Anda di halaman 1dari 58

TUGAS ASUHAN KEPERAWATAN KOLESISTITIS DAN KOLELITIASIS

TUGAS

oleh
Kelompok 3

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014

TUGAS ASUHAN KEPERAWATAN KOLESISTITIS DAN KOLELITIASIS


TUGAS
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik III A
dosen pengampu Ns. Wantiyah, M.Kep.
oleh
Kelompok 3
Siti Zumrotul Mina

122310101005

Riana Vera Andantika

122310101006

Desi Rahmawati

122310101021

Ria Novitasari

122310101022

Dina Amalia

122310101037

Ary Januar Pranata Putra 122310101039


Alfun Hidayatulloh

122310101047

Sandi Budi Darmawan

122310101050

Aprilita Restuningtyas

122310101055

Akhmad Miftahul Huda

122310101061

Fakhrun Nisa Fiddaroini

122310101064

Raditya Putra Yuwana

122310101067

Cholil Albarizi

122310101068

Ambar Larasati

122310101076

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014

ii

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Tugas Asuhan Keperawatan
Kolesistitis Dan Kolelitiasis. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
KK III A.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, kami menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ns. Wantiyah, M.Kep. selaku dosen mata kuliah KK III A;
2. Rekan kerja kelompok satu pada mata kuliah KK III A;
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Kami juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah imi dapat berguna dan bermanfaat dengan baik
khususnya dalam pembelajaran KK III A.

Jember, April 2014

Penulis

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ..............................................................................

Halaman
i

HALAMAN JUDUL..................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ..............................................................................

iii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

iv

KASUS I KOLESISTITIS ........................................................................

1. Pengertian Kolesistitis Dan Jenis Kolesistitis Pasien ......................

2. Etiologi Atau Faktor Resiko Kolesistitis ..........................................

3. Tanda Dan Gejala Kolesistitis ...........................................................

4. Mekanisme Terjadinya Kolesistitis .................................................

5. Pemeriksaan Yang Diperlukan & Hasil Pemeriksaan Kolesistitis

6. Penatalaksanaan Medis Kolesistitis ..................................................

7. Asuhan Keperawatan Kolesistitis .....................................................

12

7.1 Pengkajian.....................................................................................

12

7.2 Analisa data...................................................................................

16

7.3 Diagnosa ........................................................................................

18

7.4 Intervensi.......................................................................................

18

7.5 Implementasi.................................................................................

21

7.6 Evaluasi .........................................................................................

24

7.7 Discharge Planning.......................................................................

25

KASUS II KOLELITIASIS ......................................................................


27
1. Definisi Kolelitiasis..............................................................................

27

2. Etiologi Kolelitiasis .............................................................................

27

3. Patofisiologi Kolelitiasis......................................................................

28

4. Tanda Dan Gejala Kolelitiasis ...........................................................

30

5. Pemeriksaan Penunjang Kolelitiasis .................................................

31

6. Komplikasi Kolelitiasis ....................................................................... `

31

iv

7. Penatalaksanaan Kolelitiasis..............................................................

32

8. Asuhan Keperawatan Kolelitiasis......................................................

35

9.1 Pengkajian....................................................................................

35

9.2 Analisa Data .................................................................................

39

9.3 Diagnosa .......................................................................................

43

9.4 Intervensi......................................................................................

44

9.5 Implementasi................................................................................

49

9.6 Evaluasi ........................................................................................

51

KOLESISTITIS KOLELITIASIS
Tugas KK 3A (14 April 2014)
Kasus 1:
Seorang pasien perempuan usia 45 tahun dibawa ke UGD karena mengalami
nyeri hebat pada perut sebelah kanan atas. Nyeri kadang dirasakan pada daerah
baru. Pasien juga merasakan demam sejak 1 hari yang lalu. Berdasarkan berbagai
pemeriksaan yang dilakukan pasien didiagnosa kolesistitis.
Jawaban:
1. Pengertian Kolisistitis Dan Jenis Kolesistitis Pasien
Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan inflamasi
akut dinding kandung empedu disertai nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan
panas badan. Dikenal dua klasifikasi yaitu akut dan kronis. Kolesistitis akut
adalah peradangan dari dinding kandung empedu, biasanya merupakan akibat dari
adanya batu empedu di dalam duktus sistikus, yang secara tiba-tiba menyebabkan
serangan nyeri yang luar biasa. Kolesistitis kronis adalah peradangan menahun
dari dinding kandung empedu, yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri
perut yang tajam dan hebat.
Kolesistitis yang dialami oleh pasien tersebut adalah kolesistitis akut.
Kolesistitis merujuk pada inflamasi akut dari kandung mepedu. Ini biasanya
mengiritasi lapisan kandung mepedu. Ini dapat menjadi padat dalam duktus sistik
yang menyebabkan obstruksi dan inflamasi dinding kandung empedu, mencetus
infeksi. Kandung empedu terlatak di bawah lobus kanan hepar. Fungsi utamanya
adalah mengkonsentrasikan dan menyimpan empedu yang diproduksi poleh
hepar. Empedu diperlukan untuk mengemulsikan lemak-lemak. Kandung empedu
berkontraksi dan melepaskan empedu ke dalam duodenum bila makanan berlemak
masuk ke usus. Penyakit kandung empedu adalah akut atau kronis. Bentuk di
karakteristikkan dengan nyeri hebat dari awitan tiba-tiba.
Kolelitiasis (kalkulus/kalkuli, batu empedu) merupakan suatu keadaan
terbentuknya batu empedu yang ada dalam kantong empedu dari unsure-unsur

padat yang membentuk cairan empedu. Batu empedu ini memiliki ukuran, bentuk
dan komposisi yang sangat bervariasi. Batu empedu ini tidak lazim ditemukan
pada anak-anak dan dewasa muda tetapi insidennya semakin sering pada individu
berusia 40 tahun (Smeltzer, 2002). Kolelitiasis adalah batu yang terdapat di
saluran empedu utama atau di duktus koledokus (koledokolitiasis), di saluran
sistikus (sistikokolitiasis) jarang sekali di temukan dan biasanya bersamaan
dengan batu di dalam kandung empedu, dan di saluran empedu intrahepatal atau
hepatolitiasis. (Hadi Sujono, 2002 hlm 778).
Kolesistisis akut merupakan inflamasi akut pada kandung empedu, faktor
presipitasi yang paling sering memicu keadaan ini adalah obstruksi batu empedu.
Sepuluh persen kasus kolesistisis akut tanpa obstruksi batu empedu biasanya
ditemukan pada pasien-pasien yang sakit berat seperti misalnya keadaan
pascabedah, trauma beray, luka bakar berat, kegagalan organ multisistem, sepsis,
hiperalimentasi yang lama atau keadaan postpartum. Gejalanya meliputi nyeri
abdomen kuadran kanan atas atau nyeri epigastrium, demam yang ringan,
anoreksia, takikardia, daforesis dan nause serta vomitus. Gejala ikterus
menunjukkan obstruksi duktus koledokus.
Dikerjakan Oleh:

Raditya Putra Yuwana

122310101067

Referensi:
Hadi, Sujono. 1995. Gastroenterologi, ed. 6. Alumni : Bandung
Mitchel, Richard N. 2008. Buku saku dasar keperawatan patologis Robbins &
Cotran Ed.7. Jakarta: EGC
Smeltzer, S& Brunner Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Volume 2 Edisi 8. Jakarta : EGC.

2. Etiologi Atau Faktor Resiko Kolesistitis


Penyebab terjadinya kolesistitis adalah statis cairan empedu, infeksi kuman
dan iskemia dinding kandung empedu. Bagaimana stasis di duktus sistitis dapat
menyebabkan kolesistitis dalam belum jelas. Banyak faktor yang berpengaruh
seperti kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin dan prostaglandin yang
merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi
dan supurasi. Selain factor-faktor di atas kolesistitis dapat terjadi juga pada pasien
yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara parentesal pada sumbatan
karena keganasan kandung empedu, batu disaluran emepedu atau merupakan
salah satu komplikasi penyakit lain seperti demam tipoid dan IOM (Prof. dr. H.M.
Sjaifaoellah Noer).
Kolesistitis menurut (Hadi. Sujono, 1995) dapat terjadi akibat:
a. Adanya obstruksi pada duktus sebagian akibat adanya batu empedu yang
biasa di temukan pada 96% penderita dengan kolesistitis.
b. Enzim pankreas mungkin juga dapat menyebabkan timbulnya kholeosistitis
akut, sebagai akibat reguritasi yang di sebabkan adanya obstruksi fungsional
pada duktus kholeodukhus dan duktus pankreatikus.
c. Inflamasi oleh bakteri mungkin saja merupakan bagian integral dari
kholeosistitis akut.
Menurut (Ignatavicius, 2006) kasus kolelitiasis terjadi lebih banyak pada
wanita dibandingkan pria karena wanita memiliki beberapa faktor resiko,
diantaranya kehamilan, obesitas, pemakaian KB dan genetik. Tampaknya ada
beberapa hal yang menyebabkan keluarga menjadi faktor terhadap perkembangan
kolelitiasis, tapi ini mungkin terkait dengan kebiasaan makan keluarga (asupan
kolesterol berlebihan dalam makanan) dan gaya hidup menetap di beberapa
keluarga. Batu empedu terlihat lebih sering pada orang obesitas, mungkin sebagai
akibat gangguan metabolisme lemak. Kehamilan cenderung memperburuk
pembentukan batu empedu. Kehamilan dan obat-obatan seperti pil estrogen dan
pil KB yang mengubah kadar hormon dan menunda kontraksi otot kandung
empedu, menyebabkan tingkat penurunan mengosongkan empedu.

Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut, memiliki batu


empedu.Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya peradangan.
Kolesistitis akut tanpabatu merupakan penyakit yang serius dan cenderung timbul
setelah terjadinya:
1. cedera;
2. pembedahan;
3. luka bakar;
4. sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh) biasanya disebabkan oleh
bakteri E. Coli, salmonella typhosa, cacing askaris, atau karena pengaruh
enzimenzim pankreas;
5. penyakit-penyakit yang parah (terutama penderita yang menerima
makanan lewat infus dalam jangka waktu yang lama);
Sebelum pasien merasakan nyeri yang luar biasa secara tiba-tiba di perut
bagian atas, penderita biasanya tidak menunjukan tanda-tanda penyakit kandung
empedu. Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut,
yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutan
kandung empedu. Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung
empedu. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya
meningkat pada usia diatas 40 tahun. Faktor resiko terjadinya kolesistitis kronis
adalah adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya.
Dikerjakan Oleh: Alfun Hidayatulloh

122310101047

Referensi:
Artikel on-line Kolisistis Akut. Diakses melalui http://medicastore.com/index.php
?mod=penyakit&id=607 [14 April 2014. Pukul 08:50WIB]
Brunner & Suddart.2001. Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.Jakarta : EGC
Hadi, Sujono. 1995. Gastroenterologi, ed. 6. Alumni : Bandung
Ignatavicius, Donna D. & Workman M.L. 2006. Medical-Surgical Nursing,
Critical Thinking for Collaborative Care. St. Louis: Elsevier Saunders.
Noer, Sjaifoellah. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. HKUI: Jakarta

3. Tanda & Gejala Kolesistitis


Menurut Price (2005) sebanyak 75% orang yang memiliki batu empedu
tidak memperlihatkan gejala. Sebagian besar gejala timbul bila batu menyumbat
aliran empedu, yang seringkali terjadi karena batu yang kecil melewati ke dalam
duktus koledokus. Penderita batu empedu sering memiliki gejala kolesistitis akut
atau kronis.
a.

Gejala Akut
1) Nyeri hebat mendadak pada epigastrium atau abdomen kuadran kanan
atas, nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan.
2) Nyeri 30-60 menit pasca krandial kuadran kanan atas.
3) Rasa sakit menjalar ke pundak / scapula kanan
4) Penderita dapat berkeringat banyak dan gelisah.
5) Nausea dan muntah sering terjadi
6) Leukostesis
7) Ikterus, dapat di jumpai di antara penderita penyakit kandung empedu
dengan persentase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstruksi duktus
koledokus. Obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum akan
menimbulkan gejala yang khas, yaitu getah empedu yang tidak lagi di
bawa ke dalam duodenum akan di serap oleh darah dan penyerapan
empedu ini membuat kulit dan membran mukosa bewarna kuning.
Keadaan ini sering di sertai dengan gejala gatal-gatal yang mencolok pada
kulit.
8) Perubahan warna urine dan feses. Ekskresi pigmen empedu oleh ginjal
akan membuat urine bewarna sangat gelap. Feses yang tidak lagi di warnai
oleh pigmen empedu akan tampak kelabu, dan biasanya pekat.

b.

Gejala kronis
Gejala kolelitiasis kronis mirip dengan gejala kolelitiasis akut, tetapi

beratnya nyeri dan tanda-tanda fisik kurang nyata. Pasien sering memiliki riwayat
dispepsia, intoleransi lemak, nyeri ulu hati, atau flatulen yang berlangsung lama.
Menurut Reeves ( 2001) tanda dan gejala yang biasanya terjadi adalah:
1) Nyeri di daerah epigastrium kuadran kanan atas

2) Pucat biasanya dikarenakan kurangnya fungsi empedu


3) Pusing akibat racun yang tidak dapat diuraikan
4) Demam
5) Urine yang berwarna gelap seperti warna teh
6) Dispepsia yang kadang disertai intoleransi terhadap makanan-makanan
berlemak
7) Nausea dan muntah
8) Berkeringat banyak dan gelisah
9) Koledokolitiasis (tidak menimbulkan gejala pada fase tenang)
10) Terjadi otolisis serta edema.
Dikerjakan Oleh: Sandi Budi Darmawan 122310101050
Referensi:
Noer, Sjaifoellah. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. HKUI: Jakarta
Pearce, Evelyn C. 2005. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Smeltzer, Suzanne c, dkk. 2001. Keperawatan Medical Bedah. Jakarta: EGC
4. Mekanisme Terjadinya Kolesistitis
Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan
empedu dan memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara
mengabsorpsi air dan elektrolit. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang
dihasilkan oleh sel hati. Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke
kandung empedu pada saat katup Oddi tertutup. Dalam kandung empedu, cairan
empedu dipekatkan dengan mengabsorpsi air. Derajat pemekatannya diperlihatkan
oleh peningkatan konsentrasi zat-zat padat.
Kolesitisis dapat dikelonpokkan menjadi dua bagian dari segi mekanisme
terjadinya. Salah satunya adalah kolesitisis kalkulus (inflamasi kandung empedu
akibat obstruksi oleh batu empedu). Adanya stasis empedu dalam kandung
empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia
dan pengendapan unsur tersebut. Pengendapan unsur tersebut dapat membentuk

batu empedu yang menyumbat saluran keluar empedu. Akibatnya getah empedu
akan tertahan dalam kandung empedu akan menimbulkan reaksi kimia, terjadi
otolisis serta edema, dan pembuluh darah dalam empedu akan terkompresi
sehingga suplai vascular terganggu. Sehingga terjadilah perubahan metabolis yang
terganggu berakibat pada iskemia dan nekrosis mukosa kandung empedu yang
dapat menyebabkan infeksi kandung empedu yang menimbulkan nyeri pada
koliesistisis akut. Jika hal tersebut tidak ditangani maka sebagai konsekusnsinya
dapat terjadi gangren yang dapat disertai perforasi kantong empedu (pecah), atau
bisa terbentuk fistula (saluran) antara kandung empedu dan usus, serta
kemungkinan septikemia sebagai akibat dari peradangan lanjutan pada kolesistisis
kronik. (Brunner & Suddarth. 2001)
Sedangkan pada kolesitisis akalkulus (inflamasi kandung empedu akut tanpa
adanya obtruksi batu empedu), dapat timbul diduga setelah tindakan bedah mayor,
trauma berat atau luka bakar. Fakor lainnya yang berkaitan dengan kolesitesis ini
mencakup obstruksi diktus sistikus akibat torsi, infeksi primer bacterial pada
kandung empedu. Kolesitsesis skalkulis ini diperkirakan terjadi akibat perubahan
cairan dan elektrolit serta aliran daerah regional dan sirkulasi visceral misalnya
pada kasus akibat infeksi primer bacterial pada kandung empedu, bakteri dapat
mengeluarkan endotoksin yang mampu menghapuskan respon kontraktil ke CCK,
menyebabkan kandung empedu menjadi stasis sehingga getah empedu
terkonsentrasi tetap stagnan di lumen kadung empedu. (Brunner & Suddarth.
2001).
Dikerjakan Oleh: Desi Rahmawati

122310101021

Referensi:
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 vol 2. Jakarta EGC
Bloom A, Alan dkk. 2014. Cholecystisis. http://emedicine.medscape.com/article/
171886overview#a0104 . [Diakses pada 14 April 2014 pukul 08.18WIB]

5. Pemeriksaan Yang Diperlukan & Hasil Pemeriksaan Kolesitisis


a. Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran kolesistitis akut.
Hanya pada 15% pasien kemungkinan dapat terlihat batu tidak tembus pandang
(radioopak) oleh karena mengandung kalsium cukup banyak.
b. Kolesistografi oral : tidak dapat memperlihatkan gambaran kandung empedu
bila ada obstruksi sehingga pemeriksaan ini tidak bermanfaat untuk kolesistitis
akut.
c. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebaiknya dikerjakan secara rutin dan
sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding
kandung empedu, batu dan saluran empedu ekstrahepatik. Nilai kepekaan dan
ketepatan USG mencapai 90-95%.
d. Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zat radioaktif HIDA atau 99nTc6
Iminodiacetic acid mempunyai nilai sedikit lebih rendah dari USG tapi teknik
ini tidak mudah. Terlihatnya gambaran duktus koledokus tanpa adanya
gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral atau
scintigrafi sangat menyokong kolesistitis akut.
e. CT Scan abdomen: kurang sensitif dan mahal tapi mampu memperlihatkan
adanya abses perikolesistik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat pada
pemeriksaan USG serta dapat membedakan sakit kuning obstruktif dengan
non-obstruktif.
f. Kolangiografi transhepatik perkutaneous: Pembedahan gambaran dengan
fluoroskopi antara penyakit kandung empedu dan kanker pankreas (bila ikterik
ada).
Dikerjakan Oleh: Cholil Albarizi

122310101068

Referensi:
http://www.scribd.com/doc/80911328/kolesistitis

6. Penatalaksanaan Medis Kolesitisis


Penatalaksanaan pasien dengan kolesistitis tergantung pada derajat
keparahan serta ada tidaknya komplikasi yang menyertai. Kasus yang tanpa
disertai komplikasi seringkali dapat berobat jalan saja namun pada kasus yang
disertai komplikasi harus dengan terapi pembedahan. Pada pasien yang tidak
stabil, drainase perkutaneus kolesistostomi transhepatik dapat sangat membantu.
Antibiotik dapat diberikan untuk mengatasi infeksi. Terapi definitif diantaranya :
kolesistektomi disertai penempatan alat drainase, dan bila terdapat batu maka
ERCP juga merupakan pilihan yang baik. Pasien kolesistitis yang rawat inap dan
akan dioperasi sebaiknya tidak mendapat asupan makanan per oral, kecuali bila
kolesistitisnya tanpa komplikasi pasien masih diijinkan makan dalam bentuk cair
serta rendah lemak per oral hingga tiba saatnya operasi
a. Terapi awal dan pemberian Antibiotik
Untuk kolesistitis akut, terapi awal meliputi pengistirahatan usus (bowel
rest), hidrasi intravena, koreksi elektrolit, analgesia, dan antibiotik intravena.
Untuk kasus yang ringan, terapi antibiotik menggunakan satu jenis antibiotik
berspektrum luas sudah cukup memadai. Beberapa pilihan untuk jenis terapi
awal ini :
1) Sanford guide merekomendasikan piperacillin/tazobactam (Zosyn, 3,375
gram IV/6 jam atau 4,5 gram IV/8 jam), ampicilin/sulbactam (Unasyn, 3
gram IV/6 jam), atau meropenem (Merrem, 1 gram IV/8 jam). Pada kasus
berat

yang

mengancam

jiwa,

Sanford

guide

merekomendasikan

Imipenem/cilastatin ( primaxin, 500 mg IV/6 jam).


2) Regimen

alternatif

meliputi

sefalosporin

generasi

ketiga

plus

metronidazole (Flagyl, 1 gram IV bolus diikuti 500 mg IV/6 jam).


3) Bakteri yang biasa ditemukan pada kolesititis adalah : Eschericia coli,
Bacteroides fragilis, Klebsiella, Enterococcus, dan Pseudomonas.
4) Bila terdapat emesis dapat diberikan antiemesis dan suction nasogastrik.
5) Oleh karena sering terjadi progesi yang cepat dari kolesistitis akalkulus
menjadi gangren dan perforasi, deteksi dan intervensi dini sangat
dibutuhkan.

10

6) Obat-obatan

suportif

dapat

diberikan

seperti

pengatur

kestabilan

hemodinamik, antibiotik untuk mengtasi bakteri gram negatif usus dan


bakteri anaerobik, terutama bila curiga adanya infeksi saluran empedu.
7) Stimulasi kontraksi kandung empedu harian dengan menggunakan
kolesistokinin intavena, menunjukkan keefektifannya dalam mencegah
gumpalan di kandung empedu pada pasien yang menerima nutrisi
parenteral total (TPN).
b. Terapi konservatif untuk kolesistitis tanpa komplikasi
Pasien dapat dirawat jalan pada kasus kolesititis tanpa komplikasi dengan
memberikan terapi antibiotik, analgesik dan kontrol untuk follow up. Kriteria
pasien yang dapat di rawat jalan adalah :
1) Tidak demam (afebris) dengan tanda vital yang stabil.
2) Tidak ada bukti adanya obstruksi berdasarkan hasil lab.
3) Tidak ada masalah medis lain, usia lanjut, kehamilan serta masalah
immunocompromised.
4) Analgesia yang adekuat.
5) Pasien memiliki sarana dan akses transportasi yang mudah ke sarana
kesehatan.
6) Bersedia untuk kontrol/follow up.
Beberapa obat-obatan yang dapat diberikan :
1) Antibiotik profilaksis: levoflaxacin (Levaquin, 500 mg per oral 1x/hari)
dan metronidazole (500 mg per oral 2x/hari).
2) Antiemetik:

prometazin (phenergan) oral/rectal,

prochlorperazine

(compazine).
3) Analgesik: oxycodone/acetaminophen (percocet) oral.
c.

Kolesistektomi
Kolesistektomi laparoskopi merupakan terapi bedah standar untuk

kolesistitis. Kolesistektomi dini yang dilakukan dalam 72 jam setelah pasien


masuk rumah sakit, memberikan keuntungan dari sisi medis maupun
sosioekonomi. Pada pasien yang hamil, kolesistektomi laparoskopi dinyatakan
aman untuk semua umur kehamilan namun paling aman pada trimester kedua.

11

Kontraindikasi untuk kolesistektomi laparoskopi antara lain :


1) Berisiko tinggi terhadap anastesi umum.
2) Obesitas berat.
3) Ada tanda perforasi kandung empedu seperti : abses, peritonitis dan fistula.
4) Batu empedu raksasa atau diduga keganasan.
5) Penyakit hati stadium akhir yang disertai hipertensi portal dan koagulopati
berat.
6) SAGES guideline juga menambahkan kontraindikasi yakni : syok septik
akibat kolangitis, pankreatitis akut, peralatan dan tenaga ahli yang tidak
memadai, serta baru saja mendapat prosedur bedah abdominal lainnya.
d. Drainase perkutaneus
Untuk pasien yang kontraindikasi/berisiko tinggi terhadap prosedur bedah,
maka terapi Drainase perkutaneus kolesistostomi transhepatik (yang dipandu
USG) merupakan pilihan terapi definitif dikombinasikan dengan pemberian
antibiotik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien
kolesistitis akalkulus akut dapat diterapi dengan drainase perkutaneus saja, akan
tetapi SAGES guideline menganjurkan bahwa terapi ini hanya bersifat sementara
sampai pasien dapat menerima kolesistektomi.
e. Terapi Endoskopik
Endoskopi

memiliki

kelebihan

yakni

sebagai

alat

bantu

untuk

mendiagnosis juga dapat sebagai terapi. Beberapa prosedur endoskopik untuk


kolesistitis :

12

1) Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Terapi ini


dapat memvisualisasikan anatomi sekaligus dapat menyingkirkan batu
empedu pada duktus biliaris komunis.
2) Endoscopic ultrasound-guided transmural cholecystostomy. Penelitian
menunjukkan bahwa terapi ini aman sebagai terapi awal, interim maupun
definitif untuk pasien dengan kolesistitis akut berat yang berisiko tinggi
terhadap prosedur kolesistektomi.
3) Endoscopic gallbladder drainage. Mutignani dkk, menyimpulkan dalam
penelitiannya terhadap 35 orang pasien kolesistitis akut bahwa terapi ini
efektif untuk kolesistitis akut namun sifatnya hanya sementara saja.
Dikerjakan Oleh: Ary Januar Pranata Putra

122310101039

Referensi:
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC.
Price A. Sylvia, Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi konsep-konsep klinis
proses-proses penyakit, edisi 6, volume 1. Jakarta: EGC
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula, Edisi I. Jakarta : EGC.

7. Asuhan Keperawatan Kolesitisis


1.

Pengkajian
a. Identitas Klien
Kolesistitis pada umumnya terjadi pada wanita dengan usia lebih dari 40
tahun yang mengalami obesitas dan multipara.
b. Keluhan Utama
Pasien mengeluh nyeri perut kanan atas dapat menyebar ke punggung dan
bahu kanan. Nyeri timbul tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30
menit, pada umumnya timbul pada1-2 jam setelah makan, biasanya pada
malam hari dan hampir tak pernah pada pagi hari. Mual, muntah,
kembung, berrsendawa.

13

c. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien yang mengalami kolesistisis mengalami nyeri perut kanan atas
yang dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan. Selain itu pasien juga
mengalami mual, muntah, kembung dan bersendawa.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien dengan penyakit kolesistitis memiliki riwayat diabetes mellitus,
hiperkolesterol, obesitas, penyakit inflamasi usus.
e. Pemeriksaan Fisik
1) B1: Peningkatan frekuensi pernafasan, pernafasan tertekan ditandai
nafas pendek dan tertekan.
2) B2: Takikardi, demam, resiko perdarahan karena kekurangan vitamin
K.
3) B3: Nyeri pada perut kanan atas menyebar ke punggung atau bahu
kanan, gelisah.
4) B4: Urine gelap pekat.
5) B5: Distensi abdomen, teraba massa pada kuadran kanan atas, feses
warna seperti tanah liat.
6) B6: Kelemahan, ikterik, kulit berkeringat dan gatal (pruritus).
f. Pemeriksaan Fisik
1) Kaji keadaan umum pasien: meliputi kesan secara umum pada
keadaan sakit termasuk ekspresi wajah (meringis, grimace, lemas) dan
posisi pasien. Kesadaran yang meliputi penilaian secara kualitatif
(komposmentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, koma) dapat
juga menggunakan GCS. Lihat juga keadaan status gizi secara umum
(kurus, ideal, kelebihan berat badan)
2) Kaji kondisi fisik pasien: pemeriksaan tanda-tanda vital, adanya
kelemahan hingga sangat lemah, takikardi, diaforesis, wajah pucat dan
kulit berwarna kuning, perubahan warna urin dan feses.
3) Kaji adanya nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar ke punggung
atau bahu kanan, mual dan muntah, gelisah dan kelelahan. Palpasi

14

pada organ hati, limpa, ginjal, kandung kencing untuk memeriksa ada
atau tidaknya pembesaran pada organ tersebut.
4) Integumen: periksa ada tidaknya oedem, sianosis,icterus, pucat,
pemerahan luka pembedahan pada abdomen sebelah kanan atas.
5) Kaji perubahan gizi-metabolik: penurunan berat badan, anoreksia,
intoleransi lemak, mual dan muntah, dispepsia, menggigil, demam,
takikardi, takipnea, terabanya kandung empedu.
6) Ekstremitas: Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya
nyeri yang hebat, juga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan.
g. Pemeriksaan penunjang
1) Darah lengkap:
a) Leukositosis

sedang

(akut),

bilirubin

dan

amilase serum:

meningkat.
b) Enzim hati serum-AST (SGOT): ALT (SGPT); LDH; agak
meningkat alkaline fosfat dan 5-nukletiase; Di tandai obstruksi
bilier.
c) Kadar protrombin: Menurun bila obstruksi aliran empedu dalam
usus menurunkan

absorbsi vitamin K.

2) Ultrasound: Menyatakan kalkuli, dan distensi kandung empedu


dan/atau ductus empedu (sering merupakan prosedur diagnostik awal).
3) Kolangeopankreatografi

retrograd

endeskopik:

Memperlihatkan

percabangan bilier dengan kanualas duktus koledukus melalui


deudenum.
4) Kolangiografi transhepatik perkutaneus: Pembedaan gambaran dengan
flouroskopi anatara penyakit kantung empedu dan kanker pankreas (
bila ekterik ada ).
5) Kolesistogram (untuk kolositisis kronis): Menyatakan batu pada sistem
empedu. Catatan: kontraindikasi pada kolesititis karena pasien terlalu
lemah untuk menelan zat lewat mulut. CT Scan: Dapat menyatakan
kista kandung empedu, dilatasi duktus empedu, dan membedakan
antara ikterik obstruksi/non obstruksi.

15

6) Scan hati (dengan zat radioaktif): Menunjukan obstruksi percabangan


bilier.
7) Foto

abdomen

(multiposisi):

Menyatakan

gambaran

radiologi

(kalsifikasi) batu empedu, kalsifikasi dinding atau pembesaran kandung


empedu.
8) Foto dada: Menunjukan pernapasan yang menunjukkan penyebaran
nyeri.
h. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana kesehatan: pola hidup sehat pasien
yang menderita kolesistitis harus ditingkatkan dalam meningkatkan
status kesehatannya, perawatan, dan tatalaksana hidup sehat.
Keluarga juga perlu untuk terus melakukan perawatan
selain tim kesehatan guna meningkatkan kesehatannya.
2) Pola nutrisi dan metabolisme: pola nutisi pasien dengan kolesistitis
terganggu, hal ini dikarenakan pasien mengalami mual, muntah dan
kembung sehingga pasien mengalami resiko perubahan nutrisi.
3) Pola eliminasi: pola eliminasi pada pasien dengan kolesistitis
mengalami gangguan yang ditandai dengan urine yang berwarna pekat
dan gelap serta feses yang berwarna seperti tanah liat.
4) Pola aktivitas: Pasien dengan kolesistitis mengalami perubahan pola
aktivitasnya. Hal ini dikarenakan pasien mengalmi nyeri perut kanan
atas serta adanya perubahan nutria yang menyebabkan kelemahan.
Perubahan pola nutrisi juga dapat mempengaruhi aktivitasnya.
5) Pola istirahat dan tidur: Pola istirahat pada pasien kolesistitis juga
mengalami gangguan karena nyeri yang dirasakan.
6) Pola

kognitif

dan

persepsi

sensori:

Pola

ini

mengenai

pengetahuan pasien dan keluarga terhadap penyakit yang diderita


klien
7) Pola

konsep

diri:

Bagaimana

persepsi keluarga

terhadap pengobatan dan perawatan yang akan dilakukan.

dan

pasien

16

8) Pola hubungan-peran: Peran keluarga sangat dibutuhkan dalam


perawatan dan memberi dukungan serta dampingan pada pasien
dengan kolesistitis.
9) Pola seksual-seksualitas: Apakah selama sakit terdapat gangguan atau
tidak yang berhubungan dengan reproduksi sosial. Pada pasien
kolesistitits mengalami gangguan dalam reproduksi karena nyeri yang
dirasakan.
10) Pola mekanisme koping: Keluarga perlu memberikan dukungan dan
semangat sembuh bagi pasien kolesistitis.
11) Pola nilai dan kepercayaan: Keluarga selalu optimis dan berdoa agar
penyakit pada pasien kolesistitis dapat sembuh dengan cepat.
2.

Analisa Data

No.
1.

Problem

Etiology

Symptom

Gangguan rasa nyaman: Duktus dan inflamasi.

DO: Pasien terlihat

nyeri.

meringis menahan rasa


nyeri di perut kanan
atas.
DS: Pasien mengatakan
nyeri di perutnya.

2.

Perubahan nutrisi

Mual, muntah,

DO: Pasien terlihat

kurang dari kebutuhan

dyspepsia, nyeri,

merasa lemah karena

tubuh.

pembatasan masukan.

sering mual dan


muntah.
DS: Pasien mengatakan
sering muntah-muntah
dan merasa mual serta
badannya merasa
lemah.

17

3.

Resiko tinggi

Mual, muntah.

DO: Pasien terlihat

kekurangan volume

merasa lemas dan

cairan.

sering muntaj-muntah.
DS: Pasien mengatakan
sering muntah-muntah
dan merasa mual.

4.

Kurang pengetahuan

Kurang terpapar

DO: Pasien terlihat

tentang penyakit.

informasi.

kebingungan dengan
keadaanya kini.
DS: Pasien
mengatakan tidak
mengetahui apa-apa
mengenai penyakitnya
kini.

18

3. Asuha Keperawatan
Diagnosa
No

Kriteria hasil

Intervensi

keperawatan
Gangguan

1.

Tujuan

nyaman:

rasa Setelah

dilakukan 1. Skala nyeri 0-4

nyeri perawatan selama 2 x 2. Grimace (-)

berhubungan

24

jam,

klien 3. Gerkan melokalisir nyeri (-)

proses inflamasi melaporkan

nyeri 4. Gerakan bertahan pada daerah

kandung

berkurang atau hilang.

empedu.

Klien

Obstruksi/spase

mnegkompensasi

dapat 5. Klien tenang

duktus, iskemia nyeri dnegan baik


jarinagn/nekrosi
si.

nyeri (-)

1. Pantau tingkat dan intensitas nyeri.


2. Ajarkan teknik relaksasi (nafas dalam).
3. Beri kompres hangat (hati-hati dengan klien
yang mengalami pendarahan).
4. Beri posisi yang nyaman.
5. Kondidikan lingkungan yang tenang di
sekitar klien.
6. Catat respons terhadap obat dan laporkan
bila nyeri tidak hilang.
7. Kolaborasi

pemberian

program terapi.

analgesic

sesuai

19

Perubahan
2.

nutrisi
dari

Klien

kurang kebutuhan

memenuhi 1. Klien
nutrisi

kebutuhan harian sesuai dengan

dapat

menjelaskan 1. Berikaan perawatan oral secara teratur.

tentang pentingnya nutrisi bagi 2. Catat


klien

tingkat aktivitas dan 2. Bebas dari tanda malnutrisi.

berhubungan

kebutuhan metabolic.

mual,

muntah,
dyspepsia, nyeri,

3. Mempertahankan berat badan


stabil.
4. Nilai

badan

saat

masuk

dan

bandingkan dengan saat berikutnya.

tubuh
dengan

berat

3. Kaji

distensi

abdomen,

berhati-hati,

menolak gerak.
4. Pemeriksaan laboratorium/Hb-Ht-elektrolit-

laboratorium

(Hb, albumin).

normal

Albumin.
5. Jelaskan

tentang

pengontrolan

dan

karbohidrat,

lemat

pembatasan

pemberian konsumsi

masukan.

(makanan rendah lemak dapat mencegah


serangan pada klien dengan kolelitiasis dan
kolesistitis). Protein, vitamin, mineral dan
cairan yang adekuat.
6. Anjurkan mengurangi makanan berlemak
dan menghasilkan gas.
7. Konsultasikan

dengan

ahli

gizi

untuk

menetapkan kebutuhan kalori harian dan


jenis makanan yang sesuai bagi klien.
8. Anjurkan klien istirahat sebelum makan.

20

9. Tawarkan makan sedikit namun sering.


10. Batasi asupan cairan saat makan.
11. Sajikan makanan dalam keadaan hangat.
12. Kolaborasi cairan IV
Resiko

tinggi Keseimbangan cairan 1. Dilakukan oleh tanda vital 1. Monitor

3 kekurangan
volume

pasien adekuat.

cairan

stabil.
2. Membrane mukosa lembab

pemasukan

2. Awasi berlanjutnya mual/muntah, kram

3. Turgor kulit baik.

dengan

4. Pengisian kapiler baik.

3. Anjurkan cukup minum.

kehialangan

5. Eliminasi urin normal.

4. Kaji

cairan

melalui

6. Tidak ada muntah.

gaster,

muntah
dan

hipermotilitas
gaster
gangguan
pembekuan
darah,
peningkatan

dan

pengeluaran

cairan.

berhubungan

distensi

dan

abdomen, kejang ringan, kelemahan.


pendarahan

contohnya

yang

pendarahan

tidak

biasa

pada

gusi,

mimisan, petekia, melena.


5. Kaji ulang pemeriksaan laboratorium.
6. Beri cairan IV, elektrolit, dan vit K.

21

metabolism.
Kurang

Pengetahuan

pasien

pengetahuan

tentang konsep dasar konsep penyakit.

tentang penyakit penyakit meningkat.


berhubungan
dengan

kurang

Pasien

mampu

mengetahui 1. Beri penjelasan pada pasien tentang

Pasien mampu menerapkan pola


yang telah dijelaskan.

terpapar

1.

2. Kaji

ulang

prognosis,

diskusikan

perawatan dan pengobatan.


3. Kaji uang program obat dan efek samping.
4. Anjurkan pasien menghindari makanan,

informasi.

5. Implementasi
No.
Diagnosa

kolesistitis.

minuman

Implementasi

Gangguan
rasa
nyaman:
nyeri 1. Telah dipantau tingkat dan intensitas nyeri.
berhubungan proses inflamasi kandung 2. Telah diajarkan teknik relaksasi (nafas dalam).
empedu.
Obstruksi/spasme
duktus,
3. Telah diberikan kompres hangat (hati-hati dengan klien yang mengalami
iskemia
pendarahan).
4. Telah diberikan posisi yang nyaman.

22

5. Telah dikondidikan lingkungan yang tenang di sekitar klien.


6. Telah dicatat respons terhadap obat dan laporkan bila nyeri tidak hilang.
7. Telah dikolaborasikan pemberian analgesic sesuai program terapi.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh

berhubungan

dengan

1. Telah diberikaan perawatan oral secara teratur.

mual, 2. Telah dicatat berat badan saat masuk dan bandingkan dengan saat berikutnya.

muntah, dyspepsia, nyeri, pembatasan 3. Telah dikaji distensi abdomen, berhati-hati, menolak gerak.
masukan.

4. Telah dilakukan pemeriksaan laboratorium/Hb-Ht-elektrolit-Albumin.


5. Telah dijelaskan tentang pengontrolan dan pemberian konsumsi karbohidrat,
lemat (makanan rendah lemak dapat mencegah serangan pada klien dengan
kolelitiasis dan kolesistitis). Protein, vitamin, mineral dan cairan yang
adekuat.
6. Menganjurkan mengurangi makanan berlemak dan menghasilkan gas.
7. Telah dikonsultasikan dengan ahli gizi untuk menetapkan kebutuhan kalori
harian dan jenis makanan yang sesuai bagi klien.
8. Telah dianjurkan klien istirahat sebelum makan.
9. Telah dianjurkan makan sedikit namun sering.
10. Telah dibatasi asupan cairan saat makan.
11. Telah disajikan makanan dalam keadaan hangat.

23

2.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan 1. Telah memonitor pemasukan dan pengeluaran cairan.
berhubungan dengan kehialangan cairan 2. Mengawasi berlanjutnya mual/muntah, kram abdomen, kejang ringan,
melalui gaster, muntah distensi dan
hipermotilitas

gaster

pembekuan

darah,

metabolism.

dan

kelemahan.

gangguan 3. Telah dianjurkan cukup minum.


peningkatan 4. Telah dikaji pendarahan yang tidak biasa contohnya pendarahan pada gusi,
mimisan, petekia, melena.
5. Telah dikaji ulang pemeriksaan laboratorium.

3.

Kurang pengetahuan tentang penyakit 1. Telah diberikan penjelasan pada pasien tentang kolesistitis.
berhubungan dengan kurang terpapar 2. Telah dikaji ulang prognosis, diskusikan perawatan dan pengobatan.
informasi.

3. Telah dikaji uang program obat dan efek samping.


4. Telah dianjurkan pasien menghindari makanan, minuman

24

6. Evaluasi
No.
1.

Diagnosa

Evaluasi

Gangguan rasa nyaman: nyeri S: Pasien mengatakan sudh tidak merasa


berhubungan dengan duktus nyeri lagi di bagian perut kanan atas.
dan inflamasi.

O: Pasien sudah tidak menunjukkan


ekspresi nyeri lagi.
A: Masalah teratasi.
P: Intervensi dihentikan.

2.

Perubahan nutrisi kurang dari S:

Pasien

mengatakan

sudah

tidak

kebutuhan tubuh berhubungan merasa mual dan muntah-muntah lagi.


dengan

mual,

muntah,

dyspepsia, nyeri, pembatasan


masukan.

O: Pasien terlihat sudah tidak muntah


lagi dan menunjukkan ekspresi mual.
A: Masalah teratasi.
P: Intervensi dihentikan.

3.

Resiko

tinggi

volume

cairan

kekurangan S: Pasien mengatakan sudah tidak mual


berhubungan dan muntah lagi.

dengan mual, muntah.

O: Pasien terlihat lebih segar dan tidak


menunjukkan ekspresi mual dan muntah
lagi.
A:Masalah teratasi.
P: Intervensi dihentikan.

25

4.

Kurang pengetahuan tentang S: Pasien mengatakan sudah mengetahui


penyakit berhubungan dengan mengenai penyakitnya dan bagaimana
kurang terpapar informasi.

cara mengatasinya.
O:

Pasien

sudah

tidak

Nampak

kebingungan lagi dengan keadaanya.


A:Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan.

7. Discharge Planning
1. Perawat memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang potensi
terjadinya komplikasi berupa kolangitis.
2. Berikan instruksi ke klien atau anggota keluarga, termasuk perawatan
lanjutan, infeksi, rawat jalan dan jadwal perawatan berikutnya.
3. Ajarkan klien tentang manajemen nyeri, terapi diet, pembatasan aktivitas
dan perawatan kesehatan tindak lanjut.
4. Ingatkan pasien untuk meminum obat-obatan harian yang diperlukan
untuk proses penyembuhan meliputi nama obat, tujuan, dosis, jadwal,
tindakan pencegahan, interaksi obat dengan dan potensial efek samping.
5. Beri tahu klien untuk melakukan diet rendah lemak dan menghindari
makanan berlemak tinggi seperti susu, gorengan, alpukat, mentega dan
cokelat. Anjurkan minum cairan yang adekuat sedikitnya 2-3 L/hari.
6. Ajarkan klien cara perawatan diri di rumah dan semua hal yang diperlukan
untuk perawatan di rumah (Black, 1997).

26

Dikerjakan Oleh:
Ria Novitasari

122310101022

Riana Vera Andantika

122310101006

Aprilita Restuningtyas

122310101055

Referensi:
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3.
Jakarta: EGC
Marry, Marilynn, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Akarta: EGC
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 2 Vol 2. Jakarta:
EGC.
Carpenito-Moyet, Lynda Juall. 2003. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:
EGC.

27

Kasus 2
Seorang pasien laki-laki usia 50 tahun periksa ke poli interna RS Sehat karena
sering mengalami nyeri pada perut sebelah kanan atas. Nyeri berlangsung agak
lama sekitar 30 menit. Berdasarkan berbagai pemeriksaan yang dilakukan pasien
didiagnosa kolelitiasis.
Jawaban:
1. Definisi,

Etiologi,

Patofisiologi, Tanda

Dan

Gejala,

Pemeriksaan

Penunjang, Penatalaksanaan Kolelitiasis, Dan Komplikasi


a.

Definisi
Kolelitiasis atau koledokolelitiasi merupakan adanya batu di kandung
empedu, atau pada saluran kandung empedu yang pada umumnya
komposisi utamanya adalah kolesterol.
Kolelitiasis merupakan suatu keadaan dimana terdapat batu empedu di
dalam kandung empedu (vesika felea) dari unsure unsure padat yang
membentuk cairan empedu yang memiliki ukuran bentuk dan komposisi
yang bervariasi.(brunner & suddarth : 2001)

b.

Etiologi
Penyebab pasti dari kolelitiasis atau koledokolelitiasis atau batu empedu
belum di ketahui. Suatu teori mengatakan bahwa kolesterol dapat
menyebabkan superaturasi empedu di kandung empedu. Setelah beberapa
lama, empedu yang telah mengalami superaturasi menjadi mengkristal dan
memulai membentuk batu. Tipe lain batu empedu adalah batu pigmen.
Batu pigmen tersusun oleh kalsium bilirubin, yang terjadi ketika bilirubin
bebas berkombinasi dengan kalsium

Dikerjakan Oleh:Ambar Larasati

NIM 122310101076

Referensi
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 vol 2. Jakarta
EGC
Mansjoer Arif, (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 Jakarta : Media
Aescuapius.

28

c.

Patofisiologi Kolelitiasis
Ada dua tipe utama batu empedu yaitu: batu yang terutama tersusun dari
pigmen dan tersusun dari kolesterol
a. Batu pigmen
Batu pigmen terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari
keempat anion ini adalah bilirubinat, karbonat, fosfat dan asam lemak.
Pigmen (bilirubin) pada kondisi normal akan terkonjugasi dalam
empedu. Bilirubin terkonjugasi karna adanya enzim glokuronil
tranferase bila bilirubin tak terkonjugasi diakibatkan karena kurang atau
tidak adanya enzim glokuronil tranferase tersebut yang akan
mengakibatkan presipitasi/pengendapan dari bilirubin tersebut. Ini
disebabkan karena bilirubin tak terkonjugasi tidak larut dalam air tapi
larut dalam lemak. Sehingga lama kelamaan terjadi pengendapan
bilirubin tak terkonjugasi yang bisa menyebabkan batu empedu tapi ini
jarang terjadi.
Mekanisme batu pigmen Pigmen (bilirubin) tak terkonjugasi dalam
empedu
Akibat berkurang atau tidak adanya enzim glokuronil tranferase
Presipitasi / pengendapan
Berbentuk batu empedu
Batu tersebut tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan
jalan operasi

29

b. Batu kolesterol
Kolesterol merupakan unsur normal pembentukan empedu dan
berpengaruh dalam pembentukan empedu. Kolesterol bersifat tidak
larut dalam air, kelarutan kolesterol sangat tergantung dari asam
empedu dan lesitin (fosfolipid).
Mekanisme batu pigmen
Proses degenerasi dan adanya penyakit hati
Penurunan fungsi hati
Penyakit gastrointestinal Gangguan metabolisme
Mal absorpsi garam empedu - Penurunan sintesis (pembentukan) asam
empedu
Peningkatan sintesis kolesterol
Berperan sebagai penunjang: iritan pada kandung empedu Supersaturasi (kejenuhan) getah empedu oleh kolesterol
Peradangan dalam eningkatan sekresi kolesterol kandung empedu
Kemudian kolesterol keluar dari getah empedu
Penyakit kandung empedu Pengendapan
kolesterol
Batu empedu

30

d.

Manifestasi Klinik
Gejalanya bersifat akut dan kronis, gangguan epigastrium: rasa
penuh, distensi abdomen, nyeri samar pada perut kanan atas, terutama
setelah klien konsumsi makanan berlemak atau yang digoreng. Tanda dan
gejalanya adalah sebagai berikut:
1. Nyeri dan kolik bilier, jika duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu,
kandung empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi. Pasien
akan menderita panas, teraba massa padat pada abdomen, pasien dapat
mengalami kolik bilier disertai nyeri hebat pada abdomen kanan atas
yang menjalar kepunggung atau bahu kanan , rasa nyeri disertai mual
dan muntah akan bertambah hebat dalam waktu beberapa jam sesudah
makan dalam porsi besar. Pasien akan gelisah dan membalik-balikkan
badan, merasa tidak nyaman, nyerinya bukan kolik tetapi persisten.
Seorang kolik bilier semacam ini disebabkan oleh kontraksi kandung
empedu yang tidak dapat mengalirkan empedu keluar akibat
tersumbatnya saluran oleh batu. Dalam keadaan distensi bagian fundus
kandung empedu akan menyentuh dinding adomen pada daerah
kartilago kosta sembilan dan sepuluh

bagian

kanan, sehingga

menimbulkan nyeri tekan yang mencolok pada kuadran kanan atas


ketika inspirasi dalam.
2. Ikterus, biasanya terjadi obstruksi duktus koledokus. Obstruksi
pengaliran getah empedu keduodenum akan menimbulkan gejala yang
khas : getah empedu tidak dibawa keduodenum tetapi diserap oleh
darah sehingga kulit dan mukosa membran berwarna kuning, disertai
gatal pada kulit.
3. Perubahan warna urine tampak gelap dan feses warna abu-abu serta
pekat karena ekskresi pigmen empedu oleh ginjal.
4. Terjadi defisiensi vitamin A, D, E, K. Defisiensi vitamin K dapat
mengganggu pembekuan darah yang normal. Jika batu empedu terus

31

menyumbat saluran tersebut akan mengakibatkan abses, nekrosis dan


perforasi disertai peritonitis generalisata.
e.

Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium : lekositosis, blirubinemia ringan, peningkatan alkali
posfatase.
2. USG: dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus
koledokus yang mengalami dilatasi, USG mendeteksi batu empedu
dengan akurasi 95%.
3. CT Scan Abdomen
4. MRI
5. Sinar X abdomen
6. Koleskintografi/pencitraan radionuklida: preparat radioaktif disuntikkan
secara intravena. Pemeriksaan ini lebih mahal dari USG, waktu lebih
lama, membuat pasien terpajar sinar radiasi, tidak dapat mendeteksi
batu empedu.
7. Kolesistografi: alat ini digunakan jika USG tidak ada / hasil USG
meragukan.

Dikerjakan Oleh: Fakhrun Nisa F.

NIM 122310101064

Referensi
Kee,L.J. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik. Jakarta: EGC
Mansjoer,Arif M. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media
Aesculapius
Price A. Sylvia, Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi konsep-konsep klinis
proses-proses penyakit, edisi 6, volume 1. Jakarta: EGC
f.

Komplikasi
1. Kolesistitis akut
2. Ikterus obstruksi karena batu saluran empedu
3. Kolangitis
4. Ilius obstruksi karena batu
5. Degenerassi keganasan

32

g.

Penatalaksanaan
Menurut Brunner ( 2001) penatalaksanaan untuk kolelitiasis sebagai
berikut:
A. Non Bedah, yaitu :
1. Terapi Konservatif
a. Pendukung diit : Cairan rendah lemak
b. Cairan Infus : menjaga kestabilan asupan cairan
c. Analgetik : meringankan rasa nyeri yang timbul akibat gejala
penyakit
d. Antibiotik : mencegah adanya infeksi pada saluran kemih
e. Istirahat
2. Farmakoterapi
Pemberian asam ursodeoksikolat dan kenodioksikolat digunakan
untuk melarutkan batu empedu terutama berukuran kecil dan
tersusun dari kolesterol. Zat pelarut batu empedu hanya digunakan
untuk batu kolesterol pada pasien yang karena sesuatu hal sebab tak
bisa dibedah. Batu-batu ini terbentuk karena terdapat kelebihan
kolesterol yang tak dapat dilarutkan lagi oleh garam-garam empedu
dan lesitin. Untuk melarutkan batu empedu tersedia kenodeoksikolat
dan

ursodeoksikolat.

Mekanisme

kerjanya

berdasarkan

penghambatan sekresi kolesterol, sehigga kejenuhannya dalam


empedu berkurang dan batu dapat melarut lagi. Terapi perlu
dijalankan lama, yaitu tiga bulan sampai dua tahun dan baru
dihentikan minimal tiga bulan setelah batu-batu larut. Recidif dapat
terjadi pada 30% dari pasien dalam waktu satu tahun, dalam hal ini
pengobatan perlu dilanjutkan.

33

3. Penatalaksanaan Pendukung dan Diet


Suplemen bubuk tinggi protein dan karbohidrat dapat diaduk
kedalam susu skim. Makanan berikut ini ditambahkan jika pasien
dapat menerimanya yaitu buah yang dimasak, nasi atau ketela,
daging tanpa lemak, kentang yang dilumatkan, sayuran yang tidak
membentuk gas, roti, kopi atau teh. Makanan seperti telur, krim,
daging babi, gorengan, keju dan bumbu-bumbu yang berlemak,
sayuran yang membentuk gasserta alkohol harus dihindari.
4. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
Prosedur

nononvasif

ini

menggunakan

gelombang

kejut

berulang (repeated shock wafes) yang diarahkan kepada batu


empedu di dalam kandung empedu atau doktus koledokus dengan
maksud untuk mencegah batu tersebut menjadi sejumlah fragmen.
Gelombang kejut dihasilkan dalam media cairan oleh percikan
listrik, yaitu piezoelelektrik, atau oleh muatan elektromagnetik.
Energy ini di salurkan ke dalam tubuh lewat redaman air atau
kantong yang berisi cairan. Gelombang kejut yang dikonvergensikan
tersebut diarahkan kepada batu empedu yang akan dipecah. Setelah
batu dipecah secara bertahap, pecahannya akan bergerak spontan
dikandung empedu atau doktus koledokus dan dikeluarkan melalui
endoskop atau dilarutkan dengan pelarut atau asam empedu yang
diberikan peroral.
5. Litotripsi Intrakorporeal.
Pada litotripsi intrakorporeal, batu yang ada dalam kandung
empedu atau doktus koledokus dapat dipecah dengan menggunakan
grlombang ultrasound, laser berpulsa atau litotripsi hidrolik yang
dipasang pada endoskop, dan diarahkan langsung pada batu.
Kemudian fragmen batu atau derbis dikeluarkan dengan cara irigasi
dan aspirasi. Prosedur tersebut dapat diikuti dengan pengangkatan

34

kandung empedu melalui luka insisi atau laparoskopi. Jika kandung


empedu tidak di angkat, sebuah drain dapat dipasang selama 7 hari.
B. Pembedahan
1. Cholesistektomy
Merupakan tindakan pembedahan yang dilakukan atas indikasi
cholesistitis atau pada cholelitisis, baik akut /kronis yang tidak
sembuh dengan tindakan konservatif .
Tujuan perawatan pre operasi pada bedah cholesistectomy yaitu :
a. Meningkatkan pemahaman klien dan keluarga tentang prosedur
operasi
b. Meningkatkan kesehatan klien baik fisik maupun psikologis
c. Meningkatkan pemahaman klien dan keluarga tentang hal-hal
yang akan dilakukan pada post operasi.
Tindakan Keperawatan Pada Cholecystotomy yaitu:
a. Posisi semi Fowler
b. Menjelaskan tujuan penggunaan tube atau drain dan lamanya
c. Menjelaskan dan mengajarkan cara mengurangi nyeri
2. Kolesistektomi
Dalam prosedur ini kandung empedu diangkat setelah arteri dan
duktus

sistikus diligasi. Kolesistektomi dilakukan pada sebagian

besar kasus kolesistis akut dan kronis. Sebuah drain (Penrose)


ditempatkan dalam kandung empedu dan dibiarkan menjulur keluar
lewat luka operasi untuk mengalirkan darah, cairan serosanguinus
dan getah empedu ke dalam kasa absorben.
3. Minikolesistektomi
Merupakan prosedur bedah untuk mengeluarkan kandung empedu
lewat luka insisi selebar 4cm. Kolesistektomi Laparoskopik (atau
endoskopik), dilakukan lewat luka insisi yang kecil atau luka
tusukan melalui dinding abdomen pada umbilicus. Pada prosedur
kolesistektomi endoskopik, rongga abdomen ditiup dengan gas
karbon dioksida (pneumoperitoneum) untuk membantu pemasangan

35

endoskop dan menolong dokter bedah melihat struktur abdomen.


Sebuah endoskop serat optic dipasang melalui luka insisi umbilicus
yang kecil. Beberapa luka tusukan atau insisi kecil tambahan dibuat
pada dinding abdomen untuk memasukkan instrumen bedah lainnya
ke dalam bidang operasi.
4. Koledokostomi
Dalam koledokostomi, insisi dilakukan pada duktus koledokus
untuk mengeluarkan batu. Setelah batu dikeluarkan, biasanya
dipasang sebuah kateter ke dalam duktus tersebut untuk drainase
getah empedu sampai edema mereda. Keteter ini dihubungkan
dengan selang drainase gravitas. Kandung empedu biasanya juga
mengandung batu, dan umumnya koledokostomi dilakukan bersamasama kolesistektomi.
Dikerjakan Oleh: Akhmad Miftahul Huda

NIM 122310101061

Referensi
Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah volume 2 edisi 8.
Jakarta: EGC
Price A. Sylvia, Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi konsep-konsep klinis
proses-proses penyakit, edisi 6, volume 1. Jakarta: EGC
2. Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa (Utama Dan Sesuai Kasus),
Intervensi, Implementasi, Dan Evaluasi.
A. Pengkajian
1. Data umum
a) Nama
b) Usia. Resiko untuk terkena Kolelitiasis meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung
untuk terkena Kolelitiasis dibandingkan dengan orang yang usia
lebih muda

36

c) Jenis kelamin. Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena


Kolelitiasis dibandingkan dengan pria, ini dikarenakan oleh
hormon Estrogen berpengaruh terhadap peningkatan ekskresi
kolestrol oleh kandung empedu, penggunaan pil kontrasepsi dan
terapi hormon (Estrogen) dapat meningkatkan kolestrol dalam
kandung empedu dan penurunan aktifitas pengosongan kandung
empedu.
d) Alamat
e) Pekerjaan
f) Keluhan utama. Keluhan utama yang biasanya muncul adalah nyeri
hebat mendadak pada epigastrium atau abdomen kuadran kanan
atas, nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan.
2. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan sekarang ditemukan pada saat pengkajian yang
dijabarkan dari keluhan utama dengan menggunakan teknik
PQRST, yaitu :
1. P (Provokatif atau Paliatif), hal-hal apa yang menyebabkan
gejala

dan

apa

saja

yang

dapat

mengurangi

atau

memperberatnya. Biasanya klien mengeluh nyeri pada daerah


luka post operasi. Nyeri bertambah bila klien bergerak atau
batuk dan nyeri berkurang bila klien tidak banyak bergerak atau
beristirahat dan setelah diberi obat.
2. Q (Quality dan Quantity), yaitu bagaimana gejala dirasakan
nampak atau terdengar, den sejauh mana klien merasakan
keluhan utamanya. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan
skala 5 (0-10) dan biasanya membuat klien kesulitan untuk
beraktivitas.
3. R (Regional/area radiasi), yaitu dimana terasa gejala, apakah
menyebar? Nyeri dirasakan di area luka post operasi, dapat
menjalar ke seluruh daerah abdomen.

37

4. S (Severity), yaitu identitas dari keluhan utama apakah sampai


mengganggu aktivitas atau tidak. Biasanya aktivitas klien
terganggu karena kelemahan dan keterbatasan gerak akibat nyeri
luka post operasi.
5. T (Timing), yaitu kapan mulai munculnya serangan nyeri dan
berapa lama nyeri itu hilang selama periode akut. Nyeri dapat
hilang timbul maupun menetap sepanjang hari.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Kaji apakah klien pernah menderita penyakit sebelumnya dan
kapan terjadi. Biasanya klien memiliki riwayat penyakit
gastrointestinal.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Orang dengan riwayat keluarga kelelitiasis mempunyai resiko lebih
besar dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
3. Pengkajian Pola Gordon
a. Pola fungsi kesehatan
Pola fungsi kesehatan dapat dikaji dengan pola gordon dimana
pendekatan ini memungkinkan perawat untuk mengumpulkan data
secara sistematis, dengan cara mengevaluasi pola fungsi kesehatan
dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus.
b. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Kaji persepsi keluarga serta klien terhadap kesehatan dan upayaupaya keluarga untuk mempertahankan kesehatan termasuk juga
penyakit aklie saat ini dan upaya yang diharapkan.
c. Pola nutrisi metabolic
Kaji pola nutrisi klien, jenis, frekuensi, dan jumlah makanan dan
minuman yang dikonsumsi dalam sehari. Klien mengalami
gangguan nafsu makan, mual, muntah dan diare. Muntah berwarna
hitam dan fekal serta membran mukosa pecah-pecah, turgor kulit
buruk.

38

d. Pola eliminasi
Kaji kebiasaan BAB dan BAK klien apakah teratur atau tidak,
frekuensinya, dan bagaimana sifatnya. Observasi kemampuan BAB
dan BAK klien. Gejala yang dialami klien berupa distensi
abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus dan ditandai
dengan perubahan warna urine dan feces.
e. Pola istirhat dan tidur
Kaji pola tidur klien, berapa lama dalam sehari, adakah gangguan
tidur yang biasanya disebabkan oleh nyeri dan demam serta
kelelahan.
f. Pola Sirkulasi
Klien biasanya akan mengalami takikardia dan pucat.
g. Pola Pernapasan
Klien biasanya akan mengalami peningkatan frekuensi pernafasan,
ditandai dengan napas pendek dan dangkal
h. Pola peran hubungan
Kaji peran klien dalam keluarganya, apakah klien dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan.
i. Pola aktivitas dan latihan
Kaji tingkat perkembangan atau tumbuh kembang sesuai dengan
usia, aktivitas klien sehari-hari di rumah, dan observasi tingkat
kemampuan klien dlam beraktivitas.
j. Pola keyakinan
Kaji pola keyakinan klien dan orang tua klien, tanyakan apa agama
klien.
4. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum
Biasanya keadaan umum klien baik.
b) Aktivitas/istirahat
Biasanya ditandai dengan kelemahan, dan gelisah.

39

c) Sirkulasi
Ditandai dengan takikardi, berkeringat
d) Eliminasi
Ditandai dengan perubahan warna urin dan feses,

distensi

abdomen, teraba masa pada kuadran kanan atas. Urin gelap, pekat.
e) Makanan/cairan
Anoreksia, mual/muntah, tidak toleran terhadap lemak dan
makanan

pembentukan

gas,

regurgitasi

berulang,

nyeri

epigastrium, tidak dapat makan, flatus, dispepsia.


f) Nyeri/keamanan
Nyeri abdomen atas, dapat menyebar ke punggung atau bahu
kanan, kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan, nyeri
mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 3 menit nyeri lepas,
otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan, tanda
murphy positif.
g) Pernapasan
Peningkatan frekuensi pernapasan, pernapasan tertekan ditandai
oleh napas pendek, dangkal
h) Keamanan
Demam menggigil, ikterik dengan kuit berkeringat dan gatal
(pruritus), kecendrungan pendarahan (kekurangan Vit. K)
Etiologi

Diagnosa

Data
DO:
a. Pasien tampak
meringis kesakitan.
b. TTV: TD : 140/80
mmHg, N: 95x/
menit, RR : 20

Nyeri akut
Nyeri akut

40

x/menit, S: 37,1 C
c. Pemeriksaan

Menggesek mukosa
saluran empedu

abdomen :
I : tidak ada lesi tidak
ada asites
A: peristaltic usus 12x

Kristal atau batu


bergerak atau bergeser

/ menit
P: terdapat nyeri
tekan pada perut
kanan atas

Terbentuk inti yang


lambat laun akan
berubah menjadi batu

P: Tympani
Perubahan cairan

DS:
a. Pasien mengatakan
sering mengalami

empedu dan produksi


empedu

nyeri pada perut


sebelah kanan atas.
b. Pasien mengatakan
nyeri berlangsung agak

Penumpukan komponen
empedu

lama sekitar 30 menit.


DO:

Kekurangan volume

a. Turgor kulit tidak

cairan

baik
b. Mata ikterik
c.

Berkeringat

d. Takikardi

Kulit dan mata ikterik,


warna urin gelap

e. Mukosa mulut kering


DS:

Masuk kedalam
peredaran darah

Kekurangan
volume cairan

41

a. Keluarga pasien
mengatakan pasien
sering mual dan

Cairan empedu refluks

muntah
b. Pasien mengatakan
badannya terasa lemas

Menyumbat aliran darah

c. Pasien mengatakan
sering merasa haus.

Terbentuk inti yang


lambat laun menjadi batu

Penumpukan komponen
empedu
DO:

Perubahan nutrisi:

a. BB sebelum 63 kg
b. BB sekarang 60 kg

kurang dari kebutuhan

nutrisi kurang

tubuh

dari kebutuhan
tubuh

c. Makan habis porsi


RS

Mual muntah

DS:
a. pasien mengatakan
mual sehabis
makan
b. pasien mengatakan

Perubahan

Defisiensi bilirubin
dalam saluran
pencernaan

nafsu makan
menurun
Masuk kedalam
peredaran darah

42

Cairan empedu refluks

Menyumbat aliran
empedu

Terbentuk inti yang


lambat laun menjadi batu

Penumpukan komponen
empedu
DO:

Kurang

a. Pasien terlihat

Kurang pengetahuan

kebingungan
b. Pasien terlihat
cemas

kurang pengetahuan

DS:
a. Pasien mengatakan
tidak mengetahui
tentang

Menggesek mukosa
saluran empedu

penyakitnya
b. Keluarga pasien
mengatakan tidak
mengerti

Kristal atau batu


bergerak atau bergeser

bagaimana cara
merawat
keluarganya yang
sakit

Terbentuk inti yang


lambat laun akan

pengetahuan

43

berubah menjadi batu

Perubahan cairan
empedu dan produksi
empedu

Penumpukan komponen
empedu

B. Diagnosa
1. Nyeri akut b/d proses inflamasi kandung empedu, obstruksi/spasme
duktus, iskemia jaringan/nekrosis
2. Kekurangan volume cairan b/d dispensi dan hipermortilitas gaster,
gangguan proses pembekuan darah
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan
pencernaan lemak intake yang tidak adekuat.
4. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi

44

C. INTERVENSI
Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Nyeri akut b/d proses

Tujuan: Nyeri teratasi

1. Observasi dan catat

inflamasi kandung

setelah dilakukan perawatan

lokasi, beratnya (skala 0-10)

tentang kemajuan/perbaikan

empedu, obstruksi/spasme

selama 2x24 jam.

dan karakter nyeri (menetap,

penyakit, komplikasi dan

hilang, timbul atau kolik ).

keefektifitan intervensi.

duktus, iskemia
jaringan/nekrosis

Krieria hasil
Pasien akan:
-Melaporkan nyeri hilang/
terkontrol

2. Catat repons terhadap


obat dan laporkan bila nyeri
tidak hilang.

1.Memberikan informasi

2.Nyeri berat yang tidak


hilang dapat menunjukkan
adanya komplikasi.
3.Posisi yang nyaman fowler

3. Tingkatkan tirah baring,

rendah menurunkan tekanan

-Menunjukkan penggunaan

berikan pasien posisi yang

intraabdomen.

ketrampilan relaksasi dan

nyaman.

aktivitas hiburan

4. Gunakan sprei yang


halus/katun; minyak kelapa;
minyak mandi(alpha keri).
5. Berikan teknik relaksasi

4.Menurunkan iritasi kulit


dan sensasi gatal.
5. Meningkatkan istirahat dan
memusatkan kembali
perhatian, dapat
menurunkan nyeri.

45

6. Kolaborasi dengan dokter


dalam pemberian obat anti
nyeri.
Kekurangan volume cairan Tujuan:
b/d dispensi dan
hipermortilitas gaster,
gangguan proses
pembekuan darah

selama 3x24 jam

mengatasi nyeri yang hebat.

1. Monitor pemasukan dan


pengeluaran cairan

Setelah dilakukan perawatan

2. Awasi belanjutnya

Keseimbangan cairan

mual/muntah, kram

adekuat

abdomen,kejang ringan,
kelemahan

Kriteria hasil:

3.

6. Membantu dalam

Kaji pendarahan

1. Memberikan informasi
tentang status cairan /
volume sirkulasi dan
kebutuhan penggantian
cairan.
2. Muntah berkepanjangan,
aspirasi gaster dan
pembatasan pemasukan

yang tidak biasa

oral dapat menimbulkan

Dibuktikan oleh tanda vital

contohnya pendarahan

defisit natrium, kalium

stabil, membran mukosa

pada gusi,mimisan,

dan klorida.

lembab, turgor kulit baik,

petekia, melena.

pengisian kapier baik,


eliminasi urin normal

4. Kaji ulang pemeriksaan


laboraturium

3. Protrombin darah
menurun dan waktu
koagulasi memanjang bila
aliran empedu terhambat,

46

5. Beri cairan IV, elektrolit,


dan vit. K

meningkatkan resiko
hemarogi.
4. Membantu dalam proses
evaluasi volume cairan
5. Mempertahankan volume
sirkulasi dan memperbaiki
ketidakseimbangan.

Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan tubuh b/d
gangguan pencernaan
lemak intake yang tidak
adekuat

Tujuan :
Setelah dilakukan perawatan
selama 3x24 jam
Pemenuhan kebutuhan
nutrisi pasien adekuat.
Kriteria hasil:
Pasien akan :
-

Melaporkan mual/muntah

hilang.

1. Kaji distensi abdomen


2. Timbang dan pantau BB
tiap hari
3. Diskusikan dengan klien

1. Adanya ketidaknyamanan
karena gangguan
percernaan,nyeri gaster.
2. Mengidentifikasi

makanan kesukaan dan

kekurangan/kebutuhan

jadwal makan yang

nutrisi.

disukai
4. Berikan suasana yang

3. Melibatkan klien dalam


perencanaan, klien

menyenangkan pada saat

memiliki rasa kontrol dan

makan, hilangkan

mendorong untuk makan.

ransangan yang berbau.


5. Jaga kebersihan oral

4. Untuk meningkatkan
nafsu makan/ menurunkan

47

Menunjukkan kemajuan

sebelum makan

mual.

mencapai BB individu yang


tepat.
-

Makanan habis sesuai

porsi yang diberikan.

6. Konsul dengan ahli diet/

5. Oral yang bersih

tim pendukung nutrisi

meningkatkan nafsu

sesua indikasi

makan.

7. Berikan diet sesuai

6. Berguna untuk

toleransi biasanya rendah

merencanakan kebutuhan

lemak, tinggi serat.

nutrisi individual melalui


rute yang paling tepat.
7. Memenuhi kebutuhan
nutrisi dan meminimalkan
ransangan pada kandung
empedu.

Kurang pengetahuan b/d


kurang informasi

Tujuan :
Setelah diberi penjelasan 23 kali selama 10 menit
pasien dapat mengerti dan
memahami penyakit yang

1. Jelaskan mengenai

1. Penjelasan mengenai

penyebab dan konsep

penyakit dapat

penyakit yang dialami

menurunkan kecemasan

2. Berikan

klien atas penyakitnya

penjelasan/alasan tes dan 2. Untuk memberi informasi

48

dialaminya

persiapannya
3. Kaji ulang program obat
dan kemungkinan efek.
4. Anjurkan pasien untuk

Kriteria Hasil:
- pasien mengatakan sudah

terkait penyakit sehingga


dapat menurunkan cemas
dan rangsang simpatis
3. Batu empedu merupakan

makan/minum makanan

penyakit yang dapat

dan minuman yang

berulang sehingga perlu

tinggi lemak

terapi jangka panjang.

tahu terkait penyakitnya


- pasien dan keluarga
melakukan perubahan
pola hidup dan
berpartisipasi dalam
program pengobatan

4. Mencegah atau membatasi


terulangnya serangan batu
empedu

49

D. IMPLEMENTASI
No
1

Diagnosa
Nyeri akut b/d proses

Rencana Tindakan
1. Telah diobservasi dan dicatat

inflamasi kandung

lokasi, beratnya (skala 0-10) dan

empedu, obstruksi/spasme

karakter nyeri (menetap, hilang,

duktus, iskemia

timbul atau kolik ). Dengan hasil

jaringan/nekrosis

nyeri dirasakan diperut atas


sebelah kanan dengan skala nyeri
8 dan nyeri berlangsung sekitar
30 menit.
2. Telah dicatat repon terhadap obat
dan pasien melaporkan bila nyeri
tidak hilang.
3. Telah ditingkatkan tirah baring,
dan pasien telah diberikan posisi
yang nyaman.
4. Telah digunakan sprei yang
halus/katun; minyak kelapa;
minyak mandi(alpha keri).
5. Telah diberikan teknik relaksasi
dengan respon klien mengatakan
nyeri membaik.
6. Telah dilakukan kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian
obat anti nyeri dengan hasil klien
memberikan respon membaik.

Kekurangan volume cairan 1. Telah dilakukan monitor

50

b/d dispensi dan

pemasukan dan pengeluaran

hipermortilitas gaster,

cairan

gangguan proses
pembekuan darah

2. Telah diawasi belanjutnya


mual/muntah, kram
abdomen,kejang ringan,
kelemahan
3. Telah dikaji pendarahan yang
tidak biasa contohnya pendarahan
pada gusi,mimisan, petekia,
melena.
4. Telah dikaji ulang pemeriksaan
laboraturium
5. Telah diberikan cairan IV,
elektrolit, dan vit. K sesuai
kebutuhan

Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan tubuh b/d
gangguan pencernaan
lemak intake yang tidak
adekuat

1. Telah dikaji adanya distensi


abdomen
2. Telah ditimbang dan dipantau BB
tiap hari
3. Telah didiskusikan dengan klien
makanan kesukaan dan jadwal
makan yang disukai
4. Telah diberikan suasana yang
menyenangkan pada saat makan,
hilangkan ransangan yang berbau.
5. Telah dijaga kebersihan oral

51

sebelum makan
6. Telah dikonsultasikan dengan ahli
diet/ tim pendukung nutrisi sesuai
indikasi
7. Telah

diberikan

diet

sesuai

toleransi biasanya rendah lemak,


tinggi serat.
4

Kurang pengetahuan b/d


kurang informasi

1. Telah dijelaskan mengenai


penyebab dan konsep penyakit
yang dialami
2. Telah diberikan penjelasan/alasan
tes dan persiapannya
3. Telah dikaji ulang program obat
dan kemungkinan efek samping
4. Telah dianjurkan pasien untuk
makan/minum makanan dan
minuman yang tinggi lemak

E. Evaluasi
No
1

Diagnosa

Evaluasi

Nyeri akut b/d proses

S: Pasien mengatakan, Sus, perut

inflamasi kandung

saya masih terasa nyeri.

empedu, obstruksi/spasme

O: Pasien terlihat meringis menahan

duktus, iskemia

nyeri.

jaringan/nekrosis

A: Masalah teratasi sebagian.


P: Lanjutkan intervensi

52

Kekurangan volume cairan S:

Keluarga Pasien Mengatakan

b/d dispensi dan

Bahwa Sus, suami Saya Sudah

hipermortilitas gaster,

Tidak Lemas Lagi

gangguan proses

O: Pasien Tidak Memperlihatkan

pembekuan darah

Tanda-Tanda Sianosis
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi

Perubahan nutrisi kurang

S: Istri pasien mengatakan bahwa

dari kebutuhan tubuh b/d

sus, suami saya sudah bisa makan

gangguan pencernaan

dengan teratur namun masih dalam

lemak intake yang tidak

porsi yang sedikit

adekuat

O: BB pasien bertambah dan pasien


mengabiskan makanan yang
diberikan
A: Masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan Intervensi.

Kurang pengetahuan b/d

S: pasien mengatakaniya sus, saya

kurang informasi

faham dengan penyakit saya


sekarang. Saya tidak akan
mengulangi penyebab sakit saya
O: pasien tampak tidak cemas
A: Masalah teratasi sepenuhnya
P: Intervensi dihentikan

Dikerjakan Oleh:
Dina Amalia

Nim 122310101037

Siti Zumrotul Mina Nim 122310101005

53

Referensi
Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Mendikal Bedah volume 2 edisi 8.
Jakarta: EGC
Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda Definisi dan Klasifikasi
2005 -2006. Editor : Budi Sentosa. Jakarta : Prima Medika