTA DIDIK PRORAM DIPLOMA III POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2013
No Poltekkes
Keperawatan Kefarmasian Keterapian Fisik Keteknisian Medis
Jumlah
No 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5)
A KEPERAWATAN
1 Keperawatan 7.276 7.183 6.608
2 Kebidanan 5.025 5.652 7.604
3 Keperawatan Gigi 1.655 1.641 1.569
13.956 14.476 15.781
B KEFARMASIAN
1 Analisa Farmasi dan Makanan 125 125 72
2 Farmasi 625 885 672
750 1.010 744
C KESEHATAN MASYARAKAT
1 Kesehatan Lingkungan 2.065 2.089 1.676
Promkes 10
2.065 2.089 1.686
D GIZI
1 Gizi 2.265 2.068 2.034
2.265 2.068 2.034
E KETERAPIAN FISIK
1 Fisioterapi 190 123 243
2 Okupasi Terapi 50 52 99
3 Terapi Wicara 40 36 46
4 Akupunktur 33 42
280 244 430
F KETEKNISIAN MEDIS
1 Analis Kesehatan 1.105 1.125 1.384
2 Teknik Gigi 100 92 80
3 Teknik Radiologi & Radioterapi 100 285 346
4 Rekam Medis dan Info Kes 0 38
5 Teknik Elektro Medik 225 225 230
6 Ortetik Prostetik 20 16 44
1.550 1.743 2.122
20.866 21.630 22.797
Sumber: Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Total
Sub Total
Sub Total
Sub Total
Sub Total
Sub Total
Lampiran 2.18
JUMLAH LULUSAN PROGRAM STUDI DIPLOMA III POLTEKKES
MENURUT JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2011-2013
Institusi Diknakes
Sub Total

K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n

K
e
b
i
d
a
n
a
n

K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
G
i
g
i

K
e
s
e
h
a
t
a
n
L
i
n
g
k
u
n
g
a
n

G
i
z
i

F
a
r
m
a
s
i

A
n
a
l
i
s

K
e
s
e
h
a
t
a
n

T
e
k
n
i
k

E
l
e
k
t
r
o
M
e
d
i
k

T
e
k
n
i
k

R
a
d
i
o
D
i
a
g
n
o
s
t
i
k

T
e
k
n
i
k

G
i
g
i

A
n
a
l
i
s

F
a
r
m
a
s
i
D
a
n

M
a
k
a
n
a
n

F
i
s
i
o
t
e
r
a
p
i

O
k
u
p
a
s
i

E
t
r
a
p
i

O
r
t
e
t
i
k

P
r
o
s
t
e
t
i
k

T
e
r
a
p
i

W
i
c
a
r
a

A
k
u
p
u
n
k
t
u
r

J
a
m
u

P
e
r
e
k
a
m

d
a
n
I
n
f
o
r
m
a
s
i
K
e
s
e
h
a
t
a
n

P
r
o
m
k
e
s
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22)
1 Aceh 327 392 156 92 96 56 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.119
2 Medan 108 362 72 95 116 89 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 922
3 Padang 146 176 101 71 66 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 560
4 Pekanbaru 44 139 0 0 42 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 225
5 Jambi 89 122 68 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 330
6 Bengkulu 109 151 0 40 57 0 37 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 394
7 Palembang 232 169 80 0 56 75 49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 661
8 T.Karang 122 292 34 113 48 29 114 0 0 19 0 0 0 0 0 0 0 0 10 781
9 Gorontalo 113 236 0 0 67 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 416
10 Jakarta I 68 40 64 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 186
11 Jakarta II 0 0 0 96 91 112 0 100 151 61 72 0 0 0 0 0 0 0 0 683
12 Jakarta III 253 153 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 496
13 Bandung 124 289 93 87 85 0 104 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 782
14 Tasikmalaya 81 217 100 0 76 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 38 0 512
15 Semarang 475 469 198 111 112 0 48 0 195 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.608
16 Surakarta 185 239 0 0 0 0 0 0 0 0 0 149 99 30 46 42 0 0 0 790
17 Yogyakarta 114 137 135 109 110 0 146 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 751
18 Malang 297 465 0 0 157 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 919
19 Surabaya 286 376 131 149 0 0 133 130 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.205
20 Denpasar 160 83 25 62 33 0 37 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 400
21 Mataram 332 246 0 0 88 0 111 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 777
22 Kupang 485 456 47 56 58 44 40 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.186
23 Pontianak 202 123 52 80 36 0 61 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 554
24 Palangkaraya 131 336 0 0 58 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 525
25 Banjarmasin 74 141 59 40 71 0 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 465
26 Samarinda 153 241 0 0 0 0 37 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 431
27 Manado 103 137 66 87 62 64 34 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 553
28 Palu 184 146 0 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 376
29 Makassar 274 182 88 91 107 162 145 0 0 0 0 94 0 0 0 0 0 0 0 1.143
30 Kendari 6 162 0 0 64 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 232
31 Ambon 252 116 0 74 67 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 509
32 Ternate 155 155 0 0 67 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 377
33 Jayapura 519 273 0 54 30 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 876
34 T. Pinang 84 72 0 40 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 196
35 Pangkal Pinang 26 32 0 0 33 41 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 132
36 Banten 80 71 0 0 0 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 189
37 Mamuju 38 43 0 32 36 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 149
38 Sorong 177 165 0 0 45 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 387
6.608 7.604 1.569 1.676 2.034 672 1.384 230 346 80 72 243 99 44 46 42 0 38 10 22.797
Sumber: Badan PPSDMKesehatan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 2.19
JUMLAH LULUSAN PROGRAM STUDI DIPLOMA III POLTEKKES
MENURUT JENIS PROGRAM STUDI TAHUN 2013
No
Nama
Poltekkes
PROGRAM STUDI
Total
Total
No Nama Obat Kemasan Kebutuhan Ketersediaan
Ketersediaan
(%)
No Nama Obat Kemasan Kebutuhan Ketersediaan
Ketersediaan
(%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Alopurinol tablet 100 mg tablet 36.741.378 42.334.202 115,22 37 Etakridin larutan 0,1% botol 769.775 763.763 99,22
2 Aminofilin tablet 200 mg tablet 32.367.841 31.018.777 95,83 38 Fenitoin Natriun Injeksi 50 mg/ml ampul 89.475 85.887 95,99
3 Aminofilin injeksi 24 mg/ml tablet 1.010.547 918.987 90,94 39 Fenobarbital Injeksi I.m/I.v 50 mg/ml ampul 926.935 737.193 79,53
4 Amitripilin tablet salut 25 mg (HCL) tablet 6.105.441 6.306.266 103,29 40 Fenobarbital tablet 30 mg tablet 25.873.858 24.125.745 93,24
5 Amoksisilin kapsul 250 mg kapsul 105.686.877 88.240.406 83,49 41 Fenoksimetil Penisilin tablet 250 mg tablet 2.255.883 2.092.079 92,74
6 Amoksisilin kaplet 500 mg kaplet 537.766.318 572.572.531 106,47 42 Fenoksimetil Penisilin tablet 500 mg tablet 3.976.891 3.836.773 96,48
7 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ 5 mg botol 15.290.917 18.436.875 120,57 43 Fenol Gliserol tetes telinga 10% botol 1.182.712 1.171.617 99,06
8 Metampiron tablet 500 mg tablet 182.539.479 202.597.283 110,99 44 Fitomenadion (Vit. K1) injeksi 10 mg/ml ampul 5.034.528 4.726.099 93,87
9 Metampiron injeksi 250 mg ampul 3.099.226 3.128.248 100,94 45 Fitomenadion (Vit. K1) tablet salut gula 10 mg tablet 17.655.327 15.966.112 90,43
10 Antasida DOEN I tablet kunyah, kombinasi: Aluminium
Hidroksida 200 mg + MagnesiumHidroksida 200 mg
tablet 330.010.245 325.645.937 98,68 46 Furosemid tablet 40 mg tablet 15.961.933 17.867.571 111,94
11 Anti Bakteri DOEN saleb kombinasi: Basitrasin 500 IU/g +
polimiksin 10.000 IU/g
tube 3.203.739 2.853.474 89,07 47 Gameksan lotion 1 % botol 1.059.419 1.059.427 100,00
12 Antihemoroid DOEN kombinasi: Bismut Subgalat 150 mg +
Heksaklorofen 250 mg
supp 1.478.236 1.287.945 87,13 48 GaramOralit I serbuk Kombinasi: Natrium0,70 g, Kalium
klorida 0,30 g, TribatriumSitrt dihidrat 0,58 g
sach 46.047.937 43.038.223 93,46
13 Antifungi DOEN Kombinasi: AsamBenzoat 6%+ Asam
Salisilat 3%
pot 1.628.366 1.770.725 108,74 49 Gentian Violet Larutan 1 % botol 2.257.820 2.411.131 106,79
14 Antimigren: Ergotamin tartrat 1 mg + Kofein 50 mg tablet 6.538.399 4.894.153 74,85 50 Glibenklamida tablet 5 mg tablet 56.488.673 59.082.656 104,59
15 Antiparkinson DOEN tablet kombinasi: Karbidopa 25 mg +
Levodopa 250 mg
tablet 150.345 107.220 71,32 51 Gliseril Gualakolat tablet 100 mg tablet 368.900.378 406.434.985 110,17
16 Aqua Pro Injeksi Steril, bebas pirogen vial 2.358.049 2.298.768 97,49 52 Gliserin botol 3.706.973 3.088.958 83,33
17 AsamAskorbat (vitamin C) tablet 50 mg tablet 340.682.306 303.200.999 89,00 53 Glukosa larutan infus 5% botol 6.339.081 4.919.017 77,60
18 AsamAsetisalisilat tablet 100 mg (Asetosal) tablet 9.155.228 6.310.510 68,93 54 Glukosa larutan infus 10% botol 275.831 267.391 96,94
19 AsamAsetisalisilat tablet 500 mg (Asetosal) tablet 2.601.517 1.926.273 74,04 55 Glukosa larutan infus 40%steril (produk lokal) ampul 616.452 797.604 129,39
20 Atropin sulfat tablet 0,5 mg tablet 1.991.758 1.678.949 84,29 56 Griseofulvin tablet 125 mg, micronized tablet 26.115.814 25.653.672 98,23
21 Atropin tetes mata 0,5% botol 35.022 33.144 94,64 57 Haloperidol tablet 0,5 mg tablet 3.841.418 4.141.750 107,82
22 Atropin injeksi l.m/lv/s.k. 0,25 mg/mL - 1 mL (sulfat) ampul 539.197 480.025 89,03 58 Haloperidol tablet 1,5 mg tablet 10.635.642 12.265.559 115,33
23 Betametason krim0,1 % krim 5.755.275 5.661.965 98,38 59 Haloperidol tablet 5 mg tablet 5.093.137 7.031.126 138,05
24 Deksametason Injeksi I.v. 5 mg/ml ampul 14.415.848 12.692.243 88,04 60 Hidroklorotiazida tablet 25 mg tablet 80.079.223 74.450.572 92,97
25 Deksametason tablet 0,5 mg tablet 300.226.668 299.112.407 99,63 61 Hidrkortison krim2,5% tube 7.370.766 7.656.761 103,88
26 Dekstran 70-larutan infus 6%steril botol 2.983.469 2.967.441 99,46 62 Ibuprofen tablet 200 mg tablet 63.225.521 58.370.076 92,32
27 Dekstrometorfan sirup 10 mg/5 ml (HBr) botol 6.835.227 6.894.880 100,87 63 Ibuprofen tablet 400 mg tablet 71.559.108 68.636.382 95,92
28 Dekstrometorfan tablet 15 mg (HBr) tablet 124.225.667 107.941.489 86,89 64 Isosorbid Dinitrat Tablet Sublingual 5 mg tablet 11.721.833 13.425.991 114,54
29 DiazepamInjeksi 5mg/ml ampul 2.040.659 2.509.416 122,97 65 KalsiumLaktat (Kalk) tablet 500 mg tablet 215.793.410 202.333.681 93,76
30 Diazepamtablet 2 mg tablet 37.895.932 35.906.365 94,75 66 Kaptopril tablet 12,5 mg tablet 55.391.360 52.556.553 94,88
31 Diazepamtablet 5 mg tablet 5.768.851 6.812.972 118,10 67 Kaptopril tablet 25 mg tablet 103.261.367 108.669.139 105,24
32 Difenhidramin Injeksi I.M. 10 mg/ml (HCL) ampul 6.624.732 5.314.084 80,22 68 Karbamazepimtablet 200 mg tablet 5.528.909 6.314.310 114,21
33 Diagoksin tablet 0,25 mg tablet 7.778.533 8.298.543 106,69 69 Ketamin Injeksi 10 mg/ml vial 597.739 468.165 78,32
34 Efedrin tablet 25 mg (HCL) tablet 36.176.115 27.878.710 77,06 70 Klofazimin kapsul 100 mg microzine kapsul 2.268.599 2.019.134 89,00
35 Ekstrks belladona tablet 10 mg tablet 20.825.531 16.871.982 81,02 71 Kloramfenikol kapsul 250 mg kapsul 62.485.884 58.872.542 94,22
36 Epinefrin (Adrenalin) injeksi 0,1%(sebagai HCL) ampul 1.621.856 1.158.745 71,45 72 Kloramfenikol tetes telinga 3 % botol 17.647.929 17.258.489 97,79
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 2.20
PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN BULAN NOVEMBER 2013
No Nama Obat Kemasan Kebutuhan Ketersediaan
Ketersediaan
(%)
No Nama Obat Kemasan Kebutuhan Ketersediaan
Ketersediaan
(%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) (5) (6)
73 Kloraniramina mealeat (CTM) tablet 4 mg tablet 646.187.787 661.683.428 102,40 110 Povidon Iodida larutan 10 % botol 3.337.799 2.571.479 77,04
74 Klorpromazin injeksi i.m5 mg/ml-2ml (HCL) ampul 5.821.838 6.339.503 108,89 111 Prednison tablet 5 mg tablet 219.167.208 191.072.186 87,18
75 Klorpromazin injeksi i.m25 mg/ml (HCL) ampul 216.884 201.435 92,88 112 Primakuin tablet 15 mg tablet 21.775.804 29.806.909 136,88
76 Klorpromazin tablet salut 25 mg (HCL) tablet 10.123.877 9.814.482 96,94 113 Propillitiourasil tablet 100 mg tablet 7.467.236 7.083.664 94,86
77 Klorpromazin HCl tablet salut 100 mg (HCL) tablet 12.552.718 15.297.339 121,86 114 Propanol tablet 40 mg (HCL) tablet 4.777.147 6.773.676 141,79
78 Anti Malaria DOEN Kombinasi Pirimetamin 25 mg +
Sulfadoxin 500 mg
tablet 3.585.606 2.550.092 71,12 115 Reserpin tablet 0,10 mg tablet 771.009 554.624 71,93
79 Kotrimosazol Suspensi Kombinasi :Sulfametoksazol 200
mg + Trimetoprim40 mg/ 5 ml
botol 12.476.443 13.045.693 104,56
116 Reserpin tablet 0,25 mg tablet 19.275.427 19.966.404 103,58
80 Kotrimosazol DOEN I (dewasa) Kombinasi :
Sulfametoksazol 400 mg, Trimetoprim80 mg
tablet 108.313.585 115.548.192 106,68
117 Ringer Laktat larutan infus botol 10.516.896 11.639.028 110,67
81 Kotrimosazol DOEN II (pediatrik) Kombinasi :
Sulfametoksazol 100 mg, Trimetoprim20 mg
tablet 22.869.557 23.022.671 100,67 118 Salep 2-4, kombinasi: AsamSalisilat 2%+ Belerang
endap 4%
tube 3.182.571 3.150.565 98,99
82 Kuinin (kina) tablet 200 mg tablet 4.626.081 4.773.743 103,19 119 Salisil bedak 2% kotak 3.846.436 3.851.217 100,12
83 Kuinin Dihidrokklorida injeksi 25%-2 ml ampul 454.800 828.505 182,17 120 SerumAnti Bisa Ular Polivalen injeksi 5 ml (ABU I) vial 64.437 55.473 86,09
84 Lidokain injeksi 2%(HCL) + Epinefrin 1 : 80.000-2 ml vial 7.895.129 9.811.841 124,28
121 SerumAnti Bisa Ular Polivalen injeksi 50 ml (ABU II) vial 2.727 2.242 82,20
85 MagnesiumSulfat inj (IV) 20%-25 ml vial 199.738 162.553 81,38 122 SerumAnti Difteri Injeksi 20.000 IU/vial (A.D.S.) vial 7.480 5.027 67,20
86 MagnesiumSulfat inj (IV) 40%-25 ml vial 330.795 404.876 122,39 123 SerumAnti Tetanus Injeksi 1.500 IU/ampul (A.T.S.) ampul 179.216 143.582 80,12
87 MagnesiumSulfat serbuk 30 gram sach 13.517 12.014 88,88 124 SerumAnti Tetanus Injeksi 20.000 IU/vial (A.T.S.) vial 234.135 175.746 75,06
88 Mebendazol sirup 100 mg / 5 ml botol 30.349 25.907 85,36 125 Sianokobalamin (Vitamin B12) injeksi 500 mcg ampul 19.588.634 18.335.587 93,60
89 Mebendazol tablet 100 mg tablet 2.048.135 1.440.136 70,31 126 Sulfasetamida Natriumtetes mata 15 % botol 2.674.677 2.827.680 105,72
90 Metilergometrin Maleat (Metilergometrin) tablet salut
0,125 mg
tablet 13.496.864 12.586.280 93,25
127 Tetrakain HCL tetes mata 0,5% botol 747.233 569.976 76,28
91 Metilergometrin Maleat injeksi 0,200 mg -1 ml ampul 2.867.774 2.704.927 94,32 128 Tetrasiklin kapsul 250 mg kapsul 63.927.978 64.900.467 101,52
92 Metronidazol tablet 250 mg tablet 32.560.494 30.872.390 94,82 129 Tetrasiklin kapsul 500 mg kapsul 28.922.494 28.161.006 97,37
93 NatriumBikarbonat tablet 500 mg tablet 35.942.591 38.137.390 106,11 130 Tiamin (vitamin B1) injeksi 100 mg/ml ampul 8.324.631 7.458.053 89,59
94 NatriumFluoresein tetes mata 2 % botol 301.519 352.437 116,89 131 Tiamin (vitamin B1) tablet 50 mg (HCL/Nitrat) tablet 302.431.227 295.392.889 97,67
95 NatriumKlorida larutan infus 0,9 % botol 1.873.012 2.852.711 152,31 132 Tiopental Natriumserbuk injeksi 1000 mg/amp ampul 128.458 214.503 166,98
96 NatriumThiosulfat injeksi I.v. 25 % ampul 113.074 74.832 66,18 133 Triheksifenidil tablet 2 mg tablet 18.839.500 22.393.709 118,87
97 Nistatin tablet salut 500.000 IU/g tablet 2.892.119 2.783.582 96,25 134 Vaksin Rabies Vero vial 3.833.869 3.058.360 79,77
98 Nistatin Vaginal tablet salut 100.000 IU/g tablet 3.521.164 4.022.642 114,24 135 Vitamin B Kompleks tablet tablet 405.270.082 384.525.173 94,88
99 Obat Batuk hitam( O.B.H.) botol 7.594.207 6.925.863 91,20 VAKSIN
100 Oksitetrasiklin HCL salep mata 1 % tube 5.522.378 4.014.960 72,70 136 BCG vial 2.882.530 1.895.697 65,77
101 Oksitetrasiklin injeksi I.m. 50 mg/ml-10 ml vial 654.266 673.121 102,88 137 T T vial 2.126.071 1.854.353 87,22
102 Oksitosin injeksi 10 UI/ml-1 ml ampul 4.644.722 3.555.612 76,55 138 D T vial 1.892.211 1.223.396 64,65
103 Paracetamol sirup 120 mg / 5 ml botol 16.616.812 17.210.176 103,57 139 CAMPAK 10 Dosis vial 5.891.506 4.716.072 80,05
104 Paracetamol tablet 100 mg tablet 23.421.018 24.770.440 105,76 140 POLIO 10 Dosis vial 5.123.173 3.374.080 65,86
105 Paracetamol tablet 500 mg tablet 720.242.482 733.288.918 101,81 141 DTP-HB vial 4.995.588 3.805.607 76,18
106 Pilokarpin tetes mata 2 %(HCL/Nitrat) botol 1.543.926 1.902.304 123,21 142 HEPATITIS B 0,5 ml ADS vial 5.711.913 3.658.140 64,04
107 Pirantel tab. Score (base) 125 mg tablet 14.620.822 13.423.908 91,81 143 POLIO 20 Dosis vial 326.250 478.898 146,79
108 Piridoksin (Vitamin B6) tablet 10 mg (HCL) tablet 244.575.456 251.829.854 102,97 144
CAMPAK 20 Dosis
vial
167.352 112.761 67,38
109 Povidon Iodida larutan 10 % botol 4.078.766 2.889.733 70,85
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 2.21
PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN BULAN NOVEMBER 2013
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 98,96 91,04 95,00
2 Sumatera Utara 99,29 63,88 81,59
3 Sumatera Barat 99,86 90,35 95,11
4 Riau 88,09 57,99 73,04
5 Jambi 96,68 67,38 82,03
6 Sumatera Selatan 87,55 80,18 83,87
7 Bengkulu 93,25 63,07 78,16
8 Lampung 85,70 66,51 76,11
9 Kepulauan Bangka Belitung 100,00 89,59 94,80
10 Kepulauan Riau 90,21 83,04 86,63
11 DKI Jakarta 95,50 66,31 80,91
12 Jawa Barat 98,37 69,44 83,91
13 Jawa Tengah 96,40 66,39 81,40
14 DI Yogyakarta 98,80 83,23 91,02
15 Jawa Timur 96,88 51,54 74,21
16 Banten 97,09 60,66 78,88
17 Bali 99,68 68,21 83,95
18 Nusa Tenggara Barat 99,50 74,50 87,00
19 Nusa Tenggara Timur 100,00 81,72 90,86
20 Kalimantan Barat 95,73 78,22 86,98
21 Kalimantan Tengah 95,52 75,60 85,56
22 Kalimantan Selatan 97,76 76,89 87,33
23 Kalimantan Timur 92,47 61,76 77,12
24 Sulawesi Utara 99,68 82,74 91,21
25 Sulawesi Tengah 91,45 68,94 80,20
26 Sulawesi Selatan 100,00 71,69 85,85
27 Sulawesi Tenggara 96,96 86,60 91,78
28 Gorontalo 97,17 77,83 87,50
29 Sulawesi Barat 97,55 76,71 87,13
30 Maluku 97,28 81,23 89,26
31 Maluku Utara 99,36 93,26 96,31
32 Papua Barat 100,00 88,04 94,02
33 Papua 88,77 76,15 82,46
96,11 74,87 85,49
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 2.22
PENGGUNAAN OBAT GENERIK PADA SARANA PELAYANAN KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Penggunaan di Puskesmas Penggunaan di Rumah Sakit Rata-Rata Penggunaan
Jumlah Tenaga Kesehatan
Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Farmasi Lainnya Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 854 1.446 265 10.890 9.545 1.707 7.613 32.320 4.923 37.243
2 Sumatera Utara 2.191 3.161 857 8.796 13.585 2.436 7.378 38.404 7.986 46.390
3 Sumatera Barat 816 1.230 405 7.513 4.633 1.376 4.422 20.395 3.913 24.308
4 R i a u 781 1.182 359 6.986 4.476 1.202 3.159 18.145 3.974 22.119
5 J a m b i 429 719 179 5.314 3.259 977 3.125 14.002 3.255 17.257
6 Sumatera Selatan 923 1.100 212 8.861 4.804 1.211 6.068 23.179 5.779 28.958
7 Bengkulu 121 433 109 3.258 2.550 869 2.664 10.004 1.700 11.704
8 Lampung 453 1.019 270 6.805 3.761 711 3.103 16.122 3.579 19.701
9 Kepulauan Bangka Belitung 103 333 61 2.566 899 283 1.124 5.369 1.563 6.932
10 Kepulauan Riau 255 540 135 3.932 1.170 314 1.002 7.348 1.763 9.111
11 DKI Jakarta 5.931 2.728 1.086 19.418 2.877 2.458 4.881 39.379 16.469 55.848
12 Jawa Barat 5.562 4.757 1.565 31.030 13.263 3.420 9.407 69.004 24.809 93.813
13 Jawa Tengah 4.397 4.821 1.258 31.802 16.833 5.525 13.412 78.048 31.134 109.182
14 DI Yogyakarta 1.237 1.408 394 6.746 1.699 2.155 3.033 16.672 6.951 23.623
15 Jawa Timur 4.786 4.574 1.512 32.833 15.555 4.229 11.218 74.707 30.543 105.250
16 Banten 1.603 1.382 509 7.882 3.516 1.035 2.666 18.593 4.986 23.579
17 B a l i 1.146 1.069 292 6.515 2.252 588 2.721 14.583 5.823 20.406
18 Nusa Tenggara Barat 382 651 154 5.041 2.211 550 2.873 11.862 3.718 15.580
19 Nusa Tenggara Timur 275 698 160 6.422 3.139 1.142 3.648 15.484 4.464 19.948
20 Kalimantan Barat 343 639 130 9.467 2.308 634 2.522 16.043 2.653 18.696
21 Kalimantan Tengah 129 465 97 4.607 1.851 525 2.030 9.704 2.100 11.804
22 Kalimantan Selatan 491 779 191 6.239 2.771 824 3.080 14.375 2.776 17.151
23 Kalimantan Timur 613 1.080 321 7.181 2.356 809 2.500 14.860 4.891 19.751
24 Sulawesi Utara 447 1.010 63 5.645 1.469 791 1.545 10.970 2.196 13.166
25 Sulawesi Tengah 274 534 106 6.804 2.495 674 2.557 13.444 1.750 15.194
26 Sulawesi Selatan 1.402 1.464 597 12.436 5.264 1.468 7.600 30.231 4.934 35.165
27 Sulawesi Tenggara 120 445 116 3.801 1.769 540 2.704 9.495 1.085 10.580
28 Gorontalo 137 249 35 1.598 680 322 1.276 4.297 1.359 5.656
29 Sulawesi Barat 33 233 100 1.627 895 241 1.259 4.388 413 4.801
30 Maluku 118 390 119 5.075 1.323 171 1.127 8.323 1.010 9.333
31 Maluku Utara 84 272 48 3.123 1.086 246 1.146 6.005 554 6.559
32 Papua Barat 108 297 54 2.710 895 238 726 5.028 743 5.771
33 Papua 202 733 98 5.482 1.921 510 1.905 10.851 1.658 12.509
36.746 41.841 11.857 288.405 137.110 40.181 125.494 681.634 195.454 877.088
Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 3.1
REKAPITULASI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN
MENURUT JENIS TENAGA DAN PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
No Provinsi
Tenaga Non
Kesehatan
Total SDM
Kesehatan
Jumlah Tenaga Kesehatan
Dokter
Spesialis
Dokter
Umum
Dokter
Gigi
Perawat
Perawat
Gigi
Bidan Farmasi Kesmas Sanitarian Gizi
Keterapian
Fisik
Keteknisian
Medis
Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 1 773 156 5.378 394 7.977 1.261 1.955 747 484 159 59 19.344 1.253 20.597
2 Sumatera Utara 6 1.442 529 7.160 472 11.080 1.233 1.077 423 746 47 39 24.254 707 24.961
3 Sumatera Barat 3 585 287 2.955 365 3.838 800 906 305 284 39 141 10.508 707 11.215
4 R i a u 6 578 217 2.848 176 3.078 526 492 192 154 3 29 8.299 543 8.842
5 J a m b i 0 338 106 2.440 278 2.593 487 472 246 120 25 64 7.169 386 7.555
6 Sumatera Selatan 7 458 93 3.700 308 3.565 628 1.588 468 269 20 102 11.206 794 12.000
7 Bengkulu 0 254 66 1.752 96 2.091 586 636 160 137 2 8 5.788 270 6.058
8 Lampung 4 514 193 3.552 378 2.989 439 724 330 162 0 11 9.296 584 9.880
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 140 38 1.029 90 617 119 238 74 70 27 15 2.457 349 2.806
10 Kepulauan Riau 7 322 96 2.171 211 813 163 184 71 69 3 11 4.121 364 4.485
11 DKI Jakarta 34 645 484 2.693 235 1.029 389 386 192 144 6 51 6.288 1.181 7.469
12 Jawa Barat 9 1.889 806 9.651 1.250 9.667 1.092 926 890 795 10 46 27.031 3.910 30.941
13 Jawa Tengah 7 1.931 738 8.143 927 12.714 1.840 1.751 838 906 83 228 30.106 5.618 35.724
14 DI Yogyakarta 1 365 177 1.108 245 776 314 93 163 165 17 93 3.517 1.265 4.782
15 Jawa Timur 31 1.832 945 11.312 977 11.374 1.928 971 835 886 47 72 31.210 8.367 39.577
16 Banten 0 475 273 2.009 198 2.436 293 461 137 212 3 49 6.546 747 7.293
17 B a l i 0 320 170 1.271 213 1.296 228 409 213 129 5 21 4.275 512 4.787
18 Nusa Tenggara Barat 0 254 105 2.769 186 1.645 274 348 387 366 8 36 6.378 1.187 7.565
19 Nusa Tenggara Timur 0 370 109 3.369 370 2.361 627 485 491 294 18 14 8.508 692 9.200
20 Kalimantan Barat 3 314 79 6.353 651 1.845 448 543 282 291 3 37 10.849 690 11.539
21 Kalimantan Tengah 2 273 58 2.763 209 1.496 252 368 177 229 0 20 5.847 384 6.231
22 Kalimantan Selatan 3 446 134 3.145 392 2.266 525 795 338 311 3 65 8.423 524 8.947
23 Kalimantan Timur 1 479 209 2.851 151 1.559 426 622 198 176 6 32 6.710 991 7.701
24 Sulawesi Utara 1 479 26 2.075 223 1.025 313 176 276 242 23 0 4.859 209 5.068
25 Sulawesi Tengah 0 244 63 3.844 201 1.880 340 855 355 95 1 7 7.885 364 8.249
26 Sulawesi Selatan 3 690 386 5.290 538 3.874 741 1.907 643 560 38 129 14.799 909 15.708
27 Sulawesi Tenggara 0 265 70 2.345 111 1.387 294 558 341 383 16 53 5.823 227 6.050
28 Gorontalo 0 121 21 701 46 453 229 382 143 132 1 3 2.232 291 2.523
29 Sulawesi Barat 0 153 65 1.221 56 787 137 270 174 154 22 9 3.048 177 3.225
30 Maluku 1 219 91 3.626 93 981 74 257 155 196 7 4 5.704 257 5.961
31 Maluku Utara 0 145 33 2.049 49 801 112 424 70 148 6 8 3.845 123 3.968
32 Papua Barat 2 61 14 1.241 25 530 67 170 77 79 1 2 2.269 48 2.317
33 Papua 3 393 46 2.933 36 1.353 198 420 168 210 3 6 5.769 205 5.974
135 17.767 6.883 115.747 10.150 102.176 17.383 21.849 10.559 9.598 652 1.464 314.363 34.835 349.198
Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 3.2
JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN DI PUSKESMAS
MENURUT JENIS TENAGA DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Tenaga Non
Kesehatan
Total SDM
Kesehatan
No Provinsi
Jumlah
Puskesmas
Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan
Rasio Dokter
Umum terhadap
Puskesmas
Rasio Dokter Gigi
terhadap
Puskesmas
Rasio Perawat
terhadap
Puskesmas
Rasio Bidan
terhadap
Puskesmas
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 334 773 156 5.378 7.977 2,31 0,47 16,10 23,88
2 Sumatera Utara 570 1.442 529 7.160 11.080 2,53 0,93 12,56 19,44
3 Sumatera Barat 262 585 287 2.955 3.838 2,23 1,10 11,28 14,65
4 R i a u 207 578 217 2.848 3.078 2,79 1,05 13,76 14,87
5 J a m b i 176 338 106 2.440 2.593 1,92 0,60 13,86 14,73
6 Sumatera Selatan 319 458 93 3.700 3.565 1,44 0,29 11,60 11,18
7 Bengkulu 180 254 66 1.752 2.091 1,41 0,37 9,73 11,62
8 Lampung 280 514 193 3.552 2.989 1,84 0,69 12,69 10,68
9 Kepulauan Bangka Belitung 60 140 38 1.029 617 2,33 0,63 17,15 10,28
10 Kepulauan Riau 70 322 96 2.171 813 4,60 1,37 31,01 11,61
11 DKI Jakarta 340 645 484 2.693 1.029 1,90 1,42 7,92 3,03
12 Jawa Barat 1.050 1.889 806 9.651 9.667 1,80 0,77 9,19 9,21
13 Jawa Tengah 873 1.931 738 8.143 12.714 2,21 0,85 9,33 14,56
14 DI Yogyakarta 121 365 177 1.108 776 3,02 1,46 9,16 6,41
15 Jawa Timur 960 1.832 945 11.312 11.374 1,91 0,98 11,78 11,85
16 Banten 230 475 273 2.009 2.436 2,07 1,19 8,73 10,59
17 B a l i 120 320 170 1.271 1.296 2,67 1,42 10,59 10,80
18 Nusa Tenggara Barat 158 254 105 2.769 1.645 1,61 0,66 17,53 10,41
19 Nusa Tenggara Timur 362 370 109 3.369 2.361 1,02 0,30 9,31 6,52
20 Kalimantan Barat 237 314 79 6.353 1.845 1,32 0,33 26,81 7,78
21 Kalimantan Tengah 194 273 58 2.763 1.496 1,41 0,30 14,24 7,71
22 Kalimantan Selatan 228 446 134 3.145 2.266 1,96 0,59 13,79 9,94
23 Kalimantan Timur 222 479 209 2.851 1.559 2,16 0,94 12,84 7,02
24 Sulawesi Utara 183 479 26 2.075 1.025 2,62 0,14 11,34 5,60
25 Sulawesi Tengah 183 244 63 3.844 1.880 1,33 0,34 21,01 10,27
26 Sulawesi Selatan 440 690 386 5.290 3.874 1,57 0,88 12,02 8,80
27 Sulawesi Tenggara 264 265 70 2.345 1.387 1,00 0,27 8,88 5,25
28 Gorontalo 91 121 21 701 453 1,33 0,23 7,70 4,98
29 Sulawesi Barat 92 153 65 1.221 787 1,66 0,71 13,27 8,55
30 Maluku 190 219 91 3.626 981 1,15 0,48 19,08 5,16
31 Maluku Utara 125 145 33 2.049 801 1,16 0,26 16,39 6,41
32 Papua Barat 143 61 14 1.241 530 0,43 0,10 8,68 3,71
33 Papua 391 393 46 2.933 1.353 1,01 0,12 7,50 3,46
9.655 17.767 6.883 115.747 102.176 1,84 0,71 11,99 10,58
Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 3.3
RASIO DOKTER UMUM, DOKTER GIGI, PERAWAT DAN BIDAN TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
Jumlah Tenaga Kesehatan
Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Farmasi Lainnya Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh 53 851 610 96 5.231 1.406 174 2.087 10.455 2.874 13.329
2 Sumatera Utara 156 2.164 1.437 250 939 2.237 738 1.907 9.672 5.663 15.335
3 Sumatera Barat 61 796 583 99 4.198 668 391 1.399 8.134 2.797 10.931
4 R i a u 54 775 552 113 4.028 1.349 513 1.259 8.589 2.989 11.578
5 J a m b i 29 412 343 65 2.638 546 273 949 5.226 2.162 7.388
6 Sumatera Selatan 51 915 606 115 4.950 1.162 450 1.759 9.957 4.378 14.335
7 Bengkulu 19 120 175 41 1.368 383 179 805 3.071 819 3.890
8 Lampung 49 442 453 59 3.077 675 158 862 5.726 2.609 8.335
9 Kepulauan Bangka Belitung 14 101 159 19 1.255 225 83 475 2.317 863 3.180
10 Kepulauan Riau 25 237 194 36 1.532 289 98 366 2.752 1.224 3.976
11 DKI Jakarta 150 5.873 2.033 578 16.680 1.838 2.015 3.865 32.882 15.074 47.956
12 Jawa Barat 274 5.514 2.701 723 21.060 3.440 2.122 4.946 40.506 19.332 59.838
13 Jawa Tengah 275 4.250 2.368 414 22.098 3.164 1.488 5.501 39.283 20.908 60.191
14 DI Yogyakarta 69 1.080 596 115 4.966 649 476 1.533 9.415 3.990 13.405
15 Jawa Timur 319 4.740 2.580 513 21.245 3.927 1.711 6.065 40.781 20.158 60.939
16 Banten 77 1.595 769 196 5.708 1.001 552 1.070 10.891 3.982 14.873
17 B a l i 57 1.134 672 109 5.152 896 273 1.164 9.400 4.759 14.159
18 Nusa Tenggara Barat 23 376 338 41 2.065 436 141 702 4.099 1.778 5.877
19 Nusa Tenggara Timur 41 274 308 44 2.894 703 358 1.526 6.107 3.380 9.487
20 Kalimantan Barat 40 339 303 44 2.947 455 137 708 4.933 1.792 6.725
21 Kalimantan Tengah 17 125 160 29 1.723 316 179 516 3.048 1.269 4.317
22 Kalimantan Selatan 31 481 326 55 3.064 493 196 913 5.528 2.068 7.596
23 Kalimantan Timur 54 612 530 90 4.204 737 279 647 7.099 3.223 10.322
24 Sulawesi Utara 40 438 417 34 3.297 379 197 523 5.285 1.665 6.950
25 Sulawesi Tengah 26 272 275 41 2.836 590 265 708 4.987 1.184 6.171
26 Sulawesi Selatan 82 1.397 741 198 7.096 1.361 635 2.871 14.299 3.682 17.981
27 Sulawesi Tenggara 25 120 153 38 1.317 321 154 650 2.753 540 3.293
28 Gorontalo 12 135 120 14 864 217 49 321 1.720 934 2.654
29 Sulawesi Barat 9 33 59 16 332 98 48 127 713 133 846
30 Maluku 27 117 162 26 1.409 334 75 403 2.526 621 3.147
31 Maluku Utara 18 84 119 15 938 276 109 293 1.834 386 2.220
32 Papua Barat 16 82 132 22 1.041 213 57 222 1.769 552 2.321
33 Papua 35 197 309 47 2.157 470 196 574 3.950 845 4.795
2.228 36.081 21.283 4.295 164.309 31.254 14.769 47.716 319.707 138.633 458.340
Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 3.4
JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
No Provinsi
Jumlah Rumah
Sakit
Tenaga Non
Kesehatan
Total SDM
Kesehatan
S
p
e
s
i
a
l
i
s
P
e
n
y
a
k
i
t
D
a
l
a
m
S
p
e
s
i
a
l
i
s
A
n
a
k
S
p
e
s
i
a
l
i
s
B
e
d
a
h
S
p
e
s
i
a
l
i
s
O
b
s
t
e
t
r
i
d
a
n
G
i
n
e
k
o
l
o
g
i
S
p
e
s
i
a
l
i
s
A
n
e
s
t
e
s
i
o
l
o
g
i
S
p
e
s
i
a
l
i
s
R
a
d
i
o
l
o
g
i
S
p
e
s
i
a
l
i
s
P
a
t
o
l
o
g
i
K
l
i
n
i
k
S
p
e
s
i
a
l
i
s
P
a
t
o
l
o
g
i
A
n
a
t
o
m
i
S
p
e
s
i
a
l
i
s
B
e
d
a
h
M
u
l
u
t
d
a
n
M
a
k
s
i
l
o
f
a
s
i
a
l
S
p
e
s
i
a
l
i
s
K
o
n
s
e
r
v
a
s
i
G
i
g
i
S
p
e
s
i
a
l
i
s
P
e
r
i
o
d
o
n
s
i
a
S
p
e
s
i
a
l
i
s
O
r
t
o
d
o
n
s
i
a
S
p
e
s
i
a
l
i
s
P
r
o
s
t
o
d
o
n
s
i
a
S
p
e
s
i
a
l
i
s
K
e
d
o
k
t
e
r
a
n
G
i
g
i
A
n
a
k
S
p
e
s
i
a
l
i
s
P
e
n
y
a
k
i
t
M
u
l
u
t
S
p
e
s
i
a
l
i
s
R
a
d
i
o
l
o
g
i
K
e
d
o
k
t
e
r
a
n
G
i
g
i
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22)
1 Aceh 2.192 45 55 31 51 21 8 7 5 138 221 2 2 3 2 2 3 2 0 2.790
2 Sumatera Utara 6.820 188 190 127 217 67 34 68 35 512 1.598 11 4 4 30 1 4 2 2 9.914
3 Sumatera Barat 2.416 84 52 54 66 18 7 20 11 195 588 1 2 3 4 0 1 1 0 3.523
4 Riau 2.268 43 61 38 76 19 9 9 6 123 577 3 1 3 7 0 1 2 0 3.246
5 Jambi 852 18 15 18 30 9 4 4 3 42 188 0 0 0 1 0 0 1 0 1.185
6 Sumatera Selatan 2.217 98 83 54 110 17 11 7 21 191 324 2 2 2 4 0 0 1 0 3.144
7 Bengkulu 479 9 9 8 12 2 1 3 2 12 91 0 0 0 1 0 0 0 0 629
8 Lampung 1.500 33 30 30 42 12 13 11 7 69 238 3 0 1 3 0 0 1 0 1.993
9 Kepulauan Bangka Belitung 315 10 9 4 13 3 2 2 1 17 71 1 1 1 0 0 0 0 0 450
10 Kepulauan Riau 629 11 29 13 32 13 6 3 4 43 183 2 0 0 1 0 1 2 0 972
11 DKI Jakarta 15.549 527 637 314 676 323 188 142 68 2.399 5.112 87 78 167 182 27 54 92 1 26.623
12 Jawa Barat 15.048 377 524 267 470 228 159 139 47 1.350 3.827 80 59 66 97 7 20 51 4 22.820
13 Jawa Tengah 9.227 344 274 230 297 165 111 66 34 939 1.591 19 11 32 26 0 7 13 0 13.386
14 DI Yogyakarta 2.813 136 127 83 111 59 44 42 20 330 946 24 30 40 38 1 10 15 1 4.870
15 Jawa Timur 12.115 376 379 264 416 200 186 144 62 1.551 3.699 32 68 143 101 18 36 75 4 19.869
16 Banten 4.507 93 147 63 135 70 31 24 8 362 1.446 15 22 23 17 2 7 16 0 6.988
17 Bali 2.933 108 116 90 149 70 29 14 16 292 817 3 6 7 5 1 2 5 1 4.664
18 Nusa Tenggara Barat 721 19 18 9 23 7 5 4 2 42 163 1 2 0 2 1 0 0 0 1.019
19 Nusa Tenggara Timur 522 15 12 9 12 2 6 4 2 16 147 0 0 0 0 1 0 0 0 748
20 Kalimantan Barat 769 24 22 22 26 7 9 8 2 49 166 2 2 0 0 1 0 1 0 1.110
21 Kalimantan Tengah 501 21 9 8 15 3 6 7 1 23 91 1 2 0 0 0 1 0 0 689
22 Kalimantan Selatan 1.001 30 28 19 33 12 7 11 4 77 189 0 1 2 1 1 1 0 0 1.417
23 Kalimantan Timur 1.516 49 40 36 62 22 14 14 6 128 408 5 4 5 7 0 0 2 0 2.318
24 Sulawesi Utara 1.961 57 57 31 51 15 7 3 7 128 81 2 1 3 2 0 0 0 0 2.406
25 Sulawesi Tengah 411 17 12 12 18 5 6 3 1 36 77 1 0 0 0 0 0 0 0 599
26 Sulawesi Selatan 3.530 136 101 95 135 66 59 44 19 400 1.315 8 5 6 6 0 3 6 1 5.935
27 Sulawesi Tenggara 352 11 9 11 21 4 6 7 2 20 140 0 1 0 0 0 0 0 0 584
28 Gorontalo 253 8 7 7 8 4 3 3 0 14 37 1 1 0 0 0 0 0 0 346
29 Sulawesi Barat 110 4 4 3 6 0 1 1 0 5 55 0 0 0 0 0 0 0 0 189
30 Maluku 226 6 4 6 8 0 1 1 2 15 55 0 1 2 0 0 0 0 0 327
31 Maluku Utara 148 7 5 4 4 0 2 0 6 34 0 0 1 0 0 0 0 0 211
32 Papua Barat 192 4 8 7 7 1 4 1 0 3 33 0 0 0 0 0 0 0 0 260
33 Papua 634 10 17 16 13 6 3 6 1 25 90 1 0 0 0 1 1 0 0 824
94.727 2.918 3.090 1.983 3.345 1.450 980 824 399 9.552 24.598 307 306 514 537 64 152 288 14 146.048
Sumber: Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia, Kemenkes RI, 2014
D
o
k
t
e
r
G
i
g
i
Total
Indonesia
Lampiran 3.5
JUMLAH DOKTER UMUM, DOKTER SPESIALIS, DOKTER GIGI DAN DOKTER GIGI SPESIALIS YANG MEMILIKI SURAT TANDA REGISTRASI (STR)
MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER TAHUN 2013
Dokter Spesialis Dasar Dokter Spesialis Penunjang Dokter Gigi Spesialis Dasar
No Provinsi
D
o
k
t
e
r
U
m
u
m
S
p
e
s
i
a
l
i
s
L
a
i
n
No Provinsi Perawat Bidan Fisioterapi
Perawat
Gigi
Refraksionis
Optisien
Terapis
Wicara
Radiografer
Okupasi
Terapis
Gizi
Rekam
Medis
Teknisi Gigi
Kesehatan
Lingkungan
Elektromed
is
Teknologi
Laboratoriu
m
Perawat
Anestesi
Tenaga
Akupunktur
Fisika
Medis
Ortotis
Prostetis
Teknisi
Transfusi
Darah
Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22)
1 Aceh 5.425 16.320 508 914 56 2 351 1 844 241 17 1.383 158 1.097 36 0 5 3 14 27.375
2 Sumatera Utara 9.709 19.514 298 318 140 6 409 5 1.031 61 1 543 69 178 78 0 20 1 9 32.390
3 Sumatera Barat 5.695 8.118 186 296 240 8 177 4 878 603 23 762 110 420 88 0 3 2 10 17.623
4 Riau 2.688 1.739 78 344 6 3 61 0 278 4 7 649 14 405 28 0 1 0 6 6.311
5 Jambi 8.077 14.908 196 232 55 10 137 5 418 256 38 244 27 1.205 95 0 1 2 11 25.917
6 Sumatera Selatan 2.271 1.300 32 65 29 0 68 10 64 0 5 107 26 167 0 0 0 0 7 4.151
7 Bengkulu 1.798 1.304 38 109 4 1 70 0 153 0 20 19 18 177 9 0 0 0 2 3.722
8 Lampung 5.478 8.518 233 593 171 9 318 8 567 120 2 944 24 1.034 38 0 2 0 8 18.067
9 Kepulauan Bangka Belitung 3.090 3.166 6 44 11 0 78 0 354 0 3 211 13 166 25 0 1 0 0 7.168
10 Kepulauan Riau 7.181 8.740 91 170 34 4 184 8 471 35 28 715 22 1.359 75 0 0 0 23 19.140
11 DKI Jakarta 3.547 6.254 239 202 60 8 228 0 330 57 11 256 49 1.146 50 0 1 2 57 12.497
12 Jawa Barat 18.540 10.442 962 935 721 369 1.209 202 1.072 586 120 609 662 4.772 270 0 35 41 320 41.867
13 Jawa Tengah 15.236 16.081 743 1.637 287 109 865 100 1.484 755 37 1.164 175 3.234 244 0 10 5 116 42.282
14 DI Yogyakarta 33.764 26.096 734 1.397 632 120 596 191 2.194 1.451 7 1.525 375 3.749 253 66 35 74 51 73.310
15 Jawa Timur 5.021 3.065 242 461 57 13 139 14 685 364 0 534 58 941 88 0 7 1 254 11.944
16 Banten 7.153 13.757 223 830 406 24 547 58 509 513 180 642 327 4.147 473 182 13 8 97 30.089
17 Bali 3.708 2.072 17 476 30 7 234 14 519 18 10 642 45 265 129 0 6 0 6 8.198
18 Nusa Tenggara Barat 3.406 2.552 0 237 16 1 13 1 741 59 7 395 37 429 36 0 1 1 11 7.943
19 Nusa Tenggara Timur 4.552 3.498 145 588 21 1 55 0 621 81 1 547 11 181 51 0 0 0 19 10.372
20 Kalimantan Barat 6.051 1.320 77 547 15 1 73 0 518 25 3 509 17 643 26 0 0 0 4 9.829
21 Kalimantan Tengah 4.075 4.462 45 609 27 1 126 6 693 34 9 1.166 23 1.227 25 0 4 0 15 12.547
22 Kalimantan Selatan 979 1.353 44 117 7 3 124 8 287 49 11 290 41 955 58 0 3 0 29 4.358
23 Kalimantan Timur 4.111 2.358 39 108 3 2 48 2 381 7 5 115 26 0 20 0 0 0 2 7.227
24 Sulawesi Utara 2.656 372 122 271 7 2 22 5 400 1 1 496 16 0 9 0 1 2 11 4.394
25 Sulawesi Tengah 407 1.124 18 56 7 0 27 0 398 3 0 245 19 48 9 0 0 0 7 2.368
26 Sulawesi Selatan 315 1.000 53 53 2 2 48 1 191 0 0 657 15 0 24 0 0 0 1 2.362
27 Sulawesi Tenggara 1.679 1.501 15 34 1 0 29 0 109 9 4 118 8 7 0 0 0 0 0 3.514
28 Gorontalo 19.685 14.902 396 831 15 5 455 12 1.352 348 108 1.019 233 787 58 0 38 1 15 40.260
29 Sulawesi Barat 4.158 1.915 22 79 4 0 50 0 871 1 4 518 10 229 15 0 0 0 6 7.882
30 Maluku 672 78 16 1 0 0 34 0 277 0 2 0 0 62 7 0 0 0 4 1.153
31 Maluku Utara 2.884 1.745 4 38 4 0 31 0 567 5 1 678 31 63 1 0 0 0 3 6.055
32 Papua Barat 1.203 391 11 32 0 0 11 0 149 5 0 98 8 242 6 0 0 0 4 2.160
33 Papua 3.200 644 28 69 0 0 26 1 344 6 4 143 5 159 19 0 0 0 7 4.655
198.414 200.609 5.861 12.693 3.068 711 6.843 656 19.750 5.697 669 17.943 2.672 29.494 2.343 248 187 143 1.129 509.130
Sumber: Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 3.6
JUMLAH TENAGA KESEHATAN YANG MEMILIKI SURAT TANDA REGISTRASI (STR)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 SAMPAI DENGAN DESEMBER TAHUN 2013
Indonesia
Biasa Terpencil Sangat Terpencil Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 0 1 0 1
2 Sumatera Utara 0 2 0 2
3 Sumatera Barat 0 0 0 0
4 Riau 0 1 0 1
5 Jambi 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 0 0 0 0
7 Bengkulu 0 0 0 0
8 Lampung 0 2 0 2
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 6 0 6
11 DKI Jakarta 0 0 0 0
12 Jawa Barat 0 0 0 0
13 Jawa Tengah 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0
15 Jawa Timur 0 0 0 0
16 Banten 0 0 0 0
17 Bali 0 1 0 1
18 Nusa Tenggara Barat 0 1 0 1
19 Nusa Tenggara Timur 0 2 0 2
20 Kalimantan Barat 0 3 0 3
21 Kalimantan Tengah 0 13 0 13
22 Kalimantan Selatan 0 1 0 1
23 Kalimantan Timur 0 2 0 2
24 Sulawesi Utara 0 3 0 3
25 Sulawesi Tengah 0 3 0 3
26 Sulawesi Selatan 0 5 0 5
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0
30 Maluku 0 1 0 1
31 Maluku Utara 0 2 0 2
32 Papua Barat 0 3 0 3
33 Papua 0 4 0 4
0 56 0 56
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 3.7
JUMLAH DOKTER SPESIALIS DAN DOKTER GIGI SPESIALIS SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF
Jumlah Dokter Spesialis dan Dokter Gigi Spesialis
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 10 3,1 174 53,5 141 43,4 325
2 Sumatera Utara 25 13,4 111 59,4 51 27,3 187
3 Sumatera Barat 3 4,7 34 53,1 27 42,2 64
4 Riau 20 21,3 58 61,7 16 17,0 94
5 Jambi 6 6,5 50 53,8 37 39,8 93
6 Sumatera Selatan 4 8,0 44 88,0 2 4,0 50
7 Bengkulu 0 0,0 49 53,3 43 46,7 92
8 Lampung 10 13,3 51 68,0 14 18,7 75
9 Kepulauan Bangka Belitung 1 11,1 7 77,8 1 11,1 9
10 Kepulauan Riau 1 6,7 9 60,0 5 33,3 15
11 DKI Jakarta 15 100,0 0 0,0 0 0,0 15
12 Jawa Barat 17 100,0 0 0,0 0 0,0 17
13 Jawa Tengah 26 100,0 0 0,0 0 0,0 26
14 DI Yogyakarta 18 100,0 0 0,0 0 0,0 18
15 Jawa Timur 36 100,0 0 0,0 0 0,0 36
16 Banten 5 100,0 0 0,0 0 0,0 5
17 Bali 11 100,0 0 0,0 0 0,0 11
18 Nusa Tenggara Barat 4 8,7 29 63,0 13 28,3 46
19 Nusa Tenggara Timur 0 0,0 51 18,1 231 81,9 282
20 Kalimantan Barat 0 0,0 26 20,3 102 79,7 128
21 Kalimantan Tengah 0 0,0 57 46,3 66 53,7 123
22 Kalimantan Selatan 0 0,0 54 58,7 38 41,3 92
23 Kalimantan Timur 0 0,0 34 61,8 21 38,2 55
24 Sulawesi Utara 3 2,2 37 27,0 97 70,8 137
25 Sulawesi Tengah 0 0,0 57 36,1 101 63,9 158
26 Sulawesi Selatan 11 11,0 67 67,0 22 22,0 100
27 Sulawesi Tenggara 0 0,0 26 14,1 158 85,9 184
28 Gorontalo 0 0,0 27 46,6 31 53,4 58
29 Sulawesi Barat 0 0,0 8 16,7 40 83,3 48
30 Maluku 0 0,0 11 6,6 155 93,4 166
31 Maluku Utara 0 0,0 15 15,8 80 84,2 95
32 Papua Barat 0 0,0 8 6,2 122 93,8 130
33 Papua 0 0,0 18 8,2 201 91,8 219
226 7,2 1.112 35,3 1.815 57,6 3.153
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 3.8
JUMLAH DOKTER UMUM SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Indonesia
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 0 0,00 40 54,05 34 45,95 74
2 Sumatera Utara 0 0,00 45 70,31 19 29,69 64
3 Sumatera Barat 1 2,27 30 68,18 13 29,55 44
4 Riau 0 0,00 34 80,95 8 19,05 42
5 Jambi 0 0,00 31 56,36 24 43,64 55
6 Sumatera Selatan 0 0,00 24 88,89 3 11,11 27
7 Bengkulu 0 0,00 6 31,58 13 68,42 19
8 Lampung 1 3,23 20 64,52 10 32,26 31
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0,00 1 25,00 3 75,00 4
10 Kepulauan Riau 0 0,00 7 43,75 9 56,25 16
11 DKI Jakarta 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0
12 Jawa Barat 2 100,00 0 0,00 0 0,00 2
13 Jawa Tengah 4 100,00 0 0,00 0 0,00 4
14 DI Yogyakarta 4 100,00 0 0,00 0 0,00 4
15 Jawa Timur 28 100,00 0 0,00 0 0,00 28
16 Banten 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0
17 Bali 4 100,00 0 0,00 0 0,00 4
18 Nusa Tenggara Barat 0 0,00 17 68,00 8 32,00 25
19 Nusa Tenggara Timur 0 0,00 14 16,47 71 83,53 85
20 Kalimantan Barat 0 0,00 7 21,88 25 78,13 32
21 Kalimantan Tengah 0 0,00 21 47,73 23 52,27 44
22 Kalimantan Selatan 0 0,00 32 64,00 18 36,00 50
23 Kalimantan Timur 0 0,00 22 50,00 22 50,00 44
24 Sulawesi Utara 1 5,88 8 47,06 8 47,06 17
25 Sulawesi Tengah 0 0,00 19 36,54 33 63,46 52
26 Sulawesi Selatan 0 0,00 58 74,36 20 25,64 78
27 Sulawesi Tenggara 0 0,00 23 19,01 98 80,99 121
28 Gorontalo 0 0,00 11 50,00 11 50,00 22
29 Sulawesi Barat 0 0,00 6 26,09 17 73,91 23
30 Maluku 0 0,00 1 1,61 61 98,39 62
31 Maluku Utara 0 0,00 5 13,51 32 86,49 37
32 Papua Barat 0 0,00 3 17,65 14 82,35 17
33 Papua 0 0,00 10 24,39 31 75,61 41
45 3,85 495 42,38 628 53,77 1.168
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Provinsi Total
Indonesia
Biasa
Lampiran 3.9
JUMLAH DOKTER GIGI SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF
Terpencil Sangat Terpencil
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI KONDISI 31 DESEMBER 2013
No
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 340 7,76 2.471 56,40 1.570 35,84 4.381
2 Sumatera Utara 2.885 49,25 2.518 42,98 455 7,77 5.858
3 Sumatera Barat 1.275 66,96 494 25,95 135 7,09 1.904
4 Riau 567 38,21 656 44,20 261 17,59 1.484
5 Jambi 472 35,28 633 47,31 233 17,41 1.338
6 Sumatera Selatan 592 73,00 212 26,14 7 0,86 811
7 Bengkulu 168 19,76 541 63,65 141 16,59 850
8 Lampung 1.481 69,37 495 23,19 159 7,45 2.135
9 Kepulauan Bangka Belitung 57 61,96 25 27,17 10 10,87 92
10 Kepulauan Riau 78 40,00 95 48,72 22 11,28 195
11 DKI Jakarta 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0
12 Jawa Barat 2.038 81,45 464 18,55 0 0,00 2.502
13 Jawa Tengah 5.004 98,91 55 1,09 0 0,00 5.059
14 DI Yogyakarta 274 100,00 0 0,00 0 0,00 274
15 Jawa Timur 3.314 95,92 86 2,49 55 1,59 3.455
16 Banten 793 74,39 273 25,61 0 0,00 1.066
17 Bali 425 94,44 25 5,56 0 0,00 450
18 Nusa Tenggara Barat 331 55,26 218 36,39 50 8,35 599
19 Nusa Tenggara Timur 3 0,24 205 16,68 1.021 83,08 1.229
20 Kalimantan Barat 27 3,82 238 33,66 442 62,52 707
21 Kalimantan Tengah 11 3,19 165 47,83 169 48,99 345
22 Kalimantan Selatan 29 7,29 264 66,33 105 26,38 398
23 Kalimantan Timur 91 24,40 138 37,00 144 38,61 373
24 Sulawesi Utara 47 32,64 37 25,69 60 41,67 144
25 Sulawesi Tengah 24 2,44 365 37,13 594 60,43 983
26 Sulawesi Selatan 988 57,88 500 29,29 219 12,83 1.707
27 Sulawesi Tenggara 28 2,21 272 21,50 965 76,28 1.265
28 Gorontalo 74 21,02 138 39,20 140 39,77 352
29 Sulawesi Barat 29 5,56 242 46,36 251 48,08 522
30 Maluku 1 0,35 3 1,05 282 98,60 286
31 Maluku Utara 0 0,00 83 13,86 516 86,14 599
32 Papua Barat 0 0,00 22 5,84 355 94,16 377
33 Papua 6 1,52 58 14,68 331 83,80 395
21.452 50,91 11.991 28,46 8.692 20,63 42.135
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 3.10
Indonesia
JUMLAH BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI KONDISI 31 DESEMBER 2013
No Provinsi Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 29 95 51 35 22 2 11 7 0 1 1 254
2 Sumatera Utara 25
19 3 3 0 4 3 0 0 0 0 57
3 Sumatera Barat 32
3 0 1 1 0 0 0 0 0 0 37
4 R i a u 18
25 4 1 4 0 3 0 0 0 0 55
5 J a m b i 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5
6 Sumatera Selatan 5
3 2 3 3 0 0 0 0 0 0 16
7 Bengkulu 21
20 5 1 6 0 0 0 0 0 0 53
8 Lampung 2
2 0 1 0 2 0 1 0 0 0 8
9 Kepuluan Bangka Belitung 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
10 Kepulauan Riau 25
29 8 6 3 0 0 0 0 0 0 71
11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
12 Jawa Barat 9
17 1 2 1 0 0 4 0 0 0 34
13 Jawa Tengah 12
1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 15
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15 Jawa Timur 20
6 3 4 5 2 1 1 0 0 0 42
16 Banten 9
25 0 2 0 0 0 0 0 0 0 36
17 B a l i 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
18 Nusa Tenggara Barat 9
48 13 11 17 3 2 0 0 0 0 103
19 Nusa Tenggara Timur 17
118 24 23 17 0 20 0 1 0 0 220
20 Kalimantan Barat 12
77 4 3 0 1 1 7 0 0 0 105
21 Kalimantan Tengah 8
9 3 0 0 0 1 0 0 0 0 21
22 Kalimantan Selatan 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16
23 Kalimantan Timur 16
56 2 6 5 0 0 0 0 0 0 85
24 Sulawesi Utara 4
25 2 0 0 0 0 0 0 0 0 31
25 Sulawesi Tengah 19
39 5 10 2 0 3 0 0 0 0 78
26 Sulawesi Selatan 27
11 3 1 0 0 1 0 0 0 0 43
27 Sulawesi Tenggara 18
136 37 32 17 0 5 0 0 0 0 245
28 Gorontalo 9
30 7 6 0 0 0 0 0 0 0 52
29 Sulawesi Barat 8
48 5 4 0 0 0 0 0 0 0 65
30 Maluku 13
14 8 10 1 0 0 0 0 0 0 46
31 Maluku Utara 21
16 4 1 1 0 0 0 0 0 0 43
32 Papua Barat 13 10 3 11 0 0 0 0 0 0 0
37
33 Papua 15
45 5 3 0 1 1 0 0 0 0 70
441
927 203 181 105 15 52 20 1 1 1 1.947
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Perekam dan
Infokes
Total
Lampiran 3.11
JUMLAH KEBERADAAN AKTIF TENAGA RESIDEN DAN TENAGA PENUGASAN KHUSUS D-III KESEHATAN
DI KABUPATEN PRIORITAS DTPK DAN DBK MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Bidan Farmasi Kesehatan Gigi Fisioterapis Radiografer
Indonesia
Perawat Tenaga Gizi
Kesehatan
Lingkungan
Analis
Kesehatan
Residen
Biasa Terpencil Sangat Terpencil Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 0 1 0 1
2 Sumatera Utara 0 2 0 2
3 Sumatera Barat 0 0 0 0
4 Riau 0 1 0 1
5 Jambi 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 0 0 0 0
7 Bengkulu 0 0 0 0
8 Lampung 0 2 0 2
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 7 0 7
11 DKI Jakarta 0 0 0 0
12 Jawa Barat 0 0 0 0
13 Jawa Tengah 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0
15 Jawa Timur 0 0 0 0
16 Banten 0 0 0 0
17 Bali 0 1 0 1
18 Nusa Tenggara Barat 0 1 0 1
19 Nusa Tenggara Timur 0 2 0 2
20 Kalimantan Barat 0 3 0 3
21 Kalimantan Tengah 0 13 0 13
22 Kalimantan Selatan 0 1 0 1
23 Kalimantan Timur 0 2 0 2
24 Sulawesi Utara 0 3 0 3
25 Sulawesi Tengah 0 3 0 3
26 Sulawesi Selatan 0 5 0 5
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0
30 Maluku 0 1 0 1
31 Maluku Utara 0 2 0 2
32 Papua Barat 0 3 0 3
33 Papua 0 4 0 4
0 57 0 57
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Pengangkatan Baru + Pengangkatan Kembali
Indonesia
Lampiran 3.12
JUMLAH PENGANGKATAN DOKTER SPESIALIS DAN DOKTER GIGI SPESIALIS SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2013
Dokter Spesialis dan Dokter Gigi Spesialis
No Provinsi
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 0 0 176 55,5 141 44,5 317
2 Sumatera Utara 0 0 113 68,5 52 31,5 165
3 Sumatera Barat 0 0 33 55,0 27 45,0 60
4 Riau 0 0 59 77,6 17 22,4 76
5 Jambi 0 0 50 57,5 37 42,5 87
6 Sumatera Selatan 0 0 44 95,7 2 4,3 46
7 Bengkulu 0 0 51 54,3 43 45,7 94
8 Lampung 0 0 51 78,5 14 21,5 65
9 Kepulauan Bangka Belitung 1 10,0 8 80,0 1 10,0 10
10 Kepulauan Riau 0 0 10 66,7 5 33,3 15
11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0
12 Jawa Barat 0 0 0 0 0 0 0
13 Jawa Tengah 0 0 0 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0
15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0
16 Banten 0 0 0 0 0 0 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 30 69,8 13 30,2 43
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 51 16,7 254 83,3 305
20 Kalimantan Barat 0 0 29 22,0 103 78,0 132
21 Kalimantan Tengah 0 0 57 46,0 67 54,0 124
22 Kalimantan Selatan 0 0 57 58,8 40 41,2 97
23 Kalimantan Timur 0 0 35 60,3 23 39,7 58
24 Sulawesi Utara 4 2,9 37 26,8 97 70,3 138
25 Sulawesi Tengah 0 0 60 36,4 105 63,6 165
26 Sulawesi Selatan 0 0 68 74,7 23 25,3 91
27 Sulawesi Tenggara 0 0 26 14,1 158 85,9 184
28 Gorontalo 0 0 27 46,6 31 53,4 58
29 Sulawesi Barat 0 0 8 16,7 40 83,3 48
30 Maluku 0 0 12 6,6 169 93,4 181
31 Maluku Utara 0 0 16 16,2 83 83,8 99
32 Papua Barat 0 0 9 6,1 138 93,9 147
33 Papua 0 0 20 7,4 250 92,6 270
5 0,2 1.137 7,4 1.933 62,9 3.075
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali
Lampiran 3.13
JUMLAH PENGANGKATAN DOKTER UMUM SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Indonesia
Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 0 0 39 52,70 35 47,30 74
2 Sumatera Utara 0 0 46 70,77 19 29,23 65
3 Sumatera Barat 0 0 30 69,77 13 30,23 43
4 Riau 0 0 38 82,61 8 17,39 46
5 Jambi 0 0 31 56,36 24 43,64 55
6 Sumatera Selatan 0 0 28 87,50 4 12,50 32
7 Bengkulu 0 0 7 35,0 13 65,0 20
8 Lampung 0 0 25 67,57 12 32,43 37
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 2 50,0 2 50,0 4
10 Kepulauan Riau 0 0 7 43,75 9 56,25 16
11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0
12 Jawa Barat 0 0 0 0 0 0 0
13 Jawa Tengah 0 0 0 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0
15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0
16 Banten 0 0 0 0 0 0 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 17 68,0 8 32,0 25
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 15 16,48 76 83,52 91
20 Kalimantan Barat 0 0 8 24,24 25 75,76 33
21 Kalimantan Tengah 0 0 21 47,73 23 52,27 44
22 Kalimantan Selatan 0 0 35 66,04 18 33,96 53
23 Kalimantan Timur 0 0 22 48,89 23 51,11 45
24 Sulawesi Utara 1 5,56 8 44,44 9 50,0 18
25 Sulawesi Tengah 0 0 20 37,04 34 62,96 54
26 Sulawesi Selatan 0 0 58 73,42 21 26,58 79
27 Sulawesi Tenggara 0 0 23 18,85 99 81,15 122
28 Gorontalo 0 0 11 50,0 11 50,0 22
29 Sulawesi Barat 0 0 6 26,09 17 73,91 23
30 Maluku 0 0 1 1,56 63 98,44 64
31 Maluku Utara 0 0 5 13,51 32 86,49 37
32 Papua Barat 0 0 3 17,65 14 82,35 17
33 Papua 0 0 10 20,0 40 80,0 50
1 0,09 516 44,14 652 55,77 1.169
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali
Provinsi Total
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2013
Lampiran 3.14
Indonesia
JUMLAH PENGANGKATAN DOKTER GIGI SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
No
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 57 5 691 59 428 36 1.176
2 Sumatera Utara 643 48 627 47 61 5 1.331
3 Sumatera Barat 554 69 209 26 41 5 804
4 Riau 152 36 206 48 67 16 425
5 Jambi 120 30 212 54 62 16 394
6 Sumatera Selatan 298 76 92 24 1 0 391
7 Bengkulu 30 18 104 62 35 21 169
8 Lampung 397 65 166 27 51 8 614
9 Kepulauan Bangka Belitung 25 83 5 17 0 0 30
10 Kepulauan Riau 34 41 43 52 6 7 83
11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0
12 Jawa Barat 542 84 103 16 0 0 645
13 Jawa Tengah 1.429 99 18 1 0 0 1.447
14 DI Yogyakarta 36 100 0 0 0 0 36
15 Jawa Timur 764 96 19 2 17 2 800
16 Banten 222 76 72 24 0 0 294
17 Bali 78 92 7 8 0 0 85
18 Nusa Tenggara Barat 105 56 78 41 5 3 188
19 Nusa Tenggara Timur 3 1 63 19 267 80 333
20 Kalimantan Barat 7 3 105 46 114 50 226
21 Kalimantan Tengah 2 4 23 50 21 46 46
22 Kalimantan Selatan 12 17 33 46 26 37 71
23 Kalimantan Timur 32 49 28 43 5 8 65
24 Sulawesi Utara 15 31 10 21 23 48 48
25 Sulawesi Tengah 0 0 65 29 163 71 228
26 Sulawesi Selatan 340 59 190 33 48 8 578
27 Sulawesi Tenggara 2 1 41 18 182 81 225
28 Gorontalo 11 19 26 45 21 36 58
29 Sulawesi Barat 15 7 108 50 92 43 215
30 Maluku 0 0 1 1 107 99 108
31 Maluku Utara 0 0 17 16 89 84 106
32 Papua Barat 0 0 0 0 162 100 162
33 Papua 4 2 20 8 225 90 249
5.929 51 3.382 29 2.319 20 11.630
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali
Lampiran 3.15
Indonesia
JUMLAH PENGANGKATAN BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 65 95 51 35 22 2 11 7 0 1 1 290
2 Sumatera Utara 63
19 3 3 0 4 3 0 0 0 0 95
3 Sumatera Barat 61
3 0 1 1 0 0 0 0 0 0 66
4 R i a u 45
25 4 1 4 0 3 0 0 0 0 82
5 J a m b i 15
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15
6 Sumatera Selatan 14
3 2 3 3 0 0 0 0 0 0 25
7 Bengkulu 44
20 5 1 6 0 0 0 0 0 0 76
8 Lampung 5
2 0 1 0 2 0 1 0 0 0 11
9 Kepuluan Bangka Belitung 7
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7
10 Kepulauan Riau 47
29 8 6 3 0 0 0 0 0 0 93
11 DKI Jakarta 0
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0
12 Jawa Barat 16
17 1 2 1 0 0 4 0 0 0 41
13 Jawa Tengah 29
1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 32
14 DI Yogyakarta 0
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0
15 Jawa Timur 37
6 3 4 5 2 1 1 0 0 0 59
16 Banten 17
25 0 2 0 0 0 0 0 0 0 44
17 B a l i 1
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1
18 Nusa Tenggara Barat 16
48 13 11 17 3 2 0 0 0 0 110
19 Nusa Tenggara Timur 26
118 24 23 17 0 20 0 1 0 0 229
20 Kalimantan Barat 23
77 4 3 0 1 1 7 0 0 0 116
21 Kalimantan Tengah 17
9 3 0 0 0 1 0 0 0 0 30
22 Kalimantan Selatan 25
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25
23 Kalimantan Timur 27
56 2 6 5 0 0 0 0 0 0 96
24 Sulawesi Utara 5
25 2 0 0 0 0 0 0 0 0 32
25 Sulawesi Tengah 39
39 5 10 2 0 3 0 0 0 0 98
26 Sulawesi Selatan 42
11 3 1 0 0 1 0 0 0 0 58
27 Sulawesi Tenggara 22
136 37 32 17 0 5 0 0 0 0 249
28 Gorontalo 16
30 7 6 0 0 0 0 0 0 0 59
29 Sulawesi Barat 15
48 5 4 0 0 0 0 0 0 0 72
30 Maluku 36
14 8 10 1 0 0 0 0 0 0 69
31 Maluku Utara 41
16 4 1 1 0 0 0 0 0 0 63
32 Papua Barat 24 10 3 11 0 0 0 0 0 0 0
48
33 Papua 33
45 5 3 0 1 1 0 0 0 0 88
873
927 203 181 105 15 52 20 1 1 1 2.379
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2014
Fisioterapis Radiografer
Perekam dan
Infokes
Total
Lampiran 3.16
JUMLAH PENGANGKATAN TENAGA RESIDEN DAN TENAGA PENUGASAN KHUSUS D-III KESEHATAN
DI KABUPATEN PRIORITAS DTPK DAN DBK MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Kesehatan
Lingkungan
Analis
Kesehatan
Bidan Farmasi Kesehatan Gigi
Indonesia
No Provinsi Perawat Tenaga Gizi Residen
Alokasi (Rp) Realisasi (Rp) % Alokasi (Rp) Realisasi (Rp) % Alokasi (Rp) Realisasi (Rp) % Alokasi (Rp) Realisasi (Rp) %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Sekretariat Jenderal 3.207.446.261.000 3.002.376.952.382 93,61 0 0 0 146.642.240.000 131.033.633.160 89,36 0 0 0 3.354.088.501.000 3.133.410.585.542 93,42
2 Inspektorat Jenderal 96.084.865.000 76.541.806.535 79,66 0 0 0 0 0 0 0 0 0 96.084.865.000 76.541.806.535 79,66
3 Ditjen Bina Gizi dan KIA 631.568.943.000 558.665.343.729 88,46 27.628.369.000 25.476.883.903 92,21 308.792.333.000 258.159.056.790 83,60 1.167.839.163.000 1.148.666.304.539 98,36 2.135.828.808.000 1.990.967.588.961 93,22
4 Ditjen Bina Upaya Kesehatan 9.403.056.564.000 8.953.084.159.344 95,21 10.696.999.413.000 9.818.569.242.827 91,79 131.736.160.000 114.131.453.078 86,64 5.042.371.404.000 4.406.388.638.847 87,39 25.274.163.541.000 23.292.173.494.096 92,16
5
Ditjen Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan
1.343.318.308.000 1.360.516.214.595 101,28 697.908.538.000 592.953.610.571 84,96 163.007.850.000 135.391.780.087 83,06 136.886.680.000 107.889.713.678 78,82 2.341.121.376.000 2.196.751.318.931 93,83
6 Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan 1.633.970.185.000 1.511.040.872.449 92,48 0 0 0 61.763.014.000 55.112.944.209 89,23 0 0 0 1.695.733.199.000 1.566.153.816.658 92,36
7
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan
264.129.044.000 248.839.285.748 94,21 300.257.865.000 287.357.286.814 95,70 0 0 0 0 0 0 564.386.909.000 536.196.572.562 95,01
8
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
SDMKesehatan
1.009.893.041.000 787.602.253.567 77,99 2.116.675.750.000 1.792.984.436.271 84,71 48.762.602.000 42.784.771.860 87,74 0 0 0 3.175.331.393.000 2.623.371.461.698 82,62
17.589.467.211.000 16.498.666.888.349 93,80 13.839.469.935.000 12.517.341.460.386 90,45 860.704.199.000 736.613.639.184 85,58 6.347.097.247.000 5.662.944.657.064 89,22 38.636.738.592.000 35.415.566.644.983 91,66
Sumber: Biro Keuangan dan BMN, Kemenkes RI, 2014
MENURUT ESELON I TAHUN 2013
%
No Unit Eselon I
Anggaran Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan
Jumlah Alokasi (Rp) Jumlah Realisasi (Rp)
Lampiran 4.1
Kantor Pusat Kantor Daerah Dekonsentrasi Tugas Pembantuan
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh 1.828.113 886.579 61.671 28.861 106.170 4.315.123 738.234 182.720 3.632.367 11.779.837 7,53
2 Sumatera Utara 508.603 297.944 53.432 220.488 29.539 6.477.069 272.544 85.413 921.890 8.866.921 3,36
3 Sumatera Barat 411.470 354.437 19.983 25.303 44.350 1.580.849 151.520 58.173 667.074 3.313.160 10,70
4 Riau 803.987 540.024 74.630 90.318 51.549 3.642.221 743.331 117.343 2.368.693 8.432.096 6,40
5 Jambi 342.045 252.248 23.618 13.480 19.722 1.167.084 233.974 20.542 580.113 2.652.827 9,51
6 Sumatera Selatan 522.880 176.955 51.310 14.947 29.491 3.495.015 337.021 61.763 1.073.895 5.763.278 3,07
7 Bengkulu 252.272 219.206 30.118 7.424 17.196 788.297 159.049 46.837 247.931 1.768.330 12,40
8 Lampung 297.208 391.229 41.390 11.742 24.526 2.214.965 338.545 89.531 1.001.419 4.410.555 8,87
9 Kepulauan Bangka Belitung 275.722 86.154 21.532 27.068 20.849 980.603 69.947 39.599 387.785 1.909.259 4,51
10 Kepulauan Riau 327.405 125.661 17.026 12.229 48.545 1.559.613 375.531 29.161 267.404 2.762.575 4,55
11 DKI Jakarta 5.206.236 4.634.051 88.505 3.436.731 901.115 10.947.178 12.815.351 714.593 6.832.570 45.576.329 10,17
12 Jawa Barat 1.188.627 443.864 19.114 209.612 96.121 13.623.038 831.950 123.874 980.454 17.516.652 2,53
13 Jawa Tengah 969.393 1.248.836 74.420 43.661 70.686 8.837.713 318.511 206.733 960.284 12.730.237 9,81
14 D.I. Yogyakarata 316.479 169.184 30.581 18.427 56.497 1.318.084 251.362 51.384 242.923 2.454.919 6,89
15 Jawa Timur 2.170.665 2.070.310 63.780 48.051 106.843 9.219.662 514.846 156.672 1.005.735 15.356.564 13,48
16 Banten 251.251 382.842 17.961 14.237 22.120 3.539.504 301.333 75.974 1.446.781 6.052.003 6,33
17 Bali 468.642 677.394 25.649 19.533 70.037 2.502.193 237.859 63.958 251.183 4.316.449 15,69
18 Nusa Tenggara Barat 279.261 227.398 26.064 8.693 23.121 1.480.119 45.332 38.041 360.680 2.488.709 9,14
19 Nusa Tenggara Timur 265.880 177.060 24.932 10.952 22.960 1.539.661 87.185 38.002 234.188 2.400.818 7,37
20 Kalimantan Barat 457.870 298.337 30.579 9.021 33.940 1.703.151 128.645 30.749 644.841 3.337.135 8,94
21 Kalimantan Tengah 269.135 189.191 16.340 11.073 18.802 1.226.922 215.133 33.371 567.235 2.547.202 7,43
22 Kalimantan Selatan 459.172 689.024 29.918 18.067 33.611 2.092.025 389.799 47.338 606.035 4.364.989 15,79
23 Kalimantan Timur 1.340.132 1.155.524 196.985 33.594 68.453 6.592.988 804.208 89.177 2.618.939 12.900.000 8,96
24 Sulawesi Utara 286.967 122.589 18.263 7.452 50.634 1.021.342 115.954 35.530 303.157 1.961.890 6,25
25 Sulawesi Tengah 438.041 179.235 13.089 14.275 24.720 1.017.681 135.804 30.906 354.085 2.207.836 8,12
26 Sulawesi Selatan 562.300 340.656 29.688 36.539 57.977 3.524.985 119.067 38.815 1.077.433 5.787.460 5,89
27 Sulawesi Tenggara 232.619 135.946 19.927 7.035 14.133 1.183.768 87.481 18.666 339.792 2.039.366 6,67
28 Gorontalo 199.968 54.612 7.487 29.663 5.609 488.901 117.485 20.704 154.373 1.078.802 5,06
29 Sulawesi Barat 214.267 50.404 15.577 8.802 7.611 565.345 48.825 13.756 219.227 1.143.813 4,41
30 Maluku 210.811 159.331 17.697 8.800 17.506 859.346 92.018 21.134 183.439 1.570.083 10,15
31 Maluku Utara 207.894 94.442 19.552 5.990 19.772 639.563 44.537 19.975 351.716 1.403.442 6,73
32 Papua Barat 617.213 672.966 23.937 24.249 44.179 5.654.580 218.341 65.193 714.077 8.034.736 8,38
33 Papua 497.038 82.906 98.047 51.597 30.446 2.774.192 135.262 76.617 507.198 4.253.303 1,95
22.679.566 17.586.537 1.302.803 4.527.914 2.188.831 108.572.782 21.475.981 2.742.244 32.104.917 213.181.575 8,25
Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran, Kemenkes RI, 2014 -
Keterangan : dalamjuta rupiah
Lampiran 4.2
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) PEMERINTAH PROVINSI
Ekonomi (Rp) Kesehatan (Rp)
Ketertiban dan
Ketentraman
(Rp)
Lingkungan
Hidup (Rp)
Pariwisata dan
Budaya (Rp)
Pelayanan
Umum(Rp)
Total (Rp)
No Provinsi
MENURUT FUNGSI DAN PROVINSI TAHUN 2013
%Kesehatan
Fungsi
Indonesia
Pendidikan (Rp)
Perlindungan
Sosial (Rp)
Perumahan dan
Fasilitas Umum
(Rp)
No Provinsi Alokasi (Rp) Realisasi (Rp) %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 29.248.100.000 28.950.191.695 98,98
2 Sumatera Utara 49.783.180.000 49.227.184.889 98,88
3 Sumatera Barat 23.332.192.000 23.133.983.750 99,15
4 Riau 18.039.550.000 17.867.663.900 99,05
5 Jambi 15.353.300.000 15.276.021.150 99,50
6 Sumatera Selatan 26.942.600.000 26.751.478.850 99,29
7 Bengkulu 15.733.700.000 15.720.791.240 99,92
8 Lampung 24.060.870.000 23.938.699.150 99,49
9 Kepulauan Bangka Belitung 5.468.850.000 5.391.990.799 98,59
10 Kepulauan Riau 6.715.200.000 6.566.324.200 97,78
11 DKI Jakarta 28.517.025.000 28.229.401.700 98,99
12 Jawa Barat 89.715.300.000 86.759.038.240 96,70
13 Jawa Tengah 75.269.250.000 75.149.032.927 99,84
14 DI Yogyakarta 10.681.460.000 10.648.421.375 99,69
15 Jawa Timur 83.260.250.000 82.464.925.160 99,04
16 Banten 18.743.145.000 18.296.659.000 97,62
17 Bali 10.149.100.000 10.119.280.875 99,71
18 Nusa Tenggara Barat 41.862.900.000 41.287.509.644 98,63
19 Nusa Tenggara Timur 95.719.000.000 94.418.415.134 98,64
20 Kalimantan Barat 28.248.800.000 28.005.926.778 99,14
21 Kalimantan Tengah 22.664.428.000 21.853.607.500 96,42
22 Kalimantan Selatan 25.842.800.000 25.278.316.350 97,82
23 Kalimantan Timur 26.579.800.000 23.814.984.555 89,60
24 Sulawesi Utara 21.343.000.000 21.284.830.512 99,73
25 Sulawesi Tengah 20.459.835.000 20.393.797.650 99,68
26 Sulawesi Selatan 48.456.800.000 48.211.823.988 99,49
27 Sulawesi Tenggara 28.377.440.000 28.315.066.275 99,78
28 Gorontalo 10.310.600.000 10.288.090.600 99,78
29 Sulawesi Barat 10.223.000.000 10.133.900.960 99,13
30 Maluku 39.422.000.000 38.462.881.457 97,57
31 Maluku Utara 26.663.000.000 26.539.856.056 99,54
32 Papua Barat 35.302.200.000 33.705.682.150 95,48
33 Papua 100.766.400.000 99.534.270.600 98,78
1.113.255.075.000 1.096.020.049.109 98,45
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : Data kumulatif sampai dengan 31 Desember 2013
Lampiran 4.3
ALOKASI DAN REALISASI BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 4.842.238 4.842.238 100,00
2 Sumatera Utara 12.982.204 6.346.377 48,89
3 Sumatera Barat 4.846.909 3.215.162 66,33
4 Riau 5.538.367 3.043.366 54,95
5 Jambi 3.092.265 1.411.809 45,66
6 Sumatera Selatan 7.450.394 7.450.394 100,00
7 Bengkulu 1.715.518 935.823 54,55
8 Lampung 7.608.405 7.608.405 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 1.223.296 1.096.720 89,65
10 Kepulauan Riau 1.679.163 599.764 35,72
11 DKI Jakarta 9.607.787 6.406.352 66,68
12 Jawa Barat 43.053.732 22.166.255 51,49
13 Jawa Tengah 32.382.657 19.218.385 59,35
14 D.I. Yogyakarata 3.457.491 3.326.650 96,22
15 Jawa Timur 37.476.757 19.866.221 53,01
16 Banten 10.632.166 4.145.872 38,99
17 Bali 3.890.757 3.890.757 100,00
18 Nusa Tenggara Barat 4.500.212 3.133.961 69,64
19 Nusa Tenggara Timur 4.683.827 3.776.229 80,62
20 Kalimantan Barat 4.395.983 2.324.143 52,87
21 Kalimantan Tengah 2.212.089 1.557.872 70,43
22 Kalimantan Selatan 3.626.616 2.167.044 59,75
23 Kalimantan Timur 3.553.143 3.101.462 87,29
24 Sulawesi Utara 2.270.596 1.996.958 87,95
25 Sulawesi Tengah 2.635.009 1.890.827 71,76
26 Sulawesi Selatan 8.034.776 8.034.776 100,00
27 Sulawesi Tenggara 2.232.586 1.352.752 60,59
28 Gorontalo 1.040.164 1.040.164 100,00
29 Sulawesi Barat 1.158.651 645.248 55,69
30 Maluku 1.533.506 1.533.506 100,00
31 Maluku Utara 1.038.087 766.719 73,86
32 Papua Barat 760.422 760.422 100,00
33 Papua 2.833.381 2.833.381 100,00
28.806.898
237.989.154 181.292.912 76,18
Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2014
Keterangan : *) Jumlah Penduduka berdasarkan Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010
Indonesia
Jumlah Penduduk*
No Provinsi
Pusat
Lampiran 4.4
Total Jaminan
CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2013
Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jiwa)
Persentase Kepesertaan
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 2.170.960 3.826.299 69.163
2 Sumatera Utara 4.192.297 3.921.522 13.433
3 Sumatera Barat 1.533.170 899.815 19.665
4 Riau 1.304.716 781.863 2.649
5 Jambi 821.557 131.687 1.065
6 Sumatera Selatan 2.433.669 289.403 253.449
7 Bengkulu 628.605 1.722.812 5.908
8 Lampung 3.087.541 85.429 57.747
9 Kepulauan Bangka Belitung 212.826 443.419 340.609
10 Kepulauan Riau 333.633 2.965.653 1.730.101
11 DKI Jakarta 1.271.291 1.701 11
12 Jawa Barat 14.758.325 10.056.075 359.792
13 Jawa Tengah 14.151.037 3.437.381 37.209
Lampiran 4.5
JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Sasaran (Kuota)
Masyarakat Miskin
Rawat Jalan
Tingkat Pertama/RJTP (Kunjungan)
Rawat Inap
Tingkat Pertama/RITP
(Orang)
13 Jawa Tengah 14.151.037 3.437.381 37.209
14 DI Yogyakarta 1.572.153 9.636.116 165.581
15 Jawa Timur 14.001.871 1.651.555 9.925
16 Banten 3.221.969 6.599.027 180.754
17 Bali 904.859 425.100 1.017
18 Nusa Tenggara Barat 2.259.558 1.447.641 73.232
19 Nusa Tenggara Timur 2.671.319 3.374.806 22.461
20 Kalimantan Barat 1.343.859 1.681.534 9.018
21 Kalimantan Tengah 449.376 245.726 1.736
22 Kalimantan Selatan 753.526 544.760 2.645
23 Kalimantan Timur 784.013 477.157 3.145
24 Sulawesi Utara 790.860 5.363.156 27.600
25 Sulawesi Tengah 1.131.065 299.621 3.405
26 Sulawesi Selatan 2.944.923 776.864 12.610
27 Sulawesi Tenggara 984.912 2.633.039 23.137
28 Gorontalo 504.292 681.470 6.969
29 Sulawesi Barat 504.423 1.150.849 11.614
30 Maluku 754.627 749.454 3.425
31 Maluku Utara 328.965 256.758 1.777
32 Papua Barat 2.833.381 199.191 335
33 Papua 760.422 2.749.689 31.988
86.400.000 69.506.572 3.483.175
Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI, 2014
Keterangan: RJTP = Rawat Jalan Tingkat Pertama, RITP = Rawat Inap Tingkat Pertama
Indonesia
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh
179.894 249.585 429.479
2 Sumatera Utara
143.636 171.418 315.054
3 Sumatera Barat
85.765 108.338 194.103
4 Riau
22.665 29.426 52.091
5 J a m b i
17.748 19.869 37.617
6 Sumatera Selatan
58.734 72.293 131.027
7 Bengkulu
21.100 21.631 42.731
8 Lampung
51.152 58.228 109.380
9 Kepulauan Bangka Belitung
4.078 5.497 9.575
10 Kepulauan Riau
14.050 17.561 31.611
11 DKI Jakarta
32.533 40.081 72.614
12 Jawa Barat
498.745 622.936 1.121.681
13 Jawa Tengah
668.416 847.957 1.516.373
14 D.I.Yogyakarta
141.411 179.048 320.459
15 Jawa Timur
458.261 568.888 1.027.149
16 B a n t e n
65.355 80.287 145.642
17 B a l i
58.047 48.946 106.993
18 Nusa Tenggara Barat
60.412 66.099 126.511
19 NusaTenggara Timur
34.238 50.333 84.571
20 Kalimantan Barat
37.805 38.430 76.235
21 Kalimantan Tengah
7.385 8.752 16.137
22 Kalimantan Selatan
19.139 20.980 40.119
23 Kalimantan Timur
36.028 40.104 76.132
24 Sulawesi Utara
32.575 38.173 70.748
25 Sulawesi Tengah
18.833 22.632 41.465
26 Sulawesi Selatan
112.998 140.778 253.776
27 Sulawesi Tenggara
18.478 23.883 42.361
28 Gorontalo
9.536 15.591 25.127
29 Sulawesi Barat
8.067 10.127 18.194
30 M a l u k u
4.810 5.163 9.973
31 Maluku Utara
3.811 3.906 7.717
32 Papua Barat
47.252 53.274 100.526
33 P a p u a
57.317 69.920 127.237
3.030.274 3.750.134 6.780.408
Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 4.6
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL)
PESERTA JAMKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjut
Laki-laki Perempuan
Laki-laki + Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 43.347 58.918 102.265
2 Sumatera Utara 38.459 42.346 80.805
3 Sumatera Barat 14.202 18.921 33.123
4 Riau 5.981 7.166 13.147
5 J a m b i 4.801 5.745 10.546
6 Sumatera Selatan 9.397 12.784 22.181
7 Bengkulu 8.017 8.105 16.122
8 Lampung 16.940 17.821 34.761
9 Kepulauan Bangka Belitung 1.105 1.372 2.477
10 Kepulauan Riau 2.730 3.680 6.410
11 DKI Jakarta 2.837 3.509 6.346
12 Jawa Barat 99.121 124.129 223.250
13 Jawa Tengah 175.180 218.829 394.009
14 D.I.Yogyakarta 25.813 32.749 58.562
15 Jawa Timur 97.019 119.989 217.008
16 B a n t e n 14.606 19.263 33.869
17 B a l i 10.692 9.715 20.407
18 Nusa Tenggara Barat 17.657 20.947 38.604
19 NusaTenggara Timur 23.294 36.557 59.851
20 Kalimantan Barat 9.896 11.220 21.116
21 Kalimantan Tengah 3.068 3.390 6.458
22 Kalimantan Selatan 5.177 6.211 11.388
23 Kalimantan Timur 9.377 10.715 20.092
24 Sulawesi Utara 10.419 12.100 22.519
25 Sulawesi Tengah 8.844 11.552 20.396
26 Sulawesi Selatan 30.458 39.438 69.896
27 Sulawesi Tenggara 6.768 9.588 16.356
28 Gorontalo 5.158 8.696 13.854
29 Sulawesi Barat 2.878 3.632 6.510
30 M a l u k u 1.714 2.668 4.382
31 Maluku Utara 1.864 2.306 4.170
32 Papua Barat 8.049 14.742 22.791
33 P a p u a 10.139 15.073 25.212
725.007 913.876 1.638.883
Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 4.7
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL)
PESERTA JAMKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Jumlah Rawat Inap Tingkat Lanjut
Ante Natal Care (ANC) Post Natal Care (PNC) Persalinan Normal Pra-Rujukan IUD+Implant Suntik
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 158.002 170.867 63.146 1.611 19.257 23.751
2 Sumatera Utara 619.463 714.836 214.367 3.872 1.722 18.213
3 Sumatera Barat 135.958 130.707 43.357 2.274 1.654 14.835
4 Riau 100.765 136.573 33.814 1.597 1.586 5.870
5 Jambi 14.600 10.256 4.216 120 669 289
6 Sumatera Selatan 76.225 69.794 23.794 639 172 4.021
7 Bengkulu 130.495 170.600 60.356 674 1.400 3.976
8 Lampung 43.250 50.932 12.177 480 21 651
9 Kepulauan Bangka Belitung 55.998 55.564 22.415 989 1.092 3.368
10 Kepulauan Riau 249.358 317.071 114.452 2.570 1.747 173.176
11 DKI Jakarta 78.370 78.040 30.202 606 874 86
12 Jawa Barat 685.565 1.197.584 393.896 14.082 749.024 36.349
13 Jawa Tengah 342.207 329.194 85.665 5.294 2.723 22.896
14 DI Yogyakarta 468.895 761.551 229.161 10.416 27.608 53.219
15 Jawa Timur 35.017 40.154 15.298 1.086 1.731 1.463
16 Banten 692.559 852.072 281.554 12.992 21.457 55.089
17 Bali 48.757 47.428 29.453 1.158 1.017 1.053
18 Nusa Tenggara Barat 218.642 175.886 68.832 11.179 6.617 21.264
19 Nusa Tenggara Timur 105.801 92.668 32.882 1.013 383 8.649
20 Kalimantan Barat 236.005 232.670 57.244 1.382 444 2.427
21 Kalimantan Tengah 41.339 34.366 12.399 1.139 211 2.324
22 Kalimantan Selatan 75.214 75.148 25.171 1.304 125 1.748
23 Kalimantan Timur 61.948 76.388 21.788 358 183 1.673
24 Sulawesi Utara 398.040 313.920 150.600 180 2.220
25 Sulawesi Tengah 37.692 36.792 8.182 645 3.522 427
26 Sulawesi Selatan 109.919 104.522 28.085 1.653 568 5.189
27 Sulawesi Tenggara 232.823 237.670 72.715 3.731 1.189 22.989
28 Gorontalo 30.729 40.946 12.763 255 4 269
29 Sulawesi Barat 86.550 104.179 21.844 745 221 3.104
30 Maluku 80.516 70.666 19.304 10 481 6.705
31 Maluku Utara 37.572 42.041 11.544 599 462 1.455
32 Papua Barat 67.512 52.736 24.892 431 572 4.698
33 Papua 4.669 4.316 1.277 1 8 817
5.760.455 6.828.137 2.226.845 84.905 848.924 504.263
Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 4.8
JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMINAN PERSALINAN (JAMPERSAL) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Jampersal Pelayanan KB
Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah Ditolong Nakes % Ditolong Nakes
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Aceh 118.012 106.745 90,45 96.479 81,75 98.934 85.678 86,60
2 Sumatera Utara 314.492 287.910 91,55 265.630 84,46 266.644 217.887 81,71
3 Sumatera Barat 111.947 106.115 94,79 92.830 82,92 95.180 82.079 86,24
4 Riau 143.423 137.989 96,21 129.585 90,35 127.525 120.385 94,40
5 Jambi 78.298 76.579 97,80 73.296 93,61 69.208 65.107 94,07
6 Sumatera Selatan 188.609 183.189 97,13 175.804 93,21 156.943 139.823 89,09
7 Bengkulu 38.160 37.561 98,43 35.452 92,90 32.259 31.493 97,63
8 Lampung 187.441 177.358 94,62 166.875 89,03 160.579 142.277 88,60
9 Kepulauan Bangka Belitung 31.192 30.166 96,71 28.173 90,32 26.038 25.847 99,27
10 Kepulauan Riau 64.389 62.138 96,50 58.743 91,23 43.268 42.352 97,88
11 DKI Jakarta 165.369 165.125 99,85 158.360 95,76 141.304 136.469 96,58
12 Jawa Barat 1.081.827 1.051.541 97,20 951.926 87,99 911.708 798.021 87,53
13 Jawa Tengah 624.732 616.321 98,65 575.546 92,13 525.527 524.949 99,89
14 DI Yogyakarta 50.218 50.218 100,00 46.209 92,02 44.177 40.651 92,02
15 Jawa Timur 679.440 645.954 95,07 593.531 87,36 577.232 562.964 97,53
16 Banten 242.559 235.727 97,18 209.108 86,21 207.639 195.916 94,35
17 Bali 73.886 71.749 97,11 68.755 93,06 63.210 62.669 99,14
18 Nusa Tenggara Barat 120.837 118.331 97,93 108.988 90,19 100.715 93.627 92,96
19 Nusa Tenggara Timur 124.934 103.932 83,19 77.183 61,78 108.181 80.140 74,08
20 Kalimantan Barat 104.826 100.364 95,74 93.224 88,93 88.893 76.853 86,46
21 Kalimantan Tengah 49.310 47.613 96,56 44.242 89,72 41.824 39.457 94,34
22 Kalimantan Selatan 78.756 71.592 90,90 61.442 78,02 66.989 56.243 83,96
23 Kalimantan Timur 87.638 85.813 97,92 74.483 84,99 73.324 57.743 78,75
24 Sulawesi Utara 48.669 45.747 94,00 42.096 86,49 38.156 37.998 99,59
25 Sulawesi Tengah 63.660 57.561 90,42 50.684 79,62 47.344 42.728 90,25
26 Sulawesi Selatan 168.169 166.234 98,85 154.106 91,64 153.270 152.934 99,78
27 Sulawesi Tenggara 57.307 47.535 82,95 43.551 76,00 52.980 49.419 93,28
28 Gorontalo 22.198 22.219 100,09 19.477 87,74 20.803 18.881 90,76
29 Sulawesi Barat 28.779 27.342 95,01 22.360 77,70 26.214 23.982 91,49
30 Maluku 42.164 38.555 91,44 33.107 78,52 35.857 27.237 75,96
31 Maluku Utara 27.121 23.579 86,94 20.689 76,28 23.455 21.245 90,58
32 Papua Barat 22.720 18.624 81,97 11.380 50,09 18.641 13.646 73,20
33 Papua 57.203 29.085 50,85 18.250 31,90 48.595 16.186 33,31
5.298.285 5.046.512 95,25 4.601.564 86,85 4.492.618 4.082.886 90,88
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014 (Update sampai dengan 12 Maret 2014)
Indonesia
Lampiran 5.1
CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1, K4, DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Ibu Hamil Ibu Bersalin
No Provinsi ANC Pertama
1
ANC K1 Ideal
2
ANC Min 4x
3
ANC K4
4
Tidak ANC
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 94,9 86,0 76,3 65,4 5,1
2 Sumatera Utara 91,9 79,9 70,7 61,9 8,1
3 Sumatera Barat 96,2 84,3 80,4 66,7 3,8
4 Riau 92,2 83,0 75,5 67,2 7,8
5 Jambi 94,0 83,6 75,0 62,8 6,0
6 Sumatera Selatan 92,7 81,2 72,2 59,2 7,3
7 Bengkulu 96,8 78,2 83,2 65,7 3,2
8 Lampung 95,0 87,9 85,9 78,1 5,0
9 Kep.Bangka Belitung 97,9 82,7 86,1 72,8 2,1
10 Kepulauan Riau 97,7 85,1 90,7 78,7 2,3
11 DKI Jakarta 97,9 86,9 91,1 78,3 2,1
12 Jawa Barat 95,9 82,7 87,2 74,4 4,1
13 Jawa Tengah 99,0 86,6 92,0 79,7 1,0
14 DI Yogyakarta 99,1 88,8 96,5 85,5 0,9
15 Jawa Timur 97,7 84,8 90,1 77,2 2,3
16 Banten 95,6 83,0 81,6 70,2 4,4
17 Bali 99,6 90,3 95,8 84,7 0,4
18 Nusa Tenggara Barat 98,9 86,0 90,2 73,6 1,1
19 Nusa Tenggara Timur 88,1 68,4 72,4 55,5 11,9
20 Kalimantan Barat 89,8 76,9 71,4 59,0 10,2
21 Kalimantan Tengah 90,5 69,7 71,6 54,0 9,5
22 Kalimantan Selatan 93,8 76,4 82,1 64,2 6,2
23 Kalimantan Timur 97,3 81,5 84,2 68,5 2,7
24 Sulawesi Utara 96,3 73,6 81,5 63,8 3,7
25 Sulawesi Tengah 93,6 65,9 70,3 51,0 6,4
26 Sulawesi Selatan 95,7 72,7 75,9 56,9 4,3
27 Sulawesi Tenggara 94,3 67,0 74,0 55,0 5,7
28 Gorontalo 97,6 66,0 78,2 54,9 2,4
29 Sulawesi Barat 88,6 66,3 69,7 51,3 11,4
30 Maluku 83,2 59,2 55,8 41,4 16,8
31 Maluku Utara 88,1 65,9 62,2 44,5 11,9
32 Papua Barat 83,9 61,0 60,6 44,6 16,1
33 Papua 71,7 56,2 50,9 43,8 28,3
95,4 81,6 83,5 70,4 4,6
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Ket:
*)
Periode kehamilan 1 Januari 2010 sampai saat wawancara
1)
ANC Pertama = Frekuensi ANC minimal 1 kali selama kehamilan
2)
ANC K1 Ideal = ANC pertama kali pada trimester 1
3)
ANC Min 4x = Frekuensi ANC minimal 4 kali selama kehamilan tanpa memperhatikan periode umur kandungan
4)
ANC K4 = ANC 1-1-2, yaitu frekuensi ANC minimal 1x pada trimester 1, minimal 1x pada trimester 2, dan minimal 2x pada trimester 3
Lampiran 5.2
PERSENTASE KELAHIRAN MENURUT RIWAYAT PEMERIKSAAN KEHAMILAN
*)
PADA MASA KEHAMILANNYA,
SERTA CAKUPAN ANC MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
INDONESIA
Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 117.907 104.873 88,9
2 Sumatera Utara 306.116 205.264 67,1
3 Sumatera Barat 109.792 94.667 86,2
4 Riau 138.214 125.313 90,7
5 Jambi 77.602 72.271 93,1
6 Sumatera Selatan 124.579 104.291 83,7
7 Bengkulu 37.966 34.951 92,1
8 Lampung 182.298 136.156 74,7
9 Kepulauan Bangka Belitung 31.114 28.209 90,7
10 Kepulauan Riau 62.745 38.228 60,9
11 DKI Jakarta 165.369 131.673 79,6
12 Jawa Barat 1.040.748 908.197 87,3
13 Jawa Tengah 616.169 515.366 83,6
14 DI Yogyakarta 52.579 42.609 81,0
15 Jawa Timur 645.726 553.966 85,8
16 Banten 206.584 164.826 79,8
17 Bali 69.759 61.676 88,4
18 Nusa Tenggara Barat 119.496 108.211 90,6
19 Nusa Tenggara Timur 123.663 89.810 72,6
20 Kalimantan Barat 104.445 75.469 72,3
21 Kalimantan Tengah 49.131 38.756 78,9
22 Kalimantan Selatan 75.026 64.838 86,4
23 Kalimantan Timur 86.978 55.311 63,6
24 Sulawesi Utara 45.362 41.235 90,9
25 Sulawesi Tengah 56.457 36.200 64,1
26 Sulawesi Selatan 169.212 150.809 89,1
27 Sulawesi Tenggara 54.304 43.979 81,0
28 Gorontalo 22.078 18.898 85,6
29 Sulawesi Barat 28.296 22.738 80,4
30 Maluku 41.205 28.648 69,5
31 Maluku Utara 26.035 17.958 69,0
32 Papua Barat 21.653 9.220 42,6
33 Papua 47.937 19.845 41,4
5.056.545 4.144.461 82,0
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014 (Update s.d. 6 Februari 2014)
Indonesia
Lampiran 5.3
CAKUPAN PEMBERIAN 90 TABLET TAMBAH DARAH PADA IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah Ibu Hamil
Ibu Hamil Mendapat 90 Tablet Tambah Darah
Konsumsi 90+ Konsumsi < 90 Konsumsi Fe Lupa Jumlah Tidak mengonsumsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 19,1 45,8 19,0 16,2
2 Sumatera Utara 19,7 34,2 29,6 16,4
3 Sumatera Barat 30,4 34,8 22,8 12,1
4 Riau 20,8 41,9 22,2 15,1
5 Jambi 32,5 33,7 22,2 11,6
6 Sumatera Selatan 23,2 37,8 20,2 18,8
7 Bengkulu 21,5 32,0 33,7 12,7
8 Lampung 15,4 40,2 31,4 13,0
9 Kep.Bangka Belitung 33,1 38,1 20,4 8,4
10 Kepulauan Riau 45,0 22,5 26,2 6,3
11 DKI Jakarta 43,7 22,0 24,8 9,5
12 Jawa Barat 39,8 31,4 18,7 10,1
13 Jawa Tengah 39,3 31,2 24,1 5,4
14 DI Yogyakarta 58,1 12,9 24,7 4,3
15 Jawa Timur 36,5 34,5 20,4 8,6
16 Banten 40,1 31,8 18,2 9,9
17 Bali 45,3 19,3 33,4 1,9
18 Nusa Tenggara Barat 45,2 38,4 10,9 5,6
19 Nusa Tenggara Timur 37,3 31,3 17,6 13,8
20 Kalimantan Barat 20,9 41,3 18,2 19,6
21 Kalimantan Tengah 17,5 49,9 12,5 20,1
22 Kalimantan Selatan 23,6 38,7 23,3 14,4
23 Kalimantan Timur 24,9 33,0 33,7 8,4
24 Sulawesi Utara 27,9 39,2 25,3 7,6
25 Sulawesi Tengah 20,4 54,5 9,5 15,6
26 Sulawesi Selatan 21,9 50,1 17,5 10,5
27 Sulawesi Tenggara 23,0 47,3 16,1 13,5
28 Gorontalo 31,2 56,8 6,3 5,7
29 Sulawesi Barat 18,4 44,9 19,7 17,0
30 Maluku 18,6 45,2 15,6 20,7
31 Maluku Utara 27,6 40,5 14,1 17,8
32 Papua Barat 22,4 37,5 21,1 19,0
33 Papua 21,1 25,1 22,6 31,2
33,3 34,4 21,4 10,9
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2014
Ket :
*)
Periode 1 Januari 2010 s.d. Waktu wawancara
INDONESIA
Lampiran 5.4
PERSENTASE KELAHIRAN BERDASARKAN JUMLAH HARI MENGONSUMSI ZAT BESI (Fe)
SELAMA MASA KEHAMILAN
*)
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Konsumsi Fe
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh 1.038.732 83.368 8,0 75.861 7,3 57.910 5,6 43.287 4,2 41.028 3,9
2 Sumatera Utara 2.767.175 64.616 2,3 55.549 2,0 27.445 1,0 18.041 0,7 15.115 0,5
3 Sumatera Barat 991.998 43.100 4,3 37.816 3,8 25.063 2,5 19.969 2,0 21.077 2,1
4 Riau 1.365.431 28.333 2,1 28.541 2,1 28.629 2,1 27.253 2,0 22.616 1,7
5 Jambi 733.000 45.086 6,2 39.385 5,4 15.398 2,1 9.252 1,3 7.109 1,0
6 Sumatera Selatan 1.696.201 117.137 6,9 112.201 6,6 1.284 0,1 445 0,0 300 0,0
7 Bengkulu 392.051 22.067 5,6 20.853 5,3 2.911 0,7 2.768 0,7 2.596 0,7
8 Lampung 1.642.575 67.465 4,1 64.661 3,9 33.742 2,1 30.960 1,9 28.758 1,8
9 Kepulauan Bangka Belitung 287.100 2.541 0,9 6.222 2,2 8.074 2,8 6.661 2,3 7.004 2,4
10 Kepulauan Riau 500.139 22.703 4,5 18.587 3,7 9.927 2,0 6.852 1,4 7.302 1,5
11 DKI Jakarta 2.468.100 33.347 1,4 30.559 1,2 18.404 0,7 19.818 0,8 21.383 0,9
12 Jawa Barat 9.590.149 719.103 7,5 652.544 6,8 142.509 1,5 87.126 0,9 72.145 0,8
13 Jawa Tengah 6.388.763 317.926 5,0 537.647 8,4 264.393 4,1 212.708 3,3 180.988 2,8
14 DI Yogyakarta 705.171 1.864 0,3 1.454 0,2 27.199 3,9 15.818 2,2 12.374 1,8
15 Jawa Timur 7.682.285 59.480 0,8 47.026 0,6 91.145 1,2 132.124 1,7 162.101 2,1
16 Banten 2.664.420 126.764 4,8 121.414 4,6 59.554 2,2 45.569 1,7 43.958 1,6
17 Bali 841.880 113 0,0 142 0,0 4.901 0,6 18.326 2,2 40.642 4,8
18 Nusa Tenggara Barat 1.051.216 94.461 9,0 91.252 8,7 0 0,0 0 0,0 0 0,0
19 Nusa Tenggara Timur 948.815 - - - - - - - - - -
20 Kalimantan Barat 957.465 - - - - - - - - - -
21 Kalimantan Tengah 515.774 31.526 6,1 26.893 5,2 3.044 0,6 1.538 0,3 1.203 0,2
22 Kalimantan Selatan 850.060 15.899 1,9 12.587 1,5 4.945 0,6 3.089 0,4 1.926 0,2
23 Kalimantan Timur 868.505 27.426 3,2 25.972 3,0 20.263 2,3 17.807 2,1 22.047 2,5
24 Sulawesi Utara 457.013 26.875 5,9 23.441 5,1 1.399 0,3 439 0,1 513 0,1
25 Sulawesi Tengah 576.102 20.758 3,6 18.498 3,2 6.151 1,1 3.741 0,6 2.612 0,5
26 Sulawesi Selatan 1.750.359 96.005 5,5 81.407 4,7 20.077 1,1 14.701 0,8 11.455 0,7
27 Sulawesi Tenggara 504.357 20.557 4,1 18.115 3,6 6.371 1,3 4.599 0,9 4.303 0,9
28 Gorontalo 234.083 16.929 7,2 14.704 6,3 2.458 1,1 1.723 0,7 1.021 0,4
29 Sulawesi Barat 257.613 15.760 6,1 13.337 5,2 3.038 1,2 985 0,4 981 0,4
30 Maluku 333.171 51.143 15,4 41.477 12,4 12.590 3,8 8.253 2,5 8.308 2,5
31 Maluku Utara 235.255 15.233 6,5 12.985 5,5 3.685 1,6 2.180 0,9 2.160 0,9
32 Papua Barat 183.871 5.205 2,8 4.176 2,3 3.137 1,7 2.738 1,5 2.809 1,5
33 Papua 760.174 - - - - - - - - - -
52.239.003 2.192.790 4,2 2.235.306 4,3 905.646 1,7 758.770 1,5 745.834 1,4
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Update sampai dengan 27 Februari 2014 (data sasaran menggunakan data Sekjen)
Lampiran 5.5
CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
TT4 TT5 TT2 TT3
Indonesia
No Provinsi
Jumlah WUS
15-39 Tahun
TT1
Wanita Usia Subur Diimunisasi
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 37.707 34,1 35.753 32,3 20.226 18,3 13.962 12,6 13.227 12,0 83.168 75,2
2 Sumatera Utara 40.990 12,2 37.678 11,2 16.863 5,0 11.786 3,5 9.593 2,9 75.920 22,7
3 Sumatera Barat 33.259 28,0 33.006 27,8 19.501 16,4 16.081 13,5 13.601 11,4 82.189 69,2
4 Riau 24.092 15,5 25.210 16,2 24.327 15,7 24.694 15,9 20.828 13,4 95.059 61,2
5 Jambi 36.355 47,5 34.211 44,7 12.646 16,5 7.293 9,5 5.426 7,1 59.576 77,9
6 Sumatera Selatan 116.802 64,7 112.047 62,1 1.284 0,7 445 0,2 300 0,2 114.076 63,2
7 Bengkulu 20.534 49,6 19.476 47,0 1.949 4,7 1.573 3,8 1.518 3,7 24.516 59,2
8 Lampung 52.193 29,3 51.433 28,8 23.974 13,4 23.127 13,0 21.381 12,0 119.915 67,2
9 Kepulauan Bangka Belitung 2.185 6,9 5.613 17,8 7.317 23,2 6.017 19,1 6.478 20,5 25.425 80,5
10 Kepulauan Riau 16.284 30,5 14.550 27,3 7.400 13,9 4.777 8,9 5.113 9,6 31.840 59,6
11 DKI Jakarta 30.476 15,9 28.013 14,6 15.914 8,3 17.175 8,9 18.637 9,7 79.739 41,5
12 Jawa Barat 719.103 75,7 652.544 68,7 142.509 15,0 87.126 9,2 72.145 7,6 954.324 100,4
13 Jawa Tengah 135.747 21,9 372.254 60,0 113.002 18,2 97.167 15,7 80.015 12,9 662.438 106,8
14 DI Yogyakarta 809 1,4 880 1,5 14.519 24,3 13.775 23,1 10.694 17,9 39.868 66,8
15 Jawa Timur 12.856 2,0 15.033 2,3 24.465 3,8 39.391 6,2 58.956 9,2 137.845 21,5
16 Banten 116.952 47,7 109.027 44,4 41.947 17,1 29.425 12,0 26.186 10,7 206.585 84,2
17 Bali 113 0,1 142 0,2 3.993 5,3 17.993 23,7 40.313 53,1 62.441 82,3
18 Nusa Tenggara Barat 94.461 83,3 91.252 80,4 0 0,0 0 0,0 0 0,0 91.252 80,4
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - - - - - -
20 Kalimantan Barat 21.420 21,3 20.707 20,6 8.627 8,6 6.157 6,1 5.846 5,8 41.337 41,2
21 Kalimantan Tengah 26.970 53,9 24.605 49,2 2.702 5,4 1.284 2,6 967 1,9 29.558 59,1
22 Kalimantan Selatan 10.754 12,3 10.229 11,7 3.097 3,6 2.427 2,8 1.573 1,8 17.326 19,9
23 Kalimantan Timur 17.483 18,2 16.277 17,0 10.393 10,8 8.613 9,0 9.229 9,6 44.512 46,4
24 Sulawesi Utara 24.906 54,8 22.681 49,9 1.274 2,8 401 0,9 475 1,0 24.831 54,7
25 Sulawesi Tengah 19.946 30,9 18.079 28,0 5.794 9,0 3.523 5,4 2.421 3,7 29.817 46,1
26 Sulawesi Selatan 86.875 47,7 78.975 43,3 18.566 10,2 13.801 7,6 10.751 5,9 122.093 67,0
27 Sulawesi Tenggara 20.557 32,3 18.115 28,5 6.371 10,0 4.599 7,2 4.303 6,8 33.388 52,5
28 Gorontalo 16.068 64,3 14.081 56,3 1.730 6,9 1.113 4,5 715 2,9 17.639 70,5
29 Sulawesi Barat 15.505 49,0 13.185 41,7 2.947 9,3 949 3,0 954 3,0 18.035 57,0
30 Maluku 22.181 51,2 20.259 46,8 4.951 11,4 2.035 4,7 2.243 5,2 29.488 68,0
31 Maluku Utara 13.545 47,9 12.058 42,7 2.442 8,6 1.280 4,5 1.297 4,6 17.077 60,4
32 Papua Barat 2.159 9,5 2.087 9,2 1.556 6,8 1.050 4,6 1.232 5,4 5.925 26,1
33 Papua - - - - - - - - - - - -
1.789.287 34,3 1.909.460 36,6 562.286 10,8 459.039 8,8 446.417 8,6 3.377.202 64,8
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Update sampai dengan 27 Februari 2014 (data sasaran menggunakan data Sekjen)
Ket: TT2+ Adalah penjumlahan dari TT2, TT3, TT4, dan TT5
Lampiran 5.6
CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Ibu Hamil Diimunisasi
TT1 TT2 TT3 TT4
Indonesia
TT5 TT2+
Dokter Bidan Perawat Non Nakes Tidak ada penolong
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 15,9 74,6 0,2 8,5 0,7
2 Sumatera Utara 18,3 74,0 0,2 6,4 1,0
3 Sumatera Barat 21,8 69,9 0,4 6,3 1,7
4 Riau 15,6 71,2 0,3 12,2 0,7
5 Jambi 11,4 75,5 1,1 11,6 0,4
6 Sumatera Selatan 15,4 72,8 1,0 9,9 0,9
7 Bengkulu 10,7 84,1 0,3 4,5 0,5
8 Lampung 7,9 80,7 0,2 10,8 0,4
9 Kep.Bangka Belitung 19,8 69,8 0,3 10,0 0,1
10 Kepulauan Riau 33,8 61,2 0,6 3,5 0,9
11 DKI Jakarta 35,8 61,8 0,4 1,8 0,2
12 Jawa Barat 14,7 67,0 0,2 17,6 0,6
13 Jawa Tengah 22,7 73,3 0,1 3,5 0,4
14 DI Yogyakarta 43,7 56,2 0,0 0,0 0,1
15 Jawa Timur 20,3 73,7 0,2 5,1 0,7
16 Banten 18,7 65,4 0,1 15,1 0,6
17 Bali 40,1 58,8 0,0 1,0 0,2
18 Nusa Tenggara Barat 9,5 81,9 0,1 7,4 1,1
19 Nusa Tenggara Timur 7,8 58,2 0,8 32,2 1,0
20 Kalimantan Barat 8,6 65,4 0,5 24,7 0,7
21 Kalimantan Tengah 11,0 61,0 2,0 25,4 0,6
22 Kalimantan Selatan 14,8 69,3 0,5 15,0 0,4
23 Kalimantan Timur 18,7 70,8 0,1 9,8 0,7
24 Sulawesi Utara 30,7 51,1 0,9 16,5 0,8
25 Sulawesi Tengah 15,3 59,3 1,2 22,9 1,3
26 Sulawesi Selatan 18,9 62,3 0,3 17,3 1,2
27 Sulawesi Tenggara 8,3 69,0 0,8 21,0 0,8
28 Gorontalo 23,6 67,5 0,0 8,4 0,6
29 Sulawesi Barat 7,2 53,5 0,6 37,2 1,6
30 Maluku 7,3 51,1 1,7 38,7 1,2
31 Maluku Utara 13,6 46,5 0,5 38,4 1,0
32 Papua Barat 13,3 55,7 1,8 28,6 0,6
33 Papua 15,8 41,9 1,2 33,2 7,9
18,5 68,6 0,3 11,8 0,8
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Ket : Periode 1 Januari 2010 s.d. saat wawancara
* Apabila penolong persalinan > 1 penolong, maka dipilih yang kualifikasi tertinggi
INDONESIA
Lampiran 5.7
PROPORSI PENOLONG PERSALINAN DENGAN KUALIFIKASI TERTINGGI
*
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Persentase Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Kualifikasi Tertinggi
Dokter Bidan Perawat Non Nakes Tidak ada penolong
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 13,4 75,0 0,5 10,2 0,7
2 Sumatera Utara 15,4 73,6 2,0 8,0 1,0
3 Sumatera Barat 18,7 70,5 2,7 6,4 1,7
4 Riau 12,9 67,6 3,3 15,5 0,7
5 Jambi 9,4 67,0 0,8 22,4 0,4
6 Sumatera Selatan 12,0 70,4 2,9 13,8 0,9
7 Bengkulu 8,0 82,7 1,7 7,2 0,5
8 Lampung 6,1 76,7 1,1 15,8 0,4
9 Kep.Bangka Belitung 15,5 71,6 0,8 12,0 0,1
10 Kepulauan Riau 28,4 62,3 4,0 4,3 0,9
11 DKI Jakarta 29,1 64,7 3,1 2,8 0,2
12 Jawa Barat 11,2 62,5 1,2 24,5 0,6
13 Jawa Tengah 17,3 71,9 2,3 8,1 0,4
14 DI Yogyakarta 34,3 58,9 5,0 1,7 0,1
15 Jawa Timur 16,6 73,5 2,0 7,1 0,7
16 Banten 14,2 62,0 3,2 19,9 0,6
17 Bali 27,0 68,1 2,5 2,1 0,2
18 Nusa Tenggara Barat 5,7 74,2 1,1 18,0 1,1
19 Nusa Tenggara Timur 5,2 56,9 2,5 34,5 1,0
20 Kalimantan Barat 7,0 62,1 1,1 29,0 0,7
21 Kalimantan Tengah 7,8 54,6 2,9 34,1 0,6
22 Kalimantan Selatan 11,6 64,6 1,4 22,0 0,4
23 Kalimantan Timur 16,3 71,0 0,4 11,5 0,7
24 Sulawesi Utara 19,6 55,4 4,2 20,0 0,8
25 Sulawesi Tengah 12,1 53,4 1,4 31,8 1,3
26 Sulawesi Selatan 10,4 59,3 4,2 25,0 1,2
27 Sulawesi Tenggara 5,4 55,2 1,2 37,3 0,8
28 Gorontalo 9,2 65,5 3,3 21,5 0,6
29 Sulawesi Barat 5,0 45,7 1,0 46,7 1,6
30 Maluku 5,0 49,2 2,4 42,2 1,2
31 Maluku Utara 5,1 44,9 4,5 44,6 1,0
32 Papua Barat 7,8 59,9 2,1 29,6 0,6
33 Papua 9,3 42,8 2,9 36,9 7,9
14,2 66,6 2,1 16,3 0,8
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Ket : Periode 1 Januari 2010 s.d. saat wawancara
* Apabila penolong persalinan > 1 penolong, maka dipilih yang kualifikasi terendah
INDONESIA
Lampiran 5.8
PROPORSI PENOLONG PERSALINAN DENGAN KUALIFIKASI TERENDAH
*
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Persentase Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Kualifikasi Terendah
RS
RB/Klinik/ Praktek
Nakes
Puskesmas/ Pustu Polindes/ Poskesdes Rumah/ Lainnya
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 20,0 25,3 7,1 5,2 42,4
2 Sumatera Utara 19,8 32,0 1,5 1,8 44,9
3 Sumatera Barat 19,2 42,3 13,0 8,4 17,0
4 Riau 19,8 36,6 2,8 0,5 40,3
5 Jambi 13,0 24,6 6,1 0,7 55,6
6 Sumatera Selatan 17,4 38,2 2,6 4,9 36,9
7 Bengkulu 13,2 23,5 4,6 1,2 57,4
8 Lampung 9,1 57,0 2,3 0,8 30,9
9 Kepulauan Bangka Belitung 22,3 34,0 4,7 9,5 29,4
10 Kepulauan Riau 35,4 49,1 3,4 1,8 10,3
11 DKI Jakarta 33,6 47,2 15,1 0,0 4,1
12 Jawa Barat 16,5 43,9 5,0 1,1 33,6
13 Jawa Tengah 25,8 51,9 3,4 2,8 16,1
14 DI Yogyakarta 41,0 50,0 7,8 0,2 1,1
15 Jawa Timur 23,5 51,0 6,7 9,2 9,6
16 Banten 21,4 39,3 5,3 0,7 33,3
17 Bali 41,6 49,3 6,3 1,3 1,4
18 Nusa Tenggara Barat 16,3 10,0 28,0 28,9 16,7
19 Nusa Tenggara Timur 19,3 2,7 29,4 6,4 42,1
20 Kalimantan Barat 14,2 21,1 7,3 3,5 53,9
21 Kalimantan Tengah 12,6 14,9 3,6 1,0 67,9
22 Kalimantan Selatan 19,8 18,8 1,9 2,0 57,5
23 Kalimantan Timur 29,0 36,0 7,6 0,4 27,0
24 Sulawesi Utara 33,3 13,8 13,8 2,4 36,7
25 Sulawesi Tengah 19,7 7,8 9,8 3,6 59,2
26 Sulawesi Selatan 21,4 17,7 16,1 2,4 42,3
27 Sulawesi Tenggara 9,6 7,7 14,0 1,5 67,2
28 Gorontalo 27,8 6,9 19,1 14,9 31,3
29 Sulawesi Barat 9,1 3,2 18,2 0,9 68,7
30 Maluku 20,4 1,6 3,1 0,1 74,9
31 Maluku Utara 20,3 4,6 5,6 2,3 67,3
32 Papua Barat 31,0 3,3 10,1 0,2 55,4
33 Papua 26,1 7,3 10,1 0,6 55,9
21,4 38,0 7,3 3,7 29,6
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Ket: Periode 1 Januari 2010 sampai saat wawancara
Indonesia
Tempat Bersalin
Lampiran 5.9
PROPORSI KELAHIRAN BERDASARKAN TEMPAT BERSALIN MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Lampiran 5.10
Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 118.012 23.602 11.635 49,30
2 Sumatera Utara 314.492 62.898 19.069 30,32
3 Sumatera Barat 111.947 22.389 14.054 62,77
4 Riau 143.423 28.685 13.303 46,38
5 Jambi 78.298 15.660 12.017 76,74
6 Sumatera Selatan 188.609 37.722 25.196 66,79
7 Bengkulu 38.160 7.632 5.678 74,40
8 Lampung 187.441 37.488 24.993 66,67
9 Kepulauan Bangka Belitung 31.192 6.238 4.809 77,09
10 Kepulauan Riau 64.389 12.878 8.704 67,59
11 DKI Jakarta 165.369 33.074 28.868 87,28
12 Jawa Barat 1.081.827 216.365 166.215 76,82
13 Jawa Tengah 624.732 124.946 127.650 102,16
14 DI Yogyakarta 50.218 10.044 8.771 87,33
15 Jawa Timur 679.440 135.888 116.501 85,73
16 Banten 242.559 48.512 40.732 83,96
17 Bali 73.886 14.777 11.164 75,55
18 Nusa Tenggara Barat 120.837 24.167 23.687 98,01
19 Nusa Tenggara Timur 124.934 24.987 11.627 46,53
20 Kalimantan Barat 104.826 20.965 12.791 61,01
21 Kalimantan Tengah 49.310 9.862 4.386 44,47
22 Kalimantan Selatan 78.756 15.751 12.959 82,27
23 Kalimantan Timur 87.638 17.528 13.075 74,60
24 Sulawesi Utara 48.669 9.734 7.903 81,19
25 Sulawesi Tengah 63.660 12.732 7.294 57,29
26 Sulawesi Selatan 168.169 33.634 21.860 64,99
27 Sulawesi Tenggara 57.307 11.461 6.215 54,23
28 Gorontalo 22.198 4.440 3.646 82,12
29 Sulawesi Barat 28.779 5.756 3.337 57,98
30 Maluku 42.164 8.433 2.973 35,26
31 Maluku Utara 27.121 5.424 2.612 48,15
32 Papua Barat 22.720 4.544 873 19,21
33 Papua 57.203 11.441 2.196 19,19
5.298.285 1.059.657 776.793 73,31
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014 (Update sampai dengan 12 Maret 2014)
Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan
Indonesia
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah Ibu Hamil
Perkiraan Komplikasi
Kebidanan
6 Jam - 3 Hari 7 - 28 Hari 29 - 42 Hari
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 85,5 44,6 25,1 21,4
2 Sumatera Utara 86,0 34,7 21,2 13,7
3 Sumatera Barat 83,3 32,1 29,6 20,7
4 Riau 85,0 23,7 16,2 11,7
5 Jambi 85,5 44,4 35,2 28,5
6 Sumatera Selatan 77,8 38,6 33,2 20,7
7 Bengkulu 92,1 40,1 29,4 22,5
8 Lampung 78,8 44,9 39,9 24,8
9 Kepulauan Bangka Belitung 82,6 27,4 29,5 16,8
10 Kepulauan Riau 76,9 46,6 30,7 17,8
11 DKI Jakarta 90,3 76,7 68,3 55,5
12 Jawa Barat 76,6 59,0 53,6 37,8
13 Jawa Tengah 89,2 60,4 42,3 34,9
14 DI Yogyakarta 93,5 74,2 50,0 43,7
15 Jawa Timur 87,1 66,0 52,7 42,9
16 Banten 78,5 56,4 52,1 38,5
17 Bali 91,4 67,1 64,4 50,2
18 Nusa Tenggara Barat 87,4 55,7 54,0 38,9
19 Nusa Tenggara Timur 61,5 37,1 43,5 25,1
20 Kalimantan Barat 73,3 26,5 27,3 17,0
21 Kalimantan Tengah 75,4 32,6 26,1 19,1
22 Kalimantan Selatan 85,0 35,6 27,8 18,3
23 Kalimantan Timur 84,8 47,7 45,0 34,1
24 Sulawesi Utara 81,0 59,7 56,0 40,4
25 Sulawesi Tengah 77,1 33,7 26,7 19,6
26 Sulawesi Selatan 81,2 26,9 29,4 15,5
27 Sulawesi Tenggara 78,5 34,9 29,9 21,5
28 Gorontalo 88,4 56,2 48,1 41,2
29 Sulawesi Barat 72,2 28,6 21,4 15,7
30 Maluku 55,4 33,4 31,5 19,5
31 Maluku Utara 64,0 31,7 25,8 18,5
32 Papua Barat 59,1 18,3 16,0 8,8
33 Papua 54,9 34,2 32,3 19,1
81,9 51,8 43,4 32,1
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Ket: 1) Dari riwayat kelahiran periode 1 Januari 2010 sampai saat wawancara
2) KF3 = Menerima KF
1
(6 jam - 3 hari), KF
2
(7 - 28 hari), dan KF
3
(29 - 42 hari)
Indonesia
Periode Mendapat Pelayanan Kesehatan Masa Nifas (KF)
KF Lengkap
2)
Lampiran 5.11
PROPORSI PELAYANAN KESEHATAN MASA NIFAS
1)
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 747.344 177.694 23,78 671.861 89,90
2 Sumatera Utara 2.210.958 450.688 20,38 1.454.090 65,77
3 Sumatera Barat 796.810 168.568 21,16 620.932 77,93
4 Riau 881.168 205.080 23,27 669.196 75,94
5 Jambi 654.256 132.078 20,19 543.086 83,01
6 Sumatera Selatan 1.638.864 408.028 24,90 1.400.871 85,48
7 Bengkulu 362.362 104.318 28,79 302.364 83,44
8 Lampung 1.650.668 376.012 22,78 1.189.577 72,07
9 Kepulauan Bangka Belitung 267.435 40.976 15,32 221.259 82,73
10 Kepulauan Riau 277.581 61.373 22,11 225.189 81,13
11 Dki Jakarta 1.241.204 451.172 36,35 1.050.086 84,60
12 Jawa Barat 9.047.576 1.545.118 17,08 7.071.978 78,16
13 Jawa Tengah 6.602.519 1.015.041 15,37 5.388.214 81,61
14 Di Yogyakarta 499.584 60.158 12,04 445.006 89,08
15 Jawa Timur 7.740.907 1.169.731 15,11 6.113.945 78,98
16 Banten 2.023.773 382.625 18,91 1.441.796 71,24
17 Bali 676.945 75.863 11,21 583.279 86,16
18 Nusa Tenggara Barat 1.045.880 191.408 18,30 787.933 75,34
19 Nusa Tenggara Timur 698.186 106.865 15,31 503.405 72,10
20 Kalimantan Barat 861.174 155.532 18,06 516.631 59,99
21 Kalimantan Tengah 444.641 94.119 21,17 355.496 79,95
22 Kalimantan Selatan 781.482 159.748 20,44 641.112 82,04
23 Kalimantan Timur 576.138 91.114 15,81 324.293 56,29
24 Sulawesi Utara 445.125 105.031 23,60 342.808 77,01
25 Sulawesi Tengah 502.096 98.314 19,58 421.643 83,98
26 Sulawesi Selatan 1.363.999 335.868 24,62 997.109 73,10
27 Sulawesi Tenggara 430.937 84.298 19,56 298.236 69,21
28 Gorontalo 202.845 45.904 22,63 161.631 79,68
29 Sulawesi Barat 203.045 40.280 19,84 146.657 72,23
30 Maluku 264.266 64.143 24,27 175.095 66,26
31 Maluku Utara 209.615 43.969 20,98 127.633 60,89
32 Papua Barat 146.097 16.931 11,59 7.011 4,80
33 Papua 476.705 42.200 8,85 76.683 16,09
45.972.185 8.500.247 18,49 35.276.105 76,73
Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014
Indonesia
Lampiran 5.12
CAKUPAN PESERTA KB BARU DAN KB AKTIF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Jumlah PUS
Peserta KB Baru Peserta KB Aktif
No Provinsi
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 5.007 2,82 1.507 0,85 33 0,02 18.143 10,21 4.578 2,58 77.786 43,78 70.640 39,75 177.694
2 Sumatera Utara 30.383 6,74 11.384 2,53 4.722 1,05 60.898 13,51 51.082 11,33 149.241 33,11 142.978 31,72 450.688
3 Sumatera Barat 13.436 7,97 2.523 1,50 925 0,55 16.797 9,96 22.263 13,21 76.987 45,67 35.637 21,14 168.568
4 Riau 7.206 3,51 2.647 1,29 237 0,12 12.653 6,17 15.651 7,63 106.670 52,01 60.016 29,26 205.080
5 Jambi 3.684 2,79 929 0,70 110 0,08 4.796 3,63 10.961 8,30 67.813 51,34 43.785 33,15 132.078
6 Sumatera Selatan 11.540 2,83 2.331 0,57 595 0,15 39.441 9,67 45.476 11,15 182.388 44,70 126.257 30,94 408.028
7 Bengkulu 5.465 5,24 901 0,86 64 0,06 7.372 7,07 14.756 14,15 45.757 43,86 30.003 28,76 104.318
8 Lampung 30.820 8,20 2.491 0,66 215 0,06 28.011 7,45 36.293 9,65 152.989 40,69 125.193 33,29 376.012
9 Kepulauan Bangka Belitung 1.831 4,47 464 1,13 97 0,24 2.607 6,36 2.985 7,28 19.504 47,60 13.488 32,92 40.976
10 Kepulauan Riau 2.313 3,77 788 1,28 78 0,13 9.007 14,68 2.456 4,00 26.963 43,93 19.768 32,21 61.373
11 Dki Jakarta 56.893 12,61 5.162 1,14 1.443 0,32 31.396 6,96 18.774 4,16 216.882 48,07 120.622 26,74 451.172
12 Jawa Barat 133.892 8,67 22.195 1,44 3.235 0,21 41.067 2,66 100.667 6,52 803.448 52,00 440.614 28,52 1.545.118
13 Jawa Tengah 98.115 9,67 22.811 2,25 1.206 0,12 46.707 4,60 132.188 13,02 542.615 53,46 171.399 16,89 1.015.041
14 Di Yogyakarta 17.969 29,87 1.783 2,96 386 0,64 4.791 7,96 5.282 8,78 25.627 42,60 4.320 7,18 60.158
15 Jawa Timur 112.511 9,62 23.236 1,99 2.584 0,22 42.996 3,68 119.088 10,18 609.927 52,14 259.389 22,18 1.169.731
16 Banten 25.093 6,56 2.775 0,73 416 0,11 28.150 7,36 29.356 7,67 190.294 49,73 106.541 27,84 382.625
17 Bali 23.437 30,89 3.050 4,02 312 0,41 5.445 7,18 3.857 5,08 32.495 42,83 7.267 9,58 75.863
18 Nusa Tenggara Barat 19.762 10,32 1.713 0,89 1.076 0,56 6.875 3,59 29.177 15,24 103.160 53,90 29.645 15,49 191.408
19 Nusa Tenggara Timur 8.238 7,71 5.324 4,98 102 0,10 5.696 5,33 23.332 21,83 51.034 47,76 13.139 12,29 106.865
20 Kalimantan Barat 10.924 7,02 2.329 1,50 1.191 0,77 10.062 6,47 9.504 6,11 73.029 46,95 48.493 31,18 155.532
21 Kalimantan Tengah 1.231 1,31 791 0,84 80 0,08 5.045 5,36 6.565 6,98 48.497 51,53 31.910 33,90 94.119
22 Kalimantan Selatan 1.752 1,10 776 0,49 383 0,24 5.929 3,71 8.777 5,49 69.964 43,80 72.167 45,18 159.748
23 Kalimantan Timur 5.646 6,20 1.938 2,13 51 0,06 4.768 5,23 3.206 3,52 54.331 59,63 21.174 23,24 91.114
24 Sulawesi Utara 6.008 5,72 1.212 1,15 115 0,11 5.739 5,46 13.249 12,61 52.555 50,04 26.153 24,90 105.031
25 Sulawesi Tengah 6.529 6,64 1.328 1,35 340 0,35 5.911 6,01 9.490 9,65 42.457 43,19 32.259 32,81 98.314
26 Sulawesi Selatan 8.557 2,55 2.752 0,82 414 0,12 30.301 9,02 23.916 7,12 158.495 47,19 111.433 33,18 335.868
27 Sulawesi Tenggara 1.788 2,12 648 0,77 174 0,21 6.529 7,75 10.490 12,44 33.899 40,21 30.770 36,50 84.298
28 Gorontalo 3.062 6,67 579 1,26 108 0,24 2.245 4,89 8.542 18,61 18.469 40,23 12.899 28,10 45.904
29 Sulawesi Barat 1.059 2,63 377 0,94 121 0,30 3.397 8,43 2.692 6,68 17.418 43,24 15.216 37,78 40.280
30 Maluku 1.683 2,62 572 0,89 190 0,30 8.517 13,28 5.899 9,20 29.108 45,38 18.174 28,33 64.143
31 Maluku Utara 1.230 2,80 380 0,86 162 0,37 1.805 4,11 9.810 22,31 21.863 49,72 8.719 19,83 43.969
32 Papua Barat 281 1,66 137 0,81 72 0,43 1.124 6,64 1.375 8,12 9.192 54,29 4.750 28,06 16.931
33 Papua 1.287 3,05 960 2,27 137 0,32 13.418 31,80 2.478 5,87 17.258 40,90 6.662 15,79 42.200
658.632 7,75 128.793 1,52 21.374 0,25 517.638 6,09 784.215 9,23 ######## 48,56 ######## 26,60 8.500.247
Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014
Indonesia
Lampiran 5.13
PERSENTASE PESERTA KB BARU
MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
IUD MOW MOP Kondom Implan Suntikan Pil
Total
Peserta % Peserta % Peserta % Peserta %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 115.247 64,86 21.626 12,17 823 0,46 39.998 22,51 177.694
2 Sumatera Utara 365.010 80,99 51.331 11,39 2.007 0,45 32.340 7,18 450.688
3 Sumatera Barat 115.024 68,24 1.129 0,67 1.919 1,14 50.496 29,96 168.568
4 Riau 125.793 61,34 15.259 7,44 6.109 2,98 57.919 28,24 205.080
5 Jambi 83.371 63,12 2.869 2,17 3.514 2,66 42.324 32,04 132.078
6 Sumatera Selatan 281.782 69,06 52.362 12,83 3.518 0,86 70.366 17,25 408.028
7 Bengkulu 76.961 73,78 3.535 3,39 1.768 1,69 22.054 21,14 104.318
8 Lampung 293.635 78,09 6.835 1,82 3.951 1,05 71.591 19,04 376.012
9 Kepulauan Bangka Belitung 30.238 73,79 1.650 4,03 194 0,47 8.894 21,71 40.976
10 Kepulauan Riau 28.885 47,06 11.317 18,44 2.572 4,19 18.599 30,30 61.373
11 Dki Jakarta 180.985 40,11 27.963 6,20 42.854 9,50 199.370 44,19 451.172
12 Jawa Barat 973.219 62,99 222.111 14,38 16.418 1,06 333.370 21,58 1.545.118
13 Jawa Tengah 550.839 54,27 74.646 7,35 22.117 2,18 367.439 36,20 1.015.041
14 Di Yogyakarta 25.815 42,91 13.950 23,19 721 1,20 19.672 32,70 60.158
15 Jawa Timur 779.844 66,67 59.084 5,05 7.808 0,67 322.995 27,61 1.169.731
16 Banten 231.913 60,61 29.418 7,69 7.648 2,00 113.646 29,70 382.625
17 Bali 28.939 38,15 6.161 8,12 2.754 3,63 38.009 50,10 75.863
18 Nusa Tenggara Barat 176.706 92,32 6.768 3,54 649 0,34 7.285 3,81 191.408
19 Nusa Tenggara Timur 102.887 96,28 2.667 2,50 73 0,07 1.238 1,16 106.865
20 Kalimantan Barat 108.876 70,00 24.867 15,99 398 0,26 21.391 13,75 155.532
21 Kalimantan Tengah 65.349 69,43 7.216 7,67 1.222 1,30 20.332 21,60 94.119
22 Kalimantan Selatan 96.355 60,32 4.532 2,84 2.478 1,55 56.383 35,29 159.748
23 Kalimantan Timur 55.865 61,31 9.317 10,23 1.321 1,45 24.611 27,01 91.114
24 Sulawesi Utara 76.621 72,95 18.683 17,79 1.777 1,69 7.950 7,57 105.031
25 Sulawesi Tengah 86.641 88,13 4.458 4,53 942 0,96 6.273 6,38 98.314
26 Sulawesi Selatan 285.990 85,15 15.250 4,54 1.400 0,42 33.228 9,89 335.868
27 Sulawesi Tenggara 79.616 94,45 453 0,54 443 0,53 3.786 4,49 84.298
28 Gorontalo 37.324 81,31 3.644 7,94 300 0,65 4.636 10,10 45.904
29 Sulawesi Barat 35.176 87,33 1.606 3,99 107 0,27 3.391 8,42 40.280
30 Maluku 56.656 88,33 3.741 5,83 727 1,13 3.019 4,71 64.143
31 Maluku Utara 37.808 85,99 1.914 4,35 495 1,13 3.752 8,53 43.969
32 Papua Barat 15.721 92,85 736 4,35 46 0,27 428 2,53 16.931
33 Papua 39.372 93,30 2.425 5,75 66 0,16 337 0,80 42.200
5.644.463 66,40 709.523 8,35 139.139 1,64 2.007.122 23,61 8.500.247
Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014
Bidan Swasta Jumlah
Peserta
Indonesia
Lampiran 5.14
PERSENTASE PESERTA KB BARU
MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Klinik KB
Pemerintah Swasta Dokter Praktik Swasta
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
1 Aceh 747.344 671.861 89,90 22.275 3,32 6.438 0,96 218 0,03 21.198 3,16 61.150 9,10 297.239 44,24 263.343 39,20
2 Sumatera Utara 2.210.958 1.454.090 65,77 149.276 10,27 101.753 7,00 10.475 0,72 159.497 10,97 108.722 7,48 477.396 32,83 446.971 30,74
3 Sumatera Barat 796.810 620.932 77,93 66.119 10,65 19.723 3,18 2.096 0,34 83.514 13,45 31.644 5,10 307.394 49,51 110.442 17,79
4 Riau 881.168 669.196 75,94 37.879 5,66 10.951 1,64 1.418 0,21 58.418 8,73 25.727 3,84 301.203 45,01 233.600 34,91
5 Jambi 654.256 543.086 83,01 36.160 6,66 4.401 0,81 1.278 0,24 77.053 14,19 12.225 2,25 221.490 40,78 190.479 35,07
6 Sumatera Selatan 1.638.864 1.400.871 85,48 79.977 5,71 49.432 3,53 5.958 0,43 272.087 19,42 89.143 6,36 547.668 39,09 356.606 25,46
7 Bengkulu 362.362 302.364 83,44 21.368 7,07 6.295 2,08 1.212 0,40 56.986 18,85 12.799 4,23 122.331 40,46 81.373 26,91
8 Lampung 1.650.668 1.189.577 72,07 163.157 13,72 16.312 1,37 14.233 1,20 185.471 15,59 33.035 2,78 411.561 34,60 365.808 30,75
9 Kepulauan Bangka Belitung 267.435 221.259 82,73 12.725 5,75 5.399 2,44 378 0,17 20.668 9,34 8.574 3,88 99.184 44,83 74.331 33,59
10 Kepulauan Riau 277.581 225.189 81,13 16.633 7,39 5.351 2,38 881 0,39 15.349 6,82 15.085 6,70 95.428 42,38 76.462 33,95
11 Dki Jakarta 1.241.204 1.050.086 84,60 225.979 21,52 39.162 3,73 12.252 1,17 83.717 7,97 44.166 4,21 376.837 35,89 267.973 25,52
12 Jawa Barat 9.047.576 7.071.978 78,16 841.835 11,90 179.829 2,54 60.709 0,86 353.609 5,00 103.096 1,46 3.673.263 51,94 1.859.637 26,30
13 Jawa Tengah 6.602.519 5.388.214 81,61 474.292 8,80 291.928 5,42 54.882 1,02 592.714 11,00 124.003 2,30 3.038.341 56,39 812.054 15,07
14 Di Yogyakarta 499.584 445.006 89,08 106.445 23,92 21.540 4,84 3.400 0,76 28.926 6,50 28.861 6,49 204.745 46,01 51.089 11,48
15 Jawa Timur 7.740.907 6.113.945 78,98 903.865 14,78 308.432 5,04 29.191 0,48 584.395 9,56 105.576 1,73 2.929.197 47,91 1.253.289 20,50
16 Banten 2.023.773 1.441.796 71,24 159.222 11,04 26.176 1,82 16.719 1,16 136.734 9,48 42.527 2,95 703.408 48,79 357.010 24,76
17 Bali 676.945 583.279 86,16 273.346 46,86 22.227 3,81 3.470 0,59 12.469 2,14 19.863 3,41 203.307 34,86 48.597 8,33
18 Nusa Tenggara Barat 1.045.880 787.933 75,34 101.411 12,87 17.425 2,21 4.324 0,55 133.330 16,92 20.833 2,64 370.335 47,00 140.275 17,80
19 Nusa Tenggara Timur 698.186 503.405 72,10 59.480 11,82 26.674 5,30 4.472 0,89 79.348 15,76 16.012 3,18 256.935 51,04 60.484 12,01
20 Kalimantan Barat 861.174 516.631 59,99 39.059 7,56 9.486 1,84 3.386 0,66 37.684 7,29 17.322 3,35 216.437 41,89 193.257 37,41
21 Kalimantan Tengah 444.641 355.496 79,95 7.838 2,20 4.184 1,18 641 0,18 37.598 10,58 10.405 2,93 167.208 47,04 127.622 35,90
22 Kalimantan Selatan 781.482 641.112 82,04 11.646 1,82 7.633 1,19 2.457 0,38 47.804 7,46 13.659 2,13 230.786 36,00 327.127 51,02
23 Kalimantan Timur 576.138 324.293 56,29 33.965 10,47 6.802 2,10 871 0,27 17.092 5,27 10.261 3,16 145.296 44,80 110.006 33,92
24 Sulawesi Utara 445.125 342.808 77,01 44.532 12,99 7.833 2,28 1.307 0,38 57.877 16,88 12.313 3,59 131.555 38,38 87.391 25,49
25 Sulawesi Tengah 502.096 421.643 83,98 31.714 7,52 8.379 1,99 1.126 0,27 40.018 9,49 25.426 6,03 164.877 39,10 150.103 35,60
26 Sulawesi Selatan 1.363.999 997.109 73,10 48.599 4,87 17.643 1,77 1.742 0,17 107.219 10,75 68.633 6,88 439.462 44,07 313.811 31,47
27 Sulawesi Tenggara 430.937 298.236 69,21 11.990 4,02 6.053 2,03 1.617 0,54 42.717 14,32 15.859 5,32 115.753 38,81 104.247 34,95
28 Gorontalo 202.845 161.631 79,68 23.035 14,25 2.954 1,83 820 0,51 31.155 19,28 6.383 3,95 53.635 33,18 43.649 27,01
29 Sulawesi Barat 203.045 146.657 72,23 6.877 4,69 2.431 1,66 510 0,35 15.212 10,37 13.983 9,53 51.650 35,22 55.994 38,18
30 Maluku 264.266 175.095 66,26 8.544 4,88 3.968 2,27 1.171 0,67 21.418 12,23 11.451 6,54 82.903 47,35 45.640 26,07
31 Maluku Utara 209.615 127.633 60,89 4.135 3,24 1.860 1,46 733 0,57 21.750 17,04 8.583 6,72 57.427 44,99 33.145 25,97
32 Papua Barat 146.097 7.011 4,80 33 0,47 - - - - 502 7,16 2.635 37,58 2.738 39,05 1.103 15,73
33 Papua 476.705 76.683 16,09 2.231 2,91 3.084 4,02 179 0,23 5.924 7,73 16.856 21,98 36.117 47,10 12.292 16,03
######## 35.276.105 76,73 4.025.642 11,41 1.241.758 3,52 244.126 0,69 3.439.453 9,75 1.136.810 3,22 16.533.106 46,87 8.655.210 24,54
Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2014
MOW MOP Implan Kondom Suntikan Pil
Lampiran 5.15
Indonesia
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF
MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah PUS
Peserta KB Aktif
M e t o d e K o n t r a s e p s i
IUD
Cara modern Cara tradisional Pernah KB Tidak pernah
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 48,9 0,6 28,8 21,7
2 Sumatera Utara 45,5 1,2 25,4 27,9
3 Sumatera Barat 53,2 0,4 27,1 19,3
4 Riau 55,0 0,7 25,5 18,8
5 Jambi 69,2 0,3 20,5 9,9
6 Sumatera Selatan 67,0 0,7 19,3 13,0
7 Bengkulu 67,3 0,9 19,9 11,9
8 Lampung 70,3 0,3 19,8 9,7
9 Bangka belitung 63,4 1,2 23,1 12,3
10 kepulauan riau 44,6 0,4 25,0 30,0
11 DKI Jakarta 53,4 0,6 28,0 18,0
12 Jawa Barat 64,2 0,2 26,3 9,3
13 Jawa Tengah 62,0 0,4 24,1 13,6
14 DI Yogyakarta 54,2 1,3 26,5 18,0
15 Jawa Timur 61,8 0,4 23,7 14,1
16 Banten 61,2 0,2 27,3 11,2
17 Bali 62,6 0,4 22,2 14,7
18 Nusa Tenggara Barat 58,5 0,1 31,7 9,7
19 Nusa Tenggara Timur 39,2 0,5 25,3 35,1
20 Kalimantan Barat 70,0 0,3 19,2 10,5
21 Kalimantan Tengah 68,9 0,5 22,0 8,6
22 Kalimantan Selatan 66,3 0,3 24,4 9,0
23 Kalimantan Timur 56,7 0,4 27,4 15,6
24 Sulawesi Utara 65,6 0,4 26,1 7,9
25 Sulawesi Tengah 58,8 0,6 25,0 15,6
26 Sulawesi Selatan 49,6 0,6 28,3 21,5
27 Sulawesi Tenggara 51,9 0,3 25,0 22,8
28 Gorontalo 65,5 0,2 21,4 12,9
29 Sulawesi Barat 49,7 0,5 24,9 24,9
30 Maluku 38,0 0,3 26,4 35,4
31 Maluku Utara 48,7 0,1 28,1 23,1
32 Papua Barat 41,5 0,6 24,6 33,3
33 Papua 19,6 0,3 11,3 68,8
59,3 0,4 24,7 15,5
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Lampiran 5.16
INDONESIA
PERSENTASE PEMAKAIAN ALAT/CARA KB PADA WANITA USIA SUBUR
(15-49 TAHUN) YANG BERSTATUS KAWIN MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Persentase Contraceptive Prevalence Rate (CPR)
Modern Dan Tradisional
Susuk/
implant
Steril Pria
Steril
Wanita
IUD/AKDR
/spiral
Suntikan Pil KB
Diafragma/
Kondom
Wanita
Kondom
pria
Menyusui/
Metode
Amenorea
Laktasi
(MAL)
Pantang
berkala/
kalender
Senggama
terputus
Lainnya
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 1,4 0,1 0,8 2,4 29,9 13,8 0,1 0,5 0,1 0,1 0,2 0,2
2 Sumatera Utara 3,9 0,1 4,3 2,6 20,9 12,6 0,1 1,1 0,2 0,6 0,3 0,0
3 Sumatera Barat 6,4 0,1 1,9 5,1 31,2 7,5 0,0 0,9 0,0 0,2 0,2 0,0
4 Riau 2,6 0,1 1,4 2,2 32,6 14,8 0,1 1,3 0,0 0,1 0,5 0,0
5 Jambi 4,5 0,1 0,9 2,4 41,3 19,2 0,1 0,8 0,0 0,1 0,1 0,0
6 Sumatera Selatan 5,4 0,1 1,7 1,7 46,7 10,8 0,1 0,5 0,0 0,3 0,4 0,0
7 Bengkulu 8,4 0,3 1,8 3,3 41,7 10,2 0,3 1,2 0,0 0,6 0,2 0,0
8 Lampung 5,7 0,0 1,0 3,0 45,0 14,9 0,1 0,5 0,0 0,1 0,1 0,0
9 Kepulauan Bangka Belitung 3,0 0,1 1,7 1,9 33,6 21,9 0,0 1,2 0,1 0,6 0,5 0,0
10 Kepulauan Riau 1,0 0,0 2,2 4,7 21,5 13,6 0,1 1,5 0,0 0,1 0,3 0,0
11 DKI Jakarta 1,1 0,0 1,4 7,1 29,2 13,3 0,1 1,1 0,1 0,2 0,2 0,1
12 Jawa Barat 2,0 0,2 2,1 5,1 37,0 17,2 0,1 0,5 0,1 0,1 0,0 0,0
13 Jawa Tengah 5,1 0,2 3,6 5,4 37,9 8,8 0,1 0,9 0,0 0,2 0,1 0,0
14 DI Yogyakarta 3,8 0,1 2,8 12,9 22,9 7,4 0,3 3,9 0,1 0,9 0,3 0,0
15 Jawa Timur 3,4 0,1 3,1 4,3 35,7 14,5 0,0 0,7 0,1 0,2 0,1 0,0
16 Banten 2,2 0,0 1,5 3,6 39,7 13,2 0,1 0,7 0,1 0,1 0,1 0,0
17 Bali 1,9 0,2 4,3 18,2 27,8 8,9 0,0 1,3 0,0 0,2 0,3 0,0
18 Nusa Tenggara Barat 6,6 0,1 1,3 3,2 39,8 7,4 0,0 0,1 0,0 0,1 0,0 0,0
19 Nusa Tenggara Timur 6,5 0,2 1,9 3,8 22,4 4,3 0,0 0,1 0,0 0,3 0,1 0,0
20 Kalimantan Barat 1,3 0,1 1,3 2,3 42,6 22,0 0,0 0,3 0,0 0,2 0,1 0,0
21 Kalimantan Tengah 2,7 0,1 0,9 0,9 40,9 23,0 0,0 0,4 0,2 0,2 0,0 0,0
22 Kalimantan Selatan 3,0 0,2 0,9 1,5 31,1 28,9 0,1 0,7 0,0 0,1 0,0 0,1
23 Kalimantan Timur 2,0 0,2 1,2 3,7 27,6 21,3 0,0 0,8 0,1 0,3 0,0 0,0
24 Sulawesi Utara 9,7 0,1 1,1 3,8 31,1 19,3 0,0 0,4 0,0 0,3 0,1 0,0
25 Sulawesi Tengah 3,6 0,0 1,1 2,5 26,9 24,4 0,0 0,3 0,0 0,2 0,3 0,1
26 Sulawesi Selatan 3,1 0,1 0,9 1,5 30,4 13,3 0,0 0,3 0,1 0,2 0,4 0,0
27 Sulawesi Tenggara 4,6 0,2 0,7 1,3 26,0 18,9 0,0 0,2 0,0 0,1 0,2 0,0
28 Gorontalo 14,3 0,1 1,1 4,9 25,4 19,5 0,1 0,2 0,1 0,1 0,1 0,0
29 Sulawesi Barat 4,6 0,1 0,8 0,8 21,2 21,8 0,2 0,2 0,1 0,2 0,2 0,1
30 Maluku 4,7 0,0 0,7 0,7 24,9 7,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,2 0,0
31 Maluku Utara 7,6 0,0 0,5 0,9 31,8 7,6 0,0 0,3 0,0 0,1 0,0 0,0
32 Papua Barat 2,1 0,6 1,7 0,8 26,6 9,6 0,0 0,1 0,0 0,4 0,0 0,2
33 Papua 1,7 0,0 1,1 0,5 13,0 3,2 0,0 0,1 0,1 0,1 0,1 0,0
INDONESIA 3,5 0,1 2,3 4,3 34,3 13,9 0,1 0,7 0,1 0,2 0,1 0,0
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Persentase KB Tradisional
Lampiran 5.17
PERSENTASE PEMAKAIAN ALAT/CARA KB PADA WANITA USIA SUBUR (15-49 TAHUN)
YANG BERSTATUS KAWIN MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Persentase KB Modern
Hormonal
1
Non Hormonal
2
MKJP
3
Non MKJP
4
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 48,9 45,1 3,8 4,7 44,2
2 Sumatera Utara 45,4 37,3 8,2 10,9 34,5
3 Sumatera Barat 53,1 45,1 8,0 13,5 39,6
4 Riau 54,9 49,9 5,1 6,2 48,7
5 Jambi 69,2 65,0 4,2 7,8 61,4
6 Sumatera Selatan 66,8 62,8 4,1 8,9 57,9
7 Bengkulu 67,1 60,1 6,9 13,7 53,3
8 Lampung 70,2 65,7 4,6 9,8 60,4
9 Kepulauan Bangka Belitung 63,3 58,4 4,9 6,6 56,7
10 Kepulauan Riau 44,6 36,1 8,5 7,9 36,6
11 DKI Jakarta 53,4 43,6 9,8 9,6 43,8
12 Jawa Barat 64,1 56,2 7,9 9,4 54,7
13 Jawa Tengah 61,9 51,7 10,2 14,2 47,7
14 DI Yogyakarta 54,2 34,1 20,1 19,6 34,6
15 Jawa Timur 61,8 53,6 8,2 10,9 50,8
16 Banten 61,1 55,2 5,9 7,3 53,8
17 Bali 62,6 38,5 24,0 24,6 38,0
18 Nusa Tenggara Barat 58,5 53,7 4,7 11,2 47,3
19 Nusa Tenggara Timur 39,1 33,2 6,0 12,4 26,8
20 Kalimantan Barat 70,0 65,9 4,1 5,1 64,9
21 Kalimantan Tengah 68,8 66,5 2,3 4,6 64,2
22 Kalimantan Selatan 66,2 63,0 3,3 5,5 60,8
23 Kalimantan Timur 56,6 50,7 5,9 7,1 49,5
24 Sulawesi Utara 65,5 60,1 5,4 14,7 50,8
25 Sulawesi Tengah 58,7 54,8 3,9 7,2 51,5
26 Sulawesi Selatan 49,5 46,7 2,8 5,6 44,0
27 Sulawesi Tenggara 51,8 49,5 2,4 6,7 45,1
28 Gorontalo 65,5 59,1 6,3 20,3 45,1
29 Sulawesi Barat 49,6 47,5 2,1 6,3 43,3
30 Maluku 37,9 36,5 1,4 6,1 31,8
31 Maluku Utara 48,6 46,9 1,7 9,0 39,6
32 Papua Barat 41,4 38,2 3,2 5,2 36,2
33 Papua 19,6 17,8 1,8 3,3 16,2
59,3 51,8 7,5 10,2 49,1
Sumber : Riskesdas 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013
Ket:
1
)
Hormonal = Jenis KB modern susuk, suntikan KB, pil.
2
)
Non hormonal = Jenis KB modern IUD, sterilisasi pria, sterilisasi wanita, diafragma/kondom.
3
)
MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) = Susuk, sterilisasi pria, sterilisasi wanita, IUD
4
)
Non MKJP = Suntikan, pil, diafragma, kondom
Lampiran 5.18
PROPORSI WUS KAWIN YANG MENGGUNAKAN ALAT/CARA KB MODERN
BERDASARKAN JENIS DAN JANGKA WAKTU MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
Jangka Waktu
Indonesia
Jenis
No Provinsi Cara Modern
Ante Natal Care (ANC) Post Natal Care (PNC) Persalinan Normal Pra-Rujukan IUD+Implant Suntik
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 158.002 170.867 63.146 1.611 19.257 23.751
2 Sumatera Utara 619.463 714.836 214.367 3.872 1.722 18.213
3 Sumatera Barat 135.958 130.707 43.357 2.274 1.654 14.835
4 Riau 100.765 136.573 33.814 1.597 1.586 5.870
5 Jambi 76.225 69.794 23.794 639 172 4.021
6 Sumatera Selatan 130.495 170.600 60.356 674 1.400 3.976
7 Bengkulu 55.998 55.564 22.415 989 1.092 3.368
8 Lampung 249.358 317.071 114.452 2.570 1.747 173.176
9 Kepulauan Bangka Belitung 43.250 50.932 12.177 480 21 651
10 Kepulauan Riau 14.600 10.256 4.216 120 669 289
11 DKI Jakarta 78.370 78.040 30.202 606 874 86
12 Jawa Barat 685.565 1.197.584 393.896 14.082 749.024 36.349
13 Jawa Tengah 468.895 761.551 229.161 10.416 27.608 53.219
14 DI Yogyakarta 35.017 40.154 15.298 1.086 1.731 1.463
15 Jawa Timur 692.559 852.072 281.554 12.992 21.457 55.089
16 Banten 342.207 329.194 85.665 5.294 2.723 22.896
17 Bali 48.757 47.428 29.453 1.158 1.017 1.053
18 Nusa Tenggara Barat 218.642 175.886 68.832 11.179 6.617 21.264
19 Nusa Tenggara Timur 105.801 92.668 32.882 1.013 383 8.649
20 Kalimantan Barat 236.005 232.670 57.244 1.382 444 2.427
21 Kalimantan Tengah 41.339 34.366 12.399 1.139 211 2.324
22 Kalimantan Selatan 75.214 75.148 25.171 1.304 125 1.748
23 Kalimantan Timur 61.948 76.388 21.788 358 183 1.673
24 Sulawesi Utara 398.040 313.920 150.600 180 2.220
25 Sulawesi Tengah 109.919 104.522 28.085 1.653 568 5.189
26 Sulawesi Selatan 232.823 237.670 72.715 3.731 1.189 22.989
27 Sulawesi Tenggara 86.550 104.179 21.844 745 221 3.104
28 Gorontalo 37.692 36.792 8.182 645 3.522 427
29 Sulawesi Barat 30.729 40.946 12.763 255 4 269
30 Maluku 80.516 70.666 19.304 10 481 6.705
31 Maluku Utara 37.572 42.041 11.544 599 462 1.455
32 Papua Barat 4.669 4.316 1.277 1 8 817
33 Papua 67.512 52.736 24.892 431 572 4.698
5.760.455 6.828.137 2.226.845 84.905 848.924 504.263
Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI, 2014
Lampiran 5.19
Indonesia
JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMINAN PERSALINAN (JAMPERSAL) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Jampersal Pelayanan KB
Lampiran 5.20
<2500 gram 2500-3999 gram > 4000 gram
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 8,6 83,1 8,3
2 Sumatera Utara 7,2 82,2 10,6
3 Sumatera Barat 7,3 86,8 5,9
4 Riau 8,6 85,0 6,4
5 Jambi 8,2 86,3 5,5
6 Sumatera Selatan 9,3 86,0 4,7
7 Bengkulu 9,7 81,9 8,4
8 Lampung 8,0 89,0 3,0
9 Kepulauan Bangka Belitung 9,4 85,8 4,8
10 Kepulauan Riau 9,2 87,4 3,4
11 DKI Jakarta 9,3 87,0 3,7
12 Jawa Barat 10,8 85,5 3,8
13 Jawa Tengah 9,7 86,9 3,4
14 DI Yogyakarta 9,4 89,3 1,3
15 Jawa Timur 11,2 85,2 3,6
16 Banten 9,7 83,6 6,7
17 Bali 8,8 86,7 4,6
18 Nusa Tenggara Barat 12,2 80,8 7,0
19 Nusa Tenggara Timur 15,5 80,6 3,9
20 Kalimantan Barat 14,4 82,5 3,1
21 Kalimantan Tengah 13,7 80,6 5,8
22 Kalimantan Selatan 10,1 85,5 4,5
23 Kalimantan Timur 10,8 84,0 5,2
24 Sulawesi Utara 8,0 85,7 6,2
25 Sulawesi Tengah 16,8 75,6 7,7
26 Sulawesi Selatan 12,4 82,4 5,2
27 Sulawesi Tenggara 9,4 81,3 9,3
28 Gorontalo 13,2 80,3 6,5
29 Sulawesi Barat 11,9 80,6 7,5
30 Maluku 11,1 74,1 14,8
31 Maluku Utara 11,6 78,4 10,0
32 Papua Barat 11,0 83,2 5,8
33 Papua 15,6 77,1 7,3
10,2
85,0 4,8
Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
PERSENTASE BALITA (0-59 BULAN) MENURUT BERAT BADAN LAHIR
DAN PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Persentase Berat Badan Lahir Balita (0-59 bulan)
Lampiran 5.21
<1 jam (IMD) 1-6 jam 7-23 jam 24-47 jam >48 jam
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 39,7 27,7 2,9 15,7 14,0
2 Sumatera Utara 22,9 32,9 4,2 17,1 22,9
3 Sumatera Barat 44,2 36,6 3,9 9,3 6,1
4 Riau 22,1 43,9 5,1 10,9 18,0
5 Jambi 41,1 34,5 2,8 11,0 10,6
6 Sumatera Selatan 29,6 36,4 5,3 11,7 17,0
7 Bengkulu 35,7 34,0 1,0 18,9 10,3
8 Lampung 24,1 46,3 4,1 13,6 12,0
9 Kepulauan Bangka Belitung 37,4 26,4 2,0 14,6 19,6
10 Kepulauan Riau 22,7 39,5 7,0 14,5 16,4
11 DKI Jakarta 41,9 27,3 3,5 16,1 11,3
12 Jawa Barat 35,7 37,4 3,7 11,3 11,9
13 Jawa Tengah 37,5 34,6 5,0 9,9 13,0
14 DI Yogyakarta 39,3 39,4 2,0 10,8 8,4
15 Jawa Timur 33,3 33,5 3,3 15,3 14,7
16 Banten 33,8 37,7 3,7 13,5 11,4
17 Bali 42,2 33,2 1,6 13,5 9,5
18 Nusa Tenggara Barat 52,9 30,8 1,4 10,2 4,6
19 Nusa Tenggara Timur 40,5 40,3 3,2 9,1 6,8
20 Kalimantan Barat 29,6 36,9 1,9 16,3 15,3
21 Kalimantan Tengah 23,9 34,8 2,7 21,0 17,5
22 Kalimantan Selatan 28,6 32,8 2,6 15,9 20,0
23 Kalimantan Timur 35,1 41,0 2,0 10,5 11,4
24 Sulawesi Utara 29,0 34,7 4,1 15,7 16,4
25 Sulawesi Tengah 29,0 24,7 4,2 15,7 26,4
26 Sulawesi Selatan 44,9 26,0 3,7 10,2 15,1
27 Sulawesi Tenggara 33,2 35,3 3,0 12,0 16,5
28 Gorontalo 42,7 35,0 1,8 11,6 8,9
29 Sulawesi Barat 34,0 35,5 3,2 9,9 17,4
30 Maluku 24,8 42,4 3,8 9,7 19,2
31 Maluku Utara 27,0 39,6 3,8 12,6 17,0
32 Papua Barat 21,7 43,5 3,2 18,0 13,7
33 Papua 31,5 40,5 3,0 19,2 5,8
34,5 35,2 3,7 13,0 13,7
Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
PERSENTASE PROSES MULAI MENDAPAT ASI PADA ANAK UMUR 0-23 BULAN
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Kategori Proses Mulai Mendapat ASI
Lampiran 5.22
KN1 % KN1 KN Lengkap %KN Lengkap
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 103.971 95.582 91,93 91.685 88,18
2 Sumatera Utara 283.624 240.673 84,86 193.479 68,22
3 Sumatera Barat 102.664 93.748 91,32 89.602 87,28
4 Riau 131.002 118.932 90,79 114.696 87,55
5 Jambi 72.383 64.142 88,61 62.722 86,65
6 Sumatera Selatan 174.935 164.664 94,13 161.338 92,23
7 Bengkulu 34.620 31.466 90,89 30.290 87,49
8 Lampung 168.996 156.155 92,40 150.521 89,07
9 Kepulauan Bangka Belitung 27.698 27.245 98,36 26.167 94,47
10 Kepulauan Riau 58.281 55.024 94,41 50.193 86,12
11 DKI Jakarta 150.408 148.895 98,99 141.841 94,30
12 Jawa Barat 949.392 884.680 93,18 850.592 89,59
13 Jawa Tengah 572.255 556.538 97,25 545.983 95,41
14 D I Yogyakarta 45.436 45.295 99,69 42.860 94,33
15 Jawa Timur 598.967 583.932 97,49 533.568 89,08
16 Banten 217.382 213.346 98,14 190.480 87,62
17 Bali 67.137 61.483 91,58 59.526 88,66
18 Nusa Tenggara Barat 109.384 102.531 93,73 99.969 91,39
19 Nusa Tenggara Timur 114.888 86.754 75,51 82.246 71,59
20 Kalimantan Barat 96.934 86.934 89,68 83.674 86,32
21 Kalimantan Tengah 45.342 41.844 92,29 41.312 91,11
22 Kalimantan Selatan 72.758 65.153 89,55 62.422 85,79
23 Kalimantan Timur 80.224 70.867 88,34 65.422 81,55
24 Sulawesi Utara 44.066 40.395 91,67 39.181 88,91
25 Sulawesi Tengah 56.441 48.947 86,72 47.608 84,35
26 Sulawesi Selatan 152.999 140.363 91,74 131.075 85,67
27 Sulawesi Tenggara 52.284 46.611 89,15 45.355 86,75
28 Gorontalo 21.409 19.953 93,20 18.437 86,12
29 Sulawesi Barat 25.831 23.675 91,65 23.240 89,97
30 Maluku 38.387 31.729 82,66 30.845 80,35
31 Maluku Utara 24.172 20.469 84,68 19.912 82,38
32 Papua Barat 19.843 11.293 56,91 10.276 51,79
33 Papua 50.460 19.706 39,05 12.822 25,41
4.764.573 4.399.024 92,33 4.156.008 87,23
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah Bayi
Kunjungan Neonatus
Lampiran 5.23
Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 103.971 15.596 6.654 42,67
2 Sumatera Utara 283.624 42.544 7.953 18,69
3 Sumatera Barat 102.664 15.400 3.609 23,44
4 Riau 131.002 19.650 5.414 27,55
5 Jambi 72.383 10.857 6.433 59,25
6 Sumatera Selatan 174.935 26.240 13.983 53,29
7 Bengkulu 34.620 5.193 3.185 61,33
8 Lampung 168.996 25.349 10.576 41,72
9 Kepulauan Bangka Belitung 27.698 4.155 2.933 70,59
10 Kepulauan Riau 58.281 8.742 3.515 40,21
11 DKI Jakarta 150.408 22.561 14.762 65,43
12 Jawa Barat 949.392 142.409 65.371 45,90
13 Jawa Tengah 572.255 85.838 64.689 75,36
14 DI Yogyakarta 45.436 6.815 6.175 90,60
15 Jawa Timur 598.967 89.845 62.973 70,09
16 Banten 217.382 32.607 21.583 66,19
17 Bali 67.137 10.071 7.177 71,27
18 Nusa Tenggara Barat 109.384 16.408 9.977 60,81
19 Nusa Tenggara Timur 114.888 17.233 2.644 15,34
20 Kalimantan Barat 96.934 14.540 6.485 44,60
21 Kalimantan Tengah 45.342 6.801 2.262 33,26
22 Kalimantan Selatan 72.758 10.914 6.029 55,24
23 Kalimantan Timur 80.224 12.034 5.334 44,33
24 Sulawesi Utara 44.066 6.610 3.769 57,02
25 Sulawesi Tengah 56.441 8.466 2.853 33,70
26 Sulawesi Selatan 152.999 22.950 11.597 50,53
27 Sulawesi Tenggara 52.284 7.843 2.237 28,52
28 Gorontalo 21.409 3.211 1.220 37,99
29 Sulawesi Barat 25.831 3.875 1.723 44,47
30 Maluku 38.387 5.758 1.623 28,19
31 Maluku Utara 24.172 3.626 1.333 36,76
32 Papua Barat 19.843 2.976 629 21,13
33 Papua 50.460 7.569 1.164 15,38
4.764.573 714.686 367.864 51,47
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DENGAN KOMPLIKASI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah Bayi
Neonatal
Komplikasi
Cakupan Penanganan Neonatal
Komplikasi
Lampiran 5.24
Jumlah % Jumlah
%
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)
1 Aceh 89.678 89,2 81.863 81,4 89.918 91,2 84.706 85,9 87.890 89,1 84.762 86,0 81.797 83,0
2 Sumatera Utara 278.768 91,5 241.652 79,3 283.854 97,0 276.303 94,5 274.907 94,0 274.375 93,8 238.497 81,5
3 Sumatera Barat 95.865 88,7 84.759 78,4 95.318 91,9 91.809 88,5 92.553 89,2 89.180 86,0 87.684 84,5
4 Riau 128.439 91,0 102.690 72,7 129.714 94,7 126.541 92,4 125.392 91,5 124.321 90,8 114.936 83,9
5 Jambi 70.907 102,0 63.115 90,8 72.628 107,6 71.816 106,4 72.089 106,8 70.756 104,9 62.329 92,4
6 Sumatera Selatan 160.835 98,0 142.164 86,6 162.931 103,4 160.047 101,6 160.163 101,7 157.868 100,2 139.369 88,5
7 Bengkulu 36.518 96,9 30.635 81,3 36.177 100,0 34.489 95,3 34.216 94,6 34.512 95,4 32.623 90,2
8 Lampung 158.337 97,7 136.765 84,4 158.809 102,0 160.222 102,9 160.536 103,1 158.089 101,6 150.665 96,8
9 Kepulauan Bangka Belitung 26.991 94,0 26.530 92,4 26.806 96,3 25.842 92,8 25.993 93,3 26.033 93,5 26.201 94,1
10 Kepulauan Riau 45.205 93,1 39.797 82,0 46.827 99,4 46.698 99,2 46.518 98,8 45.449 96,5 41.649 88,4
11 DKI Jakarta 171.592 98,2 137.588 78,7 167.537 97,8 164.119 95,8 165.107 96,4 161.645 94,3 155.860 91,0
12 Jawa Barat 945.454 109,4 886.254 102,6 778.405 92,9 826.594 98,6 913.411 109,0 916.870 109,4 758.360 90,5
13 Jawa Tengah 571.370 101,4 547.634 97,1 571.009 103,3 572.127 103,5 573.273 103,7 568.959 103,0 556.612 100,7
14 DI Yogyakarta 47.934 105,5 47.315 104 35.396 78,7 38.689 86,0 3.126 6,9 44.306 98,5 43722 97,2
15 Jawa Timur 592.107 101,7 555.154 95,3 594.741 104,2 589.938 103,4 585.235 102,5 583.596 102,2 566.825 99,3
16 Banten 217.375 97,5 203.142 91,1 215.237 100,5 207.432 96,8 208.156 97,2 204.062 95,3 186.681 87,2
17 Bali 67.867 98,4 64.675 93,7 66.696 98,6 54.322 80,3 65.931 97,5 65.537 96,9 65.628 97,0
18 Nusa Tenggara Barat 104.079 100,9 98.088 95,1 66.826 67,5 76.767 77,5 107.340 108,4 106.880 107,9 98.528 99,5
19 Nusa Tenggara Timur 106.238 86,1 74.747 60,6 103.392 87,3 97.469 82,3 94.282 79,6 95.595 80,7 82.819 69,9
20 Kalimantan Barat 83.172 91,1 60.184 65,9 84.242 96,1 80.763 92,1 81.172 92,6 78.669 89,7 72.105 82,2
21 Kalimantan Tengah 44.071 96,9 31.562 69,4 43.695 98,0 41.957 94,1 41.840 93,8 41.140 92,2 40.782 91,4
22 Kalimantan Selatan 67.469 85,1 58.157 73,3 67.256 88,3 63.726 83,7 63.558 83,5 62.184 81,7 61.211 80,4
23 Kalimantan Timur 73.575 84,4 57.546 66,0 74.054 86,6 71.845 84,0 71.064 83,1 69.803 81,6 67.350 78,8
24 Sulawesi Utara 38.833 94,0 28.517 69,1 39.271 98,0 38.791 96,8 38.456 96,0 37.101 92,6 35.251 88,0
25 Sulawesi Tengah 51.786 88,1 35.415 60,3 52.189 92,5 50.311 89,1 50.444 89,4 48.637 86,2 44.682 79,2
26 Sulawesi Selatan 156.407 94,4 141.408 85,3 157.489 99,0 154.681 97,2 155.024 97,4 152.625 95,9 140.506 88,3
27 Sulawesi Tenggara 48.809 84,4 27.172 47,0 48.611 87,6 44.897 80,9 44.819 80,8 44.942 81,0 38.796 69,9
28 Gorontalo 21.577 94,9 19.715 86,7 21.619 99,0 21.998 100,8 22.019 100,9 21.504 98,5 21.453 98,3
29 Sulawesi Barat 24.791 86,2 22.527 78,3 24.849 90,0 27.692 100,2 24.592 89,0 24.642 89,2 23.414 84,8
30 Maluku 35.071 89,0 22.058 56,0 36.829 97,4 34.970 92,4 33.976 89,8 34.705 91,7 34.402 90,9
31 Maluku Utara 21.209 82,6 16.697 65,0 21.379 86,7 20.584 83,5 20.258 82,1 20.176 81,8 18.921 76,7
32 Papua Barat 15.365 74,4 7.956 38,5 15.279 77,0 15.532 78,3 15.924 80,3 15.197 76,6 13.424 67,7
33 Papua 34.867 67,0 21.498 41,3 36.684 72,7 31.597 62,6 31.121 61,7 33.772 66,9 33.589 66,6
4.632.560 97,8 4.114.979 86,8 4.425.667 96,3 4.405.273 95,8 4.490.385 97,7 4.497.892 97,9 4.136.670 90,0
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2014
Update sampai dengan 02 Mei 2014
Indonesia
DPT/HB1 Imunisasi Dasar Lengkap HB0
No Provinsi
BCG
CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
DPT/HB3 Polio 4 Campak
Lampiran 5.25
HB-0 BCG DPT-HB-3 Polio-4 Campak
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 64,8 72,9 52,9 58,3 62,4
2 Sumatera Utara 63,0 78,1 63,1 67,5 70,1
3 Sumatera Barat 70,5 81,0 60,2 64,4 71,4
4 Riau 68,8 81,4 70,0 70,9 77,3
5 Jambi 79,1 85,5 76,7 77,4 79,7
6 Sumatera Selatan 70,8 84,9 73,6 76,3 82,6
7 Bengkulu 81,0 93,0 86,7 87,6 90,2
8 Lampung 79,9 90,0 82,5 84,6 87,9
9 Kepulauan Bangka Belitung 87,5 92,8 83,7 88,3 86,4
10 Kepulauan Riau 87,4 92,0 87,4 88,0 91,9
11 DKI Jakarta 87,8 90,9 79,1 76,7 85,3
12 Jawa Barat 78,8 87,8 71,5 73,9 80,8
13 Jawa Tengah 90,5 94,8 89,2 87,6 92,6
14 DI Yogyakarta 98,4 98,9 95,1 88,3 98,1
15 Jawa Timur 91,2 93,3 85,7 86,2 89,0
16 Banten 76,9 83,6 63,3 64,0 66,7
17 Bali 93,4 97,6 90,4 92,4 93,5
18 Nusa Tenggara Barat 92,7 92,2 85,2 87,7 90,6
19 Nusa Tenggara Timur 70,7 84,2 66,0 68,5 84,1
20 Kalimantan Barat 62,3 81,2 71,9 74,1 77,3
21 Kalimantan Tengah 57,7 77,0 67,9 69,9 77,4
22 Kalimantan Selatan 69,1 83,2 72,0 73,2 74,1
23 Kalimantan Timur 83,4 87,3 81,4 81,6 84,1
24 Sulawesi Utara 82,4 97,3 83,3 81,4 94,4
25 Sulawesi Tengah 64,7 84,3 72,6 74,0 76,7
26 Sulawesi Selatan 72,9 84,8 69,5 70,9 76,9
27 Sulawesi Tenggara 59,8 84,8 75,3 76,9 83,8
28 Gorontalo 87,5 97,2 93,0 95,8 94,9
29 Sulawesi Barat 67,6 79,3 67,1 70,2 72,5
30 Maluku 47,8 73,6 53,8 61,8 70,5
31 Maluku Utara 57,3 83,6 68,9 71,9 80,3
32 Papua Barat 50,6 80,4 60,0 62,8 76,9
33 Papua 45,7 59,5 40,8 48,8 56,8
79,1 87,6 75,6 77,0 82,1
Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA ANAK UMUR 12-23 BULAN
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Jenis Imunisasi Dasar
Lampiran 5.26
DPT/HB(1)-Campak
DPT/HB(1) -
DPT/HB(3)
DPT/HB(1)-Campak
DPT/HB(1) -
DPT/HB(3)
DPT/HB(1)-Campak
DPT/HB(1) -
DPT/HB(3)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 7,7 6,1 5,0 5,3 5,7 5,8
2 Sumatera Utara 3,9 3,7 5,1 3,1 3,3 2,7
3 Sumatera Barat 5,7 3,7 7,7 5,0 6,4 3,7
4 Riau 5,4 4,2 3,9 3,4 4,2 2,4
5 Jambi 2,1 2,2 0,0 0,4 2,6 1,1
6 Sumatera Selatan 2,1 1,4 2,5 2,1 3,1 1,8
7 Bengkulu 2,6 3,2 1,5 2,9 4,6 4,7
8 Lampung 4,5 1,0 1,5 0,0 0,5 -0,9
9 Kepulauan Bangka Belitung 7,4 5,4 5,9 5,8 2,9 3,6
10 Kepulauan Riau 9,1 4,8 6,9 2,7 2,9 0,3
11 DKI Jakarta 4,6 2,6 7,1 1,0 3,5 2,0
12 Jawa Barat 3,3 2,3 2,4 1,5 3,9 1,0
13 Jawa Tengah 3,5 1,3 1,7 0,2 0,4 -0,2
14 DI Yogyakarta -0,8 0,6 1,4 2,0 2,2 5,1
15 Jawa Timur 5,3 2,6 2,6 0,3 1,9 0,8
16 Banten 5,8 4,3 5,6 3,5 5,2 3,6
17 Bali 2,9 3,1 3,2 2,9 1,7 2,5
18 Nusa Tenggara Barat 6,3 1,3 1,7 0,6 -0,9 0,2
19 Nusa Tenggara Timur 6,8 7,8 7,3 5,9 7,5 5,7
20 Kalimantan Barat 5,1 5,1 6,7 4,0 6,6 4,1
21 Kalimantan Tengah 4,7 6,9 7,7 3,3 5,8 4,0
22 Kalimantan Selatan 7,2 6,6 7,0 5,5 7,5 5,2
23 Kalimantan Timur 7,9 4,1 4,9 3,4 5,7 3,0
24 Sulawesi Utara 3,9 4,9 4,2 2,6 5,5 1,2
25 Sulawesi Tengah 4,4 4,8 6,0 5,1 6,8 3,6
26 Sulawesi Selatan 4,4 2,2 3,5 1,9 3,1 1,8
27 Sulawesi Tenggara 6,2 9,2 5,2 3,6 7,5 7,6
28 Gorontalo 2,6 -0,9 5,1 2,7 0,5 -1,8
29 Sulawesi Barat 3,2 2,3 4,1 3,0 0,8 -11,4
30 Maluku 5,6 7,2 6,7 7,2 5,8 5,0
31 Maluku Utara 9,5 6,4 7,8 4,0 5,6 3,7
32 Papua Barat 2,6 11,2 10,6 11,1 0,5 -1,7
33 Papua 0,5 12,0 7,6 11,1 7,9 13,9
4,4 3,1 3,6 2,1 3,3 1,8
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2012
Update sampai dengan 02 Mei 2014
Indonesia
DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT/HB(1) - CAMPAK DAN CAKUPAN IMUNISASI DPT/HB(1) - DPT/HB(3)
PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2011-2013
No Provinsi
Tahun
2011 2012 2013
Lampiran 5.27
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 103.971 417.778 89.818 86,39 292.099 69,92
2 Sumatera Utara 283.624 1.386.922 241.827 85,26 1.105.485 79,71
3 Sumatera Barat 102.664 398.524 90.510 88,16 273.925 68,73
4 Riau 131.002 622.514 109.071 83,26 426.701 68,54
5 Jambi 72.383 294.019 62.913 86,92 205.625 69,94
6 Sumatera Selatan 174.935 714.893 158.094 90,37 562.384 78,67
7 Bengkulu 34.620 132.982 31.462 90,88 99.795 75,04
8 Lampung 168.996 797.288 152.611 90,30 522.821 65,57
9 Kepulauan Bangka Belitung 27.698 110.996 26.356 95,15 77.212 69,56
10 Kepulauan Riau 58.281 184.300 18.487 31,72 46.502 25,23
11 DKI Jakarta 150.408 669.518 146.325 97,29 627.984 93,80
12 Jawa Barat 949.392 3.453.029 831.559 87,59 2.458.339 71,19
13 Jawa Tengah 572.255 2.195.357 546.991 95,59 1.823.780 83,07
14 DI Yogyakarta 45.436 200.936 41.279 90,85 171.713 85,46
15 Jawa Timur 598.967 2.473.615 573.576 95,76 1.941.686 78,50
16 Banten 217.382 1.071.144 204.988 94,30 589.570 55,04
17 Bali 67.137 297.400 64.714 96,39 261.651 87,98
18 Nusa Tenggara Barat 109.384 456.337 102.892 94,06 313.884 68,78
19 Nusa Tenggara Timur 114.888 503.428 79.714 69,38 365.830 72,67
20 Kalimantan Barat 96.934 406.856 78.155 80,63 230.147 56,57
21 Kalimantan Tengah 45.342 210.200 39.511 87,14 137.272 65,31
22 Kalimantan Selatan 72.758 349.022 47.776 65,66 135.099 38,71
23 Kalimantan Timur 80.224 456.693 61.270 76,37 207.152 45,36
24 Sulawesi Utara 44.066 203.123 39.657 89,99 142.048 69,93
25 Sulawesi Tengah 56.441 248.957 39.206 69,46 96.104 38,60
26 Sulawesi Selatan 152.999 775.192 139.204 90,98 521.978 67,34
27 Sulawesi Tenggara 52.284 212.671 46.816 89,54 118.854 55,89
28 Gorontalo 21.409 89.770 16.131 75,35 38.618 43,02
29 Sulawesi Barat 25.831 90.428 24.459 94,69 60.011 66,36
30 Maluku 38.387 178.910 28.060 73,10 130.156 72,75
31 Maluku Utara 24.172 99.882 19.304 79,86 62.034 62,11
32 Papua Barat 19.843 100.917 11.190 56,39 65.366 64,77
33 Papua 50.460 365.176 17.721 35,12 30.769 8,43
4.764.573 20.168.777 4.181.647 87,77 14.142.594 70,12
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah Bayi Jumlah Anak Balita
Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi
Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak
Balita
Lampiran 5.28
Lengkap Tidak Lengkap Tidak Imunisasi
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 38,3 41,9 19,8
2 Sumatera Utara 39,1 44,5 16,4
3 Sumatera Barat 39,7 46,9 13,4
4 Riau 52,2 31,9 15,8
5 Jambi 60,3 27,5 12,3
6 Sumatera Selatan 48,3 40,2 11,6
7 Bengkulu 62,1 33,0 4,9
8 Lampung 62,4 31,1 6,5
9 Kepulauan Bangka Belitung 67,7 27,3 5,1
10 Kepulauan Riau 71,6 23,2 5,3
11 DKI Jakarta 64,5 30,7 4,8
12 Jawa Barat 56,6 35,1 8,3
13 Jawa Tengah 76,9 19,5 3,5
14 DI Yogyakarta 83,1 15,7 1,1
15 Jawa Timur 74,5 21,7 3,7
16 Banten 45,8 43,9 10,4
17 Bali 80,8 18,0 1,2
18 Nusa Tenggara Barat 75,4 21,1 3,6
19 Nusa Tenggara Timur 50,3 40,2 9,6
20 Kalimantan Barat 47,4 38,3 14,2
21 Kalimantan Tengah 42,0 43,2 14,8
22 Kalimantan Selatan 52,0 33,9 14,0
23 Kalimantan Timur 65,9 26,3 7,8
24 Sulawesi Utara 60,9 36,7 2,3
25 Sulawesi Tengah 47,1 42,7 10,1
26 Sulawesi Selatan 49,5 41,7 8,7
27 Sulawesi Tenggara 47,3 41,8 10,9
28 Gorontalo 80,6 16,7 2,8
29 Sulawesi Barat 52,4 31,0 16,7
30 Maluku 29,7 48,6 21,7
31 Maluku Utara 42,6 46,8 10,6
32 Papua Barat 35,6 45,8 18,6
33 Papua 29,2 34,3 36,6
59,2 32,1 8,7
Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
PERSENTASE IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA ANAK UMUR 12-23 BULAN
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Kelengkapan Imunisasi Dasar
Lampiran 5.29
Jumlah Desa Desa UCI
%
Jumlah Desa Desa UCI
%
Jumlah Desa Desa UCI
%
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 6.451 4.020 62,32 6.497 4.508 69,39 6.489 4.622 71,23
2 Sumatera Utara 5.734 3.012 52,53 5.823 3.991 68,54 5.797 4.393 75,78
3 Sumatera Barat 3.760 3.256 86,60 3.827 3.483 91,01 3.959 2.817 71,15
4 Riau 1.647 1.123 68,18 1.681 1.146 68,17 1.655 1.327 80,18
5 Jambi 1.380 1.310 94,93 1.381 1.276 92,40 1.416 1.416 100,00
6 Sumatera Selatan 3.105 2.730 87,92 3.188 2.892 90,72 3.167 2.900 91,57
7 Bengkulu 1.347 1.077 79,96 1.504 1.217 80,92 1.508 1.334 88,46
8 Lampung 2.462 2.182 88,63 2.503 2.252 89,97 2.463 2.445 99,27
9 Kepulauan Bangka Belitung 359 322 89,69 367 349 95,10 366 354 96,72
10 Kepulauan Riau 351 277 78,92 356 284 79,78 353 250 70,82
11 DKI Jakarta 267 266 99,63 267 267 100,00 267 267 100,00
12 Jawa Barat 5.893 4.653 78,96 5.918 5.427 91,70 5.905 5.687 96,31
13 Jawa Tengah 8.573 8.254 96,28 8.555 8.454 98,82 8.577 8.503 99,14
14 DI Yogyakarta 438 438 100,00 438 438 100,00 438 438 100,00
15 Jawa Timur 8.507 4.645 54,60 8.515 7.298 85,71 8.503 7.215 84,85
16 Banten 1.535 1.189 77,46 1.542 1.343 87,09 1.535 1.259 82,02
17 Bali 716 679 94,83 716 675 94,27 716 689 96,23
18 Nusa Tenggara Barat 951 893 93,90 1.107 986 89,07 1.079 1.028 95,27
19 Nusa Tenggara Timur 2.832 2.051 72,42 2.952 2.150 72,83 2.893 2.248 77,70
20 Kalimantan Barat 1.896 1.342 70,78 1.973 1.387 70,30 1.967 1.370 69,65
21 Kalimantan Tengah 1.510 1.136 75,23 1.527 1.112 72,82 1.527 1.136 74,39
22 Kalimantan Selatan 1.981 1.416 71,48 1.979 1.330 67,21 2.000 1.628 81,40
23 Kalimantan Timur 1.438 947 65,86 1.348 879 65,21 1.465 1.097 74,88
24 Sulawesi Utara 1.673 1.243 74,30 1.708 1.247 73,01 1.691 1.414 83,62
25 Sulawesi Tengah 1.817 1.365 75,12 1.844 1.535 83,24 1.815 1.599 88,10
26 Sulawesi Selatan 2.960 2.507 84,70 2.984 2.598 87,06 2.982 2.720 91,21
27 Sulawesi Tenggara 2.092 1.492 71,32 2.136 1.627 76,17 2.154 1.217 56,50
28 Gorontalo 622 317 50,96 728 488 67,03 723 584 80,77
29 Sulawesi Barat 603 409 67,83 645 486 75,35 641 525 81,90
30 Maluku 955 718 75,18 1.090 774 71,01 998 733 73,45
31 Maluku Utara 1.066 670 62,85 1.073 752 70,08 1.071 817 76,28
32 Papua Barat 748 414 55,35 1.419 420 29,60 1.427 588 41,21
33 Papua 1.361 750 55,11 2.435 403 16,55 3.579 467 13,05
77.030 57.103 74,13 80.026 ########## 79,32 81.126 65.087 80,23
Sumber : Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Update sampai dengan 02 Mei 2014 sumber Subdit Imunisasi
Indonesia
CAKUPAN DESA/KELURAHANUNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT PROVINSI TAHUN 2011-2013
No Provinsi
Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013
Lampiran 5.30
Kelas 1
Campak
Kelas 1 DT Kelas 2 Kelas 3 Kelas 2+3 Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 106.543 106.543 100.896 93.695 194.591 95.919 90,0 96.159 90,3 91.846 91,0 86.093 91,9 177.939 91,4
2 Sumatera Utara 339.604 339.604 318.084 307.265 625.349 266.531 78,5 268.861 79,2 309.029 97,2 299.189 97,4 608.218 97,3
3 Sumatera Barat 117.127 120.353 115.738 116.468 232.206 108.901 93,0 111.093 92,3 108.558 93,8 108.164 92,9 216.722 93,3
4 Riau 150.009 150.009 139.295 136.533 275.828 134.208 89,5 135.499 90,3 124.729 89,5 123.876 90,7 248.605 90,1
5 Jambi 75.661 75.661 71.536 71.143 142.679 73.821 97,6 73.844 97,6 70.089 98,0 70.008 98,4 140.097 98,2
6 Sumatera Selatan 186.361 186.361 178.910 174.743 353.653 182.954 98,2 181.038 97,1 174.288 97,4 170.340 97,5 344.628 97,4
7 Bengkulu 42.121 41.777 40.322 39.703 80.025 40.547 96,3 38.228 91,5 37.391 92,7 37.277 93,9 74.668 93,3
8 Lampung 172.593 172.593 165.293 165.296 330.589 165.899 96,1 166.309 96,4 159.835 96,7 158.989 96,2 318.824 96,4
9 Kepulauan Bangka Belitung 29.445 27.887 25.972 25.407 51.379 28.812 97,9 26.947 91,5 24.555 94,5 23.067 90,8 47.622 92,7
10 Kepulauan Riau 40.921 40.921 38.290 37.360 75.650 35.554 86,9 36.121 88,3 32.973 86,1 32.491 87,0 65.464 86,5
11 DKI Jakarta 159.554 159.046 150.618 146.449 297.067 147.461 92,4 145.716 91,6 140.087 93,0 135.232 92,3 275.319 92,7
12 Jawa Barat 864.918 864.918 853.970 837.473 1.691.443 820.299 94,8 807.027 93,3 798.622 93,5 792.997 94,7 1.591.619 94,1
13 Jawa Tengah 597.815 582.800 581.424 569.425 1.150.849 591.339 98,9 577.149 99,0 571.334 98,3 571.334 100,3 1.142.668 99,3
14 DI Yogyakarta 50.352 50.234 50.140 48.625 98.765 49.701 98,7 49.324 98,2 49.405 98,5 47.943 98,6 97.348 98,6
15 Jawa Timur 643.549 643.549 631.745 659.504 1.291.249 630.596 98,0 629.959 97,9 619.117 98,0 644.547 97,7 1.263.664 97,9
16 Banten 235.082 219.564 222.854 218.227 441.081 223.183 94,9 207.945 94,7 183.554 82,4 207.265 95,0 390.819 88,6
17 Bali 72.088 72.088 69.053 69.692 138.745 71.391 99,0 71.334 99,0 68.301 98,9 68.986 99,0 137.287 98,9
18 Nusa Tenggara Barat 123.662 122.983 116.275 115.696 231.971 119.008 96,2 119.557 96,7 113.275 97,4 112.421 97,2 225.696 97,3
19 Nusa Tenggara Timur 153.610 153.610 134.028 134.028 272.430 131.321 85,5 126.380 82,3 105.442 78,7 105.442 78,7 212.996 78,2
20 Kalimantan Barat 119.626 119.626 108.700 105.583 214.283 108.448 90,7 113.204 94,6 104.145 95,8 103.781 98,3 207.926 97,0
21 Kalimantan Tengah 47.653 53.967 50.461 49.254 99.715 44.809 94,0 50.863 94,2 47.518 94,2 46.564 94,5 94.082 94,4
22 Kalimantan Selatan 82.979 82.655 78.632 78.632 157.264 80.054 96,5 79.058 95,6 73.263 93,2 73.263 93,2 146.525 93,2
23 Kalimantan Timur 93.299 93.299 85.397 82.706 168.103 81.585 87,4 83.503 89,5 76.128 89,1 74.193 89,7 150.321 89,4
24 Sulawesi Utara 48.890 48.890 47.422 48.234 95.656 39.360 80,5 39.434 80,7 38.000 80,1 38.179 79,2 76.179 79,6
25 Sulawesi Tengah 62.334 62.334 59.635 59.050 118.685 59.935 96,2 57.628 92,5 56.224 94,3 55.854 94,6 112.078 94,4
26 Sulawesi Selatan 180.187 180.187 173.707 173.837 347.544 163.629 90,8 173.797 96,5 167.707 96,5 168.334 96,8 336.041 96,7
27 Sulawesi Tenggara 61.018 61.018 60.484 59.310 119.794 55.979 91,7 55.626 91,2 55.445 91,7 52.253 88,1 107.698 89,9
28 Gorontalo 27.490 27.490 26.028 25.488 51.516 21.839 79,4 25.981 94,5 25.074 96,3 24.282 95,3 49.356 95,8
29 Sulawesi Barat 30.217 30.217 29.487 30.205 59.692 28.052 92,8 27.596 91,3 27.730 94,0 28.000 92,7 55.730 93,4
30 Maluku 31.660 31.660 20.754 21.512 42.266 24.193 76,4 26.931 85,1 16.755 80,7 17.204 80,0 33.959 80,3
31 Maluku Utara 30.242 30.242 28.247 27.624 55.871 28.123 93,0 28.191 93,2 26.399 93,5 25.851 93,6 52.250 93,5
32 Papua Barat 16.329 16.329 15.022 14.219 29.241 13.399 82,1 14.349 87,9 11.612 77,3 6.961 49,0 18.573 63,5
33 Papua 20.147 20.147 17.952 17.267 35.219 14.973 74,3 20.788 103,2 17.180 95,7 15.923 92,2 33.103 94,0
5.013.086 4.988.562 4.806.370,5 4.759.653 9.570.398 4.681.823 93,4 4.665.439 93,1 4.525.610 94,2 4.526.303 95,1 9.054.024 94,6
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Update sampai dengan 02 Mei 2014
Indonesia
CAKUPAN IMUNISASI ANAK SEKOLAH MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Sasaran (Siswa SD/Sederajat) Campak (Kelas 1) DT (Kelas 1) Td (Kelas 2) Td (Kelas 3) Td (Kelas 2+3)
Lampiran 5.31
Jumlah Bayi 6-11
Bulan
Dapat Vitamin A %
Jumlah Anak
Balita 12-59 Bulan
Dapat Vitamin A %
Jumlah Balita 6-
59 Bulan
Dapat Vitamin A %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 108.836 95.078 87,4 355.084 325.237 91,6 463.920 420.315 90,6
2 Sumatera Utara 237.762 193.875 81,5 697.034 560.328 80,4 934.796 754.203 80,7
3 Sumatera Barat 102.654 101.052 98,4 405.915 340.200 83,8 508.569 441.252 86,8
4 Riau 142.322 134.783 94,7 559.651 469.041 83,8 701.973 603.824 86,0
5 Jambi 74.498 65.123 87,4 254.822 215.146 84,4 329.320 280.269 85,1
6 Sumatera Selatan 174.920 152.312 87,1 672.719 573.574 85,3 847.639 725.886 85,6
7 Bengkulu 38.939 34.712 89,1 114.731 102.045 88,9 153.670 136.757 89,0
8 Lampung 159.072 139.017 87,4 612.511 423.929 69,2 771.583 562.946 73,0
9 Kepulauan Bangka Belitung 28.080 26.286 93,6 105.486 92.666 87,8 133.566 118.952 89,1
10 Kepulauan Riau 51.445 41.310 80,3 194.043 150.464 77,5 245.488 191.774 78,1
11 DKI Jakarta 174.263 135.800 77,9 669.518 451.544 67,4 843.781 587.344 69,6
12 Jawa Barat 1.011.320 834.899 82,6 3.329.829 2.717.658 81,6 4.341.149 3.552.557 81,8
13 Jawa Tengah 309.289 307.776 99,5 1.993.754 1.963.180 98,5 2.303.043 2.270.956 98,6
14 DI Yogyakarta 46.022 45.485 98,8 179.340 177.360 98,9 225.362 222.845 98,9
15 Jawa Timur 898.435 844.054 93,9 2.473.597 1.989.013 80,4 3.372.032 2.833.067 84,0
16 Banten 227.588 211.990 93,1 856.002 726.669 84,9 1.083.590 938.659 86,6
17 Bali 55.601 56.116 100,9 194.304 185.768 95,6 249.905 241.884 96,8
18 Nusa Tenggara Barat 133.198 110.305 82,8 366.163 352.282 96,2 499.361 462.587 92,6
19 Nusa Tenggara Timur 109.130 94.676 86,8 327.847 277.502 84,6 436.977 372.178 85,2
20 Kalimantan Barat 94.721 72.849 76,9 390.736 312.964 80,1 485.457 385.813 79,5
21 Kalimantan Tengah 43.852 39.613 90,3 138.575 114.944 82,9 182.427 154.557 84,7
22 Kalimantan Selatan 62.110 57.143 92,0 289.109 250.019 95,9 351.219 307.162 87,5
23 Kalimantan Timur 82.245 63.773 77,5 435.639 267.552 61,4 517.884 331.325 64,0
24 Sulawesi Utara 52.848 47.449 89,8 140.103 124.756 89,0 192.951 172.205 89,2
25 Sulawesi Tengah 45.945 37.797 82,3 143.756 118.373 82,3 189.701 156.170 82,3
26 Sulawesi Selatan 157.743 145.986 92,5 602.663 524.405 87,0 760.406 670.391 88,2
27 Sulawesi Tenggara 53.303 45.822 86,0 200.444 163.570 81,6 253.747 209.392 82,5
28 Gorontalo 24.285 19.073 78,5 78.628 64.043 81,5 102.913 83.116 80,8
29 Sulawesi Barat 26.799 21.137 78,9 96.258 77.012 80,0 123.057 98.149 79,8
30 Maluku - - - - - - 274.230 172.531 62,9
31 Maluku Utara 19.619 16.764 85,4 76.791 61.007 79,4 96.410 77.771 80,7
32 Papua Barat 9.639 10.071 104,5 57.705 24.071 41,7 67.344 34.142 50,7
33 Papua - - - - - 0,0 200.598 92.116 45,9
4.756.483 4.202.126 88,3 17.012.757 14.196.322 83,4 22.244.068 18.663.095 83,9
Sumber: Ditjen. Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA 6 - 59 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Vitamin A Bayi 6-11 Bulan Vitamin A Anak Balita 12-59 Bulan Vitamin A Balita 6-59 Bulan
Lampiran 5.32
PERSENTASE ANAK UMUR 6-59 BULAN YANG MENERIMA KAPSUL VITAMIN A
SELAMA ENAM BULAN TERAKHIR MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
(1) (2) (3)
1 Aceh 73,8
2 Sumatera Utara 52,3
3 Sumatera Barat 70,9
4 Riau 60,8
5 Jambi 74,5
6 Sumatera Selatan 66,0
7 Bengkulu 73,8
8 Lampung 73,6
9 Kepulauan Bangka Belitung 69,2
10 Kepulauan Riau 68,8
11 DKI Jakarta 74,5
12 Jawa Barat 81,6
13 Jawa Tengah 84,0
14 DI Yogyakarta 84,4
15 Jawa Timur 83,4
16 Banten 74,1
17 Bali 76,0
18 Nusa Tenggara Barat 89,2
19 Nusa Tenggara Timur 72,0
20 Kalimantan Barat 67,5
21 Kalimantan Tengah 65,4
22 Kalimantan Selatan 72,9
23 Kalimantan Timur 80,3
24 Sulawesi Utara 80,9
25 Sulawesi Tengah 69,3
26 Sulawesi Selatan 67,9
27 Sulawesi Tenggara 73,3
28 Gorontalo 83,4
29 Sulawesi Barat 59,6
30 Maluku 64,8
31 Maluku Utara 64,6
32 Papua Barat 64,4
33 Papua 53,1
75,5
Sumber : Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
No Provinsi Menerima kapsul vitamin A (%)
Lampiran 5.33
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 67.381 32.856 48,8
2 Sumatera Utara 68.909 28.434 41,3
3 Sumatera Barat 33.623 23.168 68,9
4 Riau 98.455 55.039 55,9
5 Jambi 31.747 16.292 51,3
6 Sumatera Selatan 91.256 58.330 63,9
7 Bengkulu 26.363 19.639 74,5
8 Lampung 103.360 61.402 59,4
9 Kepulauan Bangka Belitung 17.294 8.778 50,8
10 Kepulauan Riau 12.420 6.530 52,6
11 DKI Jakarta 27.264 17.103 62,7
12 Jawa Barat 579.593 195.045 33,7
16 Jawa Tengah 294.312 171.780 58,4
13 DI Yogyakarta 13.669 9.288 67,9
14 Jawa Timur 352.603 249.745 70,8
15 Banten 111.292 53.289 47,9
17 Bali 30.210 20.934 69,3
18 Nusa Tenggara Barat 93.782 74.786 79,7
19 Nusa Tenggara Timur 68.130 50.669 74,4
20 Kalimantan Barat 51.584 24.411 47,3
21 Kalimantan Tengah 17.755 7.702 43,4
22 Kalimantan Selatan 19.005 11.161 58,7
23 Kalimantan Timur 19.105 11.249 58,9
24 Sulawesi Utara 18.597 6.448 34,7
25 Sulawesi Tengah 14.531 9.051 62,3
26 Sulawesi Selatan 78.815 52.425 66,5
27 Sulawesi Tenggara 21.628 12.115 56,0
28 Gorontalo 7.310 3.953 54,1
29 Sulawesi Barat 33.416 22.051 66,0
30 Maluku 13.224 3.334 25,2
31 Maluku Utara 5.103 3.202 62,7
32 Papua Barat 11.611 6.212 53,5
33 Papua 50.138 23.128 46,1
2.483.485 1.349.549 54,3
Sumber: Ditjen. Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014 (06 Februari 2014)
Indonesia
CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Bayi 0-6 Bulan Eksklusif Persentase Mendapat ASI Eksklusif
Lampiran 5.34
Jumlah Cakupan (%)
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 462.762 407.942 88,15
2 Sumatera Utara 1.390.962 1.149.210 82,62
3 Sumatera Barat 482.641 419.070 86,83
4 Riau 688.164 443.987 64,52
5 Jambi 295.262 246.114 83,35
6 Sumatera Selatan 806.088 634.886 78,76
7 Bengkulu 154.235 128.276 83,17
8 Lampung 790.492 646.733 81,81
9 Kepulauan Bangka Belitung 133.444 94.273 70,65
10 Kepulauan Riau 235.205 187.334 79,65
11 DKI Jakarta 832.437 452.559 54,37
12 Jawa Barat 4.279.221 3.444.689 80,50
13 Jawa Tengah 2.543.956 2.275.054 89,43
14 DI Yogyakarta 208.857 171.128 81,94
15 Jawa Timur 3.000.292 2.651.031 88,36
16 Banten 862.394 748.920 86,84
17 Bali 227.931 192.227 84,34
18 Nusa Tenggara Barat 468.869 399.965 85,30
19 Nusa Tenggara Timur 463.474 364.108 78,56
20 Kalimantan Barat 453.838 286.722 63,18
21 Kalimantan Tengah 163.512 112.665 68,90
22 Kalimantan Selatan 345.502 259.571 75,13
23 Kalimantan Timur 329.207 215.188 65,37
24 Sulawesi Utara 168.996 142.382 84,25
25 Sulawesi Tengah 429.540 325.749 75,84
26 Sulawesi Selatan 748.425 604.074 80,71
27 Sulawesi Tenggara 219.000 180.941 82,62
28 Gorontalo 98.451 87.055 88,42
29 Sulawesi Barat 115.972 97.428 84,01
30 Maluku 204.300 150.139 73,49
31 Maluku Utara 113.531 77.096 67,91
32 Papua Barat 68.107 38.478 56,50
33 Papua 339.964 132.067 38,85
22.125.031 17.767.061 80,30
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014 (03 Februari 2014)
Indonesia
CAKUPAN BALITA DITIMBANG
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah Balita
Balita Ditimbang (D/S)
Lampiran 5.35
Kasus Gizi Buruk Ditemukan Kasus Gizi Buruk Dirawat %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 807 807 100
2 Sumatera Utara 3.088 3.088 100
3 Sumatera Barat 747 747 100
4 Riau 119 119 100
5 Jambi 184 184 100
6 Sumatera Selatan 201 201 100
7 Bengkulu 135 135 100
8 Lampung 175 175 100
9 Kepulauan Bangka Belitung 114 114 100
10 Kepulauan Riau 223 223 100
11 DKI Jakarta 1.254 1.254 100
12 Jawa Barat 4.898 4.898 100
13 Jawa Tengah 5.540 5.540 100
14 DI Yogyakarta 397 397 100
15 Jawa Timur 7.965 7.965 100
16 Banten 3.102 3.102 100
17 Bali 96 96 100
18 Nusa Tenggara Barat 591 591 100
19 Nusa Tenggara Timur 4.038 4.038 100
20 Kalimantan Barat 310 310 100
21 Kalimantan Tengah 63 63 100
22 Kalimantan Selatan 132 132 100
23 Kalimantan Timur 392 392 100
24 Sulawesi Utara 75 75 100
25 Sulawesi Tengah 310 310 100
26 Sulawesi Selatan 317 317 100
27 Sulawesi Tenggara 340 340 100
28 Gorontalo 587 587 100
29 Sulawesi Barat 246 246 100
30 Maluku 223 223 100
31 Maluku Utara 328 328 100
32 Papua Barat 1.379 1.379 100
33 Papua 2.379 2.379 100
40.755 40.755 100
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014 (Update: 03 Februari 2014)
Indonesia
KASUS GIZI BURUK PADA BALITA DITEMUKAN DAN MENDAPAT PERAWATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Kasus Gizi Buruk Mendapat Perawatan
Lampiran 5.36
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 38 18 78,26
2 Sumatera Utara 130 13 81,82
3 Sumatera Barat 47 15 78,95
4 Riau 22 11 91,67
5 Jambi 33 11 100,00
6 Sumatera Selatan 33 15 100,00
7 Bengkulu 29 6 60,00
8 Lampung 35 13 92,86
9 Kepulauan Bangka Belitung 20 7 100,00
10 Kepulauan Riau 22 4 57,14
11 DKI Jakarta 12 6 100,00
12 Jawa Barat 108 23 88,46
13 Jawa Tengah 141 30 85,71
14 DI Yogyakarta 28 5 100,00
15 Jawa Timur 145 22 52,63
16 Banten 104 8 100,00
17 Bali 18 9 100,00
18 Nusa Tenggara Barat 20 10 100,00
19 Nusa Tenggara Timur 96 19 90,48
20 Kalimantan Barat 91 10 71,43
21 Kalimantan Tengah 17 3 21,43
22 Kalimantan Selatan 26 13 100,00
23 Kalimantan Timur 37 14 100,00
24 Sulawesi Utara 41 15 100,00
25 Sulawesi Tengah 22 9 81,82
26 Sulawesi Selatan 18 18 75,00
27 Sulawesi Tenggara 28 12 100,00
28 Gorontalo 10 5 83,33
29 Sulawesi Barat 8 3 60,00
30 Maluku 74 11 100,00
31 Maluku Utara 14 5 55,56
32 Papua Barat 40 11 100,00
33 Papua 19 5 17,24
1.526 379 76,26
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA
DENGAN MINIMAL 2 PUSKESMAS MAMPU TATALAKSANA KASUS KEKERASAN TERHADAP ANAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Jumlah Kabupaten/Kota dengan
Minimal 2 Puskesmas Mampu
Tatalaksana Kasus Kekerasasan
terhadap Anak
Persentase Kabupaten/Kota dengan
Minimal 2 Puskesmas Mampu
Tatalaksana Kasus Kekerasasan
terhadap Anak
Indonesia
No Provinsi
Jumlah Puskesmas dengan Tatalaksana
Kasus Kekerasasan terhadap Anak
Lampiran 5.37
No Provinsi
Jumlah
Kabupaten/Kota
Jumlah Puskesmas
Mampu PKPR
Jumlah
Kabupaten/Kota
dengan PKPR
Persentase
Kabupaten/Kota
dengan PKPR
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 23 114 23 100,00
2 Sumatera Utara 33 241 33 100,00
3 Sumatera Barat 19 89 19 100,00
4 Riau 12 80 9 75,00
5 Jambi 11 54 10 90,91
6 Sumatera Selatan 15 122 15 100,00
7 Bengkulu 10 47 8 80,00
8 Lampung 14 53 9 64,29
9 Kepulauan Bangka Belitung 7 32 6 85,71
10 Kepulauan Riau 7 26 5 71,43
11 DKI Jakarta 6 22 5 83,33
12 Jawa Barat 26 459 23 88,46
13 Jawa Tengah 35 231 31 88,57
14 DI Yogyakarta 5 76 5 100,00
15 Jawa Timur 38 273 37 92,11
16 Banten 8 189 8 100,00
17 Bali 9 50 9 100,00
18 Nusa Tenggara Barat 10 40 10 100,00
19 Nusa Tenggara Timur 21 150 19 90,48
20 Kalimantan Barat 14 124 13 92,86
21 Kalimantan Tengah 14 18 1 7,14
22 Kalimantan Selatan 13 52 13 100,00
23 Kalimantan Timur 14 55 10 71,43
24 Sulawesi Utara 15 77 13 80,00
25 Sulawesi Tengah 11 41 9 81,82
26 Sulawesi Selatan 24 81 15 62,50
27 Sulawesi Tenggara 12 48 12 100,00
28 Gorontalo 6 23 6 83,33
29 Sulawesi Barat 5 29 5 100,00
30 Maluku 11 93 7 63,64
31 Maluku Utara 9 22 4 44,44
32 Papua Barat 11 41 9 81,82
33 Papua 29 25 5 17,24
497 3.077 406 81,69
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA
DENGAN MINIMAL 4 PUSKESMAS MAMPU LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Lampiran 5.38
Jumlah Persentase (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 83 2 2,41 111
2 Sumatera Utara 28 13 46,43 21
3 Sumatera Barat 68 68 100,00 102
4 Riau 51 31 60,78 68
5 Jambi 48 48 100,00 48
6 Sumatera Selatan 63 45 71,43 125
7 Bengkulu 22 13 59,09 28
8 Lampung 57 30 52,63 60
9 Kepulauan Bangka Belitung 11 9 81,82 16
10 Kepulauan Riau 19 19 100,00 52
11 DKI Jakarta 33 31 93,94 80
12 Jawa Barat 100 100 100,00 117
13 Jawa Tengah 25 25 100,00 33
14 DI Yogyakarta 28 28 100,00 66
15 Jawa Timur 415 324 78,07 993
16 Banten 19 19 100,00 23
17 Bali 27 27 100,00 60
18 Nusa Tenggara Barat 85 59 69,41 237
19 Nusa Tenggara Timur 90 17 18,89 180
20 Kalimantan Barat 54 53 98,15 115
21 Kalimantan Tengah 25 25 100,00 44
22 Kalimantan Selatan 44 44 100,00 84
23 Kalimantan Timur 37 37 100,00 50
24 Sulawesi Utara 23 20 86,96 33
25 Sulawesi Tengah 11 11 100,00 18
26 Sulawesi Selatan 140 67 47,86 291
27 Sulawesi Tenggara 48 48 100,00 73
28 Gorontalo 16 16 100,00 22
29 Sulawesi Barat 15 15 100,00 14
30 Maluku 20 16 80,00 36
31 Maluku Utara 17 10 58,82 21
32 Papua Barat 2 - ,00 3
33 Papua 27 - ,00 124
1.751 1.270 72,53 3.348
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKUKAN PEMBINAAN KESEHATAN ANAK
DI PANTI ANAK TERLANTAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Puskesmas Memiliki
Panti Anak Terlantar
Puskesmas Membina Panti Anak Terlantar
Jumlah Seluruh Panti di
Wilayah Kerja
Lampiran 5.39
Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 3.932 2.738 70
2 Sumatera Utara 6.305 4.109 65
3 Sumatera Barat 4.193 4.060 97
4 Riau 3.483 3.308 95
5 Jambi 2.646 2.354 89
6 Sumatera Selatan 4.729 1.210 26
7 Bengkulu 1.308 1.128 86
8 Lampung 5.294 4.304 81
9 Kepulauan Bangka Belitung 813 810 100
10 Kepulauan Riau 720 665 92
11 DKI Jakarta 3.434 3.402 99
12 Jawa Barat 13.924 4.410 32
13 Jawa Tengah 22.744 20.750 91
14 DI Yogyakarta 2.016 2.016 100
15 Jawa Timur 24.283 22.771 94
16 Banten 4.082 3.715 91
17 Bali 2.483 2.483 100
18 Nusa Tenggara Barat 3.690 3.385 92
19 Nusa Tenggara Timur 2.976 530 18
20 Kalimantan Barat 4.328 2.048 47
21 Kalimantan Tengah 2.528 1.208 48
22 Kalimantan Selatan 3.472 2.067 60
23 Kalimantan Timur 2.145 1.580 74
24 Sulawesi Utara 2.155 1.816 84
25 Sulawesi Tengah 2.819 1.539 55
26 Sulawesi Selatan 6.603 5.562 84
27 Sulawesi Tenggara 2.369 2.066 87
28 Gorontalo 1.052 952 90
29 Sulawesi Barat 1.265 554 44
30 Maluku 1.644 225 14
31 Maluku Utara 1.192 577 48
32 Papua Barat 751 312 42
33 Papua 2.151 384 18
147.529 109.038 74
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
CAKUPAN SEKOLAH DASAR (SD) YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN SISWA SD/MI KELAS 1
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah SD/MI
Cakupan SD/MI Melaksanakan Penjaringan Siswa SD/MI Kelas
1
Lampiran 5.40
No Provinsi Kabupaten/Kota Puskesmas Lapas/Rutan Anak
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh Kota Banda Aceh Puskesmas Lhoknga Lapas Lhoknga
2 Sumatera Utara Kota Medan Puskesmas Helvetia Lapas anak Medan
3 Sumatera Barat Kab. Lima Puluh Koto Puskesmas Tanjung Pati Lapas anak Tanjung Pati
4 Riau Kota Pekanbaru Puskesmas Harapan Raya Lapas Anak Riau
5 Jambi Kab. Batang hari Puskesmas Muara Bulian Lapas Anak Muara Bulian
6 Sumatera Selatan Kota Palembang Puskesmas Pakjo Lapas anak Palembang
7 Bengkulu Kab Rejang Lebong Puskesmas Curup Lapas Rejang Lebong
8 Lampung Kab. Lampung Utara Puskesmas Kotabumi Lapas anak Kotabumi
9 Kepulauan Riau Kota Batam Puskesmas Sei Lekop Lapas Barelang
10 DKI Jakarta Jakarta Timur Puskesmas Duren Sawit Rutan Pondok Bambu
11 Jawa Barat Kota Bandung Puskesmas Ibrahim Rutan Kebon Waru
12 Jawa Tengah Kabupaten Purworejo Puskesmas Kutoarjo Lapas anak Kutoarjo
13 Jawa Timur Kota Blitar Puskesmas Sananwetan Lapas Anak Blitar
14 Banten Kota Tangerang Puskesmas Tanah Tinggi Lapas Anak Banten
15 Bali Kab. Karang Asem Puskesmas Karang Asem Lapas Anak Gianyar
16 Nusa Tenggara Barat Kab Lombok Tengah Puskesmas Aik Darek Lapas Anak Mataram
17 Nusa Tenggara Timur Kota Kupang Puskesmas Oesapa Lapas Anak Kupang
18 Kalimantan Barat Kab. Kubu Raya Puskesmas Sui Dalam Lapas Anak Sungai Raya
19 Kalimantan Selatan Kab. Banjar Puskesmas Pelambuan Lapas Anak Martapura
20 Sulawesi Utara Kota Tomohon Puskesmas Matani Lapas Anak Tomohon
21 Sulawesi Selatan Kota Pare-Pare Puskesmas Lompoe Lapas Anak Pare Pare
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
- - -
PUSKESMAS MEMBINA LAPAS/RUTAN ANAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Lampiran 5.41
No Provinsi
Jumlah Kabupaten/Kota Membina
Kesehatan Anak Penyandang Cacat
melalui program UKS di SLB
Jumlah Puskesmas Membina
Kesehatan Anak Penyandang Cacat
melalui program UKS di SLB
(1) (2) (3) (4)
1 Sumatera Utara 8 8
2 Sumatera Barat 18 95
3 Riau 7 10
4 Jambi 1 1
5 Sumatera Selatan 11 16
6 Lampung 3 4
7 Kepulauan Bangka Belitung 7 7
8 Kepulauan Riau 2 2
9 DKI Jakarta 5 5
10 Jawa Barat 22 144
11 Jawa Tengah 18 18
12 D I Yogyakarta 5 44
13 Jawa Timur 38 38
14 Banten 5 6
15 Bali 9 12
16 Nusa Tenggara Barat 5 8
17 Kalimantan Barat 8 10
18 Kalimantan Selatan 4 7
19 Kalimantan Timur 13 26
20 Sulawesi Utara 1 1
21 Sulawesi Selatan 23 28
22 Gorontalo 6 8
219 498
Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2014
PUSKESMAS MEMBINA KESEHATAN ANAK PENYANDANG CACAT
MELALUI PROGRAM UKS DI SEKOLAH LUAR BIASA SAMPAI DENGAN TAHUN 2013
Indonesia
Lampiran 5.42
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 7,9 18,4 70,7 2,9
2 Sumatera Utara 8,3 14,1 72,8 4,8
3 Sumatera Barat 6,9 14,3 76,0 2,8
4 Riau 9,0 13,5 70,8 6,7
5 Jambi 5,7 14,0 75,6 4,8
6 Sumatera Selatan 6,3 12,0 74,5 7,2
7 Bengkulu 6,0 12,7 73,3 8,0
8 Lampung 6,9 11,9 73,7 7,6
9 Kepulauan Bangka Belitung 2,8 12,3 80,4 4,6
10 Kepulauan Riau 4,0 11,6 81,7 2,6
11 DKI Jakarta 2,8 11,2 78,5 7,5
12 Jawa Barat 4,4 11,3 79,9 4,3
13 Jawa Tengah 4,1 13,5 78,9 3,5
14 DI Yogyakarta 4,0 12,2 80,3 3,5
15 Jawa Timur 4,9 14,2 76,7 4,1
16 Banten 4,3 12,9 78,1 4,7
17 Bali 3,0 10,2 81,4 5,5
18 Nusa Tenggara Barat 6,3 19,4 71,5 2,8
19 Nusa Tenggara Timur 11,5 21,5 64,4 2,5
20 Kalimantan Barat 10,3 16,2 68,5 5,0
21 Kalimantan Tengah 6,6 16,7 72,3 4,4
22 Kalimantan Selatan 8,2 19,2 69,2 3,4
23 Kalimantan Timur 3,9 12,7 77,6 5,8
24 Sulawesi Utara 3,7 12,8 79,0 4,5
25 Sulawesi Tengah 6,6 17,5 73,5 2,5
26 Sulawesi Selatan 6,6 19,0 71,5 2,9
27 Sulawesi Tenggara 8,0 15,9 72,2 3,9
28 Gorontalo 6,9 19,2 70,9 3,0
29 Sulawesi Barat 7,0 22,1 66,9 4,0
30 Maluku 10,5 17,8 67,2 4,5
31 Maluku Utara 9,2 15,7 71,7 3,4
32 Papua Barat 11,9 19,0 66,2 2,9
33 Papua 9,2 12,6 71,9 6,3
5,7 13,9 75,9 4,5
Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U)
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
Gizi Buruk (%) Gizi Kurang (%) Gizi Baik (%) Gizi Lebih (%)
Status Gizi Menurut BB/U
Lampiran 5.43
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 20,1 21,4 58,5
2 Sumatera Utara 22,7 19,8 57,5
3 Sumatera Barat 18,4 20,8 60,8
4 Riau 20,0 16,8 63,2
5 Jambi 19,0 18,9 62,1
6 Sumatera Selatan 19,9 16,8 63,3
7 Bengkulu 22,5 17,2 60,3
8 Lampung 27,6 15,0 57,4
9 Kepulauan Bangka Belitung 12,6 16,1 71,3
10 Kepulauan Riau 10,0 16,3 73,7
11 DKI Jakarta 12,1 15,4 72,5
12 Jawa Barat 16,9 18,4 64,7
13 Jawa Tengah 16,8 19,9 63,2
14 DI Yogyakarta 8,2 19,1 72,8
15 Jawa Timur 16,8 19,0 64,2
16 Banten 16,4 16,6 67,0
17 Bali 13,1 19,5 67,5
18 Nusa Tenggara Barat 20,5 24,7 54,7
19 Nusa Tenggara Timur 26,2 25,5 48,3
20 Kalimantan Barat 22,5 16,1 61,4
21 Kalimantan Tengah 18,4 22,9 58,7
22 Kalimantan Selatan 20,4 23,8 55,8
23 Kalimantan Timur 11,8 15,8 72,5
24 Sulawesi Utara 17,0 17,8 65,2
25 Sulawesi Tengah 17,7 23,3 58,9
26 Sulawesi Selatan 16,4 24,5 59,1
27 Sulawesi Tenggara 21,2 21,4 57,4
28 Gorontalo 14,7 24,2 61,1
29 Sulawesi Barat 22,3 25,7 52,0
30 Maluku 20,4 20,2 59,4
31 Maluku Utara 18,3 22,8 59,0
32 Papua Barat 21,9 22,8 55,4
33 Papua 25,0 15,1 59,9
18,0 19,2 62,8
Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas 2013
Indonesia
PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN TINGGI BADAN MENURUT UMUR (TB/U)
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
Status Gizi Menurut TB/U
Sangat Pendek (%) Pendek (%) Normal (%)
Lampiran 5.44
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 6,1 9,6 74,5 9,8
2 Sumatera Utara 7,5 7,4 72,2 12,8
3 Sumatera Barat 5,2 7,4 77,3 10,1
4 Riau 6,9 8,7 70,2 14,3
5 Jambi 5,8 7,7 73,3 13,1
6 Sumatera Selatan 5,9 6,4 70,9 16,7
7 Bengkulu 6,9 7,9 68,7 16,4
8 Lampung 5,6 6,2 66,8 21,4
9 Kepulauan Bangka Belitung 4,0 6,2 76,1 13,6
10 Kepulauan Riau 6,0 6,3 78,7 8,9
11 DKI Jakarta 4,4 5,8 78,1 11,7
12 Jawa Barat 5,0 5,9 77,3 11,8
13 Jawa Tengah 4,5 6,6 76,9 12,0
14 DI Yogyakarta 4,7 4,7 80,2 10,3
15 Jawa Timur 4,4 7,0 76,9 11,8
16 Banten 6,5 7,3 74,4 11,8
17 Bali 3,4 5,4 78,6 12,6
18 Nusa Tenggara Barat 5,2 6,7 79,7 8,5
19 Nusa Tenggara Timur 7,4 8,1 76,6 8,0
20 Kalimantan Barat 10,4 8,3 68,9 12,5
21 Kalimantan Tengah 5,4 7,0 76,7 10,9
22 Kalimantan Selatan 4,5 8,3 77,4 9,9
23 Kalimantan Timur 3,9 7,7 75,9 12,6
24 Sulawesi Utara 3,4 6,5 79,6 10,5
25 Sulawesi Tengah 3,6 5,8 82,1 8,5
26 Sulawesi Selatan 3,8 7,2 82,2 6,8
27 Sulawesi Tenggara 5,9 5,5 79,0 9,6
28 Gorontalo 5,6 6,1 81,4 6,9
29 Sulawesi Barat 4,6 6,2 81,3 7,9
30 Maluku 6,1 10,1 77,4 6,4
31 Maluku Utara 3,9 8,3 80,5 7,3
32 Papua Barat 6,2 9,2 77,1 7,5
33 Papua 8,0 6,8 70,2 15,0
5,3 6,8 76,1 11,8
Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas 2013
Indonesia
PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN (BB/TB)
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
Status Gizi Menurut BB/TB
Sangat Kurus (%) Kurus (%) Normal (%) Gemuk (%)
Lampiran 5.45
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 4,13 31,00 6,16 11,54 43,48 3,69
2 Sumatera Utara 3,51 30,00 8,34 11,41 42,22 4,51
3 Sumatera Barat 2,23 30,18 7,00 10,36 47,09 3,13
4 Riau 3,58 25,19 7,88 11,97 44,97 6,41
5 Jambi 3,16 25,22 8,27 10,42 48,05 4,88
6 Sumatera Selatan 2,24 23,73 9,89 10,13 47,18 6,83
7 Bengkulu 2,00 26,08 9,87 12,84 42,66 6,55
8 Lampung 2,46 26,31 12,60 9,38 40,45 8,79
9 Kepulauan Bangka Belitung 2,40 20,79 5,79 7,84 55,36 7,83
10 Kepulauan Riau 0,98 20,29 4,45 11,33 58,46 4,49
11 DKI Jakarta 1,06 20,56 4,49 9,13 57,57 7,18
12 Jawa Barat 1,98 26,35 6,65 8,91 50,93 5,18
13 Jawa Tengah 1,80 27,02 7,28 9,30 49,85 4,75
14 DI Yogyakarta 1,81 22,23 2,89 7,67 57,99 7,41
15 Jawa Timur 2,45 26,55 6,18 8,95 50,30 5,57
16 Banten 1,93 23,46 6,84 11,85 50,91 5,00
17 Bali 1,58 24,10 6,18 7,25 54,46 6,42
18 Nusa Tenggara Barat 2,96 36,88 5,32 8,91 42,77 3,15
19 Nusa Tenggara Timur 5,25 41,35 5,93 10,19 35,24 2,04
20 Kalimantan Barat 3,51 27,27 7,50 15,15 41,61 4,96
21 Kalimantan Tengah 3,31 30,73 7,42 9,06 45,98 3,51
22 Kalimantan Selatan 5,08 33,29 5,42 7,68 44,09 4,43
23 Kalimantan Timur 2,12 19,08 5,31 9,41 56,84 7,25
24 Sulawesi Utara 2,25 25,94 5,98 7,67 53,67 4,48
25 Sulawesi Tengah 2,55 32,91 5,35 6,82 49,23 3,14
26 Sulawesi Selatan 3,11 34,11 3,54 7,89 48,06 3,29
27 Sulawesi Tenggara 3,44 32,58 6,66 7,98 46,42 2,92
28 Gorontalo 3,18 32,18 3,65 8,52 49,26 3,21
29 Sulawesi Barat 2,54 40,91 4,47 8,26 40,41 3,41
30 Maluku 5,60 30,34 4,13 10,58 47,08 2,27
31 Maluku Utara 4,33 31,90 4,95 7,83 48,62 2,37
32 Papua Barat 5,73 33,65 5,25 9,70 43,44 2,23
33 Papua 2,71 27,03 9,80 12,10 43,18 5,19
2,53 27,46 6,70 9,59 48,66 5,06
Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN TINGGI BADAN MENURUT UMUR DAN
BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN (TB/U DAN BB/TB) MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
Status Gizi Menurut TB/U dan BB/TB
Pendek-Kurus
(%)
Pendek-Normal
(%)
Pendek-Gemuk
(%)
Normal-Kurus
(%)
Normal-Normal
(%)
Normal-Gemuk
(%)
Lampiran 5.46
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 11,07 61,08 11,57 16,28
2 Sumatera Utara 6,46 62,47 12,97 18,09
3 Sumatera Barat 11,84 64,62 10,08 13,46
4 Riau 8,89 65,39 12,05 13,68
5 Jambi 10,42 66,84 10,42 12,32
6 Sumatera Selatan 11,08 68,14 9,86 10,92
7 Bengkulu 8,77 67,53 10,84 12,86
8 Lampung 8,41 73,08 9,80 8,72
9 Kepulauan Bangka Belitung 9,20 60,34 12,50 17,96
10 Kepulauan Riau 8,58 60,94 12,30 18,18
11 DKI Jakarta 9,28 55,85 14,03 20,84
12 Jawa Barat 10,97 62,09 11,75 15,19
13 Jawa Tengah 12,22 64,20 10,77 12,81
14 DI Yogyakarta 15,15 58,26 10,82 15,76
15 Jawa Timur 11,97 59,97 11,69 16,36
16 Banten 12,46 62,72 11,18 13,64
17 Bali 8,70 62,56 13,27 15,46
18 Nusa Tenggara Barat 15,05 65,48 9,24 10,23
19 Nusa Tenggara Timur 19,50 67,54 6,72 6,23
20 Kalimantan Barat 9,93 69,91 9,72 10,45
21 Kalimantan Tengah 11,45 65,53 10,79 12,23
22 Kalimantan Selatan 15,10 60,22 10,67 14,01
23 Kalimantan Timur 7,87 56,75 14,78 20,61
24 Sulawesi Utara 5,56 53,90 16,47 24,07
25 Sulawesi Tengah 10,46 61,42 11,75 16,37
26 Sulawesi Selatan 12,74 63,05 10,65 13,56
27 Sulawesi Tenggara 10,31 66,30 10,99 12,40
28 Gorontalo 8,59 56,74 13,69 20,98
29 Sulawesi Barat 11,59 67,61 10,63 10,16
30 Maluku 12,11 62,94 10,89 14,06
31 Maluku Utara 7,73 61,66 12,30 18,30
32 Papua Barat 8,14 61,39 12,42 18,04
33 Papua 6,98 63,40 13,77 15,86
11,09 62,68 11,48 14,76
Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas, 2013
Indonesia
PREVALENSI STATUS GIZI PENDUDUK DEWASA (>18 TAHUN)
BERDASARKAN KATEGORI INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN PROVINSI, RISKESDAS 2013
Kategori IMT
Kurus (%) Normal (%) BB Lebih (%) Obese (%)
No Provinsi
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 2.226 65,0 1.198 35,0 3.424
2 Sumatera Utara 11.302 66,8 5.628 33,2 16.930
3 Sumatera Barat 3.156 65,6 1.654 34,4 4.810
4 Riau 2.250 64,0 1.263 36,0 3.513
5 Jambi 1.922 61,6 1.198 38,4 3.120
6 Sumatera Selatan 3.609 61,8 2.229 38,2 5.838
7 Bengkulu 1.080 63,4 623 36,6 1.703
8 Lampung 3.953 61,7 2.458 38,3 6.411
9 Kep. Bangka Belitung 638 65,1 342 34,9 980
10 Kepulauan Riau 850 59,5 579 40,5 1.429
11 DKI Jakarta 5.264 61,0 3.363 39,0 8.627
12 Jawa Barat 19.286 57,6 14.174 42,4 33.460
13 Jawa Tengah 11.472 56,1 8.974 43,9 20.446
14 DI Yogyakarta 728 57,0 550 43,0 1.278
15 Jawa Timur 13.329 56,2 10.374 43,8 23.703
16 Banten 4.807 60,2 3.178 39,8 7.985
17 Bali 891 60,4 584 39,6 1.475
18 Nusa Tenggara Barat 2.505 60,5 1.637 39,5 4.142
19 Nusa Tenggara Timur 2.395 55,7 1.908 44,3 4.303
20 Kalimantan Barat 2.987 65,6 1.568 34,4 4.555
21 Kalimantan Tengah 915 63,3 531 36,7 1.446
22 Kalimantan Selatan 2.093 61,1 1.331 38,9 3.424
23 Kalimantan Timur 1.649 63,5 946 36,5 2.595
24 Sulawesi Utara 3.148 60,8 2.027 39,2 5.175
25 Sulawesi Tengah 1.645 60,8 1.060 39,2 2.705
26 Sulawesi Selatan 5.270 59,0 3.662 41,0 8.932
27 Sulawesi Tenggara 2.446 58,1 1.764 41,9 4.210
28 Gorontalo 1.104 60,5 721 39,5 1.825
29 Sulawesi Barat 756 59,5 514 40,5 1.270
30 Maluku 1.277 57,0 965 43,0 2.242
31 Maluku Utara 650 62,0 399 38,0 1.049
32 Papua Barat 401 54,5 335 45,5 736
33 Papua 1.440 56,1 1.129 43,9 2.569
117.444 59,8 78.866 40,2 196.310
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 6.1
JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF
MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2013
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan
Laki-laki+ Perempuan
No Provinsi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
1 Aceh 16 5 256 211 450 250 419 232 485 236 420 199 180 65 2.226 1.198 3.424
2 Sumatera Utara 45 43 1.482 1.009 2.260 1.301 2.333 1.203 2.607 1.130 1.972 730 603 212 11.302 5.628 16.930
3 Sumatera Barat 19 22 430 320 682 348 514 290 604 291 616 270 291 113 3.156 1.654 4.810
4 Riau 14 11 295 253 535 326 509 267 422 220 367 134 108 52 2.250 1.263 3.513
5 Jambi 21 9 236 209 386 265 379 246 384 243 344 168 172 58 1.922 1.198 3.120
6 Sumatera Selatan 20 10 446 335 777 481 714 456 714 469 644 335 294 143 3.609 2.229 5.838
7 Bengkulu 8 11 113 83 194 146 214 132 227 121 229 85 95 45 1.080 623 1.703
8 Lampung 20 20 397 377 759 560 844 467 736 480 766 391 431 163 3.953 2.458 6.411
9 Kep. Bangka Belitung 2 2 82 69 151 80 142 66 113 57 88 45 60 23 638 342 980
10 Kepulauan Riau 5 10 133 144 250 198 182 98 121 70 101 42 58 17 850 579 1.429
11 DKI Jakarta 24 19 984 808 1.376 829 1.094 667 970 639 633 297 183 104 5.264 3.363 8.627
12 Jawa Barat 83 118 3.502 3.418 4.519 3.293 3.740 2.829 3.348 2.399 2.859 1.568 1.235 549 19.286 14.174 33.460
13 Jawa Tengah 34 72 1.590 1.798 2.260 1.945 2.087 1.719 2.298 1.684 2.178 1.275 1.025 481 11.472 8.974 20.446
14 DI Yogyakarta 4 3 136 131 133 119 121 91 133 82 116 72 85 52 728 550 1.278
15 Jawa Timur 81 109 1.499 1.824 2.305 1.975 2.348 1.942 3.057 2.225 2.826 1.738 1.213 561 13.329 10.374 23.703
16 Banten 15 23 866 723 1.254 829 972 603 829 560 658 342 213 98 4.807 3.178 7.985
17 Bali 2 5 124 101 184 153 177 119 159 81 137 68 108 57 891 584 1.475
18 Nusa Tenggara Barat 18 18 302 257 469 342 440 306 515 326 548 293 213 95 2.505 1.637 4.142
19 Nusa Tenggara Timur 19 26 328 399 502 386 358 328 432 303 437 277 319 189 2.395 1.908 4.303
20 Kalimantan Barat 31 38 329 225 571 316 618 334 614 320 576 254 248 81 2.987 1.568 4.555
21 Kalimantan Tengah 6 5 95 101 184 116 199 101 205 111 161 76 65 21 915 531 1.446
22 Kalimantan Selatan 10 15 248 201 373 255 448 310 460 297 393 193 161 60 2.093 1.331 3.424
23 Kalimantan Timur 10 6 214 187 356 209 341 223 344 175 260 109 124 37 1.649 946 2.595
24 Sulawesi Utara 21 27 427 309 539 388 581 435 668 372 579 326 333 170 3.148 2.027 5.175
25 Sulawesi Tengah 11 13 189 187 329 225 337 229 334 194 284 143 161 69 1.645 1.060 2.705
26 Sulawesi Selatan 11 17 660 677 994 657 1.037 732 1.067 728 994 599 507 252 5.270 3.662 8.932
27 Sulawesi Tenggara 6 15 296 310 456 400 458 313 517 322 508 307 205 97 2.446 1.764 4.210
28 Gorontalo 12 7 153 136 225 144 218 139 223 135 197 123 76 37 1.104 721 1.825
29 Sulawesi Barat 2 6 95 109 165 103 150 105 153 86 132 78 59 27 756 514 1.270
30 Maluku 14 18 207 180 256 200 228 181 270 175 184 132 118 79 1.277 965 2.242
31 Maluku Utara 11 12 113 86 149 90 124 82 103 61 104 52 46 16 650 399 1.049
32 Papua Barat 2 7 92 91 124 120 66 52 58 31 45 28 14 6 401 335 736
33 Papua 45 43 428 390 433 361 253 171 176 103 85 49 20 12 1.440 1.129 2.569
642 765 16.747 15.658 24.600 17.410 22.645 15.468 23.346 14.726 20.441 10.798 9.023 4.041 117.444 78.866 196.310
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Keterangan: L = Laki-laki P = Perempuan T = Jumlah laki-laki dan Perempuan
6,65%
L P T L P
Indonesia
0,72% 16,51% 21,40% 19,41%
P L P
19,39% 15,91%
L P L P L P L P L
Lampiran 6.2
JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF
MENURUT KELOMPOK UMUR, JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2013
K e l o m p o k U m u r ( T a h u n )
0 - 14 15 - 24 25 - 34 35 - 44 45 - 54 55 - 64 65 Total
Lampiran 6.3
HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Laki-laki Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
Laki-laki Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
Semua Kasus BTA Positif
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Aceh 2.676 1.485 4.161 2.226 1.198 3.424 89,8 73,9
2 Sumatera Utara 14.545 7.409 21.954 11.302 5.628 16.930 156,3 120,5
3 Sumatera Barat 4.455 2.418 6.873 3.156 1.654 4.810 135,2 94,6
4 Riau 3.305 1.942 5.247 2.250 1.263 3.513 91,0 60,9
5 Jambi 2.129 1.353 3.482 1.922 1.198 3.120 115,5 103,5
6 Sumatera Selatan 5.280 3.422 8.702 3.609 2.229 5.838 114,3 76,7
7 Bengkulu 1.445 837 2.282 1.080 623 1.703 129,4 96,5
8 Lampung 5.055 3.286 8.341 3.953 2.458 6.411 105,7 81,3
9 Kep. Bangka Belitung 968 597 1.565 638 342 980 130,6 81,8
10 Kepulauan Riau 1.931 1.299 3.230 850 579 1.429 180,9 80,0
11 DKI Jakarta 14.048 10.043 24.091 5.264 3.363 8.627 254,1 91,0
12 Jawa Barat 34.428 27.293 61.721 19.286 14.174 33.460 141,0 76,4
13 Jawa Tengah 21.835 17.869 39.704 11.472 8.974 20.446 117,7 60,6
14 DI Yogyakarta 1.471 1.208 2.679 728 550 1.278 73,8 35,2
15 Jawa Timur 23.118 19.263 42.381 13.329 10.374 23.703 111,6 62,4
16 Banten 7.982 5.851 13.833 4.807 3.178 7.985 131,5 75,9
17 Bali 1.798 1.229 3.027 891 584 1.475 82,3 40,1
18 Nusa Tenggara Barat 3.725 2.653 6.378 2.505 1.637 4.142 135,6 88,1
19 Nusa Tenggara Timur 3.314 2.676 5.990 2.395 1.908 4.303 120,8 86,8
20 Kalimantan Barat 3.583 1.917 5.500 2.987 1.568 4.555 119,8 99,2
21 Kalimantan Tengah 1.606 950 2.556 915 531 1.446 116,5 65,9
22 Kalimantan Selatan 3.069 2.015 5.084 2.093 1.331 3.424 137,8 92,8
23 Kalimantan Timur 2.750 1.744 4.494 1.649 946 2.595 130,4 75,3
24 Sulawesi Utara 3.402 2.204 5.606 3.148 2.027 5.175 242,9 224,2
25 Sulawesi Tengah 2.190 1.402 3.592 1.645 1.060 2.705 135,8 102,3
26 Sulawesi Selatan 7.206 5.005 12.211 5.270 3.662 8.932 147,0 107,5
27 Sulawesi Tenggara 2.557 1.867 4.424 2.446 1.764 4.210 193,3 183,9
28 Gorontalo 1.244 813 2.057 1.104 721 1.825 199,9 177,3
29 Sulawesi Barat 858 588 1.446 756 514 1.270 130,4 114,5
30 Maluku 2.234 1.734 3.968 1.277 965 2.242 280,5 158,5
31 Maluku Utara 928 620 1.548 650 399 1.049 149,2 101,1
32 Papua Barat 1.170 962 2.132 401 335 736 267,0 92,2
33 Papua 3.669 3.166 6.835 1.440 1.129 2.569 302,3 113,6
189.974 137.120 327.094 117.444 78.866 196.310 135,0 81,0
Case Detection Rate 80,99%
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Cakupan Penemuan
Semua Kasus BTA Positif Case Notification Rate (CNR)
Batuk 2 minggu Batuk darah
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 0,3 4,2 3,5
2 Sumatera Utara 0,2 3,8 2,7
3 Sumatera Barat 0,2 3,2 3,0
4 Riau 0,1 1,8 2,5
5 Jambi 0,2 2,7 2,7
6 Sumatera Selatan 0,2 3,2 2,8
7 Bengkulu 0,2 3,2 1,8
8 Lampung 0,1 2,5 2,2
9 Kep. Bangka Belitung 0,3 3,8 2,2
10 Kepulauan Riau 0,2 2,3 2,5
11 DKI Jakarta 0,6 4,2 1,9
12 Jawa Barat 0,7 3,3 2,8
13 Jawa Tengah 0,4 3,8 3,0
14 DI Yogyakarta 0,3 4,9 0,9
15 Jawa Timur 0,2 5,0 2,4
16 Banten 0,4 2,7 3,2
17 Bali 0,1 4,0 2,5
18 Nusa Tenggara Barat 0,3 4,4 3,8
19 Nusa Tenggara Timur 0,3 8,8 4,0
20 Kalimantan Barat 0,2 2,8 3,0
21 Kalimantan Tengah 0,3 3,2 2,8
22 Kalimantan Selatan 0,3 4,4 3,1
23 Kalimantan Timur 0,2 2,5 1,6
24 Sulawesi Utara 0,3 4,1 3,7
25 Sulawesi Tengah 0,2 4,9 3,7
26 Sulawesi Selatan 0,3 6,6 3,3
27 Sulawesi Tenggara 0,2 4,3 4,4
28 Gorontalo 0,5 4,6 4,8
29 Sulawesi Barat 0,3 4,6 3,1
30 Maluku 0,3 3,4 3,8
31 Maluku Utara 0,2 4,7 4,3
32 Papua Barat 0,4 3,5 2,7
33 Papua 0,6 5,1 4,5
0,4 3,9 2,8
Sumber: Badan Litbangkes, Kemenkes RI, Riskesdas 2013
Indonesia
Lampiran 6.4
PREVALENSI TB PARU BERDASARKAN DIAGNOSIS DAN GEJALA TB PARU
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Diagnosis TB
(%)
Gejala TB paru (%)
CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF SEMBUH, PENGOBATAN LENGKAP
DAN ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN (SUCCESS RATE) MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Kasus BTA Positif* Jumlah % Jumlah % Jumlah
Success Rate/ Angka
Keberhasilan
Pengobatan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 2.712 2.381 87,8 119 4,4 2.500 92,2
2 Sumatera Utara 18.095 16.474 91,0 635 3,5 17.109 94,6
3 Sumatera Barat 4.618 3.819 82,7 296 6,4 4.115 89,1
4 Riau 3.066 2.180 71,1 320 10,4 2.500 81,5
5 Jambi 2.938 2.491 84,8 159 5,4 2.650 90,2
6 Sumatera Selatan 5.272 4.518 85,7 469 8,9 4.987 94,6
7 Bengkulu 1.498 1.290 86,1 136 9,1 1.426 95,2
8 Lampung 6.166 5.381 87,3 361 5,9 5.742 93,1
9 Kep. Bangka Belitung 1.062 907 85,4 19 1,8 926 87,2
10 Kepulauan Riau 1.219 627 51,4 271 22,2 898 73,7
11 DKI Jakarta 8.878 5.919 66,7 1.281 14,4 7.200 81,1
12 Jawa Barat 34.194 28.825 84,3 2.628 7,7 31.453 92,0
13 Jawa Tengah 20.266 16.440 81,1 1.373 6,8 17.813 87,9
14 DI Yogyakarta 1.220 957 78,4 67 5,5 1.024 83,9
15 Jawa Timur 25.461 21.771 85,5 1.493 5,9 23.264 91,4
16 Banten 8.707 7.347 84,4 922 10,6 8.269 95,0
17 Bali 1.430 1.073 75,0 169 11,8 1.242 86,9
18 Nusa Tenggara Barat 3.834 3.096 80,8 406 10,6 3.502 91,3
19 Nusa Tenggara Timur 4.134 3.553 85,9 268 6,5 3.821 92,4
20 Kalimantan Barat 2.847 2.630 92,4 54 1,9 2.684 94,3
21 Kalimantan Tengah 1.382 911 65,9 311 22,5 1.222 88,4
22 Kalimantan Selatan 3.378 3.017 89,3 141 4,2 3.158 93,5
23 Kalimantan Timur 2.618 1.978 75,6 219 8,4 2.197 83,9
24 Sulawesi Utara 4.942 4.389 88,8 245 5,0 4.634 93,8
25 Sulawesi Tengah 2.856 2.427 85,0 243 8,5 2.670 93,5
26 Sulawesi Selatan 9.394 7.880 83,9 388 4,1 8.268 88,0
27 Sulawesi Tenggara 3.672 3.157 86,0 317 8,6 3.474 94,6
28 Gorontalo 1.645 1.344 81,7 222 13,5 1.566 95,2
29 Sulawesi Barat 1.381 1.128 81,7 100 7,2 1.228 88,9
30 Maluku 2.260 1.542 68,2 427 18,9 1.969 87,1
31 Maluku Utara 1.028 429 41,7 381 37,1 810 78,8
32 Papua Barat 589 292 49,6 120 20,4 412 69,9
33 Papua 2.091 1.192 57,0 404 19,3 1.596 76,3
194.853 161.365 82,8 14.964 7,7 176.329 90,5
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Keterangan: *kohort tahun 2012
Indonesia
Lampiran 6.5
No Provinsi
Sembuh Pengobatan Lengkap Keberhasilan Pengobatan
Jumlah Kasus
Kumulatif
2011 2012 2013 1987-2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 32 27 47 165
2 Sumatera Utara 30 260 - 1.301
3 Sumatera Barat 130 120 150 952
4 Riau 118 130 163 992
5 Jambi 47 62 79 437
6 Sumatera Selatan 41 62 - 322
7 Bengkulu 18 6 5 160
8 Lampung 11 137 94 423
9 Kepulauan Bangka Belitung 34 28 59 303
10 Kepulauan Riau 31 99 7 382
11 DKI Jakarta 1.332 1.187 640 7.477
12 Jawa Barat 480 184 33 4.131
13 Jawa Tengah 546 798 524 3.339
14 DI Yogyakarta 34 243 134 916
15 Jawa Timur 1.261 1.276 1.038 8.725
16 Banten 188 208 188 1.042
17 Bali 567 650 641 3.985
18 Nusa Tenggara Barat 81 123 77 456
19 Nusa Tenggara Timur 41 44 76 496
20 Kalimantan Barat 160 89 - 1.699
21 Kalimantan Tengah 20 7 11 97
22 Kalimantan Selatan 65 80 72 334
23 Kalimantan Timur 91 34 - 332
24 Sulawesi Utara 133 144 146 798
25 Sulawesi Tengah 21 43 81 190
26 Sulawesi Selatan 212 213 250 1.703
27 Sulawesi Tenggara 66 56 51 212
28 Gorontalo 8 14 14 68
29 Sulawesi Barat - 3 3 6
30 Maluku 3 117 125 437
31 Maluku Utara 42 38 42 165
32 Papua Barat 76 17 9 187
33 Papua 1.367 2.111 849 10.116
7.286 8.610 5.608 52.348
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 6.6
JUMLAH KASUS BARU AIDS DAN KASUS KUMULATIF AIDS
MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2013
No Provinsi
Jumlah Kasus Baru
2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 31 26 46
2 Sumatera Utara 1.251 1.337 1.603
3 Sumatera Barat 132 133 222
4 Riau 439 314 412
5 Jambi 105 203 208
6 Sumatera Selatan 265 230 262
7 Bengkulu 33 40 79
8 Lampung 295 335 189
9 Kepulauan Bangka Belitung 103 132 97
10 Kepulauan Riau 674 792 926
11 DKI Jakarta 4.012 3.926 5.865
12 Jawa Barat 1.429 1.416 3.041
13 Jawa Tengah 1.057 1.110 2.322
14 DI Yogyakarta 310 272 489
15 Jawa Timur 2.715 2.912 3.391
16 Banten 433 395 502
17 Bali 1.557 1.737 1.690
18 Nusa Tenggara Barat 132 110 170
19 Nusa Tenggara Timur 352 242 259
20 Kalimantan Barat 499 465 525
21 Kalimantan Tengah 68 46 57
22 Kalimantan Selatan 83 88 174
23 Kalimantan Timur 429 392 467
24 Sulawesi Utara 222 212 264
25 Sulawesi Tengah 37 86 147
26 Sulawesi Selatan 611 524 792
27 Sulawesi Tenggara 49 71 100
28 Gorontalo 11 8 26
29 Sulawesi Barat 5 7 0
30 Maluku 440 295 236
31 Maluku Utara 46 92 54
32 Papua Barat 356 535 448
33 Papua 2.850 3.028 3.974
21.031 21.511 29.037
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 6.7
JUMLAH KASUS BARU INFEKSI HIV
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 - 2013
No Provinsi
Jumlah infeksi HIV
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 47 3 6,4 165 32 19,4
2 Sumatera Utara - 0 - 1.301 382 29,4
3 Sumatera Barat 150 15 10,0 952 342 35,9
4 Riau 163 14 8,6 992 163 16,4
5 Jambi 79 19 24,1 437 213 48,7
6 Sumatera Selatan - 0 - 322 107 33,2
7 Bengkulu 5 0 0,0 160 70 43,8
8 Lampung 94 13 13,8 423 179 42,3
9 Kepulauan Bangka Belitung 59 3 5,1 303 56 18,5
10 Kepulauan Riau 7 0 0,0 382 28 7,3
11 DKI Jakarta 640 171 26,7 7.477 171 2,3
12 Jawa Barat 33 2 6,1 4.131 2.493 60,3
13 Jawa Tengah 524 8 1,5 3.339 283 8,5
14 DI Yogyakarta 134 2 1,5 916 193 21,1
15 Jawa Timur 1.038 74 7,1 8.725 1.547 17,7
16 Banten 188 55 29,3 1.042 441 42,3
17 Bali 641 4 0,6 3.985 421 10,6
18 Nusa Tenggara Barat 77 0 0,0 456 32 7,0
19 Nusa Tenggara Timur 76 0 0,0 496 7 1,4
20 Kalimantan Barat - 0 - 1.699 283 16,7
21 Kalimantan Tengah 11 0 0,0 97 11 11,3
22 Kalimantan Selatan 72 1 1,4 334 37 11,1
23 Kalimantan Timur - 0 - 332 39 11,7
24 Sulawesi Utara 146 5 3,4 798 68 8,5
25 Sulawesi Tengah 81 4 4,9 190 13 6,8
26 Sulawesi Selatan 250 77 30,8 1.703 652 38,3
27 Sulawesi Tenggara 51 0 0,0 212 6 2,8
28 Gorontalo 14 0 0,0 68 8 11,8
29 Sulawesi Barat 3 0 0,0 6 1 16,7
30 Maluku 125 0 0,0 437 80 18,3
31 Maluku Utara 42 5 11,9 165 38 23,0
32 Papua Barat 9 0 0,0 187 5 2,7
33 Papua 849 0 0,0 10.116 6 0,1
5.608 475 8,5 52.348 8.407 16,1
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Persentase
Kasus Kumulatif AIDS
pada IDU
Indonesia
Lampiran 6.8
JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN (IDU)
MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2013
No Provinsi
Jumlah Kasus Baru
AIDS
Jumlah Kasus Baru
AIDS pada IDU
Persentase Kasus
Baru AIDS pada IDU
Jumlah
Kasus Kumulatif AIDS
Jumlah
Kasus Kumulatif AIDS
pada IDU
No Provinsi
Jumlah
Layanan
Jumlah Klien
Berkunjung
Jumlah Klien Mengikuti
Konseling Sebelum Tes HIV
Jumlah Klien
Menjalani Tes HIV
Jumlah Klien Mengikuti
Konseling Setelah Tes HIV
Jumlah Klien
Positif HIV
% Klien Positif
HIV
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 7 2.447 1.941 1.926 1.894 46 2,4
2 Sumatera Utara 47 35.329 35.104 35.154 35.118 1.603 4,6
3 Sumatera Barat 17 6.418 6.434 6.166 6.339 222 3,6
4 Riau 22 23.763 23.587 23.747 23.745 412 1,7
5 Jambi 9 2.751 2.751 2.750 2.750 208 7,6
6 Sumatera Selatan 20 23.358 23.441 23.399 23.384 262 1,1
7 Bengkulu 7 3.987 4.070 4.070 4.062 79 1,9
8 Lampung 10 4.317 4.273 4.266 4.257 189 4,4
9 Kepulauan Bangka Belitung 4 1.288 1.288 1.287 1.287 97 7,5
10 Kepulauan Riau 11 32.674 28.417 27.711 27.693 926 3,3
11 DKI Jakarta 68 97.471 73.095 72.204 73.272 5.865 8,1
12 Jawa Barat 275 115.701 127.915 127.631 125.954 3.041 2,4
13 Jawa Tengah 109 41.925 45.698 45.788 45.424 2.322 5,1
14 DI Yogyakarta 19 4.471 6.588 6.606 6.469 489 7,4
15 Jawa Timur 77 44.920 55.626 55.671 55.445 3.391 6,1
16 Banten 35 8.332 9.032 9.050 8.962 502 5,5
17 Bali 36 23.221 20.818 20.918 20.613 1.690 8,1
18 Nusa Tenggara Barat 13 11.983 12.781 12.654 12.632 170 1,3
19 Nusa Tenggara Timur 14 5.857 5.858 5.819 5.908 259 4,5
20 Kalimantan Barat 21 16.404 18.005 17.905 17.905 525 2,9
21 Kalimantan Tengah 5 1.202 1.193 1.192 1.141 57 4,8
22 Kalimantan Selatan 8 2.719 2.613 2.614 2.665 174 6,7
23 Kalimantan Timur 26 18.282 17.951 18.209 18.206 467 2,6
24 Sulawesi Utara 12 14.187 13.623 13.591 13.999 264 1,9
25 Sulawesi Tengah 7 2.359 2.359 2.334 2.334 147 6,3
26 Sulawesi Selatan 19 24.335 24.067 24.075 23.874 792 3,3
27 Sulawesi Tenggara 3 6.127 6.324 6.325 6.325 100 1,6
28 Gorontalo 1 1.518 1.525 1.532 1.529 26 1,7
29 Sulawesi Barat 2 0 0 0 0 0 -
30 Maluku 7 2.063 2.055 2.059 2.043 236 11,5
31 Maluku Utara 3 746 746 746 745 54 7,2
32 Papua Barat 15 9.534 12.806 12.469 12.449 448 3,6
33 Papua 61 91.246 76.217 75.041 73.973 3.974 5,3
990 680.935 668.201 664.909 662.396 29.037 4,4
Sumber: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 6.9
JUMLAH LAYANAN DAN KUNJUNGAN KONSELING DAN TES HIV
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
No Provinsi
< 1 Tahun 1-4 Tahun < 1 Tahun 1-4 Tahun < 1 Tahun 1-4 Tahun
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 47.258 624 1.602 67 88 691 1.690 2.381 5,04
2 Sumatera Utara 135.914 6.566 8.752 89 183 6.655 8.935 15.590 11,47
3 Sumatera Barat 49.377 2.546 8.382 167 231 2.713 8.613 11.326 22,94
4 Riau 58.136 12.377 7.256 9.946 10.121 22.323 17.377 39.700 68,29
5 Jambi 31.916 1.225 4.117 48 70 1.273 4.187 5.460 17,11
6 Sumatera Selatan 76.084 13.995 27.488 826 529 14.821 28.017 42.838 56,30
7 Bengkulu 18.159 341 830 30 45 371 875 1.246 6,86
8 Lampung 123.223 3.140 5.972 192 216 3.332 6.188 9.520 7,73
9 Kep. Bangka Belitung 13.374 1.963 4.586 186 281 2.149 4.867 7.016 52,46
10 Kepulauan Riau 18.580 581 1.288 176 160 757 1.448 2.205 12
11 DKI Jakarta 97.620 6.827 14.283 2.331 1.000 9.158 15.283 24.441 25,04
12 Jawa Barat 438.440 58.433 99.444 3.690 3.272 62.123 102.716 164.839 37,60
13 Jawa Tengah 322.978 18.457 34.868 1.303 1.304 19.760 36.172 55.932 17,32
14 DI Yogyakarta - - - - - - - - -
15 Jawa Timur 383.188 23.535 53.623 1.014 1.191 24.549 54.814 79.363 20,71
16 Banten 111.438 10.658 20.559 417 454 11.075 21.013 32.088 28,79
17 Bali 39.694 1.088 2.448 25 35 1.113 2.483 3.596 9,06
18 Nusa Tenggara Barat 46.066 9.216 15.152 793 741 10.009 15.893 25.902 56,23
19 Nusa Tenggara Timur 46.849 638 812 143 27 781 839 1.620 3,46
20 Kalimantan Barat 42.771 970 2.121 35 51 1.005 2.172 3.177 7,43
21 Kalimantan Tengah 7.830 28 107 3 70 31 177 208 2,66
22 Kalimantan Selatan 36.988 3.867 9.208 156 231 4.023 9.439 13.462 36,40
23 Kalimantan Timur - - - - - - - - -
24 Sulawesi Utara 22.640 179 386 6 3 185 389 574 3
25 Sulawesi Tengah 27.415 3.522 6.954 171 158 3.693 7.112 10.805 39,41
26 Sulawesi Selatan 83.290 2.223 5.130 122 211 2.345 5.341 7.686 9,23
27 Sulawesi Tenggara 23.252 1.300 3.229 12 41 1.312 3.270 4.582 20
28 Gorontalo 11.167 1.702 2.499 65 28 1.767 2.527 4.294 38,45
29 Sulawesi Barat 11.638 463 835 18 18 481 853 1.334 11,46
30 Maluku - - - - - - - - -
31 Maluku Utara 11.071 107 249 2 4 109 253 362 3,27
32 Papua Barat - - - - - - - - -
33 Papua - - - - - - - - -
2.336.354
186.571 342.180 22.033 20.763 208.604 362.943 571.547 24,46
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
%
Indonesia
Lampiran 6.10
JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA
MENURUT PROVINSI DAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2013
Target
Penemuan
Pneumonia
Balita
Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita
Pneumonia Pneumonia Berat Jumlah
Jumlah
MENURUT PROVINSI DAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2013
< 1 Tahun 1-4 Tahun Jumlah < 1 Tahun 1-4 Tahun Jumlah < 1 Tahun 1-4 Tahun 0-4 Tahun
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 691 1.690 2.381 0 0 0 0,00 0,00 0,00
2 Sumatera Utara 6.655 8.935 15.590 2 0 2 0,03 0,00 0,01
3 Sumatera Barat 2.713 8.613 11.326 29 13 42 1,07 0,15 0,37
4 Riau 22.323 17.377 39.700 0 0 0 0,00 0,00 0,00
5 Jambi 1.273 4.187 5.460 0 0 0 0,00 0,00 0,00
6 Sumatera Selatan 14.821 28.017 42.838 1 1 2 0,01 0,00 0,00
7 Bengkulu 371 875 1.246 114 306 420 30,73 34,97 33,71
8 Lampung 3.332 6.188 9.520 0 0 0 0,00 0,00 0,00
9 Kep. Bangka Belitung 2.149 4.867 7.016 5 0 5 0,23 0,00 0,07
10 Kepulauan Riau 757 1.448 2.205 0 2 2 0,00 0,14 0,09
11 DKI Jakarta 9.158 15.283 24.441 0 0 0 0,00 0,00 0,00
12 Jawa Barat 62.123 102.716 164.839 5.799 360 6.159 9,33 0,35 3,74
13 Jawa Tengah 19.760 36.172 55.932 36 31 67 0,18 0,09 0,12
14 DI Yogyakarta - - - - - - - - -
15 Jawa Timur 24.549 54.814 79.363 6 2 8 0,02 0,00 0,01
16 Banten 11.075 21.013 32.088 0 0 0 0,00 0,00 0,00
17 Bali 1.113 2.483 3.596 0 0 0 0,00 0,00 0,00
18 Nusa Tenggara Barat 10.009 15.893 25.902 20 8 28 0,20 0,05 0,11
19 Nusa Tenggara Timur 781 839 1.620 6 2 8 0,77 0,24 0,49
20 Kalimantan Barat 1.005 2.172 3.177 1 0 1 0,10 0,00 0,03
21 Kalimantan Tengah 31 177 208 0 0 0 0,00 0,00 0,00
22 Kalimantan Selatan 4.023 9.439 13.462 0 0 0 0,00 0,00 0,00
23 Kalimantan Timur - - - - - - - - -
24 Sulawesi Utara 185 389 574 0 0 0 0,00 0,00 0,00
25 Sulawesi Tengah 3.693 7.112 10.805 2 2 4 0,05 0,03 0,04
26 Sulawesi Selatan 2.345 5.341 7.686 5 4 9 0,21 0,07 0,12
27 Sulawesi Tenggara 1.312 3.270 4.582 10 3 13 0,76 0,09 0,28
28 Gorontalo 1.767 2.527 4.294 2 1 3 0,11 0,04 0,07
29 Sulawesi Barat 481 853 1.334 0 1 1 0,00 0,12 0,07
30 Maluku - - - - - - - - -
31 Maluku Utara 109 253 362 0 0 0 0,00 0,00 0,00
32 Papua Barat - - - - - - - - -
33 Papua - - - - - - - - -
208.604 362.943 571.547 6.038 736 6.774 2,89 0,20 1,19
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 6.11
CASE FATALITY RATE PNEUMONIA PADA BALITA
No Provinsi
Penderita Pneumonia
Jumlah Kematian Balita Karena
Pneumonia
CFR (%)
PERIOD PREVALENCE ISPA, PNEUMONIA, PNEUMONIA BALITA, DAN PREVALENSI PNEUMONIA
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
Diagnosis
Diagnosis/
Gejala
Diagnosis
Diagnosis/
Gejala
Diagnosis
Diagnosis/
Gejala
Diagnosis
Diagnosis/
Gejala
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Aceh 20,1 30,0 0,4 2,6 1,8 5,4 6,1 35,6
2 Sumatera Utara 10,9 19,9 0,1 1,3 1,1 3,2 1,0 12,4
3 Sumatera Barat 16,1 25,7 0,2 1,2 1,4 3,1 3,4 10,2
4 Riau 10,9 17,1 0,1 0,9 1,0 2,1 1,7 8,3
5 Jambi 9,8 17,0 0,1 0,9 1,7 3,1 0,0 9,8
6 Sumatera Selatan 11,3 20,2 0,1 0,9 0,9 2,4 0,8 10,8
7 Bengkulu 13,0 20,8 0,1 0,8 1,3 2,7 0,0 8,8
8 Lampung 12,0 17,8 0,1 0,6 1,2 2,3 0,0 7,7
9 Kep. Bangka Belitung 9,2 23,4 0,1 2,4 0,9 4,3 4,1 34,8
10 Kepulauan Riau 8,9 19,6 0,1 1,4 1,3 3,2 0,0 22,0
11 DKI Jakarta 12,5 25,2 0,2 2,4 1,8 5,9 2,9 19,6
12 Jawa Barat 13,2 24,8 0,2 1,9 2,0 4,9 3,5 18,5
13 Jawa Tengah 15,7 26,6 0,2 1,9 2,0 5,0 2,8 19,0
14 DI Yogyakarta 11,3 23,3 0,2 1,7 1,2 4,6 3,2 27,8
15 Jawa Timur 15,6 28,3 0,2 1,7 1,3 4,2 2,0 15,8
16 Banten 16,4 25,8 0,2 1,5 1,6 3,8 2,2 19,3
17 Bali 12,2 22,6 0,2 1,5 0,8 3,1 1,6 8,6
18 Nusa Tenggara Barat 13,2 28,9 0,2 2,2 1,5 5,1 4,1 20,3
19 Nusa Tenggara Timur 19,2 41,7 0,3 4,6 1,4 10,3 2,0 38,5
20 Kalimantan Barat 11,1 18,2 0,1 1,1 1,1 2,7 2,1 15,5
21 Kalimantan Tengah 14,3 25,0 0,2 2,0 1,4 4,4 5,8 32,7
22 Kalimantan Selatan 10,6 26,7 0,1 2,4 1,1 4,8 0,7 25,0
23 Kalimantan Timur 14,8 22,7 0,2 1,0 1,2 3,0 2,0 6,6
24 Sulawesi Utara 13,3 24,7 0,3 2,3 1,9 5,7 4,3 23,2
25 Sulawesi Tengah 8,9 23,6 0,2 3,5 1,5 7,2 0,9 29,9
26 Sulawesi Selatan 11,9 24,9 0,2 2,8 1,7 6,8 1,0 30,3
27 Sulawesi Tenggara 13,4 22,2 0,3 2,2 1,5 5,2 3,2 29,0
28 Gorontalo 9,5 23,2 0,2 1,7 1,2 4,1 2,7 10,7
29 Sulawesi Barat 9,3 20,9 0,2 3,1 1,0 6,1 0,0 34,8
30 Maluku 13,3 24,9 0,2 2,3 1,4 4,9 1,5 27,9
31 Maluku Utara 6,9 17,7 0,2 2,0 0,8 4,5 0,0 18,7
32 Papua Barat 18,9 25,9 0,2 1,3 2,0 4,2 2,8 14,1
33 Papua 17,2 33,1 0,5 2,6 2,9 8,2 4,2 21,2
13,8 25,0 0,2 1,8 1,6 4,5 2,4 18,5
Sumber: Balitbangkes, Riskesdas 2013
Keterangan: Periode prevalence ISPA/Pneumonia/Pneumonia Balita : dihitung dalam kurun waktu 1 bulan terakhir sebelum wawancara
Prevalensi Pneumonia : dihitung dalam kurun waktu > 1 bulan - 12 bulan terakhir sebelum wawancara
Indonesia
Lampiran 6.12
No Provinsi
Period prevalence ISPA
(%)
Period prevalence Pneumonia (%)
Prevalensi pneumonia
(%)
Period Prevalence Pneumonia
Balita (permil)
Diagnosis Gejala Diagnosis Gejala Diagnosis Gejala
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 4,1 5,0 9,0 10,2 7,4 9,3
2 Sumatera Utara 2,1 3,3 4,9 6,7 4,3 6,7
3 Sumatera Barat 2,3 3,1 5,6 7,1 4,8 6,6
4 Riau 1,6 2,3 4,1 5,2 3,5 5,4
5 Jambi 1,4 1,9 3,5 4,1 3,5 4,8
6 Sumatera Selatan 1,3 2,0 3,9 4,8 2,9 4,5
7 Bengkulu 1,6 2,0 5,3 6,3 3,8 5,2
8 Lampung 1,3 1,6 3,5 3,9 2,9 3,7
9 Kep. Bangka Belitung 1,2 1,9 3,5 3,9 2,1 3,4
10 Kepulauan Riau 1,1 1,7 3,0 3,7 2,3 3,5
11 DKI Jakarta 2,5 4,3 6,7 8,9 5,0 8,6
12 Jawa Barat 2,5 3,9 6,1 7,9 4,9 7,5
13 Jawa Tengah 2,3 3,3 5,4 6,5 4,7 6,7
14 DI Yogyakarta 1,7 3,1 3,9 5,0 3,8 6,6
15 Jawa Timur 2,3 3,8 5,1 6,6 4,7 7,4
16 Banten 2,4 3,5 6,3 8,0 4,3 6,4
17 Bali 1,9 2,8 4,0 5,0 3,6 5,5
18 Nusa Tenggara Barat 2,6 4,1 5,3 6,6 5,3 8,5
19 Nusa Tenggara Timur 2,6 4,3 4,6 6,7 6,3 10,9
20 Kalimantan Barat 1,3 1,9 3,5 4,4 2,8 3,9
21 Kalimantan Tengah 1,8 2,6 4,4 5,5 3,7 5,4
22 Kalimantan Selatan 1,7 3,3 3,9 5,6 3,2 6,3
23 Kalimantan Timur 1,5 2,4 2,6 3,3 3,4 5,3
24 Sulawesi Utara 1,8 3,0 2,9 4,2 4,1 6,6
25 Sulawesi Tengah 2,2 4,4 3,8 6,8 4,5 8,8
26 Sulawesi Selatan 2,8 5,2 5,3 8,1 5,6 10,2
27 Sulawesi Tenggara 2,0 3,4 3,9 5,9 4,1 7,3
28 Gorontalo 2,1 3,6 4,5 5,9 4,3 7,1
29 Sulawesi Barat 2,5 4,7 4,5 7,2 5,3 10,1
30 Maluku 1,8 2,9 4,6 6,6 3,7 6,0
31 Maluku Utara 0,9 1,8 2,5 4,6 2,6 4,7
32 Papua Barat 1,7 2,2 5,1 5,6 3,9 5,2
33 Papua 4,1 6,3 6,8 9,6 8,7 14,7
2,2 3,5 5,2 6,7 4,5 7,0
Sumber: Balitbangkes, Riskesdas 2013
Keterangan: Insiden Diare/Diare Balita : dihitung dalam kurun waktu 2 minggu terakhir sebelum wawancara
Period Prevalence Diare : dihitung dalam kurun waktu > 2 minggu - 1 bulan terakhir sebelum wawancara
Indonesia
Lampiran 6.13
INSIDEN DIARE, INSIDEN DIARE PADA BALITA SERTA PERIOD PREVALENCE DIARE
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
No Provinsi
Insiden Diare
(%)
Insiden Diare Balita
(%)
Period Prevalence Diare
(%)
KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 - 2013
Penderita Meninggal CFR (%) Penderita Meninggal CFR (%) Penderita Meninggal CFR (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 40 2 5,00 13 6 46,15 0 - -
2 Sumatera Utara 0 - - 245 3 1,22 17 2 11,76
3 Sumatera Barat 0 - - 274 7 2,55 0 - -
4 Riau 163 2 1,23 0 - - 0 - -
5 Jambi
0 - - 0 - - 0 - -
6 Sumatera Selatan
0 - - 292 8
2,74
0 - -
7 Bengkulu
0 - - 0 - - 0 - -
8 Lampung
33 0
0,00
17 1
5,88
28 1 3,57
9 Kepulauan Bangka Belitung
0 - - 0 - - 0 - -
10 Kepulauan Riau
1.426 2
0,14
74 - - 0 - -
11 DKI Jakarta
0 - - 0 - - 0 - -
12 Jawa Barat 229 1 0,44 43 1 2,33 0 - -
13 Jawa Tengah 153 - - 173 2 1,16 294 - -
14 DI Yogyakarta 0 - - 75 1 1,33 0 - -
15 Jawa Timur 32 - - 81 - - 59 - -
16 Banten 268 1 0,37 84 1 1,19 0 - -
17 Bali 0 - - 22 - - 0 - -
18 Nusa Tenggara Barat 0 - - 0 - - 0 - -
19 Nusa Tenggara Timur 50 - - 12 - - 0 - -
20 Kalimantan Barat 0 - - 0 - - 0 - -
21 Kalimantan Tengah
179 - - 0 - - 0 - -
22 Kalimantan Selatan
0 - - 0 - - 0 - -
23 Kalimantan Timur
0 - - 0 - - 0 - -
24 Sulawesi Utara
0 - - 0 - - 0 - -
25 Sulawesi Tengah
170 2
1,18
97 1
1,03
167 4 2,40
26 Sulawesi Selatan
0 - - 0 - - 81 - -
27 Sulawesi Tenggara 0 - - 52 - - 0 - -
28 Gorontalo 0 - - 0 - - 0 - -
29 Sulawesi Barat 0 - - 0 - - 0 - -
30 Maluku 1.426 2 0,14 0 - - 0 - -
31 Maluku Utara 0 - - 40 - - 0 - -
32 Papua Barat 0 - - 0 - - 0 - -
33 Papua 0 - - 60 3 5,00 0 - -
4.169 12 0,29 1.654 34 2,06 646 7 1,08
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Ket . : CFR = Case Fatality Rate
Indonesia
Lampiran 6.14
No Provinsi
2011 2012 2013
PENEMUAN KASUS DIARE DITANGANI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Perkiraan Diare
di Fasilitas Kesehatan
Diare Ditangani % Diare Ditangani
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 102.593 97.901 95,43
2 Sumatera Utara 325.228 134.448 41,34
3 Sumatera Barat 107.756 112.986 104,85
4 Riau 111.955 118.286 105,65
5 Jambi 60.121 14.613 24,31
6 Sumatera Selatan 156.679 188.028 120,01
7 Bengkulu 39.710 9.531 24,00
8 Lampung 163.136 - -
9 Kep. Bangka Belitung 28.671 27.816 97,02
10 Kepulauan Riau 41.464 - -
11 DKI Jakarta 189.880 223.709 117,82
12 Jawa Barat 922.558 1.170.420 126,87
13 Jawa Tengah 689.820 293.883 42,60
14 DI Yogyakarta 74.807 - -
15 Jawa Timur 770.184 672.700 87,34
16 Banten 201.156 247.714 123,15
17 Bali 83.277 35.303 42,39
18 Nusa Tenggara Barat 97.627 189.778 194,39
19 Nusa Tenggara Timur 98.958 23.561 23,81
20 Kalimantan Barat 96.492 52.126 54,02
21 Kalimantan Tengah 49.837 7.789 15,63
22 Kalimantan Selatan 82.188 - -
23 Kalimantan Timur 84.911 - -
24 Sulawesi Utara 50.390 17.931 35,58
25 Sulawesi Tengah 59.645 - -
26 Sulawesi Selatan 164.129 177.836 108,35
27 Sulawesi Tenggara 46.810 10.331 22,07
28 Gorontalo 22.316 27.427 122,90
29 Sulawesi Barat 24.007 43.435 180,93
30 Maluku 20.989 - -
31 Maluku Utara 22.567 5.441 24,11
32 Papua Barat 18.120 - -
33 Papua 70.849 - -
5.078.830 3.902.993 87,46
Sumber: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI, 2014
Lampiran 6.15
Indonesia
Laki-laki Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
PB MB PB + MB Laki-laki Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
Laki-laki Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 2.336.235 2.335.639 4.671.874 171 404 575 337 238 575 14,42 10,19 12,31
2 Sumatera Utara 6.686.105 6.705.126 13.391.231 31 144 175 109 66 175 1,63 0,98 1,31
3 Sumatera Barat 2.496.318 2.538.993 5.035.311 24 66 90 65 25 90 2,60 0,98 1,79
4 Riau 3.163.482 2.980.192 6.143.674 6 75 81 60 21 81 1,90 0,70 1,32
5 Jambi 1.701.091 1.628.796 3.329.887 17 73 90 61 29 90 3,59 1,78 2,70
6 Sumatera Selatan 3.998.335 3.859.102 7.857.437 22 174 196 119 77 196 2,98 2,00 2,49
7 Bengkulu 918.667 881.001 1.799.668 7 28 35 26 9 35 2,83 1,02 1,94
8 Lampung 4.055.310 3.825.459 7.880.769 15 118 133 92 41 133 2,27 1,07 1,69
9 Kepulauan Bangka Belitung 694.047 645.727 1.339.774 4 26 30 23 7 30 3,31 1,08 2,24
10 Kepulauan Riau 993.305 944.272 1.937.577 8 33 41 32 9 41 3,22 0,95 2,12
11 DKI Jakarta 5.069.248 4.932.695 10.001.943 20 263 283 203 80 283 4,00 1,62 2,83
12 Jawa Barat 23.136.432 22.336.398 45.472.830 223 1.957 2.180 1.463 717 2.180 6,32 3,21 4,79
13 Jawa Tengah 16.239.620 16.444.959 32.684.579 244 1.521 1.765 1.172 593 1.765 7,22 3,61 5,40
14 DI Yogyakarta 1.758.098 1.801.982 3.560.080 7 50 57 43 14 57 2,45 0,78 1,60
15 Jawa Timur 18.893.068 19.375.757 38.268.825 530 3.602 4.132 2.519 1.613 4.132 13,33 8,32 10,80
16 Banten 5.893.367 5.629.651 11.523.018 95 607 702 424 278 702 7,19 4,94 6,09
17 Bali 2.085.318 2.054.372 4.139.690 7 81 88 71 17 88 3,40 0,83 2,13
18 Nusa Tenggara Barat 2.255.609 2.396.039 4.651.648 92 255 347 196 151 347 8,69 6,30 7,46
19 Nusa Tenggara Timur 2.468.008 2.503.794 4.971.802 73 86 159 133 26 159 5,39 1,04 3,20
20 Kalimantan Barat 2.303.134 2.205.834 4.508.968 6 20 26 23 3 26 1,00 0,14 0,58
21 Kalimantan Tengah 1.213.109 1.115.714 2.328.823 10 27 37 34 3 37 2,80 0,27 1,59
22 Kalimantan Selatan 1.943.008 1.897.539 3.840.547 10 151 161 130 31 161 6,69 1,63 4,19
23 Kalimantan Timur 2.088.597 1.879.196 3.967.793 14 143 157 122 35 157 5,84 1,86 3,96
24 Sulawesi Utara 1.201.332 1.153.336 2.354.668 34 327 361 228 133 361 18,98 11,53 15,33
25 Sulawesi Tengah 1.427.328 1.359.836 2.787.164 69 255 324 225 99 324 15,76 7,28 11,62
26 Sulawesi Selatan 4.054.974 4.250.180 8.305.154 137 1.035 1.172 769 403 1.172 18,96 9,48 14,11
27 Sulawesi Tenggara 1.189.631 1.180.918 2.370.549 20 223 243 167 76 243 14,04 6,44 10,25
28 Gorontalo 555.584 554.710 1.110.294 19 195 214 139 75 214 25,02 13,52 19,27
29 Sulawesi Barat 626.895 625.176 1.252.071 46 128 174 110 64 174 17,55 10,24 13,90
30 Maluku 839.425 823.540 1.662.965 69 328 397 215 182 397 25,61 22,10 23,87
31 Maluku Utara 569.204 545.713 1.114.917 93 425 518 327 191 518 57,45 35,00 46,46
32 Papua Barat 446.542 400.169 846.711 299 434 733 489 244 733 109,51 60,97 86,57
33 Papua 1.758.058 1.552.657 3.310.715 372 808 1.180 709 471 1.180 40,33 30,34 35,64
125.058.484 123.364.472 248.422.956 2.794 14.062 16.856 10.835 6.021 16.856 8,66 4,88 6,79
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 6.16
JUMLAH KASUS BARU KUSTA DAN CASE DETECTION RATE (CDR) PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2013
No Provinsi
Penduduk Klasifikasi Jenis Kelamin
Case Detection Rate
per 100.000 Penduduk
Jumlah
Penderita Baru
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 575 87 15,13 82 14,26
2 Sumatera Utara 175 23 13,14 50 28,57
3 Sumatera Barat 90 17 18,89 12 13,33
4 Riau 81 1 1,23 5 6,17
5 Jambi 90 9 10,00 4 4,44
6 Sumatera Selatan 196 65 33,16 7 3,57
7 Bengkulu 35 11 31,43 0 0,00
8 Lampung 133 8 6,02 5 3,76
9 Kepulauan Bangka Belitung 30 4 13,33 5 16,67
10 Kepulauan Riau 41 2 4,88 2 4,88
11 DKI Jakarta 283 27 9,54 26 9,19
12 Jawa Barat 2.180 263 12,06 191 8,76
13 Jawa Tengah 1.765 197 11,16 111 6,29
14 DI Yogyakarta 57 0 0,00 2 3,51
15 Jawa Timur 4.132 521 12,61 362 8,76
16 Banten 702 64 9,12 110 15,67
17 Bali 88 2 2,27 4 4,55
18 Nusa Tenggara Barat 347 23 6,63 62 17,87
19 Nusa Tenggara Timur 159 9 5,66 69 43,40
20 Kalimantan Barat 26 0 0,00 2 7,69
21 Kalimantan Tengah 37 1 2,70 3 8,11
22 Kalimantan Selatan 161 21 13,04 9 5,59
23 Kalimantan Timur 157 7 4,46 12 7,64
24 Sulawesi Utara 361 35 9,70 35 9,70
25 Sulawesi Tengah 324 23 7,10 42 12,96
26 Sulawesi Selatan 1.172 110 9,39 70 5,97
27 Sulawesi Tenggara 243 15 6,17 22 9,05
28 Gorontalo 214 16 7,48 22 10,28
29 Sulawesi Barat 174 4 2,30 28 16,09
30 Maluku 397 13 3,27 54 13,60
31 Maluku Utara 518 12 2,32 79 15,25
32 Papua Barat 733 15 2,05 221 30,15
33 Papua 1.180 89 7,54 294 24,92
16.856 1.694 10,05 2.002 11,88
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Indonesia
Lampiran 6.17
PROPORSI KECACATAN KUSTA TINGKAT 2 DAN KASUS KUSTA PADA ANAK 0-14 TAHUN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Cacat Tingkat 2 0 - 14 Tahun
D
o
k
t
e
r
B
i
d
a
n
/
P
e
r
a
w
a
t
T
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l
T
a
n
p
a
p
e
m
e
r
i
k
s
a
a
n
T
i
d
a
k
D
i
k
e
t
a
h
u
i
T
T
2
+
T
T
1
T
i
d
a
k
D
i
i
m
u
n
i
s
a
s
i
T
i
d
a
k
D
i
k
e
t
a
h
u
i
D
o
k
t
e
r
B
i
d
a
n
/
P
e
r
a
w
a
t
T
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l
T
i
d
a
k
D
i
k
e
t
a
h
u
i
A
l
k
o
h
o
l
/
I
o
d
i
u
m
T
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l
L
a
i
n
-
l
a
i
n
T
i
d
a
k
D
i
k
e
t
a
h
u
i
G
u
n
t
i
n
g
B
a
m
b
u
L
a
i
n
-
l
a
i
n
T
i
d
a
k
D
i
k
e
t
a
h
u
i
Y
a
T
i
d
a
k
T
i
d
a
k
D
i
k
e
t
a
h
u
i
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) (29)
1 Aceh 4 0 0,0 0 4 0 0 0 2 0 2 0 0 4 0 0 2 0 1 1 3 1 0 0 2 2 0
2 Sumatera Utara 1 0 0,0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0
3 Sumatera Barat 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Riau 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 Jambi 2 1 50,0 0 1 0 1 0 0 0 2 0 0 2 0 0 1 1 0 0 2 0 0 0 2 0 0
6 Sumatera Selatan 2 1 50,0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 1 1 0 0 2 0 0 2 0 0
7 Bengkulu 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 5 4 80,0 0 2 1 2 0 2 0 2 1 0 2 3 0 1 1 2 1 2 0 3 0 2 3 0
9 Kep. Bangka Belitung 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI Jakarta 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
12 Jawa Barat 3 2 66,7 1 2 0 0 0 1 1 1 0 0 0 2 1 1 0 1 1 3 0 0 0 3 0 0
13 Jawa Tengah 2 1 50,0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 2 0 0 1 0 1 0 2 0 0 0 2 0 0
14 DI Yogyakarta 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15 Jawa Timur 19 9 47,4 0 17 0 2 0 3 3 13 0 0 2 15 2 1 0 17 0 14 3 2 0 17 2 0
16 Banten 24 17 70,8 0 15 0 9 0 1 3 20 0 0 4 20 0 7 12 1 4 19 4 0 1 24 0 0
17 Bali 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 2 2 100,0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 2 0 0 1 0 1 1 0 1 0 2 0 0
20 Kalimantan Barat 10 3 30,0 0 7 1 1 1 0 2 7 1 0 0 10 0 1 6 4 0 6 3 1 0 9 1 0
21 Kalimantan Tengah 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23 Kalimantan Timur 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 1 1 100,0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 2 1 50,0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 2 0 0 0 2 0 0
27 Sulawesi Tenggara 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 - - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 1 0 0,0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0
78 42 53,8 1 55 3 17 2 12 11 51 4 0 18 56 4 16 23 30 9 55 14 8 1 70 8 0
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
update per 30 April 2014
Indonesia
Lampiran 6.18
JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
T
o
t
a
l
M
e
n
i
n
g
g
a
l
C
a
s
e

F
a
t
a
l
i
t
y

R
a
t
e

(
%
)
Faktor Risiko
Pemeriksaan Kehamilan Status Imunisasi Penolong Persalinan Perawatan Tali Pusat Pemotongan Tali Pusat Dirawat di RS
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 4.671.874 908 19,44 1
2 Sumatera Utara 13.391.231 74 0,55 0
3 Sumatera Barat 5.035.311 543 10,78 0
4 Riau 6.143.674 185 3,01 0
5 Jambi 3.329.887 348 10,45 0
6 Sumatera Selatan 7.857.437 299 3,81 0
7 Bengkulu 1.799.668 134 7,45 0
8 Lampung 7.880.769 464 5,89 0
9 Kep. Bangka Belitung 1.339.774 34 2,54 0
10 Kepulauan Riau 1.937.577 461 23,79 0
11 DKI Jakarta 10.001.943 1.362 13,62 0
12 Jawa Barat 45.472.830 671 1,48 0
13 Jawa Tengah 32.684.579 603 1,84 0
14 DI Yogyakarta 3.560.080 641 18,01 0
15 Jawa Timur 38.268.825 1.134 2,96 0
16 Banten 11.523.018 1.910 16,58 0
17 Bali 4.139.690 67 1,62 0
18 Nusa Tenggara Barat 4.651.648 5 0,11 0
19 Nusa Tenggara Timur 4.778.348 1 0,02 0
20 Kalimantan Barat 4.433.728 249 5,62 0
21 Kalimantan Tengah 2.250.539 59 2,62 0
22 Kalimantan Selatan 3.840.547 63 1,64 0
23 Kalimantan Timur 3.967.793 340 8,57 0
24 Sulawesi Utara 2.354.668 38 1,61 0
25 Sulawesi Tengah 2.787.164 189 6,78 0
26 Sulawesi Selatan 8.305.154 450 5,42 0
27 Sulawesi Tenggara 2.370.549 40 1,69 0
28 Gorontalo 1.110.294 13 1,17 0
29 Sulawesi Barat 1.252.071 14 1,12 0
30 Maluku 1.662.965 28 1,68 0
31 Maluku Utara 1.114.917 144 12,92 1
32 Papua Barat 846.711 6 0,71 0
33 Papua 3.310.715 44 1,33 0
Indonesia 248.075.978 11.521 4,64 2
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
update per 30 April 2014
Lampiran 6.19
JUMLAH KASUS, MENINGGAL, DAN INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi Jumlah Penduduk Kasus
Incidens Rate
(per 100.000 Penduduk)
Meninggal
Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 87 8 313 80 251 63 160 33 97 10 908 194 21,37
2 Sumatera Utara 8 3 30 18 24 17 5 5 7 6 74 49 66,22
3 Sumatera Barat 38 14 152 86 209 112 88 55 56 31 543 298 54,88
4 Riau 17 2 45 18 62 26 33 16 28 11 185 73 39,46
5 Jambi 39 3 141 91 163 104 61 37 57 21 461 256 55,53
6 Sumatera Selatan 27 6 76 62 93 62 66 45 86 44 348 219 62,93
7 Bengkulu 9 3 20 20 41 36 35 28 29 19 134 106 79,10
8 Lampung 35 21 76 68 88 75 40 35 60 46 299 245 81,94
9 Kep. Bangka Belitung 8 3 14 9 8 5 1 1 3 3 34 21 61,76
10 Kepulauan Riau 32 20 82 72 115 87 107 79 128 52 464 310 66,81
11 DKI Jakarta 186 0 305 0 313 0 167 0 391 0 1.362 0 0,00
12 Jawa Barat 231 38 803 288 536 144 146 58 194 34 1.910 562 29,42
13 Jawa Tengah 78 16 186 78 168 59 106 44 133 28 671 225 33,53
14 DI Yogyakarta 16 8 124 104 225 158 68 54 170 84 603 408 67,66
15 Jawa Timur 58 1 98 6 101 4 91 4 293 8 641 23 3,59
16 Banten 96 45 271 206 273 232 171 134 323 131 1.134 748 65,96
17 Bali 20 4 41 23 43 19 51 21 94 6 249 73 29,32
18 Nusa Tenggara Barat 6 0 10 6 7 6 7 1 29 4 59 17 28,81
19 Nusa Tenggara Timur 9 0 10 8 18 12 5 2 21 13 63 35 55,56
20 Kalimantan Barat 23 7 51 40 80 63 73 42 113 26 340 178 52,35
21 Kalimantan Tengah 3 0 12 4 13 4 1 1 9 1 38 10 26,32
22 Kalimantan Selatan 1 0 1 1 4 4 1 2 6 0 13 7 53,85
23 Kalimantan Timur 20 0 41 11 54 16 54 22 20 2 189 51 26,98
24 Sulawesi Utara 32 9 144 105 114 83 60 38 100 36 450 271 60,22
25 Sulawesi Tengah 1 0 2 1 5 4 5 1 1 0 14 6 42,86
26 Sulawesi Selatan 1 0 5 3 16 10 8 6 10 5 40 24 60,00
27 Sulawesi Tenggara 3 2 17 12 14 13 18 14 15 5 67 46 68,66
28 Gorontalo 1 1 0 0 2 1 2 0 0 0 5 2 40,00
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0,00
30 Maluku 5 0 11 4 7 4 3 3 2 0 28 11 39,29
31 Maluku Utara 14 4 73 22 42 7 12 7 3 0 144 40 27,78
32 Papua Barat 11 4 12 8 14 8 3 0 4 0 44 20 45,45
33 Papua 5 4 1 0 0 0 0 0 0 0 6 4 66,67
1.120 226 3.167 1.454 3.103 1.438 1.648 788 2.483 626 11.521 4.532 39,34
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
update per 30 April 2014
Indonesia
Lampiran 6.20
JUMLAH KASUS CAMPAK DAN KASUS CAMPAK YANG DIVAKSINASI
MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun)
Total Kasus
Total
Divaksinasi
Proporsi
Divaksinasi
terhadap Kasus
<1 Tahun 1-4 Tahun 5-9 Tahun 10-14 Tahun 15 Tahun
Total KLB
Frekuensi KLB dengan
Spesimen > 5
Frekuensi KLB dengan
Investigasi Penuh
Frekuensi KLB dengan
Laporan ke Pusat
Total Kasus Meninggal
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 2 1 1 0 35 0
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 9 8 7 3 98 0
4 Riau 0 0 0 0 0 0
5 Jambi 5 4 4 2 46 0
6 Sumatera Selatan 7 7 6 2 93 0
7 Bengkulu 2 2 2 1 33 0
8 Lampung 8 8 8 4 309 0
9 Kep. Bangka Belitung 1 0 0 0 6 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0
11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0
12 Jawa Barat 18 11 11 0 205 0
13 Jawa Tengah 9 9 9 6 164 0
14 DI Yogyakarta 1 0 0 0 20 0
15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0
16 Banten 36 27 25 10 247 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 5 3 3 0 57 0
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 8 8 8 8 100 0
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 5 5 5 0 48 0
26 Sulawesi Selatan 1 1 0 0 20 0
27 Sulawesi Tenggara 6 3 3 3 52 0
28 Gorontalo 1 1 1 1 5 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 2 2 1 0 62 0
31 Maluku Utara 1 1 1 0 26 1
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0
33 Papua 1 1 1 0 51 0
128 102 96 40 1.677 1
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
update per 30 April 2014
Indonesia
Lampiran 6.21
FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLB CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Laporan KLB
Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 9 2 35 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 45 6 72 1 12 1 9 1 5 0 0 0 0
4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 Jambi 28 4 40 1 6 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 10 1 19 1 14 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Bengkulu 35 4 63 1 11 0 0 2 19 0 0 0 0
8 Lampung 53 2 14 5 45 1 250 0 0 0 0 0 0
9 Kep. Bangka Belitung 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 6 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
12 Jawa Barat 83 10 130 2 9 0 0 6 66 0 0 0 0
13 Jawa Tengah 45 0 0 4 109 0 0 5 55 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 4 0 0 0 0 0 0 1 20 0 0 0 0
15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
16 Banten 172 32 226 0 0 2 10 1 6 1 5 0 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 20 1 3 2 27 0 0 0 0 2 27 0 0
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 40 0 0 3 34 0 0 0 0 5 66 0 0
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 26 2 27 2 16 0 0 1 5 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 5 0 0 1 20 0 0 0 0 0 0 0 0
27 Sulawesi Tenggara 23 3 35 1 7 0 0 2 10 0 0 0 0
28 Gorontalo 5 0 0 0 0 0 0 1 5 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 13 2 62 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 5 1 26 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 7 1 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
634 71 803 24 310 4 269 20 191 9 104 0 0
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
update per 30 April 2014
Gabungan
(Campak dan Rubella)
Negatif Pending Lab.
Indonesia
Lampiran 6.22
KLB CAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI LABORATORIUM
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Konfirmasi Laboratorium
Tanpa Spesimen
Total Darah
(Serum) Sampel
Campak Rubella
Kasus Divaksinasi Kasus Divaksinasi Kasus Divaksinasi Kasus Divaksinasi Kasus Divaksinasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 0 0 2 1 1 0 1 0 2 1 6 2 33,33 2 33,33
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
4 Riau 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 3 0 0,00 1 33,33
5 Jambi 2 1 7 3 1 1 1 1 2 1 13 7 53,85 1 7,69
6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
8 Lampung 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 3 3 100,00 0 0,00
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0,00 0 0,00
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
11 DKI Jakarta 0 0 2 0 0 0 1 0 1 0 4 0 0,00 0 0,00
12 Jawa Barat 1 0 1 0 2 0 1 0 4 0 9 0 0,00 0 0,00
13 Jawa Tengah 0 0 1 1 0 0 6 5 2 0 9 6 66,67 0 0,00
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 2 2 100,00 0 0,00
15 Jawa Timur 9 8 147 127 174 137 75 54 205 27 610 353 57,87 24 3,93
16 Banten 0 0 5 2 7 2 8 6 0 0 20 10 50,00 5 25,00
17 Bali 0 0 2 2 1 1 0 0 1 1 4 4 100,00 0 0,00
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0,00 0 0,00
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
20 Kalimantan Barat 1 0 7 4 9 1 9 1 3 0 29 6 20,69 3 10,34
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
22 Kalimantan Selatan 0 0 6 0 6 3 1 0 2 0 15 3 20,00 3 20,00
23 Kalimantan Timur 0 0 3 2 3 0 1 1 8 3 15 6 40,00 0 0,00
24 Sulawesi Utara 0 0 2 2 1 1 0 0 0 0 3 3 100,00 0 0,00
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 4 0 15 0 19 0 0,00 0 0,00
26 Sulawesi Selatan 0 0 1 1 3 0 4 0 4 0 12 1 8,33 0 0,00
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 0 -
13 9 187 145 214 150 112 68 252 34 778 406 52,19 39 5,01
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
update per 30 April 2014
Indonesia
Total
Meninggal
Case
Fatality
Rate
(%)
<1 Tahun 1-4 Tahun 5-9 Tahun 10-14 Tahun 15 Tahun No Provinsi
Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun)
Total Kasus
Total
Divaksinasi
Proporsi
Divaksinasi
Terhadap Total
Kasus
Lampiran 6.23
JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI
TAHUN 2013
5-9
Lampiran 6.24
No Provinsi Jumlah Kasus Non Polio AFP
Non Polio AFP Rate
per 100.000 Penduduk
Usia < 15 Tahun
Spesimen adekuat
(%)
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 54 3,60 88,8
2 Sumatera Utara 93 2,09 83,3
3 Sumatera Barat 41 2,56 95,1
4 Riau 36 1,76 83,3
5 Jambi 30 3,00 76,6
6 Sumatera Selatan 76 3,17 89,4
7 Bengkulu 12 2,18 75,0
8 Lampung 69 3,00 91,3
9 Kep. Bangka Belitung 18 4,50 44,4
10 Kepulauan Riau 11 2,00 90,9
11 DKI Jakarta 71 2,96 76,0
12 Jawa Barat 345 2,59 92,1
13 Jawa Tengah 233 2,71 97,8
14 DI Yogyakarta 34 4,25 97,0
15 Jawa Timur 221 2,35 86,8
16 Banten 106 3,07 97,1
17 Bali 39 3,71 87,1
18 Nusa Tenggara Barat 40 2,76 97,5
19 Nusa Tenggara Timur 115 6,39 73,9
20 Kalimantan Barat 38 2,71 86,8
21 Kalimantan Tengah 12 1,71 83,3
22 Kalimantan Selatan 25 2,27 88,0
23 Kalimantan Timur 25 2,08 80,0
24 Sulawesi Utara 25 3,85 92,0
25 Sulawesi Tengah 34 3,78 88,2
26 Sulawesi Selatan 53 2,08 75,4
27 Sulawesi Tenggara 23 2,71 82,6
28 Gorontalo 20 5,71 90,0
29 Sulawesi Barat 5 1,11 60,0
30 Maluku 16 2,67 87,5
31 Maluku Utara 15 3,75 86,6
32 Papua Barat 5 1,67 100,0
33 Papua 23 2,00 69,5
1.963 2,74 87,7
Sumber: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI, 2014
update per 18 Maret 2014
NON POLIO AFP RATE PER 100.000 PENDUDUK USIA < 15 TAHUN DAN PERSENTASE SPESIMEN ADEKUAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
Indonesia
Pemeriksaan
Mikroskopik
Rapid Diagnostic
Test
Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Aceh 4.671.874 46.136 39.912 5.747 45.659 2.058 4,51 0,44
2 Sumatera Utara 13.391.231 102.586 57.109 25.072 82.181 17.404 21,18 1,30
3 Sumatera Barat 5.035.311 5.764 5.150 400 5.550 1.292 23,28 0,26
4 Riau 6.143.674 17.650 10.192 5.632 15.824 1.404 8,87 0,23
5 Jambi 3.329.887 43.866 27.540 6.171 33.711 3.705 10,99 1,11
6 Sumatera Selatan 7.857.437 43.056 22.361 6.168 28.529 3.080 10,80 0,39
7 Bengkulu 1.799.668 45.818 28.046 10.703 38.749 7.004 18,08 3,89
8 Lampung 7.880.769 24.194 18.685 5.323 24.008 2.678 11,15 0,34
9 Kep. Bangka Belitung 1.339.774 62.067 54.914 6.052 60.966 1.721 2,82 1,28
10 Kepulauan Riau 1.937.577 7.094 4.439 2.161 6.600 958 14,52 0,49
11 DKI Jakarta 10.001.943 0 0 0 0 0 - 0,00
12 Jawa Barat 45.472.830 31.235 31.231 4 31.235 212 0,68 0,00
13 Jawa Tengah 32.684.579 55.357 55.049 308 55.357 1.157 2,09 0,04
14 DI Yogyakarta 3.560.080 80 80 0 80 73 91,25 0,02
15 Jawa Timur 38.268.825 29.726 29.554 172 29.726 7 0,02 0,00
16 Banten 11.523.018 2.859 1.342 89 1.431 97 6,78 0,01
17 Bali 4.139.690 10.616 10.616 0 10.616 0 0,00 0,00
18 Nusa Tenggara Barat 4.651.648 91.994 78.263 13.731 91.994 2.666 2,90 0,57
19 Nusa Tenggara Timur 4.971.802 377.734 339.479 13.823 353.302 81.386 23,04 16,37
20 Kalimantan Barat 4.508.968 37.598 21.744 14.722 36.466 1.047 2,87 0,23
21 Kalimantan Tengah 2.328.823 25.371 12.121 12.542 24.663 4.660 18,89 2,00
22 Kalimantan Selatan 3.840.547 13.511 10.477 4.121 14.598 5.508 37,73 1,43
23 Kalimantan Timur 3.967.793 26.465 7.690 10.108 17.798 1.862 10,46 0,47
24 Sulawesi Utara 2.354.668 22.506 15.215 8.048 23.263 2.605 11,20 1,11
25 Sulawesi Tengah 2.787.164 41.682 23.815 12.075 35.890 3.140 8,75 1,13
26 Sulawesi Selatan 8.305.154 55.893 44.473 10.177 54.650 2.109 3,86 0,25
27 Sulawesi Tenggara 2.370.549 21.019 13.470 7.507 20.977 1.472 7,02 0,62
28 Gorontalo 1.110.294 13.850 6.982 6.868 13.850 1.204 8,69 1,08
29 Sulawesi Barat 1.252.071 22.138 17.234 13.352 30.586 504 1,65 0,40
30 Maluku 1.662.965 48.818 38.127 4.260 42.387 13.721 32,37 8,25
31 Maluku Utara 1.114.917 21.630 16.054 3.704 19.758 5.030 25,46 4,51
32 Papua Barat 846.711 123.283 101.447 10.096 111.543 32.547 29,18 38,44
33 Papua 3.310.715 361.660 305.169 41.045 346.214 141.216 40,79 42,65
248.422.956 1.833.256 1.447.980 260.181 1.708.161 343.527 20,11 1,38
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2014
Annual Parasite
Incidence (API)
per 1.000
penduduk
Indonesia
Lampiran 6.25
JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN MALARIA PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO
MENURUT PROVINSI TAHUN 2013
No Provinsi
Populasi
Berisiko
Suspek
Sediaan Darah Diperiksa
Positif
Persentase
persediaan darah
positif
INSIDEN DAN PREVALENSI MALARIA
MENURUT PROVINSI, RISKESDAS 2013
Diagnosis Diagnosis/Gejala Diagnosis Diagnosis/Gejala
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 0,3 2,4 1,6 6,1
2 Sumatera Utara 0,3 1,4 1,2 5,2
3 Sumatera Barat 0,3 1,4 1,1 4,3
4 Riau 0,1 0,6 0,8 2,5
5 Jambi 0,5 1,3