Anda di halaman 1dari 32

Referat

Otitis Media Supuratif Kronik

Disusun oleh
Ksatria Putra Abadi Kabakoran (11-2014-213)
Pembimbing
Dr. Benhard B.J. Pandjaitan, Sp. THT-KL

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Arjuna Barat No. 6, Jakarta

Kepaniteraan Klinik THT RS FMC


Periode 13 Juli 2015-15 Agustus 2015
1

Pendahuluan
Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari 2 bulan
dengan adanya perforasi membran timpani, sekret yang keluar dari telinga tengah dapat terus
menerus atau hilang timbul. Sekret bisa encer atau kental, bening atau berupa nanah. Otitis
media supuratif kronik ( OMSK) didalam masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah congek,
teleran atau telinga berair. Kebanyakan penderita OMSK menganggap penyakit ini merupakan
penyakit yang biasa yang nantinya akan sembuh sendiri. Penyakit ini pada umumnya tidak
memberikan rasa sakit kecuali apabila sudah terjadi komplikasi. Biasanya komplikasi didapatkan
pada penderita OMSK tipe maligna seperti labirinitis, meningitis, abses otak yang dapat
menyebabkan kematian. Kadangkala suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada
OMSK tipe bening pun dapat menyebabkan suatu komplikasi.
Bakteri aerob penyebab OMSK antara lain : Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis,
Stafilokokus

aureus,

Stafilokokus

epidermidis,

Streptokokus

bhemolitikus,

Difteroid,

Streptokokus viridan, Proteus dan Enterobakter sp. Bakteri anaerob yang sering dijumpai antara
lain : Bakteroides fragilis, Peptokokus, Peptostreptokokus, Klosstridium sporogenes,
Klosstridium perfringens dan Klostridium novyi. Para peneliti mendapat persentase yang
berbeda mengenai jenis bakteri pada OMSK. Adenin Adenan (1973) mendapatkan Proteus sp
sebagai kuman yang dominan (48% dan perbandingan kuman gram negatif dan positif adalah 3 :
1. 6 Brook (1979) dan Palca (1965) mengatakan bakteri aerob yang sering dijumpai pada OMSK
adalah Pseudomonas aeruginosa, Proteus sp, Stafilokokus. Finegald (1981) menemukan kuman
aerob yang dominan adalah Pseudomonas aeruginosa (36 dari 68 penderita) sedangkan Proteus
sp hanya 7 dari 68 penderita .
Pada dasarnya keberhasilan pengobatan penyakit infeksi bakteri dengan antibiotik
merupakan hasil akhir dari 3 komponen, yaitu penderita, bakteri dan antibiotika. Hal ini
disebabkan karena penyakit infeksi bakteri adalah manifestasi klinik dari interaksi antara
penderita dan bakteri. Adapun untuk pengobatan infeksi dibutuhkan antibiotika yang tepat dan
daya tahan tubuh penderita itu sendiri. Memilih antibiotika yang tepat dapat dilakukan
berdasarkan sekurang-kurangnya mengetahui jenis bakteri penyebab penyakit dan akan lebih
baik lagi apabila disertai dengan adanya hasil uji kepekaan pemeriksaan mikrobiologi. Ketidak
2

patuhan penderita dalam perawatan, kuman yang resisten, bentuk anatomi telinga, adanya
komplikasi, menyebabkan kesulitan dalam hal pengobatan dan perawatan penderita OMSK.
Helmi, Mangape, Freidmann mengatakan bahwa Stafilokokus aereus telah resisten
terhadap antibiotika golongan penisilin seperti amoksisilin atau ampisilin, tetapi kombinasinya
dengan sulbaktam/asam klavulanat lebih baik daya bunuhnya terhadap kuman gram positif.

Isi
Anatomi telinga tengah1
Telinga tengah berbentuk kubus dengan 1
1.
2.
3.
4.

Batas luar
Batas depan
Batas bawah
Batas belakang

: membrane timpani
: tuba eustachius
: vena jugularis
: aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis

5. Batas atas
6. Batas dalam

: tegmen timpani (meningen/otak)


: berturut turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal,
kanalis facialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar
(round window) dan promontorium. 1
Anatomi telinga

Anatomi telinga tengah


Fisiologi Pendengaran
Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga dan mengenai
membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang
4

pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap
lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan perilimf dalam skala vestibuli. Getaran
diteruskan melalui membrane Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah
bawah, perilimf dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (foramen rotundum)
terdorong ke arah luar.5
Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf dan mendorong membran basal,
sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf pada skala timpani. Pada waktu
istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok, dan dengan berubahnya membran basal ujung sel
rambut menjadi lurus. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion
Natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang-cabang n.VII, yang kemudian
meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39-40) melalui saraf
pusat yang ada dilobus temporalis.5

Gambar 7. Transmisi Suara5

Pemeriksaan fisik

Pada peradangan akut, membrane timpani terlihat merah dan pembuluh darah kecil dapat
terlihat berjalan di permukaannya. Otitis media supuratif Akut menyebabkan peradangan dan
penonjolan membrane timpani yang disertai dengan hilangnya gambaran normal. Perforasi dapat
terjadi di mana saja pada membrane timpani. Membrane yang normal berwarna abu abu seperti
mutiara tidak terlihat lagi, anatomi tulang pendengaran mungkin dapat dilihat dengan jelas. Hasil
akhir infeksi yang tidak diobati adalah pembentukan jaringan parut, yang menyebabkan
membrane timpani berwarna putih tebal, dan mengalami pemendekan. Pemendekan ini membuat
maleus terlihat lebih menonjol. Infeksi yang berulang ulang atau proses peradangan kronis dapat
menimbulkan kolesteatoma. Massa yang terdiri dari epitel squamosal dan debris ini terlihat
seperti nodulus bergranulasi dan pucat warnanya di mana saja sepanjang pinggir membrane
timpani. Ia bukan tumor sejati, tetapi dapat meluas ke dalam struktur struktur di dekatnya. 2
Mobilitas membrane timpani hilang kalau terjadi pembentukan jaringan parut. Jika
membrane timpani terlihat normal, mintalah pasien untuk menjepit hidung dan berusaha untuk
meniup dengan bibir terkatup. Membrane timpani yang normal akan menonjol ke luar sebagai
respons terhadap peningkatan tekanan yang dihantarkan sampai ke tuba eustachius. Jangan
melakukan tes ini kalau pasien jelas menderita penyakit di dalam telinganya. 2
Nyeri tekan mastoid umum ditemukan pada otitis media akut, tetapi mastoiditis sejati
sekarang jarang terjadi. Pada mastoiditis, telinga menjadi lebih jauh dari kepala, jika
dibandingkan dengan telinga yang normal. Nyeri tekan antrum mastoid selalu dapat ditemukan
pada mastoiditis. Antrum dapat ditemukan dengan menekuk telinga depan dengan hati hati
memasukkan jari telunjuk ke dalam cekungan berbentuk segitiga antara tonjolan mastoid dengan
pangkal telinga. 2
Pemeriksaan Pendengaran2
Gangguan pendengaran biasanya dibagi menjadi 2 jenis yang mempunyai etiologi dan
terapi yang berbeda. Tuli konduktif disebabkan oleh gangguan hantaran getaran udara ke telinga
dalam. Tuli sensorineural disebabkan oleh penyakit yang timbul dimana saja antara organ corti
dengan otak. Kombinasi gangguan ini lazim ditemukan. Kedua jenis tuli ini dapat dibedakan
dengan garpu tala, meskipun untuk menentukan kelainan yang pasti perlu dilakukan pemeriksaan
audiometric. 2
6

Tes rinne mendeteksi tuli konduktif. Dalam keadaan normal hantaran suara melalui udara
lebih baik daripada hantaran suara melalui tulang. Jika penyakit menghalangi hantaran
gelombang suara yang normal, maka hantaran melalui tulang akan mengatasi kesulitan ini. 2
Tes weber memastikan adanya tuli konduktif atau menunjukkan adanya tuli sensori
neural. Getarkanlah garpu tala dan pasanglah pada puncak kepala. Tanyakan apakah pasien
mendengar lebih jelas pada satu telinga daripada telinga yang lain atau tidak. Jika ada tuli
konduktif pada 1 telinga, suara akan terdengar lebih keras pada telinga itu. Alasannya adalah
bahwa efek peredam yang berasal dari suara gaduh normal di latar belakang menjadi berkurang
pada telinga tersebut karena adanya gangguan hantaran. Jika ada tuli saraf pada satu telinga,
bunyi tersebut akan terdengar jelas pada telinga normal. Pada tuli saraf, hantaran bunyi melalui
udara dan tulang tidak diteruskan ke SSP. 2

Gambar : tes Rinne dan tes Weber2

Tes schwabach memastikan adanya tuli sensori neural dengan membandingkan


pendengaran pasien dengan pemeriksan yang normal. Getarkanlah garpu tala dan pasanglah pada
mastoid pasien. Kalau suara tersebut sudah tidak terdengar lagi, pindahkan garpu ke mastoid
anda sendiri. Jika anda dapat mendengar getaran tersebut, ini berarti bahwa pasien menderita
gangguan sensorineural. 2

Gambar : Hasil pemeriksaan2

Otitis Media
Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
Eustachius, antrum mastoid dan sel sel mastoid. 1
Banyak ahli membuat pembagian dan klasifikasi otitis media. Secara mudah, otitis media
terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif. 1
Masing masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu otitis media supuratif
akut (otitis media akut =OMA) dan otitis media supuratif kronis (OMSK/OMP). Begitu pula
otitis media serosa terbagi menjadi otitis media seroisa akut (barotrauma = aerotitis) dan otitis
media serosa kronis. Selain itu terdapat juga otitis media spesifik, seperti otitis media
tuberkulosa atau otitis media sifilitika. Otitis media yang lain ialah otitis media adhesive. 1

Otitis Media Supuratif Kronik


Otitis media supuratif kronis (OMSK) dahulu disebut otitis media perforate (OMP) atau
dalam sebutan sehari hari congek. Yang disebut otitis media supuratif kronis ialah infeksi kronis

di telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan secret yang keluar dari telinga tengah
terus menerus atau hilang timbul. Secret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah. 1

Perjalanan penyakit
Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis media supuratif
kronis apabila proses infeksinya kurang dari 2 bulan, disebut otitis media supuratif subakut. 1
Beberapa factor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat
diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah
(gizi kurang) atau hygiene buruk. 1

Letak perforasi
Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan tipe/jenis OMSK.
Perforasi membrane timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal, atau atik. Pada
perforasi sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada
sisa membrane timpani. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan
dengan annulus atau sulkus timpanikum. Perforasi atik ialah perforasi yang terletak di pars
flaksida. 1
Jenis OMSK
OMSK dapat dibagi atas 2 jenis, yaitu
1. OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe benign)
2. OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna) 1
Berdasarkan aktivitas secret yang keluar dikenal juga:
1. OMSK aktif
OMSK dengan secret yang keluar dari kavum timpani secara aktif. 1

Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan
infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang dimana kuman
masuk melalui lia ng telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen.
Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi subtotal pada pars tensa.
Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas. Perluasan infeksi ke sel-sel
mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan penyakit mukosa yang menetap harus
dicurigai bila tindakan konservatif gagal untuk mengontrol infeksi, atau jika granulasi
pada mesotimpanum dengan atau tanpa migrasi sekunder dari kulit, dimana kadangkadang adanya sekret yang berpulsasi diatas kuadran posterosuperior.6
2. OMSK tenang
OMSK tenang ialah yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering. 1
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga
tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang
dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga. 6
Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani :
a. Infeksi saluran nafas yang berulang, alergi hidung, rhinosinusitis kronis.
b. Pembesaran adenoid pada anak, tonsilitis kronis.
c. Mandi dan berenang dikolam renang, mengkorek telinga dengan alat yang
terkontaminasi.
d. Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia.
e. Otitis media supuratif akut yang berulang. 6
Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak
mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman jarang menimbulkan
komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak teradapat kolesteatoma. 1
Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan
kolesteatoma. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe tulang.
Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau di atik, kadang kadang terdapat juga
kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotoal. Sebagian besar komplikasi yang
berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya. 1
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :

1. Adanya Abses atau fistel retroaurikular


2. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.
3. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom)
10

4. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.6

Epidemiologi
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain disebabkan, kondisi sosial, ekonomi,
suku, tempat tinggal yang padat, hygiene dan nutrisi yang jelek. Kebanyakan melaporkan
prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang mempunyai kolesteatom, tetapi tidak
mempunyai data yang tepat, apalagi insiden OMSK saja, tidak ada data yang tersedia. 6

Etiologi
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang
dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis,
rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang
abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan
Downs syndrom. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan
faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Faktor Host yang berkaitan dengan insiden
OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi immun sistemik. Kelainan humoral (seperti
hipogammaglobulinemia) dan cell- mediated ( seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan leukosit)
dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis. 6
Penyebab OMSK antara lain:

1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi mempunyai
hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi, dimana kelompok
sosioekonomi rendah memi liki insiden yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir
dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet, tempat tinggal yang
padat.
2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMSK
berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem
11

sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah
hal ini primer atau sekunder.
3. Otitis media sebelumnya.
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut
dan / atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan
satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis
4. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi
pada otitis media kronik yang aktif menunjukan bahwa metode kultur yang digunakan
adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah Gram- negatif, flora tipe-usus,
dan beberapa organisme lainnya.
5. Infeksi saluran nafas atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas.
Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya
daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah,
sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap otitis
media kronis.
7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang
bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap
antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti
kemungkinannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustachius
Pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi
apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada
telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba
eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan
tekanan negatif menjadi normal. 6
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK :

1. Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret
telinga purulen berlanjut.
12

2. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada


perforasi.
3. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme
migrasi epitel.
4. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat
diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan
dari perforasi. 6
Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis
majemuk, antara lain :

1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang.


a. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang.
b. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total
2. Perforasi membran timpani yang menetap.
3. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya pada telinga
tengah.
4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. Hal ini dapat disebabkan
oleh jaringan parut, penebalan mukosa, polip, jaringan granulasi atau timpanosklerosis.
5. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid.
6. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau perubahan
mekanisme pertahanan tubuh. 6

Manifestasi Klinis
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar
sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar
mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga
tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang
timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau
kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. 6

13

Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret yang
sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk
degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada
OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena
rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan
adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom
yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan
tuberkulosis. 6
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran
mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit
ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila
tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai
tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran
menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db.
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta
keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe
maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang
pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara
sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati.
Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi
karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa
terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf
berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea. 6
3. Otalgia ( nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu
tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus.
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,
terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses
otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder.
Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal
abses atau trombosis sinus lateralis. 6
14

4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding
labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara
yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya
karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah
terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan
meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.
Fistula merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari
telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana
mungkin berlanj ut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK
dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada
membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah. 6

Diagnosis
Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT terutama
pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan sederhana untuk mengetahui
adanya gangguan pendengaran. Untuk mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran dapat
dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni, audiometri tutur (speech audiometry) dan
pemeriksaan BERA (brainsystem evoked response audiometry) bagi pasien/ anak yang tidak
kooperatif dengan pemeriksaan audiometri nada murni. 1
Pemeriksaan penunjang lain berupa foto rontgen mastoid serta kultur dan uji resistensi
kuman dari secret telinga. 1

Kolesteatoma
Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin).
Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar. 1

15

Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun 1838 karena
disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor, yang ternyata bukan. Beberapa istilah lain yang
diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah : keratoma (Schucknecht), squamous epiteliosis,
kolesteatosis, epidermoid kolesteatoma, kista epidermoid, epidermosis. 1
Pathogenesis
Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang pathogenesis kolesteatoma, antara lain
adalah teori invaginasi, teori migrasi, teori metaplasia, dan teori implantasi. Teori tersebut akan
lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray (1964) yang
mengatakan, kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang salah, atau menurut
pemahaman penulis; kolesteatoma dapat terjadi oleh karena adanya epitel kulit yang
terperangkap. 1
Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous
epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke dunia luar. Epitel kulit
di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di
telinga pada waktu yang lama maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut
seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma. 1
Klasifikasi1
Kolesteatoma dapat dibagi atas 2 jenis:
1. Kolesteatoma kongenital yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada
telinga dengan membrane timpani utuh tanpa tanda tanda infeksi. Lokasi kolesteatom
biasanya di kavum timpani, daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle.
Kolesteatoma di cerebellopontin angle sering ditemukan secara tidak sengaja oleh ahli
bedah saraf.
2. Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir, jenis ini terbagi atas 2 :
a. Kolesteatoma akuisital primer
Kolesteatoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani.
Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrane timpani pars
flaksida karena adanya tekanan negative di telinga tengah akibat gangguan tuba
(teori invaginasi)
b. Kolesteatoma akuisital sekunder
16

Kolesteatoma

terbentuk

setelah

adanya

perforasi

membrane

timpani.

Kolesteatoma terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang
telinga atau dari pinggir perforasi membrane timpani ke telinga tengah (Teori
migrasi) atau terjadi akibat metaplasia mukosa kavum timpani karena iritasi
infeksi yang berlangsung lama (Teori metaplasia) 1
Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatoma terjadi akibat implantasi epitel kulit
secara iatrogenic ke dalam telinga tengah sewaktu operasi, setelah blust injury, pemasangan pipa
ventilasi atau setelah miringotomi. 1
Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat pertumbuhan kuman (infeksi),
yang paling sering adalah Proteus dan Pseudomonas Aeruginosa. Sebaliknya infeksi dapat
memicu respons imun local yang mengakibatkan produksi berbagai mediator inflamasi dan
berbagai sitokin. Sitokin yang diidentifikasi terdapat pada matriks kolesteatoma adalah
interleukin (IL-1), interleukin-6, tumor necrosis factor- (TNF-), dan transforming growth
factor (TGF). Zat-zat ini dapat menstimulasi sel sel keratinosit matriks kolesteatoma bersifat
hiperploferatif, destruktif, dan mampu berangiogenesis. 1
Massa kolesteatoma ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta
menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang diperhebat
oleh karena pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Proses nekrosis tulang ini
mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis, meningitis dan abses otak. 1

Tanda klinik OMSK tipe bahaya


Mengingat OMSK tipe bahaya seringkali menimbulkan komplikasi yang berbahaya maka
perlu ditegakkan diagnosis dini. Walaupun diagnosis pasti baru dapat ditegakkan di kamar
operasi, namun beberapa tanda klinik dapat menjadi pedoman akan adanya OMSK tipe bahaya,
yaitu perforasi pada marginal atau pada atik. Tanda ini biasanya merupakan tanda dini dari
OMSK tipe bahaya, sedangkan pada kasus yang sudah lanjut dapat terlihat abses atau fistel
retroaurikuler (belakang telinga), polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang berasal
dari dalam telinga tengah, terlihat kolesteatoma pada telinga tengah, (sering terlihat di
17

epitimanum), secret berbentuk nanah atau berbau khas (aroma kolesteatoma) atau terlihat
bayangan kolesteatoma pada foto rontgen mastoid. 1

Komplikasi Otitis Media Supuratif


Otitis media supuratif, baik yang akut maupun kronis, mempunyai potensi untuk menjadi
serius karena komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan
kematian. Bentuk komplikasi ini tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan
kematian. Bentuk komplikasi ini tergantung apda kelainan patologik yang menyebabkan otore.
Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe bahaya, tetapi OMSK tipe aman pun
dapat menyebabkan suatu komplikasi, bila terinfeksi kuman yang virulen. Dengan tersedianya
antibiotika mutahir komplikasi otogenik semakin jarang. Pemberian obat obatan sering
menyebabkan gejala dan tanda klinis komplikasi OMSK menjadi kurang jelas. Hal tersebut
menyebabkan pentingnya mengenal pola penyakit yang berhubungan dengan komplikasi ini. 1
Penyebaran penyakit
Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang
normal dilewati sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur di sekitarnya. Pertahanan
pertama ialah mukosa saluran nafas mampu melokalisasi infeksi. Bila sawar ini runtuh, masih
ada sawar kedua, yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel mastoid. Bila sawar ini runtuh,
maka struktur lunak di sekitarnya akan terkena. Runtuhnya periosteum akan menyebabkan
terjadinya abses subperiosteal, suatu komplikasi yang relative tidak berbahaya. Akibat infeksi
megarah ke dalam tulang temporal, maka akan menyebabkan paresis N Facialis atau labirinitis.
Bila kea rah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural, tromboflebitis sinus lateralis,
meningitis dan abses otak. Bila sawar tulang terlampaui, suatu dinding pertahanan ketiga yaitu
jaringan granulasi akan terbentuk. Pada otitis media supuratif akut atau suatu eksaserbasi akut
penyebaran biasanya melalui osteotromboflebitis (hematogen). Sedangkan pada kasus yang
kronis, penyebaran terjadi melalui erosi tulang. Cara penyebaran lainnya ialah toksin masuk
melalui jalan yang sudah ada, misalnya melalui fenestra rotundum, meatus akustikus internus,
duktus perilimfatik dan duktus endolimfatik. 1

18

Dari gejala dan tanda yang ditemukan, dapat diperkirakan jalan penyebaran suatu infeksi
telinga tengah ke intracranial. Terdapat 3 macam penyebaran penyakit Otitis Media
1. Penyebaran hematogen
Penyebaran melalui osteotromboflebitis dapat diketahui dengan adanya :
a. Komplikasi terjadi pada awal suatu infeksi atau eksaserbasi akut, dapat terjadi
pada hari pertama atau kedua sampai hari ke sepuluh
b. Gejala prodromal tidak jelas seperti didapatkan pada gejala meningitis local
c. Pada operasi, didapatkan dinding tulang telinga tengah utuh, dan tulang serta
lapisan mukoperiosteal meradang dan mudah berdarah, sehingga disebut juga
mastoiditis hemoragika
2. Penyebaran melalui erosi tulang
Penyebaran melalui erosi tulang dapat diketahui, bila :
a. Komplikasi terjadi beberapa minggu atau lebih setelah awal penyakit
b. Gejala prodromal infeksi local biasanya mendahului gejala infeksi yang lebih
luas, misalnya paresis N facialis ringan yang hilang timbul mendahului paresis n
Facialis yang total, atau gejala meningitis local mendahului yang purulent
c. Pada operasi dapat ditemukan lapisan tulang yang rusak di antara focus supurasi
dengan struktur sekitarnya. Struktur jaringan lunak yang terbuka biasanya dilapisi
oleh jaringan granulasi.
3. Penyebaran melalui jalan yang sudah ada
Penyebaran cara ini dapat diketahui bila :
a. Komplikasi terjadi pada awal penyakit
b. Ada serangan labirinitis atau meningitis berulang, mungkin dapat ditemukan
fraktur tenggorok, riwayat operasi tulang atau riwayat otitis media yang sudah
sembuh. Komplikasi intracranial mengikuti komplikasi labirinitis supuratif
c. Pada operasi dapat ditemukan jalan penjalaran melalui sawar tulang yang bukan
oleh karena erosi. 1
Beberapa penulis mengemukakan klasifikasi komplikasi otitis media yang supuratif dibagi
menjadi : 1
1. Komplikasi di telinga tengah
Akibat infeksi telinga tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. Pada membrane
timpani yang masih utuh, tetapi rangkaian tulang pendengaran terputus, akan
menyebabkan tuli konduktif yang berat. Biasanya derajat tuli konduktif tidak selalu
berhubungan dengan penyakitnya, sebab jaringan patologis yang terdapat di kavum
timpani pun, misalnya kolesteatoma dapat menghantarkan suara ke telinga dalam.
19

a. Perforasi membrane timpani persisten


b. Kerusakan tulang pendengaran
c. Paresis nervus facialis
Nervus facialis dapat terkena oleh penyebaran infeksi langsung ke kanalis
facialis pada otitis media akut. Pada otitis media kronis kerusakan terjadi oleh
erosi tulang oleh kolesteatom atau oleh jaringan granulasi, disusul oleh infeksi ke
dalam kanalis facialis tersebut.
Pada otitis media akut operasi dekompresi kanalis facialis tidak
diperlukan. Perlu diberikan antibiotika dosis tinggi dan terapi penunjang lainnya,
serta menghilangkan tekanan di dalam kavum timpani dengan drainase. Bila
dalam jangka waktu tertentu ternyata tidak ada perbaikan setelah diukur dengan
elektrodiagnostik (misalnya elektromiografi), barulah dipikirkan untuk melakukan
dekompresi.
Pada otitis media supuratif kronis, tindakan dekompresi harus sefera
dilakukan tanpa harus menunggu pemeriksaan elektrodiagnositik. 1
2. Komplikasi di telinga dalam
Apabila terdapat peninggian tekanan di telinga tengah oleh produk infeksi, ada
kemungkinan produk infeksi itu akan menyebar ke telinga dalam melalui tingkap bulat
(fenestra rotundum). Selama kerusakan hanya sampai bagian basalnya saja biasanya tidak
menimbulkan keluhan pada pasien. Akan tetapi apabila kerusakan telah menyebar ke
koklea akan menjadi masalah. Hal ini sering dipakai sebagai indikasi untuk melakukan
miringotomi segera pada otitis media akut yang tidak membaik dalam 48 jam dengan
pengobatan medika mentosa saja. 1
Penyebaran oleh proses destruksi seperti oleh kolesteatoma atu infeksi langsung
ke labirin akan menyebabkan gangguan keseimbangan dan pendengaran. Misalnya
vertigo, mual dan muntah, serta tuli saraf. 1
a. Fistula labirin dan labirinitis
Otitis media supuratif kronis terutama yang dengan kolesteatom, dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin, sehingga
terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk, sehingga terjadi labirinitis
dan akhirnya akan terjadi komplikasi tuli total atau meningitis.
Fistula di labirin dapat diketahui dengan tes fistula, yaitu dengan
memberikan tekanan udara positif atau negative ke liang telinga melalui otoskop
Siegel dengan corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips
pada ujungnya yang dimasukkan ke dalam liang telinga. Balon karet dipencet dan
20

udara di dalamnya akan menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga.


Bila fistula yang terjadi masih paten, maka akan terjadi kompresi dan ekspansi
labirin membrane. Tes fistula positif akan menimbulkan nistagmus atau vertigo.
Tes fistula bisa negative, bila fistulanya sudah tertutup oleh jaringan granulasi
atau bila labirin sudah mati atau paresis kanal.
Pemeriksaan radiologic tomografi atau CT Scan yang baik kadang kadang
dapat memperlihatkan fistula labirin yang iasanya ditemukan di kanalis
semisirkularis horizontal.
Pada fistula labirin atau labirinitis, operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga dalam dapat
pulih kembali. Tindakan bedah yang adekuat, untuk mengontrol penyakit primer.
Matriks kolesteatoma dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai
bersih dan daerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat atau sekeping
tulang tulang rawan.
b. Labirinitis
Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum
(general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis
yang terbatas (sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf
saja.
Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perilymph.
Terdapat 2 bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan supuratif. Labirinitis
serosa dapat terbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta.
Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif aku difus dan
labirinitis supuratif kronik difus.
Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi serosa toksin
menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirinitis
supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi kerusakan yang
irreversible, seperti fibrosis dan osifikasi.
Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga
drainase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian
antibiotika yang adekuat terutama ditujungan kepada pengobatan otitis media
kronik dengan atau tanpa kolesteatoma. 1
3. Komplikasi ke ekstradural
21

a. Petrositis
Kira kira sepertiga dari populasi manusia, tulang temporalnya mempunyai
sel sel udara sampai ke apeks os petrosum. Terdapat beberapa cara penyebaran
infeksi dari telinga tengah ke os petrosum. Yang sering ialah penyebaran langsung
ke sel sel udara tersebut.
Adanya petrositis sudah harus dicurigai apabila pada pasien otitis media
terdapat keluhan diplopia, karena kelemahan N VI. Seringkali disertai dengan rasa
nyeri di daerah parietal, temporal atau oksipital, oleh karena terkenanya N V
ditambah dengan terdapatnya otore yang persisten, terbentuklah suatu sindrom
yang disebut ssindrom Gradenigo.
Kecurigaan terhadap petrositis terutama bila terdapat nanah yang keluar
terus menerus dan rasa nyeri yang menetap pasca mastoidektomi.
Pengobatan petrositis ialah operasi serta pemberian antibiotika protocol
komplikasi intracranial. Pada waktu melakukan operasi telinga tengah dilakukan
juga eksplorasi sel sel udara tulang petrosum serta mengeluarkan jaringan
pathogen.
b. Tromboflebitis sinus lateralis
Invasi infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati tulang mastoid akan
menyebabkan terjadinya thrombosis sinus lateralis. Komplikasi ini sering
ditemukan pada zaman pra-antibiotik, tetapi kini sudah jarang terjadi.
Demam yang tidak dapat diterangkan penyebabnya merupakan tanda
pertama dari infeksi pembuluh darah. Pada mulanya suhu tubuh turun naik, tetapi
setelah penyakit menjadi berat didapatkan kurva suhu yang naik turun dengan
sangat curam disertai dengan menggigil. Kurva suhu demikian menandakan
adanya sepsis.
Rasa nyeri biasanya tidak jelas, kecuali bila sudah terdapat abses
perisinus. Kultur darah biasanya positif, terutama bila darah diambil bila demam.
Pengobatan haruslah dengan jalan bedah, membuang sumber infeksi di sel
sel mastoid, membuang tulang yang berbatasan dengan sinus (sinus plate) yang
nekrotik, atau membuang dinding sinus yang terinfeksi atau nekrotik. Jika sudah
terbentuk thrombus harus juga dilakukan drainase sinus dan mengeluarkan
thrombus. Sebelum itu dilakukan dulu ligase vena jugulare interna atau mencegah
thrombus terlepas ke paru dan ke dalam tubuh lain.
c. Abses ekstradural

22

Abses ekstradural adalah terkumpulnya nanah di antara durameter dan


tulang. Pada otitis media supuratif kronis keadaan ini berhubungan dengan
jaringan granulasi dan kolesteatoma yang menyebabkan erosi tegmen timpani
atau mastoid.
Gejala utamanya berupa nyeri telinga hebat dan nyeri kepala. Dengan foto
rontgen mastoid yang baik, terutama posisi Schuller, dapat dilihat kerusakan di
lempeng tegmen yang menandakan tertembusnya tegmen. Pada umumnya abses
ini baru diketahui pada waktu operasi mastoidektomi.
d. Abses subdural
Abses subdural jarang terjadi sebagai perluasan langsung dari abses
ekstradural biasanya sebagai perluasan tromboflebitis melalui pembuluh vena.
Gejalanya dapat berupa demam, nyeri kepala, dan penurunan kesardaran
sampai koma pada pasien OMSK. Gejala kelainan susunan saraf pusat bisa berupa
kejang, hemiplegia dan pada pemeriksaan terdapat tanda kernig positif.
Pungsi lumbal perlu untuk membedakan abses subdural dengan
meningitis. Pada abses subdural pada pemeriksaan CSS kadar protein biasanya
normal dan tidak ditemukan normal. Kalau pada abses ekstradural nanah keluar
pada waktu operasi mastoidektomi, pada abses subdural nanah harus dikeluarkan
secara bedah saraf (neuro-surgical), sebelum dilakukan operasi mastoidektomi. 1
4. Komplikasi ke susunan saraf pusat
a. Meningitis
Komplikasi otitis media ke susunan saraf pusat yang paling sering ialah
meningitis. Keadaan ini dapat terjadi oleh OMA, maupun kronis, serta dapat
terlokalisasi, atau umum (general). Walau secara klinik kedua bentuk ini mirip,
pada pemeriksaan CSS terdapat bakteri pada bentuk yang umum (general),
sedangkan pada bentuk yang terlokalisasi tidak ditemukan bakteri.
Gambaran klinik meningitis biasanya berupa kaku kuduk, kenaikan suhu
tubuh, mual, muntah, yang kadang kadang muntahnya muncrat (proyektif), serta
nyeri kepala hebat. Pada kasus yang berat biasanya kesadaran menurun (delirium
sampai koma). Pada pemeriksaan klinik terdapat kaku kuduk waktu difleksikan
dan terdapat tanda kernig positif. Biasanya kadar gula menurun dan kadar protein
meninggi di CSS.

23

Pengobatan meningitis otogenik ini ialah dengan mengobati meningitisnya


dulu dengan antibiotic yang sesuai, kemudian infeksi di telinganya ditanggulangi
dengan operasi mastoidektomi.
b. Abses otak
Abses otak sebagai komplikasi otitis media dan mastoiditis dapat
ditemukan di serebelum, fosa kranial posterior atau di lobus temporal, di fosa
kranial media. Keadaan ini sering berhubungan tromboflebitis sinus lateralis,
petrositis, atau meningitis. Abses otak biasanya merupakan perluasan langsung
dari infeksi telinga dan mastoid atau trombofletbitis. Umumnya didahului oleh
suatu abses ekstradural.
Gejala abses serebelum biasanya lebih jelas daripada abses lobus
temporal. Abses serebelum dapat ditandai dengan ataksia, disdiadokokinesis,
tremor intensif dan tidak tepat menunjuk suatu objek. Afasia dapat terjadi pada
abses lobus temporal. Gejala lain yang menunjukkan adanya toksisitas, berupa
nyeri kepala, demam, muntah serta keadaan letargik. Selain itu sebagai tanda yang
nyata suatu abses otak ialah nadi yang lambat serta serangan kejang. Pemeriksaan
CSS memperlihatkan kadar protein yang meninggi serta kenaikan tekanan liquor.
Mungkin juga terdapat edema papil. Lokasi abses dapat ditentukan dengan
pemeriksaan angiografi, ventrikulografi atau dengan tomografi computer.
Pengobatan abses otak ialah dengan antibiotika parenteral dosis tinggi
(protocol terapi komplikasi intracranial), dengan atau tanpa operasi untuk
melakukan drenasi dari lesi. Selain itu pengobatan dengan antibiotika harus
intensif. Mastoidektomi dilakukan untuk membuang sumber infeksi, pada waktu
keadaan umum lebih baik.
c. Hidrosefalus otitis
Hidrosefalus otitis ditandai dengan peninggian tekanan CSS yang hebat
tanpa adanya kelainan kimiawi dari liquor itu. Pada pemeriksaan terdapat edema
papil. Keadaan ini dapat menyertai OMA, maupun OMK. Gejala berupa nyeri
kepala yang menetap, diplopia, pandangan yang kabur, mual, dan muntah.
Keadaan ini diperkirakan disebabkan oleh tertekannya sinus lateralis yang
mengakibatkan kegagalan absropsi liquor serebrospinal oleh lapisan araknoid. 1
5. Mastoiditis4

24

Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak
pada tulang temporal yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah. Mastoiditis
adalah penyakit sekunder dari otitis media yang tidak sembuh. 4

Etiologi
Mastoiditis terjadi karena Streptococcus hemoliticus / pneumococcus. Selain itu

kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga
serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi traktus
respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus yang
berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius. Mastoiditis merupakan hasil dari infeksi
yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama
dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Bakteri gram negative dan
streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada infeksi
ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan-keadaan yang menyebabkan
penurunan dari system imunologi dari seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi
mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir, hampir sebagian dari anak-anak yang
menderita mastoiditis, tidak memiliki penyakit infeksi telinga tengah sebelumnya.
Bakteri yang berperan pada penderita anak-anak ini adalah S. Pnemonieae. 4

Patofisiologi4
Kuman aerob

Gram positif :
s pyogenes dan
s albus

Gram negative :
proteus,
pseudomonas
spp E colli,
kuman an aerob

Bakterioides spp

Timbul Infeksi pada telinga

Eksogen infeksi
dari luar melalui
perforosi
membrane
tympani

Rinogen dari
penyakit
ronggga hidung
dan sekitarnya

Endogen
alergi,DM, TBC

25

Peradangan pada
Mastoid

Mastoidit

Nyeri

Timbul suara
denging

Kemerahan
pada mastoid

Gangguan rasa
nyaman Nyeri

Cemas

Hiperemi

Gangguan
pendengaran

Kerusakan
jaringan/dikontinuit
as jaringan

Keluarnya pus

pus

Otolitis

Terapi OMSK
Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang ulang. Secret
yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh
satu atau beberapa keadaan, yaitu : 1
1. Adanya perforasi membrane timpani yang permanen, sehingga telinga tengah
berhubungan dengan dunia luar
2. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus paranasal
3. Sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid
4. Gizi dan higiena yang kurang1

26

Prinsip terapi OMSK tipe aman ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila secret
yang keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H 2O2 3% selama
3-5 hari. Setelah secret berkurang maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga
yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid . banyak ahli berpendaoat bahwa semua obat
tetes yang dijual di pasaran ini mengandung antibiotika yang bersifat ototoksik. Oleh sebab itu
penulis menganjurkan agar obat tetes telinga jangan diberikan secara terus menerus lebih dari 1
atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara oral diberikan antibiotika dari
golongan ampisilin atau eritromisin (bila pasien alergi terhadap penisilin), sebelum hasil tes
resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai karena penyebabnya telah resisten terhadap
ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat. 1
Bila secret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan,
maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk
menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membrane timpani yang perforasi,
mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta
memperbaiki pendengaran. 1
Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan secret tetap ada, atau terjadinya infeksi
berulang, maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu melakukan
pembedahan, misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi. 1

Gambar: timpanoplasti3
Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi bila
terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi
dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dengan medika mentosa hanyalah
27

merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal
retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi. 1
1. OMSK benign aktif
a. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani (ear toilet)
Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk
perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik
bagi perkembangan mikroorganisme ( Fairbank, 1981). 6
Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) :
i. Toilet telinga secara kering ( dry mopping). Telinga dibersihkan dengan
kapas lidi steril, setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk
serbuk. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan
oleh anggota keluarga. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap
hari sampai telinga kering.
ii. Toilet telinga secara basah ( syringing). Telinga disemprot dengan cairan
untuk membuang debris dan nanah, kemudian dengan kapas lidi steril dan
diberi serbuk antibiotik. Meskipun cara ini sangat efektif untuk
membersihkan telinga tengah, tetapi dapat mengakibatkan penyebaran
infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles, 1979). Pemberian serbuk
antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas
pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik, misalnya
asam boric dengan Iodine.
iii. Toilet telinga dengan pengisapan ( suction toilet) Pembersihan dengan
suction pada nanah, dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode
yang paling populer saat ini. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa
yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat
dihilangkan. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa.
Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi
pada anak anak diperlukan anastesi. 6
Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila
dilakukan dengan displacement methode seperti yang dianjurkan oleh Mawson
dan Ludmann. 6
b. Pemberian antibiotika
28

Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah :
i. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap
kuman gram negatif, Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi
resisten terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik terhadap ginjal
ii.

dan susunan saraf.


Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya :
Stafilokokus aureus, Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan

iii.

Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga.


Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus,
koagulase positif, 99% Stafilokokus, koagulase positif, 95% Stafilokokus
group A, 100% E. Koli, 96% Proteus sp, 60% Proteus mirabilis, 90%
Klebsiella, 92% Enterobakter, 93% Pseudomonas, 5%
Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga

dengan ofloksasin dimana didapat 88,96% sembuh, membaik 8,69% dan tidak ada
perbaikan 4,53%6
2. OMSK Maligna
Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan
konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum
dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya
dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. 6
Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada
OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain :
a. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan
konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan
ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan
telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. 1
b. Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK bahaya dengan infeksi atau
kolesteatoma yang sudah meluas. 1
Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari
semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga
tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi

29

tersebut menjadi 1 ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua
jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intracranial. 1
Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur
hidupnya. Pasien harus datang dengan teratur untuk control supaya tidak terjadi
infeksi kembali. Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat menghambat
pendidikan atau karier pasien. 1
Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada rongga
operasi serta membuat meatoplasti yang lebar, sehingga rongga operasi kering
permanen, tetapi terdapat cacat anatomi, yaitu meatus liang telinga luar menjadi
lebar. 1
c. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di daerah atikapi
belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding
posterior liang telinga direndahkan. 1
Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologik dari
rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. 1
d. Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal
juga dengan nama timpanoplasti tipe I. rekonstruksi hanya dilakukan pada
membrane timpani.
Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah
pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang menetap. 1
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang sudah tenang dengan
ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membrane timpani. 1
e. Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang
lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan
medika mentosa. Tujuan operasi ini ialah untuk menyembuhkan penyakit serta
memperbaiki pendengaran.
Pada operasi ini selain rekonstruksi membrane timpani sering kali harus
dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi
tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II, III,
IV, dan V.
Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum
timpani dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan

30

patologis. Tidak jarang pula operasi ini terpaksa dilakukan 2 tahap dengan jarak
waktu 6-12 bulan. 1
f. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined Approach Tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada
kasus OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi yang
luas.
Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki
pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal ( tanpa meruntuhkan
dinding posterior liang telinga).
Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani,
dikerjakan melalui 2 jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga dan
rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada
OMSK tipe bahaya belum disepakati oleh para ahli, oleh karena sering terjadi
kambuhnya kolesteatoma kembali. 1

Penutup
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah radang kronis telinga tengah dengan
perforasi membrane timpani serta riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari dua
bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. OMSK mempunyai potensi untuk menjadi serius
karena komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan kematian.
Komplikasi intrakranial dari OMSK yang paling sering ditemukan adalah meningitis. Gejala
klinis dari meningitis dijumpai adanya demam, sakit kepala, kaku kuduk, muntah, perubahan dari
status mental ataupun kesadaran menurun. Sedangkan pada otogenik dijumpai adanya otorrhoe,
otalgi, gangguan pendengaran, dan vertigo. Pengobatan meningitis otogenik ini ialah dengan
mengobati meningitisnya dulu dengan antibiotik yang sesuai, kemudian infeksi di telinganya
ditanggulangi dengan operasi matoidektomi.

Daftar Pustaka

31

1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala & leher. 7th edition. Jakarta: Badan Penerbit FK UI, 2014 .h. 627, 70-5.
2. Burnside, McGlynn. Adams diagnosis fisik. 17th edition. Jakarta:EGC,1995 .h. 138-41
3. Timpanoplasti. Diunduh dari : http://medicastore.com/images/timpanoplasti1.jpg. Pada
Tanggal 27 juli 2015.
4. Braunwald E, et al. Harrisons principles of internal medicine. Edisi ke-17. Amerika
Serikat: McGraw-Hill; 2009.
5. Ganong, William. Pendengaran dan Keseimbangan dalam: Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC,2008.h. 179 185.
6. Nursiah S. Pola kuman aerob penyebab OMSK dan kepekaan terhadap beberapa

antibiotika di bagian THT. Bagian Penerbit Library USU. 2003.

32