Sistem Proteksi Kebakaran Gedung
Sistem Proteksi Kebakaran Gedung
Fire Fighting adalah merupakan suatu system proteksi gedung terhadap bahaya kebakaran yang
metode proteksinya menggunakan berbagai macam media, adapun Fire Fighting yang akan
dibahas pada makalah ini adalah proteksi dengan menggunakan media air yang ditekan ke pipa
instalasi hydrant dan sprinkler dengan menggunakan pompa hydrant. Dimulai dari ground tank
dan rumah pompa sampai dengan ke titik sprinkler, landing valve Indoor Hydrant Box, dan
Hydrant Pilar Kawasan.
Pengadaan, pemasangan dan penyetelan keseluruhan System Penanggulangan Kebakaran
sedemikian rupa sehingga semua peralaatan dan kelengkapannya dapat berfungsi secara efektif
sesuai dengan standard memadamkan api.
Pengadaan dan Pemasangan
Peralatan Utama System Fire Hydrant meliputi :
Melengkapi pompa dengan priming water tank dan fuel tank lengkap dengan system
pemipaannya.
Pemipaan dan Perangkat Operasionalnya (Valve, Flow Switch, dan perlengkapan lainnya).
STANDARD / REFERENSI
PERDA
: Peraturan Daerah
NFPA
PUIL
Pada Instalasi Sprinkler sebelum menuju ke mainline lantai juga biasanya terpasang Pressure
Reducing Valve, yang dimaksudkan untuk menurunkan tekanan yang tinggi menjadi tekanan
kerja, (batas maksimum kemampuan head sprinkler menahan tekanan).
Agar dapat mengoperasikan system dengan benar maka operator sangat dianjurkan untuk
mengikuti langkah-langkah berikut :
Pengoperasian Pompa Kebakaran dianjurkan dilakukan secara Otomatis.
Fungsi Jockey Pump adalah untuk menjaga tekanan air didalam sistim instalasi tetap stabil,
sehingga apabila terjadi sedikit kebocoran pada pompa, valve dan perlengkapan lainnya dalam
instalasi, maka Jockey Pump akan mengembalikan pada tekanan yang di tentukan.
Mengingat fungsi dari jockey pump sebagai pen-stabil tekanan dalam instalasi, maka sangat
dianjurkan agar pengoperasiannya diatur secara otomatis.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
Fungsi Electric Pump adalah untuk memompa air dari Fire Tank ke seluruh instalasi hydrant
sprinkler jika terjadi kebakaran. Pompa electric harus dioperasikan secara otomatis.
Cara kerja Electric Pump adalah sebagai berikut :
Fungsi Diesel Pump adalah untuk memompa air dari dari Fire Tank ke seluruh instalasi hydrant
dan sprinkler jika terjadi kebakaran dan terjadi pemadaman listrik yang mengakibatkan electric
pump tidak dapat difungsikan. Pompa disesel harus dioperasikan secara otomatis.
Cara kerja diesel pump adalah sebagai berikut :
Pengoperasian Pompa Kebakaran secara Manual.
Sistim Pompa kebakaran dianjurkan agar dioperasikan secara otomatis, sedangkan pengoperasian
secara manual sebaiknya hanya dilakukan pada saat darurat saja (emergency) atau pada saat
system AUTO tidak berfungsi sehingga tidak dapat menghidupkan pompa.
Cara mengoperasikan dengan cara manual adalah dengan cara menekan tombol push button
MANUAL atau tombol ON pada panel control baik untuk electric pump, diesel pump maupun
Jockey pump.
Untuk menjaga supaya setelah pompa pemadam kebakaran jalan, pompa dapat berjalan terus
menerus melayani hydrant pada pipa tekan dibuatkan pipa bypass yang dilengkapi dengan relief
valve, sehingga bila tekanan air dalam pipa mendekati 11 Kg/Cm2 relief valve akan terbuka (air
dari relief valve akan dikembalikan ke pipa hisap atau tanki bawah) dan pompa pemadam
kebakaran tidak akan mati atau berhenti bekerja.
Pressure Relief Valve distel terbuka pada tekanan air 10.5 Kg/Cm2.
Pressure Tank digunakan dalam instalasi hydrant pump dimaksudkan untuk mejaga kestabilan
tekanan dari pompa hydrant, juga berfungsi untuk membuang udara yang terjebak dalam
instalasi hydrant pump.
Alarm gong terdiri dari Valve dengan accessories pipa kapiler dan bell yang akan berfungsi
dengan bantuan tekanan air yang mengalir dalam instalasi hydrant sprinkler.
Alarm gong lazim dipasang diruang pompa, biasanya pada riser (untuk type vertical). Bila ada
yang terbuka dari dari system instalasi baik hydrant (landing valve yang dibuka) ataupun
sprinkler yang pecah yang mengakibatkan terjadinya aliran pada pipa kapiler dari alarm tersebut
yang lalu menggerakan bell dengan tenaga mekanis.
Perawatan
Untuk menjaga peralatan dan instalasi yang terpasang agar selalu dalam keadaan baik dan
berfungsi, maka harus diadakan pemeriksaan dan perawatan secara periodic sesuai dengan
peraturan.
Pemeriksaaan Secara Berkala/Periodik.
Perawatan pertiga bulan
Pada dasarnya perawatan pertigabulan ini sama dengan perawatan bulanan , hanya perlu
ditekankan untuk melakukan pengetesan, yaitu :
Hal yang perlu dilakukan tiap tahun adalah memeriksa sistim instalasi secara menyeluruh dengan
jalan sebagai berikut :
Fungsikan secara MANUAL/AUTO untuk membuang air yang ada pada jaringan instalasi
sambil pompa tetap hidup, buka melalui Pillar Hydrant, Hydrant Box, dan Drain pada masingmasing flow switch di tiap-tiap gedung.
Hal ini bertujuan untuk :
Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus diambil dan dilakukan secara berurutan apablia
ditemui masalah dalam system :
Motor tidak dapat dihidupkan, hal ini dapat disebabkan oleh :
Apabila sumber listrik sudah normal, motor distarter kembali, tetapi trip mendadak [thermal
overload tripping]
Hal ini dapat disebabkab oleh :
Pompa berputar berlawanan arah jarum jam pada saat dimatikan.
Hal ini dapat disebabkan oleh;
Kapasitas pompa tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan oleh;
Pompa hidup, tetapi tidak ada air yang keluar. Hal ini dapat disebabkan oleh;
1.
Wet Riser System : Seluruh instalasi pipa sprinkler berisikan air bertekanan dengan tekanan air selalu
dijaga pada tekanan yang relatif tetap
2.
Dry Riser System : Seluruh instalasi pipa sprinkler tidak berisikan air bertekanan, peralatan penyedia air
akan mengalirkan air secara otomatis jika instalasi fire alarm memerintahkannya.
Apabila tekanan didalam pipa menurun, maka secara otomatis Jockey pump akan bekerja untuk
menstabilkan tekanan air didalam pipa.
Jika tekanan terus menurun (misal glass bulb pada kepala sprinkler pecah) maka pompa kebakaran utama
akan bekerja dan otomatis pompa jockey berhenti.
Apabila pompa kebakaran utama gagal bekerja setelah 10 detik, kemudian pompa cadangan Diesel secara
otomatis akan bekerja.
Jika kedua pompa tersebut gagal bekerja, alarm akan segera berbunyi dengan nada yang berbeda dengan
bunyi alarm sistim, untuk memberi tahukan kepada operator akan adanya gangguan.
Sistim bekerja pompa Fire Hydrant adalah Start otomatis dan Mati secara Manual.
Pada saat pompa kebakaran utama bekerja, wet alarm valve akan terbuka dan segera membunyikan alarm
gong. Aliran didalam pipa cabang akan memberi indikasi pada flow switch yang terpasang pada setiap cabang
& dikirim ke panel fire alarm untuk membunyikan alarm pada lantai bersangkutan.
Fire Fighting System atau yang jika di Indonesiakan kurang lebih sistem
pemadam kebakaran adalah suatu sistem yang di set untuk menanggulangi
bahaya kebakaran. Fire fighting System tidak selalu identik dengan suatu
instansi yang memiliki peralatan lengkap,tetapi pada umumnya fire fighting terdiri
dari beberapa bagian yang saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.
Pada system pemadam umumnya terdiri atas bagian suplai,pendorong,instalasi
dan head. Masing-masing bagian akan di bagi lagi menjadi beberapa bagian
atau unit agar dapat bersinergi dalam upaya antisipasi kebakaran.
Fungsi utama Fire fighting system sebenarnya adalah memcegah hilangnya
nyawa,dan atau timbulnya kerusakan barang atau harta yang di sebabkan oleh
api. Seseorang yang bertugas menangani system ini haruslah mempunyai
Ada dua jenis utama alat pemadam kebakaran : yaitu bertekanan di dalam dan
dioperasikan oleh cartridge. Dalam unit bertekanan di dalam, gas penyembur
disimpan pada ruang yang sama dengan bahan pemadam kebakaran tersebut.
Tergantung pada bahan yang digunakan, jika berbeda maka bahan pendorong
yang digunakan juga berbeda. Pada alat pemadam berisi bahan kimia kering,
umumnya digunakan nitrogen; alat pemadam air dan busa biasanya
menggunakan udara. Alat pemadam api bertekanan di dalam adalah jenis yang
paling umum. Sedangkan jenis Alat pemadam yang dioperasikan Cartridge gas
penyembur berisi dalam cartridge yang terpisah yang harus ditekan lebih dulu
sebelum mengalir keluar, mendorong bahan pemadam.
Jenis ini tidak seperti biasa, digunakan terutama untuk fasilitas industri, di mana
memerlukan penggunaan dengan kemampuan yang lebih tinggi dari yang biasa.
serta memiliki keuntungan karena lebih sederhana sehingga memungkinkan
pemakai untuk cepat melaksanakan pemadaman, hingga mampu
mengendalikan api dalam kurun waktu yang cepat. Tidak seperti jenis
bertekanan di dalam yang menggunakan nitrogen, alat pemadam ini
menggunakan pendorong karbon dioksida bukan nitrogen, meskipun model
cartridge nitrogen juga kadang digunakan pada temperatur rendah.
Alat Pemadam api selanjutnya terbagi lagi menjadi pemadam genggam portable
yang juga disebut alat pemadam genggam dengan berat antara 0,5-14 kilogram
(1 sampai 30 pon), karena mudah dibawa dengan tangan. berikutnya adalah Alat
pemadam api beroda biasanya memiliki berat badan 23 + kilogram (50 + pound).
Model beroda ini yang paling sering ditemukan di lokasi bangunan, bandar
udara, heliports, Serta Dok dan pelabuhan.
Pada umumnya gedung bertingkat tinggi menggunakan sistem wet riser, seluruh
pipa sprinkler berisikan air bertekanan, dengan tekanan air selalu dijaga pada tekanan
yang relatif tetap.
Apabila tekanan dalam pompa menurun, maka secara otomatis jockey pump akan
bekerja untuk menstabilkan tekanan air didalam pipa. Jika tekanan terus menurun atau
ada glass bulb head sprinkler yang pecah maka pompa elektrik akan bekerja dan
secara otomatis pompa jockey akan berhenti. Dan apabila pompa elektrik gagal bekerja
setelah 10 detik, maka pompa cadangan diesel secara otomatis akan bekerja.
2. Fire Fighting Sistem Hydran
Sistem ini menggunakan instalasi hydran sebagai alat utama pemadam kebakaran,
yang terdiri dari box hydran dan accesories, pilar hydran dan siemese. Box Hydran dan
accesories instalasinya (selang (hose), nozzle) (atau disebut juga dengan Fire House
cabinet (FHC)) biasanya ditempatkan dalam gedung, sebagai antisipasi jika sistem
sprinkler dan sistem fire extinguisher kewalahan mengatasi kebakaran di dalam
gedung. Sedang Pilar hydran (yang dilengkapi juga dengan box hydran disampingnya,
untuk menyimpan selang (hose) dan nozzle) biasanya ditempatkan di area luar (jalan)
disekitar gedung, digunakan jika sistem kebakaran di dalam gedung tidak memadai lagi.
Dan Siemese berfungsi untuk mengisi air ground tank (sumber air hydran) tidak
memadai lagi atau habis. Siemese ditempatkan di dekat di dekat jalan utama. Hal ini
untuk memudahkan dalam pengisian air.
System Hydran ini juga terdiri dari 2 system, yaitu:
a. wet riser system: Seluruh instalasi pipa hydran berisikan air bertekanan dengan tekanan
yang selalu dijaga pada tekanan yang relatif tetap.
b. Dry Riser System: seluruh instalasi pipa hydran tidak berisikan air bertekanan, peralatan
penyedia air akan secara otomatis jika katup selang kebakaran di buka.
Seperti halnya sistem sprinkler, jika ada tekanan dalam pipa instalasi menurun,
maka pompa jockey akan bekerja. Dan jika instalasi hydran dibuka maka secara
otomatis pompa elektrik akan bekerja, dan jockey pump secara otomatis akan berhenti.
Dan jika pompa elektrik gagal bekerja secara otomatis, maka pompa diesel akan
bekerja.
4.
Fire extinguisher atau lebih dikenal dengan nama APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
merupakan alat pemadam api yang pemakaiannya dilakukan secara manual dan
langsung diarahka pada posisi dimana api berada.
Apar biasanya ditempatkan di tempat-tempat strategis yang dissuaikan dengan
peraturan Dinas Pemadam Kebakaran.
Terdapat beberapa jenis Apar yang digunakan, yaitu:
Apar Type A: Murtipupuse Dry Chemical Powder 3,5 Kg
Apar Type B: Gas Co2 6,8 kg
Apar type C : Gas Co2 10 kg
Apar type D : Multipupuse Dry Chemical Powder 25 kg (dilengkapi dengan Trolley)
Fire Fighting Sistem Gas
Sistem fire gas biasanya digunakan untuk ruangan tertentu, seperti: ruang Genset,
ruang panel dan ruangan eletronik (ruang central komputer: ruang hub dan server, IT,
Comunication dan lain-lain).
Sistem iyang digunakan biasanya sistem fire gas terpusat, dimana tabung-tabung
gas (foam, halon, FM 100, Co2 dan lain-lain), ditempatkan secara terpusat dan
pendistribusiannya ke dalam ruangan dilewatkan melalui motorized valve / actuator,
instalasi pemipaan dan nozzle.
Cara kerja sistem ini berdasarkan perintah dari system fire alarm.
Proteksi kebakaran (fire protection) adalah merupakan aspek paling utama dalam
program perlindungan kebakaran. Perencanaan yang baik dalam aktifitas pencegahan
kebakaran akan dapat menyelamatkan miliaran rupiah dan juga nyawa manusia akibat
kebaran. Salah satu penyebab utama terjadinya kebakaran pada berbagai industri
adalah tindakan tidak aman atau kondisi lingkungan yang kurang baik. Dengan
memperbaiki tindakan tidak aman (unsafe act) dan kondisi lingkungan kerja maka
penyebab terjadinya kebakaran dapat dikurangi.
Program proteksi kebakaran membutuhkan investasi baik personel kebakaran,
peralatan kebakaran, waktu dan biaya-biaya lain yang cukup besar bagi perusahaan,
namun hal ini dapat dijustifikasi dengan menperlihatkan bukti-bukti kerugian yang
diakibatkan oleh kebakaran. Investasi yang ditanamkan untuk program pencegahan
kebakaran sangatlah jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kerugian yang dapat
terjadi akibat kebakaran.
Program pencegahan kebakaran dapat kelompokkan menjadi tiga kategori utama yaitu;
1.
Program engineering; yaitu program yang meliputi perencanaan bangunan yang
yang aman dari kebakaran dan perencanaan proses yang aman dari kebakaran,
misalnya instalasi fire detection system (aktif) dan instalasi fire protection system
(pasif).
2.
Program edukasi; yaitu program untuk meningkatkan kesadaran pekerja
terhadap kebakaran, yaitu dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan tentang
kebakaran, identifikasi penyebab kebakaran, bahaya kebakaran, pencegahan
kebakaran dan evakuasi jika terjadi kebakaran.
3.
Pogram Penegakkan Sistem; program penegakkan sistem adalah program untuk
memastikan bahwa semua sistem pencegahan kebakaran sesuai atau comply dengan
fire code atau regulasi yang ada. Maka harus dilakukan inspeksi terhadap semua
fasilitas pencegahan kebakaran secara berkala.
Program engineering memegang peranan yang sangat penting dalam pencegahan
kebakaran. Tanpa didasari oleh prinsip teknis yang baik, program edukasi dan
penegakkan sistem tidak akan bisa bisa optimal dalam mencegah terjadinya kebakaran.
Prinsip engineering dalam pencegahan kebakaran yang harus diperhatikan adalah
disain dan konstruksi bangunan, bahan bangunan, pemasangan sistem perlindungan
kebakaran, pasokan air untuk pemadam, disain dan rencana pengembangan bagunan,
sistem pemadam dan jaringan pasokkan air pemadam. Masukan dari inspektor
kebakaran atau ahli kebakaran akan sangat berharga bagi insinyur perancang
bangunan karena mereka memilki pengetahuan yang baik tentang fire code dan
regulasi tentang kebakaran. Maka didalam merancang suatu bangunan dan proses,
hendaklah melibatkan ahli kebakaran sehingga sistem pencegahan kebakaran dapat
didisain sesuai dengan standar baku nasional atau internasional. Misalnya seberapa
banyak titik fire detection, sprinkle dan fire extiguisher yang diperlukan dalam suatu
area bangunan atau proses, dan dimana saja titik penempatannya yang paling tepat
sesuai standar kebakaran atau fire code.
Hal lain yang sangat penting dalam program pencegahan kebakaran adalah
pemahaman terhadap fire code atau standar baku kebakaran. Personel pencegah
kebakaran harus mengetahui dan memahami fire code dan regulasi yang harus
diterapkan untuk jenis industri mereka. Fire code dan regulasi yang harus dipahami
misalnya adalah NFPA, OSHA, regulasi pemerintah, kebijakan perusahaan,
perusahaan asuransi yang digunakan dan fire code atau regulasi yang spesifik
terhadap proses atau bahan kimia tertentu.
Industri yang menggunakan teknologi moderen memasukkan sistem pencegahan
kebakaran sebagai bagian dari sistem keselamatan secara keseluruhan. Namun jika
sistem pencegahan kebakaran tidak merupakan bagian dari teknologi yang diggunakan
seperti industri moderen, maka komite keselamatan kebakaran harus dibentuk untuk
membantu pengembangan dan penerapan program pencegahan kebakaran, seperti
identifikasi bahaya kebakaran, inspeksi proses tertentu, perencanaan kegiatan
pencegahan kebakaran, melakukan pelatihan bagi pekerja, melakukan komunikasi
program pencegahan kebakaran kepada pekerja dan komunitas disekitar pabrik atau
perusahaan.
Penegakan sistem adalah merupakan program penting lainnya dalam mencegah terjadi
kebakaran. Untuk menjamin bahwa sistem kebakaran yang sudah dibuat berjalan dan
alat-alat pemadam selalu dalam kondisi baik maka perlu dilakukan inspeksi secara
rutin. Setiap temuan dalam inspeksi sistem kebakaran harus dilaporkan kepada pihak
manajemen untuk difollow up agar tidak terjadi kebakaran.
3. Kebakaran yang berasal dari adanya gas-gas yang mudah terbakar misalnya LPG atau Liquefied
Petroleum Gas (Kelas C)
4. Kebakaran yang berasal dari bahan-bahan logam yang mudah terbakar misalnya magnesium
dan alumunium (Kelas D)
5. Kebakaran yang berasal dari berbagai macam material yang memiliki atau berhubungan dengan
tegangan tinggi (Kelas E)
a. Detection
Untuk mengetahui lokasi terjadinya kebakaran maka digunakan fire detector yang hampir selalu
ada pada tiap-tiap ruangan di kapal. Apabila suatu kebakaran dapat dideteksi dengan cepat maka akan
lebih mudah untuk dikendalikan serta dipadamkan tanpa menimbulkan kerugian yang besar atau
berbahaya bagi kapal. Jadi fungsi utama dari fire detector adalah untuk mengetahui atau mendeteksi
adanya kebakaran yang terdapat di dalam kapal secepat mungkin agar kebakaran yang muncul lebih
mudah ditanggulangi.
Cara kerja fire detector secara umum yaitu apabila terdapat asap, percikan api serta berubahnya
temperatur sekitar menjadi panas maka alarm fire detector akan berbunyi dan hal tersebut akan membuat
ABK tahu dimana letak terjadinya kebakaran.
Tiga hal yang membuat alarm dari fire detector berbunyi yaitu :
1. Asap (Smoke detector)
2. Percikan api yang sangat banyak (Flame detector)
i.
Smoke detector
Pendeteksi asap atau yang biasa disebut Smoke detector terdiri dari dua bilik ionisasi yaitu satu
bilik terbuka untuk atmosfer atau udara bebas masuk dan satu bilik tertutup. Satu bilik terbuka digunakan
sebagai tempat masuknya atau pendeteksi awal adanya asap yang berasal dari api atau kebakaran.
Sedangkan satu bilik tertutup digunakan sebagai tempat penghubung atau pemberi sinyal agar alarm
detector berbunyi sebagai tanda adanya asap atau kebakaran. Smoke detector biasanya digunakan di
ruang mesin, ruang akomodasi, dan ruang kargo.
ii.
Flame detector
Pendeteksi nyala api atau yang biasa disebut Flame detector memiliki sifat yang berlawanan
dengan Smoke detector. Flame detector biasanya digunakan untuk menjaga serta mencegah terjadinya
bahaya akibat adanya percikan api. Flame detector menangkap sinar ultraviolet dan infrared yang berasal
dari adanya percikan api yang ada di sekitarnya. Flame detector biasanya terdapat pada ruang peralatan
kendali bahan bakar yang terdapat di kamar mesin.
iii.
Heat detector
Pendeteksi panas atau yang biasa disebut Heat detector dapat digunakan pada sejumlah bagianbagian penting yang berhubungan dengan bagian pengoperasian kapal. Detector yang paling banyak
digunakan untuk saat ini adalah Detector untuk pengaturan temperatur naik atau rata-rata dari kenaikan
temperatur pada suatu waktu. Jadi, apabila di lingkungan sekitar terjadi kenaikan temperatur yang
melebihi batas yang telah ditentukan, maka alarm dari detector tersebut akan berbunyi. Heat detector
biasanya terdapat pada dapur dan tempat pengeringan dimana detector tipe lainnya akan kurang tepat
bila diletakkan di tempat-tempat tersebut.
b. Alarm
Sistem alarm berhubungan dengan fire detector yang terhubung dengan sirkuit-sirkuit elektrik
yang dapat membunyikan bel yang terdapat pada alarm hanya dengan menggunakan sinyal elektrik. Bel
ini akan berbunyi di kamar mesin apabila terdapat sumber api atau terjadi kebakaran disana. Kebakaran
yang terdapat di ruangan lain akan menyebabkan bel di sekitar anjungan kapal akan berbunyi. Adanya
alarm akan mempermudah ABK pada kapal untuk melakukan sesuatu untuk menanggulangi adanya
kebakaran tersebut.
Gambar 1. Alarm
c. Control
Ada dua peralatan dasar yang tersedia di kapal untuk mengontrol atau menanggulangi
kebakaran yaitu Small portable extinguishers dan Large fixed installations. Small portable extinguishers
merupakan tabung pemadam kebakaran yang berukuran kecil, yang dapat dibawa kemana-mana serta
mampu memadamkan api secara cepat dan tepat. Sedangkan Large fixed installations digunakan ketika
Small portable extinguishers tidak dapat mengatasi kebakaran yang terjadi, dengan kata lain Large fixed
installations digunakan untuk memadamkan kebakaran yang sangat parah atau sangat berbahaya. Ada
berbagai macam portable dan fixed fire fighting yang akan dibahas selanjutnya.
Portable extinguishers
Ada empat macam portable extinguishers yang biasanya digunakan di kapal yaitu Soda-acid
(Asam-soda), foam (busa), dry powder (bubuk kering), dan carbon dioxide extinguishers (gas karbon
dioksida.)
b.
i.
Foam extinguishers-chemical
Isi dari pemadam kebakaran jenis ini adalah campuran dari cairan sodium bikarbonat dan
alumunium sulfat. Tabung yang berada paling dalam diselimuti oleh penutup atau cap yang terhubung
dengan pipa penghisap. Ketika pipa penghisap terbuka, maka cap tersebut akan lepas. Kemudian alat ini
akan mencampurkan dua macam cairan yang ada didalamnya. Gas karbon dioksida dihasilkan oleh
reaksi yang berasal dari tekanan tinggi dari tabung dan akan mendesak busa keluar dari tabung.
ii.
Foam extinguishers-mechanical
Di bagian terluar dari tabung ini berisi air. Pada tabung sentral terdapat gas karbon dioksida dan
cairan busa. Mekanisme pendesak atau pendorong terdapat diatas tabung pusat. Ketika diberi tekanan
yang tinggi, karbon dioksida dikeluarkan dan cairan busa akan tercampur dengan air. Kemudian
keduanya akan ditekan keluar melewati nozzle khusus. Pemadam jenis ini memiliki pipa internal dan
dioperasikan di bagian atas. Alat ini banyak ditempatkan di sekitar tempat-tempat yang mengandung atau
terdapat cairan-cairan yang mudah terbakar.
c.
d.
Fixed Installations
Ada beberapa perbedaan antara fixed fire fighting installation dan portable extinguishers, diantaranya
adalah desain pengkhususan untuk beberapa tipe kapal. Pembagian instalasi pemadam kebakaran akan
dibahas pada sub bab di bawah ini.
a.
Fire main
Sistem pemasukan air laut ke dalam pipa pemadam kebakaran ditempatkan pada setiap kapal.
Beberapa pompa pada kamar mesin akan disusun atau ditata untuk membantu memasukan air ke dalam
sistem tersebut Mulai dari jumlahnya, kapasitas yang diperbolehkan, semuanya diatur oleh badan
perundang-undangan (Department of Transport for UK registered vessels). Pompa darurat yang
digunakan untuk memadamkan api juga ditempatkan di kamar mesin. Pada tiap sistem pengeluaran
pemadam kebakaran terdapat katup-katup yang terisolasi yang berada disekeliling kapal dan pipa air
dengan tepat akan mengunci penghubung yang ditempatkan berdekatan dengan nozzle. Hampir di
seluruh area kerja diatas kapal sedemikian hingga tertutup dan pasokan air laut dapat dibawa untuk
digunakan sebagai pemadaman api pada tiap titik di bagian kapal.
Nozzle jet atau spray akan disetel untuk menyediakan penyemprot air yang dapat digunakan untuk
melawan api serta mendinginkannya tanpa harus disemprotkan.
b.
c.
Foam systems
Sistem penyemprot busa atau biasa disebut Foam spreading systems dibuat agar cocok dengan
sistem kebutuhan yang ada di kapal dengan memperhatikan jumlah busa yang dibutuhkan, area yang
harus dicakup, dll. Mechanical foam atau busa mekanik merupakan semacam zat kimia yang terbentuk
dengan cara mencampurkan busa yang terbuat dari cairan dalam jumlah yang besar. Pencampuran yang
terjadi di udara akan menimbulkan gelembung-gelembung udara yang akan berbentuk busa nantinya.
Pada sistem ini, pencampuran air dan busa yang dilakukan dalam ruangan atau tempat tertutup yang
kemudian busa hasil pencampuran dengan air tadi akan disalurkan ke tabung pemadam kebakaran agar
bisa digunakan. Tangki penampung busa dilindungi oleh penutup agar isi didalamnya terlindung dari
keadaan lingkungan luar yang buruk. Untuk mengoperasikan sistem ini yaitu dengan membuka dua katup
yang saling terhubung dan pompa pemadam akan hidup. Pencampuran busa ini diukur dengan baik oleh
automatic inductor unit. Pompa pemadam dan tangki penampung tadi harus terletak diluar dari ruangan
yang terlindungi atau tercover tadi.
d.
digunakan untuk saluran dari udara tadi. Apabila asap masuk kedalam ruangan yang terdapat saluran
udara tadi, maka alarm akan mati.
Lokasi kebakaran dapat diketahui di anjungan kapal dan katup ruang distribusi yang dioperasikan
pada bagian anjungan kapal. Katup ini akan mematikan pipa udara dari anjungan dan membuka karbon
dioksida yang dijalankan oleh suatu sistem yang menggunakan baterai.
Sistem pada kamar mesin dibuat agar dapat memberhentikan sumber daya pada sistem yang ada.
Sebelum gas dibuang, ruangan harus dalam keadaan kosong dari ABK dan tidak diisi oleh udara (kedap
udara). Katup penutup di tempatkan pada penutup udara di tiap ruangan.
PENDAHULUAN
Fire Fighting adalah merupakan suatu system proteksi gedung terhadap
bahaya kebakaran yang metode proteksinya menggunakan berbagai macam media, adapun
Fire Fighting yang akan dibahas pada makalah ini adalah proteksi dengan menggunakan
media air yang ditekan ke pipa instalasi hydrant dan sprinkler dengan menggunakan pompa
hydrant. Dimulai dari ground tank dan rumah pompa sampai dengan ke titik sprinkler,
landing valve Indoor Hydrant Box, dan Hydrant Pilar Kawasan.
Pengadaan, pemasangan dan penyetelan keseluruhan System Penanggulangan
Kebakaran sedemikian rupa sehingga semua peralaatan dan kelengkapannya dapat berfungsi
secara efektif sesuai dengan standard memadamkan api.
istem pengindera api atau yang umum dikenal dengan fire alarm system adalah suatu sistem
terintegrasi yang didesain dan dibangun untuk mendeteksi adanya gejala kebakaran, untuk
kemudian memberi peringatan (warning) dalam sistem evakuasi dan ditindak lanjuti secara
otomatis maupun manual dengan sistem instalasi pemadam kebakaran ( fire fighting System ).
Di lapangan, dikenal 3 sistem pendeteksian dan pengendalian, yaitu :
1. Non addressable system.
Sistem ini disebut juga dengan conventional sistem. Pada sistem ini MCFA menerima sinyal
masukan langsung dari semua detektor (biasanya jumlahnya sangat terbatas) tanpa pengalamatan
dan langsung memerintahkan komponen keluaran untuk merespon masukan tersebut. Sistem ini
umumnya digunakan pada bangunan / area supervisi berskala kecil, seperti perumahan,
pertokoan atau pada ruangan-ruangan tertentu pada suatu bangunan yang diamankan.
2. Semi addressable system
Pada sistem ini dilakukan pengelompokan / zoning pada detektor & alat penerima masukan
berdasarkan area pengawasan (supervisory area). Masing-masing zona ini dikendalikan ( baik
input maupun output ) oleh zone controller yang mempunyai alamat / address yang spesifik.
Pada saat detektor atau alat penerima masukan lainnya memberikan sinyal, maka MCFA akan
meresponnya (I/O) berdasarkan zone controller yang mengumpankannya.
Dalam konstruksinya tiap zona dapat terdiri dari :
a. satu lantai dalam sebuah bangunan / gedung.
b. beberapa ruangan yang berdekatan pada satu lantai di sebuah bangunan / gedung.
c. beberapa ruangan yang mempunyai karakteristik tai di sebuah bangunan / gedung.
Pada display MCFA akan terbaca alamat zona yang terjadi gejala kebakaran, sehingga dengan
demikian tindakan yang harus diambil dapat dilokalisir hanya pada zona tersebut.
3. Full addressable system.
Merupakan pengembangan dari sistem semi addressable. Pada sistem ini semua detector dan alat
pemberi masukan mempunyai alamat yang spesifik, sehingga proses pemadaman dan evakuasi
dapat dilakukan langsung pada titik yang diperkirakan mengalami kebakaran.
Untuk komponen utama sistem fire alarm terdiri dari :
1. MCFA ( Main Control Fire Alarm )
MCFA merupakan peralatan utama dari sistem protection. MCFA berfungsi menerima sinyal
masuk (input signal) dari detector dan komponen proteksi lainnya (fixed heat detector, smoke
detector, ROR heat detector, dll).
2. Alat Pendeteksi.
Alat pendeteksi atau detector adalah alat yang berfungsi sebagai alat penerima masukan yang
bekerja secara otomatis. Jenis detector kebakaran ini terbagi menjadi 4 macam yaitu:
Fire fighting system atau biasa di kenal dengan sistem pemadam kebakaran adalah suatu sistem
yang di sediakan dalam suatu bangunan untuk menanggulangi bahaya kebakaran. Sistem
pamadam kebakaran pada gedung bertingkat tinggi adalah wajib hukumnya untuk di sediakan.
Mengingat dalam suatu gedung bertingkat akan timbul keterbatasan tindakan yang dapat di
lakukan penghuni untuk menyelamatkan diri saat terjadi kebakaran. Selain itu proses
penyelamatan para penghuni pun juga akan sulit di lakukan oleh dinas pemadam kebakaran di
sebabkan tingginya lokasi.
Selain kedua hal di atas, sistem pemadam kebakaran pada gedung bertingkat tinggi wajib
ada mengingat efek dari kebakaran yang dapat melemahkan struktur gedung jika kebakaran tidak
segera di atasi.
Sistem pemadam kebakaran (Fire Fighting System) gedung bertingkat tinggi di bagi menjadi
beberapa system yang berdiri sendiri namun saling terkait satu dengan lainnya. Di sini saya akan
membagi sistem pemadam kebakaran pada gedung bertingkat tinggi menjadi 3 system utama
yaitu:
1. Fire Hydrant System
2. Fire Sprinkler System, dan
3. Fire Alarm System
Pada gedung bertingkat tinggi, ke tiga system tersebut harus ada dan memenuhi syarat yang di
berlakukan oleh pemda. Ke tiga sistem utama dalam fire fighting tersebut, di katakan berdiri
sendiri sebab dari masing-masing system di dukung oleh unit-unit yang di atur sedemikian rupa
hingga mampu bekerja sama dalam menanggulangi atau pada saat terjadinya kebakaran.
Lebih jauh tentang unit-unit dari ke tiga system di atas akan saya share pada artikel mendatang.
Sebab terlalu panjang kiranya jika harus saya tulis di halaman ini. Pada artikel ini saya khusus
membahas tentang Fire Fighting System gedung bertingkat tinggi sebagai pembuka.
Selanjutnya di sini sekilas saya akan menulis tentang ketiga sistem pemadam kebakaran pada
gedung bertingkat tinggi, mulai dari
Fire Hydrant system atau pemadam sistem hydrant adalah suatu sistem pemadam kebakaran
yang di operasikan secara manual oleh tenaga manusia dengan menggunakan media air sebagai
alat pemadam api. Prinsip kerja dari sistem hydrant pada gedung bertingkat tinggi adalah ketika
hydrant valve pada box hydrant di buka maka pompa akan mengalirkan air ke seluruh instalasi
pipa hydrant dalam gedung menuju ke titik valve terbuka. Selengkapnya akan saya share di
artikel lain.
Fire Sprinkler System atau pemadam sistem sprinkler adalah suatu sistem pemadam kebakaran
yang dapat bekerja secara otomatis berdasarkan berbedaan suhu. 'Fire sprinkler system' di bagi
lagi menjadi 2 system berdasarkan kesiapan air dalam pipa istalasi, yaitu Wet Riser Sprinkler
System dan Dry Riser Sprinkler System. Karena fire sprinkler ini sangat kompleks, maka akan
saya tulis pada artikel yang lain. Berlanjut ke
Dari namanya tentu semua sudah tau, fire alarm system adalah suatu sistem pendukung
pemadam kebakaran gedung bertingkat tinggi. Sistem ini lebih kompleks lagi di banding dengan
fire Sprinkler system. Fire alarm system akan berkaitan dengan sistem keamanan gedung,
elevator, intake fan, exhaust fan, detektor asap, detektor panas dan lain sebagainya yang
tergabung dalam 'General Fire', Bahkan fire alarm system canggih dapat langsung berhubungan
dengan sudin damkar. Fire alarm system juga bertindak sebagai ujung tombak seluruh system
yang ada pada gedung bertingkat tinggi saat terjadi kebakaran.
Selain ke tiga system di atas, masih terdapat sistem pemadam kebakaran gedung bertingkat
tinggi yang lain yaitu:
Sebenarnya bukan merupakan suatu sistem, tetapi lebih tepat bila di sebut alat pemadam api
ringan. Kenapa saya sebut dengan sistem, hanya untuk mempermudah pengelompokan dari
berbagai jenis pemadam kebakaran yang ada dan karena alat-alat pemadam kebakaran tersebut
berdiri sendiri tanpa ada kaitan langsung dengan ketiga system yang saya sebutkan di atas.
Juga sesuai dengan namanya, portable fire extinguisher adalah suatu alat pemadam api yang
dapat di pindah dengan cepat dan flexible di gunakan di segala medan sesuai peruntukannya. Di
negara kita Indonesia portable fire extingusher lebih di kenal dengan sebutan APAR. Apar ini
sebenarnya singkatan bro.. Pengen tau? APAR itu singkatan dari Alat Pemadam Api Ringan.
Jadi inget cerita seru. Singkatnya di suatu kopdar dengan teman-teman. Terjadi obrolan seru
mengenai headline news tentang kebakaran. Satu teman begitu antusias memberi pemahaman
tentang cara penanggulangan kebakaran. Seperti biasa saya cuma pendengar setia, di sela-sela
canda saya iseng bertanya jika yang terbakar adalah genset atau panel listrik harus menggunakan
apa? Jawabannya adalah APAR. Saya pun menyahut Ooo... begitu, APARnya jenis apa? *pasang
muka bego* Jawabannya malah membuat saya kebingungan, "APAR ya APAR, pokoknya kalo
nemu kebakaran ambil aja APAR, semprotin ke api" *Nah loh?! pengen senyum sih tapi takut
menyinggung. Akhirnya saya yang diam hee...
Dari situ saya dapat 'meraba' bahwa ternyata masih banyak masyarakat yang belum paham
tentang apa itu APAR. Bagaimana teknik menggunakan APAR. Apa saja jenis APAR dan untuk
apa kegunaanya. Pada hal sudah saatnya kita sadar diri tentang bahaya dan cara penanggulangan
kebakaran. Paling tidak kita mampu mengoperasikan APAR dengan benar, aman dan tepat
sasaran.
Sebutan APAR masih sangatlah umum, sebab alat pemadam api ringan (APAR) memiliki
beberapa jenis sesuai dengan fungsinya. Ada APAR jenis Dry Chemical Powder, Jenis CO2
(Carbon Dioxide), jenis Aqueous Film Forming Foam (Foam AFFF) atau biasa di kenal foam
saja, ada APAR jenis Hallon dan sebagainya.
Jadi jangan salah tafsir dengan pemahaman bahwa APAR itu hanya jenis Dry Chemical Powder
saja. Memang pada dasarnya jenis powder adalah alat pemadam api yang multifungsi. Tapi ya
liat dulu titik kebakarannya apa dan di mana. Panel listrik kebakar di sikat pake foam bisa jadi
bukannya mati malah mledug. BBM kebakar di sikat pake powder, di sikat sini?! sono nyala. Di
sikat sono?! di sini nyala lagi. BBM kan ngalir! Uber-uberan donk?!
So.. pakailah alat pemadam api ringan yang sesuai dengan type kebakarannya. *Ribet mas!* yo
uwis, kalo ada kebakaran ya jangan bingung harus padamin pake apa. heee..
Sprinkler bekerja dengan menggunakan sistem pendeteksi panas, sehingga prinsipnya hampir
sama dengan heat detector. Pada saat head sprinkler pecah, air dalam pipa akan mengalir dan
mengaktifkan switch pada instalasi flow switch. Sprinkler merupakan mechanical accecories dan
biasanya digunakan untuk instalasi fire fighting. Sprinkler berfungsi sebagai media pemadaman
kebakaran secara otomatis apabila sprinkler terkena api / suhu mencapai 68 derajad celcius.
Warna merah di tabung kaca adalah air raksa yang akan memuai dan memecahkan tabung kaca
bila terkena panas. Dengan pecahnya sprinkler, air dalam pipa akan mengalir dan mengaktifkan
switch dalam instalasi flow switch untuk kemudian sinyal switch akan diteruskan ke rangkaian
microcontroller ataupun interface modul untuk diproses sebagai sinyal kebakaran. Bagaimana
microcontroller atau interface ini bekerja akan dibahas pada bagian lain.
Sebuah perangkat flow switch merupakan kombinasi switch dan sebuah penggerak mekanik
berupa flapper dimana air dalam pipa berfungsi sebagai penggerak flapper. Dengan prinsip
penggerak mekanik,sebuah tuas penggerak mekanik akan menarik switch sebagai fungsi on dan
off flow switch. Agar switch elektrik ini bekerja dengan baik maka sebuah kombinasi mekanik
antara penggunaan spring ( per mekanik ) dan sebuah membran akan memaksimalkan fungsi
switch secara otomatis sehingga sinyal on off akan terjadi.
Karena Flow Switch bekerja berdasarkan sistem aliran air atau tekanan pada pipa dan kemudian
akan aktif sebagai sinyal on off ke fire alarm, maka pemasangan flow switch ini tidak bisa
terbalik. Mengingat bahwa switch hanya akan aktif apabila rangkaian mekanis berupa tuas
mekanis akan terdorong oleh tekanan / gerakan air dalam pipa dengan arah aliran air yang benar.
Sistem Fire Alarm juga harus dilengkapi dengan sebuah valve positioner yang bekerja secara
otomatis, dimana sebuah motor DC 24 Volt dipakai sebagai penggerak ( actuator ) yang akan
mengatur posisi valve. Valve akan bekerja sesuai instruksi setelah flow switch aktif dan
membuka aliran air sedemikian sehingga proses pemadaman [Link] digerakkan melalui
tombol manual dan otomatis dengan menggunakan sebuah tombol atau microcontroller.
Kerusakan pada bagian ini bisa saja diperbaiki dengan cara modifikasi panel atau melalui
microcontroller. Beberapa kejadian dilapangan menunjukkan beberapa valve positioner ini
digerakkan dengan cara manual melalui handle mekanis untuk membuka dan menutup. Padahal
sebenarnya hal ini tidaklah dibenarkan.
Bagaimana jika instalasi dan kontrol flow switch tidak lagi berfungsi dengan baik ? apa yang
harus dilakukan saat sprinkler pecah dan MCFA tidak merespon terjadinya kebocoran pipa ?
Instalasi flow switch terhubung dengan panel utama dan memberikan sinyal aktif saat switch
aktif sehingga alarm aktif. Beberapa flow switch dilapangan kadang tidak bekerja dengan baik
karena kabel putus atau kerusakan mekanis. Sulitnya medan jalur kabel dan pengaruh usia
sehingga jalur kabel sulit untuk dilacak menambah rumitnya perbaikan sistem alarm pada bagian
ini. Meskipun dengan alat pendeteksi kabel bisa diperbaiki namun tidak semudah yang
dilakukan jika jalur kabel sudah sulit dilacak. Bagaimana langkah solusinya ?
Beberapa gedung memang tidak masalah dengan ini. Namun kadang cukup sulit atasi soal kabel
dengan jumlah banyak. Untuk kejadian ini kita bisa melakukan dengan cara atau sistem wireless.
Dimana tidak lagi diperlukan kabel seperti biasanya yang menghubungkan flow switch dengan
panel MCFA. Sistem wireless yang dimaksud adalah dengan menambahkan modul
microcontroller berikut pemancar gelombang baik internet atau gelombang radio yang
menghubungkan flow switch dan mcfa. Dengan solusi ini maka kerusakan sistem akibat kabel
putus tidak lagi menjadi masalah.
Beberapa kerusakan pada instalasi flow switch ataupun pada modul lain sebenarnya bisa
diperbaiki secara bertahap dengan menggunakan rangkaian microcontroller.
Sistem integrator merupakan terobosan yang sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
automation pembuat perangkat kontrol untuk mendapatkan produk dengan integrasi dengan
produk kontrol dari perusahaan lain. Dengan sistem ini, maka berbagai modifikasi perangkat
yang berlainan akan semakin banyak diminati.
Sistem fire alarm berbasis komputer juga telah banyak dilakukan, mengingat bahwa tuntutan
kemudahan dalam operasi dan kesederhanan menjadi pilihan. Sistem dengan komputer
mempunyai keunggulan secara real time baik dalam operasi, data logger, event dan alarm secara
lebih baik dibanding dengan sistem konvensional. Demikian juga kebutuhan sistem integrasi fire
alarm dengan sistem kontrol dalam gedung ( building automation system ) atau industri telah
menjadikan sistem berbasis komputer menjadi pilihan yang menarik.
1.
2.
3.
Ketiga faktor tersebut sering disebut segi tiga api. Dengan memindahkan
satu atau dua faktor dari ketiganya, maka bahaya kebakaran dapat
dihindari. Kebakaran dapat diklasifikasikan menurut type material yang
bereaksi sebagai bahan bakar. Klasifikasi yang dipakai adalah sebagai
berikut :
- Kelas A ; api membakar kayu, fibreglass dan alat-alat furniture
- Kelas B ; api membakar minyak pelumas dan bahan bakar
- Kelas C ; api membakar bahan bakar gas seperti LPG
- Kelas D ; api membakar logam yang mudah terbakar seperti Mg & Al
- Kelas E ; api membakar benda yang disebutkan diatas dengan tegangan
listrik yang tinggi
I. SISTEM GAS INERT
I . 1. Pendahuluan
- Bagian dalam dari peralatan ini terbuat dari material yang tahan korosi
- Effisiensi srubber dalam kondisi normal tidak boleh kurang dari 97 %
- Scrubber harus ditempatkan diatas garis air muatan penuh sehingga
lubang pengering dari peralatan tersebut tidak terganggu saat kapal penuh
muatan.
- Scrubber harus dilengkapi dengan bukaan dan jendela pengamat dari kaca
pada dindingnya untuk pemeliharaan dan pengamatan
II.4 BLOWER
Blower digunakan untuk mengalirkan gas yang keluar dari scrubber menuju
ruang muatan . Menurut SOLAS sedikitnya harus dua blower dengan
kapasitas 125 % dari volume discharge kapal tersebut. Dalam prakteknya
sering diusahakan agar masing masing berbeda kapasitasnya yang satu
besar dan yang lainnya kecil
Blower kapasitas kecil digunakan untuk toppeing sewaktu kapal ditengah
laut, dengan adanya dua blower maka apabila salah satu sedang dalam
perawatan yang lainnya masih berfungsi. Casing dan impeler dari blower
harus dari material yang tahan karat apabila kedua blower ter sebut berbeda
kapasitasnya maka karakteristik tegangan atau volume dan diameter pipa
pemasukan / pengeluaran harus disesuaikan sehingga blower dapat
dioperasikan secara paralel dan dapat mencegah terjadinya motor berhenti.
III PENGOPERASIAN INSTALASI GAS INERT
Pada umumnya perinsip dasar pengoperasian instalasi gas inert adalah :
- Start pengoperasian gas inert
- Penutupan instalasi gas inert
- Pemeriksaan alat alat keamanan terutama instalasi sedang tertutup
(pasok gas inert sedang berhenti)
III.1 PROSEDUR START ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
- Harus dicek apakah ketel ataupun generator telah memproduksi flue gas
dengan kandungan oksigen 5 % ( untuk kapal-kapal lama kandungan
oksigen tidak melebihi 8 % )
- Harus tersedia daya yang dapat mengoprasikan alat kontrol , alarm, dan
peralatan untuk mematikan gas inert.
- Pompa pasok air menuju scrubber dan deckuater seal harus senantiasa
terpelihara dengan baik.
- Pengoprasian peralatan untuk menghentikan pasok air ke scrubber dan
deckuarter seal harus menjalani uji petik.
- Katup pemasukan udara bersih harus diperiksa dan berada pada posisi
menutup dengan baik.
- Tutup semua aliran udara menuju ke seal dan isolating valve.
- Buka flue gas isolating vaive
- Buka katup saluran masuk dari salah satu blower yang dipakai untuk
mengisi gas sedangkan saluran masuk dan keluar dari blowert lainnya harus
dalam keadaan tertutup. Apabila blower akan dioprasikan secara bersamaan
maka kedua saluran harus dibuka.
- Jalankan blower.
- Test peralatan alarm blwer.
- Buka katub untuk resirkulasi agar aliran gas tetap stebil.
- Buka katup pengatur regulating valve flue gas.
- Periksa kandungan oksigen harus kurang dari 5 % dan 8% untuk kapal
lama. Apabila harga tersebut dapat tercapai tutup saluran ventilasi ke
atmosfer.
- Sistem siap menyalurkan gas inert kedalam tanki muatan.
III 2. PROSEDUR PENUTUPAN
- Apabila atmosfer tang telah diperiksa dimana kandungan oksigen berada
tidak lebih
- Dari 8 % dan persyaratan tekanan yang dipersyaratkan telah tercapai
segera tutup deck isolating valve non return valve.
- Buka ventilasi menuju udara luar (atmosfir) antara katup pengatur tekanan
gas dan deck isolating valve / non return valve
- Tutup katup pengaturan tekanan gas
- Matikan Blower
- Tutup katup pemasukan / pengeluaran dari blower, Periksa cerat drams
apakah telah nampak jelas, buka saluran pencuci Blower sementara blower
tersebut masih berputar pada saat motor penggerak telah dimatikan apabila
waktunya telah dianggap cukup saluran air pencuci ditutup kembali
- Tutup katup isolating valve flue gas dan buka sistem seal yang
berhubungan dengan idara luar
- Air didalam scrubber tower dijaga agar sesuai dengan petunjuk pabrik
pembuat
- Harus tetap dijaga pasok air menuju deck water seal tetap mencukupi dan
alaram harus senantiasa terjaga dapat berfungsi dengan baik.
SISTIM PEMADAM KEBAKARAN CO2
Sistim pemadam kebakaran untuk perlindungan tambahan
Co2 disimpan dalam tabung penyimpanan dalam bentuk cair
Keuntungan sistim CO2 dibanding gas lain :
Uap didapat dari ketel utama untuk kapal dengan penggerak uap atau
dari ketel uap bantu pada kapal penggerak motor
Sistim ini memakai manifold tipe utama dan pipa cabang serta keran
pengontrol