Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Pengaruh globalisasi disegala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah
banyak membawa perubahan dan perilaku gaya hidup masyarakat serta situasi
lingkungannya, misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktifitas fisik,
dan meningkatnya pencemaran atau polusi lingkungan. Perubahan tersebut telah member
pengaruh pada transisi epidemiologi yaitu beban ganda penyakit dengan meningkatnya
beberapa penyakit menular dan penyakit tidak menular atau degenerative. Salah satu jenis
penyakit tidak menular adalah penyakit pada saluran pencernaan ( Kemenkes RI, 2011).
World Health organization (WHO) tahun 1998, memperkirakan penyakit pada saluran
pencernaan akan tergolong 10 besar penyakit penyebab kematian di dunia pada tahun 2020
mendatang (GoodMan,1998). Diantara Negara SEAMIC ( Sourtheast Asian Medical
Information Center) tahun 2002, Indonesia menempati urutan ke 2 negara yg memiliki angka
incident rate akibat penyakit saluran pencernaan, dengan rincian : di Jepang tercatat
30/100.000 penduduk, di Indonesia tercatat 25/100.000 penduduk, di Filiphina 24/100.000
penduduk, di Vietnam tercatat 22/100.000 penduduk, di Malaysia tercatat 21/100.000
penduduk, di Singapura tercatat 8/100.000 penduduk dan di Brunei Darussalam tercatat
5/100.000 penduduk (WHO 2011).
Salah satu penyakit pencernaan yang merupakan kasus darurat yaitu ileus. Setiap
tahunnya satu dari seribu penduduk dari segala usia di diagnose ileus (Ansare,2007).
Berdasarkan data salah satu rumah sakit umum di Australia pada tahun 2001 sampai 2002
sekitar 6,5 /10.000 penduduk di Australia diopname di rumah sakit karena ileus paralitik dan
ileus obstruktif (Mukherjee, 2008). Hasil penelitian markogianarkis, dkk, (2001-2002),
incident rate penderita penyakit ileus obstruktif yg di rawat inap sebesar 60% di rumah sakit
hipokratian, atena di yunani dengan rata-rata pasien berumur antara sekitar 16 - 98 tahun
dengan rasio perbandingan laki-laki lebih sedikit dari pada perempuan (2:3).
Penyakit pencernaan atau sering disebut dengan ileus ditimbulkan oleh hipomotilitas
dari traktus gastrointestinal karena tidak adanya gerakan mekanis usus ataupun akbibat
adanya obstruktif walaupun pathogenesis ileus masih belum diketahuin secara pasti,
multifaktorial dan kompleks, gambaran klinis berupa gerak tidak sempurna. Ileus di bagi
menjadi dua yaitu ileus obstruktif dan ileus paralitik. Pada obstruktif usu harus di bedakan
lagi yaitu obstruksi sederhana dan obstrukti strangulata. Obstruksi usus yang disebabkan oleh

hernia, invaginasi, adesi dan volvulus sering disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh
tumor atau askariasis adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.
Penyebab paling sering obstruksi usus di Indonesia adalah hernia baik sebagai
penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun obstruksi usus strangulasi (63%). Obstruksi
usus merupakan salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di Negara maju, adesi
intraabdomen merupakan penyabab terbanyak terjadinya obstruksi usus. Pada pasien digestif
yang memerlukan tindakan operasi mencapai 30-41%.
Dalam bidang radiologi baik ileus obstruktif maupun ileus paralitik keduanya
mempunyai perbedaan yang cukup berarti namun masih sulit untuk di bedakan. Karena itu
penting untuk mengetahui kedaan klinis pasien dan riwayat operasi untuk membedakan
keduannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI USUS
Usus halus merupakan tabung kompleks, berlipat-lipat yang membentang dari pylorus
sampai katub ileosekal. Pada orang hidup panjang usus halus sekitar 12 kaki Usus ini mengisi
bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8
cm tetapi semakin kebawah garis tengahnya kebawah sampai mencapai 2,5 cm. (Silvia 2005)
1. Struktur Usus Halus
Struktur usus halus terdiri dari bagian-bagian berikut :
A. Duodenum :
Bentuknya melengkung seperti kuku kuda pada lengkungan ini terdapat pancreas.
Pada bagian kanan duodenum merupakan tempat bermuaranya saluran empedu
( ductus koledokus ) dan saluran pancreas ( ductus pankeratikus ) tempat ini
dinamakan papilla vatere. Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang
banyak mengandung kelenjar bruner untuk memproduksi getah intestinum ( Saifudin
2009). Panjang duodenum sekitar 25cm mulai dari pylorus sampai jejunum (Silvia
2005).
B. Jejunum
:
Panjangnya 2-3 cm dan berkelok-kelok, terletak disebalah kiri atas intestinum minor.
Dengan perantaraan lipata peritoneum yang berbentuk kipas ( mesentrium )
memungkinkan keluar masuknya arteri dan vena mesentrika superior, pembulin limfe
dan saraf keruang antara lapisan peritoneum. Penampang jejunum lebih lebar,
dindingnya lebih tebal dan banyak mengandung pembuluh darah.
C. Ileum
:
Ujung batas antara ileum dan jejunum tidak jelas, panjangnya 4-5 m. Ileum
merupakan usu halus yang terletak disebelah kanan bawah yang berhubungan dengan
sekum dengan perantaraan lubang orifisium ileosekalis yang di perkuat fingter dan
katub valvula cicalis (valvula bauchini) yang berfungsi mencegah cairan dalam kolon
agar tidak masuk lagi kedalam ileum ( Saifudin 2009).

2. Struktur Usus Besar


Usus besar merupakan tabung muscular berongga dengan panjang sekitar 5 kaki
( sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalisani. Diameter usus besar
3

rata-rata sekitar 2,5 inci tetapi makin dekat dengan anus diameternya semakin kecil
( Silvia 2005). Lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar adalah selaput lendir,
lapisan otot yang memanjang, dan jaringan ikat. Ukurannya lebih besar dari pada usus
halus, mukosanya lebih halus dari usu halus dan tidak memiliki vili. Serabut otot
longitudinal dalam muskulus ekterna membentuk tiga pita, taenia koli yang menarik
kolon menjadi kantung-kantung besar yang disebut dengan haustra. Di bagian bawah
terdapat katub ileosekal yaitu katub antara usus halus dan usus besar. Katub ini
tertutup dan akan terbuka untuk merespon gelombang peristaltic sehingga
memungkinkan kimus mengalir 15ml masuk dan total aliran sebanyak 500ml/hari
( ethel 2003 ).
Bagian- bagian usu besar terdiri dari :
A. Sekum
Sekum adalah kantong tertutup yang menggantung di bawah area katub ileosekal
appendix (ethel 2003). Pada sekum terdapat katub ileosekal dan appendix yang
melekat pada ujung sekum (Silvia 2005). Apenddix Vermivom, suatu tabung
buntu yang sempit yang berisi jaringan limfoit, menonjol dari ujung sekum (ethel
2003).
B. Kolon
Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rectum. Kolon memiliki tiga
divisi :
i.
Kolon ascendes
ii.

: merentang dari sekum sampai ketipih bawah hati

disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatica.


Kolon Transversum
: merentang menyilang abdomen di bawah hati dan
lambung sampai ketepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar kebawah

iii.

fleksura spalenik.
Kolon Desenden

: merentang kebawah pada sisi kiri abdomen dan

menjadi kolon sikmoid berbentuk S yang bermuara di rectum.

C. Rektum
Rektum adalah bagian saluran pencernaan dengan panjang 12-13 cm. Rectum
berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior di anus ( Saifuddin 2009).

1. Kelenjar ludah

2. Parotis
3. Submandibularis (bawah rahang)
4. Sublingualis (bawah lidah)
5. Rongga mulut
6. Amandel
7. Lidah
8. Esofagus
9. Pankreas
10. Lambung
11. Saluran pankreas
12. Hati
13. Kantung empedu
14. duodenum
15. Saluran empedu
16. Kolon
17. Kolon transversum
18. Kolon ascenden
19. Kolon descenden
20. Ileum
21. Sekum
22. Appendiks/Umbai cacing
23. Rektum/Poros usus
24. Anus

2.2 Fisiologi Usus


Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan-bahan
nutrisi, air, elektrolit dan mineral. Proses pencernaan di mulai dalam mulut dan lambung oleh
kerja pitialin, asam klorida dan pepsin terhadap makanan yang masuk proses pencernaan di
lanjutkan di dalam duodenum terutama oleh enzim-enzim pancreas yang menghidrolisis
karbohidrat, lemak dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat
dalam secret pancreas membantu menetralkan asam dan memberikan PH optimal untuk kerja

enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengelmusikan lemak
sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pancreas ( Silvia 2005).
Pada proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus
enterikus ). Banyak diantara enzim ini terdapat brusborder vili dan mencerna zat makanan
sambil di absorbs. Isi usus digerakan oleh peristaltic yang terdiri atas dua jenis gerakan yaitu
segmental dan peristaltic yang di atur oleh system saraf autonom dan hormone ( WHO 2007).
Pergerakan segmental usus halus mencapur zat-zat yang dimakan dengan secret pancreas,
hepatobiliar, sekresi usus dan pergerakan peristaltic mendorong isi dari salah satu ujung ke
ujung lainnya dengan kecepatan yang sesuai untuk absorbsi optimal dan suplai continue isi
lambung ( Silvia 2005).
Absorbsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat, lemak dan
protein melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan linfe untuk digunakan oleh sel-sel tubuh
selain itu, air, elektrolit dan vitamin juga di absorbs (silvia 2005).
Lemak dalam bentuk trigliserida di hidrolisis oleh enzim lipase pancreas, hasilnya
bergabung dengan garam empedu membentuk misel. Misel kemudian memasuki membrane
sel secara pasif dengan difusi kemudian mengalami disagresi,melepaskan garam empedu
yang kembali kedalam lumen usus, dan asam lemak serta monogliserida kedalam sel. Sel
kemudian membentuk kembali trigliserida dan digabungkan dengan kolesterol, fosfolipid dan
apoprotein untuk membentuk kilomikron yang keluar dari sel dan memasuki lacteal. Asam
lemak dapat memasuki kapiler secara langsung menuju vena porta. Garam empedu di absorbs
kedalam sirkulasi enterohepatik dalam ileum distalis. Dari kumpulan lima gram garam
empedu yang memasuki kantung empedu sekitar 0,5 mg hilang setiap harinya, kumpulan ini
bersirkulasi ulang enam kali dalam 24 jam ( Sabiston 1992).
Protein oleh asam lambung didenaturasi, pepsin memulai proses proteolisis. Enzim
protease pancreas melanjutkan proses pencernaan protein, menghasilkan asam amino dan dua
sampai enam residupeptida. Transporaktif membawa di peptide dan tripeptida kedalam sel
untuk diabsorbsi ( scwarttz 2000).
Karbohidrat metabolism awalnya dimulai dengan mengidrolisis pati menjadi maltose
(Isomaltosa ) yang merupakan disakarida . Kemudian disakarida ini bersama dengan laktosa
dan sukrosa dihidrolisis menjadi monosakarida glukosa, galaktosa dan fruktosa. Enzim
lactase, sukrase, maltase, dan isimaltase untuk pemecahan di sakarida, terletak didalam
mikrofili brusborder sel epitel. Disakarida ini dicerna menjadi monosakarida sewaktu
berkontak dengan mikrofili. Produk pencernaan, monosakarida, glukosa, galaktosa dan
fruktosa segera di arbsorbsi kedalam darah ( Guiton, A.C.,dan Hall,J.E,2006). Air dan
elektrolit, cairan empedu, cairan lambung, saliva dan cairan duodenum menyokong sekitar 86

10 L/hari cairan tubuh kebayakan diarbsorbsi air secara osmotik dan secara hidrostatik di
arbsorbsi melalui difusi pasif. Natrium dan klorida diarbsorbsi dengan pemasangan zat
terlarut organic atau secara transforaktif. Kalsium di arsobsi melalui transfor aktif dalam
duodenum dan jejunum, di percepat oleh hormon parahormon (PTH) DAN Vitamin D.
Kalium di arbsorbsi secara difusi aktif ( scwarttz 2000).
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir
isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengarsorbsi air dan elektrolit yang
sudah hamper lengkap pada kolon. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reserfoir yang
menampung masa feses yang sudah dehidrasi sampai defektasi berlangsung ( SILVIA2005).
Kolon mengarbsorbsi air,natrium, klorida dan asam lemak rantai pendek serta
mengeluarkan bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga kesimbangan air dan elektrolit
dan mencegah dehidrasi. Gerakan retograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon
dan mengingkatkan arbsorbsi kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum,
mengisolasi segmen pendek dari kolon. Kontraksi ini menurun oleh antikolinergik,
meningkat oleh makanan dan koligenik. Sepertiga berat feses kering adalah bakter 10 11-1012gr
dimana bakteri anaerob lebih bayak dari baketri aerob. Bakteroides paling umum, escheria
koli berikutnya. Gas kolon berasal dari udara yang ditelan, difusi dari darah dan produksi dari
intralumen. Bakteri membentuk hydrogen dan metan dari protein dan karbohidrat ( scwarttz
2000).
2.3 Gambaran Normal dari Radiografi Polos Abdomen
Udara akan terlihat hitam karena meneruskan sinar X yang dipancarkan yang
menyebabkan kehitaman pada film sedangkan tulang dengan elemen kalsium yang dominan
akan menyerap seluruh sinar yg di pancarkan sehingga pada film akan tampak putih. Diantara
udara dengan tulang misalnya jaringan lunak akan menyerap sebagian besar sinar X yang di
pacarkan sehingga menyebabkan keabu-abuan yang cerah bergantung dari ketebalan jaringan
yang di laluin sinar X.
Udara akan terlihat relative bayak mengisi lumen lambung dan usus besar, sedangkan
dalam jumlah sedikit akan mengisi sebagian dari usus kecil. Sedikit udara dan cairan juga
mengisi lumen usus halus dan air fluid level yang minimal bukan merupakan gambaran
patologis.
Bayaknya udara mengisi lumen usus baik usus halus dan besar tergantung pada
banyaknya udara yang tertelan seperti pada keadaan bayak bicara, tertawa, merokok, dsb.
Pada keadaan tertentu misalnya ashma akan terjadi peningkatan jumlah udara dalam lumen
usus halus dan besar secara dramatis sehingga untuk pasien bayi dan anak kecil dengan
keluhan perut kembung sebaiknya juga dipoto kedua paru sekaligus karena sangat besar
7

kemudian penyebab kembungnya berasal dari pneumonia di paru. Beberapa penyebab lain
yang mempunyai gambaran lain dengan ileus kebocoran atau diseksi aorta torakalis, payah
jantung, perikarditis dan pneumothoraks.
Selain komponen traktus gastrointestional juga dapat terlihat kontur kedua ginjal dan
musculus bilateral. Adanya bayangan yang menghalangi kontur dari ginjal atau muskulus
pesoas dapat menunjukan keadaan patologis di daerah retroperitoneal. Fotoradiografi polos
abdomen biasanya dikerjakan dalam posisi pasien terlentang (supine). Apabila keadaan
pasien memungkinkan akan lebih baik lagi bila ditambah dengan posisi berdiri. Untuk kasus
tertentu dilakukan foto radiografi polos tiga posisi yaitu posisi supine tegak dan berdiri ( left
lateral decubitus.). Biasanya posisi demikian untuk memastikan udara bebas yang perpindahpindah dalam foto dalam posisi berbeda.
2.4 Defenisi Obstruksi Usus
Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa
disalurkan kedistal atau anus karena ada sumbatan atau hambatan yang disebabkan kelainan
dalam lumen usus, dinding usus, atau luar usus yang menekan atau kelainan vaskularisasi
pada suatu segmen usus yang menyebabkan nekrose segmen usus tersebut (Silvia 2005).
Tipe obstruksi usus terdiri dari :
1. Mekanis ( Ileus Obstruktif)
Suatu Penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus
obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata kronis akibat karsinoma yang
melingkar. Misalnya intususepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi
batu empedu,striktura, hernia dan abses .
2. Neurogonik/Fungsional (Ileus Paralitik)
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltic
usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi usus.Contohnya distropsi otot,
gangguan endrokrin seperti diabetes mellitus ( Suratun & Lusiana,2010).
2.5 Pengertian Ileus Obstruktif
Berbeda dengan ileus paralitik, maka pada ileus jenis obstruktif, pelebaran usus halus
lebih dominan dengan gambaran klasik herringbone dan bayangan cairan (fluid level
intraluminer) yang bertingkat-tingkat. Tidak ditemukan gambaran udara distal daerah
penyumbatan.
Kadang diperlukan dengan pemeriksaan kontras seperti pada keadaan invaginasi,
fulfulus kolon sigmoid. Seperti juga pada jenis paralitik, sonografid pada keadaan ileus
obstruktif juga dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis. Bentuk dan campuran sulit
ditentukan, biasanya terjadi pada keadaan ileus obstruktif disertai dengan peritonitis.
8

Tabel 1. Perbandingan Klinis bermacam-macam ileus.


Macam ileus

Obstruksi
tinggi

simple

Nyeri Usus

Distensi

Muntah
borborigmi

Bising usus

Ketegangan
abdomen

++

+++

Meningkat

+++

Meningkat

Tak tentu

(kolik)

Obstruksi
rendah

simple

+++
(Kolik)

Obstruksi
strangulasi

++++

Lambat, fekal

++

+++

(terus-menerus,
terlokalisir)

Paralitik

Oklusi vaskuler

biasanya meningkat

++++

Menurun

+++++

+++

+++

Menurun

2.5.1 Klasifikasi Ileus Obstruktif


1. Menurut sifat sumbatannya
a. Obstruksi biasa ( simple obstruction ) yaitu penyumbatan mekanis di dalam
lumen usus tanpa gangguan pembuluh darah antara lain karena atresia usus dan
neoplasma.
b. Obstruksi Strangulasi yaitu penyumbatan di dalam lumen usus disertai oklusi
pembuluh darah seperti hernia strangulasi, intususepsi, adhesi dan volvulus.
2. Menurut letak sumbatannya
a. Obstruksi tinggi bila mengenai usus halus
b. Obstruksi rendah bila mengenai usus besar
3. Menurut etiologinya
a. Lesi Ekstrinsik ( Ekstraluminal ) yaitu yang disebabkan oleh adhesi
(postoperative), hernia (inguinal,femoral,umbilical), neoplasma (karsinoma) dan
abses intraabdominal.
b. Lesi Intrinsik yaitu didalam dinding usus,biasanya terjadi karena kelainan
congenital malrotasi,inflamasi,neoplasma, traumatik dan intususebsi.
c. Obstruksi menutup ( Intaluminal ) yaitu penyebabnya dapat berada di dalam usus
misalnya benda asing atau batu empedu.
9

2.5.2 Patofisiologi Ileus Obstruktif


Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas akibat
peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen
kedarah. Oleh karena sekitar 8 L cairan di ekskresikan kedalam saluran cerna setiap hari tidak
adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan
penyedotan usus setelah pengobatan merupakan sumber kehilangan utama cairan dan
elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang
mengakibatkan syokhipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan
asidosis metabolic. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan penurunan arbsorbsi
cairan dan peningkatan sekresi cairan kedalam usus. Efek local peregangan usus adalah
iskmemia akibat distensi dan peningkatan permiabilitas akibat nekrosis, disertai absorbs
toksin bakteri kedalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan
bakteriemia (Silvia 2005).
Segera setelah timbulnya ileus obstruktif pada ileus obstruktif sederhana, distensi
timbul tepat di proksimal dan menyebabkan muntah. Setelah mereda peristaltic melawan
obstruksi dalam usaha mendorong isi usus melewatinya yang menyebabkan nyeri episodic
kram dengan masa relative tanpa nyeri diantara episode. Gelombang peristaltic lebih sering
timbul setiap tiga sampai lima menit di dalam jejunum dan setiap 10 menit di dalam ileum.
Aktifitas peristaltic mendorong udara dan cairan melalui gelung usus, yang menyebabkan
gambaran auskultasi khas terdengar dalam ileus obstruktif. Dengan berlanjtnya obstruksi,
makan aktifitas peristaltic lebih jarang dan akhirnya tidak ada.
Jika ileus obstruktif continue dan tidak di terapi maka kemudian timbul muntah dan
mulainya tergantung atas tingkat obstruksi. Ileus obstruktif usus halus menyebabkan
muntahnya lebih dini dengan distensi usu relative sedikit, disertai kehilangan air,
natrium,klorida dan kalium, kehilangan asam lambung dengan konsetrasi ion hydrogen yang
tinggi menyebabkan alkalosis metabolic. Berbeda pada ileus obstruktif usus besar muntah
bisa muncul lebih lambat. Bila timbul biasanya kehilangan isotonic dengan plasma.
Kehilangan cairan ekstra sel tersebut menyebabkan penurunan volume intravascular,
hemokonsentarsi dan oliguria atau anuria. Jika terapi tidak diberikan dalam perjalanan klinik
maka dapat timbul azotemia, penurunan curah jantung, hipotensi,dan syok (sabiston 1992).
Pada ileus obstruktif terancamnya sirkulasi pada usus mencakup volvulus, pita lekat, hernia
dan distensi. Disamping cairan dan gas yang mendistensi lumen dalam ileus obstruksi
sederhana, dengan serangulasi ada juga gerakan darah pada dalam lumen didnding usus.
Plasma bisa juga dieksudasi dari sisi serosa dinding usus kedalam kavitas peritonealisis.
10

Mukosa usus yang normalnya bertindak sebagai penghambat bagi penyerapan bakteri dan
produk toksiknya, merupakan bangian diding usus yang palinbg sensitive terhadap perubahan
aliran darah. Dengan strangulasi yang memanjang maka timbul skemik dan sawar rusak
bakteri atau(bersama endotoksit dan eksotoksin) bisa masuk melalui dinding usus kedalam
velitonealisis (Sabiston, 1992)
Disamping itu, kehilangan plasma ataupun air kedalam lumen usus cepat
menimbulkan syok. Jika kejadian ini tidak dinilai dini akan menyebabkan kematian.
Ileus obstruktif gelung tetrtutup timbul bila jalan masuk dan jalan keluar suatu gelung usus
tersumbat. Jenis ileus obstruktif ini lebih bahaya dibandingkan obstruktif lainnya karena ia
berlajutnya kestongulasi dengan cepat sebelum terbuktinya secara klinis dan gejala ileus
obstruktif. Penyebab ileus obstruktif gelung tertutup mencakup pita lekat melintasi suatu
gelung usus volvulus atau instensi sederhana. Pada keadaan terakhir ini, sekresi pada gelung
tertutup dapat menyebabkan peningkattan cepat tekanan intralumen, yang mengakibatkan
okstrusi aliran ke luar vena.
Ileus obstruktif kolon yang biasanya kurang akut kecuali bagi volvulus dibandingkan
ileus obstruktif usus halus karena kolon bukan organ pensekresi cairan dan hanya menerima
500 mL cairan tiap hari melalui valve ileocaecalis, maka timbul penumpukan cairan yang
cepat. Sehingga dehidrasi cepat bukan suatu bagian sindroma yang berhubungan dengan ileus
obstruksi kolon. Bahaya paling mendesak karena obstruksi itu distensi. Jika valva ileocaecalis
inkompeten maka kolon terdistensi dapat didekompresi ke dalam usus halus. Tetapi jika valve
itu kompeten, maka kolon terobstruksi membentuk gelung tertutup dan distensi continue
menyebabkan rupture pada tempat yang berdiamater terlebar, biasanya di sekum. Hal ini
didasarkan atas hokum laplace, yang mendefenisikan tegangan di dalam dinding organ
tubular pada tekanan tertentu apapun berhubungan langsung dengan diameter tabung itu.
Sehingga karena diameter kolon melebar di dalam sekum, maka area ini yang biasanya pacah
pertama (Sabiston, 1992).

11

Bagan 1 : Patofisiologi obstruksi usus


2.5.3 Manifestasi Klinis
1. Obstruksi Sederhana
Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya disertai
dengan pengeluaran banyaknya cairan dan elektrolit baik didalam lumen usus bagian oral dari
obstruksi, maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan usus meliputi, nyeri kram pada perut
disertai kembung. Pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang
banyak, yang jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa
berat dan menetap. Nyeri abdomen sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut
bagian atas. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang di hasilkan semakin fekulen. Tanda
vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan dehidrasi akibat kehilangan
cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal sampai demam. Distensi abdomen dapat
minimal atau tidak pada obstruksi proksimal dan semakin jelas pada sumbatan di daerah
distal. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat di dengar sesuai dengan
timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.
12

2. Obstruksi disertai proses strangulasi


Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebuh nyata dan disertai dengan nyeri hebat. Hal
perlu di perhatikan adalah adanya sekar bekas operasi atau hernia bila dijumpai tanda-tanda
strangulasi berupa nyeri iskemik dimana nyeri yang sangat hebat menetap dan tidak
menyurut, maka dilakukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.
2.5.4

Faktor Resiko Obstruktif


Obstruksi usus yang sering ditemukan, tergantung pada umur pasien. Pada bayi

obstruksi usus disebabkan atresia, pada usus halus dan penyakit Hirschprung. Obstruksi pada
anak sering disebabkan oleh intususepsi, penyakit hirschprung dan hernia strangulasi
inguinalis congenital. Pada orang dewasa, obstruksi usus disebabkan oleh tumor dalam usus,
perlengketan dinding usus, hernia strangulasi pada kanalis inguinalis, femoralis ataupun
umbilikailis dan penyakit crohn. Obstruksi pada pasien umur lanjut sering disebabkan
karsinoma usus besar, diventrikel, hernia strangulasi, tinja membantu,perlengketan dinding
usus dan volvulus.
Tabel 2. Penyebab Obstruksi Menurut Kelompok Umur
Kelompok Umur
Bayi/Neonatus
Anak-anak

Penyakit
Atresia, Volvulus,Penyakit Hirschprung
Intususepsi,hernia,
strangulasi
inguinslis,kelainan

Dewasa

congenital,penyakit Hirschprung.
Neoplasma
usus
besar,adhesi,

Orangtua

inguinalis,femoralis dan umbilicus,penyakit hirschprung


Karsinoma usus besar,penyakit diventrikulum kolon, hernia

hernia

strangulasi

strangulasi,fecalith (tinja membatu), adhesi dan volvulus.

2.5.5

Penegakan Diagnosis
Pada anamnesis obstruksi tinggi sering dapat ditemukan penyebab misalnya berupa

adhesi dalam perut karena pernah dioperasi atau terdapat hernia. Gejala umum berupa
syok,oliguri dan gangguan elektrolit. Selanjutnya ditemukan meteorismus dan kelebihan
cairan usus, hiperperistaltis berkala berupa kolik yang disertai mual dan muntah. Kolik
tersebut terlihat pada inspeksi perut sebagai gerakan usus atau kejang usus dan pada
asukultasi suatu serangan kolik, hiperperistaltis kejelasan jelas sebagai bunyi nada tinggi.
Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu kolik dan setelah satu dua kali devekasi
tidak ada lagi flatus atau defekasi. Pemeriksaan dengan meraba dinding perut bertujuan untuk
mencari adanya nyeri tumpul dan pembengkakan atau masa yang abnormal. Gejala
permulaan pada obstruksi kolon adalah perubahan kebiasaan buang air besar terutama berupa
13

obstipasi dan kembung yang kadang disertai kolik pada perut bagian bawah. Pada inspeksi
diperhatikan pembesaran perut yang tidak pada tempatnya misalnya pembesaran setempat
karena peristaltis yang hebat sehingga terlihat gelombang usus ataupun kontur usus pada
dinding perut. Biasanya distensi terjadi pada sekum dan kolon bagian proksimal karena
bagian ini mudah membesar (WHO ,2002) (DINKES SUMATERA UTARA,2007)
Dengan stetoskop,diperiksa suara normal dari usus yang berfungsi (bising usus). Pada
penyakit ini,bising usus mungkin terdengar sangat keras dan bernada tinggi, atau tidak
terdengar sama sekali (WHO ,2002) (DINKES SUMATERA UTARA,2007)
Tabel 3. Tabel Pemeriksaan Fisik
Inspeksi

Perut distensi,dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung.


Benjolan pada region inguinal,femoral dan skrotum menunjukan
suatu hernia inkarserata. Pada invaginasi dapat terlihat massa
abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada

Palpasi
Perkusi
Auskultas
i
Rectal
Taucher

luka operasi sebelumnya.


Kadang teraba massa seperti pada tumor,invaginasi,hernia.
Hipertimpani
Hiperperistaltik,bising usus bernada tinggi. Pada fase lanjut bising
usus dan peristaltic melemah sampai tulang.
Isi rectum menyemprot : Hirschprung disease
Darah(+) : strangulasi,neoplasma
Feses mengeras : skibala
Feses (-) : obstruksi usus letak tinggi
Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi
Nyeri Tekan : Lokal atau general peritonitis

2.5.6

Pemeriksaan Penunjang
Nilai laboratorium pada awalnya normal, kemudian akan terjadi hemokonsentrasi.

Pada urinalisa, berat jenis dapat meningkat dan ketonurea yang menunjukkan adanya
dehidrasi dan asidosis metabolic. Leukosit normal atau sedikit meningkat, jika sudah tinggi
kemungkinan sudah menjadi peritonitis. Kimia darah sering adanya gangguan elektrolit
(WHO,2002)(Dinkes Sumatera Utara).
2.5.7

Pemeriksaan Radiologi
1. Foto Polos Abdomen
Ileus merupakan penyakit abdomen akut yang dapat muncul secara mendadak yang
memerlukan tindakan sesegera mungkin. Maka dari itu pemeriksaan abdomen harus
dilakukan secara segera tanpa perlu persiapan. Pada kasus abdomen akut diperlukan
pemeriksaan 3 posisi yaitu :
14

1. Posisi terlentang (supine) : sinar dari arah vertical, dengan proyeksi antero-posterior
(AP)
2. Duduk atau setengah duduk atau berdiri (erect),bila memungkinkan,dengan sinar
horizontal proyeksi AP
3. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubutis), dengan arah horizontal,proyeksi AP.
Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset fil yang dapat mencakup seluruh
abdomen beserta dindingnya. Perlu dipersiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x45 cm.
Hal-hal yang dapat dinilai pada foto-foto di bawah ini ialah :
1. Posisi terlentang (supine)
Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi,
penebalan dinding usus, gambaran seperti duri ikan (Herring Bone Appearance).
Gambaran ini dapat dari pengumpulan gas dalam lumen usus yang melebar.
Gambar 2. Distensi usus proksimal dari obstruksi

2. Posisi duduk atau setengah duduk atau tegak (Erect)


Gambaran radiologis didapatkan adanya air fluid level dan step ladder appearance.
Gambar 3. Herring bone appearance

3. Posisi tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus)


Gambaran radiologi digunakan untuk melihat air fluid level dan kemungkinan
perforasi usus. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid
level pendek berati ada ileus letak tinggi,sedangkan jika panjang-panjang
15

kemungkinan gangguan di kolon. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara


bebas infar diagfragma dan air fluid level.
Gambar 4 . Air Fluid level /stepladder appearance

Pada foto polos abdomen, 60-70% dapat dilihat adanya pelebaran usus dan hanya
40% dapat ditemukan adanya air fluid level. Walaupun pemeriksaan radiologi hanya sebagai
pelengkap saja, pemeriksaan sering diperlukan pada obstruksi ileus yang sulit atau untuk
dapat memperkirakan keadaan obstruksinya pada masa pra-bedah.
1. Ileus obstruksi letak tinggi
Gambar 5 Ileus Obstruksi letak tinggi

Pada foto abdomen 3 posisi ileus obstruktif letak tinggi tampak dilatasi usus di
proksimal sumbatan (sumbatan paling distal di ileocecal junction ) dan kolaps usus
dibagian distal sumbatan. Penebalan dinding usus halus yang terdilatasi memberkan
gambaran hering bone appearance, karena dua dinding usus halus yang menebal dan
menempel membentuk gambaran vertebra, dan musculus yang sirkular menyerupai
kostanya. Tampak gambaran air fluid level yang pendek yang berbentuk seperti
tangga disebut juga step ladder appearance karena cairan teransudasi berada dalam
usus halus yang mengalami distensi.
2. Ileus Letak Rendah
Gambar 6 Ileus obstruktif letak rendah

Pada ileus obstruktif letak rendah tampak dilatasi usus di proksimal sumbatan
(sumbatan di kolon), dan kolaps usus di bagian distal sumbatan. Penebalan dinding
16

usus halus yang mengalami dilatasi memberikan gambaran herring bone


appearance,karena dua dinding usus halus yang menebal dan menempel membentuk
gambaran vertebra dan muskulus yang sirkuler menyerupai kosta dan gambaran
penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi abdomen. Tampak
gambaran air fluid level yang pendek pendek yang berbentuk seperti tangga disebut
juga step ladder appereance karena cairan transudasi berada dalam usus halus yang
terdistensi dan air fluid level yang panjang panjang di kolon.
Gambar 7. Gambaran khas lainnya pada foto polos abdomen

Bahan ini adalah suatu garam berwarna putih, berat dan tidak mudah larut
dalam air. Garam tersebut diaduk dengan air dalam perbandingan tertentu sehingga
menjadi suspense. Suspensi tersebut diminumkan oleh pasien pada pemeriksaan
esophagus, lambung dan usus halus atau dimasukkan lewat kliasma pada pemeriksaan
kolon (lazim disebut enema)
Sinar rontgen tidak dapat menembus barium sulfat tersebut, sehingga menimbulkan
bayangan dalam foto rontgen. Setelah pasien meminum suspense barium dan air, dengan
fluroskopi diikuti konstraksinya sampai masuk ke dalam lambung, kemudian dibuat foto-foto
dalam posisi yang diperlukan. Pemeriksaan radiologi dengan barium enema mempunyai
suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi usus halus. Pengujian enema barium
terutama sekali bermanfaat jika suatu obstruksi letak rendah yang tidak dapat pada
pemeriksaan foto polos obdomen
Gambar 8. Barium enema pada ileus obstruktif

2.CT-Scan Abdomen
CT (Computed Tomograhy) merupakan metode body imaging dimana sinar x yang
sangat tipis mengitar pasien . Detektor kecil akan mengatur jumlah sinar x yang diteruskan
kepada pasien untuk menyinar targetnya. Komputer akan segera menganalisa dan
17

mengumpulkan dalam bentuk potongan cross sectional. Foto ini juga dapat disimpan,
diperbesar maupun dicetak dalam bentuk film. Pemeriksaan ini dikerjakan jika secara klinis
dan foto polos abdomen dicurigai adanya strangulasi. CT-Scan akan mempertunjukan secara
lebih teliti adanya kelainan-kelainan dinding usus,mesentrikus, dan peritoneum. CT-Scan
harus dilakukan dengan memasukan zat kontras kedalam pembuluh darah. Pada pemeriksaan
ini dapat diketahui derajat dan lokasi dari obstruksi.
Gambar 9 CT Scan ileus obstruktif

2.5.8 Penatalaksanaan Ileus Obstruktif


Tujuan utama penatalaksaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi
untuk mencegah perforasi . Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan
penyebab obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh dengan
sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh pelengketan. Penderita
penyumbatan usus harus dirawat di rumah sakit (WHO,2008).
1. Persiapan
Pipa lambang harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah aspirasi dan
mengurangi distensi abdomen (dekompresi). Pasien dipuaskan,kemudian dilakukan juga
resutasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan keadaan umum . Setelah keadaan optimum
tercapai barulah dilakukan laparotomi . Pada obstruksi parsial atau karsinomatis abdomen
dengan pemantauan dan konservatif (WHO,2008).

2. Operasi
Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital berfungsi
secara memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah pembedahan segera mungkin.
Tindakan bedah dilakukan bila :
- Strangulasi
- Obstruksi lengkap
- Hernia inkarserata
- Tidak ada perbaikan dengan pengobatan konservatif (WHO,2008)
3. Pasca Bedah

18

Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit .
Mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup Pasca bedah usus
pasien masih dalam keadaan paralitik.
2.5.9 Prognosis Ileus Obstruktif
Mortalitas ileus obstruktif ini dipengaruhi bayak factor yaitu seperti umur,etiologi,
tempat dan lamanya obstruksi. Jika umur penderita sangat muda ataupun tua maka
tolerensinya terhadap penyakit maupun tindakan operatif yang dilakukan sangat rendah
sehingga meningkatkan mortalitas. Pada obstruksi kolon mortalitasnya lebih tinggi
dibandingkan obstruksi usus halus.
2.6 Defenisi Ileus Paralitik
Ileus Paralitik adalah suatu keadaan akut abdomen yang berupa kembung (distensi
abdomen) karena usus tidak berkontraksi akibat adanya gangguan motilitas. Ileus paralitik
atau adynamic adalah keadaan dimana usus gagal atau tidak berfungsi melakukan kontraksi
peristaltic untuk menyalurkan isinya ileus paralitik terjadinya karena peristaltic usus di
hambat sebagian akibat pengaruh toksin ataupun trauma yg mempengaruhi control otonom
pergerakan usus.
2.6.1 Etiologi Ileus Paralitik
Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada : 1. Proses intraabdominal seperti
pembedahan perut dan saluran cerna atau iritasi dari peritoneal ( peritonitis, pancreatitis,
pendarahan. 2. Sakit berat seperti peneumonia,gangguan pernapasan yang memerlukan
intubasi sepsis atau infeksi berat, uremia, diabetes,ketoasidosis dan ketidak seimbangan
erektrolit (hipokalemia, hiperkalsemia, hipomagnesemia, hipofosfatemia. 3. Obat-obatan
yang mempengaruhi motilitas usus ( Opioide, antikolinergik, fenotiazime. Setelah
pembedahan, usus halus yang pertama kali yang kembali normal (beberapa jam), diikuti
lambung (24 -48 jam ) dan kolon (48-72 jam).
Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pencernaan tanpa adanya obstruksi usus
mekanik. Diduga, otot dinding usus terganggu dan gagal untuk mengangkut isi usus.
Kurangnya tindakan pendorongan terkoordinasi menyebabkan akumulasi gas dan cairan
dalam usus. Meski ileus disebabkan banyak factor, keadaan pasca operasi adalah keadaan
yang paling umum untuk terjadinya ileus. Ileus merupakan konsekuensi yang diharapkan dari
pembedahan perut. Fisiologinya ileus kembali normal spontan dalam 2-3 hari, setelah
motilitasnya sigmoid kembali normal. Ileus yang berlangsung selama lebih dari tiga hari
setelah operasi dapat disebut ileus adynamic atau ielus paralitik pasca operasi. Ileus sering
19

terjadi setelah operasi intraperitoneal, tetapi mungkin juga terjadi setelah pembedahan
retroperitoneal dan ekstraabdominal. Durasi terpanjang dari ileus tercatat terjadi setelah
pembedahan kolon. Laparoskopi reseksi usus dikaitan dengan jangka waktu yang lebih
singkat dari pada reseksi kolon ileus terbuka.
Konsekuensi klinis ileus pasca operasi dapat mendalam . Pasien dengan ileus merasa
tidak nyaman dan sakit dan akan meningkatkan resiko komplikasi paru. Ileus juga
meningkatkan katabolisme karena gizi buruk. Secara keseluruhan, ileus meningkatkan biaya
perawatan medis.
Beberapa penyebab terjadinya ileus :
-

2.6.2

Trauma Abdomen
Pembedahan Perut (Laparatomy)
Serum Elektrolit abnormalitas
1. Hipokalemia
2. Hiponatremia
3. Hipomagnesemia
4. Hipermagnesemia
Infeksi, Inflamasi atau Iritasi (empedu,darah)
1. Intrathoraks
Pneumonia
Lower lobus tulang rusuk patah
Infark miokard
2. Intravelvic (Misalnya penyakit radang panggul)
3. Rongga perut
Radang usus buntu
Divertikulitis
Nefrolisiasis
Kolesistitis
Pankreastitis
Perforasi ulkus duodenum
Iskemia Usus
1. Mesentrica Emboli, Trombosis iskemia
Cedera tulang
1. Patah tulang rusuk
2. Vertebral retak ( misalnya kompresi lumbasis retak)
Pengobatan
1. Narkotika
2. Fenotiazin
3. Diltiazem atau Verapamil
4. Clozapine
5. Obat anti cholinergic

Patofisiologi Ileus Paralitik

20

Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari teransangnya system


syaraf simpatis dimana dapat menghambat aktifitas dalam traktus gastrointestinal,
menimbulkan banyak efek berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh system parasimpatis.
Sistem simpatis mempengaruhi melalui dengan dua cara :
1. Pada tahap yang kecil pengaruh langsung porepineprin pada otot polos ( kecuali
muskularis mukosa, dimana iya merangsangnya).
2. Melalui tahap yang besar dengan pengaruh inhibitorik dari norepineprin pada neuronneuron system syaraf interik.Jadi, perangsangan yang kuat pada system simpatis dapat
menghambat pergerakan makanan melalui traktus gastrointernital.
Hambatan pada system syaraf parasimpatis didalam system syaraf enteric akan
menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastrointestinal, namun tidak
semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat saraf parasimpatis bersifat eksitatorik,
beberapa neuron bersifat inhibitorik, ujung seratnya mengsekresikan atau transmitor inhibitor,
kemungkinan peptide intestinal vasoaktif dan beberapa peptide lainnya.
Menurut beberapa hipotesis ileus pasca operasi dimediasi melalui aktifitas hambat
busur reflek tulang belakang, tiga reflek yang berbeda : Ultrashort reflex terbatas pada
dinding usus, reflex pendek yang menyebabkan ganglia prevertebral dan reflex panjang
melibatkan sumsum tulang belakang. Respon stress bedah mengarah kegenerasi sistemik
endokrin dan mediator inflamasi yang juga mempromosikan perkembangan ileus.
Penyakit/keadaan yang menimbulkan ileus paralitik dapat diklasifikasikan seperti
dibawah ini.
Kausa ileus paralitik

Neurogenik Pasca operasi, kerusakan medulla spinalis, keracunan timbal, kholik

ureter, iritasi pernapasan splanknikus, pankreastitis.


Metabolic
gangguan keseimbangan
erektrolit

hipokalemia,

uremia,komplikasi DM,penyakit sistemik seperti SLE,seklerosis multiple.


Obat-obatan
Infeksi/inflamasi. Peneumonia, enpiema, peritonitis infeksi sistemik berat lainnya.
Iskemia Usus
Neurogenik
- Refleksi inhibisis dari syaraf afferen : Incisi pada kulit dan usus pada operasi
-

(terutama

abdominal.
Refleksi inhibisi dari syaraf afferen : menghambat pelepasan neurotransmitter

asetilkolin.
Hormonal
Kolesistokinin, disekresi oleh sel dalam mukosa duodenum dan jejunum
terutama sebagai respon terhadap pemecahan produk lemak, asam lemak dan
21

monogliserida didalam usus. Kolesitokinin mempunyai efek yang kuat dalam


meningkatkan kontraktilitas kandung empedu, jadi mengeluarkan empedu kedalam
usus halus ,dimana empedu kemudian memainkan peranan penting dalam
mengelmusikan substansi lemak sehingga mudah di cerna dan diarbsorbsi.
Kolesitokinin juga menghambat motilitas lambung secara sedang. Oleh karena itu,
disaat bersamaan dimana hormone ini menyebabkan pengosongan kandung empedu,
hormone ini juga menghambat pengosongan makanan dari lambung untuk member
waktu yang kuat supaya terjadi pemecahan lemak di traktus gastrointestinal bagian
atas.
Hormon lainnya seperti sekretin dan peptide penghambat asam lambung juga
memiliki fungsi yang sama seperti kolesistokinin namun sekretin berperan sebagai
respon dari getah asam lambung dan peptide penghambat asam lambung sebagai

respon terhadap asam lemak dan asam amino.


Inflamasi
- Makrofag : melepas proinflamatory cytokines (NO)
- Prostaglandin inhibisi kontraksi otot polos usus
Farmakologi
Opioid menurunkan aktifitas dari neuron eksitatorik dan inhibisi oleh fleksus
mienterikus. Selain itu apiod juga meningkatkan tonus otos polos usus untuk
menghambat gerak peristaltic terkoorginasi yang diperlukan untuk gerakan propulsi.
Opiod : efek inhibitor blockade excitatory neuron yang mempersarafi otot polos usus.

2.6.3. Manifestasi Klinik


Ileus adinamik (ileus inhibisi) ditandai oleh tidak adanya gerakan usus yang
disebabkan

oleh

penghambatan

neuromuscular

dengan

aktifitas

simpatik

yang

berlebihan.Sangat umum, terjadi setelah semua prosedur abdomen, gerakan usus akan
kembali normal pada usus kecil 24 jam, lambung 24 jam, dan kolon, 3-4 hari.
Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung (abdominal distention),
anoreksia,mual dan obstipasi. Muntah mungkin ada, mungkin pulak tidak keluhan peut
kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan perut kembung pada ileus
obstruksi. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung,tidak disertai nyeri kolik
abdomen yang paroksikmal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen, perkusi timpani dengan
bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali.Pada palpasi,
pasien hanya menyatakan tidak enak pada perutnya. Tidak adanya reaksi peritoneal (nyeri
tekan dan nyeri lepas negative). Apabila penyakit primernya peritonitis, manifestasi klinis
yang ditemukan gambaran peritonitis.
22

2.6.4

Diagnosa Ileus Paralitik


Pada ileus paralitik ditegakan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen

yaitu bising usus menghilang, pada gambaran foto polos abdomen di dapatkan pelebaran
udara usus halus atau usus besar.
1. Anamnesa
Pada anamnesa ileus paralitik sering ditemukan keluhan distensi dari usus, rasa mual
dan dapat disertai dengan muntah. Pasien kadang juga mengeluh tidak bisa bab
ataupun platus,rasa tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri
2. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi yang mencakup kehilangan turgor
kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus dilihat adanya distensi,
parut abdomen, hernia dan masa abdomen.Pada pasien yang kurus tidak terlihat

gerakan peristaltic.
Palpasi
Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri
tekan yang mencakup defence muscular involunter atau rebound dan pembengkakan

atau masa yang abnormal untuk mengetahui penyebab ileus.


Perkusi
Hipertimpani
Auskultasi
Bising usus lemah atau tidak ada sama sekali (silent abdomen) dan borborigmi.

2.6.5 Pemeriksaan Penunjanng


Pemeriksaan labolatorium mungkin dapat membantu mencari kausa penyakit.
Pemeriksaan yang penting untuk dimintakan adalah leokosit darah,kadar elektrolit,ureum,
glukosa darah dan amylase. Foto polos abdomen sangat membantu untuk menegakan
diagnosis. Pada ileus paralitik akan ditemukan distensi lambung, usus halus dan usus besar.
Air fluid level, ditemukan berupa suatu gambran line up (segaris). Hal ini berbeda dengan air
fluid level pada ileus obstruktif yang memberikan gambaran stepladder (seperti anak tangga).
Apabila dengan pemeriksaan foto polos abdomen masih meragukan, dapat dilakukan foto
abdomen dengan mempergunakan kontraks.
2.6.6

Gambaran Radiologi Pada Ileus Paralitik


Gambaran radiologi pasien dengan ileus paralitik bisanya ditemukan dilatasi pada

semua unsure dan multiple air fluid level. Pada ileus paralitik dijumpai dilatasi usus secara
23

menyeluruh pada gaster sampai rectum. Penebalan dinding usus halus yang mengalami
dilatasi memberikan gambaran herring bonneappearance, karena dua didnding usus halus
yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra dan muskulus yang serkuler
yang menyerupai kosta dan gambaran penebalan usus besar yang juga distensi yang tampak
pada tepi abdomen. Tampak gambaran fluid level yang pendek-pendek seperti tangga atau
disebut juga stepladder appereance di usus halus dan air fluid level yang panjang panjang
dikolon.
Gambar 10. Gambar radiologi ileus paralitik

2.6.7

Penatalaksanaan Ileus Paralitik


Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif. Tindakannya berupa

dekompresi, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, mengobati kausa dan penyakit
primer dan pemberian nutrisi yang addekuat. Prognosis biasanya baik, keberhasilan
dekompresi kolon dari ilues telah dicapai oleh kolosnokopi berulang. Beberapa obat-obatan
jenis penyekat simpatik (simpatolitik) atau parasimpatomimetik pernah dicoba, ternyata
hasilnya tidak konsisten. Untuk diskompresi dilakukan pemasangan pipa nasogastrik ( bila
perlu dipasang juga rectal tube). Pemberian cairan, koreksi gangguan elektrolit dan nutrisi
parenteral hendaknya diberika sensuai dengan kebutuhan dan prinsip prinsip pemberian
nutrisi parenteral. Beberapa obat yang dapat dicoba yaitu metoklopramid bermanfaat untuk
gastroparesis, sisaprid bermanfaat untuk iles paralitik pasca operasi dan klonidin dilaporkan
bermanfaat untuk mengatasi ileus paralitik karena obat obatan. Neostigmin juga efektif
dalam kasus ileus kolon yang tidak berespon setelah pengobatan konservatif.
1. Konservatif
Penderita dirumah sakit
Penderita dipuasakan
Control status airways, breathing and circulation
Dekompresi dengan nagogastric tube
Intravenous fluids and electrolyte
Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan
2. Farmakologis
Antibiotikbroadspectrum untuk bacteri anaerob dan aerob
Analgesic apabila nyeri
24

Prokinetik : Metaklopromide, cisapride


Parasimpatis stimulasi: bethanecol, neostigmin
Simpatis blockade: alpha 2 adrenergik antagonis
3. Operasi
Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertasi dengan

peritonistik
Operasi dilakukan dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogratric untuk

mencegah sepsis sekunder atau rupture usus


Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang

disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi


Pintas usus : ileostomi, kolostomi
Reseksi usus dengan anastomosis
Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi

BAB III
KESIMPULAN

1. Ileus Obstruktif adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan
ke distal karena adanya sumbatan mekanis.
2. Pemeriksaan penunjang yang menjadi gold standart dalam ileus obstruktif adalah foto
polos abdomen tiga posisi
3. Temuan khas pada obstruksi usus diantaranya adalah :
- Distensi usus pada proksimal yang mengalami obstruksi
- Gambaran herring bone aparance
- Gamabaran air fluid level (batas air udara atau stepladder)
- Gamabaran untaian kantong gas kecil berturut-turut
4. Gambaran klinis yang dapat ditimbulkan sebagai akibat obstruksi usus dapat bersifat
sitemik dan serangan yang bersifat kolik.
25

5. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya pemeriksaan darah,


urinalisis, kolonoskopi,radiologi.

DAFTAR PUSTAKA

Ansari P.2007.Intenstinal obstruction. http://www.merek.com/m.mpe/sec2/choll/chollh.hyml.


Badas,Michelle.

2005.

Paralytic

ileus

(adynamic

ileus,non-mechanical

bowel

obstruction).EBSCO Publishing.
Dinkes Sumatera Utara.2007. Profil Kesehatan Sumatra Utara.Medan.
Hamami,AH.,Pieter,J.,Riwanto,I.,TJambolang,T.,danAhmadsyah.2003.UsusHalus, Appendix,
Kolon dan Anorektum dalam Buku Ajar iImu Bedah edisi 2 .Editor : samsul hidajat,R
dan thejonk,wim.Jakarta: EGC.
Grace and boeley.2005.Obstruksi Usus dalam Ilmu B edah edisi bedah.Jakarta:ems.
Medscape.2013.Ileus.http://emedicine medscape.com/artikel/178948-overview#a0199

26

27