Anda di halaman 1dari 4
J urnal K imia I ndonesia Vol. 5 (1), 2010, h.35-38 Studi Pengaruh Bentuk Silika

Jurnal Kimia Indonesia

Vol. 5 (1), 2010, h.35-38

J urnal K imia I ndonesia Vol. 5 (1), 2010, h.35-38 Studi Pengaruh Bentuk Silika dari

Studi Pengaruh Bentuk Silika dari Abu Ampas Tebu terhadap Kekuatan Produk Keramik

A. Hanafi S 1 dan A. Nandang R. 2 1 Pusat Penelitian Kimia – LIPI, Kawasan Puspiptek, Serpong 15314, Tangerang 2 Jurusan Kimia, F-MIPA, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

E-mail: achmad.hanafi@gmail.com

Abstrak. Ampas tebu merupakan sumber daya alam terbarukan yang mengandung SiO 2 yang tinggi. Telah dilakukan proses ekstraksi silika dari ampas tebu dengan pengarangan pada suhu 350 o C dilanjutkan dengan pengabuan pada 500; 600; 700 dan 800 o C. Abu yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan AAS untuk mengetahui kadar silika dan dengan XRD untuk mengidentifikasi bentuk silika yang terjadi. Kekuatan maksimal keramik diteliti pada penambahan 10% berat silika pada adonan. Pembakaran adonan dilakukan secara terkendali dengan kecepatan pemanasan 135 o C/jam sampai mencapai suhu 900 o C dan suhu akhir ditahan selama 3 jam kemudian didinginkan sampai suhu ruang. Produk keramik yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi sifat kuat patahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan silika dalam abu adalah 49,09 ± 1,44% (berat/berat). Bentuk kristal SiO 2 setelah pengabuan pada suhu 500 dan 600 o C adalah amorf dan setelah suhu pengabuan 600 dan 700 o C adalah kristalin. Kekuatan keramik yang paling optimal dihasilkan setelah pengabuan 500 o C dengan kuat patah 940,01 ± 17,44 N/cm 2

Kata kunci: abu ampas tebu, XRD, keramik, silika

Pendahuluan Ampas tebu (bagasse) merupakan hasil sisa pengolahan gula tebu. Bagasse ini umumnya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kertas dan bahan bakar pengolahan tebu, tetapi masih banyak yang melakukan pembakaran secara langsung. Menurut penelitian Tanan (2001) ternyata abu ampas tebu mengandung senyawaan silika yang cukup tinggi dan kemudian telah diteliti pemanfaatannya sebagai bahan campuran dalam adonan aspal beton. 1 Secara teoritis, unsur silika mempunyai sifat menambah kekuatan lentur adonan keramik dan kekuatan produk keramik. Beberapa pengrajin keramik berdekatan dengan lokasi sumber ampas tebu dari pabrik pengolahan gula, maka pada penelitian ini akan dilakukan studi pemanfaatan abu ampas tebu sebagai bahan aditif pada pembuatan keramik. Penguatan badan keramik terjadi karena adanya pengisian ruang kosong yang ditinggalkan akibat penguapan dari proses pembakaran adonan dengan leburan silika sedemikian hingga produk menjadi lebih rapat. 2 Pada penelitian ini akan dibahas tentang pembentukan kristal silika pada beberapa suhu pengabuan, dilanjutkan dengan evaluasi produk setelah proses pemanasan dari adonan yang telah

ditambahkan 10% berat abu ampas tebu, terhadap kuat patah produk keramik. Kualitas keramik dapat ditingkatkan dengan penambahan senyawaan silika. 3 Silika dapat berupa kristal maupun amorf tergantung dari suhu pembakaran. 4 Pemanfaatan abu ampas tebu pada pembuatan aspal beton telah dilakukan oleh Tanan. 1 Ampas tebu atau bagasse ini umumnya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kertas dan bahan bakar pengolahan tebu, tetapi masih banyak yang melakukan pembakaran secara langsung. Pembakaran bagasse yang tidak terkendali dapat mengakibatkan masalah polusi udara yang serius. 5 Menurut data FAO tahun 2006 tentang negara- negara produsen tebu dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-11 dengan produksi per tahun sekitar 25.500.00 juta ton, dimana aka menghasilkan ampas tebu atau baggase sebanyak 35% kapasitas produksi. 6 Bagasse yang berlimpah tersebut telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada ketel uap yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga uap, bahan bakar pada tungku produksi dan bahan baku pada pembuatan kertas. Komponen anorganik dari bagasse merupakan mineral berupa ion logam yang dibutuhkan

Dapat dibaca di journal.kimiawan.org/jki

tanaman untuk pertumbuhannya. Pada pembakaran bagasse, semua komponen organik diubah menjadi gas CO 2 dan H 2 O dengan meninggalkan abu yang merupakan komponen anorganik dengan mengikuti reaksi:

C x H y O z + O 2 CO 2 (g) + H 2 O(g) + abu

Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, abu bagasse yang asalnya hanya digunakan sebagai abu gosok, sudah mulai dimanfaatkan dalam industri bahan bangunan sebagai campuran semen dan memberi hasil material yang lebih kuat, ringan dan ekonomis sebagai bahan tambahan 1 dan mampu menghasilkan panil gypsum yang memiliki kuat lentur yang baik sebagai bahan pengisi pada pembuatan beton aspal dengan memberikan stabilitas dan kualitas jalan yang lebih baik. 7 Pada proses pembakaran adonan keramik yang terdiri dari lempung, kapur dan pasir, silika dari pasir berfungsi sebagai penguat badan keramik dimana pada kondisi temperatur titik leburnya silika akan mengisi ruang kosong (pori) yang dibentuk antara partikel tanah liat dan mineral akibat adanya penguapan air dan bahan lainnya sedemikian hingga produk menjadi lebih rapat. 2

A.Hanafi S dan A. Nandang R

Pada penelitian ini akan dipelajari proses pemanfaatan silika dari abu bagasse sebagai bahan aditif dalam meningkatkan kualitas keramik.

Percobaan Sampel bagasse dibersihkan dari kotoran yang terbawa dari pabrik. Lalu dicuci dengan air, dikeringkan dibawah sinar matahari. Diambil sebagaian contoh untuk dianalisa Kadar Abunya dengan Suhu pengabuan 550 o C, selama 1 malam. Sejumlah bagasse bersih kemudian dibakar sehingga menghasilkan arang sekam pada suhu 350 o C. Arang yang terbentuk dimasukkan kedalam cawan porselen lalu diabukan dalam tungku pemanasan pada suhu 500 o C, 600 o C, 700 o C dan 800 o C selama 4 jam. Abu bagasse yang dihasilkan digerus dan diayak sehingga diperoleh serbuk abu yang lolos pada ayakan 200 mesh. Hasil ayakan yang diperoleh dikarakterisasi dengan XRD (Cu K ) untuk mengetahui sifat kekristalannya dan dianalisis dengan AAS untuk mengetahui kadar silika-nya (SiO 2 ). Adonan keramik dirancang dengan penambahan abu bagasse 10% dari berat tanah liat dan kemudian dilakukan pembakaran pada suhu 900 o C selama 3 jam. Produk keramik yang dihasilkan diukur kekuatan patahnya.

SiO 2 800 o C SiO 2 700 o C SiO 2 600 o C
SiO 2
800
o C
SiO 2
700
o C
SiO 2
600
o C
SiO 2
500
o C

Gambar 1. Pola difraksi XRD abu bagasse hasil pengabuan pada suhu 500 s/d 800°C

36

Jurnal Kimia Indonesia Vol. 5(1), 2010

Aplikasi Nanopartikel Perak Pada Serat Katun Sebagai Produk Jadi Tekstil Antimikroba

Hasil dan Pembahasan Hasil uji kadar abu rata-rata dalam bagasse adalah 2.09 %, sedangkan hasil analisis kadar SiO 2 rata-rata dengan AAS adalah 64,65%, diperkirakan sisanya adalah oksida-oksida logam K, Mg, Na, Fe dan Al. Pola difraksi analisa XRD abu bagasse pada suhu pengabuan 500, 600, 700 dan 800 o C dapat dilihat pada Gambar 1. Pola difraksi ini dievaluasi dengan membandingkan nilai d dari puncak-puncak pada sampel dengan puncak-puncak standar SiO 2 dari JCPDS dan juga hasil penelitian Tse, J.S et al. 9 dimana fasa SiO 2 ditemukan pada daerah 2= 20 – 27 o . Gambar 1 adalah pola difraksi XRD abu baggase hasil pengabuan pada suhu 500, 600, 700 dan 800 o C pada daerah 2= 10–50 o . Bentuk dari puncak SiO 2 yang memilki kekristalan tinggi ditunjukkan dengan bentuk puncak yang menajam pada 2= 20– 25 o , puncak ini akan semakin tinggi ketika suhu pengabuan dinaikkan. Hal ini sesuai dengan teori pertumbuhan kristal yang akan naik dengan peningkatan suhu pemanasan sampai terbentuknya kristal secara sempurna. Dengan demikian, kenaikkan intensitas puncak SiO 2 menandakan adanya pertumbuhan kristal. Derajat kekristalan bentuk SiO 2 pada suhu pengabuan 500 dan 600 o C adalah rendah dibandingkan dengan kekristalan pada suhu pengabuan 700 dan 800 o C, artinya pada daerah ini fasa SiO 2 -amorf masih mendominasi bentuk SiO 2 yang dihasilkan. Demikian juga sebaliknya derajat kekristalan bentuk SiO 2 pada suhu pengabuan 700 dan 800 o C adalah tinggi dibandingkan dengan kekristalan pada suhu pengabuan 500 dan 600 o C, artinya pada daerah ini fasa SiO 2 -kritalin mendominasi bentuk kristal yang dihasilkan. Pengaruh bentuk silika ini pada kekuatan patah produk dapat dilihat pada Gambar 2.

ini pada kekuatan patah produk dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Pengaruh bentuk dominasi SiO2

Gambar 2. Pengaruh bentuk dominasi SiO2 terhadap kuat patah keramik penambahan 10% abu ampas tebu.

Dari Gambar ini terlihat bahwa terjadi penurunan nilai kuat patah dari keramik dengan 10% abu ampas tebu berturut-turut dari kuat patah yang tinggi ke kuat patah yang rendah Amorf-500, Amorf-600, Kristal-700 dan Kristal-800. Secara umum dapat dikatakan bahwa dominasi bentuk Kristal amorf memberi pengaruh peningkatan kekuatan keramik yang lebih besar dibanding dengan bentuk kristalnya. Kuat patah maksimum diberikan oleh bentuk amorf-500 sebesar 940 N/cm 2 yang lebih tinggi dari kuat patah tanpa penambahan abu bagasse sebesar 517 N/cm 2 maupun hasil penelitian Mulyadi 10 untuk keramik Indonesia yaitu 550 N/cm 2 . Data ini dapat menerangkan bahwa silika yang terdapat dalam abu akan mengisi ruang dalam pori, yang terbentuk akibat menguapnya air, sehingga keramik menjadi lebih padat. Padatnya keramik akan menyebabkan nilai porositas menurun, sehingga nilai kuat patah menjadi tinggi.

Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa silika dalam abu yang dihasilkan dengan suhu pengabuan 500-600 o C berbentuk amorf sedangkan dengan suhu pengabuan 700-800 o C berbentuk kristal. Penambahan bentuk silika yang amorf kedalam adonan keramik memberikan kekuatan keramik yang lebih baik daripada bentuk silika yang kristalin. Kuat patah maksimum diberikan oleh bentuk amorf-500 sebesar 940 dyne/cm 2 yang lebih tinggi dari kuat patah keramik Indonesia dalam literatur.

Pustaka

1. Tanan; Natalia;Anggriani, F. Perilaku Aspal Beton terhadap Pemakaian Abu Ampas Tebu, Skripsi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra, Surabaya,

2001.

2. Irhami, M.S. Uji Fisis Untuk Menentukan Karakteristik Berbagai Produk Keramik, Skripsi Sarjana Fisika, F MIPA UGM, Yogyakarta, 2005.

3. Yadi; Hendri. Pengaruh Pencampuran Abu Sekam Padi terhadap Karakteristik Fisis Produk Gerabah Kasongan, Skripsi Sarjana Fisika, F MIPA UGM, Yogyakarta, 2005.

4. Somaatmadja, D. Penelitian dan Pengembangan Indusri Hasil Pertanian dan Kaitannya dengan Industri Kimia Dasar, Logam Dasar, Plastik, Polimer dan Industri Selulosa, Komunikasi No. 207, BPPIHP, Bogor, 1983

37

5. Priatmadi, D. Pemulihan Limbah Padat (Blotong) dari Proses Karbonatasi Pabrik Gula dengan Proses Alkali dan Kalsinasi Uap, Skripsi Sarjana Kimia, F MIPA UGM, 1992

6. FAO, 2006, Major Food and Agricutural Commodities and Producers: Sugar Cane 2006. Http://www.fao.org/es/ess/top/commodity.html

7. Dewi, S.M. Pemakaian Limbah Abu Ampas Tebu Untuk Bahan Panil Gypsum, J. Teknik, 1998, 5, 1.

8. Tse, J.S.; Klug, D.D. Phys.Rev.B. Condens.Matter., 1995, 51, 16392.

9. Mulyadi. Raw Material and Body Preparation, Ceramic Development Technology, Chukyo Junior College, Japan, 2002.

38

Jurnal Kimia Indonesia Vol. 5(1), 2010

A.Hanafi S dan A. Nandang R