Anda di halaman 1dari 3

2. a.

Jelaskan bagaimana terjadi proses eritropoiesis, dimana terjadinya, apa


pemicunya? Mengapa manusia yang tinggal di dataran tinggi memiliki eritrosit
lebih banyak dari pada mereka yang tinggal didataran rendah?
Proses eritropoiesis :
Eritropoesis dimulai dari transformasi hemositoblas menjadi rubriblas. Selanjutnya sel
intermediet lain terbentuk sampai tahap akhir pembentukan eritrosit tercapai. Sintesis
Hb dan hilangnya inti menandai urut-urutan perkembangan eritropoesis. Rubriblas
mengalami beberapa tahap diferensiasi dalam urut-urutan tersebut. Pertama-tama
rubriblas berubah menjadi prorubrisit. Kemudian prorubrisit berkembang menjadi
rubrisit, sel pertama dalam urutan yang mulai mensintesis Hb. Kemudian rubrisit
berkembang menjadi metarubrisit. Dalam metarubrisit, sintesis Hb ada pada tingkat
maksimum dan inti hilang karena dibuang. Pada tahap selanjutnya, metarubrisit
berkembang menjadi retikulosit yang seterusnya menjadi eritrosit atau sel darah merah
(Soewolo, 2005).
Tempat terjadinya eritropoiesis:
Produksi eritrosit mengambil tempat di jaringan mieloid yang terletak di sumsum
tulang dari tulang kranial, rusuk, dada, korpus vertebrata, epifisis proksimal humerus
dan femur Soewolo, 2005).
Faktor pemicu eritropoiesis :
Keadaan hipoksia ini akan memicu sel-sel ginjal melepas hormon erirtopoietin ke
dalam darah.
Jumlah sel darah merah orang yang tinggal di pegunungan lebih banyak jika
dibandingkan dengan orang yang tinggal di dataran rendah. Hal ini disebabkan kadar
oksigen di pegunungan lebih sedikit dibanding dataran rendah. Kadar oksigen yang
rendah membuat tubuh membentuk sel darah merah lebih banyak untuk mengikat
oksigen lebih banyak. Hal ini terkait dengan adaptasi fisiologi yaitu penyesuaian fungsi
alat alat tubuh dengan lingkungan.

Gambar : Proses eritropoiesis

b. Jelaskan bagaimana proses menutup luka (penghentian pendarahan/hemostatis)


pada saat pembuluh darah rusak atau luka, maka terjadi proses penutupan luka oleh keping
darah. prosesnya sebagai berikut.
1. Keping darah bertemu receptor site bermuatan negatif pada kolagen dinding pembuluh
darah. glikoprotein khusus pada perrmukaan keping darah mengenali receptor site.
Plasma normal berisi protein larut dikenal sebagai faktor von Willebrand . Protein
khusus ini diperlukan untuk lekatnya keping darah pada kolagen dalam pembuluh
darah, teruama bila darah mengalir dengan cepat dari pembuluh yang luka.
2. Bila keping darah melekat pada dinding pembuluh darah, asam lemak pada membran
keping darah yang disebut asam arakidonat dilepas. Di dalam plasma, sebagian asam
ini diubah menjadi tromboxene A2
3. Tromboxene A2 menyebabkan lepasnya bahan-bahan granular yang disimpan dalam
granula dan padat, dari keping darah. keseluruhan urut-urutan ini memerlukan waktu
sekitar 1 menit.

4. Pengaruh pertama sekresi keping darah berupa ADP yang dilepas dari granula padat.
5. ADP menyebabkan keping darah berubah bentuknya menjadi lebih gemuk dan
berkembang sepanjang proses. Keping darah menampakkan receptor site baru bagi
fibrinogen pada permukaannya.
6. Molekul fibrinogen mengikatkan diripada keping darah dan mengikatkan keping darah
satu dengan keping darah yang lain. Sehingga menyebabkan gumpalan keping darah