Anda di halaman 1dari 4

LDH

Dua miliyar tahun dari evolusi aerob menghasilkan sel dan jaringan mamalia yang sangat bergantung oksigen. Pada kadar oksigen yang normal, oksidasi fosforisalasi akan mensuplay energi pada sel eukariotik, tetapi ketika kadar oksigen dibawah batas normal metabolisme transport elektron mitokondria akan diturunkan 1 dan glikolisis anaerob diaktifkan. Apabila dibandingkan dengan glikolisis aerob, glikolisis anaerob menghasilkan ATP jauh lebih sedikit. Aktivitas glikolisis anaerob terlihat jelas pada jaringan otot yang mengalami hipoksia. Hipoksia sel atau jaringan terjadi pada keadaan kekurangan oksigen dalam sel yang menyebabkan kekurangan suplai energi ATP, akibat glikolisis aerob tidak terpenuhi. Respon pertama sel terhadap keadaan hipoksia yaitu memproduksi ATP melalui alternatif lain, yang tidak bergantung pada oksigen sehingga 2 kebutuhan ATP tetap dapat terpenuhi. Hal ini tentu saja dapat dipenuhi dengan peningkatan oksidasi anaerob. Mekanisme lain untuk memenuhi kebutuhan ATP dalam keadaan hipoksia antara lain meningkatkan konsumsi glukosa. Hasil penelitian Louis Pasteur (1981) pada jamur yang menunjukkan konsumsi glukosa 3 perbandingannya terbalik dengan ketersediaan oksigen. Pada keadaan hipoksia produksi asam laktat juga meningkat, oleh karena itu asam laktat sering 4 digunakan sebagai maker hipoksia. Asam laktat berasal dari piruvat yang dikatalisis oleh enzim laktat 3 dehidrogenase (LDH). Glikolisis yang berlangsung didalam eritrosit, sekalipun dalam keadaan

aerob, selalu berakhir dengan senyawa laktat karena mitokondria yang mengandung mesin enzimatik untuk oksidasi aerob piruvat tidak ada.5
Enzim laktat dehidrogenase (LDH) merupakan enzim yang berperan penting dalam metabolisme laktat. Enzim LDH mengkatalisis reaksi irreversibel piruvat menjadi laktat. Enzim LDH merupakan tetramer yang terdiri dari dua jenis subunit 35-kd yang disandi oleh gen yang mirip: jenis H lebih menonjol di jantung, sedangkan homolognya yaitu jenis M, di otot rangka dan di hati. Subunit-subunit ini bergabung membentuk 6 lima jenis tetramer, yaitu H4, H3M1, H 2M 2, H1M 3 dan M 4. Semua jenis ini disebut isozim atau isoenzim. Jenis enzim LDH mungkin berbeda pada keadaan aerob dengan keadaan anaerob.

satu makna biomedis glikolisis yang sangat menentukan adalah kemampuan glikolisis menghasilkan ATP dalam keadaan tanpa oksigen, karena lintasan ini memungkinkan otot rangka bekerja pada tingkat kinerja yang sangat tinggi saat oksidasi aerob tidak mencukupi dan memungkinkan jaringan yang memiliki kemampuan glikolisis bermakna tetap bertahan hidup melewati kondisi hipoksia.7 Oleh karena itu peningkatan aktivitas enzim-enzim glikolisis dalam keadaan hipoksia mungkin saja terjadi.
Salah Berdasarkan uraian diatas, maka sangat perlu dilakukan perbandingan konsumsi glukosa, produksi asam laktat, aktivitas enzim LDH dan jenis enzim LDH pada otot tikus normoksia dengan tikus hipoksia. Tikus hipoksia merupakan tikus yang dipelihara dalam chamber dan diberi suplai oksigen sebanyak 10% dengan variasi waktu pemeliharaan yakni 1 hari, 7 hari ,14 hari dan 21 hari.

Laktat Dehidrogenase
Posted by Riswanto on Tuesday, October 26, 2010 Labels: Tes Kimia Darah

Laktat dehidrogenase (LD, LDH) adalah enzim intraseluler yang terdapat pada hampir semua sel yang bermetabolisme, dengan konsentrasi tertinggi dijumpai di jantung, otot rangka, hati, ginjal, otak, dan sel darah merah. LDH merupakan suatu molekul tetramerik yang mengandung empat subunit dari dua bentuk; H (jantung) dan M (otot), yang berkombinasi sehingga menghasilkan lima

isoenzim yang diberi nama LDH1 (H4) sampai LDH5 (M4). Isoenzim-isoenzim tersebut memiliki spesifisitas jaringan yang sangat berguna dalam menentukan organ asal, yaitu :

LDH1 (HHHH) terdapat di jantung, eritrosit, otak LDH2 (HHHM) terdapat di jantung, eritrosit, otak LDH3 (HHMM) terdapat di paru, otak, ginjal, limpa, pankreas, adrenal, tiroid LDH4 (HMMM) terdapat di hati, otot rangka, ginjal LDH5 (MMMM) terdapat di hati, otot rangka, ileum

Aktivitas LDH total dalam serum diperkirakan meningkat pada hampir semua keadaan penyakit yang mengalami kerusakan atau destruksi sel. Selain itu, aktivitas LDH total juga merupakan indikator yang relatif sensitiv yang menunjukkan sedang berlangsungnya proses patologik. Peningkatan LDH total dan rasio LDH1/LDH2 dengan kadar tertinggi LDH1 bermanfaat untuk memastikan diagnosis infark miokardium (MCI). Kadar LDH meningkat dalam waktu 12-24 jam setelah terjadinya MCI, mencapai puncaknya dalam 2-5 hari dan tetap tinggi hingga 6-12 hari, lalu akan menjadi normal kembali dalam waktu 8-14 hari.

Hemolisis invivo akibat keadan seperti anemia hemolitik, anemia sel sabit, anemia megaloblastik, anemia hemolitik mikroangiopati dan kerusakan mekanis pada eritrosit akibat katup jantung prostetik akan menyebabkan peningkatan kadar LDH, dengan LDH1 lebih besar daripada LDH2

LDH3 berhubungan dengan penyakit paru. Selain itu, LDH2, LDH3, dan LDH4 sering meningkat pada pasien dengan keganasan dan beban tumor yang besar karena metabolisme dan pertukaran sel tumor, kecuali pada tumor germinativum testis dan ovarium yang cenderung menyebabkan peningkatan LDH1 dan LDH2. Peningkatan LDH tersendiri yang terdeteksi pada pemeriksan penyaring perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan keganasan tersamar.

LDH5 keluar dari otot rangka setelah cedera (tetanus, kejang, cedera mekanis, cedera listrik, dsb) dan dari hati pada banyak patologi hati (hepatitis, sirosis, kongesti pasif, dsb). Untuk membedakan sumber peningkatan LDH5 dari otot rangka atau hati, informasi polaenzim lain sangat bermanfat (misal CK, aminotransferase, ALP, GGT).

Penyakit multisistem dapat menyebabkan peningkatan aktifitas LDH total disertai distribusi normal isoenzim. Aktifitas LDH dalam cairan pleura bermanfaat untuk membedakan transudat

(ketidakseimbangan hidrostatik dengan LDH rendah) dari eksudat (berasal dari peradangan dengan banyak sel dan LDH tinggi).

Masalah Klinis
Keadaan yang mempengaruhi aktifitas LDH :

PENINGKATAN MENCOLOK (5 kali normal atau lebih) : anemia megaloblastik, karsinomastosis luas,

syok septik dan hipoksia, hepatitis, infark ginjal, purpura trombositopenik trombositik.

PENINGKATAN SEDANG (3-5 kali normal) : infark miokardium, infark paru, keadan hemolitik, leukemia,

mononukleosis infeksiosa, delirium tremens, distrofi otot.

PENINGKATAN RINGAN (sampai 3 kali normal atau lebih) : sebagian besar penyakit hati, sindrom

nefrotik, hipotiroidisme, kolangitis.

Beberapa jenis narkotika dapat meingkatkan aktifitas LDH, yaitu kodein, morfin, meperidin (Demerol).

Uji Laboratorium
Banyak tehnik yang digunakan untuk mengukur isoenzim-isoenzim LDH, seperti pemanasan (LDH5 terurai dan LDH1 stabil), spesifitas substrat (aktivitas hidroksibutirat dehidrogenase sebenarnya adalah LDH1), elektroforesis, dan imunoinhibisi subunit tertentu. Metode yang terbanyak dilakukan adalah elektroforesis. Aktifitas LDH total dalam serum dapat diukur dengan laktat sebagai substrat (LD-L) atau piruvat sebagai substrat (LD-P). Reaksi LD-L paling banyak digunakan.

Spesimen
Spesimen yang diperlukan untuk mengukur aktifitas LDH adalah serum atau cairan tubuh. Spesimen harus bebas dari hemolisis dan apabila akan disimpan, spesimen harus dipisahkan dari bekuan untuk menghindari kemungkinan pengeluaran LDH intrasel. LDH total dan isoenzim LDH stabil pada suhu kamar selama beberapa hari, tetapi rusak apabila dibekukan.

Nilai Rujukan
DEWASA :

LDH Total : 100-190 IU/L, 70-250 U/L Isoenzim LDH1 : 14-26%; LDH2 : 27-37%; LDH3 : 13-26%; LDH4 : 8-16%; LDH5 : 6-16%. Perbedaan sebesar 2-4% dianggap normal.

ANAK : Neonatus : 300-1500 IU/L; Anak : 50-150 IU/L, 110-295 U/L.

Nilai rujukan dapat berbeda tergantung metode yang digunakan.

Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium


- Obat narkotik dan injeksi IM dapat meningkatkan kadar - Hemolisis sampel dapat meningkatkan kadar - Penyimpanan sampel pada keadan beku dapat menurunkan kadar.