Anda di halaman 1dari 92

ABSTRAK

Hutauruk, Denni S 2014: Pendampingan Dan Konseling Pastoral Terhadap


Kenakalan Remaja Akibat Kekerasan Dalam Keluarga Di KPAID
Kabupaten Tapanuli Utara (studi kasus: Remaja X) Tahun 2015. Skripsi
Jurusan Pastoral Konseling Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan
Negeri (STAKPN) Tarutung.
Kata Kunci: Pendampingan dan Konseling Pastoral, Kenakalan Akibat Kekerasan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana memberikan pertolongan
melalui pendampingan dan konseling pastoral kepada remaja X yang mengalami
kekerasan dalam keluarga. Pendampingan dan konseling pastoral adalah suasana
percakapan yang bersifat membangun semangat orang yang kehilangan harapan, orang
yang tidak bisa menerima kenyataan hidup, mendampingi orang yang sakit sehingga ia
mampu menjalani hidupnya dengan kekuatan dari Tuhan serta bertumbuh dalam iman
kepada Kristus, Pendampingan dan konseling pastoral dilakukan oleh para konselor yang
dapat memberi perhatian dan dukungan terhadap orang yang membutuhkan. Penulis
menggunakan metode studi kasus. Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan datadata yang berhubungan melalui percakapan konseling pastoral.
Dalam metode studi kasus ada 4 (empat) hal yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Deskripsi kasus (gambaran kasus)
2. Analisa kasus (uraian faktor-faktor yang mempengaruhi kasus)
3. Interpretasi kasus (pertimbangan atau penafsiran tentang kasus)
4. Aksi pastoral (perencanaan tindakan-tindakan pastoral untuk menempuh jalan
keluar).
Tujuan dari pendampingan dan konseling pastoral dalam penulisan karya ilmiah
ini adalah:
1. Untuk menolong konseli menyadari masalah apa yang sedang terjadi pada
dirinya.
2. Menolong konseli dalam proses pemulihan kesehatan jasmani dan spritualitas.
Hasil dari tujuan penelitian dan analisa terhadap kasus dalam tulisan ini adalah:
1. Penyebab konseli melakukan tindakan yang melanggar norma-norma
masyarakat adalah karena mengalami kekerasan dalam keluarga.
2. Remaja X telah sadar atas kelakuannya yang melanggar hukum dan mulai
berubah lebih baik.
3. Proses kesembuhan bagi konseli adalah dengan adanya pendampingan dan
konseling pastoral secara rutin dan intensif terutama pengertian dan perhatian
dari keluarga dan teman sebaya sangat membantu dalam kesembuhan bagi
konseli.
Pendampingan dan konseling pastoral yang dilakukan oleh penulis terhadap
remaja X antara lain, memahami keberadaan dirinya dengan melakukan
pendekatan terhadap keluarga remaja X. konselor memberikan motivasi dan
pengertian kepada remaja X apapun yang menjadi pergumulan yang dihadapi
dalam kehidupan ini tetap berserah kepada Tuhan dan tetap mengandalkan
Tuhan dalam kehidupan karena setiap pergumulan yang hadir dalam hidup ini
1

tidak melebihi batas kemampuannya dan Tuhan menyanggupkan kita untuk


melewatinya.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Remaja yang bermasalah di dalam masyarakat pada umumnya adalah remaja
yang berasal dari keluarga yang bermasalah. Masalah di dalam keluarga tersebut
dapat berupa relasi ayah ibu yang bermasalah dan sering mengalami konflik, perilaku
orang tua yang bermasalah seperti sering mabuk akibat minum minuman keras dan
berjudi, dan relasi orang tua-anak yang bermasalah. Masalah dalam orang tua-anak
misalnya adalah orang tua terlalu sering memarahi anak tanpa melakukan klarifikasi
pada anak, dan mudah memberikan hukuman pada anak. Bahkan dalam memberikan
hukuman ada yang bersifat fisik seperti menjewer, mencubit, memukul dengan sapu,
menyabet dengan ikat pinggang, dan memukul dengan tangan. Pemberian hukuman
fisik pada remaja tidak hanya dirasakan sebagai sakit fisik, tetapi juga dimaknai
sebagai rasa tidak sayang orang tua kepada diri remaja. Remaja mengharapkan orang
tuanya tidak mudah marah, karena dalam persepsi remaja kemarahan dan
penghukuman yang dilakukan orang tua menandakan orang tua tidak menghendaki
keberadaan mereka secara pribadi. Respon psikologis yang remaja kembangkan
adalah mereka tidak betah di rumah, dan membayangkan untuk pergi dari rumah
begitu mereka selesai sekolah.
Konflik orang tua dengan remaja pada umumnya bersifat hierarkis dan
berkenaan dengan kewajiban. Orang tua berada di posisi yang lebih tinggi yang harus

dipatuhi, dan anak dipandang memiliki kewajiban terhadap orang tua. Berbeda
dengan konflik yang dialami teman sebaya yang bersifat setara dan fakultatif.
Banyak yang beranggapan bahwa konflik orang tua-remaja disebabkan oleh
sikap remaja yang menentang orang tuanya. Penentangan remaja terhadap orang tua
sesungguhnya tidak relevan jika dipandang sebagai rendahnya atau menurunnya nilai
moral remaja. Konflik orang tua dengan remaja dalam porsi yang moderatif dalam
hubungan orang tua-remaja. Penentangan remaja terhadap orang tua pun sebenarnya
bersifat terbatas, dan tidak mencakup nilai-nilai dasar dan moralitas.
Cara pandang orang tua dan remaja terhadap konflik dan ketidaksetujuan di
antara mereka sering kali berbeda. Orang tua selalu melihat dari sudut pandang
kewenangan orang tua dan tatanan sosial. Dalam menghadapi ketidaksetujuan dengan
remaja,

orang

tua

sering

membenarkan

sudut

pandangnya

berdasarkan

kewenangannya sebagai orang tua atau peraturan sosial. Dari sudut pandang remaja,
mematuhi atau menurut pada pendapat orang tua setelah terjadinya perbedaan.
Penentangan, atau konflik tidak selalu berarti telah selesai.
Berdasarkan buku Sri Lestari (2012:112) yang mengutip pendapat EllisSchwabe dan Thornburg (1986) mengungkap 10 area yang sering menjadi konflik
antara orang tua dan remaja, yaitu pacaran, pemilihan teman, pemanfaatan waktu
luang, perilaku pribadi, sikap di sekolah, tugas pekerjaan rumah, penggunaan uang,
penggunaan telepon, cara berpakaian, dan menonton televisi. Tiga hal yang sering
menjadi konflik antara remaja dengan ayah secara berturut-turut adalah penggunaan
uang, tugas pekerjaaan rumah, dan penggunaan telepon. Adapun tiga hal yang sering
menjadi konflik antara remaja dengan ibu adalah tugas pekerjaan rumah, penggunaan
3

uang, dan cara berpakaian. Secara umum remaja perempuan dua kali lebih sering
berkonflik dengan ibu daripada anak laki-laki. Dalam hal pemilihan teman, prilaku
pribadi, tugas pekerjaan rumah, dan cara berpakaian, baik remaja laki-laki dan
perempuan sering berkonflik dengan ibu dari pada ayah. Secara umum ibu lebih
memerhatikan aspek-aspek kepribadian, sedangkan ayah lebih peduli pada persiapan
menjelang masa dewasa.
Komunitas tempat remaja berada juga mempengaruhi kenakalan remaja,
termasuk diantaranya adalah nilai-nilai yang dipercayai oleh komunitas tersebut.
Apakah komunitas tersebut menekankan pada nilai hedonisme sehingga remaja akan
melakukan apa pun untuk memuaskan dirinya ataukah komunitas tersebut
menekankan pada nilai-nilai moral seperti kejujuran dan kerja keras, tentulah semua
ini akan mempengaruhi remaja dalam mengambil suatu tindakan. Terutama, bila di
dalam komunitas tersebut terdapat banyak model yang melakukan tindakan kriminal
serta kurangnya ketegasan hukuman atas tindakan yang mereka lakukan, maka para
remaja akan menjadi lebih berani mengikuti contoh yang negatif. Contohnya, bila di
suatu komunitas tindakan pencurian dan penodongan dianggap sebagai sesuatu yang
biasa tanpa adanya sanksi hukum yang jelas, yang mungkin disebabkan karena aparat
hukum sudah merasa tidak mampu mengatasi daerah tersebut, terlebih lagi bila para
anggota komunitas juga bersifat apatis dan membiarkan saja, maka akan mudah
sekali bagi para remaja untuk meniru tindakan mencuri dan menodong untuk
mendapatkan uang dengan cepat dan mudah tanpa ada konsekuensi hukumnya. Di
lain pihak, bila dalam lingkungan atau komunitas tersebut nilai kejujuran dijunjung
tinggi dan setiap pencuri serta penodong yang tertangkap dikenai sanksi hukum serta
4

sosial dari masyarakat sekitarnya, maka para remaja akan berpikir dua kali sebelum
melakukan tindakan mencuri atau menodong.
Sekolah juga memiliki peran penting dalam menunjang terjadinya kenakalan
remaja. Kurangnya keberhasilan akademis seperti nilai akademis yang rendah dan
ketidakmampuan

untuk

menyesuaikan

diri

dengan

program

sekolah,

ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau bergaul dengan baik dengan guru,
semua ini dapat menjadi pencetus munculnya tingkah laku kenakalan remaja.
Sekolah merupakan suatu hal yang penting bagi remaja, karena di sekolah remaja
bertemu dengan teman-teman sebaya yang sedang berada pada tahap perkembangan
yang sama pada dirinya. Sekolah yang terlalu menuntut remaja untuk menjadi seperti
apa yang diharapkan sekolah tanpa memperhatikan kemampuan remaja akan
membuat remaja merasa tertekan. Begitu pula bila guru di sekolah bersikap menolak
siswa serta tidak mau memahami remaja. Seseorang yang merasa tertekan tentu akan
berusaha keluar dari tekanan tersebut dengan berbagai cara. Bagi remaja yang tidak
dapat menyesuaikan diri di sekolah, tidak dapat menyesuaikan diri dengan program
sekolah dan dengan gurunya, mungkin ia akan menjadi lebih sering membolos
sekolah, membuat ribut di kelas, dan tindakan yang lainnya. Peran guru di sekolah
merupakan sesuatu yang sangat penting. Guru yang menunjukkan kontrol diri yang
baik, penuh kehangatan, dan bersahabat dalam interaksinya di kelas akan lebih
mudah berhubungan dengan remaja. Remaja akan lebih terbuka kepada mereka. Guru
yang demikian dapat membantu remaja untuk mencapai keberhasilan akademis dan
belajar menghargai diri sendiri serta dengan demikian dapat mengurangi kenakalan
remaja.
5

Penyebab kenakalan remaja bisa digolongkan menjadi faktor sosiologis, faktor


psikologis, dan faktor biologis. Ketiga faktor ini berperan dalam menunjang atau
menghambat munculnya kenakalan remaja. Dari ketiga faktor

ini, terlihat satu

benang merah yang terentang dari satu faktor ke faktor yang lainnya. Hal ini
berkaitan dengan orang tua. Dalam faktor sosiologis, latar belakang keluarga, akan
didapati mengenai orang tua. Faktor psikologis menyorot hubungan antara remaja
dan orang tua. Sementara itu, faktor biologis menyiratkan adanya hubungan atau
pengaruh genetik yang tentu saja diperoleh dari orang tua terhadap remaja.
Berdasarkan

uraian

di

atas

kehadiran

seorang

konselor

penting

dalam

menanggulangi kenakalan remaja. Karena seorang remaja perlu seorang teman untuk
bertukar pikiran serta menjadi seorang sahabat. Untuk itu seorang konselor harus
memiliki keterampilan mendidik yang kreatif dan konseling yang dinamis, agar jeli
melihat setiap masalah yang ada di lingkungan sekitarnya. Dalam menanggulangi
kenakalan remaja ini di perlukan suatu pertolongan yang disebut konseling edukatif.
Menurut Clinebell (2002:426):
Konseling edukatif merupakan proses menolong yang mengintegrasikan
berbagai pemahaman dan metode dari dua fungsi pastoral yang tujuannya
serupa, yaitu: membantu perkembangan kebutuhan orang. Pendekatan ini
mencakup penyampaian pengetahuan, keyakinan serta nilai tertentu secara
tepat, dan keterampilan penanggulangan yang merupakan bagian terpenting
dari proses konseling. Konseling yang bersifat mendidik jauh melampaui
penyampaian informasi saja. Ia membantu orang untuk mengerti menilai dan
kemudian menerapkan informasi yang relevan untuk menanggulangi situasi
kehidupan mereka yang khusus
Dengan melakukan konseling edukatif di lingkungan sekolah maupun di
dalam masyarakat dapat mencegah terjadinya masalah di masa depan. Konseling
edukatif yang bersifat mendidik dan menyampaikan pengetahuan yang relevan,
6

mampu membaca masalah dan merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga
lebih terampil dalam menolong, karena konseling edukatif merupakan jembatan
yang menghubungkan konseling pastoral. Konseling dengan pendidikan mempunyai
tujuan yang sama, yaitu memaksimalkan pertumbuhan orang secara utuh. Konseling
merupakan metode pendidikan untuk menolong orang agar tidak lagi mempelajari
yang salah tetapi agar dia mempelajari sikap, ide, keterampilan berelasi (hubungan),
dan nilai yang kreatif. Untuk itu seorang konselor pendidikan sangat diperlukan
dalam mengatasi masalah yang terjadi di dalam lingkungan sekolah dan di
masyarakat seperti kenakalan remaja yang marak terjadi sekarang ini.
Adapun tujuan dari konseling edukatif ada tiga yaitu: 1) Menemukan fakta,
konsep, nilai, keyakinan, keterampilan, bimbingan, atau nasihat yang dibutuhkan
oleh orang dalam mengatasi masalah mereka; 2) Mengkomunikasikan hal ini secara
langsung atau membantu orang menemukannya (misalnya melalui bacaan); 3)
Menolong orang memanfaatkan informasi ini untuk mengerti situasinya, membuat
keputusan yang baik, atau menanggulangi masalahnya secara konstruktif.

Berdasarkan tujuan dari konseling edukatif di atas sangat relevan dilakukan


untuk mengetahui kebutuhan konseli seperti seorang dokter yang berkompeten
memberikan obat yang tepat untuk seorang pasien. Demikian juga seorang konselor
harus mampu menyampaikan aspek pengalaman, pemahaman dan pengetahuan yang
dimilikinya, yang berasal dari kesadarannya tentang masalah para konseli. Konselor
tidak boleh mendesak konseli untuk menerapkan pendekatan yang diberikan dalam
mengatasi konseli tetapi mendorong konseli untuk bergumul dengan bahan-bahan
7

yang disampaikan, dan membiarkan konseli mempergunakan mana yang cocok


kepada kondisinya, dan mengabaikan yang lainnya. Inti dari konseling edukatif yaitu
memberikan sumber daya bagi proses pemikiran konseli. Dengan itu konseli akan
mencari pendekatan yang konstruktif terhadap masalahnya sekarang atau
pengalaman di masa depan yang sudah mendesak.
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, kenakalan remaja banyak
diakibatkan faktor dalam keluarga. Dimana orang tua bersifat otoriter terhadap
remaja. Orang tua tidak pernah mendengarkan pendapat anak dan mengambil
keputusan hanya sepihak di mana orang tua juga sering melakukan kekerasan fisik
terhadap anak yang mengakibatkan anak menjadi tertekan batin dan juga menjadi
agresif yaitu melampiaskan emosi seperti yang dilakukan oleh orang tua. Seperti
tingkah laku remaja yang sering membuat masalah di sekolah maupun di masyarakat
seperti ribut di dalam kelas, sering cabut pada jam pelajaran berlangsung, sering
absen, melawan guru bahkan memaki, merokok di lingkungan sekolah, mencuri dan
sering berantam dengan teman-temannya. Sebagai konselor pendidikan harus
mampu melihat pada pusat permasalahan remaja karena kenakalan remaja tidak
selamanya terjadi karena memang watak remajanya, tetapi salah satunya karena
pengaruh orang tua yang terlalu keras mendidik di rumah. Orang tua yang tidak
memberikan semangat pada remaja malah sering menekan. Orang tua yang sering
melakukan kekerasan fisik membuat anak menjadi pendendam dan akan
melampiaskan amarahnya pada orang lain yang membuat remaja tersinggung.
Dari latar belakang yang penulis paparkan, maka penulis tertarik untuk
memilih judul: Pendampingan Dan Konseling Pastoral Terhadap Kenakalan
8

Remaja Akibat Kekerasan Dalam Keluarga Di KPAID Kabupaten Tapanuli Utara


(Studi Kasus Terhadap Remaja X) Tahun 2015
B. Rumusan Masalah
Dalam menangani sebuah masalah

maka masalah itu perlu dirumuskan

terlebih dahulu sehingga dapat diselesaikan lewat pendampingan dengan hasil yang
baik antara lain:
1. Apakah kenakalan remaja itu?
2. Apa saja penyebab-penyebab kenakalan remaja?
3. Perilaku apa saja yang merupakan kenakalan remaja?
4. Bagaimana model pendampingan dan konseling pastoral bagi kasus
kenakalan remaja?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pendampingan dan
Konseling Pastoral yang dilakukan konselor dalam menangani Kenakalan Remaja
Akibat Kekerasan Dalam Keluarga di KPA Tapanuli Utara Tahun 2015 antara lain:
1. Memahami pengertian kenakalan remaja
2. Mengetahui penyebab kenakalan
3. Memahami perilaku-perilaku remaja yang mengarah kepada kenakalan
4. Untuk mengetahui model pendampingan dan konseling pastoral yang tepat
untuk menanggulangi kenakalan remaja.
D. Manfaat Penelitian
9

Adapun manfaat dari penulian dan penelitian ini:


1. Secara Teoritis
Penelitian ini dilakukan dengan berpedoman pada kaidah ilmiah, sehingga hasil
penelitian ini di harapkan dapat memberikan kontribusi bagi semua yang
membaca tentang Pendampingan Dan Konseling Pastoral Terhadap Kenakalan
Remaja Akibat Kekerasan Dalam Keluarga.
2. Secara Praktis
1. Sebagai bahan masukan bagi penulis untuk menambah wawasan penulis dan
pengetahuan dalam menulis karya ilmiah.
2. Untuk menambah wawasan memahami akan pentingnya Pendampingan Dan
Konseling Pastoral Dalam Menanggulangi Kenakalan

Akibat Kekerasan

Dalam Keluarga.
3. Bagi Remaja
1. Dapat memberikan informasi mengenai Pendampingan Dan Konseling
Pastoral Dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja Akibat Kekerasan
Dalam Keluarga.
2. Sebagai bahan masukan bagi remaja.
E. Metode Penelitian
Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode studi kasus.
Hasil dari kasus yang dilakukan adalah untuk mengetahui gambaran yang lengkap
terorganisir secara baik dan menghasilkan data deskriptif baik berupa kata-kata
tertulis ataupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati melalui
bentuk percakapan.
10

Dalam metode studi kasus pastoral berdasarkan buku E.P Ginting (2011:32)
yang mengutip pendapat TJ.G. Hommes mengatakan ada 4 kegiatan atau tugas yang
berhubungan dalam metode ini yaitu:
1. Deskripsi kasus berisikan rekaman secercah kenyataan tentang situasi problematis
peristiwa atau keadaan tertentu pada diri seseorang atau kelompok yang
dituliskan si peneliti sejauh yang diketahui si peneliti. Dalam hal ini perlu
objektivitas dan kelengkapan data merupakan tekanan penting untuk penulisan
kasus.
Deskripsi merupakan tahapan pertama dalam metode studi kasus yang berisikan
pemaparan atau penggambaran si peneliti dengan kata-kata yang jelas dan terinci
serta seobjektif mungkin. SEAGST menyebutkan ada empat yang menentukan
nilai suatu deskripsi, sebagai berikut:
a. Jelas, artinya orang luar dapat membaca kasus itu dan mengerti tentang apa
yang terjadi sehingga penulis dapat memisahkan mana yang sudah diketahui
dan mana yang belum diketahui.
b. Padat, artinya memuat informasi yang relevan untuk memahami situasi,
khususnya masalah-masalah kunci dalam kasus itu.
c. Cukup memadai, artinya suatu kasus hendaknya memuat banyak informasi
sehingga memungkinkan untuk menganalisanya.
d. Objektif, artinya melihat gejala yang muncul sebagai mana adanya dan bukan
melalui keterlibatan si peneliti, bukan meninggalkan subjektivitas atau
menjadi lawan subjektivitas tetapi sebagai pelengkap yang lebih baik.
Sifat deskripsi kasus adalah:
a. Disajikan secara pendek dan padat,
b. Dituliskan dalam urutan yang jelas,
c. Penulisan disusun seobjektif mungkin, dan
d. Tidak mengandung rumusan analisis ataupun interpretasi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai topik kasus yaitu:
a. Menyebut orang yang terpenting dalam kasus itu (nama samaran),
b. Menyebutkan tempat yang fiktif untuk meningkatkan daya ingat,
c. Memilih permasalahan yang pokok dalam kasus itu, dan
d. Topik/judul kasus sudah dapat memberikan gambaran tentang isi.
2. Persepsi analisis atau analisa merupakan upaya yang kritis tentang dinamika
perasaan, pendapa-pendapat serta relasi yang berada dalam kasus itu.
Mempergunakan pengetahuan setempat dalam konteks yang dapat menerangi
dinamika yang ada dalam kasus.
Ada empat pertanyaan yang dikembangkan dalam analisa yaitu:
1. Siapakah tokoh-tokoh terpenting yang tersangkut dalam kasus itu. Bagaimana
pendiriannya? Bagaimana purbasangkanya?
2. Bagaimana pandangan penulis sendiri/ purbasangkanya sendiri.
3. Apakah faktor-faktor luar yang memainkan peranan dalam kasus ini?
4. Bagaimana implikasi pokok yang pastoral. Persoalan pastoral teologis; apa
pokok di dalam kasus.
3. Interpretasi merupakan bagian dimana peneliti mendekati secara kritis dan kreatif
tentang masalah pokok dan unsur-unsur yang penting yang ada dalam kasus
dengan kacamata teologi dan tradisi iman Kristen agar ditemui dasar-dasar
11

teologis yang memadai dan kena (relevan) untuk menjawab masalah pokok dan
faktor-faktor pendukung yang menimbulkan masalah pokok. Sebagai pengamat
yang jauh tetapi sudah masuk ke dalam, dengan menggunakan berbagai ilmu
teologia yang pernah kita alami.
4. Dalam bagian aksi pastoral akan disusun perencanaan aksi pastoral yang
menjawab masalah pokok yang bersifat teologis maupun terhadap akar-akar
permasalahan pokok tersebut secara tepat guna. Masalah pokok dan akar-akar
permasalahan pokok tersebut didekati secara konkrit dengan memakai dasar
teologis serta memanfaatkan hasil-hasil analisa yang mempergunakan berbagai
disiplin ilmu manusia yang ada.
Ada empat kemampuan dalam MSKP, yaitu:
1. Untuk mendeskripsikan kasus dengan teliti, objektif, sederhana, dan teliti
menulis kasus.
2. Untuk menganalisa kasus agar dalam situasi baru, anda tidak cepat-cepat
mengkategorikan situasi itu. Dengan imajinasi kita melihat beberapa
kemungkinan.
3. Untuk menginterpretasikan secara kritis dan kreatif.
4. Kita harus mampu lebih kritis dan kreatif dalam menginterpretasikan kasus
tersebut.
F. Kerangka berfikir
Pendampingan dan Konseling Pastoral
1. Pengertian Pendampingan dan Konseling Pastoral
1.1. Pengertian Pendampingan
Istilah

pendampingan

memiliki

arti

menyertai,

bersama-sama,

berhubungan dengan pendamping dengan orang yang didampingi berada dalam


kedudukan yang seimbang dan timbal balik. Dalam hubungan ini, mempunyai
fasilitas yang lebih dari orang yang didampingi, yakni lebih sehat, dan tentunya
mempunyai keterampilan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 2001 : Pendampingan
merupakan

suatu kegiatan yang berdekatan, menemani, menyertai, bersama-

sama.

12

Van Beek (2007:9) mendefenisikan Pendampingan berasal dari kata


kerja mendampingi. Mendampingi merupakan suatu kegiatan menolong orang
lain yang karena suatu sebab perlu didampingi. Orang yang melakukan kegiatan
mendampingi disebut sebagai pendamping. Antara yang didampingi dan
pendamping terjadi suatu interaksi sejajar ataupun relasi timbal balik. Pihak yang
paling bertanggung jawab adalah pihak yang didampingi .
Howard Clinebell (2002:17) menuliskan:
Pendampingan pastoral adalah alat-alat berharga yang melaluinya gereja
tetap relevan kepada kebutuhan manusia. Dimana pelayanan gereja yang
benar-benar tulus ialah relevansi kepada kebutuhan manusia yang
mendalam. Artinya harus relevan kepada situasi manusia yang
menimbulkan rasa sakit dan rasa harap, gerak hati untuk mengutuk dan
berdoa. Kelaparan dalam arti kehidupan dan kehausan akan hubungan yang
bermakna. Dampingan pastoral juga suatu layanan pertolongan atau
kesembuhan dan asuhan melalui perhatian yang intensif kepada individu
maupun kelompok dalam permasalahan kehidupan mereka.
Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa pendampingan adalah
proses menjalin hubungan timbal balik atau interaksi yang sejajar untuk menolong
orang lain dengan cara menemani, menyertai, memberikan perhatian yang intensif
kepada individu atau kelompok dalam setiap permasalahan agar mampu mengatasi
masalahnya sendiri.
1.2. Pengertian Konseling
Secara etimologi kata konseling berasal dari bahasa latin counselium
artinya bersama atau bicara bersama yang dirangkai dengan menerima atau
memahami. Pengertian berbicara bersama dalam hal ini yaitu pembicara antara
konselor (counselor) dengan seseorang atau beberapa klien (counsele).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 2001:
13

Konseling merupakan pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada


seseorang dengan menggunakan metode psikologi atau proses pemberian
bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga
pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam
memecahkan berbagai masalah
Menurut Mesach Krisetya (2002:13) Konseling adalah suatu disiplin ilmu
non-medis, yang sasarannya memberi fasilitas dan menimbulkan pertumbuhan
serta perkembangan kepribadian: menolong pribadi-pribadi untuk mengubah polapola kehidupan yang menyebabkan mereka mengalami kehidupan yang tidak
berbahagia, dan menyediakan suasana persaudaraan dan kebijaksanaan bagi
pribadi-pribadi yang sedang menghadapi kehilangan dan kekecewaan dalam
kehidupan yang tidak dapat dihindari.
Menurut Prof. Dr. Bimo (2010:8) Konseling merupakan bantuan yang
diberikan kepada individu untuk memecahkan masalah kehidupannya dengan cara
wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi individu
untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
Dari pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa konseling adalah
proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang konselor kepada klien
melalui transaksi tatap muka atau face to face dalam bentuk wawancara agar si
klien mampu memahami dirinya dan dapat mengubah kepribadiannya kearah yang
positif.
1.3. Pengertian Pastoral
Istilah pastoral berasal dari pastor dalam bahasa Latin atau dalam bahasa
Yunani disebut poimen yang artinya gembala. Secara tradisional, dalam

14

kehidupan gerejawi kita, hal ini merupakan tugas pendeta yang harus menjadi
gembala bagi jemaatnya atau dombanya.
Van Beek (2007:10) menuliskan: Kata pastoral berasal dari bahasa Latin
yang berarti gembala. Seorang yang bersifat pastoral adalah seseorang yang
bersifat gembala, yang bersedia merawat, memelihara, melindungi dan menolong
orang lain.
Susabda (1997:4) berpendapat:
Pastoral adalah hubungan timbal balik (inter-personal relationship) antara
hamba Tuhan sebagai konselor dengan konselinya (klien, orang yang
meminta bimbingan) ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang
ideal (kondusif atmosfer yang memungkinkan konseli betul-betul dapat
mengenal dan mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri, tentang
persoalannya, kondisi hidupnya dalam relasi dan tanggungjawabnya pada
Tuhan dan mencoba mencapai dengan tekanan, kekuatan dan kemampuan
seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya).

Dari defenisi di atas dapat diambil beberapa pengertian antara lain:


1. Hubungan timbal balik antara pelayanan pastoral dengan kliennya.
2. Peranan hamba Tuhan sebagai pelayan pastoral.
3. Suasana percakapan konseling pastoral yang ideal.
4. Melihat tujuan hidupnya dengan relasi dan tanggungjawabnya kepada
Tuhan dan pemberdayaan pelayanan terhadap klien untuk mencapai
tujuan dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang
diberikan Tuhan.

15

Dari pengertian umum dan pendapat para ahli yang telah dijelaskan
terdahulu dapat dipahami bahwa pengertian Pastoral : Suatu cara atau upaya
pelayanan yang dilakukan oleh hamba Tuhan sebagai konselor yang menerima
panggilan Tuhan untuk menolong warga jemaat yang menghadapi masalah dalam
kehidupannya, untuk melaksanakan tugas konselor memiliki keahlian yang khusus
mempergunakan metode pendekatan dan perckapan yang dilakukan dengan kasih.
1.4. Pengertian Konseling Pastoral
Menurut E.P. Ginting (2002:22), konseling pastoral merupakan suatu
pendampingan yang memberikan terapi yang dilakukan oleh gembala/ pendeta atau
pelayan Kristen lainnya.
Menurut Tuu (2007:25-26):
Konseling pastoral adalah pelayanan yang dilakukan gereja dengan melayat
dan mencari satu per satu jemaat yang sedang bergumul dalam hidupnya.
Pencarian dan pelawatan itu dilakukan untuk menolong mereka melalui suatu
percakapan yang interaktif, timbal balik, dan mendalam. Melalui percakapan
itu, konselor mendampingi, membimbing, dan mengarahkan konseli untuk
menemukan solusi. Dari rumusan tersebut yang perlu diperhatian antara lain:
1. Konseling pastoral merupakan tugas yang sangat penting dilaksanakan
oleh gereja. Jemaat yang bermasalah adalah domba-domba milik Kristus.
Sebagai orang yang dipercayakan Kristus, kita perlu menggembalakan
mereka.
2. Konseli yang bergumul perlu dikunjungi, dicari, dan diperhatikan agar
mereka dapat ditolong. Jika mereka mengalami persoalan, goncangan dan
pergumulan hidup, merekka butuh pertolongan konselor.
3. Pertolongan itu dilakukan melalui proses konseling. Percakapan ini bukan
percakapan biasa, tetapi sangat spesifik. Respon konseling sangat khas
dengan memakai pola-pola respon probing, understanding, supporting,
interpretation, evaluation dan action, yang terarah menuju solusi.
4. Percakapan itu berlangsung timbal-balik, mendalam dan terarah.
Percakapan itu sangat spesifik karena saling memberi, memengaruhi,
mencari inti persolan, dan mengarah pada sebuah solusi. Konselor tidak
mengambil alih persoalan dengan memberi nasihat-nasihatnya kepada
konseli.
16

5. Perubahan terjadi karena iman dan ketaatan pada firman Tuhan. Hasil
akhir konseling adalah perubahan sikap dan perilaku konseli. Hal ini dapat
terjadi karena imannya bertumbuh lewat membaca, merenungkan dan
mempraktikkan firman Tuhan
Menurut Mesach (2002:16) Konseling Pastoral ialah suatu persfektif
Kristen yang mencari upaya untuk menolong atau menyembuhkan dengan cara
menghadiri situasi kehidupan seseorang yang mengalami kesulitan.
Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa konseling pastoral adalah
proses pemberian bimbingan yang terus menerus kepada seorang klien oleh
konselor agar mampu mengenal diri sendiri, mampu mengatur hidupnya dan
mengubah kepribadiannya menjadi lebih baik.
2. Dasar Teologis Konseling Pastoral
Konseling pastoral merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam
kehidupan orang Kristen. Dimana melalui konseling yang dilakukan oleh para
konselor dapat memberikan pertolongan kepada warga Kristiani yang mengalami
masalah.
Menurut Tuu (2007:10-18), dasar dan syarat yang kuat dalam
melaksanakan konseling pastoral
1. Yehezekiel 34; Allah adalah Gembala
2. Yohanes 10: Kristus Sebagai Gembala Agung
Dalam kiprahnya selama melayani di dunia, Yesus Kristus tampil
dalam empat karya,
1. Ia tampil sebagai guru
2. Yesus tampil sebagai pembebas
3. Yesus tampil sebagai penyembuh
4. Yesus tampil sebagai gembala
3.
Yohanes 21; Gembalakanlah!
Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita dalam Kristus, bagian kita
adalah menyambut, menerima serta memiliki kasih.
4. 1 Petrus 5; Sikap Gembala
Dalam pendampingan konseling ada beberapa sikap yang perlu
dikembangkan
17

1. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan


dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak
Allah.
2. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas
mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu jadi
teladan bagi kawanan domba itu.
3. Jadilah seorang konselor yang agung.
3. Tujuan Konseling Pastoral
Adapun tujuan konseling pastoral dilakukan adalah untuk mendampingi
dan menguatkan, agar tidak larut dalam kesedihan dan duka hati. Namun agar tetap
melihat cahaya terang dari Yesus Kristus dan hidup dalam iman.
Menurut Tuu (2007:29-40), tujuan kegiatan konseling pastoral yaitu :
1. Mencari yang bergumul
Dimana seorang konselor harus jeli dan peka terhadap pergumulan yang
dihadapi jemaat dan memberikan pendampingan yang tepat sesuai dengan
pergumulan jemaat.
2. Menolong yang membutuhkan uluran tangan
Konselor adalah utusan Kristus untuk menolong konseli yang terperosok.
Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan! Tuhan,
dengarlah suaraku! Biarlah telingaMu menaruh perhatian kepada suara
permohonanku, (Mzm. 130:1). Jadi konseling pastoral adalah proses
menolong konseli yang ada dalam jurang ketidakberdayaan.
3. Mendampingi dan membimbing
Campur tangan seorang konselor dalam masalah konseli adalah hanya
sebatas mendampingi dan membimbing bukan pengambil keputusan.
Yang menentukan keputusan adalah konseli sendiri sesuai arahan dan
bimbingan konselor.
4. Berusaha menemukan solusi
Dalam pendampingan terhadap konseli, konselor juga harus membantu
dan menolong untuk menemukan suatu solusi yang tepat dalam mengatasi
permasalahan, pergumulan yang sedang dihadapi konseli.
5. Memulihan kondisi yang rapuh
Tujuan utama dari konseling pastoral adalah pemulihan. Konselor
membantu konseli pada suatu proses pemulihan baik itu pemulihan
kesehatan fisik, mental dan juga spritualisme yang telah rusak karena
mengalami tekanan dan pergumulan hidup.
6. Perubahan sikap dan perilaku
Kehadiran konselor dalam hidup konseli selain membantu proses
pemulihan pada tahap semula, juga menanamkan suatu komitmen dan
18

tekad agar konseli ingin berubah baik sikap dan perilaku kepada hal-hal
yang lebih baik dan positif.
7. Menyelesaikan dosa melalui Kristus
Seorang konselor juga harus membimbing konseli pada jalan Tuhan, di
mana konseli ingin berdamai dengan Tuhan melalui mengakui segala dosa
dan kekurangan dihadapan Kristus.
8. Pertumbuhan iman
Melalui pengakuan dosa dihadapan Tuhan, konselor akan terus
mengarahkan dan membimbing konseli pada suatu pengharapan yang
hidup dalam pertumbuhan iman kepada Kristus.
9. Melibatkan konseli dalam persekutuan jemaat
Konselor harus mengaktifkan konseli dalam kegiatan-kegiatan yang ada di
gereja dengan tujuan mempercepat proses pemulihan dan pertumbuhan
iman konseli bersama jemaat yang lainnya.
10. Mampu menghadapi persoalan selanjutnya
Seorang konselor yang baik harus mengarahkan konseli agar mampu
mendewasakan diri serta bertanggung jawab terhadap masalahnya sendiri.
Artinya konseli harus bisa mandiri dan mampu untuk menghadapi
persoalan selanjutnya.
Menurut Clinebell (2002:36):
Tujuan dari konseling pastoral adalah memperlengkapi perkembangan
potensi-potensi orang secara maksimum pada tiap-tiap tahap
kehidupannya, dengan cara memberi sumbangan baik bagi pertumbuhan
orang lain maupun perkembangan masyarakat dalam, yang mana semua
orang akan memperoleh kesempatan untuk menggunakan potensi mereka.
Membantu orang mencapai kebebasan dari penjara kehidupan yang tidak
dihayati. Konselor adalah seorang pembebas yang memampukan
terjadinya suatu proses pembebasan dirinya sendiri sehingga dapat
menghayati hidup yang lebih bermakna. Melalui pengalaman yang
membebaskan ini orang akan menemukan kebahagiaanadalah gerakan
yang terus berjalan kearah penghayatan kehidupan yang lebih melimpah,
penuh sukacita dan produktif. Keutuhan merupakan suatu proses
pertumbuhan, bukan pencapaian tujuan yang sudah mantap.
Berdasarkan buku Gunarsa (1996:23-26) yang mengutip pendapat George
dan Cristiani (1981) mengemukakan tujuan utama konseling yaitu:
1. Menyediakan fasilitas untuk perubahan perilaku.
2. Meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu.
3. Meningkatkan kemampuan dalam menentukan keputusan.
4. Meningkatkan dalam hubungan antar perorangan.
19

5. Menyediakan fasilitas untuk pengembangan kemampuan klien.


Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa tujuan konseling pastoral
yaitu untuk membantu orang lain mengatasi masalahnya sendiri, mengembangkan
kepribadiannya, menerima apa adanya hidupnya, dan membimbing mereka agar
terbebas dari masalah hidup yang menyiksa batin sehingga mereka memperoleh
kepercayaan diri kembali dan mampu melihat setiap kesulitan ataupun masalah itu
bukanlah sebagai akibat dosa yang dilakukan tetapi itu sebuah alasan yang
membuat mereka semakin kuat dan bertumbuh di dalam Tuhan.
4. Bentuk-bentuk Konseling Pastoral
Menurut Tuu (2007:184-192), bentuk-bentuk konseling pastoral
1. Konseling Preventif diadakan untuk menolong konseli melihat dan memahami
masalah mereka lebih awal agar konseli dapat menghindarinya. Konseling ini
sangat penting agar konseli dapat ditolong untuk terhindar dari hal buruk yang
dapat merusak hidup mereka.
2. Konseling Edukatif
Konseling ini dapat dilakukan melalui berbagai cara antara lain lewat khotbah,
ceramah, diskusi kelompok, pemahaman Alkitab, dan personal konseling.
Melalui konseling ini, konselor dapat mendidik dan mengajar konseli memiliki
pengetahuan, sikap, perilaku perbuatan yang lebih baik.
3. Konseling Spiritual
Konseling spiritual menolong para konseli untuk menyadari bahwa dosa adalah
akar dan penyebab penderitaan dan kepahitan hidup. Konseling ini menolong
konseli untuk menyelesaikan dosa dengan cara berperang melawan,
menyingkirkan dan menghindari dosa yang bersarang dalam hati.
4. Konseling Konfrontatif
Konseling dalam bentuk konfrontatif mempunyai empat aspek yaitu pertama
perlunya perubahan watak dan tingkah laku. Konseli perlu mengakui dan
menyelesaikan persoalan dalam hal-hal yang salah, dosa, perlawanan dan
persoalan pada konseli perlu diakui dan diselesaikan. Tuhan menghendaki agar
ada sesuatu yang diperbaiki, diperbaharui, dan diubahkan pada diri konseli.
Kedua, bersifat pribadi. Konseli secara pribadi diarahkan dan diminta
menyesuaikan diri dengan prinsip Alkitab. Ketiga, tujuaanya mengubah sesuatu
yang merusak hidup konseli. Keempat, penyucian hati, pembentukan iman, dan
ketulusan hidup.
5. Personal Konseling
Konselor dan konseli bertemu secara empat mata. Proses konseling ini sangat
efektif untuk mencapai satu solusi karena hati, perasaan, pikiran, pendapat dan
20

pandangan, termasuk segala yang sangat rahasia dan pribadi dapat dibuka oleh
konseli.
6. Grup Konseling
Dalam konseling ini banyak pendapat dan pikiran yang muncul. Jadi, konseli
dapat saling belajar dari pendapat dan pengalaman rekan-rekannya sehingga
dapat memperkaya pengetahuan yang dapat menguatkan seseorang dalam
menjalani kehidupannya.
5. Fungsi Pendampingan dan Konseling Pastoral
Menurut Van Beek (2007:13-15), ada enam fungsi pendampingan pastoral
yaitu:
1. Fungsi membimbing
Menolong orang lain untuk mampu memilih dan mengambil keputusan yang
tepat terhadap masalah yang dihadapinya.
2. Fungsi mendamaikan/memperbaiki hubungan
Menolong klien untuk membangun hubungan yang baik dengan orang yang
dekat dengan konseli yakni keluarga. Dalam hal ini konselor harus bijaksana
dan bersifat netral, tidak boleh memihak.
3. Fungsi menopang/menyokong
Memberikan waktu dan kehadiran di tengah-tengah klien yang sedang dalam
masalah agar klien tidak merasa sendiri
4. Fungsi menyembuhkan
Dengan pendampingan yang beralaskan kasih sayang, rela mendengarkan
segala keluhan batin, dan kepedulian yang tinggi akan membuat seseorang
yang menderita mengalami rasa aman dan kelegaan sebagai pintu masuk kea
rah penyembuhan yang sebenarnya.
5. Fungsi mengasuh
Memberikan kekuatan kepada klien agar mampu melanjutkan kehidupan.
6. Fungsi mengutuhkan
Untuk memberikan penguatan terhadap fisik, sosial, mental, dan spiritual
pada klien yang mengalami penderitaan.
Dengan demikian fungsi pastoral adalah pendampingan pastoral yang
holistik, yaitu layanan yang diberikan kepada sesama manusia secara utuh
baik secara fisik, mental, sosial dan spiritual secara seimbang. Dalam pelayanan
holistik ini dapat kita lihat bahwa pelayanan Yesus yang bersifat utuh. Yesus tidak
hanya memperhatikan hal-hal spiritual saja tetapi Ia memperhatikan fisik juga.
Misalnya Matius 14:34-36 Yesus menyembuhkan banyak orang sakit. Yohanes 6:2
Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat
21

mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.


Yesus juga memperhatikan mental manusia, sebab itu Ia menyembuhkan orang
yang terganggu jiwanya, Lukas 11:14 Pada suatu kali Yesus mengusir dari
seorang suatu setan yang membisukan, ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat
berkata-kata. Sehingga dalam konseling pastoral itu ada pemulihan dan
penyembuhan secara total baik rohani maupaun jasmani.
Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan fungsi konseling pastoral
adalah upaya menolong konseli dengan usaha: mendorong orang yang dalam
penderitaan agar dapat mengatasi masalahnya dan kembali kepada keutuhan,
membantu orang yang menderita agar dapat mengambil kesimpulan untuk dirinya
dengan tujuan dia akan merasakan kebahagiaan saat ini dan masa yang akan datang
serta menolong konseli agar dapat memperbaiki hubungan dengan sesama manusia
dan dengan Allah.
6. Kenakalan
6.1. Pengertian Kenakalan Remaja
Istilah kenakalan remaja merupakan pengertian yang sudah tidak asing
lagi dalam kehidupan sehari-hari baik dalam lingkungan sekolah maupun
masyarakat. Istilah kenakalan pada dasarnya berasal dari bahasa asing yaitu
juvenile delinquency yang diartikan sebagai kejahatan yang dilakukan oleh
anak-anak muda remaja antara umur 22 tahun ke bawah. Pada intinya
merupakan suatu produk dari kondisi masyarakatnya dengan segala pergolakan
sosial yang ada di dalamnya. Secara etimologis juvenile berasal dari bahasa
latin juvenilis yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa
22

muda, sifat-sifat khas pada masa remaja. Delinquent berasal dari kata latin
delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan yang kemudian diperluas
artinya menjadi jahat, a-sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut,
pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila, dan lain-lain.
Delinquency itu selalu mempunyai konotasi serangan, pelanggaran, kejahatan
dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak muda dibawah umur 22 tahun.
Hal ini berhubungan dengan remaja yang duduk di bangku sekolah yang
dikategorikan dalam remaja madya yakni umur 15-18 tahun.
Kejahatan anak remaja ini disebut sebagai salah satu penyakit
masyarakat atau penyakit sosial. Jadi penyakit sosial atau penyakit masyarakat
adalah segala bentuk tingkah laku yang dianggap tidak sesuai, melanggar
norma-norma umum, adat istiadat, hukum formal, atau tidak bisa
diintegrasikan dalam pola tingkah-laku umum. Atau dalam istilah lain
kenakalan tersebut merupakan penyimpangan sosial yang sukar diorganisir,
sulit diatur dan ditertibkan sebab pelakunya memakai cara pemecahan sendiri
yang nonkonvensional, tidak umum, luar biasa dan abnormal sifatnya.
Biasanya mereka mengikuti kemauan dan cara sendiri demi kepentingan
pribadi. Karena itu tingkah-laku tersebut dapat merugikan dan mengganggu
subyek pelaku sendiri dan atau masyarakat luas.
Tingkah-laku menyimpang atau kenakalan dapat juga diartikan sebagai
diferensiasi sosial, karena terdapat diferensiasi atau perbedaan yang jelas
dalam tingkah-lakunya, yang berbeda dengan ciri-ciri karakteristik umum, dan
bertentangan dengan hukum, atau melanggar peraturan formal.
23

Kartono (2010:6) mengemukakan : juvenile Delinquency ialah


perilaku jahat atau kejahatan / kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala
sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan
oleh satu bentuk pengabdian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan
tingkah laku yang menyimpang.
Selanjutnya Gold dan Petronio yang dikutip oleh Sarlito (2011:251)
mengemukakan bahwa: Kenakalan remaja adalah tindakan oleh seseorang
yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh
remaja itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas
hukum ia bisa dikenai hukuman.
Jadi dapat diketahui bahwa kenakalan remaja merupakan suatu
perbuatan yang dilakukan oleh remaja (sekitar

umur 15-18 tahun) yang

mengandung unsur-unsur anti normatif ataupun yang bertentangan dengan


norma-norma yang ada dalam masyarakat ataupun lembaga lainnya. Perbuatan
ini tidak dianggap sebagai suatu kejahatan dengan dasar pertimbangan bahwa
perbuatan seorang remaja berada dalam masa mencari identitas diri, sedang
mengalami perkembangan dan pertumbuhan fisik dan mental yang belum
stabil/matang. Sehingga masa remaja dapat dikatakan masa krisis identitas
(belum menemukan jati dirinya) dan dianggap tidak didasari sikap kesengajaan
(tidak mempertimbangkan dan memikirkan secara matang).
6.2. Jenis-jenis Kenakalan Remaja
Dunia pendidikan dewasa ini menghadapi berbagai masalah yang sangat
kompleks yang perlu mendapat perhatian. Masalah-masalah tersebut anatara
24

lain

kurikulum

yang

berubah-ubah

sehingga

sekolah

kurang

siap

melaksanakan, keadaan guru yang kurang memenuhi syarat dari segi tingkat
pendidikan, fasilitas sekolah yang tidak lengkap atau memadai maupun
masalah kesiswaan yang menyebabkan menurunnya tata krama sosial dan etika
moral dalam praktek kehidupan sekolah yang mengakibatkan sejumlah akses
atau dampak negatif. Ekses tersebut antara lain semakin maraknya berbagai
penyimpangan norma, kehidupan agama dan sosial kemasyarakatan yang
terwujud dalam bentuk kenakalan kenakalan remaja di sekolah.
Menurut EB Surbakti, (2008:202) bentuk kenakalan remaja:
1. Pornografi
2. Kemalasan
3. Perkelahian
4. Pergaulan bebas
5. Kelalaian
6. Tindak kriminal
7. Penentangan
Sementara Sudarsono (1995:13) yang termasuk kenakalan remaja antara
lain sebagai berikut:
1. Perbuatan awal yaitu berbohong dan tidak jujur
2. Perkelahian antar remaja
3. Mengganggu teman
4. Berkata kasar dan tidak hormat kepada guru dan orangtua
5. Merokok
25

6. Menonton fornografi
Jenis kenakalan remaja yang dimaksud adalah perilaku

yang

menyimpang dari kebiasaan atau melanggar hukum. Jensen (1985) membagi


kenakalan remaja yang dikutip oleh Sarlito (2011:256-257) menjadi empat
jenis yakni:
1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain misalnya
perkelahian antar siswa.
2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi : main judi, merokok.
3. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak
sebagai pelajar dengan cara membolos, terlambat ke sekolah, tidak
berpakaian rapi.

Gunarsa (1988:19) mengemukakan dari segi hukum kenakalan remaja


digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum
yaitu :
1. Kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diatur dalam
undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai
pelanggaran hukum; dalam hal ini yang termasuk dalam hal ini adalah
kenakalan yang bersipat ringan yang masih bisa ditangani dengan cara
yang wajar. Misalnya dalam lingkungan sekolah seorang pelajar
sering terlambat datang kesekolah, tidak berpakaian rapi mengganggu
teman, tidak mengerjakan PR.
2. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian
sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan
perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang tergolong dalam


kenakalan remaja antara lain sebagai:
26

1. Kurang hormat kepada guru contonya melawan guru, tidak


mengerjakan PR
2. Tidak disiplin, contohnya terlambat, tidak taat dengan peraturan
sekolah dengan tidak berpakaian rapi, membolos
3. Merokok di lingkungan sekolah
4. Perkelahian antar pelajar
6.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja tidak selamanya dipengaruhi oleh lingkungan atau
biologisnya. Sarlito (2011:255-256), menjelaskan faktor yang menyebabkan
kenakalan remaja antara lain sebagai berikut:
1. Rational choice: teori ini mengutamakan faktor individu daripada
faktor lingkungan. Kenakalan yang dilakukannya adalah atas pilihan,
interes, motivasi atau kemauannya sendiri. Kenakalan remaja ini
dianggap kurang iman.
2. Social disorganization: faktor ini berfokus pada budaya. Yang
menyebabkan kenakalan remaja adalah berkurangnya atau
menghilangnya pranata-pranata masyarakat yang selama ini menjaga
keseimbangan atau harmoni dalam masyarakat. Orang tua yang sibuk
dan guru yang kelebihan beban merupakan penyebab dari
berkurangnya fungsi keluarga dan sekolah sebagai pranata kontrol.
3. Strain: kenakalan ini terjadi akibat tekanan yang besar dari
masyarakat, misalnya kemiskinan, menyebabkan sebagian dari
anggota masyarakat yang memilih jalan rebellion melakukan
kejahatan dan kenakalan remaja.
4. Differential association: kenakalan remaja adalah akibat salah
pergaulan. Anak-anak menjadi nakal karena bergaul sama orang nakal
juga.
5. Labelling: ada pendapat yang mengatakan bahwa anak nakal selalu
dianggap dan dicap nakal. Dengan hal julukan tersebut anak itu akan
betul-betul menjadi nakal
6. Male phenomenon: teori ini percaya bahwa anak laki-laki lebih nakal
dari perempuan. Alasannya karena kenakalan merupakan sifat lakilaki atau karena budaya maskulinitas mengatakan bahwa wajar kalau
laki-laki nakal.
Menurut Gunarsa (2009:273-278), ada tiga faktor penyebab kenakalan
remaja:
1. Faktor sosiologis
27

Merupakan faktor eksternal yang menunjang terjadinya


kenakalan remaja, sehingga dapat dikatakan adanya suatu lingkungan
yang delinkuen yang mempengaruhi remaja tersebut. Termasuk di
dalamnya adalah latar belakang keluarga, komunitas di mana remaja
berada, dan lingkungan sekolah. Keluarga dari mana remaja berasal
dapat mempengaruhi kemungkinan remaja menjadi delinkuen atau
tidak. Keluarga yang kurang memiliki kohesifas (kekurangdekatan
hubungan antar-anggota keluarga), hubungan yang tidak harmonis
dalam keluarga, merupakan suatu predictor akan kemungkinan
timbulnya delinkuensi. Nilai-nilai yang dipegang atau dipercayai
keluarga juga mempengaruhi nilai pada remaja sendiri. Contoh, pada
keluarga yang menganggap bahwa seks sebelum menikah itu
merupakan suatu hal yang normal, maka remaja pada keluarga
tersebut akan tidak menabukan seks sebelum nikah.
Komunitas tempat remaja berada juga mempengaruhi remaja,
di antaranya adalah nilai-nilai yang dipercayai oleh komunitas
tersebut. Sekolah juga memiliki peran penting dalam menunjang
terjadinya kenakalan remaja. Kurangnya keberhasilan akademis
seperti nilai akademis yang rendah dan ketidakmampuan untuk
menyesuaikan diri dengan program sekolah, ketidakmampuan untuk
menyesuaikan diri atau bergaul dengan baik dengan guru. Sekolah
merupakan hal yang penting bagi remaja, karena di sekolah remaja
bertemu dengan teman-teman sebaya yang berada dalam tahap
perkembangan yang sama dengan dirinya. Sekolah juga dapat
membentuk perkembangan kepribadian dan sosial remaja. Sekolah
yang terlalu menuntut remaja untuk menjadi seperti apa yang
diharapkan sekolah tanpa memperhatikan kemampuan remaja akan
membuat remaja tertekan. Begitu pula bila guru di sekolah bersikap
menolak remaja serta tidak mau memahami remaja. Seseorang yang
merasa tertekan tentu akan berusaha keluar dari tekanan tersebut
dengan berbagai cara. Bagi remaja yang tidak dapat menyesuaikan
diri di sekolah, tidak dapat menyesuaikan diri dengan program
sekolah dan dengan gurunya, mungkin ia akan sering membolos
sekolah, membuat ribut di kelas, dan tindakan lainnya. Peran guru
sangat penting di sekolah. Guru yang menunjukkan control diri yang
baik, penuh kehangatan, dan bersahabat dalam interaksinya di kelas
akan lebih mudah berhubungan dengan remaja karena remaja akan
lebih terbuka kepada mereka. Guru yang demikian dapat membantu
remaja untuk mencapai keberhasilan akademis dan belajar
menghargai diri sendiri serta dengan demikian mengurangi
kemungkinan terjadinya delinkuensi. Ketiga faktor sosiologis ini
saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Bila keadaan latar
belakang keluarga sudah mendukung delinkuensi, ditambah dengan
lingkungan atau komunitas yang buruk, dan kegagalan dari pihak
sekolah untuk menerima dan menolong remaja, maka kemungkinan
besar membuat remaja menjadi delinkuen.
28

2. Faktor Psikologis
Faktor psikologis dari kenakalan remaja meliputi hubungan
remaja dengan orang tua dan faktor kepribadian remaja itu sendiri.
Suasana dalam keluarga, hubungan antara orang tua dengan remaja.
Salah satu penyebab terjadinya delinkuensi terletak pada perlakuan
orang tua terhadap anak pada masa pras ekolah, seperti penolakan
dari orang tua terhadap anaknya, baik dari pihak ibu atau dari pihak
ayah. Pengabaian dari orang tua dapat dimasukkan ke dalam hal ini
sebagai indikator adanya penolakan dari orang tua. Pengabaian
(neglect) dibedakan menjadi lima jenis (Rice, 1999).
a. Pengabaian fisik (physical neglect): meliputi kegagalan dalam
memenuhi kebutuhan atas makanan, pakaian, dan tempat
tinggal yang memadai.
b. Pengabaian emosional (emotional neglect): meliputi perhatian,
perawatan, kasih sayang, dan afeksi yang tidak memadai dari
orang tua, atau kegagalan untuk memenuhi kebutuhan remaja
akan penerimaan, persetujuan, dan persahabatan.
c. Pengabaian intelektual (intellectual neglect): termasuk di
dalamnya kegagalan untuk memberikan pengalaman yang
menstimulasi intelek remaja, membiarkan remaja membolos
sekolah tanpa alasan apa pun, dan semacamnya.
d. Pengabaian sosial (sosial neglect): meliputi pengawasan yang
tidak memadai atas aktivitas sosial remaja, kurangnya
perhatian dengan siapa remaja bergaul, atau karena gagal
mengajarkan atau mensosialisasikan kepada remaja mengenai
bagaimana bergaul secara baik dengan orang lain.
e. Pengabaian moral (moral neglect): kegagalan dalam
memberikan contoh moral atau pendidikan moral yang positif
kepada remaja.
Pengabaian orang tua terhadap remaja seperti menolak remaja
secara emosional dan tidak menunjukkan pada remaja bahwa mereka
mencintai serta memperhatikan mereka sama halnya dengan
penganiayaan fisik. Tidak adanya keakraban antara orang tua dengan
anak, sikap yang kasar satu dengan yang lainnya, dan
ketidakmampuan orang tua untuk menegakkan control atas anak
mereka. Afeksi dalam hubungan antara orang tua dan remaja
memegang peranan penting dalam menentukan delinkuensi. Faktor
kepribadian remaja juga dapat menjadi penyebab seorang remaja
melakukan tindakan delinkuen. Harga diri yang rendah, kurangnya
control diri, deprivasi akan kasih sayang, atau bahkan adanya
psikopatologi, merupakan hal-hal yang termasuk dalam kepribadian.
Teori perkembangan dari Erikson mengatakan bahwa masa
remaja merupakan tahap ketika krisis identitas harus diselesaikan.
Perubahan biologis pada remaja menyebabkan perubahan dalam
ekspektasi atau harapan sosial pada mereka. Identitas secara
sederhana dapat dikatakan sebagai gabungan dari motivasi, nilai,
29

kemampuan, dan gaya remaja yang sesuai dengan tuntutan peran yang
diletakkan pada remaja. Remaja yang delinkuen mengalami
kegagalan dalam menemukan identitas peran mereka. Rendahnya
kompetensi yang mereka miliki, yang dapat dihubungkan dengan
rendahnya harga diri mereka, juga merupakan salah satu yang harus
mereka hadapi derkaitan dengan identitas mereka. Remaja yang
merasa gagal atau tidak mampu untuk memenuhi identitas peran yang
dibebankan kepada mereka akan memilih jalan pengembangan
identitas yang negatif.
Kurangnya kontrol diri pada remaja juga merupakan salah satu
penyebab delinkuensi. Remaja yang delinkuen mungkin gagal
mempelajari tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak;
mungkin mereka mengetahui perbedaan antara tingkah laku yang
diterima dengan yang tidak diterima, namun mereka gagal
mengembangkan kontrol yang memadai untuk menggunakan
perbedaan tersebut dalam bertingkah laku. contohnya, seorang anak
gadis yang mencuri telepon genggam (handphone)
temannya
walaupun ia tahu itu adalah perbuatan yang salah, namun ia tetap
melakukannya karena ia ingin bisa pamer kepada teman-temannya
bahwa ia juga memiliki handphone.
Deprikasi kasih sayang remaja sangat berkaitan dengan
pengasuhan orang tua. Deprikasi kasih sayang ini mungkin
mempengaruhi konsep diri dari remaja yang bersangkutan. Remaja
yang mengalami deprikasi kasih sayang mungkin akan memiliki
anggapan yang salah, misalnya: dirinya memang tidak pantas
disayangi, dirinya adalah anak yang jahat sehingga tidak disayangi
orang tua, dan semacamnya.
3. Faktor biologis
Faktor biologis adalah pengaruh elemen fisik dan organik dari
remaja sendiri. Elemen fisik, organik, atau biologis dapat
berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap tindakan
kenakalan remaja. Pada beberapa remaja delinkuen didapati adanya
kekurangmatangan perkembangan pada sistem belahan depan
(frontal lobe) otak yang dapat menghasilkan disfungsi neurofisiologis
dan tingkah laku delinkuen. Hal ini menyebabkan mereka tidak dapat
bertindak berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Kecenderungan
delinkuensi juga merupakan warisan dari orang tua, seperti
temperamen merupakan sesuatu yang dipengaruhi oleh genetik,
sehingga terdapat kemungkinan bahwa seorang anak akan memiliki
kecenderungan untuk bersifat kasar yang diturunkan oleh orang
tuanya.
Surbakti (2008:206) mengemukakan penyebab kenakalan
remaja adalah:
1. Perceraian orang tua
30

2. Pengaruh tontonan
3. Remaja hasil hubungan gelap
4. Penelantaran
5. Otoritas
6. Perbedaan pola pikir
7. Lingkungan
Menurut Gunarsa (2009:279-281), ada berbagai pola pengasuhan orang tua
yang mempengaruhi perilaku remaja.

Pengasuhan Otoriter
Orang tua tidak pernah memperdulikan pendapat dari remaja. Mereka

menerapkan gaya hukuman pada kepada setiap anak yang tidak sesuai dengan
keinginan orang tua. Orang tua tidak melakukan komunikasi yang baik terhadap
anak. Pola pengasuhan otoriter ini sering kali membuat anak remaja
memberontak. Terlebih lagi bila orang tuanya keras, tidak adil, dan tidak
menunjukkan afeksi. Remaja akan bersifat bermusuhan (hostile) kepada orng tua
serta sering kali menyimpan perasaan tidak puas terhadap kontrol dan dominasi
dari orang tua mereka. Hal ini dapat mempengaruhi kepribadian remaja yang
agresif yaitu meniru tingkah laku orang tua atau agresi menjadi salah satu cara
pelampiasan dari remaja.

Pengasuhan Otoritatif
Pola pengasuhan otoritatif merupakan salah satu pola pengasuhan yang

paling efektif untuk mencegah kenakalan remaja. Remaja yang dibesarkan


dengan pola ini akan merasakan suasana rumah yang penuh rasa saling
31

menghormati, penuh apresiasi, kehangatan, penerimaan, dan adanya konsistensi


pengasuhan dari orang tua mereka. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka.

Pengasuhan Permisif
Pengasuhan permisif merupakan salah satu pola pengasuhan yang

memanjakan, orang tua sangat menunjukkan dukungan emosional kepada anak


mereka tetapi kurang menerapkan kontrol pada anak mereka. Mereka
mengizinkan remaja untuk melakukan apa saja yang mereka mau, bahkan remaja
lebih berkuasa daripada orang tua dalam pengambilan keputusan. Hal ini
menyebabkan remaja tidak mempunyai kontrol diri yang baik, mereka jadi egois,
selalu memaksakan kehendak mereka sendiri tanpa memperdulikan perasaan
orang lain.
6.4. Cara Menanggulangi Kenakalan Remaja
Setelah membahas latar belakang yang menyokong timbulnya
kenakalan remaja, sangat jelas bahwa kenakalan dalam bentuk apapun
mempunyai akibat yang negatif bagi diri remaja itu sendiri dan juga orangorang di sekitarnya. Sebelum membahas lebih lanjut cara penanggulangan
kenakalan terlebih dahulu dibahas mengenai arti dari menanggulangi. kata
menanggulangi berasal dari kata tanggulang yang berarti menghadapi,
mengatasi. Jadi usaha penanggulangan adalah suatu proses, cara, atau
perbuatan yang dilakukan.
Gunarsa (2003:140-145) adapun yang menjadi tindakan yang dapat
dilakukan dalam menanggulangi kenakalan remaja antara lain sebagai berikut:
32

1.

Tindakan preventif yakni tindakan yang bertujuan mencegah timbulnya


kenakalan-kenakalan. Tindakan ini dilakukan dengan cara mencegah
kenakalan- kenakalan yanng lebih besar atau lebih buruk lagi. Dimana
jika kenakalan yang sepele itu tidak segera ditolerir, kemungkinan remaja
beranggapan sepele dan semakin menjadi-jadi. Namun jika masalah
tersebut segera ditangani maka kemungkinan remaja tidak akan
mengulangi kenakalan atau kesalahannya, dan dengan penanganan
tersebut remaja tidak memiliki kesempatan untuk bertindak yang lebih
nekad lagi.
Tindakan preventif dilakukan dengan dua cara yakni cara umum dan
cara khusus.
Adapun cara umum dari tindakakn preventif dalam menanggulangi
kenakalan remaja adalah sebagai berikut:
a. Usaha mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja
Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para
b. remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab
timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan. Atau dalam arti faktor
yang mempengaruhi timbulnya kenakalan.
c. Usaha pembinaan remaja
Adapun yang menjadi tujuan dari pembinaan siswa adalah sebagai
berikut:
Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan
persoalan yang dihadapinya.
Memberikan pendidikan bukan hanya dalam pengetahuan dan
keterampilan, memberikan pendidikan mental dan pribadi melalui
pengajaran agama, budi pekerti dan etiket.
Menyediakan sarana sarana dan menciptakan suasana yang
optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial
keluarga maupun masyarakat dimana terjadi banyak kenakalan
remaja.
Dimana dengan usaha pembinaan yang terarah, para remaja akan
mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimbangan diri akan
dicapai dimana tercipta hubungan yang serasi antara aspek rasio dan aspek
emosi. Pikiran yang sehat akan mengarahkan mereka dalam melakukan
perbuatan yang pantas, sopan dan bertanggung jawab. Dan pembinaan ini
juga bertujuan untuk membantu para remaja dalam menyelesaikan
kesulitan atau problema yang dialami mereka.
Adapun yang menjadi cara khusus dari tindakan preventif dalam
menanggulangi kenakan remaja adalah di sekolah pendidikan mental
dilakukan oleh guru, guru pembimbing atau psikolog sekolah bersama
para pendidik lainnya. Dalam hal ini guru berperan penting dalam
pembentukan karakter remaja supaya menjadi pribadi yang wajar dengan
mental yang sehat dan yang kuat dan mengarahkan mereka untuk selalu
melakukan perbuatan baik dan juga mendorong remaja untuk tetap
33

berjalan pada jalan yang benar. Adapun yang menjadi cara khusus yang
dilakukan konselor dalam menanggulangi kenakalan adalah sebagai
berikut:
a. Mengamati gerak-gerik remaja dan juga faktor penyebab yang
menimbulkan kenakalan.
b. Memberikan perhatian khusus
Dalam hal memberikan perhatian khusus, konselor harus
berperan sebagai sahabat dan juga komunikator. Dimana
konselor harus menjalin hubungan yang baik dengan remaja.
c. Mengawasi penyimpangan tingkahlaku remaja khususnya dalam
lingkungan sekolah.
d. Memberikan bimbingan
Dimana bimbingan merupakan proses memberikan bantuan,
arahan, tuntunan, dan petunjuk yang harus dilakukan secara
berkesinambungan oleh pembimbing kepada yang dibimbing di dalam
mengatasi persoalan-persoalan hidupnya sehingga ia dapat menentukan
sendiri jalan hidupnya secara bertanggung jawab. Adapun bimbingan yang
diberikan berupa:
Memberikan wejangan baik berupa nasihat, arahan kepada
remaja.
Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkahlaku baik
dan merangsang hubungan sosial yang baik.
Membantu remaja untuk menemukan jalan keluar dari masalahmasalah yang dihadapi remaja.
Mengarahkan pribadi remaja terhadap penyadaran nilai-nilai
sosial, moral dan etika.
2. Tindakan represif yakni tindakan untuk menindas dan menahan kenakalan
remaja atau menghalangi timbulnya peristiwa kenakalan yang lebih hebat.
Usaha ini dilakukan dengan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap
perbuatan dan pelanggaran.
Dalam hal ini konselor ataupun orang tua menetapkan atau membuat suatu
peraturan atau tata tertib yang disepakati bersama dan apabila peraturan
tersebut dilanggar maka remaja akan dikenakan hukuman.
a. Di dalam lingkungan keluarga atau di rumah remaja harus menaati
peraturan dan tata cara yang berlaku. Di samping peraturan tentu perlu
adanya semacam hukuman yang dibuat orang tua terhadap pelanggaran
tata tertib dan tata cara keluarga. Dalam hal ini perlu diperhatikan
bahwa pelaksanaan tata tertib dan tata keluarga harus dilakukan dengan
konsisten.
b. Di sekolah dan lingkungan sekolah, kepala sekolah, guru juga
berwenang dalam pelaksaan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib
sekolah. Pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk
memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan
orangtua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan team
guru atau pembimbing dan juga pemberian hukuman yang setimpal
sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.
34

Selanjutnya Sarwono (2011:287-292), adapun langkah-langkah dalam


menanggulangi kenakalan antara lain sebagai berikut:
1. Penanganan individual
Remaja ditangani sendiri, dalam tatap muka empat mata dengan
psikolog atau konselor. Dalam hal ini konselor atau psikolog dapat
memberikan petunjuk atau nasihat (guidance) secara langsung. Disini
konselor atau psikolog memanfaatkan pengetahuannya yang lebih
banyak dari klien untuk memberikan informasi atau mencari jalan keluar
mengenai hal-hal atau masalah-masalah yang belum diketahui oleh klien
2. Penanganan keluarga
Dalam rangka menangani masalah remaja. Adakalanya dilakukan
terapi sekaligus terhadap anggota keluarga. Dimana bahwa kenakalan
diakibatkan oleh perlakuan atau pendekatan yang dilakukan orang tua
kurang maksimal. Tujuan dari tehnik terapi keluarga ini adalah agar
keluarga bisa berfungsi dengan lebih baik dan menjalankan peranannya
masing-masing yang saling mendukung dan memperhatikan satu sama
lain.
3. Penanganan kelompok
Penanganan ini dilakukan dengan cara mengumpulkan orang-orang
yang masalahnya sama, persoalannya sama dan juga usianya sama.
Kemudian mereka disuruh untuk bertukar pikiran, saling mendorong,
saling memperkuat motivasi, dan saling memecahkan masalah bersama,
dengan hal ini mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam
menghadapi masalah
Berdasarkan buku Sarlito (2011:284-287) yang mengutip pendapat
Rogers (Adams dan Gullotta, 1983:56-57) ada lima ketentuan yang harus
dipenuhi untuk membantu remaja:
1. Kepercayaan: remaja harus percaya kepada orang yang mau
membantunya (orang tua, guru, psikolog, ulama, dan sebagainya),
ia harus yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan
kata-kata penolong ini memang benar adanya. Untuk memenuhi
ketentuan ini sering kali tenaga professional (psikolog, konselor)
lebih efektif daripada orang tua atau guru sendiri karena remaja
yang bersangkutan sudah terlanjur mempunyai penilaian tertentu
kepada orang tua atau gurunya sehingga apapun yang dilakukan
orang tua atau guru tidak akan dipercayainya lagi. Di pihak lain,
tenaga professional ini tidak dikenal remaja kecuali dalam jam-jam
konseling saja. Dengan demikian, kata-kata psikolog atau konselor
itu lebih bisa dipercayainya karena tidak ada yang mau
dibandingkannya mengenai tingkah laku seorang konselor.
Walaupun demikian, para remaja juga tidak percaya kepada
konselor karena dia tidak mempercayai siapapun. Dan ada juga
remaja tidak mau di bawa kepada psikolog karena merasa tidak
sakit jiwa. Untuk itu seorang konselor harus pintar mencari cara
untuk melakukan pendekatan terhadap remaja, misalnya dengan
35

alasan tes bakat atau membantu psikolog atau konselor dalam


memecahkan persoalan orang tua.
2. Kemurahan hati. Remaja harus merasa penolong itu sungguhsungguh mau membantunya tanpa syarat. Ia tidak suka kalau
orang tua, misalnya mengatakan: bener deh, Mama sayang kamu
dan Mama bantu kamu, tapi kamu juga mesti ngerti dong.
Pelajaran itu kan penting. Pelajaran dulu diutamakan, nanti yang
lainnya Mama bantu deh. Inikan buat kepentinganmu sendiri.
Buat remaja, kalau membantu bantu saja. Tidak perlu ditambahi
tetapi-tetapi. Karena itulah remaja lebih sering meminta nasihat
teman-temannya sendiri walaupun teman-teman itu tidak mampu
memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi. Tetapi yang jelas
teman itu secara murni mau membantu.
3. Kemampuan mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja.
Karena perbedaan usia, status dan cara berfikir sulit bagi orang tua
berempati pada remaja karena setiap orang cenderung melihat
segala persoalan dari sudut pandangnya sendiri dan mendasarkan
penilaian dan reaksinya pada pandangan itu sendiri. Di pihak
remaja sulit menerima uluran tangan orang dewasa karena tidak
ada empati terkandung di dalam uluran tangan itu. Berbeda dengan
teman yang memberikan reaksi yang penuh empati karena merasa
senasib, walaupun mereka tidak bisa menawarkan bantuan yang
maksimal. Oleh karena itu diperlukan bantuan tenaga yang
professional yang telah terlatih untuk membangun empati terhadap
klien-klien yang dihadapinya.
4. Kejujuran.
Remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa
adanya saja, termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan. Apa
yang salah dikatakan salah, apa yang benar dikatakan benar. Yang
tidak bisa diterimanya adalah jika ada hal-hal yang jika remaja
melakukannya kita salahkan tetapi pada orang lain atau orang
tuanya sendiri hal itu dianggap benar. Kebiasaan orang tua dan
orang dewasa lainnya untuk membohongi remaja (walaupun dalam
rangka menolongnya) lama kelamaan akan meruntuhkan ketentuan
pertama dan utama dalam rangka membantu remaja, yaitu
kepercayaan remaja itu sendiri terhadap penolongnya.
5. Mengutamakan persepsi remaja sendiri. Remaja memandang
segala sesuatu dari sudutnya sendiri. Terlepas dari kenyataan atau
pandangan orang lain yang ada, bagi remaja, pandangannya sendiri
itulah yang merupakan kenyataan dan ia bereaksi terhadap itu.
Menurut Surbakti (2008:214) cara menanggulangi kenakalan remaja
yaitu melakukan pengawasan. Pengawasan yang dimaksud adalah orang tua
memberikan nilai-nilai dan teladan yang baik. Bentuk pengawasan orang tua
yaitu:
36

1.

2.

3.
4.

6.

7.

8.

Identitas
Orang tua harus membekali anak remajanya dengan identitas yang
jelas sehingga mereka mampu menyatakan identitasnya sebagai remaja yang
bertanggung jawab dan tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai
pengajaran yang berpotensi menyesatkan.
Kejujuran
Kejujuran membangun kebersamaan di atas landasan saling
mempercayai sehingga mendorong hidup menjadi produktif, kejujuran berarti
menjauhkan diri dari tindakan manipulasi, penipuan, kebohongan, merugikan
orang lain, atau mementingkan diri sendiri. Kejujuran merupakan modal
menuju hidup masa depan yang lebih baik.
Kesadaran
Kesadaran merupakan bentuk pengawasan yang berasal dari hati
nurani.
Komitmen
Bertanggung jawab dan menghormati rencana pribadi karena
komitmen berhubungan dengan harga diri.
5. Keberanian untuk menolak dan menyatakan tidak bagi pergaulan yang
tidak sesuai dengan etika dan moral atau melanggar kepatutan sosial.
Kerohanian
Menuntun remaja untuk menjaga kesucian hidup dan
mempertahankan diri dari berbagai godaan yang menjatuhkan kita ke dalam
dosa.
Kepercayaan
Memberikan kepercayaan kepada remaja untuk mengelola dirinya dan
mendorong remaja belajar mengambil keputusan dan menentukan jalan
hidupnya.
Etika dan moral
Menuntun setiap langkah remaja untuk senantiasa menjaga
perilakunya agar tidak mencemarkan dirinya sebagai remaja.

7. Kenakalan Remaja Akibat Kekerasan Dalam Keluarga


1. Pengertian Kekerasan Dalam Keluarga
Charles Stanley (1994:96-97 ) mengemukakan bahwa kekerasan adalah
tindakan manipulatif dan didasarkan pada kekuatan atau kekuasaan untuk
mengendalikan orang lain.
Berdasarkan Pasal 89 KUHP kekerasan adalah suatu perbuatan dengan
menggunakan tenaga atau kekuatan jasmani secara tidak sah, atau membuat orang
tidak berdaya.
37

2. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Keluarga


Berdasarkan pasal 89 KUHP, bentuk kekerasan yaitu: memukul dengan
tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak dan menendang.
Menurut Pasal 19 KHA (CRC) (Protection from Abuse and Neglet) Bentuk
kekerasan yaitu, fisik/luka-luka, mental, penyalahgunaan (wewenang/ kuasa
asuh), penelantaran, perlakuan salah dan eksploitasi.
Menurut Bagong Suyanto (2010:29-30) ada empat bentuk kekerasan
terhadap remaja yaitu:
1. Kekerasan fisik seperti: menampar, menendang, memukul /meninju,
mencekik,

mendorong,

menggigit,

membenturkan,

mengancam

dengan benda tajam.


2. Kekerasan psikis seperti: perasaan tidak nyaman, menurunnya harga
diri serta martabat korban, merasa tidak berharga, minder, dan lemah
dalam membuat keputusan.
3. Kekerasan seksual seperti: tindakan yang memaksa dan mengancam
untuk melakukan hubungan seksual, melakukan penyiksaan atau
bertindak sadis serta meninggalkan seseorang, pemerkosaan anak,
pencabulan.
4. Kekerasan ekonomi seperti: orang tua memaksa anak di bawah umur
turut serta dalam memenuhi kontribusi ekonomi keluarga.
3. Faktor-faktor Penyebab Kekerasan Terhadap Remaja Dalam Keluarga
Menurut Edy Ikhsan (2001: 120-123) penyebab kekerasan terhadap remaja:
a. Belum dikenalnya Konvensi Hak-Hak Anak secara luas
38

b. Kurangnya perangkat hukum yang diturunkan dari KHA


c. Kurangnya pemahaman tentang proses tumbuh-kembang anak
d. Kurang diterapkannya pendidikan atas dasar kasih sayang
e. Kurangnya pranata dan lembaga yang melindungi anak
f. Pandangan tradisional yang kurang menguntungkan anak
g. Kondisi keluarga yang membuat anak-anak terlantar
Berdasarkan buku Bagong Suyanto (2010: 43) yang mengutip pendapat
Siti Fatimah (1992), faktor pendorong atau penyebab terjadinya kekerasan
terhadap remaja dalam keluarga adalah: faktor ekonomi atau kemiskinan,
masalah keluarga, faktor perceraian, kelahiran anak di luar nikah, permasalahan
jiwa atau psikologis, dan tidak dimilikinya pendidikan atau pengetahuan religi
yang memadai.
4. Dampak dari kekerasan terhadap remaja
Berdasarkan buku Bagong Suyanto (2010:100-101) yang mengutip
pendapat Pinky Saptandari 2002 , adapun dampak kekerasan terhadap remaja:
1. Kurangnya motivasi/harga diri,
2. Problem kesehatan mental, misalnya: kecemasan berlebihan, problem
dalam hal makan, susah tidur,
3. Sakit yang serius dan luka parah sampai cacat permanen: patah tulang,
radang karena infeksi, dan mata lebam, termasuk juga sakit kepala, perut,
otot, dan lain-lain yang bertahun-tahun meski bila ia tak lagi dianiaya,
4. Problem-problem kesehatan seksual, misalnya; mengalami kerusakan
organ reproduksinya, kehamilan yang tidak diinginkan, ketulan penyakit.
5. Mengembangkan perilaku agresif (suka menyerang) atau jadi pemarah,
atau bahkan jadi sebaliknya menjadi pendiam dan suka menarik diri dari
pergaulan,
6. Mimpi buruk dan serba ketakutan. Selain itu, kehilangan nafsu makan,
tumbuh, dan belajar lebih lamban, sakit perut, asma, dan sakit kepala.
7.
Kematian.
Dampak kekerasan dalam masyarakat yaitu:
1. Pewarisan lingkungan kekerasan secara turun temurun atau dari
generasi ke generasi.
39

2. Tetap bertahan kepercayaan yang keliru bahwa orang tua mempunyai


hak untuk melakukan apa saja terhadap anaknya, termasuk hak
melakukan kekerasan.
3. Kualitas hidup semua anggota masyarakat merosot, sebab anak yang
dianiaya tak mengambil peran yang selayaknya dalam kehidupan
kemasyarakatan.
5. Cara Mengatasi Kekerasan Dalam Keluarga
Menurut Charles Stanley (1994:98-118) ada 10 cara untuk terbebas dari
tindakan kekerasan dan menyembuhkan hati dari segala kehancuran batin dan
terlepas dari beban emosional.
1. Carilah pimpinan Tuhan
Meminta petunjuk dari Tuhan agar diberikan ketenangan hati dan
jalan yang ditempuh untuk menyelesaikan masalah.
2. Berdoa untuk pelaku kekerasan
Meminta kepada Tuhan agar pelaku kekerasan diberikan Tuhan wawasan.
3. Jangan menyalahkan Tuhan karena tindakan kekerasan tersebut
Allah tidak pernah melakukan hal-hal yang jahat untuk kebaikan.
Kekerasan tidak ada hubungannya dengan Tuhan.
4. Ampunilah pelaku kekerasan
Pengampunan merupakan suatu cara untuk membawa damai sejahtera di
dalam hati anda.
5. Ampunilah orang yang mungkin telah memungkinkan Anda mengalami
kekerasan
Mintalah agar Tuhan memberikan belas kasihan kepada orang yang
melakukan tindakan kekerasan.
6. Pilihlah kebenaran mengenai diri Anda dan pelaku kekerasan
Jangan menyalahkan diri sendiri dan menerima begitu saja tindakan
kekerasan karena tidak seorang pun berhak dimanipulasi atau dilukai, atau
membiarkan harga diri, identitas, dan rasa dihargai dihancurkan menjadi
berkeping-keping.
7. Bukalah diri Anda bagi penyembuhan Tuhan terhadap emosi Anda yang
diperlakukan kasar
Tutuplah pikiran anda terhadap kenangan masa lalu dan paksalah diri anda
untuk memikirkan sesuatu yang benar, mulia, adil, suci dan
menyenangkan.
8. Jangan membalas dendam
Jangan izinkan kesalahan seseorang yang berlaku kasar kepada anda yang
menyebabkan anda memiliki akar dosa dalam kehidupan anda. Tolaklah
perasaan untuk menyalurkan luka dan kemarahan anda kepada pelaku
perbuatan kasar. Roma 12:21 yang mengatakan, Janganlah kamu kalah
terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
9. Putuskan untuk maju secara positif

40

Jika kita adalah seorang yang sungguh-sungguh berpusatkan pada Kristus,


kita akan mengatakan, Mungkin itu keadaan diri saya dulu, tetapi saya
sekarang telah ditebus oleh Yesus Kristus.
10. Mintalah agar Tuhan membawa sesuatu yang baik dalam pengalaman
Anda
Percayalah bahwa Tuhan akan melakukan sesuatu yang baik melalui
situasi perilaku kasar atau pengalaman yang anda tanggung. Serahkan
seluruhnya kepada Tuhan. Biarkan Tuhan turut bekerja dalam hidup anda.
8.

Langkah-langkah Pendampingan Konseling Pastoral Terhadap Kenakalan


Remaja Akibat Kekerasan Dalam Keluarga
Menurut Mesach (2002:36), ada delapan langkah yang harus diperhatikan
seorang pelayan pastoral untuk menolong orang lain dari masalahnya yaitu:
1. Menyadari menjadi seorang penolong yang efektif. Empat pertanyaan yang
harus terjawab untuk menyadari panggilan sebagai seorang pelayan pastoral:
a. Mengapa saya menjadi seorang penolong bagi orang lain.
b. Apa yang saya peroleh untuk diri sendiri menolong orang lain.
c. Bagaimana kebutuhan-kebutuhan atau interes saya mempengaruhi
kemampuan saya untuk menolong orang lain.
d. Kekuatan apa yang saya miliki yang akan memperkenalkan saya
menjadi berguna membantu orang lain.
2. Menolong orang lain. Ada delapan langkah untuk menolong orang lain keluar
dari masalahnya:
a. Setting; merencanakan suatu tempat/lingkungan menolong yang aman dan
tenang, pendekatan yang tepat untuk menolong.
b. Membangun kepercayaan sehingga suatu relasi akan tumbuh.
c. Mendengarkan dengan perhatian penuh.
d. Probing/mencari informasi.
e. Menyediakan keamanan dan dukungan.
f. Mendorong rasa percaya diri yang cukup.
g. Mengukur masalah.
h. Mengembangkan suatu rencana tindakan.
Larry Crabb (1997:206) menuliskan bahwa ada tujuh langkah pelayanan
pastoral konseling:
a. Mengenali perasaan. Dimana sebelum melakukan pelayanan pastoral
konseling secara mendalam, perlu terlebih dahulu seorang konselor
mengenaal dan menemukan bagaimana perasaan konseli terhadap
masalah yang dihadapinya.
b. Mengenali masalah tingkah laku. Dalam mengenal tingkah laku berarti
pelayan pastoral harus mengetahui tindakan dan usaha apa yang
dilakukan konseli dalam menghadapi masalahnya.
41

c. Mengenal masalah pemikiran. Konselor harus mengetahui arah, jalan


dan konsep pemikiran konseli. Apa yang dia inginkan dalam pelayanan
konseling itu untuk lebih mempermudah dalam menanggulangi dan
penyelesaian masalah yang tengah dihadapi.
d. Memperjelas pemikiran Alkitabiah. Dalam penyelesaian masalah,
konselor harus mengarahkan konseli kepada penyelesaian secara
Alkitabiah, artinya sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan dalam
FirmanNya yang secara tepat untuk menyelesaikan masalahnya.
e. Memastikan komitmen. Konselor harus memastikan suatu komitmen
dari konseli. Bagaimana caranya untuk menempuh dan menyelesaikan
masalahnya.
f. Merencanakan dan menjalankan tingkah laku Alkitabiah. Setelah ada
komitmen, maka konselor akan mengarahkan konseli untuk
menyelesaikan masalahnya secara Kristiani dan menjelaskan apa yang
sesuai dengan Alkitabiah.
g. Mengenali perasaan yang dikuasai Roh. Konselor harus mengarahkan
konseli pada perubahan yang menunjukkan tingkah laku yang baru dan
hidup dalam kehendak Tuhan.
Yeo (1994:192-198) menuliskan bahwa ada beberapa usaha-usaha yang
dilakukan pelayan pastoral dalam pemecahan masalahnya, setiap konselor tentunya
telah mempelajari pendekatan-pendekatan dan cara usaha tertentu untuk menolong
klien yang mempunyai problema atau masalah antara lain:
1. Mengurangi beratnya masalah
Membangun kepercayaan sehingga suatu relasi akan tumbuh pelayanan
dengan kedudukannya. Sebagai penolong pertama membangun
kepercayaan dengan klien bahwa apa yang dilakukan membawa
perubahan kearah yang lebih baik.
2. Mengubah perilaku negatif menjadi positif
Pelayanan harus memberikan nasehat yang dipilih oleh klien untuk
dilakukan dalam mengatasi persoalan hidup dan merupakan cara yng
terbaik bagi klien.
3. Mengubah cara pandang terhadap masalah
Menunjukkan kepada klien bahwa kita bisa memahami masalah yang
sedang dihadapi dan konselor ikut merasakan pergumulan klien.
4. Mempermudah memberikan tanggapan yang berbeda
Menjadi pendengar yang baik dan menerima pendapat dari klien karena
hal ini dapat membangun kepercayaan diri klien.
5. Mendorong klien untuk meneruskan konseling
Untuk mengubah sebuah kelemahan dari klien menjadi kekuatan.
6. Mengurangi dampak atau seriusnya masalah
Memberikan kekuatan kepada klien dan memberikan pemahaman bahwa
masalah yang dialaminya masih wajar.
7. Belajar mengubah sebutan
Berusaha membuat pengubahan nama yang lebih positif dan tidak
menghakimi klien.
42

Dari uraian di atas penulis menyimpulkan usaha pelayanan pastoral kepada


klien yang mengalami kekerasan dalam keluarga mampu mengurangi dampak atau
seriusnya masalah. Penolong berusaha membantu klien untuk menumbuhkan rasa
percaya dirinya kembali. Dengan denikian klien mampu menerima masalahnya dan
dapat mengatasi serta mengambil keputusan yang tepat untuk keluar dari masalah
serta membangun kepercayaan agar tercipta relasi yang baik dan membuat klien
percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia. Memberikan alternatifalternatif

yang dapat membantu masalah klien agar mampu bangkit dari

keterpurukan, dan membuat klien mengerti bahwa masih ada yang peduli dan mau
menolongnya keluar dari masalah yang dihadapi asal kita berusaha dan membangun
sosialisasi yang baik dengan orang lain dan percaya kepada diri sendiri bahwa sesulit
apapun masalah pasti ada jalan keluarnya sehingga klien mampu menyelesaikan
masalah dan mengambil keputusan yang tepat dan terbaik.
Pendampingan yang tepat dilakukan untuk menolong remaja yang mengalami
kekerasan dalam keluarga adalah konseling edukatif. Konseling edukatif dalam
membimbing mempunyai dua model yaitu: bimbingan edukatif dan bimbingan
induktif. Konseling pastoral edukatif menggabungkan kedua metode ini dalam
berbagai perbandingan. Metode induktif memanfaatkan pengetahuan dan pemahaman
konselor yang berasal dari tradisi, studi, dan pengalaman religius. Metode edukatif
berusaha menyingkapkan masalah batiniah dan hikmat konseli, sehingga terjadilah
perjumpaan diantara kedua unsur ini, yaitu masalah dan hikmat konseli dengan
pengetahuan dan pemahaman konselor. Metode konseling ini juga digunakan untuk
membantu orang mengurangi kelemahan emosional dan konflik batin. Jika tidak,
43

maka hal tersebut akan mencegah orang mengerti, mengevaluasi, memilah-milah, dan
kemudian memanfaatkan berbagai ide yang relevan. Konselor edukatif tidak hanya
membantu orang untuk memperoleh keterampilan dalam penanggulangan masalah
secara konstruktif tetapi ikut serta dalam masalah tersebut.
Ada enam asumsi yang merupakan fondasi teoritis dari konseling edukatif:
1. Pengetahuan intelektual adalah sumber daya yang penting untuk
menanggulangi realitas secara konstruktif.
2. Kebanyakan konseli mempunyai daerah kepribadian yang bebas dari
konflik yang dapat memanfaatkan informasi yang diterima dalam session
konseling edukatif dan tugas pembaca di antara session konseling.
3. Konselor memiliki pengetahuan, nilai, dan keterampilan yang dapat
bermanfaat bagi banyak konseli.
4. Keterampilan konseling dapat menolong orang untuk memanfaatkan
informasi yang relevan.
5. Fakta, pemahaman, nilai, keterampilan dapat membantu banyak orang
menanggulangi tantangan yang mereka hadapi dengan lebih efektif.
6. Konseling dapat dilakukan di mana saja dengan cara memperagakan
sikap, keyakinan, nilai, dan perilaku konstruktif.
Ada tiga langkah untuk membantu orang tua yang melakukan tindakan kekerasan
terhadap anaknya yaitu:
1. Menyadarkan bahwa penyiksaan anak adalah suatu dosa (1 Yohanes 1:8,10),
dan hanya dengan mengaku dosa itu di hadapan Allah, ia akan mendapat
pengampunan dan penyucian.
44

2. Ampuni mereka yang menyiksamu - mereka yang memperlakukan kamu dengan


jahat di masa kecilmu dan mereka yang sekarang membuatmu frustrasi dan
marah (Matius 6:14-15).
3. Hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus dan dikontrol oleh-Nya (Efesus
5:18; Galatia 5:22-23). Peringatkan dia bahwa ia telah melakukan hal yang
melanggar hukum. Menunjukkan Firman Allah yang mengatakan tentang
pelanggaran hukum-hukum pemerintahan (Roma 13:1-3;1 Petrus 2:13-14).
Seharusnya sebagai orangtua harus mendidik anaknya seperti yang tertulis dalam
Ulangan 6:6-7: Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau
perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan
membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam
perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Dalam hal ini tugas
orangtua tidak pernah selesai, melainkan terus-menerus berlangsung. Orangtua diberi
tugas untuk mengajar anak-anak berulang-ulang.
Anak akan mengikuti kebiasaan orangtua seperti pepatah yang mengatakan tumbuhnya
rebung tidak akan jauh dari bambu. Demikian juga dengan kepribadian anak tidak akan
jauh dari kepribadian orangtua. untuk itu orangtua harus berjuang keras mendidik anak
mereka agar lingkungan tidak terlalu mempengaruhinya karena Kebodohan melekat
pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya. (Amsal
22:15).
Dan seharusnya juga orangtua memberikan kasih sayang bukan membuat anak
menjadi mengikuti hal yang salah karena Barangsiapa menyesatkan salah satu dari
anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik jika sebuah batu kilangan diikatkan pada
45

lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut (Markus 9:42). Berdasarkan ayat ini keluarga
adalah rencana Allah yang seharusnya menjadi dasar sukacita dan kebahagiaan anak.
Dan sebagai seorang ayah haruslah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak yaitu:
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu,
tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4). Dan Kolose
3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. Hai
hamba-hamba. Dengan doa dan kesadaran emosi yang dikuasai kita dapat menegur dan
memukul anak dengan kasih sehingga disiplin yang dibuat mendidik dan membangun
mereka dan bukannya menghancurkan.
Bagi Tuhan semua anak itu merupakan berkat bahkan janin berhak memperoleh
kehidupan dan kedudukan. Sebelum Aku membentuk engkau dalam Rahim ibumu, Aku
telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah
menguduskan engkau, aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa
(Yeremia 1:5).
Bahkan Tuhan memberikan perlindungan hukum kepada anak bahkan janin. Apabila
ada yang berkelahi dan seorang dari mereka tertumbuk kepada seorang perempuan
yang sedang mengandung, sehingga keguguran kandungan, tetapi tidak mendapat
kecelakaan yang membawa maut, maka pastilah ia didenda sebanyak yang dikenakan
oleh suami perempuan itu kepadanya menurut putusan hakim. Tetapi jika perempuan itu
mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa
ganti nyawa (Keluaran 21:22-23).
Sebagai orangtua harusnya mendidik anak-anaknya agar mereka tidak tersesat dan
menyimpang dari ajaran Tuhan. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut
46

baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. (Amsal
22:6). Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya,
melebihi orang yang merebut kota (Amsal 16:32). Karena emosi yang tidak terkontrol
oleh kemarahan orangtua membuat anak-anak terluka dalam karena kata-kata adalah
pedang yang tajam yang berbahaya jika salah digunakan. Masa remaja yang pahit, katakata negatif yang diterima dan cara disiplin oleh orangtuanya bahkan pukulan yang
dilayangkan kepada remaja tanpa sadar menjadi pola acuan dalam hidupnya.
G. Pelaksanaan Penelitian
A. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober s/d Februari, 2016.
2. Tempat
Penelitian ini dilakukan di KPAID Tarutung KabupatenTapanuli Utara.
KPAID Kabupaten Tapanuli Utara berdiri pada tahun 2007.
www,smansax1-edu-com/2014/09/fungsi-dan-tujuan-komnas-perlindungan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merupakan lembaga resmi yang
memiliki wewenang memberi referensi, rujukan, pertimbangan dan pengawasan
atas penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia. KPAI dibentuk
berdasarkan Keppres No. 77 Tahun 2004. UU No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak yang memuat bahwa KPAI adalah lembaga Negara
independen.
KPAI dibentuk berdasarkan amanat UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang
perlindungan anak. UU tersebut disahkan oleh sidang Paripurna DPR pada
47

tanggal

22

september

2002

dan

ditandatangani

Presiden

Megawati

Soekarnoputri, pada tanggal 20 Oktober 2002.


Fungsi dan tujuan dari KPAI yaitu dalam pasal 76 UU Perlindungan Anak
sebagai berikut:
1. Melakukan

peraturan

perundang-undangan

yang

berkaitan

dengan

perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan


masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan
terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.
Berdasarkan pasal tersebut di atas, mandat KPAI adalah mengawal dan
mengawasi pelaksanaan perlindungan anak yang dilakukan oleh para pemangku
kewajiban perlindungan anak sebagaimana ditegaskan dalam pasal 20 yakni:
Negara, Pemerintah, Masyarakat, Keluarga, dan Orangtua di semua strata, baik
pusat maupun daerah, dalam ranah domestik maupun publik, yang meliputi
pemenuhan hak-hak dasar dan Perlindungan khusus. KPAI bukan institusi teknis
yang menyelenggarakan perlindungan anak.
Adapun tujan dari KPAI sebagai berikut:
1. Meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat dalam perlindungan
anak.
2. Membangun sistem dan jejaring pengawasan perlindungan anak.
3. Meningkatkan jumlah dan kompetensi pengawas perlindungan anak.
4. Meningkatkan

kuantitas,

kualitas,

dan

utilitas

laporan

pengawasan

perlindungan anak.

48

5. Meningkatkan kapasitas, aksebilitas, dan kualitas layanan pengaduan


masyarakat.
6. Meningkatkan kinerja organisasi KPAI.
Berdasarkan UU NO. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 1 ayat (1),
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan. Artinya batas usia dewasa menurut aturan ini adalah 18 ke
atas..
B. Alasan memilih remaja X sebagai klien
Sesuai dengan judul skripsi dari penulis yaitu Pendampingan dan konseling
pastoral terhadap kenakalan remaja akibat kekerasan dalam keluarga di KPAID
Tarutung dan remaja X salah satu dari remaja yang nakal, karena yang dialami
remaja X sesuai dengan kasus yang diteliti oleh penulis. Dimana sikap dan perilaku
remaja X yang berubah menjadi nakal merupakan dampak dari kekerasan fisik dan
psikis yang diperolehnya dari lingkungan keluarga.

C. Data Umum Klien


Nama

: Remaja X

Tanggal lahir

: 22 Agustus 1997

Umur

: 18 Tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Desa Si Raja Hutagalung Kec. Siatas Barita

Status

: Belum menikah

Agama

: Kristen Protestan
49

Pendidikan

: SMP

BAB II
DESKRIPSI KASUS
Remaja X Adalah anak pertama dari dua bersaudara. Keluarga remaja X
merupakan keluarga yang bahagia. Tetapi kebahagiaan itu sirna setelah ayah remaja X
meninggal dunia. Dibesarkan oleh orangtua tunggal membuat kebutuhan keluarga kurang
terpenuhi. Sehingga ibu remaja X menikah lagi dengan seorang laki-laki dengan harapan
50

dapat mengubah kehidupan lebih baik dan dapat membiayai hidup. Tetapi yang terjadi
tidak seperti yang diharapkan. Remaja X dengan ayah tirinya tidak pernah akur. Ayah tiri
remaja X sangat keras dalam mendidik remaja X sehingga remaja X kecewa kepada ayah
tirinya. Ibu remaja X hanya bisa diam dan tidak dapat melakukan apapun untuk membela
anaknya. Karena memang pada dasarnya remaja X merupakan anak tiri dan kurang
diperhatikan oleh ayahnya dimana remaja X menambah beban dalam hidupnya. Ayah
remaja X harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Pengaruh ekonomi keluarga memang sering memicu permasalahan dalam
rumah. Karena merasa tertekan akhirnya remaja X tidak melanjutkan sekolahnya ke
jenjang yang lebih tinggi. Remaja X hanya tamat SMP. Mengingat usianya masih usia
sekolah, remaja X merasa minder terhadap teman-teman seusianya yang sedang belajar
di SMA. Dia merasa hidupnya tidak berguna, sehingga remaja X mencari kesenangan
bersama teman-temannya yang senasib dengan dia. Remaja X jarang pulang ke rumah
karena remaja X tidak pernah bisa dekat dengan ayah tirinya. Jika remaja X pulang ke
rumah selalu mendapat omelan dari ayah tirinya yang menguatkan hati remaja X untuk
pergi dari rumah. Melihat hal ini hati ibu remaja X teriris. Dia menikah lagi untuk
mendapat kebahagiaan dan mampu menyekolahkan anak-anaknya serta memberikan
kehidupan yang layak. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, kebahagiaan itu semakin
sirna. Akhirnya orangtua remaja X memilih untuk bercerai daripada saling menyakiti.
Setelah sekian lama hidup menjanda dan membesarkan kedua anak tidak dapat merubah
keadaan yang sudah hancur. Remaja X sudah terlanjur putus sekolah. Pada suatu hari ibu
remaja X bertemu dengan seorang pria yang mampu menerima kehidupannya dan ingin
membangun keluarga yang bahagia bersamanya. Akhirnya ibu remaja X menikah lagi
51

dengan seorang pendeta. Tetapi pada saat pernikahan berlangsung remaja X tertangkap
basah sedang mencuri sepeda motor warga sehingga remaja X dilaporkan pada pihak
yang berwajib dan remaja X ditahan selama seminggu di rutan Tarutung. Akibat yang
dialami remaja X membuat Dia bersedih, cemas, putus asa, cepat tersinggung, minder
dan merasa malu kepada teman-temannya dan juga kepada masyarakat terutama kepada
orangtuanya.
Akibat dari masalah itu remaja X tidak memiliki semangat untuk hidup lagi
serta cenderung tertutup bahkan dia tidak mau bertemu dengan siapapun karena merasa
sangat malu. Dengan kejadian yang dialami remaja X membuat dia prustasi, kehilangan
harapan dalam menjalankan hidupnya. Remaja X sering mengurung diri, jarang
berbicara, menjadi pemurung serta tidak mau makan. Dalam hai ini penulis ingin
membantu remaja X dengan melakukan konseling kepada remaja X dan mendampingi
masalah yang dihadapi oleh remaja X dengan cara mendekatkan diri kepada dia, agar
remaja X mau lebih terbuka dan dapat bangkit dari masalah yang dihadapinya serta
mampu menerima kenyataan hidup yang sedang dialami.
Kehadiran seorang pelayan pastoral sangat dibutuhkan untuk memberikan
pendampingan kepada remaja X yang saat ini sedang mencari identitas diri agar tidak
tersesat dan dapat mengubah kebiasaan buruknya menjadi lebih baik. Dalam
menyelesaikan masalah ini penulis melakukan pendekatan dengan konseling edukatif.
Dengan menerapkan konseling edukatif diharapkan mampu menolong klien keluar dari
masalah yang sedang dihadapinya.

52

BAB III
ANALISA KASUS
Terjadinya perubahan dalam diri seseorang baik perubahan dalam sikap,
pikiran, mental dan kesehatan dipengaruhi oleh banyak hal. Demikian pula dalam
53

kasus ini ada banyak faktor-faktor yang mempengaruhi hingga menjadi suatu
masalah dan penyakit dan faktor-faktor itu adalah:
1. Faktor Spiritual
Suseno (1990:14) menuliskan:
Spritualitas adalah ketegangan batin dalam setiap sikap yang kita ambil,
tetapi spritual bukan sembarangan keterarahan karena nafsu atau pamrih,
melainkan keterarahan yang berdasarkan sesuatu yang rohani yang
mengatasi kita sendiri, maka spritualitas orang Kristen ditentukan oleh
iman.
Dengan demikian bahwa spritualitas adalah keteraturan dan keterarahan
dalam iman, sehingga spritualitas itu bukanlah agama melainkan gaya hidup
manusia yang memancarkan iman melalui perbuatan dan tingkah laku dalam
55

kehidupan sehari-hari. Dalam kasus ini, remaja X yang terlahir dari orang tua
yang beragama Islam, namun karena ayah remaja X meninggal dunia, ibu remaja
X menikah lagi dengan seorang laki-laki yang beragama Kristen sehingga remaja
X mengikut ibunya beragama Kristen. Mengenai agama remaja X kurang
menerima karena dengan terlahir di keluarga Islam dan remaja X akan mengubah
kepercayaannya lagi menjadi seorang Kristen itu membuat remaja X tidak dekat
dengan pencipta bahkan Remaja X tidak percaya yang namanya agama.
2. Faktor Sosial
Manusia adalah makhluk sosial dimana manusia itu mempunyai sifat
saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya dan tidak dapat
hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam tindakan-tindakannya manusia
juga sering menjurus kepada kepentingan-kepentingan masyarakat.

54

Menurut Kunkel yang dikutip oleh walgita (2003:25), manusia itu


mempunyai dorongan untuk mengabdi kepada dirinya sendiri (Ichaftigkeit) dan
dorongan untuk mengabdi kepada masyarakat (Seichlischkeit) secara bersamasama, manusia merupakan kesatuan dari keduanya.
Karakter manusia ditentukan oleh lingkungan dimana dia hidup dan
berinteraksi setiap harinya. Demikian juga karakter remaja X yang telah dibentuk
dan ditentukan pola pikir dan gaya hidup orangtuanya. Sebagai orang Kristen,
menjadi orangtua adalah panggilan Ilahi untuk bertanggung-jawab mengurus,
mendidik dan merawat anak-anak yang dititipkan Tuhan pada mereka. Namun
banyak orang tua yang salah mendidik, bisa dikatakan mereka mengakui karena
mereka sayang dan mencintai anak-anaknya melalui tindakan mereka, contohnya
remaja X sangat disayangi oleh orangtuanya, tetapi setelah ayahnya meninggal
dunia remaja X tidak mendapat kasih sayang seperti sebelumnya.
Menurut Rabbindranath yang dikutip oleh Krisetya (2001:38) :
Jikalau seorang anak hidup dengan kritik, dia belajar untuk menuduh
Jikalau seorang anak hidup dengan kekerasan, dia belajar untuk berkelahi
Jikalau seorang anak hidup dengan penghinaan, dia belajar untuk menjadi
malu
Jikalau seorang anak hidup dengan rasa malu, dia belajar untuk merasa
bersalah
Jikalau seorang anak hidup dengan toleransi, dia belajar untuk sabar
Jikalau seorang anak hidup dengan dorongan, dia belajar untuk percaya
diri
Jikalau seorang anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai
Jikalau seorang anak hidup dengan adil, maka ia belajar keadilan
Jikalau seorang anak hidup dengan rasa aman, dia belajar untuk memiliki
iman
Jikalau seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, dia
menemukan kasih dalam dunia.

55

Dari pendapat di atas jelas bahwa pendidikan dalam rumah tangga sangat
menentukan bagi kehidupan anak juga masa depannya. Dalam hal ini keluarga
remaja X kurang memberikan kehidupan yang aman kepada remaja X yang
membuat remaja X tidak memiliki iman, tidak percaya diri, tidak mempunyai
semangat dan merasa bersalah.
3. Faktor Psikologi
Secara psikologi kekerasan dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku
pada semua orang yaitu seperti hilangnya semangat hidup, merasa tidak berarti
dengan masalah yang dihadapi, wajah terlihat murung dan tidak punya daya tahan
tubuh yang kuat, merasa kesepian walau berada di tempat yang ramai, hal inilah
yang mendominasi korban dan membuatnya mengalami gangguan mental dan
jiwanya.
Dalam hal ini remaja X adalah korban kekerasan dalam keluarga yang
membuat remaja X tertekan batin dan berusaha mencari jalan keluar dengan
melakukan perbuatan yang tidak pantas. Sehingga saat remaja X berhadapan
dengan hukum membuat remaja X semakin terpuruk, putus asa, rasa malu
terhadap keluarga dan masyarakat serta kuatir akan masa depannya.

4. Faktor Budaya, Adat Istiadat


Sesuai dengan falsafah orang batak Anakhon hi do hamoraon di au.
Semua orangtua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya dan menjunjung
tinggi keberhasilan anaknya, dengan alasan supaya anak-anaknya lebih tinggi dari
keadaan orangtuanya dibidang pendidikan, pengalaman dan kekayaan. Keinginan
itu wajar dan positif. Yang menjadi permasalahan dalam kasus ini adalah remaja
56

X hanya seorang anak tiri yang tidak diharapkan kehadirannya dalam keluarga
karena menambah beban dalam hidup. Banyak orang batak yang berpendapat
bahwa setiap anak itu adalah harta yang paling berharga dan berkat dari Tuhan
yang harus disyukuri. Tapi berbeda dengan remaja X yang hanya menyandang
kedudukan sebagai anak tiri yang tidak pernah diperhatikan dan selalu ditekan
dan ayah remaja X sering melakukan kekerasan kepada remaja X karena dia
bukanlah anak kandungnya. Dalam hal ini perlu diubah pemikiran orangtua yang
menganggap anak tiri itu tidak penting dan tidak memiliki kedudukan bahkan
tidak perlu dihargai. Pada hakekatnya semua anak terlahir ke dunia ini untuk
dirawat, dijaga, diberikan kasih sayang serta diberikan kehidupan yang layak.
5. Faktor Ekonomi
Dalam kasus ini jelas persoalan ekonomi mempengaruhi kebahagiaan
keluarga. Karena ekonomi keluarga yang rendah memicu permasalahan dalam
rumah tangga. Apalagi pada saat sekarang ini untuk mendapatkan segala sesuatu
membutuhkan uang padahal penghasilan tidak mencukupi kebutuhan keluarga
apalagi untuk biaya sekolah. Hal inilah yang membuat remaja X putus sekolah
dan hanya mengecap pendidikan sampai SMP saja. Hal ini membuat remaja X
kecewa dan putus asa.

57

BAB IV
INTERPRETASI

Sering terdengar keluhan para remaja bahwa keluarga tidak mempunyai arti
apa-apa. Sebenarnya jauh sebelumnya arti keluarga sudah harus dipupuk, supaya
tetap mempunyai arti dan kelak bermanfaat pada masa remaja dan dalam
mempersiapkan kedewasaannya. Seorang remaja sangat memerlukan perhatian dari
orang tua karena pada masa remaja dalah masa transisi dari anak-anak menjadi
dewasa. Masa remaja adalah masa pencarian identitas yang sangat membutuhkan
semangat dan kasih sayang dari keluarga. Berbeda dengan remaja X yang kurang
mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, remaja X sering berantam dengan
ayahnya yang membuat remaja X menjadi anak yang nakal sehingga dia mau
melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan anak remaja seusianya.
Permasalahan yang dihadapi oleh remaja X adalah ketidakberdayaan untuk
menghadapi setiap masalah yang datang menghampiri hidupnya, yang menimbulkan
rasa takut, gelisah, malu dan hilangnya harapan karena remaja X sulit untuk bergaul
dengan masyarakat akibat perbuatannya yang membuat remaja X berhadapan dengan
hukum.
Permasalahan yang dialami remaja X mengharapkan suatu pemulihan serta
dorongan

dari

orangtua,

keluarga

serta

orang-orang

terdekatnya.

Karena

permasalahan yang dialami remaja X merupakan salah satu ujian yang diijinkan
Tuhan dalam kehidupan remaja X agar remaja X menguatkan iman dan supaya lebih
58

59

dekat kepada Tuhan. Dalam hal ini perilaku remaja X yang berubah menjadi nakal
merupakan pelariannya dari masalah yang datang menerpa hidupnya. Mengingat
masa depannya tidak akan cerah karena dia tidak bisa melanjutkan sekolah dan
pernah berurusan dengan hukum membuat remaja X semakin tertekan dan dia merasa
dia tidak akan diterima lagi di dalam keluarga dan di tengah-tengah masyarakat.
Salah satu hal yang di inginkan oleh remaja X adalah dorongan dari pihak
keluarga dalam pemulihannya. Begitu banyak masalah yang dihadapi remaja X
dalam dirinya bahkan di tengah-tengah keluarga. Setelah kematian ayahnya begitu
banyak penderitaan yang menguji keluarga mereka.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dapat membantu dalam
menyelesaikan masalah:
1. Kematangan emosi dan pikiran
Kedewasaan seseorang tidaklah ditentukan oleh umur dan fisik, namun
ditentukan oleh cara berpikir bagaimana bisa mengendalikan emosi dengan
baik serta dapat mengatasi masalahnya sendiri dengan mengambil keputusan
yang tepat.
2. Perhatian/pengertian
Diperhatikan dan dimengerti adalah kebutuhan semua manusia karena
itu adalah sebuah kenyataan yang sangat penting untuk melanjutkan
kelangsungan hidup.

Namun banyak orang tidak dimengerti dan

diperhatikan oleh keluarga, teman dan pasangan hidupnya.


3. Penerimaan

59

Setiap manusia pasti ingin dirinya diterima orang lain apa adanya.
Sikap saling menerima dalah tindakan yang saling menghargai dan
menghormati eksistensi orang lain, juga saling menguatkan dan menopang.
Teladan bagi manusia untuk saling menerima adalah Yesus Kristus yang
telah lebih dahulu menerima kita apa adanya, dengan itulah manusia
memperoleh keselamatan karena Yesus menerima dan mengampuni dosa
dunia. Dengan menerima orang lain apa adanya adalah tindakan ucapan
syukur karena Yesus terlebih dahulu menerima manusia yang berdosa,
lemah, dan jahat.
4. Kepercayaan
Tercapainya suatu hubungan yang baik dan harmonis dalam keluarga
dan terhadap sesama perlu ada sikap saling percaya. Sikap percaya harus
didukung dengan kejujuran di dalam hubungan antar sesama baik itu dalam
hubungan bermasyarakat dan dalam hubungan keluarga. Sikap mempercayai
juga merupakan sikap menerima, menghargai dan menghormati orang lain.
Ada beberapa dinamika yang melandasi interpretasi yang bermanfaat
bagi tuan X yaitu:
1. Dinamika Teologis
Dalam kasus ini permasalahan yang dihadapi remaja X
adalah sangat tertekan batin akibat kesulitan yang dialaminya yang
membuat dia putus asa dan kehilangan harapan. Sikap diam dan
tidak mau bicara dan bergaul dengan orang lain adalah gambaran
kekecewaan yang dialaminya. Namun terkadang remaja X
60

menyadari dan termotivasi untuk mencari Allah apalagi ketika


konselor menemani dan mengingatkan dia akan kebenaran Firman
Tuhan. Kenyataan hidup harus dijalani. Dalam menjalani hariharinya remaja X merasa kosong dan hilang pengharapan. Bagi
remaja X Tuhan itu tidak adil karena mengambil orang yang
sangat dia sayangi. Remaja X merasa Tuhan itu tidak
menyayanginya.
Dalam situasi ini perlu diketahui bahwa Tuhan sangat
mengasihi anak-anaknya dan setiap cobaan yang kita hadapi
tidaklah melebihi batas kemampuan kita, asalkan kita mau
meminta kepada Tuhan yang kita butuhkan dalam hidup kita
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu
akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu
(Matius 7:7). Remaja X merasa bahwa Tuhan tidak adil padahal
Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu
kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepadaNya (Nahum 1:7). Hanya saja remaja X tidak berlindung kepada
Tuhan melainkan kepada pemikiran yang salah dengan melanggar
perintah Tuhan dengan mengambil milik orang lain Jangan
mencuri (Keluaran 20:15). Tetapi remaja X saat ini sudah mulai
meninggalkan beban hidupnya dan dia menyadari bahwa Tuhan
adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah
kasih setia (Mazmur 103:8). Dan remaja X menyadari bahwa
61

tidak semua yang dia pikirkan itu jadi kenyataan Tuhan telah
menentukan jalan hidup kita Hati manusia memikir-mikirkan
jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya
(Amsal 16:9). Untuk itu kita harus mengandalkan Tuhan dalam
hidup kita dan segala keinginan dan harapan kita serahkan dalam
tangan-Nya. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan,
yang menaruh harapannya pada Tuhan (Yeremia 17:7).
Dan remaja X berusaha memaafkan perbuatan ayah tirinya
sering membuat remaja X kecewa walaupun dia tahu bahwa
betapa sulitnya mengasihi orang yang membenci kita. Memang
pada dasarnya Tuhan Yesus tidak menyuruh kita untuk menyukai
setiap orang, tetapi mengasihi setiap orang bahkan orang yang
menganiaya dan memusuhi kita. Kita tidak diberi tugas untuk
menghakimi, tetapi mengasihi dan melayani. Berkatilah siapa
yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk (Roma
12:14).
Remaja lemah akibat dosa yang dilakukannya dia merasa
gagal dan tidak mampu lagi untuk menang. Sebenarnya kegagalan
bukan dosa, tetapi dosa adalah kegagalan. Justru dalam kegagalan
dan kelemahan itulah kita belajar dan itu merupakan kuasa Tuhan
menjadikan kita sempurna.

2. Dinamika Pastoral
62

Remaja X kehilangan harga dirinya akibat perbuatannya


yang melanggar hukum membuat remaja X semakin terpuruk
yang membuatnya berdiam diri di rumah dan tidak mau bergaul
dengan siapapun. Tetapi hal yang penting dalam kasus ini adalah
seorang konselor yang siap menjadi pendengar dan teman.
Pendampingan pastoral sangat dibutuhkan klien. Selain itu juga
diharapkan adanya ketulusan dan kerelaan hati yang sungguhsungguh mau membantu klien keluar dari masalah yang dihadapi.

63

BAB V
AKSI PASTORAL
Mengandung rumusan dengan gagasan dalam rangka menyajikan alternatif.
Sebelum membantu klien mengatasi permasalahannya, seorang konselor harus lebih
dahulu mengetahui diagnosa permasalahan klien. Tujuannya adalah untuk
memudahkan konselor mengenali permasalahan klien dan konselor melakukan
pendampingan yang tepat. Data-data si klien harus diketahui si konselor dengan jelas.
Pendampingan dan konseling pastoral bertujuan untuk menolong orang bertumbuh di
dalam kekuatan hidup rohaninya sehingga tujuan itu memperkuat semua aspek
kehidupan klien. Perubahan dapat terjadi ketika hati dan pikiran klien berdamai
dengan dirinya sendiri, iman yang kuat, berdoa serta mengucap syukur dan
mempunyai relasi yang baik dengan sesama. Tujuan ini dapat tercapai dalam
kehidupan klien apabila ada orang yang bersedia mendampingi dan menopang, maka
kehadiran seorang konselor sangat dibutuhkan.
Untuk membantu penyelesaian masalah yang dihadapi remaja X yang saat ini
sedang kehilangan harga diri maka dengan memahami dan memperhatikan hasil
64

analisa dan interpretasi terhadap pergumulan klien, maka aksi pastoral yang
dilakukan konselor adalah:
1. Memahami kehadiran dirinya (Pengenalan akan pergumulan)
a. Melakukan

pendekatan

terhadap

keluarga

remaja

dengan

mengunjungi rumahnya serta mendengarkan keluhan, kesedihan


orangtuanya dan rasa bersalahnya karena kurang memperhatikan
anaknya. Mencoba untuk menenangkan, menguatkan hati orangtua
klien dengan memberikan65pemahaman bahwa segala masalah harus
dihadapi.
b. Orangtua remaja X juga kiranya perlu dibimbing agar lebih lagi
memberikan pengawasan serta perhatian yang lebih lagi pada anak.
c. Masyarakat perlu diberikan pemahaman untuk lebih memperhatikan
para remaja yang ada di sekitar mereka dan meningkatkan disiplin dan
ketekunan, misalnya dengan membentuk persekutuan doa pemuda dan
remaja yang menyangkut pengembangan pemuda dan remaja.
Sehingga waktu dan tenaga mereka tidak terbuang kepada hal yang
sia-sia. Dalam hal ini pemerintah setempat perlu dilibatkan.
2. Memberikan dukungan, perhatian dan kehadiran
Memberikan dukungan yaitu dengan membangun sistem dukungan
yang penuh kepercayaan baik melalui doa, peran keluarga maupun
masyarakat. Mendorong semua keluarga agar memberikan semangat
mendengarkan dan memperhatikan serta memberi penghiburan kepada
remaja X. Remaja X memerlukan kehadiran teman-teman sebaya untuk
65

menemaninya

dan

mampu

memahami

serta

menerima

setiap

kekurangannya.
3. Menghidupkan kembali kehidupan kerohaniannya
Konselor dalam hal ini berusaha meyakinkan remaja X atas masalah
yang dihadapinya. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, karena Tuhan
memberikan cobaan tidak melebihi batas kemampuan kita. Setiap
pergumulan boleh hadir dalam hidup kita, kita meminta kekuatan untuk
melaluinya. Karena Tuhan memberikan kesanggupan kepada setiap umatNya untuk melalui setiap permasalahan yang dihadapi. Dan tidak lupa
untuk mengajak remaja X beribadah dan berdoa bersama. Mengingatkan
remaja X untuk kuat, konselor hanyalah perpanjangan tangan Tuhan
menjadi pendamping bagi remaja X. Yang memberikan kekuatan serta
kesembuhan kerohaniannya adalah Tuhan Yesus, Sang Konselor Yang
Agung.
Adapun tindak lanjut yang konselor berikan adalah membantu remaja X dan
keluarga bertumbuh dalam Kristus. Dimana sebagai manusia tidak terlepas dari
persoalan hidup, permasalahan ekonomi, sakit penyakit dan sebagainya. Dalam hal
ini konselor membantu remaja X dan keluarga untuk dapat bersama-sama tumbuh
dalam pengharapan di dalam Tuhan. Memberikan kata-kata positif yang penuh
pengharapan. Mengingatkan remaja X dan keluarganya untuk belajar mengatasi
pergumulan hidup dengan cara mengandalkan Tuhan dalam kehidupan mereka.
Remaja X dan keluarga harus mampu membuang segala kekuatiran karena segala
sesuatu indah pada waktunya dan rancangan Tuhan adalah rancangan damai
sejahtera.
66

Adapun tindak lanjut sikap yang diberikan seorang konselor adalah sebagai
berikut:
1. Memberikan remaja X sebagai pribadi yang membutuhkan pengampunan
dan keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus (Galatia 6:1) dan menolong
remaja X melihat realita persoalan hidupnya.
2. Mengarahkan remaja X untuk tidak kuatir tentang permasalahan hidup
yang dialami tetapi menyerahkan segala persoalan kehidupannya ke
dalam tangan Tuhan (Filifi 4:6).
3. Menjadi seorang teman bahkan sahabat, sehingga remaja X lebih terbuka
dan dapat menyampaikan isi hati dan perasaannya.
4. Mengarahkan remaja X untuk lebih dekat lagi dengan Pencipta agar lebih
mampu dan kuat dalam mengahadapi persoalan hidupnya secara
bertanggung jawab.
Dalam proses penyembuhan remaja X, konselor mengajak keluarga untuk
bersama-sama mencari solusi yang tepat. Adapun solusi yang ditawarkan konselor
adalah:
1. Mengarahkan klien untuk memahami dan mau menerima keadaan remaja
X yang pernah bermasalah dengan hukum agar remaja X tidak merasa
sendiri dan tertekan.
2. Mengarahkan klien agar mampu memaafkan dirinya sendiri dan
membuang rasa bersalah yang dapat mengganggu pikirannya.

67

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang Pendampingan Dan Konseling Pastoral
Terhadap Kenakalan Remaja Akibat Kekerasan Dalam Keluarga Di KPAID
Kabupaten Tarutung maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:
1. Banyak remaja yang menjadi korban kekerasan dalam keluarga yang
mengakibatkan remaja mencari kesenangan di luar rumah.
2. Remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga perlu didampingi agar mereka
tidak tertekan dan putus asa.
3. Ketidak harmonisan dalam keluarga mengakibatkan remaja mengekspresikan
perasaannya melalui tindakan kenakalan.
4. Pola asuh keluarga yang terlalu ketat atau terlalu longgar. Hal ini terjadi sebagai
ekspresi kasih orangtua yang berwujud kasihan. Sebaliknya ketakutan orangtua
68

akan merusak masa depan anaknya sehingga menerapkan disiplin yang


berlebihan. Kondisi di atas memiliki dampak yamg sama terhadap lingkungan.
5. Kurangnya pembinaan melalui jalur agama, khususnya tentang lingkungan hidup
sebagai ciptaan Tuhan yang harus dimanfaatkan, dipelihara dan dilestarikan.
6. Pekerjaan orangtua (Ayah dan Ibu) juga memiliki pengaruh besar, khususnya
pekerjaan ibu. Kurangnya waktu ibu bersama anak-anaknya berdampak pada
perilaku terhadap lingkungan.
7. Pendidikan orangtua (Ayah dan Ibu) juga memiliki pengaruh besar, khususnya
pendidikan ibu. Rendahnya pengetahuan
lingkungan dikalangan ibu membuat
69
seorang ibu tidak mampu mengajarkan yang baik terhadap anak.
8. Kurangnya kebebasan anak mengekspresikan perasaannya dalam lingkungan
yang menjadi haknya, misalnya memiliki kamar sendiri, memiliki ruang belajar
sendiri dan sebagainya berakibat pada perilaku terhadap lingkungan.
9. Kurangnya kesempatan bersama-sama dengan orangtua, misalnya: ibadah
bersama, makan bersama dan sebagainya dapat mempengaruhi kenakalan remaja.
10. Orangtua seharusnya menyadari bahwa anak adalah anugrah dari Tuhan yang
harus dirawat dan dibesarkan dengan kasih sayang bukan untuk bahan
pelampiasan amarah.
11. Pentingnya kehadiran seorang konseling pastoral dalam upaya menumbuhkan
rasa percaya diri dan keinginan hidup lebih baik serta bertobat.

B. SARAN

69

1. Menjadikan konseling keluarga sebagai kegiatan yang harus diikuti oleh setiap
keluarga, mengingat dukungan keluarga sangat membantu dalam proses
pemulihan. bagi remaja korban kekerasan dalam keluarga.
2. Perlu adanya pengembangan konseling keluarga yang efektif untuk mendukung
konseling, mengingat kenakalan remaja saat ini semakin meningkat.
3. Perlu mengetahui cara membesarkan anak dengan baik.
4. Mengingat bahwa peranan orangtua sangat berpengaruh pada remaja pada masa
perkembangan dan pertumbuhan mereka, karena itu hendaknya orangtua
memberikan waktu dan perhatian yang intensif untuk membina anak-anak dalam
hal menjalin komunikasi dalam keluarga sehingga kesulitan dan pengalaman
remaja di sekolah maupun dalam pergaulan dapat disalurkan kepada orangtua. Hal
ini dapat dilakukan dalam kebersamaan melalui acara makan bersama, rekreasi
bersama dan sebagainya.
5. Mengingat bahwa kondisi lingkungan fisik dalam keluarga amat berpengaruh pada
remaja, maka diharapkan orangtua berupaya untuk memperhatikan penataan fisik
dalam keluarga sehingga keinginan dan perasaan remaja untuk memiliki ruang
pribadi

dan

keinginan

untuk

dapat

dihargai

kesendiriannya

dapat

terakomodasikan.
6. Pembinaan keagamaan bagi remaja perlu ditingkatkan baik dalam keluarga
maupun sekolah. Pembinaan agama dalam keluarga diarahkan pada internalisasi
dan sosialisasi nilai-nilai positif yang dapat memotivasi remaja untuk berprilaku
positif terhadap lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial maupun lingkungan
psikologis. Pembinaan agama di sekolah diarahkan bukan hanya menyentuh segi
70

kognitif remaja, tetapi lebih banyak diarahkan pada segi afektif yang
menumbuhkan sikap dan perilaku yang berwawasan lingkungan.
7. Orangtua di rumah serta guru di sekolah diharapkan menggunakan pola asuh bagi
remaja secara bina kasih dan menghindari pola asuh dalam bentuk unjuk kuasa
dan lepas kasih.
8. Penelitian tentang kenakalan remaja ini perlu dilanjutkan dengan penelitian yang
lebih komprehensif antara lain dengan memperluas obyek penelitian pada remaja.
9. Kepada remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga hendaknya tidak putus
asa dengan mengambil jalan pintas. Tetaplah membangun rasa percaya diri dan
memberikan perubahan sikap yang nyata dengan mengikuti kegiatan-kegiatan
yang bermanfaat dalam perubahan sikap dan yang paling utama mendekatkan diri
kepada Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab. 2011. LAI: Jakarta.
Beek AART. Van. 2007. Pendampingan Pastoral. Jakarta. BPK Gunung Mulia.
Clinebell, Howard. 2002. Tipe-Tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral.
Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Crabb, Larry. 1995. Konseling Yang Efektif dan Alkitabiah. Bandung: Kalam Hidup.
Ginting, E.P. 2002. Gembala Dan Konseling Pastoral. Yogyakarta: Yayasan Andi.
Ginting, E.P. 2011. Metode Studi Kasus Pastoral. Bandung: Bina Media Informasi
Gunarsa, Singgih. D. 2003. Psikologi Untuk Membimbing. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Gunarsa, Singgih. D. 2009. Dari Anak Sampai Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi
Perkembangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, Singgih. D. 1996. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
71

Gunarsa, Singgih. 1988.Psikologi Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.


Ikhsan, Edy Dkk. 2001. Perlindungan Terhadap Anak Korban Kekerasan Di
Indonesia.Medan: Lembaga Advokasi Anak Indonesia.
Kartono, Kartini. 2010. Kenakalan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Kartono, Kartini. 2014. Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
KBBI. 2001. Balai Pustaka: Jakarta.
Krisetya, Mesach. 2002. Konseling Pastoral. Salatiga: Fakultas Teologi Universitas Satya
Wacana.
Lestari, Sri. 2002. Psikologi Keluarga. Jakarta: Prenada Media Group.
Mulyono, Y. Bambang. 2006. Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja Dan
Penanggulangannya. Yogyakarta. Kanisius.
Sarlito, Wirawan Sarwono. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa.
Stanley, Charles. 1994. Menyembuhkan Luka-luka Batin. Yogyakarta: Andi Offset.
Sudarsono. 2012. Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Surbakti, EB. 2008. Kenakalan Orang Tua Penyebab Kenakalan Remaja. Jakarta: PT.
Elex Media Kamputindo.
Susabda, Yakub. B. 1997. Pastoral Konseling. Malang: Gandum Mas.
Suyanto, Bagong. 2010. Masalah Sosial Anak. Jakarta: Prenada Media Group.
Tuu, Tulus. 2007. Dasar-Dasar Konseling Pastoral. Jakarta: Yayasan Andi.
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan Dan Konseling (studi & karier). Yogyakarta: C.V Andi
Offshet.
Yeo, Anthony. 1994. Konseling Suatu Pendekatan Pemecahan-Masalah. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.

72

LAMPIRAN
DATA KONSELI
Nama

: Remaja X

Tanggal lahir : 22 Agustus 1997


Umur

: 18 Tahun

Jenis kelamin : Laki-laki


Alamat

: Desa Si Raja Hutagalung Kec. Siatas Barita

Status

: Belum menikah

Agama

: Kristen Protestan

Pendidikan

: SMP

DATA PENDAMPING
73

Nama

: Denni S. Hutauruk

Keterangan

Verbatim I
Tanggal Interview : Selasa, 22 Desember 2015
a. Situasi :
Sebelum konselor berkunjung ke rumah konseli, konselor terlebih dahulu ke KPAID
Daerah Tapanuli Utara untuk memperoleh data dan informasi yang jelas tentang
klien.
b. Permulaan
Konselor 1 :

Syalom.., Selamat pagi pak

Ketua KPAID 2
Konselor 2 :

Pagi juga!!!! (sambil mempersilahkan masuk)

Saya Sry Hutauruk mahasiswi STAKPN Tarutung (sambil mengayunkan

tangan untuk menyalam).


Ketua KPAID 2
Konselor 3 :

Oohhh.. Apa yang dapat saya bantu dek!!

Begini pak,,, saya sedang menyusun skripsi dan judul skripsi saya tentang

kenakalan remaja akibat kekerasan dalam keluarga. Apakah ada remaja yang
bermasalah yang sedang ditangani Bapak??
Ketua KPAID 3

Dek,, kita menangani masalah anak, jadi semua yang

berkasus di KPAI ini anak-anak semua.


Konselor 4 :

Iya,, saya tahu pak, apakah tidak ada anak SMP atau anak SMA yang

bapak tangani di KPAID ini pak??


Ketua KPAID 4

Ada banyak anak SMP dan anak SMA yang bermasalah

dengan hukum yang sedang kita tangani.


Konselor 5 :

Ohhh iya nya pak?? Tapi bapak bilang tadi tidak ada. (sambil tersenyum)

Ketua KPAID 5

Hmm dikatakan anak-anak karena mereka semua masih

berusia 18 tahun ke bawah dek.


Konselor 6 :

Kenapa umur 18 tahun ke bawah dikategorikan anak ya pak??

Ketua KPAID 6

Berdasarkan UU NO. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak pasal 1 ayat (1), Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun,
74

termasuk anak yang masih dalam kandungan. Artinya batas usia dewasa
menurut aturan ini adalah 18 ke atas.
Konselor 7 :

Oohh ia nya pak itulah pak mengenai skripsi saya, apa saya dapat

melakukan penelitian di KPAID ini pak???


Ketua KPAID 7

Bisa dek masalah apa yang perlu adek teliti di KPAID

ini,,, nanti bisa kita bantu.


Konselor 8 :

Terimakasih pak saya ingin meneliti remaja yang bermasalah sesuai

dengan judul skripsi saya pak, mengenai kenakalan remaja akibat kekerasan
dalam keluarga. Apa ada kasus yang sama dengan judul skripsi saya yang
sedang bapak tangani di KPAID ini pak????
Ketua KPAID 8

Ada, adek mau kasus yang baru-baru ini terjadi atau

selama satu tahun???


Konselor 9 :

Terimakasih pak, saya butuh kasus yang masih baru, misalnya bulan

Nopember dan bulan ini pak


Ketua KPAID 9

Boleh, tapi minggu depanlah adek datang biar kita bahas

lebih jauh lagi mengenai kasus yang akan adek teliti, karena bapak ada
urusan keluar kota.
Konselor 10

Iya Pak, terimakasih atas waktu dan kesediaannya mengijinkan

saya melakukan penelitian di kantor bapak.. Selamat pagi pak, (sambil


bangkit dan menyalam ).
Ketua KPAID 10

Selamat pagi juga dek,, jangan lupa telpon bapak jika mau

datang ke kantor ya dek


Konselor 11
c.

Iya pak (sambil melangkah pulang)

Penutup :

Pada bagian ini penutup pembicaraan, konselor berjanji ingin datang lagi ke KPAID
untuk memperoleh data yang akurat tentang klien yang akan dikonselingi.
Verbatim II
Tanggal Interview : Selasa, 12 Januari 2016
a.

Situasi
75

Pada kunjungan ke dua, konselor sudah membuat janji untuk datang ke KPAID jam 2
siang.
b. Proses Verbatim
Konselor 12

Selamat siang pak.

Ketua KPAID 11

Konselor 13

Terimakasih pak..

Ketua KPAID 12

Siang juga dek.., silahkan masuk


Langsung aja dek, kita langsung membahas tentang

penelitianmu, apa yang adek perlukan dari kantor ini, bapak akan membantu
semaksimal mungkin (sambil tersenyum).
Konselor 14

Terimakasih pak Saya butuh seorang remaja yang menjadi klien

saya untuk penyusunan skripsi ini pak, yaitu remaja yang benar-benar
mengalami perubahan tingkah laku akibat kekerasan yang dialami dalam
keluarga pak.
Ketua KPAID 13

Oke adek tinggal pilih mana yang adek suka, ini data-

data yang adek minta (sambil menyerahkan data-data klien yang telah
ditangani di KPAID).
Konselor 15

(sambil memperhatikan data-data klien), pak saya mau klien saya

yang berdomisili di sekitar Tarutung ini aja pak, agar saya mudah melakukan
penelitian, pak.
Ketua KPAID 14

Baiklah dek, ini ada kartu keluarga dari anak ini, dan kalau

adek mau hari ini bisa kita datangkan ke kantor. (sambil meraih handphone).
Konselor 16

Ketua KPAID 15

(sambil tersenyum) Iya pak


:

(Menghubungi remaja X dan berkenan untuk datang ke

kantor) remaja X dalam perjalanan menuju kantor, kita tunggu satu jam lagi.
Konselor 17

Baiklah pak, sebelum adek itu datang, saya ingin tau lebih banyak

tentang dia, apa kegiatannya sekarang, apa yang dia lakukan hingga
berurusan dengan hukum dan mengenai keluarganya juga pak.
Ketua KPAID 16

Menerangkan tentang kepribadian remaja X, (remaja X

sudah sampai di KPAID)


Konselor 18

(langsung berdiri dan mengayunkan tangan untuk bersalaman)

Selamat sore dek..


76

Klien 1 : Sore juga kak... (sambil tersenyum)


Ketua KPAID 17

Dek, kakak mu ini dari mahasiswi STAKPN Tarutung,

sedang menyusun skripsi dan melakukan penelitian di kantor bapak.


Kakakmu ini tertarik menjadikan adek sebagai kliennya dalam penelitiannya.
Oke, Sry silahkanlah dimulai. (sambil melangkah meninggalkan kantor)
Konselor 19

Kita kenalan dulu ya dek, nggak usah malu-malu sama kakak

Klien 2 : Boleh kak silahkan.


Konselor 20

Nama kakak Sry Hutauruk, kakak kuliah di STAKPN Tarutung,

mungkin adek dah pernah dengar, kakak lagi nyusun skripsi tentang
kenakalan remaja, kakak butuh seorang klien dalam penelitian kakak.
Apakah adek bersedia menjadi klien kakak dek???
Klien 3 : Boleh kak, tapi saya ingin tau seperti apa dan apa yang saya lakukan untuk
membantu kakak
Konselor 21

Terimaksih dek karena sudah mau menjadi klien kakak, mungkin

dua hari lagi kakak akan menemui adek di kantor ini dan kakak butuh
informasi dari adek, tentang sekolah adek, pekerjaan orangtua adek, dan halhal yang menyangkut pribadi adek dan keluarga Nanti kakak buat
pertanyaan-pertanyaan dan adek cukup menjawab yang menurut adek itu
jawaban yang tepat tidak ada unsur kebohongan. (sambil tersenyum)
Kklien 4 : Ohh gitu yah kak,,, pasti saya akan membantu kakak..
Konselor 22

Terimakasih banyak ya dek atas waktu dan kesediaan adek Hari

kamis kita jumpa lagi di kantor ini, kalau adek tidak keberatan
Klien 5 : Saya usahakan kak
Konselor 23

Ok adek boleh pulang Hati-hati di jalan ya dek, salam sama

keluarga.
Klien 6 : Ia kak.. (sambil melangkah meninggalkan kantor dan ketua KPAID
datang ke kantor)
Ketua KPAID 18

Konselor 24

Sudah pak dan adek itu bersedia menjadi klien untuk penelitian

Hmm Gimana Sry,, sudah ngobrol dengan adek itu???

saya pak Bagaimana cara saya mendekati adek itu dan keluarganya pak,
agar aku bisa dekat dengan mereka pak..
77

Ketua KPAID 19

Jika adek Sry mau jumpa atau melakukan penelitian

terhadap adek itu dan keluarganya harus konsultasi dulu sama bapak jadi kita
akan melakukan pertemuan di kantor ini karena adek itu masih dalam
penanganan kami..
Konselor 25

Baiklah pak Terimakasih atas kerjasamanya pak, saya pamit

pulang, selamat sore pak


Ketua KPAID 20
c.

Ia dek,, hati-hati di jalan

Penutup :

Pada bagian ini penutup pembicaraan, konselor berjanji akan datang lagi untuk
menindaklanjuti perkunjungan.
Verbatim III
Tanggal Interview

: Kamis, 14 Januari 2016

a. Situasi
Pada kunjungan ketiga ini, konselor bertemu dengan klien dan ketua KPAID di kantor
KPAID Kabupaten Tapanuli Utara.
b. Proses Verbatim:
Konselor 26

Selamat siang pak, dek

Ketua KPAID 21+Klien 7


Konselor 27

Siang juga

Apa kabar kamu dek???

Klien 8 : Sehat kak.


Konselor 28

Baguslah dek., sehatnya keluarga dek???

Klien 9 : Sehat juga kak


Ketua KPAID 22

Bapak mau pergi sebentar ada urusan, nggak apa-apakan

ditinggal???
Klien 10+Konselor 29 :
Konselor 30

Iya pak

Kalau kakak boleh tau,,,, apa aja aktifitas adek selama seminggu

ini???
Klien 11 : Banyak sih kak Membantu orangtua di rumah kak. (sambil tersenyum)
78

Konselor 31

Baguslah apa ada kesulitan dalam melakukan pekerjaan itu

dek,,, misalnya adek bosan, pengen kumpul-kumpul sama teman atau pengen
menyendiri gitu
Klien 12 : Pasti kak hanya saja aku malu keluar dari rumah jadi lebih memilih di
rumah aja sama keluarga..
Konselor 32

Kenapa adek malu keluar rumah,,, apa yang membuat adek jadi

malu gitu.. Adek cakep kok


Klien 13 : Ya malu aja kak Aku nggak suka nanti orang-orang melihati saya
Konselor 33

Kenapa harus malu dek Percaya diri aja, kalau adek dilihati

orang kan itu karena adek manis, atau jangan-jangan mereka jatuh hati sama
adek (sambil tersenyum)
Klien 14 : Itu tidak mungkin kak Mana ada orang yang suka lagi melihat aku,,, yang
ada mereka membenciku. (dengan raut wajah sedih)
Konselor 34

Adek tidak boleh pesimis gitu .Kakak suka kok sama adek,,,

bagi kakak adek itu manis, sopan dan menarik gitu Kalau adek mau,,
kakak mau kok jadi teman adek, adek boleh cerita sama kaka tentang apa
saja, kakak akan mendengarkan adek
Klien 15 : Serius kaka mau jadi temanku??? Ada-ada aja kakak ini, nanti kakak tau aku
siapa, aku yakin kakak juga akan menjauh dariku Nggak ada orang kak
yang mau berteman dengan aku, aku sendirian kak nggak ada teman berbagi,
nggak ada yang peduli samaku aku muak kak melihat semua orang yang
menertawakan aku (dengan raut wajah sedih)
Konselor 35

Jangan sedihlah dek,, kan ada kakak yang mau jadi teman adek

Kalau adek mau kita pergi jalan-jalan atau makan bareng, kakak mau kok
Kakak tidak tau apa masalah adek kalau adek tidak mau cerita dengan
kakak
Klien 16 : Aku belum bisa cerita sama kakak, aku belum sanggup untuk cerita kak
Konselor 36

Ya sudah tidak apa-apa dek kakak pasti menunggu sampai adek

mau bicara..
Klien 17 : Kakak, boleh aku pulang sekarang, aku ada kerjaan yang harus aku kerjakan
di rumah, tadi sudah janji sama mama
79

Konselor 37

Iya dek tapi sebelum adek pulang kita berdoa dulu ya dek, adek

mau???
Klien 18 : ( Seketika remaja X menatap saya, lalu menganggukkan kepala pertanda dia
mau untuk berdoa bersama).
Konselor 38

(memimpin dalam doa)

Klien 19 : (bergegas untuk pulang) terimakasih kak sudah mau menjadi temanku
Konselor 39

Sama-sama dek, terimakasih juga sudah bersedia meluangkan

waktu bersama kakak, hati-hati di jalan ya dek, salam sama keluarga.


Klien 20 : Iya kak (sambil meninggalkan kantor)
c.

Penutup:

Konseli belum mau terbuka atas masalah yang dihadapinya, dan konselor berjanji akan
melakukan pertemuan lagi dengan konseli.
Verbatim IV
Tanggal Interview : Selasa, 19 Januari 2016
a.

Situasi :
Pada kunjungan ini, konselor dan klien bertemu di kantor KPAID Tarutung

b. Proses Verbatim
Konselor 40

Selamat pagi dek, bagaimana keadaan adek, sehat???

Klien 21 : Sehat kak


Konselor 41

Bagaimana keadaan keluarga di rumah, sehat dek???

Klien 22 : Sehat juga kak


Konselor 42

Syukurlah dek bagaimana akatifitas adek beberapa hari ini???

Klien 22 : Ya gitulah kak,,, dijalani aja.


Konselor 43

Hmm Baguslah kalau malam minggu adek pigi kemana??

Klien 23 : Di rumah aja nonton TV kak..


Konselor 44

Ohh Adek nggak pigi berkumpul bersama teman-teman adek

waktu sekolah dulu gitu


80

Klien 24 : Nggak kak aku tidak suka dekat sama mereka mending di rumah kak aku
nonton daripada bergabung sama mereka.
Konselor 45

Daripada di rumah kan lebih enak gabung sama teman-teman

sebaya kita, kita bisa bercanda bersama, teman curhat, setidaknya kita bisa
memperoleh pelajaran yang berharga dari mereka Memang mereka tidak
bisa memberi solusi atas masalah apa yang kita hadapi, tapi setidaknya ada
yang mau mendengarkan kita
Klien 25 : Aku nggak pengen bergabung sama mereka, aku nggak mau mereka
berteman samaku hanya saat bersama aja tapi di belakangku mereka
menertawakan aku Udalah kak aku nggak mau basa-basi sama mereka,
cukup tau ajalah aku siapa mereka, mereka hanya ada saat kita senang, saat
susah seperti ini mereka tidak ada yang peduli... Apalagi waktu aku tidak
melanjutkan sekolah ke SMA mereka memandang rendah samaku Aku
benci sama mereka kak..
Konselor 46

Kakak tau dek, hal ini memang sulit bagimu, terkadang tidak

semua teman bisa jadi sahabat yang menerima kita apa adanya Tapi perlu
adek tau, kita butuh teman walau hanya sekedar menilai dan memperhatikan
kita, jadi jika mereka menertawakan kita dan gosipin kita di belakang itu tak
perlu kita risaukan, setidaknya mereka menghabiskan waktunya hanya
memperhatikan kita, kita seperti artiskan dek banyak penggemar (sambil
tersenyum)
Klien 26 : Ada benarnya juga ya kak, biar saja mereka menilai dan ngomong sesuka
hatinya samaku yang penting mereka tidak mengganggu aku
Konselor 47

Ialah dek,, biarkan saja mereka sibuk memperhatikan kita, tidak

perlu kita pikirkan. Kita tetap lakukan aktifitas kita, kita tetap ceria, kita tidak
boleh berikan celah untuk mereka untuk memberikan penilaian yang negatif
sama kita. Saat mereka melihat kita tetap semangat mereka akan berangsurangsur diam..
Klien 27 : Akan kucoba kak,,, tapi masalahnya aku tidak tau bagaimana caranya
melakukan sesuatu yang dapat mengubah hidupku.
81

Konselor 48

Adek yakin mau berubah?? Gampangnya itu dek (sambil

menatap remaja X dengan tersenyum)


Klien 28 : Yakin kak Pasti saya akan berusaha, aku mau menunjukkan sama mereka
bahwa aku bisa lebih baik agar mereka tidak memandang sebelah mata
kepadaku.
Konselor 49

Baguslah Kakak senang mendengarnya, bapakkan seorang

pendeta,, nah adek mulailah bergabung dengan ibadah remaja setiap malam
minggu, adek ikut setiap ibadah evanggelisasi Nah, jika adek mau
memulainya mulai minggu ini dan seterusnya kakak yakin akan banyak yang
mau menjadi teman adek dan keluarga adek pun pasti senang jika adek
mau mendekatkan diri kepada Tuhan. Terkhusus bapak dia akan bangga
sama adek karena adek mau berubah lebih baik Semakin dekat kita sama
Tuhan, kita akan semakin kuat Yakinlah adek apapun yang menjadi
pergumulan adek selama ini pasti ada solusi yang Ditawarkan Tuhan untuk
melalui semua masalah tersebut, yakinlah bahwa masa depan itu sungguh ada
tergantung bagaimana cara kita berusaha untuk menggapainya.
Klien 29 : Terimakasih kak atas masukan dari kakak, aku akan mencoba memulainya
kak
Konselor 50

: Baiklah dek

Klien 30 : Aku pamit pulang yah kak


Konselor 51

Iya dek Sebelum adek pulang kita berdoa dulu ya dek, karena

doa sangat besar kuasanya dalam hidup kita.


Klien 31 : Ia kak.. (sambil tersenyum)
Konselor 52

Memimpin dalam doa.

Klien 32 : Terimakasih untuk semuanya kak, aku pamit pulang. (sambil mengayunkan
tangan untuk bersalaman)
Konselor 53

Ia dek.. Hati-hati di jalan, jangan lupa sampaikan salam kakak

sama keluarga..
Klien 33 : Ia kak pasti

c.

Penutup:

82

Dalam tahap ini, konseling pastoral tetap berjalan di KPAID, komunikasi antara
konselor dan konseli semakin meningkat dan lebih baik. Karena konseli sudah semakin
terbuka akan apa yang dirasakannya. Hal ini membuat pembicaraan semakin menarik dan
konselor menemukan bahwa dalam hal ini konseli tidak percaya diri, dan menutup diri
dari masyarakat. Tetapi saat konselor memberikan masukan kepada konseli, konseli
menerima dan ingin melakukannya.
Verbatim V
Tanggal Interview : Kamis, 21 Januari 2016
a.

Situasi :
Pada kunjungan ini, konselor atas ijin dari ketua KPAID dan kesediaan konseli
dengan keluarga, konselor datang mengunjungi klien di rumah konseli dan ini
merupakan kunjungan yang pertama di lakukan konselor di rumah remaja X.

b. Proses Verbatim
Konselor 54

Syalom inang. (sambil mengetuk pintu)

Ibu Klien 1 :

(tiba-tiba membuka pintu) Syalom juga dek Adek yang dari kantor

KPAID Tarutung ya Silahkan masuk dek


Konselor 55

Ibu Konseli 2 :

Ia inang (sambil mengikuti ibu konseli ke ruang tamu)


Mau jumpa ama adekmu ya Dia lagi membersihkan gereja sama

adeknya sebentar lagi dia datang


Konselor 56

Nggak apa-apa inang Sambil nunggu si adek kita ngobrol-

ngobrol aja inang, inang tidak keberatan???


Ibu Klien 3 :

Boleh dek (sambil tersenyum)

Konselor 57

Mohon maaf duluan ya inang siapa tau nanti aku salah bicara atau

mungkin pertanyaanku berlebihan atau tak pantas gitu


Ibu Klien 4 :

Nggak apa-apa kok dek Tanya aja apa yang ingin adek ketahui dari

inang, tadi juga ketua KPAID sudah menjelaskan tujuan kedatangan adek
kesini dan inang senang adek datang berkunjung ke rumah kami Tidak
perlu sungkan-sungkan.
Konselor 58

Terimakasih inang akan kesediaannya.. Ini masalah si adek inang,

kan dia nggak sekolah lagi, apa dia tidak mau melanjut lagi ke SMA gitu
83

soalnya sekarang ini ada sekolah pembaharuan bagi yang tidak tamat sekolah
bisa melanjut di sana inang..
Ibu Klien 5 :

Inang pernah menawarkan itu sama adekmu, tetapi dia tidak amu lagi

sekolah katanya dia sudah terlalu tua dan malu


Konselor 59

Ohhh ianya inang kenapa dia harus malu,, bahkan yang sudah

nikah pun adanya yang melanjutkan pendidikan di sana inang


Ibu Klien 6 :

Masalah sekolah dia nggak peduli lagi inang, dia tidak ingin membahas

itu yang ada sekarang bagaimana caranya biar dia kembali lagi seperti dulu
lagi,,, ceria, suka bergaul dengan masyarakat, terbuka,,, inang sudah
kehilangan jati dirinya yang dulu..
Konselor 60

Apa yang membuat si adek berubah inang???

Ibu Klien 7 :

Ini salah inang dek Setelah ayah adekmu ini meninggal, inang sangat

sedih dan terluka. Inang kehilangan semangat. Inang tidak bisa membiayai
kehidupan keluarga dan satupun keluarga tidak ada yang mau membantu
Waktu itu ada seorang pria yang peduli sama kami, dia mau menyapa inang,
dia peduli dengan kesedihan kami dan suatu saat dia mengajak inang untuk
membangun keluarga dengan dia Inang berpikir dia dapat mengubah
kehidupan kami lebih baik, karena selama itu dia baik sama inang dan dia
sering menyapa anak-anak jika bertemu di jalan
Konselor 61

Ohh ia nya inang.. Jadi apa yang membuat inang bercerai dengan

bapak itu???
Ibu Klien 8 :

Hmmm (menghela nafas). Dia berubah dek, tidak seperti pertama kami

berjumpa. Dia selalu saja marah-marah di rumah dan sering melontarkan


kata-kata yang tidak pantas. Dia tidak pernah bisa menerima anak-anak saya,
dia selalu marah tanpa alasan, dia selalu menekan adek-adekmu ini dan dia
mau melakukan kekerasan sama adek-adekmu. Melihat hal ini inang tidak
tahan lagi menjalani pernikahan dengan dia dan kami pun bercerai Jika itu
membuat anak-anakku lebih baik dan inang sangat menyesal menikah dengan
dia karena dia penyebab anak inang jadi nakal dan tidak mau peduli lagi
bahkan tidak mau sekolah..
84

Konselor 62

Inang yang sabar ya,, semuakan sudah berlalu jadi tidak perlu lagi

disesali. Saat ini inang sudah bahagia dengan amang Hutabarat berilah
semangat buat si adek, berusahalah mendengarkan dia, sepertinya adek itu
kurang perhatian inang,, dia pun tidak mau bergabung dengan temantemannya, dia bilang dia malu dan nggak suka berteman dengan mereka.
Saya bingung inang, apa yang membuat adek itu menutup diri
Ibu Klien 9 :

Awalnya dia suka bergabung dengan teman-temannya, tapi saat dia putus

sekolah dia merasa minder dan dia jadi sering malas pulang ke rumah,
bahkan dia mau marah-marah tidak menentu Bahkan setelah dia pernah
tertangkap basah mencuri sepeda motor warga sini membuat ia semakin
terpuruk dia jadi jarang keluar rumah, dia lebih sering mengurung diri di
kamar. Inang sangat kasihan sama adekmu ini tapi inang tak bisa melakukan
apapun dia tidak mau mendengar, hanya diam saja jika inang ajak bicara
Konselor 63

Inang, sebelumnya saya jumpa dengan adek di kantor, katanya dia

akan bergabung dengan remaja di gereja dan akan mengikuti ibadah-ibadah


evanggelisasi Ingatkanlah si adek agar mau mengikutinya. Mungkin
dengan bergabung dengan teman sebaya ddan mengikuti evanggelisasi dia
mendapat teman dan membuka hati untuk bersosialisai dengan masyarakat.
Ibu Klien 10 :

Ia dek Inang akan lebih memperhatikan adekmu dan akan

mengingatkan dia..
Konselor 64

Baguslah kalau seperti itu inang Mudah-mudahan dengan

mengikuti ibadah evanggelisasi si adek mau membuka diri dan mau lebih
terbuka lagi sama inang, dan inang akan melihat senyumnya kembali
(sambil tersenyum)
Ibu Klien 11 :

Terimakasih juga dek, karena sudah berusaha membuat dia

kembali tersenyum dan mau menjadi teman dia dan adek mau peduli dengan
kehidupan keluarga inang Tadi sebelum adek datang ketepatan dari
KPAID tadi nelpon bilangkan adek amu kesini, dia bilang sama inang, kakak
itu baik mak,,, Aku suka berteman dengan kakak itu.. Dia senang berteman
denganmu dek Inang minta tolong sama adek, tetaplah berteman dengan
85

dia, berikan dia semangat karena dia mau mendengarkan adek Bawakanlah
dia dalam doamu ya dek..?
Konselor 65

Saya akan berusaha inang semampuku untuk menjadi teman yang

baik untuk dia, dan saya akan selalu bawakan dia dalam doaku
Terimakasih inang atas waktunya dan sekarang saya mau pamit pulang,
sampaikan salamku untuk adek dan keluarga (sambil bergegas dan
mengayunkan tangan untuk bersalaman) selamat sore inang..
Ibu Klien12

Sama-sama inang, hati-hati di jalan

c. Penutup:
Konselor sudah mengetahui lebih banyak masalah yang dihadapi klien dan konselor akan
mengunjungi klien lagi untuk memberikan semangat.

Verbatim VI
Tanggal Interview : Selasa, 26 Januari 2016
a. Situasi :
Pada kunjungan ini, konselor ingin lebih dekat lagi dengan klien dan berharap klien
sudah mau melakukan perubahan dalam hidupnya. Konselor dan konseli bertemu di
Kantor KPAID.
b. Proses Verbatim

Konselor 66

: Selamat sore dek,,, gimana kabarnya hari ini????

Klien 34

: Sore juga kak Puji Tuhan sehat kak

Konselor 67

: Sepertinya adek lagi bahagia nih Kaka boleh tau dong apa yang buat
adek senang???

Klien 35

: Kakak,,, biasa aja kak, tidak ada apa-apa

Konselor 68

: Serius nih nggak ada apa-apa??? Oh ya dek, gimana kabar keluarga


adek???
86

Klien 36

: Sehat kak Itulah kak yang mau aku bilang sama kakak,,, mama aku
sekarang lebih perhatian samaku kak

Konselor 69

: Baguslah kakak senang mendengarnya. Bagaimana dengan pelayanan


dah piginya adek???

Klien 37

: Sudah kak,,, tapi aku masih ikut-ikut aja kak,, kadang aku malu kak
sama mereka. Aku segan kali cakapin mereka, takut nggak direspon
gitu.

Konselor 70

: Oh Tidak apa-apa yang penting adek sudah mencoba bergabung


dengan mereka, biasanya itu dek mungkin mereka juga segan cakapin
adek Nah untuk kedepannya adek cobalah lebih dahulu menyapa
mereka Kakak yakin mereka akan membalas sapaan adek

Konseli 38

: Segan kali aku kak Aku nggak berani takut ditolak nanti aku kecewa
lagi

Konselor 71

: Kakak ngerti dek,,, ini memang sulit untukmu. Tapi jika kita tidak
pernah mencoba bagaimana kita tau kita bisa Semua memang butuh
proses tapi kakak yakin adek bisa melakukannya. Ini semua demi
kebaikan adek. Jika mereka dekat sama adek, adek akan punya teman
untuk berbagi cerita. Saat adek ada masalah adek dapat meminta pendapat
dari mereka. Untuk itu kakak minta sama adek untuk berusaha membuka
diri kepada mereka.

Konseli 39

: Ia kak saya akan mencoba kak menurut kakak cara termudah berteman
dengan mereka kak???

Konselor 72

: Kamu perhatikan saja siapa yang cocok dijadikan teman curhat


Mintalah nomor handphone nya, smslah basa-basi, kapan kita ibadah
evanggelisasi,,, kapan kita latihan koor, jangan lupa ajak aku ya Nah
kakak yakin deh mereka akan membalas sms mu dan mereka pasti senang
karena adek mau bergabung

Konseli 40

: Iya kak nanti akan kucoba kak... (dengan suara yang pelan seakan-akan
ragu)

Konselor 73

: Semoga berhasil Tapi adek kek kurang semangat gitu, kenapa???


87

Konseli 41

: Aku ,,,,,,,, sebenarnya aku tidak bisa melakukannya kak Masih susah
kali aku membuka diri untuk mereka,,, aku lebih suka menyendiri saat ini
kak

Konselor 74

: Loh, kenapa adek ngomong gitu,,, tadi bilang iya sekarang pengen
sendiri kakak bingung deh sama adek ada apa sebenarnya

Konseli 42 : (dengan wajah sedih) Aku belum bisa terima kak masalah ini, aku malu
bergabung sama mereka, aku pengangguran, tidak tamat sekolah, pernah
dipenjara.. Kakak tidak tau hatiku tertekan aku takut bicara aku kuatir
akan hidupku. Tidak ada lagi masa depanku kak Nggak ada yang bisa
diharapkan dariku kak, aku tidak bisa buat mama bahagia aku bisanya
buat mama malu sama semua orang Aku benar-benar tidak berguna
kak..
Konselor 75

: (memandang wajah klien) Adek jangan ngomong seperti itu Semua


orang masih punya masa depan, semua orang punya masa lalu dek, dan
setiap masa lalu itu seharusnya menjadi pelajaran buat kita untuk bangkit
dan harus bisa berdamai dengan hati adek sendiri. Jangan lagi adek
memikirkan apa yang sudah terjadi tetapi adek pikirkanlah bagaimana
adek harus bangkit dan tidak terjatuh lagi Perlu adek tau bahwa semua
orang pasti pernah melakukan dosa bahkan setiap orang suci pun punya
masa lalu, taukah adek,, bahkan setiap pendosa masih punya masa depan.
Orang-orang yang baik itu adalah bekas orang-orang yang berdosa yang
sudah menerima dirinya dan mau meninggalkan jalannya yang salah dan
bertobat.

Konseli 43

: Sangat sulit untuk melakukan itu kak Aku belum bisa memaafkan
diriku kak

Konselor 76

: Dek,,, tidak ada yang sulit selagi kita mau bangkit dan berusaha.
Maafkanlah orang-orang yang pernah membuatmu sakit hati, buang
semua dendammu, kebencianmu Kakak tau itu sulit dilakukan untuk
memaafkan orang yang menyakiti kita tetapi adek perlu tau tidak ada
gunanya juga kita memendan kesalahan orang lain kita harus memberikan
pengampunan bagi mereka, dengan mengampuni mereka yang membuat
88

kita sakit hati kita akan bisa tersenyum. Menyimpan amarah dan
kebencian kepada oranglain sama aja kita menyimpan sampah dalam
hidup kita tetapi dengan melepaskan pengampunan kepada mereka hidup
kita akan tenang.
Konseli 44

: Bagaimana caraku mengampuni mereka yangn menyakitiku kak???

Konselor 77

: Bawa mereka dalam doa-doamu, sampaikan kepada Tuhan semua


pergumulanmu Katakan kepada Tuhan bahwa kamu telah mengampuni
mereka, engkau mengasihi mereka maka Tuhan akan memberikan
ketengangan kepadamu. Sangat bahagia hidup tanpa beban apalagi semua
orang menjadi teman kita untuk itu berdamailah dengan hatimu dan
dengan orang-orang yang pernah menyakitimu. Kakak yakin adek bisa
melakukannya, tetaplah berdoa minta petunjuk dari Tuhan. Masa depan
itu sungguh ada jika kita mau berusaha untuk mencapai masa depan yang
indah. Yang salah itu dek, kita tidak bisa bangkit dan tetap sama dari hari
ke hari tidak ada perubahan. Adek tau Tuhan tidak pernah membenci
umatNya, Dia selalu mengasihi kita, hanya saja Tuhan membenci dosa
kita. Untuk itu kita harus meninggalkan dosa-dosa kita dan kita datang
kepada Tuhan agar Dia menguduskan kita.

Konseli 45

: Terimakasih kak, sebelumnya belum ada yang pernah mengatakan ini


kepadaku Aku sadar bahwa selama ini aku sudah menyimpan dendam
dalam hatiku, ternyata itu salah dan sekarang saya sudah mengerti bahwa
masih ada Tuhan yang menyayangiku

Konselor 78

: Kakak ingin kamu menjadi orang yang baik, meskipun adek pernah
melakukan perbuatan yang salah tetapi satu hal yang perlu adek tau setiap
orang belum tentu baik, tetapi selalu ada kebaikan pada setiap orang. Dan
aku yakin kebaikan itu masih ada dalam dirimu, untuk itu tunjukkanlah
pada semua orang bahwa kamu bisa melakukan kebaikan dan masih
punya masa depan yang cerah Yang paling utama serahkanlah seluruh
hidupmu kepada Tuhan biarkan Tuhan yang bekerja dalam hdupmu.

89

Konseli 46

: Iya kak Aku minta sama kakak untuk membawakan aku dalam doa
kakak agar aku bisa melepaskan pengampunan kepada mereka yang telah
menyakitiku agar aku tidak menyimpan dendam buat mereka.

Konselor 79

: Pasti dek,,, kakak akan selalu mendoakanmu Dek, sebelum kita


pulang adek mau kita berdoa dulu

Konseli 47

: Iya kak Doakanlah kak agar aku diberi kekuatan untuk menjalani
hidup dan keluargaku tetap dalam lindungan Tuhan.

Konselor 80

: Baiklah dek.. (memimpin dalam doa)

Konseli 48

: Terimakasih buat semuanya kak Aku pamit pulang..

Konselor 81

: Sama-sama dek,, hati-hati di jalan sampaikan salamku sama keluarga..

Konseli 49

: Iya kak (sambil melangkah meninggalkan kantor)

c.

Penutup:
Pada pertemuan ini klien sudah berusaha bergabung dengan teman sebaya
dalam pelayanan di gereja tapi belum bisa berdamai dengan hatinya dengan
bantuan konselor klien sudah menyadari keadaan dirinya dan ingin berubah
dan memperbaiki diri.

Verbatim VII
Tanggal Interview : Senin, 1 Februari 2016
a.

Situasi :
pada kunjungan ini, konselor menjumpai konseli di kantor KPAID tarutung dalam
hal ini konseli sudah lebih baik dan penuh semangat.

b. Proses Verbatim
Konselor 82

Selamat siang pak, dek (sambil tersenyum)

Ketua KPAID 23+Klien 50


Konselor 83

Selamat siang juga

Bagaimana keadaan bapak siang ini?? (sambil memandang ke arah

ketua KPAID)
Ketua KPAID 24

Luar biasa sehat dek (sambil tersenyum)


90

Konselor 84

Puji Tuhanlah pak kalau seperti itu,,, adek sendiri gimana

keadaannya??
Klien 51 : Sehat juga kak
Konselor 85

Bagaimana keadaan keluarga di rumah adekku sehat??

Klien 52 : Sehat juga kak


Konselor 86

Bagaimana dengan aktifitas adek selama seminggu ini berjalan

dengan baikkah??? Kakak pengen tau nih


Klien 53 : Baik kak Saya sudah mulai melakukan apa yang kakak minta dan saya
sudah punya teman sekarang kak..
Konselor 87

Ohhh ia, kakak senang mendengarnya, bagaimana??? apa adek

suka berteman dengan mereka??


Klien 54 : Saya senang kak, betul juga kata kakak aku perlu teman untuk berbagi
Konselor 88

Baguslah

kakak ikut bahagia, bagaimana mama sama adek

sekarang??
Klien 55 : Itulah yang membuat aku bahagia kak, mama sekarang sudah lebih perhatian
samaku, mama sering ngajak aku ngobrol dan menyemangatiku kak
(sambil tersenyum bahagia)
Konselor 89

Oh Puji Tuhan lah kalau begitu dek Semoga semuanya tetap

berjalan dengan baik dan adek semakin dekat dengan keluarga dan adek
semakin dekat juga tentunya kepada Tuhan
Klien 56 : Mudah-mudahanlah kak Jangan lupa kakak bawakan aku dalam setiap
doa-doa kakak, dan aku juga akan berdoa semoga kakak bisa wisuda tahun
ini
Konselor 90

Amin

lah dek, semoga saja kakak pun akan selalu

mendoakanmu untuk lebih baik dan tetap semangat menjalani hidup Dek,
untuk ada kakak lihat dan untuk kenangan nantinya, kakak boleh foto
bersama dengan adek??
Klien 57 : Dengan senang hati kak (sambil mengatur gaya untuk berfoto)
Konselor 91

Terimakasih dek atas waktunya selama ini sama kakak, kakak

dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik

Sebelum kita pulang,

kita berdoa ya dek


91

Klien 58 : Iya kak


Konselor 92

Memimpin dalam doa

Klien 59 : Terimakasih juga kak karena kakak sudah mau berteman dengan saya Saya
pamit pulang Selamat sore kakak..
Konselor 93

Ia dek.. Hati-hati di jalan ya dekku,,, salam sama keluarga (

klien meninggalkan kantor dan konselor meminta ijin pulang kepada


ketua KPAID)
Klien 60 : Pak Penelitian saya sudah selesai dan saya mengucapkan terimakasih
kepada bapak. Karena bapak sudah banyak membantu saya dalam melakukan
penelitian ini.
Ketua KPAID 25 :

Iya Dek.. Tapi jika bapak butuh adek nanti untuk melakukan

konseling kepada anak-anak di kantor bapak adek maukah membantu bapak,


karena tidak semua yang di kantor ini dapat melakukan konseling kepada
anak-anak.
Konselor 94

Saya akan usahakan pak, terimakasih pak karena ini dapat

menambah pengalaman saya nantinya. (sambil bergegas dan mengayunkan


tangan untuk bersalaman). Selamat sore pak, Tuhan memberkati
Ketua KPAID 26

Ia dek, hati-hati di jalan

c. Penutup :
Pada akhir pertemuan ini konselor sudah mengakhiri penelitian dan konselor
sangat bahagia dapat melakukan penelitian dengan baik..

92