Anda di halaman 1dari 2

Patofisiologi Edema

Generasi cairan interstisial diatur oleh kekuatan dari persamaan Starling. Tekanan hidrostatik
dalam pembuluh darah menyebabkan air cenderung untuk menyaring ke dalam jaringan. Hal ini
menyebabkan perbedaan dalam konsentrasi protein antara plasma darah dan jaringan. Akibatnya
tekanan onkotik tingkat yang lebih tinggi protein dalam plasma cenderung untuk menyedot air ke
dalam pembuluh darah dari jaringan. Persamaan Starling menyatakan bahwa tingkat kebocoran
cairan ditentukan oleh perbedaan antara dua kekuatan dan juga oleh permeabilitas dinding
pembuluh air, yang menentukan laju aliran untuk ketidakseimbangan kekuatan yang diberikan.
Kebocoran air yang paling terjadi pada venula kapiler atau posting kapiler, yang memiliki
dinding semi-permeabel membran yang memungkinkan air untuk lulus lebih bebas daripada
protein. (Protein dikatakan tercermin dan efisiensi refleksi diberikan oleh refleksi konstan hingga
1.) Jika kesenjangan antara sel-sel dinding pembuluh membuka kemudian permeabilitas terhadap
air meningkat pertama, tetapi sebagai peningkatan kesenjangan permeabilitas ukuran protein
juga meningkat dengan penurunan koefisien refleksi.
Perubahan dalam variabel dalam persamaan Starling dapat berkontribusi untuk pembentukan
edema baik oleh peningkatan tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah, penurunan tekanan
onkotik dalam pembuluh darah atau peningkatan permeabilitas dinding pembuluh. Yang terakhir
ini memiliki dua efek. Hal ini memungkinkan air mengalir lebih bebas dan mengurangi
perbedaan tekanan onkotik dengan memungkinkan protein untuk meninggalkan kapal lebih
mudah.

Edema merupakan Pembengkakan jaringan akibat kelebihan cairan interstisium dikenal sebagai
edema .penyebab edema dapat dikelompokan menjadi empat kategori umum:
1. Penurunan konsentrasi protein plasma menyebabkan penurunan tekanan osmotic
plasma.penurunan ini menyebabkan filtrasi cairan yang keluar dari pembuluh lebih tinggi,
sementara jumlah cairan yang direabsorpsi kurang dari normal ; dengan demikian terdapat
cairan tambahan yang tertinggal diruang ruang interstisium. Edema yang disebabkan oleh
penurunan konsentrasi protein plasma dapat terjadi melalui beberapa cara : pengeluaran
berlebihan protein plasma di urin akibat penyakit ginjal ; penurunan sintesis protein plasma
akibat penyakit hati ( hati mensintesis hampir semua protein plasma ); makanan yang kurang
mengandung protein ; atau pengeluaran protein akibat luka bakar yang luas .
2. Peningkatan permeabilitas dinding kapiler menyebabkan protein plasma yang keluar dari
kapiler ke cairan interstisium disekitarnya lebih banyak. Sebagai contoh, melalui pelebaran pori
pori kapiler yang dicetuskan oleh histamin pada cedera jaringan atau reaksi alergi . Terjadi
penurunan tekanan osmotik koloid plasma yang menurunkan kearah dalam sementara
peningkatan tekanan osmotik koloid cairan interstisium yang diseabkan oleh kelebihan protein
dicairan interstisium meningkatkan tekanan kearah luar. ketidakseimbangan ini ikut berperan

menimbulkan edema lokal yang berkaitan dengan cedera ( misalnya , lepuh ) dan respon alergi
(misalnya , biduran) .
3. Peningkatan tekanan vena , misalnya darah terbendung di vena , akan disertai peningkatan
tekanan darah kapiler, kerena kapiler mengalirkan isinya kedalam vena. peningkatan tekanan
kearah dinding kapiler ini terutama berperan pada edema yang terjadi pada gagal jantung
kongestif. Edema regional juga dapat terjadi karena restriksi lokal aliran balik vena. Salah satu
contoh adalah adalah pembengkakan di tungkai dan kaki yang sering terjadi pada masa
kehamilan. Uterus yang membesar menekan vena vena besar yang mengalirkan darah dari
ekstremitas bawah pada saat vena-vena tersebut masuk ke rongga abdomen. Pembendungan
darah di vena ini menyebabkan kaki yang mendorong terjadinya edema regional di ekstremitas
bawah.
4.
Penyumbatan pembuluh limfe menimbulkan edema,karena kelebihan cairan yang difiltrasi
keluar tertahan di cairan interstisium dan tidak dapat dikembalikan ke darah melalui sistem
limfe. Akumulasi protein di cairan interstisium memperberat masalah melalui efek osmotiknya.
Penyumbatan limfe lokal dapat terjadi, misalnya di lengan wanita yang saluran-saluran drainase
limfenya dari lengan yang tersumbat akibat pengangkatan kelenjar limfe selama pembedahan
untuk kanker payudara. Penyumbatan limfe yang lebih meluas terjadi pada filariasis, suatu
penyakit parasitic yang ditularkan melalui nyamuk yang terutama dijumpai di daerah-daerah
tropis. Pada penyakit ini, cacing-cacing filaria kecil mirip benang menginfeksi pembuluh limfe
sehingga terjadi gangguan aliran limfe. Bagian tubuh yang terkena, terutama skrotum dan
ekstremitas, mengalami edema hebat.Kelainan ini sering disebut sebagai elephantiasis,karena
ekstremitas yang membengkak seperti kaki gajah.

Apapun penyebab edema, konsenkuensi pentingnya adalah penurunan pertukaran bahan-bahan


antara darah dan sel. Sering dengan akumulasi cairan interstisium, jarak antara sel dan darah
yang harus ditempuh oleh nutrient, O2, dan zat-zat sisa melebar sehingga kecepatan difusi
berkurang. Dengan demikian, sel-sel di dalam jaringan yang edematosa mungkin kurang
mendapat pasokan darah.