Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

DISTANCE MEASURING EQUIPMENT

DISUSUN OLEH :
YOEL REDYVI HARYANTO TAKAYA
112/D.III/TNU.V/13

D.III TELEKOMUNIKASI DAN NAVIGASI UDARA ANGATAN V

AKADEMI TEKNIK DAN KESELAMATAN PENERBANGAN


MAKASSAR

2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
kasih karunia dan

Anugerahnya sehingga dapat menyelesaikan penulisan

makalah Distance Measuring Equipment (DME). Penulisan makalah ini guna


untuk memenuhi tugas dari mata kuliah RAN III dan sebagai bahan penilaian
dosen selama masa pembelajaran di semester IV.
Terselesaikannya penulisan makalah ini penulis ucapkan rasa terima
kasih yang sebesar besarnya kepada:

Tuhan Yang Maha Esa yang telah menjaga penulis sampai sekarang ini.
Kedua orang tua yang telah memberikan doa serta dukungan.
H. Thamrin, MM. selaku dosen pengajar mata kuliah RAN III.
Teman - teman D.III TNU V yang telah memberikan saran dan motivasi.
Seluruh pihak yang terkait atas terselesaikannya penulisan makalah ini
yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu namanya.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga makalah ini berguna

untuk para pembaca dan penulis mengharapkan saran serta tanggapan agar
penulisan makalah ini menjadi lebih baik ke depannya. Sekian dan terima
kasih.

Makassar,
2015

Penulis

Juni

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

..i
DAFTAR ISI.
..ii
BAB I ...

..1
PENDAHULUAN
..... 1
A. Latar Belakang ..

1
B. Tujuan

.2
BAB II

.
PEMBAHASAN

.
A. Penjelasan Umum Distance Measuring Equipment (DME)
..

B. Teori Distance Measuring Equipment (DME)

C. Type DME

D. Blok Diagram

E. Prinsip Kerja DME

.
F. Mode atau Channel DME

G. Penempatan DME

BAB III

..
PENUTUP

..
A. Kesimpulan

B. Saran

..

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dunia

penerbangan

merupakan

dunia

yang

sangat luas, yang dapat menghubungkan berbagai


daerah,

pulau,

maupun

Negara.

Dalam

dunia

penerbangan, terdapat berbagai peralatan maupun


fasilitas

yang

digunakan

untuk

menunjang

terlaksananya kegiatan transportasi udara.


Berbagai

peralatan

yang

digunakan

tersebut

memiliki peran dan fungsinya masing masing. Entah


itu pada ground station, maupun pada pesawat, dan
lain sebagainya. Oleh karena pentingnya peralatan
navigasi tersebut, maka setiap Bandar Udara harus
memiliki peralatan atau fasilitas navigasi tersebut.
Salah satu peralatan navigasi yang digunakan adalah
Distance Measuring Equipment atau DME. DME ini
merupakan

peralatan

navigasi

yang

dipasang

colocated dengan Glide Path/Glide Slope pada ILS

dan colocated dengan DVOR, untuk mengukur jarak


atau sudut miring dari sebuah interrogator atau
pesawat terbang terhadap transponder.

B.

Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu sebagai
berikut :
1. Mengenal

dan

mengetahui

prinsip

kerja

peralatan DME.
2. Sebagai bentuk pengaplikasian dan teori yang
di dapat selama perkuliahan.
3. Sebagai bahan penilaian dosen.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Penjelasan

Equipment (DME)
DME adalah
mengukur

jarak

Umum
sebuah
dari

Distance
alat

base

Measuring

navigasi

untuk

transponder

dengan

pesawat. Jarak yang di berikan adalah sudut miring


antara pesawat dan transmiter dari DME ini dan
bukan jarak sesungguhnya antara pesawat dan DME.
DME bekerja pada range frekuensi UHF 962 1213
Mhz. yang mana pancarannya tidak tergantung pada

keaadaan cuaca dan pola pancarnya secara line of


sight.
DME pada pesawat terdiri dari transmiter

dan

receiver UHF yang disebut dengan INTEROGATOR


dan DME pada ground station disebut TRANSPONDER

B.

Teori Distance Measuring Equipment (DME)


1.TRANSPONDER
Transponder berfungsi sebagai pendeteksi sinyal
pertanyaan dari interogerator. Sinyal yang diterima
kemudian dikodekan dan diproses. Hal ini dapat
dilakukan
rangkaian

dikarenakan
encoding

transponder

transponder
dan

mempunyai

decoding.

Sehingga

hanya dapat dipicu oleh pasangan

pulsa yang diterima yang mempunyai durasi dan


jeda yang sama (match) dengan frekuensi signal
interogerator.

Selanjutnya

di

pancarkan

sebagai sinyal jawaban ke interogerator.

kembali

Pengukuran jarak yang dilakukan dengan


membandingkan lama pengiriman sinyal pertanyaan
sampai menerima sinyal jawaban dilakukan sangat
singkat. Kecepatan sinyal pancaran yang dihasilkan
mendekati kecepatan cahaya ( 3.108 m/s ) , sehingga
pesawat dianggap
pertanyaan

sampai

diam sewaktu mengirim sinyal


menerima

sinyal

jawaban

Keakuratan jarak yang di hasilkan sekitar 0,2 % dari


jarak yang sesungguhnya atau berkisar lebih kurang
120 meter .
Ada beberapa

sinyal

yang

dipancarkan

oleh

transponder, yaitu;
1.Signal Identifikasi
Signal ini dipancarkan dengan kode morse tiap 30
detik.

Signal

ini

berfungsi

untuk

memberikan

informasi lokasi Bandara kepada pesawat. Pada


Bandara Polonia signal identifikasi yang dipancarkan
yaitu MDN. merupakan audio tone sebesar 1350 Hz
yang dipancarkan dalam bentuk kode morse. Jika
DME colocated DVOR maka kode identifikasinya
dikontrol dari DVOR, sedangkan jika berdiri sendiri
atau yang colocated dengan DVOR itu rusak maka
kode identifikasinya berasal dari DME itu sendiri.

10

Perbandingan Waktu pancar kode ident antara DVOR


dengan DME adalah 3 : 1.
2.Signal reply
Signal ini dipancarkan oleh transponder apabila
menerima signal interogator, dengan mode yang
sama

tetapi

frekuensi

berbeda,

berdasarkan

frekuensi kerja transponder DME tersebut. Selisih


dari frekunsi interogasi dengan frekuensi replay
sebesar 63 MHz. Lamanya waktu antara signal
interogasi dengan signal reply (delay time) sebesar
50 s.
3.Signal squitter
Pulsa ini dipancarkan setiap saat. Pulsa ini
merupakan pulsa membawa dari pulsa reply dan
akan tetap dipancarkan secara random walaupun
transpoder

tidak

menerima

Apabila

transponder

tidak

pulsa

interrogator.

menerima

pulsa

interrogator dan tidak sedang memancar pulsa Ident,


pulsa

squiter

akan

terpancar

tanpa

membawa

muatan ( ident maupun reply ). Pulsa ini diambil


kembali kemudian diberikan ke AGC ( Automtic Gain
Control ) yang berfungsi untuk mengatur power
generator pulsa squitter.
2.INTEROGERATOR

11

Interogerator merupakan sebuah pemancar radar


yang mengirimkan pasangan pulsa dan memicu
sebuah

transponder.

dikombinasikan
penjawab,

yang

dalam

Sistem
satu

menerima

ini

biasanya

unit

dengan

alat

sinyal

balasan

dari

transponder dan menghasilkan output yang sesuai.


Hal ini disebut juga dengan interrogator-transmiter.
C.

TYPE DME
Pada DME, terdiri dari 3 yaitu :

1.DME/N
Berfungsi memberikan layanan operasional yang di
butuhkan untuk enroute.
a.Akurasi Transponder
Pada pengukuran jarak dari 0 (nol) sampai 370 km
(200 NM) dari transponder, toleransi keakuratan
tidak boleh lebih besar dari 460 m (0.25 NM)
ditambah 1.25 % dari jarak pengukuran.
b. Frekuensi Pengulangan Pulsa (PRF) Interogerator
- Pesawat
Frekuensi pengulangan pulsa pada interogerator
(Pulse Repetition Frequency) rata-rata tidak akan

12

melebihi

30

pasang

pulsa/sekon.

Frekuensi

pengulangan ini dapat dimaksimalkan hingga 150


pasang pulsa/sekon. Namun bila setelah 150 pasang
pulsa/sekon telah dipancarkan, interogerator tetap
tidak memperoleh indikasi pengukuran, frekuensi
pengulangan akan menjadi

60 pasang pulsa/sekon

sampai pencarian berhasil. Namun bila setelah 30


detik masa pencarian tidak juga berhasil, maka
frekuensi pengulangan tidak akan memancarkan
lebih dari 30 pasang pulsa/sekon.
2.DME/P
Adalah dasar pengukuran jarak secara tepat

pada

MLS. DME type ini mempunyai 2 type mode:


a. final approach (FA) mode
merupakan kondisi cara
mendukung

operasi

kerja

penerbangan

DME/P

yang

pada

final

approach dan wilayah runway.


b. Initial approach (IA) mode
Kondisi dimana DME/P dapat mendukung operasi
penerbangan
DME/N.

yang

mana

berhubungan

dengan

13

3.DME/W
Mempunyai

fungsi

yang

sama

seperti

DME/N.namun ,DME/N dan DME /W mempunyai


perbedaan dalam karakteristik, dalam hal bentuk
spektrum pola pancar. Dimana pola pancar DME/W
lebih lebar dibanding DME/N.

14

D. Blok Diagram
1.Blok Diagram Transponder DME

15

2.Blok Diagram system DME

E.

Prinsip Kerja DME


Prinsip kerja DME adalah pesawat memberikan
pertanyaan berupa kode yang terdapat pada
interogator pesawat yang akan dikirimkan pada
transponder. Pertanyaan dari interogator pada

16

pesawat tersebut kemudian mentriger (memicu)


transponder untuk mengirimkan pulsa jawaban pada
pesawat dengan frekuensi yang berbeda. Pesawat
mengetahui jarak dari transponder berdasarkan
perbedaan waktu antara sinyal yang dikirim oleh
pesawat dengan sinyal yang diterima dipesawat dan
kemudian di nyatakan dalam nautical miles.
TIMING DIAGRAM

F.

Mode atau Channel DME


DME mempunyai 4 mode, yaitu mode W, mode
X, mode Y, dan mode Z. Mode adalah sebuah metode
pengkodean transmisi DME dengan jeda waktu antar
pasangan pulsa sehingga tiap-tiap frekuensi dapat
digunakan lebih dari sekali.Mode W sama dengan
mode X dan mode Y sama dengan mode Z. Sehingga

17

dapat dikatakan bahwa dalam


hanya terdapat 2 mode.

pengaplikasiannya

1.Mode (Channel) X
Pasangan pulsa terpisah 12 s.
Lebar pulsa adalah 3,5 s.
Mempunyai delay sebesar 50 s.

Spacing 12s

2.

Mode Channel Y
Pasangan pulsa terpisah sejauh 36 s untuk
interogasi dan
30 s untuk transponder.

Lebar pulsa adalah 3,5 s.

18

Mempunyai delay sebesar 56 s

Reply 30s

G.

Penempatan DME

Penempatan
DME
dapat
digabungkan
pemasangannya dengan ILS, MLS, dan VOR untuk
suatu tujuan tertentu. Ketika pesawat memilih
frekuensi VOR atau ILS suatu bandara, maka pesawat
tersebut secara otomatis juga akan mendapatkan
frekuensi dari DME.
a. DME yang colocated dengan VOR disebut DME high
power sebab power outputnya sebesar 1000 watt.
b. DME yang colocated dengan Glide Slope ILS disebut
DME low power sebab power outputnya sebesar 100
watt.
Standar Penempatan DME

Alternatif 2

19

a. Antena DME dapat ditempatkan pada tiang antena


sinyal reference VOR ataupun tower antenna Glide
Path ILS (Gambar a dan Gambar b).
Antena DME

b. Penempatan peralatan DME menjadi satu ruangan


dengan VOR atau Glide Path ILS.
c. Bilamana penempatan antena DME dibuat tiang
tersendiri, dgn ketentuannya:
1)
DME untuk VOR ditempatkan pada tepi
counterpoise peralatan VOR,(Gambar a).
2) Tiang DME untuk ILS ditempatkan pada lokasi
di samping luar antena Glide Path dengan jarak
sekitar 5m dan berada satu garis yang tegak
lurus dengan centerline runway. (Gambar b)
Kondisi lahan dan lingkungan yang telah memenuhi
persyaratan untuk penempatan VOR atau Glide Path
ILS, dapat
telah memenuhi persyaratan untuk
peralatan DME.

PENEMPATAN DISTANCE MEASURING EQUIPMENT (DME)


VERY HIGH OMNIDIRECTIONAL RANGE (VOR)

20

21

PERSYARATAN PENEMPATAN DISTANCE MEASURING EQUIPMENT


(DME) - INSTRUMENT LANDING SYSTEM (ILS-GLIDE PATH)
GAMBAR LUAS LAHAN DAN LOKASI PERLETAKAN DME-ILS GLIDE PATH Gambar 1
As
Landasan
600 m

300 m

120 m

Daerah Kritis

300 m
Daerah Sensitif

Antenna GP
30 m

45

DME
Antena

GAMBAR PERYARATAN BATAS KETINGGIAN BANGUNAN DAN BENDA Gambar 2


TUMBUH DI SEKITAR DME-ILS GLIDE PATH

Antenna
2

ngah antena ke arah pendaratan banguanan dan benda tumbuh ditentukan o

BATAS BANGUNAN DAN BENDA TUMBUH

cm.
boleh terdapat bangunan, gundukan tanah dan pepohonan yang dapat meng

E)ebesar 100 watt.0 watt. Sedangkan DME yang colocated dengan VOR

22

BAB III
PENUTUP

23

A.
KESIMPULAN
Dari
hasil
penulisan

makalah

ini

penulis

menyimpulkan bahwa :
1. DME adalah sebuah alat navigasi untuk mengukur
jarak dari base transponder dengan pesawat. Jarak
yang

di

berikan

adalah

sudut

miring

antara

pesawat dan transmiter dari DME ini dan bukan


jarak sesungguhnya antara pesawat dan DME.
2. DME bekerja pada range frekuensi UHF 962 1213
Mhz. yang mana pancarannya tidak tergantung
pada keaadaan cuaca dan pola pancarnya secara
line of sight.
3. Ada beberapa signal yang di pancarkan oleh
transponder, yaitu:
a. Signal Identifikasi
b. Signal Reply
c. Signal Squitter
4. Ada beberapa type DME, yaitu :
a. DME/N
b. DME/P
c. DME/W
5. Mode atau Channel pada DME, yaitu :
a. Mode (channel) X
Pasangan pulsa terpisah 12 s.
Lebar pulsa adalah 3,5 s.
Mempunyai delay sebesar 50 s.
b. Mode (channel) Y

24

Pasangan pulsa terpisah sejauh 36 s untuk


interogasi dan 30 s untuk transponder.
Lebar pulsa adalah 3,5 s.
Mempunyai delay sebesar 56 s.
B.
SARAN
Dari Penulisan ini, adapun saran yang di angkat yaitu
:
Agar penulisan ini lebih terperinci dan mudah di
pahami oleh pembaca.