Anda di halaman 1dari 28

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode geofisika untuk mengetahui
penampang struktur bawah permukaan, merupakan salah satu metode untuk
memberikan tambahan informasi yang diharapkan dapat menunjang penelitian
lainnya. Metode ini mencoba menentukan kecepatan gelombang seismik yang
menjalar di bawah permukaan. Metode seismik refraksi didasarkan pada sifat
penjalaran gelombang yang mengalami refraksi dengan sudut kritis tertentu yaitu
bila dalam perambatannya, gelombang tersebut melalui bidang batas yang
memisahkan suatu lapisan dengan lapisan yang di bawahnya yang mempunyai
kecepatan gelombang lebih besar.
Parameter yang diamati adalah karakteristik waktu tiba gelombang pada masingmasing geophone. Ada beberapa metode interpretasi dasar yang bisa digunakan
dalam metode seismik refraksi, antara lain metode waktu tunda, metode Intercept
Time, dan metode rekonstruksi muka gelombang (Raharjo, 2002). Pada
perkembangan lebih lanjut, dikenal beberapa metode lain yang digunakan untuk
menginterpretasikan bentuk topografi dari suatu bidang batas, antara lain metode
Time Plus Minus, metode Hagiwara dan Matsuda, dan metode Reciprocal
Hawkins. Untuk sistem perlapisan yang cukup homogen dan relatif rata, metode

Intercept Time mampu memberikan hasil yang memadai atau yang dapat diartikan
dengan kesalahan relatif kecil (Sismanto, 1999). Dalam penelitian ini, pemodelan
struktur lapisan bawah permukaan dilakukan dengan menggunakan metode
Intercept Time.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari metode akuisisi seismik refraksi ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan akuisisi data seismik
refraksi.
2. Untuk mengetahui alat-alat yang digunakan dalam akuisisi data seismik
refraksi.
3. Untuk memahami teknik akuisisi data seismik refraksi dan mampu
melakukan akuisisi data seismik refraksi.
4. Untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang proses akuisisi
data seismik refraksi dengan metode Intercept Time

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Lokasi Daerah Pengamatan


Daerah Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 Km2 termasuk
pulau pulau yang terletak pada bagian sebelah paling ujung tenggara pulau
Sumatera. Secara Geografis Provinsi Lampung terletak pada kedudukan antara
10545'-10348' BT dan 345'-645' LS.

Gambar 2.1 Peta Provinsi Lampung

B. Geologi Regional Daerah Pengamatan

Berdasarkan pembagian fisiografi dari Peta Geologi Lembar Tanjungkarang


(Andi Mangga S.,dkk 1994), secara umum daerah ini dibagi menjadi tiga satuan
morfologi yaitu : dataran bergelombang di bagian timur dan timurlaut,
pegunungan terjal di bagian tengah dan baratdaya dan daerah pantai berbukit
sampai datar. Daerah dataran bergelombang terdiri dari endapan vulkanoklastik
Tersier-Kuarter dan aluvium dengan ketinggian beberapa puluh meter di atas
muka laut. Pegunungan Bukit Barisan terdiri dari batuan beku dan malihan serta
batuan gunungapi muda.
a. Stratigrafi
Stratigrafi regional di daerah ini disusun oleh batuan-batuan dari Runtunan
Pra-Tersier, Runtunan Tersier, Runtunan Kuarter dan Batuan Terobosan.
Runtunan Pra-Tersier, terdiri dari batuan tertua adalah runtunan batuan
malihan derajat rendah-sedang, yang terdiri dari sekis, genies, pualam dan
kuarsit, yang termasuk Kompleks Gunungkasih. Kompleks Gunungkasih
terdiri dari sekis kuarsa pelitik dan grafitik, pualam dan sekis gampingan,
kuarsit serisit, suntikan migmatit, sekis amfibol dan ortogenes. Dengan
asumsi bahwa penyebaran litologi ini mencerminkan keadaan geologi
kompleks tersebut, memberikan dugaan kuat bahwa runtunan batuan beku
malihan (Pzgs) merupakan sisa-sisa busur magma Paleozoikum serta sisasisa runtunan sedimen malih parit atau tanah muka yang berhubungan
dengan busur tersebut. Kemungkinan lain bahwa Kompleks Gunungkasih
merupakan bagian dari bongkah alohton atau exotic yang terakrasikan
terhadap tepi benua Paparan Sunda pada Paleozoikum Akhir atau

Mesozoikum Awal, sehingga tidak mempunyai sejarah pemalihan yang sama


dengan batuan malihan lainnya di Sumatera.
Formasi Menanga termasuk batuan pra-Tersier yang berumur Mesozoikum
tidak mengalami pemalihan. Formasi ini terdiri dari batulempung-batupasir
tufan dan gampingan, berselingan dengan serpih, sisipan batugamping,
rijang dan sedikit basal.
Runtunan Tersier, terdiri dari runtunan batuan gunungapi busur benua dan
sedimen yang diendapkan di tepi busur gunungapi, yang diendapkan
bersama-sama secara luas, yaitu Formasi Sabu, Campang dan Tarahan.
Ketiganya berumur Paleosen sampai Oligosen. Formasi Sabu yang
diendapkan di lingkungan fluviatil, menindih tak selaras runtunan praTersier dan ditindih tak selaras oleh batuan gunungapi Formasi
Hulusimpang yang berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal. Formasi Sabu
terdiri dari breksi konglomeratan dan batupasir di bagian bawah, ke atas
berubah menjadi batulempung tufaan dan batupasir. Formasi Tarahan terdiri
dari terutama tuf dan breksi tufaan dengan sedikit lava, bersusunan andesitbasal. Formasi Campang terdiri dari batulempung, serpih, klastika
gampingan, tuf dan breksi konglomeratan polimik. Ketidakselarasan antara
Formasi Sabu dan Formasi Hulusimpang mewakili episoda tektonik
regional pertengahan Oligosen Akhir yang dapat diamati di seluruh
Sumatera. Formasi Hulusimpang terdiri dari andesit-basal alkalin-kapur dan
batuan gunungapi andesit dan ditafsirkan telah terbentuk oleh proses
penunjaman di dekat tepi benua aktif.

Runtunan Kuarter, terdiri dari lava Plistosen, breksi dan tufa bersusunan
andesit-basal di Lajur Barisan, basal Sukadana celah di Lajur Palembang,
batugamping terumbu dan sedimen aluvium Holosen.
Batuan Terobosan, di daerah Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten
Lampung Timur, batuan beku pluton bersusunan alkalin-kapur tersingkap di
seluruh Lajur Barisan. Bukti-bukti radiometri dan lapangan memberikan
dugaan adanya tiga perioda utama kegiatan plutonik berumur pertengahan
Kapur Akhir, Tersier Awal dan Miosen. Terobosan Kapur merupakan yang
terluas sebarannya dan mungkin merupakan bagian dari sebagian batolit tak
beratap yang meluas sampai Lembar Kotaagung. Terobosan ini terdiri dari
pluton-pluton

Sulan,

Sekampung-Kalipanas,

Branti,

Seputih

dan

Kalimangan, dengan kisaran umur dari 113 3 sampai 86 3 juta tahun,


dan bersusunan diorit sampai granit. Walaupun semua pluton tersebut
merupakan tipe-I, ada kaitannya dengan penunjaman, berupa granitoid
busur gunungapi atau tepi benua. Sejarah pluton di daerah Lampung ini
sangat Kompleks karena beberapa batuan terobosan telah tercenangga
sedangkan lainnya tidak. Pentarikhan tertua 113-111 juta tahun, berasal dari
batuan terobosan Granodiorit Sulan yang tidak tercenangga, yang jelas
menerobos sekis malihan Way Galih Kompleks Gunungkasih. Batuan
terobosan Branti dan Seputih secara litologi adalah granodiorit-biotit yang
sangat mirip, batuan terobosan Branti berumur 86 3 juta tahun, dan tidak
tercenangga. Retas-retas granodiorit biotit tak terdaunkan yang di beberapa
tempat memotong diorit Sekampung yang terdaunkan, di lapangan

ditafsirkan sebagai fasies afanitik granodiorit Branti. Hal ini rupanya


disebabkan oleh umur nisbi isotop dan tektonikanya. Umur Granit
Kalimangan ditafsirkan sama dengan umur batuan terobosan Branti dan
Seputih. Batuan terobosan Tersier di daerah ini terdiri dari Granit Jatibaru
Eosen (?) dan berbagai batuan terobosan kecil yang ditafsirkan berumur
Miosen Tengah berdasarkan terobosannya dengan Formasi Hulusimpang.
b. Struktur Geologi
Struktur geologi regional, Sumatera yang terletak di sepanjang tepi barat
daya Paparan Sunda, pada perpanjangan Lempeng Eurasia ke daratan Asia
Tenggara merupakan bagian dari Busur Sunda. Kerak samudera yang telah
mengalasi Samudera Hindia dan sebagian Lempeng India-Australia, telah
menunjam miring di sepanjang Parit Sunda di lepas pantai barat Sumatera
(Hamilton,1979). Lajur pertemuan miring ini termasuk dalam Sistem Parit
Busur Sunda yang membentang lebih dari 5.000 km dari Birma sampai
Indonesia bagian timur.
Letak busur dan parit yang terdapat sekarang mungkin terjadi sejak Miosen.
Tekanan yang terjadi akibat penunjaman miring tersebut secara berkala
dicerminkan oleh sesar-sesar yang sejajar dengan tepi lempeng dan
dibuktikan di dalam Sistem Sesar Sumatera yang membentang sepanjang
pulau dan merentas Busur Barisan. Sehubungan dengan busur magma
tersebut, dari barat ke timur, Sumatera dapat dibagi menjadi empat mandala
tektonik (Andi Mangga S.,dkk 1994), yaitu : Lajur Akrasi atau Mentawai,

Lajur Busur Muka atau Lajur Bengkulu, Lajur Busur Magma atau Lajur
Barisan dan Lajur Busur Belakang atau Lajur Jambi-Palembang.
c. Mineralisasi
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa secara regional, geologi daerah
Lampung pada umumnya dikuasai oleh persesaran dan batuan beku yang
berhubungan dengan lajur penunjaman; khususnya, batuan gunungapi
andesit Tersier dan sejumlah besar granitoid alkalin-kapur. Oleh sebab itu,
secara geologi daerah ini sangat prospektif untuk pemineralan emas
epitermal dan yang berhubungan dengan terobosan batuan beku
(Andi Mangga S., dkk., 1994).
Emas dan perak di dalam urat-urat kuarsa pada batuan vulkanik berumur
Oligo-Miosen di Lembar Tanjungkarang dianggap sebagai pemineralan tipe
epitermal, dengan ciri khas struktur vuggy, banding dan crustiform dengan
mineral-mineral mangan, spalerit dan kalkopirit dalam Formasi Tarahan
(Crow M.J.,1994).
Apolo Gold (2002) telah melakukan eksplorasi di daerah Napal Umbar
Picung (60 km baratdaya Bandar Lampung). Kegiatan eksplorasi mencakup
pembuatan 50 paritan uji dan 34 shaft. Pemercontoan yang telah dilakukan
menghasilkan kandungan rata-rata 19.78 g/t Au dan 1.096 g/t Ag.
Sedikit pemineralan sulfida, pirit dan kalkopirit, terdapat di dalam batuan
gunungapi Hulusimpang. Zwierzycki (1932) juga melaporkan terdapatnya
sulfida Cu-Pb-Zn bersama urat-urat kuarsa di daerah Bukit Dandar di pantai

barat Teluk Lampung. Lebih jauh Zwierzycki juga melaporkan adanya


sulfida Pb-Zn di dalam urat kuarsa yang terdapat pada sekis malihan
Kompleks Gunungkasih di S. Bekarang di sebelah utara Pluton Sulan.
Endapan besi pejal yang terdiri dari magnetit dan hematit ditemukan di
bagian tengah Lembar Tanjungkarang, terpusat di Pematang Burhan dan
Pematang Kawat di sekitar kampung Lematang. Kemungkinan bijih besi
tersebut terbentuk sebagai endapan berlapis kasar di dalam batuan malihan
Kompleks Gunungkasih. Pengaruh terobosan dasit Ranggal di dekatnya,
tidak diketahui apakah terobosan tersebut membawa sejumlah besar pirit
dan diduga merupakan sumber urat kuarsa yang mengandung emas tersebut
di atas. Jadi jelas, terobosan tersebut merupakan sumber cairan panas yang
mengandung mineral. Cairan itu telah melarutkan besi dari dalam
runtunan batuan malihan dan mengendapkannya kembali sebagai "iron hats"
di tempat lain dalam runtunan tersebut.
C. Profil PT. MITRA INTI MARGA
PT. MITRA INTIMARGA merupakan pemasok untuk Laboratorium dan
Lembaga Penelitian di INDONESIA. pengetahuan tentang produk kami,
pengalaman dan keahlian dari personel menyediakan campuran Geofisika, Teknik
Elektro dan Latar Belakang Ilmiah dirancang untuk memenuhi tantangan Anda
Laboratorium, Batubara & Pertambangan Eksplorasi, dan juga seismik dalamjahitan. Berkat Kemitraan dengan beberapa nomor Produsen dikembangkan di
daerah Mineral Deposit Ilmu Teknik dan Geologi untuk memenuhi kebutuhan
peneliti, Profesional, Akademik dan Pemerintah Masyarakat. Penekanan kami

10

adalah untuk memahami produk-produk kami dalam aplikasi Anda dan


memberikan respon yang cepat dan akurat dengan di "1A" TERBAIK HARGA
dan KUALITAS TERBAIK. Seperti semua produk kami, komponen dan sistem
rinci di sini telah dipilih untuk memberikan kinerja yang sangat tinggi dan
kehandalan dengan nilai luar biasa untuk uang.
Ketika berhadapan dengan PT. MITRA INTIMARGA Anda akan menerima saran
dan informasi dari Engineers keahlian teknis yang terlatih untuk menangani untuk
instalasi dan layanan purna jual yang memungkinkan Anda untuk membuat
keputusan melalui kita, cepat dan mudah.

11

III. TEORI DASAR

A. Gelombang Seismik
Gelombang seismik adalah gelombang elastik yang merambat dalam bumi. Bumi
sebagai medium gelombang terdiri dari beberapa lapisan batuan yang antar satu
lapisan dengan lapisan lainnya mempunyai sifat fisis yang berbeda. Ketidakkontinuan sifat medium ini menyebabkan gelombang seismik yang merambatkan
sebagian energinya dan akan dipantulkan serta sebagian energi lainnya akan
diteruskan ke medium di bawahnya (Telford dkk, 1976). Suatu sumber energi
dapat menimbulkan bermacammacam gelombang, masingmasing merambat
dengan cara yang berbeda. Gelombang seismik dapat dibedakan menjadi dua tipe
yaitu:
1. Gelombang badan (body waves) yang terdiri dari gelombang longitudinal
(gelombang P) dan gelombang transversal (gelombang S). Gelombang ini
merambat ke seluruh lapisan bumi.
2. Gelombang permukaan (surface waves) yang terdiri dari gelombang Love,
gelombang Raleygh dan gelombang Stoneley. Gelombang ini hanya
merambat pada beberapa lapisan bumi, sehingga pada survei seismik
refleksi (survei seismik dalam) gelombang ini tidak digunakan.

B. Seismik Refraksi

12

Metode seismik dikategorikan ke dalam dua bagian yaitu seismik refraksi


(seismik bias) dan seismik refleksi (seismik pantul). Dalam penulisan ini metode
yang dibahas hanya sebatas metode seismik refraksi. Dalam metode seismik
refraksi, yang diukur adalah waktu tempuh dari gelombang dari sumber menuju
geophone. Dari bentuk kurva waktu tempuh terhadap jarak, dapat ditafsirkan
kondisi batuan di daerah penelitian.
Keterbatasan metode ini adalah tidak dapat dipergunakan pada daerah dengan
kondisi geologi yang terlalu kompleks. Metode ini telah dipergunakan untuk
mendeteksi perlapisan dangkal dan hasilnya cukup memuaskan. Menurut
Sismanto (1999), asumsi dasar yang harus dipenuhi untuk penelitian perlapisan
dangkal adalah:
1. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan setiap lapisan menjalarkan
gelombang seismik dengan kecepatan yang berbeda-beda.
2. Semakin bertambah kedalamannya, batuan lapisan akan semakin kompak.
3. Panjang gelombang seismik lebih kecil daripada ketebalan lapisan bumi.
4. Perambatan gelombang seismik dapat dipandang sebagai sinar, sehingga
mematuhi hukum hukum dasar lintasan sinar.
5. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik merambat dengan
kecepatan pada lapisan dibawahnya.
6. Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.
Masalah utama dalam pekerjaan geofisika adalah membuat atau melakukan
interpretasi hasil dari survei menjadi data bawah permukaan yang akurat.
Data-data waktu dan jarak dari kurva travel time diterjemahkan menjadi suatu
penampang geofisika, dan akhirnya dijadikan menjadi penampang geologi. Secara
umum metode interpretasi seismik refraksi dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok utama, yaitu intercept time, delay time method dan wave front method

13

(Taib, 1984). Metode interpretasi yang paling mendasar dalam analisis data
seismik refraksi adalah intercept time (Tjetjep, 1995).

Gambar 3.1 Kurva travel time pada dua lapis sederhana dengan bidang batas parallel

Waktu rambat gelombang bias pada gambar (2.1) dapat diperoleh dengan
persamaan:
T=

AB+CD BC
+
V1
V2

dengan T adalah waktu yang ditempuh gelombang seismik dari titik tembak (A)
sampai ke geophone (D), AB adalah jarak dari titk A ke titik B, CD merupakan
jarak dari titik C ke titik D, BC adalah jarak dari titik B ke titik C, V1 adalah
kecepatan gelombang pada lapisan 1 dan V2 adalah kecepatan gelombang pada
lapisan 2. Dari persamaan (1) dapat diperoleh persamaan:
T=

2 z1
x2 z 1 tan
+
V 1 cos
V2

T =2 z 1

1
sin
x

+
V 1 cos V 2 cos V 2

14

T =2 z 1

V 2V 1 sin
x
+
V 1 V 2 cos
V2

C. Metode Intercept Time


Metode Intercept Time adalah metode T-X (waktu terhadap jarak) yang
merupakan metode yang paling sederhana dan hasilnya cukup kasar, seperti yang
digambarkan pada gambar (2.1) (Sismanto, 1999).

Gambar 3.2 Sistem dua lapis sederhana dengan bidang batas parallel (Sismanto,1999).

dengan Z1 adalah kedalaman pada lapisan 1, adalah sudut antara garis


gelombang datang dengan garis normal serta dapat diartikan sudut antara garis
gelombang bias dengan garis normal dan variabel x adalah jarak antara titik
tembak (A) dengan geophone (D). Berdasarkan hukum Snellius bahwa pada sudut
kritis berlaku sin = V1/V2, sehingga persamaan di atas dapat dituliskan menjadi
persamaan:

T =2 z 1 V 1

1
sin
sin
x
+
V 1 V 2 cos
V2

15

T =2 z 1 V 1

1sin
x
+
V 1 V 2 sin .cos V 2
2

2 z 1 cos
x
T=
+
V 2 sin . cos V 2
T=

2 z 1 cos x
+
V1
V2

Bila x = 0 maka akan diperoleh T1 (x = 0) dan nilai tersebut dapat dibaca pada
kurva waktu terhadap jarak yang disebut sebagai intercept time. Kecepatan
gelombang lapisan pertama dapat dihitung langsung, sedangkan untuk kecepatan
gelombang lapisan kedua diperoleh dari slope gelombang bias pertama.
Kedalaman lapisan pertama ditentukan dengan menuliskan persamaan diatas
menjadi persamaan
z 1=

Ti V 1
2 cos

dengan T1 disebut dengan intercept time. Apabila = sin-1(V1/V2), maka


V1
V2
sin1

2 cos
T iV 1
T=

Jika cos =( ( V 22V 21) 2 )/ V 2 , maka dapat pula dituliskan sebagai persamaan
z 1=

T i V 1V 2
2 V 22V 21

Dengan menggunakan data waktu terhadap jarak pada gambar (2.3), dapat
dihitung kedalaman atau ketebalan lapisan pertama melalui persamaan

16

z 1=

T i2 V 1

2 cos sin 1

V1
V2

1
2

Gambar 3.3 Kurva travel time pada sistem banyak lapis dengan V1 adalah kecepatan
gelombang pada lapisan pertama dan V2 adalah kecepatan gelombang
pada lapisan kedua (Sismanto,1999).

dengan Ti2 merupakan intercept time pada gelombang bias yang pertama.
Penambahan suku terakhir adalah apabila sumber gelombang seismik ditanam
kedalam lapisan pertama. Apabila sumber gelombangnya ada di permukaan maka
suku terakhir ini bernilai nol. Untuk ketebalan lapisan kedua akan didapatkan
suatu persamaan

[ ]
{

(
(

cos sin

T i 3 T i 2

z 2=

cos sin1

2 cos sin

V1
V2

V1
V3
V1
V2

)
)

V2

17

dengan Ti3 adalah intercept time pada gelombang bias yang kedua maka dapat
diperoleh suatu ketebalan lapisan bawah permukaan yang dapat dilihat pada
gambar (2.4) (Sismanto,1999).

Gambar 3.4 Skema sistem banyak lapis, dengan V1 adalah kecepatan gelombang pada
lapisan pertama, V2 adalah kecepatan gelombang pada lapisan kedua, V3
adalah kecepatan gelombang pada lapisan ketiga, z1 adalah kedalaman
pada lapisan pertama, dan z2 adalah kedalaman pada lapisan kedua
(Sismanto, 1999).

18

IV. METODE AKUISISI SEISMIK

A. Waktu Dan Tempat Penelitian


Percobaan akuisisi data seismik refraksi ini dilakukan pada hari senin 21 Juni
2010 di lapangan bola Universitas Lampung.
B. Alat Akuisisi Seismik
Alat yang digunakan dalam akuisisi data seismik refraksi ini adalah satu set
Seismograph Model 16S24-P dari P.A.S.I yang dibawa oleh PT. Mitra Inti Marga.

19

Gambar 4.1 Seismograph Model 16S24-P

Gambar 4.2 satu set Seismograph lengkap dengan geophone dan hammer

C. Prosedur Akuisisi Data Seismik Refraksi

20

Metode penelitian yang digunakan adalah metode seismik refraksi untuk


menghitung kecepatan rambat gelombang seismik dan kedalaman masingmasing
lapisan yang diturunkan dari kurva travel time sehingga akan didapatkan model
struktur bawah permukaan.

Gambar 4.3 model rangkaian geophone untuk akuisisi seismik refraksi

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam akuisisi data seismik refraksi


dengan alat dari P.A.S.I adalah sebagai berikut:
1. Merangkai alat yaitu membentangkan kabel untuk memasang geophone
sesuai dengan panjang lintasan yang akan diakuisisi.
2. Memasang geophone pada kabel di tiap-tiap titik yang telah ditentukan
misalnya pada percobaan ini menggunakan jarak 2 m.
3. Pada Seismograph Model 16S24-P yang digunakan dapat dipasangkan 24
geophone dengan membagi sisi kiri 12 geophone dan sisi kanan 12 geophone.

4. Setelah

semua

geophone

terpasang

membentuk

satu

line

lurus

membentang di kiri dan di kanan, saatnya memasang kabel source untuk


geophone source yang diletakkan berjarak 1 meter dari source.
5. Source yang digunakan adalah hammer dan bantalan besi yang diletakkan
sesuai dengan keinginan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari
geophone.

21

6. Menyalakan seismograph dengan menekan tombol power kemudian


memeriksa apakah semua geophone telah terkoneksi atau belum.
7. Melakukan setting untuk mengoptimalkan geophone saat menerima
getaran.
8. Setelah semua siap barulah dilakukan take 1 atau pengambilan data
pertama dengan menekan tombol start scan lalu hammer dipukulkan.
9. Tunggu sampai lampu indikator berhenti berkedip kemudian tekan save
data untuk menyimpan data tersebut. Dapat pula dilihat langsung bentuk
amplitude yang didapatkan.
10. Ulangi lagi langkah tersebut beberapa kali sesuai dengan kebutuhan dan
juga mengubah-ubah posisi source.
Dengan demikian akuisisi seismik refraksi untuk satu line selesai dilakukan dan
dapat dilakukan lagi pada line berikutnya sesuai dengan kebutuhan.

22

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Akuisisi
Setelah melakukan akuisisi akan didapatkan data seperti dibawah ini:

23

Gambar 5.1 Contoh hasil akuisisi seismik refraksi dari seismograph

Ini merupakan contoh hasil akuisisi seismik refraksi dari seismograph P.A.S.I.
pada percobaan yang telah dilakukan data asli tidak dapat ditampilkan di sini
karena data tersebut belum diberikan oleh pihak PT. Mitra Inti Marga sehingga
hanya gambar contoh ini yang dapat ditampilkan.
B. Pembahasan
P.A.S.I. seismograf Mod. 16S24-N tidak hanya ditandai dengan desain yang
inovatif dan perangkat lunak akuisisi yang sepenuhnya baru. Dengan
kemungkinan untuk diterapkan dengan sistem pencitraan listrik 16G, dapat juga,
dikombinasikan dalam instrumen yang sama, dua sistem yang kuat dan
sophysticated (untuk analisis lingkungan rinci) itu benar-benar menjadi solusi

24

handal untuk aplikasi bidang geofisika. Berkat layar sentuh LCD yang besar 10.6
dapat dihasilkan gambar dengan cepat dan lengkap dalam waktu yang sama.
Dengan menggunakan alat P.A.S.I. seismograf Mod. 16S24-N dapat dilakukan
beberapa penggunaan yaitu:
1.
2.
3.
4.

Geologi stratigrafi pada kedalaman kecil dan menengah


Kedalaman dan penentuan geometri batuan dasar
Penentuan profil Vs30 untuk regulasi antiseismik baru
Investigasi detil pada tanah longsor untuk rekonstruksi permukaan yang

bergeser
5. Investigasi awal untuk mewujudkan karya-karya penting (Kereta api,
jalan, saluran pipa minyak)
6. Evaluasi untuk lapisan kerikil, pasir dan deposit tanah liat.
7. Eksplorasi mineral
Untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dari hasil akuisisi seismik refraksi
maka dapat dilakukan pengolahan data dengan menggunakan perangkat lunak
yang menyertai alat seismograph tersebut yaitu WinSis. Berikut adalah contoh
hasil pengolahan data tersebut:

25

Gambar 5.2 hasil pengolahan data seismik refraksi dengan alat P.A.S.I

26

VI. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan akuisisi seismik refraksi tersebut maka dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode geofisika untuk
mengetahui penampang struktur bawah permukaan, merupakan salah satu
metode untuk memberikan tambahan informasi yang diharapkan dapat
menunjang penelitian lainnya.
2. Gelombang seismik adalah gelombang elastik yang merambat dalam
bumi.
3. Metode Intercept Time adalah metode T-X (waktu terhadap jarak) yang
merupakan metode yang paling sederhana dan hasilnya cukup kasar.
4. Alat yang digunakan dalam akuisisi data seismik refraksi ini adalah satu
set Seismograph Model 16S24-P dari P.A.S.I yang dibawa oleh PT. Mitra
Inti Marga.
5. Dengan menggunakan alat P.A.S.I. seismograf Mod. 16S24-N dapat
dilakukan Investigasi detil pada tanah longsor untuk rekonstruksi
permukaan yang bergeser.

27

DAFTAR PUSTAKA

Andi Mangga, S.,Amiruddin, Suwarti T., Gafoer S. dan Sidarto, 1994, Geologi
Lembar Tanjungkarang, Sumatera, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
Bandung.
Raharjo, S.A., 2002, Analisis Kecepatan Perambatan Gelombang Bias pada
Medium dan Faktor Kualitas Medium di Lereng Barat Gunung Merapi,
Yogyakarta, Skripsi S-1 Universitas Gajah Mada.
Sismanto, 1999, Eksplorasi dengan Menggunakan Seismik Refraksi, Yogyakarta :
Gajah Mada University Press.
Telford, M.W., Geldart, L.P., Sheriff, R.E, Keys,D.A., 1976, Applied Geophysics,
New York, Cambridge University Press.
Tjetjep, 1995, Model Simulasi Struktur Multi Lapisan dari Data Seismik Refraksi
dengan Menggunakan Metode Time Plus Minus, Bandung, Skripsi S-1 Geofisika
Institut Teknologi Bandung.
http://www.lampungprov.go.id/index.php?link=dtl&id=1212

28

AKUISISI DATA SEISMIK REFRAKSI DENGAN


MENGGUNAKAN SEISMOGRAPH 16S24-P DARI P.A.S.I
( Laporan Workshop Geofisika )

Oleh

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMPUNG
2010