Anda di halaman 1dari 4

Komplikasi

Hypernatremia
Hypernatraemia adalah sebuah gangguan elektrolit yang didefinisikan oleh
tingkat natrium tinggi dalam darah. Hipernatremia ini umumnya tidak disebabkan
oleh kelebihan natrium, melainkan dengan defisit relatif garis air dalam tubuh.
Untuk alasan ini, hipernatremia sering sinonim dengan istilah dehidrasi.
Natrium adalah salah satu elektrolit yang amat dibutuhkan tubuh untuk
menjaga metabolisme tubuh. Salah satu fungsi elektrolit ini adalah untuk
kontraksi dan pergerakan manusia, dan juga untuk menjaga cairan tubuh karena
fungsi dari natrium ini yang dapat menarik air. Hipernatremia yang berat dapat
menyebabkan kebingungan, kejang otot, kejang seluruh tubuh, koma, kematian.
Hipernatremia (natrium serum di atas 150 mEq/L) merupakan gangguan
elektrolit yang lazim dijumpai pada pasien di bangsal perawatan dan unit rawat
intensif. Pasien hipernatremia dikelompokkan dalam 3 kategori:
1)

Ringan, kadar serum 151 sampai 155 mEq/L;

2)

Moderate, 156 sampai 160 mEq/L; dan

3)

Berat, di atas 160 mEq/L.

Hyponatremia
Hiponatremia adalah suatu kondisi yang terjadi ketika tingkat natrium
dalam darah rendah. Konsentrasi natrium darah menurun jika natrium telah
dilarutkan oleh terlalu banyaknya air dalam tubuh. Pengenceran natrium bisa
terjadi pada orang yang minum air dalam jumlah yang sangat banyak (seperti
yang kadang terjadi pada kelainan psikis tertentu) dan pada penderita yang
dirawat di rumah sakit, yang menerima sejumlah besar cairan intravena. Jumlah
cairan yang masuk melebihi kemampuan ginjal untuk membuang kelebihannya.
Ketika ini terjadi, kadar cairan tubuh meningkat, dan sel-sel mulai membengkak.
Pembengkakan ini dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan, dari ringan
sampai mengancam nyawa.

Asidosis metabolik
Asidosis metabolik (kekurangan HC
ditandai

dengan penurunan primer

) adalah gangguan sistemik yang

kadar bikarbonat plasma, sehingga

menyebabkan terjadinya penurunan pH (peningkatan [

]). Dimana [HC

adalah kurang dari 22 mEq/L dan pH-nya kurang dari 7.35. Kompensasi
pernapasan kemudian segera dimulai untuk menurunkan PaC

melalui

hiperventilasi sehingga asidosis metabolik jarang terjadi secara akut.


Kadar ion HC

normal adalah sebesar 24mEq/L dan kadar normal pC

adalah 40 mmHg dengan kadar ion-H sebesar 40 nanomol/L. Penurunan kadar


ion-HC

sebesar 1 mEq/L akan diikuti oleh penurunan pC

sebesar 1.2 mmHg.

Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala, namun biasanya


penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan. Pernafasan menjadi lebih dalam
atau sedikit lebih cepat. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai
merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan
mengalami kebingungan. Apabila asidosis semakin memburuk, tekanan darah
dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian.
Diare berat merupakan penyebab asidosis metabolik yang paling sering.
penyebab asidosis ini adalah hilangnya sejumlah besar natrium bikarbonat ke
dalam feses. Sekresi gastrointestinal secara normal mengandung sejumlah besar
bikarbonat, dan diare menyebabkan hilangnya ion bikarbonat ini dari tubuh,
memberi seperti hilangnya sejumlah besar bikarbonat dalam urin. Bentuk asidosis
metabolik ini berlangsung berat dan dapat menyebabkan kematian terutama pada
anak-anak.
Memuntahkan isi lambung sendiri akan menyebabkan hilangnya asam dan
kecenderungan ke arah alkalosis karena sekresi lambung sangat bersifat asam.
Akan tetapi, memuntahkan sejumlah besar isi dari bagian traktus gastrointestinal
yang lebih lanjut, yang seringkali terjadi, menyebabkan hilangnya bikarbonat dan

menimbulkan asidosis metabolik dalam cara yang sama seperti diare


menimbulkan asidosis
Hipoglikemi
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% dari anak-anak yang menderita diare. Pada
anak-anak dengan gizi cukup/baik, hipoglikemia ini jarang terjadi, lebih sering
terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderia KKP. Hal in terjadi karena :
a. Penyimpanan / persediaan glikogen dalam hati terganggu
b. Adanya gangguan absorbsi glukosa (Walaupun jarang terjadi).
Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun
sampai 40 mg% pada bayi dan 50 mg% pada anak-anak.
Gejala: lemah, apatis, peka rangsang, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang,
sampai koma.
Terjadinya hipoglikemia ini perlu dipertimbangkan jika terjadi kejang yang tibatiba tanpa adanya panas atau penyakit lain yang disertai kejang atau penderita
dipuasakan dalam waktu yang lama.
Gagal ginjal akut
Gagal Ginjal Akut (GGA) adalah suatu sindrom akibat kerusakan
metabolik atau patologik pada ginjal yang ditandai dengan penurunan fungsi
ginjal yang mendadak dalam waktu beberapa hari atau beberapa minggu yang
mengakibatkan hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeotasis
tubuh. Pada pasien diare, dehidrasi akan menyebabkan penurunan aliran darah
ginjal (renal hypoperfusion) yang mengakibatkan penurunan tekanan filtrasi
glomerulus dan kemudian diikuti oleh penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG).
Keadaan ini umumnya ringan yang dengan cepat dapat reversibel apabila perfusi
ginjal segera diperbaiki. Pada GGA prarenal aliran darah ginjal walaupun
berkurang masih dapat memberikan oksigen dan substrat metabolik yang cukup
kepada sel-sel tubulus. Apabila hipoperfusi ginjal tidak segera diperbaiki, akan

mengakibatkan NTA. GGA prarenal merupakan kelainan fungsional, tanpa adanya


kelainan histologik atau morfologi pada nefron.