Anda di halaman 1dari 12

INLAY

Disusun Oleh

: Ruqoyyah Rizqi Amalia Irsyad

NIM

: 10612027

Kelompok

: SL Restorasi/ C

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2015
Perbedaan Indikasi Inlay, Onlay dan Overlay
Indikasi Inlay Klas I dan II

1. Kebanyakan merupakan hasil pilihan pasien.


2. Dipergunakan sebagai perawatan utama bila emas/ keramik adalah pilihan
restorasi yang dominan.
3. Apabila bentuk dan fungsi paling bias direstorasi dengan logam tuang.
Misalnya, tidak dianjurkan untuk mengubah kontur gigi yang sudah ada
dengan restorasi amalgam.
4. Sebagai sandaran cengkeram geligi tiruan sebagian lepasan (Baum, 1997).
Indikasi Onlay MOD
1.
2.
3.
4.

Pengganti restorasi amalgam yang rusak.


Kalau restorasi dibutuhkan sebagai penghubung tonjol bukal dan lingual.
Restorasi karies interproksimal gigi posterior.
Restorasi gigi posterior yang menerima tekanan oklusal yang kuat (Baum,
1997).

Indikasi Overlay
1.
2.
3.
4.
5.

Gigi anterior dengan ruang yang tidak cukup untuk restorasi all ceramic.
Kegagalan mahkota jaket porselen.
Restorasi yang mengutamakan estetis.
Situasi yang memerlukan kekuatan tinggi.
Kerusakan gigi menengah sampai tinggi yang memerlukan perbaikan
(Burke, 2002).

Gambar 1. Inlay, Onlay, Overlay

Perbedaan Indikasi Klas II Amalgan dan Inlay


Indikasi Klas II Amalgam
1. Untuk restorasi yang besar.
2. Kehilangan jaringan gigi sebelum dan selama perawatan minimal. Karies
melibatkan permukaan distal-oklusal atau mesio-oklusal.
3. Restorasi di daerah yang tidak memerlukan estetik mulut.
4. Pada daerah yang memiliki beban kunyah atau kontak oklusi yang besar.
5. Restorasi yang tidak dapat disolasi dengan baik (Bayne, 2002).
1

Indikasi Inlay Klas I dan II


1. Kebanyakan merupakan hasil pilihan pasien.
2. Dipergunakan sebagai perawatan utama bila emas/ keramik adalah pilihan
restorasi yang dominan.
3. Apabila bentuk dan fungsi paling bisa direstorasi dengan logam tuang.
Misalnya, tidak dianjurkan untuk mengubah kontur gigi yang sudah ada
dengan restorasi amalgam.
4. Sebagai sandaran cengkeram geligi tiruan sebagian lepasan (Baum, 1997)
Perbedaan Bentukan Preparasi antara Klas II Amalgam dan Inlay
Preparasi Klas II Amalgam
1. Preparasi melibatkan alur oklusal dan ceruk, seperti dilakukan untuk
amalgam oklusal Klas I.
2. Pemotongan (fasio-lingual/palatal) dilakukan untuk mendapatkan akses ke
lesi proksimal. Menembus linger tepi untuk membuka pertautan dentoenamel. Juga penting operator mencapai dan mengidentifikasi dentin.
3. Setelah orofis dari parit terbalik: dibuat, preparasi dentin dengan bur bulat
untuk membentuk dinding bagian dalam (aksial) dari preparasi.
4. Lapisan enamel ditembus dengan alur vertikal. Harus dilakukan secara
hati2 agar tidak mengenai permukaan enamel gigi sebelahnya.
5. Lapisan enamel menjadi lemah karena pembuatan alur bias dipatahkan
dengan bilah instrument. Enamel rod dapat dipatahkan dengan rapi dan
tepat di daerah pinggiran yang dibentuk bur.
6. Penggunaan bur dipakai untuk memperdalam dinding aksial jika
diperlukan, untuk membuat kembali alur aksial, dan untuk melakukan
penyempurnaan tepi sepanjang oklusal. ]
7. Preparasi kavitas sudah selesai (Baum, 1997).

Gambar 2. Bentukan preparasi Klas II Amalgam

Preparasi Inlay
Inlay Logam Tuang Direk
a.

Teknik Preparasi
Karakteristik utama untuk preparasi inlay ini adalah tidak boleh ada
undercut walaupun harus tetap retentif. Secara teoritis sudut antara dindingdinding kavitas harus antara 7-10 derajat, tetapi hal ini hampir mustahil
dilaksanakan secara klinis, sehingga sudut 20 derajat secara rata-rata dapat
diterima. Jika garis-garis internal terlihat jelas sekali, maka berarti dinding
kavitas terlalu divergen ke oklusal. Sebaliknya, jika satu dinding selalu
hilang dari pandangan, maka berarti kavitasnya memiliki undercut. Dindingdinding kavitas harus dihaluskan agar pola direknya dapat dikeluarkan
(Kidd, 2000).
Aloi yang digunakan hendaknya aloi yang duktil dan tepi kavitas dibevel
sehingga inlay dapat diburnis untuk meningkatkan adaptasi tepinya. Bevel
dapat dibuat dengan memakai kecepatan tinggi dengan bur karbida tungsten
kecepatan tinggi atau dengan kecepatan rendah . kavitas ini dapat dilapik
dengan semen EBA atau semen ionomer. Pada kavitas yang sangat dalam,
diperlukan subpelapik hidroksida kalsium (Kidd, 2000).

b. Pola Direk
Untuk membuat pola malam direk, permukaan preparasi mula-mula
dilumas dulu dengan lapisan tifis parafin cair atau larutan sabun. Sebatang
malam

inlay dilunakkan

dan

dibentuk

mengerucut

dengan

jalan

memanaskan unjung malam secara hati-hati di atas api spiritus. Malam


jangan sampai dipanaskan terlalu tinggi hingga mencair dan menetes. Ujung
malam yang sudah lunak dibentuk sampai berbentuk kerucut memakai ibu
jari dan telunjuk. Kerucut malam yang lunak tersebut kemudian ditekankan
ke kavitas dan tetap ditekan sampai malamnya mendingin (Kidd, 2000).
Jika sudah keras, malam diukir dengan instrumen panas atau tajam
sambil hati-hati dalam membentuk bevel sudut tepi kavitas dan kontur.
Permukaan malam dapat dihaluskan dengan butira kapas. Kapas ini dibasahi
dahulu dengan air dan diletakkan di atas nyala api sampai airnya hampir

mendidih. Ini dapat dipakai untuk menghaluskan kekasaran-kekasaran kecil


(Kidd, 2000).
Tahap selanjutnya adalah memberikan sprue pada pola malam. Sprue
terbuat dari kawat bulat lurus berdiameter sekitar 1 mm dan panjang 15 mm.
Sprue dipanaskan dan setelah ditambah selapis malam inlay disekelilingnya,
sprue ditusukkan di tengan pola dan dibiarkan sampai dingin. Sprue
berfungsi ganda; sebagai pegangan untuk menarik pola malam dari kavitas
dan membentuk saluran tempat mengalirnya logam setelah pola ditanamkan
dan spruenya diangkat (Kidd, 2000).
Pola malam diangkat dari kavitas dengan memegang sprue dengan jari
dan periksalah baik-baik permukaan dalamnya. Pola malam yang baik
seharusnya mencerminkan reproduksi yang tajam dari rincian permukaan
internal kavitas. Tambalam sementara diperlukan untuk melindungi dentin
terbuka, sampai inlaynya selesai dicor. Tambalan ini bisa berupa semen OSE
walaupun tidak ideal karena akan sukar dibuka tanpa merusak preparasi.
Lebih disukai memai akrilik untuk mahkot adan jembatan sementara karena
dapat dibuka dalam satu kesatuan. Akrilik dicampur samapi konsistensinya
kental, dimasukkan ke dalam kavitas dan dibentuk dengan instrumen plastis
datar. Ketika hampir mengeras inlay sementara dikeluarkan kemudian
dimasuk-keluarkan beberapa kali sampai mengeras. Ini akan menghindarkan
inlay sementara menempel pada kavitas. Inlay sementara kemudian
disemenkan dengan semen sementara OSE (Kidd, 2000).
c. Tahap Laboratorium
Tahap laboratorium akan bervariasi bergantung pada bahan pola dan
logam yang digunakan. Singkat kata, sprue dan pola diletakkan pada coneshaped form, ditutup dengan bumbung tuang lalu dituangi dengan bahan
investmen dan dibiarkan mengeras. Jika telah mengeras, cone-shaped form
dan sprue diangkat dengan pinset. Bumbung tuang kemudian dipanaskan
dalam tungku sampai malam meleleh dan menguap atau akriliknya terbakar
habis lalu logam cair dicorkan dan dibiarkan mengeras. Ketika masih panas
bumbung tuang dicelupkan ke dalam air sehingga investmen akan pecah dan
mudah dibuka. Sprue dipotong, biasanya disisakan sedikit sebagai pegangan

ketika mencoba inlay dalam kavitas. Inlay direk yang kecil biasanya tidak
dipoles sampai dicobakan di dalam mulut (Kidd, 2000).
d. Kunjungan Klinis Kedua
Inlay sementara dibuka dan kavitas dibersihkan serta diperiksa dari sisasisa tambalan sementara. Sebelum dicobakan di dalam kavitas, permukaan
dalam inlay harus diperiksa dengan teliti, jika terdapat sedikit benjolan kacil
emas dapat dihilangkan dengan ekskavator, tetapi jika defek in ibesar dan
banyak, pola malam harus dibuat ulang (Kidd, 2000).
Selanjutnya inlay dicobakan ke dalam kavitas. Jika duduknya tidak baik,
kemungkinan terdapat sisa-sisa tambalan sementara atau adanya undercut
dalam kavitas dan pola malam yang distorsi. Dalam keadaan seperti ini,
kavitasnya harus dimodifikasi dan pola dibuat kembali. Akhirnya bevelnya
yang diperiksa, karena bevel yang tidak cukup akan juga memerlukan
pembuatan pola malan yang baru (Kidd, 2000).
Jika restorasinya telah pas, tepi inlay diburnis dengan burniser tangan
dengan gerakan dari inlay ke gigi. Suatu daerah tepi yang tampak terlalu
tebal dapat dikurangi dengan bur pengakhir baja bulat dan kecil atau dengan
stone putih kecepatan rendah. Instrumen harus digunakan dengan tekanan
ringan dan diputar dari emas ke gigi sehingga berefek kerja dari emas ke
gigi (Kidd, 2000).
Tepi inlay kini dipoles di alam mulut sejauh mungkin, memakai poin
karet pumis dan caret. Akhirnya inlay diangkat dan sprue dipotong. Sisa
permukaan dipoles dengan roda karet abrasif. Selanjutnya inlay disemenkan
dengan semen ionomer kaca tipe penyemen atau semen Zn. Fosfat yang
dicampur sampai konsistensinya seperti krim. Semen ionomer kaca lebih
disukai karena lebih adhesif ke dentin dan kurang iritatif terhadap pulpa.
Semen dicapur sesuai instruksi pabrik. Semen yang telah dicampur
diulaskan ke permukaan dalam inlay, dimasukkan ke dlam kavitas, ditekan
sampai posisinya baik dengan burniser berberntuk buah pir. Jika semen telah
benar-benar

mengeras,

gunakan

ekskavator

atau

sonde

untuk

menghilangkan kelebihan semen. Jika semen ionomer yang dipakai, tepinya

harus dilapisi dua lapis pernis. Restorasi kemudian dipoles akhir dengan
poin karet pumis dan tepinya dipernis ulang (Kidd, 2000).
Inlay Logam Tuang Indirek
a. Preparasi bagi inlay MOD dengan perlindungan tonjol
Ini merupakan macam inlay yang paling umum dilakukan. Prinsi-prinsip
ini di aplikasikan agak berbeda untuk memperhitungkan sifat-sifat bahan
yang digunakan, tetapi secara prinsip sama dengan prinsip untuk restorasi
plastis, menurut Kidd (2000), yaitu:
Memperoleh akses ke karies atau membuang restorasi lama.
Membuang karies.
Mempertimbangkan dengan seksama langkah berikutnya.
Desain untuk inlay harus dipertimbangkan kembali ditahap ini dan jika
keputusannya telah dikonfirmasikan maka rencanakan rincian desain.
Mempreparasi kavitas sehingga retentive dan resisten.
Mempreparasi perlindungan tonjolnya.
Mengecek undercut.
Mempreparasi garis-garis akhir.
Melapik kavitas (Kidd, 2000).
b. Retensi bagi kavitas inlay
Retensi diperoleh dengan mempreparasi dinding yang saling berhadapan
menjadi separalel mungkin dan tanpa undercut. Hal ini memungkinkan
diperolehnya jalan masuk inlay dengan baik dari arah oklusal, dan paling
mudah dibuat dengan menggunakan bur fissure karbida tungsten lurus
mengguncup pada kecepatan tinggi. Agar dinding-dinding kavitas bias
separalel mungkin, bur harus diatur kembali letaknya ketika berpindah dari
sisi bukal ke sisi lingual kavitas. Hilangnya retensi diarah lain dicegah
dengan keberadaan tonjol dan kunci oklusal dalam cara yang sama dengan
retensi bagi amalgam (Kidd, 2000).
c. Perlindungan tonjol
Aspek penting dari desain dan alasan utama untuk memilih tipe restorasi
ini adalah guna melindungi tonjol yang lemah agar tidak patah karena
tekanan oklusal. Untuk melakukan ini, tonjol yang lemah dikurangi
ketinggiannya, sejajar dengan lereng tonjol. Dasar pengasahan tergantung
keadaan tetapi umumnya tidak lebih dari 0,5 mm. untuk beberapa kasus,

pengasahan mungkin harus dilakukan lebih banyak (sampai 1,5 mm),


terutama jika tonjol yang akan di lindungi berkontak pada gerak lateral
mandibula (tonjol fungsional)dank arena itu rawan terhadap tekanan lateral
(Kidd, 2000).
b. Pemeriksaan undercut
Kavitas harus bebas dari undercut agar semua garis (line angle) yang
kecil dan titik sudut (point angle) bias dilihat sekaligus. Undercut bias dicek
dengan melihatnya langsung pada kavitas, atau dengan kaca mulut
(khususnya yang mempunyai permukaan pemantul), pada arah pelepasan
inlay. Tanpa memindahkan posisi kepala, operator bisa memasukkan sonde
dari pandangan, berarti sonde masuk kedaerah undercut. Tindakan ini perlu
dilakukan dengan hati-hati pada kavitas MOD, agar daerahnya bebas
undercut. Semua undercut yang ada harus dihilangkan, baik dengan
mempreparasi lagi gigi tersebut atau jika undercut didukung dengan baik
oleh dentin, dengan menutupinya dengan menggunakan semen (Kidd,
2000).
c. Garis pengakhir
Beberapa bentuk bevel atau chamfer merupakan garis pengakhir yang
umum dilakukan untuk restorasi tuang intrakorona. Penggunaan bentuk ini
menghasilkan sudut tepi kavitas (cavo-surface) 1350 dan sudut tepi logam
450. Jika inlay dipasang, tepi logam yang tipis ini bisa diburnis ke email
(Kidd, 2000).
d. Pelapikan kavitas
Pada kavitas yan dalam harus digunakan sub pelapik dari semen yang
mengandung hidroksida kalsium. Bahan pelapik kedua selanjutnyya
diletakkan diatas sub pelapik untuk menutup setiap undercut, mendatarkan
lantai oklusal dan dinding pulpa, dan sebagai isolator panas bagi pulpa.
Semen ionomer kaca merupakan bahan pilihan untuk pelapik structural ini
karena adhesive terhadap dentin (Kidd, 2000).
e. Pencetakan
Sendok cetak khusus

Sendok mendukung bahan disekitar gigi, ini berarti bahan di sekitar


gigi; ini berarti bahwa bahan cetak yang digunakan makin sedikit dan bisa
diperoleh ketebalan bahan yang konsisten. Jika diperlukan dapat pula
dibuat sendok cetak khusus dari resin akrilik pada model studi. Sendok
harus menutupi semua gigi didalam lengkung dan diperluas 2mm melebihi
tepi gingival. Sendok harus berjarak 1-2mm dari gigi-gigi tetapi berkontak
dengan 3 gigi disepanjang rahang sehingga bisa dipasang dengan tepat
tanpa menyentuh gigi yang dipreparasi. Bahan adhesive yang tepat untuk
pencetakkan diulaskan pada bagian dalam sendok dan sekitar tepi-tepinya,
kemudian dibiarkan mongering sebelum dilakukan pencetakkan (Kidd,
2000).

Pengisolasian gigi; retraksi gingival


Bahan cetak elastomer bersifat hidrofobik dank arena itu, permukaan

gigi yang dipreparasi harus kering. Gigi diisolasi dengan gulungan kapas
dan disertai penghisap saliva. Jaringan gingival harus dalam keadaan sehat
sebelum dilakukan preparasi. Jika tepi preparasi diperluas ke atau dibawah
tepi gingival, tepi gingival perlu diretraksi sebelum pencetakan agar
diperoleh cetakan bagian tepi yang akurat. Untuk tujuan ini digunakan
benang retraksi gingival yang dibasahi larutan stiptik seperti alumanium
klorida atau vasikonstriktor misalnya adrenalin. Benang ditekan perlahanlahan ke leher gingival dengan alat plastic datar, dibiarkan 1-2 menit
sebelum dilakukan pencetakkan (Kidd, 2000).

Pembuatan cetakan
Bahan cetak diaduk merata sesuai petunjuk pabrik. Benang retraksi

dilepas dan bahan cetak yang encer disuntikan kedalam preparasi dan
sekitar gigi. Bahan cetak yang lebih kental atau berbentuk padat diletakkan
pada sendok cetak dan sendok cetak ditempatkan diatas bahan encer yang
belum mengeras. Ini membantu bahan cetak beradaptasi kesemua daerah
preparasi dan leher gingiva. Sendok cetak ditahan sampai bahan cetak
mengeras dan dikeluarkan dari mulut (Kidd, 2000).

Pemeriksaan cetakan

Cetakan hasil preparasi harus diperiksa rinciannya untuk melihat


apakah semua bagian tepi terlihat dan tidak ada lubang kosong karena
gelembung udara yang terjebak. Rincian permukaan okusal dari seluruh
cetakan harus diperiksa karena akibat gelembung udara nantinya akan
terisi gip dan menghalangi oklusi model (Kidd, 2000).

Gambar 3. Preparasi Inlay MO dan MOD

Gambar 4. Perbedaan preparasi antara Klas II


Amalgam dengan Inlay

Bahan yang Digunakan pada Restorasi Inlay


1. Logam Tuang
Logam tradisional bagi inlay adalah emas. Emas jarang sekali digunakan
karena merupakan bahan yang sangat lunak. Logam lain lalu ditambahkan
untuk meningkatkan sifat fisik emas murni, sehingga bahan yang
digunakan dalam inlay emas tradisional adalah allow emas. Alloy tersebut
ada yang terdiri dari 60% emas atau lebih da nada pula yang mengandung
20% emas. Alloy lain sama sekali tidak mengandung emas, tetapi hanya
mengandung kombinasi logam-logam lain, sehingga disebut sebagai
logam cor

2. Porselen
Keuntungan:
- Warnanya dapat disesuaikan dengan warna gigi.
- Daya kondensasinya rendah dan tolerandi dari jaringan lunak sangat
-

baik.
Permukaannya licin seperti kaca (Tarigan, 1993).

Kerugian:
-

Ketahanan yang rendah terhadap benturan.


Kurang dapat beradaptasi terhadap dinding kavitas.
Untuk pembuatannya dibutuhkan suatu tungku yang special (khusus)

(Tarigan, 1993).
3. Akrilik
Keuntungan:
-

Pembuatannya hanya memerlukan waktu yang singakat.


Warna dipilih sesai dengan warna gigi (Tarigan, 1993).

Kerugian:
-

Daya estetika kurang, karena itu akan mudah terlepas dari gigi.
Mudah menjadi aus bila digunakan untuk mengunyah.
Pada umur dibawah 10 tahun tidak dianjurkan menggunakan bahan
tambalan ini karena pada pasien muda tingkat insidens kariesnya
masih tinggi (Tarigan, 1993).

DAFTAR PUSTAKA

Baum, Lloyd. 1997. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi. Jakarta: EGC
Bayne, SC., Thompson JY, Taylor DF. 2002. Sturdevants art and operative
dentistry. 4th ed. Missouri: Mosby:inc.
Bikarindrasari, Rini. 2012. Macam-macam Restorasi Non Plastis. Universitas
Sriwijaya.
Kidd, AM., Smith, BGN., & Pickard, HM. (2000). Manual Konservasi Restoratif.
Ed 6. ( Narlan Sumawinata, Penerjemah). Jakarta: Widya Medika.
Tarigan, R. 1993. Tambalan Inlay. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC
10

11